Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Stress merupakan bagian dari kehidupan manusia baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Stress adalah suatu respon tubuh terhadap lingkungan yang dapat memproteksi manusia dan juga merupakan bagian dari sistim pertahanan yang membuat manusia dapat bertahan hidup. Stress muncul ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan yang penting, ketika dihadapkan terhadap ancaman atau ketika harus berusaha mengatasi harapan yang tidak realistis dari lingkungannya, ada tuntutan yang luar biasa sehingga mengancam keselamatan atau integritas seseorang. Individu dari semua usia dapat mengalami stress dan mencoba untuk mengatasinya. Ketegangan fisik dan emosional yang menyertai stress menimbulkan ketidaknyamanan. Tenaga kesehatan professional harus memiliki pengetahuan tentang stress sehingga mereka dapat mengenalinya apabila terjadi pada klien dan keluarga, serta mencegahnya secara efektif. Penting bagi perawat untuk mengetahui tanda dan gejala stres, serta memahami tehnik manajemen stress untuk membantu koping individu, sama baiknya dengan membuat intervensi manajemen stress untuk klien dan keluarganya (Lazarus & Folkman, 1984). Banyak individu yang menggunakan istilah stress dalam berbagai hal. Pertama, stress merupakan pengalaman individu yang disembunyikan melalui suatu rangsangan atau stressor. Stressor adalah dorongan yang mengganggu

yang ada di dalam berbagai sistem (Neuman dan Fawcett, 2002). Stress juga merupakan bentuk penghargaan atau persepsi dari stressor. Penghargaan (appraisal) adalah bagaimana individu menginterpretasikan dampak stressor pada diri mereka, apa yang terjadi, dan apa yang mereka dapat lakukan pada hal tersebut (Lazarus, 2007). Akhirnya, stress merupakan istilah umum yang menghubungkan kebutuhan lingkungan dan persepdi individu terhadap kebutuhan tersebut sebagai tantangan, ancaman atau pengrusakan (Varcarolis, Carson, dan Shoemaker, 2006). Stress pada konteks ini ditujukan pada konsekuensi dari stressor, begitu juga penghargaan seseorang terhadap stressor. Hal tersebut akan membuat seseorang menjadi termotivasi untuk mengatasinya dan usaha tersebut dinamakan koping. Koping merupakan proses dimana seorang mencoba mengatur perbedaan antara keinginan (demand ) dengan pendapatan ( resources ). Koping akan membantu seseorang untuk mengubah persepsi seseorang atas ketidaksesuaian tersebut, menolerir, melepaskan diri atau menghindari stress. Stress diatasi dengan kognitif dan behavior transaksi melaui lingkungan.Koping individu dapat efektif atau tidak dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain dari individu itu sendiri , juga dipengaruhi oleh faktor luar yaitu peran serta orang lain. Dalam hal ini dibutuhkan peran serta seorang perawat untuk mengoptimalkan koping yang dimiliki oleh pasien yang sedang dirawat.

B. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat: 1. Menjelaskan konsep-konsep dalam model Lazarus 2. Menganalisis dan mengevaluasi kelebihan dan kekurangan model/konsep Lazarus 3. Menganalisis implikasi model Lazarus dalam keperawatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Stress Kata stress dapat diartikan berbeda untuk setiap individu. Sebagian individu mendefenisikannya sebagai tekanan, desakan atau respon emosional. Namun, Lazarus memandang bahwa stress merupakan hubungan antara seseorang dengan lingkungan yang dinilai melampaui kemampuan atau sumber daya seseorang dan membahayakan kesejahteraannya (Phycological stress is a particular relationship between the person and the environment that is appraised by the person as taxing or exceeding his or her resources and endangering his or her well-being (Lazarus and Folkman, 1984, hal 19). Defenisi stress dari stimulus terfokus pada kejadian di lingkungan seperti misalnya bencana alam, kondisi berbahaya, penyakit, atau berhenti dari kerja. Pendekatan definisi ini menyangkut asumsi bahwa situasi tersebut memang sangat menekan tapi tidak memperhatikan perbedaan individual dalam mengevaluasi kejadian. Sedangkan definisi stres dari respon mengacu pada keadaan stres, reaksi seseorang terhadap stres, atau berada dalam keadaan di bawah stres (Lazarus & Folkman, 1984). Definisi stres hanya melihat dari stimulus yang dialami seseorang, memiliki keterbatasan karena tidak memperhatikan adanya perbedaan individual yang mempengaruhi asumsi mengenai stresor. Sedangkan jika stres didefinisikan dari respon, maka tidak ada cara yang sistematis untuk mengenali mana yang akan jadi stresor

dan mana yang tidak. Untuk mengenalinya, perlu dilihat terlebih dahulu reaksi yang terjadi. Selain itu, banyak respon dapat mengindikasikan stres psikologis yang padahal sebenarnya bukan merupakan stres psikologis. Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa respon tidak dapat secara reliabel dinilai sebagai reaksi stres psikologis tanpa adanya referensi dari stimulus (Lazarus & Folkman, 1984). Seseorang mengalami stress sebagai konsekuensi dari kejadian dan pengalaman hidup sehari-hari. Stress membantu individu untuk tetap waspada terhadap lingkungan mereka. Selanjutnya, stress menghasilkan pertumbuhan kepribadian dan memfasilitasi perkembangan (Aguilera, 1998). Bagaimana individu bereaksi terhadap stress akan bergantung pada bagaimana mereka memandang dan mengevaluasi dampak dari stressor, efeknya pada situasi dan dukungan saat mengalami stress, dan mekanisme koping mereka. Ketika stress mengganggu mekanisme koping seseorang, akan terjadi ketidakseimbangan yang akhirnya menghasilkan krisis (Aguilera, 1998). Jika gejala stress yang datang melampaui durasi stressor, maka individu dapat mengalami trauma (Hyer dan Sohner, 2001). Lazarus (1984) menjelaskan bahwa stress juga dapat diartikan sebagai: 1. Stimulus, yaitu stress merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stress atau disebut juga dengan stressor. 2. Respon, yaitu stress merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stress. Respon

yang muncul dapat secara psikologis, seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung. 3. Proses, yaitu stress digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stress melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi. Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber stress, yaitu : 1. Fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas, dan kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam, perang, banjir, dan sebagainya. 2. Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap penyakit atau kematian. 3. Daily hassles, yaitu masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti kesesakan atau kebisingan karena polusi (Prabowo, Hendro, 1998).

B. Pandangan Terhadap Stres Psikologik 1. Konsep yang berfokus pada lingkungan Stress sebagai stimulus dimana sumbernya adalah ketegangan. Ketegangan bersumber dari rangkaian kegiatan atau peristiwa yang terjadi. Misalnya ketika seorang pasien yang sedang dilakukan pemeriksaan maka dia akan

bertanya-tanya tentang alat yang digunakan, bagaimana caranya, baiayanya. Kegiatan dialaminya tersebut akan direspon sebagai ancmaan atau suatu yang membahayakan diri klien yang ahirnya menimbulkan perasaan tegang yang disebut dengan stressor. 2. Pendekatan yang memperlakukan stress sebagai suatu respon terfokus pada reaksi terhadap stress. Contohnya seseorang menggunakan kata stress untuk menjelaskan ketegangan dirinya. Respon tersebut memiliki dua komponen yaitu komponen psikologis yang melibatkan prilaku, pola pikir dan emosi. Komponen yang kedua adalah respon fisiologis yang meningkatkan rangsangan tubuh seperti jantung berdetak kuat. Respon psikologis dan fisiologis disebut dengan strain. 3. Pendekatan yang mendeskripsikan stress sebagai suatu proses melibatkan stressor dan strain, juga ditambah dengan hubungan antara seseorang dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian secara berkesinambungan yang disebut dengan transaksi antar seseorang dengan lingkungannya. Transaksi mengarah pada kondisi stress secara umum yang melibatkan proses pengkajian atau cognitive appraisal.

C. Penilaian Stress 1. Cognitif Apprasial Merupakan suatu proses mental dimana ada dua faktor yang dinilai yaitu apakah tuntutan tersebut mengancam nyawa dan apakah sumber daya tersediauntuk memenuhi tuntutan tersebut. Kedua faktor tersebut

membuat dua macam penilaian yaitu primer dan sekunder. Penilaian primer adalah proses penilaian pada waktu kita mendeteksi suatu keadaan yang berpotensial menyebabkan stress sedangkan penilaian skunder adalah penilaian terhadap kemampuan dalam diri kita untuk menanggulangi stress. 2. Stress Apprisial Penilaian terhadap kemampuan menanggulangi stress. Penilaianan ini tergantung pada faktor personal( intelektual, motivasi dan personality) dan faktor situasi. Ada beberapa fator yang mempengaruhi stress affrisial yaitu : a. High demands Kejadian yang melibatkan tuntutan yang sangat tinggi dan mendesak sehingga menyebakan ketidak nyamanan. b. Life transition Kehidupan yang memiliki perubahan dan membutuhkan tuntutan kebutuhan yang baru. c. Timing Merupakan batas waktu dalam perencanaan. Bilakita sudah

merencanakan sesuatu yang besar dalam kehidupan kita dan timingnya meleset akan menyebabkan stress. d. Ambiquti Ketidak jelasan akan situasi yang terjadi

e. Disirability Kejadian yang terjadi diluar dugaan. f. Controlability Apakah seseorang mempunyai kemampuan mengubah atau

menghilangkan stresor

D. Tahapan Penilaian Stress Menurut Lazarus (1991) dalam melakukan penilaian tersebut terdapat dua tahap yang harus dilalui, yaitu : 1. Primary appraisal Primary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu peristiwa yang dialami individu. Peristiwa tersebut dapat dipersepsikan positif, netral, atau negatif oleh individu. Peristiwa yang dinilai negatif kemudian dicari kemungkinan adanya harm, threat, atau challenge. Harm adalah penilaian mengenai bahaya yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Threat adalah penilaian mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Challenge merupakan tantangan akan kesanggupan untuk mengatasi dan mendapatkan keuntungan dari peristiwa yang terjadi (Lazarus dalam Taylor, 1991). Pentingnya primary appraisal digambarkan dalam suatu studi klasik mengenai stres oleh Speisman, Lazarus, Mordkoff, dan Davidson (dalam Taylor, 1991). Studi ini menunjukkan

bahwa stres bergantung pada bagaimana seseorang menilai suatu peristiwa. Primary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu: a. Goal relevance; yaitu penilaian yang mengacu pada tujuan yang dimiliki seseorang, yaitu bagaimana hubungan peristiwa yang terjadi dengan tujuan personalnya. b. Goal congruence or incongruenc; yaitu penilaian yang mengacu pada apakah hubungan antara peristiwa di lingkungan dan individu tersebut konsisten dengan keinginan individu atau tidak, dan apakah hal tersebut menghalangi atau memfasilitasi tujuan personalnya. Jika hal tersebut menghalanginya, maka disebut sebagai goal incongruence, dan sebaliknya jika hal tersebut memfasilitasinya, maka disebut sebagai goal congruence. c. Type of ego involvement; yaitu penilaian yang mengacu pada berbagai macam aspek dari identitas ego atau komitmen seseorang. 2. Secondary appraisal Secondary appraisal merupakan penilaian mengenai

kemampuan individu melakukan coping, beserta sumber daya yang dimilikinya, dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat, dan challenge dalam peristiwa yang terjadi. Secondary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu: a. Blame and credit: penilaian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas situasi menekan yang terjadi atas diri individu.

10

b. Coping-potential: penilaian mengenai bagaimana individu dapat mengatasi situasi menekan atau mengaktualisasi komitmen pribadinya. c. Future expectancy: penilaian mengenai apakah untuk alasan tertentu individu mungkin berubah secara psikologis untuk menjadi lebih baik atau buruk. Pengalaman subjektif akan stres merupakan keseimbangan antara primary dan secondary appraisal. Ketika harm dan threat yang ada cukup besar, sedangkan kemampuan untuk melakukan coping tidak memadai, stres yang besar akan dirasakan oleh individu. Sebaliknya, diminimalkan. ketika kemampuan coping besar, stres dapat

E. Mekanisme Koping Koping adalah proses dimana seseorang mencoba mengatur

perbedaanantara keinginan ( demand ) dengan pendapatan ( resources ) yang dinilai dalamsuatu keadaan yang penuh tekanan Koping dapat diarahkan memperbaiki ataumenguasia masalah,, sehingga dapat membantu seseorang mengubah persepsinyaatas ketidaksesuaian, menolerir dan menerima bahaya, melepaskan diri atau menghindari situasi stress. Stress diatasi dengan kognitif dan behavior transaksi melaui lingkkungan. Koping merupakan suatu tindakan mengubah kognitif secara konstan dan usaha tingkah laku untuk mengatasi tuntutan internal dan eksternal yang

11

dinilai membebani atau melebihi sumber daya yang dimiliki individu. Koping membutuhkan usaha yang diperoleh lewat proses belajar. Koping dipandang sebagai usaha untuk menguasai situasi tertekan, namum bukan secara keseluruhaan. Koping yang efektif adalah koping yang membantu seseorang untuk menolerir dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekananyang tidak dapat dikuasainya

F. Strategi Koping 1. Koping yang berfokus pada masalah Usaha mengatasi stress dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Koping ini ditujukan untuk mengurangi demands dari situasi yang penuh dengan stress. Stategi problem focused coping : a. Confrontatif Coping : mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi dan pengambilan resiko. b. Seeking Sosial support : usaha untuk mendapat kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain. c. Planful problem Solving : usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara hati-hati, bertahap dan analitis.

12

2. Emotional Fokused Coping Usah mengatasi stress dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh sesuatuyang dianggap penuh tekanan. Emotional fokued koping ditujukan untuk mengontrol respon emosional terhadap situasi stress. Strategi yang digunakan : a. Self-control : Usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapai situasi yang menekan. b. Distancing : Usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, menghindari seolah-olah tidak terjadi permasalahan, menciptakan pandangan yang positif. c. Posittive reaprisial : Usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus pada pengembangan diri, biasanya bersipat religious. d. Acepting responsibility : Usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan mencoba

menerimanya untuk untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. e. Escape/avoidance : usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut dan menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok dan obat-obatan. Individu cenderung untuk menggunakan problem focused coping dalam menghadapi masalah yang menurut mereka dapat dikontrol. Sebaliknya mereka akan menggunakan emotional focused koping dalam menghadapi masalah yang sulit untuk dikontrol.

13

G. Hasil Dari Koping Koping yang efektif adalah koping yang membantu seseorang untuk menerima situasi yang menekan, serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasianya.

14

BAB III STUDI KASUS

A. Kasus Tn B ( 50 tahun) dirawat di rumah sakit dengan keluhah batuk-batuk lebih kurang 2 bulan, demam,, klien tidak selera makan, berat badan makin menurun. Dokter mendiagnosa klien menderita TBC sehingga perlu dirawat di Rumah Sakit. Klien adalah seorang kepala keluarga, memiliki seorang istri dan tiga orang anak yang sudah bersekolah. Pekerjaan klien adalah seorang buruh. Penghasilan dalam keluarga dibantu oleh sang istri dengan berjualan kue. Klien adalah seorang yang rajin dan gigih dalam bekerja tetapi dalam perawatan diri klien kurang dimana klien sering lupa makan dan istirahat yang kurang. Keluarga klien adalah keluarga yang rukun dan memiliki keimanan yang kuat. Setiap ada permasalahan maka sistim komunikasi yang ada dalam keluarga adalah kompromi. Setelah dirawat di rumah sakit maka klien tidak dapat bekerja. Klien merasa sedih, karena tidak dapat bekerja. Klien juga merasa risau dengan biaya yang dibutuhkan pada perawatan di RS, karena kondisi ekonomi keluarganya kurang memadai. Klien merasa dirinya telah gagal sebagai kepala keluarga karena tidak mampu menafkahi keluarga. Klien menjadi pendiam dan kurang kooperatif dengan perawat. Kondisi tersebut menyebabkan keluhan batuk dan sesak semakin bertambah. Istri dan anak klien secara rutin mengunjungi klien dan memberikan dorongan mental kepada klien , hal tersebut menyebabkan timbulnya semangat klien. Klien

15

mencoba merenungkan kenapa cobaan tersebut menimpa dirinya. Dia berdoa dan meminta kekuatan pada Tuhan sehingga klien menjadi tenang dan mampu menjalani perawatan dengan baik. Klien mulai kooperatif dan mencoba berdiskusi dengan perawat dan orang disekitarnya tentang kondisi penyakitnya. B. Pembahasan Dari kasus diatas maka dapat dibahas sesuai dengan teori stress dan koping menurut Lazarus 1. Stress bersumber karena penyakit TBC sehingga dirawat dan kekhawatiran akan biaya sebagai respon. Akibatnya klien merasa tertekan dan sedih, sereta menganggap dirinya tidak bermanfaat. Hal tersebut memperburuk kondisi batuk dan penyakit klien. 2. Stress aprisial Pada kasus diatas dapat dikaji bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan klien merasa stress. a. Demands: Dimana kondisi penyakit menuntut pasien harus dirawatdan membutuhkan biaya sedangkan kondisi ekonomi, kurang,

pasienmerasa galau dan tertekan. b. Life Transitions: terjadinya perubahan dalam diri pasien dimana diayang seharusnya bekerja menjadi dirawat dan kondisi tersebut membutuhkan banyak tuntutan biaya. c. Timing: Pasien yang telah merencanakan pekerjaanya menjadi terganggu dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya karena sakit.

16

d. Ambliquti 3. Penilaian Primary aprisial Kondisi penyakit dianggap sebagai kegagalan dalam menjalankan perannya sehingga tidak mampu membiaya keluarga dan kondisinya menambah beban keluarga. Pasien merasa tertekan dan hal tersebut memperburuk kondidi penyakitnya. 4. Secondary affrisial Sumber daya yang dimiliki oleh pasien adalah keharmonisan dalam keluarga dan keimanan yang kuat. Istri dan anak klien rajin berkunjung dan memberi dorongan mental pada klien. 5. Mekanisme Koping Mekanisme koping yang digunakan oleh pasien dalam menghadapi stress adalah positive reaprasial dengan cara berdoa. Koping accepting responsibility yaitu dengan mencoba menerima suatu permasalahan. 6. OutPut Koping Pasien merasa tenang menjalani perawatan dirumah sakit.

17

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Stress merupakan hubungan antra individu dengan lingkungan yang oleh individu membebani atau melebihi kekuatannya dan mengancam kesehatannya. Stress dipengaruhi oleh cognitive stress, stress apprial dan koping. Penilaian stress pada pasien dilakukan melalui tahap primary appraisal dan secondary appraisal. Koping adalah proses dimana seseorang mencoba mengatur perbedaan antara keinginan ( demand ) dengan pendapatan ( resources ) yang dinilai dalam suatu keadaan yang penuh tekanan, diarahkan memperbaiki atau menguasia masalah. Koping yang dimiliki individu adalah berfokus pada masalah dan berfokus pada emosi.

B. SARAN 1. Penerapan teori Lazarus pada penanganan klien stress harus tetap dikembangkan dalam tatanan perawatan. 2. Teori stress dan adaptasi diaplikasikan pada praktek keperawatan baik di puskesmas, keluarga, maupun rumah sakit.

18

3. Perawat harus memilliki pengetahuan yang baik tentang teori stress dan adaptasi sehingga mampu memahi kondisi klien yang mengalami stress dan membantu klien untuk mengembangkan koping efektif yang dimiliki klien.

19

DAFTAR PUSTAKA

Ann Marriner Tomey & Martha Raile Alligood. (1998). Nursing Theorist and Their Work. Mosby erathenurse.

Keliat, B.A, dan Helena P. (2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi 2. Jakarta : EGC.

Lazarus, R & Folkman, S.(1984). Stress Appraisal and Coping. New York: Springer.

Nasir, A. (2001). Dasar-dasar Keperawatan Jiwa. Edisi I. Jakarta: Salemba

20