Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

Upper Gastro Intestinal Tract terdiri dari esofagus, gaster/maag dan duodenum (OMD). Untuk mendapatkan gambaran OMD, kita tidak dapat menggunakan foto polos karena akan terlihat hitam semua sehingga diperlukan bahan kontras. Esofagus dalam keadaan normal lumennya selalu kolaps, tidak tampak pada pemeriksaan foto polos, yang tampak hanyalah udara dalam trakea. Oleh karena itu digunakan bahan kontras melalui pemeriksaan Esofagografi. Esofagografi (Barium Swallow) merupakan suatu teknik Radiografis untuk pemeriksaan esofagus dengan menggunakan media kontras (biasasanya adalah Barium Sulfat). Pemeriksaan bisa dilakukan dengan single kontras (hanya Barium Sulfat saja) serta bisa juga double kontras dengan Barium dan udara di mana pasien diberi kristal baking-soda (mirip dengan Alka-Seltzer) untuk lebih meningkatkan kualitas gambar. Barium Sulfat merupakan senyawa metalik yang muncul pada sinar-X dan digunakan untuk membantu melihat kelainan pada esofagus dan lambung. Sinar-X diperlukan untuk melihat jalur dari sistem pencernaan yang sudah dipenuhi oleh kontras. X-ray (Radiograf) adalah tes medis invasif yang membantu dokter dalam mendiagnosa dan mengobati kondisi medis. Pencitraan dengan sinar-X menggunakan dosis kecil radiasi pengion untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh. Sinar-X merupakan bentuk tertua dan paling sering digunakan dalam pencitraan medis. Selain sinar-X, dapat digunakan fluoroskopi yang memungkinkan untuk melihat organ-organ internal dalam gerakan. Bila saluran pencernaan bagian atas dilapisi dengan Barium, radiolog dapat melihat dan menilai anatomi dan fungsi dari esofagus, lambung, dan duodenum. Esofagografi dilakukan untuk memeriksa pasien yang secara klinis diduga mengalami kelainan esofagus baik karena infeksi, kongenital, trauma, neoplasia, maupun metabolik, mencakup hiatal hernia, achalasia, atresia esofagus, spasme esofagus, striktura esofagus, divertikula esofagus, varises esophagus, dan esofagitis. Pemeriksaan esofagografi ini merupakan pemeriksaan yang relatif aman, meskipun demikian setiap pemeriksaan dapat menyebabkan komplikasi tertentu seperti alergi terhadap Barium sehingga menyebabkan reaksi anafilaksis dan dapat menyebabkan obstipasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anatomi dan Fungsi Esofagus
Esofagus adalah suatu saluran otot vertikal yang menghubungkan Hipofaring dengan lambung. Ukuran panjangnya 23-25 cm dan lebarnya sekitar 2 cm (pada keadaan yang paling lebar) pada orang dewasa. Esofagus dimulai dari batas bawah Kartilago Krikoidea kira-kira setinggi Vertebra Servikal VI kemudian akan berakhir di Orifisium Kardia Gaster setinggi Vertebra Thorakal XI. Menurut letaknya esofagus terdiri dari beberapa segmen : 1. Segmen servikalis 5-6 cm ( C.VI-Th. I ) 2. Segmen torakalis 16-18 cm ( Th I-V ) 3. Segmen diafragmatika 1-1,5 cm ( Th X ) 4. Segmen abdominalis 2,5 3 cm ( Th.XI ) Dinding esofagus terdiri dari 3 lapisan yaitu: mukosa yang merupakan epitel skuamosa, submukosa yang terbuat dari jaringan fibrosa elastis dan merupakan lapisan yang terkuat dari dinding esofagus, serta otot-otot esofagus yang terdiri dari otot sirkuler bagian dalam dan longitudinal bagian luar dimana 2/3 bagian atas dari esofagus merupakan otot skelet dan 1/3 bagian bawahnya merupakan otot polos. Pada bagian leher, esofagus menerima darah dari a. karotis interna dan trunkus tiroservikal. Pada bagian mediastinum, perdarahan esofagus disuplai oleh a. esofagus dan cabang dari a. bronkial. Setelah masuk ke dalam hiatus esofagus, esofagus menerima darah dari a. phrenikus inferior, dan bagian yang berdekatan dengan gaster di suplai oleh a. gastrika sinistra. Darah dari kapiler-kapiler esofagus akan berkumpul pada v. esofagus, v. tiroid inferior, v. azygos, dan v. gastrika. Esofagus memiliki beberapa daerah penyempitan: Daerah krikofaringeal, setinggi Vertebra Servikal VI. Daerah ini disebut juga Bab el Mandeb / Gate of Tear, merupakan bagian yang paling sempit, mudah terjadi perforasi sehingga paling ditakuti ahli esofagoskopi. Daerah persilangan aorta (Arkus Aorta), setinggi Vertebra Thorakal IV. Daerah persilangan bronkus kiri, setinggi Vertebra Thorakal V. Daerah diafragma (Hiatus Esofagus), setinggi Vertebra Thorakal X.

Gambar 1. Anatomi Esofagus

Esofagus diinervasi oleh persarafan simpatis dan parasimpatis (Nervus Vagus) dari pleksus esofagus atau yang biasa disebut Pleksus Mienterik Auerbach yang terletak di antara otot longitudinal dan otot sirkular sepanjang esofagus. Esofagus mempunyai 3 bagian fungsional. Bagian fungsional paling atas adalah Upper Esophageal Sphincter (Sfingter Esofagus Atas), suatu cincin otot yang membentuk bagian atas esofagus dan memisahkan esofagus dengan tenggorokan. Sfingter ini selalu menutup untuk mencegah makanan dari bagian utama esofagus masuk ke dalam tenggorokan. Bagian fungsional utama dari esofagus disebut sebagai badan dari esofagus, suatu saluran otot yang panjangnya kirakira 20 cm. Bagian fungsional yang ketiga dari esofagus yaitu Lower Esophageal Sphincter (Sfingter Esophagus Bawah), suatu cincin otot yang terletak di pertemuan antara esofagus dan lambung. Seperti halnya sfingter atas, sfingter bawah selalu menutup untuk mencegah makanan dan asam lambung untuk kembali naik atau regurgitasi ke dalam badan esofagus. Sfingter bagian atas akan berelaksasi pada proses menelan agar makanan dan saliva dapat masuk ke dalam bagian atas dari badan esofagus. Kemudian, otot dari esofagus bagian atas yang terletak di bawah sfingter berkontraksi, menekan makanan dan saliva lebih jauh ke dalam esofagus. Kontraksi yang disebut gerakan peristaltik ini akan membawa makanan dan saliva untuk turun ke dalam lambung. Pada saat gelombang peristaltik ini sampai pada sfingter bawah, maka sfingter bawah akan membuka dan makanan masuk ke dalam lambung Esofagus berfungsi membawa makanan, cairan, sekret dari faring ke gaster melalui suatu proses menelan, dimana akan terjadi pembentukan bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi yang lunak, proses menelan terdiri dari tiga fase yaitu: Fase Oral: makanan dalam bentuk bolus akibat proses mekanik bergerak (voluntary) pada dorsum lidah menuju orofaring, palatum mole, dan bagian atas dinding posterior faring terangkat. Fase Faringeal: terjadi refleks menelan (involuntary), faring dan laring bergerak ke atas oleh karena kontraksi m. stilofaringeus, m. salfingofaring, m.tiroid, dan m. Palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglotis dan sfingter laring. Fase Esofageal: fase menelan (involuntary) perpindahan bolus makanan ke distal oleh karena relaksasi m. krikofaring, di akhir fase sfingter esofagus bawah terbuka dan tertutup kembali saat makanan sudah lewat.

2.2 Definisi Esofagografi (Barium Swallow)


Esofagografi merupakan pemeriksaan esofagus dengan memasukkan bahan kontras. Umumnya dilakukan dengan bahan kontras (+) tunggal tetapi dapat dilakukan juga dengan kontras ganda. Esofagografi ialah pemeriksaan sinar-X yang digunakan untuk menentukan anatomi dari traktus digestif bagian atas. Wanita yang sedang hamil sebaiknya memberitahu dokter yang meminta pemeriksaan serta staf radiologi saat prosedur ini dilakukan. Pemeriksaan ini meliputi pengisian dari esofagus dengan cairan putih (Barium). Hasilnya disebut Esofagogram.

2.3 Tujuan Esofagografi


Untuk menilai kelainan fungsi dan anatomis yang terdapat pada esofagus.

2.4 Teknik Pemeriksaan Esofagografi


A. Media Kontras : Kontras positif (Barium Sulfat) Merupakan kontras media positif untuk orang dewasa. Diencerkan dengan air sesuai kebutuhan. Pada esofagus, lumen dengan aliran kuat dan cepat, konsentrasi kontras harus tinggi (1:1 atau 1:2) atau pekat agar aliran cepat dan perlumuran dinding esofagus menjadi tepat sehingga adanya defek dapat terdeteksi.Pada bayi kurang dari setahun, keluhan muntah dan proyektil, digunakan cairan yang mudah diserap (water soluble), dimasukkan lewat dot/sendok/sonde misalnya gastrografin. Dilakukan pada posis supine sehingga perlumuran bagus. Esofagus normal memiliki dinding lumen yang sangat jelas dan outline jelas.

Gambar 2. Esogafogram Normal

B. Premedikasi : tidak diberikan

C. Persiapan Pasien Tidak diperlukan persiapan secara khusus. Pasien minum BaSO4, 1 sendok makan ditunggu 2 menit kemudian difoto AP dan Lateral.

D. Persiapan Alat dan Bahan :


Pesawat X-Ray + Fluoroscopy Baju Pasien Gonad Shield Kaset + film ukuran 30 x 40 cm Grid X-Ray marker Tissue / Kertas pembersih Bahan kontras Air Masak Sendok / Straw ( pipet )

E. Posisi Pasien Erect di antara meja pemeriksaan yang diatur vertikal dengan layar fluoroskopi. Diberikan Barium Sulfat, instruksikan untuk minum beberapa teguk, proses ini diikuti dengan posisi recumbent. Posisi ini memungkinkan pengisian esofagus lebih sempurna terutama bagian proksimal dan diperlukan pada klinis esofagus.

F. Teknik Pemeriksaan Pengambilan gambar Radiografi dilakukan secara penuh/spot foto pada daerah-daerah yang dicurigai ada kelainan dengan posisi: AP/PA, Oblik (biasanya RAO), Lateral. Bila pemeriksaan dengan kontras ganda, prosedur sama dengan yang di atas, tetapi pada larutan Barium dimasukkan kristal-kristal CO2 atau dapat juga ditelan sebelum meminum cairan Barium.

Proyeksi AP/PA

Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari esofagus.

Faktor teknik :

Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : Region Pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1

Posisi Pasien : Recumbent / Erect Posisi Object :


MSP pada pertengahan meja / kaset Shoulder dan Hip tidak ada rotasi Tangan kanan memegang gelas Barium. Tepi atas film 5 cm di atas Shoulder.

CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada MSP, 2,5 cm inferior angulus sternum (T5-6 ) / 7,5 cm Inferior Jugular Notch FFD : 100 cm Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium

Catatan : Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian diekspose. Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.

Kriteria radiograf :

Struktur : Esofagus terisi Barium Posisi : Tidak ada rotasi dari pasien (Sternoclavicular Joint simetris ) Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lapangan penyinaran. Faktor eksposi :

Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus superimposed dengan Th-Vertebra.

Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.

Gambar 3. Posisi AP

Proyeksi Lateral

Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari esofagus.

Faktor teknik :

Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : Region Pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1

Posisi Pasien : Recumbent / Erect (Recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik) Posisi Objek :

Atur kedua tangan pasien di depan kepala saling superposisi, elbow flexi Mid coronal plane pada garis tengah meja / kaset. Shoulder dan Hip diatur true lateral, lutut flexi untuk fiksasi. Tangan kanan memegang gelas Barium

Tepi atas kaset 5 cm di atas Shoulder

CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada pertengahan kaset setinggi T 5-6 / 7,5 cm Inferior Jugular Notch FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri ) Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium

Catatan :

Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian di-expose Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.

Kriteria radiograf :

Struktur : Esofagus terisi Bariumterlihat diantara C.Vertebral dan jantung Posisi :


True lateral ditunjukan dari superposisi kosta Posterior. Bahu pasien tidak superposisi dengan esofagus Esofagus terisi media kontras.

Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi :

Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus secara jelas yang terisi dengan kontras.

Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.

Gambar 4. Posisi Lateral 9

Proyeksi RAO (Right Anterior Oblique) Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari esofagus Faktor teknik : Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : Region Pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1

Posisi Pasien : Recumbent / Erect (Recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik) Posisi Objek :

Rotasi 35 40 derajat dari posisi Prone dengan sisi kanan depan tubuh menempel meja / film.

Tangan kanan di belakang tubuh, tangan kiri flexi di depan kepala pasien, memegang gelas Barium, dengan straw pada mulut pasien.

Lutut kiri flexi untuk tumpuan. Pertengahan Thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan IR / meja. Tepi atas kaset 5 cm di atas Shoulder.

CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada pertengahan kaset setinggi T 5-6 / 7,5 cm inferior jugular notch FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri ) Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium

Catatan :

Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian diekspose Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.

10

Kriteria radiograf :

Struktur : Esofagus terisi Bariumterlihat diantara C.Vertebral dan jantung ( RAO menunjukan gambaran lebih jelas antara Vertebra dan jantung dibandingkan LAO )

Posisi :

Rotasi yang cukup akan menampakkan esofagus diantara C. Vert. & Jantung, jika esofagus superimposed diatas spina, rotasi perlu ditambah.

Bahu pasien tidak superposisi dengan esofagus Esofagus terisi media kontras.

Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi :

Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus secara jelas yang terisi dengan kontras.

Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.

Gambar 5. Posisi RAO

Proyeksi LAO (Left Anterior Oblique)

Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari esofagus

Faktor teknik :

Film 30 x 40 cm memanjang

11

Moving / Stationary Grid Shielding : Region Pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1

PP : Recumbent / Erect ( Recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik ) Posisi Objek :

Rotasi 35 40 derajat dari posisi PA dengan sisi kiri depan tubuh menempel meja / film

Tangan kiri di belakang tubuh, tangan kanan flexi di depan kepala pasien, memegang gelas Barium, dengan straw pada mulut pasien.

Lutut kanan flexi untuk tumpuan. Pertengahan Thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan IR / meja Tepi atas kaset 5 cm di atas Shoulder

CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada pertengahan kaset setinggi T5-6 / 7,5 cm inferior jugular notch FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri ) Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan Barium

Catatan :

Pasien menelan 2/3 sendok Barium kental kemudian diekspose Untuk full filling digunakan Barium encer. Pasien minum Barium dengan sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.

Kriteria radiograf :

Struktur : Esofagus terisi Barium terlihat diantara sekitar hilus paru dan C.Vertebral

Posisi : Bahu pasien tidak superposisi dengan esofagus, esophagus terisi media kontras.

Kolimasi : Seluruh Esofagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi :

Teknik yang digunakan mampu menampakkan esofagus secara jelas yang terisi dengan kontras, menembus bayangan jantung.

12

Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.

Gambar 6. Posisi LAO

2.5 Indikasi dan Kontra Indikasi Esofagografi


A. Indikasi: Esofagografi (Barium Swallow) dilakukan untuk memeriksa pasien yang secara klinis diduga mengalami kelainan esofagus baik karena infeksi, kongenital, trauma, neoplasia, maupun metabolik. Indikasi esofagografi antara lain: Atresia Esofagus Biasanya diketahui pada waktu pemberian minuman pertama kali pada saat bayi lahir. Setelah minum bayi tersebut akan muntah. Pada esofagografi akan tampak esogafus yang buntu.

Gambar 7. Atresia Esofagus 13

Fistula Trakheo-Esofagei Fistula Trakeo-Esofagei ialah terdapatnya hubungan antara esofagus dan trakhea. Pada bayi ini, saat pertama kali diberi minum ASI akan terjadi refleks batuk dan muntah. Pada pemeriksaan ini tidak boleh menggunakan kontras BaSO4 karena tidak larut dalam air, yang dapat masuk ke trakea menuju paru-paru dan merangsang terjadinya pneumonia. Bahan kontras yang dipakai harus larut dalam air, seperti: dionosil, gastrografin.

Gambar 8. Fistula Trakheo-Esofagei

Ulkus Esofagus Ulkus esofagus merupakan ulkus pada dinding esofagus yang disebabkan oleh asam lambung yang disekresi oleh sel-sel lambung. Pembentukan ulkus juga berhubungan dengan bakteri H. Pylori di lambung, obat-obat anti inflamasi, dan merokok. Nyeri pada ulkus biasanya tidak berhubungan dengan luas atau beratnya lesi. Dapat dijumpai dalam bentuk bentuk: additional defect, star formation, dan spastik (mengkerut). Bila terdapat ulkus pada esofagus misalnya pada posisi jam 12 dan bila difoto dengan posisi jam 3 atau 9 akan terlihat penonjolan ke luar dinding (additonal defect), 14

sedang bila difoto pada posis jam 6 tampak lubang dengan garis-garis di sekitarnya dan membentuk gambaran bintang (star formation), di mana garis-garis tersebut sebenarnya adalah sikatriks. Selain itu dapat pula terlihat di sekitar dinding ulkus terdapat dinding esofagus yang tidak mau berkontraksi (spastik).

Gambar 9. Ulkus Esofagus

Divertikula Esofagus Pada foto dengan kontras BaSO4 terlihat gambaran additional defect berupa kantong-kantong pada dinding esofagus. Divertikula disebabkan oleh traction atau tarikan keluar, yaitu bila ada radang/abses yang sudah sembuh dan kemudian terjadi jaringan fibrotik. Jaringan fibrotik inilah yang akan menarik dinding esofagus. Selain itu divertikula dapat disebabkan oleh pulsion atau dorongan dari dalam, yaitu jika ada proses radang atau benda asing yang tidak diambil setelah beberapa bulan.

15

Gambar 10. Divertikula Esofagus

Spasme Esofagus Penyempitan esofagus bagian distal, biasanya terdapat pada dewasa muda. Terjadinya spasme ini disebabkan oleh faktor psikis. Jadi, tidak ada kelainan anatomis. Letak spasme biasanya pada 1/3 distal esofagus.

Gambar 11. Spasme Esofagus

16

Sriktur Esofagus Dapat terjadi pada semua umur. Terjadi kelainan anatomis dengan gambaran pada foto berupa mouse tail appearance (ekor tikus). Untuk membedakan striktur dengan spasme dapat diberikan muscle relaxan (buscopan i.v). jika melebar berarti spasme sedangkan bila tetap kecil atau sempit berarti striktura. Selain itu pada striktura, dinding tidak licin. Penyebab striktur esofagus dapat berupa peradangan, trauma, atau proses keganasan.

Gambar 12. Striktur Esofagus

17

Achalasia Esofagus Striktura dengan kelainan anatomis kongenital. Kelainan terjadi pada Pleksus Aeurbachi Mesentericus, bila letaknya lebih bawah disebut achlasia gastrik. Terdapat gambaran mouse tail appearance karena tidak terjadi peristaltik dan dilatasi regio diatas bagian yang aganglionik. Kelainan ini mirip dengan megakolon kongenital.

Gambar 13. Achalasia Esofagus

Varises Esofagus Biasanya terjadi pada orang dewasa tua, keadaan sirosis hepatis, gizi buruk, kurus, dan muntah darah. Predileksi letak tersering ialah pada 1/3 distal esofagus. Terjadi susunan yang berbentuk batu bata disebut cobble stone appearance. Terdapat filling defect berupa lusensi. Pada valsava test tampak gambaran di atas yang menetap. Caranya lubang hidung ditutup kemudian berusaha mengeluarkan nafas sehingga rongga Thoraks membesar, akibatnya vasa esofagus juga membesar sehingga tampak gambaran cobble stone appearance. Varises esofagus disebabkan oleh Hipertensi portal. Di sini tekanan menjadi meningkat sehingga terjadi bendungan sirkulasi portal dan cabang-cabang berikutnya

18

membentuk lingkaran yang memberi gambaran bentuk cacing (worm like). Varises esofagus merupakan komplikasi tersering dari sirosis hepatis.

Gambar 14. Varises Esofagus

Massa (tumor) Esofagus a) Tumor Jinak Berupa polip (tunggal), poliposis (banyak), batas tepi jelas, dan tidak terjadi erosi dasar. b) Tumor Ganas (Carcinoma Esofagus) Biasanya terdapat pada orang tua, laki-laki > wanita, pada esofagus 1/3 distal. Tipe yang terbanyak berupa adenokarsinoma. Gambaran Radiologis: Outline mukosa menjadi ireguler dan terjadi defek multipel pada lumen. Bila tumornya pada satu sisi disebut fungioid, dua sisi disebut annulair, bila pertumbuhannya menyerupai polip disebut polipoid.

19

Bagian esofagus sebelah proksimal dari tumor akan melebar sedangkan bagian yang ada tumornya menyempit. Daerah lesi bila diberi buscopan tidak melebar.

Bagian esofagus yang tersering ialah pada anastomose anterior esofagus dan gaster (esofagogaastric junction).

terjadi pada 1/3 distal esofagus karena terjadi perubahan epitel dari squamos-kolumner yang menjadi tidak terkendali dan mengalami perubahan ke arah keganasan.

Gambar 15. Tumor Esofagus

B. Kontra Indikasi : Megaesofagus Regurgitasi Pasien dengan suspek perforasi

20

2.6 Komplikasi Esofagografi


Esofagografi biasanya merupakan pemeriksaan yang aman, namun seperti pemeriksaan lainnya, kadang-kadang dapat ditemui komplikasi. Dokter sebaiknya dapat mengenali gejalanya sehingga dapat segera diberikan terapi. Komplikasi esofagografi di antaranya: Reaksi alergi atau anafilaksis dapat terjadi pada orang yang alergi terhadap Barium yang diminum. Konstipasi. Aspirasi Barium pada trakea.

21

BAB III KESIMPULAN


Esofagus adalah suatu saluran otot vertikal yang menghubungkan Hipofaring dengan lambung. . Ukuran panjangnya 23-25 cm dan lebarnya sekitar 2 cm (pada keadaan yang paling lebar) pada orang dewasa. Esofagus dimulai dari batas bawah Kartilago Krikoidea kira-kira setinggi Vertebra Servikal VI kemudian akan berakhir di Orifisium Kardia Gaster setinggi Vertebra Thorakal XI. Esofagus berfungsi membawa makanan, cairan, sekret dari faring ke gaster melalui suatu proses menelan, dimana akan terjadi pembentukan bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi yang lunak. Untuk mengetahui adanya kelainan esofagus secara anatomi, sebagai penunjang suatu diagnosa penyakit, dapat digunakan pemeriksaan Esofagografi. Esofagografi (Barium Swallow) merupakan suatu teknik Radiografis untuk pemeriksaan esofagus dengan menggunakan media kontras positif (biasanya berupa Barium Sulfat). Hasilnya disebut Esofagogram. Teknik ini dipergunakan untuk memeriksa pasien yang secara klinis diduga memiliki kelainan esofagus baik karena infeksi, kongenital, trauma, neoplasia, maupun metabolik, mencakup hiatal hernia, achalasia, atresia esofagus, spasme esofagus, striktura esofagus, divertikula esofagus, varises esofagus dan esofagitis. Sedangkan pada pasien dengan suspek perforasi dan regurgitasi merupakan hal yang dikontraindikasikan. Pengambilan gambar Radiografi dilakukan secara penuh/spot foto pada daerah-daerah yang dicurigai ada kelainan dengan posisi: AP/PA, Oblik (biasanya RAO), Lateral. Pemeriksaan Esofagografi merupakan pemeriksaan yang relatif aman, meskipun demikian setiap pemeriksaan dapat menyebabkan komplikasi tertentu seperti alergi terhadap kontras. Adapun diperlukan persiapan, posisi maupun teknik pemeriksaan yang tepat untuk memperoleh hasil yang baik guna membantu

menegakkan sebuah diagnosa penyakit.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjahriar Rasad. 2008. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta : Balai Penerbit FK UI. 2. Corr, Petter. 2010. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Alih Bahasa : dr. Dian Ramadhani. Jakarta : EGC. 3. Price, Sylvia A.2005. Patofisiologi Konsep Klinik Proses Penyakit Vol.2 Edisi 6. Jakarta EGC 4. David Sutton. 2006. Textbook of Radiology and Imaging Seventh Edition Volume I. USA : Elsevier Churchill. 5. Robert D. Halpert. 2006. Gastrointestinal Imaging Third Edition. USA : Mosby Elsevier. 6. Holger Petterson, MD. 1995. A Global TextBook of Radiology. N. Norway : The NICER Institute. 7. http://radiology.rsna.org/content/237/2/414.full.pdf 8. http://www.noseandsinus.net/PDF%20Documents/Esophagoscopy_PT-INFO.pdf 9. http://www.google.co.id/search?um=1&hl=en&biw=1280&bih=685&tbm=isch&sa=X&ei=uY EVUKbAAYzNrQeH_IGACw&ved=0CEMQvwUoAQ&q=esophagography&spell=1

23

Anda mungkin juga menyukai