Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan referat radiologi yang bejudul TUMOR KOLON. Saya mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing dan penguji saya, dr. Budi Atmadja Sp.Rad yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan referat ini. Besar harapan saya agar referat ini dapat berguna bagi saya dan para pembaca. Saya juga menyadari bahwa referat ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari dokter pembimbing kiranya membantu saya untuk kedepannya. Atas segala perhatian, kritik, saran, serta dukungan yang telah diberikan, saya ucapkan terima kasih.

Jakarta, September 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

ANATOMI

Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5m yang terbentang dari sekum sampai kanalis analis, dengan diameter rata-rata sekitar 6,5cm tetapi makin dekat anus diameternya makin kecil. Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon, dan rektum. Secara embriologik, kolon kanan berasal dari usus tengah sedangkan kolon kiri sampai rektum berasal dari usus belakang. Kolon dibagi menjadi kolon asenden, transversum, desenden, dan sigmoid. Tempat dimana kolon membentuk kelokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura hepatika dan lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S. Lekukan bagian bawah membelok kekiri waktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum, yang menjelaskan alasan anatomis meletakkan penderita pada sisi kiri bila diberi enema, karena pada posisi ini gaya berat membantu mengalirkan air dari rektum ke fleksura sigmoid.

Usus besar mempunyai empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. Akan tetapi ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. Taenia bersatu pada sigmoid distal, dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap. Panjang taenia lebih pendeh daripada usus, hal ini menyebabkan usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil yang dinamakan haustra. Apendises epiploika adalah kantong-kantong kecil peritoneum yang berisis lemak dan melekat disepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal dari lapisan mukosa usus halus dan tidak mengandung vili atau rugae. Kriptus Lieberkhun (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan sejalan dengan suplai darah yang diterima. Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (sekum, kolon asenden dan dua pertiga proksimal kolon tranversum) dan arteri mesenterika inferior memperdarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon tranversum, kolon desenden dan sigmoid, dan bagian proksimal rektum)

Alir balik vena dari kolon dan rektum superior melalui vena mesenterika superiorinferior dan vena hemorioidalis superior, yaitu bagian dari sistem portal yang mengalirkan darah ke hati. Vena hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka dan merupakan bagian dari sirkulasi sistemik.

Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dibawah kontrol voluntar. Serabut parasimpatis berjalan melalui saraf vagus ke bagian tengah kolon transversum, dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sakral mensuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medula spinalis melalui saraf splangnikus untuk mencapai kolon. Perangsangan simpatis menyebabkan penghambatan sekresi dan kontraksi, serta perangsangan sfingter rektum, sedangkan perangsangan parasimpatis mempunyai efek yang berlawanan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI Tumor merupakan kata lain untuk neoplasma (lesi yang terbentuk karena pertumbuhan sel-sel neoplasma yang abnormal) yang terlihat besar dalam ukuran. Tumor merupakan lesi yang mengisi ruangan (Space Occupying Lesions). Tumor tidak sama dengan kanker, tumor bisa menjadi; benign, pre-malignant, atau malignant. "mass" dan "nodule" dipakai untuk mendeskripsikan lesi tumor sesuai ukuran. "mass" dipakai saat lesi berukuran diameter maksimal 20mm dalam 1 arah, dan "nodule" dipakai untuk lesi yang berukuran <20mm dalam 1 dimensi. Salah satu bentuk dari SOL yang sering ditemukan pada kolon adalah kolorektal polip. Polip kolon adalah pertumbuhan yang berlebihan dari mukosa kolon yang mempunyai potensi untuk menjadi ganas. PATOFISIOLOGI Polip kolon adalah neoplasma epitel benigna yang berada di lapisan sel-sel epitel di sepanjang kolon. Polip kolon dibagi menjadi 3: polip hiperplastik, adenoma, dan sindrom poliposis. Polip hiperplastik terdiri dari 90% polip benigna. Yang kebanyakan berukuran <0.5 cm diameter. Paling sering ditemukan pada regio rectosigmoid, saat dewasa. Adenoma terdiri dari 10% polip. Kebanyakan berukuran kecil <1cm dan mempunyai 10% kemungkinan menjadi kanker invasi. Dibagi menjadi 3 tipe; tubular, tublovillous, dan villous. Sindrom poliposis adalah kumpulan kondisi herediter, seperti; familial adenomatous polyposis (FAP), hereditary nonpolyposis, colorectal cancer, Gardner Syndrome, Peutz-Jegherz Syndrome, and cowden disease.

FAKTOR RESIKO 1. Ras-penelitian menunjukkan bahwa orang afrika mempunyai persentase lebihtinggi

untuk terkena colorektal karsinoma 2. 3. Jenis kelamin-pria mempunyai kemungkinan lebih tinggi terkena polip kollon dibandingkan wanita. Umur-dengan betambahnya umur bertambaha juga kemungkinan untuk terkena polip kolon (20-40yo) EXAMINATION TECHNIQUES Computed Tomography Colonoscopy CT colonoscopy lebih digemari pasien karena hanya membutuhkan sedikit waktu, tidak membutuhkan sedasi, dan pasien bisa datang dan langsung pergi. Setelah pasien sudah di masukkan karbon dioksida, foto diambil dengan pasien dalam posisi supine. CT colonoscopy bisa mencitrakan gambaran lesi berukuran >6mm. Foto termasuk threedimensional intraluminal images, and sagittal and reconstructions of the colon. Dan banyak pencitraan dua dimensi. Double Contrast Barium Enema DCBE sangat bagus untuk diadalkan sebagai rektum. Probabilitas 94% untuk menemukan polip yang berukuran <1cm. Single Contrast Barium Enema SCBE bagu untuk beberapa pencitraan, namun harus dipertimbangkan kegunaan SCBE pada pasien yang mengalam colon obstruktif. Water-Soluble Contrast Enema Kebanyakan teknik ini dipakai untuk pasien yang diduga mengalami perforasi. Pasien yang pernah mengalami trauma atau tindakan bedah. Computed Tomography and Magnetic Resonance Imaging Kemampuan CT untuk mendeteksi penebalan dinding lebih sensitif dibandingkan barium enema.