Anda di halaman 1dari 2

Pendugaan Parameter Demografi Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) Di Gunung Kendeng Resort Cikaniki Taman Nasional

Gunung Halimun
1

AGUNG GUNADI ANDRIAN1 Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Darmaga Bogor 16680.

ABSTRACT Indonesia has about 72 species of raptor, consisting of 3 family, Pandionidae, Acciptridae and Falconidae. Among these species, 15 are endemic of Indonesias species, while the endangereds there are 3 species, the one of them is Javan Eagle (Spizaetus bartelsi). For to keep its population in the wild and the breeding, then it needs a conservation. But, it also need a knowledge of animal inventory, which means for a conservation will be directional. So, it will be know some demographic parametres, including sex ratio and age structures. The comparative data of age structure of Javan Eagle at the Gunung Kendeng area is 8:3. In while, its comparative data of sex ratio there is 1:1 for male and female. Key words: Raptor, Javan Eagle(Spizaetus bartelsi), Demographic Parametres. ABSTRAK Indonesia memiliki sekitar 72 jenis burung pemangsa (raptor) yang terdiri dari 3 famili yaitu Pandionidae, Acciptridae dan Falconidae. Diantara jenis tersebut 15 jenis merupakan jenis endemik Indonesia, sedangkan yang terancam punah terdapat 3 jenis yaitu salah satunya adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dengan katagori keterancaman genting. Untuk menjaga populasinya di alam maupum di penangkaran, maka diperlukan upaya konservasi. Namun untuk mengelola satwa ini diperlukan juga ilmu inventarisasi satwaliar, dengan maksud upaya konservasi menjadi terarah. Dengan adanya kegiatan inventarisasi, maka dapat diketahui beberapa parameter demografinya, termasuk sex ratio dan struktur umur. Data perbandingan struktur umur elang jawa (Spizaetus bartelsi) dewasa dan remaja di kawasan Gunung Kendeng adalah 8:3. Sementara itu, perbandingan sex ratio-nya adalah 1:1 untuk individu jantan dan betina. Kata kunci: Raptor, Elang jawa (Spizaetus bartelsi), Parameter Demografi. PENDAHULUAN Indonesia memiliki sekitar 72 jenis burung pemangsa (raptor) yang terdiri dari 3 famili yaitu Pandionidae, Acciptridae dan Falconidae. Diantara jenis tersebut 15 jenis merupakan jenis endemik Indonesia, sedangkan yang terancam punah terdapat 3 jenis yaitu salah satunya adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dengan katagori keterancaman genting. Elang atau raptor merupakan burung pemangsa yang berperan sebagai pengendali dalam suatu ekosistem. Kondisi status keberadaanya yang dinyatakan terancam punah, membuat banyak pihak sadar akan pentingnya menjaga keberadaan satwa ini di alam. Sehingga mulai banyak pusat penyelamatan satwa yang melakukan aksi konservasi pada elang jawa (Spizaetus bartelsi). Namun tak banyak pula, pihak yang gagal. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor manajemen pengelolaan yang salah. Untuk menangani hal ini, maka diperlukan ilmu inventarisasi satwaliar. Dengan adanya ilmu ini, diharapkan manajemen kepengelolaan bisa berjalan dengan baik terlebih karena telah mengetahui parameter demografi yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut Widodo (2004) di kawasan Gunung Kendeng, terdapat 11 individu elang jawa yang terdiri dari tiga keluarga dan dua individu yang bukan termasuk anggota keluarga tersebut. Masing-masing keluarga terdiri dari satu jantan dan betina dewasa, serta satu anakan. Sementara itu, dua individu lain tergolong dewasa. Tabel individu elang jawa yang ditemukan di kawasan Gunung Kendeng disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Individu elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang berada di kawasan Gunung Kendeng Resort Cikaniki Taman Nasional Gunung Halimun No 1 2 3 4 Lokasi Andam Andam Andam Kendeng Nama No Molt Andam Molt Kiri Sekunder Juve 24 Pengkeh Identifikasi Tidak ada bulu yang meluruh (molting) Molt kiri sekunder Kaki menggantung Kelamin Jantan Betina Jantan Umur Dewasa Dewasa Remaja Dewasa

5 6 7 8 9 10 11

Kendeng Kendeng Nirmala Nirmala Nirmala -

Pasangannya Juvenex No Molt S51 No Molt S52 Ankaknya Molt kiri primer sekunder Molt kiri primer

Molt kiri sekunder kanan primer, Tidak ada molting Tidak ada bulu yang meluruh (molting) Tidak ada bulu yang meluruh (molting) Molt kiri primer dan ekor Molt kiri primer sekunder Molt kiri primer

Betina Jantan Betina -

Dewasa Remaja Dewasa Dewasa Remaja Dewasa Dewasa

Struktur umur tiap individu dapat terlihat dalam tabel tersebut. Struktur umur adalah perbandingan jumlah individu di dalam setiap kelas umur dari suatu populasi (Alikodra 2002). Perbandingan jumlah individu dewasa dan remaja elang jawa (Spizaetus bartelsi) di kawasan Gunung Kendeng adalah 8:3. Dari perbandingan ini, dapat diketahui bahwa piramida struktur umurnya terbalik. Hal ini bisa menjadi penyebab sedikitnya populasi elang jawa di alam karena individu reproduktif sedikit. Dalam piramida struktur umur semestinya jumlah individu remaja lebih banyak dibandingkan individu dewasa. Sementara itu, untuk parameter demografi lainnya yaitu sex ratio didapatkan perbandingan antara individu jantan dan betina sebesar 1:1. Hal ini sesuai dengan pendapat Prawiradilaga (1999) yang mengatakan bahwa elang jawa (Spizaetus bartelsi) merupakan satwa yang tergolong monogami. Hal ini juga merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya populasi elang jawa (Spizaetus bartelsi) di alam.

DAFTAR PUSTAKA Alikodra, HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Prawiradilaga, DM. 1999. Elang Jawa Satwa Langka. Bogor: Biodiversity Conservation Project. Widodo, Tri. 2004. Populasi dan Wilayah Jelajah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) Di Gunung Kendeng Resort Cikaniki Taman Nasional Gunung Halimun. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Anda mungkin juga menyukai