Anda di halaman 1dari 7

ABSES PERITONSIL

Arung D. Widyaswara / dr. Mugiarto, Sp.THT Abses peritonsil merupakan abses di antara kapsul tonsil dan perbatasan dinding lateral faring (m. constrictor superior). Abses peritonsil merupakan infeksi profunda yang paling sering pada kepala dan tenggorok pada usia dewasa muda. Infeksi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, akan tetapi insidensi tertinggi terjadi pada dewasa usia 20-40 tahun. Pengenalan awal dan pemberian terapi merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencegah komplikasi serius yang mungkin timbul. Anatomi Dua tonsilla palatina terletak pada dinding lateral orofaring pada cekungan (fossa) antara anterior tonsillar pillar (arkus palatoglossus) dan posterior tonsillar pillar (arkus palatofaringeus). Tonsil terbentuk dalam bulan-bulan terakhir masa kehamilan, dan tumbuh secara ireguler, mencapai ukuran terbesarnya pada usia 6 hingga 7 tahun. Tonsil mulai mengalami involusi pada pubertas, dan pada usia yang lebih tua, sedikit jaringan tonsil tersisa. Pada orang sehat, tonsil tidak melebihi medial dari tonsillar pillar. Tiap tonsil memiliki sejumlah kripta pada permukaannya dan dikelilingi oleh kapsul. Kapsul ini merupakan bagian khusus dari aponeurosis intrafaringeal yang menutup bagian medial dari tonsil dan memberi jalan bagi pembuluh darah dan serabut saraf. Ruang peritonsil secara anatomis berdekatan dengan beberapa area yang lebih dalam, dan infeksi dapat menyebar ke ruang parafaringeal dan retrofaringeal.

Etiologi dan patofisiologi

Abses peritonsil secara klasik dianggap sebagai hasil akhir dari suatu proses yang dimulai dengan tonsilitis eksudatif akut, yang berkembang menjadi selulitis, dan akhirnya terbentuk abses. Review terbaru menunjukkan bahwa glandula Weber memainkan peranan kunci pada pembentukan abses peritonsil. Kelompok glandula saliva yang berjumlah 20-25 ini terletak pada suatu tempat di palatum molle, dan superior terhadap tonsil, dan dihubungkan dengan permukaan tonsil oleh suatu duktus. Glandula ini membersihkan area tonsil dari debris dan membantu proses digesti partikel makanan yang terperangkap pada kripta tonsilla. Jika glandula Weber mengalami peradangan, selulitis lokal dapat terbentuk. Dengan berkembangnya infeksi, duktus ke permukaan tonsil mengalami obstruksi yang terus berkembang, oleh karena inflamasi di sekitarnya. Nekrosis jaringan dan pembentukan pus yang dihasilkan oleh proses ini, menimbulkan tanda dan gejala klasik abses peritonsil. Abses pada umumnya terbentuk pada area pada palatum molle, di atas polus superior tonsil, di lokasi glandula Weber. Terjadinya abses peritonsil pada pasien yang pernah menjalani tonsilektomi mendukung teori bahwa glandula Weber memiliki peranan dalam patogenesis. Penyebab lain adalah penyakit periodontal dan merokok. Organisme penyebab Abses peritonsil biasanya polimikrobial. Bakteri aerobik yang tesering adalah Streptococcus pyogenes. Bakteri aerob lain meliputi Staphylococcus aureus,spesies Neisseria, dan spesies Corynebacterium. Bakteri anaerob yang paling sering adalah Fusobacterium necrophorum, yang merupakan basil gram negatif obligat. Spesies Fusobacterium lain dan spesies Prevotella juga ditemukan.

Epidemiologi Frekuensi Di Amerika Serikat, insidensi abses peritonsil diperkirakan sekitar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, sekitar 45.000 kasus tiap tahunnya. Infeksi sebagian besar terjadi pada bulan November hingga Desember dan April hingga Mei, bersamaan dengan terjadinya insidensi tertinggi faringitis streptokokus dan tonsilitis eksudatif. Secara internasional, frekuensi dilaporkan lebih tinggi oleh karena rekurensi dan resistensi terhadap antibiotik. Mortalitas dan morbiditas Mortalitas dari abses peritonsil belum diketahui. Morbiditas abses peritonsiler sebagian besar berkaitan dengan nyeri, biaya terapi, absensi kerja dan sekolah, dan komplikasi. Jenis kelamin Rasio laki-laki dan perempuan yang menderita abses peritonsiler sama. Usia Abses peritonsil dapat terjadi pada orang usia 10 hingga 60 tahun, akan tetapi sebagian besar terjadi pada usia 20-40 tahun. Anak-anak yang lebih muda yang terkena abses peritonsil sering merupakan anak dengan immunocompromised.

Manifestasi Klinis Anamnesis Pasien dengan abses peritonsil tanpak sakit dan datang dengan demam, malaise, nyeri tenggorok, disfagia, dan otalgia. Nyeri tenggorok secara jelas dirasa lebih pada area yang terkena dan sering dialihkan ke telinga pada sisi yang sama. Pasien secara khas datang dengan riwayat faringitis akut yang disertai dengan tonsilitis dan rasa tidak nyaman pada faring unilateral yang semakin memberat. Pasien sering datang dengan demam dan rasa penuh pada tenggorok yang asimetris. Bisa terdapat halitosis, odinofagia, disfagia, dan suara hot-potato. Pada banyak pasien, terdapat nyeri alih telinga ipsilateral saat menelan. Trismus (keterbatasan dalam kemampuan untuk membuka mulut) dengan derajat keparahan yang bervariasi terdapat pada semua kasus,oleh karena nyeri sebagai akibat dari inflamasi dinding faringeal lateral dan otot-otot pterygoid. Oleh karena limfadenopati dan inflamasi otot leher, pasien sering mengeluhkan nyeri leher dan bahkan keterbatasan dalam gerakan

leher. Klinisi sebaiknya memikirkan diagnosis abses peritonsil pada pasien dengan simtom faring yang menetap walaupun sudah mendapat terapi antibiotik yang adekuat. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, terdapat trismus. Menelan juga sangat nyeri, yang menyebabkan pengumpulan saliva atau terus-menerus mengeluarkan saliva (drooling). Pasien sering berbicara dengan suara hot potato voice. Limfadenitis servikal yang sangat nyeri bisa didapatkan dengan palpasi pada sisi yang terkena. Inspeksi pada orofaring menunjukkan pembengkakan dan eritema dari anterior tonsillar pillar dan palatum molle di sekitar tonsil yang terinfeksi. Tonsil pada umunya tergeser ke arah inferior dan medial dengan deviasi kontralateral uvula. Kematian dapat terjadi oleh karena obstruksi jalan nafas, aspirasi, atau perdarahan dari erosi atau nekrosis septik pada selubung karotid.

Simtom dan temuan pemeriksaan fisik yang umum didapatkan pada abses peritonsil (AAFP, 2008)

Diagnosis Diagnosis abses peritonsil sering ditetapkan dengan dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Diagnosis diferensial meliputi infectious mononucleosis,limfoma, peritonsillar cellulitis, dan abses retromolar atau retrofaringeal. Pasien sering datang dengan peritonsilar cellulitis dengan kemungkinan berkembang menjadi abses. Pada peritonsillar cellulitis, daerah antara tonsil dan kapsulnya mengalami edema dan tampak eritem, akan tetapi pus belum terbentuk. Pada beberapa situasi di mana diagnosis abses peritonsiler dipertanyakan, ada tidaknya pus pada aspirasi jarum atau pemeriksaan radiologis dapat membantu diagnosis. Ultrasonografi transkutan atau intraoral dapat juga membantu dalam identifikasi abses dan dalam

membedakan abses peritonsiler dari selulitis peritonsiler. Jika dicurigai penyebaran infeksi ke luar peritonsillar space atau komplikasi pada daerah lateral leher, computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) dapat dilakukan. CT scan dapat membedakan antara selulitis peritonsiler dan abses peritonsiler, dan juga menunjukkan penyebaran infeksi ke daerah-daerah yang berdekatan pada deep neck region. MRI memiliki kelebihan dibanding CT dalam memberikan gambar jaringan lunak yang lebih jelas. MRI juga memiliki kelebihan dalam mendeteksi komplikasi dari infeksi daerah deep neck region seperti trombosis vena jugular interna atau erosi selubung karotid. Kekurangan MRI adalah waktu scanning yang lebih lama, biaya yang lebih tinggi, dan kurang tersedia, dan kemungkinan klaustrofobia. CT scan kepala leher dengan kontras intravena dapat dilakukan apabila insisi dan drainase gagal, jika pasien tidak dapat membuka mulutnya, atau jika pasien masih muda (<7 tahun) dan tidak kooperatif. Terkumpulnya cairan hipodens dengan rim enhancement dapat ditemukan pada tonsil yang terkena. Kultur cairan dari aspirasi jarum dapat dilakukan. Kultur darah dapat dilakukan apabila tanda dan gejala klinis sangat parah.

Terapi Drainase abses, antibiotik, dan terapi suportif untuk menjaga hidrasi dan kontrol nyeri merupakan dasar dari terapi abses peritonsil. Karena selulitis peritonsil mencerminkan stadium transisi dalam perkembangannya ke arah abses peritonsil, terapinya sama dengan pada abses peritonsil, kecuali dalam hal drainase. Prosedur utama untuk drainase abses peritonsil adalah aspirasi jarum, insisi dan drainase, dan tonsilektomi segera. Drainase menggunakan metode apapun dari metode-metode tersebut, dikombinasi dengan terapi antibiotik akan menghasilkan resolusi abses peritonsil pada lebih dari 90% kasus. Manajemen pembedahan pada abses peritonsil telah berganti seiring berjalannya waktu, dari tonsilektomi rutin, menjadi meningkatnya penggunaan metode insisi dan drainase atau aspirasi jarum. Tonsilektomi abses segera (immediate abscess tonsillectomy) belum terbukti lebih efektif daripada aspirasi jarum atau insisi dan drainase, dan dianggap kurang efektif dari segi biaya. Beberapa studi yang membandingkan antara aspirasi jarum dengan insisi dan drainase menunjukkan tidak adanya perbedaan statistik yang bermakna dalam hal keluaran. Walaupun tidak dilakukan secara rutin untuk terapi abses peritonsiler, tonsilektomi segera sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan indikasi yang kuat untuk tonsilektomi, yaitu meliputi mereka yang memiliki simtom sleep apnea, riwayat tonsilitis rekuren (infeksi sebanyak empat kali atau lebih per tahun walaupun telah diberi terapi medis yang adekuat), atau abses peritonsil yang nonresolving atau rekuren. Terapi antibiotik empiris sebaiknya

menggunakan antimikroba yang efektif terhadap Streptococcus Group A dan anaerob oral. Walaupun abses peritonsiler merupakan infeksi polimikroba, beberapa studi menunjukkan bahwa penisilin intravena saja sama efektifnya dengan antibiotik dengan spektrum yang lebih luas, dengan catatan bahwa abses telah dilakukan drainase secara adekuat. Beberapa studi lain melaporkan bahwa lebih dari 50% kultur menunjukkan adanya bakteri anaerob yang memproduksi beta laktamase, sehingga banyak klinisi menggunakan antibiotik dengan spektrum yang lebih luas sebagai terapi lini pertama.

Ketika diagnosis telah ditegakkan, drainase atau aspirasi abses sebaiknya dilakukan pada setting di mana komplikasi jalan nafas dapat diatasi. Pasien sebaiknya diobservasi beberapa jam setelah aspirasi untuk memastikan bahwa dia dapat menerima antibiotik oral dan analgesik. Kunjungan ulang sebaiknya dijadwalkan 24 atau 36 jam kemudian. Antibiotik oral diteruskan selama 10 hari. Sebagian besar pasien dengan abses peritonsil dapat diterapi secara rawat jalan, tetapi sebagian kecil membutuhkan rawat inap. Rawat inap biasanya tidak melebihi dua hari dan dibutuhkan untuk kontrol nyeri dan hidrasi. Risiko untuk kembali mengalami abses peritonsil adalah 10-15 persen. Sekitar 30 persen pasien dengan abses peritonsil memenuhi kriteria untuk tonsilektomi.

Referensi Bailey, Byron J., Johnson, J.T., 2006. Head & Neck Surgery Otolaryngology 4th ed. Lippincott Williams & Wilkins Galioto, N., Peritonsillar Abscess. Am Fam Physician. 2008;77(2):199-202. Gosselin, B.J., Geibel, J. 2010. Peritonsillar Abscess. Available at www.medscape.com Paleri, V., Hill, J., 2010. ENT Infections: An Atlas of Investigation and Management. Clinical Publishing: Oxford Tan, A.J., Pamela, L.D. 2012. Peritonsillar Abscess in Emergency Medicine. Available at www.medscape.com