Anda di halaman 1dari 6

Tujuan : Menyelidiki pengaruh katalis terhadap laju reaksi Dasar teori : Bidang kimia yang mengkaji kecepatan, atau

laju, terjadinya reaksi kimia dinamakan kinetika kimia. Kata kinetik menyiratkan gerakan atau perubahan. Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (M/s).

Gambar 1.1

Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berkurangnya jumlah (konsentrasi) pereaksi per satuan waktu atau bertambahnya jumlah (konsentrasi) hasil reaksi per satuan waktu.

Pengaruh dari berbagai faktor terhadap laju reaksi dapat dijelaskan dengan teori tumbukan. Menurut teori ini, reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antar partikel pereaksi. Akan tetapi, tidaklah setiap tumbukan menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki energi cukup serta arah tumbukan yang tepat. Jadi laju reaksi akan bergantung pada tiga hal berikut: - frekuensi tumbukan - Tumbukan yang melibatkan partikel dengan energi cukup - Partikel dengan energi cukup yang bertumbukan dengan arah yang tepat. Dalam laju reaksi, energi aktivasi dalam suatu reaksi sangat diperlukan. Energi aktivasi adalah energi kinetik minimum yang harus dimiliki atau diberikan kepada partikel agar tumbukannya menghasilkan sebuah reaksi. Reaksi berlangsung karena adanya partikel-partikel atom atau molekul yang bertumbukan dan tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi, hanya tumbukan dengan energi yang cukup yang dapat menghasilkan reaksi, energi yang dimaksud adalah energi aktivasi. Energi aktivasi dapat digambarkan melalui distribusi Maxwell-Boltzmann berikut ini :

Gambar 1.2 Dalam gambaran distribusi MaxwellBlotzmann menggambarkan daerah yang berwarna biru adalah reaksi dimana partikelpartikel reaksi tersebut tidak memiliki energi yang cukup untuk terjadinya reaksi, sedangkan daerah disebelah kanan batas energi aktivasinya adalah daerah dimana partikel-partikel dalam reaksi tersebut memiliki energi yang cukup untuk bereaksi saat terjadinya tumbukan. Katalis (catalyst) ialah zat yang meningkatkan laju reaksi kimia tanpa ikut terpakai. Ada dua jenis katalis yaitu katalis aktif yaitu katalis yang ikut terlibat reaksi dan pada akhir rekasi terbentuk kembali, sedangkan katalis pasif adalah katalis yang tidak ikut bereaksi, hanya sebagai media reaksi saja. Suatu reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya disebut katalisme

Gambar 1.3 Merupakan reaksi tanpa katalis

Gambar 1.4 Merupakan reaksi dengan katalis

Berdasarkan gambar 1.4, penambahan katalis membuat batas energi aktivasi bergeser ke kiri menyebabkan semakin besarnya peluang satu reaksi terjadi lebih banyak, jika dilihat dalam gambar 1.5,terjadinya penurunan energi aktivasi sehingga satu reaksi lebih cepat bereaksi, sehingga dengan kata lain untuk meningkatkan laju reaksi kita perlu untuk meningkatkan jumlah tumbukan-tumbukan yang efektif. Salah satu cara alternatif untuk mewujudkannya adalah dengan menurunkan energi aktivasi. Menambahkan katalis memberikan perubahaan yang berarti pada energi aktivasi. Berdasarkan sifatnya, katalis terbagi atas dua, yaitu katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi, dan katalis negatif (inhibitor) yang berfungsi memperlambat laju reaksi. katalisator dibedakan atas katalisator homogen dan katalisator heterogen. Katalisator homogen adalah katalisator yang mempunyai fase sama Gambar 1.5

dengan zat yang dikatalisis, Contohnya adalah besi (III) klorida pada reaksi penguraian hidrogen peroksida menjadi air dan gas oksigen menurut persamaan: 2 H2O2 (l) 2 H2O (l) + O2 (g) .Katalisator heterogen adalah katalisator yang mempunyai fasa tidak

sama dengan zat yang dikatalisis. Umumnya katalisator heterogen berupa zat padat, contohnya adalah Ni, Pt, Pd dan V yang biasanya digunakan untuk mengikat gas-gas sehingga molekul gas dapat memperlemah ikatan kovalen pada molekul gas, dan bahkan dapat memutuskan ikatan itu. Akibatnya molekul gas yang teradborpsi pada permukaan logam ini menjadi lebih reaktif daripada molekul gas yang tidak terabsorbsi. Prinsip ini adalah kerja dari katalis heterogen, yang banyak dimanfaatkan untuk mengkatalisis reaksi-reaksi gas. Selain katalis, faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi antara lain sifat dasar pereaksi, suhu, luas permukaan, konsentrasi dan tekanan yang diberikan.

Pembahasan :

Tujuan pratikum hari ini adalah melihat faktor katalis mempengaruhi satu laju rekasi. Dimana kali ini menggunakan Larutan KMnO4, H2C2O4 Kemudian tambahkan juga H2SO4 . Langkah pertama adalah pengenceran KMnO4, Bilangan mangan yang mempunyai bilangan oksidasi +7 adalah KMnO4 yang mempunyai warna ungu. KMnO4 adalah larutan yang bersifat Fotosensitif yang artinya Larutan tersebut bersifat sensitive terhadap cahaya sehingga jika satu larutan KMnO4 terkena cahaya, warna ungu KMnO4 akan semakin pudar,karena suatu senyawa yang fotosensitif menyebabkan senyawa akan rusak atau terurai saat terkena cahaya. sehingga pada saat dicampurkan dengan campuran H2C2O4 dengan H2SO4 waktu yang diperlukan untuk mengukur perubahan warna dari ungu menjadi bening menjadi lebih cepat karena akibat dari fotosensitif yang telah merusak senyawa tersebut, sehingga pada saat di reaksikan larutan tersebut akan bereaksi sangat cepat. Tujuan dari pengenceran KMnO4 adalah supaya pemakaian H2C2O4 dan H2SO2 lebih efisien serta jika tidak diencerkan perubahan warna pencampuran KMnO 4 dengan asam oksalat akan berlangsung lambat dan sulit diukur. H2SO4 sebagai suasan asam, karena salah satu syarat reaksi redoks adalah membutuhkan suasana asam atau basa. Penggunaan H2SO4 karena asam ini tidak menghasilkan reaksi samping. Suatu reaksi dapat terjadi atau tidaknya terjadi reaksi berdasarkan pada sifat dasar pereaksi (spontan) Rekasi antara larutan KMnO4 dengan H2C2O4 + adalah seperti berikut ini

Reduksi / Oksidator Oksidasi / Reduktor Reaksi setengah reaksinya adalah : x2 x5

Dalam percobaan ini Mn2+ adalah sebagai zat katalisnya. Dalam suasana asam ion permanganat mengalami reduksi menjadi ion mangan(II), sesuai reaksi: MnO4- + 8H+ + 5eMn2+ + 4H2O

Dalam percobaan kali ini disebut juga autokatalis. Autokatalis adalah katalis yang di hasilkan dari reaksi itu sendiri. Dalam percobaan pratikum, pengaruh katalis terhadap laju reaksi dapat dilihat sesuai dengan hasil pengamatan waktu yang diperlukan perubahan warna ungu menjadi bening sesuai dengan table berikut ini. Tetes ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Waktu 72,4 detik 39 detik 34 detik 31,4 detik 29 detik 27 detik 19,2 detik 24 detik 19,2 detik 21,2 detik 22,8 detik 21,6 detik 25,8 detik 13,4 detik 11,8 detik Laju reaksi 0,014 0,026 0,029 0,032 0,034 0,037 0,052 0,042 0,052 0,047 0,044 0,046 0,039 0,075 0,085

Grafik dari hasil percobaan dan pengamatan adalah :

GRAFIK PENGARUH KATALIS


80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Seharusnya sesuai dengan teori bahwa penambahan laju reaksi menurunkan energi aktivasi sehingga laju reaksinya menjadi lebih cepat, penambahan tetes demi tetes seharusnya mempercepat laju reaksi menjadi lebih cepat lagi, tetapi pada hasil percobaan pratikum kali ini, adanya penyimpangan yaitu pada tetes ke 8, tetes ke 13 waktu yang didapatkan lebih lama jika dibandingkan dengan tetes ke 7 atau tetes ke 12. Seharusnya setiap tetes demi tetes mempercepat waktu reaksinya, hal ini berkaitan dengan penyimpangan volume dan pengamatan seseorang. Volume yang diberikan menggunakan pipet tetes memungkinkan pada penambahan KMnO4 tidak sama sehingga reaksi antar satu tetes tidak sama. Faktor lain adalah pengamatan seseorang dengan orang lain berbeda sehingga kita tidak mengukur waktunya secara tepat.