Anda di halaman 1dari 14

MUSNAD AHMAD BIN HAMBAL

A. Pendahuluan Siapa yang tidak kenal dengan Imam Ahmad bin Hambal? Kemungkinan besar nama ini sangat tidak asing lagi bagi kaum muslim di penjuru dunia. Kita, orang Indonesia mungkin lebih mengenalnya sebagai Ulama yang sangat luas keilmuannya dalam ilmu fiqh. Sejajar dengan imam-imam madzhab fiqh lainnya. Namun, bukan hanya dalam dunia fiqh saja keilmuannya. Bertahuntahun umur beliau tercurahkan untuk menyelami seluk-beluk luasnya dunia hadis. Tak kurang dari 750 ribu hadis berhasil beliau kumpulkan dan hafalkan, bahkan dalam beberapa keterangan lain mencapai satu juta hadis.1 Kesungguhan dan kedalaman ilmu Imam Ahmad dalam dunia hadis juga nampak dari salah satu karya beliau, yaitu Musnad Ahmad. Kitab kumpulan hadis yang tersarikan tak kurang dari 750 ribu hadis, yang tertulis ke dalam 24 jilid pada versi aslinya (tulisan tangan) dan menjadi 6 jilid saat diterbitkan dalam edisi cetakan.2 Makalah ini mencoba mengupas salah satu karya monumental tersebut, yaitu Musnad Ahmad bin Hambal. Dimulai dari sejarah perjalanan Imam Ahmad sendiri, tentang Musnadnya serta seputar pendapat para ulama tentangnya. B. Sosok Imam Ahmad bin Hambal Nama lengkap Ahmad bin Hambal ialah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin Awf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban bin Zulal bin Ismail bin Ibrahim. Dia lahir pada tahun 164 H di Baghdad, dan meninggal di Baghdad pula pada tahun 240 H. Ia sempat dipenjara selama 28 bulan karena sikapnya yang menolak faham kemakhlukan al-Quran. Kemudian ia dilepaskan dari

1 2

Zainul Arifin, Studi Kitab Hadis, (Surabaya: Pustaka Al-Muna, 2010), 84. Zainul Arifin, Studi Kitab Hadis, 89.

penjara sehubungan dengan sikap al-Mutawakkil yang tidak lagi berfaham Mutazilah seperti halnya para khalifah sebelumnya. Sebagian besar keilmuan Ahmad Ibn Hambal diperoleh melalui beberapa ulama di Baghdad kota kelahirannya, sehingga hal tersebut sempat mengantarkannya sebagai salah satu anggota diskusi atau Halaqah Qadhi Abu Yusuf. Ketika Imam Syafii tinggal di Baghdad, Ahmad bin Hambal terus menerus mengikuti berbagai kegiatan dan program dari halaqahnya, sehingga ilmu fiqih dan hadis menjadi kepribadian beliau sebagai seorang yang istimewa dalam majelis taklim Imam Syafii. Kehebatannya dalam ilmu fiqih mendapatkan pengakuan dari Imam Syafii dan Yahya Ibn Main. Hal tersebut terbukti oleh popularitasnya dalam madzhab yang mampu menembus ke negara Syiria, Iraq dan beberapa negara dan daerah lainnya. Guna memperluas wawasan hadis, Ahmad bin Hambal melakukan perjalanan ke beberapa negara, dan hal tersebut ditempuh setelah beberapa lama mempelajari hadis dari Imam Syafii selama ia tinggal di Baghdad. Studi hadis di berbagai negara yang meliputi Yaman, Kufah, Bashrah, Mekkah, Madinah, dan Syiria. Ketika itu Imam Ahmad berada di Yaman dan sempat berguru terhadap Basyar al-Mafadhal al-Raqasyi, Sufyan ibn Uainah, Yahya ibn Said al-Qathan, Sulaiman bin Dawud al-Thayalisi, Ismail ibn Ulayyah dan lainnya. Perlawatan ke negara pusat ilmu keislaman menghasilkan sekitar satu juta perbendaharaan hadis yang dikuasai oleh Ahmad ibn Hambal. Berkenaan dengan prestasi tersebut Abu Zahrah optimis menempatkan Imam Ahmad ibn Hambal dalam deretan seorang Muhaddistin.3 Bahkan keahlian beliau dalam mengerjakan hadis atau al-Sunnah berhasil memandu beberapa murid asuhan menjadi ulama hadis, misalnya Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, Waqi ibn Jarrah, Ali al-Madani dan lain sebagainya. Disiplin ilmu tersebut yang menjadikan bidang keahlian Imam Ahmad mencakup hadis dan ilmu hadis, fiqih dan ushul-fiqh serta tafsir. Dalam kitab al-Ilal memperlihatkan betapa Imam Ahmad cukup serius dalam mengamati illat atau kecacatan hadis, disamping itu kitab yang berjudul Fadhail al3

Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzhabi al-Fiqhiyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, tt), 307.

Shahabat menjadi bukti bahwa beliau bersemangat mengenali lebih dekat beberapa perilaku tokoh sahabat Nabi berikut dengan prestasi perseorangannya. Sebuah karya tulis yang berjudul kitab al-Asyribah dan al-Nasikh wal Mansukh menempatkan beliau sebagai penganalisis fiqih dikelasnya, di samping itu pola pemikiran fiqihnya sedikit banyak dipengaruhi oleh metode Istidlal Imam Syafii guru besarnya. Beliau juga menulis kitab al-Zuhdi yang berisikan prilaku dan watak penampilan diri yang serba zuhud. Dan beberapa hal yang meliputi biografinya ialah sebagai berikut : 1. Awal mula menuntut ilmu. Keilmuan yang pertama kali yang dikuasai oleh Ahmad Ibn Hambal ialah al-Quran dan ia mampu menghafal keseluruhan al-Quran pada usia 15 tahun. Ia juga mahir dalam baca tulis dengan sempurna, sehingga dikenal sebagai orang yang tulisannya paling indah. Kemudian Ahmad Ibn Hambal mulai berkonsentrasi belajar ilmu hadis di awal 15 tahun, ia mempelajari hadis sejak kecil, sehingga untuk mempelajarinya ia merantau ke negeri Syam/Syiria, Hijaz, Yaman, dan beberapa negara lainnya, sehingga beliau akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, shalih dan zuhud. Abu Zurah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah beliau hafal sepenuhnya. 2. Dalam kekeluargaan. Ahmad Ibn Hambal menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah, yaitu mendapatkan anak-anak yang shalih dari istrinya, yang mewarisi beberapa ilmunya, Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari ayahnya. 3. Dalam Kecerdasan. Putranya yang bernama Shalih mengatakan, ayahku pernah bercerita, Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, di saat itu saya telah menghafal apa yang ku dengar darinya. Abdullah, putranya yang lain mengatakan, ayahku pernah menyuruhku, ambillah kitab Mushannaf Waki di mana saja yang kamu kehendaki kemudian tanyakanlah yang kamu mau mengenai matan nanti kuberitahu sanadnya,

atau sebaliknya, kamu tanya mengenai sanadnya kemudian kuberitahu matannya. Abu Zurah pernah ditanya, Wahai Abu Zurah, siapakah yang lebih kuat hafalannya ? anda atau imam Ahmad ibn Hambal ? beliau menjawab, Ahmad. Ia masih bertanya, bagaimana anda tahu ? beliau menjawab, saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, sebab beliau hafal dari beberapa perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya. Abu Zurah mengatakan bahwa Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadis. 4. Pujian para ulama terhadap Ahmad ibn Hambal. Abu Jafar mengatakan, bahwa Ahmad ibn Hambal merupakan manusia yang sangat pemalu, sangat mulia, dan sangat baik dalam pergaulannya serta tingkah lakunya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali Madzakarah hadis dan menyebut beberapa orang shahih dengan penuh hormat dan mengenai ungkapan yang indah. Jika berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahna kepadanya. Ahamd Ibn Hambal sangat rendah hati terhadap beberapa gurunya, serta menghormatinya. Imam Syafii berkata bahwa Ahmad bin Hambal ialah imam dalam delapan hal, imam dalam hadis, imam dalam fiqih, imam dalam bahasa, imam dalam al-Quran, imam dalam kefaqiran, imam dalam kezuhudan, imam dalam wara dan imam dalam sunnah. Ibrahim al-Harbi memujinya, saya melihat Abu Abdillah Ahmad Ibn Hambal seolah Allah gabungkan padanya beberapa ilmu orang terdahulu dan orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu. 5. Guru-Guru Ahmad bin Hambal. Ahmad bin Hambal berguru terhadap banyak ulama, dan jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh guru yang tersebar di berbagai negeri, seperti Mekkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman, dan berbagai negeri lainnya. Diantaranya ialah Ismail bin Jaafar, Abbad bin Abbad al-Ataky, Umari bin Abdillah bin Khalid, Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar alSulami, Imam Syafii, Waki bin Jarrah, Ismail bin Ulayyah, Sufyan bin

Uyainah, Abdurrazaq, Ibrahim bin Maqil, dan masih banyak lagi gurugurunya. 6. Adapun murid-murid Ahmad bin Hambal yang paling menonjol dalam ahli hadis ialah Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, putranya, Shalih bin Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Ahmad bin Hambal, keponakannya, Hambal bin Ishaq.
7. Karya-karya tulis Ahmad bin Hambal.

Ahmad bin Hambal menulis beberapa kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab musnad dan sebaik-baiknya karyanya dalam penelitian hadis. Ahmad bin Hambal tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai sebuah hujjah. Kitab musnad ini berisi lebih dari 25.000 hadis. Diantara karya beliau ialah ensiklopedia hadis atau musnad, yang disusun oleh anaknya dari beberapa kajian, dan kumpulan dari 40 ribu hadis, juga kitab al-Salat dan kitab al-Sunnah. Karya-karya Ahmad bin Hambal diantaranya ialah Kitab al-Musnad, karya yang paling menakjubkan, sebab kitab inilah yang memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadis; Kitab al-Tafsir, tapi al-Dzahabi mengatakan bahwa kitab ini sudah hilang; Kitab al-Nasikh Wa al-Mansukh; Kitab al-Tarikh; Kitab Hadis Syubah; Kitab al-Muqaddam Wa al-Muakkhar Fi al-Quran; Kitab al-Manasik al-Kabir; Kitab al-Manasik al-Saghir. C. Apa itu Kitab Musnad? Musnad adalah salah satu jenis kitab hadis yang disusun berdasarkan salah satu metode penulisan hadis yang dipakai para ulama pada awal abad ke2 H/ke-8 M. Metode itu sendiri dikenal dengan nama tasnid, yakni menghimpun hadis-hadis dari setiap orang sahabat berdasarkan kriteria tertentu, seperti berdasarkan nama-nama sahabat secara alfabetis (urutan abjad hijaiyah), fadhilah (keutamaan), nasab (keturunan), waktu keislaman, kabilah, negeri, dan lain sebagainya. Namun secara teknis, musnad yang disusun secara alfabetis lebih mudah dipergunakan. Dan inilah kriteria musnad yang dikenal secara umum, seperti Musnad Imam Ahmad, karya Ahmad bin Hanbal

(W. 241 H/855 M). Meskipun demikian, ada sebagian ahli hadis yang mendefinisikan musnad itu sebagai kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fikih, bukan berdasarkan musnad sahabat, seperti Musnad Baqi bin Makhlad al-Andalusi (W. 276 H/889 M).4 Kitab-kitab jenis musnad sangat banyak, namun yang terkenal di antaranya sebagai berikut: 1. Musnad Abu Daud Sulaiman bin Daud al-Thayalisi (W. 204 H/819 M), atau yang lebih populer dengan sebutan Musnad al-Thayalisi. 2. Musnad Abu Bakar Abdullah bin Zubair al-Humaidi (W. 219 H/834 M), atau yang lebih populer dengan sebutan Musnad al-Humaidi. 3. Musnad Ali bin al-Jadi (W. 230 H/844 M), atau yang lebih populer dengan sebutan Musnad al-Jadi 4. Musnad Ishaq bin Rahawaih (W. 238 H/852 M) 5. Musnad Ahmad bin Hanbal (W. 241 H/855 M)5 6. Musnad Abd bin Humaid. (W. 249 H/863 M) 7. Musnad Abu Yala Ahmad bin Ali al-Mutsanna al-Mushili (W. 307 H / 919 M). D. Tentang Musnad Ahmad bin Hambal Musnad Ahmad mulai ditulis di Baghdad pada tahun 200 H/815 M. ketika Imam Ahmad berusia 36 tahun, setelah kembali dari Abdurrazaq di Yaman6. Penulisan itu terus berlangsung di perjalanan, ketika beliau rihlah ke Bashrah (tahun 200 H/815 M) hingga kembali ke Baghdad (tahun 209 H/824 M).7 Proses penulisan itu dilakukan dengan menggunakan lembaran-lembaran kertas dan dipisah menjadi beberapa juz. Setelah kembali ke Baghdad, beliau menyuruh putranya Abdullah untuk menghimpun dan menyusun juz-juz yang terpisah itu.

4 5

Lihat, Muhammad Hasbi asy-Shiddiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, hal. 169. Perlu diketahui bahwa di antara kitab-kitab musnad yang ada, Musnad Ahmad merupakan yang terpenting dan paling populer. 6 Lihat, Khashaishul Musnad, hal. 25 7 Lihat, Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 27; Siyaru Alamin Nubala, XI:306.

Pada tahun 225 H/839 M, Musnad Ahmad mulai di-isma (diajarkan) kan kepada dua putranya (Shalih dan Abdullah) dan keponakannya Hambal bin Ishaq. Pengajaran ini berlangsung selama 12 tahun (berakhir tahun 237 H/851 M)8. Pengajaran ini berlangsung seiring dengan proses penyusunan kitab tersebut. Namun sebelum selesai dihimpun seluruhnya, beliau meninggal dunia (tahun 241 H/ 855 M) pada usia 77 tahun. Musnad Ahmad yang sesuai dengan versi al-Mujam adalah edisi perdana cetakan al-Mathbaah al-Maimuniyyah, Mesir, tahun 1313 H/1919 M. Kemudian dicopy oleh Maktabah al-Islami dan Dar Shadir, Beirut, dan diterbitkan sebanyak enam jilid bersama kitab Muntakhab Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Afal pada hamisy-nya (pinggir halaman kitab). Pada jilid pertama disertakan fahras rawi-rawi kitab musnad susunan Syekh Nashir al-Din al-Albani. Apabila rujukan yang dipergunakan seorang pentakhrij sesuai dengan versi-versi di atas, maka pentakhrijan hadis dengan kitab alMujam relatif lebih mudah dilakukan a. Metode Penyusunannya Al-Imam Ahmad menyusun kitab Al-Musnad berdasarkan sistematika hadits berikut9 : 1. Hadis yang berasal dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga. 2. Hadis yang bersumber melalui sahabat Nabi yang ikut perang Badar. Prioritas ini terkait erat dengan informasi dari Rasulullah saw bahwa ada jaminan pengampunan masal dari Allah swt atas segala dosa para sahabat yang ambil bagian dalam perang tersebut. 3. Hadis yang perawi utamanya adalah para sahabat yang mengikuti peristiwa Baiat al-Ridwan dan Sulh al-Hudaibiyah. 4. Hadis yang sumber periwayatannya melalui para sahabat Nabi yang proses ke-Islamannya bertepatan dengan peristiwa Fathu Makkah.
8 9

Lihat, Siyaru Alamin Nubala XI:316 Zainul Arifin, Studi Kitab Hadis, hal. 90-91.

5. Hadis-hadis yang periwayatannya bersumber melalui Ummahatul Muminin. 6. Hadis-hadis yang periwayatannya bersumber melalui para wanita Sahabiyah. b. Jumlah Hadits dalam Al-Musnad Abu Musa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy berkata :

.... ....
Adapun jumlah hadits dalam kitab Al-Musnad, maka aku senantiasa mendengar dari ucapan manusia bahwa ia berjumlah 40.000 hadis, hingga aku membacakannya kepada Abu Manshur bin Zuraiq di Baghdad : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Khathib, ia berkata : Telah berkata Ibnul-Munadiy : Tidak ada di dunia seorang pun yang meriwayatkan dari ayahnya lebih banyak darinya, yaitu Abdullah bin Ahmad bin Hambal. Karena ia mendengar Al-Musnad yang jumlahnya 30.000 hadis, dan Tafsir yang jumlahnya 120.000 hadis.... Aku tidak tahu apakah yang disebutkan Ibnul-Munadiy adalah hadis yang tidak diulang-ulang ataukah hadits lain yang diulang-ulang? sehingga kedua perkataannya itu bisa benar...10 Perbedaan penghitungan antara 40.000 dengan 30.000 hadis disebabkan cara penghitungan. Kalau dihitung secara keseluruhan tanpa memperhatikan pengulangan hadis maka jumlah keseluruhan bisa mencapai 40.000 hadis. Akan tetapi jika dengan memperhatikan pengulangan hadis maka jumlah akan mengecil11, sekitar 30.000 hadis.

10 11

Khashaish Musnad al-Imam Ahmad, hal. 15 Zainul Arifin, Studi Kitab Hadis, hal. 89-90.

Namun jika kita perbandingkan dengan versi cetak yang sampai kepada kita, maka jumlah hadisnya sebagai berikut12 : 1. Penerbit Daar Aalamil-Kutub, Cet. 1/1419 H, tahqiq : As-Sayyid Abul-Maaathiy An-Nuriy dkk, : sebanyak 28.199 hadis. 2. Penerbit Baitul-Afkaar Ad-Dauliyyah, Cet. Thn. 1419 H : sebanyak 28.199 hadis. 3. Penerbit Daarul-Hadiits, Cet. 1/1416, tahqiiq : Ahmad Syaakir dan Hamzah Zain : sebanyak 27.519. 4. Penerbit Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1421, tahqiq : Syuaib AlArnauth dkk. : sebanyak 27.647 hadis. 5. Program Jawaamiul-Kalim versi 4.5 : sebanyak 27.099 hadis. c. Syarat Imam Ahmad bin Hambal Imam Ahmad bin Hambal tidak sembarangan dalam meriwayatkan sebuah hadis. Beliau sangat selektif dan ketat dalam memilah-milah hadis. Paling tidak ini tercermin dari jumlah hadis yang beliau tuangkan dalam Kitab Musnad beliau yang hanya berjumlah sekitar 40.000 hadis dari sekitar 750 ribu sampai satu juta hadis yang beliau kuasai. Ibnu Rajab berkata :


Dan yang nampak dari perbuatan dan perkataan Al-Imam Ahmad bahwasannya beliau meninggalkan riwayat orang-orang yang tertuduh (berdusta) dan orang-orang yang banyak kelirunya akibat kelalaian dan jeleknya hapalan mereka13

Ibnu Taimiyyah berkata :

(()) (()) (()) (())


12 13

Abu al-Jauza, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Sebuah artikel. Hal. 3 Syarh Ilal At-Tirmidziy, I, hal. 386

(())
Syarat kitab Al-Musnad lebih kuat dibandingkan syarat Abu Dawud dalam Sunan-nya. Abu Dawud telah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari para perawi yang ditolak oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Oleh karena itu, Al-Imam Ahmad tidaklah meriwayatkan dalam Al-Musnad dari perawi yang diketahui telah sering berdusta semisal Muhammad bin Saiid Al-Mashluub14 dan yang lainnya. Akan tetapi beliau kadang meriwayatkan dari para perawi yang dilemahkan karena faktor jeleknya hafalannya. Perawi tersebut ditulis hadisnya untuk menguatkan (hadis lain) dan dijadikan sebagai itibar15. Beberapa perawi yang padanya ada kelemahan sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah, contohnya sebagai berikut : 1. Haramiy bin Ammarah Al-Atakiy. Ahmad berkata : Shaduuq, namun padanya terdapat kelalaian (ghaflah). Ibnu Maiin berkata : Shaduuq. Ibnu Hajar berkata : Shaduuq, namun sering ragu (yahimu). 2. Abdullah bin Al-Walid Al-Adaniy. Ahmad berkata : Ia bukan seorang shaahibul-hadiits, dan haditsnya adalah hadis shahih. Akan tetapi ia kadang keliru dalam penyebutan nama-nama. Abu Haatim berkata : Ditulis hadisnya, namun tidak boleh berhujjah dengannya. Ibnu Hibbaan berkata : Mustaqiimul-hadiits. Ibnu Hajar berkata : Shaduuq, namun kadang keliru. 3. Abdul-Wahhab bin Athaa Al-Khaffaaf. Ahmad berkata : Dlaiiful-hadiits, goncang (mudltharib). Ia seorang yang aalim terhadap hadis Saiid bin Abi Aruubah. Ibnu Maiin berkata : Tidak mengapa dengannya. Adz-Dzahabiy berkata : Hadisnya
14

Namanya adalah : Muhammad bin Saiid bin Hassan bin Qais Al-Qurasyiy Al-Asadiy; seorang pendusta [At-Taqriib, hal. 847 no. 5944]. 15 Majmuu Al-Fataawaa, 18/26

10

berderajat hasan. Ibnu Hajar berkata : Shaduuq, namun kadang keliru. 4. Al-Muhadlir bin Al-Mauri. Ahmad berkata : Ia seorang yang sangat lalai. Abu Haatim berkata : Ia tidak kokoh, ditulis hadisnya. Abu Zurah berkata : Shaduuq. Ibnu Hajar berkata : Shaduuq, namun mempunyai beberapa keraguan. 5. Muammal bin Ismail. Ahmad berkata : Ia sering keliru. Abu Haatim berkata : banyak keliru. Ia ditsiqahkan oleh Ibnu Maiin, Ishaaq, dan Ibnu Sad. Ibnu Hajar berkata : Shaduuq, namun jelek hapalannya. Menurut penelitian Dr. Amir bin Hasan Shabriy, ternyata dalam Musnad Imaam Ahmad empat orang, yaitu16: 1. Amir bin Shalih bin Abdillah Az-Zubairiy. Ibnu Hajar berkata : Matruukul-hadiits. 2. Abdullah bin Waqid. Ibnu Hajar berkata : Matruuk. 3. Umar bin Harun Al-Balkhiy. Ibnu Hajar berkata : Matruuk. 4. Muhammad bin Al-Qasim Al-Asadiy. Ibnu Hajar berkata : Mereka mendustakannya. d. Klasifikasi Hadis-Hadis dalam Al-Musnad yang Tercetak Asy-Syaikh Ahmad bin Abdirrahman As-Saatiy berkata17 : terdapat beberapa orang perawi matruk. Perawi

matruk ini dalam ilmu mushthalah termasuk perawi yang sangat lemah. Ada

: . . 16 17

Mujamu Syuyuukh Al-Imam Ahmad fil-Musnad, hal. 29-30. Fathur-Rabbaaniy, 1/8.

11

. . . - -
Berdasarkan penelitianku terhadap hadis-hadis dalam Al-Musnad, aku dapati terbagi menjadi enam macam : 1. Bagian yang diriwayatkan oleh Abu Abdirrahmaan Abdullah bin Al-Imam Ahmad dari ayahnya dengan mendengarnya langsung. Inilah yang diberi nama Musnad Al-Imaam Ahmad. Jumlahnya sangat banyak mencapai bagian kitab. 2. Bagian yang Abdullah mendengarnya dari ayahnya dan yang lainnya. Jumlahnya sangat sedikit. 3. Bagian yang diriwayatkan Abdullah dari selain ayahnya. Bagian ini dinamakan oleh para muhadditsiin (ahli hadis) sebagai Zawaaid (tambahan) dari Abdullah. Jumlahnya cukup banyak dibandingkan bagian yang lain, selain bagian yang pertama. 4. Bagian yang Abdullah membacanya di hadapan ayahnya, dan ia tidak mendengar darinya. Jumlahnya sedikit. 5. Bagian yang ia (Abdullah) tidak membacakannya (di hadapan ayahnya) dan tidak pula mendengarnya, akan tetapi ia mendapati kitab ayahnya dengan tulisan tangannya. Jumlahnya sedikit juga. 6. Bagian yang diriwayatkan oleh Al-Haafidh Abu Bakr Al-Qathiiiy dari selain Abdullah dan ayahnya. Jumlahnya paling sedikit. e. Pemikiran dan Kritik atas Musnad Ahmad bin Hambal Tekad Imam Ahmad adalah mengupayakan koleksi yang berpotensi sebagi hujjah, berbekal tekad itu pula beliau melakukan penelitian dengan

12

seksama agar tiap hadis dalam al-Musnad bermutu shahih. Tanpa ragu Abu Musa al-Madini dan juga Jalaludin al-Suyuti memandang setiap hadis di dalamnya layak dijadikan hujjah.18 Pendapat lebih moderat datang dari Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa dari sekitar 40 ribu hadis al-Musnad hanya ada 3 atau 4 hadis yang belum diketahui secara pasti sumber riwayatnya (dhaif).19 Berbeda dengan sikap penilaian ulama al-Baqai menunjuk sejumlah hadis (tanpa menyebut dengan pasti berapa banyaknya) dalam al-Musnad yang dianggap Maudu. Demikian pula dengan al-Hafidz al-Iraqi menuduh 9 hadis maudu sedangkan Ibn Jazuli mengklaim 29 hadis maudu dalam kitab al-Musnad Ahmad bin Hambal.20 Bila ditelusuri ulang koleksi hadis dalam al-Musnad yang bermateri Fadail al-Amal terasa adanya pola pelonggaran (tasahul) dalam sistem seleksi pemuatannya, padahal Imam Ahmad Ibn Hambal dikenal moderat dalam tradisi menilai jarah riwayat hadis. Fenomena yang mengisyaratkan kontras ini seyogyanya menjadikan proses historis menuju kodifikasi al-Musnad sebagai bahan pertimbangan secara jujur perasaan salut perlu diberikan kepada al-Hafidz al-Iraqi dan Ibn Jauzi, sebab kedua ulama hadis tersebut menerapkan norma uji mutu terhadap validitas (kesahihan) hadis bukan semata mata dipusatkan pada aspek transmisi riwayat sanad, tetapi mengikut sertakan pula sektor kandungan matan hadis yang bersangkutan dengan menyampingkan fanatik atau sentimen keagamaan, tepat kiranya bila penilaian Imam Sharafuddin al-Tayalisi dalam derajat kehujjahan hadisnya. Derajat hadis dalam Musnad Ahmad diperselisihkan oleh para ulama. Setidaknya ada penilaian terhadap hadis-hadis kitab ini. Pertama, seluruh hadis di dalamnya dapat dijadikan hujjah. Kedua, dalam Musnad Ahmad terdapat hadis yang shahih, dhaif, bahkan maudhu. Ketiga, di dalamnya
18 19

atau tadil

para personalia para pendukung

Zainal Arifin, Studi Kitab Hadis, hal. 94-95. Zainal Arifin, Studi Kitab Hadis, hal. 95. 20 Zainal Arifin, Studi Kitab Hadis, hal. 95.

13

terdapat hadis shahih dan dhaif yang mendekati derajat hasan. Terlepas dari kemungkinan adanya hadis dhaif bahkan maudu, kitab Musnad Ahmad tetap memuat banyak hadis yang berkualitas shahih. Oleh karena itu, kitab ini tetap dijadikan rujukan oleh kaum muslim dalam masalah keislaman.21

E. Daftar Pustaka Arifin, Zainul. Studi Kitab Hadis, Pustaka al-Muna, Surabaya, 2010. Asy-Siddieqy, Muhammad Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1999. Hambal, ibn Ahmad. Al-Musnad, Dar al-Fikr, Beirut, 1991. Ibn al-Wasim dan Abd al-Rahman bin Muhammad. Majmu Fatawa ibn Taimiyah, Dar al-Fikr, Beirut, 1989. Zahrah, Muhammad Abu. Tarikh al-Madzhabi al-Fiqhiyah, Dar alFikr al-Arabi, Kairo.

21

Zainal Arifin, Studi Kitab Hadis, hal. 96.

14