Anda di halaman 1dari 986

Pukulan Naga SaktiKarya : Khu Lung (Gu Long)

Saduran : Tjan Jilid 1 Sebuah sungai yang beberapa kaki lebarnya terbentang dari arah bukit sampai di sekeliling sebuah bangunan kuno yang besar dan kokoh, bunyi air yang mengalir mendatangkan suasana yang amat nyaman di sekitar tempat itu. Di depan bangunan tadi tergantung sebuah papan nama, ketika dilihat lebih teliti maka lamat-lamat masih dapat terbaca tulisannya,

2
itulah tulisan yang berbunyi : Bu-lim-tit-it-keh (rumah nomor wahid di seluruh dunia persilatan) Sebutan Bu-lim-tit-it-keh adalah suatu sebutan yang amat agung dan terhormat, tapi sayang bangunan rumah itu sudah lapuk dimakan usia, huruf-huruf yang tertera diatas papan nama itupun sudah luntur dan buram sehingga mendatangkan suasana yang menggenaskan di hati orang. Ketika membaca lagi nama-nama yang menandatangani sebutan mulia diatas papan nama itu, maka terbacalah nama-nama dari para Ciangbunjin partai Siau Lim, partai Bu tong serta jago-jago kenamaan atau tokoh-tokoh tersohor dari dunia persilatan. Dari sini dapat diketahui betapa anggun dan berwibawanya keluarga dari rumah tersebut. Tapi siapakah penghuninya? Mengapa ia bisa memperoleh penghormatan yang begitu mulia dari seluruh umat persilatan? Dan sekarang, mengapa pula bisa berubah demikian menggenaskan? Empat puluh tahun berselang, ketua angkatan ke sembilan dari partai Thian liong-pay Keng thian giok cu (tangan sakti penyungging langit) Thi Keng dengan ilmu silatnya yang maha sakti memimpin para jago dari seluruh dunia untuk menyerbu lembah Kiu im lok aun kok, dimana dengan sebilah pedang kim-soat-liong-jiau kiam ia berhasil membunuh empat puluh delapan orang jago paling tangguh, anak buah gembong iblis waktu itu Kay hui eng (elang terbang menguasai jagad) Ui It-peng. Kemudian dengan suatu pertarungan kilat berhasil membunuh Ui It-peng sendiri tak sampai lima puluh gebrakan, hingga berhasil menolong dunia persilatan dari ancaman kehancuran. Setelah peristiwa itu, atas usulan dari ketua partai Siau lim serta partai Bu tong, bersama-sama tokoh persilatan lainnya ketika itu menghadiahkan gelar Bu lim tit it keh tersebut untuk Keng thian giok cu Thi keng sebagai pelampiasan rasa terima kasih dan hormatnya para jago terhadap jasa-jasanya selama ini.

3
Waktu berlalu amat cepat, tanpa terasa dua puluh tahun sudah lewat. Suatu ketika, mendadak dari dalam dunia persilatan tersiar kabar yang memberitakan bahwa Keng thian giok cu Thi keng serta putra kesayangannya Giok bin Coan cu (Coan cu berwajah kemala) Thi Tiong giok secara beruntun lenyap dari keramaian dunia persilatan, kemudian tak lama lagi tersiar pula berita tentang kematian mereka.

Menyusul kemudian, terjadi pula serentetan peristiwa aneh, hanya dalam semalaman ternyata Thian liong pay telah membubarkan segenap anggota perguruannya dan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan. Maka nama besar Thian liong pay dalam dunia persilatan pun kian hari kian bertambah merosot. Pada mulanya orang-orang masih menaruh perasaan sayang, menaruh perasaan kuatir dan kasihan atas musibah yang menimpa perguruan itu. Tapi lambat laun, orang persilatan mulai melupakan perguruan tersebut dari benak mereka. Hari itu, ketika senja menjelang tiba dan sang surya mulai condong kearah barat, seorang pemuda tampan berusia delapansembilan belas tahun sedang duduk ditepi sungai yang penuh dengan rindangnya pohon Liu sambil melamun. Tak hentinya wajah yang tampan itu dihiasi senyuman getir, daun kering selembar demi selembar dilemparkan ke dalam sungai dan dibiarkan terbawa arus pergi ke tempat jauh. Sudah lama dia melamun disitu, berpuluh-puluh lembar sudah daun kering yang dilemparkan ke dalam sungai..... Tiba-tiba ia menghela napas panjang, bangkit berdiri dan berguman seorang diri : Thi Eng khi wahai Thi Eng khi! Apakah kau rela hidup kesepian terus sepanjang masa?

4
Mendadak suara pekikan panjang yang amat keras berkumandang memecahkan keheningan, paras mukanya segera berubah, dengan mata yang tajam dia awasi sekeliling tempat itu, kemudian dengan langkah cepat memburu dari arah mana berasalnya suara tadi. Peristiwa itu terjadi di sebuah jalan raya kurang lebih puluhan kaki dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, ketika Thi Eng Khi menyusul ke tempat kejadian maka terlihatlah seorang jago persilatan yang berbaju ringkas telah tergeletak diatas genangan darah dalam keadaan yang amat kritis. Pemuda itu menjadi tertegun dan berdiri termangu setelah menyaksikan kejadian itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Seharusnya dia adalah majikan angkatan ketiga dari gedung Bu lim tit it keh tersebut, berdasarkan asal usul serta sejarah keluarganya, bagaimanapun tidak sepantasnya kalau ia menunjukkan sikap seperti itu. Tapi oleh karena pelbagai alasan, bukan saja ia tak dapat menikmati kejayaan serta kemuliaan yang diperoleh kakeknya, malah sebaliknya ia terikat oleh peraturan leluhurnya dan sama sekali tak mampu untuk mengembangkan sayapnya. Ketika mendengar suara kaki dari Thi Eng khi tadi, lelaki yang terluka parah itu segera membuka matanya yang sayu dan memaksakan diri untuk berbisik : Soo... sobat....ber.... bersediakah kau un...untuk menolong.... see.... seorang yang hampir maa.... mati? Thi Eng Khi bukan seorang yang bernyali kecil, hatinya juga tidak dingin dan kaku, sikap gelagapan yang diperlihatkan tadi tak lebih

hanya ungkapan rasa kagetnya menghadapi peristiwa semacam itu. Tapi setelah lelaki itu memohon dengan suara terbata-bata, semangat ksatrianya segera berkobar kembali, tanpa ragu-ragu dia

5
memayang bangun lelaki itu, membiarkan tubuh lelaki tersebut bersandar pada lengan kirinya kemudian ujarnya : Sobat! Siauseng.. siauseng bersedia membantumu cuma.... cuma.... Rupanya lelaki yang terluka parah itu memahami ucapan lawan diapun tak tahu bukannya dia enggan membantu adalah dia tak tahu bagaimana harus membantu maka kembali ucapnya : Daa ..... dalam sakuku ter.... terdapat obat berwarna kuu.... kuning .... tolong aaam. ambilkan dan berikan berapa bii.... biji kepadaku! Dengan cepat, Thi Eng khi membuka sakunya dan mengeluarkan dua buah botol obat, benar juga salah satu diantaranya berwarna kuning. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera mengeluarkan semua obat itu dan dijejalkan ke dalam mulutnya. Waktu itu, luka yang diderita lelaki tersebut sangat parah, tenggorokan serta lidahnya sudah mengering, bagaimana mungkin ia bisa menelan obat-obat itu? Sayang, ia tak mampu berbicara dan cuma membalikkan matanya yang sayu saja. Thi Eng khi bukan anak bodoh, ia lantas memahami keadaan tersebut, sambil tertawa getir dia lari pulang ke rumah, mengambil semangkuk air dingin dan dilolohkan ke dalam mulut lelaki itu berikut obatnya. Setelah menelan obat, lelaki itu mengatur pernafasan sejenak, paras mukanya pelan-pelan berubah kembali, akhirnya dengan payah dia berkata : Aku Ban li tui hong (selaksa li pengejar angin) Cu Ngo, terima kasih banyak atas bantuan tuan kongcu! Ia menyebut dahulu namanya karena dalam dunia persilatan orang ini pun mempunyai sidikit nama, dia berharap Thi Eng khi jangan sampai memandang rendah dirinya. Siapa tahu Thi Eng khi sama sekali tidak mengerti soal dunia persilatan, setelah mendengar nama Ban li tui hong pun wajahnya

6
tidak memperlihatkan sikap menaruh hormat hanya serunya dengan nada datar : Cu tayhiap, rumahku tak jauh letaknya dari sini, bagaimana kalau kubopong dirimu ke rumah untuk beristirahat dulu. Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo merasa agak kecewa, ia segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Terima kasih, aku tak perlu! Aku tahu lukaku cukup parah dan tipis harapannya untuk hidup lebih jauh, menggunakan waktu yang teramat singkat ini, aku ingin menitipkan suatu persoalan besar kepada kongcu! Katakan Cu tayhiap, asal siauseng sanggup untuk melaksanakannya, pasti tak akan kutampik! Dengan perasaan terima kasih Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang, katanya kemudian :

Beberapa tahun belakangan ini, dalam dunia persilatan telah muncul seorang gembong iblis berhati kejam yang memiliki ilmu silat amat dahsyat, gembong iblis itu khusus memusuhi para partai besar dan jago-jago golongan lurus dalam dunia persilatan, hingga kini jago-jago yang sudah terluka ditangannya antara lain adalah Ci kong taysu dari Siau lim lo han tong, Pek soat cinjin susiok dari Hian to totiang ketua Bu tong pay, Kim kiam to liong (pedang emas pembunuh naga) Lu Bong ko dari partai Hoa san, Sam siang siansu (pelajar dari Sam siang) Tiok It hon, Wu san popo (nenek dari Wu san) Ban Hi serta puluhan orang jago lihay. Setelah berhenti sebentar, kembali dia bertanya : Kongcu pernahkah kau dengar nama-nama dari kawanan jago lihay yang baru kusebut tadi? Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Siauseng amat asing terhadap jago-jago lihay dari dunia persilatan ....., sahutnya. Sekali lagi Ban li tui hong Cu Ngo menghela napas panjang.

7
Aaaai.... kalau begitu mungkin kongu juga tidak tahu siapakah tokoh nomor wahid dari dunia persilatan sekarang Cang ciong sin kiam (pedang sakti seantero jagad) Sangkoan Yong, Sangkoan tayhiap itu? Thi Eng khi cuma tertawa lirih sebagai pertanda rasa sesalnya atas ketidak mampuannya. Ban li tui hong Cu Ngo segera berkata lebih jauh : Kongcu tidak mengerti soal urusan dunia persilatan, akupun tak akan menjelaskan lebih jauh, pokoknya Cang cong sian kiam Sangkoan tayhiap yang merasakan adanya ancaman berbahaya yang mengancam keutuhan dunia persilatan telah menyebarkan Bu-lim tiap (surat undangan dunia persilatan) untuk mengundang kehadiran para ketua partai besar serta tokoh-tokoh ternama dari dunia persilatan untuk bersama-sama berkumpul di perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san untuk bersama-sama merundingkan siasat guna membasmi iblis tersebut dari muka bumi. Aku mendapat tugas untuk menyebar surat undangan tersebut, sungguh tak disangka ketika lewat disini mendapat disergap orang dan surat undangan dirampas olehnya ..... Belum habis dia berkata, dengan sinar mata tak berkedip Thi Eng khi telah menukas: Oooh...! Rupanya Cu tayhiap akan mengirim surat undangan buat Thian liong pay. Siauseng segera akan mengundang kedatangan dari ketua Thian liong pay, empek Gui untuk menemui dirimu, harap lo siangseng beristirahat dulu disini, bila nanti ada persoalan silahkan dibicarakan sendiri kepada empek Gui. Thi Eng khi sudah membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu, tapi dengan napas tersengkal Ban li tui hong Cu Ngo kembali berseru : Tunggu dulu kongcu! Aku belum sempat menanyakan namamu! Siauseng she Thi bernama Eng khi! Seusai berkata kembali dia beranjak pergi.

Agaknya Ban li tui hong Cu Ngo tidak ingin mengganggu ketenangan ketua Thian liong pay, cepat-cepat serunya kembali : Ketua Thian liong pay yang dulu, Keng thian giok cu Thi keng, Thi locianpwe apakah keluarga kongcu? Yaa, dia adalah mendiang kakekku! sahut Thi Eng khi sedih. Dengan agak tercengang Ban li tui hong Cu Ngo berseru kembali : Kalau kudengar dari pembicaraan kongcu, mengapa kau seperti bukan anggota perguruan Thian liong pay? Thi Eng khi segera menghela napas panjang. Aaai... dalam pesan wasiatnya, mendiang kakekku telah menurunkan perintah untuk melarang aku belajar ilmu silat, maka dari itu aku tidak bisa terhitung sebagai anggota perguruan Thian liong pay! Ban li tui hong termenung sebentar, kemudian katanya lagi : Kalau kongcu memang bukan anggota Thian liong pay, lebih baik tak usah merepotkan ketua Thian liong pay, Gui tayhiap lagi. Thi Eng khi berpikir sebentar, kemudian sahutnya : Baiklah, soal menghantar undangan untuk Thian liong pay, biar siauseng saja yang mewakilimu toh sama saja. Tiba-tiba dengan wajah rikuh Ban li tui hong Cu Ngo berkata : Undangan yang dibagi Sangkoan tayhiap kali ini disebar oleh sekelompok orang, sedang undangan yang seharusnya kusampaikan adalah undangan Im-gi-siu (kakek awan) Sang Thong, San locianpwe dari bukit Mong san. Maaf! Undangan buat Thian liong pay tidak berada ditanganku ...... Thi Eng khi memang tiada pengalaman sama sekali soal dunia persilatan, merasa ucapan tersebut masuk diakal juga, maka diapun tidak berkata apa-apa lagi.

9
Siapa tahu, pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil tertawa dingin : Cu tayhiap, ucapanmu itu agak kurang jujur, seandainya Thian liong pay mendapat undangan, memangnya tak bisa sekalian dibawakan kepada Cu tayhiap? Dengan cepat Thi Eng khi berpaling, tampak seorang kakek gemuk pendek berusia lima puluh tahunan yang berwajah merah seperti kepiting rebus, memakai jubah berwarna abu-abu yang penuh debu, jelas baru saja melakukan perjalanan jauh berdiri disana. Setelah mengerdipkan matanya yang besar, dia lantas menjerit kaget, teriaknya : Empek Li, rupanya kau, Eng-ji memberi hormat kepadamu! buru-buru ia membungkukkan badannya memberi hormat. Ketika Ban li tui hong Cu Ngo menyaksikan kemunculan orang itu, wajahnya makin tersipu-sipu, setelah tertawa getir katanya : Li tayhiap, tidak diundangnya partai kalian hanya merupakan suatu kesilafan saja dari Sangkoan tayhiap, harap engkau jangan menaruh salah paham karena persoalan ini. Sam ciat jiu (si tangan sakti) Li Tin tang atau kakek gemuk pendek itu sesungguhnya sedang berbicara dengan wajah merah, akan tetapi setelah menyaksikan seluruh badan Ban li tui hong Cu

Ngo bermandikan darah, ia menjadi tak tega dengan senyuman yang dikulum segera katanya : Cu tayhiap, sudah banyak tahun kita tak pernah bersua, bila ada persoalan lebih baik bicarakan nanti saja. Seraya berkata dia lantas maju ke depan dan secara beruntun menotok jalan darah Ki bun, Jit kan, Ciang tay, Hian ki dan Jin tiong hiat lima buah jalan darah penting di tubuh orang itu. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kata Ban li tui hong Cu Ngo : Luka yang siaute derita teramat parah, lebih baik Li tayhiap tak usah repot-repot lagi!

10
Cu tayhiap! Sam ciat jiu Li Tin tang dengan wajah serius, Kau menderita luka di depan pintu gerbang Thian liong pay, itu berarti Thian liong pay berkewajiban untuk menolong dirimu, sekalipun dalam dunia persilatan sudah tiada tempat lagi buat Thian liong pay kami, bukan berarti orang-orang Thian liong pay enggan menolong orang. Sekalipun harus mengorbankan keempat biji obat mustika Toh mia kim wan warisan mendiang guru kami, kami pasti akan tetap berusaha untuk menolong jiwa Cu tayhiap ....! Sebenarnya Ban li tui hong Cu Ngo beranggapan bahwa tipis harapan baginya untuk hidup lebih jauh, akan tetapi setelah mendengar nama Toh mia kim wan (pil emas perenggut nyawa), semangatnya kontan saja berkobar kembali, tak tahan tanyanya: Apakah partai kalian masih memiliki sisa Toh mia kim wan? Apakah kalian bersedia untuk mengorbankan sebutir buat siaute? Sekaligus dia mengajukan dua pertanyaan secara beruntun, tapi dalam hatinya tidak berani menaruh harapan yang terlalu besar. Sam ciat jiu Li Tin tang segera mengangguk sambil tertawa, sahutnya lantang : Cu tayhiap, jelek-jelek Thian liong pay masih memiliki jiwa seorang ksatria, tanggung kau tak bakal mati. Sekarang hayolah turut aku untuk berjumpa dulu dengan ciangbun suheng kami. Dia lantas melepaskan sebuah totokan lagi untuk menotok jalan darah tidur di tubuh Ban li tui hong Cu Ngo, setelah itu sambil membopong badannya, kepada Thi Eng khi katanya : Anak Eng, dalam pertemuan hari ini kau juga boleh turut ambil bagian, hayolah ikut aku! Dengan jalan berseok-seok dia lantas melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Sudah hampir lima tahun lamanya Thi Eng khi tak pernah berjumpa dengan paman ketiganya ini, maka sewaktu dilihatnya Sam ciat jiu Li Tin tang berjalan agak terseok seok dia menjadi terperanjat sekali.

11
Empek Li! segera tegurnya, apakah kakimu terluka? Sam ciat jiu Li Tin tang tertawa getir. Cuaca berubah-ubah, apalagi nasib manusia, luka kecil di kaki itu mah tidak terhitung seberapa! Thi Eng khi ingin tahu sebab-sebab terlukanya Sam ciat jiu Li Tin tang, maka dengan keheranan dia bertanya :

Empek Li, mengapa kau sampai menderita luka? Panjang kalau diceritakan, sahut Sam ciat jiu Li Tin tang sambil mengangkat bahunya. Sekarang lebih baik kau pulang dulu, setelah menyembuhkan luka dari Cu tayhiap nanti, kami masih ada banyak persoalan yang musti dibicarakan, nanti saja akan sekalian kuberitahukan kepadamu ....! Dalam waktu singkat, mereka sudah masuk lewat pintu samping dan menuju ke ruang utama gedung Bu lim tit it keh tersebut. Waktu itu, seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang memakai juga baju warna abu-abu sedang memandang keluar ruangan dengan termangu-mangu, seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinantikan olehnya. Ketika menyaksikan kemunculan Sam ciat jiu Li Tin tang, kulit wajahnya segera mengejang keras, buru-buru disambutnya kedatangan orang itu seraya menegur : Samte, apa yang telah terjadi denganmu? Sam ciat jiu Li Tin tang langsung berjalan masuk kedalam ruang tengah dan membaringkan tubuh Ban li tui hong Cu Ngo kelantai setelah itu jawabnya. Ciangbun suheng kebetulan siaute baru pulang dari Lak hap dan melihat Eng ji sedang menolong Ban li tui hong Cu tayhiap yang sedang terluka maka akupun membopongnya kembali, harap ciangbun suheng bersedia memberi bantuan pengobatan sehingga Eng ji bisa melakukan tugas kebajikannya sebagai manusia.

12
Ternyata kakek berambut putih yang berusia enam puluh tahunan ini adalah lotoa dari Thian liong ngo siang (lima kebacikan naga sakti) dan juga merupakan ketua Thian liong pay saat ini, Kay thian jiu (tangan sakti pembuka langit) Gui Tin tiong. Sewaktu mendengar ucapan dari Li Tin tang tadi, mula-mula keningnya berkerut, kemudian sambil menghela napas panjang dia membungkukkan badan dan memeriksa luka yang diderita oleh Ban li tui hong Cu Ngo tersebut. Tampaknya Kay thian jiu Gui Tin tiong memiliki kemampuan yang lumayan juga dalam soal ilmu pertabiban, baru saja tangan kirinya ditempelkan diatas urat nadi Ban li tui hong, alis matanya yang putih segera berkenyit rapat sehingga membentuk satu garis lurus. Menyusul kemudian dengan gerakan cepat dia membuka pakaian Ban li tui hong Cu Ngo serta memeriksa dadanya, betul juga diatas kulit bagian dada itu terlihat sebuah bekas telapak tangan berwarna hitam pekat. Sambil gelengkan kepala dan menghela napas, ia lantas berkata : Cu tayhiap telah terhajar oleh pukulan Jit sa tui hun ciang, isi perutnya sudah bergeser dan nadinya ada delapan sampai sembilan bagian yang telah putus, maaf Ih heng (kakak yang bodoh) tak mampu memberikan pertolongan! Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan : Lebih baik kita tanyakan saja kepadanya mungkin ada pesanpesan terakhir yang hendak disampaikan. Sehabis berkata, dia lantas menepuk bebas jalan darah Cu Ngo yang tertotok itu. Begitu jalan darahnya dibebaskan, Ban li tui hong Cu Ngo lantas

tersadar kembali dari tidurnya, ia tidak sempat mendengar ucapan dari Kay thian jiu Gui Tin tiong, tapi sempat mendengar Sam ciat jiu Li Tin tang sedang berkata : Toako, apakah pil mustika Toh mia kim wan tak mampu untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap?

13
Pil mustika Toh mia kim wan adalah mustika dari perguruan kita, jangan toh cu tayhiap masih bisa bernapas, sekalipun napasnya sudah berhenti, asal denyutan nadinya masih berdetak lirih, tidak sampai dua jam sesudah menelan pil tersebut, dia tentu akan segar bugar kembali seperti sedia kala. Ban li tui hong mendapat luka tepat di depan pintu gerbang perguruan kita persoalan ini mempengaruhi soal gengsi dan serta martabat perguruan kita dimata umum, aku pikir ada baiknya kalau kita mengorbankan sebutir pil Toh mia kim wan untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap ....! Samte! kata Kay thian jiu Gui Tin tiong dengan kening berkerut, sekalipun ucapanmu masuk diakal, tapi bagaimana dengan Eng ji? Sisa tiga butir pil Toh mia kim wan tersebut kita siapkan untuk diberikan kepadanya! Menyinggung soal Thi Eng khi, Sam ciat jiu Li Tin tang menjadi ragu dan tak mampu berbicara lagi. Thi Eng khi yang kebetulan berada disana, dengan cepat lantas berseru : Empek Gui, Eng ji lebih cuma seorang pelajar yang lemah, apalah arti Toh mia kim wan bagiku? Lebih baik kita gunakan untuk menyelamatkan jiwa Cu tayhiap. Kay thian jiu Gui Tin tiong termenung dan berpikir beberapa saat lamany, tiba-tiba terlintas kebulatan tekadnya, sambil menggigit bibir sahutnya : Baik! Demi Eng ji, kita tak bisa mendapat makian dari orang persilatan sebagai melihat orang yang hampir mati tak mau menolong. Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna biru dan mengambil sebutir pil warna merah dari dalamnya, bau harum semerbak segera tersiar dalam ruangan itu.

14
Kay thian jiu Gui Tin tiong membuka mulut Ban li tui hong Cu Ngo dan menjejalkan pil Toh mia kim wan tersebut kedalam mulutnya. Pil mestika itu memang lain daripada yang lain, begitu masuk ke dalam mulut segera mencair dan mengalir masuk ke dalam perut. Kay thian jiu Gui Tin tiong segera mendudukkan Ban li tui hong Cu Ngo, setelah itu sambil menempelkan telapak tangan kanannya diatas pusar orang ujarnya : Harap Cu tayhiap segera mengerahkan tenaga dalam begitu semua hawa murni terhimpun kembali, agar daya kerja obat tersebut bisa menyebar ke seluruh bagian badan. Segulung hawa murni segera disalurkan ke dalam tubuh Ban li tui hong melalui telapak tangannya. Pada saat Kay thian jiu Gui Tin tiong sedang memberikan

pertolongan itulah dari luar pintu kembali muncul tiga orang kakek berbaju abu-abu tua. Salah seorang diantaranya bermata buta sebelah lalu yang seorang kehilangan tangan kirinya sedang orang yang ketiga mempunyai mulut luka yang memerah diatas wajahnya. Dari tiga orang yang munculkan diri ternyata tak seorangpun yang berada dalam keadaan utuh. Thi Eng khi yang menyaksikan kehadiran mereka segera menjerit kaget, serunya: Empek Wong, empek Oh, paman Kwan, mengapa kalian? Belum sampai orang itu menjawab, Sam ciat jiu Li Tin tang sudah menggoyangkan tangannya sambil berbisik : Eng ji, bila ada urusan kita bicarakan nanti saja, sekarang empek Gui sedang memusatkan pikirannya, kita tak boleh memecahkan perhatiannya .... Kemudian kepada tiga orang di depan pintu, dia cuma manggutmanggut, menandakan betapa kuatirnya dia terhadap mereka.

15
Tiga orang itu hanya berdiri tak berkutik didepan pintu, ketika melihat Kay thian jiu Gui Tin tiong sedang mengerahkan tenaga menolong orang , wajah mereka sama-sama menunjukkan keraguraguan. Tiga orang itu ditambah dengan Kay thian jiu Gui Tin tiong dan Sam ciat jiu Li Tin tang merupakan sisa anggota Thian liong pay saat ini yang disebut orang Thian liong ngo siang. Lotoa, Kay thian jiu Gui Tin tiong adalah ciangbunjin partai Thian liong pay saat ini. Loji, Pit tee jiu (pukulan sakti pembuka bumi) Wong Tin pak adalah kakek bermata buta sebelah yang berdiri didepan pintu itu, meskipun usianya belum mencapai enam puluh, selisihpun tidak terlalu banyak. Losam adalah Sam ciat jiu Li Tin tang. Losu adalah San tian jiu (pukulan halilintar) Oh Tin lam, yakni kakek yang kehilangan tangan kirinya disamping kiri Pit tee jiu, kalau dibilang usianya dia jauh lebih kecil seratus delapan hari dibandingkan dengan usia Sam ciat jiu, tahun ini genap berusia lima puluh empat tahun. Orang yang berdiri disebelah kanan Pit tee jiu Wong Tin pak dan mempunyai lima buah bekas luka berwarna merah darah diatas wajahnya itu adalah Lo ngo, Sin lui jiu (tangan geledek) Kwan Tin see, usianya baru lima puluh dua tahunan. Menyinggung soal Thian liong ngo siang, tanpa terasa orang akan teringat kembali dengan ketua Thian liong pay generasi yang lalu, Keng thian giok cu Thi Keng dihormati dan disegani oleh setiap manusia didunia ini. Sesungguhnya dia tak lain adalah gurunya Thian liong ngo siang.

16
Thi Keng bukan saja merupakan ketua yang paling kosen dan paling hebat diantara sembilan orang ketua lainnya semenjak Thian liong pay didirikan, selain itu diapun merupakan seorang jago paling tangguh dalam dunia persilatan selama seabad belakangan ini. Terlepas dari ilmu silatnya yang luar biasa, kebajikan, kesosialan

dan kemuliaan hatinya sukar ditandingi oleh setiap orang. Pada empat puluh tahun berselang, andaikata Thi Keng tidak menampilkan diri untuk melenyapkan kaum iblis, dunia persilatan dewasa ini pasti sudah kacau balau tak karuan, sudah barang tentu kawanan jago dari pelbagai partai dan perguruan yang ada dalam dunia persilatan pun akan menjadi santapan empuk dari gembong iblis yang tersohor waktu itu, Kay ih hui eng (elang terbang menyelimuti jagad) Ui It peng. Thian liong pay pada waktu itu sungguh perkasa, sungguh luar biasa dan mengagumkan. Tapi apa sebenarnya secara tiba-tiba Thian liong pay bisa jatuh dalam keadaan yang begini mengenaskan? Kalau dibicarakan kembali, sebenarnya peristiwa ini terjadi pada dua puluh tahun berselang, ketika setahun setelah putra Thi Keng yaitu Thi Tiong giok menikah, tiba-tiba lenyap tak berbekas. Lenyapnya putra yang amat dicintai ini sungguh merupakan suatu pukulan yang berat bagi jago tua yang berilmu tinggi dan berjiwa social ini, sehingga semua semangatnya hampir rontok dibuatnya. Dia bukan merasa kelewat sayang pada putranya, melainkan merasa kecewa bagi kejayaan Thian liong pay, sebab Thi Tiong giok mempunyai tulang yang bagus untuk berlatih silat, dialah satusatunya tumpuan harapan dari Thi Keng untuk melanjutkan kariernya mengangkat nama baik Thian liong pay di mata umum.

17
Lenyapnya pemuda itu bukan saja merupakan suatu berita duka bagi Thian liong pay, juga boleh dibilang merupakan suatu kerugian yang besar bagi seluruh umat persilatan. Maka semenjak peristiwa itu, Thi Keng pun turut lenyap dari peredaran dunia persilatan. Musibah yang menimpa partai Thian liong pay ini dengan cepat mempengaruhi ketenangan seluruh dunia persilatan, hampir setengah tahun lamanya dunia persilatan menjadi kalut dan tidak tenang. Tapi akhirnya siapapun tidak berhasil menemukan jejaknya. Sampai lebih kurang satu bulan lebih yaitu disaat Thi Eng khi dilahirkan, persoalannya baru mendapat sedikit titik terang, seorang pendekar dari luar perbatasan Tiang pek lojin telah muncul dengan membawa tiga macam benda milik Keng thian giok cu Thi Keng yang dititipkan kepadanya. Benda tersebut adalah satu stel baju yang penuh berpelepotan darah, sebuah lencana Thian liong leng pay dan sepucuk surat wasiat. Pakaian berdarah itu adalah pakaian milik Keng thian giok cu Thi Keng, lencana Thian liong leng pay adalah tanda kekuasaan dari seorang ketua Thian liong pay. Setelah dua macam benda itu dihantar pulang maka terbuktilah sudah kalau Thi Keng benar-benar sudah menemui musibah. Apalagi surat wasiat tersebut, boleh dibilang merupakan berita buruk diantara berita buruk, bukan saja menerangkan bahwa Keng thian giok cu Thi Keng telah tewas di luar perbatasan, bahkan menerangkan bahwa Thi Tiong giok juga telah tiada lagi didunia ini. Ada satu hal yang paling tidak bisa dimengerti adalah pesan Thi

Keng dalam surat wasiatnya yang melarang anak Thi Tiong giok yang masih berada dalam kandungan, baik dia lelaki atau perempuan, semuanya dilarang belajar ilmu silat lagi. Selain itu, juga mengangkat Kay thian jiu Gui Tin tiong sebagai ketua baru serta

18
menitahkan kepandaiannya untuk menbuyarkan perguruan serta mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan. Mengapa Thi Keng sampai berpesan demikian, sekalipun tak bisa diduga secara pasti tapi ada sebagian alasan yang dapat diduga ia tahu merasa sedih yang luar biasa dan kecewa yang luar biasa sehingga mengambil keputusan untuk berbuat demikian. Ketua yang baru Kay thian jiu Gui Tin tiong segera mengumpulkan Thian liong ngo siang dan berunding di balik pintu tertutup selama tiga hari tiga malam, akhirnya dipuaskan untuk mengambilkan semua anak muridnya pulang kedesa, tidak mengajar ilmu silat lagi dan menutup pintu perguruan. Murid-murid Thian liong pay yang kebanyakan belum tamat belajar itu sudah barang tentu hanya bisa dianggap sebagai jago kelas dua dalam dunia persilatan, itulah sebabnya mengapa nama dan martabat Thian liong pay kian hari kian bertambah merosot. Akhirnya ada diantara murid-murid itu yang pindah ke perguruan lain, ada pula yang terlantar dalam dunia persilatan dan menjadi bahan cemoohan umat persilatan lainnya. Sementara itu, Thian liong ngo siang sendiri tetap tinggal dalam gedung Bu lim tit it keh, hingga Thi Eng khi berusia lima tahun. Mereka secara diam-diam mengadakan lagi suatu rapat rahasia, hasil dari rapat itu kemudian, Kay thian jiu Gui Tin tiong tetap tinggal dalam gedung Bu lim tit it keh untuk mengurusi Thi Eng khi dan ibunya, sedangkan empat orang lainnnya pergi berkelana dalam dunia persilatan. Cuma mereka telah menentukan bahwa setiap lima tahun sekali diadakan pertemuan dengan demikian kekuatan Thian liong pay berhasil juga tetap dipertahankan dan tak sampai musnah sama sekali. Hari ini adalah untuk kedua kalinya Thian liong ngo siang berkumpul kembali setelah berpisah selama lima tahun, maka dari pelbagai tempat mereka berbondong-bondong pulang ke rumah.

19
Siapa tahu dalam perpisahan selama lima tahun ini, tinggal Kay thian jiu Gui Tin tiong seorang yang masih tetap berada dalam keadaan utuh. Suasana hening mencekam seluruh ruangan, Kay thian jiu Gui Tin tiong masih memusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan luka yang diderita Ban li tui hong Cu Ngo. Sekalipun Thian liong ngo siang dalam pandangan Keng thian giok cu Thi Keng bukan merupakan bakat yang bagus dan tak bisa menerima ilmu silat yang paling top dari Thian liong pay, akan tetapi keberhasilan yang berhasil mereka capai sekarang sama sekali tidak berada di bawah kemampuan jago kelas satu manapun dalam dunia persilatan. Hanya saja oleh karena musibah yang telah menimpa perguruan

mereka, kemudian masing-masing orang pun sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing dengan perasaan berat sehingga lama sekali terputus hubungannya dengan dunia persilatan, maka dunia persilatan menaruh suatu prasangka yang keliru terhadap kemampuan ilmu silat yang mereka miliki. Dalam pada itu tenaga dalam yang dimiliki Kay thian jiu Gui Tin tiong telah menyusup ke tubuh Cu Ngo, tak sampai sepertanak nasi kemudian luka dalam yang diderita Ban li tui hong Cu Ngo telah sembuh kembali seperti sedia kala. Diam-diam Ban li tui hong Cu Ngo lantas mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, alhasil bukan saja luka yang dideritanya telah sembuh, bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang pesat, lantaran mendapat bencana dia malah berhasil mendapat untung. Dengan cepat dia melompat bangun, semua kata-kata terima kasih yang mencekam dalam hatinya ingin diutarakan semua, akan tetapi setelah menyaksikan keadaan Thian liong pay yang begitu menggenaskan, ia menjadi tak terlukiskan harunya, sambil menetaskan air mata, katanya seraya menghela napas :

20
Aaaai .. tak seorang jago silat pun dalam dunia persilatan saat ini yang tidak berbuat salah terhadap Thian liong pay. Keadaan Thian liong ngo siang yang mengenaskan itu sudah cukup menimbulkan rasa sedih di dalam hatinya, tapi setelah menyaksikan ruang tengah yang dulunya megah dan mentereng itu sekarang berubah menjadi begitu seram, selain sebuah meja bobrok dan tiga buah bangku, tiada benda lainnya lagi yang tampak disana. Kesemuanya itu menambah rasa haru dalam hatinya, sehingga tanpa disadari titik air mata jatuh berlinang. Berbicara yang sesungguhnya berada dalam keadaan yang demikian mengenaskan ternyata pihak Thian liong pay masih bersedia untuk mengorbankan sebutir pil mustika Toh mia kim wan yang dianggap benda mestika dari perguruan itu untuk menolong seorang jago silat yang sama sekali tiada hubungannya dengan mereka, kebesaran jiwa dari mereka ini sungguh membuat Ban li tui hong Cu Ngo merasa terharu sekali. Setelah menenangkan pikirannya sebentar, Ban li tui hong Cu Ngo segera menjura dalam-dalam seraya berkata dengan serius : Sebenarnya aku sedang ditugaskan oleh Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap untuk menyebarkan undangan bagi Hong im gi siu Sang locianpwe di bukit Mong san, kini undangan tersebut sudah dirampas orang, aai untuk mencegah jangan sampai terjadi halhal diluar dugaan yang akan merugikan dunia persilatan, aku harus buru-buru kembali ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san untuk memberi laporan kepada Sangkoan tayhiap. Aku bersumpah akan balik lagi kemari dan menyumbangkan tenagaku bagi perguruan anda, sekalipun harus terjun ke lautan api, aku juga tak akan menolak! Dengan diutarakannya perkataan itu, maka ucapan yang sebenarnya hendak diutarakan Kay thian jiu Gui Tin tiong menjadi tak enak untuk dikatakan lagi, terpaksa sambil menjura ia berkata : Cu tayhiap tak perlu bicara demikian, bantuan yang bisa

diberikan perguruan kami tidak terhitung seberapa, tak usah kau ingat terus dihati, kalau toh Cu tayhiap memang ada urusan, kami

21
bersaudarapun tak akan menahan lagi, silahkan! Maaf kami tidak menghantar. Sekali lagi Ban li tui hong Cu Ngo memberi hormat keempat penjuru, kemudian baru berkelebat keluar dari ruangan. Setelah kepergian Ban li tui hong Cu ngo, ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itu baru masuk ke dalam ruangan dan menyapa Kay thian jiu Gui Tin tiong. Ketua Thian liong pay Kay thian jiu Gui Tin tiong tak bisa berbicara apa-apa selain mengucurkan air mata dengan kulit wajah mengejang, jelas dia merasa sedih sekali setelah menyaksikan cacad yang menimpa keempat orang sutenya, sampai lama sekali ia masih belum mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Sin lui jiu Kwan Tin see berwatak paling berangasan, dia tidak terbiasa menyaksikan sikap ketuanya yang diliputi emosi itu, bekas luka berwarna merah yang berada diatas wajahnya itu segera berubah menjadi merah tua, sambil tertawa keras katanya : Ciangbun suheng, kau benar-benar kelewat lemah hatinya, apalah artinya sedikit luka diatas wajah ini? Siaute toh tidak bermaksud untuk mencari isteri punya anak, peduli amat! Setelah menelan air liur, kembali dia berkata : Untung saja siaute tak sampai melalaikan tugas, Gin hu sim tau hiat (jantung kelelawar perak) telah berhasil kudapatkan, silahkan ciangbun suheng untuk memeriksanya. Sehabis berkata dia lantas mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dan diangsurkan kepada Kay thian jiu Gui Tin tiong. Sambil menerima angsuran kotak berwarna biru itu, dengan penuh perasaan terharu Kay thian jiu Gui Tin tiong berkata : Ngo-te, menyusahkan kau saja! Menyusul kemudian San tian jiu Oh Tin lam sambil mengayunkan tangan kanannya ia berkata :

22
Siaute selalu beranggapan bahwa ilmu pukulan halilintar lebih indah lagi jika digunakan dengan tunggal, maka lengan yang tak terpakai itu memang lebih baik kalau disingkirkan saja, Ciangbun suheng tak usah kuatir, yang lebih mujur lagi, aku pun berhasil mendapatkan empedu dari Kiu ciok kim can (comberet emas berkaki sembilan)! Dari sakunya, dia mengeluarkan pula sebuah kotak berwarna biru dan diserahkan ke tangan Kay thian jiu Gui Tin tiong. Belum lagi ia sempat berbicara, Pat tee jiu Wong Tin pak sambil terbahak-bahak telah menyambung lebih jauh. Ciangbun suheng, siaute pun sungguh beruntung dapat melaksanakan tugas dengan baik, Jit gwat cay hong tok berhasil pula kudapatkan, seandainya mataku tidak buta sebelah mungkin untuk mengincarpun kurang tepat. Maka butanya mata ini memang paling baik dengan demikian siaute bisa mengincar benda apapun dengan lebih tepat lagi. Sehabis berkata diapun menyerahkan sebuah kotak biru.

Sam ciat jiu Li Tin tang dengan jalan terseok-seok maju pula kemuka, seraya menyerahkan kotak biru dia berkata : Ciangbun suheng, siaute yang mendapatkkan teratai salju berusia seribu tahun Cian hian soat lian ini paling mujur, aku sama sekali tidak menderita luka apa-apa, mengenai kakiku ini? Berhubung cuaca beberapa hari ini kurang baik rhematikku kambuh maka jalanku menjadi agak terseok-seok. Bagus! Bagus! seru Kay thian jiu Gui Tin tiong sambil memegang keempat buah kotak biru itu. Sute berempat telah membuat pahala buat perguruan kita, ih heng merasa sangat gembira, apalagi bukankah kalian sehat-sehat semua dan bisa kembali dengan selamat? Selesai berkata dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa sedih, suaranya amat memedihkan hati membuat orang menjadi sedih.

23
Menyaksikan Thian liong ngo siang bertanya jawab seperti orang lagi bermain sandiwara, Thi Eng khi menjadi melongo, sekalipun ia tidak berpengalaman tapi pemuda itu juga tahu kalau masingmasing orang telah mengarang suatu cerita bohong, ia benar-benar tidak mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi. Padahal, darimana dia bisa tahu kalau Thian liong ngo siang berbuat demikian tak lain adalah demi dia, cuma saja semua orang berusaha untuk mengendalikan rasa sedihnya itu sehingga tak sampai kelihatan dari luaran. Sementara Thi Eng khi masih berdiri termangu-mangu, mendadak Kay thian jiu Gui Tin tiong berhenti tertawa lalu sambil menatap kearahnya, ujarnya dengan serius : Eng ji, cepat kembali ke kamar dan kabarkan kepada ibumu kalau loji, losam, losu dan longo telah pulang, harap ia datang kemari untuk bercakap-cakap. Baik Thi Eng khi segera mengiakan dan membalikkan badan keluar dari ruangan. Selama ini, Thi Eng khi bersama ibunya Thi hujin, Yap Siu ling berdiam di halaman paling belakang dari gedung Bu lim tit it keh tersebut. Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali seorang diri seraya berkata : Hari ini kesehatan ibu sedang terganggu, beliau tak bisa datang berjumpa dengan para empek dan paman tak menjadi marah! Bagaikan tersambar guntur, Thian liong ngo siang saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, wajah mereka kelihatan amat sedih sekali. Sin lui jiu Kwan Tin see tak bisa menahan diri lagi, dengan suara keras dia lantas membentak : Benarkah enso tak mau datang?

24
Thi Eng khi menundukkan kepalanya dengan perasaan menyesal. Yaa, kesehatan badan ibuku memang sedang terganggu dia tak bisa datang kemari. Kami berlima belum tentu bisa berkumpul seperti hari ini, bila

kali ini musti dilewatkan maka kami musti menunggu lima tahun lagi, Eng ji, pulanglah ke kamarmu dan mintalah kepada ibumu sekali lagi. Thi Eng menjadi serba salah sehingga wajahnya kelihatan tersipu-sipu ..... Kay thian jiu Gui Tin tiong menghela napas panjang, kepada Thi Eng khi katanya : Tak usah mengganggu ibumu lagi, sekarang hari sudah mulai gelap, Eng ji, kau boleh pulang dulu. Thi Eng khi merasa tercengang dan tidak habis mengerti, tanyanya kemudian : Empek Gui, apakah kalian mempunyai urusan penting? Kay thian jiu Gui Tin tiong tertawa getir : Aaah .. tidak ada apa-apa, kau boleh pulang saja ke kamarmu! Terpaksa Thi Eng khi memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruangan itu. Menunggu bayangan tubuh dari Thi Eng khi sudah pergi jauh, dengan marah Sin lui jiu Kwan Tin see berseru : Ciangbun suheng, sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya sudah kau katakan belum kepada enso? Bersedia tidak ia membiarkan Eng ji menjadi anggota perguruan kita? Kay thian jiu Gui Tin tiong kelihatan sedih dan murung sahutnya : Tee moy (istri adik) Yap Siu ling memegang teguh pesan suhu dan melarang Eng ji belajar ilmu silat, sekalipun Ih heng telah berusaha dengan sedapat mungkin, nyatanya juga tidak

25
mendatangkan hasil apa-apa aaai..... ..... aku benar-benar merasa malu sekali kepada sute berempat. Jika Eng ji tak mau belajar silat, lantas apa gunanya empedu Kiu ciok kim can? Bukankah lenganku ini hilang dengan percuma? teriak San tian jiu Oh Tin lam dengan suara keras. Pit tee jiu Wong Tin pak juga berkata dengan kecewa : Siaute seringkali memperhatikan anak murid kita yang berkeliaran diluar, kalau dibicarakan sungguh mengenaskan sekali, oleh karena suhu telah meninggal dunia, kami berlima pun tak ada yang mau mengurusi, hakekatnya orang-orang itu bagaikan setan gentayangan dalam dunia persilatan, yang merasa punya harga diri tak malu untuk bunuh diri, adapula yang mengundurkan diri dari dunia persilatan , sebaliknya mereka yang berhati lemah, kalau tidak numpang kekuatan orang lain, keadaannya juga mengenaskan sekali. Jika Eng ji sekarang tak dapat masuk kedalam perguruan kita, tidak berbicara soal perjuangan kita yang sia-sia selama belasan tahun, bukankah partai kitapun tamat riwayatnya .....? Benar! kata Sam ciat jiu Li Tin tang, Sekarang segala sesuatunya telah disiapkan, bagaimanapun juga tak bisa ditinggalkan di tengah jalan, ciangbun suheng, mari kita bersama-sama pergi memohon kepada Tee moay! Setelah mendengar perkataan dari keempat orang sutenya itu, Kay thian jiu Gui Tin tiong merasakan hatinya sedih sekali bagaikan digigit oleh beratus ratus ekor semut. Tapi rupanya ia sudah mempunyai rencana yang matang, dengan

paras muka tidak berubah, katanya : Sute berempat, kita tak gampang untuk berkumpul kumpul, bila ada persoalan lebih baik dibicarakan setelah memberi hormat kepada arwah Cau su nanti! Selesai berkata, dengan membawa empat buah kotak biru itu, dia berjalan masuk lebih dulu ke dalam ruang sin thong, sementara empat orang saudaranya mengikuti dari belakang.

26
Ruang Sin tong dari partai Thian liong ini tidak termasuk besar, luasnya paling cuma enam kaki persegi, tapi keempat belah dindingnya dilapisi oleh kayu jati. Di bawah sinar lentera yang berbentuk tujuh bintang sebanyak tujuh buah, suasana disana tampak amat seram dan berwibawa. Dibagian utara meja altar, dibelakang tirai berwarna biru dan dibawah delapan buah meja abu tampak lukisan seorang kakek berjenggot panjang yang tampak sangat hidup. Dia tak lain adalah ketua generasi kesembilan dari partai Thian liong pay, Keng thian giok cu Thi Keng, kakek Thi Eng khi. Dengan sangat hormat, Kay thian jiu Gui Tin tiong mempersembahkan keempat buah kotak biru itu ke meja altar, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Dari loji ke bawah semuanya berlutut di belakang Kay thian jiu Gui Tin tiong. Selesai memberi hormat, paras muka Kay thian jiu Gui Tin tiong segera berubah sama sekali. Dengan senyum dikulum ia mengeluarkan sepucuk surat yang rupanya telah dipersiapkan lebih dulu itu dari sakunya, kemudian sambil menyerahkan ke tangan Pit tee jiu Wong Tin pak katanya : Jite, bawalah ketiga orang sutemu menuju keruang belakang untuk membujuk Tee moay, seandainya dia belum juga menyanggupi permintaanmu itu, maka serahkan surat ini kepadanya, aku rasa setelah dia membaca surat ini permintaan kalian tak akan ditampik lagi. Suheng ..... Pit tee jiu Wong Tin pak kelihatan ragu-ragu. Belum habis dia berkata, Kay thian jiu Gui Tin tiong telah mengulapkan tangannya seraya berseru : kalian cepat kembali kemari, Ih heng akan menunggu di sini!

27
Terpaksa Pit tee jiu Wong Tin pak mengajak ketiga orang sutenya berangkat menuju ke halaman belakang dimana Thi Eng khi dan ibunya berdiam ...... Ketika mereka berempat tiba di halaman belakang, tampak ruangan dimana Thi Eng khi berdiam lamat lamat masih kelihatan ada cahaya lampu, dengan tenaga dalam mereka yang sempurna, dapat didengar pula suara pembicaraan kedua orang itu. Mereka berempat adalah jago-jago yang berjiwa terbuka, mereka enggan mencuri dengar pembicaraan orang, maka suara langkah kakinya sengaja diperberat. Suara langkah kaki yang berat itu segera terdengar oleh Thi Eng khi dan ibunya. Terdengar Thi Eng khi menegur dari dalam ruangan :

Empek Gui kah yang berada di luar? Eng ji, kami berempat sengaja datang menyambangi ibumu! sahut Pit tee jiu Wong Tin pak dengan cepat. Empek Wong kah disitu? sambung Thi hujin Yap Siu ling, merepotkan kalian semua, sungguh membuat aku merasa malu. Pit tee jiu Wong Tin pak kuatir Thi hujin Yap Siu ling menampik kedatangan mereka, buru-buru serunya : Tee moay, sudah lima tahun kita tak pernah bersua, bolehkah Ih heng sekalian masuk kedalam rumah? Thi Eng khi keluar membuka pintu, kemudian mempersilahkan Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian berempat masuk ke dalam ruang tamu yang bersih sekali. Sebuah lentera tergantung diatas rumah dan menyiarkan sinar berwarna merah, suasana dalam ruangan itu terasa amat sesak dan membuat perasaan orang tidak tenang.

28
Beberapa saat kemudian, Thi hujin Yap Siu ling baru keluar dari dalam kamarnya. Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian menyaksikan sepasang matanya merah lagi membengkak, agaknya baru saja menangis, mereka lantas tahu bahwa perempuan itu memaksakan diri menjumpai mereka. Thi hujin Yap Siu ling berasal dari keluarga terpelajar, selain menguasai dalam bidang sastra dan ilmu pengetahuan, diapun amat cerdik dan halus berbudi, enam belas tahun hidup menjanda membuatnya cukup memahami watak manusia. Dia sudah menduga kalau Thian liong ngo siang tak akan melepaskan putra kesayangannya dengan begitu saja. Pertama karena dia harus menuruti pesan dari mertuanya, kedua diapun enggan membiarkan putranya terjerumus dalam dunia persilatan, sehingga mengalami nasib yang sama dengan ayahnya maka mau tak mau dia harus mengeraskan hati untuk menampik permintaan para empek dan putranya itu. Dengan sinar mata yang was was dia memandang sekejap ke wajah Thian liong su siang. Kemudian dengan alis mata berkenyit ia menghela napas panjang. Aaaai.... empek Wong, apakah gunanya kau mendesak terus? Sesudah menghembuskan napas panjang serunya : Maksud hati maupun kesulitan yang kalian alami aku tak ingin ambil peduli, pokoknya aku tahu bahwa kalian sangat berhasrat untuk menarik Eng ji ke dalam perguruan Thian liong pay, sayang sekali keluarga Thi pada saat ini cuma tinggal Eng ji seorang seandainya kalian tidak mau melepaskan dirinya, dikemudian hari bagaimana pula kalian bisa mempertanggung jawabkan diri di depan gurunya yang telah tiada? Waktu itu sebenarnya Thi Eng khi sudah diliputi oleh kobaran semangat yang luar biasa sebesarnya untuk melanjutkan karier dari mendiang kakeknya, kalau bisa dia ingin sekali ibunya segera menyanggupi permintaan itu.

29
Dengan waktunya yang suka bergerak, dia paling enggan untuk

hidup dalam kesepian dan sampai tua melewati suatu penghidupan yang sederhana tanpa sesuatu pekerjaan. Akan tetapi setelah menyaksikan wajah ibunya yang serius tapi diliputi rasa sedih itu, hatinya menjadi tercekat dan tak berani lagi untuk mengemukakan niatnya. Dia cukup memahami watak dari ibunya itu, maka sekarang mau tak mau dia harus berusaha keras untuk menekan perasaan yang bergejolak didalam hatinya. Begitu datang tadi, Thian liong su siang segera dibuat membungkam oleh perkataan Thi hujin Yap Siu ling, dengan wajah sedih mereka tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dari perubahan paras muka mereka, Yap Siu ling bisa menangkap kekecewaan di hati Thian liong su siang. Tanpa terasa lagi sambil menghela napas sedih katanya : Sekarang waktu sudah cukup malam ..... Pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berhasrat untuk menghantar tetamunya. Paras muka Thian liong su siang berubah hebat, Sin liu jiu Kwan Tin see tak sanggup mengendalikan perasaannya lagi, dengan penuh emosi teriaknya : Enso, kau mengira pesan dari mendiang suhu tidak ada kemungkinan untuk diperbaiki? Paras muka Thi hujin Yap Siu ling menjadi pucat pasi karena mendongkol. Dengan cepat, ia duduk kembali di tempat semula. Ngo-te, mengapa kau bicara sembarangan? bentak Pit tee jiu Wong Tin pak, tindakanmu ini kurang sopan!

30
Paras muka Sin lui jiu Kwan Tin see berubah menjadi merah padam, sekalipun dia adalah seorang kakek yang hampir berusia lima puluh tahunan, saking malunya dia sampai tak mampu mendongakkan kembali kepalanya. Siaute berbicara tanpa maksud, harap enso jangan marah! buru-buru serunya agak tergagap. Diantara Thian liong ngo siang, Sam ciat jiu Li Tin tang adalah seorang jago yang paling pintar, meski oleh rentetan ucapan dari Thi hujin tadi ia merasa agak gelagapan tapi setelah Sin lui jiu Kwan Tin see berbicara secara berani, satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, dengan cepat dia berseru : Tee moay kau toh bukannya tidak tahu bagaimana watak Ngote, dia adalah seorang yang berbicara blak-blakan, apa yang dipikirkan diucapkan tanpa tedeng aling aling, aku harap kaupun bisa baik-baik mengambil pertimbangan! Thi hujin Yap Siu ling bukannya tak tahu kalau Sin lui jiu Kwan Tin See adalah seorang kasar yang jujur. Tapi apa yang dipikirkan tak lain adalah keselamatan Thi Eng khi, maka diapun tak ingin melepaskan keputusannya dengan begitu saja. Dengan ucapan yang tajam bagaikan pisau, dia lantas berkata : Thian liong pay makin lama semakin besar orangnya, tak tahu aturan, tak heran kalau nama besar perguruan kian hari kian merosot dalam dunia persilatan! Ucapan tersebut meluncur seperti angin, menanti ia merasa kalau

perkataan itu terlalu berat, untuk ditarik kembali sudah terlambat. Paras muka Thian liong su siang segera berubah hebat, kepalanya ditundukkan rendah-rendah. Melihat itu, Thi hujin Yap Siu ling merasa terperanjat sekali, buruburu katanya lagi : Para empek dan paman, aku telah salah berbicara, aku bukan berbicara dengan maksud tertentu!

31
Berbicara sampai disitu, dia lantas menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu-sedu. Tee moay, Tee moay! seru Sam ciat jiu Li Tin tang berulang kali, Kau tidak salah berbicara, kami sebagai anggota Thian liong pay memang pantas mendapat teguran ini. Cuma ... cuma.... perkataan dari Ngote agaknya bisa dipertimbangkan lagi. Berbicara sampai disitu, dia lantas berhenti sambil menatap wajah orang, dia berharap Thi hujin Yap Siu ling bisa memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih lanjut. Thi hujin Yap Siu ling dengan cepat mengendalikan perasaannya yang pulih kembali dalam ketenangan, dia manggut manggut. Bila empek Li akan mengucapkan sesuatu, silahkan diutarakan! Pesan dari mendiang suhu tidak boleh dilanggar oleh kita sebagai anggota Thian liong pay, kata Sam ciat jiu Li Tin tang, cuma sebelum melaksanakan pesan dari mendiang suhu, siau heng beranggapan bahwa kita harus memahami dahulu maksud yang sebenarnya dari suhu mendiang, kita tak boleh membelenggu diri dengan pelbagai masalah lain, sebab bila sampai demikian akhirnya kita akan menjadi orang yang menentang pesan suhu mendiang. Thi hujin Yap Siu ling cuma membungkam dan tundukkan kepalanya sambil mendengarkan dengan seksama. Terdengar Sam ciat jiu Li Tin tang melanjutkan kembali katakatanya : Dengan dalam dan saktinya ilmu silat perguruan kita, tanpa memiliki bakat yang sangat bagus seperti yang dimiliki mendiang suhu dan Tiong giok sute, tak mungkin seseorang bisa mencapai kesempurnaan. Betul Ih heng berlima adalah murid Thian liong pay, tapi lantaran bakat yang terbatas, sekalipun sudah melatih diri secara tekun atas ilmu silat aliran Thian liong pay, hasilnya juga terbatas sampai sepersatu dua saja, dalam dunia persilatan yang begitu luas sesungguhnya sulit sekali untuk menampilkan diri.

32
Suara pembicaraannya makin lama makin keras : Semenjak suhu menjadi putus asa karena lenyapnya putra tercinta, dan lagi tahu kalau api kehidupannya hampir padam, apalagi menyaksikan partai Thian liong sudah tidak ada ahli warisnya lagi, daripada membuat malu nama perguruan dimata umum, akhirnya diputuskan untuk menarik diri dari keramaian dunia persilatan, kalau berbicara dari keadaan waktu itu, tindakan suhu memang sangat tepat sekali. Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan kembali katakatanya lebih jauh : Tapi keputusan yang diambil In su ketika itu adalah didasarkan

pada tiadanya keturunan dalam perguruan Thian liong pay, maka diputuskan untuk menarik diri, dia orang tua tidak menyangka kalau Eng ji memiliki bakat yang bagus dan kecerdikan yang luar biasa, sesungguhnya dialah seorang berbakat bagus yang sukar dijumpai dalam seratus tahun ini, coba kalau Eng ji dilahirkan sebelum dia orang tua pergi, setelah melihat bakatnya yang bagus itu, aku pikir dia orang tua pasti tak akan mengambil keputusan begitu. Kembali ia berhenti sejenak untuk berganti napas lalu terusnya : Mengenai persoalan ini, Ih heng berlima telah melakukan penyelidikan serta pembahasan yang terperinci setelah mendapat pesan dari Insu, tapi ketika Eng ji berusia lima tahun, kami baru mendapatkan pandangan yang lain terhadap pesan Insu tersebut, bersamaan itu pula kamipun telah mengambil keputusan baru yang lain. Thi hujin Yap Siu ling bukannya seorang yang bodoh, perkataan dari Sam ciat jiu tersebut segera menggerakkan hatinya tapi ketika teringat kembali kalau suaminya juga seorang lelaki yang dianggap berbakat bagus, tapi justru karenanya dia kehilangan dia, paras mukanya dengan cepat berubah kembali. Sam ciat jiu Li Tin tang memandang sekejap kearah Thi hujin kemudian melanjutkan Ketika Eng ji berusia lima tahun kami berempat mendapat perintah dari Ciangbun suheng untuk menjelajahi dunia persilatan guna menemukan empat jenis bahan obat yang bisa dipakai untuk

33
mencuci tulang dan memperkuat otot, ternyata Thian tidak menyia nyiakan harapan kami, rupanya Thian liong pay memang ditakdirkan bisa bangkit kembali dari keruntuhan, akhirnya kami berempat berhasil untuk mewujudkan cita-cita tersebut .... Demi merebut simpatik orang dengan suara yang sengaja diperkeras terusnya : Tapi akibat dari keberhasilan itu kami berempatpun telah berubah menjadi begini rupa, jiko kehilangan sebelah matanya, sute kehilangan sebuah lengannya, paras muka ngote berubah bentuk, yang paling beruntung adalah aku, cuma kehilangan sebuah otot kaki belaka. Paras muka Thi hujin kembali berubha hebat, dia berpaling dan memandang sekejap kearah Thi Eng khi yang sedang berdiri dengan air mata bercucuran itu, setelah menghela napas diapun tak tega untuk berkata lebih lanjut. Waktu itu Sam ciat jiu Li Tin tang yang sudah merasa kehabisan bahan pembicaraan, dengan memaksa diri katanya lagi : Benda itu adalah Cian nian soat lian, empedu combaret emas berkaki sembilan, darah Gin hok sim tau hiat serta Jit gwe cay hong lok ..... Seraya berpaling kearah Thi Eng katanya kemudian : Eng ji, beberapa macam obat mestika itu tersimpan didalam empat kotak biru yang kami bawa pulang tadi, kau tentunya sudah melihat sendiri bukan? Sekalipun Thi Eng khi bukan orang persilatan akan tetapi sebagai seorang yang berpengetahuan luas, dia tahu bahwa bahan obatobatan yang dimaksud itu adalah benda mestika yang bisa dijumpai

tak bisa dicari, ternyata keempat empek dan pamannya dengan mengorbankan waktu hampir sepuluh tahun lamanya untuk mewujudkan suatu impian menjadi kenyataan, hal ini membuktikan betapa besarnya semangat serta tekad mereka.

34
Pokoknya diapun terbayang kembali semua kegagahan dan kehebatan kakek dan ayahnya dimasa lalu, masakah dia harus hidup sederhana begini sepanjang masa? Berpikir sampai disitu, darah panas dalam rongga dadanya terasa bergelora keras tanpa terasa lagi teriaknya : Ibu .....! Tapi dengan cepat ia terbayang kembali kasih sayang ibunya yang sudah enam belas tahun hidup menjanda itu, apa yang menyebabkan dirinya sampai menanggung derita? Bukankah karena dia? Sekarang, jika sampai berbuat yang macam-macam, bukankah hal ini kan menusuk perasaan orang tuanya. Sebagai seorang anak yang berbakti berpikir sampai disitu, ia menjadi tak mampu untuk melanjutkan kembali kata-katanya. Dari perubahan mimik wajah putranya itu, Thi hujin Yap Siu ling dapat menebak jalan pikirannya. Dengan wajah sedih dia lantas berkata : Eng ji, Ibu bersedia mendengarkan pendapatmu! Thi Eng khi yang pintar sudah barang tentu bisa memahami perasaan ibunya yang menderita, ia merasa dirinya tidak menurut keinginan ibunya, maka sekalipun akhirnya dia dapat berkelana dalam dunia persilatan, selamanya hatipun tak pernah akan tenang. Maka dengan air mata bercucuran katanya : Ananda siap mendengarkan perintah ibu! Nak, kata Thi hujin dengan air mata bercucuran, Ibu dapat memahami perasaanmu, tapi ..... tapi akupun tak dapat memenuhi keinginanmu itu! Thian liong su siang yang menghadapi kejadian ini segera merasakan keringat sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi dahinya.

35
Pit tee jiu Wong Tin pak merasa sangat kecewa, pikirnya : Sekalipun kukeluarkan surat dari ciangbun suheng pada saat ini mungkin hal ini pun akan sia-sia belaka ..... Untuk sesaat lamanya dia menjadi ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan. Sin lui jiu Kwan Tin see sama sekali tidak menggubris masalah itu, karena sedang mangkel dia lupa kalau tadi dirinya sudah salah berbicara, dengan suara lantang teriaknya : Ji suheng, apakah kau sudah lupa dengan pesanan ciangbun suheng? Sinar mata losam dan losu pun bersama-sama dialihkan ke wajah sang loji. Dengan perasaan apa boleh buat Pit tee jiu Wong Tin pak segera mengangsurkan surat Kay thian jiu Gui Tin tiong seraya berkata : Disini ada sepucuk surat dari toa suheng silahkan Tee moay

untuk memeriksa! Thi hujin Yap Siu ling menerima surat itu dan baca sebentar, mendadak sekujur badannya gemetar keras dengan wajah berubah hebat serunya dengan hati yang pilu : Aaah..... empek Gui, kau .... kau.... kau.... Mendadak teringat olehnya bahwa persoalan ini harus cepatcepat diberitahukan kepada Thian liong su siang, maka dengan wajah tegang teriaknya keras-keras : Cepat! Cepat kembali! Empek Gui telah bunuh diri ....! Thian liong su siang bersama-sama berpekik panjang, kemudian dengan melompat dinding lari meninggalkan tempat itu. Dengan air mata bercucuran Thi hujin Yap Siu ling berpaling ke arah Thi Eng khi yang masih berdiri terbelalak itu seraya berseru : Nak, mari kita menyusul kesana!

36
Ketika tiba dipintu gerbang Thian liong pay, ibu dan anak berdua tiba-tiba berhenti. Rupanya berhubung Thi hujin dan Thi Eng khi bukan anggota perguruan Thian liong pay, sekalipun hidup bersama dengan Thian liong ngo siang, selama ini belum pernah melangkah masuk barang selangkahpun ke dalam pusat markas dari Thian liong pay itu. Maka ketika tiba di pintu gerbang, mereka pun ragu-ragu untuk melangkah masuk kedalam ruangan itu. Kendatipun demikian, suasana dalam sin thong tersebut dapat terlihat amat jelas. Tampak Kay thian jiu Gui Tin tiong terkapar di depan meja altar dan sama sekali tak berkutik, sementara Thian liong su siang berdiri dikedua belah sisinya dengan wajah terbelalak dan kehilangan konsentrasi, rupanya mereka dibuat tertegun oleh musibah yang terjadi diluar dugaan ini. Tiba-tiba Thi hujin Yap Siu ling berteriak dari pintu luar : Bolehkah siaumoy dan Eng ji masuk kedalam? Dengan perasaan terkejut Thian liong su siang tersadar kembali dari lamunannya. Tiba-tiba Pit tee jiu Wong Tin pak berguman : Kematian toa suheng tidak sia-sia, Thian liong pay kami akhirnya tertolong juga! Thian liong ngo siang adalah anggota-anggota setia dari Thian liong pay, mereka bersedia mengorbankan jiwa sendiri demi kepentingan perguruan sekalipun kematian Toa suhengnya mendatangkan perasaan yang pilu dihati masing-masing, tapi kemunculan Thi hujin didepan pintu justru mendatangkan harapan besar bagi mereka. Jilid 2

37
Thian liong su siang segera memisahkan diri ke samping dan menyambut kedatangan perempuan itu dengan hormat. Tee moay maupun Eng ji adalah keluarga langsung dari Insu, kalian tidak terhitung orang luar, silahkan masuk! kata Pit tee jiu Wong Tin pak mewakili rekan-rekannya. Thi hujin Yap Siu ling merasakan hatinya menjadi kecut, dengan

sedih ia membimbing Thi Eng khi masuk kedalam ruangan. Dalam pada itu Thi hujin telah mengambil suatu keputusan yang paling berat didalam hatinya, tampak perempuan itu dengan tekad yang besar berjalan ke depan jenazah Kay thian jiu Gui Tin tiong. Setelah memberi hormat, katanya : Empek Gui, buat apa kau mesti berbuat demikian? Waktu itu dia melakukan hanya menurut suara hati sendiri, tibatiba dihadapan patung Keng thian giok cu Thi Keng dia berlutut dan menyembah sambil menangis, katanya : Ooooh ..... kongkong! Anak menantu berharap agar tindakanku kali ini tidak keliru, bila toh melanggar kehendak hatimu, harap kau bersedia memandang diatas partai Thian liong untuk memaafkan anak menantumu beserta Eng ji! Selesai berdoa, ia menyembah tiga kali baru bangkit berdiri, cuma saat ini wajahnya telah berubah menjadi amat serius. Ia memberi tanda agar Thi Eng khi berlutut pula didepan patung pemujaan, lalu katanya : Nak, mulai sekarang ibu telah menyerahkan dirimu kepada partai Thian liong. Kau harus baik-baik menuruti ucapan toa supek! Setelah itu dia baru membentang surat wasiat dari Kay thian jiu Gui Tin tiong dan membaca isi surat dengan lantang : Surat ini tertuju untuk Siu ling tee moay, Wong, Li, Oh, Kwan empat orang sute serta keponakan Eng khi ......

38
Rupanya surat itu bukan khusus ditinggalkan buat Thi hujin Yap Siu ling seorang, melainkan meliputi segenap orang yang hadir didalam ruang sin thong tersebut. Sementara itu, Thi Eng khi telah berlutut dihadapan ibunya, sementara Thian liong su siang juga bersama-sama menjatuhkan diri berlutut dibelakang Thi Eng khi. Berbicara bagi mereka maka pembacaan isi surat tersebut sama halnya dengan mendengar pesan terakhir dari ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay, karena itu dengan sikap hormat mereka siap mendengarkannya. Perguruan kita Thian liong pay semenjak pendiriannya sampai sembilan keturunan berikutnya, semua adalah tokoh-tokoh sakti yang memiliki kemampuan melebihi orang lain, itulah sebabnya sejarah partai kita bisa berlangsung empat ratus tahun turun temurun dengan cemerlangnya. Keponakan Eng khi merupakan manusia berbakat yang paling tepat menjadi pilihan kita untuk mendalami ilmu silat partai serta melanjutkan perjuangan untuk menekan kembali nama baik partai kita dalam mata masyarakat. Sayang oleh karena pesan dari Insu, menyebabkan ia tak dapat memasuki partai kita lagi. Permintaan yang terlalu memaksa selain akan melanggar pesan Insu juga akan menjerumuskan Siu ling tee moay ke dalam posisi tidak terbakti, hal ini jelas jangan sampai terjadi pada anggota Thian liong pay maupun Siu ling tee moay sendiri. Orang bilang : Untuk melepaskan keleningan, harus menyuruh orang yang mengikat keleningan itu sendiri. Maka bila kita inginkan keponakan Eng khi masuk menjadi anggota perguruan kita, satusatunya

cara adalah memohon mendiang Insu untuk menarik kembali pesannya itu! Ih heng sudah banyak menerima budi kebaikan dari perguruan, apalagi menjabat sebagai seorang ketua, sudah sewajarnya memiliki

39
hal serta kewajiban untuk melaksanakan tugas berat ini. Oleh sebab itu, kepergianku ini selain mempunyai tujuan, bahkan mempunyai niat yang dalam sekali untuk melenyapkan rintangan yang amat berat itu. Setelah aku pergi, sendainya Siu ling tee moay berubah pikiran dan mengijinkan keponakan Eng khi untuk menjadi anggota perguruan kita. Itu pertanda kalau Insu telah mengijinkan permintaanku untuk mencabut kembali pesannya, maka segala tindakan lebih lanjut selain tidak melanggar pesan Insu, Siu ling tee moay juga tidak melakukan perbuatan yang tak berbakti, harap sute berempat serta Siu ling tee moay dapat memakluminya. Ketika berbicara sampai disitu, Thi hujin Yap Siu ling tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu. Membaca dari surat wasiat tersebut, dapat diketahui bahwa Kay thian jiu Gui Tin tiong memang berniat untuk mengorbankan jiwanya untuk menembusi jalan buntu yang selama ini mencekam diri mereka, dari sini bisa diketahui sampai berapa dalamnya niat yang terkandung didalam hatinya. Selang sejenak kemudian, Yap Siu ling melanjutkan kembali pembacaan surat tersebut. Berikut ini adalah peraturan yang harus diperhatikan untuk membawa keponakan Eng khi masuk ke perguruan. Pertama, setelah menyembah didepan meja abu dari para sucou sekalian, dia akan menjadi anggota perguruan angkatan kesebelas dari perguruan Thian liong pay kita, anak meneruskan karier ayahnya. Kepandaian diwariskan turun temurun karena itu tak usah dilangsungkan pengangkatan guru lagi. Segera berikan keempat macam benda mestika itu untuk diminumnya, daripada malam yang panjang akan menimbulkan impian yang banyak, sehingga barang itu diincar orang dan mengakibatkan timbulnya kejadian diluar dugaan.

40
Kedua, setelah masuk kedalam perguruan, dia diangkat menjadi ketua partai angkatan kesepuluh serta berhak untuk menyelami ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip dan mengikuti cara Pek hui tiau yang toahoat melakukan semedi selama tiga bulan agar bisa menyerap kemujaraban keempat macam bahan obat-obatan tersebut. Meski aku menjabat sebagai ketua perguruan angkatan ke sepuluh, sayang kemampuanku sangat minim dan tak mampu berbuat apa-apa, aku tidak pantas menjajarkan namaku diantara para cousu lainnya, itulah sebabnya sejak menjabat sebagai ketua, aku tidak berani mempelajari kitab pusaka Thian liong pit kip. Sesungguhnya belum terhitung resmi sebagai seorang ketua, oleh karena itu Eng ji secara langsung menempati kedudukan ketua partai angkatan ke sepuluh agar kedudukan mana tak sampai luang. Ketiga, tempat penyimpanan kitab pusaka Thian liong pit kip

serta cara membuka tempat itu telah kusampaikan kepada jite, harap jite menyampaikan langsung kepada Eng ji untuk dilaksanakan. Keempat, pil mustika Toh mia kim wan yang merupakan barang mustika perguruan kita masih ada tiga butir, bilamana perlu berikan kepada Eng ji untuk dimakan sehingga mempercepat kemajuan yang akan dicapai dalam tenaga dalamnya. Kelima, sejak Eng ji berusia lima tahun aku telah mewariskan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang kepadanya dengan maksud untuk memperkuat badannya, dengan bakat yang dimiliki Eng ji dalam sepuluh tahun latihan sudah pasti telah memberikan hasil yang baik, karena itu perlu kuberitahukan hal ini kepada sute sekalian. Keenam, Eng ji berkewajiban membangun kembali nama perguruan kita dari puing-puing kehancuran, tugas ini tidak ringan, maka selama belajar silat, semua perhatiannya harus terpusatkan menjadi satu, kemudian setelah berkelana dalam dunia persilatan dilarang sombong dan tekebur, dengan demikian orang baru akan bersedia memberikan bantuannya.

41
Sayang kertas terlalu pendek dan isi hatiku masih banyak, tapi singkatnya saja kita tak boleh sampai melupakan kesetiaan, bertanggung jawab, kebajikan dan cinta kasih sebab keempat hal ini penting sekali bagi kehidupan seorang manusia. Tertanda..... Gui Tin tiong, murid angkatan kesepuluh pada tahun x bulan x tanggal x Ketika Thi hujin Yap Sui ling selesai membaca isi surat dari kepedihan Kay thian jiu Gui Tin tiong ini, seketika itu juga seluruh ruangan Sin thong diliputi suasana yang amat sedih. Untung saja, Thian liong su siang adalah jago-jago persilatan yang cukup berpengalaman sekalipun merasa sedih atas kepergiannya saudaranya, tapi merekapun tahu akibatnya harapan bagi perguruannya untuk muncul kembali dalam dunia persilatan semakin besar. Hal mana sudah barang tentu merupakan suatu peristiwa besar yang pantas dirayakan oleh anak murid Thian liong pay. Oleh sebab itu, Thian liong su siang segera menyeka air mata dan menghibur Thi hujin dan Thi Eng khi agar berhenti menangis, kemudian menggotong sebuah kursi kebesaran dan diletakkan di tengah ruangan, lalu menggotong jenazah dari Kay thian jiu Gui Tin tiong untuk didudukkan pada kursi tersebut. Selesai memberi hormat, dengan dipimpin oleh Pit tee jiu Wong Tin pak maka sebagaimana pesan Kay thian jiu Gui Tin tiong, segera dilangsungkan upacara pengangkatan Thi Eng khi sebagai ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari perguruan Thian liong pay. Thi Eng khi sendiri, sekalipun masih muda dan cetek pengalamannya tapi tidak sedikit buku yang pernah dibaca olehnya, diapun tidak menampik lagi maksud orang untuk mengangkat dirinya sebagai ketua perguruan yang baru. Hanya saja terhadap surat wasiat Kay thian jiu Gui Tin tiong telah dilakukan beberapa perbaikan, antara lain :

42
Pertama, pengorbanan serta kesetiaan Kay thian jiu Gui Tin tiong terhadap penguruan sangat agung dan mulia, sepantasnya kalau ia menjadi ketua angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay, sementara ia sendiri hanya pantas menduduki jabatan sebagai ketua angkatan kesebelas. Kedua, usia Kay thian jiu Gui Tin tiong cukup tua, kedudukannya tinggi dan jasanya besar bagi perguruan, dia ingin mengangkat Gui Tin tiong sebagai gurunya sebagai rasa terima kasih dan hormatnya kepada orang tua itu. Dua hal tersebut semuanya merupakan hal-hal yang sudah sewajarnya demikian, maka Thian liong su siang juga tidak menyatakan keberatan. Bukan saja mereka tak mampu mengucapkan kata-kata keberatan, bahkan dari sini dapat terlihat betapa bijaksananya Thi Eng khi didalam menganalisa persoalan, diam-diam mereka bersyukur karena perguruan mereka akhirnya menemukan juga seorang pemimpin yang cakap. Maka dari itu, setelah Thi Eng khi menjalankan upacara besar untuk mengangkat Kay thian jiu Gui Tin tiong sebagai gurunya, kemudian dipimpin oleh Thian liong su siang diadakan pula upacara pengangkatan Thi Eng khi sebagai ketua angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay ...... Meski sederhana sekali jalannya upacara namun mendatangkan suasana yang penuh rasa haru dan serius, semua upacara dipimpin langsung oleh Pit tee jiu Wong Tin pak. Sambil berdiri di sebelah kiri meja altar Pit tee jiu Wong Tin pak segera berseru dengan suara lantang : Wujudkan kembali kecemerlangan dan kejayaan perguruan kita! Nama kita akan terkenal kembali sampai dimana-mana! sorak tiga orang lainnya dengan keras.

43
Mereka berempat bersama-sama berkelebat keluar dari ruang Sin thong, ketika balik kembali mereka semua telah berganti dengan satu stel jubah panjang berwarna biru. Jubah berwarna biru sebenarnya adalah baju seragam dari Thian liong pay, tapi semenjak berita kematian dari Keng thian giok cu Thi Keng tersiar datang pada dua puluh tahun berselang, anak murid Thian liong pay telah mengganti seragamnya menjadi warna abuabu yang gelap, ini sebagai pertanda duka cita segenap anggota perguruan terhadap musibah yang telah menimpa perguruan mereka. Kini ketua baru telah diangkat, Pit tee jiu lantas menitahkan untuk berganti baju biru hal mana sebagai pertanda bahwa mereka telah bersiap untuk memasuki kembali arena dunia persilatan serta memperjuangkan kembali nama perguruan di mata umum. Tentu saja hal mana merupakan keinginan dan harapan dari Thian liong ngo siang, sedang mengenai berhasil atau tidaknya, hal ini tergantung pada perjuangan dari Thi Eng khi dikemudian hari. Kini Pit tee jiu Wong Tin pak telah - missing page 15 Sekarang secara resmi dia telah menjadi ketua baru angkatan ke sebelas dari perguruan Thian liong pay.

Selesai upacara, Thi Eng khi duduk bersama ibunya, sementara Thian liong su siang dengan senyum dikulum dan wajah yang ringan mengiringi duduk di kedua belah sisinya. Sambil tersenyum Sam ciat jiu Li Tin tang lantas bertanya : Ciangbunjin telah berlatih ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang semenjak sepuluh tahun berselang, entah sampai dimanakah keberhasilan yang telah dicapai? Thi Eng khi tertawa. Semenjak siautit mendapat pelajaran ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang, selama sepuluh tahun terakhir ini tak pernah lupa untuk

44
melatihnya, supek, coba kau lihat, bukankah tubuhku menjadi lebih kekar dan kuat? Belum sempat Sam ciat jiu Li Tin tang menjawab, Pit tee jiu Wong Tin pak telah melototkan mata tunggalnya sambil menukas : Harap di dalam pembicaraan dengan anggota partai, ciangbunjin musti ingat kalau tingkat kedudukan ciangbunjin lebih tinggi, karena itu tak boleh menyebut diri sebagai siautit, sepantasnya jika menyebut diri sebagai Pun coh (aku yang mulia). Mula-mula Thi Eng khi agak tertegun, kemudian sahutnya dengan mengangguk : Terima kasih atas peringatan dari supek, pun coh tahu! Thi hujin Yap Siu ling merasakan hatinya amat sedih, apalagi teringat bahwa dengan diangkatnya Thi Eng khi sebagai seorang ciangbunjin, tanpa terasa telah memberikan bahan pikiran lagi baginya. Ini membuat hatinya menjadi amat sedih. Dengan kening berkerut dan gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya dengan sedih : Menurut pendapat siaumoay, kecuali sedang berada dalam tugas perguruan, dalam kehidupan sehari-hari lebih baik biarlah Eng ji menggunakan sebutan sebagaimana biasanya saja, dengan begitu hubungan diantara kita pun tak sampai terlalu kaku ... Sin lui jiu Kwan Tin see yang mendengar usul tersebut, tanpa mempedulikan lagi bagaimana pendapat dari ketiga orang suhengnya, dengan cepat ia bertepuk tangan seraya berseru : Ucapan enso memang tepat sekali, siaute paling benci dengan segala macam adat yang kaku, Eng ji benar bukan perkataanku ini? Thi Eng khi juga merasa gembira sekali, sahutnya : Siautit merasa amat setuju, entah bagaimana dengan pendapat supek lainnya? Sam ciat jiu serta San tian jiu hanya tersenyum belaka tanpa menjawab.

45
Pit tee jiu Wong Tin pak yang merasa usul tersebut berasal darinya, tentu saja tak dapat berdiam diri belaka, sambil tertawa sahutnya : Jika tee moay memang berpendapat demikian, terpaksa Ih heng harus menarik kembali perkataanku tadi. Sam ciat jiu Li Tin tang segera tertawa terbahak-bahak. Haaah .....haaah...... haaahh... tee moay sungguh hebat, hanya dengan sepatah kata, ia berhasil membuat berubahnya jalan pikiran

loji yang kolot, sungguh susah, sungguh susah. Kemudian sambil mengembalikan persoalan ke pokok masalah semula, katanya lagi: Eng ji, tahukah kau bahwa Sian thian bu khek ji gi sin kang merupakan sim hoat tenaga dalam yang tiada keduanya dalam perguruan kita? Sejak sepuluh tahun berselang kau telah mempelajari simhoat tersebut, sesungguhnya sejak saat itu juga kau telah menjadi anggota dari perguruan kita ini. Thi hujin Yap Siu ling agak tertegun lalu katanya : Eng ji juga pernah mengajarkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang kepadaku sebagai ilmu untuk menyehatkan badan, apakah aku juga termasuk anggota Thian liong pay? Kiranya ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang adalah suatu kepandaian yang luar biasa, siapa saja yang melatih kepandaian ini, entah tenaga dalamnya masih cetek atau sudah sempurna, tiada ciriciri khas yang bisa dilihat dari luar seandainya tidak dikatakan sekalipun anggota perguruan sendiri juga tidak mengetahuinya. Itulah sebabnya setelah Thi hujin Yap Siu ling berkata demikian, kontan saja Thian liong su siang tertawa terbahak-bahak karena gembira. Pit tee jiu Wong Tin pak menghela napas dan manggut-manggut, katanya kemudian: Aaai ..... tidak disangka umpama kamu selain berhasil meraih Eng ji rupanya juga relah mendapatkan pula seorang sumoay. Kejadian ini sungguh menggembirakan sekali. Meski Thian liong ngo

46
siang telah kehilangan seorang tapi sekarang telah mendapatkan gantinya lagi, itu berarti Thian liong ngo siang akan tetap utuh. Sumoay cepat kemari dan menyembah kepada Cousu untuk masuk ke dalam perguruan Thian liong pay .... ! Mendengar perkataan itu, Thi hujin merasa terkejut, setelah termenung sbentar dia baru berkata : Meskipun aku tidak mengerti soal ilmu silat, tapi dapat kurasakan betapa mulianya tujuan Gui suheng didalam mengatur segala sesuatunya itu, yaa, aku memang seharusnya turut masuk kedalam tubuh perguruan Thian liong pay, sekalian bisa mengawasi Eng ji dalam latihan ilmu. Berbicara sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Cousu dimeja abu, dengan begitu secara resmi iapun telah menjadi anggota perguruan Thian liong pay. Setelah bergembira sebentar, Sam ciat jiu Li Tin tang baru memegang nadi Thi Eng khi seraya berkata : Eng ji, coba aturlah pernapasanmu, akan kulihat sampai dimanakah taraf tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang berhasil kau raih ....? Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya dan mengatur pernapasan, tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan lupa diri. Rupanya ilmu tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang dari Thian liong pay memiliki ciri yang khas, yakni sewaktu mengatur pernapasan tidak selalu harus duduk bersila, dalam posisi yang macam apapun juga, latihan bisa dilakukan.

Dengan wajah terkejut bercampur keheranan Sam ciat jiu Li Tin tang memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian serunya : Benar-benar luar biasa, Suheng! Sute! Cepat kemari, coba kalian lihat diri Eng ji!

47
Buru-buru tiga orang lainnya datang memeriksa, kemudian mereka berempat bersama-sama mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak. Thi hujin Yap Siu ling menjadi tertegun segera tanyanya : Suheng sekalian, apa yang menyebabkan kalian tertawa seringan itu .....? Sambil tertawa sahut Sam ciat jiu Li Tin tang. Kesempurnaan tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimiliki Eng ji sekarang sudah bukan tandingan dari kami suheng te lagi, bukankah kejadian ini pantas digirangkan? Mendengarkan itu, Thi hujin turut gembira sekali. Pit tee jiu Wong Tin pak lantas berkata pula : Bakat yang dimiliki Eng ji sungguh luar biasa sekali, berbicara dengan kemampuan yang dimiliki sekarang, boleh dibilang sudah jauh melampaui apa yang berhasil diraih Tiong giok sute ketika meninggalkan rumah dulu. Sebenarnya kami bermaksud untuk memberikan pil mestika Toh mia kim wan untuk menambah daya kekuatan lebih dulu, kemudian bahan obat tersebut, tapi sekarang rasanya tak perlu berbuat demikian lagi. Pil mestika Toh mia kim wan bisa disimpan untuk menolong orang dikemudian hari sedangkan keempat macam obat mestika ini boleh segera diminum, kemudian mengeluarkan kitab Thian liong pit kip dan membiarkan ia melatih diri selama tiga bulan dengan ilmu Pek hui tiau yang toahoat dalam waktu singkat tenaga dalam yang berhasil dicapainya itu pasti akan sudah mencapai puncak kesempurnaan. Mendengar perkataan itu, semua orang segera bersorak kegirangan. Empat macam obat mujarab dibawa oleh keempat orang yang mendapatkannya dipersembahkan kehadapan Thi Eng khi. Sedangkan Thi Eng khi pun segera menelan keempat macam bahan obat tersebut kedalam perut, dia merasa takarannya terlampau sedikit sehingga bagaimanakah rasanya pun tidak

48
diketahui olehnya. Terutama sekali setelah menelan obat itu sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, ia jadi curiga apakah obat tersebut benar-benar berkasiat atau cuma bernama kosong belaka. Melihat kecurigaan orang, Pit tee jiu Wong Tin pak hanya tersenyum, setelah memberitahukan tempat penyimpanan kitab Thian liong pit kip serta cara untuk mengambilnya dia bersama sute moaynya mengundurkan diri dari sana agar Thi Eng khi bisa berlatih seorang diri. Tapi Thi Eng khi tidak berpendapat demikian, katanya : Para supek dan susiok, lebih baik temanilah siautit untuk mempelajari bersama kitab pusaka Thian liong pit kip itu! Mendengar ucapan tersebut, dengan serius Pit tee jiu Wong Tin pak berkata :

Sejak partai Thian liong pay didirikan hanya ciangbunjin seorang yang berhak untuk mempelajari isi kitab Thian liong pit kip, sementara murid-murid lainnya hanya mendapat pelajaran dari ciangbunjin, peraturan ini sudah berlangsung turun temurun, jadi tidak seharusnya kalau ciangbunjin melanggar kebiasaan tersebut. Thi Eng khi segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian dengan wajah yang serius dia menghampiri meja abu Cousunya dan berdoa dengan wajah bersungguh-sungguh. Setelah itu, dia baru membalikkan badannya sambil berkata : Sekarang perguruan kita sedang berada dalam keadaan yang lemah, mara bahaya datang mengancam dari mana-mana, dalam keadaan demikian perguruan membutuhkan orang-orang yang berilmu tinggi. Itulah sebabnya aku telah berdoa di depan meja abu Cousu dan meminta perubahan untuk peraturan tersebut. Sejak dari angkatanku sekarang, setiap murid yang mempunyai kecerdasan yang baik serta bakat yang bagus diijinkan untuk mempelajari sendiri kitab tersebut! Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan : Anggota Thian liong pay Wong Tin pak, Li Tin tang, Oh Tin lam, Kwan Tin see dan Yap Siu ling berlima sekarang juga kuperintahkan

49
untuk turut serta dalam mempelajari kitab pusaka Thian liong pit kip, siapapun tak boleh membangkang! Perkataan itu diucapkan dengan wajah serius dan suara nyaring, terpancar jelas kewibawaannya sebagai seorang ciangbunjin, tak urung Thian liong ngo siang dibikin tertegun juga untuk beberapa saat lamanya. Mereka hanya merasakan bayangan tubuh dari Thi Eng khi seakan-akan makin lama semakin membesar, sedemikian besarnya sampai menyelimuti seluruh meja altar. Mereka merasa seolah-olah perkataan itu bagaikan muncul dari mulut cousu mereka sendiri sehingga kesemuanya ini membuat mereka terkesiap. Dengan wajah berubah hebat Thian liong ngo siang segera menjatuhkan diri berlutut. Kata Pit tee jiu Wong Tin pak dengan lantang : Teecu Wong Tin pak berlima menerima perintah ciangbunjin dan mengucapkan terima kasih banyak atas kemurahan hati cousu! Setelah menerima penghormatan itu, dengan senyuman dikulum Thi Eng khi lantas berkata : Silahkan susiok sekalian bangkit berdiri! Asal kalian mau menunjang maksudku, aku merasa amat gembira sekali. Dengan dilepaskannya kedudukan sebagai seorang ciangbunjin, keseriusan wajahnya pun berangsur melunak kembali. Sam ciat jiu Li Tin tang terbahak-bahak saking terharunya, ia lantas berkata : Ciangbun sutit, kau benar-benar hebat, dengan mengandalkan kebesaran jiwamu itu, sudah dapat dipastikan perguruan kita akan jaya kembali dalam dunia persilatan. Benar! Pit tee jiu Wong Tin pak melanjutkan, kebesaran jiwa dan kebijaksanaan ciangbun sutit dalam mengambil keputusan sungguh mencerminkan keluhuran budi ciangbunjin, kami sekalian dapat memahami maksud hati dari ciangbunjin itu.

50
Mendengar kata-kata tunjangan yang diberikan para supek dan susioknya ini, sekulum senyuman dengan cepat menghiasi bibir Thi Eng khi .................. Mendadak dengan wajah serius Pit tee jiu Wong Tin pak berkata kembali : Silahkan ciangbun sutit untuk segera mengambil kitan pusaka Thian liong pit kip tersebut! Harap supek bersedia untuk membantu! Baik! kata Pit tee jiu Wong Tin pak kemudian. Dengan cepat badannya melambung keudara dan menerjang ke arah lentera berbintang tujuh nomor tiga dari samping ruangan kemudian ditariknya lentera itu empat kali dan mengayunnya tiga kali. Semua gerakan tersebut dilakukan dengan tubuh melambung ditengah udara, tanpa tenaga dalam yang sempurna, mustahil bisa melakukan kesemuanya itu. Tiba-tiba berkumandang suara gemuruh yang amat keras dari bawah meja abu tersebut, mendadak seluruh meja itu tenggelam ke bawah, menyusul kemudian tampaklah sebuah cakar raksasa naga emas muncul di depan mata. Baru saja Pit tee jiu Wong Tin pak hendak mengambil kotak biru untuk dipersembahkan kepada Thi Eng khi, mendadak terdengar seorang tertawa riang lalu tampak sesosok bayangan manusia menyambar masuk ke dalam dan menyambar ke ruang tengah. Tidak nampak bagaimana dia melakukan gerakan tubuhnya, tahu-tahu kotak biru berisi kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut telah berpindah ke tangannya. Reaksi yang diberikan Thian liong su siang cukup cepat, sambil membentak keras empat sosok bayangan manusia dengan

51
menghimpun empat gulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat segera dihantamkan ketubuh pendatang tersebut. Orang itu tertawa dingin, tangannya dikebaskan dan tahu-tahu sebelum Pit tee jiu Wong Tin pak berhasil menjawil ujung baju orang, jalan darah khi hay hiat ditubuh mereka sudah menjadi kaku kemudian hawa murninya membuyar dan tubuh merekapun menggeletak ditanah. Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat, menanti Thi Eng khi dapat melihat bahwa pendatang itu adalah seorang kakek botak yang berusia enam puluh tahunan, keadaan sudah berubah. Kendatipun Thi Eng khi memiliki tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang amat sempurna, sayang dia belum belajar secara sempurna, pada hakekatnya dia tak tahu bagaimana caranya untuk mengerahkan tenaga sambil melancarkan serangan sehingga boleh dibilang tiada kegunaannya sama sekali untuk menghadapi suatu pertarungan. Thi hujin Yap Siu ling semakin tak bisa dibilang lagi, ia tak sampai dibikin pingsan karena kagetnya sudah termasuk untung. Bagaimanapun juga, Thi Eng khi terhitung punya keberanian,

sekalipun tidak memiliki kepandaian apa-apa, namun nyalinya tidak kecil. Dengan wajah tidak berubah, dia maju selangkah kedepan, lalu menegur dengan suara lantang. Lo tiang siapakah kau? Menyerobot mustika orang disaat orang tidak siap, termasuk perbuatan apakah itu. Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek botak itu, dia menatap wajah Thi Eng khi tajam-tajam, kemudian tangan kanannya diangkat ke muka dan siap melancarkan serangan dahsyat untuk merobohkan lawannya.

52
Thi Eng khi sedikitpun tidak merasa takut, sambil membusungkan dada ia maju selangkah ke depan, jaraknya dengan kakek botak itu tak lebih dari tiga langkah. Untuk sesaat lamanya kedua orang itu saling berhadapan dengan mata melotot. Sinar mata Thi Eng khi sama sekali tidak menunjukkan keanehan apa-apa, tapi justru dibalik kesederhanaan itu tersimpan kegagahan yang luar biasa, ini memaksa kakek botak itu menarik kembali sinar matanya. Dengan wajah berkerut bercampur keheranan dia lantas tertawa terbahak-bahak, serunya : Haaahhhh............ haaaahhhh ..... haaah..... kalau dilihat dari usiamu yang begitu muda, aku tahu bahwa kau masih tolol dan tak tahu keadaan yang sebenarnya. Ketahuilah lohu berhasil merebut mustika dan melukai orang, yang dipakai adalah ilmu silat murni dan cara yang jujur, siapa bilang perbuatan ini tidak mencocoki perbuatan seorang lelaki sejati? Haaahh....... haaaahh............ haahhh........, anak muda, benar bukan? Pendapat yang demikian anehnya itu baru pertama kali ini didengar Thi Eng khi seketika itu juga paras mukanya berubah menjadi hijau membesi saking marahnya, dia menjadi lupa keadaan dan segera menerjang ke depan dengan garangnya. Pun ciangbunjin akan beradu jiwa denganmu! bentaknya gusar. Thi Eng khi belum pernah belajar ilmu silat, tubrukan tersebut boleh dibilang sama sekali tak pakai aturan. Hampir copot gigi kakek itu saking gelinya, dia lantas berseru dengan lantang : Anak muda, ilmu gerakan apakah yang kau gunakan ini? Naga langit masuk sungai atau ikan belut bermain lumpur? Haaahhhhh........ haaahhh...... haaahhh.....

53
Bukan saja dia masih tetap berdiri dengan tenang, bahkan ucapannya juga berubah lebih santai dan lembut. Bakat maupun keberanianmu termasuk pilihan yang luar biasa, baiklah, memandang pada kebagusan bakatmu itu lohu tidak ingin melukai dirimu, sekarang baliklah ketempat semula dengan baikbaik! Thi Eng khi hanya merasakan segulung tenaga kekuatan yang sangat besar mementalkannya balik ke tempat semula, bahkan posisinya sama sekali tidak berubah, dari ini pemuda itu semakin menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek botak ini sudah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.

Padahal kakek botak itu sama sekali tidak menggerakkan tangan kakinya, hanya mengandalkan pancaran hawa murni ia telah berhasil memaksa mundur Thi Eng khi ke posisi semula, peristiwa tersebut dengan cepat membuat Thi Eng khi semakin kaget dan gelagapan. Menyaksikan pemuda itu terperana dibuatnya, dengan bangga sekali kakek botak itu mengangkat tinggi-tinggi kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut, kemudian katanya : Kitab pusaka Thian liong pit kip sudah berada di tangan lohu, jika kau merasa punya kepandaian, silahkan untuk merampasnya kembali dari tangan lohu! Thi Eng khi adalah seorang pemuda cerdik yang pandai melihat keadaan, diapun tahu sekalipun bernapsu atau nekad menerjang kakek itu juga tak ada gunanya sebab dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang masih jauh bila ingin merampas kembali kitab pusaka Thian liong pit kip itu, maka dia cepat menguasai emosi yang sedang membara dalam hatinya. Setelah tertawa dingin, ujarnya : Kitab pusaka Thian liong pit kip adalah mestika dari partai kami, tentu saja pun ciangbunjin akan merampasnya kembali dari tanganmu, Cuma ilmu silat yang pun ciangbunjin miliki masih belum sempurna, maka dipersilahkan untuk kau simpan lebih dulu, dua tahun kemudian, dengan kemampuanku seorang diri pun ciangbunjin pasti akan merampas kembali kitab pusaka Thian liong

54
pit kip tersebut dari tanganmu, nah sekarang, tinggalkan nama dan alamatmu, kemudian silahkan angkat kaki dari tempat ini! Kehadiran kakek botak itu di dalam dunia persilatan sesungguhnya mempunyai ambisi yang besar, adapun kemunculan didalam partai Thian liong pay sekarang sebetulnya tidak berniat untuk merampas kitab pusaka Thian liong pit kip, tujuannya yang paling utama adalah untuk menyelidiki jejak dari Ban li tui hong Cu Ngo. Kiranya orang yang berhasil merampas kartu undangan yang dibawa Ban li tui hong Cu Ngo tersebut tak lain adalah kakek ini, setelah berhasil merobohkan lawannya dan merampas kartu undangan, pada mulanya dia mengira Ban li tui hong Cu Ngo pasti sudah tiada lagi di dunia ini, cuma kemudian dia teringat akan suatu persoalan andaikata berita kematian Cu Ngo sampai tersiar luas, bukankah hal itu akan menerangkan bahwa tugas Cu Ngo belum terselesaikan, bukankah hal itu justru akan meningkatkan kesiapsiagaan pihak Ki hian san ceng? Keadaan tersebut sesungguhnya sangat tidak menguntungkan bagi kelancaran rencana besarnya karena itu diapun memburu balik kembali ke tempat semula siap untuk melenyapkan jejak. Siapa tahu ketika ia tiba kembali ditempat semula, jenazah Cu Ngo tidak tampak lagi, otomatis perhatiannya lantas dialihkan ke tubuh partai Thian liong pay yang berada disekitar tempat itu. Sewaktu dia menyerbu masuk kedalam Thian liong pay, bukan saja secara jitu berhasil merampas kitab pusaka Thian liong pit kip, bahkan menemukan pula kalau Thi Eng khi adalah seorang pemuda yang berbakat baik, timbullah niatnya untuk mendapatkan pemuda tersebut sebagai muridnya.

Tapi kenyataan sudah terbentang didepan mata, ia tahu tak mungkin benda dan orangnya bisa didapatkan bersama. Setelah pikir punya pikir, akhirnya dia merasa bahwa pemuda yang berbakat bagus itu jauh lebih berharga daripada kitab pusaka

55
Thian ling pit kip itu, sebab dia merasa bagaimanapun mestikanya kitab pusaka itu, sesungguhnya sama sekali tidak penting bagi dirinya. Pada empat puluh tahun berselang, tanpa sengaja dia berhasil menemukan sejilid kitab Huan im po liok dan sejilid Jit sat hian im cin keng. Setelah melalui latihan yang tekun selama empat puluh tahun,dia beranggapan bahwa ilmu yang dimilikinya sekarang sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini. Selain itu, diapun teringat bahwa usianya kian lama semakin bertambah tua, sekalipun Thian liong pit kip lebih tangguh dari Jit sat hian im cin keng, tapi dirinya sudah tiada waktu lagi baginya untuk berlatih kembali dari permulaan. Ketika untuk kedua kalinya dia turun kembali, berkobar ambisi yang sangat besar didalam dadanya, dia bercita-cita untuk menaklukan segenap jago dari seluruh dunia persilatan agar nama besarnya bisa dikenang orang terus sepanjang masa. Oleh karena itu, ketika Thi Eng khi meminta kepadanya untuk meninggalkan nama sebelum pergi, sudah barang tentu ia enggan untuk berbuat demikian. Maka dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak serunya : Haaahhh..... haaahhh...... haaahhhh.... mana-mana, kau mengira lohu benar-benar tertarik dengan kitab pusaka Thian liong pit kip mu itu ..........? Thi Eng khi menjadi tertegun, dia tidak habis mengerti, kenapa orang ini sama sekali tidak tertarik oleh kitab pusaka Thian liong pit kip ............. Dengan perasaan heran, ia lantas menegur : Lantas ada keperluan apa kau malam-malam mendatangi Sin thong partai kami?

56
Kakek botak itu segera menarik kembali senyumnya, kemudian berkata : Lohu ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, asal kau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya, lohu akan segera mengembalikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut kepadamu! Asal pertanyaan yang kau ajukan adalah persoalan yang benar, pun ciangbunjin tentu saja bersedia untuk memberi jawaban, tapi bukan berarti pun ciangbunjin mau berada di bawah perintahmu. Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhh....... haaahhh..... haaahh.. sungguh seorang ciangbunjin Thian liong pay yang hebat, hari ini lohu akan mengikat tali persahabatan denganmu, nah ambillah kembali kitab pusaka Thian liong pit kip ini! Tangannya didorong kemuka, kotak biru itupun pelan-pelan melayang kembali ke tangan Thi Eng khi.

Mimpipun Thi Eng khi tidak menyangka kalau pihak lawan bertindak begitu sosial, maka setelah menerima kembali kotak itu, diapun tertawa terpaksa, katanya : Lotiang ada urusan apa? Apakah Ban li tui hong Cu Ngo telah ditolong oleh orang-orang Thian liong pay? Benar! jawab Thi Eng khi berterus terang, Pun ciangbunjin yang telah turun tangan menyelamatkan jiwanya! Aaaaah...... masa dengan kemampuan itu sanggup untuk menyelamatkan jiwanya? seru si kakek botak tidak percaya. Haaahhh......... haaahhh........... haaahh......... kau terlalu memandang rendah partai kami! Kakek botak itu termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian agaknya dia percaya dengan perkataan dari Thi Eng khi, tanyanya lebih jauh :

57
Sekarang dia berada di mana? Aku tahu kalau kau tidak bermaksud baik terhadap dirinya, pun ciangbunjin tak dapat memberitahukan kepergiannya! Kakek botak itu memang cukup licik, serunya dengan cepat : Kalau begitu dia sudah pergi meninggalkan Thian liong pay? Thi Eng khi beranggapan bahwa soal ini tidak penting untuk dirahasiakan, maka diapun mengangguk. Ya, benar! Lukanya telah sembuh, tentu saja ia pergi meninggalkan tempat ini. Kakek botak itu kembali tertawa licik : Heeehhh...... haaahhh..... haaahhh... asal dia belum mampus, lohu percaya pasti dapat menemukan jejaknya. Kemudian sambil menuding kearah Wong Tin pak berempat yang menggeletak ditanah katanya lebih jauh. Keempat orang supekmu itu sudah terkena totokan Jit sat ci milik lohu, sekalipun lohu bersedia untuk mengikat tali persahabatan denganmu, akan tetapi tidak bisa melanggar kebiasaan, apalagi turun tangan sendiri untuk menolong mereka, bila kau berniat untuk memulihkan kembali tenaga dalam mereka, setengah tahun kemudain kau boleh menunggu lohu diatas puncak Bong soat hong di bukit Wu san, saat itu lohu pasti akan mewariskan ilmu membebaskan totokan itu kepadamu, nah jangan lupa! Heeehhh... heeehhh.... heeehhh........ Setelah tertawa penuh misterius , dia lantas meluncur keluar dari ruangan itu. Wong Tin pak berempat yang tertotok oleh Jit sat ci hanya merasakan sekujur badannya kesemutan, hawa murninya tersumbat dan sama sekali tak mampu berkutik, sementara pendengarannya sama sekali tdiak terpengaruh, melihat kakek botak itu sudah pergi, dengan wajah murung Pit tee jiu Wong Tin pak lantas berkata:

58
Ciangbunjin sutit, ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip tiada taranya di dunia ini, asal kau bisa meyakininya, untuk membebaskan totokan Jit sat ci mah bukan urusan yang susah, kau tak usah kuatir dan tak perlu tergesa-gesa.

Thi hujin Yap Siu ling juga berhasil menenangkan hatinya, dia lantas berpesan kepada Thi Eng khi : Ilmu Thian liong pit kip bukan bisa diyakini di dalam sehari saja, Eng ji lebih baik kita urusi dulu diri supek dan susiok beberapa orang! Thi Eng khi manggut-manggut mengiakan dia lantas menyerahkan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut kepada ibunya, kemudian menggotong datang empat buah pembaringan besar dan membopong tubuh Pit tee jiu Wong Tin pak sekalian naik keatas ranjang. Kemudian dengan mengikuti petunjuk dari Pit tee jiu Wong Tin pak , ia membuka sebuah pintu rahasia disebelah kiri ruang Sin thong dan memasuki sebuah ruang rahasia. Didalam ruangan itu telah siap lima buah peti mati, diujung peti mati tersebut telah tercantum nama dari Thian liong ngo siang, maka mengikuti petunjuk yang telah ada, dia membaringkan jenasah gurunya Gui Tin tiong ke dalam peti mati, kemudian menyimpan jenasah tersebut dalam ruang rahasia untuk menunggu saat yang baik setelah Thian liong pay jaya kembali nanti, dikubur dengan upacara besar. Setelah repot seharian penuh, keesokan harinya di hadapan Pit tee jiu Wong Tin pak berempat serta ibunya, ia membuka kotak biru yang berisikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut. Kotak biru itu sama sekali tidak menyolok atau memiliki sesuatu keanehan apa-pa, tapi setelah dibuka ternyata isinya adalah sebuah kotak kumala hijau , di luar kotak kemala itu terikat satuan sabuk biru, cara menyimpulkan tali itupun aneh sekali, sehingga Thi Eng khi gagal untuk membuka simpul mati tersebut dengan cara apa pun.

59
Melihat itu Thian liong ngo siang segera saling berpandangan sambil tertawa. Pit tee jiu Wong Tin pak segera berkata : Silahkan ciangbunjin mempergunakan kecerdasan otakmu untuk membebaskan tali simpul tersebut, bila simpul itu dapat dibuka, kitab Thian liong pit kip bisa diambil. Thi Eng khi berusaha keras untuk membuka tali simpul itu dengan pelbagai cara, tapi sama sekali tiada hasilnya, malahan semakin dibuka tali itu semakin kencang. Satu ingatan lantas melintas dalam benaknya, sambil mendongakkan kepala dia bertanya : Tolong tanya supek, apakah pun ciangbunjin harus bisa membuka tali simpul tersebut baru bisa melatih ilmu yang tercantum didalam kitab pusaka Thian lion pit kip. Memang demikian tujuannya! sahut Pit tee jiu Wong Tin pak dengan kening berkerut. Thi Eng khi lantas manggut-manggut pikirnya : Mungkin yang menjadi tujuannya adalah untuk mencoba kebesaran jiwa seorang ciangbunjin.... Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa nyaring. Baik! katanya, Siautit tak akan membuat kecewa kalian semua ............!

Ketika mendongakkan kepalanya, tiba-tiba tampak olehnya didinding sebelah kiri sana tergantung sebilah pedang antik, cepat dia meloloskan senjata tersebut hingga seluruh ruangan diliputi oleh cahaya keemas-emasan. Sekalipun Thi Eng khi tak bisa membedakan mana pedang yang baik dan mana pedang yang jelek, tapi tidak sulit baginya untuk menebak bahwa pedang tersebut adalah sebilah pedang mestika.

60
Pelan-pelan dia mengangkat pedangnya dan diayunkan ke atas tali simpul itu, tampak cahaya pedang berkelebat, tahu-tahu simpul tersebut sudah putus menjadi beberapa bagian. Mula-mula Thian liong ngo siang menjerit kaget, menyusul kemudian mereka segera bersorak gembira. Rupanya merekapun dapat memahami arti dari simpul mati itu. Hanya seorang enghiong yang berjiwa besar dan bersemangat gagah baru akan mengambil tindakan demikian, sebab itulah yang diperlukan bagi seorang ketua dari Thian liong pay. Setelah mengembalikan pedang antik itu ke tempat semula, Thi Eng khi baru membuka kotak kemala tersebut untuk diambil kitabnya. Siapa tahu, begitu melongok ke dalam kotak tersebut, kontan saja ia menjerit kaget: Aaaah..... mana kitab pusaka Thian liong pit kipnya? Ternyata dalam kotak kemala itu selain secarik kertas, tidak nampak sesuatu apapun. Paras muka Thian liong ngo sing segera berubah hebat, mereka saling berpandangn dengan wajah tertegun. Sekalipun Thi Eng khi merasa amat kecewa namun dia masih dapat menenangkan hatinya, diambil surat itu kemudian dibaca dengan lantang : Anggota partai kita tiada manusia berbakat, keturunan pun tak punya, kitab pusaka Thian liong pit kip telah kubawa pergi seandainya Thian tidak menakdirkan partai kita musnah, kitab pusaka ini akan dibawa kembali oleh ciangbunjin angkatan kesebelas. Tertanda : Thi Keng tahun x bulan x tanggal x

61
Waktu yang dicantumkan ternyata adalah saat dimana kakek itu pergi meninggalkan tempat tersebut. Pit tee jiu Wong Tin pak segera menghela napas sedih, katanya kemudian : Dari sini bisa diketahui kalau Insu selalu murung karena memikirkan masa depan partai kita, cuma dia orang tua telah meninggal di tempat lain, dalam surat wasiatpun tidak menyinggung soal itu, sudah pasti dia mati dengan membawa sesal, entah kitab pusaka Thian liong pit kip sekarang telah terjatuh ditangan siapa? Sudah pasti ditelan oleh Tiang pek lojin yang menghantar surat wasiat itu pulang seru Sin lui jiu Kwan Tin see dengan marah bercampur dendam, Eng ji, kau segera berangkat dan cari Tiang pek lojin sampai ketemu. Jika urusan ini tidak dilihat dengan mata kepala sendiri, lebih

baik jangan sembarangan menuduh, cegah Sam ciat jiu Li Tin tang cepat. Tiang pek lojin adalah seorang pendekar sejati, andaikata orangnya tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin Insu menitipkan surat wasiat itu kepadanya? Tentu saja kitab pusaka itu musti diselidiki tapi tak usah terburu napsu, yang penting sekarang adalah melatih ciangbun sutit dengan rangkaian ilmu silat perguruan yang kita pahami, agar obat mustika yang berada dalam tubuh ciangbun sutit bisa mulai bercampur baur dengan kekuatan tubuhnya, setelah itu baru kita bicarakan kembali soal kitab pusaka Thian liong pit kip. Tapi harus menunggu sampai kapan? seru Sin lui jiu Kwan Tin see. Paling tidak juga harus menunggu sampai lima tahun lagi! Pit tee jiu Wong Tin pak segera menghembuskan napas panjang, serunya dengan kesal : Meskipun lima tahun itu panjang tapi kalau dibandingkan dengan lima belas tahun yang sudah lewat, waktu sepanjang itu juga tidak terhitung seberapa! Lima belas tahun saja bisa kita tunggu, masakan menunggu lima tahun lagipun tak bisa?

62
Paras muka Thian liong ngo siang berubah menjadi amat sedih dan murung, menanti ........ menanti ........ seakan-akan soal menanti sudah bukan menjadi suatu masalah lagi bagi mereka. Sementara Thian liong ngo siang merasa bersedih hati, Thi Eng khi yang baru semalam menjabat sebagai ketua Thian liong pay juga sedang berdiri memandang patung cousu nya sambil termangumangu, entah apa saja yang dipikirkan olehnya. Terbayang kembali sejarah Thian liong pay di masa lalu yang begitu jaya dan mentereng, makin dipikir pemuda itu merasa tanggung jawab yang dibebankan diatas bahunya semakin berat. Sejarah gemilang dari Thian liong pay diperoleh dari sumbangsih Thian liong pay terhadap keselamatan dunia persilatan. Atau dengan perkataan lain, kebangkitan Thian liong pay juga harus ikut bertanggung jawab pula atas ditegakkannya kebenaran dan keadilan dalam dunia persilatan. Kalau ditinjau dari pembicaraan Ban li tui hong Cu Ngo serta disebarnya undangan Bu lim tiap oleh pihak perkampungan Ki hian san ceng dibukit Hong san, bisa diduga kalau dunia persilatan sedang terancam oleh mara bahaya. Berpikir sampai disitu, Thi Eng khi segera mengambil keputusan di dalam hatinya, sambil memandang wajah Thian liong ngo siang, ujarnya dengan suara dalam : Lima tahun adalah suatu jangka waktu yang terlalu panjang, padahal ancaman dunia persilatan telah diambang pintu, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, Thian liong pay mana boleh memisahkan diri diluar garis? Oleh karena itu, siautit bermaksud untuk berangkat besok juga, aku akan berkunjung ke perkampungan Ki hian san ceng di bukit Hong san serta ikut menyumbangkan tenaga kita bagi ditegakkannya keadilan dan kebenaran. Siautit rasa, dengan kemampuan yang kumiliki sekarang, mungkin masih bisa mengatasi segala kesulitan yang ada. Ucapan yang begitu gagah perkasa ini membuat Thian liong ngo siang tak mampu untuk mengucapkan kata-kata tidak setuju.

63
Semua orang menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, akhirnya Pit tee jiu Wong Tin pak, menghela napas panjang, katanya : Bila ciangbun sutit ingin mengubah kekuatan Sian thian bu khek ji gi sin kang yang berada di tubuhmu dari kekuatan yang tersimpan menjadi kekuatan sesungguhnya, caranya gampang sekali. Asal kau mengingat beberapa kata sandi yang penting ini, maka dalam latihan tiga hari saja semua kehendakmu bisa tercapai, cuma sekalipun demikian, kamu masih belum bisa beradu kekuatan dengan mereka, sebab hal ini hanya akan melemahkan kedudukan partai kita saja. Rupanya ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang diwariskan Kay thian jiu Gui Tin tiong kepada Thi Eng khi tersebut hanya cara untuk menghimpun tenaga, untuk menghindari kecurigaan Thi hujin, sengaja dia tidak mewariskan cara untuk mengerahkan tenaga, meski demikian hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi latihannya, asal mendapat pengerahan yang tepat maka keadaan tersebut masih bisa diatasi. Demikian, ketika Thi Eng khi mendengar perkataan dari Pit tee jiu Wong Tin pak tadi, sambil tertawa ia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya : Kepergianku ke bukit Hong san kali ini hanya ingin menunjukkan solidaritas partai kita dengan partai-partai persilatan lainnya, kita hanya akan menyumbangkan kecerdasan kita, dan bukan beradu kekuatan, jadi soal ilmu silat masih belum diperlukan, harap supek tak usah kuatir...! Sam ciat jiu Li Tin tang mengangguk berulang kali. Bila ingin membangun kembali nama besar Thian liong pay, kita memang tak bisa melepaskan diri dari persoalan dunia persilatan, tindakan semacam ini memang sangat diperlukan sekali, cuma persoalannya sekarang adalah partai kita tidak memperoleh undangan .... Huuuh....! Sangkoan loji itu manusia macam apa? teriak Sin lui jiu Kwan Tin see dengan suara lantang, empat puluh tahun berselang, ketika mengikuti di belakang Insu hak untuk turut

64
berteriakpun belum punya, sekarang saja lagaknya luar biasa, malah berani pandang rendah partai kita, benar-benar keterlaluan! San tin jiu Oh Tin lam tertawa. Losu tak usah marah-marah, katanya, sekalipun Sangkoan loji tak punya aturan, dengan mengandalkan keadaan kita yang setengah hidup setengah mati, apa yang bisa kita lakukan? Sin liu jiu Kwan Tin see yang dikatai demikian hanya bisa melototkan matanya lebar-lebar sambil menghela napas panjang. Anak Eng, ibu mendukung tindakanmu ini! seru Thi hujin Yap Siu ling sambil tertawa. Asal tujuan kita tulus, peduli amat dengan sikap orang lain terhadap kita, ucap Pit tee jiu Wong Tin pak pula. Ciangbun sutit gagah perkasa dan, baiklah! Harap kau suka menunggu lima hari, dalam lima hari ini kami akan membantumu sebisanya. Terima ksih atas kebaikan para supek dan susiok. Perkampungan Ki hian san ceng sesungguhnya bukan terletak

diatas bukit Hong san melainkan berada di kaki bukit sebelah utara dari bukit tersebut, masuk dari mulut bukit lalu berbelok ke kanan. Di depan pintu perkampungan terdapat sepasang patung siang yang tinggi dan besar. Diatas pintu gerbang terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan empat huruf besar : Ki hian san ceng Empat huruf besar yang berwarna keemas-emasan. Suasana dalam perkampungan waktu itu sangat hening dan sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

65
Seorang sastrawan berbaju biru yang berwajah gagah berdiri ditengah lapangan pintu depan, sebilah pedang antik tersoren di pinggangnya, meski lemah lembut tapi kelihatan amat gagah. Lama sekali sastrawan berbaju biru itu berjalan bolak balik di tengah lapangan akhirnya dia berhenti seraya berguman : Tampaknya perkampungan ini sama sekali tiada penjagaan, jangan-jangan aku telah salah mengingat waktu? Masa waktu pertemuan bukan hari ini....? Mendadak terasa ada segulung angin lembut berhembus lewat dari sisi tubuhnya ketika dia coba mengamati, ternyata ada seorang kakek bungkuk sedang berjalan berjalan menuju ke dalam perkampungan. Menyusul kemudian, dari balik perkampungan itu terdengar seseorang berseru lantang : Sin lo tuo (unta sakti) locianpwe telah tiba! Mendengar suara itu, tersenyumlah pemuda berbaju biru tersebut, segera gumannya: Oooh .... aku kelupaan bahwa pertemuan ini adalah suatu pertemuan rahasia, tentu saja penyambutnya tidak akan berdiri diluar perkampungan sambil memasang aksi. Berpikir sampai disitu, dia lantas beranjak dan berjalan ke dalam perkampungan. Di balik pintu perkampungan juga terbentang sebuah lapangan luas, dua baris lelaki kekar berdiri di kiri kanan pintu, mereka berdiri dengan senjata terhunus sehingga suasana tampak amat serius. Disiplin orang-orang itu sangat tinggi, sekalipun berjumlah banyak tapi suasana amat hening tak kedengaran sedikit suarapun, karena itulah kalau yang berada di luar perkampungan sama sekali tak akan menyangka kalau dibalik perkampungan tersebut terdapat begitu banyak jago yang sedang berdiri dengan senjata terhunus.

66
Baru saja sastrawan berbaju biru itu melangkah masuk ke dalam pintu perkampungan, seorang pemuda berjubah panjang segera menyambut kedatangannya dengan senyum dikulum : Harap cianpwe memperlihatkan undangan dari perkampungan kami, agar bisa diberikan laporan ke dalam guna penyambutan. Sebetulnya sastrawan berbaju biru itu akan menyambut dengan wajah dihiasi senyuman, akan tetapi setelah teringat kalau dirinya adalah ketua dari suatu perguruan besar, tiba-tiba dengan wajah serius sahutnya keren : Aku adalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, khusus datang

kemari untuk menyambangi Sangkoan lo cengcu! Ia tidak mempunyai surat undangan, itulah sebabnya terpaksa harus mengutarakan identitasnya. Tampaknya pemuda itu kena digertak oleh kedudukannya sebagai seorang ciangbunjin ia tak berani menanyakan soal undngan lagi kepada Thi Eng khi, tapi iapun tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk, sahutnya berulang kali : Baik! Baik! Harap Thi ciangbunjin menunggu sebentar! Dengan cepat dia menyelinap masuk ke dalam pintu ruang kedua yang membentang di depan mata itu. Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali bersama seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan yang berbaju parlente. Lelaki berbaju parlente itu memiliki sepasang mata yang tajam bagaikan sembilu, sekalipun Thi Eng khi tidak cukup berpengalaman, dia juga tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki orang ini tidak lemah. Lelaki berbaju parlente itu langsung berjalan ke hadapan Thi Eng khi, kemudian dengan penuh rasa hormat, katanya : Aki bernama Sangkoan Gi. Lalu sambil menuding pemuda tampan tadi , dia melanjutkan,

67
Dan dia adalah keponakan kami Sangkoan Beng, tolong tanya ada urusan apa Thi ciangbunjin berkunjung kemari? Thi Eng khi segera berpikir. Dengan jelas dia tahu kalau kedatanganku kemari adalah untuk menjumpai cengcu, mengapa ia musti banyak bertanya lagi? Pada mulanya, pemuda ini hanya seorang anak sekolahan, maka melihat orang berbicara sambil tersenyum , tentu saja dia tak bisa mencari gara-gara terpaksa dia mengulangi kembali maksud kedatangannya. Aku masih muda dan berpengalaman cetek, entah Sangkoan tayhiap dan Sangkoan cengcu ..... Sangkoan su kita terdiri dari Sangkoan Tiong, Sangkoan Siau, Sangkoan Jin dan Sangkoan Gi, mereka semua bukan manusia atas bernama dalam dunia persilatan, sekalipun Thi Eng khi mengajukan pertanyaan tersebut karena dia benar-benar tak pernah mendengar nama Sangkoan Su kiat, tapi dalam pendengaran Sangkoan Gi justru ucapan tersebut sangat tak sedap didengar. Dengan kening berkerut tapi masih bsersikap sopan Sangkoan Go segera menjawab. Dia orang tua adalah ayahku! Begitu mengetahui kalau Sangkoan Gi adalah sau cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng, Thi Eng khi menjadi girang sekali, cepat serunya. Harap Sangkoan tayhiap suka memberi laporan ke dalam, katakan bahwa aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan ayahmu! Untuk menjaga nama baik perkampungan Ki hian san ceng dimata orang, Sangkoan Gi terpaksa menyahut.

68
Oooh .....! Kedatangan Thi ciangbunjin sungguh sangat tidak

kebetulan, beberapa hari berselang ayahku telah turun gunung dan sampai sekarang belum pulang, entah Thi ciangbunjin tinggal dimana? Silahkan meninggalkan alamat, bila ayahku sudah pulang nanti, pasti akan kusampaikan. Ucapan tersebut cukup jelas, yakni perkampungan Ki hian san ceng tidak berniat untuk menyambut kedatangan ketua dari Thian liong pay ini. Manyaksikan maksud baiknya dibalikin orang, Thi Eng khi mengernyitkan alis mata nya , kemudian dengan menahan diri serunya kembali : Sesungguhnya aku datang untuk mengikuti pertemuan rahasia yang sedang diselenggarakan disini, harap Sangkoan tayhiap segera masuk ke dalam untuk memberi laporan. Paras muka Sangkoan Gi kontan saja berubah hebat, cepat-cepat serunya : Perkampungan kami sama sekali tidak menyelenggarakan pertemuan apa-apa, mungkin Thi ciangbunjin telah salah mendengar! Pada ssat itulah, tiba-tiba dari luar pintu berjalan masuk seorang pendeta tua berjubah abu-abu, bersenjata tongkat baja dan berwajah ramah dan penuh asih. Begitu menjumpai kemunculan pendeta itu buru-buru Sangkoan Gi meninggalkan Thi Eng khi untuk menyambut kedatangannya, setelah memberi hormat katanya : Ayah telah menantikan kedatangan taysu di ruang tengah, silahkan masuk ke dalam taysu! Tanpa memeriksa kartu undangannya lagi, dia mempersilahkan hwesio itu untuk masuk ke dalam ruangan. Melihat kesemuanya itu, Thi Eng khi selain merasa mendongkol juga gusar, baru saja dia bermaksud untuk menerjang masuk

69
kedalam ruangan, tiba-tiba Sangkoan Gi telah melayang kembali di hadapannya. Terpaksa sambil menahan sabar dia menegur : Siapakah pendeta agung tadi? Dengan perasaan tak sabar Sangkoan Gi menyahut : Ci kay taysu dari partai Siau lim! Tolong tanya apa kedudukan Ci Kay taysu didalam kuil Siau lim si? kembali Thi Eng khi bertanya. Sangkoan Gi mengira Thi Eng Khi sudah tahu pura-pura bertanya dengan maksud untuk menggodanya, sebab didalam anggapannya setiap umat persilatan pasti mengenali siapakah empat Kim kong dari kuil Siau lim si, maka sambil menarik mukanya sehingga berubah menjadi dingin bagaikan es, dia berkata : Salah satu seorang Kim kong dari kuil Siau lim si, kedudukannya adalah seorang huhoat! Thi Eng khi bertanya lebih jauh : Apakah dia adalah murid pertama dari ketua Siau lim pay? Makin didengar Sangkoan Gi merasa semakin tak karuan perasaannya, kontan saja dengan mata melotot sahutnya keraskeras : Empat Toa kim kong dari Siau lim si adalah sute dari ketua

partai Siau lim si, Thi ciangbunjin! Jawabanku ini cukup memuaskan bukan! Menyaksikan jawaban Sangkoan Gi makin lama semakin tak tahu sopan santun, berkobar hawa amarah dalam hatinya, serunya kemudian dengan suara lantang : Aku sebagai seorang ciangbunjin apakah tidak bisa menandingi seorang huhoat dari Siau lim si? Mengapa aku tak boleh memasuki pintu gerbang perkampungan kalian? Harap Sangkoan tayhiap memberi penjelasan!

70
Sangkoan Gi tak mau mengalah, serunya pula keras-keras : Sekalipun Thi ciangbunjin adalah seorang ketua dari suatu perguruan, bila tiada surat undangan dari perkampungan kami, jangan harap bisa memasuki ruangan kami. Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Ci kay taysu agaknya tak pernah mengeluarkan surat undangannya, apakah Sangkoan tayhiap sengaja hendak membuat susah diriku? Sangkoan Gi tertawa dingin. Nama besar Ci kay taysu sudah tersohor di seluruh dunia persilatan, setiap orang mengenalinya, bila Thi ciangbunjin ingin dibandingkan dengan dirinya .......... hmm! Masih kelewat pagi. Sangkoan tayhiap! bentak Thi Eng khi dengan suara gusar, jika kau tetap bersikeras dengan jalan pemikiranmu itu, terpaksa aku akan melangkah masuk sendiri! Untuk sesaat lamanya Sangkoan Gi terpengaruh oleh kewibawaannya yang amat besar itu tanpa sadar dia menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat. Tapi belum sampai dia menyusul ke depan, tampak keponakannya Sangkoan Beng telah menghadang jalan pergi Thi Eng khi dengan senyuman cengar-cengir. Usia Sangkoan Beng selisih tidak terlalu banyak dibandingkan dengan Thi Eng khi, tapi berhubung dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga persilatan yang berpengaruh, maka sedikit banyak sikapnya agak angkuh dan tinggi hati. Diam-diam ia menyesal mengapa tidak bisa menahan diri ketika digertak lawannya tadi sehingga dia kehilangan muka dan harus mengundang paman susioknya untuk menyelesaikan persoalan ini, dia merasa tindakannya itu berakibat dia kehilangan muka. Maka ketika dilihatnya Sangkoan Gi agak kewalahan untuk menghalangi masuknya Thi Eng khi kedalam ruangan, cepat-cepat dia maju kedepan untuk mengatasinya.

71
Dia telah bertekad untuk menghalangi Thi Eng khi masuk ke dalam perkampungan Ki hian san ceng, karena kalah pengaruh bila sama-sama serius, maka dia ambil sikap tertawa cengar-cengir untuk menghadapi lawannya. Jilid 3 Begitulah, sambil menghalangi jalan pergi Thi Eng khi, ujarnya : Perkampungan Ki hian san ceng adalah tempat berkumpulnya orang-orang kenamaan dalam dunia persilatan, sekalipun Thi ciangbunjin adalah seorang ketua dari Thian liong pay, namun

perkampungan kami pun tidak ingin merusak kewibawaan kami sehingga dijadikan bahan gurauan orang dikemudian hari, maaf, jalan disini tidak tembus, silahkan pulang saja ke rumah! Demi menjunjung nama baik perguruan Thian liong pay setelah berada dalam keadaan begini tiada pilihan lain baginya kecuali bertahan terus. Dengan wajah serius katanya kemudian : Sangkoan sauhiap! Benarkah kau tidak memperkenakan aku untuk masuk kedalam? Sambil berkata dengan langkah lebar dia melanjutkannya maju ke depan. Sangkoan Beng segera menarik sikap cengar-cengirnya, dengan wajah serius katanya pula : Kalau toh Thi ciangbunjin begitu tak tahu diri, terpaksa aku harus membuat dosa kepadamu! Seraya berkata, dengan jurus liu soat hong san (awan mengalir menyelimuti bukit) dia menciptakan selapis bayangan telapak tangan yang rapat untuk menyerang tubuh bagian atas Thi Eng khi. Jurusan serangan tersebut merupakan jurus yang sangat tangguh dari ilmu pukulan kilat Huan im hu yu cap pwe kuay jiu yang paling diandalkan perkampungan Ki hian san ceng.

72
Sangkoan Beng agak keder oleh nama besar ketua Thian liong pay, kuatir perbuatannya akan menurunkan gengsi perkampungan Ki hian san ceng dimata umum, maka begitu turun tangan dia lantas menyerang dengan menggunakan jurus serangan yang paling tangguh. Sungguh kasihan Thi Eng khi yang memiliki tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang sempurna itu, didalam menghadapi serangan lawan, dia hanya memiliki tiga jurus ilmu pukulan Thian liong ciang hoat, tiga jurus ilmu jari Thian liong ci hoat, tiga jurus ilmu pedang Thian liong kiam hoat dan tiga jurus ilmu pukulan Thian liong kun hoat yang diwariskan Thian liong su siang kepadanya. Sekalipun tiga kali empat dua belas jurus ilmu sakti dari partai Thian liong pay, yang dimilikinya itu merupakan inti kekuatan dari ilmu aliran Thian liong pay akan tetapi dengan kematangan yang terbatas itu secara otomatis kekuatan yang terpancar keluar dari serangan itupun sangat terbatas sekali. Dengan perkataan lain, seandainya dia yang membuka serangan lebih dulu, baik dalam ilmu telapak tangan, ilmu jari, ilmu pedang maupun ilmu pukulan dalam waktu singkat dia bisa lepaskan serangan yang maha dahsyat ibaratnya kehebatan Thia Kau kim. Tapi jika musuh menyerang duluan maka kedua belas jurus ilmu sakti yang dimilikinya itu akan berubah menjadi satu jurus, jurus serangan yang sama sekali tak ada faedahnya. Sebab jurusjurus serangan itu dipelajarinya secara mendesak, apalagi tiada berpengalaman dalam menghadapi pertarungan, otomatis dia tak bisa melakukannya dengan matang. Dalam pada itu, Sangkoan Beng telah memandang terlampau tinggi akan kehebatan musuhnya, begitu turun tangan dia lantas menyerang dengan jurus perguruannya yang paling hebat, bagaimana mungkin ia mampu untuk menghadapinya?

73
Terasa bayangan telapak tangan menyelimuti seluruh angkasa dan menekan ke atas batok kepalanya, dengan gugup dia segera melompat mundur ke belakang. Sangkoan Beng tertawa bangga, sambil menarik kembali serangannya ia tertawa terbahak-bahak. Haaahhh ....haaahhh .....haaahhh......ternyata ilmu silat Thian liong pay tak lebih Cuma begitu-begitu saja! Ciangbunjin mungkin terlalu awal bagimu untuk berkelana dalam dunia persilatan, silahkan! Silahkan! Kami tak akan mengantar lebih jauh lagi! Ucapan itu penuh dengan nada ejekan sindiran amat tak sedap untuk ditangkap dengan pendengaran. Thi Eng khi segera merasakan darah panas dalam tubuhnya mendidih, tak terlukiskan kemarahan yang berkobar dalam dadanya, segera membentaknya keras-keras : Baik! Aku akan persilahkan kau untuk menyaksikan kelihayan dari ilmu silat Thian liong pay kami. Dengan menghimpun dua belas bagian tenaga dalamnya, dia mengangkat telapak tangannya keudara, kemudian dengan jurus Lak leng kay san (Lak teng membuka gunung) suatu jurus tangguh dalam Thian liong ciang hoat, dia lepaskan sebuah pukulan dahsayt kemuka. Jurus pukulan Thian liong ciang hoat yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini sungguh luar biasa hebatnya, mau tak mau Sangkoan Beng harus berkelit juga tanpa berani menangkis atau menyambut secara keras lawan keras. Secara beruntun Thi Eng khi melepaskan kembali seranganserangannya dengan jurus Jit pay tiong thian (matahari di tengah angkasa dan Hun im ki gwat (memisah awan meraih rembulan)......... Sangkoan Beng terdesak hebat, dengan jantung berdebar karena kaget bercampur terkesiap buru-buru ia gunakan Giok yan sin hoat

74
(ilmu gerakan tubuh burung walet kemala) untuk berkelit sambil menyelamatkan diri ..... Selewatnya tiga gebrakan, Thi Eng khi segera menghentikan serangannya dengan wajah serius dia berkata : Sauhiap, bagaimanakah pandanganmu terhadapan ilmu pukulan Thian liong ciang hoat? Padahal selewatnya tiga jurus serangan itu, dia tak sanggup untuk melanjutkan kembali serangannya, terpaksa ia harus menghentikannya sampai disana. Tentu saja Sangkoan Beng tak menduga sampai ke situ, setelah menghindari ketiga jurus serangan berantai dari Thi Eng khi tadi, ia, sudah bermandi keringat karena kaget bercampur terkesiap, disangkanya Thi Eng khi benar-benar berilmu tinggi, untuk sesaatnya lamanya dia menjadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sangkoan Gi kuatir keponakannya menderita kerugian, dengan cepat ia melompat kemuka seraya berseru : Thi ciangbunjin tenaga dalammu memang cukup sempurna, jelas keponakanku bukan tandingan, aku yang tak becus bersedia

untuk memohon beberapa petunjuk darimu! Setelah mendapat pengalaman yang cukup pahit tadi, Thi Eng khi sadar jika musuh sampai menyerang lebih dulu, maka dia pasti akan dibikin keteter hebat dan kehilangan muka. Maka dia sengaja tertawa nyaring, kemudian katanya : Kalau memang Sangkoan tayhiap punya minat untuk bermainmain, baiklah akan kupertunjukkan tiga jurus Thian liong ci hoat kami! Begitu selesai berkata dia lantas melepaskan tiga totokan berantai dengn jurus Ci thian hua tee (menuding langit mendayung bumi), Kui seng tiam goan (bintang kejora menotok pusat) serta Tiang cian ji im (panah panjang menembus awan).

75
Sangkoan Gi adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, pengalamannya luas dan pengetahuannya matang, ia segera merasakan betapa dahsyatnya ketiga jurus serangan Thian liong ci hoat tersebut, tentu saja ia merasa kuat untuk membendungnya. Untung saja Thi Eng khi belum cukup berpengalaman, serangannya juga belum bisa digunakan secara matang, maka dari itu kendatipun ia merasa agak payah, toh masih sanggup membendungnya. Ketika tiga jurus serangan jarinya sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, terpaksa Thi Eng khi harus menarik kembali serangannya dengan perasaan kaget. Ternyata Sangkoan tayhiap betul-betul berilmu tinggi, serunya sebagaimana yang telah kukatakan lagi tadi, selewatnya tiga gebrakan, aku tak akan melancarkan serangan kembali. Jika hanya menerima tanpa membalas itu namanya kurang sopan, kata Sangkoan Gi, akupun ingin sekali minta beberapa petunjuk dari Thi ciangbunjin! Aduh celaka! pekik Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu. Tapi keadaan sudah meruncing ibaratnya anak panah sudah diatas busur, mau tak mau dengan keraskan kepala dia harus berkata : Aku ingin sekali cepat-cepat menghadiri pertemuan biar dilain waktu saja, aku akan minta petunjuk lagi dari Sangkoan tayhiap! Sangkoan Gi segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhh ..... haaahhh...... haaahhh..... Thi ciangbunjin tak perlu tergesa-gesa, partai anda tidak termasuk dalam undangan, jangan kuatir ketidakhadiranmu tak bakal sampai mempengaruhi situasi dalam dunia persilatan, menurut pendapatku, kesempatan baik

76
semacam ini sukar ditemukan, kenapa kita musti menyia-nyiakan denga begitu saja? Berbicara sampai disitu, tanpa menunggu persetujuan dari Thi Eng khi lagi, dia berseru lebih jauh. Silahkan! Aku akan melancarkan serangan lebih dulu. Telapak tangannya segera diayunkan kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat keatas lengan kiri Thi Eng khi.

Ketika dilihatnya suatu pertarungan sudah tak bisa dihindari lagi, terpaksa Thi Eng khi menyongsong serangan itu dengan jurus Ci thian hua tee (menunjuk langit mendayung bumi). Sangkoan Gi tertawa ringan dari serangan pukulan dia merubah ancamannya menjadi serangan cengkaraman, lengannya diturunkan ke bawah diimbangi tekukan pinggang, dimana jari tangannya menyambar .........Breeeet! Jubah panjang berwarna biru yang dipakai Thi Eng khi sudah tersambar sehingga robek sebagian besar, sementara tubuhnya juga kena didesak mundur sejauh lima langkah lebih. Sangkoan Gi tidak membiarkan musuhnya kabur begitu saja, berhasil dengan serangannya yang pertama dia mendesak lebih jauh, lagi-lagi sebuah pukulan menghajar diatas paha pemuda itu. Untung saja Thi Eng khi cukup sadar kalau dalam jurus serangan ia masih kalah jauh dibandingkan dengan Sangkoan Gi maka hawa sakti Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya telah disalurkan untuk melindungi badan. Selain itu, bagaimanapun juga Sangkoan Gi terhitung juga seorang anggota dari suatu perguruan kenamaan, betul ia berhasrat untuk merobohkan musuhnya tapi bukan berarti hendak melukainya maka ia tidak menggunakan segenap tenaga yang dia miliki. Walaupun begitu serangan itu cukup membuat kuda-kuda Thi Eng khi menjadi tergempur dan secara beruntun mundur sejauh tiga

77
langkah ke belakang dengan sempoyongan, untung saja ia tak sampai jatuh terduduk di tanah. Dalam pada itu, Sangkoan Gi sendiripun merasa sangat terkejut setelah pukulannya mampir diatas paha Thi Eng khi, ia merasakan munculnya suatu tenaga pantulan maha dahsyat dari paha si anak muda itu yang membuat telapak tangannya bergetar keras dan kesemutan. Sangkoan Gi cukup punya nama didalam dunia persilatan, kepandaian silat yang dimiliki tentu saja bukan sembarangan dan otomatis dia cukup mampu untuk menilai kemampuan orang. Sekalipun serangan yang barusan dilancarkan berhasil mendesak mundur Thi Eng khi sejauh tiga langkah, sebaliknya dia malah tak berani memandang enteng si anak muda itu, dianggapnya pemuda itu masih kurang hapal dengan jurus serangan yang dimilikinya, maka dia agak rugi bila terjadi pertarungan, namun soal tenaga dalam sungguh merupakan seorang jagoan yang tangguh. Segera timbullah keinginannya untuk beradu tenaga dalam dengan musuhnya itu. Sambil mengacungkan jempolnya, dia berseru dengan lantang : Thi ciangbunjin, sungguh amat sempurna tenaga dalammu, bagaimana kalau kita saling beradu tenaga sebanyak tiga gebrakan? Ketika jubahnya kena tersambar sampai robek tadi, Thi Eng khi sudah merasa tak senang hati, apalagi sesudah dipaksa mundur sejauh tiga langkah, api amarahnya sudah makin berkobar, maka ketika mendengar tantangan tersebut, tanpa pikir panjang lagi dia menyahut dengan wajah sedingin es : Aku akan melayani keinginamu!

Dengan cepat tenaga dalam Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya dihimpun mencapai dua belas bagian, ia sudah bertekad untuk beradu kekuatan dengan musuhnya itu.

78
Sangkoan Gi mengawasi terus lawannya itu dengan seksama, ketika dilihatnya hawa sakti Thi Eng khi sudah terhimpun dan wajahnya berubah menjadi serius, ia semakin tak berani memandang enteng lawannya, buru-buru diapun menghimpun tenaga dalamnya mencapai dua belas bagian pula. Tampaknya dua ekor harimau segera akan bertarung, sudah barang tentu akibatnya akan fatal sekali ..... Di saat yang amat kritis inilah, tiba-tiba dari luar pintu perkampungan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring. Tjhi Eng khi segera berpaling, tampak tiga orang tosu sedang berjalan mendekat dengan langkah lebar, seorang berjalan dimuka sedang dua orang lainnya mengikuti dari belakang. Tosu yang berjalan dipaling muka merupakan tosu berusia tujuh puluh tahunan, rambutnya telah beruban tapi wajahnya ramah dan lembut, dialah yang memperdengarkan gelak tertawa nyaring tadi. Dua orang tosu yang mengikuti dibelakangnya itu telah berusia diatas enam puluh pedang antik tersoren dipunggung dengan gaya yang lembut, cukup memberikan kesan baik bagi siapapun yang melihatnya. Thi Eng khi tidak kenal dengan ketiga orang tosu tapi setelah menjumpai sikap mereka yang anggun tapi ramah itu, serta merta dia membuyarkan tenaga dalamnya dan berdiri termenung disitu. Sangkoan Gi tampak sangat terkejut, dengan wajah merah jengah buru-buru ia maju menyambut, katanya sambil memberi hormat : Boanpwe Sangkoan Gi menyongsong kedatangan dari locianpwe! Tosu tua yang berjalan dimuka itu tertawa ramah, sahutnya : Sau sicu tak perlu banyak sungkan, rupanya kedatangan pinto bukan pada saaatnya sehingga mengganggu kesenangan kalian!

79
Sementara berbicara, dengan sorot matanya yang tajam dia awasi wajah Thi Eng khi. Mula-mula keningnya tampak berkerut, menyusul kemudian terlintas rasa kaget diwajahnya, dengan perasaan tercengang dia menegur : Sauhiap menggembol pedang sakti Thian liong pay kim kiam, tolong tanya apa hubunganmu dengan Thian liong pay? Bolehkah aku mengetahuinya? Sekalipun nada ucapannya lembut dan ramah, akan tetapi dibalik keramahan itu justru terkandung sesuatu kekuatan yang membuat orang tak dapat menampik permintaannya. Dengan serius Thi Eng khi menjawab : Boan .... Sebenarnya dia hendak menbahasai dirinya sebagai boanpwe tapi ketika teringat olehnya bahwa sebagai seorang ciangbunjin dari

partai Thian liong pay, dia seharusnya mempunyai kedudukan pula dalam dunia persilatan maka segera mengurungkan niatnya itu, dia tak ingin akibat dari sebutan itu berakibat tercemarnya nama baik Thian liong pay. Maka dia segera menjawab. Aku Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari Thian liong pay! Entah siapakah nama totiang? Apakah akupun boleh mengetahuinya ...........? Ketika tosu tua itu menyaksikan Thi Eng khi sama sekali tidak mengetahui gelarnya, meski ia merasa pengetahuan yang dimiliki ciangbunjin dari Thian liong pay ini terlalu cetek, namun ia tak sampai merasa gusar, sesudah tertawa hambar sahutnya. Pinto adalah Keng hian berasal dari Bu tong pay.

80
Kemudian sambil menuding kearah dua orang tosu pengiringnya dia melanjutkan. Kedua orang ini adalah sute pinto yang seorang bernama Keng ik sedangkan yang lain bernama Keng leng. Sekalipun Thi Eng khi belum memiliki pengalaman dalam dunia persilatan, bukan berarti Keng hian totiang itu ciangbunjin dari partai Bu tong paypun tidak dikenalinya, mendengar ucapan tersebut, dia menjadi amat terperanjat. Buru-buru dia menjura, kemudian katanya : Aku masih muda dan cetek pengalaman didalam dunia persilatan, bila tidak mengenali akan kehadiran ciangbunjin dari Bu tong pay, harap kau suka memaafkan. Selain daripada itu dalam hati kecilnya juga segera timbul suatu perasaan, bagaimanapun juga dia sendiri adalah seorang ciangbunjin dari suatu perguruan dalam dunia persilatan, bila dibandingkan maka kedudukan mereka adalah berimbang dan tiada yang lebih tinggi dan tiada pula yang lebih rendah. Akan tetapi sesudah menyaksikan sikap hormat pihak Ki hian san ceng terhadap Keng hian totiang kemudian dibandingkan dengan sikap sinis pihak lawan terhadap dirinya, segera timbul perasaan sedih dan malu dihati kecilnya. Pikir punya pikir tanpa terasa ia menjadi melamun sendiri sehingga berdiri termangu. Keng hian totiang sebagai seorang ciangbunjin dari Bu tong pay tentu saja memiliki pengalaman yang cukup luas, sesudah menyaksikan sikap-sikap Thi Eng khi macam orang yang kehilangan sukma itu, dengan cepat dia dapat memahami perasaan orang. Maka sambil tersenyum segera ujarnya menukas lamunan dari sianak muda itu : Bolehkah aku tahu apa hubungan ciangbunjin dengan Keng thian giok cu Thi locianpwe?

81
Dia adalah mendiang kakekku! sahut Thi Eng khi dengan sikap yang hormat kembali. Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng hian totiang, ciangbunjin dari Bu tong pay itu sambil menggenggam tangan sianak muda itu, katanya dengan gembira :

Oooh....! Jadi Thi ciangbunjin adalah keturunannya, tak heran kalau kegagahanmu jauh berbeda daripada manusia-manusia lainnya lagipula berbakat dan memiliki kecerdasan yang luar biasa ...... kemunculan ciangbunjin sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi umata persilatannya pada umumnya! Oleh perkataan dari Bu tong cainagbunjin itu, Thi Eng khi merasakan semangat dalam tubuhnya serasa berkobar kembali, dengan suara lantang dia lantas berseru: Thian liong pay sebagai sesama anggota dunia persilatan sudah merasa berkewajiban untuk bersama-sama dengan anggota dunia persilatan lainnya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kita semua! Ketua dari Bu tong pay itu segera tertawa terbahak-bahak. Haaahh .... haaahhh.... haaahhh.... pinto bisa berkenalan dengan manusia semacam Thi ciangbunjin tidak sia-sia perjalananku kali ini. Kepada kedua orang sutenya yang berada di belakang sambil berpaling dia lantas berkata lagi : Tampaknya kemurungan serta kekuatiran kita di masa lalu cuma suatu kekuatiran yang tanpa dasar. Pendapat ciangbunjin suheng memang tepat sekali, sute berduapun berpendapat demikian, dengan serius Keng ik dan Keng leng totiang menjawab. Dipuji-puji oleh tiga jago dari Bu tong pay, Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi lega dan semangat kembali, tentu saja diapun tidak terlalu teringat dengan peristiwa kecil yang tidak

82
menyenangkan hati tadi, setelah membenahi pakaiannya yang dirobek oleh Sangkoan Gi tadi, dengan kepala terangkat dan dada dibusungkan dia berdiri gagah disitu. Sekali lagi Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay memperhatikan Thi Eng khi sekejab, kemudian sambil menepuk bahu pemuda itu katanya : Ciangbunjin, silahkan! Thi Eng khi segera mundur selangkah seraya berkata : Totiang lebih tua, sudah seharusnya berjalan duluan! Ciangbunjin dari Bu tong pay itu kembali tertawa terbahak-bahak serunya : Ciangbunjin terlampau merendah, mari kita masuk bersamasama ....! Sambil tersenyum, Thi Eng khi manggut-manggut, kemudian dengan mendampingi ketua dari Bu tong pay itu mereka masuk bersama-sama ke dalam perkampungan Ki hian san ceng. Tiba-tiba terdengar Sangkoan Gi berteriak keras : Thi ciangbunjin sebelum mendapat persetujuan dari ayahku harap kau menunggu dulu sebentar! Thi Eng khi segera berkerut kening, dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Sangkoan Gi, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan. Keng hian totiang, ciangbunjin dari Bu tong pay telah berkata lebih dulu :

Apa sebabnya Thian liong pay tidak mendapat undangan? Sangkoan Gi agak tertegun, kemudian sahutnya dengan cepat : Alasan sederhana sekali, apakah locianpwe tidak mengetahuinya? Keng hian totiang berpikir sejenak kemudian menggangguk :

83
Baik, kalau begitu anggap saja Thi ciangbunjin sebagai tamu yang pinto undang, apakah Sangkoan tayhiap bersedia untuk memberi muka kepadaku? Ciangbunjin dari Bu tong pay ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam dunia persilatan, setelah dia menampilkan diri untuk menanggung hal tersebut, sekalipun Sangkoan Gi terhitung Su Cengcu (kepala kampung keempat) dari perkampungan Ki hian san ceng, toh dia tak berani juga untuk mengatakan kata tidak. Maka dengan mulut membungkam dia menyaksikan Thi Eng khi beserta ketua dari Bu tong pay itu berjalan masuk lewat pintu tengah. Menanti bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan mata, dia baru mendesakkan kaikinya dan secepat kilat meluncur ke dalam ruang dan lenyap di pintu samping. Dihantar oleh seseorang, Thi Eng khi serta Keng hian totiang sekalian diantar menerobosi sebuah ruangan tamu yang luas dan bisa menampung tamu sebanyak ratusan orang untuk menelusuri sebuah lorong sempit yang sempit dan memanjang, diujung lorong tersebut terdapat sebuah pintu gerbang yang terbuat dari batu hijau. Sepasang gelang tembaga yang bercahaya tajam masing-masing menempel diatas pintu besar yang terbuat dari batu hijau tersebut ...... Penunjuk jalan itu segera mendekati pintu dan membunyikan gelang tembaga tersebut tiga kali panjang dan sekali pendek, sejenak kemudian pintu itupun dibuka orang. Dalam pintu terdapat sebaris undakundakan batu yang menembus ke ruang bawah tanah, mereka segera menuruni anak tangga tersebut menuju ke bawah. Di ujung tangga batu tadi kembali terdapat sepasang pintu baja yang besar sekali menghadang jalan pergi mereka.

84
Menyaksikan kesemuanya itu, Thi Eng khi lantas berpikir : Tak nyana kalau Sangkoan cengcu adalah seorang yang begini berhati-hati, cukup dilihat dari penjagaan disini pun boleh dibilang cukup ketat. Sementara dia masih berpikir, pintu baja itu sudah dibuka orang. Sesudah melewati pintu baja itu sampailah mereka didalam sebuah ruangan batu yang dua kaki lebarnya. Didalam ruangan itu terdapat sebuah meja bulat yang terbuat dari batu hijau, disekelilingnya terjajar dua puluh empat buah kursi kebesaran, kurang lebih sudah ada lima belas orang jago persilatan yang hadir disana. Ketika semua jago yang hadir di dalam ruangan itu menyaksikan kemunculan Keng hian totiang, ketua dari partai Bu tong berjalan masuk kedalam ruangan, serentak orang-orang itu bangkit berdiri

dan menyambut kedatangannya dengan sikap yang hormat. Pada kursi tuan rumah berdiri seorang kakek berwajah merah ynag memakai jubah lebar berwarna kuning telur, tak usah ditanya lagi orang itu bukan lain adalah lo cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong adanya. Yang lebih mengherankan lagi, ternyata Sangkoan Gi sudah sampai didalam ruangan itu lebih duluan. Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera tertawa nyaring serunya : Kehadiran ciangbunjin ditempat kami ini, sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi kami siaute. Keng hian totiang tertawa, lalu katanya : Sudah lama pinto tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, kebetulan hari ini kutemukan seorang pendatang baru dari dunia persilatan, dia adalah Thian liong ciangbunjin Thi siauhiap adanya, jika kedatangannya agak lancang, harap kau jangan menjadi marah!

85
Dengan sikap yang amat menghormat Thi Eng khi segera memberi hormat, kemudian katanya : Aku Thi Eng khi dari Thian liong pay merasa sangat beruntung sekali bisa berkenalan dengan Sangkoan cengcu. Dibalik senyuman yang menghiasi wajah Cang ciong sin kiam segera terlintas perasaan marah dan tak senang hati, ia mendengus dingin dan menunjukan sikap seperti tak senang atas kehadirannya disitu. Thi Eng khi yang diperlakukan orang secara dingin terpaksa harus menahan diri, sebab dia tahu nama perguruannya selama ini memang tidak menggembirakan. Sementara dia masih murung, tiba-tiba terdengar Keng hian totiang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara : Sebetulnya Sangkoan loji adalah seorang manusia yang berdarah panas, satu-satunya kelemahan yang dimilikinya adalah terlalu angkuh dan tinggi hati, dia suka mencari muka dan nama, kedatangan Thi lote tanpa membawa surat undangn itu sudah pasti telah dilaporkan orang kepadanya, maka dengan dasar pikirinnya yang sempit, ia menjadi tak senang hati. Semoga saja lote mau memikirkan keadaan dunia persilatan dengan tidak mempersoalkan hal itu. Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi masih belum cukup sempurna, ia belum dapat mengemukakan maksud hatinya lewat ilmu menyampailkan suara, maka dia hanya tersenyum saja terhadap Keng hian totiang, sementara wajahnya dengan cepat pulih kembali menjadi tenang. Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mempersilahkan ciangbunjin dari Bu tong pay itu untuk menempati kursi utama sedangkan Keng ik dan Keng leng totiang meski terhitung juga seorang jago kenamanan didalam dunia persilatan, akan tetapi berhubung ketuanya sudah menempati kursi utama, otomatis mereka duduk di kursi berikutnya.

86

Diam-diam Thi Eng khi merasa kagum juga atas kemampuan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong didalam mengatur tamunya. Ia memang tak malu disebut seorang pemimpin dunia persilatan yang berbakat. Ia jadi ingin tahu, bagaimana caranya orang itu akan mengatur temapat duduk baginya. Ternyata Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong menitahkan Sangkoan Gi untuk menyiapkan sebuah kursi lagi jauh diluar meja bundar tersebut, setelah itu sambil tertawa paksa katanya : Maaf! Kedatangan Thi ciangbunjin sungguh jauh diluar dugaanku, kami tak sempat untuk menyiapkan tempat duduk lagi, maka silahkan kau duduk di situ saja. Sekalipun Thi Eng khi merasa gusar setelah mendengar ucapan itu, apalagi ketika dilihatnya disekeliling meja bundar itu masih bayak terdapat kursi kosong tapi sebuah pikiran segera melintas didalam benaknya, pikirnya : Tempat duduk yang disediakan di sekeliling meja bundar itu terbatas sekali, tempat dudukpun diatur menurut tingkatan, mungkin saja kursi-kursi kosong itu telah dipersiapkan untuk para undangan yang belum datang, yaaa.... bagaimanapun juga aku memang seorang tamu yang tak diundang, tidak seharusnya kutunjukkan kesempitan jiwaku hanya ribut lantaran soal tempat duduk saja. Karena berpikir demikian diapun menjadi tenang kembali, malah sambil tersenyum segera menempati tempat duduknya itu. Waktu itu para undangan belum datang secara lengkap, perundingan juga belum dimulai secara resmi kebanyakan tamu sedang bercakap-cakap membicarakan aneka persoalan. Thi Eng khi yang tidak kebagian tempat di kursi utama ia merasa enggan untuk turut menimbrung maka selama ini, dia hanya sebagai seorang pendengar belaka. Keng hian totiang kuatir pemuda itu merasa terlalu diasingkan, maka dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas memperkenalkan semua tamu yang hadir disana.

87
Menurut urutannya maka disamping kiri Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sebagai tuan rumah adalah Keng ik totiang dan Keng leng totiang, kemudian orang yang ketiga adalah seorang kakek ceking berusia lima puluh tahunan yang disebut orang sebagai Tay pek it khi (manusia aneh dari bukit Tay peng san) Ku Kiam ciu. Orang keempat adalah seorang nenek berambut putih yang wajahnya penuh dengan keriput, tapi sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang mengerikan sekali, dia she Li bernama Kek ci dengan julukan Giok koay popo (si nenek bertongkat kemala). Bangku kelima dan keenam masih berada dalam keadaan kososng. Di tempat yang ketujuh adalah seorang sastrawan berusia pertengahan yang disebut Im tiong hok (bangau ditengah awan) Teng Siong adanya. Kursi kedelapan dan kesembilan masih kosong. Tempat yang kesepuluh adalah si kakek bungkuk yang pernah dilihat Thi Eng khi ketika masih berada di luar pintu gerbang perkampungan Ki hian san ceng tadi, dia bernama Sin tua (bungkuk

sakti) Lok It hong. Tempat kesebelas masih kosong. Tempat yang kedua belas, persisi di tengah-tengah meja ditempati oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang. Tempat yang ketiga belas adalah Ci kay taysu dari Siau lim pay. Tempat yang kempat belas masih kosong. Tempat yang kelima belas adalah seoarang nyonya setengah umur, dia adalah Ciang hong wancu yang berjulukan Hui hong li (perempuan sakti pelangi terabang) Lu Ciang lian.

88
Tempat yang keenambelas ditempati seorang kakek ceking dan jangkung dia adalah ketua dari Tiong lam pay Ku tiok siu (kakek bambu kurus) Yap Han san. Tempat ketujuh belas adalah seorang nyonya tua berambut putih yang berwajah cantik, dia adalah Tocu dari pulau Soh sim to yang berjulukan San hoa siancu (Dewi penyebar bunga) Seng Cay soat adanya. Tempat kedelapan belas ditempati olegh seorang kakek yang bertubuh kekar, dialah Hong im siu (kakek angin mega) Seng Thong dari bukit Bong san. Sewaktu Thi Eng khi mendengar Keng hian totiang memperkenalkan diri Hong im siu Sang thong tersebut, dia merasa terperanjat sekali, pikirnya : Heran, padahal Ban li tui hong Cu Ngo tidak sampai mengirimkan undangan itu kepadanya, kenapa dia bisa hadir dalam pertemunan ini tepat pada waktunya? Sudah pasti dibalik kesemuaannya ini masih ada rahasia lain .... Karena berpikir demikian, dia lantas mengambil keputusan untuk menyelidiki persoalan ini sampai jelas. Sementara Thi Eng khi masih melamun, Keng hian totiang dari Bu tong pay telah melanjutkan keterangannya untuk memperkenalkan orang-orang yang lain. Tempat yang kesembilan belas ditempati oleh seorang ahli senjata rahasia dari wilayah Suchwan yang bernama To pit thiang ong (raja langit berlengan banyak) Tong lian hoat. Tempat yang kedua puluh adalah Tiang siau mi lek (Mi lek tertawa panjang) Kongsun Cong. Tempat yang ke dua puluh satu adalah Pu thian toa tiau (rajawali raksasa penubruk langit) Kay Poan thian.

89
Tempat ke dua puluh dua adalah Ku bok long tiong (si penjual obat bermata buta) Nyoo Cun. Tempat kedua puluh tiga adalah Tam ciang kay thian (telapak tangan tunggal pembelah bukit) Coh Eng. Menyusul kemudian pangcu dari Kay pang Hou bok sin kay (pengemis sakti bermata harimau) Cu Goan po masuk kedalam ruangan dan menempati kursi keempat belas, tempat itu hanya selisih satu kursi dengan tempat duduk Keng hian totiang, ini menunjukkan bahwa kedudukannya cukup tinggi. Tak lama kemudian muncul kembali seorang sastrawan yang

lemah lembut menempati bangku kedelapan, dari pembicaraan yang berlangsung kemudian, Thi Eng khi mendapat tahu kalau orang itu adalah Tiang cun siusu Li Goan. Dengan demikian, selain bangku kelima, enam, sembilan dan sepuluh yang masih kosong tanpa penghuninya, disekeliling meja bundar itu sudah hadir dua puluh jago perslatan yang paling tersohor namanya dalam dunia persilatan waktu itu. Tidak! Harus dikatakan ada duapuluh tiga orang, sebab Ciang cong sin kiam Sangkoan Yong, sangkoan Gi dan Thi Eng khi belum masuk hitungan. Pada saat itulah ada orang bertanya. Saudara Sangkoan apakah jumlah undangan sudah hadir semua? Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mengeluarkan selembar daftar dan mencocokkan sebentar dengan mereka yang hadir, kemudian sahutnya : Tampaknya Ting Kong ai ciangbunjin dari Cing sia pay serta Beng seng Sutay dari kuil Ci tiok an belum datang.

90
Karena jumlah yang diundang belum komplit, agaknya mereka harus menunggu lebih lanjut. Tapi pada saat itulah tiba-tiba Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong bangkit berdiri, kemudian katanya : Siaute mempunyai suatu masalah yang amat mencurigakan hatiku ingin sekali kuajukan secara terbuka di depan sidang ini. Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan : Sebelum permasalahannya diajukan, terpaksa aku ingin mohon pengertian lebih dahulu dari Bu tong ciangbunjin Keng hian totiang .... Mendengar perkatan itu, Keng hian totiang segera berkerut kening, dia sudah bisa menebak kalau Sangkoan Yong kembali akan menyusahkan Thi Eng khi. Maka sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak. Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh....... Sangkoan tayhiap terlalu sungkan! Setelah memberi hormat kepada ketua dari Bu tong pay, Sangkoan Yong lantas berpaling ke arah Thi Eng khi seraya berkata : Lohu ingin sekali memohon keterangan dari Thi ciangbunjin, lohu harap kau sudi memberi petunjuk kepada kami semua. Sesungguhnya semenjak tadi Thi Eng khi sudah ingin sekali menerangkan soal dirampasnya surat undangan yang dibawa oleh Ban li tui hong Cu Ngo, maka ketika dilihatnya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mencarinya untuk berbicara, ia merasa hal ini malah kebetulan sekali baginya. Sambil tersenyum dia lantas memberi hormat kemudian sahutnya lembut : Lo cengcu ada persoalan apa yang hendak ditanyakan? Silahkan saja diajukan! Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mendehem pelan kemudian ujarnya:

91

Berhubung pertemuan yang kami selenggarakan kali ini menyangkut soal keselamatan seluruh dunia persilatan maka pertemuan yang diselenggarakan hari ini sengaja kami atur secara rahasia sekali, tolong tanya darimana Thi ciangbunjin bisa mengetahui akan hal ini? Aku mengetahui akan pertemuan ini dari mulut Ban li tui hong Cu Ngo, sebagai salah satu anggota dunia persilataan, partai kami merasa berkewajiban untuk turut serta menanggulangi mara bahaya yang sedang mengancam umat persilatan, karena itu aku datang tanpa diundang, untuk itu harap Sangkoan tayhiap tidak menjadi marah atau tak senang hati! Mendengar perkataan itu, Cang ciong sin kiama Sangkoan Yong segra mengernyitkan sepasang alis matanya yang tebal, katanya: Ban li tui hong Cu Ngo adalah seorang jago kawakan yang cukup tahu akan pentingnya pertemuan ini, tak nanti dia akan sembarangan buka mulut membicarakan masalah ini, hingga sekarang orangnya belum kembali ke sini, sehingga urusan ini susah diselidiki, apakah Thi ciangbunjin bersedia untuk menerangkan dengan lebih seksama lagi? Secara ringkas Thi Eng khi lantas mengisahkan pengalamannya ketika menyelamatkan jiwa Ban li tui hong Cu Ngo yang terluka, kemudian menambahkan : Menurut pendapatku, ada baiknya Sang tayhiap yang seharusnya tak sampai menerima surat undangan tersebut memberi keterangan tambahan, asal ia bersedia menerangkan rasanya tidak sulit buat kita untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san segera tertawa licik dan aneh, serunya cepat : Lohu datang kemari lantaran mendapat kartu undangan, aku sama sekali tidak tahu kalau Cu tayhiap telah mengalami musibah di tengah jalan, jadi akupun tak bisa berkata apa-apa! Dengan ucapannya itu, maka sama halnya dengan menuduh ucapan Thiu Eng khi bohong.

92
Thi Eng khi menjadi amat gelisah sekali, maka teriaknya keraskeras : Sudah jelas kalau kartu undangan yang dibawa Cu tayhiap telah dibegal orang dekat markas partai kami, mana mungkin undangan itu bisa dihantar sampai ke bukit Bong san? Sang tayhiap, kau jangan bergurau! Hong im siu Sang thong menarik muka dan menatapnya dengan bersunguh-sungguh katanya : Lohu tidak pernah kenal dengan Thi Ciangbunjin, mengapa aku mesti mengarang cerita bohong untuk menfitnah dirimu? Pembicaraan yang ramai segera berkumandang di dalam ruang itu, bahkan beberapa pasang sinar mata yang tajam dan penuh kecurigaan telah dialihkan ke tubuh Thi Eng khi. Menyaksikan susana tersebut, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera mendehem pelan kemudian katanya : Empat puluh tahun berselang, kakekmu Keng thian giok cu Thi cianpwe pernah memimpin umat persilatan menanggulangi ancaman berdarah yang melanda dunia persilatan waktu itu, kegagahan serta

kejantanannya sudah dipuji semua orang , aku minta Thi ciangbunjin suka menjaga nama baik kakekmu dan jangan memasuki jalan yang sesat! Dengan gelisah bercampur cemas, Thi Eng khi segera berseru : Dengan semangat yang tinggi dan keinginan yang tulus aku khusus datang kemari untuk bersama-sama kalian menanggulangi ancaman maut yang sedang melanda dunia persilatan, kenapa aku mesti membohongi kalian? Keng hian totiang Bu tong pay segera menimbrung dari samping : Menurut pendapat pinto Thi ciangbunjin bukanlah seorang manusia jahat! Di balik kesemuanya ini adalah pasti ada rahasia lain, pinto harap kalian jangan emosi dan harus menghadapi persoalan ini dengan seksama!

93
Cepat-cepat Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong menyambung dari samping : Lohu pun sudah merasa kalau didalam menyebar surat undangan kali ini telah melupakan Thi ciangbunjin, itulah sebabnya aku minta maaf kepada Thi ciangbunjin atas kelalaian ini. Untung saja Bu tong ciangbunjin telah mengajak Thi ciangbunjin untuk menghadiri pertemuan ini, semoga saja jangan disebabkan keteledoran lohu sehingga mengakibatkan masalah keselamatan dunia persilatan menjadi terlupakan. Pu thian toa beng Kay Poan thian segera menyambung pula : Menurut pendapatku, tindakan Sangkoan tayhiap yang tidak mengundang kehadiran Thoi ciangbunjin di dalam pertemuan ini adalah suatu tindakan yang benar, jadi aku pikir tak perlu masalah ini dirisaukan. Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap segera tersenyum. Mendapat dukungan dari Kay loko, lohu benar-benar merasa tak tentram. Pu thian toa beng Kay Poan thian segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhh .... haaahhh..... haaahhh..... Sangkoan tayhiap adalah seorang manusia yang berbudi luhur karena itu dihati kecilmu baru muncul perasaan demikian, padahal kedudukan yang dimiliki setiap umat manusia dalam dunia persilatan dinilai dari jaya atau tidaknya orang itu didunia ini, tiga puluh tahun yang lalu tentu saja berbeda sekali dengan tiga puluh tahun kemudian, entah siapapun orangnya dan entah partai dari manapun jika ingin menjagoi dunia persilatan dia harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, mereka yang mempunyai kemampuan yang lebih baru akan mendapat penghormatan orang. Sesudah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan : Lima belas tahun belakangan ini, boleh dibilang perguruan Thian liong pay sudah kehilangan pamornya dan lenyap dari dunia persilatan, perguruan tidak mirip perguruan, partai tidak mirip partai, keadaan yang terbengkalai semacam ini apa gunanya musti

94
diundang datang? Toh kedatangan mereka bukan saja tak bermanfaat apa-apa, malahan sebaliknya bisa jadi akan

menyusahkan saja. Mendengar orang itu mencemooh partai Thian liong pay, Thi Eng khi segera mengerut dahinya, lalu serunya dengan gusar : Kurang ajar, kau berani memandang rendah partai Thia liong pay kami? Pu thian toa beng Kay Poan thian mendesis sinis, katanya sambil berkerut kening. Aku hanya berbicara menurut kenyataan, apakah Thi ciangbunjin beranggapan bahwa ilmu silat yang dimiliki partai kalian luar biasa sekali? Saking khekinya paras muka Thi Eng khi bahkan menjadi hijau membesi katanya : Ilmu silat dari perguruan kami luas bagaikan samudra, mana bisa diperbincangkan dengan pengetahuan Kay tayhiap yang cupat seperti katak dalam sumur itu? Betul, kepandaian yang kumiliki sekarang belum sempurna, tapi suatu ketika pasti akan kubuat kau merasa takluk! Pu thian toa beng Kay Poan thian segera tertawa terpingkalpingkal sahutnya : Setiap saat lohu akan menantikan petunjuk darimu itu, semoga saja Thi ciangbunjin bisa jaga diri baik-baik! Nada itu sinis dan menghina, jelas dia tak pandang sebelah matapun terhadap lawannya. Thi Eng khi meraung gusar, tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu, mendadak terasa bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Keng hian totiang dari Bu tong pay sudah berdiri di hadapannya, dengan suara lirih dia berbisik : Sebagai lelaki sejati harus pandai melihat gelegat, harap Thi ciangbunjin suka menahan diri.

95
Kemudian dengan ilmu menyampaikan suara terusnya : Semenjak mendiang kakekmu tiada, dunia persilatan sudah mengalami perubahan besar, tanpa seorang pemimpin yang cakap, masing-masing orang berusaha untuk menonjolkan dirinya sendiri, ini membuat rasa iri hati mereka kian hari kian bertambah besar. Di masa lampau nama besar partai anda terlalu besar dan tersohor, padahal orang itu berambisi besar untuk merebut kedudukan pemimpin dunia persilatan, tenu saja dia enggan membiarkan Thi ciangbunjin menampilkan diri dalam dunia persilatan, bila Thi ciangbunjin bisa menitik beratkan pada masalah besar, harap kau jangan bertikai hanya disebabkan urusan sekecil ini! Thi Eng khi memang seorang yang cerdas, begitu pikirannya terbuka, hawa amarahnya segera ditekan di dalam hati. Sementara itu, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong telah berkata pula : Harap Kay tayhiap jangan gusar dulu, lebih baik kita kembali ke pokok pembicaraan sebenarnya, harap Thi ciangbunjin suka menerangkan kepada kami sehingga kesalah pahaman semua orang bisa diatasi! Sekarang Thi Eng khi baru mengerti, walaupun dimulut Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mengakui atas kehilafannya karena tidak mengundang partai Thian liong pay, sesungguhnya dia

bersikap sebaliknya dari pada apa yang dikatakan, tujuan yang sesungguhnya dari orang itu adalah tetap inigin menyingkirkan Thian liong pay dari ruang pertemuan sehingga ingin membuktikan kepada semua orang bahwa tindakannya tidak mengundang pihak Thian liong pay adalah suatu tindakan yang benar. Betul ilmu silat yang dimiliki Thi Eng khi waktu itu masih cetek, pengalaman soal dunia persilatan juga sangat minim, tapi bukan berarti dia itu tolol, sudah barang tentu diapun bisa memahami maksud yang sesungguhnya dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dengan kata-katanya itu. Mencorong sinar tajam dari balik mata anak muda itu segera serunya :

96
Sangkoan tayhiap, suruh aku berbuat bagaimana untuk menjelaskan masalah ini? Sesungguhnya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong bukan termasuk seorang manusia berhati busuk, dia hanya merasa tidak puas karena kehadiran Thi Eng khi tanpa diundang itu sudah menodai nama baiknya, selain itu, setelah masalahnya diungkap diapun banyak menemukan hal-hal yang mencurigakan ditubuh Thi Eng khi, maka baik demi kepentingan umum maupun demi kepentingan pribadi ia bertekad untuk mneyelidiki persoalan ini sampai tuntas. Maka ketika ia mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Thi Eng khi serta menyaksikan sorot mata orang yang lebih tajam daripada sembilu itu, hatinya kontan saja bergetar keras, pikirnya : Mungkinkah perbuatanku ini sedikit kelewatan? Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan yang kenamaan didalam dunia persilatan, ia malu untuk menarik masalahnya ditengah jalan, maka sembari keraskan hatinya dia berkata lagi dengan suara dalam : Ini mah harus dilihat dari ketulusan hati Thi ciangbunjin sendiri! Dengan marah, Thi Eng khi segera berseru : Jika kalian sudah mempunyai pandangan tertentu kepadaku, meski aku benar-benar bertulus hati juga percuma! Thi ciangbunjin apakah kau tidak merasa ucapanmu itu sedikit kelewat kasar? Bayangkan saja, setiap orang yang hadir dalam ruangan ini rata-rata adalah jago nomor wahid didalam dunia persilatan, asal kau berbicara jujur, keadilan sudah pasti akan kau dapatkan. Tadi kalian semua tak ada yang percaya dengan perkataanku sebaliknya sama sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa terhadap ucapan Sang tayhiap, hal ini merupakan suatu bukti dari ucapanku barusan.

97
Baru selesai dia berkata, sambil menggebrak meja Hong im siu Sang thong berteriak: Thi ciangbunjin menurut pendapatmu apa yang mencurigakan dengan lohu? Aku merasa curiga sekali akan kebenaran dari identiatasmu! Mengapa kau tidak mengaku terus terang saja dihadapan orang

banyak ....? seru Thi Eng khi sambil menatapnya lekat-lekat. Hong im siu Sang thong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh..... memangnya lohu bisa gadungan? Tahun ini lohu sudah berusia enam puluh tiga tahun dari sekian banyak orang yang hadir sekarang, separuh diantaranya adalah sobat lamaku, mengapa tidak kau tanyakan kepada mereka, apakah aku adalah Hong im siu Sang thong atau bukan? Tentu saja dia adalah Sang tayhiap, siapapun tak akan menaruh curiga lagi kepadanya! seru semua orang hampir berbareng. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thi Eng khi, pikirnya : Sesungguhnya Hong im siu Sang Thong masih mempunyai cara lain untuk menjawab perkataanku itu, mengapa ia membawa masalahnya ke soal asli dan gadungan? Jangan-jangan ia memang benar-benar Hong im siu Sang Thong gadungan? Siapa yang telah melakukan kesalahan biasanya akan timbul kecurigaan didalam hatinya terhadap setiap orang karena kuatir rahasianya ketahuan, teori kejiwaan semacam ini sudah merupakan suatu teori yang umum , yaa.... siapa tahu kalau dia memang gadungan? Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata dengan suara yang dingin : Aku dengar didalam dunia persilatan terdapat sejenis kepandaian ilmu menyaru muka yang sangat hebat, Sang tayhiap, kau tak boleh membuat orang merasa curiga.

98
Kurang ajar! teriak Hong im siu dengan teramat gusarnya, Thi ciangbunjin, kau harus memberi suatu pertanggungan jawab kepada lohu! Waktu itu Keng hian totiang, ketua dari partai Bu tong sendiripun merasa tuduhan Thi Eng khi itu kekurangan bukti, bahkan mendekati suatu fitnahan, baru saja dia akan mengemukakan pendapatnya, tiba-tiba terdengar olehnya Tam ciang kay san Coh Eng telah membentak keras : Darimana datangnya bocah keparat yang tak tahu diri, ngaco belo berbicara tak karuan, aku lihat kedudukannya sebagai ciangbunjin dari Thian liong pay juga amat mencurigakan. Apa susahnya untuk membuktikan hal ini? seru Giok koay popo Li Kek ci dengan cepat, asalkan dia bisa memperlihatkan ilmu sakti Thian liong pay, bukankah hal ini segera membuktikan identitasnya? Soh sim tocu, San hoa siancu Leng Cay soat yang selama ini berada dalam keadaan membungkam tanpa emosi, tiba-tiba memandang kearah Thi Eng khi , kemudian ujarnya : Empat puluh tahun berselang, ketika aku mengikuti kakekmu Keng thian giok cu Thi tayhiap membasmi kaum iblis dari muka bumi dulu, aku paling mengagumi dengan kelihayan ilmu pedang Thian liong kiam hoatnya, terutama sekali jurus Jit teng tiong thian (matahari tepat diatas angkasa) itu, jurus tesebut benar-benar mengandung kelihayan dan perubahan yang luar biasa sekali, malah orang menyebutnya sebagai ilmu yang paling lihay dalam dunia persilatan dewasa ini. Thi ciangbunjin, kau sebagai ahli waris dari

kakekmu itu, sudah pasti menguasai jurus Jit teng tiong thian itu bukan? Bagaimana kalau kau mendemonstrasikannya sehingga kami semua bisa turut menikmatinya? Bagus, bagus sekali. Sambung Tiang siau li lek Kongsun Cong sambil tertawa tergelak, silahkan Thi ciangbunjin mendemostrasikan kelihayannya, agar kami semua bisa menambah pengetahuan dan pengalaman!

99
Sampai detik itu Thi Eng khi hanya menguasai tiga jurus pedang Thian liong kiam hoat, jurus Jit teng tiong thian tersebut justru merupakan jurus yang paling tangguh dan dalam bahkan San tian jiu Oh Tin lam yang mengajarkan ilmu pedang kepadanya pun tak mampu mempergunakannya, mana mungkin ia bisa mengajarkan jurus itu kepada sang pemuda? Kontan saja paras muka si anak muda itu berubah murung bercampur kesal, untuk sesaat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Kay pang pangcu Hou bok sin kay Cu Goan menyeka ingusnya lebih dulu dengan ujung bajunya kemudian berkata pula : Jit teng tiong thian merupakan inti sari dari ilmu pedang Thian liong kiam hoat, dengan usia Thi ciangbunjin yang masih demikian muda mana mungkin bisa meleakukannya? Buat apa sih kalian musti menyusahkan orang? Aku lihat lebih baik kita suruh dia mainkan satu jurus ilmu pedang Thian liong kiam hoat yang lain saja, toh hal itu sudah lebih dari cukup. Agaknya Pu thian toa beng Kay Poan thian sengaja hendak menyusahkan Thi Eng khi segera teriaknya keras-keras : Siaute rasa bila ingin menyaksikan ilmu sakti dari Thian liong pay maka kita harus menyaksikan jurus Jit teng tiong thian tersebut, kalau tidak maka kita tak usah terlalu merepotkan Thi ciangbunjin lagi! Thi Eng khi tak tahan untuk bersabar lagi, segera teriaknya keras-keras ; Jurus Jit teng tiong thian dari Thian liong kiam hoat memang belum sempat kupelajari akan tetapi aku mempunyai suatu benda yang dapat membuktikan akan kebenaran dari identitasku ini. Berbicara sampai disitu, dia lantas merogoh ke sakunya dan mengeluarkan sebuah lukisan sambil dibentangkan lebar-lebar katanya : Tentunya kalian semua juga tahu bahwa lukisan semacam ini hanya dimiliki oleh partai Thian liong pay saja bukan!

100
Ketika semua orangorang mengalihkan perhatiannya ke tengah arena maka perasaan mereka segera bergetar keras. Ternyata diatas lukisan itu tertera sembilan buah lukisan wajah orang, kesembilan wajah manusia itu semuanya merupakan wajah dari kawanan jago lihay yang paling termashur namanya pada emapt puluh tahun berselang. Diantara sekian banyak orang, Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat paling emosi, bagaikan sedang mengigau dia berseru dengan suara gemetar :

Coba kalian lihat! Coba kalian lihat! Siapakah gadis termuda yang berada disebelah kiri itu? Tidak menunggu orang lain menjawab, ia telah berkata lebih jauh : Dia .... dia adalah diriku pada empat puluh tahun berselang .... Sangkoan Yong segera menunjuk kearah seorang kakek kurus diantara lukisan itu seraya berseru : Yang itu adalah mendiang ayahku! Ci kay taysu dari Siau lim pay yang selama ini tak pernah bersuara segera merangkap tangannya kedepan dada sambil memuji keagungan Buddha : Omitohud! Mendiang guruku Tong sian sangjin juga berada satu diantaranya! Tiong lam ciangbunjin Ku tiok siu Yap Han san segera berkata pula dengan serius : Kakek yang berwajah bersih itu adalah mendiang guruku It sim Kisu. Menyusul kemudian, Keng hian totiang dari Bu tong pay juga menunjukkan ciangbunjin generasi yang lalu Jut tim totiang, lalu Ciang hong wancu hui hong li Lu Cing lian menunjukkan gurunya Sam biau hujin Song Ting ting, sedang Kay pang pangcu Hou bok sin kay Cu Goan menunjukkan lo pangcu Jin Hua.

101
Dua orang yang lain seperti tak ada yang menerangkan, tapi Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat segera menerangkannya untuk semua orang : Sastrawan muda yang berada di samping ini adalah ketua Hoa san pay saat ini Pek ih siusi Cu Wan mo, sedangkan nikou tua itu adalah Ci tiok ancu generasi yang lalu Bu wo sutay .... Sementara itu puluhan pasang mata yang penuh dengan pandangan kagum telah tertuju semua diatas lukisan tersebut. Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera memberi hormat kepada lukisan yang berada ditangan Thi Eng khi itu, lalu katanya : Silahkan Thi ciangbunjin pindah kebangku utama! Keng hian totiang dari Bu tong pay segera menyingkir dari tempat utama sambil tersenyum. Thi Eng khi yang dihadapkan dengan tindakan semacam ini malah dibikin tertegun ia tidak menyangka kalau sebuah lukisan saja bisa membawa pengaruh yang begitu besar. Tentu saja perubahan sikap yang diperlihatkan orangorang itu bukan karena mereka sudah dapat membuktikan kebenaran dari asal usul Thi Eng khi , sebaliknya karena lukisan yang dibawa oleh anak muda itulah yang membuat mereka mau tak mau harus mempersilahkan Thi Eng khi untuk pindah ke kursi utama. Bagaimanapun juga, siapa pun tak ingin menyaksikan lukisan dari leluhurnya berada di bawah orang lain, sebab tindakan itu sama halnya dengan merendahkan leluhur sendiri. Bagi orang lain, bisa saja mereka menghina atau mencemooh orang lain, tapi tak bisa tidak mereka pasti akan menghormati leluhur sendiri. Begitulah, disebabkan Thi Eng khi membawa lukisan tersebut, maka nilai kedudukan nya berapa ratus lipat lebih berharga, diapun

dipersilahkan untuk menempati kursi utama.

102
Setelah berada di kursi utama, pemuda itu merasa kurang leluasa untuk membentang terus lukisan itu, dia bersiap-siap akan meyimpannya ke dalam saku. Tiba-tiba Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berjalan mendekat, sesudah memberi hormat katanya : Thi ciangbunjin, silahkan kau pentangkan lukisan Enghiong tu tersebut diatas ruangan, agar dihadapan pada leluhurnya setiap orang bisa merasakan semangatnya semakin berkobar serta bersama-sama menanggulangi mara bahaya yang mengancam dunia persilatan dewasa ini! Ucapan Sangkoan cengcu memang tepat sekali, kata Thi Eng khi dengan terharu, sudah sepantasnya kalau kita semua menirukan cara kerja leluhur kita untuk bekerja sama serta bersama-sama menanggulangi mara bahaya. Sambil mengucapkan perkataan tersebut, dia lantas mengangkat lukisan itu tinggi-tinggi ke udara lalu tambahnya : Merepotkan Sangkoan cnegcu untuk memancangnya sendiri diatas dinding. Dengan kepala tertunduk dan sikap yang munduk-munduk, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong memberi hormat lebih dahulu kepada lukisan tersebut, kemudian dia baru menyambut lukisan tadi membalikkan badan serta memancangkan lukisan tadi di atas dinding dalam ruangan tersebut. Menyusul kemudian semua orang lantas bangkit berdiri dan bersama-sama memberi hormat lagi kepada lukisan itu sebelum kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sementara itu, suasana didalam ruang pertemuan berubah sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, agaknya setiap orang sedang terbuai didalam jalan pemikirannya masing-masing. Ketika Thi Eng khi menyaksikan ada beberapa orang diantara mereka yang sudah menunjukkan rasa menyesal terhadap dirinya sambil membungkukkan badan dan tersenyum diapun berkata :

103
Sekalipun kedatanganku yang tanpa diundang ini merupakan suatu keteledoran, namun aku harap kalian mau percaya dengan kesungguhan hatiku ini, aku benar-benar bersedia untuk menyumbangkan pikiran maupun tenaga demi keadilan dan kebenaran didalam dunia persilatan. Keng hian totiang dari Bu tong pay segera tertawa, ucapnya kemudian : Thi Ciangbunjin merupakan generasi muda yang menonjol dalam dunia persilatan, pinto sekalian dengan senang hati akan menyambut kedatanganmu! Selesai berkata, ia lantas bertepuk tangan lebih dulu. Menyusul kemudian Cikay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po serta Keng ik totiang dan Keng Leng totiang juga turut bertepuk tangan memberikan dukungannya. Sisanya hanya saling berpandang-pandangan muka tanpa memberikan reaksi apapun juga.

Paling akhir Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong juga terpaksa ikut bertepuk tangan, tapi tepukan tanganya tidak begitu meriah, agaknya dia hanya melakukannya demi sopan santun seorang tuan rumah terhadap tamunya belaka. Sabaliknya Pu thian toa beng Kay Poan thian dengan membawa nada yang sinis segera berteriak keras : Temen-temen semua, hayo tepuk tangan yang keras! Seraya berkata, dia lantas bertepuk tangan lebih dulu sekeraskerasnya. Betul juga dengan cepat suara tepukan tangan yang gegap gempita berkumandang didalam ruangan tersebut. Selesai bertepuk tangan, Hong im siu Sang thong dari bukit Bong san segera berkata:

104
Sekarang Thi ciangbunjin sudah menjadi rekan kita semua didalam menanggulangi kesulitan dunia persilatan yang sedang dialami kita semua, silahkan Thi ciangbunjin secara terbuka memberi keterangan kepada semua orang atas terjadinya kesalah paham kecil yang sudah terjadi tadi! Thi Eng khi benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya orangorang itu seperti mempunyai watak yang keras sekali, dengan wajah agak marah serunya kemudian : Apa yang harus kukatakan telah kukatakan semua, jika kalian tidak bisa menerimanya akupun tak akan terlalu memaksa, tapi aku berani bersumpah kepada langit dan bumi bahwa aku sama sekali tidak bermaksud bohong atau menfitnah! Dari mana dia bisa tahu kalau kawanan jago yang berada dalam ruangan sekarang, sebagian besar adalah manusia-manusia berambisi yang enggan tunduk kepada siapapun, siapa saja diantara mereka tak ada yang berharap orang lain lebih menonjol atau lebih hebat daripada dirinya, kalau bisa, seluruh dunia persilatan terjatuh ditangannya. Oleh sebab itu, perasaan mereka pada waktu itu sangat kalut sekali. Seperti misalnya saja dengan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, pertama dia merasa gusar karena kehadiran Thi Eng khi yang tanpa diundang sehingga menodai nama baiknya, kedua diapun merasa merasa marah kepada Keng hian totiang dari Bu tong pay karena tanpa persetujuannya telah membawa masuk Thi Eng khi ke dalam pertemuan tersebut. Akan tetapi karena dia kuatir atau lebih tepatnya takut untuk mengusir ketua dari partai Bu tong tersebut, otomatis semua kemasgulan serta kekesalannya dilampiaskan diatas tubuh Thi Eng khi seorang. Jilid 4

105
Sedangkan Pu thian toa beng Kay Poan thian adalah seorang manusia yang berambisi bsear sekali, dia tidak termasuk salah seorang dari kawanan jago yang turut serta didalam pertemuan besar empat puluh tahun berselang, diapun tidak terhitung seorang jagoan lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, apa mau dikata ia justru merupakan seorang manusia yang tak tahu diri, tak senang

berdiam diri dan suka menonjolkan diri, dimanapun dan dalam persolan apapun, dia selalu menampilkan dirinya agar diperhatikan orang. Disamping itu masih ada pula mereka yang leluhurnya tidak turut serta dalam deretan lukisan itu, munculnya lukisan tadi tanpa terasa segera menimbulkan kesan jelek dihati mereka terhadap pemuda itu, apalagi setelah menyaksikan Thi Eng khi dipersilahkan menempati kursi utama lantaran mengandalkan lukisan leluhur tersebut, mereka merasa semakin tidak puas lagi. Diantara sekian banyak orang, Hong im siu Sang Thong dari Bukit Bong san tak usah dikatakan lagi, setiap patah kata maupun setiap tindakan orang ini selalu merupakan bagian-bagian yang penting didalam rencana busuknya, atau dengan perkataan lain ia memang berniat menimbulkan kesan jelek Thi Eng khi terhadap umat persilatan agar niat pribadinya bisa terwujudkan. Itulah sebabnya dalam keadaan seperti ini, tak mungkin buat Thi Eng khi untuk merebut simpatik hanya mengandalkan beberapa patah kata saja. Baru selesai dia berkata, Pu thian toa beng Kay Poan thian sudah tertawa terbahak-bahak. Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... Thi ciangbunjin seandainya kau tak sanggup menghilangkan rasa curiga kami terhadap dirimu maka sekalipun kami semua menaruh perasaan kagum terhadap kegagahan dan kehebatan partai Thian liong pay dimasa lalu, bagi kepentingan umat persilatan mau tak mau terpaksa kita musti mempersilahkan ciangbunjin untuk menyingkir lebih dulu dari ruangan ini.

106
Pendapat saudara Kay memang tepat sekali, seru Hong im siu Sang Thong dengan cepat siaute nomor satu yang merasa setuju lebih dulu. Lainnya pasti tidak buka suara namun kalau dilihat dari mimik wajahnya itu dapat diketahui bhawa mereka semua merasa amat setuju dengan pendapat dari Kay Poan thian tersebut. Betapa kecewanya Thi Eng khi ketika menyaksikan maksud baiknya malah disambut dengan cemoohan serta penghinaan dari orang lain, dia memandang sekejap kearah Bu tong pay, tapi ketika dilihatnya Keng hian totiang pun menunjukkan sikap apa boleh buat, dia menjadi sedih sekali. Setelah menghela napas panjang, katanya dengan suara gemetar : Kalau toh kalian semua berpendapat demikian, terpaksa aku harus mohon diri lebih dulu, tapi akupun berharap kalian jangan melupakan kejadian hari ini. Berbicara sampai disitu, dia lantas beranjak dan mendekati dinding ruangan siap menurunkan lukisan tadi dan dibawa pergi meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, San hoa siancu Leng Cay soat tahu-tahu sudah melayang turun dihadapannya. Thi ciangbunjin, harap tunggu sebentar! cegahnya, aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan!

Apa lagi yang tdiak benar dengan diriku! tegur Thi Eng khi dengan kening berkerut. Aku mempunyai suatu perintah yang tak pantas, harap Thi ciangbunjin bersedia untuk mengabulkannya!

107
Thi Eng khi tidak bisa menduga persoalan apakah yang dinggap begitu penting oleh San hoa siancu Leng Cay soat, terpaksa sambil mengendalikan hawa amarahnya dia berkata : Leng siancu ada urusan apa? Aku bersedia untuk mendengarkannya! Sauhiap, tolong serahkan lukisan Enghiong to ini kepadaku, agar akulah yang menyimpankan untukmu. Semakin membara sepasang mata Thi Eng khi setelah mendengar ucapan tersebut, teriaknya : Dengan dasar apa kau berkata begitu? Dulu kakekmu Thi tayhiap pernah memimpin segenap jago lihay yang ada didalam dunia persilatan untuk melenyapkan suatu bencana dari dunia persilatan, setelah kejadian itu, untuk memperingatkan kejadian tersebut maka dipilihlah sembilan orang pentolan dunia persilatan waktu itu, masing-masing telah melukis wajahnya sendiri sebagai kenangan. Aaah....! tiba-tiba seorang berseru, kalau begitu para locianpwe yang gambarnya terpampang diatas lukisan itu merupakan hasil karya mereka sendiri? Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat mengenang kembali kejadiannya dimasa lampau, kemudian dengan bangga dia menyahut : Betul, padahal dari sekian banyak jago yang mengikuti berlangsungnya peristiwa waktu itu, yang bisa dianggap sebagai seorang enghiong yang memimpin dunia cuma tiga puluhan orang, tapi yang betul-betul berhak untuk mencantumkan lukisannya diatas lukisan tersebut cuma delapan sembilan orang saja, orang-orang itu bisa kalian lihat yang lukisannya terpampang disitu. Sekali lagi semua orang menikmati lukisan tersebut beberapa saat lamanya, akhirnya mereka baru melihat bahwa lukisan tersebut bukan berasal dari lukisan satu orang.

108
Suara pembicaraan Soh sim tocu San hoa siancu Leng Cay soat makin lama semakin keras, kembali serunya : Waktu itu, Thi locianpwe adalah pemimpin dari seluruh umat persilatan maka semua orang menyerahkan lukisan itu untuk disimpan oleh dia orang tua. Sudah sepantasnya kalau kakek kami yang menyimpan lukisan itu, timbrung Thi Eng khi tiba-tiba. Pelan-pelan San hoa sinacu Leng Cay soat dari pulau Soh sim to itu manggut-manggut. Yaa, kalau berbicara dari kejadian waktu itu, tindakan tersebut memang paling tepat, tapi keadaan pada hari ini jauh berbeda. Berbicara sampai disitu, Thi Eng khi segera memahami kearah manakah tujuan pembicaraan tersebut, kontan saja matanya melotot besar.

Oooh ..... mengerti aku sekarang, serunya, jadi berbicara sekian lama dan berputar ayun kian kemari, tujuannya tak lain ingin mengangkangi lukisan tersebut. San hoa siancu tertawa dingin. Aku adalah salah seorang peserta dari peristiwa dimasa lalu lukisanku juga tertera dalam lukisan itu, tidak berhak kah bagiku untuk menyimpan lukisan itu? Ucapan dari siancu itu tepat sekali, Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san segera menyela, oleh karena Pek ih siusu Cu ciangbunjin dari partai Hoa san tidak datang, maka dewasa ini memang cuma Leng siancu seorang yang berhak menyimpan lukisan tersebut. Aku juga berpendapat demikian, sambung Pu thian toa beng Kay Poan thian pula, lukisan tersebut memang sepantasnya kalau disimpan oleh Leng siancu.

109
Menyusul kemudian, kembali ada beberapa orang yang menyatakan dukungannya atas keputusan dari Leng siancu tersebut. Hanya ketua dari partai Bu tong, Keng hian totiang yang tidak berpendapat demikian, segera serunya : Menurut pendapat pinto .... Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, mendadak terdengar ada seseorang yang mencegahnya dengan ilmu menyampaikan suara. Ciangbunjin ingin turut berbicara demi keadilan, lolap merasa kagum sekali, tapi menurut pendapat lolap biarkan saja kejadian itu berlangsung agar menambah pengetahuan dan pengalaman Thi ciangbunjin terhadap kebusukan hati manusia. Sekarang Thi ciangbunjin masih muda, bakatnya sangat bagus, masa depannya cemerlang, bila kita terlalu melindunginya maka hal ini malah akan mencelakai dirinya, lebih baik biar hatinya mendapat sedikit pukulan agar merangsang kecerdasannya makin bekerja ..... Mendengar bisikan tersebut, Keng hian totiang lantas berpaling kearah Ci kay taysu dan tersenyum kemudian : Pinto pikir Thi ciangbunjin memang harus mempertimbangkan kembali persoalan ini. Tapi lukisan tersebut merupakan warisan dari leluhur kami, aku bersumpah akan mempertahankannya dengan jiwa dan raga, aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhnya sekehendak hatinya sendiri. Dengan ilmu menyampaikan suara, Keng hian totiang segera berbisik. Jika manusia sudah dipengaruhi oleh sifat kemaruk, maka memperebutkan bukan suatu tindakan yang menguntungkan, Thi ciangbunjin kau bersemangat tinggi dan masih muda memangnya kau kuatir tiada kesempatan lagi dikemudian hari untuk mendapatkan kembali benda tersebut? Harap kau suka berpikir tiga kali sebelum bertindak.

110
Thi Eng khi segera menjadi paham sekali, segera berpikir : Buat seorang toa enghiong, seorang toa hau kiat, yang

dipikirkan adalah keberhasilan dimasa mendatang, bukan keuntungan di depan mata, suatu ketika jika ilmu silatku telah berhasil, memangnya tak bisa kucuci semua penghinaan ini? Berpikir sampai disitu, kemarahannya segera mereda, dengan nada pedih dia berkata : Baik, untuk kali ini aku akan menuruti kehendak kalian! Cuma akupun hendak berkata dulu, suatu ketika lukisan tersebut pasti akan kuminta kembali! Siapa yang tahu keadaan, dia adalah orang yang bijaksana, aku akan selalu menantikan kunjungan dari Thi ciangbunjin! sahut San hoa siancu Leng Cay soat sambil tertawa. Thi Eng khi segera bangkit berdiri dan mendongakkan kepalanya, dengan lantang dia berseru : Cukup banyak petunjuk yang telah kuperoleh dari kalian semua, budi ini tak akan kulupakan untuk selamanya, aku akan mohon diri lebih dulu .... Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menitahkan Sangkoan Gi untuk membuka pintu ruangan, serunya : Silahkan Thi ciangbunjin, maaf kalau aku tidak akan menghantar lebih jauh lagi! Sewaktu datang tadi, Thi Eng khi membawa semangat yang tinggi, tapi yang diperoleh cuma kepedihan dan penghinaan, sekarang dia baru menyadari apa sebabnya kakeknya menutup perguruan Thian liong pay dulu. Thi Eng khi telah pergi, menyusul kepergian pemuda itu, Keng hian totiang dari Bu tong pay menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, katanya kemudian : Peristiwa yang terjadi hari ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali mengabaikan keadilan dan kebenaran, pinto merasa menyesal sekali, lebih baik akupun mohon diri!

111
Dengan membawa kedua orang sutenya, mereka segera beranjak dan meninggalkan tempat itu. Menyusul kemudian, Ci kay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po dari Kay pang serta Sin tuo Lok It hong juga enggan tinggal lebih lama disitu, serentak mereka beranjak dan mohon diri. Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong hanya merasa menyesal di hati, dia menghela napas dan tampak murung sekali. Sebaliknya Pu thian toa beng Kay Poan thian tampak paling berseri wajahnya, dengan suara lantang dia segera berseru : Partai Siau lim pay dan Bu tong pay selalu menganggap dirinya sebagai suatu perguruan besar, mereka paling tidak pandang mata kedada orang lain, kepergiannya justru kebetulan sekali, Cu lo hoacu si pengemis busuk ini bertulang kere dan pandainya cuma menjilat pantat orang, memang pantas sekali kalau selalu mengekor, sudah lama aku ingin mencari gara-gara dengannya, si bungkuk itu ..... Huhh! Lebih tak ada harganya untuk dibicarakan, mana otaknya bebal, goblok lagi, dia tak perlu diajak untuk berkompromi. Semua orang cuma memandang sekejap kearahnya dan tak seorangpun yang menjawab, jelas orang-orang itu telah merasakan ketukan suara hati sendiri. Sayang sekali, ketukan suara hati itu munculnya sangat lemah,

sehingga dengan cepat tersapu kembali oleh ucapan dari Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san. Terdengar Hong im siu Sang Thong dari bukit Bong san tertawa kering, kemudian katanya dengan suara yang aneh : Leng siancu, siaute merasa bahwa tekadmu ingin menyimpan lukisan Enghiong to tentunya dikarenakan sementara alasan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain bukan?

112
Seakan-akan ucapan tersebut langsung menyentuh rahasia hatinya, kontan saja paras muka San hoa siancu dari pulau Soh sim to itu berubah hebat, serunya sambil tertawa dingin : Saudara Sang, mungkin kaupun menganggap aku tidak lebih cuma manusia seperti Thi Eng khi yang tak becus itu? Hmm, kuanjurkan kepadamu ada baiknya jangan terlalu gunakan akal busukmu daripada kita harus saling cekcok sendiri! Hong im siu Sang Thong segera tertawa seram : Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh.... Leng tocu apabila tindakanmu ini ibaratnya menyeberangi sungai merusak jembatan, maka perbuatanmu itu semakin menyalahi bantuan dari sobat semua! Saking gusarnya, paras muka San hoa siancu Leng Cay soat telah berubah menjadi hijau membesi, teriaknya : Sang Thong, bila sedang berbicara didepan pun siancu, lebih baik sedikitlah berhati-hati! Hong im siu Sang Thong juga berteriak dengan lantang : Selamanya siaute selalu berbicara sepatah tetap sepatah, kalau memang Leng tocu begini tidak sungkan, aku Sang Thong juga merasa tidak berkewajiban untuk menyimpan rahasia itu! Kurang ajar! Sekali lagi kau berani bicara sembarangan, aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu! Tampak ujung bajunya berkibar terhembus angin bagaikan segumpal awan hitam tahu-tahu ia sudah melayang melewati meja bundar dan melayang turun dihadapan Hong im siu Sang Thong, tangannya langsung diayunkan untuk menampar muka Sang Thong. Perempuan ini memang tak malu menjadi salah seorang yang muncul diatas lukisan Enghiong to tersebut, tubuhnya yang melayang ke depan enteng bagaikan segulung angin, sedemikian cepatnya sehingga sukar buat orang lain untuk mengikuti bayangan tubuhnya.

113
Kelihatannya Hong im siu Sang Thong segera akan kena digampar oleh ayunan tangannya itu. Tapi kejadiannya kemudian justru tampak aneh sekali, tidak melihat bagaimana Hong im siu Sang Thong menghindarkan diri juga tidak melihat bagaimana caranya dia melancarkan serangan balasan, tahu-tahu San hoa siancu Leng Cay soat telah menarik kembali tangannya sambil melompat mundur sejauh beberapa depa, wajahnya diliputi oleh rasa kaget dan tercengang untuk setengah harian lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, jelas ia sudah terkena sergapan gelap ...... Perlu diketahui, pada empat puluh tahun berselang, dikala San

hoa siancu masih perawan dulu, namanya sudah menggemparkan dunia persilatan, itulah sebabnya dia baru termasuk juga salah seorang dari sembilan wajah tyang tercantum dalam lukisan tersebut. Kehidupannya selama empat puluh tahun tentu saja bukan suatu kehidupan yang sia-sia saja tenaga dalamnya selain sempurna, ilmu silatnya juga luar biasa hebatnya, tak seorangpun diantara kawanan jago yang hadir disana memikirkan masalah lainnya. Selain daripada itu, semua orangpun tahu kendatipun Hong im siu Sang Thong adalah jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi bila dibandingkan dengan San hoa siancu Leng Cay soat, dia masih ketinggalan jauh sekali. Oleh karena itu, reaksi yang diperlihatkan perempuan itu membuat semua orang merasa terkejut bercampur tercengang, mereka betul-betul merasa tidak habis mengerti. Hong im siu Sang Thong segera tertawa dingin, katanya : Jika dalam hatimu tak ada setannya, kenapa takut orang lain berbicara ....? San hoa siancu Leng Cay soat mengerang marah, teriaknya : Bangsat, kau berani melukai orang dengan senjata rahasia, kubacok dirimu sampai mampus.

114
Sekali lagi dia siap menubruk kemuka. Dengan suara yang keras menggelegar Hong im siu Sang Thong segera membentak keras : Lohu akan memperingatkan dirimu, kau sudah terkena jarum sakti Hua hiat sin ciam bila tidak segera memusatkan pikiran dan menutup ketujuh buah jalan utamamu kemudian menelan obat penawarku, dalam tiga jam mendatang sekujur badanmu akan berubah menjadi darah dan tewas, bila sampai demikian keadaannya, jangan salahkan lohu tidak memberi peringatan lebih dulu. Tangannya segera diayunkan kedepan, sekilas cahaya kuning segera meluncur keluar dari balik pakaiannya dan meluncur ke tangan San hoa siancu Leng Cay soat. Cepat telan obat itu, kemudian sembuhkan sendiri luka yang kau derita itu! Hua hiat sin ciam merupakan sejenis senjata rahasia beracun yang sudah amat tersohor namanya dalam dunia persilatan, paras muka semua orang yang berada dalam ruangan itu kontan saja berubah sangat hebat. Dengan kemampuan yang dimiliki San hoa siancu Leng Cay soat pun ternyata tak berani berrtindak gegabah, dengan wajah sedih dia lantas menelan pil pemberian Hong im siu Sang Thong dan segera duduk bersila untuk mengobati lukanya. Pelan-pelan Hong im siu Sang Thong menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, lalu berkata : Menurut apa yang lohu ketahui, dilapisan paling dalam lukisan itu masing-masing tercantum tiga jurus ilmu silat yang paling sempurna dari orang-orang yang lukisannya terpampang diatas lukisan tersebut, barang siapa bisa mempelajari semua jurus yang tercantum disana, maka kepandaiannya tiada tandingan lagi di dunia

ini!

115
Haaahh... ! seruan tertahan menggema di seluruh ruangna, suasana disana kontan saja berubah menjadi sangat gaduh. Sekulum senyuman aneh segera menghiasi ujung bibir Hong im siu Sang Thong, katanya lagi : Lukisan tersebut hanya ada selembar, siapakah yang akan mendapatkannya, ini tergantung pada kepandaian silat siapa yang paling sempurna diantara kalian semua! Seusai berkata dia lantas melayang naik keatas meja bundar itu dan sambil berpeluk tangan , ia menjadi seorang penonton yang baik. Ilmu silat yang maha sakti benar-benar merupakan suatu pancingan yang besar sekali pengaruhnya, kawanan jago yang dihari-hari biasa selalu menganggap tinggi dirinya itu segera menunjukkan sinar kerakusan yang amat besar, serentak mereka bergerak maju menghampiri lukisan tersebut. Mendadak ada orang berteriak keras : Lebih baik kita jangan saling bertengkar dulu, tanya yang jelas lebih dahulu apa benar terdapat kejadian seperti ini, kemudian kita baru mengandalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan siapakah yang lebih berhak untuk mendapatkan lukisan tersebut. Dengan cepat, ada yang bertanya kepada San hoa siancu Leng Cay soat : Harap Leng siancu bersedia untuk membuktikan kebenaran dari itu! Dengan wajah yang murung Sna hoa siancu Leng Cay soat menghela napas dan manggut-manggut. Benar, sahutnya. Seketika itu juga seluruh ruangan dipenuhi oleh cahaya golok bayangan pedang, angin pukulan dan bacokan telapak tangan, suasana menjadi gaduh dan kalut tidak karuan.

116
Sambil berpeluk tangan, Hong im siu Sang Thong berdiri diatas meja bundar dan menyaksikan pertarungan massal yang sedang berlangsung didalam ruangan itu, senyuman bangga yang sangat aneh, semakin menghiasi wajahnya. Mendadak terdengar seseorang membentak keras : Semuanya tahan! Suaranya keras bagaikan geledek yang menyambar disiang bolong, bentakan tersebut membuat semua merasa terperanjat dan serentak menghentikan serangannya. Orang yang berteriak dengan mempergunakan ilmu auman singa itu tak lain adalah Sangkoan cengcu dari perkampungan Ki hian san ceng. Setelah menghentikan serangan, semua orang yang untuk sesaat terpengaruh oleh ketamakan itu segera menjadi sadar kembali, dengan cepat mereka tahu kalau sudah tertipu orang, segera meja bundar itu dikepung kemudian melotot gusar kearah Hong im siu Sang Thong yang masih berdiri diatas meja sambil berpeluk tangan dan tersenyum itu.

Tiba-tiba Hong im siu Sang Thong mengusap wajahnya sendiri, kemudian sambil menekuk pinggang dan menghembuskan napas panjang dalam waktu singkat telah muncul kembali dengan wajah aslinya yakni seorang kakek berkepala botak. Tampaknya kakek botak itu sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap kawanan kjago yang berada disekeliling tempat itu, sambil tertawa terbahak serunya: Haaahhh.... haaahhh... haaahhh.... lohu adalah Huan im sin ang (kakek tua bayangan setan) aku juga yang telah melukai puluhan orang jago yang mengerubuti diriku! Aku juga orang yang hendak kalian hadapi dalam pertemuan kali ini! Haahhh... haaahhh.... hari ini memang aku sengaja hendak mengajak kalian bergurau, ingin kulihat manusia macam apakah yang dikatakan sebagai jagojago dari golongan lurus haaahhhh.... haaahhh.... tak tahunya cuma begitu saja, sungguh membuat hati lohu amat gembira.

117
Sebenarnya aku hendak menghadiahkan kalian sebatang jarum Hua hiat sin ciam untuk setiap orang, tapi mengingat pertarungan yang kalian lakukan barusan bersungguh hati dan membuat lohu puas maka untuk sementara waktu aku akan melepaskan kalian semua dengan selamat. Cuma lukisan tersebut untuk sementara waktu akan lohu bawa pergi, jika kalian merasa punya kepandaian, silahkan datang sendiri ke bukit Thian tay san pada bulan enam tanggal enam nanti untuk memintanya kembali, cuma bila waktunya sudah lewat jangan salahkan jika lohu akan mengambil keputusan lain tentang lukisan itu. Dari sekian banyak jago lihay yang berkumpul dalam ruangan ini, ternyata tak seorangpun yang berkutik atau mengucapkan sepatah katapun, mereka membiarkan Huan im sin ang mengucapkan katakatanya sampai selesai tanpa ada yang mengganggu. Hal ini mereka lakukan sebab barusan titik kelemahan mereka semua telah teruar keluar, tanpa sebab mereka harus bertarung sendiri mati-matian, kejadian itu menimbulkan rasa malu dihati masing-masing hingga siapapun enggan juga untuk melakukan sesuatu tindakan. Menunggu Huan im sin ang telah menyelesaikan kata-katanya, rasa permusuhan dalam hati mereka semua harus meledak. Pertama-tama Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang berteriak lebih dulu dengan lantang : Keteledoran yang kita lakukan hari ini sungguh memalukan sekali, mari kita bekerja sama untuk menumpas gembong iblis itu, jangan membiarkan dia pergi dengan begitu saja ...... Huan im sin ang segera menyeringai dan tertawa seram. Heeehhh... heeehhh.... heeehhhh.... lohu justru ingin sekali melihat kalian ditertawakan orang, kalau tidak, buat jiwa anjing kalian musti diampuni?

118
Ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat, sedemikian hebatnya serangan itu membuat meja bundar disitu bergetar keras dan para jagoan

merasakan kuda-kudanya tergempur, tak kuasa lagi mereka mundur ke arah dinding ruangan dengan sempoyongan . Menyusul kemudian tangannya digapai, lukisan yang tergantung diatas dinding itu segera otomatis melayang sendiri ke tangannya. Sementara semua orang masih tertegun bercampur kaget, sambil tertawa terbahak-bahak orang itu sudah membuka pintu baja dan melangkah keluar dari situ. Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Sementara itu, Thi Eng khi dengan membawa rasa gusar bercampur sedih melangkah keluar dari pintu gerbang perkampungan Ki hian san ceng, kemudian sambil berpaling dan melotot beberapa kejap ke arah perkampungan itu dengan gemas dan menggertak gigi, diam-diam sumpahnya di dalam hati. Suatu ketika, sekalipun kalian menggunakan tandu besar yang digotong delapan orang untuk menjemputku pun, belum tentu aku mau datang kemari! Mendadak ia menyaksikan ada enam sosok manusia keluar dari perkampungan itu, ternyata mereka adalah ketua Bu tong pay, beserta Keng leng dan ik totiang, Ci kay taysu dari Siau lim pay, Hou bok sin kay Cu Goan po serta si bungkuk sakti Lok It hong. Thi Eng khi merasa cocok sekali dengan Keng hian totiang, dengan cepat dia membalikkan badan seraya memberi hormat katanya : Terima kasih banyak atas bantuan ciangbunjin selama ini aaai! Cuma sayang .... Thi ciangbunjin harap kau jangan berkata begitu, tukas Keng hian totiang dengan lantang. Pinto merasa menyesal sekali tak bisa

119
mewujudkan keadilan karena itu kami berkeputusan lebih baik mengundurkan diri saja. Omitohud! Ci kay taysu pula dari Siau lim pay, agaknya kepandaian silat Thi ciangbunjin belum memperoleh warisan langsung dari ilmu sakti Thian liong pay entah apa sebabnya bisa demikian? Thi Eng khi segera menghela napas panjang. Aaai.... kitab pusaka Thian liong pit kip telah dibawa pergi oleh kakekku dan tidak diketahui kabar beritanya, oleh sebab itu aku tak bisa mempelajari semua kepandaian perguruanku. Secara ringkas, ia lantas menceritakan apa yang telah dialaminya selama ini. Ci kay taysu segera berkerut kening, setelah berpikir sejenak katanya kemudian : Ketika Thi locianpwe masih hidup dulu, beliau merupakan sahabat karib mendiang guruku, suatu hari ketika sedang pulang dari bersiar di bukit Tay san, tanpa sengaja telah menemukan sejilid kitab Hua tin liok, yang hingga kini masih tersimpan dalam pagoda penyimpan kitab partai kami, apakah Thi ciangbunjin bersedia untuk mengunjungi Siau lim si dan mempelajari dulu ilmu silat dalam kitab Hua tin liok sebelum berkelana dalam dunia persilatan sambil mencari jejak dari kitab pusaka Thian liong pit kip? Jelas, Ci kay taysu bermaksud untuk menariknya ke kuil Siau lim

si dan menghadiahkan semua kitab ilmu silat yang pernah dimilikinya selama ini untuk Thi Eng khi serta membantunya menjadi lihay. Tapi berhubung Thi Eng khi adalah seorang ketua dari partai Thian liong pay maka Ci kay taysu pun menggunakan kata yang lebih halus dan manis untuk menyampaikan maksud hatinya itu. Keng hian totiang dari partai Bu tong segera tertawa terbahakbahak.

120
Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh..... perkataan dari Ci kay taysu ada benarnya juga, sudah sepantasnya kalau Thi ciangbunjin mempertimbangkan kembali. Usul ini meski sangat menggetarkan hati Thi Eng khi tapi setelah dipikirkan berulang kali dia merasakan enggan untuk menerimanya sebab dia sebagai seorang ketua dari partai Thian liong sepantasnya kalau memperkembangkan ilmu silat Thian liong pay, sebelum kepandaian itu dikuasai sepenuhnya dia tidak berniat meminjam kepandaian aliran lain untuk menjaga nama baik Thian liong pay. Itulah sebabnya keinginan dan pemikirannya menjadi saling bertentangan, alis matanya berkernyit kencang dan lama sekali tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Tampaknya Hou bok sin kay Cu Goan po dari Kay pang dapat menebak isi hatinya sambil tertawa tergelak segera bujuknya : Semua ilmu silat yang ada di dunia ini sumbernya adalah sama, justru karena perkembangan dari setiap orang berbeda, maka jadilah perbedaan antara satu dengan lainnya, harap Thi siauhiap jangan terlalu memikirkan soal perbedaan aliran. Semua perkataan itu mengandung arti yang benar dan cukup menimbulkan kesadaran orang yang dalam. Sejak kecil Thi Eng khi memang sudah banyak membaca, kebesaran jiwanya pun boleh dipuji, sudah barang tentu dia bukan seorang yang kolot dan berpikiran pendek. Tapi hari ini dia mempunyai alasan untuk bersikap kolot, sebab orang lain terlalu menghina dan mencemooh dirinya, ilmu silat aliran Thian liong pay juga mendapat pandangan yang sinis dimata orang lain, kesemuanya ini membuat dia hampir saja sukar untuk menahan diri. Oleh sebab itu dia lantas bertekad untuk melaksanakan jalan pemikirannya kecuali mengalami kegagalan total dikemudian hari, kalau tidak ia bersumpah akan mengangkat nama partainya dengan mengandalkan ilmu silat dari aliran Thian liong pay sendiri.

121
Oleh sebab itu, akhirnya ia tetap menggelengkan kepalanya seraya berkata : Terima kasih banyak atas kebaikan taysu, aku sekarang harus segera berangkat ke puncak Bon soat hong di bukit Wu san untuk memenuhi janji, bila kesempatan dikemudian hari telah tiba, pasti akan kukunjungi Siau lim si untuk menambah pengetahuan, sekarang maaf kalau aku berangkat lebih dulu! Sambil mengeraskan hati ia tamapik kesempatan yang sangat baik ini dan sambil membalikkan badannya berlalu dengan langkah lebar. Menyaksikan kepergian dari pemuda itu, tiga orang tousu,

seorang pendeta, seorang pengemis dan si bungkuk menjadi tertegun sampai lama sekali mereka masih berdiri termangu-mangu. Lama, lama sekali Hau bok sin kay Cu Goan po baru mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, serunya : Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... selama ini pihak Siau lim paling pelit siapa tahu kesupelannya tidak mendatangkan hasil haaahhh.... haaahhh..... kejadian ini sungguh menggembirakan sekali, sungguh menyenangkan sekali, aku si pengemis tua tak akan melepaskan diri dari persoalan ini lagi. Tanpa menyapa orang lain lagi dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ. Si bungkuk sakti Lok It hong yang selama ini cuma membungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun itu, sekarang juga manggutmanggut lalu berlalu dari situ. Keng hian totiang dari Bu tong pay dan Ci kay taysu dari Siau lim pay saling berpandangan sekejap sambil tertawa, kemudian mereka segera berangkat untuk pulang ke gunung. Sepanjang jalan Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya, setelah bertanya sana sini maka beberapa hari kemudian sampai juga ia di bukit Wu san.....

122
Bukit Wu san terletak di sebelah tenggara keresidenan Wu san sian yang termasuk dalam bilangan propinsi Suchwan dengan pengunungan Pa san sebagai bukit yang paling tinggi, sungai Tiang kang yang lebar membelah bukit tersebut serta menciptakan tiga buah selat yang sangat berbahaya, salah satu diantaranya selat Wu sia. Konon di atas bukit Wu san semuanya terdapat dua belas buah puncak, masing-masing adalah puncak Bong soat, Cui peng, Tiau im, Song luan, Ki sian, Ki hok, Keng tam, Sang sin, Ki im, Hui hong dan Teng liong. Puncak Bong soat hong terletak disebelah utara bukit Wu san, tinggi menjulang kjeangkasa dan megah sekali. Suatu hari, diatas puncak Bong soat hong di bukit Wu san muncul seorang sastrawan baju biru yang kelihatan sangat letih, orang itu bukan lain adalah Thi Eng khi dari partai Thian liong pay. Sejak memangku tugas berat dalam partai Thian liong dan pengalamannya di dalam perkampungan Ki hian san ceng, membuat Thi Eng khi banyak mengenali wajah yang sebenarnya dari kawanan jago persilatan dari dunia persilatan saat ini, cuma dia tidak menjadi putus asa karena kejadian tersebut, malah sebaliknya makin menyadari bahwa tugas yang berada di atas bahunya tidak enteng. Sekarang bukan saja dia harus membangun kembali nama baik dari Thian liong pay, bersama itu pula dia hendak merubah keadaan dalam dunia persilatan. Kedatangannya ke bukit Wu san kali ini adalah demi penyakit yang diderita oleh keempat orang supek dan susioknya, tapi ia tidak menaruh harapan yang terlalu besar akan hal itu, terhadap kakek botak yang mengundang kedatangannya itu dia merasa muak sekali, dan menganggap orang itu tidak mempunyai maksud baik. Waktu itu dia sudah berdiri diatas puncak Bong soat hong, untuk pertama kalinya dia mengerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin

123
kang untuk berpekik nyaring dan melampiaskan semua kemurungan yang mengeram didalam tubuhnya selama ini. Baru selesai dia berpekik, bagaikan sukma gentangan itu tiba-tiba kakek botak itu sudah muncul didepan matanya, dia tertawa seram beberapa kali untuk menarik perhatian, kemudian katanya : Thi siauhiap benar-benar seorang yang bisa dipercaya, sungguh membuat lohu merasa amat gembira. Thi Eng khi tertawa terpaksa. Aku dipaksa oleh keadaaan jadi mau tak mau aku harus datang juga untuk memenuhi janji! Kakek botak itu kembali tertawa terbahak-bahak : Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... aku lihat siauhiap berwajah masam dan tak sedap dilihat, rupanya kau telah menaruh salah paham terhadap maksud hatiku yang sebenarnya? Dari Huay im sampai bukit Wu san bukan perjalanan yang bisa ditempuh dalam satu hari, kata Thi Eng khi dengan kening berkerut, seandainya lotiang tidak bermaksud menyusahkan orang, mengapa kau menggunakan keselamatan dari keempat orang susiok dan supekku sebagai sandera untuk memaksa kedatanganku kemari? Dengan wajah yang ramah dan lembut, kakek botak itu segera berkata : Siapa yang bersedia menderita, dia akan menjadi lebih dewasa, tindakan yang kuambil ini sesungguhnya bermaksud untuk melatih semangat siauhiap, apakah siauhiap tak dapat memahaminya? Karena memikirkan keadaan dari Supek dan susioknya, terpaksa Thi Eng khi harus menahan rasa dongkolnya di hati. Urusan yang lewat tak usah dibicarakan lagi, tolong tanya lotiang sudi memberitahukan kepadaku cara pengobatan tersebut. Kakek botak itu mengerdipkan matanya : Setelah lohu mengundang kedatangan sauhiap tentu saja akupun dapat memenuhi janjiku, cuma ilmu pengobatanku itu harus dilakukan dengan tenaga Im kang, padahal tenaga Im kang bukan

124
bisa dipelajari dalam satu dua hari saja, kebetulan lohu tinggal tak jauh dari sini, bagaimana kalau kupersilahkan siauhiap berkunjung kesana, tanggung didalam tiga bulan mendatang kau bisa pulang dengan hati yang puas. Thi Eng khi sesungguhnya bercita-cita untuk mengangkat nama perguruannya dengan mengandalkan kepandaian silat dari Thian liong pay, sebelum kepandaian dari perguruannya berhasil dipelajari, dia enggan untuk mempelajari kepandaian lainnya, sungguh tak disangka dia harus dihadapkan kembali dengan suatu persoalan yang menyulitkan, hal ini membuat pemuda itu menjadi tertegun. Sebentar ia teringat kembali akan nasib dari supek dan susioknya, tapi sebentar kemudian dia memikirkan perjuangannya serta keinginannya untuk membangun kembali nama besar perguruan Thian liong pay, ia tahu jika sampai dirinya terpaksa belajar ilmu kepada lawan untuk mengobati supek dan susioknya, belum tentu hal ini akan memenuhi keinginan mereka. Berpikir sampai disini, tanpa terasa ia menjadi menyesal sekali

mengapa harus melakukan perjalanan ini. Oleh karena pelbagai ingatan berkecamuk didalam benaknya, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Menyaksikan keadaan dari pemuda itu, dengan wajah serius kakek botak itu segera berkata : Seandainya Thi siauhiap ingin memunahkan pengaruh totokan jit sat ci ditubuh supek dan susiokmu itu inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh dan tiada jalan lain lagi, harap siauhiap jangan menyia-nyiakan kesempatan baik ini! Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi katanya : Siauseng ingin mengajukan suatu pertanyaan harap lotiang sudi menjawab dengan sejujurnya. Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak :

125
Haaahhh.... haaahhh..... bukankah kau ingin bertanya apa tujuanku yang sebenarnya mengundang kedatanganmu diatas puncak Bong soat hong ini? Benar! Thi Eng khi mengangguk Sebenarnya apa tujuanmu? Kakek botak itu memperhatikan Thi Eng khi beberapa saat lamanya kemudian menjawab : Ketika berada dalam perguruanmu tempo hari, aku sudah mengetahui kalau kau berbakat bagus dan pantas mewarisi ilmu sakti yang tercantum dalam kitab Jit sat hian im keng itulah sebabnya kitab pusaka Thian liong pit kip yang sudah jatuh ke tanganku pun kukembalikan kepadamu. Adapun maksudku mengundang kedatanganmu adalah bertujuan untuk menyempurnakan kau, inilah maksud lohu yang sebenarnya, dengan kecerdasan yang kau miliki apakah tidak bisa kau lihat bahwa kesempatan ini merupakan kesempatan yang paling baik sekali? Mengapa kau tidak segera berlutut dan mengangkat diriku sebagai gurumu? Apalagi yang hendak kau nantikan? Thi Eng khi segera melotot besar. Siauseng adalah anggota partai Thian liong pay, tidak mungkin aku disuruh berganti perguruan lagi. Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak : Haaahhh... haaahhh..... haaahhh.... selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan aku mempunyai suatu tujuan yang besar sekali, maka asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, jangan toh baru menjadi ketua Thian liong pay asal kau bercita-cita besar, lohu pun bisa membantumu untuk menjadi ketua dari seluruh perguruan dan partai yang berada dalam dunia persilatan saat ini! Selama ini Thi Eng khi terus menerus memperhatikan mimik wajah lawan, mendadak timbul suatu kecurigaan dalam hatinya sehingga tanpa terasa ia memandang orang itu semakin lekat-lekat, seakan-akan pikirannya terurai dalam lamunan.

126
Itulah sebabnya dia tidak mendengar kata si kakek yang didepan, tapi hanya mendengar kata yang terakhir saja. Kontan saja paras mukanya berubah menjadi dingin bagaikan es, katanya lantang :

Kau hendak menjadi ketua dari semua partai dan perguruan yang ada di dunia ini? Kalau begitu kau juga pembunuh yang telah melukai serta membinasakan jago-jago lihay dari pelbagai perguruan? Mula-mula kakek botak itu agak tertegun kemudian sambil menarik muka sahutnya : Lohu tak ingin menjadi orang kedua dikolong langit dewasa ini, apa pula salahnya bila kugunakan ilmu silatku yang lihay untuk menakut-nakuti mereka? Hei, sudah tahu begitu, apalagi yang hendak kau pertimbangkan ....? Bila tahu diri cepat berlutut dan mengangkat diriku menjadi gurumu, lohu sudah merasa agak tak sabar! Paras muka Thi Eng khi sama sekali berubah, katanya : Siauseng tidak bernasib sebaik itu, maaf, selamat tinggal! Dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ. Kakek botak itu segera menggapaikan tangannya, segulung tenaga hisapan tak berwujud yang sangat dahsyat segera menghisap tubuh Thi Eng khi untuk balik kembali ke tempat semula, serunya dengan gusar : Lohu dengan maksud baik ingin mendidik kau, tak kusangka kalau kau begitu tak tahu diri! Yaa, tiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda, siapa yang bisa memaksanya? Napas kakek botak itu tersengkal-sengkal keras, jelas kemarahannya sudah memuncak, tapi alis matanya berkenyit dan akhirnya berhasil menahan diri, dia mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

127
Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... apakah kau lupa dengan luka parah yang diderita Thian liong ngo siang akibat totokan dari ilmu jari Jit sat ci? Thian liong ngo siang berbeda dengan orang biasa, sedangkan siauseng pun hanya tahu jalan lurus dan berdiri tegak, sekalipun selama sepuluh tahun tidak mampu menyembuhkan luka mereka, tak nanti mereka akan menyalahkan diri siauseng. Apakah kau juga lupa dengan penghinaan yang kau derita sewaktu berada di perkampungan Ki hian san ceng? teriak si kakek botak itu keras-keras, asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, tanggung didalam setahun mereka semua akan berlutut dihadapanmu sambil minta ampun! Menyinggung kembali soal perkampungan Ki hian san ceng, timbul kembali secara tiba-tiba api kemarahan yang berkobar didalam dadanya. Terdengar si kakek botak itu berkata lebih jauh : Tidak tahukah kau bahwa mereka semua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan? Tidak takutkah bagaimana wajah mereka yang sebenarnya...? Aku rasa kesemuanya itu sudah kau saksikan sendiri, tentunya kau berpikir sendiri bukan. Thi Eng khi semakin emosi, sepasang alis matanya sampai berkenyit setelah mendengar perkataan itu. Kakek itu semakin emosi, dengan memperkeras suaranya dia berkata lebih jauh :

Dengan mengingkari liang-sim, mereka telah merampas lukisan Enghiong to milikmu, kemudian demi ilmu silat yang berada di balik enghiong to tersebut mereka saling membunuh, heeehhh..... heeehhh.... heeehhh.... itulah tampang-tampang yang sebenarnya dari kaum lurus dalam dunia persilatan, heeehhh..... heeehhhh.... Thi Eng khi merasa hatinya makin bergolak keras, mendadak teriaknya keras-keras : Sekarang lukisan Enghiong to ku itu sudah dirampas siapa?

128
Kakek botak tersebut tertawa terbahak-bahak. Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... lohu selalu hanya memikirkan dirimu, maka lukisan Enghiong to tersebut pun telah kurampas kembali. Baik, anggap saja sebagai hadiah pertempuran dari suhu untukmu, terimalah kembali lukisan itu! Dari balik sakunya dia lantas mengeluarkan gulungan lukisan tersebut.... Lukisan itu bagaikan ada sukmanya saja, setelah berputar satu lingkaran ditengah udara segera melayang ke tengah Thi Eng khi. Dengan cepat Thi Eng khi menyambut lukisan itu, lalu katanya emosi : Kalau begitu, Hong im siu Sang Thong adalah penyaruan darimu! Inilah kecurigaan yang selalu tertanam di hati Thi Eng khi, sekarang dia ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Lohu bergelar Huam im sing ang, soal ilmu menyamar mah urusan sepele, asal kau bersedia mengangkat diriku menjadi gurumu, akupun bisa menghadiahkan kitab pusaka Huan im poo liok tersebut untukmu. Aku tidak percaya? Aku tidak percaya! seru Thi Eng khi sambil menggeleng, Hong im siu Sang Thong berperawak tinggi besar, soal perawakan tak mungkin bisa dilakukan hanya dengan jalan menyaru saja. Huan im sin ang tertawa terbahak-bahak. Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh..... jika ilmu sakti yang tercantum di dalam kitab pusaka Jit sat hian im cing keng telah berhasil dilatih dengan sempurna, maka soal merubah badan bisa dilakukan sekehendak hati sendiri, jika kau tidak percaya aku akan membuktikannya di hadapanmu....

129
Sambil membungkukkan badannya, tiba-tiba terdengar bunyi gemerutuknya tulang yang amat keras bergema di angkasa, lalu tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi lebih tinggi beberapa kali lipat. Senyuman segera menghiasi bibirnya, dia mengira kali ini Thi Eng khi tak akan menaruh curiga lagi dan murid yang baik inipun pasti akan diperoleh. Siapa tahu Thi Eng khi segera tertawa dingin tiada hentinya : Semua tingkah laku dan perbuatan lotiang selama menjadi Hong im siu sudah banyak yang siauseng saksikan, begitu banyak jago lihay yang berada di dalam perkampungan Ki hian san ceng juga tak seorangpun yang sanggup mengalahkan dirimu, itu menunjukkan kalau ilmu silat yang lotiang miliki benar-benar luar biasa sekali,

cuma kau bilang mereka lupa akan keadilan dan kebenaran dengan berbuat semena-mena, tolong tanya bagaimana pula dengan perbuatan yang telah kau lakukan sendiri selama ini! Huan im sin ang merasa kecewa sekali dia tidak menyangka kalau Thi Eng khi bakal memutar balikkan pembicaraan hanya bertujuan untuk memakinya. Kontan saja timbul ingatan jahat dalam hatinya, sambil menyeringai seram katanya: Keparat cilik baik-baik kuberi arak kehormatan kepadamu, kau tak mau, arak hukuman malahan yang dipilih, baik! Hari ini aku akan memaksamu untuk mengangkat diriku menjadi gurumu, kau tidak mau juga harus mau, kalau tidak maka jangan harap bisa tinggalkan puncak Bong soat hong dalam keadaan selamat. Hmm! Siauseng tidak takut dengan ancaman sekalipun kau hendak membacokku sampai mati, aku juga tidak akan mengangkat dirimu menjadi guruku! Tak terlukiskan kemarahan Huan im sin ang sesudah mendengar perkataan itu, segera bentaknya: Bocah keparat, kau pingin mampus!

130
Sepasang tangannya segera disentilkan bersama kedepan, sepuluh gulung desingan angin tajam segera mengurung seluruh jalan darah penting di tubuh Thi Eng khi. Keadaan Thi Eng khi waktu itu ibaratnya seekor domba yang siap disembelih, jangankan melarikan diri, bahkan ingatan tersebut belum lagi melintas dalam benaknya dia sudah roboh terkapar diatas tanah. Seluruh tubuh Thi Eng khi menjadi terbelenggu dan tak mampu berkutik lagi, setelah menghela napas panjang, ia pejamkan mata dan pasrah kepada nasib. Begitu berhasil menguasai Thi Eng khi, Huan im sin ang masih tetap berusaha untuk melunakkan hati pemuda itu, katanya dengan lembut : Orang yang sudah mati tak bisa bangkit kembali kalau kau tetap keras kepala semacam begini maka hasilnya hanya akan menambah setan penasaran saja di akhirat, sekali lagi lohu memberi kesempatan yang terakhir kepadamu, jawabanmu akan mempengaruhi mati hidupmu! Thi Eng khi tetap membungkam dalam seribu bahasa, tak sepatah katapun yang diucapkan. Dengan suara keras, Huan im sin ang segera membentak : Sudah kau dengar belum ucapan dari lohu itu? Thi Eng khi masih tetap membungkam dalam seribu bahasa. Huan im sing ang menjadi gusar sekali, kembali dia mengayunkan jari tangannya, segulung desingan angin tajam segera meluncurkan ke depan dan menghajar bahu kanan Thi Eng khi. Sekujur badan pemuda itu segera menggigil keras, bagaikan tercebur ke dalam gudang es saja, kontan saja seluruh badannya menjadi kaku. Akan tetapi dia masih tetap menggertak gigi menahan diri, tak sepatah katapun yang diucapkan.

131

Huan im sing ang bertambah gusar lagi sehingga sekujur badannya gemetar keras, sebuah pukulan kembali dilontarkan membuat tubuh Thi Eng khi segera terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula. Tubuh Thi Eng khi terkena serangan Jit sat ci dari Huan im sin ang lebih dulu, kemudian termakan oleh pukulan tersebut, halmana membuat napasnya menjadi lemah dan tak sanggup untuk merana kembali. Melihat kejadian ini, Huam im sin ang tertawa terbahak-bahak, serunya kembali : Barang siapa terkena ilmu jari Jit sat ci dari lohu maka jiwanya tak akan tertolong lagi, ditambah kalau terkena pukulan Im hong tou kut ciang sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan juga tak akan bisa menolong jiwamu, nah , silahkan saja kau rasakan penderitaan itu! Seusai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari tempat itu. Tak lama setelah bayangan tubuh Huan im sin ang lenyap dari pandangan mata, dari atas sebatang pohon siong ditepi puncak bukit itu melayang turun seorang hwesio berusia pertengahan, dengan gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat dia sudah tiba disisi tubuh Thi Eng khi. Tampak airmata hwesio itu jatuh bercucuran dengan derasnya, sedang mulutnya berguman tiada hentinya : Bocah wahai bocah, seandainya tidak kuturuti jejakmu sepanjang jalan, mana mungkin kau masih bisa hidup terus? Dengan cepat dia membuka baju yang dikenakan Thi Eng khi, mengeluarkan sebuah botol porselen berwarna biru, mengeluarkan tiga butir pil dan secara berhati-hati sekali memasukkan sebutir diantaranya kemulut Thi Eng khi, sedang dua lainnya dimasukkan kembali kedalam botol porselen itu kemudian dimasukkan kembali ke saku Thi Eng khi.

132
Kemudian dia membopong pemuda itu menuju kedalam sebuah gua dibawah bukit dan membaringkannya diatas tanah. Dengan suatu gerakan yang cepat dan memusatkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dia mengayunkan kesepuluh jari tangannya untuk menotok tiga puluh enam buah jalan darah penting disekujur badan Thi Eng khi. Selesai menotok ketiga puluh enam buah jalan darah tersebut, sinar mata si hwesio setengah umur yang semula bercahaya tajam kini menjadi amat redup, tampaknya dia sudah banyak mengorbankan tenaga dalamnya. Akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja, setelah mengatur sebentar tenaga dalamnya dan kekuatan itu sudah pulih kembali, dengan cara yang sama kembali dia lancarkan totoknya disekujur badan pemuda itu. Keadaan itu secara beruntun dilakukan tujuh kali, mukanya yang semula segar kini sudah menjadi pucat pias dan sayu, seakan-akan dalam waktu singkat ia telah menjadi tua beberapa puluh tahun, sedangkan air mata yang berada di sudut matanya tak pernah mengering kembali.

Sungguh aneh dan mencurigakan sekali gerak-gerik dari hwesio tersebut....? Perhatian serta cinta kasihnya kepada Thi Eng khi sudah jelas melebihi perhatian dan cinta kasih seorang pendeta terhadap umatnya. Apalagi jika dilihat dari tindakannya yang merogoh ke saku Thi Eng khi serta mengeluarkan pil mestika Toh mia kim wan jelas sekali terhadap keadaan dari pemuda tersebut. Hwesio setengah umur yang sebenarnya gagah dan segar, setelah mengalami banyak pengorbanan tenaga dalam berubah menjadi lemas dan sayu sekali.

133
Akan tetapi ketika dilihatnya paras muka Thi Eng khi berubah menjadi segar kembali, airmata sekali lagi berderai membasahi pipinya, sementara sekulum senyuman lega menghiasi bibirnya. Ia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekejap sekeliling gua itu, kemudian sambil berkerut kening gumamnya : Tempat ini bukan suatu tempat yang cocok untuk merawat luka, tampaknya terpaksa aku harus membopongnya turun gunung. Maka diapun membopong Thi Eng khi dan diam-diam menuruni bukit Bong soat hong. Di sebuah mulut selat Wu sia, dia mencari sebuah kuil kecil yang jauh dari keramaian manusia, lalu dibuatkan sebuah pembaringan kecil dari bambu dan membaringkan Thi Eng khi diatasnya. Setelah otot tubuhnya dilukai oleh Huan im sin ang dengan ilmu totokan Jit sat cinya, kemudian termakan sebuah pukulan dahsyat lagi, sebetulnya Thi Eng khi sudah tidak berharapan untuk melanjutkan hidupnya, untung saja dia menyimpan obat mestika Toh mia kim wan dalam sakunya, ditambah lagi tenaga dalam hwesio setengah umur itu amat sempurna dimana ia berhasil menembusi otot-otot ditubuh pemuda yang tersumbat mati oleh totokan Jit sat ci, maka selembar jiwa pemuda itupun berhasil ditolong dari jurang kematian. Begitulah, dibawah perawatan yang teliti selama tujuh hari lamanya pemuda itu baru berhasil memulihkan kembali kesadarannya. Akan tetapi si hwesio setengah umur itupun sudah banyak kehilangan tenaga dalamnya sehingga berubah menjadi kurus kering bagaikan kulit pembungkus tulang. Sewaktu Thi Eng khi membuka matanya untuk pertama kalinya, hwesio setengah umur itu kelihatan emosi sekali sehingga matanya yang sayu tiba-tiba mencorong kembali sinar tajam.

134
Thi Eng khi segera melompat bangun dan duduk, sapanya dengan wajah kebingungan : Mengapa aku bisa berada disini? Hwesio setengah umur itu segera membaringkan kembali pemuda itu agar tetap tiduran, lalu bisiknya : Siau sicu, lukamu terlampau parah, lebih baik berbaringlah dulu selama tiga hari sebelum boleh turun dari pembaringan! Thi Eng khi segera teringat kembali kejadian di bukit Bong soat

hong tersebut, tak kuasa lagi dia segera bertanya : Siansu kah yang telah menyelamatkan selembar jiwaku? Dengan wajah berseri hwesio setengah umur itu berkata : Jasa itu bukan berada di tangan siauceng sebab yang sebetulnya menolong jiwamu adalah obat mestika yang siau sicu bawa sendiri. Thi Eng khi segera tertawa dengan penuh rasa terima kasih, katanya dengan cepat : Sekalipun siauseng membawa obat mestika seandainya bukan siansu yang membantuku untuk memasukkan pil itu kedalam mulutku, selembar jiwaku juga akan tetap melayang. Itulah sebabnya budi kebaikan dari siansu tak akan kulupakan untuk selama-lamanya. Kembali hwesio setengah umur itu tertawa. Aaaah... hanya secara kebetulan saja kita bersua dan membantumu, harap siau sicu jangan terlalu memikirkannya didalam hati, sekarang cepat atur pernapasanmu satu kali, coba periksalah seluruh badanmu apakah ada yang masih tidak sehat, kalau ada, cepat katakan kepada siauceng, agar bisa diusahakan pengobatannya. Baru saja Thi Eng khi hendak berkata lagi dia segera dicegah oleh hwesio setengah umur itu sambil tersenyum. Terpaksa dia memejamkan matanya dan mengerahkan Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk mengelilingi seluruh nadi penting dan

135
jalan darah didalam tubuhnya setelah mengitari satu kali seluruh badannya, dia segera merasa bahwa tenaga dalamnya amat segar dan malahan bertambah hebat beberapa kali lipat dibandingkan sebelum terluka dulu. Kenyataan ini segera menggirangkan hatinya, sambil melompat bangun dia lantas menjura seraya berseru : Siansu benar-benar sangat lihay, bukan saja siauseng merasakan seluruh tubuhku menjadi segar kembali, bahkan tenaga dalamku lebih sempurna beberapa kali lipat daripada sebelum terluka dulu .... Sekilas rasa kaget bercamput tercengang melintas diatas wajah hwesio setengah umur itu, kemudian sambil berseru tertahan dia pegang urat nadi dari Thi Eng khi dan memeriksanya, dengan suara lirih dia berbisik : Siau sicu, coba aturlah tenaga dalammu mengelilingi seluruh badan, akan siauceng periksa keadaanmu. Thi Eng khi menurut dan segera melakukan seperti apa yang dikatakan itu. Dengan cepat hwesio setengah umur itu memegang urat nadinya dan memeriksa sebentar, tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi bibirnya dia lantas berkata : Siau sicu, kau pasti pernah menerima suatu kemukjijatan atau pernah makan obat aneh yang bisa membantu menambah tenaga dalammu, oleh pengaruh tenaga dalam yang sianceng salurkan ke dalam tubuhmu, obat itu sudah mulai menunjukkan reaksinya dan menyebar ke seluruh badan bila kau melatih lagi tenaga dalammu selama beberapa hari maka menunggu daya kerja obat itu sudah mulai menyebar keseluruh badan, tenaga dalam siau sicu akan

memperoleh kemajuan yang luar biasa pesatnya, terlebih dahulu siau ceng mengucapkan selamat untukmu. Berkedip sepasang mata Thi Eng khi setelah mendengar perkataan itu, setelah menatap hwesio itu beberapa saat lamanya, diapun manggut-manggut.

136
Keempat orang supek dan susiokku pernah memberikan empat macam obat mestika kepadaku, tapi sayang berhubung tenaga dalamku belum cukup sempurna maka tak sanggup membuyarkan kerja tenaga obat tersebut, tapi menurut keempat orang supek dan susiokku, untuk bisa menyebarkan daya kerja keempat macam obat itu hingga meresap ke seluruh badan, maka harus dipakai ilmu Pek hui tiau yang tayhoat, apakah kepandaian yang dipergunakan siansu adalah ..... Yaa, betul! Ilmu yang siauceng pergunakan memang ilmu Pek hui tiau yang tayhoat! Thi Eng khi semakin tercengang lagi, serunya : Pek hui tiau yang tayhoat adalah sinhoat tenaga dari aliran Thian liong pay, darimana siancu bisa mempelajarinya ? Paras muka hwesio setengah umur itu agak berubah, agaknya ia sedang merasakan gejolak perasaan yang luar biasa sekali, akhirnya setelah mengucapkan puji syukur keagungan Sang Buddha. Omitohud! dengan wajah hambar katanya : Seorang sahabatku dari Thian liong pay telah mewariskan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat kepada siauceng, sungguh tak disangka puluhan tahun kemudian siauceng kembali mempergunakan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat untuk menolong siau sicu sebagai ciangbunjin dari partai Thian liong pay, tampaknya segala sesuatu telah diatur menurut takdirnya, betul bukan siau sicu? Thi Eng khi termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia bertanya : Siausu darimana kau bisa tahu kalau siauseng adalah ketua dari partai Thian liong pay? Menghadapi pertanyaan tersebut, hampir saja hwesio setengah umur itu hendak membeberkan kejadian yang sesungguhnya, tapi akhirnya ia berhasil menahan diri, katanya sambil menghela napas panjang.

137
Thian liong kim kiam adalah pedang dari seorang ketua Thian liong pay, siau sicu membawa pedang tersebut berarti kau pastilah seorang ketua dari perguruan itu! Aaah! Betul, siauseng memang goblok sehingga musti mengajukan pertanyaan tersebut. Sementara itu, hwesio setengah umur itu telah bertanya kembali. Siau sicu, apakah kau she Thi bernama Eng khi? Sekali lagi Thi Eng khi dibikin kebingungan setengah mati, akhirnya sambil menatap hwesio itu lekat-lekat tanyanya : Siansu, sebenarnya siapakah kau? Hwesio setengah umur itu mengenyitkan alis matanya dan menjawab. Siauceng bergelar Huang oh!

Tolong tanya siansu, kenapa kau bisa mengetahui begitu jelas tentang diri siau seng? Huang ho siansu juga tertawa dan tidak menjawab. Setelah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba Huang ho siansu berkata lagi : Siauceng bersedia menghadiahkan ilmu tenaga dalam Pek hui tiau yang tayhoat dan ilmu pedang Thian liong kiam hoat kepada siau sicu, apakah siau sicu bersedia untuk mempelajarinya? Tekad Thi Eng khi memang sebelum menjayakan nama Thian liong pay dengan ilmu silat aliran perguruannya, dia tak akan mempelajari kepandaian aliran yang lain, ketika mendengar kalau Huang oh siansu bersedia mewariskan ilmu silat aliran Thian liong pay kepadanya, ia merasakan jantungnya berdebar keras. Tapi sebelum mengucapkan sesuatu, satu ingatan lain segera melintas dalam benaknya, ia berpikir :

138
Siansu yang telah menyelamatkan jiwaku ini berbicara kurang leluasa dan banyak hal yang mencurigakan sekali, sebelum mengambil keputusan aku harus menanyakan dulu keadaannya sampai jelas. Berpikir sampai disitu, ia lantas menatap wajah Huang ho siansu lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan serius : Walaupun siauseng telah menerima jabatan sebagai ketua dari partai Thian liong pay tapi berhubung aku masuk perguruan agak lambat, tidak banyak yang kuketahui tentang kejadian Thian liong pay dimasa lampau, barusan siansu bilang ada hubungan dengan cianpwe dari partai kami, apakah kau bersedia memberi penjelasan lebih dahulu tentang masalah ini? Huang oh siansu berkerut kening dan termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata : Kejadian ini sudah berlangsung pada dua puluh tahunan berselang, untuk sesaat sulit bagiku untuk memulai kisah ceritanya, begini saja, bagaimana kalau siau ceng menceritakan suatu kisah cerita saja kepadamu? Thi Eng khi segera mengangguk. Siauseng siap mendengarkan ceritamu itu. Huang oh siansu termenung sebentar seperti membayangkan kembali kejadian di masa lalu, kemudian dengan suara berat katanya : Dua puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan muncul dua orang yang berbakat bagus, kedua orang itu sama-sama berilmu tinggi dan sama-sama gagahnya, berhubung antara nama mereka sama-sama memakai tulisan giok maka mereka disebut sebagai Bu lim siang giok (sepasang kemala dari dunia persilatan). Berbicara sampai disitu, dia melirik sekejap kearah Thi Eng khi kemudian melanjutkan : Yang seorang adalah ayahmu yang bernama Lan ih cu tok (pangeran berbaju biru) sedangkan yang satunya lagi bernama Gin san kiam kek (pendekar pedang baju perak) Ciu Cu giok. Kedua

139
orang itu mempunyai cita-cita yang sama serta semangat yang sama

pula, kemana mereka tiba kaum sesat segera terbasmi dan nama besar mereka makin meningkat, sehingga akhirnya jadilah manusia yang paling kosen diantara angkatan muda. Tetapi walaupun kedua orang itu bersahabat akrab, tapi kedua belah pihak sama-sama tinggi hati, maka dalam hal ilmu silat, kedua belah pihak sama-sama merasa tidak puas dan tidak takluk. Rupanya kedua orang itu tahu bahwa hal mana merupakan penghalang dari persahabatan mereka, maka secara berterus terang kedua belah pihak sama-sama mengutarakan isi hatinya, bahkan untuk menghilangkan perintang tersebut, kedua belah pihak secara terbuka saling bertukar ilmu silatnya masing-masing, Lan ih cu tok mewariskan ilmu Pek hui tiau yang tay hoat dan ilmu pedang Thian liong kiam hoat kepada Gin san kiam kek Ciu Cu giok, sedangkan Gin san kiam kek mewariskan ilmu sakti Ban liu kui tiong serta ilmu pedang Liu soat kiam hoatnya kepada Lan ih cu tok Thi tiong giok. Jilid 5 Thi Eng khi segera merasakan pergolakan emosi yang luar biasa sekali dengan sorot mata yang tajam dia awasi hwesio itu lekatlekat, sebab dia tahu orang ini adalah salah satu diantaranya Ayahnya dan Ciu Cu giok .... Makin bercerita, Huang oh siansu semakin lancar lagi sambungnya lebih jauh : Secara terbuka mereka saling mewariskan ilmu pedang dan simhoat tenaga dalamnya kepada yang lain, ternyata akibat dari perbuatan tersebut, mereka saling menaruh hormat kepada yang lainnya, tapi siapakah lebih lemah, ingatan tersebut belum pernah hilang dari benak mereka. Maka pada dua puluh tahun berselang, mereka berjanji untuk melakukan pertandingan selama tujuh hari tujuh malam didalam sebuah hutan yang jauh dari keramaian manusia, dalam pertarungan selama tujuh hari tujuh malam itu, ternyata terbukti bahwa kekuatan

140
mereka adalah seimbang dan sukar diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam benak Thi Eng khi segera terlintas satu bayangan .... dalam sebuah hutan yang terpencil, dua orang kerabat yang masih muda melangsungkan pertarungan selama tujuh hari tujuh malam dalam keadaan letih, mereka masih bertarung terus dengan serunya ..... Tak tahan lagi dia segera menghela napas panjang, katanya : Padahal apa perlunya berbuat begini? Huang oh siansu mendesah sedih. Aaai .... betul seandainya pada waktu itu kami bisa mempunyai perasaan seperti siau sicu sekarang, tak akan terjadi peristiwa yang amat tragis itu Thi Eng khi segera merasakan hatinya bergetar keras, apalagi bila teringat dengan pesan terakhir dari kakeknya, bisa diduga akhir dari pertarungan itu sudah pasti adalah suatu akhir yang amat tragis, kemungkinan besar yang menjadi korban adalah ayahnya sendiri. Meski kejadian ini sudah berlangsung pada belasan tahun berselang, tapi dalam perasaannya seakan-akan kejadian itu berlangsung didepan mata, tanpa terasa lagi dengan perasaan

tegang, serunya : Ooooh... akhirnya apakah mereka berhasil menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah? Huang oh siansu tertawa getir. Betul, akhirnya salah seorang diantaranya berhasil menang setengah jurus, sedangkan yang lain dikalahkan setengah jurus. Thi Eng khi sangat berharap kalau yang kalah bukan ayahnya, buru-buru ia bertanya: Siapa yang dikalahkan setengah jurus?

141
Huang oh siansu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, tapi gelak tertawa itu membawa nada sedih yang luar biasa, lama, lama sekali dia baru berkata: Siauceng menyebut diriku sebagai Huang oh (lupa diri sendiri), bahkan tentang aku sendiripun sudah lupa, mana mungkin aku masih ingat siapa yang menang dan siapa yang kalah! Seluruh wajah Thi Eng khi telah dibasahi oleh air mata, dengan suara rendah katanya : Apakah cerita tersebut berakhir sampai disini saja? Akhirnya orang yang kena dikalahkan itu berhubung merasa malu terhadap perguruannya, lagipula pikirannya tak bisa terbuka, dengan membawa malu dia menggorok leher sendiri bunuh diri, sedangkan yang lain lagi karena sedih kehilangan teman akrabnya, segera mencukur kepalanya menjadi hwesio! Mendengar sampai disitu, Thi Eng khi segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja dia tak sanggup untuk berdiri tegak lagi, sambil memegang ujung jubah dari pendeta itu serunya : Siapakah kau orang tua yang sebenarnya? Dia masih berharap orang yang bunuh diri itu bukan ayahnya, maka dia telah mengubah panggilannya dari siansu menjadi kau orang tua Setitik cahaya aneh memancar keluar dari balik mata Huang oh siansu, dengan suara tegas, sahutnya : Siauceng adalah Huang oh! Thi Eng khi merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia menarik kembali tenaga yang mencengkeram diatas jubah Huang oh siansu tersebut, kemudian sambil memegangi kepalanya sendiri dia merasa murung sekali. Dia berusaha untuk menyakini bahwa Huang oh siansu yang berada di hadapannya adalah ayahnya sendiri, tapi bagaimanapun

142
dia mencoba untuk membayangkan ternyata sama sekali tidak menemukan setitik alasanpun sebagai tempat berpijak. Terutama sekali wajahnya yang kurus dan sayu itu, pada hakekatnya sama sekali tidak cocok dengan gelarnya sebagai seorang lelaki yang sangat tampan. Padahal darimana dia bisa tahu kalau kesayuan wajah Huang oh siansu itu adalah akibat dari usahanya untuk mengobati luka yang dideritanya, karena terlalu banyak mengorbankan tenaga dalamnya maka begitulah jadinya.

Menyusul kemudian diapun mencoba untuk membayangkan Huang oh siansu sebagai Gin san kiam kek Ciu Cu giok. Pertama, ia mengetahui Pek hui tiau yang tayhoat yang dimilikinya berasal dari seorang temannya dari Thian liong pay, maka itu berarti dia bukanlah ayahnya sendiri, kalau dia bukan ayahnya itu berarti orang itu adalah Ciu Cu giok. Kedua, didalam berbincang-bincang sikapnya selalu ragu dan risau, jelas inilah penampilan dari semacam kejiwaan karena menyesal kepada keturunan rekannya yang telah tiada. Ketiga, dia hendak mewariskan ilmu simhoat tenaga dalam Pek hui tiau yang tayhoat serta Thian liong kiam hoat kepadanya, sudah pasti hal ini dimaksudkan untuk mengurangi beban perasaannya yang terlampau menyiksa. Atas ketiga hal tersebut diatas, Thi Eng khi lantas memutuskan kalau Huang oh siansu sudah pasti bukan ayahnya melainkan seorang dari Bu lim siang giok yaitu Gin san kiam kek Ciu Cu giok. Perasaannya saat itu kalut sekali, pendeta yang berada di hadapannya sekarang pernah menjadi sahabat karib ayahnya, dan kini adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya, tapi ayahnya justru mati ditangannya, sehingga boleh dibilang dia adalah musuh besar pembunuh ayahnya.

143
Berpikir demikian, hampir saja dia tak sanggup mempertahankan diri, perasaannya betul-betul menjadi amat kalut. Untung saja, pemuda ini sudah kenyang belajar ilmu sastrawan dan berjiwa amat besar, setelah dipikirkan lebih seksama lagi, dia merasa Gin san kiam kek Ciu Cu giok sebetulnya juga tidak berdosa, malah musibah yang dialaminya hampir tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami ayahnya. Andaikata kedudukan kedua orang itu berbalikan, apakah dia bisa menuduh ayahnya telah melakukan suatu kesalahan? Sedang arwah ayahnya di alam baka, tentu tidak mengijinkan pula dirinya untuk bersikap demikian. Begitu pendapat tersebut melintas dalam benaknya, dia segera merasakan dadanya menjadi lapang, rasa sedih menjadi hilang dan kobaran api dendam yang memancar dari balik matanya banyak yang luntur ..... Selama ini Huang oh siansu mengawasi terus perubahan wajah Thi Eng khi dengan perasaan berat, ketika dilihatnya mimik muka anak muda itu berubah menjadi tenang kembali, diam-diam ia baru menghembuskan napas lega, diam-diam pujinya: Nak, kau berjiwa besar dan pandai menimbang berat ringannya persoalan, kau lebih hebat daripada ayahmu dulu! Pelan-pelan Thi Eng khi mendongakkan kepalanya, dengan sorot mata yang tajam tapi tulus, ia menatap wajah Huang oh siansu, kemudian ujarnya pelan : Siansu, boanpwe telah tahu siapakah dirimu, meski ayahku telah kalah setengah jurus sehingga bunuh diri, boanpwe tak berani membuat keonaran atas dasar kejadian itu apalagi membalas dendam, tapi kekalahan setengah jurus itu akan kurenggut kembali disuatu saat. Sekarang ilmu silat yang boanpwe miliki belum jadi, sulit bagiku untuk bertanding denganmu, maka berilah waktu selama

dua tahun, sampai waktunya boanpwe pasti akan minta petunjukmu lagi disini!

144
Sebenarnya Huang oh hwesio sedang bergirang hati karena kebesaran jiwa pemuda itu tapi keningnya segera berkerut setelah mendengar perkataan dari Thi Eng khi itu, diam-diam ia menghela napas dan berpikir : Nak, mengapa dalam hal inipun pikiranmu tak bisa dibuka? Tapi diluaran ia tetap menjawab : Baik, dua tahun kemudian siauceng pasti akan menunggu kedatanganmu disini! Setelah berhenti sebentar, terusnya : Sekarang sudah seharusnya siauceng mewariskan ilmu simhoat Pek hui tiau yang dan Thian liong kiam hoat dari partai Thian liong pay itu kepada siau sicu. Tadi sebenarnya terlintas dalam benak Thi Eng khi untuk meminta petunjuk kepada Huang oh siansu tentang bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan dari Jit sat ci, tapi sekarang bukan saja ingatan tersebut sudah dilupakan, bahkan ingatan untuk minta belajar ilmu sakti Thian liong pay pun diurungkan, bahkan ia semakin bertekad untuk tidak pulang ke Huay im untuk sementara waktu. Sebab dia hendak menemukan kembali kitab Thian liong pit kip yang telah hilang bersama lenyapnya kakeknya itu, lalu dengan mengandalkan kekuatan sendiri untuk menegakkan kembali nama besar Thian liong pay serta membalaskan sakit hati dari ayahnya. Iapun bertekad untuk menampik maksud baik dari Huang oh siansu tersebut, maka dengan sopan dia berkata : Budi kebaikan siansu pasti akan kubalas, boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu! Setelah menjura, dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana. Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, berarti penawaran itu telah ditampik, Huang oh siansu segera tertawa paksa katanya :

145
Siau sicu amat gagah dan perkasa, dikemudian hari pasti akan berhasil dengan sukses, cuma contoh didepan mata sudah jelas, aku harap sicu suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum mengambil keputusan. Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, dia berhenti seraya berpaling, serunya : Boanpwe menerima nasehat itu! Dalam waktu singkat, dia sudah berada hampir satu kaki jauhnya dari tempat semula. Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berwarna perak muncul dari belakang sebuah batu, kemudian dengan cepat menghadang jalan pergi Thi Eng khi. Thi Eng khi sendiri hanya merasakan ada selapis kabut putih melayang didepan matanya, tanpa terasa dia mundur selangkah ketika mendongakkan kembali kepalanya, dia menjadi terbelalak dengan wajah berubah menjadi merah.

Ternyata orang yang menghadang jalan perginya itu adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, rambutnya yang panjang terurai sebahu, bajunya perak berkibar terhembus angin, kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan. Thi siauhiap! terdengar gadis itu berseru sambil berkerut kening, harap tunggu sebentar, siau li ingin mengucapkan beberapa patah kata kepadamu! Kemudian sambil melintas dari samping Thi Eng khi, dia menyelinap ke hadapan Huang oh siansu dan menubruk ke dalam pelukannya. Oooh ayah! pekiknya sedih, sungguh rindu anakmu Ting-ting! Dengan cepat Huang oh siansu mendorong gadis itu sambil berseru dengan gugup :

146
Nona, jangan salah melihat orang, pinceng adalah Huang oh, sama sekali tidak kenal denganmu! Noan berbaju perak itu agak tertegun, kemudian sambil menubruk kembali ke pelukan pendeta itu, serunya : Ooh ayah! Semua percakapanmu dengan Thi siauhiap telah kudengar, apakah kau benar-benar sudah lupa dengan putrimu sendiri Ting-ting ....? Oleh karena suatu alasan, Huang oh siansu tidak mau mengakui asal-usulnya dengan Thi Eng khi, sedang terhadap gadis yang bernama Ting-ting inipun dia merasa amat rikuh, sebab dia sudah tahu putri siapakah dia, padahal berbicara dari situasi yang sedang dihadapinya itu, mustahil baginya untuk menyangkal. Maka dengan perasaan apa boleh buat, pendeta itu cuma manggut-manggut belaka. Melihat itu, Ciu Ting ting segera berseru : Ibu telah memberitahukan segala sesuatunya kepada Ting ji, ketika kau orang tua meninggalkan rumah, Ting ji baru dilahirkan dua bulan, tentu saja kau orang tua tak akan kenal dengan Ting ji. Tapi sekarang Ting ji telah berhasil mempelajari ilmu pedang Liu soat kiam hoat milik kau orang tua, bila Ting ji sudah memainkan ilmu pedang tersebut, kau orang tua pasti akan yakin jika Ting ji bukan cuma mengaku ngaku saja .... ! Dalam keadaan begini ternyata Ciu Ting-ting masih bisa berpikir secermat itu, dari sini dapat diketahui bahwa dia memang seorang gadis yang luar biasa. Begitulah, seusai berkata dia lantas meloloskan pedangnya, setelah memberi hormat kepada pendeta itu, diapun mainkan ilmu pedang Liu soat kiam hoat itu satu jurus demi satu jurus. Selapis cahaya keperak-perakan dengan cepat membungkus seluruh tubuhnya yang langsing itu.

147
Hawa pedang menderu-deru, angin tajam menyapu keempat penjuru. Thi Eng khi dipaksa tak kuat berdiri tegak sehingga tanpa terasa dia mundur beberapa langkah. Sepasang mata Huang oh siansu berkedip-kedip seakan-akan dari tubuh Ciu Ting ting, ia terbayang kembali bayangan tubuh dari sobatnya yang telah tiada itu, sambil menghela napas dia lantas

bergumam : Terpaksa aku harus bersikap demikian! Dengan cepat, ia mengambil suatu keputusan aneh. Ketika menyelesaikan ke delapan puluh satu jurus ilmu pedang Liu saot kiam hoat itu, paras muka Ciu Ting ting masih tetap tenang, napasnya tidak memburu, mukanya tidak merah, seakan-akan ia tak pernah melakukan sesuatu apapun. Huang oh siansu tidak menyangkal, juga tidak mengakui, dia hanya tersenyum dengan mulut membungkam. Tapi justru melihat senyuman tersebut, perasaan Ciu Ting ting menjadi sangat lega, dengan cepat dia membaringkan diri dalam pelukan pendeta itu. Dengan lemah lembut, Huang oh siansu membelai rambutnya yang lembut, kemudian katanya sambil tertawa : Pinceng Huang oh, panggillah aku dengan sebutan Huang oh siansu saja! Baik! jawab Ciu Ting ting sambil tersenyum, pendeta memang tak boleh punya anak, kemudian hari aku akan memanggil ayah sebagai Huang oh siansu. Thi Eng khi yang menyaksikan adegan pertemuan ayah dan anak itu kemudian membayangkan nasib yang menimpa dirinya sendiri, tanpa terasa timbul rasa sedih dalam hatinya, ia merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan setetes air mata jatuh berlinang.

148
Padahal mana ia sangka kalau Huang oh siansu sesungguhnya adalah ayahnya sendiri, Ciu Ting ting yang sekarang sedang mengecap kebahagiaan itulah baru seorang anak yang benar-benar patut dikasihani. Dengan senyuman dikulum Ciu Ting ting berjalan ke hadapan Thi Eng khi, kemudian setelah memberi hormat katanya : Siaumoy Ciu Ting ting benar-benar ikut berduka cita atas kematian empek Thi, selain itu juga memohonkan maaf bagi ayahku atas perbuatannya di masa lalu! Sikapnya supel, ucapannya bersungguh-sungguh dan cukup membuat orang merasa terharu. Cepat-cepat Thi Eng khi menyeka air mata yang membasahi wajahnya, kemudian sambil tertawa paksa, sahutnya : Ucapan Ciu lihiap terlampau serius, siaute sama sekali tidak bermaksud untuk membenci ayahmu. Sungguh? seru Ciu Ting ting sambil berkenyit alis. Siaute berbicara dengan sejujurnya. Kalau begitu kau akan membatalkan juga perjanjianmu untuk bertemu pada dua tahun kemudian? Sebagai anak sudah seharusnya menjunjung nama baik orang tua, pertemuan dua tahun kemudian tak berani siaute lupakan. Jawab Thi Eng khi tegas. Dengan wajah bersungguh, Ciu Ting ting segera berseru : Siaute justru ingin minta petunjuk dari Thi siauhiap mengenai persoalan ini. Thi Eng khi agak tertegun. Dalam hal apakah siaute telah berbuat tidak sepantasnya?

149
Thi siauhiap, tolong tanya apa yang sebenarnya hendak kau buktikan di dalam pertemuan dua tahun kemudian? Thi Eng khi belum pernah berbicara dengan kaum gadis, jangan dikata mukanya sudah memerah sedari tadi, bahkan kekosenannya entah mengapa juga turut lenyap tak berbekas, dia hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa sepotong perkataanpun yang bisa diucapkan. Dengan wajah sedih kembali, Ciu Ting ting berkata : Ayahmu dan ayahku disebut orang Bu lim siang giok, sesungguhnya hubungan persahabatan mereka sangat karib. Buktinya, akibat dari kematian ayahmu, ternyata ayahku juga telah meninggalkan anak bininya untuk hidup mengasingkan diri sebagai seorang pendeta, dari sini bisa diketahui betapa dalamnya rasa sedih yang mencekam perasaannya. Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata : Hanya dikarenakan ingin menangnya sendiri, kedua orang tua kita telah menciptakan keadaan yang begini tragis, sedang sekarang Thi siauhiap ingin melanjutkan kembali tragedi itu dengan kejadian lain, siaumoy yang bodoh jadi ingin bertanya, sesungguhnya apa maksud dan tujuan siauhiap yang sebenarnya? Thi Eng khi merasakan pikiran maupun perasaannya menjadi sangat kalut, untuk sesaat lamanya ia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menjawab ucapan tersebut. Terdengar Ciu Ting ting kembali berkata : Bila siauhiap bersikeras ingin membuktikan kalau ilmu silat aliran Thian liong pay melebihi kepandaian ayahku, bagaimana seandainya siaumoy mewakili ayahku mengaku kalah ..? Kalau tidak, aku mohon dengan sangat agar kau bersedia memandang pada hubungan persahabatan kedua orang tua itu untuk menghapuskan masalah tersebut sampai disini saja! Paras muka Thi Eng khi berubah agak memucat, ia merasa setiap perkataan dari Ciu Ting ting sangat masuk akal sekali, sehingga pikiran sendiripun terasa menjadi ikut goyah.

150
Thi siauhiap, apakah kau menganggap ucapan siaumoy itu tidak bisa diterima dengan akal sehat? terdengar Ciu Ting ting kembali berseru dengan lantang. Thi Eng khi adalah seorang lelaki yang berjiwa besar, bukan saja ia mau tahu keadaan orang juga berani mengakui kesalahannya sendiri. Ia lantas tertawa terbahak-bahak. Haaahhh haaahhh.. haaahhh. terima kasih banyak nona Ciu atas nasehatmu yang telah membebaskan aku dari kebimbangan, terimalah hormat dari siaute! Dengan sungguh-sungguh dia lantas menjura dalam-dalam. Menyusul kemudian, dia pun memberi hormat kepada Huang oh siansu sembari berkata : Siansu dan ayahku adalah sahabat karib bila boanpwe telah bertindak kurang sopan tadi, harap siansu pun bersedia untuk memaafkan.

Huang oh siansu menjadi girang setengah mati, sebentar dia memandang kearah Ciu Ting ting, sebentar kemudian memandang ke arah Thi Eng khi lalu katanya sambil tertawa : Pinceng benar-benar merasa banyak berhutang kepada kalian! Sekali lagi Thi Eng khi memberi hormat. Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu! Dengan langkah lebar, dia lantas menuruni bukit. Dengan cepat, Ciu Ting ting memburu ke depan seraya berseru : Thi siauhiap, kalau memang kau sudah menyadari, mengapa tidak mempelajari Pek hui tiau yang dan Thian liong kiam hoat lebih dahulu sebelum pergi!

151
Thi Eng khi tidak berbicara apa-apa lagi, tanpa berpaling dia melanjutkan perjalanannya ke depan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Melihat itu, Ciu Ting ting segera bergumam : Aaai . dia .. dia pergi juga sambil mengeraskan hatinya! Seandainya Thi siauhiap tetap tinggal di sini, pinceng juga tak akan mewariskan apa-apa kepadanya, ujar Huang oh siansu, kepergiannya ini justru merupakan pilihan yang paling tepat, pinceng malah merasa kagum sekali kepadanya! Dia bakal ke mana? tanya Ciu Ting ting dengan perasaan agak kuatir. Bila dugaan pinceng tidak salah, kemungkinan besar dia sedang pergi mencari kitab pusaka Thian liong pit kip perguruannya. Sesungguhnya Huang oh siansu memang menaruh rasa sesal terhadap keturunan sahabat karibnya ini, maka ketika dilihatnya gadis itu seperti menaksir putranya, sekulum senyuman riang segera tersungging diujung bibirnya. Dengan gerakan yang amat cepat Thi Eng khi menuruni bukit Thi san dan melanjutkan perjalanannya dengan menelusuri sungai Tiang kang. Sepanjang perjalanan, pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, ia merasa bisa jaya atau tidaknya partai Thian liong pay tergantung pada berhasil atau tidaknya ia menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut. Sedang satu-satunya kemungkinan untuk berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip adalah menuju keluar perbatasan dan mengunjungi Tiang pek lojin yang diminta kakeknya untuk menyampaikan pesan terakhirnya itu Maka diapun bertekad untuk berangkat keluar perbatasan dan untuk sementara waktu tidak kembali ke kota Huay im.

152
Pengalaman pahit di perkampungan Ki hian san ceng serta mara bahaya yang dialaminya di bukit Bong soat hong, membuat pengetahuan serta pengalamannya semakin bertambah. Sepanjang jalan dia selau berusaha untuk bertindak hati-hati dan menghindari segala kejadian yang tak diinginkan, benar juga, dengan lancar akhirnya tibalah dia di Si hong ko. Asal dia sudah melampaui tembok besar maka wilayah tersebut sudah disebut sebagai luar perbatasan.

Pada saat yang bersamaan dengan tibanya Thi Eng khi di kota So hong ko, seorang pendeta dan seorang tosu yang mencurigakan gerak-geriknya bermunculan pula di sekitar pemuda itu sambil diamdiam menguntit perjalanan anak muda tersebut. Thi Eng khi langsung mencari rumah penginapan untuk beristirahat, seusai makan malam dia memanggil pelayan untuk mencari keterangan tentang luar perbatasan serta seseorang yang bernama Tiang pek lojin. Ternyata Tiang pek lojin mempunyai nama yang amat tersohor di luar perbatasan, hampir setiap orang mengetahui namanya dan setiap orang tahu siapakah dirinya. Mengetahui akan hal itu, Thi Eng khi menjadi tidak kuatir kalau tak sampai bertemu dengan Tiang pek lojin, maka saking girangnya semalaman ia hampir tak bisa tidur. Keesokan harinya. sebelum fajar menyingsing, ia sudah melangkahkan kakinya di luar perbatasan. Perasaannya waktu itu selain agak terpengaruh emosi, juga merasa agak kuatir. Emosi karena tujuannya hampir sampai dan kabar berita tentang kitab pusaka Thian liong pit kip juga segera akan terungkap.

153
Ia kuatir karena tak tahu manusia macam apakah Tiang pek lojin itu? Apakah dia juga seperti orang kenamaan yang pernah dijumpainya dalam perkampungan Ki hian san ceng, meski bernama besar tapi sombongnya bukan kepalang, andaikata memang demikian, itu berarti tipis harapan baginya untuk bisa mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut. Begitulah, dengan perasaan yang gundah dan pikiran yang kalut, entah beberapa jauh ia sudah melanjutkan perjalanannya. Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang serak tua : Siauhiap memakai jubah baju biru dan menyoren pedang Thian liong kim kiam, apakah kau adalah anak murid Thian liong pay? Mendengar teguran itu, Thi Eng khi merasa terperanjat, ia tidak segera menjawab melainkan mengamati orang tersebut dengan sinar mata yang tajam. Tampak olehnya orang yang berbicara itu berperawakan tinggi besar, berwajah merah bersinar dan berambut memutih semua, matanya tajam bagai sembilu, jelas merupakan seorang jago silat yang berilmu tinggi ..... Dengan cepat, Thi Eng khi menjawab : Aku adalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, tolong tanya siapakah nama lotiang? Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek tersebut setelah mendengar perkataan itu, dengan kejut bercampur girang, serunya tertahan : Oooh..... rupanya kau adalah Thi ciangbunjin dari partai Thian liong pay yang namanya menggetarkan daratan Tionggoan, aku si orang tua adalah Tam ci toa tiau (rajawali besar bersayap tunggal) Ting Tian yu ......! Maaf bila aku bersikap kurang hormat! Sikapnya segera berubah menjadi amat serius.

154
Thi Eng khi menjadi agak curiga, dia merasa tingkah laku dari Tam ci toa tiau Ting Tian yu terlampau berlebih-lebihan, sebab menurut pengalamannya, tak mungkin orang akan bersikap begitu hormat terhadap seorang ketua dari Thian liong pay yang sudah daluwarsa. Maka diapun tidak berbicara apa-apa lagi selain mendengus dingin. Siapa tahu, wajah Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera menunjukkan sikap yang amat gelisah, buru-buru tanyanya lagi : Cianbunjin, persoalan apa yang membuatmu tak senang hati? Sikapnya tampak malah semakin menaruh hormat lagi, seakanakan kuatir kalau sikapnya itu kurang hormat. Ting tayhiap, apakah kau sedang bermain sandiwara dihadapanku? tegas Thi Eng khi dengan wajah dingin. Tam ci toa tiau Ting Tian yu adalah seorang anak buah Tiang pek lojin yang mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Selain itu, dia juga memiliki iman yang tebal. Dengan cepat dia sadar bahwa Thi Eng khi terlalu banyak curiga. Maka sambil menghela napas katanya : Semua jago persilatan yang berada di luar perbatasan hampir sebagian besar menaruh hormat kepada partai anda, puluhan tahun bagaikan sehari ..... aaai! Harap siauhiap jangan salah paham, aku sama sekali tidak mempunyai maksud lain! Thi Eng khi menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian : Kalau didengar dari perkataan Ting tayhiap, rupanya kalian sudah mengetahui jelas atas semua musibah yang menimpa partai kami di wilayah Tionggoan? Tangcu kami sangat menaruh perhatian terhadap situasi dalam dunia persilatan, oleh sebab itu seringkali kami mengutus orang untuk mencari tahu situasi dalam dunia persilatan, akulah yang

155
sebenarnya ditugaskan untuk menyambut kedatangan Thi ciangbunjin. Mencorong sinar aneh dari balik mata Thi Eng khi yang terbelalak besar katanya : Siapakah Tangcu kalian? Mengapa dia menaruh perhatian khusus kepadaku? Tangcu kami adalah orang yang hendak dikunjungi Thi ciangbunjin dalam perjalanan kali ini. Dengan cepat Thi Eng khi berpikir : Jangan-jangan Tiang pek lojin sudah mengetahui akan maksud kedatanganku? Maka dia sengaja menggunakan cara begini untuk menyumbat dulu mulutku sehingga aku merasa sungkan untuk meminta kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut? Hmmm! Kali ini aku tak akan mempedulikan soal peraturan dunia persilatan. Padahal dia sama sekali tidak memahami peraturan dunia persilatan, apa yang terpikir olehnya sekarang tak lebih hanya suatu reaksi belaka ..... Setelah termenung sebentar, katanya kemudian : Ooh.....! Rupanya Ting tayhiap adalah orang yang diutus Tiang

pek lojin untuk menyambut kedatanganku, sungguh membuat hatiku terharu sekali. Tangcu kami lebih dikenal orang luar perbatasan sebagai It tek ang, sedangkan sebutan Tiang pek lojin sudah jarang sekali dipergunakan lagi, Tam ci toa tiau Ting Tian yu menerangkan. Terhadap manusia yang bernama It tek ang ini Thi Eng khi boleh dibilang tidak begitu mengerti, tapi menggunakan julukan It tek (budi luhur) sebagai julukannya sesungguhnya dirasakan sebagai sesuatu takabur, maka dalam hati kecilnya segera timbul perasaan antipatik hingga tanpa banyak berbicara lagi, dia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar.

156
Si rajawali besar bersayap tunggal Ting Tian yu juga tidak berkata apa-apa lagi, dengan kencang dia mengikuti dibelakangnya. Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, perjalanan sudah dilakukan cukup jauh, tapi sepatah katapun mereka tidak berbicara. Mendadak dari kejauhan sana tampak debu membumbung tinggi ke angkasa, menyusul kemudian tampak seekor kuda dilarikan kencang melaju ke arah mereka. Dalam waktu singkat, ia sudah berada di depan Thi Eng khi berdua, belum lagi kudanya berhenti, sesosok bayangan manusia sudah melompat meninggalkan pelana, kemudian dari tengah udara terdengar seseorang berseru dengan nyaring : Paman Ting, bocah muda inikah orangnya? Ternyata yang muncul adalah seorang nona yang berwajah cantik tapi binal, wajahnya yang keras menunjukkan bahwa dia seorang gadis yang tidak takut langit tidak takut bumi. Mendengar dirinya dipanggil Siaucu Thi Eng khi merasa mendongkol sekali, dengan kening berkerut dia lantas melengos kearah lain dan enggan bertemu dengannya. Tam ci toa tiau Ting Tian Yu membuat muka setan kepada nona itu, lalu menggerakkan tangan memberi kode, setelah itu dengan suara berat sengaja serunya : Bocah perempuan, makin lama semakin tak tahu adat, Thi siauhiap adalah seorang ketua dari suatu partai persilatan, berani betul kau bersikap kurang ajar! Karena didengarnya nona itu sudah ditegur, Thi Eng khi merasa rikuh sendiri, maka buru-buru ia berpaling sambil bersiap-siap hendak menjumpainya. Tampak nona binal itu telah berseru sambil menarik muka : Di luar perbatasan, sebutan Siaucu masih lebih terhormat dan hangat daripada sebutan tayhiap. Hei! Menurut kau, lebih baik kusebut dirimu sebagai siauhiap atau Siaucu?

157
Agaknya Thi Eng khi tidak menyangka kalau pihak lawan begitu terbuka dan terang-terangan, untuk sesaat dia menjadi gugup sendiri dan tak tahu apa yang musti dilakukan. Setelah tertegun dengan perasaan apa boleh buat, dia baru berkata : Aku ....... aku ..... terserah pada nona sendiri mau menyebut apa kepadaku ....

Ketika dilihatnya Thi Eng khi mendapat malu, Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera tertawa terbahak-bahal. Thi ciangbunjin, mari kita perkenalkan. Sambil menarik nona itu, terusnya : Dia adalah cucu kesayangan Tangcu kami, orang menyebutnya Pek leng siancu So Bwe Leng, nona So! Tidak menunggu Tam ci toa tiau Ting Tian yu memperkenalkan Thi Eng khi, dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng telah berseru lebih dahulu : Kau adalah cucunya Keng thian giok cu Thi yaya dari partai Thian liong pay, anaknya paman Thi dan ketua partai saat ini Thi Eng khi Thi siauhiap! Betul bukan? Di tengah gelak tertawa merdunya, dia lantas melompat naik keatas kudanya dan membedalnya kencang-kencang. Paman Ting! terdengar ia berseru keras Kau tak boleh sampai kurang hormat terhadap tamu, aku akan berangkat duluan! Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Tam ci toa tiau Ting Tian yu segera menuntun dua ekor kuda yang dibawa oleh si nona tadi, kemudian sambil menyerahkan seekor kuda berbulu hitam kepada Thi Eng khi, katanya :

158
Kuda ini kuda mestika Meh giok poo be milik tangcu kami, mari kita lanjutkan perjalanan siauhiap! Sikapnya terhadap pemuda itu tampak lebih akrab lagi. Thi Eng khi bukanlah seorang yang mengerti soal kuda, dia mengira ucapan dari Tam ci toa tiau Ting Tian yu hanya merupakan suatu penampilan bahwa Tiang pek lojin amat menaruh hormat kepadanya. Dasar pemuda itu memang sudah menaruh benih curiga, sebelum bersua sendiri dengan Tiang pek lojin, dia enggan banyak bicara, maka tanpa banyak basa basi lagi dia melompat naik keatas kuda Meh giok poo be yang dibilang mestika itu. Benar juga, Thi Eng khi segera merasa bahwa kuda itu dapat bergerak dengan cepat dan enteng sekali, untuk mengimbangi kecepatan lari kudanya itu, ternyata kuda yang ditunggungi Tam ci toa tiau Ting Tian yu harus dilarikan sekencang-kencangnya. Setelah ada bukti tersebut, walaupun Thi Eng khi tidak memiliki pengetahuan tentang kuda, dia dapat juga mengetahui kalau kuda itu memang benar-benar bukan kuda sembarangan. Tanpa terasa segera pujinya : Sungguh seekor kuda jempolan yang sangat hebat! Sambil tertawa Rajawali besar bersayap tunggal Ting Tian yu berkata lagi : Siauhiap, bila kau ada minat, apa salahnya untuk melarikan kuda itu secepat-cepatnya untuk mencoba sampai dimanakah kehebatan kuda mestika ini? Thi Eng khi menjadi sangat tertarik, dengan cepat dia menghempit kakinya kencang-kencang dan mencemplak kudanya, diiringi suara ringkikan panjang dengan cepat kudanya membedal ke depan dengan amat cepatnya. Setelah dicoba, ia baru kaget bercampur kagum, serunya dihati :

159
Ooooh.... ternyata yang dinamakan kuda mestika yang bisa lari seribu li dalam sehari bukan cuma kata-kata bualan didalam buku bacaan saja ...... Setelah dilarikan sekian waktu, bayangan tubuh Tam ci toa tiau Ting Tian yu yang berada di belakang ternyata sudah lenyap dari pandangan mata. Thi Eng khi segera menarik tali les kudanya dan memperlambat lari kuda itu, maksudnya hendak menunggu kedatangan Tam ci toa tiau Ting Tian yu. Siapa tahu sekalipun sudah ditunggu sekian waktu, yang ditunggu-tunggu belum nampak juga sementara bayangan kota sudah kelihatan di depan sana, maka diapun melarikan kudanya menelusuri jalan raya kota itu. Waktu itu adalah saat ramai-ramainya orang berlalu lalang dalam kota tadi, entah kenapa secara tiba-tiba suasana menjadi sangat hening, semua orang yang berada disekeliling tempat itu menunjukkan sikap yang amat menghormat sekali, sementara mereka yang kebetulan berada ditengah jalan segera menyingkir kesamping sambil membungkukkan badan memberi hormat. Thi Eng khi mengira dari belakangnya muncul seorang pembesar, buru-buru dia berpaling, tapi disana tak nampak seorang manusiapun. Dengan perasaan bingung, ia lantas berpikir : Mungkinkah mereka menunjukkan sikap menghormat karena aku adalah seorang ketua dari Thian liong pay? Mungkinkah nama Thian liong pay meskipun dicemooh didaratan, tapi masih dihormati oleh orang-orang luar perbatasan? Ia merasa hal ini mustahil, sehingga tanpa terasa menggelengkan kepalanya berulang kali. Mendadak ia seperti menyadari akan sesuatu, segera berpikir lebih jauh :

160
Aah! Benar, Meh giok poo be adalah kuda tunggangan It tek ang! Tampaknya kedudukannya It tek ang di luar perbatasan selain disanjung dalam dunia persilatan, juga dihormati oleh setiap penduduk. Dia tak ingin membonceng ketenaran orang maka buru-buru dia melompat turun dari kuda dan berjalan sambil menuntun kuda tunggangannya itu. Setelah menembusi sebuah jalan raya, sampailah pemuda itu didepan sebuah rumah makan, sementara ia sedang mempertimbangkan apakah akan menunggu kedatangan Tam ci toa tiau atau tidak, tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelabat lewat. Tahu-tahu So Bwe leng sudah muncul di depan matanya, dengan serius dia lantas berseru : Thi ciangbunjin, silahkan masuk ke dalam untuk beristirahat! Seorang pemuda baju hijau segera muncul untuk menyambut kuda Meh giok poo be itu. Thi Eng khi tak enak untuk menampik, maka dia lantas masuk

kedalam rumah makan itu. Dalam rumah makan tersebut telah disiapkan hidangan yang lezat sekali. Thi Eng khi dipersilahkan untuk duduk di kursi utama, sementara So Bwe leng menemaninya di samping. Kali ini So Bwe leng sangat jarang berbicara, bukan saja sopan santun, sikapnya juga amat menaruh hormat, bagaikan sikap seorang dayang terhadap majikannya. Thi Eng khi merasa canggung sekali dalam suasana begini, ia merasa gerak geriknya menjadi tidak bebas. Untung saja pada saat itulah Tam ci toa tiau Ting Tian yu berjalan masuk, terdengar ia tertawa terbahak-bahak.

161
Haahhh. Haaahhh. haahhh. Hian titli kalau yayamu sampai tahu kalau kau sedang mempermainkan Thi siauhiap, jangan salahkan aku jika kau dicaci maki habis-habisan! Sambil berkata dia lantas berjalan ke samping meja dan duduk disitu. Aah, dia kan seorang ketua dari suatu perguruan besar, seru So Bwe leng dengan cepat, kalau aku tidak menaruh hormat kepadanya, apakah ia tidak akan mentertawakan orang persilatan diluar perbatasan yang pasti dibilangnya tak tahu sopan santun. Seraya berkata, dengan sepasang biji matanya yang jeli, dia awasi Thi Eng khi lekat-lekat. Menghadapi situasi semacam ini, Thi Eng khi menjadi amat rikuh. Katanya kemudian smabil tertawa : Entah kesalahan apakah yang telah kuperbuat terhadap nona? Harap nona suka memberi petunjuk, lain kali pasti akan kuperhatikan secara baik-baik. Sambil mengerdipkan sepasang matanya yang besar, So Bwe leng segera berkata : Kecuali kalau dengan tulus iklas kau bersedia dipanggil sebagai Siaucu (bocah keparat) olehku, kalau tidak, aku akan selalu menganggap kau bagaikan malaikat! Rupanya dia masih dikarenakan rasa dongkolnya di tengah jalan tadi, atau mungkin saja dia memang mempunyai tujuan lain. Tampaknya Thi Eng khi benar-benar merasa takut dengan permainan nona itu, terpaksa katanya sambil tertawa : Jika nona So lebih suka memanggil Siaucu kepadaku, panggillah dengan sebutan Siaucu! So Bwe leng menjadi girang sekali ketika dilihatnya pemuda itu sudah takluk, katanya sambil tertawa : Tidak berani, tidak berani ....

162
Tam ci toa tiau Ting Tian yu kuatir nona itu menggoda lebih jauh, buru-buru dia mengambil mangkok dan sumpit seraya berkata : Hayolah bersantap dulu! Kita masih harus melanjutkan perjalanan jauh! Sambil tertawa terbahak-bahak So Bwe leng segera menghadiahkan sepotong babi gemuk kepadanya. Silahkan! Silahkan! serunya .

Selama hidup Thi Eng khi paling tidak doyan babi. Tapi sekarang mau tak mau dia mesti telan babi itu dengan kening berkerut sekalipun. Ia sudah pernah merasakan kelihayan nona cilik itu, dia tak berani mencari gara-gara lagi dengannya. Begitulah, sepanjang jalan Thi Eng khi harus selalu bersikap hatihati, apalagi menghadapi So Bwe leng yang sering menggodanya. Sepuluh hari perjalanan kemudian, akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan. Benteng keluarga So bukan suatu kota yang terlampau besar, tapi kedudukannya diluar perbatasan hampir setaraf dengan kedudukan Bu tong pay dan Siau lim pay didaratan Tionggoan. Sebab disinilah tempat tinggal It tek ang (Tiang pek lojin) So Seng pak yang merupakan pemimpin umat persilatan di luar perbatasan. Benteng keluarga So letaknya di luar kota sebelah barat daya, waktu itu benteng terbuka lebar, beratus orang anggota benteng berbaris rapi dikedua belah sisi jalan. Thi Eng khi sekalian dengan melewati sambutan yang meriah langsung menuju ke pintu benteng dan turun dari kuda.

163
Seorang kakek berusia lima puluh tahunan dengan senyuman dikulum segera menyambut kedatangan mereka. Ayah! teriak So Bwe leng sambil memburu ke depan,aku telah menyambut kedatangan Thi siauhiap! Tak usah disinggung lagi, kakek itu bukan lain adalah ayah So Bwe leng, Na im siusu (sastrawan penggaet awan) So Ping gwan adanya. Thi Eng khi segera memburu ke depan beberapa langkah, setelah memberi hormat katanya : Sikap dari empek sungguh membuat boanpwe merasa malu sendiri! Ternyata di dalam perjalanan sepuluh hari ini, Thi Eng khi telah mendapat tahu kalau It tek ang So Seng pak adalah sahabat karibnya Keng thian giok cu selama puluhan tahun, ketika mengetahui dunia persilatan mencemooh partai Thian liong pay yang hancur, So Seng pak merasa mendongkol sekali. Oleh sebab itu, semua kecurigaan yang semula mencekam perasaannya seketika tersapu lenyap. Sementara Na im siusu So Ping gwan sambil menggandeng tangan Thi Eng khi segera berseru dengan senyuman dikulum : Silahkan masuk siauhiap, ayahku sedang menantikan kedatanganmu dalam ruang dalam! Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan duluan. Setelah masuk ke dalam ruangan, Thi Eng khi menyaksikan diatas kursi kebesaran duduk seorang kakek berambut putih yang berperawakan tinggi besar dan berwajah keren. Ketika kakek itu menyaksikan kedatangan Thi Eng khi, dengan perasaan tergetar keras segera bangkit berdiri.

164

Buru-buru Thi Eng khi maju ke depan sambil memberi hormat, serunya dengan pelan : Boanpwe Thi Eng khi menjumpai So yaya! It tek ang So Seng pak segera menahan bahu Thi Eng khi dan tidak membiarkannya menyembah, setelah mempersilahkan duduk dan mengamati wajahnya beberapa saat, tiba-tiba ia menghela napas panjang, katanya : Meski Thi lo gagah perkasa, sungguh tak nyana pada akhirnya dia telah melakukan juga suatu kesalahan besar. Kakekku telah melakukan kesalahan apa? tanya Thi Eng khi dengan perasaan terkejut. It tek ang So Seng pak segera tertawa. Maksud lohu, bila ia tahu kalau cucunya sehebat ini, maka seharusnya dia tidak merasa putus asa .... Thi Eng khi baru memahami maksud kakek tersebut, setelah mendengar perkataan itu buru-buru katanya : Boanpwe bodoh dan tak becus, tidak pantas mendapat pujian dari kau orang tua, sesungguhnya ketika kakek meninggalkan rumah, boanpwe belum dilahirkan .... Aaah.... rupanya begitu! Setelah berhenti sebentar, lanjutnya : Jauh-jauh siauhiap datang kemari, apakah kau ingin menyaksikan masalah kakekmu? Benar! jawab Thi Eng khi sambil mengangguk, menurut wasiat kakek, boanpwe tidak seharusnya terjun kembali ke dunia persilatan..... Itulah kesalahan kakekmu, sela It tek ang So Seng Pak, seandainya waktu itu dia tahu kalau dirinya bakal mempunyai cucu seperti kau, sudah pasti tindakan yang diambilnya akan berbeda.

165
Secara ringkas Thi Eng khi lantas menceritakan apa yang dialaminya bersama Thian liong ngo siang, bagaimana dia diangkat menjadi ketua, bagaimana menemukan kitab Thian liong pit kip telah dibawa kakeknya dan lain-lain. Mendengar cerita tersebut, It tek ang So Seng pak segera tersenyum, katanya : kalau begitu, selain mencari tahu kabar berita kakekmu, kau juga bermaksud untuk mencari kitab pusaka Thian liong pit kip yang hilang itu ....? Benar! Jawab Thi Eng khi berterus terang, boanpwe memang datang karena persoalan itu, mohon So yaya suka memberi petunjuk kepada diri boanpwe.... It tek ang So Seng pak segera menghela napas panjang, katanya : Thi siauhiap, tahukah kau akan hubungan lohu dengan kakekmu itu..... Ketika Thi Eng khi mendengar It tek ang berulang kali memanggilnya dengan sebutan siauhiap lama kelamaan ia merasa canggung juga, tak tahan segera tukasnya : So yaya, bila kau tidak memandang asing diriku, harap memanggil boanpwe dengan sebutan nama saja. It tek ang segera tertawa tergelak.

Haahhh..... haaahhhh.... haaahhh.... kalau kau sendiri selalu menyebut diri sebagai boanpwe, bagaimana mungkin aku bisa memanggil dirimu dengan sebutan yang lebih rapat? Thi Eng khi merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka dengan wajah memerah buru-buru serunya minta maaf. So yaya, Eng ji tahu salah! Baru saja dia minta maaf, So Bwe leng tahu-tahu sudah menyelonong masuk ke dalam ruangan sambil menubruk ke dalam pangkuan kakeknya dia berseru manja :

166
Yaya, diapun selalu menganggap diriku sebagai orang luar! It tek ang segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... budak ingusan, kau pandainya cuma menggoda orang, kenapa kau tidak memanggil engkoh dulu kepadanya? Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi tak ingin kurang hormat lagi, maka buru-buru serunya : Adik Leng Buru-buru So Bwe leng memberi hormat seraya memanggil pula dengan merdu : Engkoh Eng! Sambil memegangi tangannya kakeknya dia mengawasi wajah pemuda itu, sedang sikapnya juga secara tiba-tiba menjadi alim dan sopan santun ..... It tek ang segera tertawa kepada Thi Eng khi ujarnya lebih jauh : Ketika lohu baru terjun ke dunia persilatan aku telah berkenalan dengan kakekmu dikota Hang ciu, karena saling mengagumi, kami melakukan pertandingan ilmu silat selama sepuluh kali dan mengikat diri menjadi sahabat. Kemudian lantaran lohu mengagumi ilmu silat kakekmu yang lebih lihay setingkat daripada kepandaian lohu, secara sukarela aku mengundurkan diri keluar perbatasan dengan harapan bisa berjuang di sana, puluhan tahun perjuangan akhirnya menghasilkan seperti apa yang kuperoleh sekarang ...... selama sepuluh tahun ini hubungan persahabatan kami masih berlangsung dengan akrab dan hangat ..... Sesudah menghela napas panjang, terusnya : Dua puluh tahun berselang, lohu mendapat kabar kalau kakekmu tiba-tiba pergi meninggalkan rumah tanpa diketahui sebab musababnya, baru saja aku akan mengutus orang untuk menyelidiki peristiwa ini, mendadak datang seorang penduduk disekitar tempat ini yang menyerahkan sebuah bungkusan, ketika kubuka bungkusan

167
tersebut, ternyata isinya adalah barang peninggalan dari kakekmu .... So yaya, jadi kau sama sekali tidak berjumpa dengan kakekku? sela Thi Eng khi. It tek ang menghela napas panjang, katanya lagi : Kakekmu menyuruh penduduk asli tersebut menyampaikan pesan yang meminta lohu menghantar bungkusan tersebut kembali ke partai Thian liong pay didaratan Tionggoan, waktu itu aku segera berangkat bersama penduduk asli itu untuk menuju ke tempat

pertemuan mereka dengan harapan bisa membereskan jenasahnya, siapa tahu kakekmu tidak nampak ada di situ, lohu menjadi sedih sekali, aku mengira jenasahnya mungkin sudah dilarikan binatang buas, maka dengan perasaan sedih akupun berangkat ke daratan Tionggoan untuk menyerahkan bungkusan itu kepada kalian. Mengenai apa isi bungkusan tersebut, lohu tidak membukanya maka juga tidak tahu, masa dia tidak mengembalikan kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut? Thi Eng khi telah mengalihkan perhatiannya pada penduduk asli tersebut, dengan cepat dia berkata : Kalau begitu, sekarang kita cuma bisa mendapat keterangan dari penduduk asli itu! It tek ang menghela napas panjang. Setelah kejadian, berulang kali lohu sudah menanyai orangorang itu, tapi dia tak lebih cuma menjalankan pesan orang saja dan soal lain tidak diketahuinya, lagi pula orang itu sudah meninggal pada tiga tahun berselang. Thi Eng khi segera merasakan kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, segenap harapannya terasa musnah dan lenyap tak berbekas. It tek ang cepat-cepat menghibur.

168
Ing ji, kau tak usah terlalu bersedih hati, terbayang ketika sepuluh kali aku beradu kepandaian dengan kakekmu meski kalah sedikit namun selisihpun tidak terlalu banyak, aku yakin pasti dapat membuatmu menjadi seorang jagoan yang termashur dalam dunia persilatan dan membangun kembali nama besar Thian liong pay. Dengan bakatmu itu, aku rasa dalam dua tahun saja seluruh kepandaian silat yang kumiliki sudah dapat kau pelajari, apakah kau memiliki kesabaran itu? Thi Eng khi tahu kalau It tek ang mempunyai maksud baik terhadapnya, tentu saja kakek tersebut tidak menduga kalau ia sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat perguruannya lebih dulu sebelum mempelajari ilmu silat aliran yang lain. Maka dengan perasaan minta maaf katanya : So yaya berhasrat mendidikku menjadi orang, seharusnya Eng ji merasa bergembira hati, tapi bagaimanapun juga Eng ji adalah seorang ketua dari Thian liong pay, orang bisa menertawakan diriku seandainya dalam bertempur nanti ilmu silat yang kupergunakan adalah ilmu silat bukan aliran Thian liong pay. Oleh sebab itu, terpaksa Eng ji harus menampik maksud baik kau orang tua. Mendengar perkataan itu, It tek ang segera tertawa terbahakbahak. Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... bagus! Bagus! Bocah, kau punya semangat! Besok akan kuajak dirimu untuk melakukan penyelidikan lagi di sekitar tempat kakekmu mendapat musibah, coba kita lihat bagaimanakah kemujuranmu. Thi Eng khi menjadi girang sekali, buru-buru ia bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada It tek ang. Sementara itu, dari luar pintu berjalan masuk seorang centeng yang segera membisikkan sesuatu ke sisi telinga It tek ang. Mendengar itu, It tek ang segera berpaling ke arah Thi Eng khi sembari bertanya :

169
Eng ji, sepanjang jalan kemari, tahukah kau kalau ada seorang hwesio dari Siau lim pay dan Tosu dari Bu tong pay yang menguntil dirimu secara diam-diam? Terbayang kembali akan kebaikan dari Keng hian totiang dan Ci kay taysu, Thi Eng khi lantas mengira kalau hwesio dan tosu itu adalah dua orang jago yang diutus Siau lim pay serta Bu tong pay untuk melindungi keselamatan jiwanya, maka sambil tersenyum dia menjawab. Siau lim pay maupun Bu tong pay sangat bersahabat dengan Eng ji, boleh jadi kedua orang itu memang diutus untuk melindungi Eng ji secara diam-diam, So yaya! Harap kau jangan menyusahkan mereka. It tek ang manggut-manggut, kepada centeng itu pesannya : Hwesio dan tosu itu bukan orang jahat, baik-baik layani mereka. Centeng itu mengiyakan dan segera mengundurkan diri. Hari itu juga Thi Eng khi dapat merasakan pelayanan paling ramah yang pernah dialaminya semenjak meninggalkan rumah, apalagi dilayani So Bwe leng yang binal dan pandai berbicara, membuat seluruh kemurungan dalam hatinya dapat diusir keluar dari benaknya. Malam itu, Thi Eng khi dihantar menuju ke sebuah bangunan mungil ditengah kebun, menurut orang tua itu, bangunan tersebut dulunya khusus dipakai untuk menyambut kedatangan kakeknya Keng thian giok cu. Dari sini dapat diketahui betapa tulusnya persahabatan It tek ang dengan kakeknya tanpa terasa Thi Eng khi merasa terharu sekali. So Bwe leng berbicara terus tanpa hentinya, ada saja bahan cerita yang muncul dari benaknya hingga larut malam dia baru berpamit dari kamar Thi Eng khi dengan perasaan berat, sebelum pergi dia sempat berpesan dengan sungguh-sungguh,

170
Engkoh Eng, bila besok kau akan pergi bersama yaya, jangan lupa memanggil aku ya! Sepeninggalan So Bwe leng, Thi Eng khi segera naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya, untuk pertama kali dalam hidupnya dua bayangan tubuh gadis cantik muncul bersama di dalam benaknya. Dia berusaha untuk membanding-bandingkan kedua gadis itu tapi kenyataannya makin dibandingkan pikirannya semakin bingung. Belum lagi hasilnya diperoleh, tahu-tahu ia sudah mulai terlelap tidur. Mendadak dari luar pintu berkumandang suara ketukan lirih, Thi Eng khi merasa terkejut dan segera sadar kembali dari tidurnya, buru-buru ia turun dari atas ranjang. Dari luar jendela terdengar seseorang berbisik dengan suara yang rendah dan berat: Setan tua itu jahat dan licik, ia bermaksud busuk kepadamu Thi siauhiap! Cepat bangun dan buka pintu, lolap ada rahasia penting hendak disampaikan kepadamu.

Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi tak bisa membedakan apakah berita itu benar atau tidak, dia lantas membuka pintu dan berjalan keluar. Tampak seorang hwesio berdiri di tengah halaman, ketika melihat pemuda itu munculkan diri, segera ia menggapenya sambil berseru : Cepat kabur! Disambarnya tangan Thi Eng khi kemudian dengan melompati dingin pekarangan kabur menuju ke arah pegunungan di belakang benteng sana..... Di satu pihak hwesio itu menyeret Thi Eng khi meninggalkan kamarnya, di pihak lain muncul seorang tosu dalam ruangan itu, ia mengeluarkan dua benda dan segera diletakkan diatas meja,

171
kemudian ditekan kuat-kuat sehingga diatas permukaan meja itu muncul bekas dari dua macam benda tersebut. Kemudian ia baru melompat keluar dari kamar dan kabur dari tempat tersebut. Keesokan harinya, suasana dalam benteng keluarga So menjadi sangat gempar ketika mengetahui lenyapnya Thi Eng khi. It tek ang So Seng pak segera memburu kekamar Thi Eng khi, begitu melihat dua buah bekas di meja baca itu, kontan saja hawa amarahnya berkobar. So Bwe leng dengan perasaan ingin tahu segera bertanya : Yaya, bekas apakah ini? Apakah engkoh Thi sudah dilarikan oleh mereka? Kurang ajar benar orang-orang Siau lim pay dan Bu tong pay, seru It tek ang So Seng pak dengan marah, berani betul tidak pandang sebelah mata kepadaku dan membuat keonaran disini, kalau tidak kuberi sedikit pelajaran, malu aku menjadi seorang jagoan dari luar perbatasan! Sambil berpaling dan melotot ke arah So Bwe leng, serunya : Budak, cepat panggil kemari ayahmu! Sambil menjulurkan lidahnya So Bwe leng mengiakan, segera dia lari keluar dari kamar. Tak lama kemudian Na im siusu So Peng gwan sudah diajak menuju kamar itu. Begitu melihat kedatangan Na im siusu It tek ang segera berseru dengan nyaring : Siau lim pay dan Bu tong pay sungguh terlalu menghina orang, berani benar mereka menculik orang dari dalam benteng kita. Segera turunkan tanda perintah Mek yu ciam leng dan kumpulkan Tiang pek sam nio (tiga burung dari bukit Tiang pek), Hek san cap pwe khi (delapan belas penunggang kuda dari Hek san), Pek sui su

172
kui (empat setan dari Pek sui) dan Boan san siang koay (sepasang siluman dari Boan san) untuk mengikuti aku menuju ke daratan Tionggoan. Kemudian kau kumpulkan lagi segenap jago nomor wahid di luar perbatasan dan didalam setengah bulan kemudian menyusul aku didaratan! Hmm! Akan kulihat, dengan mengandalkan apakah sehingga mereka begitu berani berani berbuat kurang ajar! Na im siusu So Peng gwan membuka mulut ingin berbicara, tapi

segera dicegah It tek ang sambil katanya : Keputusanku sudah bulat, urusan lain aku masih bisa menerimanya, tapi kalau ada orang berani menghina dan menganiayanya Thian liong pay, aku tak bisa berdiam diri saja! Sekalipun It tek ang sudah tua usianya, namun wataknya masih berangasan, apalagi kalau sudah marah, keputusan yang telah diambil untuk mencoba kekuatan Siau lim pay dan Bu tong pay tak bisa diurungkan lagi. So Bwe leng yang berada disampingnya dengan cepat membakar hati kakeknya, serunya : Betul yaya, jika kau tidak bisa membalas dendam buat engkoh Eng, percuma menjadi jagoan disini! Budak sialan! Na im siausu So Peng gwan segera membentak, siapa yang suruh kau banyak usul disini? Hayo cepat enyah dari tempat ini! So Bwe leng segera menarik wajahnya menunjukkan wajah yang pantas dikasihani, pelan-pelan dia melangkah keluar dari situ, sementara sepasang matanya dialihkan kearah kakeknya minta bantuan. It tek ang memang paling sayang dengan cucu perempuannya itu, dia segera mendengus : Nak, bereskan juga barangmu, besok ikut yaya berangkat ke daratan Tionggoan untuk menambah pengalaman! So Bwe leng segera membuat muka setan kepada ayahnya, kemudian cepat-cepat melompat pergi.

173
Na im siusu So Peng gwan yang menyaksikan keadaan ini cuma bisa menggelengkan kepalanya belaka, diapun segera beranjak pergi untuk melaksanakan tugasnya. Thi Eng khi diseret oleh hwesio itu menuju keluar benteng, tak lama kemudian mereka sudah menelusuri tanah perbukitan, satu jam sudah mereka melakukan perjalanan, namun hwesio tersebut belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Lama-kelamaan Thi Eng khi menjadi curiga, ia merasa heran kenapa hwesio itu menyeretnya pergi sejauh itu. Maka sambil menghentikan larinya dia lantas berseru: Siansu, ada urusan apakah kau? Kalau ingin berbicara, lebih baik di tempat ini saja! Mendadak hwesio itu berhenti dan tertawa seram. Heeehh.... heeehh.... heeehhh.... begitupun boleh juga, bagus, bagus, Thi ciangbunjin! Coba kau teliti dulu siapakah lolap? Sambil berkata dia membalikkan badan dan maju mendekat si anak muda itu. Dengan sinar mata yang tajam, Thi Eng khi mengawasi wajahnya, kemudian jeritnya kaget : Huan im sin ang! Rupanya kau ..... Huan im sin ang segera tertawa terkekeh-kekeh. Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh..... jangan kau anggap setelah lolos dari kematian di puncak Bong soat hong, maka kau sudah dapat meloloskan diri dari cengkeramanku. Pelan-pelan Thi Eng khi dapat menenangkan kembali hatinya, sambil tertawa dingin, ia berkata :

174
Jilid 6 Jauh-jauh datang kemari, apa sebenarnya tujuanmu? Huan im sin ang memutar sepasang biji matanya, lalu mendengus : "Hmm! Masih seperti kata-kataku semula, kau harus belajar ilmu silat bersama lohu!" "Kau anggap mungkinkah aku dapat meluluskan permintaanmu itu?" teriak Thi Eng khi. "Kalau kau tidak meluluskan, maka kubunuh dirimu!" "Aku tahu, sudah pasti kau tak akan melepaskan diriku, cuma selain itu tentunya kau masih ada rencana yang lain bukan? Terkejut sekali Huan im siu ang setelah mendengar perkataan itu, bentaknya : Darimana kau bisa berkata demikian?'' Thi Eng khi mendengus dingin. "Hmm, aku tahu kalau kau datang bersama seseorang yang menyaru sebagai orang tosu, dengan kemampuan yang kau miliki, apa perlunya membawa seorang pembantu untuk membunuhku? Dan lagi, kalau ingin turun tangan juga kau tak usah melakukannya diluar perbatasan! Hmm. Coba pikirlah kalau kau tiada tujuan lain kenapa berbuat demikian?" Ketika rahasianya ditebak secara jitu. Huan im sin ang segera merasa bahwa kecerdasan Thi Eng khi benar benar mengerikan sekali, hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajahnya. "Bocah keparat, kau memang kelewat pintar, orang pintar semacam kau tak boleh dibiarkan hidup terus, tapi memandang diatas kecerdikanmu itu, boleh saja kuterangkan duduk persoalan sebelum membikin mampus dirimu."

175
Setelah berhenti sebentar, dengan senyuman licik menghiasi bibirnya, ia melanjutkan : "Dirumah makan bukit Wu san kutemui kau masih hidup segar bugar, bahkan tanda terluka pun tak ada, waktu itu timbul rasa heran dalam hati, sebetulnya ingin kutanyai keadaan yang sesungguhnya kemudian baru menghadiahkan sebuah pukulan, tapi kemudian ketika kulihat kau berangkat keluar perbatasan untuk mencari So lojin, niatku itu segera kuurungkan..." "Rencana busuk apa yang kau dapatkan?" "Heeehhh...heeehhh ..heeehhh... sekarang rencanaku telah dilaksanakan, kau si bocah keparat juga bakal mampus, tentu saja lohu akan terangkan semuanya kepadamu!" "Hmm, omongan manusia sesat semacam kau belum tentu benar, akupun belum tentu akan mendengarkan obrolanmu itu!" Heeehhh..... heeehhh.... heehhh.. menggunakan kesempatan selama kunjunganmu keperbatasan untuk mencari So lojin, aku telah melepaskan api didalam dunia persilatan Soal ini, kau bersedia untuk mendengarkan tidak?" Thi Eng khi menjadi tertegun, lalu ujarnya : "Hmmm, apakah ucapanmu itu bukan hanya mengigau belaka? "Igauan? Hmmm, apakah kau lupa bahwa lohu masih mempunyai

seorang rekan yang lain?" "Benar, dia ada dimana sekarang?" "Hmmm...hmmm... tentu saja dia masih ada urusan yang harus diselesaikan, lohu bertugas memancingmu datang kemari, sedangkan dia akan masuk ke dalam kamarmu dan menggunakan Pek giok pay dari partai Siau lim serta Thi kiam leng dari partai Bu tong untuk membuat dua buah bekas diatas meja baca! Setelah mendengar perkataan itu, Thi Eng khi baru merasa amat terkejut, segera-teriaknya :

176
"Sungguh?" Haaahhh....haaahhh....haaahhh...." Huan im sin ang Cuma tertawa terbahak-bahak. Thi Eng khi menjadi naik pitam, teriaknya lagi : "Iblis keparat, kalau ingin mencari urusan denganku, cari saja langsung kepadaku, mengapa mesti menfitnah orang lain? Sahut Huan im sin ang sambil tertawa bangga : "Partai Siau lim dan partai Bu tong mentang-mentang menganggap dirinya partai lurus, dimana saja mereka selalu unjukkan sikap angkuh, Hmm! Lohu paling benci dengan gaya semacam itu, maka sengaja kucarikan sedikit keramaian buat mereka agar bertarung dengan So lo jin! Haaah....haaah .... haaahhh..... akibat dari pertarungan ini maka suatu pertempuran sengit antara jago diluar perbatasan dan daratan Tionggoan pasti akan segera berkobar! Mimpipun Thi Eng khi tidak menyangka kalau iblis tua ini sedemikian kejinya, lama sekali ia berdiri tertegun saking mendongkolnya, lama sekali akhirnya dia baru berkata dengan gemas : "Iblis laknat kalau melihat tampangmu mah tidak mirip orang edan, sebenarnya apa tujuanmu menerbitkan badai dalam dunia persilatan?" Mendengar ucapan itu, mendadak sekujur badan Huan im sin ang gemetar keras, sahutnya sambil menggertak gigi. "Lohu bernama Ui Sam ciat, kemunculanku sekarang adalah untuk membasmi seluruh dunia persilatan guna membalas dendam bagi kematian toakoku Ui It peng! Berbicara sampai disitu, mendadak dengan wajah mengerikan, ia membentak keras : Bocah keparat, sudah puas bukan? Sekarang, serahkan selembar nyawa anjingmu itu!

177
Weess.....! Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke atas tubuh Thi Eng khi. Dengan latihan yang amat tekun, ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimiliki Thi Eng khi sebenarnya sudah mancapai puncak kesempurnaan, apalagi ketika mendapat pengobatan dari Huang oh siansu, terpengaruh oleh tenaga Pek hui tiau yang tayhoat yang digunakan hwesio tersebut, keempat macam obat mustika yang mengeram dalam tubuhnya telah dibaurkan oleh tenaga itu sehingga akibatnya tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu memperoleh

kemajuan yang makin hebat. Selain itu, setelah memperoleh dua kali pengalaman di Ki hian san ceng maupun Bong soat hong, dia tahu bahwa ilmu silat amat penting bagi seseorang yang berkelana dalam dunia persilatan. Oleh sebab itu, setiap kali ada kesempatan, dia selalu memperdalam pelajaran ilmu silat yang diajarkan Thian liong ngo siang kepadanya, yakni tiga jurus telapak tangna, tiga jurus ilmu jari, tiga jurus ilmu pedang dan tiga jurus ilmu pukulan. Selama beberapa bulan ini, boleh dibilang dia memiliki kematangan yang cukup menyakinkan didalam kedua belas jurus ilmu silat perguruannya itu, otomatis kedahsyatannya juga luar biasa. Sebaliknya Huan im sing ang masih menganggap pemuda itu seperti dulu, dalam serangan yang pertama ini, dia tak lebih hanya menggunakan tenaga sebesar tiga bagian. Dalam perkiraan Thi Eng khi waktu itu dia pasti akan tewas oleh serangan lawannya yang begitu dahsyat dalam benci dan gusarnya, sambil menggertak gigi, dia bertekad akan menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, sekalipun tak bisa mati bersama, paling tidak dia ingin melukai iblis tua itu. Maka buru buru dia merendahkan pinggangnya ke bawah, lalu sepasang telapak tangannya didorong ke depan untuk menyambut datangnya serangan itu.

178
Iblis tua itu tertawa sinis, baru saja dia hendak mengejek, tiba tiba diketahui keadaan tidak beres, segera bentaknya : "Bocah keparat, ternyata kau berani menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya" Untuk menambah kekuatannya ditengah jalan jelas tak sempat maka tak bisa dihindari lagi, suatu bentrokan kekerasan segera terjadi ditempat itu. "Blaaamm............!" ditengah ledakan keras, ternyata Thi Eng-khi berhasil menang diatas angin. Berhasil dengan serangannya yang pertama, Thi Eng khi tak berani berayal lagi, segera bentaknya: "Iblis tua sambut pula sebuah pukulanku ini! Sebuah pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan kedepan, deruan angin pukulan makin kencang, sudah jelas kekuatannya jauh diatas serangan yang pertama tadi. Waktu itu Huan im sin ang masih berdiri tertegun, dalam keadaan gugup ia tak sempat menghimpun tenaga lagi, untuk ke dua kalinya dia kena didesak sehingga mundur setengah langkah. Sekarang Huan im sin ang baru tahu kalau dia sudah salah menilai kekuatan musuhnya, dalam keadaan gusar yang memuncak, tak kuasa lagi dia tertawa seram. Dengan wajah menyeramkan, dia membentak keras: Bocah keparat, sudah saatnya bagimu untuk pulang ke rumah nenekmu ......" Telapak tangan kirinya segera diayunkan ke depan, bersamaan waktunya lengan kanan juga diangkat menyentilkan serangan ilmu jari segulung desingan angin tajam diikuti pukulan gencar langsung meluncur ke tubuh Thi Eng khi.

179
Si anak muda itu tak menyangka kalau musuhnya sangat lihay, setelah beberapa kali berhasil lolos dengan selamat, disangkanya kepandaian yang dimiliki Huan im sin ang tak lebih cuma begitu saja. Meski dia juga melihat kalau Huan im sin ang melancarkan ilmu pukulan dan ilmu jari hampir bersamaan waktunya, ia tidak gentar, sepasang tangannya segera didorong kemuka untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut. Ternyata keadaannya kali ini jauh berbeda tenaga pukulan lawan terasa bagaikan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra yang melanda tiba, segenap kekuatan yang dipancarkan olehnya kena didesak ke kedua belah samping, berbareng itu juga segulung desingan angin tajam langsung berputar dan meluncur kearahnya. Menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan, si pemuda bermaksud untuk berkelit, sayang keadaan sudah terlambat dan ia merasa tidak bertenaga lagi. Kontan saja sekujur badannya terasa bergetar keras, tenggorokannya terasa anyir, tubuhnya segera terlempar sejauh dua kaki lebih dan nyaris terjatuh ke dalam jurang. Untung saja dalam saat-saat terakhir serangan jari lawan masih sanggup ditangkis oleh angin pukulannya sehingga kehilangan sasaran dan tak sampai menghajar jalan darah Ji kan hiat ditubuhnya. Tapi sekalipun begitu toh ia terluka parah, darah segar muncrat keluar dari mulutnya dan untuk sesaat tak sanggup bangkit berdiri. Berbaring diatas tanah, pemuda itu merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, dia tidak tahu kalau tubuhnya sudah menempel di tepi jurang. Dengan suara gelisah Huan im sin ang segera berteriak : Hati-hati pinggirmu adalah jurang yang sangat dalam.

180
Huan im sin ang bisa berteriak demikian, bukan lantaran ia gelisah karena menguatirkan keselamatan pemuda itu. Sesungguhnya dia tak ingin kesalahan yang pernah diperbuatnya itu sampai terulang kembali, ia bertekad untuk membunuh Thi Eng khi tepat di depan matanya sehingga buktinya ada. Padahal Thi Eng khi sedang berbaring di tepi jurang, ini membuatnya tak sanggup turun tangan , sebab sekali bertindak salah hingga tubuh Thi Eng khi jatuh ke dalam jurang bisa jadi peristiwa di puncak Bong soat hong di bukit Wu san akan terulang kembali. Sesungguhnya tujuan orang ini boleh dibilang sangat keji, siapa tahu masih mendingan seandainya dia tidak berteriak, akibat dari teriakan tersebut, keadaan bertambah runyam. Thi Eng khi sendiripun pada mulanya merasa bingung dan tidak habis mengerti setelah mendengar teriakan itu, dia merasa tindakan dari iblis tua itu seakan akan sangat bertentangan sekali dengan tujuan yang sebenarnya, tapi sejenak kernudian ia lantas memahami maksud serta tujuan yang sebenarnya dari iblis tua itu. Kontan saja hawa amarahnya berkobar, dengan dingin dia berkata:

"Aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, tak perlu kau risaukan!" Sembari berkata dia malah melejit dan bergeser makin mendekat sisi tebing jurang tersebut. Iblis tua itu menjadi sangat rikuh dan serba salah, telapak tangannya sudah diangkat keatas siap diayunkan, tapi dahinya segera berkerut dan telapak tangan itu terhenti di tengah jalan. Selang sesaat kemudian, ia menurunkan kembali lengannya, kemudian setelah tertawa seram katanya:

181
Jadi kau anggap setelah berbuat demikian maka kau bisa lolos dari kematian? Heeehhhh. Heeehhh. Heeehhhh.. lohu akan mencoba untuk saling bertahan dengan dirimu! Ketika itu Thi Eng khi berada diatas sebuah batu datar ditepi tebing jurang, sekalipun tak mungkin menerima sergapan dari musuhnya,namun berada dalam pengawasan orang terus menerus memang bukan sesuatu yang aneh dirasakan. Maka darahnya mendidih setelah mendengar ucapan dari iblis tua itu, segera katanya dengan marah : Iblis laknat! Walaupun aku tak bisa lolos dari tanganmu hari ini, tapi kaupun jangan harap bisa membalaskan dendam bagi kematian kakakmu! Kau anggap dengan kekuatanmu seorang mampu untuk memusuhi seluruh umat persilatan di dunia ini? Iblis tua itu tertawa seram, dia mengangkat tangannya keatas dan berkata dengan santai : "Dengan mengandalkan cap sa tay poo (tiga belas pangeran) yang berada di bawah pimpinanku pun seluruh dunia persilatan dapat kukuasai, buat apa lohu mesti turun tangan sendiri! Sekalipun posisinya sudah berada dalam keadaan terancam, namun Thi Eng khi sama sekali tidak melepaskan kesempatan untuk menyelidiki keadaan lawan, maka dengan wajah santai sekali tidak berubah, katanya dengan dingin: "Siapa yang dimaksudkan dengan Cap sa tay poo itu? Belum pernah kudengar tentang nama tersebut, hei, jangan mencoba untuk main gertak sambal! Kembali iblis tua itu tertawa seram. "Heeehhh... heeehh....heeehhh......buat apa kau musti memancing dengan kata-kata yang memanaskan hati? Sekalipun lohu tidak becus juga tak akan membohongi manusia yang hampir mampus seperti kau! Cap sa Tay poo yang berada dibawah pimpinan lohu terdiri dari pelbagai anggota dalam partai besar dunia persilatan. mereka adalah Ci nian taysu dari Siau lim pay, It tin totiang dari Bu tong pay, Put wi sianseng dari Hoa san pay, To kak

182
thi koay (Kaki tunggal bertoya besi) dari Kay pang, Lak bin wangwe (hartawan berwajah enam dari keluarga Tong, Siau bin kim kong (malaikat raksasa berwajah senyum) dari Cing sia pay, It ci kiam (pedang satu huruf) dari Tiong lam pay, Tho hoa soh li (gadis suci bunga tho) dari pulau Soh sim to, Giok ciang lo sat (iblis wanita bertoya kemala) dari Ciang hong wan, ditambah lagi dengan Hui hong kiam (pedang angin berpusing) Lok yap bian hong (hembusan

angin daun berguguran) dan Hek bin bu pah (raja lalim bermuka hitam) sekalian tiga belas orang" Selesai mendengar nama-nama tersebut, Thi Eng khi diam diam merasa terperanjat sekali. Sebab kenyataannya ke tiga belas orang itu masing-masing tersembunyi didalam setiap partai besar, sebagai musuh dalam selimut sesungguhnya mereka benar benar menakutkan sekali. Sebagai seorang pemuda berjiwa ksatria, sekalipun jiwanya berada diujung tanduk. Dan berbahaya sekali, apalagi soal dunia persilatan sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya, tapi ia tetap merasa murung dan gelisah. Setelah berpikir keras sekian lama mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya. la lantas mengawasi iblis tua itu sambil berlagak seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, sementara tangannya yang lain disembunyikan dibalik punggung dan mengerahkan tenaganya untuk mengukir nama-nama yang telah didengar tadi diatas batu cadas. Sebagai pemuda yang cerdas dan cekatan dalam waktu singkat nama serta asal usul dari ketiga belas pangeran Cap sa tay poo itu sudah selesai terukir diatas batu. Mendadak timbul satu persoalan dalam benaknya, maka sambil melanjutkan tulisannya. dia bertanya lagi : "Iblis laknat! Kalau memang Cap sa tay poo itu disisipkan ke dalam partai-partai besar, sekalipun ilmu silat mereka lebih lihaypun tak akan lebih hebat daripada ciangbunjinnya sendiri, mana mungkin mereka sanggup untuk melakukan pemberontakan?"

183
Iblis tua itu segera tertawa seram. "Heeehhh heeehhh heeehhh.. tentu saja lohu telah mewariskan kepandaian lain kepadanya......" Mendadak ia seperti merasakan sesuatu, matanya yang buas segera berputar, kemudian bentaknya: "Bocah keparat, apa yang sedang kau lakukan?" Ditengah bentakan keras, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan. Waktu itu Thi Eng khi sedang menulis nama dan asal usulnya, ketika merasa gelagat tidak beres, dia menjadi terkejut sekali untuk membalas jelas tak bertenaga lagi, terpaksa dia melejit dan menggelinding masuk kedalam jurang. Dengan cepat Iblis tua itu menyusul ketepi jurang, ketika melongok kebawah dan menyaksikan kabut tebal menyelimuti dasar jurang tersebut, tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan kembali tertawa rerbahak bahak dengan bangganya. "Haaahh......haaahh. haaahhh.....jurang ini begini dalam, sekalipun nasibmu sangat mujur pun lohu tidak percaya kalau kau bisa selamat dari musibah ini!" Seraya berkata ia membalikkan badannya ketika melihat tulisan diatas batu paras mukanya agak berubah, tapi sejenak kemudian timbul rasa sayang diatas wajahnya. Aaai..... betul-betul sayang sekali, gumannya, bakat yang begitu bagus tak bisa lohu pergunakan, jangan salahkan kalau lohu terpaksa harus mengambil tindakan keji.....

Dengan uring-uringan dia lantas berlalu dari situ. Thi Eng khi tak sudi mati ditangan iblis keji tersebut, maka sewaktu menyaksikan sapuan kilat dari Huan im sin ang menyambar

184
datang, buru-buru dia maju kedepan dan menggelinding masuk kedalam jurang. Pemuda itu memang seorang manusia yang berotak cerdas, sekalipun ia merasa perbuatannya terjun kedalam jurang telah menyia-nyiakan harapan ibunya, tapi ia sama sekali tidak takut, sebab dia merasa yakin kalau jiwanya tentu melayang. Malahan ketika mendengar suara deruan angin dan menyaksikan pemandangan disekelilingnya yang meluncur lewat sangat cepat timbul suatu kesan yang menarik dalam hatinya. Setelah melewati kabut yang amat tebal pemandangan disekelilingnya menjadi lebih terbuka, dasar lembahpun tampak jelas sekali. Hutan pohon Bwe yang lebat dengan bunga yang harum, mendatangkan suatu pemandangan yang indah menawan. Sambil tertawa pikirnya kemudian: "Tempat ini benar-benar merupakan suatu. tempat yang paling ideal untuk mengubur jenasahku. !" Belum habis ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, mendadak dijumpai ada seorang kakek berambut putih sedang duduk bersila tepat dibawahnya. Kakek itu duduk tak berkutik sambil menundukkan kepalanya kalau dilihat dari keadaannya, mungkin ia sedang bersemedi. Terbayang kembali akan akibat yang ditimbulkan dari tubuhnya yang terjatuh ke bawab itu, Thi Eng khi merasakan hatinya tergetar keras, buru-buru dia menggerakkan keempat anggota badannya menggeserkan badannya lebih kesamping, daripada sebelum meninggal dia musti menyusahkan pula orang lain Siapa tahu meski badannya sudah berusaha untuk bergeser ke samping, tapi kenyataannya entah disebabkan daya luncur tubuhnya

185
terlampau cepat atau karena persoalan lain, usahanya itu sama sekali tidak mendatangkan hasil apa apa. Dalam keadaan demikian, ia cuma bisa membenci akan ketidakbecusan dirinya, terpaksa dengan sekuat tenaga dia berteriak keras: "Hei lotiang yang berada dibawah. cepat menyingkir ! Siauseng terjatuh kebawah cepat minggir! Cepat minggir! Cepat -cepat minggir!" Agaknya kakek dibawah itu seorang yang tuli, sekalipun ia sudah berteriak sampai serak tenggorokan, ternyata sama sekali tiada reaksi apapun. Padahal pada waktu Thi Eng khi berada lebih kurang sepuluh kaki saja dari dasar lembah, Ia lantas berseru tertahan dan memejamkan matanya rapat-rapat dalam detik tersebut pelbagai ingatan berkecamuk didalam benaknya, ia merasa waktu yang amat singkat itu bagaikan beratus

ratus tahun lamanya mungkin inilah pengalamannya menjelang kematian, cuma sayang ia sudah tak dapat memberitahukan kepada orang lain lagi. "Kraaakk!" ia merasakan tubuhnya seperti menyentuh sesuatu benda, satu ingatan segera melintas dalam benaknya : Aduuuuh.habis riwayatku!'' Dia mengira jiwanya pasti akan melayang meninggalkan raganya. Padahal ia sudah dirangkul oleh kakek berambut perak didasar lembah itu dan sama sekali tidak menderita luka apa-apa. Hanya mengandalkan sepasang tangannya, ternyata kakek berambut perak itu sanggup menahan tubuh Thi Eng khi yang terjatuh dari ketinggian ratusan kaki, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya boleh dibilang luar biasa lihaynya.

186
Setelah menyambut tubuh Thi Eng khi ke dalam pelukannya, kakek itu tertawa terbahak-bahak. Haaahhhh.. haaahhhh.. haaahhhhh mana lohu bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kau terancam bahaya ? Seraya berkata dia lantas menundukkan kepalanya memperhatikan pemuda yang berada dalam pelukannya itu, tapi selang sesaat kemudian sekujur badannya bergetar keras, ia agak tidak percaya kalau di dunia ini terdapat orang dengan bakat yang begitu bagus. Dengan cepat dia mengucak matanya dengan tangan kiri, kemudian dengan sinar mata berkilat ditatapnya wajah Thi Eng khi lekat-lekat. Makin dilihat ia merasa hatinya semakin bergetar, perasaannya juga semakin emosi dengan wajah kalut bercampur girang dia melemparkan tubuh pemuda itu ke tanah kemudian lompat bangun dan menari-nari seperti orang kalap. Setelah mencapai permukaan tanah, Thi Eng khi segera merasakan hatinya bergetar kera, apalagi teringat kejadian yang baru dialaminya, buru-buru ia membuka matanya lebar-lebar. Ketika dilihatnya keadaan si kakek Yang lebih mirip orang gila itu, dia seperti terkesima kemudian menggigit tangan sendiri keraskeras. Mungkin karena terlalu keras gigitannya menjadi tak tahan sehingga menjerit kesakitan. Sesungguhnya kakek itu tidak gila, cuma karena sudah lama hidup mengasingkan diri maka perubahan sikapnya menjadi sangat kentera. Diapun tersadar kembali ketika mendengar jerit kesakitan dari anak muda itu ketika mengetahui kalau ia sudah bertindak kelewat batas dengan wajah memerah karena jengah katanya :

187
"Nak, parahkah luka yang kau derita?" "Oooh tidak" sahut Thi Eng khi sambil tertawa getir, "aku cuma menggigit diriku sendiri." Setelah agak tertegun, kakek itu segera memahami apa yang terjadi, katanya lagi sambil tertawa : Oooh.......... jadi kau mengira dirimu sudah mati?" Paras muka Thi Eng khi berubah makin memerah terpaksa dia

manggut-manggut. Kakek itu segera menarik tangan kanan Thi Eng khi dan menempelkan ketiga jari tangannya diatas nadi pemuda itu, kemudian katanya : "Hei pemuda, kalau sedang berjalan masti berhati-hati, untung kau bertemu dengan aku hari ini, coba kalau tidak. mana mungkin kau bisa bernyawa lagi? Coba kuperiksa apakah isi perutmu sudah terluka atau tidak ......?" Tiba tiba dia berkerut kening, kemudian sambil menarik kembali tangannya dia berseru : "Oooh .........rupanya kau dihajar orang!" Tidak!" sahut Thi Eng khi sambil menggeleng, "aku sendiri yang melompat kebawah, cuma.." Kakek itu segera menghela napas panjang ujarnya : "Lukamu tidak parah, asal bersemedi sebentar keadaan lukamu itu akan sembuh kembali seperti sedia kala. Bagi seorang lelaki sejati, tidak boleh mempunyai ingatan untuk mengambil keputusan pendek, jika berjumpa lagi dengan urusan dikemudian hari, kau mesti perkeras hatimu, hati mesti tabah untuk menghadapi kenyataan, dengan begitu baru tidak menyia-nyiakan pendidikan dan budi kebaikan orang tuamu. Sesungguhnya persoalan apakah yang membuat pikiranmu menjadi sempit? Sikap si kakek yang sok memberi nasehat itu hanya membuat Thi Eng khi menyengir pahit. Padahal banyak hal yang berkecamuk

188
dalam benaknya, oleh karena ia tak bisa memberi penjelasan lebih jauh, terpaksa sambil tertawa getir katanya : Terima kasih banyak lotiang atas petunjukmu, cuma, sulit buatku untuk menjelaskan persoalan ini hanya dengan sepatah kata saja.... "Anak muda, jika kau sudah tahu salah dan mau berubah. Hal itu bagus sekali" kata si kakek dengan wajah lembut, "urusan yang lewat tak perlu disinggung lagi, sekarang lohu akan membantumu untuk menyembuhkan luka yang kau derita. Kau sendiri berusahalah untuk membantu dari dalam!" Selesai berkata telapak tangannya segera ditempelkan diatas punggung Thi Eng khi. Sianak muda itu menurut dan segera menghimpun tenaga dalamnya dan mengerahkan tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kang untuk mengelilingi seluruh badannya. Mendadak bagaikan dipagut ular beracun, si kakek itu menarik kembali tangannya, kemudian dengan wajah sungguh-sungguh katanya : Nak, aku lihat Sian thian bu khek ji gi sin kang yang kau miliki sudah mencapai puncak kesempurnaan, apakah kau adalah anak murid perguruan Thian liong pay? Menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak, sambungnya : Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh..... kau memakai baju berwarna biru, pinggangmu menyoren pedang Thian liong kim kiam sudah pasti bukan anggota Thian liong pay saja, lohu sungguh tolol sekali, aku cuma melihat garis mukamu belaka dengan melupakan dandananmu, bukankah hal ini lucu sekali.

Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi segera berpikir : Thian liong pay benar-benar bukan bernama kosong belaka, bahkan seorang kakek yang lama mengasingkan diri di luar perbatasanpun mengetahui nama Thian liong pay .... Berpikir demikian, ia lantas menjawab dengan gembira:

189
"Boanpwe adalah ciangbunjin angkatan ke sebelas dari partai Thian liong pay!" Oooh....ooh." Sesudah termenung beberapa saat lamanya, kakek itu baru berkata lebih jauh : Tahukah kau tentang manusia yang bernama Keng thian giok cu Thi keng . "Dia orang tua adalah mendiang kakek boanpwe!" "Lantas siapa pula namamu?" tanya kakek itu cepat-cepat. "Boanpwe bernama Thi Eng Khi!" Selapis rasa kaget dan tercengang melintas diatas wajah kakek itu, pikirannya terasa sangat kalut dan pelbagai macam perasaan berkecamuk dalam benaknya, ia sendiri pun tak tahu bagaimana perasaannya waktu itu.. Akhirnya dia menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca dan hampir saja air matanya jatuh berlinang. Ternyata kakek itu tak lain adalah kakek Thi Eng khi sendiri, orang menyebut sebagai Keng thian giok cu dan merupakan ciangbunjin angkatan ke sembilan dari Thian liong pay. Dua puluh tahun berselang, ketika ia menemukan bahwa putra kesayangannya yang merupakan satu-satunya ahli waris dari Thian liong pay mencukur rambut menjadi pendeta karena kematian sahabatnya, meski dihati merasa seribu kali menolak tapi untuk menghormati keinginan putranya, terpaksa dia menghela napas dan meninggalkan putra kesayangannya itu. Dalam sedihnya dia menjadi putus asa dan segera berkelana jauh keluar perbatasan, dan mengunjungi gua Thian liong tong thian yang merupakan pusat dari tempat berdirinya partai Thian liong pay di masa lalu.

190
Berhubung gua Thian liong tong thian merupakan tempat berdirinya partai Thian liong dan merupakan tempat bersemayannya ciangbunjin-ciangbunjin partai Thian liong pay angkatan sebelumnya, maka tempat itu sangat dirahasiakan sekali letaknya, setiap ciangbunjin dari tiap generasi hanya mendapat tahu tempat tersebut dari ciangbunjin angkatan sebelumnya. Setelah masuk ke dalam gua Thian liong tong thian, Thi Keng menuruti peraturan perguruannya bersembahyang didepan cousunya dan mengembalikan Thian liong pit kip kedalam gua itu, kemudian menyampaikan pula perintahnya untuk menutup perguruan Thian liong pay. Dia sendiripun berdiam di gua Thian liong tong thian untuk menebus dosanya yang telah memutuskan keturunan dalam partai Thian liong. Ketika Thi Keng meninggalkan partai Thian liong pay, Thi Eng khi

belum dilahirkan di dunia ini, sudag barang tentu diapun tidak mengetahui bagaimanakah bakat serta watak pemuda tersebut, itulah sebabnya ketika menyampaikan perintah untuk menutup partai, diapun melarang putra-putri Thi Tiong giok untuk mempelajari ilmu silat. Seandainya dimasa itu Thi Keng tidak cepat-cepat menurunkan perintahnya, tapi menunda setahun lagi, sehingga dia berkesempatan menyaksikan kelahiran Thi Eng khi, sudah barang tentu dunia persilatanpun tak akan mengalami keadaan seperti sekarang ini. Ketika Thi Keng menyaksikan cucu Kesayangan ternyata bertubuh tegap berbakat bagus dan berwajah tampan, bahkan jauh melebihi putranya sendiri Thi Tiong giok apalagi terbayang kembali akan tindakannya yang gegabah di masa muda dulu, rasa malu dan sesal segera muncul didalam hatinya. Oleh sebab itu, dia merasa malu sekali untuk mengakui asalusulnya sendiri.

191
Thi Eng khi segera mengedipkan matanya menyaksikan sikap kakek itu seperti sangat tidak tenang, tegurnya kemudian : Lotiang, apakah kau kenal dengan kakekku? Sekuat tenaga Keng thian giok cu Thi Keng mengendalikan pergolakan emosi didalam hatinya, lalu menggeleng. Lohu dengan kakekmu cuma kenal begitu saja, kami tidak bersahabat kental! Thi Eng khi tak pernah jumpa dengan kakeknya, dia hanya pernah melihat wajahnya lewat lukisan yang dibuat pada empat puluh tahun berselang, tentu saja raut wajah dulu dan sekarang jauh sekali perbedaannya. Oleh karena itu, Thi Eng khi sama sekali tidak mengetahui kalau kakek yang berada di hadapannya kakeknya sendiri. Begitulah, dengan sikap yang amat menghormati ujarnya : Locianpwe, apakah kau bersedia untuk memberitahukan namamu, agar bisa boanpwe ingat terus di dalam hati? Keng thian giok cu Thi Keng mengerdipkan matanya lalu tertawa getir, sahutnya : Aaaah..... aku mah orang liar yang sudah lama melupakan namaku, sebut saja aku sebagai Bu beng kongkong. Kemudian tanyanya : Usia lohu sudah mendekati seratus tahun, tentunya tidak menjadi soal bukan kalau kau mesti menyebut kongkong kepadaku? Diam-diam Thi Eng khi merasa keheranan, pikirnya : Aneh kenapa orang inipun seseorang yang lupa dengan nama sendiri? Keadaannya tak jauh berbeda dengan hwesio setengah umur yang pernah kujumpai di bukit Wu san. Berpikir sampai disitu, diapun tidak bertanya lagi, dengan hormat panggilnya : "Bu Beng kongkong!"

192
Keng thian giok cu Thi Kerg tertawa terkekeh-kekeh, kemudian duduk ditanah, kepada Thi Eng khi serunya :

"Nak, duduklah kemari Bu beng kongkong ada persoalan hendak ditanyakan kepadamu" Thi Eng khi menurut dan duduk didepan kakek tersebut, lalu ujarnya sambil tertawa : Beberapa bulan berselang, boanpwe masih bukan seorang anggota persilatan karena itu pengetahuanku mengenai urusan dunia persilatan masih cetek sekali. Mungkin aku akan membuat kongkong menjadi kecewa. Keng thian giok cu Thi Keng tertawa lebar : Aaah, tidak menjadi soal apa yang kutanyakan kepadamu pasti kau ketahui! Setelah berhenti sebentar, diapun bertanya lagi : Sejak kapan kau menjabat sebagai ketua dari partai Thian liong pay? Bulan delapan tanggal sembilan belas tahun berselang sampai sekarang baru sekitar sepuluh bulan. Keng thian giok cu Thi Keng manggut-manggut. Kalau begitu coba ceritakanlah keadaan partaimu semenjak ditinggalkan kakekmu! Thi Eng khi menjadi sangsi untuk beberapa saat lamanya tapi setelah termenung dan berpikir beberapa saat, akhirnya diputuskan untuk menceritakan semua yang diketahui olehnya. Sebab ia merasa Bu beng kongkong adalah seorang kakek yang berwajah lembut serta jujur, sudah pasti dia bukan orang jahat, apalagi dia telah melepaskan budi kepadanya, tidak sepantasnya kalau dia merahasiakan sesuatu kepadanya.

193
Ketika ia selesai bercerita Keng thian giok cu Thi Keng kembali mengajukan beberapa pertanyaan sekitar hal-hal yang tidak dipahami olehnya, dengan cepat pemuda itu merasa bahwa Bu beng kongkong sesungguhnya adalah seorang kakek yang teliti sekali. Persoalan apapun dia tanyakan, bila menjumpai hal-hal yang tidak dimengerti, dia selalu menyelidiki sampai menjadi terang semua duduknya persoalan. Ia cuma merasa heran dengan watak Bu beng kongkong yang aneh dan istimewa itu, tapi tidak menaruh perhatian bahwa berulang kali secara diam-diam Bu beng kongkong telah membesut air matanya. Ketika Keng thian giok cu Thi Keng mendapat tahu keadaan yang sebenarnya, ia merasa sedih juga menyesal sekali, sambil memejamkan mata ia termenung sampai lama sekali. Kemudian sambil mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Thi Eng khi dengan sinar mata yang tajam, serunya dalam-dalam: "Lohu bertekad untuk mewariskan segenap kepandaian yang kumiliki kepadamu agar kau bisa mencapai kebahagiaan bagi umat manusia didunia ini agar bisa mengangkat nama Thian liong pay hingga jaya diseluruh kolong langit!" Thi Eng khi pernah menderita kerugian besar karena dipaksa belajar ilmu silat. maka hatinya menjadi tak senang hati setelah mendengar perkataan itu, apalagi setelah mendengar ucapan si kakek yang mengatakan bahwa "agar bisa mengangkat nama Thian liong pay hingga jaya diseluruh kolong langit" itu dia merasa ucapan

tersebut mencurigakan sekali.... Karenanya, sambil membusungkan dada ia lantas berkata : Boanpwe pernah brsumpah, sebelum belajar ilmu sakti yang tercantum di dalam kitab pusaka Thian liong pit kip, aku tak akan belajar ilmu silat aliran lain, maksud baik Bu beng kongkong biarlah boanpwe terima di dalam hati saja! Mula-mula Keng thian giok cu Thi Keng agak tertegun, menyusul kemudian diapun manggut-manggut berulang kali.

194
Seandainya kau tidak berhasil menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut apa yang hendak kau lakukan? Andaikata kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut tidak berhasil kutemukan maka sepanjang hidup aku tak akan membicarakan soal ilmu silat lagi, aku akan menghabisi nyawaku untuk menebusi dosaku ini terhadap perguruan! Mendengar perkataan itu, air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Keng thian giok cu Thi Keng. Nak, kau keliru besar," katanya ketahuilah bahwa ilmu silat yang ada di dunia ini berasal dari satu sumber, sekalipun terdapat banyak aliran perguruan di dunia ini tapi sumber dari kepandaian mereka sesungguhnya adalah satu. Apalagi sebagai seorang manusia yang bercita-cita luhur, kau harus mempunyai pandangan yang terbuka serta jiwa yang besar, dengan begitu masalah besar baru bisa diselesaikan, aku lihat watak keras kepalamu itu perlu diperbaiki dan bila perlu dilenyapkan sama sekali . Sesungguhnya Thi Eng khi bukan seorang yang keras kepala, dia bisa mengambil ketetapan begitu lantaran dia mempunyai kesulitan yang tak dapat dikatakan kepada orang lain, sebagai seorang ketua yang bertanggung jawab untuk membangun kembali nama baik partai Thian liong pay didunia ini, sudah barang tentu dia enggan memperjuangkan cita-citanya tersebut dengan mempergunakan ilmu silat dari aliran lain. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu berkata : Nasehat dari Bu beng kongkong pasti akan kuperhatikan dengan seksama, boanpwe merasa berterima kasih atas perhatiannya ini, cuma mengenai belajar silat sesungguhnya bukan keras kepala yang menyebabkan boanpwe berkeputusan demikian adalah karena soal lain yang menyebabkan boanpwe terpaksa harus berbuat begini, harap kau sudi untuk memakluminya.

195
Terdorong oleh pergolakan emosi, Keng thian giok cu Thi Keng tak bisa mengendalikan diri lagi, dia lantas mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring. Tenaga dalam yang dimilikinya memang amat sempurna, begitu suara pekikannya bergema diudara, tampak pohon bwe disekitar tempat itu bergoncang keras seperti terhembus angin, kabut tebal di angkasa pun seakan-akan terhembus buyar kemana-mana. Diam-diam Thi Eng khi terkejut sekali setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Bu beng kongkong, tapi wajahnya sama sekali tidak berubah, menahan sekulum senyuman

sempat menghiasi wajahnya.. Tiba-tiba Keng thian giok cu Thi Keng memperlihatkan wajah gusar, dari sakunya dia mengeluarkan sejilid kitab kecil berwarna kuning dan diberikan ke tangan Thi Eng khi, kemudian ujarnya dengan suara yang dingin seperti es : "Tempat ini merupakan suatu jurang terpencil dengan empat penjuru dikeliling dinding curam, bila kau tidak mempelajari ilmu silat dari lohu ini, jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini. Hidup juga kau sendiri, mati juga kau sendiri, setahun kemudian lohu akan datang lagi untuk menengok dirimu, nah. Baik-baiklah menyesuaikan diri!" Seusai berkata. tidak melihat dengan gerakan apakah dia melompat, tahu-tahu tubuhnya sudah melambung di tengah udara kemudian lenyap tak berbekas dari pandangan mata. Thi Eng khi segera mendongakkan kepalanya dan berteriak keras : Aku Thi Eng khi adalah seorang lelaki sejati, aku tak sudi menerima ancamanmu itu, setahun kemudian silahkan saja datang kemari, coba kau buktikan sendiri apakah aku akan berusaha meloloskan diri dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu! Sementara itu, Keng Thian giok cu Thi Keng telah berada di dalam sebuah gua kecil di tebing terjal tersebut, dengan air mata bercucuran dia mengangguk berulang kali, gumamnya :

196
Nak, kau memang cucu yaya yang paling baik, kau terlalu baik, yaya merasa gembira sekali. Thi Eng khi duduk kembali sejenak ditempat semula, lalu berdiri dan memasukkan kitab kecil itu kedalam sakunya. Oleh karena dia sedang mendongkol maka kitab tersebutu sama sekali tidak diperiksa isinya, bahkan memandang sekejappun tidak. Menyusul kemudian, diapun melakuka pemeriksaan yang seksama disekeliling dinding tebing itu dengan harapan bisa menemukan tempat untuk berteduh, sehingga ia bisa menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk berlatih tekun ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya itu. Tapi sayang usahanya itu sia-sia belaka sekalipun seluruh dasar jurang sudah diperiksa, ia tidak berhasil menemukan tempat yang bisa dipakai untuk berteduh, karena itu selama beberapa malam berikutnya terpaksa ia musti menginap di udara terbuka. Kemudian ia menemukan pada dinding tebing sebelah timur, lebih kurang tiga kaki dari permukaan tanah terdapat dua batang pohon siong yang berdaun lebat, tempat itu bisa dipakai untuk tempat berteduh. Sayangnya, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya sudah teramat sempurna, namun ia tidak mengerti bagaimana caranya mempergunakan ilmu meringankan tubuh, itulah sebabnya sekalipun dinding tebing itu cuma tiga kaki, namun sulit baginya untuk merangkak ke atas. Untung saja kecerdasannya luar biasa, setelah berpikir sebentar, ia segera memperoleh suatu ide yang bagus sekali. Dengan cepat pedang Thian liong kim kiam yang tersoren dipinggangnya dicabut keluar, setelah itu dengan mempergunakan

pedang Thian liong kim kiam itu sebagai tempat berpegangan, selangkah-selangkah dia mendaki keatas tebing itu, tak lama kemudian tibalah pemuda tersebut dibawah pohon siong tadi.

197
Setibanya dibawah pohon siong tersebut, mendadak ia menemukan sebuah gua batu di belakang pohon tadi, diatas gua terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan empat huruf besar, tulisan itu berbunyi demikian : THIAN-LIONG-TONG-THIAN Timbul perasaan heran didalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi ia lantas berjalan menuju kedalam gua. Mulut gua itu amat sempit dan cuma bisa dilewati satu orang saja, akan tetapi setelah berada dalam gua itu maka dijumpainya ruangan didalam sana luas sekali, lagi pula suasana terang benderang, tidak diketahui darimanakah datangnya cahaya penerangan tersebut. Saat itu Thi Eng khi sudah tidak berminat lagi untuk menyelidiki persoalan-persoalan yang tidak penting, sebab dia sudah tertarik perhatiannya oleh dua belah pintu gerbang yang memancarkan cahaya keemasan-emasan didasar gua tersebut. Didepan pintu gerbang terdapat sebuah lapisan batu kemala putih yang tinggi tebal dan memancarkan cahaya berkilauan, orang harus berdiri diatas lapisan batu kemala putih itu sebelum mencapai gelang pintu. Thi Eng khi melompat naik keatas lapisan batu kemala putih itu kemudian menggetarkan gelang pintu itu beberapa kali, akan tetapi pintu tersebut sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun juga, kenyataan ini membuat hatinya merasa terkejut bercampur keheranan, ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Sekuat tenaga dia berusaha untuk mendorong pintu gerbang itu, tapi hasilnya nihil sebab pintu gerbang tersebut sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun juga. Ketika usaha itu dicoba beberapa kali lagi tanpa hasil, akhirnya pemuda itu menjadi putus asa.

198
Tanpa sengaja tiba-tiba matanya memandang ke lapisan "batu kemala putih yang diinjaknya itu, lamat-lamat terbaca olehnya beberapa kalimat yang tertera diatas lapisan batu kemala tersebut. Tulisan tersebut berbunyi demikian : Tempat ini adalah gua Thian liong tong thian, selain anak murid Thian liong pay dilarang masuk ke dalam gua ini. Untuk masuk kedalam gua, silahkan mengerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang sebanyak tiga kali kelilingan badan pintu tersebut otomatis akan membuka dengan sendirinya." Selesai membaca beberapa huruf tulisan tersebut, Thi Eng khi merasa terperanjat sekali, dengan cepat dua ingatan melintas di dalam benaknya : Pertama, gua ini sudah pasti mempunyai hubungan yang erat sekali dengan partai Thian liong pay. Kedua Bu beng kongkong mungkin sekali adalah anggota Thian

liong pay, tapi siapakah dia? Teringat akan Bu beng kongkong, diapun teringat pula dengan kitab kecil berwarna kuning yang berada dalam sakunya, itu dia beranggapan bahwa kitab kecil tersebut mungkin dapat mengungkapkan jawaban siapa gerangan kakek yang bernama Bu beng kongkong tersebut. Dengan cepat dia mengeluarkan kitab kecil tersebut dari dalam sakunya dan dilihat dengan seksama. Yaa, ampun! Apa yang telah terjadi? Tampak kitab itu sangat mungil dan indah bentuknya, pada halaman yang terdepan tertera empat huruf besar yang indah sekali.... tulisan itu berbunyi : THIAN LIONG PIT KIP

199
Sekujur badan Thi Eng khi gemetar keras dengan cepat dia lari keluar dari dalam gua tersebut, kemudian sambil menggertakkan giginya menahan pergolakan emosi, gumamnya : Yaya! Yaya! Rupanya kau orang tua adalah yaya! Dia menerjang keluar dari dalam gua dengan perasaan bimbang dan tak menentu, dia lupa kalau diluar gua itu terbentang jurang yang tiga kaki dalamnya. Karena kurang berhati-hati, kakinya segera menginjak ditempat kosong, tak ampun tubuhnya terjerumus pula kedasar jurang itu. Untung saja tenaga dalam yang dimiliki cukup sempurna sehingga tubuhnya sama sekali tidak terluka, sambil merangkak bangun, dia mendongakkan kepalanya dan berteriak keras : "Yaya! Yaya! Kenapa kau tak mau mengenali dirimu dihadapan Eng ji ....? Angin gunung berhembus lewat dari atap, puncak membawa awan putih bercampur kabut yang tebal, suara teriakan dari Thi Eng khi tersebut hampir boleh dibilang sama sekali tertelan. Puluhan tahun menanggung rindu, ternyata tidak mendatangkan hasil apa-apa, saking sedihnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri. Entah berapa lama sudah lewat, sambil gemetar keras Thi Eng khi tersadar kembali dari pingsannya. Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa pemuda itu mendaki kembali ke atas bukit dan masuk kembali ke dalam gua Thian liong tong thian, ia bermaksud untuk mendalami ilmu yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip tersebut di dalam gua itu. Ketika melangkah diatas lapisan batu kemala putih itu dia mengerahkan tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kangnya untuk mengelilingi seluruh badan, segera terasalah segulung hawa dingin yang menyebarkan memancar masuk lewat dasar kakinya dan menyebar keseluruh anggota tubuhnya, tak sampai satu lingkaran

200
tubuh dia sudah merasakan tubuhnya seakan-akan menyatu dengan lapisan batu kemala putih itu. Setelah mengitari tubuhnya tiga kali, pintu gerbang berwarna emas yang semula tertutup rapat mendadak terbuka lebar dengan menimbulkan suara yang amat nyaring. Thi Eng khi ragu-ragu sejenak, kemudian diapun melangkah

masuk kedalam ruangan. Sebuah lorong batu yang lebarnya puluhan kaki terbentang jauh ke dalam sana, tiada cahaya lentera dalam lorong itu, akan tetapi suasananya terang benderang bagaikan disiang hari saja. Dengan langkah lebar Thi Eng khi berjalan masuk kedalam lorong itu, diujung lorong merupakan sebuah ruang istana yang terbuat dari batu kemala hijau, didepan ruangan tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan: "KUI TIN HU" Setelah memasuki ruangan, ditengah ruangan tersebut terlihatlah seorang siucay berusia pertengahan yang memakai baju berwarna biru sedang duduk bersila, sebelah kanan tampak dua belas buah gundukan tanah beralas batu kemala yang membentuk naga melingkar, diatasnya duduk empat orang kakek berbaju biru, disebelah kiri pun tampak dua belas lapisan batu kemala berbentuk naga melingkar tapi hanya ditempati oleh tiga orang kakek berbaju biru. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang antik sekali, diatas meja tampak sebuah tempat dupa yang berwarna hitam pekat, entah terbuat dari bahan apa? Asap tipis mengepul keluar dari dalam pendupaan itu dan menyebar ke seluruh ruangan sehingga mendatangkan perasaan segar dan nyaman bagi siapapun. Thi Eng khi tahu bahwa beberapa orang kakek itu sudah pasti adalah para angkatan tua dari Thian liong pay, maka sambil memperingan langkahnya ia maju kedepan, setelah itu sambil memberi hormat katanya :

201
Tecu Thi Eng khi ciangbunjin dari angkatan sebelas menghunjuk hormat buat para Cousu! Dengan hidmat, dia memberi hormat sebanyak tiga kali kepada kakek-kakek itu, tapi sampai lama sekali belum ada juga yang menjawab ataupun menggubris. Thi Eng khi tak berani bangkit berdiri, diam-diam ia mencoba untuk melirik ke depan tampak ke delapan kakek itu tetap duduk sambil memejamkan mata , mukanya serius agaknya seperti lagi semedi, maka dengan lantang serunya lagi : Tecu Thi Eng khi menghunjuk hormat buat para Cousu! Belum juga kedengaran suara jawaban. Baru saja timbul rasa heran dalam hatinya, tiba-tiba ia menemukan sebuah tugu peringatan terpancang dibelakang orangorang itu, diatas batu peringatan tadi tertera beberapa huruf yang garis besarnya menerangkan bahwa istana Kui tin hu merupakan tempat bersemayan dari para ciangbunjin partai Thian liong generasi yang lalu. Setelah membaca tulisan itu, Thi Eng khi baru mengerti rupanya beberapa orang cousu itu sudah berpulang ke alam baka. Ketika dihitung, ternyata jumlah orang yang ada dalam ruangan itu hanya delapan orang, ini membuktikan kalau kakeknya tak ada disana, kalau tidak, kakeknya sebagai ciangbunjin angkatan ke sembilan tentu saja merupakan orang yang ke sembilan dalam ruangan tersebut. Dari sini maka terbuktilah sudah bahwa kakek yang

menghadiahkan kitab pusaka Thian liong pit kip kepadanya itu tak lain adalah kakeknya. Setelah melakukan pemeriksaan sekejap ia tak berani berdiam terlalu lama disana, pelan-pelan pemuda itu menuruni ruang tengah, menelusuri lorong batu dan melangkah keluar dari pintu gerbang.

202
Baru saja kakinya menginjak diatas lapisan batu kemala putih itu, pintu gerbang di belakangnya menutup sendiri secara otomatis. Suasana disekeliling tempat itu amat sepi hening dan tak kedengaran sedikit suarapun tapi ia tidak merasa kesepian, bukan saja kitab pusaka Thian liong pit kip milik perguruannya telah ditemukan kembali, selain itu dia pun tahu kalau kakeknya masih hidup didunia ini. Dengan tenang diapun duduk diluar gua itu, mengeluarkan kitab pusaka Thian liong pit kip dan mulai mempelajarinya dengan seksama. Disebelah barat kota Teng hong dalam bilangan propinsi Hoo lam terdapat sebuah bukit yang bernama bukit Siong san, disebelah utara tanah perbukitan itu berdiri sebuah bangunan kuil yang sangat besar dan megah, itulah kuil Siau lim si yang termashur namanya diseluruh dunia persilatan. Suatu hari, ketiga mendekati waktu senja, dari atas jalan raya dibawah bukit muncul dua ekor kuda tinggi besar yang dilarikan ke arah kuil dengan kecepatan tinggi. Kedua ekor kuda itu merupakan kuda jenis utara yang tinggi besar, dalam sekejap mata kuda-kuda itu sudah sampai tiba di depan kuil. Diiringi suara ringkikan panjang, kedua ekor kuda itu segera mengangkat kaki depannya ke atas sambil menghentikan larinya. Seorang gadis cantik segera melenjit keudara, alau dari tengah udara ia menyambar tali les kuda lain yang ditunggangi seorang kakek, kemudian melayang turun keatas tanah. Gerak gerik gadis itu lincah dan gesit sekali, begitu mencapai permukaan tanah, dia berpaling dan tertawa, seakan-akan tak pernah mengalami sesuatu hal, ujarnya : Paman Ting, kau tunggu saja diatas kudamu!

203
Tak usah disinggung lagi, kedua orang itu bukan lain adalah cucu kesayangan Tiang pek lojin (It tek ang) So Seng pak yakni Pek leng siancu So Bwe leng serta lotoa dari Tiang pek sam nio (tiga burung dari bukit Tiang pek) Tam co toa beng (rajawali sakti bersayap tunggal) Ting Tian yu. Setelah Tiang pek lojin So Seng pak menyaksikan Thi Eng khi keturunan dari sahabat karibnya yang sedang bertamu dalam bentengnya diculik orang, dalam gusarnya dia segera memimpin para jago dari luar perbatasan untuk menyerbu ke daratan Tionggoan, menurut bukti yang ada, maka pertama-tama dia mendatangi kuil Siau lim si lebih dahulu. Dia adalah pemimpin dari luar perbatasan, tentu saja kegagahannya jauh berbeda dengan orang lain, sebelum melakukan sesuatu tindakan, dikirimnya kartu pemberitahuan lebih dulu,

kemudian baru mendatangi tempat itu untuk melakukan suatu penyelesaian. So Bwe leng yaag manja dan suka keramaian berhasil membujuk kakeknya untuk mengirim dirinya sebagai utusan, ditemani oleh Tam ci toa beng berangkatlah mereka menuju ke kuil Siau lim ci. Dasar masih muda dan lagi binal, begitu melompat turun dari kudanya, seperti seekor kupu-kupu langsung melompati tujuh belas buah undak-undakan batu dan menyerbu masuk keruang tengah. Pada saat itulah, dari dalam kuil melompat keluar dua orang pendeta berusia pertengahan, sambil menghadang dihadapannya, mereka menegur : Omitohud, tempat ini adalah tempat suci sang Buddha, harap nona berhenti!" Meski tak senang hati, Pek leng siancu So Bwe leng enggan menumbuk kedua orang hwesio tersebut, terpaksa dengan kening berkerut katanya : Aku hendak mencari hwesio gede dari kuil ini untuk membincang-bincang... !"

204
Ucapan tersebut amat tak sedap didengar, kontan saja paras muka salah seorang pendeta yang kurang tebal imamnya berubah hebat, sambil memperkeras suaranya, dia berseru : Peraturan kuil kami menetapkan bahwa setiap orang perempuan dilarang masuk ke dalam ruangan, jika li sicu ada urusan sampaikan saja kepada siauceng! Dengn kening berkerut Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa dingin : Heehhh.... heeehhh... heeehhhh.... apa sih hebatnya dengan suatu kuil kecil di tempat tercokolnya kawanan hwesio cilik? Andaikata kau tidak berbicara begitu, mungkin nona masih bisa diajak berunding, tapi sekarang, aku bersikeras hendak melihatnya! Sehabis berkata, sepasang telapak tangannya direntangkan dan melepaskan pukulan. Blaaammmm.....! dua orang hwesio itu masing-masing mundur sejauh tiga langkah lebih. Menggunakan kesempatan itu, dengan cekatan dia menerobos masuk ke ruang tengan, kemudian sambil bertolak pinggang dan tertawa tergelak tiada hentinya dia berseru : "Sekarang aku sudah masuk ke dalam, mau apa kalian?" Kedua orang hwesio ini adalah murid angkatan kedua dari kuil Siau lim si, yang seorang bernama Bu ki, yang lain bernama Bu wan, kepandaian silat yang dimilikinya terhitung tangguh sekali di dalam dunia persilatan, siapa tahu mereka kena dipecundangi oleh seorang nona yang masih sangat muda, hal ini segera dianggapnya sebagai suatu peristiwa yang amat memalukan. Serentak kedua orang itu membentak keras dan siap menerjang ke depan untuk melakukan sergapan lagi. Tapi saat itulah suatu bentakan menggeledek menggema dari dalam ruangan kuil : "Bu ki, Bu wan, jangan kurangajar!"

205

Sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, dan muncullah seorang hwesio gemuk pendek yang berusia lima puluh tahunan. Bu ki hwesio dan Bu wan hwesio segera menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian sambil merangkap tangannya di depan dada ia berseru : Tecu ...... Pek leng siancu So Bwe leng kembali tertawa cekikikan, serunya dengan merdu : Aaah .... tak menjadi soal, memukul hwesio di dalam kuil hwesio, itu baru berarti namanya! Tak usah sungkan-sungkan, kalian bertiga boleh maju bersama-sama. Hwesio gemuk pendek inijauh lebih tinggi kedudukannya daripada Bu ki hwesio dan Bu wan hwesio, sudah barang tentu imamnya juga jauh lebih tebal, ketika dengar perkataan itu, dia tidak merasa gusar, malah katanya sambil tertawa : Anak murid kalangan Buddha tak akan melukai orang secara sembarangan, li sicu pandai benar bergurau!" Pek leng siancu So Bwe leng memutar biji matanya sebentar, lalu katanya dengan lantang: "Kalau begitu, kau tak akan menghalangi nonamu masuk ke dalam kuil bukan?" Hwesio gemuk pendek itu merupakan murid angkatan pertama dari kuil Siau lim si, dia menjabat sebagai kepala penerimaan tamu dari kuil tersebut, orang persilatan menyebut sebagai Thi ciang ceng (pendeta toya baja) Go Tong hwesio. Hwesio ini bukan saja pengalamannya luas, pengetahuannya juga matang, ia sudah pandai menilai kemampuan orang. Dari setiap gerakan yang dilakukan oleh Pek leng siancu So Bwe leng, ia sudah tahu kalau gadis yang masih muda usia ini sesungguhnya memiliki ilmu silat yang jauh diatas kepandaiannya.

206
Dengan nama besar kuil Siau lim si yang begitu tersohor dalam dunia persilatanpun tak sampai mengkederkan hatinya, bahkan dengan begitu beraninya datang mencari gara-gara, dari sini dapat diketahui kalau di belakang sinona pasti terdapat tulang punggung lain yang menunjang dirinya. Diapun sadar, kendatipun dengan kekuatan yang dimiliki mereka bertiga, menahan gadis itu bukan suatu pekerjaan yang sukar tapi tindakan semacam itu sudah jelas bukan suatu tindakan yang bisa menyelesaikan masalahnya, malahan bisa jadi akan mendatangkan kesulitan yang lebih besar lagi bagi kuilnya. Apalagi pada detik itu dia masih belum memahami maksud kedatangan sinona tersebut, maka Go to hwesio mengambil keputusan untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan secara gegabah. Siau lim si bisa mempunyai sejarah yang panjang didalam dunia persilatan bukan lantaran mereka memperolehnya karena mujur, tapi dalam ilmu silat mereka memang betul-betul memiliki kemampuan yang lain daripada yang lain. Demikianlah dengan senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, Go tong hwesio berkata: Seandainya li-sicu datang kemari untuk menyembah kepada

Buddha, sudah barang tentu akan pinceng sambut dengan segala kehormatan! Pek leng siancu So Bwe leng rneski binal orangnya tapi ia masih polos dan suci bersih, tadi dia sengaja mengacau karena menganggap Thi Eng khi benar-benar sudah ditawan oleh pihak Siau lim si, maka sebelum mengutarakan maksud kedatangannya, ia berniat memberi sedikit pelajaran kepada mereka. Tapi, setelah dilihatnya hwesio itu sama sekali tidak gusar, bahkan tenang-tenang saja ia menjadi rikuh sendiri untuk melanjutkan perbuatannya, maka sambil tertawa katanya:

207
Kau si hwesio masih terhitung seorang yang jujur, nonamu tak ingin membuat kekacauan tanpa sebab, maka memandang diatas wajahmu, nona akan menyampaikan maksud kedatanganku itu!" Sekalipun sikapnya sudah jauh lebih lembut namun ucapannya masih tak sedap kedengarannya. Gotong hwesio cuma bisa tertawa diwajah, mendongkol didalam hati, katanya kemudian : Harap li sicu bersedia memberi petunjuk! Pek leng siancu So Bwe leng segera mengebaskan ujung bajunya kedepan, serentetan cahaya putih dengan kecepatan luar biasa meluncur ke tengah ruangan. Tiga hari kemudian, kakekku akan berkunjung sendiri kemari untuk menyambangi hwesio tua kuil kalian! serunya dengan serius. Kakek nona adalah ...... Sambil menarik, Pek leng siancu SO Bwe leng segera menukas : "Tanda pengenalnya disitu, buat apa kau musti banyak bertanya lagi?" Seusai berkata, dia lantas mambalikkan badannya dan meluncur keluar dari dalam ruangan. Bu ki hwesio dan Bu wan hwesio segara membungkukkan badannya memberi hormat katanya: "Lapor susiok, perlukan kita menghadang jalan perginya?" "Biarkanlah ia pergi!" jawab Go tong hwesio sambil mengulapkan tangannya. Dia lantas melompat ke atas dan meluncur ke tiang penglari dari ruangan tersebut sewaktu melayang turun kembali ke atas tanah, ditangannya telah bertambah dengan sebuah benda persegi enam berbentuk bunga salju yang terbuat dari perak putih dan besarnya cuma beberapa inci.

208
Bu ki hwesio maupun Bu wan hwesio tak bisa menebak tanda pengenal dari siapakah benda berbentuk bunga salju yang terbuat dari perak putih itu, baru saja akan bertanya, Go tong hwesio dengan wajah hijau membesi telah berseru : "Tiang pek lojin, bagus sekali perbuatanmu! Dia membalikkan badannya dan melompat masuk keruangan belakang. CIANGBUNJIN dari partai Siau lim duduk diruang tengah dalam kamar semedinya, di sekelilingnya duduk keempat orang Kim kong dari Siau lim pay yakni Ci kay taysu, Ci hui taysu, Ci leng taysu dan

Ci-nian taysu. Disamping ruang berdiri Thi ciang ceng (pendeta toya baja) Go tong hwesio, ia telah melaporkan tentang tantangan dari Tiang pek lojin dan menantikan perintah dari ketuanya. Ketua dari Siau lim pay duduk tenang dengan mata terpejam, setelah termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia membuka matanya lebar-lebar dan menatap wajahnya Ci kay taysu dengan sinar mata berkilat tajam. Katanya dengan suara dalam : "Ci kay sute, menurut pendapatmu apa maksud kedatangan Tiang pek lojin kemari? Dengan perasaan tidak habis mengerti Ci kay taysu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tecu bodoh dan tak bisa menebaknya! Jilid 7 MENYUSUL kemudian, Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu mengemukakan pula keheranan dan ketidak mengertian mereka.

209
Ketua Siau lim pay segera menghela napas panjang, tiba-tiba serunya dengan lantang. "Dimana Go sin?" "Tecu siap menanti perintah!" seseorang menjawab dari luar ruangan. Pergi kekamar Sian hong dan bawa kemari kotak bambu hijau tempat tanda pengenal! Tak lama kemudian, Go sin hwesio telah muncul sambil membawa sebuah kotak panjang terbuat dari bambu hijau, kemudian dengan sepasang tangannya dipersembahkan kehadapan ketuanya. Ciangbun Hongtiang segera berpesan : "Serahkan kepada Ci kay susiok untuk diperiksa!" Go sin hwesio menurut dan serahkan kotak panjang bambu hitam itu kepada Ci kay taysu, kemudian mengundurkan diri dari situ. Ketika Ci kay taysu membuka kotak itu dan diperiksa isinya, ternyata kotak itu hanya berisikan secarik kertas putih. Dengan cepat kertas itu diambilnya, kemudian dibaca isinya, apa yang kemudian terbaca segera membuat paras mukanya berubah hebat, dengusan napasnya juga memburu. Ciangbun hongtiang memandang sekejap ke arah Ci hui taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu, setelah itu ujarnya: "Sute bertiga belum mengetahui keadaan yang terjadi, Ci kay sute! Coba kau bacalah secara lantang isi surat tersebut!" Ci kay taysu menurut dan segera membaca isi surat itu dengan suara lantang : Dengan alasan ketua partai Thian liong pay angkatan kesebelas telah ditawan oleh partai kalian dan Bu tong pay. Tiang pek lojin So Seng pak akan datang ke kuil Siau lim si untuk menerbitkan keonaran, padahal yang benar mereka berniat

210
menghancurkan partai kalian agar ambisinya untuk menguasahi daratan Tionggoan bisa tercapai. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan

sengaja kuberi peringatan inl agar kalian bisa membuat persiapan yang diperlukan. Tertanda: orang yang ada maksud" Ketika Ci kay taysu selesai membaca isi surat tersebut, suasana dalam ruangan segera tercekam dalam keheningan yang luar biasa. Akhirnya Ci kay taysu menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata : "Tak bisa dipercaya! Tak bisa dipercaya! Menurut apa yang kuketahui, Tiang pek lojin adalah seseorang yang lurus, jujur dan bijaksana, mana mungkin ia bisa mempunyai jalan pemikiran yang demikian latahnya? Tapi orang toh sudah berada didepan pintu, masa hal ini bisa suatu ceritera bohong saja!" kata Ci hui taysu. Menurut pendapat siaute, kata Ci nian taysu, lebih baik kita percaya dulu daripada tidak percaya, bersiap-siap lebih duluan toh tidak ada salahnya. Tiang pek lojin memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, ujar Ci leng taysu serius, aku kuatir ciangbun suheng sendiripun .. Mendadak ia menghentikan kata-katanya, melirik sekejap ke arah ketuanya dan tidak berbicara lagi. Ciangbun hongtiang sekali lagi menghela napas panjang. Aaai . Aku masih ingat cerita orang pada puluhan tahun berselang, dalam sepuluh kali pertarungan antara Tiang pek lojin melawan Keng thian giok cu Thi locianpwe dari Thian liong pay, akhirnya dia baru dikalahkan dalam setengah jurus. Kejadian itu membuatnya mengasingkan diri ke luar perbatasan dan membangun

211
kekuatan baru di situ, kesemuanya itu membuktikan kalau So lo tidak mempunyai ambisi apa-apa, sungguh bikin orang tidak habis mengerti. Aaaai.... menurut pendapatku, kejadian ini mencurigakan sekali dan pantas untuk dicurigai, cuma, puluhan tahun-tahun lamanya So lo selalu jujur dan bijaksana, siapa tahu kalau kemunculannya kali ini adalah bertujuan untuk melenyapkan badai pembunuhan yang mulai mengancam dunia persilatan? Yang paling menguatirkan adalah jika ada orang bermain dalam air keruh dan menunggangi keadaan tersebut demi kepentingannya. Mendengar perkataan itu, tiba-tiba saja Ci kay taysu teringat kembali akan perbuatan Huan im sin ang yang bermaksud mengadu domba para jago ketika berada di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari. Seperti serentetan hatinya, dia lantas berseru: Entah dimana datangnya surat itu? Apakah di ciangbun suheng bersedia memberi petunjuk?" Ciangbun hongtiang menunduk sedih, sahutnya : "Surat ini kutemukan dalam kamarku pagi tadi." Mendengar perkataan tersebut, ke empat orang kim kong saling berpandangan muka dan tidak berbicara apa-apa lagi. Harus diketahui ketua dari partai Siau lim ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tapi kenyataannya orang yang memberi peringatan tersebut dapat meninggalkan surat peringatan tanpa diketahui, dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang

dimiliki orang itu sangat mengerikan hati. Tanpa terasa keempat orang pendeta itu saling berpandangan dengan perasaan terkesiap. Tiba tiba ketua dari Siau lim pay itu berpaling, kemudian serunya dengan suara lantang :

212
Go tong, turunkan perintah untuk mempersiapkan barisan Lo han toa tin.." Go tong hwesio mengiakan dan segera mengundurkan diri dari tempat tersebut, ketika Ci kay taysu menyaksikan ketuanya hendak mempergunakan barisan Lo han toa tin untuk menghadapi Tiang pek lojin, dengan kening berkerut segera tegurnya : "Ciangbun suheng, apakah tindakan ini tidak kurang baik?" "Jika ada persiapan bencana baru dapat diatasi, So Seng pak bukan seorang jago yang gampang untuk dihadapi, sampai waktunya kita mengambil tindakan menurut keadaan saja! DALAM suasana tegang dan kesiagaan penuh kuil Siau lim si dapat melewati dua hari masa yang aman. Didalam dua hari ini, mereka sendiripun tak dapat menebak gerak gerik serta kekuatan yang sebenarnya dari Tiang pek lojin. Puluhan orang jago lihay dari luar perbatasan yang dipimpin langsung oleh Tiang pek lojin dengan terang-terangan menginap disebuah rumah penginapan yang terbesar dikota Teng hong, segala sesuatunya dilakukan secara terang-terangan, sedikitpun tidak tampak tersembunyi atau melanggar kebiasaan dunia persilatan tidak malu ia disebut sebagai seorang pemimpin dunia persilatan. Besok adalah saat perjanjian yang telah ditetapkan. Untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi besok pagi segenap anggota Siang bun ia memerintahkan untuk beristirahat semenjak pagi, agar semua orang bisa memiliki tenaga yang segar untuk menghadapi peristiwa besok pagi. Waktu sudah melewati kentongan ketiga selain penjagaan yang dilakukan dengan ketat, suasana dalam kuil itu diliputi oleh keheningan yang mencekam. Pada saat itulah, tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang suara pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga, pada mulanya suara

213
pekikan tersebut masih berada di tempat yang sangat jauh, tapi sesaat kemudian tahu-tahu sudah dekat sekali dengan kuil itu, Meski penjagaan disekitar kuil Siau lim si amat ketat, penjagapun terdiri dari jagoan yang lihay, akan suara pekikan itu dengan mudahnya dapat bergerak langsung menuju ketengah ruangan. Mendengar suara pekikan itu dengan terkejut Ciangbun hongtiang membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan, pada saat yang bersamaan pula suara pekikan itupun telah sampai disitu. Dengan kening berkerut dia mengawasi si kakek berambut putih yang berada dihadapannya, kemudian sambil tertawa dingin katanya dengan suara dalam. "Rupanya So tayhiap yang telah berkunjung datang, tak heran kalau tiada anggota kuil yang bisa menghalangi kedatanganmu, tolong tanya ada urasan apa So tayhiap malam-malam berkunjung

kemari? Apakah kau sudah lupa dengan janji kita besok?" Tiang pek lojin So Seng pak segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh. Haaahh.. haaahh. lohu bermaksud untuk berbicara secara baik-baik lebih dulu sebelum menggunakan kekerasan sebelum pertarungan berlangsung aku ingin berbincangbincang secara pribadi lebih dulu denganmu apakah tidak boleh?" "Kalau memang ingin berbicara katakan saja terus terang, lolap sama saja bisa menerimanya. Sementara pembicaraan berlangsung, Sreet! Sreet! Sreet! Diiringi desingan angin tajam, Ci kay taysu, Ci hui-taysu, Ci leng taysu dan Ci nian taysu telah bermunculan disana dan membentuk posisi setengah lingkaran dibelakang tubuh Tiang pek lojin. Dengan pandangan dingin, Tiang pek lojin memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan sikap acuh tak acuh katanya :

214
"Lohu datang dari jauh sebagai tamu, masa kalian tidak tahu cara untuk menerima tamu?" Sambil tertawa dingin, ia mendongakkan kepalanya dan bersikap sangat angkuh. Ciangbun hongtiang memandang sekejap kearah keempat orang sutenya, kemudian setelah memuji keagungan sang Buddha, ujarnya dengan serius : "Lolap kurang hormat, harap So tayhiap jangan menyalahkan, silahkan !" Dia membuka pintu ruangan dan berjalan masuk lebih dahulu. Tiang pek lojin berjalan diantara kepungan lima orang dan masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, tanpa menunggu ucapan orang, dia langsung mengambil tempat duduk, sikapnya angkuh, tinggi hati dan sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap lawannya. Menyaksikan perbuatan kakek itu, hawa amarah segera memancar keluar dari wajah empat orang taysu itu. Diam-diam ciangbun hongtiang dari partai Siau lim memberi tanda kepada keempat orang sutenya agar menahan diri, ia kuatir kalau adik seperguruannya tak kuasa menahan diri sehingga melakukan perbuatan yang merugikan nama baik partai. Pelan-pelan ciangbun hontiang dari Siau lim pay duduk dihadapan Tiang pek lojin. Keempat orang taysu lainnya berdiri di kedua belah samping, berada di depan orang luar, mereka tak berani mengambil tempat duduk sejajar dengan ketuanya. Pelan-pelan paras muka Tiang pek lojin berubah menjadi lembut dan tenang, ujarnya kemudian : Hwesio tua, dapatkah kau tebak apa maksud kedatangan lohu pada malam ini?

215
Dengan wajah serius sahut ketua dari Siau lim pay : Lolap tidak habis mengerti dengan keperluan apakah So tayhiap mengadakan janji dengan kami untuk datang berkunjung kemari?"

Sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, dia enggan untuk menebak maksud kedatangan orang secara sembarangan, tapi dibalik ucapannya itu lamat-lamat mengandung nada tegoran. Tiba-tiba Tiang pek lojin bergumam sendiri : "Kedatangan lohu bukan pada waktunya, apakah toa hwesio merasa agak tidak senang hati?" Ketua dari Siau lim pay itu mengerutkan dahinya, kemudian pelan-pelan menjawab : ''Kemampuan So taybiap untuk berjalan di angkasa memang tak bisa dibandingkan dengan orang, betul kuil kami kecil, tapi kemampuan untuk menahan diri masih kumiliki, harap So tayhiap jangan memikirkan yang bukan-bukan." Tiba-tiba Tiang pek lojin menghela napas panjang, katanya lagi : "Lohu ada niat untuk membatalkan perjanjian untuk menyambangi ke atas bukit, maka sengaja aku datang untuk mengajak toa hwesio merundingkan persoalan ini, harap toa hwesio jangan menyalahkan diriku yang telah mendatangi kuil malammalam! Mendengar perkataan itu, ketua dari Siau lim pay tersebut tertawa terbahak-bahak. "Haaah.. haaahhhh. Haaahhh.. kenapa So tayhiap berkata begitu, baiklah, lolap akan mendengarkan perkataanmu itu." Tiang pek lojin memandang sekejap kearah Ci kay taysu sekalian berempat, sementara mulutnya tetap membungkam, agaknya ia ada maksud untuk mempersilahkan orang-orang itu pergi dahulu meninggalkan tempat tersebut.

216
Siau lim Su toa Kim kong adalah orang-orang yang cukup berpengalaman dalam masalah dunia persilatan, tentu saja mereka pun memahami arti kata dari sikap musuhnya. Ci kay Taysu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan mengajak ketiga orang sutenya memberi hormat kepada Ciangbun suhengnya seraya berkata : "Tecu sekalian berempat akan mohon diri lebih dulu dari tempat ini. ! Selesai berkata rnereka telah bersiap-siap untuk mengundurkan diri dari tempat itu. Tapi dengan cepat ketua dari Siau lim pay itu mengulapkan tangannya sembari berkata : Tak ada halangan buat Sute berempat untuk tetap berada disini, So tayhiap adalah seseorang yang periang dan berjiwa terbuka kalian tak usah berlagak sok pintar. Sesungguhnya keempat toa kim kong itu pun merasa tidak berlega hati untuk membiarkan ciangbun suhengnya berbicara empat mata dengan Tiang pek lojin, mereka kuatir ketuanya menderita kerugian, permohonan diri yang diucapkan tadi tak lebih hanya suatu sopan santun belaka dan mereka memang tidak benarbenar berniat begitu. Maka setelah mendengar perkataan dari ciangbun suhengnya itu, merekapun segera membatalkan niatnya untuk mengundurkan diri, sambil tersenyum mereka balik kembali ke tempatnya semula. Entah apa sebabnya, ternyata Tiang pek lojin berubah menjadi bertebal muka dan tak tahu malu, tiba-tiba katanya kembali :

Lohu bermaksud untuk berbicara empat mata saja dengan lo hwesio!" Ketua dari Siau lim pay itu segera tersenyum, sahutnya : Keempat orang suteku bukan orang luar, jika So tayhiap ingin berbicara, lebih baik katakan saja dengan terang-terangan.

217
Agak memerah paras muka Tiang pek lojin karena jengah, untuk menutupi rasa malunya itu sengaja ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Haaahh...Haaahhh Haaahhh kalau begitu lohu akan berbicara secara blak-blakan!" Baik ketua dari Siau lim pay maupun keempat orang Kim kong itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, dengan tenang mereka menantikan pembicaraannya lebih jauh. Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Tiang Pek lojin berkata dengan serius : "Asalkan kuil kalian bersedia untuk menyerahkan Si li cu berwarna merah kepadaku, lohu segera akan mengalihkan pasukan ke bukit Bu tong dan sejak kini tak akan mengusik kuil kalian lagi. Si li cu dari kuil Siau lim si semuanya terdiri dari tiga macam, yakni putih, merah dan hitam, benda itu dibentuk oleh para ciangbunjin pada generasi yang lalu. Selama ratusan tahun belakangan ini, banyak sekali Si li cu warna putih dan hitam yang berhasil dibentuk, sedangkan Si li cu warna merah hanya berhasil dibuat oleh ciangbunjin angkatan ke lima, sebab itu Si li cu warna merah dianggap sebagai benda mustika oleh pihak Siau lim si. Sekarang, Tiang pek lojin ternyata menghendaki pihak Siau lim menyerahkan benda tersebut, bukankah hal ini merupakan suatu pemaksaan yang sewenang-wenang? Tak heran kalau kelima orang hwesio dari Siau lim si itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya. Ketua dari Siau lim si itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan gusarnya, kemudian dengan wajah berubah serunya lantang : "So tayhiap, apakah kau beranggapan bahwa pertemuan yang berlangsung besok pasti dimenangkan oleh pihakmu?

218
Hmmm.. tak perlu menunggu sampai besok sekarangpun bisa kubuktikan kenyataanya!" sahut Tiang pek lojin sambil menunjukkan sikap yang aneh sekali. Ketua dari Siau lim si itu benar-benar dibikin naik pitam, sambil tertawa dingin katanya : Bagus sekali! Bagus sekali! Ci kay sute, harap kau menuju kehalaman belakang dan perintahkan orang untuk memasang lampu, kalau memang So tayhiap ada kegembiraan untuk melakukan hal ini, lolap bersedia untuk mengiringi kehendakmu!" Ci kay taysu mengiakan dan siap berlalu dari situ. Tapi Tiang pek lojin telah goyangkan tangannya berulang kali sambil tertawa seram katanya : Tidak perlu lohu tak ingin terlalu menyusahkan kalian semua,

bagaimana kalau kita mencoba beberapa gebrakan ditempat ini saja?" Soal lagaknya yang besar masih bisa ditahan, tapi sindirannya yang pedas cukup membuat orang merasa tak kuasa menahan diri. Sebelum ciangbun suhengnya mengucapkan sesuatu Ci nian taysu sudah tak kuasa menahan diri lagi, dia segera membentak gusar: "So Seng pak, kau benar-benar tidak memandang sebelah mata kepada kami, pertama-tama biar pinto yang meminta petunjukmu terlebih dulu! Tiang pek lojin melototkan matanya sambil mendengus, Hmm.! Usiamu belum mencapai enam puluh tahun, masa latihanmu masih sangat terbatas, tak nanti kau bisa menahan tiga buah seranganku. Lohu rasa, ada baiknya kalian suheng te berlima maju bersama-sama saja! Ketua Siau lim pay dan ke empat Kim kongnya mempunyai kedudukan yang amat tinggi didalam dunia persilatan, jangan dibilang lima orang mengerubuti satu orang, sekalipun secara bergilir

219
mereka turun tanganpun tak akan dilakukan, sebab jika hal ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukankah nama besar partai Siau lim akan tercoreng? Tiang pek lojin bisa berbicara besar karena dia tahu bahwa dirinya tidak terjerumus dalam keadaan yang berbahaya, sehingga ucapan yang diutarakan pun menjadi tak sedap didengar. Itulah sebabnya perkataan dari Tiong pek lojin dengan cepat mengorbarkan hawa amarah dari ketua Siau lim beserta ke empat Kim kongnya. Ci nian taysu tak kuasa menahan diri lagi sambil membentak keras ia maju menyerang dengan ilmu pukulan Siau lim sin kun sambil menuju tubuh Tiang pek lojin bentaknya : "Bisa atau tidak, kita coba dulu baru berbicara kemudian!" Tiang-pek lojin tertawa sinis, sambil mengangkat telapak tangannya keatas dan memdorongnya kemuka dia berkata : "Jika kau tak tahu diri, jangan salahkan diri lohu lagi." Ci nian taysu bisa menjadi salah satu dari Su toa kim kong dalam partai Siau lim karena ilmu pukulan Bu im sin kangnya sudah mencapai kesempurnaan delapan bagian dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang tidak seberapa orang yang mampu menghadapi pukulannya itu. Selihay-lihaynya tenaga dalam yang dimiliki Tiang pek lojin tidak seharusnya dia berani memandang enteng musuhnya maka ketika semua orang menjumpai sikap acuh musuhnya itu, diam-diam mereka menjadi girang, dianggapnya dalam pertarungan pertama ini paling tidak pihak mereka akan berhasil meraih keuntungan. Siapa tahu kenyataannya sungguh jauh di luar dugaan, mendadak sekujur badan Ci nian taysu mengejang keras akhirnya tak sanggup berdiri tegak, secara beruntun dla mundur empat lima langkah dan akhirnya muntah darah segar, jelas isi perutnya sudah mengalami luka yang tidak ringan.

220

Ketika dua gulung angin pukulan saling membentur tadi, dalam ruangan sama sekali tidak terjadi goncangan apa-apa, dari sini bisa diketabui kalau kepandaian silat yang dimiliki kedua belah pihak benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa. Tampaknya Tiang pek lojin berhasil untuk membuat kejutan dengan serangannya itu, maka diantara serangan yang dipergunakan itu, diam-diam ia sertakan pula tenaga serangan Jit sat ci yang maha lihay itu. Akhirnya bukan saja Ci nian taysu terkena serangan itu sampai luka dalam, bersama itu juga jalan Ciang bun hiat ditubuhnya juga terkena totokan. Begitu hawa murninya tak bisa dihimpun, kontan darah segar muntah keluar dan akhirnya ia roboh tak sadarkan diri. Setelah jatuh pingsan, sudah barang tentu dia pun tak dapat menceritakan bila ia sudah kena disergap lawan secara licik. Tiang pek lojin sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk melakukan penyelidikan, sambil tertawa tergelak serunya kemudian : "Bagaimana hasilnya? Lohu tidak sengaja omong besar bukan?" Ci hui taysu segera maju ke depan, kemudian katanya : "Tak usah banyak berbicara lagi, silahkan kau menerima sebuah pukulan dari pinto ini!" Ditengah pembicaraan tersebut, tubuhnya segera merendah ke bawah, sepasang telapak tangannya dengan disertai tenaga penuh langsung menyerang jalan darah Siau yau hiat dipinggang Tiang pek lojin dengan jurus Thian tee kay tay (langit bumi terbuka lebar). Sesudah berhasil mengalahkan Ci nian taysu dalam satu gebrakan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna, kali ini Tiang pek lojin telah merubah sistim pertarungannya ketika menghadapi Ci hui taysu, dia hendak menangkan musuhnya dengan mengandalkan jurus serangan agar musuh bisa mengetahui kemampuannya yang sebenarnya.

221
Begitulah, sambil tersenyum dia tetap berdiri tegak ditempat semula, kemudian dengan mengandalkan tangan kirinya melancarkan serangan balasan, ia cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ci hui taysu dengan jurus Ing kan im san (menggaet kepala memandang bukit). Ci hui taysu segera merasakan munculnya segulung hawa dingin yang merasuk tulang langsung menyusup ke dalam nadinya, ia menjadi bergidik dan bersin beberapa kali, peluh dingin jatuh bercucuran muka menjadi pucat pias seperti mayat dan segenap tenaga dalamnya menjadi punah tak berwujud. Melihat musuhnya telah kena dipecundangi, Tiang pek lojin tertawa terbahak-bahak katanya : Haaahhh. Haaahhhh.. haaaahhhhh. ternyata yang dinamakan Su toa kim kong dari partai Siau lim tidak lebih hanya begitu saja, hayo enyah kau dari sini!" Ketika telapak tangannya dikebaskan kemuka, tubuh Ci hui taysu yang tinggi besar itu sudah terlempar jauh keluar jendela. Paras muka Ci kay taysu dan Ci leng taysu segera berubah menjadi hijau membesi, tampaknya mereka sudah berniat untuk

turun tangan. Hongtiang dari Siau lim pay pun melototkan matanya bulat-bulat, ujarnya kemudian : Sebelum partai kita berada didalam posisi antara hidup dan mati, harap sute berdua tenangkan sedikit hati kalian, hari ini kita cuma bertujuan untuk mengukur kepandaian masing-masing, dua orang yang mencobapun sudah lebih dari cukup!" Tampaknya tujuan Tiang pek lojin telah tercapai pula, paras mukanya berubah menjadi jauh lebih lunak, lalu katanya : "Hari ini memang bermaksud untuk menjajal kepandaian, maka kita hanya membatasi saling menutul, tapi besok dalam pertemuan resmi aku tidak akan bertindak sesungkan ini lagi, hui toa hwesio pikirkan yang matang dan besok beri aku jawaban, sekarang maaf kalau lohu tak akan menemani lebih lama lagi"

222
Begitu ucapan yang terakhir diutarakan, tubuhnya sudah melayang keluar lewat jendela dan melompat naik keatas atap rumah. Ci kay taysu dan Ci leng taysu berdua segera membentak keras kemudian bersiap sedia mengejar dari belakang. "Sute berdua, kembali! Biarkan saja dia pergi!" seru ketua Sim lim pay dengan cepat. Ci kay taysu dan Ci leng taysu segera mundur kembali kedalam ruangan, dengan wajah membesi mereka membungkam dalam seribu bahasa. Penghinaan tersebut memberikan pukulan batin yang cukup berat bagi mereka, didalam hati kecil mereka secara lamat-lamat mulai tumbuh perasaan dendamnya terhadap Tiang Pek lojin. Akhirnya ketua dari Siau lim pay itu menghela napas panjang, kemudian katanya : "Tenaga dalam yang dimiliki orang itu jauh diluar dugaanku, Ci kay sute harap kau undang keluar lencana Liok giok leng dan meminta tiga malaikat untuk tinggalkan pertapaan serta siap menghadapi pertemuan besok. Siau lim sam sian (tiga malaikat dari kuil Siau lim) adalah saudara seperguruan ciangbunjin angkatan yang lalu, atau merupakan paman guru dari ketua yang sekarang, mereka merupakang tianglo yang berkedudukan paling tinggi dalam partai Siau lim. Oleh karena usianya yang telah lanjut dan kedudukannya yang tinggi, mereka jarang sekali mencampuri urusan di dalam kuil. Tapi situasi yang dihadapi partai Siau lim pada saat ini jauh berbeda, apalagi dihadapkan pada ancaman Tiang pek lojin yang maha dahsyat, mau tak mau terpaksa mereka memutuskan untuk mengundang kehadiran ketiga orang malaikat tersebut.

223
Kepergian Ci kay taysu amat cepat, tapi kembalinya juga lebih cepat begitu melangkah masuk ke dalam kamar hontiang, dengan napas agak memburu dan suara gemetar, lapornya : Lapor ciangbunjin suheng, lencana leng giok leng telah hilang dicuri orang!" "Apa? teriak ketua dari partai Siau lim itu dengan tubuh yang

bergetar keras. "Lencana Liok giok leng telah hilang dicuri orang! ulang Ci kay taysu sekali lagi. Sinar sang surya yang berwarna kuning emas telah memancar ditengah lapangan luas di dalam lingkaran dinding pekarangan kuil Siau lim si. Udara sangat bersih dan cerah, tidak ada angin yang berhembus dan suasana terasa gerah dan tak tahan di badan. Sejak tadi perasaan setiap pendeta dalam kuil Siau lim si telah bergelora dengan hebatnya, mereka serasa mendidih dengan hebatnya.... Kejadian semalam telah tersebar luas diseluruh kuil setiap anggota kuil Siau lim telah mengetahui kalau Tiang pek lojin telah mendatangi kuil mereka semalam dan melukai Ci hui taysu serta Ci nian taysu. Peristiwa tersebut dengan cepat mengobarkan semangat dan rasa dendam segenap pendeta terhadap musuhnya. Yaa, peristiwa ini boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang belum pernah dialami Kuil Siau lim si selama beberapa ratus tahun belakangan ini. Sekalipun ketua partai Siau lim merupakan seorang pendeta yang beriman tebal, kali ini diapun sudah tak sanggup untuk mengendalikan perasaannya lagi. Mendekati tengah hari, dari luar kuil tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai, seorang kakek bermuka merah

224
berambut putih dengan memimpin sepasukan jago pelan pelan berjalan mendekat. Kuda kuda itu dilarikan masuk kedalam kuil dan berhenti tepat ditengah lapangan didepan kuil Toa hian tian. Kuda itu berjumlah dua puluh delapan ekor sedang penunggangnya hanya dua puluh enam orang, dua ekor kuda yang terakhir tidak nampak penunggangnya melainkan dipasang dengan tandu yang hijau dirubah bentuknya. Tandu itu tidak terlalu tinggi dan tak mungkin bisa diisi orang, tapi apakah isinya. Semua orang sudah turun dari kudanya namun dua ekor kuda bertandu itu tetap berdiri tegak disitu tiada ornag yang menghampirinya, kecuali ringkikan kuda dan depakan kaki kuda yang memecahkan keheningan. Dalam lapangan tersebut tidak Nampak seorang pendetapun, ini menunjukkan kalau pihak Siau lim si memang sengaja hendak memandang rendah dan sinis terhadap kehadiran mereka. Sebenarnya Tiang pek lojin sudah diliputi kemarahn apalgi setelah menyaksikan kejadian ini, amarahnya kontan saja makin memuncak, rambutnya pada berdiri semua bagaikan landak, matanya melotot besar seperti gundu. Setelah mendengus dingin, sumpahnya : Orang Siau lim, laknat semua kalian! Baru selesai perkataan itu dilontarkan, dua orang kakek berbaju hijau yang berusia lima enam puluh tahunan dan berperawakan tinggi besar telah melompat maju kedepan. Kedua kakek berbaju hijau itu bersamaan Tam ci toa tiau

(rajawali raksasa bersayap tunggal) Ting Tian yu disebut Tiang pek sam nio.

225
Ting Tian yu adalah ketua dari ketiga burung tersebut dan merupakan lotoa sedang mereka berdua adalah loji Meh yu tok tin (Burung beracun berbulu hitam) Ko Thian lay serta losam Thi cui Wu ya (burung gagak berparuh baja) Tan Peng. Tiang pek sam nio adalah keponakan dari Tiang pek lojin sendiri, mereka merupakan orang-orang yang paling dipercaya oleh kakek sakti tersebut. Sementara itu loji si burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay serta siburung gagak berparuh besi Tan Peng telah melompat kedepan. Dengan suara keras Si burung gagak berparuh baja Tan Peng berkata lantang : "Anjing buas cuma tunduk dengan tongkat besar, berbicara soal cengli dengan mereka sama sekali tak ada gunanya, harap kau orang tua memberi ijin kepada kami berdua untuk membalaskan dendam bagi kematian saudara kita." Tiang pek lojin mengerutkan dahinya kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun mengangguk. Dengan suatu gerakan cepat, burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay dan burung gagak berparuh baja Tan Peng segera menerjang maju ke depan pintu kuil. Setelah melewati tanah lapang yang luas, sampailah kedua orang itu dibawah undak-undakan batu didepan istana Toa hiong po tian. Burung gagak berparuh baja Tan Peng segera berseru kepada saudaranya : "Loji, kau tunggu saja ditempat ini, bila ada hwesio gundul yang berani kabur dari sini, diberi sedikit pelajaran agar tahu rasa. Beberapa orang yang musti kurobohkan? tanya Ko Thian lay.

226
Si burung gagak berparuh besi memperlihatkan kedua jari tangannya, lalu baru melangkah ke atas batu undak-undakan batu itu. Burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay berhenti sebentar dibawah undak-undakan batu itu, tidak tampak dia melakukan gerakan apa-apa, tahu-tahu sambil tertawa dia telah berjalan balik dari tempat semula. Sedangkan si burung gagak berparuh baja telah selesai menaiki undak-undakan batu itu dan menghampiri pintu gerbang ruang Toa hiong po tian, diam-diam hawa murninya segera dihimpun, baru saja akan menggempur pintu gerbang tersebut dengan kekerasan, mendadak pintu besar berlapiskan emas itu telah membuka dengan sendirinya. Dibalik pintu penuh dengan kawanan hwesio yang berdiri berjejal disana... cuma anehnya, para hwesio itu tiada seorangpun yang berkutik dari tempat semula. Paras muka burung gagak berparuh baja Tan Peng segera berubah menjadi merah padam, setelah tertawa serak dengan tersipu-sipu dia balik kembali dari situ.

Mungkin karena ia tidak memperoleh kesempatan untuk mendemostrasikan kehebatannya maka jagoan ini merasa rikuh. Setelah pintu istana terpentang lebar, para hwesio yang berkumpul didalam ruangan sama sekali tidak berdesakan keluar. Mula-mula terdengar dulu suara genta kemudian bergema suara tambur, menunggu suara genta dan tambur berbunyi bersama, dari ruangan baru muncul sepasang hwesio cilik berbaju kuning. Dibelakang hwesio cilik itu adalah delapan belas orang hwesio berlhasa merah, dibelakangnya baru ketua dari Siau lim pay, sedangkan para pendeta sisanya dengan teratur sekali mengikuti dibelakang ketuanya.

227
Andaikata persiapan semacam ini dipergunakan untuk menyambut kedatangan tamu agung, maka boleh dibilang hal ini merupakan suatu ucapan penyambutan yang besar sekali, tapi kalau digunakan untuk penyelesaian suatu pertikaian dunia persilatan maka menjadi berbeda sekali artinya. Hal mana tak baik mengartikan bahwa ke dua belah pihak tak perlu membicarakan persoalan ini secara sungkan-sungkan lagi. Ketika Tiang pek lojin menyaksikan cara Siau lim pay didalam menyambut kedatangannya itu, kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam sambil mendongakkan kepalanya dia tertawa tergelak tiada hentinya..... Sementara itu kedua orang hwesio cilik yang berjalan di paling muka telah menuruni undak-undakan batu, sedangkan ketua Siau lim pay juga belum jauh meninggalkan pintu ruangan. Pada saat itulah mendadak dua orang hwesio cilik yang berada dipaling muka itu berpekik keras, kemudian secara ganas membalikkan badan dan menyerang ke delapan belas orang hwesio berbaju merah yang mengikuti dibelakangnya. Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini sangat mengejutkan dua orang hwesio yang berada tepat dibelakangnya, sementara mereka masih tertegun, pukulan keras yang dilancarkan hwesio cilik itu dengan telak melukai mereka berdua hingga robohlah kedua orang itu keatas tanah. Keadaan dari kedua orang hwesio cilik itu ibaratnya anjing yang sudah gila, begitu bertemu orang serangan segera dilancarkan dalam waktu singkat kedelapan belas orang hwesio itu menjadi kacau balau tidak karuan. Sebenarnya kedelapan belas Lo han itu rata-rata berilmu tinggi, tapi lantaran peristiwa itu terjadinya sangat mendadak, dalam tercengangnya pendeta-pendeta itu menjadi lupa untuk membekuk kedua orang hwesio cilik yang sedang kalap tersebut.

228
Para jago dari luar perbatasan menjadi sangat bergirang hati setelah menyaksikan kejadian itu, semua rasa mendongkol dan ketidaksenangan hati segera tersapu lenyap hingga tak berbekas. Sebaliknya para jago dari Siau lim pay, mulai dari ketuanya sampai ke anak buahnya sama-sama berubah muka, dengan wajah hijau membesi mereka melototi musuhnya dengan penuh kegusaran. Sepasang alis mata ciangbun hongtiang mengerut kencang,

sepasang matanya merah berapi-api, dengan suara dalam bentaknya : "Go li, Go hian! Bekuk kedua orang itu gusur pergi dari situ .." Diantara delapan belas Lohan segera muncul dua orang hwesio setengah tua yang berusia lima puluhan tahunan seorang menghadapi seorang hwesio cilik, dengan cepat pertarungan berlangsung. Gerak gerik kedua orang hwesio cilik itu sungguh lincah sekali, kepandaian sakti aliran Siau lim yang dipahami juga sudah mencapai beberapa bagian kesempurnaan, apalagi dalam keadaan hilang kesadarannya kemampuan yang mereka tunjukkan berlipat kali lebih dahsyat dari keadaan semula. Akibatnya meski Go li hwesio dan Go hian hwesio sudah bertarung sebanyak lima gebrakan, mereka belum berhasil membekuk kedua orang hwesio cilik itu. Menyaksikan kejadian tersebut para jago dari luar perbatasan segera tertawa terbahak-bahak. Go li hwesio dna Go hian hwesio segera merasa kehilangan muka, lantaran malu mereka jadi naik darah, dengan cepat ilmu Cap Pwe lohan jiu yang maha dahsyat dipergunakan, tapi pada jurus yang kesembilan mereka baru berhasil menaklukkan kedua orang hwesio cilik itu.

229
Begitu kedua orang hwesio tadi terbekuk, mereka segera roboh tak sadarkan diri diatas tanah, buih putih meleleh keluar tiada hentinya dari ujung bibir mereka. Tak usah diterangkan pun semua orang sudah tahu kalau mereka kena dipecundangi orang dengan obat beracun. Sementara itu dari dalam ruang kuil telah muncul empat orang hwesio muda yang segera menggotong ke dua orang hwesio cilik itu masuk. Selama ini kuil Siau lim si tersohor karena peraturannya yang keras serta anggotanya yang disiplin, akan tetapi dengan terjadinya peristiwa itu, otomatis nama baik partaipun ikut tercemar. Dengan suara dalam ketua dari Siau lim pay itu berseru : "Harap semua pendeta mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi badan, delapan belas Lo han berjalan dipaling depan!" Kedelapan belas orang hwesio itu segera menyusun barisan kembali dan menuruni anak tangga batu itu dengan wajah serius. Pada mulanya para pendeta itu masih kuatir terutama mereka yang merasa tenaga dalamnya agak cetek mereka kuatir bila sampai keracunan lagi seperti rekannya, tapi sampai segenap anggota menuruni undak-undakan tersebut ternyata tak seorangpun yang mengalami musibah lagi. Dari sini dapat diketahui bahwa si burung beracun berbulu hitam Ko Thian lay benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa dalam kepandaian beracun buktinya dia bisa mempergunakannya seperti apa yang diinginkan hati kecilnya. Dari dua tiga ratus orang anggota kuil Siau lim si, kecuali sebagian yang mendapat tugas untuk menjaga ruangan dalam, hampir seratus lima enam puluh orang anggota Siau lim pay yang hadir ditengah lapangan saat ini. Berarti hampir separuh lapangan

telah dipenuhi oleh mereka.

230
Padahal para jago dari luar perbatasan hanya berjumlah dua puluh enam orang, sudah jelas dalam hal jumlah mereka masih ketinggalan jauh, meski begitu, para jago dari luar perbatasan sama sekali tidak menunjukkan rasa jeri atau takut bahkan sama sekali tidak ambil perduli. Menunggu para pendeta dari kuil Siau lim si telah turun semua dari undak-undakan batu, Tiang pek lojin baru mengulapkan tangannya menitahkan para jago dari luar perbatasan untuk tetap berdiri ditempat, kemudian didampingi dua orang kakek tua mereka berjalan ke tengah arena dengan langkah lebar. Ciangbunjin hongtiang dari Siau limpay segera ulapkan tangannya pula, dengan didampingi Ci kay taysu disebelah kiri, Ci leng taysi di sebelah kanan, mereka bertiga maju ke depan menyongsong kedatangan Tiang pek lojin bertiga. Peristiwa semalam rupanya masih mendendam dalam hati hwesio tua ini, tiada senyuman ramah yang menghiasi bibirnya, setelah mengucapkan Omitohud katanya kemudian : Lo sicu, apakah benar-benar tak mau lepas tangan? Sebenarnya ucapan itu merupakan kelanjutan dari pembicaraannya semalam, tapi justru gampang menimbulkan kesalahan paham yang seolah-olah mengartikan kedatangan Tiang pek lojin tersebut. Betul juga, so Seng pak atau Tiang pek lojin segera tertawa dingin, kemudian katanya : Ci long, sungguh tak kusangka kau sebagai seorang ciangbunjin dari suatu perguruan besar, namun tindak tandukmu begitu rendah dan tak tahu malu! Ci long, Ci long, kau anggap nama tersebut pantas kau sebut sebut! bentak Ciangbunjin hongtiang dengan amat gusar. Tiang pek lojin segera tertawa seram.

231
Heehhh..... heeehhhh.... heehhh..... ketika lohu bersama Tong sian sang jin berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, kau masih seorang bocah cilik, apa salahnya kusebut kau dengan sebutan Ci long? Kau benar-benar terlalu menghina orang, lolap sudah tak tahan dibuatnya! bentak Ci long siansu dengan amat marahnya. Sekali lagi Tiang pek lojin tertawa seram. "Kau mcmpermalui perguruanmu, mencari penyakit buat diri sendiri, kenapa sekarang malah menyalahkan orang lain. Mendadak Ci long siansu tertawa keras pula, kemudian serunya: "Lolap selalu melangkah menurut peraturan, selamanya tak pernah melakukan suatu perbuatan yang merugikan orang, atas dasar apa kau menuduh aku telah mempermalukan nama perguruan?" "Kurangajar, kau anggap lohu sembarangan menfitnah!" teriak Tiang pek lojin dengan teramat gusarnya. Ci long siansu tak mau kalah, sambil tertawa dingin dia berseru pula :

"Bagaimanakah watak Suma Ciau, orang jalanpun pada tahu! Sekalipun kau main fitnah, apapula gunanya!" "Lohu punya bukti!" "Hmm.... bukti apa? Jika hatimu sudah mempunyai maksud jahat, sekalipun ada bukti juga tak akan bisa mengelabuhi bocah berusia tiga tahun dari daratan Tiorggoan!" Tiang pek lojin geram sekali, sambil menggigit bibir bentaknya keras-keras : "Ketua Thian liong pay angkatan ke sebelas Thi Eng khi telah dipaksa mengasingkan diri jauh ke luar perbatasan, ternyata kalian orang-orang Siau lim dan Bu tong tidak rela melepaskannya dengan begitu saja, bahkan diam-diam menyusup masuk kedalam benteng

232
lohu dan menculiknya pergi. Bayangkan saja tindakan yang pantas dilakukan oleh kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya manusia dari golongan lurus di daratan Tionggoan! Setelah berhenti sebentar, dengan gusar lanjutnya lebih lanjut: Sekarang Thi Eng khi berada di mana? Cepat serahkan kepadaku! Lohu dengan Keng Thian giok cu Thi tayhiap adalah sahabat sehidup semati aku tak bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kejadian ini berlangsung di depan mataku. "Gara-gara membelai Thi ciangbunjin sewaktu berada di perkampungan Ki hian san ceng, suteku Ci kay telah menyalahi dia, Sangkoan loji, peristiwa ini diketahui oleh setiap umat persilatan didunia ini, kini Thi ciangbunjin lenyap diluas perbatasan, atas dasar apa kalian menuduh kuil kami? Tiang pek lojin tertawa seram, sambil berpaling segera bentaknya : Bawa kemari barang buktinya!" Tam ci toa tiau Ting Tian yu muncul dengan langkah lebar sambil membawa sebuah meja besar, kemudian meja itu diangkat tinggitinggi dan permukaannya diperlihatkan kepada para pendeta tersebut. Kemudian dengan sinar mata yang tajam seperti sembilu Tiang pek lojin mengawasi wajah ciangbun hongtiang tajam-tajam, katanya : "Setelah menculik orang lantas meninggalkan tanda, tindakan ini sebenarnya merupakan suatu tindakan yang berani, kenapa sekarang tidak berani mengakuinya?" Begitu menyaksikan bekas cap Liok giok leng diatas meja tersebut, paras muka Ci long siansu berubah hebat, segera bentaknya : "Kau berani mencuri barang orang, kemudian menfitnah orang semaunya sendiri, hmm! Suatu ketika kau pasti akan memperoleh ganjaran atas perbuatanmu itu!"

233
Rupanya ia menganggap Tiang pek lojin berambisi untuk merajai daratan Tionggoan maka sengaja mencuri lencana, meninggalkan bekasnya di meja dan dipakai sebagai bukti. Tiang pek lojin tidak menyangka sampai kesitu, dia menganggap pihak lawan tak tahu malu dan ingin mungkir, maka sambil tertawa

ia bertepuk tangan lagi tiga kali. Setelah tiga kali tepukan tangan itu lewat, muncul dua orang sambil menuntun kuda bertandu itu menghampiri tengah arena. "Sekarang akan kutunjukkan lagi sebuah bukti yang nyata," ujar Tiang pek lojin kemudian sambil mendongakkan kepalanya, coba lihat, apa yang bisa kaukatakan lagi." Menyusul kemudian, pesannya : Hantar mereka kepada ciangbunjin agar bisa dilihat lebih jelas, coba kita lihat apalagi yang hendak dia ucapakan! Dua orang segera maju dan menurunkan tandu tersebut dari punggung kuda, lalu digotong dan diletakkan didepan ciangbunjin hongtiang dari kuil Siau lim si. Rupanya Ciangbunjin dari Siau lim si itu tidak bisa menebak permainan setan apa yang sedang dipersiapkan Tiang pek lojin, baru saja dia akan maju untuk melakukan pemeriksaan, Ci kay taysu yang berada disisinya telah berkata : "Ciangbun suheng, kau tak boleh menyerempet bahaya, biar tecu saja yang melakukan pemeriksaan itu!" Dengan langkah lebar dia lantas maju kedepan. Ci kay taysu cuma maju beberapa langkah dan tidak berani terlampau dekat dengan tandu tersebut, lalu dengan mempergunakan tenaga pukulannya dia menyingkap kain yang menutupi tandu tersebut.

234
Ternyata dalam tandu tadi tergeletak dua sosok mayat dari lelaki bertubuh kekar, mata mereka terbelalak lebar dengan mulut melongo, kematiannya benar-benar mengenaskan. Sambil tertawa dingin, Tiang pek lojin lantas berkata : Coba kalian periksa, ilmu pukulan apakah yang menyebabkan kematian mereka berdua? Maksud dari perkataan itu, tentu saja mempersilahkan Ci kay taysu untuk melakukan pemeriksaan. Kali ini Ci kay taysu tidak ragu-ragu lagi, dia lantas membungkuk dan menyingkap pakaian yang dipakai kedua orang lelaki itu, tapi diatas dadanya tidak Nampak luka apa-apa. Baru saja dia hendak bertanya, Tiang pek lojin telah berkata lagi : Lukanya berada diatas Pay sim hiat! Ci kay taysu segera membalikkan jenasah itu, apa yang kemudian terlihat segera membuat hatinya menjadi tertegun, hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sementara itu Tiang pek lojin telah berkata lagi : "Dua orang saudara yang mati secara mengenaskan itu adalah Kim piau Gin kiam (ruyung emas pedang perak) dari delapan belas penunggang kuda bukit Hek san, mereka dibunuh oleh pukulan Toa lip kim kong ciang selama dirumah penginapan Tenghong aku rasa pukulan semacam ini hanya ada didalam partai Siau lim bukan! Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ci kay taysu mengundurkan diri kehadapan ciangbun suhengnya dan manggutmanggut mengakui kematian Kim pian gin kiam di atas pukulan Toa lip kim kong ciang dari partai Siau lim. Pada mulanya ketua dari Siau lim pay itu merasa keheranan, tapi tak lama kemudian timbul satu ingatan didalam benaknya, dia

menganggap kedua orang ini mungkin tewas ditangan murid-murid partainya semalam ketika kedua orang itu mengikuti Tiang pek lojin

235
melakukan pengacauan semalam, maka sambil tertawa dingin katanya : Kau sendiri bisa melukai orang, mengapa murid-murid partai kami tak boleh membunuh untuk membela diri? Hmmm, sekalipun kau jelajahhi seantaro jagad, teorinya juga tetap sama semua! Tiang pek lojin menganggap pihak lawan lagi-lagi hendak mungkir maka hawa amarahnya kontan saja makin berkobar, dia tak mau mengalah dengan begitu saja, sambil membentak keras teriaknya : Sekalipun lohu telah melukai hwesio-hwesio kalian mau apa pula kau? Bila kalian tiudak segera menyerahkan Thi Eng khi kepadaku jika napsu membawa lohu sudah berkobar, hmmm! Perbuatan yang lebih kejipun masih sanggup kulakukan! Tentu saja orang yang melukai Ci hui taysu dan Ci nian taysu semalam bukan Tiang pek lojin asli, sedangkan orang yang membunuh Kim pian gin kiam juga bukan anak murid Siau lim pay. Tapi siapakah yang telah melakukan kesemuanya ini? Saya rasa para pembaca pasti dapat menebah sendiri bukan? Sayangnya kesalahan paham semacam ini justru tidak mudah untuk diselesaikan, andaikata kedua belah pihak tidak bernama besar, urusan mungkin diselesaikan lebih gampang, tapi kenyataannya kedua belah pihak sama-sama orang ternama dalam dunia persilatan, biasanya orang ternama sok gengsi dan tidak mau saling mengalah, otomatis dalam setiap perdebatan pun masingmasing pihak mempertahankan pendapatnya sendiri. Akibatnya bukan makin beres masalahnya, sebaliknya makin lama urusan semakin bertambah runyam. Pembicaraan masing-masing pihak makin kaku dan keras, kecerdasan mereka tertutup oleh kobaran api amarah terutama sekali Ci long siansu yang merasa nama baik partainya tercemar, lencara Liok giok lengnya tercuri, semua pertanggungan jawab yang harus dipikulnya itu membuat dia tak ingin berpikir lebih jauh lagi.

236
Segera ketika dia mengebaskan ujung jubahnya, para pendeta yang berada dibelakangnya dengan cepat menyebarkan diri membentuk sebuah barisan yang terdiri dari tujuh puluh dua orang, sedangkan pendeta-pendeta lainnya serentak menyebarkan diri dan berjaga-jaga diruang depan Toa hong po tian. Ci long siansu gagal meminta bantuan Siau lim sam seng untuk mengatasi kemelut tersebut, maka diapun cukup memahami kekuatan sendiri, dia tahu dengan mengandalkan kekuatan dari mereka beberapa orang, sudah pasti bukan tandingan dari Tiang pek lojin maka dia tak berani menyerempet bahaya, begitu maju barisan Lo han toa tin segera dipersiapkan. Barisan Lo han tin merupakan salah satu kepandaian sakti dalam kuil Siau lim si, kekuatannya betul-betul luar biasa sekali. Barisan ini mengambil delapan belas orang sebagai dasar kekuatan yang diamdiam mengandung unsur cap pwe lo han jadi paling tidak harus ada

delapan belas orang baru bisa berbentuk. Tapi barisan Lo han tin yang dibentuk kali ini terdiri dari tujuh puluh dua orang, itu berarti barisan besar itu memang khusus dipersiapkan untuk menghadapi ke dua puluh enam orang musuh yang datang dari luar perbatasan, sebab menurut perhitungan Ci long taysu, kekuatan tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kekuatan lawan...... Begitulah, setelah barisan dipersiapkan, Ci liong siansu berkata dengan dingin : "Siau lim si telah bersiap sedia menerima petunjuk yang lihay dari kalian semua!" Selesai berkata dia lantas mengajak Ci kay taysu dan Ci leng taysu untuk menerobosi barisan Lo han tin dan naik ke atas undakundakan batu, rupanya mereka bermaksud untuk menonton jalannya pertempuran itu dari tempat atas. Tiang pek lojin menjadi semakin naik pitam ketika dilihatnya sikap Ci long siansu begitu angkuh dan tak sudi turun tangan melawan dirinya, seraya mendengus ujarnya kemudian:

237
"Hmmm! Kalau cuma barisan Lo han tin mah masih belum lohu pandang sebelah matapun, jika lohu tak mampu menerobos keluar dari barisan ini, mulai detik ini aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi didalam daratan Tionggoan!" "Silahkan!" Ci long siansu cuma mengucapkan sepatah kata yang amat sederhana itu. Kemudian tidak berbicara lagi. Tampaknya dia benar-benar telah mambenci Tiang pek lojin hingga merasuk kedalam tulangnya. Meskipun perkataan Tiang pek lojin diucapkan dengan sombong dan tinggi hati, namun gerak geriknya sangat berhati hati sekali, dia memilih Boan san siang koay (sepasang manusia aneh dari bukit Boan san) Cia bersaudara, Tiang pek sam nio dan Sui pek su kui (empat setan dari Pek sui) sekalian berdelapan sebagai pembantunya. Dengan demikian sembilan orang masuk bersama kedalam barisan Lo han tin yang terdiri dari tujuh puluh dua orang, atau dengan perkataan lain mereka harus satu lawan sembilan. Ke sembilan orang itu mengambil posisi dengan kedudukan Kiukiong, begitu posisi sudah diambil, Tiang pek lojin baru berpekik nyaring sambil katanya : Sekarang lohu sekalian telah masuk ke dalam barisan, jika ada permainan lain silahkan ditunjukkan! Dari dalam jubahnya ketua dari Siau lim pay itu mengeluarkan selembar panji kecil berwarna kuning, setelah diangkat tinggi-tinggi ke atas kepala, panji itu diputar tiga kali ditengah udara, barisan Lo han tin pun segera berputar pula mengelilingi Tiang pek lojin sekalian bersembilan...... Pada mulanya masih tampak gerakan bayangan manusia, tapi lambat laun gerakan itu dari lambat menjadi cepat, sehingga akhirnya bayangan manusia sukar dilihat jelas selain segulung pusaran angin puyuh yang berwarna abu-abu saja yang bergerak menekan ke tengah arena.

238
Tiang pek lojin segera membentak keras : Kiu ciau lian huan!" Ke sembilan orang itu segera saling bergandengan tanpa antara yang satu dengan lainnya kemudian membentuk sebuah lingkaran bulat yang berputar menurut arah kebalikan dari arah perputaran barisan Lo han tin. Akibat dari gerakan itu, segera muncul juga segulung tenaga tekanan dahsyat yang mengembang ke arah luar dari membendung tenaga tekanan yang terpancar dari barisan Lo han tin ke arah dalam itu. Begitulah, kedua belah pihak sama-sama saling beradu tenaga hampir selama sepertanak nasi lamanya, sekalipun Lo han toa tin terdiri dari tujuh puluh dua orang, nyatanya mereka tak banyak berkutik menghadapi sembilan gelang berantai Kiu ciau lian huan yang dibentuk oleh lojin bersembilan. Ditinjau dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa keberangkatan Tiang pek lojin memasuki daratan Tionggoan ini disertakan pula dengan suatu persiapan yang matang, jadi tak bisa dibilang kalau dia datang tanpa maksud tertentu. Pertarungan kembali berlangsung setengah pertanak nasi lagi, tapi keadaan tetap seimbang dan saling bertahan, melihat itu ciangbunjin dari Siau lim pay mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian menggerakkan panji kuningnya tiga kali. Serentak ke tujuh puluh dua orang pendeta dari Siau lim si itu menghentikan gerakan tubuhnya bagaikan tujuh puluh dua buah tonggak batu mereka berdiri tak berkutik ditempat semula. Tiang pek kiu hiong (sembilan jago dari Tiang pek san) menghentikan pula gerak perputaran mereka ditengah gelak tertawa Tiang pek lojin yang amat keras. Setelah tergelak-gelak beberapa saat, Tiang pek lojin berkata :

239
"Gerak pertama dari Siau lim Lo han tin yaitu Kun tun jut kay (alam semesta bara tercipta) tak lebih cuma begitu saja, lohu telah merasakan kehebatannya!" Siau lim ciangbunjin tidak berbicara apa-apa, panji kuningnya kembali diangkat dan dikibarkan tiga kali ke kiri empat kali ke kanan. Tujuh puluh dua orang yang berada dalam barisan Lo han tin sekali lagi melakukan perputaran. Cuma gerakan perputaran yang mereka lakukan dengan gerakan yang lamban sekali, didalam perputaran tadi, ketujuh puluh dua orang dalam barisan tahu-tahu telah memecah diri menjadi sembilan kuntum barisan kecil yang berbentuk bunga bwe, yakni empat didalam lima diluar, masing-masing kelompok kecil itu berputar terus tiada hentinya, sambil berputar mereka melingkari terus Tiang pek lojin sekalian bersembilan. Tiang pek lojin memperhatikan sekejab perubahan barisan lawan, kemudian segera berpekik nyaring, menysul pekikan tersebut kesembilan orang itu mendadak mempersempit lingkaran posisi mereka, dengan punggung menempel punggung mereka Berdesakan menjadi satu hingga sepintas lalu tampak kacau seperti tiada peraturan, dalam kenyataan mereka telah membentuk

sebuha barisan segi delapan yang mengandung perubahan Im yang ngo heng. Tiang pek lojin sebagai puncak pimpinan berada di tengah, sedangkan delapan orang lainnya menempel disekitarnya, maju mundur semuanya mengambil posisi bersudut delapan. Selain itu setiap orang berdiri dengan telapak tangan kanan dirintangkan ke depan dada, tangan kiri disembunyikan ke belakang dan saling bergandengan tangan. Tiang pek lojin memperhatikan sekejap keadaan disekeliling sana, sepasang tangan terjulur kebawah dengan telapak tangan menghadap keluar, tiada hentinya dia memperdengarkan suara pekikan yang amat nyaring .......

240
Kedua kelompok kekuatan kembali saling berputar sambil menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan, waktupun berlalu di tengah keheningan dan ketenangan. Sekalipun diarena berkumpul ratusan orang jago, namun selain langkah kaki para hwesio yang berada dalam barisan Lo han tin tak kedengaran sedikit suarapun disana seakan-akan napas semua orang telah terhenti sama sekali. Sekalipun demikian, semua orang tahu bisa serangan dimulai niscaya kehebatannya melebihi apapun, dapatkah Tiang pek lojin bersembilan menahan serangan berantai dari Siau lim lo han tin, hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar. Mendadak panji kecil di tangan Siau lim ciangbunjin itu diayunkan ke bawah, henbusan angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepat meluncur keluar dari tiap barisan kecil berbentuk bunga bwe itu mengarah tengah arena. Didalam serangan itu telah terlebur segenap tenaga yang dimiliki delapan orang jago Siau lim si kedahsyatannya betul- betul mengerikan sekali. Menanti angin pukulan itu sudah mendekati tengah arena Tam ci toa tiau Ting Tian yu yang persis berada di hadapan serangan tadi baru membalikkan telapak tangannya dan menyongsong datangnya ancaman tersebut, ternyata kekuatan kedua pihak sama-sama tangguh dan tak ada yang menang tak ada yang kalah. Hal ini bukan dibilang tenaga dalam yang dimiliki Tam ci toa tiau Ting Tian yu sanggup menahan tenaga gabungan dari kedelapan orang jago Siau lim si, adalah segenap tenaga dalam dari Tiang pek lojin bersembilan telah digabungkan menjadi satu dan bersamasama menerima serangan tadi. Menyusul serangan yang pertama, serangan-serangan berikutnya segera bermunculan menghajar pusat barisan secara bergantian.

241
Tanpa gentar sedikitpun juga, Tiang pek lojin sekalian beruntun menyambat kesembilan buah serangan itu. Barisan Lo han tin sekali lagi berputar pukulan demi pukulan dilontarkan ke tengah arena menghajar kesembilan orang lawannya, dengan begitu kesembilan orang jago dari luar perbatasan itupun menjadi sasaran pukulan.

Tiang pek lojin yang berada ditengah arena sudah mulai mengebulkan asap putih dari kepalanya, sepasang tangan diputar dibalik berulang kali, tenaga dalamnya telah terhimpun mencapai dua belas bagian untuk menghadapi ancaman-ancaman yang datang dari delapan penjuru. Sesudah menyambut Sembilan kali sembilan, delapan puluh satu buah pukulan, Tiang pek lojin nampak kehabisan tenaganya sehingga gerak geriknya juga menjadi lebih lamban. Sekalipun demikian, Ci long siansu yang memegang pucuk pimpinan dari atas undak-undakan batu merasa terperanjat sekali. Sebagaimana diketahui Siau lim Lo han tin sudah lama tersohor didalam dunia persilatan, sepanjang sejarah belum pernah barisan itu diturunkan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya seperti sekarang ini. Atau dengan perkataan lain, bila barisan telah bergerak didalam Sembilan pukulan yang kemudian dilancarkan itulah pihak musuh pasti terluka atau tewas. Tapi kenyataannya sekarang Tiang pek lojin sekalian sanggup menerima delapan puluh satu buah pukulan tanpa kalah, bayangkan saja bagaimana mungkin Ci long siansu tidak merasa terperanjat. Begitulah, setelah menyambut delapan puluh satu buah pukulan, mendadak Tiang pek lojin berpekik nyaring, lalu katanya : "Kehebatan Pek tian kim kong dan Siau lim lo han tin telah lohu rasakan kehebatannya, sekarang lihatlah bagaimana kemampuan lohu untuk menjebolkan barisan ini!"

242
Selesai berkata, kepada delapan anak buahnya dia berseru : Air raksa tumpah ditanah! Seketika itu juga tampaklah Tiang pek lojin bersembilan bagaikan letupan bunga api memancar keempat penjuru dan menerobos masuk lewat celah-celah dalam barisan Lo han tin. Melihat gerakan musuh itu, Siau lim ciangbunjin segera menggerakkan panji kuningnya, sekali lagi bentuk barisan Lo han tin mengalami perubahan dan berhenti bergerak, tujuh puluh dua orang berdiri kaku di tempat sambil menyalurkan hawa murninya membentuk selapis dinding hawa yang kuat untuk mencegah kesembilan orang yang berada dalam barisan melarikan diri dari kepungan. Tiang pek lojin segera melambung ketengah udara dan tiba-tiba menjebolkan pertahanan ketiga dari barisan Lo han tin yang disebut Thian loo tee wang. Begitu melayang turun diluar arena, sambil tertawa terbahakbahak serunya : Lohu toh sudah lolos dari barisan! Kau telah mempergunakan ilmu Hun hua sip hong (memecah belah sepuluh penjuru) untuk melepaskan diri dari kepungan dan mematahkan pertahanan barisan Lo han tin, tapi toh cuma kamu seorang yang lolos, kemampuan semacam itu belum bisa terhitung sebagai suatu kepandaian hebat! Sekalipun ia berkata demikian, hatinya benar-benar merasa terperanjat, sebab sekalipun hanya satu orang yang berhasil lolos, nama besar Lo han tin tetap tercoreng.

Sikap Tiang pek lojin yang berada diluar barisan ternyata santai sekali, sambil tertawa terbahak-bahak, katanya : "Lohu tak lebih hanya keluar lebih duluan, aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa lohu masih sanggup menjebolkan barisan Lo han tin kalian itu dengan mengandalkan tenaga murni, sedang mereka berdelapanpun mempunyai cara

243
sendiri untuk meloloskan diri, kau si hwesio tua tak usah merisaukan keadaan mereka!" Sehabis berkata kembali dia berpekik nyaring, baru saja pekikan itu berkumandang, suasana didalam barisan Lo han tin menjadi kacau balau tidak karuan, ternyata para pendeta itu melepaskan anak buah Tiang pek lojin dan sebaliknya malah bertarung sendiri. Menyaksikan kejadian itu paras muka Siau lim ciangbunjin berubah hebat, dia tahu pihak lawan pasti telah berbuat sesuatu sehingga menyebabkan keadaan berubah menjadi begitu. Buru-buru panji kuningnya dikibarkan berulangkali dengan harapan untuk memenangkan kembali suasana yang serta kalut. Dalam detik itulah, delapan orang anak buah Tiang pek lojin telah meloloskan diri dengan selamat dari dalam barisan. Sementara itu, ketujuh puluh dua orang nwesio yang berada dalam sebuah barisan seperti pula keadaan dari kedua orang hwesio cilik tadi, mereka kehilangan kesadarannya dan bertarung sendiri dengan hebatnya. Menghadapi keadaan tersebut, Siau lim ciangbunjin baru benarbenar merasa agak gugup dan kelabakan, disamping harus menghadapi Tiang pek lojin yang berhasil meloloskan diri dari barisan, diapun tidak tega hati menyaksikan tujuh puluh dua orang muridnya menjadi kalap. Jilid 8 CI KAY TAYSU dan Ci leng taysu demikian cepat terjun ke dalam barisan Lo han tin dan bekerja keras untuk menotok roboh semua muridnya yang gila itu satu per satu. Menanti suasana telah pulih kembali dalam ketenangan, dengan perasaan lega Ciangbunjin dari Siau lim pay itu baru tertawa sedih kepada Tiang pek lojin katanya :

244
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan? Lohu hendak masuk ke dalam kuil dan mencari jejak Thi Eng khi" Seandainya Siau lim si benar-benar digeledah oleh Tiang pek lojin, maka bukan saja nama besarnya akan musnah dari dunia persilatan, mungkin keadaannya akan jauh lebih parah daripada keadaan yang dialami partai Thian liong pay. Akibat tersebut tentu saja dipahami baik oleh Ci long siansu maupun Tiang pek lojin, sebab itu suatu pertarungan baru tampaknya segera akan berlangsung. Disaat yang amat kritis itulah, mendadak terdengar Pek leng siancu So Bwe leng menjerit lengking. Ketika Tiang pek lojin sekalian berpaling, tampaklah sesosok bayangan manusia sedang melarikan Pek leng siancu So Bwe leng

dari tempat itu .. Dengan gusar Boan san siang koay, dua orang anak buah Tiang pek lojin membentak keras, kemudian segera melakukan pengejaran dari belakang .. Tiang pek lojin sebagai seorang jago kawakan dari dunia persilatan juga cukup mengerti bahwa penculik itu bukan manusia sembarangan, sekalipun telah dikejar anak buahnya, urusan tak akan bisa dibereskan. Maka buru-buru serunya kepada ketua dari Siau lim pay. "Anggap saja kau lagi beruntung hari ini, kita berjumpa lagi dilain waktu!" Kemudian kepada para jago dari luar perbatasan, serunya : Kalian kembali dulu ke kota Teng hong untuk menunggu perintah!

245
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu tubuhnya telah melayang melewati dinding pekarangan...... Jauh memandang ke sana, ia saksikan Boan san siang koay dan orang yang di kejarnya itu telah berada dua tiga puluh kaki jauhnya dari tempat semula. Tiang pek lojin memang benar benar memiliki kepandaian yang melampaui orang lain, dalam sekali lompatan tubuhnya telah berada sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula, kemudian dalam beberapa pula lompatan kemudian telah berhasil melampaui Boan san siang koay. Akan tetapi jaraknya dengan orang yang menculik Pek leng siancu masih terpaut empat lima kaki. Saat itu jalan darah ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng telah tertotok, ketika menyaksikan kakeknya melakukan pengejaran, kecuali mengucurkan air mata karena girang tak sepatah katapun bisa diucapkan. Gerakan tubuh Tiang pek lojin benar-benar sangat cepat ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya, dalam waktu singkat ia telah berhasil mendekati sampai dua kaki. Tapi dikala Tiang pek lojin hendak menerjang lebih kedepan itulah mendadak orang yang dikejar tersebut membalikkan tangannya sambil melepaskan setitik cahaya putih ke belakang. Dengan cekatan Tiang pek lojin menyambar cahaya putih tersebut terasa benda itu sangat enteng sewaktu diperhatikan lebih teliti ternyata isinya adalah selembar kertas. Tanpa menghentikan gerak tubuhnya, Tiang pek lojin melanjutkan pengejarannya lebih ke depan. Tampaknya orang yang berada didepan itu ada maksud untuk membiarkan musuhnya mendekat, tapi begitu musuh tinggal satu

246
dua kaki dari badannya, selembar kertas segera disambitkan ke belakang. Lalu menggunakan gerakan tadi, ia merendahkan badan dan mempercepat gerak larinya sehingga meninggalkan Tiang pek lojin jauh dibelakang sana. Tiang pek lojin menggertak giginya kencang-kencang, dengan

mengerahkan tenaganya sebesar dua belas bagian, dia mempercepat pula gerakan tubuhnya untuk melesat lebih kedepan. Gerakan tubuh orang yang berlarian di depan itu kian lama kian bertambah cepat, bukan saja Tiang pek lojin tidak berhasil mendekatinya lagi, malahan selisih jarak mereka kian lama kian bertambah besar. Dua sosok bayangan manusia bagaikan dua titik bintang meluncur ditengah pegunungan dengan kecepatan tinggi, puluhan li kemudian mendadak orang itu membelokkan badannya menuju ke arah tanah pegunungan Tay si san, tapi baru melewati beberapa tikungan, bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas. Sejak terjun di dunia persilatan pada puluhan tahun berselang kecuali kalah ditangan Keng thian giok cu Thi Keng, belum pernah Tiang pek lojin kalah ditangan orang lain. Siapa tahu sekarang dia harus menghadapi seseorang yang lihay sekali ilmu meringankan tubuhnya, kejadian ini boleh dibilang benarbenar merupakan suatu pukulan baginya. Diapun menyadari sekalipun dicari juga tak ada gunanya, sebab musuh telah hilang tak berbekas, akhirnya dengan mendongkol dia periksa kertas-kertas ditangannya. Ternyata diatas kertas itu hanya tercantum dua patah kata yakni: "Menunggu janji!" Dilihat dari sini dapat diketahui bahwa tindakannya menculik Pek leng siancu merupakan suatu tindakan yang diputuskan secara

247
mendadak, dan bukan merupakan tindakan yang terencana, oleh karena belum dapat menentukan langkah berikutnya, terpaksa dia mempersilahkan Tiang pek lojin untuk "menunggu janji" Setelah membaca tulisan itu. Tiang pek lojin menghela napas panjang, ia mulai bertanya pada diri sendiri : Mengapa aku harus mencari penyakit buat diri sendiri?" Jelas lantaran cucu kesayangannya diculik orang, dia menjadi menyesal sekali atas tindakannya memasuki daratan Tionggoan. Tapi ingatan tersebut hanya sebentar melintas didalam benaknya, menyusul kemudian dengan sinar mata yang mencorong cahaya tajam serta mengepal sepasang tangannya kencang-kencang dia berseru : "Tidak! Aku tak boleh kehilangan orang ini didaratan Tionggoan!" Selesai berkata, dengan langkah lebar dia lantas berjalan balik melalui jalan semula. Sementara itu dengan napas terengah-engah Boan san siang koay telah menyusul ke sana, ketika menyaksikan Tiang pek lojin pulang seorang diri, mereka segera memahami perasaan orang tua itu, maka tak sepatah katapun yang diucapkan. Dua bersaudara Cia yang berjulukan Boan san siang koay ini terhitung jago-jago lihay yang nama besarnya hanya sedikit dibawah Tiang Pek lojin, atau dengan perkataan lain mereka masih terhitung jagoan ternama diluar perbatasan. Selama ini sikap Tiang pek lojin terhadap mereka juga teramat sungkan, maka setelah menyaksikan keadaan mereka itu, sambil tertawa getir dia lantas berkata lebih dulu : "Saudaraku, hari ini kita benar-benar jatuh kecundang ditangan

orang lain! "Siaute berdua tak ada gunanya, cuma membuat toako risau saja!" kata Cia Lok cepat-cepat dengan rikuh.

248
Tiang pek lojin segera tertawa nyaring. "Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... mana bisa kusalahkan kalian berdua? Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu memang luar biasa hebatnya, mari kita pulang dulu untuk membicarakan persoalan ini lebih lanjut." Dalam perjalanan pulang, dengan murung bercampur kesal Tiang pek lojin berkeluh kembali : "Aaaai tidak kusangka Bwe leng si bocah inilah yang harus menderita lebih dulu!" Buru buru Ji koay Cia Leng menghibur : "Bwe leng sibocah perempuan ini binal tapi cerdik, aku kuatir bukan dia yang bakal menderita, sebaliknya orang itu sendirilah yang bakal dibuat pusing kepala! Terbayang kembali kebinalan cucu kesayangannya, tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, dia manggutmanggut. "Yaa, semoga saja bocah ini tidak memalukan kita semua!" katanya. Demikianlah, oleh karena keadaan yang dihadapi. untuk beberapa saat lamanya tak mungkin bagi Tiang pek lojin sekalian untuk meninggalkan propinsi Hoo-lam, maka merekapun berdiam di kuil Tiong gak bio dibukit Tay si san. Dengan cepat kuil Tiong gak bio dirubah menjadi basis pertahanan para jago dari luar perbatasan untuk melampiaskan dendamnya terhadap orang-orang Tionggoan. Sementara itu, pihak Siau lim si juga tidak terima setelah menderita kekalahan total itu, kecuali mengutus orang untuk menghubungi pihak Bu tong pay, merekapun membagi surat undangan Enghiong tiap kepada segenap umat persilatan untuk bersiap-siap melangsungkan pertarungan seru melawan Tiang pek lojin.

249
Para jago luar perbatasan di bawah pimpinan So Ping gwan yang ada diluar perbatasan, seperti rencana semula serombongan demi serombongan berdatangan ke kuil Tiong gak-bio dan bergabung dengan rekan-rekannya, ini membuat kekuatan dari Tiang pek lojin kian hari kian bertambah besar..... Selain daripada itu, terdapat pula para jago daratan Tionggoan yang tidak puas dengan kenyataan, atau simpatik terhadap Tiang pek lojin tidak sedikit pula diantara mereka yang bergabung dengan pihak jago-jago dari luar perbatasan. Maka kuil Tiong gak bio berubah menjadi pusat kekuatan orangorang persilatan di dunia ini, peristiwa tersebut pun menggemparkan seluruh kolong langit. Sebagai pihak lawan, kuil Siau lim si pun berubah menjadi pusat himpunan para jago dari pelbagai perguruan besar. Tentu saja, situasi semacam ini bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam satu dua hari saja, tapi keadaan setelah satu tahun. Tiang pek

lojin berusaha keras untuk mengembangkan kekuatan sendiri, diapun menyebar orang keempat penjuru dunia untuk mencari jejak Pek leng siancu So Bwe leng. Oleh karena pelbagai alasan inilah sekalipun antara pihak Tiong gak bio dengan kuil siau lim si terjadi perang dingin, pertempuran berdarah belum pernah sampai terjadi. Yang lebih aneh lagi adalah surat yang diterima Tiang pek lojin ketika Pek leng siancu So Bwe leng terculik tempo hari, tulisan 'menunggu janji tersebut ternyata tetap merupakan "menunggu janji", sama sekali tiada kabar berita yang baru. Tentu saja selama masa tersebut juga merupakan suatu masa lenyapnya Thi Eng khi dari dunia persilatan. Padahal kalau dibicarakan sebenarnya, pertikaian antara jagojago luar perbatasan dengan daratan Tionggoan hanya dibebaskan

250
oleh hilangnya Thi Eng khi, jadi seandainya Thi Eng khi bisa muncul kembali dalam dunia persilatan siapa benar siapa salahpun segera akan terbukti. Sebab itulah baik pihak Siau lim dan Bu tong, maupun pihak Tiang pek lojin seringkali murung dan kesal karena Thi Eng khi tidak berhasil ditemukan. Terutama sekali pihak Siau lim dan Bu tong pay, semua harapan mereka hampir boleh dibilang tertumpu diatas pundak Thi Eng khi, mereka beranggapan asal Thi Eng khi sudah munculkan diri, maka Tiang pek lojin tidak akan mempunyai alasan lagi untuk bercokol didalam daratan Tionggoan. Maka kedua partai besar itu segera mengutus orang-orangnya untuk mencari jejak Thi Eng khi, ketika gagal menemukan jejak pemuda itu, mereka mengalihkan perhatiannya pada sisa anggota Thian liong pay dengan harapan bisa menemukah beberapa buah berita tentang jejak sianak muda itu. Kejadian aneh memang seringkali bisa dijumpai dikolong langit, selama hampir dua puluh tahun lamanya, anak murid Thian liong pay tercerai berai dalam dunia persilatan, dicemooh orang, dihina dan dipandang hina orang, tak seorangpun yang memperdulikan nasib mereka. Tapi sekarang, dikala semua orang mencari mereka, ternyata seorang manusiapun tidak berhasil ditemukan. Hal ini bukan berarti anak murid Thian liong pay sudah punah dari dunia persilatan adalah disebabkan murid Thian liong pay sudah tak berani muncul kembali didalam dunia persilatan. Sebab setiap kali ada orang berhasil menemukan seorang anggota Thian liong pay, secara tiba-tiba saja orang itu lenyap tak berbekas tak ketahuan rimbanya, bayangkan saja bagaimana mungkin anak murid Thian liong pay berani munculkan dirinya lagi didepan dunia persilatan?

251
Maka mereka semakin merasakan kejamnya dunia, meski jagat itu luas namun sudah tiada tempat berpijak lagi bagi mereka, demi menyelamatkan diri, mau tak mau terpaksa mereka harus menyembunyikan diri agar jangan sampai tertimpa bencana.

Dengan punahnya anak murid Thian liong pay, orangpun mulai mengalihkan perhatiannya pada Thian he tit it keh di kota Huay im, dalam anggapan mereka sudah tentu Thian liong ngo siang ada di rumah. Tapi laporan yang kemudian diterima pihak Siau lim pay dan Bu tong pay adalah kosongnya rumah yang dinamakan rumah nomor satu dikolong langit itu. Thian liong ngo siang seakan akan ikut musnah pula dari dunia ini. Orang menjadi curiga bercampur kecewa semua orang bertanyatanya kenapa Thian liong pay bisa lenyap dengan begitu saja? Dalam suasana yang serba kalut inilah, tiba-tiba di puncak Wong soat hong dibukit Wu san berdirilah sebuah organisasi yang dinamakan Ban seng kiong, cuma kemunculannya tidak terlalu diperhatikan orang, sebab segenap perhatian orang telah tertarik oleh ketegangan yang berlangsung antara pihak Siau lim si dengan pihak Tiong gak bio. Maka Ban seng kiong pun muncul dari celah perhatian orang, dengan cepat kekuasaan mereka membentang dari wilayah Kanglam sampai ke Kangpak. Siapakah pemilik dari istana Ban seng kiong? Tak seorangpun yang tahu dan tak seorangpun yang menyelidiki, sebab sekalipun ada yang melakukan penyelidikan juga belum tentu bisa memperoleh kabar berita apa-apa. Ketegangan antara Siau lim si dan Tiong gak bio tak mungkin bisa dibiarkan berlangsung terus, akhirnya suatu bentrokan kekerasan sudah pasti akan terjadi.

252
Maka Tiang pek lojin telah mengirirn sepucuk surat tantangan kepada pihak Siau lim si untuk melangsungkan penyelesaian atas pertikaian mereka pada dua bulan mendatang, tepatnya bulan delapan tanggal lima belas.. Ketika berita ini tersiar dalam dunia persilatan, seluruh dunia terasa menjadi gempar. Para jago persilatan berdatangan dari empat arah delapan penjuru dan bersama-sama berangkat menuju ke bukit. Tiong san. Hari itu, di depan loteng penerima tamu yang paling besar dan paling baik di kota Kho cong, tiba-tiba muncul seorang gadis baju merah yang menggembol pedang serta seorang lelaki bermuka merah yang menyelipkan sebuah kampaknya di pinggang. Gadis berbaju merah itu mempunyai tubuh yang kecil mungil dan berparas muka cantik jelita. Sebaliknya lelaki bermuka hitam itu berbadan kekar dan tegap. Ketika kedua orang itu melakukan perjalanan bersama, terlihat sesuatu ketidak serasian yang menyolok sekali. Sepasang kawan yang tak serasi ini berdiri agak lama ditengah jalan sambil mengawasi loteng Ing peng loo tersebut, kemudian lelaki bermuka hitam itu menegur : ''Hei, pelayan, dalam kota Kho cong ini, rumah penginapan manakah yang termasuk rumah penginapan terbaik? Suaranya keras bagaikan geledek dan sangat menggetarkan perasaan setiap orang. Pelayan itu cepat-cepat lari menghampiri lelaki itu dan sambil

munduk-munduk sahutnya : Toaya, tepat sekali bila kau bertanya kepada hamba, siapa lagi yang tidak tahu kalau rumah penginapan paling besar dan paling baik di kota Kho cong ini adalah lng peng loo? Apakah kau ingin kamar kelas satu? Silahkan masuk, silahkan masuk!"

253
Lelaki bermuka hitam itu tidak memperdulikan ucapan pelayan itu, dengan merendahkan suaranya dia berbisik kepada si nona berbaju merah yang berada disisinya : "Nona, bagaimana pendapatmu tentang tempat ini?" Nona berbaju merah itu tidak menjawab, hanya mengangguk lirih, gayanya sangat sok. Saat itulah lelaki bermuka hitam itu baru berseru dengan suara kasar dan keras : "Semua penginapan akan toaya borong!" "Tapi, dalam penginapan kami seluruhnya terdapat tiga puluh enam buah kamar, kau..." Maksudnya hanya berdua saja masa memerlukan kamar sebanyak itu? Belum lagi pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, lelaki bermuka hitam itu sudah melototkan matanya besar-besar, dengan sinar mata setajam sembilu dia menatap wajah pelayan itu lekatlekat, kemudian tukasnya : Kau kuatir toaya tak sanggup membayar? Dari sakunya dia mengeluarkan sekeping emas yang memancarkan cahaya kuning yang amat menyilaukan mata. Seketika itu juga sepasang mata pelayan itu terbelalak lebarlebat, cepat dia membungkukkan badan dan mengambil emas tersebut, lalu setelah dijilat teriaknya sambil melompat. "Emas! Emas! Betul-betul emas murni!" Menyaksikan sikap serta tingkah laku dari pelayan itu, lelaki bermuka hitam tadi segera tertawa seram, dengan gaya lebih sok dan suara yang kasar teriaknya :

254
Anggap saja emas itu sebagai uang muka, semua kamar di penginapan ini toaya borong! Setiap orang yang berada di penginapan ini pun harus diusir keluar!" Waktu itu sang pelayan sedang memegang emas murni itu sambil melamun, tapi setelah mendengar ucapan tersebut, dia baru tersentak bangun dari mimpinya. Sebagai pedagang tentu saja ada peraturan sebagai pedagang, tentunya dia tak berani menyalahi tamu yang datang lebih duluan, maka sambil meringis katanya : "Toaya toaya. hamba hamba akan berusaha untuk menjaga ketenangan disini, begitu toh boleh bukan?" Kembali lelaki bermuka hitam itu melototkan matanya bulat-bulat, serunya : "Pokoknya toaya hanya tahu akan memborong semua kamar yang ada dirumah penginapan ini, cepat bawa nona melihat kamar, siapa tak mau pindah, suruh dia datang mencariku!" Sesungguhnya ucapan tersebut boleh dibilang terlalu mencari

menangnya sendiri. Seketika itu juga terdengar ada orang tidak puas, sambil tertawa dingin serunya : Dunia saat ini sudah berubah menjadi dunia apa? Benar-benar manusia tak tahu diri! Siapa itu?" bentak lelaki bermuka hitam itu dengan seramnya, cepat menggelinding keluar!" Dari dalam rumah penginapan itu segera berjalan keluar seorang sastrawan berusia pertengahan, sambil tertawa dia menjawab : "Setan jelek dari mana yang berani berkoak-koak disini." Sikapnya jumawa sekali, kepalanya mendongakkan keatas dan sama sekali tak pandang sebelah matapun kepada orang lain.

255
Setibanya di depan pintu penginapan, dia baru mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu .. Kontan saja kata-kata makian selanjutnya tidak mampu dia lanjutkan lagi, dengan badan gemetar dan kata-kata yang tersendatsendat serunya : Ooh. Rupanya Hek. Hek bin bu pah (manusia bengis bermuka hitam) Cu tayhiap, siau.. siauseng Oh Thian tak tahu kalau kau kau yang datang .. harap sudi dimaafkan! Hek bin bu pah Cu Thi gou segera mengayunkan ujung bajunya dan melemparkan sastrawan berusia setengah umur itu ketengah jalan, kemudian bentaknya dengan suara keras : Enyah kau dari sini, hari ni aku orang she Cu tidak punya kegembiraan untuk mengumbar amarah denganmu! Cepat-cepat sastrawan setengah umur itu mengiakan berulang kali, dengan menggelinding sambil merangkak dia segera melarikan diri dari tempat itu. Sastrawan setengah umur itu sebenarnya merupakan seorang jago persilatan yang tersohor dalam dunia persilatan, orang menyebutnya sebagai Im yang sam (kipas im yang) Oh Thian, kalau dibandingkan dengan hek bin bu pah meski kalah setingkat, tapi setelah dia melarikan diri terbirit-birit siapa lagi yang berani membangkang? Maka serentak semua orang berseru: "Dia adalah Hek bin bu pah Cu tayhiap!" Maka satu demi satu pun mereka pindah dari rumah penginapan tersebut secara sukarela. Sudah semenjak sepuluh tahun berselang Hek bin bu pah Cu Thi gou terjun ke arena persilatan, belum lagi umurnya mencapai tiga puluh tahun, namanya sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, siapapun menaruh tiga bagian rasa jeri kepadanya.

256
Tak lama, dari ujung jalan sebelah depan sana terdengarlah suara roda kereta yang bergema datang. Dengan cepat Hek bin bu pah Cu Thi gou serta nona berbaju merah itu membereskan pakaiannya dan berdiri keren disitu sambil menunjukkan sikap hendak menyambut kedatangan tamu. Sebuah kereta besar berwarna hijau, didampingi dua puluh empat orang nona berbaju merah serta dua puluh orang lelaki

berbaju ringkas berhenti didepan pintu penginapan. Tirai kereta disingkap dan pelan-pelan berjalan keluar seorang gadis berbaju hijau. Tiba-tiba saja semua orang merasakan matanya menjadi silau, lalu seruan tertahan berkumandang dari sekitar sana. Oooh..... cantik benar!" Gadis berbaju hijau itu bukan cuma cantik saja bahkan dari sekujur badannya seakan-akan memancar semacam daya hidup yang segar, daya hidup tersebut bisa membuat seorang kakek tua renta yang loyopun segera merasakan dirinya jauh lebih muda berapa tahun setelah melihatnya..... Tapi kalau dilihat dari gayanya sewaktu turun dari kereta, dengan cepat mendatangkan pula kesan bahwa nona itu masih kecil dan belum tahu urusan, dengan langkah yang santai dia melompat masuk kedalam rumah penginapan tersebut. Seorang nona berbaju merah segera menghampirinya sambil berbisik : "Kiongcu, kalau jalan jangan terlalu tergesa-gesa, jangan sampai dilihat orang lain sebagai suatu lelucon! Nona berbaju merah itu hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, dengan cepat dia membawa nona berbaju hijau itu menelusuri serambi dan menuju kehalaman belakang.

257
Dihalaman belakang sana terdapat tiga buah bangunan yang mungil, bunga yang indah tumbuh dimana-mana, suasana amat tenang dan nyaman. Setelah berada dalam bangunan mungil itu nona berbaju hijau itu baru buru-buru melepaskan selembar topeng kulit manusia, kemudian sambil menghembuskan napas panjang keluhnya : "Benar-benar menyesakkan napas!" Paras muka si nona berbaju hijau itu setelah melepaskan topengnya ternyata tiga bagian lebih cantik daripada sewaktu mengenakan topeng kulit manusia, cuma sayang masih terlampau bersifat kekanak-kanakan.. Yaa, siapa yang menyangka kalau seorang gadis secantik itu justru harus mengenakan selembar topeng kulit manusia, kejadian ini benar-benar mengherankan sekali. Ketika dilihatnya nona berbaju hijau itu melepaskan topengnya, dengan terkejut nona berbaju merah itu berseru : Kiongcu, mengapa kau tak mau menuruti pesan dari sancu? Nona berbaju hijau itu segera berkerut kening, kemudian sambil melototkan matanya yang jeli, dia menegur : Cun lan, sesungguhnya kau yang menjadi kiongcu atau aku kiongcunya..? Nona berbaju merah yang bernama Cun lan itu segera tertawa tersipu-sipu, buru-buru sahutnya dengan hormat : Budak tidak berani! Ternyata dia tak lebih cuma seorang dayang. Gadis berbaju hijau itu sedikitpun tidak mengendorkan desakannya, kembali dia berkata : Kalau memang begitu, mengapa kau selalu mengurusi diriku?

258
Sebab Lo sancu yang berpesan demikian! jawab Cun lan sambil mengeraskan kepala. Nona berbaju hijau itu segera tertawa dingin tiada hentinya : Jangan lupa dengan ucapan Lo sancu yang lain, sekarang kau adalah seorang kiong li (dayang keraton) dariku. Itu. itu...... Apa ini itu? Sedari kapankah kalian pernah menyaksikan Lo sancu memaksaku? Cun lan si nona berbaju merah ini sudah beberapa lama mengikuti nona berbaju hijau itu tentu saja diapun cukup mengetahui akan wataknya yang keras kepala, bila lagi sewot maka Lo sancu yang ditakuti setiap orang pun akan dibuat pusing kepalanya, apalagi orang lain. Yaa, kalau lagi salah melompat, tugas semacam ini benar-benar salah dibuatnya, kalau salah kepada orang tuan putri, maka sang tuan putri pasti marah-marah, kalau menurut kehendak sang tuan putri, maka lo sancu marah hakekatnya serba salah dibuatnya. Teringat sampai disitu, tak tahan lagi nona berbaju merah itu menghela napas panjang. Ketika dilihatnya wajah Cun Lan yang mengenaskan itu nona berbaju hijau itu menjadi iba sendiri, katanya kemudian dengan suara yang lebih lembut : Cun Lan, tahukah kau bila topeng kulit manusia ini lagi menempel dimuka, begitu rapatnya dia menempel dimukaku sampai kulitpun turut menjadi gatal, tahukah kau betapa sengsaranya aku waktu itu? Tempat ini toh tak ada orang lain, kenapa tidak kulepaskan sebentar agar mukaku terasa segar? Toh disini tak bakal terlihat orang? Jangan kuatir . Ketika Cun Lan menyaksikan ucapan nonanya jauh lebih lembut, buru-buru diapun tertawa seraya berkata :

259
"Budak hanya bermaksud untuk mengingatkan Kiongcu saja, daripada nantinya sampai dimarahi Lo sancu, asal Kiongcu tahu diri, budakpun merasa berlega hati......." Sambil berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan, lalu kembali gumamnya : "Sekarang juga budak akan menyuruh mereka memperketat penjagaannya disini, daripada ada orang luar yang iseng masuk kemari dan mengganggu ketenangan Kiongcu." Menanti Cun Lan sudah pergi, nona berbaju hijau baru memasang telinga untuk memperhatikan keadaan disekitarnya, ketika yakin kalau disitu tiada orang lagi, dengan kening berkerut dan mendepakkan kakinya berulang kali, dia berseru dengan gemas : Suatu ketika, aku pasti akan menyuruh kau tahu akan kelihayanku. Menyusul kemudian diapun menghela napas pedih. "Aaai tapi sekarang aku benar-benar tak berdaya!" Sambil berkata mendadak ia kenakan kembali topeng kulit manusianya sambil membentak:

"Siapa diatas atap?" Dari atas atap rumah berhembus lewat segulung angin menyusul kemudian terdengar seseorang berkata sambil tertawa cengar cengir. Siauseng adalah Pek hoa lengcu (lelaki romantis setangkai bunga) Thio Kian, khusus datang kemari untuk menghibur hati nona yang lagi kesepianl" Bayangan manusia berkelebat lewat, didepan pintu telah bertambah dengan seorang sastrawan tampan yang berusia tiga puluhan tahunan, sikapnya amat santai dan wajahnya tampan sambil menggoyangkan sebuah kipas putih yang panjangnya

260
delapan jengkal dia mengawasi wajah nona berbaja hijau itu sambil tertawa nyengir. Nona berbaju hijau itu sama sekali tidak kaget, bagaikan bersua dengan teman lama saja, katanya seraya tertawa hambar : "Tentunya kau datang dari atas atap bukan? Apakah tidak mengagetkan para penjaga disekitar rumah? Aku lihat, ilmu meringankan tubuh yang kau miliki hebat juga!" Pek hoa lengcu Thio Khian adalah seorang raja iblis yang banyak merusak kehormatan orang, selain hatinya kejam, cara kerjanya juga sangat brutal. Tapi karena ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, maka tidak seorangpun yang berani mengapa-apakan dirinya. Maka ketika didepan pintu tadi ia menyaksikan kecantikan sinona berbaju hijau didepan pintu penginapan tadi, timbullah niatnya untuk melalap kehormatan gadis tersebut, meski dia tahu Hek bin bu pah lihay, namun masih tidak diremehkan olehnya, diam-diam diapun menyelinap masuk ke ruang belakang. Ketenangan yang ditunjukkan gadis berbaju hijau itu segera membuat lelaki ini menjadi sangsi, dia berhenti sebentar didepan pintu, kemudian baru masuk kedalam ruangan. Kembali nona berbaju hijau itu tertawa merdu, katanya kemudian : Kau tidak takut terhadap Hek bin bu pah Cu Thi gou? Huuuh.. kalau cuma manusia macam Hek bin bu pah mah siauseng tak akan memandang sebelah matapun! jawab Pek hoa lengcu Thio Kian sambil mengangkat kepala. Kemudian dengan langkah lebar, dia masuk ke dalam ruangan. Gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan. Berapa sih umurmu tahun ini? Aku lihat kau lebih cocok kalau kupanggil lo siauseng, godanya.

261
Selama hidup belum pernah Pek hoa lengcu Thio Kian berjumpa dengan seorang gadis bernyali besar seperti ini, kontan saja mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah. Tiba-tiba paras muka nona berbaju hijau itu berubah menjadi dingin bagaikan es, katanya lagi : Tahukah kau siapakah Kiongcumu ini? Mendengar disinggungnya kata Kiongcu Pek hoa lengcu Thio Kian segera meningkatkan kewaspadaannya, dia bertekad untuk tidak banyak bicara dan bawa kabur lebih dulu baru bicara

kemudian. Maka sambil tertawa dingin, dia lantas menerjang kearah nona berbaju hijau itu sambil berseru : Peduli amat siapa dirimu! Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, dia segera mencengkeram pergelangan tangan kiri nona berbaju hijau itu. Serangan itu datangnya amat cepat dan dahsyat, tapi nona berbaju hijau itu masih tetap tenang saja, sambil tertawa merdu dia berputar kesamping seraya bertekuk pinggang tahu-tahu serangan Sui tiong lau gwat (mendayung rembulan dari air) dari Pek hoa lengcu Thio Kian tersebut telah dihindari. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pek hoa lengcu Thio Kian sebenarnya sudah merupakan suatu kepandaian yang hebat dalam dunia persilata, namun dia tak sempat menyaksikan gerakan apakah yang digunakan gadis berbaju hijau itu untuk menghindarkan diri dari jurus maut Sui tiong lau gwat yang selama ini tak pernah meleset itu. Setelah tertegun sejenak, jurus serangan keduapun segera siapsiap dilancarkan. Mendadak gadis berbaju hiaju itu menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berseru :

262
Tunggu sebentar! Tunggu sebentar! Kalau ingin turun tangan, lebih baik dibicarakan dulu sebaik-baiknya. Apa maksudmu? tegur Pek hoa lengcu Thio Kian dengan suara berat dan dalam. Ternyata dia benar-benar mengurungkan niatnya untuk melancarkan serangan. Nona berbaju hijau itu segera tertawa cekikikan, ujarnya : Mari kita bertaruh! Dalam lima jurus serangan nanti bila kau berhasil menangkap diriku maka aku tak akan mengusik mereka dan diam-diam ikut kau pergi. Bagus jika toaya tidak berhasil menangkapmu dalam lima jurus, tanpa banyak bicara aku akan angkat kaki dari sini dan selanjutnya tak akan mengganggu dirimu lagi." Kalau begitu mah termasuk taruhan apa?" seru nona berbaju hijau itu sambil menarik kembali senyumannya, kau tak boleh angkat kaki dengan begitu saja." Memangnya aku harus menyerah kalah dan membiarkan diriku dibelenggu?" Tanya Pek hoa lengcu Thio Kian sambil memancarkan sinar buas dari balik matanya. Senyuman manis segera menghiasi ujung bibir nona berbaju hijau itu, sahutnya : Dalam lima gebrakan nanti, bila kau tidak berhasil menangkap diriku, cukup bila kau bersedia membantuku untuk memberikan semacam benda kepada seseorang." Pek hoa lengcu Thio Kian masih belum memahami permainan busuk apakah yang sedang dipersiapkan gadis berbaju hijau itu, karena taruhan tersebut sudah jelas lebih menguntungkan pihaknya. Dia adalah seorang manusia bengis yang sudah terbiasa melakukan kejahatan, sudah barang tentu diapun segan untuk

263
mempercayai perkataan orang dengan begitu saja, setelah sangsi beberapa saat lamanya diapun lantas berkata : "Kalau cuma menghadiahkan sebuah benda kepada seseorang, rasanya kau sendiripun sanggup untuk melakukannya, mengapa kau harus bertaruh denganku?" "Mau bertaruh atau tidak terserah padamu sendiri, akupun enggan untuk banyak ribut denganmu," kata si nona berbaju hijau itu sambil berkerut kening, "asal aku berteriak, sudah pasti ada orang yang akan menggantikan diriku untuk bertarung denganmu, silahkan saja mempertimbangkan sendiri untung-ruginya!" Pek hoa lengcu Thio Kian benar-benar tidak habis mengerti tentang maksud hati gadis berbaju hijau itu tapi daripada kehilangan kedua-duanya, maka tak ada salahnya untuk dicoba. Maka diapun mengangguk berulang-kali. "Baik, kita tetapkan dengan sepatah kata itu!"' katanya. Kalau begitu, kau boleh mulai turun tangan!" Pek hoa lengcu Thio Kian tidak banyak berbicara lagi, sepasang tangannya segera diayunkan berulang kali melancarkan serangan berantai dengan jurus Luan cian bwe hoa (menggunting bunga Bwe secara ngawur), Hun im ki gwat (memisah awan mengambil rembulan), Kim cok wan (serat emas membelenggu pergelangan tangan) Liu seng kan gwat (binatang lewat mengejar rembulan) dan Sui tiong lau gwat (mendayung rembulan dalam air). Nona berbaju hijau itupun segera mengembangkan pula gerakan tubuhnya untuk mengahadapi serangan tersebut, dalam waktu singkat seluruh ruangan tersebut sudah dipenuhi oleh bayangan hijau. Begitulah tanpa menimbulkan sedikit suarapun, kedua orang itu terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit.

264
Ruangan itu sesungguhnya tidak terlampau luas, tapi makin bertarung Pek hoa Lengcu Thio Kian merasakan hatinya semakin terperanjat sebab walaupun tempat itu sempit, dia tak mampu menowel seujung rambut nona berbaju hijau itu apalagi memegangnya. Dikala lima jurus serangan itu baru habis dilancarkan dan tubuhnya agak terhenti sejenak, mendadak urat nadi pada pergelangan tangannya terasa menjadi kaku, tahu-tahu pergelangan tangannya itu sudah kena dicengkeram oleh sinona berbaju hijau itu. Seketika itu juga, Pek hoa lengcu Thio Kian merasakan segenap tenaga dalamnya punah tak berbekas, dengan gelisah dia lantas berseru : Kau...... kau..,,..." Agaknya nona berbaju hijau itu tidak berminat untuk melukainya, terbukti ia segera lepas tangan begitu berhasil mencengkeram lengan lawannya sambil tertawa katanya kemudian, "Jangan takut pun kiongcu tak akan melukai dirimu. Berbareng itu juga, tangannya yang lain telah menyusupkan semacam benda ketangan Pek hoa lengcu Thio Kian dengan nada

perintah katanya : "Cepat serahkan benda itu kepada So loyacu dikuil Tiong gak bio jangan sampai salah. Tampaknya kelihayan ilmu silat yang dimiliki nona berbaju hijau itu telah menimbulkan perasaan ngeri dalam hati Pek hoa lengcu Thio Kian, dia tak berani menggoda lagi dengan kata-kata yang kotor, dengan hormat katanya : Tolong tanya siapakah nona? Bila So loyacu menanyakannya nanti .. Pun Kiongcu datang dari istana Ban seng kiong!

265
Pek hoa lengcu Thio Kian tak berani banyak bertanya lagi, dia segera membalikkan badan dan melompat naik keatas atap rumah. Tapi belum lagi dia sempat pergi jauh, mendadak terdengar seseorang membentak keras : Bocah keparat, kau anggap kedatanganmu itu berhasil mengelabui ketajaman mata kami? Bagaimanapun juga Pek hoa lengcu Thio Kian termasuk seorang jago kenamaan di dalam dunia persilatan, tentu saja pengalamannya juga luas sekali, kecerdasannya boleh dibilang jauh melebihi orang biasa. Sejak menyaksikan kepandaian silat yang dimiliki nona berbaju hijau itu, dia sudah menduga sampai dimanakah kelihayan dari pihak istana Ban seng kiong, maka mendengar suara bentakan itu, tanpa berpaling lagi dia membalikkan badannya dan melarikan diri kearah yang lain. Sayang meski dia cepat, orang lain jauh lebih cepat lagi daripada dirinya, ketika ia mendengar segulung desingan angin tajam menyambar tiba, tahu-tahu jalan darah siau yau hiatnya menjadi kaku, tubuhnya terasa lemas dna tak ampun lagi tenaga dalamnya buyar dan tubuhnya pun terjatuh dari atas atap rumah. Menyusul kemudian bayangan merah berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah dibawa masuk kembali ke dalam ruangan. Mimpipun Pek hoa lengcu Thio Kian tidak menyangka kalau dalam dunia persilatan telah muncul begitu banyak jago persilatan yang berilmu tinggi, hingga dengan mengandalkan kepandaian yang dimiliki pun dia tak sempat melancarkan serangan balasan. Setelah terjatuh ke tangan musuh sekarang tentu saja dia tak dapat berbuat lain kecuali memejamkan matanya dan pasrah kepada nasib.

266
Tapi dalam hati kecilnya dia mencaci maki nona berbaju hijau itu habis-habisan, dia merasa tidak seharusnya gadis tersebut mempermainkan jiwanya dengan mempergunakan cara tersebut. Meksi matanya terpejam rapat, telinganya dipasang baik-baik, dia siap menunggu hukuman yang bakal diputuskan oleh Ban seng kiongcu. Mendadak dari dalam ruangan itu terdengar seseorang mendehem pelan, tapi suara itu bukan suara dari Ban seng kiongcu, maka tanpa terasa dia membuka matanya untuk mengintip. Tampak di dalam ruangan itu telah bertambah dengan seorang

kakek berkepala botak, nona berbaju hijau tadi berdiri disamping kakek botak tersebut, sedangkan si nona berbaju merah yang menentengnya masuk kedalam ruangan itu berdiri di belakangnya. Terdengar kakek botak itu mendehem beberapa kali, kemudian setelah menghela napas katanya : Bwe leng kembali kau tidak menuruti perkataanku! Dari nada pembicaraan tersebut, Pek hoa lengcu Thio Kian dapat mendengar kalau si kakek botak tersebut sedang menegur si nona berbaju hijau itu, sekarang dia baru tahu kalau si nona berbaju hijau itu sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan dirinya, rasa marah dan kesal yang semula mencekam perasaannya pun segera banyak berkurang. Ketika si nona berbaju hijau itu mendengar teguran dari kakek botak, dengan wajah tidak puas dia lantas berseru : Coba kau katakan, kesalahan apa yang telah kulakukan? Aku toh tidak mengingkari janji. Aku sudah banyak mengajarkan ilmu silat kepadamu meski tiada hubungan antara guru dan murid, tapi dalam kenyataan kita memang pernah berhubungan sebagai guru dan murid, selain itu aku adalah Lo sancu dari istana Ban seng kiong, sedang kau tak lebih cuma seorang kiongcu saja, kenapa kau berani bicara dengan nada semacam itu kepada diriku.?

267
Pek hoa lengcu Thio Kian yang mendengarkan pembicaraan tersebut, diam-diampun merasa geli sekali, dia merasa Lo sancu tersebut benar-benar terlalu memanjakan nona berbaju hijau tersebut, sehingga sama sekali tidak memiliki kewibawaan sebagai seseorang dari angkatan yang lebih tua........ Darimana dia bisa tahu kalau lo sancu ini adalah seorang manusia berhati keji yang tindak tanduknya busuk dan kejam, pada hakekatnya sukar untuk mengukur hatinya dari perubahan mimik wajahnya itu.... Dalam pada itu paras muka si nona berbaju hijau itu telah berubah menjadi sangat tak sedap dipandang mungkin karena malu menjadi naik pitam, dengan suara keras segera serunya : "Aku toh tidak meminta kau ajarkan ilmu silat kepadaku, aku pun tak ingin menjadi seorang kiongcu atau tidak, jika kau keberatan, lebih baik kita batalkan saja perjanjian tersebut sampai disini saja.... Nada pembicaraannya ketus sekali. Kakek botak itu sedikitpun tidak menjadi gusar, cuma katanya dengan suara pelan : Aku sendiripun sudah cukup banyak dibuat kheki olehmu, kalau ingin membatalkan janji juga boleh, sekarang juga kau boleh kembali ke tempat yayamu, cuma tentu saja janjiku kepadamu juga akan segera kubatalkan pula. Dibalik perkataan itu terkandung pula nada ancaman. Tiba-tiba nona berbaju hijau itu tertawa manis, ia berkata : Walaupun kau juga tahu kalau kau sedang menggertak serta memperalat diriku, tapi ucapan seorang kuncu lebih berat daripada sebuah bukit, setelah kululuskan tentu saja aku tak akan membatalkan secara sepihak, janji itu hanya bisa batal bila kau yang membatalkannya lebih dulu!

Sudah jelas dia merasa rada takut, tapi dalam pembicaraan sedikitpun ia tak mau mengalah.

268
Kakek botak itupun tidak mempersoalkannya lebih jauh dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Haahhh. Haaahhhh.. haaahhhh.. terserah apa saja yang hendak kau katakan, pokoknya begitulah watak lohu, aku tak ingin menjadi seorang yang suka ingkar janji, tampaknya kau terpaksa harus menjadi kiongcu ban seng kiong selama dua tahun, sampai waktunya lohu baru akan memenuhi kehendak hatimu! Pelan-pelan gadis berbaju hijau itu menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang, di balik helaan napas tersebut entah terdapat berapa banyak penderitaan dan kesedihan. Kakek botak itu segera memberi tanda kepada Cun Lan atau si nona berbaju merah itu, lalu katanya: "Ambil kembali barang milik Kiongcu itu dan kembalikan kepada Kiongcu!" Diantara ulapan tangannya tersebut dia membuat sebuah tanda rahasia.. Dari tangan Pek hoa lengcu Thio Kian, nona berbaju merah itu mengambil kembali sebiji bunga mutiara, kemudian diserahkan kembali kepada nona berbaju hijau itu kemudian sambil tertawa katanya: Thio Kian itu manusia macam apa? Apakah kiongcu tidak kuatir bunga mutiaramu itu ternoda?" Nona berbaju hijau itu segera melotot sekejap ke arah Cun Lan, dengan ketakutan nona berbaju merah itu bersin beberapa kali dan segera melengos ke arah lain. Sambil menggertak giginya kencang kencang, nona berbaju hijau itu segera mengerahkan tenaga dalamnya dan meremas bunga mutiara itu sampai hancur menjadi bubuk, kemudian tangannya diayunkan ke depan dan menyebarkan hancuran bubuk itu ke manamana. Kakek botak itu segera tertawa tergelak katanya :

269
Besok lohu akan belikan sekuntum bunga mutiara yang lebih baik lagi untuk diberikan kepadamu. Huuuh, siapa yang kesudian dengan bunga mutiara busuk itu! dengus si nona berbaju hijau itu. Sambil tertawa kakek botak itu segera melangkah keluar dari dalam ruangan, sambil keluar katanya : Pokoknya lohu berhasrat untuk berbuat demikian, mau diterima atau tidak terserah kepadamu sendiri. Kemudian ditengah gelak tertawa yng amat nyaring, suara langkah kakinya itu makin lama semakin menjauh. Sepeninggal kakek botak itu, si nona berbaju hijau itu baru berseru : Cun Lan! Namun tiada jawaban yang terdengar, ketika dia menoleh, baru diketahui bahwa Cun Lan maupun Pek hoa lengcu Thio Kian sudah tidak berada disitu lagi. Maka sambil tertawa getir, diapun bergumam :

Bagaimanapun juga Pek hoa lengcu bukan termasuk orang baik dibiarkan hidup juga hanya mencelakai orang didunia ini saja, beginipun ada baiknya juga, jadi akupun tak usah bersusah payah lagi! Dia berjalan ke sisi jendela dan memandang aneka bunga yang berada di luar jendela, kemudian sambil menghela napas sedih katanya : Sungguh mengherankan mengapa kau menaruh perhatian khusus kepadanya, lagipula bersedia menjadi kiongcu setannya selama dua tahun? Kalau kejadian ini sampai diketahui yaya, bisa jadi dia akan mentertawakan diriku sampai giginya pun turut terlepas!

270
Tanpa disadari dia telah mencintai orang ini, demi orang ini dia rela untuk mengorbankan segala sesuatunya, tapi untuk sesaat dia belum berhasil menemukan apa alasannya. Sambil menghela napas, dia membalikkan badannya, mendadak dia menjerit kaget : Hei, kenapa kau kembali lagi? Ternyata entah sedari kapan tanpa menimbulkan sedikit suarapun kakek botak tadi telah berdiri di belakangnya. Sambil mengangkat bahu kakek botak tertawa, sahutnya : Lohu lupa untuk memberitahukan satu hal kepadamu, maka aku telah balik kembali, apakah kau merasa kesal lagi? Ada urusan apa? Kakek botak itu tertawa terkekeh-kekeh. "Lohu dan kakekmu telah mengadakan suatu perjanjian besok malam, maksudku aku hendak mengajakmu untuk menghadiri bersama, bagaimana menurut pendapatmu?" Tentu saja nona berbaju hijau itu merasa kegirangan setengah mati, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar sedangkan mulutnya memperdengarkan suara haah.haahh yang tiada hentinya, nampak sekali kalau hatinya merasa hatinya tidak tenang. Terdengar kakek botak itu berkata lagi : "Aku telah bertekad untuk membawamu pergi tapi dapatkah kau mengulangi sekali lagi perjanjian yang telah kita buat?" Begitu menyinggung kembali soal perjanjian yang mereka lakukan, semua kegembiraan nona berbaju hijau itu seketika tersapu lenyap, bibirnya juga terbungkam dalam seribu bahasa. Kakek botak itu segera tertawa terbahak-bahak katanya : "Loha akan mewakilimu untuk mengulangi sekali lagi! Pertama, selama dua tahun ini, kau tak boleh berbicara sepatah katapun dengan kakekmu.

271
Kedua, dalam dua tahun ini kau tak boleh berjumpa dengan orang lain dengan raut wajah aslimu (termasuk kakek dan kekasih hatimu). Ketiga, selama dua tahun ini, kau tak lebih adalah Ban seng kiongcu yang harus berjuang demi nama besar istana ban seng kiong. Keempat, dalam dua tahun ini kau tak boleh mengutarakan asal

usulmu yang sebenarnya kepada siapapun. Kelima, dalam dua tahun ini kau harus membunuh lima orang yang telah lohu tunjuk (lohu jamin kelima orang itu sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu)!" Mendengar sampai disitu, dengan mendongkol nona berbaju hijau itu segera berseru : Masih ada lagi, dalam dua tahun ini kau jamin dapat mengembalikan seorang Thi seorang manusia she Thi, kenapa tidak berani kau katakan?" Kakek botak itu segera tertawa terbahak bahak. "Haaahhh....haaahh haaahhh .sebenarnya hendak kukatakan, tapi kau telah mendahuluinya, mana bisa kau salahkan kepadaku?" Menyusul kemudian dengan wajah serius dia berkata lagi : "Besok lohu hendak mengadakan pertemuan dengan kakekmu, dan kau turut hadir dengan kedudukanmu sebagai Ban seng kiongcu. Aku harap kau jangan terlampau emosi sehingga tidak dapat mengendalikan perasaan, sebab yang bakal celaka adalah bocah she Thi itu sendiri. Hehehe.... heeehhh..heeehhh. sekarang lohu sudah memperingatkan dirimu lebih dulu, sehingga kalau sampai terjadi sesuatu dikemudian hari, jangan kau katakan lohu tidak memberi peringatan lebih dulu!" Selesai mengucapkan kata-kata itu, si kakek botak tersebut segera membalikkan badannya dan berlalu dari situ, meninggalkan si nona berbaju hijau itu harus memutar otak untuk mempertimbangkannya sendiri. Apa yang sebenarnya telah terjadi?

272
Kiranya ketika Pek leng siancu So Bwe leng sedang menikmati jalannya pertarungan antara kakeknya Tiang pek lojin melawan barisan Lo han tin dari Siau lim si, mendadak dia merasakan datangnya segulung angin tajam yang menyergap tubuhnya, belum lagi dia menjerit kaget, tahu-tahu tubuhnya sudah dikempit oleh kakek botak itu dibawa kabur. Dalam kempitan lawan tersebut, ia dapat menyaksikan Boan san ji koay melakukan pengejaran yang ketat, lain kakeknya juga menyusul datang, sebenarnya dia ingin menjerit, tapi kakek botak tersebut telah menotok jalan darah bisunya, ini membuat gadis itu hanya bisa menyaksikan kakeknya pulang dengan perasaan yang murung ketika ia disembunyikan kakek botak diatas pohon. Ternyata kakek botak itupun bersikap terbuka, begitu kakeknya pergi, dia lantas membebaskan totokan jalan darahnya serta mengajaknya berunding. Pek leng siancu So Bwe leng adaiah seorang gadis yang tidak takut kepada langit tidak takut kepada bumi, tentu saja dia tak menggubris perkataan kakek itu, berulang kali dia melakukan penyerangan yang gencar terhadap kakek botak tersebut. Sudah belasan kali dia mencoba usahanya itu, sayang tiap kali dia tak sanggup bertahan sebanyak dua gebrakan. Kakek botak itu melayani terus serangan-serangan dari So Bwe leng sampai akhirnya gadis itu kehabisan tenaga dan tergeletak dengan perasaan tak luka. Saat itulah tidak perduli gadis itu mau mendengarkan atau tidak,

dia berbicara seorang diri, pokoknya isi pembicaraan itu pada garis besarnya adalah berkisar karena bakatnya yang baik, dia hendak menerimanya menjadi murid, memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, membantu dia dan kakeknya untuk mencarikan Thi Eng khi dan mengalahkan partai Siau lim serta partei Bu tong. Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak menggubris ocehan kakek botak itu bahkan mendengarpun tak sudi, ini

273
membuat si kakek botak tersebut menjadi mencak karena mendongkol. Akhirnya kakek botak itu berhasil menemukan titik kelemahan dari Pek leng siancu, dia dapat melihat bahwa nona yang keras kepala ini selalu acuh tak acuh terhadap persoalan apapun, tapi ketika membicarakan soal Thi Eng khi dari balik sinar matanya yang jeli itu segera terpancar keluar serentetan cahaya aneh. Sebagai seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya serta memiliki pengalaman yang luas, dengan cepat ia dapat memahami apa gerangan yang telah terjadi, maka sengaja dia mengibul dengan kata-kata besarnya . "Sesungguhnya untuk mencari jejak Thi Eng khi bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau sulit." Benar juga, So Bwe leng segera bertanya tanpa sadar. "Dia berada dimana? Dengan cepat kakek botak itu menggelengkan kepalanya berulang kali katanya : "Aku tak dapat memberitahukan hal ini kepadamul" Sekarang giliran Pek leng siancu So Bwe leng yang berusaha memohonnya dengan kata-kata yang lembut. Setelah jual mahal sekian waktu, akhirnya kakek botak itu baru menerangkan bahwa Thi Eng khi telah disembunyikan disuatu tempat yang amat rahasia letaknya. Tentu saja Pek leng siancu tidak percaya maka diapun lantas merangkai suatu cerita yang setengahnya kenyataan dan setengahnya tipuan untuk membohongi gadis tersebut. Akhirnya gadis itu kena ditipu mentah-mentah dan mempercayainya seratus persen.

274
Maka Pek leng siancu So Bwe leng pun segera mengeraskan hatinya untuk mengadakan suatu perjanjian dengan kakek botak itu serta menjadi kiongcu atau tuan putri dari istana Ban sen kiong. Cuma, sering kali dia masih mengumbar wataknya hingga kakek botak itu benar-benar dibikin kehabisan daya. Siapakah kakek botak itu? Dia bukan lain adalah teman lama kita, Huan im sin ang adanya. Sekarang dia telah menjadi lo sancunya istana Ban sen kiong, dan selangkah demi selangkah dia sedang melaksanakan tipu muslihatnya menurut rencana yang telah dibuatnya. Langit yang kelabu dilapisi oleh awan yang hitam, langit amat gelap dan angin berhembus kencang, pintu gerbang sebuah bangunan gedung yang setengah terbuka setengah tertutup bergoyang tiada hentinya menimbulkan suara yang keras.

Sekilas cahaya halilintar membelah angkasa dan menyinari kegelapan malam. Dalam keadaan seperti itulah, tampak ada dua sosok bayangan manusia sedang menerobos masuk ke dalam bangunan itu dengan kecepatan luar biasa. Dulu bangunan rumah itu pernah tersohor dan dipuja oleh setiap umat persilatan tapi kini suasana amat hening, sepi dan mendatangkan suasana yang mengenaskan. Selama setengah tahun belakangan ini, seringkali ada jago persilatan yang rombongan demi rombongan mendatangi gedung rumah itu diwaktu malam, namun setelah melakukan pemeriksaan sekejap, akhirnya dengan membawa perasaaa kecewa pergi tak berbekas. Sekarang, kembali ada dua sosok bayangan manusia mendatangi gedung tersebut, tampaknya merekapun tak bakal mendapatkan hasil apa-apa dari tempat itu.

275
Akan tetapi jika dilihat dari gaya mereka berdua ketika memasuki bangunan rumah tersebut, tampak seakan-akan kedua orang itu sudah mempunyai rencana matang tidak seperti orang-orang lainnya, datang dengan cepat pergipun dengan cepat. Sesudah masuk ke halaman dalam, kedua orang itu segera menutup pintu gerbang, memasang lampu dan kemudian baru melakukan pemeriksaan langsung ke ruang dalam. Kedua orang itu memperhatikan sekejap dinding tembok yang berwarna biru beserta tujuh buah lentera kristal yang berbentuk tujuh bintang itu, kemudian salah seorang diantaranya menghembuskan napas panjang, katanya lirih : "Mungkin ruangan inilah yaag dimaksudkan!" Rekannya itu manggut-manggut. "Saudara Ong harap kau bersiap sedia, siaute akan segera mencobanya" Orang she Ong itu segera membalikkan tangannya dan mencabut keluar sepasang gelang Kan kun cu bu cuan yang berwarna biru, setelah membuat sebuah lingkaran bunga diatas kepala, kedua gelang itu lantas dibenturkan satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara bentrokan yang amat nyaring : "Jangan kuatir saudara Ong, katanya, "bukan siaute sengaja omong besar, dengan mengandalkan nama siaute sebagai Hoo lok it cuan (gelang sakti dari Hoo lok) Ang Ceng, rasanya tak nanti ada orang yang berani datang mengganggu kita!' Rekannya segera menyambung : Nama besar saudara Ang memang sudah termashur sampai dimana-mana, hampir semua orang mengetahuinya, memang siaute yang terlalu banyak curiga. Selesai berkata dia lantas melambung di tengah udara dan meluncur kearah lentera kristal berbentuk segi tujuh yang ketiga itu, berada di tengah udara, badannya berjumplitan beberapa kali,

276
kemudian lencana tersebut digerakkan tiga kali keatas dan empat kali kebawah.

Semua gerakan itu dilakukan hanya mengandalkan setarikan napas saja, ketika melayang turun kembali keatas tanah, wajahnya tidak merah, napasnya tidak terengah ini menunjukkan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan. Bagus! seru Hoo lok it cuan Ang Ceng dengan suara lantang, saudara Ong, nama besarmu Thian gwa hui hong (pelangi terbang dari luar langit) memang bukan nama kosong belaka, cukup dilihat dari ilmu meringankan tubuh yang kau miliki itu, siaute sudah merasa puas sekali, tak heran kalau lo sancu menyuruh saudara Ong yang turun tangan. Baru selesai dia berkata, terdengar suara gemuruh yang memekikkan telinga berkumandang dari arah bawah tanah. Kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap, paras muka mereka berseri dan memperlihatkan luapan rasa girang yang luar biasa. Menyusul kemudian, meja altar didepan, sana tenggelam kebawah disertai suara keras yang memekikkan telinga, ditengah gemuruh karena itulah dari bawah tanah muncul sebuah patung naga emas dengan sebuah cakar raksasanya yang dipentangkan lebar-lebar, ditengah cakar mautnya itu tersisip secarik kertas. Tanpa terasa Thian gwa hui hong Ong Put khong memuji : "Sancu benar-benar seorang manusia yang luar biasa, apa yang diduganya sama sekali tidak meleset, mungkin jejak dari Thian liong ngo siang bakal diketahui lewat secarik kertas ini." Seraya berkata dia lantas memberi tanda dan siap mengambil kertas tersebut. Akan tetapi sewaktu jari tangannya hampir menyentuh ditepi kertas inilah mendadak kertas itu melayang sendiri tanpa terhembus

277
angin, kemudian setelah berputar satu lingkaran diatas kepala mereka segera meluncur keluar pintu. Thian gwa hui hong Ong Put khong maupun Hoo lok it cuan Ang Ceng semuanya merupakan jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan, setelah menyaksikan kejadian itu dengan cepat mereka tahu kalau ada seorang jago lihay telah merampas kertas tersebut dari tangan mereka. Dengan gaya ular raksasa membalikkan badan Hoo lok it cuan Ang Ceng segera menggerakkan sepasang gelangnya, yang satu dipakai untuk membuka jalan sementara yang lain dipakai untuk melindungi jalan darah penting didepan dada. Lalu sambil menyerbu ke depan, bentakny keras-keras. "Siapa?" Thian gwa hui hong Ong Put khong juga menubruk ke depan sambil membentak keras : "Tinggalkan kertas itu, kuampuni selembar jiwamu!" Reaksi yang dilakukan kedua orang ini sungguh cepat seperti sambaran kilat, sekalipun demikian, mereka toh masih terlambat satu langkah, tak sempat mereka saksikan siapa gerangan orang yang menyerobot kertas tersebut. Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya kedua orang itu menerjang keluar ruangan tapi baru saja sampai diluar ruangan,

mendadak dari belakang terdengar suara orang tertawa dingin. Berhenti kalian berdua!" Thian gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng menjadi tertegun mereka tidak habis mengerti apa sebabnya orang itu bisa berputar ke belakangnya. Jilid 9

278
BAGAIMANAPUN hati mereka menggerutu, gerakan tubuh mereka sewaktu berputar dilakukan dengan kecepatan luar biasa, satu dari kiri yang lain dari kanan, serentak mereka mendekati orang itu, agaknya kuatir kalau orang itu berhasil melarikan diri lagi. Serentetan cahaya api melancar keluar dan menyinari orang yang berbicara itu ternyata itulah wajah yang kotor dan dekil penuh dengan minyak, itupun seraut wajah jago persilatan yang cukup dikenal olehnya. Paras muka Thian gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng segera berubah menjadi serius, mereka saling menyinggung lengan masing-masing sebagai tanda. Dengan cepat Hoo lok it cuan Ang Ceng menggetarkan sepasang gelangnya lalu dipindahkan ketangan kirinya sedangkan Thian gwa hui hong Ong Put khong tidak membawa senjata, tapi serentak dia menjura sambil berseru : "Rupanya Kay pang pangcu Cu tayhiap yang telah dating, maaf kalau kami kurang hormat." Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, Hou bok sin kay (mata harimau pengemis sakti) Cu Goan po menatap kedua orang itu lekat-lekat, lalu bertanya dengan suara dalam : "Rupanya kalian berdua juga tahu tentang rahasianya Thian liong pay? Sudah pasti kalian mendapat perintah dari seseorang." Seandainya berada dihari-hari biasa sudah pasti Hoo lok it cuan Ang Ceng tak akan berani mengusik Hou bok sin kay Cu Goan po tapi keadaan yang dihadapinya pada hari ini sedikit berbeda. Pertama, dia merasa dengan tenaga gabungan dari Thian gwa hui hong Ong Put khong dengan dirinya tidak sulit untuk mengalahkan sipengemis tua yang memuakkan itu. Kedua, Kedatangan mereka kali ini disertai dengan suatu persiapan yang matang, asal tanda rahasia dilepaskan maka bala bantuan segera akan berdatangan sekalipun tak sampai meraih kemenangan, paling tidak tak akan menderita kerugian apa-apa.

279
Maka dengan perasaan tak acuh mereka tertawa dingin, lalu katanya : "Persoalan ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan pihak kay pang mengingat kita perkenalan dimasa lalu, aku minta serahkan kembali kertas surat itu kepadaku dan urusan kita bikin selesai sampai di sini saja, kalau tidak.. Hmm! Itu berarti kau sedang membakar tubuhmu sendiri! Thian gwa hui hong Ong Put khong adalah seorang yang berotak licik, meski gusar dihati, senyuman terkulum diujung bibirnya, dia berkata pula : "Kami berdua berasal dari istana Ban seng kiong, kali ini sedang

bertugas atas perintah atasan kami, tidak banyak pula yang kami ketahui maka jika Cu tayhiap ada persoalan silahkan bertanya langsung kepada Sancu kami, daripada terjadi bentrokan kekerasan diantara kita, lebih baik serahkan saja surat itu kepada kami." Mendengar perkataan itu, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goau po tertawa terbahak bahak. " Haaahhh. Haaahhh haaahhh.. terlalu gampang jika cuma begitu, sejak tadi sampai sekarang kalian belum menjawab sepatah katapun apa yang kuajukan, sebaliknya malah mau mengancam diriku. Hmm, kenapa kalian tidak berpaling dan melihat dulu siapa saja yang berada dibelakangmu?" Mendengar perkataan itu, Thiang gwa hui hong Ong Put khong serta Hoo lok it cuan Ang Ceng merasa amat terkejut, dengan cepat mereka berpaling. Tampaklah didepan pintu ruangan tengah telah berdiri tegak lima orang pengemis tua. Mereka adalah lima orang jago lihay di bawan pimpinan Kay pang pangcu yang disebut orang Kay pang ngo heng, yaitu terdiri dari : Kim kay (pengemis emas) Ui Hui, Bok kay (pangemis kayu) Lim Gwan, Sui kay (pengemis air) Hay In, Hwee kay (pengemis api) Hee Tam dan Toh kay (pengemis tanah) Yu Jit.

280
Siapa pun diantaranya ke lima orang itu meksi bertarung satu lawan satu dalam lima puluh gebrakan sudah mampu untuk menaklukan mereka berdua, hal ini membuat kedua orang tersebut merasa terkesiap. Meski keder dihati, diatas wajahnya ke dua orang itu tidak menunjukkan perasaan tersebut, tiba tiba mereka mendongakkan kepala dan berpekik panjang, dibalik pekikan itu terseliplah kode rahasia untuk memohon bala bantuan. Begitu pekikan berkumandang, Hoo lok it cuan Ang Ceng segera berkata dengan lantang : "Mau berduel atau main kerubut, kami berdua siap untuk menghadapinya! "Menurut penglihatanku, kalian bukan tandingan kami," kata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan dingin, "tapi kalau dilihat dari sikap jumawa kalian, tampaknya disekitar sini sudah dipersiapkan bala bantuan?" "Kalau benar mau apa?" tantang kedua orang itu dengan sikap yang amat jumawa. "Baik, kalau memang begitu, semoga saja kalian jangan menyesal!" Kepada ke lima orang jagoan dia memberi tanda, lalu katanya : "Kalau toh kedua orang ini bermaksud untuk merebut benda itu dengan kepandaian rasanya kitapun tak perlu mendapat malu, segala sesuatunya dilaksanakan menurut rencana. Menyaksikan pihak lawan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk mengulur waktu, dengan gugup Thian gwa hui hong Ong Put khong berseru : "Kalian hendak mengandalkan jumlah banvak untuk meraih kemenangan, apakah tidak malu kalau berbuat ini akan ditertawakan orang?"

281
Secepat sambaran petir kelima orang pengemis ngo heng itu sudah mengepung orang itu rapat rapat. Sambil melepaskan sebuah pukulan, si Pengemis tua berseru : Perkumpulan kami hanya berbicara soal peraturan dengan umat persilatan yang berjiwa lurus, untuk menghadapi manusia macam kalian, cara macam apapun akan kami pergunakan'' "Wees.!" angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan cepat menghantam keatas tubuh Hoo lok it cuan Ang Ceng. Menyaksaikan datangnya ancaman tersebut, dengan cepat Ang Ceng menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan itu, kemudian dengan tangan kirinya menyambut serangan lawan dengan jurus Yau cian leng coa (membacok pinggang ular sakti), tangan kanannya melancarkan sebuah serangan balasan dengan jurus Beng gwat tang tau (rembulan purnama diatas kepala). Di tengah suara tertawa dinginnya si pengemis emas Ui Hui, berganti gaya sambil menggeser badan, lalu dengan jurus Pang seng tou gwat (memukul bintang menyungging rembulan) dia punahkan ancaman gelang lawan, menyusul kemudian dengan lima jari yang dipentangkan bagaikan cakar dia balas mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Hoo lok it cuan Ang Ceng. Jurus serangan ini dipergunakan secara jitu dan lihay, dengan cepatnya memaksa Hoo lok it cuan Ang Ceng terdesak mundur berulang kali. Sementara itu Thian gwa hui hong Ong Put khong telah melangsungkan pertarungan seru melawan pengemis kayu Lim Gwan, sudah barang tentu dia bukan tandingan dari pengemis kayu Lim Gwan itu, ditambah lagi pengemis air, pengemis api dan pengemis tanah masing-masing berjaga di empat penjuru sambil bersiap siap melancarkan ancaman, kesemuanya itu mendatangkan tekanan kejiwaan yang besar baginya. Tenaga dalam yang seharusnya sudah mencapai sepuluh bagian, cuma delapan bagian saja yang bisa dipergunakan secara baik,

282
belum lagi sepuluh gebrakan lewat, dia sudah dibikin kalang kabut tidak karuan. Sekalipun begitu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tidak sabar pula, tiba-tiba serunya dengan suara lantang : Mereka mempunyai bala bantuan yang dipersiapkan di sekitar tempat ini, kalian segera selesaikan pertarungan ini dengan secepatnya! Baik! sahut pengemis air, api dan tanah bersama. Siapa tahu baru saja mereka menggerakkan tubuhnya, mendadak dari luar pintu bermunculan beberapa sosok bayangan manusia yang langsung menyongsong datangnya serangan dari pengemis emas, kayu, air, api dan tanah, dengan begitu Hoo lok it cuan Ang Ceng serta Thian gwa hui hong dapat mengundurkan diri. Menyusul kemudian, dari luar ruangan muncul kembali tiga sosok bayangan manusia, salah seorang diantaranya yakni seorang kakek berambut putih dan bermata bengis berseru kepada Ang Ceng serta Ong Put khong :

Sudah berhasil? Benda itu sudah dirampas oleh Kay pang pangcu! jawab kedua orang itu dengan hormat. Kakek berambut putih itu segera melototkan matanya bulat bulat, kepada kedua orang rekannya dia memerintahkan : "Lote berdua, cepat bekuk! orang itu segera berjalan kehadapan pengemis sakti bermata harimau, sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya : "Pengemis Cu, kau hendak menyerahkan diri dengan begitu saja? Ataukah menunggu sampai kami dua bersaudara yang turun tangan?" Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po adalah seorang ketua dari perkumpulan besar, kedudukannya sangat tinggi dan sejajar dengan ketua perguruan lainnya, tentu saja tenaga dalam yang dimilikinya tidak termasuk rendah.

283
Akan tetapi, setelah mengetahui siapa yang datang, diam-diam ia merasa terperanjat sekali. Rupanya kedua orang itu mempunyai kedudukan yang cukup tersohor di dalam dunia persilatan, bahkan disegani oleh jago-jago baik dari golongan lurus maupun sesat. Orang menyebut mereka sebagai Hek pek Siang bun (sepasang Siang bun hitam dan putih) yaitu Hek Siang bun Go Thian dan Pek Siang bun Go Tee. Kedua orang itu memiliki kepandaian sakti yang tiada taranya didunia ini, terutama ilmu pukulan Si kut im hong ciang (pukulan hawa dingin penghancur tulang) yang merupakan kepandaian andalannya, barang siapa yang terkena pasti akan tewas. Seandainya dia harus menghadapi mereka dengan satu persatu, dalam seratus gebrakan mungkin bisa menangkap salah satu diantaranya, tapi kalau kedua orang itu sampai turun tangan bersama, sudah pasti dia yang bakal kalah dalam seratus gebrakan kemudian Dengan kedudukan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dalam dunia persilatan, sekalipun dia sadar bahwa kepandaian yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, akan tetapi, dia pun tak dapat menunjukkan perasaan tersebut diatas wajahnya. Maka sambil tertawa terbahak-bahak, dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah tongkat besi yang delapan depa panjangnya. ketika tongkat itu digetarkan maka panjangnya menjadi dua kali lipat, maka jadilah sebuah tongkat Tah kau pang yang panjangnya mencapai lima depa empat inci. Dua orang loheng, demikian dia berkata, sedari kapan kalian berdua telah menjadi kaki tangannya orang lain? Sungguh suatu perbuatan yang terpuji dan pantas diberi selamat! Tongkat penggebuk anjingku ini merupakan tandingan dari anjing-anjing kaki tangan orang lain, jika kalian tidak kuatir kena digebuk, silahkan saja untuk maju!"

284
Hek pek siang bun tertawa dingin, kedua orang itu segera meloloskan sebuah garpu baja yang panjangnya tiga depa lima inci.

Hek siang bun berdiri disebelah kanan dengan senjata garpu ditangan kanan, sedangkan Pek siang bun berdiri di sebelah kiri dengan senjata garpu di sebelah kiri, kedua orang itu sama-sama mengangkat senjatanya tinggi ke udara, lalu sambil membentur bentaknya : "Hajar!" Mendadak tubuh mereka berpisah sambil menerjang ke muka, kiranya Hek siang bun yang berada disebelah kanan berputar ke samping kiri, sedangkan Pek siang bun yang berada disebelah kiri berputar ke sebelah kanan, tubuh mereka bergerak bagaikan bayangan setan, sepasang garpu ditusukkan bersama ke depan menyerang jalan darah Ciau cing hiat diatas sepasang bahu lawan. "Serangan yang bagus," bentak Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan suara keras. Tongkat penggebuk anjingnya diangkat sejajar bahu, kemudian tubuhnya berputar membentuk satu lingkaran, lalu dengan jurus Ji long tam sam (Ji long memikul bukit) dengan meminjam gaya perputaran tersebut dia punahkan serangan gabungan dari kedua buah senjata musuh. Seketika itu juga Hek siang bun maupun Pek siang bun merasakan tenaga serangan yang terpancar dari senjata mereka punah dengan begitu saja, sadar kalau serangannya mengalami kegagalan, dengan cepat dia merendahkan pinggang, tanpa merubah posisi senjata garpunya diangkat keatas lalu satu dari kiri yang lain dari kanan, sekali lagi mereka lancarkan sapuan kedepan. Didalam melancarkan serangannya kali ini, hampir semua luang kosong yang berada disekitarnya tercakup didalamnya kecuali pengemis sakti bermata harimau melompat ke atas untuk menghindar, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut.

285
Akan tetapi, seandainya pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po benar benar melompat keatas maka pukulan Si kut im hong ciang yang dilancarkan Hek siang bun dan Pek siang bun tentu akan menyongsong kedatangannya. Dengan demikian tubuh si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pasti akan terjebak di tengah udara sudah pasti sulit baginya untuk menahan serangan gabungan dari kedua orang itu, akibatnya dia akan terluka oleh pukulan Si kut im hong ciang tersebut. Sebagai seorang jago yang berpengalaman tentu saja ketua dari Kay pang ini dapat menyaksikan semua perangkap tersebut dengan amat jelasnya, tapi diapun mempunyai perhitungan sendiri. Meski badannya sedang melambung ditengah udara, akan tetapi toya penggebuk anjingnya melesat ke depan dengan membawa segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat, dengan demikian ancaman dari Hek pek siang bun yang telah dipersiapkan secara matang itupun segera gagal total. Bahkan oleh tenaga gabungan yang dipancarkan kedua orang tersebut, tongkat penggebuk anjing itu tiba-tiba melesat kembali ke udara. Di tengah gelak tertawanya yang amat keras, dengan kepala

dibawah kaki diatas pengemis sakti bermata harimau itu menggunakan gerakan Yan cu keng poo (burung walet terbang melesat) untuk menyambut datangnya tongkat Ta kun pang itu, menyusul kemudian badannya turut melayang kembali sejauh beberapa kaki dari tempat semula. Mesti cuma terdiri dari tiga jurus dua gebrakan, namun cukup membuat si kakek berambut putih bermata serigala itu manggutmanggut dengan perasaan kagum, katanya : "Nama besar sipengemis Cu memang bukan nama kosong belaka, Go lote berdua, Lo Sancu sangat mengharapkan kemampuan kalian, dapatkah kamu berdua menjadi pembantuku, tergantung

286
sampai dimanakah penampilan yang kalian perlihatkan pada hari ini. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po adalah seseorang yang berpengalaman luas, tapi dia tidak mengenali siapa gerangan kakek berambut putih bermata serigala tersebut, tapi kalau didengar dari nada perkataannya, dapat diketahui bahwa kedudukan maupun tingkatannya masih dua tingkat diatas Hek pek siang bun. Tanpa terasa sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya segera menunjukkan perasaan bimbang dan ragu. Pada saat itulah Hek pek siang bun telah berkata lagi : Oh lo tak usah kuatir, permainan busuk pengemis Cu hanya sebanyak itu s a j a, sebentar aku pasti akan mempersiapkan suatu permainan yang lebih baik lagi didirinya. Oh lo ditambah dengan ''bermata serigala" dengan cepat sipengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, teringat akan seseorang sudah tiga puluh tahun lamanya orang itu lenyap dari dunia parsilatan, kalau dibilang usia seharusnya sudah mencapai delapan puluh tahunan, dia tak lain adalah seorang gembong iblis yang amat termashur didalam kalangan golongan hitam, orang menyebutnya sebagai Hek sim pa long (serigala buas berhati hitam) Oh tay kiau. Seandainya benar benar orang itu, besar kemungkinan nasib dirinya berenam pada hari ini akan musnah ditangannya. Ingatan tersebut hanya sebentar melintas dalam benaknya, pada saat itulah sepasang Siang bun hitam putih telah menyerang kembali kearah bahunya dengan sepasang garpu bajanya. Pertarungan antara jago lihay seringkali hanya tergantung pada satu detik, begitu pengemis sakti bermata harimau teledor dengan cepat dia terjerumus dalam keadaan yang bahaya, tahu-tahu ancaman sudah berada di depan mata untuk menghindarkan diri tampaknya akan jauh lebih susah dari pada mendekati bukit.

287
Untunglah disaat yang paling kritis itulah mendadak dari luar pintu berkelebat datang sesosok bayangan manusia, tampak cahaya emas berkelebat lewat tahu-tahu sepasang senjata garpu dari Hek pek siang bun sudah terhisap oleh cahaya emas itu dan tak sanggup berkutik lagi. Menyaksikan peristiwa tersebut, sepasang siang bun hitam putih menjadi amat terperanjat, cepat-cepat mereka mundur ke belakang

sambil berusaha untuk melepaskan senjatanya, namun bagaimanapun juga ia berusaha untuk menarik senjatanya, usaha tersebut selalu gagal. Tiba tiba terdengar serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau membentak keras : "Bocah keparat, siapa kau?" Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menuju kedepan dan menumbuk sebilah pedang emas yang sedang menghisap sepasang senjata garpu itu. Ketika angin pukulan itu menghantam di antara pedang emas dan garpu baja tadi, dengan cepat Hek pek siang bun menarik kembali senjatanya sambil rnengerahkan tenaga, maksud mereka senjata tersebut akan dibetot kembali mumpung ada yang membantu. Siapa tahu pada saat itulah dari atas senjata garpu itu memancar keluar segulung tenaga pantulan maha dahsyat yang menggetarkan sepasang lengan mereka hingga menjadi linu, senjatanya tak dapat dipertahankan lagi, dengan sempoyongan mereka mundur sejauh tiga langkah. Ketika memandang lagi kearah senjata garpu itu, maka tampaklah sepasang senjata tadi masih menempel diatas pedang emas tadi tanpa bergetar barang sedikitpun juga. Belum lagi wajah musuhnya kelihatan, sedang senjata mereka sudah dirampas orang, kejadian ini benar benar membuat Hek pek siang bun merasa terkesiap sekali. Menanti perasaan mereka

288
menjadi tenang kembali, kedua orang itu baru mendongakkan kepalanya. Tampak orang yang memegang pedang emas dihadapan mukanya itu berusia dua puluh tahunan, ia mengenakan baju berwarna biru, mukanya putih dan sangat tampan. Akan tetapi, waktu itu dengan wajab sedingin es dia sedang mendelik kearah Hek sim pa long (Serigala buas berhati hitam) Oh Tay ciau. Aku bernama Thi Eng khi, tuan rumah gedung ini, kata pemuda itu memperkenalkan diri "siapakah kalian? Kenapa mendatangi rumahku ini?" Thi Eng khi..! Thi Eng khi..! Ketua angkatan ke sebelas partai Thian liong pay ternyata bisa munculkan diri dalam keadaan seperti ini, kejadian tersebut sungguh merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tidak diduga oleh siapapun juga. Oleh sebab itu, kelima kelompok manusia yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit disebelah sanapun menghentikan pertarungan mereka secara otomatis. kemudian kembali kekelompoknya masing masing. Hou bok sin kay (Pengemis sakti bermata harimau) Cu Goan po pernah bersua muka dengan Thi Eng khi sewaktu berada dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari meski demikian, andaikata Thi Eng khi tidak menyebutkan sendiri namanya belum tentu ia dapat mengenalinya kembali. Perpisahan selama setahun sesungguhnya tidak terhitung terlalu panjang, namun perubahan atas diri Thi Eng khi terlampau banyak, baik soal perawakan maupun dalam hal bersikap, seolah-olah dia

dengan setahun berselang adalah dua orang yang berbeda. Kejut dan girang Hou bok sin kay CU GOan po menyaksikan kemunculannya, sambil berseru tertahan dan mengucak matanya berulang kali, lalu dia berseru :

289
''Thi ciangbunjin, masih ingat dengan aku si pengemis tua?" Thi Eng khi berpaling dan manggut manggut. ''Sewaktu dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, aku telah banyak menerima budi kebaikanmu, tentu saja tak akan kulupakan. Biar siauseng menggebah pergi dulu makhluk makhluk tua tersebut, kemudian baru kuucapkan terima kasih atas kunjungan pangcu ke rumah siauseng. Rupanya dia mengira Cu Goan po datang kesana untuk melindungi perkampungannya. Dalam pada itu, Hek sim pa long Oh Tay ciau telah melototkan matanya bulat-bulat, kemudian tegurnya : "Jadi engkau yang bernama Thi Eng khi?" Menyusul kemudian, sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata lebih lanjut : "Haaahhhh.. haaahhhh. Haaahhhh! didalam jagad sudah tiada manusia yang bernama Thi Eng khi lagi, sekalipun kau dapat menyaru sebagai Thi Eng khi namun jangan berharap bisa mengelabui lohu, Sesungguhnya siapakah kau? Hayo cepat mengaku sejujurnya!" Pelan pelan Thi Eng khi meloloskan pedang Thian liong kim kiam yang tersoren dipinggangnya, kemudian berkata : "Bila kau terhitung seorang tokoh persilatan yang berpengalaman dalam dunia persilatan, sepantasnya kalau pedang ini akan kau kenali, benarkah diriku adalah Thi Eng khi atau bukan, buat apa musti banyak ditanyakan lagi?" Hek sim pa long Oh Tay ciau segera memperdengarkan lolongan serigalanya yang menyeramkan. Perduli kau adalah Thi Eng khi yang asli atau bukan," pokoknya kau akan kubawa pulang kegunung untuk diserahkan kepada Sancu kami."

290
Begita selesai berkata kelima jari tangannya seperti lima buah kaitan tajam langsung mencengkeram bahu kanan Thi Eng khi. Dengan gaya yang seenaknya dia melangkah keposisi tiong kiong kemudian melewati ang bun dan gayanya tersebut bisa diketahui bahwa ia tak pandang sebelah matapun terhadap Thi Eng khi. Didalam anggapannya serangan cakar maut pek TOK siau hun (selaksa bisa pelenyap sukma) tersebut pasti akan berhasil mengenai sasarannya dengan telak. Thi Eng khi membalikkan tangannya dan menyarungkan kembali pedangnya kedalam sarung kemudian badannya maju selangkah meloloskan diri dari cengkeraman pek tok siau hun jiuan" Mimpipun si Hek sim pa long tidak mengira kalau ilmu cengkeraman selaksa bisa pelenyap sukma yang memiliki perubahan yang tiada taranya itu bisa gagal mencapai sasaran pada tubuh lawannya.

Berubah hebat paras muka serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau menyaksikan keadaan tersebut, sambil tertawa dingin segera serunya : Coba sambut sebuah cengkeram lohu ini lagi!" Sambil bergerak ke depan, sekali lagi dia melancarkan sebuah cengkeraman kilat ke tubuh Thi Eng khi, cengkeraman maut ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan lagi dari ujung tangan segera memancar keluar lima gulung hawa aneh yang segera mengurung sekujur badan Thi Eng khi. Thi Eng khi yang sekarang bukanlah Thi Eng khi setanun berselang, ke empat macam obat mujarab yang berada didalam tubuhnya kini sudah membaur dengan kekuatan tubuhnya, ditambah pula dia telah melatih kitab pusaka Thian liong pit kip selama setahun lamanya, nadi penting yang mempengaruhi mati hidupnya telah tertembusi, selain itu ada pula hawa khikang yang melindungi badannya, tentu saja serangan cakar maut selaksa bisa pelenyap sukma itu tak mempan terhadap dirinya.

291
Dengan penuh kegusaran segera bentaknya : "Aku tidak punya waktu banyak untuk rebut denganmu, cepat kau enyah dari sini! Dengan jurus Kim liong tam jiau (naga emas mementangkan cakar) telapak tangannya segera bergetar menembusi hawa hitam yang berlapis lapis dan langsung mencengkeram urat nadi diatas pergelangan tangan Serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau. Hek sim pa long Oh Tay ciau sama sekali tidak menyangka kalau serangan yang dilancarkan Thi Eng khi bisa demikian cepatnya, menanti dia berniat untuk menarik kembali tangannya, sayang keadaan sudah terlambat. Terasa ada segulung aliran hawa panas memancar masuk ke dalam, membuat tenaga dalam hasil latihannya selama tujuh delapan puluh tahun itu sama sekali tak dapat dihimpun kembali. Terkesiap hati Hek sim pa long Oh Tay ciau menghadapi keadaan tersebut, peluh sebesar kacang kedelai segera jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Thi Eng khi segera mengebaskan tangannya sambil mengayun ke depan, dengan cepat tubuhnya dilempar keluar dari ruangan tengah. Sesungguhnya tenaga dalam yang dimiliki Serigala buas berhati hitam Oh Tay ciau bukan terhitung sembarangan, akan tetapi kenyataannya belum sampai satu gebrakan menghadapi Thi Eng khi dia sudah dilempar keluar dari dalam ruangan. Betul hal ini sebagian besar disebabkan sikap pandang entengnya terhadap lawan, namun andaikata tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi tidak memperoleh kemajuan yang amat pesat, mustahil dia bisa melakukan hal tersebut. Begitu serigala buas kena dikalahkan para gembong iblis lainnya semakin tak berani berkutik lagi dibawah seruan tertahan dari

292
Serigala buas itu, kontan semua orang mengambil langkah seribu dan kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tercengang pula

dibuatnya setelah menyaksikan kelihayan Thi Eng khi, untuk sesaat lamanya dia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan. Semenjak berhasil melatih ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Thian liong pit kip, pekerjaan pertama yang hendak dilakukan ThiEng khi adalah pulang ke rumah untuk menengok ibunya serta menolong Thian liong su siang yang terluka oleh ilmu jari Thian sat ci. Waktu itu dia tidak berhasrat untuk bersapa dan berbincang bincang dengan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, dengan cepat pemuda itu menjura seraya ujarnya : "Sudah banyak tahun aku berkeliaran diluar, kali ini aku sengaja datang untuk menyambangi ibuku harap Cu pangcu tunggu sebentar. Seusai berkata, dia lantas melintas masuk ke ruang dalam. "Thi ciangbunjin, harap tunggu sebentar," Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berseru keras, aku si pengemis tua hendak membicarakan sesuatu denganmu.'' Tapi Thi Eng khi sudah keburu menyelinap masuk ke ruangan dalam. Sambil berlarian menuju keruangan belakang. Thi Eng khi berseru dengan penuh luapan emosi : "Ibu.... ibu...! anak Eng sudah kembali! Hujan turun amat deras, malam itu tak berbintang walaupun Thi Eng khi telah melatih ilmu melihat dalam kegelapan, namun tidak ia pergunakan dalam ruang belakang yang gelap gulita itu.

293
Terasa suasana amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, kesemuanya ini membuat hatinya keheranan. lbu!" kembali jeritnya, ''anak Eng telah kembali! Kau jangan takut, cepat keluar" Agaknya dia sudah mulai merasakan bahwa gelagat sedikit agak tidak beres. Buru buru hawa murninya dikerahkan, dua rentetan sinar mata yang tajam segera terpancar keluar dari balik matanya, dia memandang seluruh ruangan itu, namun yang dijumpai hanya debu serta sarang laba laba yang memenuhi dinding dan lantai, jelas gedung ini sudah lama tidak dihuni lagi. SEKUJUR badan Thi Eng khi gemetar keras, hatinya menjadi sedih sekali hingga air mata terasa meleleh keluar, keluhnya dengan hati yang pedih : "Oooh.ibu! Siang malam ananda berangkat pulang dengan harapan bisa berjumpa kembali denganmu, siapa tahu kalian sudah ketimpa musibah yang tak diinginkan, sungguh membuat hatiku amat menyesal!'' Sementara itu ketua Kay pang pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah menyusul datang, dengan agak tersipu. Katanya : "Thi Ciangbunjin, harap kau jangan bersedih hati, menurut penilaian aku si pengemis tua, kemungkinan besar ibumu sekalian enggan diganggu orang terus menerus, maka mereka telah berpindah tempat menetap." Pikiran dan perasaan Thi Eng khi waktu itu sungguh merasa

gundah sekali, tiba tiba dia membalikkan badan dan menatap wajah pengemis tua itu dengan sorot mata yang tajam, kemudian tegurnya : "Siapa yang telah memaksa ibuku sehingga harus menyingkir dari sini? Cepat katakan kepadaku!"

294
Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup memahami perasaan anak muda itu, ia tidak tersinggung oleh sikap kasar orang, setelah menghela napas panjang katanya : "Panjang sekali ceritanya, mari tenangkan dulu hatimu, kita cari tempat untuk duduk kemudian baru pelan pelan memperbincangkannya kembali...." Dalam pada itu, Ngo heng ngo kay (lima pengemis Ngo heng) dari Kay pang telah muncul sambil membawa empat batang obor lain masing masing ditancapkan diatas empat penjuru dinding ruangan itu. Kemudian mereka juga membersihkan lapisan debu diatas lantai dan mempersilahkan Thi Eng khi serta pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po duduk saling berhadapan. "Ciangbunjin," pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mulai dengan pembicaraannya, selama setahun belakangan ini kau telah pergi ke mana saja? Tahukah kau, Tiang Pek lojin dari luar perbatasan telah bentrok dan terjadi salah paham dengan umat persilatan dalam dunia persilatan gara-gara dirimu?'' Thi Eng khi merasa enggan untuk menceritakan kisah sebenarnya sehingga ia berhasil memperoleh kepandaian silatnya, maka pertanyaan yang pertama ini tidak ia jawab. Maka sambil manggut manggut ujarnya : "Soal Tiang Pek lojin yaya sampai bentrok dengan pihak Siau lim pay gara gara urusanku telah kudengar sepanjang perjalanan, tapi berhubung aku sudah amat rindu dengan ibuku serta menguatirkan keselamatan keempat orang susiokku yang sedang terluka parah, maka kuputuskan untuk pulang menengok rumah lebih dulu, kemudian baru berangkat ke bukit Siong san untuk menjelaskan kesalahan paham ini. Tapi, selama setahun belakangan ini siapakah yang telah memaksa ibuku sekalian sehingga harus menyingkir dari sini? Apakah pangcu bersedia memberi penjelasan kepadaku?" Secara ringkas Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengisahkan apa yang telah terjadi selama ini, kemudian dia

295
menerangkan pula lantaran semua orang tidak berhasil menemukan jejaknya, maka otomatis sasaran merekapun dialihkan ke gedung Bu lim tit it keh. Akan tetapi ketika semua orang sampai di gedung Bu lim tit it keh, ternyata Thian liong ngo siang sekalian telah lenyap tak berbekas, tak seorangpun yang tahu kemana mereka telah pergi. Akhirnya dia menerangkan pula kalau dirinya mendapat pesan dari umat persilatan untuk menjaga di wilayah Huay im sambil melanjutkan pencariannya terhadap orang-orang Thian liong pay. Selain itu juga diterangkan bagaimana terjadinya peristiwa sehingga pada malam itu mereka sampai bertarung melawan orang

orang dari Ban seng kiong. Setelah itu, dia mengeluarkan gulungan kertas yang diperoleh dalam cakar Thian liong jiau itu, sambil diserahkan kepada Thi Eng khi katanya : Kertas ini kudapatkan dari tangan mereka, belum kubaca isinya, silahkan Thi ciangbunjin untuk memeriksanya." Sambil mengucapkan terima kasih, Thi Eng khi menerima kertas itu dan dibaca isinya, tampak diatas kertas itu tertera beberapa huruf yang kira kira berbunyi demikian : "Haaahhh....haaaahhh haaahhh...taktik lohu lebih tinggi setingkat dan berhasil mendahului kalian lebih dulu! Membaca tulisan itu, Thi Eng khi segera berkerut kening dan terjerumus dalam pemikiran yang amat mendalam. Suatu keheningan yang cukup lama berlangsung dalam ruangan itu, tiba tiba Thi Eng khi mengangguk. Ehmm.. pasti ibuku telah meninggalkan pesan apa apa disitu, tapi pesan tersebut telah diambil oleh orang yang meninggalkan surat ini, besar kemungkinan dalam surat itu ibuku menerangkan arah tujuan mereka.."

296
Kembali ia termenung beberapa saat lamanya, mendadak paras mukanya berubah hebat, sambil melompat bangun teriaknya keras keras : "Aduh celaka! Andaikata orang yang menyabot surat itu mempunyai maksud dan tujuan yang jelek, atau dia melakukan pengejaran dengan kemampuan ibuku kaum lemah serta keempat orang susiokku yang terluka parah, mana mungkin mereka bisa menandingi kemampuan lawannya?" Dengan perasaan cemas bercampur gelisah, dia telah bersiapsiap untuk menyerbu keluar dari pintu. Buru buru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghalanginya sembari berkata: "Harap Thi ciangbunjin berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak, jagad begini luas, kau tahu kemana dia telah pergi?" Thi Eng khi menjadi tertegun, ia segera terbungkam dan untuk sesaat seperti kehilangan pegangan. Kim kay (pengemis emas) Ui Hui dari ngo heng ngo koay (lima pengemis panca unsur) menatap kertas diatas tangan Thi Eng khi tersebut dengan sorot mata kaku, setelah termenung sejenak tiba tiba dia menimbrung : Kertas ini bukan kertas sembarangan, entah apa yang berhasil kalian perhatikan?" Thi Eng khi membolak-balikkan kertas itu dan memperhatikannya sekejap, kemudian diberikan kepada pengemis emas Ui Hui sambil katanya : "Pengetahuanku cetek sekali tolong berilah petunjuk untukku!" Pengemis emas Ui Hui menerima surat tadi dan diperhatikan sejenak, setelah itu sambil diserahkan kepada pengemis kayu Lim Gwan, ia berkata : "Loji, bagaimana menurut pendapatmu? Sambil memeriksa surat itu, sahut pengemis kayu Lim Gwan :

297
"Panjang empat inci lebar dua inci berlapis emas, bergaris pohon lui di ujung kanan dengan seekor kupu kupu sedang mementang sayap disudut kiri bawah..." "Kalau begitu benda ini semestinya berasal dari Sau tee si bun (Sastrawan penyapu lantai) Lu put ji!" kata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil manggut manggut dan tertawa. Benar, benda ini memang merupakan sampul surat pohon liu dan kupu kupu milik sastrawan penyapu lantai Lu put ji! ''Hayo berangkat!" seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kemudian, "aku si pengemis tua akan menemani heng tay menuju ke perkampungan Tay-ji-ceng untuk mencari si Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji." "Terima kasih atas kesediaan Cu pangcu! seru Thi Eng khi kegirangan. Maka serombongan bertujuh orang segera berangkat meninggalkan pintu halaman gedung Bu-lim-tit-it-keh. Mendadak ketua dari Kay pang ini menghentikan langkahnya, belum sempat ia memberi petunjuk kepada lima pengemis panca unsur, tiba tiba terdengar suara teriakan keras berkumandang datang dari empat arah delapan penjuru, menyusul kemudian dari sekeliling gedung itu bermunculan sekelompok manusia yang segera mengurung mereka ditengah arena. Ternyata orang-orang itu sudah lama bersembunyi disekeliling tempat itu, ketika serigala buas berhati hitam sekalian mengundurkan diri dari situ, oleh karena mereka pergi terlalu cepat, lagipula kabur melalui atas kepala mereka, maka orang orang itu tak sempat menghalangi kepergiannya. Berbeda dengan Thi Eng khi sekalian yang berjalan keluar lewat pintu gerbang secara terang-terangan, tentu saja mereka segera terkurung di dalam kepungan.

298
Ditengah hujan deras yang membasahi permukaan bumi malam itu, kilat menyambar-nyambar menambah seramnya suasana, diantara kilatan sinar yang memancar lamat lamat mereka saksikan kawanan manusia tersebut berbaju dekil penuh dengan lumpur sehingga keadaannya tampak mengenaskan sekali.. Sementara itu posisi dari Thi Eng khi sekalian bertujuh adalah lima pengemis lima unsur berada didepan, sementara Thi Eng khi serta Hou bok sin kay berada dibelakang. Tak lama setelah mereka terkepung rapat dari antara kerumunan manusia itu berjalan keluar seorang kakek berusia lima puluh tahunan, kakek ini berwajah gagah dan berwibawa agaknya merupakan pemimpin dari rombongan manusia tersebut. Sambil menyeka air hujan yang membasahi wajahnya kakek itu berkata dengan lantang : "Sebenarnya apa maksud dan tujuan kalian masuk keluar seenaknya dalam gedung Bu lim tit it keh? Cepat mengaku sejujurnya kalau tidak, jangan salahkan kalau kami akan bertindak kurang sopan" Walaupun nada perkataannya kasar dan sama sekali tidak bersahabat, namun mereka tidak turun tangan secara sembarangan,

dari sini dapat diketahui bahwa orang orang itu bukan manusia urakan yang tidak mengerti akan peraturan dunia persilatan. Ketika emas dari Ngo kay ngo heng menyaksikan pakaian mereka dekil dan rombeng, pada mulanya mencurigai mereka sebagai angpota Kay pang, ketika menyaksikan orang orang itu begitu berani dan tekebur dihadapan pangcunya, kontan dianggapnya hal ini merupakan suatu kejadian yang memalukan sekali apalagi berada dihadapan ketua Thian liong pay, Thi Eng khi. Maka sambil maju kemuka, segera bentaknya : "Kalian anak murid dari aliran mana? Berada didepan pangcu juga berani bertindak gegabah?"

299
Siapa yang kau anggap murid Kay pang?" kata kakek itu dengan wajah serius. Segera timbul pula kecurigaan dalam hati pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, sambil berkelit kesamping segera katanya : "Bagus sekali rupanya kalian enggan mengaku sebagai anggota Kay pang! Perbuatan yang menghianati perguruan merupakan perbuatan yang tak bisa diampuni, Ngo heng ngo kay, bunuh mereka semua!'' Baik! sahut ke lima orang pengemis itu berbareng. Serentak mereka meloloskan senjata tajam yang dimilikinya dan bersiap siap untuk membersihkan perguruan dari anasir anasir yang berusaha menghianati. Thi Eng khi sendiri, lantaran menganggap kejadian ini merupakan urusan pribadi perguruan Kay pang sendiri, maka diapun tidak banyak berbicara, dengan kening berkerut pelan pelan dia mengundurkan diri dari tempat itu. Kakek itu makin naik darah ketika menyaksikan ke lima pengemis panca unsur telah meloloskan senjata tajamnya, dia menengadah dan segera tertawa seram. Haaahhh haaahhh haaahhh orang bilang peraturan dalam tubuh Kay pang amat ketat dan disiplin cara kerjanya amat menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, siapa tahu tindak tanduk yang kalian lakukan hari ini sungguh membuat lohu merasa kecewa sekali.. Mengandalkan kekuatan menindas kaum lemah, bukan cuma membuat keonaran saja ditempat suci perguruan Thian liong pay, bahkan berani menuduh orang yang bukan-bukan, perbuatan kalian sungguh mengenaskan hati, Hmm! Kau anggap lohu sungguh sungguh takut terhadap kalian? Sambil memberi ulapan tangan, dia melanjutkan : "Saudara saudara sekalian, hari ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menunjukkan kebaktian kita terhadap perguruan, kita

300
sudah tak bisa bersabar lagi, mari kita beradu jiwa lebih dulu dengan kawanan pengemis yang tak tahu akan keadilan dan kebenaran ini!" Suara teriakan gagap gempita bergema memecahkan keheningan, kebetulan kilat sedang menyambar-nyambar dengan angin yang kencang dan hujan yang deras, kesemuanya ini menambah keseramannya suasana ketika itu.

Teguran kakek tersebut dengan cepat menggetarkan perasaan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, ia segera menyadari bahwa suatu kesalahan paham telah terjadi. Cepat cepat dia memberi tanda kepeda kelima orang pengemis panca unsur agar menunda serangan mereka, katanya. "Ngo heng ngo kay, harap mundur dahulu pun pangcu masih ada pertanyaan yang hendak ditanyakan." Ngo heng ngo kay menarik kembali senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po. Dalam pada itu, ketua Kay pang itu sudah maju ke depan sambil berkata dengan suara yang lebih lembut. Lohu adalah ketua Kay pang Cu Goan po .. Belum habis dia berkata, kakek tersebut sudah menukas sambil tertawa dingin : Siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po? Di hari hari biasa kau selalu menjunjung tinggi nama dan martabatmu, tak tahu hari ini masih mencoba untuk menipu orang. Hou bok sin kay Cu Goan po memang memiliki kelapangan dada yang besar, ia tidak menjadi marah, sebaliknya malah berkata sambil tertawa hambar : Siapakah lotiang? Mengapa tidak kau sebutkan dulu nama dan julukanmu agar persoalan lebih jelas?

301
Lohu adalah Thian Heng, anak murid Thian liong pay, kami datang untuk melindungi tempat suci perguruaan kami, tentunya kalian sama sekali tidak menyangka bukan! Bagitu mendengar ucapan tersebut, bukan cuma Hou bok sin kay Cu Goan po saja yang dibikin tertegun dengan mata terbelalak, bahkan kelima orang pengemis lima unsur pun dibikin gelagapan. Terutama sekali Thi Eng khi sendiri, dia merasakan darah panas dalam dadanya tergolak keras, air mata membasahi wajahnya membuat pandangan matanya menjadi kabur, saking emosinya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Untung saja Hou bok sin kay Cu Goan po berhasil menguasai gejolak perasaannya dengan cepat, teringat kalau saat itu bukan tempat yang tepat untuk berbicara, lagipula suasana disana amat gelap sehingga pihak lawan tak dapat melihat jelas dandanan Thi Eng khi, pun sulit membuat mereka percaya kalau Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari partai Thian liong pay, maka dia segera mengambil tindakan cepat. Kepada kelima orang pengemis lima unsur segera perintahnya : "Kalian kembalilah dulu ke halaman dalam, persiapan lentera, aku dan beberapa orang sahabat ini segera akan menyusul tiba." Lima orang pengemis itu segera mengiakan dan mengundurkan diri terlebih dulu ke dalam halaman gedung Thian hee tit it keh. Kemudian pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pun menjura kepada kakek tersebut sembari berkata : "Thian tayhiap, bersediakah kau untuk masuk kedalam dan berbincang bincang sebentar?

"Mati saja tidak takut, memangnya kau anggap aku tidak berani? Hayo berangkat!" "Silahkan!"

302
Sambil menarik tangan Thi Eng khi dia lantas berjalan lebih dulu didepan. Sementara itu, suasana didalam ruang tengah gedung Thian hee tit it keh terang benderang bermandikan cahaya lampu. Thi Eng khi telah berdiri di tengah ruangan, sinar lentera yang terang benderang menyoroti wajahnya yang tampan, tampak jubah birunya sebagai perlambang jubah partai Thian liong pay serta pedang Thian liong kim kian yang tersoren di pinggang kesemuanya ini menambah keren dan berwibawanya pemuda itu. Agak tertegun Thian Heng beserta segenap anggota partai Thian liong pay lainnya setelah menyaksikan keadaan itu, mula-mula mereka agak tidak percaya, tapi setelah direnungkan sebentar akhirnya mereka tidak sangsi lagi. Dengan tubuh gemetar keras dan air mata bercucuran membasahi wajahnya, buru buru Thian Heng maju kedepan dan menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, serunya. Tecu Thian Heng tidak tahu kalau ciangbunjin telah tiba, bila tindakan kami terlampau gegabah, silahkan ciangbunjin menjatuhkan hukuman kepada tecu sekalian." Menyusul itu, segenap anggota Thian liong pay yang lain berlutut dibelakang Thian heng turut berseru pula : Tecu sekalian menghunjuk hormat kepada ciangbunjin!! Sejak peristiwa dalam perkampungan Ki hian san ceng, segenap umat persilatan telah tahu kalau Thi Eng khi adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari partai Thian liong pay, sudah barang tentu anggota Thian liong pay inipun sudah mendengar pula akan persoalan itu. Sekarang setelah mereka saksikan dandanan serta potongan badan Thi Eng khi kemudian tampak pula pedang Thian liong kim

303
kiam sebagai lambing seorang ciangbunjin tersoren pula dipinggangnya, tentu saja mereka tak akan sangsi lagi. Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau dalam keadaan seperti ini dapat bersua kembali dengan anggota perguruanya, apaalagi menyaksikan semangat anak buahnya yang begitu besar, ia merasa terharu sekali, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Sambil balas memberi hormat, dia berseru : "Saudara saudara seperguruan, silahkan bangun! AKU.,..." Tiba-tiba hidungnya terasa kecut dan tenggorokannya sesenggukan, ia tak mampu melanjutkan kembali kata katanya. Thian Heng adalah seorang yang telah lanjut usia, tentu saja dia dapat memahami perasaan dari ciangbunjinnya, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini, lagipula hadir ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, tentu saja diapun tak berani banyak berbicara. Terpaksa dia berusaha keras untuk mengendalikan dulu

pergolakan perasaan dalam hatinya, setelah itu sambil menunjukkan sekulum senyuman paksa ia bangkit berdiri. "Ciangbunjin, baik baikkah kau selama ini?" sapanya kemudian. Thi Eng khi memang seorang pendekar yang berjiwa besar, walaupun usianya tidak besar, pengalamannya tidak cukup, namun dia sangat berlapang dada dan pandai mengendalikan pergolakan emosi dalam hatinya. Sekalipun Thian Heng tidak menunjukkan senyuman paksanya, sejak tadi sekulum senyuman telah menghiasi wajahnya, apalagi sekarang wajahnya tampak jauh lebih cerah lagi. "Atas pelindungan dari coasu, aku telah berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip, sejak ini aku akan bersama

304
saudara sekalian untuk bersama sama berjuang demi masa depan perguruan kita." Mengetahui kalau kitab pusaka Thian liong pit kip telah berhasil ditemukan kembali oleh Thi Eng khi, bukan cuma anggota Thian liong pay saja yang segera bersorak sorai menyambut berita girang itu, bahkan ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po beserta ke lima orang pengemis panca unsurpun bersama sama mengucapkan selamat kepada pemuda itu, mereka menganggap saat Thian liong pay untuk muncul kembali dalam dunia persilatan sudah sampai, besar kemungkinan bencana berdarah yang melanda dunia saat ini dapat diatasi. Kemudian, Thi Eng khipun bertanya kepada Thian Heng sekitar keadaan anak murid Thian liong pay saat ini. Dengan sejelas jelasnya Thian Heng memberi keterangan semua yang diketahui olehnya. Ternyata dibawah pencarian umat persilatan yaag berada didunia saat ini serta pembunuhan berantai yang dilakukan orang orang Ban seng kiong, pada hakekatnya posisi orang orang Thian liong pay dewasa ini sudah terjepit sekali sehingga tiada jalan untuk melarikan diri lagi. Oleh karena mereka tidak tahu kalau tujuan dari pencarian orang orang golongan lurus hanya ingin mencari jejak Thi Eng khi dari mulut mereka, maka siapapun tak berani berhubungan dengan orang orang persilatan, mereka mengira bencana telah diambang pintu, tiap hari mereka harus hidup dalam kekuatiran dan kegelisahan. Dalam keadaan yang tertekan dan terisolir, akhirnya anak murid Thian liong pay tak dapat menuruti perintah dari Cousunya lagi untuk mengasingkan diri, diam diam mereka mulai bersua dan berjuang menentang keadaan nasib. Merekapun mulai melakukan hubungan dengan pelbagai anggota perguruan yang tersiar dimana mana guna bersatu dan melakukan perlawanan terakhir, diantara mereka yang tingkatnya paling tinggi

305
adalah saudara seperguruan Thian liong ngo siang, sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah keponakan murid Thi Eng khi. Selain daripada itu terdapat juga sementara anggota dunia persilatan yang merasa tak senang menyaksikan pelbagai jago dari

berbagai aliran dalam dunia persilatan mendatangi gedung Thian hee tit it keh sekehendak hatinya, maka mereka lantas membakar semangat juang umat Thian hong pay dengan harapan bisa menpergunakan darah dari murid-murid Thian liong pay untuk memberi peringatan kepada umat persilatan didunia ini. Thian Heng merupakan pemimpin dari rombongan yang terakhir ini, kali ini dia sengaja memimpin anak murid Thian liong pay dengan tujuan untuk menggunakan darah segar mereka untuk memberi peringatan kepada umat persilatan, sungguh tak disangka justru dalam keadaan seperti inilah dia telah berjumpa dengan ciangbunjinnya Thi Eng khi. Berbicara soal hubungan, maka Thian Heng adalah murid pertama dari pemimpin Thian liong ngo siang yaitu Kay thian jiu (tangan sakti pembuka langit) Gui Tin tiong, atau masih kakak seperguruan dari Thi Eng khi. Sejak perguruan Thian liong pay menutup pintu dan mendapat perintah untuk meninggalkannya, diapun belum pernah kembali lagi kesana. Hampir dua puluh tahunan dia berkelana dan hidup mengembara di dalam dunia persilatan, tentu saja penderitaan semacam ini betul-betul memilukan hati bila dibicarakan. Demikianlah, sementara semua saling menuturkan pengalamannya masing-masing, mendadak Thi Eng khi berkerut kening. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu segera menegur : Saudara cilik apa yang telah kau rasakan? Thi Eng khi merasa terharu sekali atas kehangatan sikap ketua Kay pang ini terhadapnya, apalagi sejak di perkampungan Ki hian

306
san ceng tempo hari sudah menaruh kesan baik kepadanya, dalam gejolak emosi yang meluap, tak tahan lagi dia berseru : Engkoh tua .. Tiba-tiba dia merasa panggilan itu kurang baik, baru saja akan menariknya kembali, si pengemis tua itu sudah bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak. Haahhhh. Haahhhh. Haaahhhh. saudara cilik, panggilan tersebut sesuai dengan seleraku, lain kali kau panggil saja dengan sebutan itu, awas jangan dirubah lagi! Aaah.. jangan, jangan, aku hanya salah bicara sja, harap Cu pangcu jangan menganggap serius! seru Thi Eng khi cepat cepat sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kontan mendelik besar, dengan nada marah dia berkata : Saudara cilik, kau anggap aku si pengemis tua tidak pantas menjadi engkoh tuamu? Hmmm, terlalu menghina! Baik, kalau toh kau menganggap remeh diriku, sekarang juga aku si pengemis tua akan memohon diri! Selesai berkata, buru-buru dia berlagak seperti akan meninggalkan ruang itu. Walaupun Thi Eng khi juga tahu kalau pengemis tua itu hanya berlagak, bagaimanapun juga toh orang bermaksud baik, terpaksa katanya :

"Engkoh tua, jangan marah, baik, baiklah siaute akan menuruti permintaanmu itu!" Mencorong sinar tajam dari balik mata pengemis tua itu, dia segera menggenggam tangan Thi Eng khi erat erat sembari katanya : Saudara cilik, mulai sekarang, urusan Thian liong pay berarti urusan dari aku si pengemis tua pula!

307
Sementara mengucapkan perkataan itu, sepasang tangannya kelihatan gemetar keras jelas dia merasa terharu sekali. Terima kasih banyak atas cinta kasih engkoh tua! ucap Thi Eng khi pula sambil menatap saudaranya lekat lekat. Dengan cepat pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memanggil kelima pengemis lima unsurnya, lalu berpesan : Mari kalian menjumpai saudara cilik ini mulai sekarang kalian ini mesti menjual nyawa untuk dirinya. Kelima orang pengemis lima unsur itu menjadi girang sekali katanya hampir berbareng : Urusan saudara cilik adalah urusan Kay pang, soal ini tak usah pangcu pesankan lagi! Buru-buru Thi Eng khi menjura dengan perasaan terharu. Terima kasih banyak atas cinta kasih engkoh tua sekalian kepada siaute. Mendadak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menarik wajahnya lalu dengan serius dia berkata : Mulai sekarang Thian liong pay telah mengikat tali persaudaraan dengan Kay pang, saudara cilik, sekarang kau harus katakan secara terus terang kepada engkoh tuamu, mengapa kau berkerut kening tadi? Oooh. Begitu hangat sikap engkoh tua kepadaku, tampaknya siaute terpaksa harus berbicara terus terang. Saudara cilik, bila ingin membicarakan sesuatu, katakanlah dengan cepat, mengapa mesti mencla mencle seperti nona perawan saja, kalau begini caramu mana bisa mengerjakan suatu urusan besar? Merah padam selembar wajah Thi Eng khi karena jengah, sahutnya :

308
Siaute sedang risau karena masalah penempatan saudarasaudara kami dari partai Thian liong pay, sudah pasti penghidupan mereka merupakan suatu permasalahan yang cukup gawat, itulah sebabnya siaute merasa serba salah. Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh. Dewasa ini, persoalan yang harus siaute kerjakan masih banyak sekali, untuk sesaat mustahil bagiku untuk membangun partai secara resmi dan selalu hidup berkumpul dengan mereka, akan tetapi akupun tak akan membiarkan mereka hidup luntang lantung terus tanpa tempat tinggal menetap, oleh karenanya .. Engkoh tua, kau sudah banyak berpengalaman, dapatkah kau tunjukkan cara yang paling baik bagiku untuk mengatasi kesulitan ini? Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa

terbahak bahak setelah mendengar perkataan itu. Haahhh. Haaahhh. Haaahhhh.. bukankah ciangbunjin tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya? Sesudah tertawa tergelak lagi, dia berkata lebih jauh. Engkoh tua mah mempunyai cara yang paling baik untuk mengatasi kesulitan ini, cuma masalahnya sekarang terpaksa musti merendahkan derajat saudara seperguruanmu itu, hingga .. ya sulit bagiku untuk mengucapkan secara terus terang. Engkoh tua, kau tak usah sungkan-sungkan! ucap Thi Eng khi cepat dengan mata berkilat. Bila saudara cilik tidak keberatan, biarkan saja saudara-saudara kalian itu menjadi tamu selama beberapa waktu dalam perkumpulan kami? Walaupun Thi Eng khi merasa cara ini kurang baik, namun diapun enggan menampik, setelah termenung sebentar, dia lantas berpaling kearah Thian Heng sambil bertanya : Thian suheng, bagaimana menurut pendapatmu?

309
Thian Heng turut termenung untuk sesaat dia tak sanggup mengemukakan sesuatu pendapatpun. Maka Thi Eng khi lantas memutuskan : Baiklah, bagaimanapun juga hubungan kita dengan Kay pang adalah hubungan persaudaraan, sekalipun harus menumpang sementara waktu rasanya juga bukan sesuatu hal yang keliru. Terhadap setiap masalah, rupanya pemuda ini sudah bisa menyesuaikan diri menurut keadaan, tidak seperti setahun berselang yang begitu keras kepala dan kukuh pada pendirian. Dengan serius Thian Heng berkata : Perkataan dari ciangbunjin memang benar, tecu sekalian akan turut perintah. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi girang sekali sambil manggut manggut katanya : Pandai menyesuaikan diri dengan gelagat merupakan suatu tindakan yang paling tepat, murid Kay pang merasa berbangga hati sekali karena bisa menerima saudara saudara dari Thian liong pay sebagai tamu kehormatan!" Selesai berkata, ia lantas berpaling kepada kelima orang pengemis lima unsur sambil pesannya : "Mulai sekarang, asal berjumpa dengan saudara Thian liong pay, semuanya diundang untuk berkumpul dalam markas besat dan layani mereka sebagai tamu agung, jangan sampai keliru! Sekarang, ajaklah Thian tayhiap sekalian untuk pulang kemarkas lebih dulu, lohu dan saudara cilik akan berangkat dulu ke perkampungan Tay ji eng untuk mencari sastrawan penyapu tanah Lu Put ji. Sedangkan Thi Eng khi juga lantas berpesan kepada Thian Heng. "Hubungan persaudaraan Kay pang dengan Thian liong pay sudah ibaratnya keluarga sendiri, mulai sekarang anak murid perguruan kita akan menjadi tamunya Kay pang, aku harap

310
suhenglah yang memimpin mereka. Bila aku ada urusan pasti akan kuhubungi kalian.

"Terima perintah! sahut Thian Heng segera sambil membungkukkan badan memberi hormat. Menyusul kemudian dia berseru dengan lantang : "Menghantar dengan hormat keberangkatan ciangbunjin dan Cu pangcu untuk melakukan perjalanan!" Serentak anak murid partai Thian liong pay bangkit berdiri dan menghantar keberangkatan Thi Eng khi dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po keluar dari pintu gerbang. Sekalipun dalam tubuh Kay pang sendiri tiada ucapan semacam ini, namun terpengaruh oleh perbuatan murid murid Thian liong pay ini merekapun turut berdiri dengan wajah serius. Dalam waktu singkat Thi Eng khi dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po telah meninggalkan gedung Thian hee tit it keh di kota Huay im, oleh karena gerakan tubuh mereka sangat cepat, maka tak sampai dua hari mereka telah sampai di wilayah perkampungan Tay ji ceng. Sepanjang jalan, Thi Eng khi baru mendapat tahu tentang siapa dan bagaimanakah manusia yang bernama Sau tee si bun Lu Put ji tersebut dari mulut Cu Goan po. Ternyata sastrawan penyapu lantai Lu Put ji adalah seorang jago yang berpengetahuan luas sekali, ilmu silatnya tidak jelek, paras mukanya lebih lebih sekali, mana tampan, gagah perkasa lagi. Tapi walaupun semua prasyarat yang begitu bagus dia miliki, namun yang berhasil dia peroleh hanya julukan Sau tee si bun belaka, terhadap kedudukan maupun tingkatannya sama sekali tidak bermanfaat apa-apa. Sebab dia memiliki sebuah watak yang amat jelek, di hari hari biasa ia gemar sekali bergaul dengan kaum manusia rendah diapun

311
suka dengan uang, perbuatan apapun sanggup dia lakukan, hingga pada hakekatnya dalam benak orang ini sama sekali tidak mengenal arti kata "harga diri". Itulah sebabnya, meskipun wajahnya tampan ilmu sastra dan ilmu silatnya tinggi, namun dia hanya memperoleh julukan sebagai Sastrawan penyapu lantai. Yang lebih aneh lagi adalah dia sama sekali tak tahu diri malah secara khusus dia memesan semacam kertas surat pohon liu dan kupu kupu untuk berbuat semena mena dimana mana, tak seorang jago silatpun yang memandang sebelah mata terhadapnya. Sementara itu, perkampungan Tay ji ceng telah berada didepan mata, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera menarik tangan Thi Eng khi untuk melingkari sebuah bendungan, menjauhi jalan raya setelah menelusuri jalan setapak sekian lama, perkampungan Tay ji ceng kembali, mereka tinggalkan jauh dibelakang sana. Tiba tiba pemandangan yang terbentang didepan mata terasa meluas, didepan situ muncul sebuah bendungan yang penuh tumbuh pepohonan liu, di ujung bendungan itu berdiri tiga buah bangunan rumah mungil sebuah sungai melingkari bangunan rumah tadi. "Ehmm, tempat ini benar benar merupakan sebuah tempat yang sangat indah"' puji Thi Eng khi sambil manggut manggut. "Yang lebih bagus lagi masih ada dibelakang!" sahut pengemis

sakti bermata harimau Cu Goan po sambil tertawa. Thi Eng khi hanya tertawa belaka, dia tidak berusaha untuk mendalami perkataan dari pengemis tua itu, selangkah demi selangkah dia lantas berjalan mendekati pintu gerbang bangunan rumah mungil itu. Tiba didepan pintu dan menengadah, tanpa terasa Thi Eng khi berseru tertahan :

312
Bagus! Benar benar bagus sekali, tempat ini selain tiada adat kebiasaan alam semesta, hakekatnya merupakan tempat tinggal para Dewa Dewi, kalau dilihat dari keadaan disini, siaute benar benar tidak percaya kalau dia adalah seorang manusia seperti apa yang telah Engkoh tua terangkan kepadaku tadi. Andaikata ia tidak tahu soal seni dan sastra, tak akan orang lain menyebutnya sebagai Sastrawan penyapu lantai! Kemudian dengan suara yang amat keras, dia lantas berteriak : "Pun pangcu telah datang, mengapa tiada orang yang menyambut kedatanganku?" Baru selesai dia berteriak, dari dalam pintu telah muncul seorang kakek berjenggot cabang tiba yang bermuka tampan, sambil menjura kepada pengemis sakti bermata harimau, ia berkata : Lu Put ji tak tahu akan kedatangan pangcu bila tak menyambut dari kejauhan, harap sudi dimaafkan. "Hmm, tak usah berlagak terus!" dengus Cu Goan po cepat. Menyusul kemudian, dia berkata lebih jauh : "Lu-Put ji, kau begitu mengumpak diriku tidakkah kuatir kalau hal ini akan menodai nama baikmu sebagai seorang sastrawan penyapu lantai? Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tertawa terkekeh kekeh. Heeehh heeehhh Heeehhh nama besar Cu pangcu telah termashur di seantero jagad, bila Lu Put ji tidak mengumpak dirimu, lantas musti mengumpak siapa?" Tak disangka kalau oraag terhormat macam dia, ternyata sanggup mengucapkan kata kata seperti ini. Benarkah kau telah mengucapkan suara hatirnu? ketua Kay pang itu menegaskan. Bila Put ji tidak jujur, maka aku bukan cucu Cu pangcu!"

313
Jilid: 10 BILA aku mempunyai cucu macam kau, sudah sedari dulu kubunuh dirimu....'' Aaah benar, benar, memang pantas dibunuh, memang pantas dibunuh!" Hampir tertawa geli Thi Eng khi menyaksikan tindak tanduk orang yang menyebalkan itu, katanya : "Kalau orang sampai memanggilnya sastrawan penyapu lantai, rasanya ucapan ini memang tepat sekali." Dalam pada itu paras muka pengemis sakti bermata harimau kelihatan amat serius dan sedikitpun tiada senyuman yang menghiasi bibirnya dengan langkah lebar dia masuk keruang dalam

sembari katanya : "Lohu haus sekali! Put ji telah menduga akan kedatangan pangcu berdua sejak tadi air teh wangi telah kupersiapkan. Sambil miringkan badannya, dia mempersilahkan pengemis tua itu masuk lebih dulu keruangan dalam. Thi Eng khi segera menyusul kebelakang pengemis sakti bermata harimau tapi baru saja akan melewati pintu ruangan, mendadak sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, menghadang dihadapannya lalu dengan sikap yang angkuh katanya ketus : "Liu tiap cay tidak akan menerima manusia yang tidak bernama!" Sambil membusungkan dadanya Thi Eng khi segera berseru. "Aku adalah ciangbunjin dari partai Thian liong pay!" Dalam anggapannya, bila ia telah menyebutkan kedudukannya itu sudah pasti sastrawan penyapu lantai akan berubah sikap terhadapnya.

314
Siapa tahu sikap sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih tetap angkuh dan ketus katanya. "Tiga puluh tahun sungai timur tiga puluh tahun sungai barat, dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat lagi nama partai Thian liong pay, liu tiap cai juga tak dapat melanggar kebiasaan dengan mempersilahkan kau masuk." Mendengar perkataan itu, Thi Eng khi menjadi naik darah, dengan kening berkerut segera bentaknya : "Kurangajar, kalau begitu aku tak akan sungkan sungkan lagi terhadap dirimu. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sama sekali tidak merubah sikapnya, sambil menggulung ujung bajunya dia berseru : "Aku selamanya tidak takut rnenghadap orang yang sedang lewat, bila kau ingin beradu kepandaian diujung senjata, aku akan melayanimu dengan senang hati. Paras muka Thi Eng khi waktu itu sudah dingin bagaikan salju agaknya ia telah bersiap siap untuk turun tangan. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu buru buru tertawa tergelak. "Haaahh.. haaahh.. haaahhh. Lu Put ji adalah seorang manusia yang amat memandang tinggi soal tingkat kedudukan, katanya, saudara cilik, buat apa kau mesti ribut dengannya?" Tiba tiba dia menarik muka, kemudian ujarnya kepada sastrawan penyapu lantai Lu Put ji : "Thi ciangbunjin adalah saudaraku." Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak malu disebut sebagai manusia penjilat nomor wahid didunia ini, setelah mendengar perkataan itu, sikapnya segera berubah seratus delapan puluh derajat.

315
Belum lagi pengemis sakti bermata harimau menyelesaikan kata katanya, ia telah membungkukkan badannya sambil berkata : "Saudara cilik, silahkan masuk!" Selama hidup belum pernah Thi Eng khi menjumpai orang yang

begini tak tahu malu seperti dia, ia benar benar dibikin menangis tak bisa tertawapun tak dapat. "Aku tak jadi masuk!" katanya kemudian. Diam diam sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera menyumpah : "Sialan kau, memangnya kau anggap lohu memandang sebelah mata kepada dirimu?" Namun diluaran dia tetap menjura sambil berkata : ''Saudara cilik, bila kau masih saja marah, Put ji segera akan berlutut dihadapanmu, barusan Put ji tidak tahu kalau saudara cilik mempunyai hubungan yang erat dengan Cu pangcu, bila telah berbuat kelancangan, harap kau sudi memaafkannya." "Hmm, siapa yang menjadi saudara cilikmu? Kalau berbicara sedikitlah berhati hati," seru Thi Eng khi amat gusar. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang betul betul berkepandaian hebat, begitu ia sudah mengincar sasarannya, maka sekalipun kau menghajar atau mendamprat dirinya, ia tak akan ambil perduli, bahkan dia berusaha terus untuk melunakkan hati lawannya. Sekarang, walaupun dalam hati kecilnya dia sedang menyumpahi Thi Eng khi dengan kata kata yang paling kotor dan keji, namun wajahnya sama sekali tidak menampilkan perasaan tak senangnya, malah sambil munduk munduk kembali dia berkata : Baik, baik, harap Thi ciangbunjin jangan marah, Put Ji tidak berani, Put ji tidak berani. Thian liong pay memang suatu perguruan yang amat termashur dalam dunia persilatan, Thi ciangbunjin pasti mempunyai jiwa yang besar dan tak mempersoalkan kesalahan seorang siaujin, silahkan, silahkan, Thi ciangbunjin silahkan masuk."

316
Pinggangnya telah dibungkukkan dalam dalam, kepalanya hampir saja menempel di atas permukaan tanah. Thi Eng khi sudah terlanjur dibuat sewot, dia sama sekali tidak menggubris perkataan lawan. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang menyaksikan kejadian itu kembali tertawa terbahak bahak. "Haaahhh...... haaahhh...... haaahhh...... Put ji siauseng adalah seorang yang terlalu memegang teguh akan sopan santun, saudara cilik, jangan lupa kalau kita masih mempunyai urusan serius, terimalah permintaan maaf dari Put Ji siauseng itu. Dengan langkah lebar Thi Eng khi masuk ke dalam ruangan, hanya hidungnya mendengus dingin berulang kali untuk melampiaskan rasa mendongkol dalam hatinya. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengikuti dibelakangnya, setelah mempersembahkan air teh, kembali dia menjura dalam dalam sembari ujarnya : Cu pangcu ada petunjuk apa? Lu Put ji sudah siap sedia untuk mendengarkannya! Lu Put ji, sejak kapan kau telah mendatangi gedung Bu lim tit it keh....? Diam-diam sastrawan penyapu lantai Lu Put ji merasa bangga sekali, pikirnya : Sekarang, lihat saja kehebatanku!

Sikapnya dengan cepat berubah, mukanya juga tidak dihiasi lagi dengan senyuman yang licik dan tengik. Setelah mendehem beberapa kali, pelan pelan dia berkata : Yaa, memang ada kejadian demikian, soal ini ..... soal ini ..

317
Setengah harian lamanya dia mengulangi kata katanya itu tanpa ada kelanjutannya. Tentu saja pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cukup mengenali kebiasaan jeleknya itu, iapun enggan untuk berkata sopan lagi, secara blak blakan tegurnya : "Apa syaratmu?" Meski sederhana kata katanya namun menyudutkan. Ternyata Sastrawan penyapu lantai tidak kelihatan malu, malah dia lantas mengacungkan kelima jari tangannya, Yang kuning atau yang putih?" tanya pengemis itu lagi. "Aku tahu kalau perkumpulanmu adalah sebuah perkumpulan besar, tentunya kau tak akan menganggapnya sebagai yang putih bukan?" "Haaahh... haaahh... haaah.... bagus sekali, nah sambutlah apa yang kau minta ini. Lima buah senjata emas dengan membawa desingan angin tajam langsung meluncur kehadapan Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, gerakan benda itu hebat sekali. Rupanya sewaktu menyambit benda tadi pengemis sakti bermata harimau telah menyertakan tenaganya sebesar delapan bagian. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tersenyum, dengan gerakan Puh hong cui im (menangkap angin membekuk bayangan) dia sambar benda tersebut, tahu tahu lima batang uang emas yang masing masing sepuluh tahil beratnya itu sudah berada ditangannya. Dengan diperhatikannya gerakan tersebut maka dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dia miliki sama sekali tidak berada di bawah kemampuan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.

318
Sekalipun dia memiliki kepandaian sehebat itu, sayang ia justru kemaruk harta malahan diapun tak segan-segannya untuk berlutut dan mengumpak pengemis tua tersebut. Sikap yang tengik dan memalukan semacam ini tak akan orang sangka bisa dilakukan oleh manusia macam dia itu. Sesudah menyambut uang emas tersebut, Sastrawan penyapu lantai Lu put ji masih menimang nimang dulu bobotnya dan menggigit emas itu untuk memeriksa asli tidaknya. Sikap tengik macam begini, lebih lebih memuakkan siapapun yang melihatnya. Tapi kemudian ia merasa puas sekali, sahutnya kemudian dengan singkat : Bulan enam tanggal tujuh belas! Hanya lima patah kata itu saja yang disuarakan, kemudian ia kembali membungkam. Kalau dihitung dengan jumlah upah yang didapatkan, berarti sepatah kata bernilai sepuluh tahil uang emas. Apa pula yang berhasil kau temukan? desak Thi Eng khi lebih lanjut.

Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji kembali manggut manggut lalu menggeleng, kembali dia memperlihatkan kelima buah jari tangannya. Thi Eng khi menjadi gusar sekali, bentaknya : Tak tahu malu ..... Tapi akhirnya diapun tak mampu melanjutkan caci makinya itu. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa, ujarnya : ''Beginilah kebiasaan dari Lu put ji bila kita tidak menuruti harga yang dimintanya, sekalipun membunuhnya juga jangan harap bisa memaksanya mengucapkan sepatah katapun."

319
Thi Eng khi merasa sangat tidak puas, segera ujarnya : Siaute yakin masih sanggup untuk memaksanya berbicara! Dia segera bangkit berdiri dan siap sedia untuk menggunakan ilmu sakti dari partai Thian liong pay untuk menaklukkan Lu Put ji serta memaksanya berbicara. Buru buru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menggoyangkan tangannya mencegah : Saudara cilik, cara semacam itu tak ada gunanya buat Lu Put ji, lebih baik lihat saja cara engkoh tuamu. Dengan wajah serius dia lantas berpaling ke arah Lu Put ji sambil ujarnya : Lebih baik kita bicara borongan saja, kau harus menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan, untuk itu berapa banyak yang kau minta? Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera memperlihatkan sinar mata rakusnya, dengan perasaan seperti terpaksa, ia berkata : Waaah.... kalau ..... kalau main borongan , aku.... akulah yang bakal rugi besar. Tapi kemudian sambil membusungkan dadanya, ia berkata dengan sikap yang gagah. Dihari hari biasa aku tak pernah menunjukkan kebaktianku untuk Cu pangcu, baiklah, untuk langganan bagaimana kalau aku minta lima ratus saja? Yang dimaksud sebagai lima ratus, sudah barang tentu lima ratus tahil uang emas. Mencorong sinar mata berapi api dari balik mata Thi Eng khi, serunya sambil mendepak depakkan kakinya ke lantai : Hatimu terlalu hitam, cara kerjamu terlalu rendah, tengik dan terkutuk! Sebaliknya pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berkata sambil tertawa :

320
Tidak banyak, memang tidak banyak, hari ini Lu Put ji memang cukup bersahabat! Selintas rasa bangga segera menghiasi wajah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji katanya: Biasanya orang yang berkedudukan tinggi jadi orang lebih sosial, Cu pangcu memang memiliki kelebihan daripada orang lain, berbeda dengan Thi ciangbunjin yang terlalu memandang rendah diriku. Thi Eng khi hanya berkerut kening belaka, tampaknya ia tak sudi

berbicara lagi dengannya. Sementara itu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sedang merogoh sakunya kesana kemari, biar miskin diluar ternyata sakunya tidak miskin, entah berapa banyak barang berharga yang dibawa olehnya. Dari dalam salah satu sakunya, akhirnya dia berhasil mengeluarkan sebuah mutiara yang besar sekali dan memancarkan sinar kemerah merahan yang tipis. Lu Put ji serunya kemudian sambil mengangkat tinggi tinggi benda tersebut, tentunya kau juga tahu barang. Coba lihatlah, apakah mutiara ini laku lima ratus tahil? Begitu melihat mutiara tersebut, sepasang mata sastrawan penyaou lantai itu kontan terbelalak lebar-lebar, dengan cepat dia mengangguk berulang kali. Cukup, cukup! Tangannya segera dijulurkan kedepan siap menerima mutiara tersebut dari tangan pengemis tua itu. Tapi Cu Goan po segera menarik kembali tangannya, dia berkata : Benda itu sudah menjadi milikmu, namun kau harus menerangkan dahulu apa yang terjadi dalam gedung Bu lim tit it keh pada bulan enam tanggal tujuh belas nanti?

321
Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menelan air liurnya berulang kali, serunya cepat : Lebih baik.... lebih baik mutiara itu kau serahkan dulu kepadaku ..... Memangnya kau tidak percaya dengan diriku? bentak Cu Goan po dengan mata melotot. Tidak berani, tidak berani, seru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, memang begitulah peraturanku selama ini. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa seram. Haahhh.... haahhh.... haahhhh.... lohu justru akan menyaksikan dirimu untuk merusak peraturan tersebut, tentunya kau juga tahu, nilai dari mutiara Thian hiang cu ini bukan hanya lima ratus saja, kalau tidak besok saja kita bicarakan lagi setelah kubawa uang emasnya kemari. Seraya berkata dia lantas masukkan kembali mutiara tersebut kedalam sakunya. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bukan seseorang yang tidak luas pengetahuannya, dia tentu saja mengetahui nilai dari mutiara tersebut, sepasang matanya yang kurus sudah sedari tadi mengawasi benda itu tanpa berkedip, kalau bisa dia ingin sekali cepat cepat memperoleh mutiara Thian hiang cu itu. Betul mutiara itu tidak terlampau besar, akan tetapi justru merupakan benda mestika yang tidak ternilai harganya, tentu saja dia tak ingin membiarkan benda itu disimpan kembali oleh pengemis tua itu. Dengan perasaan gelisah dan cemas, buru buru serunya : Berada di hadapan pangcu, apalah artinya benda itu? Jangankan

hanya sebuah peraturan kecil yang tak ada harganya untuk dibicarakan, sekalipun ada masalah yang amat besar, asal pangcu

322
mengucapkan sepatah kata saja, aku disuruh terjun ke air, aku akan terjun ke air, suruh terjun ke api, akupun akan terjun ke api, semuanya akan kulakukan dengan segera tanpa membantah. Tak usah banyak berbicara, bila kau menginginkan mutiara itu, maka ucapanku musti kau turuti! tukas Cu Goan po cepat. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan : "Benda apa saja yang berhasil kau dapatkan dalam ruang Sin tong partai Thian liong pay di gedung Bu lim tit it keh? Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak berani berbohong lagi dengan berterus terang sahutnya : ''Dalam ruang Sin tong partai Thian liong pay, aku telah menemukan rahasia besar, maka sewaktu tombol rahasia kutekan, meja altar Thian liong pay itu mendadak tenggelam kebawah, kemudian muncul seekor naga emas yang sedang mementangkan cakarnya, dalam cakar itu tampak secarik kertas, maka kuambil kertas itu dan mengembalikan alat rahasianya seperti sedia kala." Thi Eng khi ingin cepat cepat mengetahui isi surat itu, dengan cepat dia menimbrung : "Surat itu sekarang berada dimana?" Thi ciangburjin, lebih baik kau jangan turut bertanya, sebab hal ini akan kuhitung dengan tarif baru." Thi Eng khi menjadi betul betul naik darah, bentaknya keras keras : "Bangsat, kau benar benar seorang manusia yang tak tahu malu, lihatlah kubacok dirimu!" "Saudara cilik.... pengemis sakti bermata harimau segera berteriak keras. Dengan cepat dia memberi kerdipan mata kepadanya agar mendengarkan dengan tenang, lalu tanyanya pula kepada Lu Put ji : "Kau sendiri melakukan apa pula ditempat tersebut?"

323
"Oooh...... aku cuma meninggalkan secarik surat pohon liu dan kupu kupu dibalik cakar naga emas itu. Apa yang kau tulis diatas kertas surat pohon liu dan kupu-kupu tadi ..... Aku hanya menulis begini : Hahahaha.... lohu lebih hebat dan berhasil mendahului kalian! Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po manggut manggut, dia mengakui bahwa sastrawan penyapu lantai memang tidak berbohong, maka diapun lantas bertanya lebih jauh : Kemana larinya surat yang asli itu sekarang? Telah kujual! Saat itu Thi Eng khi benar-benar tidak tahan lagi, mendadak ia melejit keudara dan menubruk keatas tubuh sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ...... Menghadapi serangan tersebut, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tertawa dingin, dengan cepat kakinya bergeser kekiri dan kekanan diiringi gerakan lengannya kesana kemari secara beruntun dia telah berganti lima enam tempat dengan arah yang berlainan, didalam

anggapannya semula, tubrukan dari Thi Eng khi tersebut sudah pasti akan mengenai sasaran yang kosong. Siapa sangka, gerakan tubuh dari Thi Eng khi sungguh cepat sekali, tubrukannya ibarat cacing dalam perut, entah kemanapun dia menghindar atau bergeser, ia tak pernah berhasil melepaskan diri dari incaran jari tangan Thi Eng khi. Sekarang sastrawan penyapu lantai Lu Put ji baru tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Thi Eng khi benar-benar lihay sekali. Baru saja dia akan merubah taktik pertarungannya, tahu-tahu jalan darah Cian keng hiat diatas bahunya menjadi kaku, sepasang lengannya bagaikan lumpuh saja, segera kehilangan semua tenaganya dan terjulur lemas ke bawah.

324
Sambil menekan bahu Sastrawan penyapu lantai, Thi Eng khi segera membentak keras : Hayo jawab, sudah kau jual kepada siapa? Kalau tadi sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bersikap sungkan kepada Thi Eng khi, hal ini sebenarnya lantaran pengaruh dari Kay pang pangcu Cu Goan po. Tapi sekarang, setelah ia kena ditaklukkan oleh Thi Eng khi secara gampang, timbul perasaan keder dalam hati kecilnya, terhadap Thi Eng khi pun ia menjadi ketakutan setengah mati. Sedemikian takutnya dia kepada pemuda ini, bahkan sampai sepatah katapun tak sanggup diutarakan, selembar wajahnya yang tampan kini kelihatan berubah menjadi merah padam seperti babi panggang. Hou bok sin kay Cu Goan po buru buru menyelinap datang, lalu katanya kepada Thi Eng khi : Saudara cilik, jangan terburu napsu, pikir yang cermat, tanya yang seksama, dengan begitu urusan baru tidak terbengkalai. Sesungguhnya Thi Eng khi hanya terpengaruh emosi saja sehingga melakukan tindakan tersebut tapi pada dasarmya dia cerdas maka tak usah berpikir lebih jauh diapun sadar bahwa dirinya sudah melanggar pantangan. Gara-gara urusan sepele hampir terbengkalai urusan sebenarnya maka dengan cepat dia melepaskan si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji dari cengkeraman. Lu Put ji, ia berkata sambil tertawa dingin, kuharap kau menjawab dengan sejujurnya daripada aku musti memberi pelajaran lagi kepada dirimu ..... Pelan-pelan ia mundur kembali ke tempat semula.

325
Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera menggerakkan sebentar sepasang bahunya lalu sahutnya dengan ketakutan : Baik! Baik! Apa yang kuketahui, pasti akan kujawab dengan sejujurnya .... Baik, coba kau terangkan kertas tersebut telah kau jual kepada siapa ....? tanya si pengemis sakti bermata harimau kemudian. Buru-buru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya : Aku betul-betul tidak tahu siapakah orang yang membeli kertas

tersebut. Lu Put ji! tegur pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sambil melotot, kau termashur karena pengetahuanmu yang amat luas, mustahil bila kau tidak kenal dengan orang itu, hayo jawab saja siapa dia yang sesungguhnya? Daripada merasakan penderitaan yang sama sekali tak ada gunanya. Dengan muka hampir menangis, sastrawan penyapu lantai Lu Put ji kembali merengek : Bila orang itu adalah seorang manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, sudah barang tentu aku akan mengenalnya, tapi orang itu baru berusia delapan sembilan belas tahunan, aku benar benar tak tahu dia berasal dari mana. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berpikir sabentar, lalu berkata : "Kalau begitu coba kau lukiskan saja bagaimanakah bentuk raut wajahnya itu." Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji berpikir sejenak, lalu sahutnya dengan cepat. Dia adalah seorang sastrawan muda yang memakai baju berwarna putih dengan mantel berwarna perak, perawakan tubuhnya sedang tidak kelewat tinggi juga tidak kelewat pendek, seraut wajahnya amat tampan, bahkan tiga bagian lebih ganteng daripada Thi ciangbunjin. Cuma sayang tidak memiliki sinar kegagahan. Waktu itu, akupun pernah menanyakan tentang asal

326
usulnya. Tapi lantaran dia tidak menyahut maka akupun jadi segan untuk bertanya lagi ..... Tiba-tiba Thi Eng khi bertanya : Berapa uang kau jual kertas itu kepadanya? Dari dalam sakunya sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengeluarkan sebuah mainan Giok bei yang satu inci lebih enam panjangnya, kemudian menyahut : Pemuda itu persis seperti Cu pangcu dalam melakukan perjalanannya tak pernah membawa uang emas dalam jumlah banyak, maka dia membayar harga dari kertas tersebut dengan mainan kemala ini! Apa yang tertulis diatas kertas itu? sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera berkerut kening. Soal ini tak bisa kuberitahukan kepada kalian! sahutnya dengan perasaan berat hati. Kau hendak menjual mahal lagi? bentak Thi Eng khi dengan gusar. Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji segera tertawa getir lagi, ucapnya pelan : Bukannya aku enggan memberitahukan hal itu kepadamu, cuma aku telah terlanjur meluluskan permintaan pemuda itu untuk tidak membocorkan isi kertas tadi kepada siapapun juga. Thi ciangbunjin dan Cu pangcu tentunya tahu bukan bahwa menjadi seorang manusia harus memegang janji? Tapi bila kalian bersikeras akan memaksa aku untuk mengingkari janji, tentu saja aku tak akan berani menolak. Ucapan dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini diucapkan

dengan amat diplomatis, tentu saja dia dapat mengingkar janji dalam keadaan terdesak, namun tanggung jawab dari tindakannya itu harus dipikul sendiri oleh Cu Goan po serta Thi Eng khi dua orang.

327
Padahal setiap umat persilatan mengutamakan soal pegang janji, sekalipun Cu Goan po serta Thi Eng Khi sangat ingin mengetahui isi surat yang sebenarnya, mereka tak ingin melakukan suatu perbuatan yang bisa memaksa orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang mengingkari janji. Seandainya mereka adalah kawanan iblis dari kaum sesat, sudah barang tentu persoalan semacam ini tak akan diperhatikan sama sekali. Pelan-pelan si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Thi Eng khi, setelah itu sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas, dia berkata : Saudara cilik tampaknya perjalanan kita kali ini juga sia-sia belaka..! Thi Eng khi sendiripun merasa amat sedih, tapi ketika sorot matanya membentur kembali dengan mainan Giok bei yang berada di tangan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, tiba-tiba saja semangatnya berkobar kembali. Lu Put ji, katanya kemudian, kau jelas mengetahui kalau kami tak akan melakukan perbuatan yang menjerumuskan orang kedalam pengingkaran janji maka kau gunakan kata-kata semacam itu untuk membungkam kami, baik kuakui akan kelihayanmu tersebut dan kamipun tak akan menanyakan lagi isi surat itu kepadamu tapi kau harus menyerahkan mainan Giok bei itu kepadaku, sebab hanya inilah merupakan satu-satunya titik terang dari orang itu yang dapat kami lacaki. "Tidak bisa, tidak bisa," seru Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sambil menggeleng, mainan Giok bei merupakan pembayaran dari orang itu untuk kertas surat tersebut, bila mainan ini harus kuberikan kepada kalian sekarang, bukankah kertas itu sama artinya kuberikan kepada orang lain dengan gratis? Thi Eng khi sungguh tak tahu harus menggunakan kata apa untuk memaki orang itu, dia merasa dalam dunia saat ini mungkin tiada orang kedua yang memiliki watak semacam dia itu.

328
Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mendengus dingin. Hmmm....! Lu Put ji, kau jangan terlalu memberatkan benda mestika daripada nyawa, ketahuilah mutiara Thian hiang cu milik aku si pengemis tua masih belum dapat kuserahkan kepadamu! Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji semakin gugup dibuatnya, namun perasaan tersebut tak berani dia perlihatkan diatas mukanya, maka katanya kemudian : Cu toa pangcu, apakah kau hendak mengingkari janji? Tindakanku ini belum dapat dianggap mengingkari janji, karena kau tidak memberitahukan isi surat itu kepada kami, berarti kau pun tidak memenuhi syarat yang kami ajukan, yakni menjawab setiap

pertanyaan yang kami ajukan kepadamu, andaikata mutiara Thian hiang cu ini harus diserahkan kepadamu, maka aku hanya bisa menyerahkan separuh saja dari benda ini. Mendadak Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menggigit bibirnya menahan diri kemudian berkata : Baik akan kuberitahukan isi surat itu kepada kalian. Pengemis sakti bermata harimau segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhhh..... haaahhhh..... haaahhh.... sayang sekali kau sudah terlanjur meluluskan permintaan orang, sekalipun kau dapat menebalkan muka untuk mengingkari janji namun pun pangcu dan Thi ciangbunjin bukan manusia semacam itu. Kami tak akan melakukan perbuatan yang mendorong orang untuk mengingkari janji. Lebih baik serahkan saja mainan Giok bei itu kepada kami sebagai alasan bahwa kau tak perlu menepati janji lagi, sedang pun pangcu akan menyerahkan mutiara Thian hiang cu itu kepadamu, dengan demikian kaupun tidak terlampau rugi dibuatnya.... bagaimana? Setuju tidak? Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji benar-benar enggan untuk mengorbankan mainan Giok bei yang berada ditangannya itu, tapi

329
dia lebih lebih merasa berat hati untuk kehilangan mutiara Thian hiang cu tersebut, akhirnya dia cuma bisa menghela napas, setelah menelan air liur, dengan wajah meringis, katanya : Setelah kuserahkan mainan Giok bei itu kepada kalian, tentunya kalian tak akan mencari alasan yang lain? Omong kosong, bentak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po keras-keras, kalau kau tidak percaya, lebih baik kami minta diri saja! Selesai berkata dia lantas menarik tangan Thi Eng khi untuk diajak pergi meninggalkan tempat itu. Buru-buru sastrawan penyapu lantai Lu Put ji menghadang jalan pergi mereka kemudian sambil menyerahkan main Giok bei tersebut, ujarnya agak tersipu sipu : Aku bersedia menyerahkan mainan Giok bei ini kepada Cu lo, harap Cu lo bersedia untuk menerimanya. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sama sekali tidak memandang kearahnya walaupun hanya sekejap mata setelah menerima mainan Giok bei dan masukkan kedalam saku, dia serahkan mutiara Thian hiang cu tersebut kepadanya. Ketahuilah, andaikata aku si pengemis tua tidak merasa enggan untuk turun tangan terhadap manusia semacam kau, aku benarbenar ingin membacokmu sampai mamapus! serunya keras-keras, sebelum kuinjak injak tubuhmu, rasanya belum hilang rasa mendongkol yang menggelora dalam dadaku! Begitu selesai berkata, sebuah pukulan lantas diayunkan untuk mendorong Lu Put ji kesamping, kemudian bersama Thi Eng khi meninggalkan ruangan Liu tiap cay tersebut. Tapi belakang sana masih kedengaran Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih berseru dengan nada yang memuakkan : Benar,benar, kau orang tua memang seorang jago kaum lurus, memang tidak pantas turun tangan terhadap manusia rendah seperti

330
aku, terima kasih banyak, terima kasih banyak atas kemurahan hati kau orang tua! Setelah berada jauh dari tempat atai, Thi Eng khi baru menghela napas sambil bergumam. "Engkoh tua, tak kusangka dalam dunia ini bisa terdapat manusia yang tak tahu malu semacam itu, betul-betul suatu kejadian yang luar biasa sekali .... Walaupun sastrawan penyapu lantai Lu Put ji termashur karena mukanya yang tebal dan tak tahu malu, paling tidak dia masih mempunyai suatu kebaikan yang jauh lebih hebat daripada kebanyakan orang lainnya .... Dia masih memiliki kebaikan apa lagi? tanya Thi Eng khi dengan mata terbelalak karena terkejut bercampur keheranan. Paling tidak ia tak pernah berbohong! Mendengar itu, Thi Eng khi segera menghela napas panjang. Aaai.... sekalipun sudah memiliki mainan Giok bei ini, kemanakah kita harus mencari orang yang bermantel perak itu? Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhhh..... haaahhhh.... haaaahhhh... soal ini tak usah kau kuatirkan, anak murid perkumpulanku telah tersebar di seluruh kolong langit, tidak sulit untuk menemukan jejak orang itu. Baru selesai dia berkata mendadak pengemis itu berseru tertahan lalu serunya sambil menunjuk kedepan : Saudara cilik, coba kau lihat itu .... Thi Eng khi turut mendongakkan kepalanya, kemudian dengan girang serunya cepat :

331
Aaah, dia adalah orang yang mengenakan mantel berwarna perak! Tanpa banyak berbicara lagi, dia lantas melompat kedepan dan mengejar kearah orang itu. Agaknya orang bermantel perak itu sedang ada urusan penting gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, dari situ dapat terlihat bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu benar benar telah mencapai pada puncak kesempurnaan. Namun Thi Eng khi juga bukan orang sembarangan setelah melatih kepandaian sakti dari kitab pusaka Thian liong pit kip selama hampir setahun lamanya, dia telah berhasil melebur semua obatobatan yang ada dalam tubuhnya dengan tenaga murni yang dia latih, begitu ilmu Im liong sin hoat (gerakan tubuh naga diawan) dikerahkan, kecepatan gerakan tubuhnya ternyata masih setingkat lebih hebat daripada orang bermantel perak yang berada dihadapannya itu. Dalam waktu singkat, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah tertinggal entah dimana. Selisih jarak diantara mereka makin lama semakin mendekat, dalam girangnya Thi Eng khi Eng segera menegur : Saudara yang berada di depan, harap tunggu sebentar, aku Thi Eng khi ada urusan hendak meminta pertunjukmu! Entah orang itu tidak mendengar seruan itu atau enggan

menjawab, tiba-tiba berbelok searah sebuah hutan yang lebat dan menyelinap kedalamnya, dalam beberapa kali lompatan saja, bayangan tubuh sudah lenyap dari pandangan mata. Hampir meledak dada Thi Eng khi saking mendongkolnya, dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya semakin hebat, dari kaki bukit sampai puncak bukit diperiksa dengan seksama, namun hasilnya tetap nihil. Sekarang, anak muda itu benar-benar merasa mendongkol bukan buatan, kalau bisa dia benar benar ingin membacok tubuh orang itu

332
dan mencincangnya menjadi berkeping sehingga rasa mendongkolnya dapat dilampiaskan. Namun bayangan tubuh orang itu seakan akan sudah tertelan dibalik hutan belukar itu, bagaimanapun seksama penggeledahan yang dilakukan oleh Thi Eng khi, bayangan tubuhnya sama sekali tidak ditemukan lagi. Lambat laun Thi Eng khi makin terjerumus ke tengah bukit yang makin jauh kedalam. Bukit ini sungguh aneh sekali bentuknya, seluruh bukit penuh dengan pepohonan yang lebat tapi puncaknya justru gundul dan tiada sebatang pohon pun yang tumbuh, sekan akan sekeliling tempat itu sudah dibabat oleh pisau yang tajam. Thi Eng khi memperhatikan sekeliling tempat itu dengan seksama , mendadak wajahnya menjadi tertegun, lalu berseru tertahan, gumamnya kemudian dengan nada tercengang bercampur kaget : Bukankah dia adalah So yaya? Ternyata di atas puncak bukit yang gundul itu tampak Tiang pek lojin So Seng pak sedang berjalan kesana kemari sambil menggendong tangan, dia seperti lagi menantikan sesuatu. Baru saja Thi Eng khi akan menampakkan diri untuk berjumpa dengannya, terdengar Tiang pek lojin berteriak sambil tertawa gusar : Lohu sudah dua jam lamanya menantikan kedatanganmu, mengapa kau belum juga menampakkan diri! Baru habis suara bentakan itu berkumandang, dari arah barat laut sana muncul dua orang manusia, seorang lelaki dan seorang perempuan. Begitu Thi Eng khi melihat orang lelaki itu, hawa amarahnya kontan berkobar dengan hebatnya, tapi setelah berpikir sejenak, dia lantas melompat naik keatas sebatang pohon besar dan menyembunyikan diri.

333
Ternyata lelaki dan perempuan yang menampakkan diri itu tak lain adalah lo sancu dari istana Ban seng kiong, Huan im sin ang (kakek sakti bayangan semu), sedangkan yang perempuan tentu saja Pek leng siancu atau yang sekarang menjadi putri Ban seng kiong, So Bwe leng. Dengan langkah lebar, Huan im sing ang membawa So Bwe leng menuju ke hadapan Tiang pek lojin. Waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng mengenakan topeng kulit manusia, sehingga Tiang pek lojin sama sekali tidak tahu kalau dia

adalah cucu kesayangannya. Sementara itu, terdengar Tiang pek lojin berkata dengan dingin : Engkaukah orang yang telah mengundang kedatangan lohu kemari? Huan im sin ang segera tertawa kering. Benar, memang pun sancu! Dia takut Tiang pek lojin tidak tahu dia berasal dari bukit mana, maka sengaja tambahnya : Lo sancu dari istana Ban seng kiong! Tiang pek lojin memperhatikan beberapa saat perempuan cantik yang berada disamping Huan im sin ang, kemudian sambil menatap wajah kakek itu lekat-lekat bentaknya : Kemana perginya cucu perempuanku Bwe leng? Pek leng siancu So Bwe leng yang mengenakan topeng kulit manusia itu merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat ia bergerak kemuka dan menubruk kedalam pelukan Tiang pek lojin. Sementara itu mulutnya hanya berbunyi yaya. Yaya belaka, tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan.

334
Rupanya Huan im sing ang cukup memahami perangai dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia tahu kalau gadis itu mudah terpengaruh oleh emosi, bila selintas pikiran melintas dalam benaknya, bisa jadi dia akan mengumbar emosinya tanpa memperdulikan diri, seandainya sampai demikian, sudah pasti perjanjiannya dengan gadis itu tak akan menimbulkan keuntungan apa-apa. Maka sebelum mereka menampilkan diri tadi, secara tiba-tiba dia telah turun tangan menotok jalan darah bisu dari Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian dia takut gadis itu melepaskan topeng kulit manusianya, maka sepasang tangannya juga turut ditotok sekalian. Walaupun demikian, ternyata Pek leng siancu So Bwe leng masih tetap nekad menubruk ke dalam pelukan Tiang pek lojin. Tentu saja Tiang pek lojin tidak mengira kalau gadis cantik yang menerjang ke dalam pelukannya itu adalah cucu kesayangannya. Dalam keadaan demikian, dengan kedudukannya dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak akan membiarkan seorang gadis yang tidak diketahui asal usulnya menubruk ke dalam pelukannya. Dengan cekatan ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melepaskan sebuah angin pukulan yang cukup kuat untuk melepaskan tubuh Pek leng siancu So Bwe leng sejauh satu kaki dari tempat semula. Begitu kena dilempar oleh tenaga sapuan dari Tiang pek lojin dengan cepat So Bwe leng menjadi sadar kembali dengan keadaan yang sedang dihadapinya, dengan cepat dia melompat bangun lalu kakinya memperlihatkan beberapa macam gerakan langkah yang sakti dan rahasia. Beberapa macam ilmu langkah tersebut merupakan ajaran khusus dari Tiang pek lojin untuk cucu perempuan kesayangannya ini, dengan mempergunakannya pada saat ini maka sebenarnya So Bwe leng hendak menarik perhatian Tiang pek lojin agar menebak

335
asal usulnya. Tiang pek lojin adalah seorang jago kawakan dalam dunia persilatan yang berpengalaman luas, sejak dari gerakan tubuh yang dilakukan So Bwe leng kemudian menyaksikan bayangan tubuh dari gadis itu, apalagi setelah menyaksikan sorot mata sinona yang murung dan sedih, dia telah menaruh curiga akan asal usul gadis tersebut. Demikianlah setelah berpikir sebentar, dia lantas maju ke depan dan mencengkeram bahu Pek leng siancu So Bwe leng sambil menegurnya : Siapakah kau? Dengan kemampuan yang dimiliki Tiang pek lojin bukan suatu pekerjaan yang sulit baginya untuk menangkap gadis itu, meski jaraknya masih ada satu kaki lebih. Akan tetapi Huan im sin ang tidak berdiam diri belaka, dengan cekatan ia melayang kedepan menghadang dihadapan Pek leng siancu So Bwe leng. Tua Bangka So, katanya sambil tertawa seram, apa-apaan kau ini? Jika ingin bertarung lohu akan melayani dirimu! Sekalipun Tiang pek lojin ingin bertarung juga tak akan bertarung dalam keadaan begini, sambil tertawa dingin, dia lantas melayang mundur kembali ketempat semula. Sancu, kau mengundang kedatangan lohu dengan janji akan mempertemukan lohu dengan cucu perempuanku, sekarang dimana orangnya? ia menegur dengan wajah dingin. Huan im sin ang mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian tertawa licik.

336
Heeehhh. Heeehhh heehh kita sama-sama adalah orang yang telah berusia lanjut mengapa tidak tenangkan dulu hati kita masing-masing baru membincangkan pelan-pelan? Tiang pek lojin segera berpikir : Asal telah bersua muka, lohu tidak kuatir kau bisa kabur keujung langit, baiklah akan kulihat dulu permainan busuk apalagi yang akan dia perlihatkan kepadaku. Berpikir demikian, dia lantas menekan hawa amarahnya dan berkata dengan ketus : Sudah lama lohu mendengar nama besarmu, hari ini aku ingin baik-baik meminta petunjuk darimu! Aaaah, mana, mana, So lo terlalu memuji, ucap Huan im sin ang sinis. Kemudian setelah mundur selangkah, serunya kepada So Bwe leng : Nak, kemarilah, cepat member hormat kepada kakek dari So sumoaymu, Tiang pek lojin So locianpwe dari luar perbatasan! Sambil menahan rasa mendongkol yang berkobar-kobar dalam dadanya, terpaksa So Bwe leng harus maju ke depan dan member hormat. Kembali Huan im sing ang berkata : Sejak dilahirkan bocah ini sudah menderita cacad dan tidak bisa berbicara, namun dia mempunyai hubungan yang paling baik

dengan cucu perempuanmu Bwe leng. Dari pembicaraan Huan im sin ang tersebut, Tiang pek lojin telah mendengar bahwa cucu kesayangannya telah menjadi murid orang, hal ini sama artinya bahwa dia dengan Sancu dari Ban seng kiong telah mempunyai ikatan hubungan yang luar biasa, sebagai seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, tentu saja dia tahu akan pentingnya arti seorang guru.

337
Betul, dia tak tahu bagaimana jalannya cerita sampai So Bwe leng mengangkat orang lain sebagai guru, namun dengan kedudukannya dalam dunia persilatan, tentu saja kenyataan tersebut harus diakui, apalagi sebagai pentolan dari suatu wilayah dunia persilatan, dia tak mau dicemooh orang dikemudian hari. Demikianlah, setelah berkerut kening dan menghela napas katanya kemudian : Sancu, mengapa tidak kau katakan sendiri bahwa kau adalah gurunya Bwe leng? Hampir saja lohu kurang hormat kepadamu. Buru buru Huan im sing ang memohon maaf, sahutnya : Setahun berselang, kebetulan lohu lewat dibukit Siong san dan tertarik oleh bakat cucumu yang begitu baik maka aku telah menculiknya secara paksa, untuk itu kumohon maaf yang sebesarbesarnya, untung saja So lo juga terhitung umat persilatan, tentunya kau juga memaklumi bukan perasaan seorang umat persilatan bila menjumpai bakat bagus? Aku harap kau sudi memaklumi kesulitanku ini! Mendengar ucapan yang bergitu menarik hati, Tiang pek lojin tak dapat menarik muka lagi, dengan senyum tak senyum katanya kemudian : Lohu ucapkan banyak terima kasih atas kesudianmu untuk mendidik Bwe leng! Seraya berkata dia lantas menjura. Huan im sin ang segera tertawa terbahak-bahak. Haaahhh. Haaahhhh. Haahhh kalau dibicarakan kembali, seharusnya akulah yang berterima kasih kepada lo enghiong! Dengan digunakannya kataenghiong jelaslah dia berusaha untuk pelan-pelan menariuk Tiang pek lojin untuk berpihak kepadanya. Tiang pek lojin pun dari tersenyum menjadi tertawa tergelak.

338
Haahhhh. Haaahhh. Haahhh. Sancu, apa maksud ucapanmu itu .? Sambil memperlihatkan wajah yang riang, Huan im sin ang berkata : Bwe leng berbakat bagus sekali, belum sampai setahun dia telah menguasai segenap kepandaian silat yang kuwariskan kepadanya, kini dia sudah menjadi Ban sen kiongcu, bahkan dalam beberapa bulan saja ia sudah termashur diseluruh dunia dan banyak melakukan pahala untuk perguruannya, seandainya lo enghiong tidak memiliki cucu secerdas ini, mustahil perguruanku bisa termashur seperti sekarang ini, oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kuucapkan banyak terima kasih kepada lo enghiong.

Selesai berkata, dia benar-benar menjura kepada Tiang pek lojin. Tiang pek lojin adalah orang yang telah berusia lanjut, biasanya bagi seorang yang telah lanjut usia seperti dia, lebih rela mengorbankan nama dan kedudukan sendiri daripada tidak memperhatikan kemajuan dan kesuksesan yang dihasilkan cucunya. Seperti So Bwe leng yang telah menjadi Ban seng kiongcu misalnya, bagi Tiang pek lojin hal mana merupakan suatu kejadian yang menggembirakan sekali hingga diapun tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. Kemunculan Ban seng kiong didalam dunia persilatan baru berlangsung beberapa bulan, sebab itu kejahatan yang telah dilakukan pihak perguruan tersebut belum banyak yang terungkap, sebaliknya Tiang pek lojin juga tidak memikirkannya dengan bersungguh hati, maka dia hanya merasakan kegembiraannya saja. Andaikata dia mengetahui Ban seng kiong yang sesungguhnya, mungkin untuk menangis pun tak akan dapat. Huan im sin ang sendiripun merasa gembira sekali ketika dilihatnya hubungan antara Tiang pek lojin dengan Ban seng kiong selangkah demi selangkah makin mendekat, tanpa terasa dia tersenyum sendiri,

339
Kini Ban seng kiong telah dipimpin oleh cucumu, demikian ia berkata lagi, aku dengar, belakangan ini lo enghiong juga bentrok dengan para hwesio dari bukit Siong san gara-gara urusan Thi ciangbunjin dari Thian liong pay. Oleh karena itu, aku sengaja telah mendatangkan jago-jago terbaik dari bukit Wong soat hong di bukit Wu san guna membantu lo enghiong, cuma sebelumnya lohu ingin mengadakan kontak dulu denganmu, asal lo enghiong menganggukkan kepala, cucumu pasti akan segera berangkat untuk membantu usaha lo enghiong. Tergerak juga hati Tiang pek lojin setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia bertanya: Mengapa Bwe leng tidak datang sendiri untuk menjumpai diriku? Huan im sin ang segera tersenyum. Bwe ji kuatir lo enghiong marah kepadanya lantaran belajar silat denganku, maka ia tak berani datang kemari. Tiang pek lojin termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya lebih jauh : Ehmmm. begini saja, usul kerja sama antara umat persilatan diluar perbatasan dengan pihak kalian, lohu harap bisa diperbincangkan setelah bersua dengan Bwe leng nanti, soal ini harap Sancu bersedia untuk memakluminya. Jelas Tiang pek lojin juga tidak gampang terkecoh, ia telah mempersiapkan jalan mundur sendiri. Dari pihak Ban seng kiong, aku dapat mewakilinya untuk mengambil keputusan, kata Huan im sin ang, jadi Leng ji datang atau tidak sudah bukan masalah lagi, apalagi lo enghiong sudah lama berpisah dengan Leng ji, bila berjumpa lagi nanti tentu banyak masalah yang harus dibicarakan, entah bagaimana menurut pendapat Lo enghiong? Tiang pek lojin segera manggut-manggut.

340
Masuk diakal juga perkataan Sancu itu. Belum habis dia berkata, mendadak sambil berpaling ke sebelah kiri, bentaknya : Siapa disitu? Mungkin anak buahku .. kata Huan im sin ang. Tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu diatas puncak bukit itu telah bertambah dengan seorang pemuda bermantel perak. Belum habis Huan im sin ang berkata, cahaya perak telah melintas lewat dan pemuda tampan bermantel perak itu sudah memunculkan diri di tengah arena. Pemuda ini baru berusia dua puluh tahunan, wajahnya bersih dan tampan, sikapnya anggun dan berwibawa, membuat siapapun tak berani memandang remeh dirinya. Dengan langkah yang anggun dia maju beberapa langkah ke depan, kemudian katanya kepada Huan im sin ang sambil tertawa : Siauseng dengan Sancu bukan berasal dari satu aliran yang sama. Huan im sin ang sudah rikuh karena salah melihat orang, tak tahunya pihak lawan malah mengetahui juga bahwa dia adalah seorang Sancu, dari sini dapat diketahui bahwa orang tersebut bermaksud jelek malah besar kemungkinannya ia sudah cukup lama menyadap pembicaraan yang sedang berlangsung. Maka dengan amarah yang meluap segera tegurnya dengan dingin. Kalau dilihat dari dandananmu, agaknya kau seperti anak sekolahan yang mengerti sopan santun, hai, tahukah kau bahwa menyadap pembicaraan orang merupakan suatu perbuatan yang tak sopan.

341
Tampaknya pemuda tampan itu seorang yang pemalu, teguran tersebut seketika membuat paras mukanya menjadi merah karena jengah. Sebenarnya siauseng tidak berniat untuk menyadap pembicaraan kalian berdua, katanya, aku datang kemari karena ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan So locianpwe! Tiang pek lojin So Seng pak menjadi tercengang. Sauhiap, darimana kau tahu kalau lohu akan munculkan diri di tempat ini? tegurnya. Dengan wajah serius pemuda tampan itu menjawab : Sebab sebelum ini siauseng sudah mendapat tahu kalau kalian berdua ada janji di sini. Oleh sebab itu .. Dari mana kau mendapatkan kabar tersebut? Tanya Huan im sin ang sambil tertawa seram. Maaf, hal ini tak bisa kuungkap dihadapanmu! Mendadak ia menuding kearah Pek leng siancu So Bwe leng, lalu ujarnya kepada Tiang pek lojin : Locianpwe, tahukah kau siapa nona ini? Belum sempat Tiang pek lojin menjawab, paras muka Huan im sin ang telag berubah hebat, bentaknya :

Sebenarnya siapakah kau? Jika tidak kau terangkan sejelasnya, jangan salahkan kalau lohu tak akan sungkan-sungkan lagi! Hey, rupanya dalam hatimu ada setannya, sudah merasa takut? ejek pemuda tampan itu sambil tertawa nyaring. Sebetulnya sejak tadi Tiang pek lojin memang sudah menaruh curiga terhadap gadis yang berada dihadapannya itu, sekarang kecurigaannya makin meningkat.

342
Bagaimanapun raut wajah So Bwe leng ditutupi oleh topeng kulit manusia, namun Tiang pek lojin sudah berkumpul dengannya semenjak kecil dulu, otomatis dia mempunyai kesan yang cukup dalam terhadap tingkah laku serta potongan badan cucu perempuannya itu, apalagi setelah menyaksikan gerakan langkah yang diperlihatkan SO Bwe leng tadi, kesemuanya itu menambah kecurigaan dalam hati Tiang pek lojin makin menebal .. Betul selama ini ia menunjukkan sikap yang lebih mengendor, bahkan berbincang secara bebas dengan Huan im sin ang, padahal rasa curiga di dalam hatinya sama sekali belum dikendorkan. Pada mulanya dia merasa kemunculan dari pemuda tampan itu menjengkelkan, ia menganggap pemuda itu telah merusak rencana sendiri, tapi setelah mendengar perkataan orang, dengan cepat ia tertawa tergelak. Haaahhh. Haaahhhh.. haaahhhh lohu tidak percaya kalau seorang Sancu dari Ban seng kiong bisa melakukan perbuatan yang malu diketahui orang! Diam-diam ia telah sertakan pula sindiran yang pedas dibalik perkataan itu. Huan im sin ang adalah manusia licik yang banyak akal muslihatnya, menjumpai keadaan tersebut, dengan cepat dia menemukan siasat bagus untuk mengatasinya. Dari tertawa seram, ia menjadi tersenyum lembut, katanya kemudian : Oooh jadi kau menganggap muridku ini adalah Leng ji? Bersamaan waktunya, dia memperingatkan pula kepada Pek leng siancu So Bwe leng dengan ilmu menyampaikan suara : Bwe leng, bila kau tak sanggup mengendalikan perasaanmu sehingga melanggar perjanjian kita, jangan harap kau dapat bersua kembali dengan Thi Eng khi, setelah kembali dari sini, lohu pasti akan mencincang tubuhnya menjadi berkeping keping, jika kau tidak percaya, silahkan saja untuk menjajalnya!

343
Setelah member peringatan, dengan sikap yang terbuka dia lantas menggape kearah Pek leng siancu So Bwe leng sambil ujarnya : Anak Tin, mereka telah menganggapmu sebagai Leng ji, cepat maju kedepan sana agar mereka perhatikan dengan seksama. Dia mempunyai keyakinan penuh atas muslihatnya ini, maka diantara ulapan tangannya telah disertakan pula dengan tenaga pukulan yang lembut, dengan cepat jalan darah Pek leng siancu So Bwe leng menjadi bebas sama sekali. Dalam pada itu, Pek leng siancu So Bwe leng telah berhasil pula

untuk menenangkan hatinya, kesadarannya pulih kembali, sudah barang tentu diapun mendengar jelas semua peringatan dari Huan im sin ang tersebut. Walaupun kini ia sudah bisa berbicara juga dapat membuka topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya, tapi gadis itu justru tak berani memperkenalkan diri kepada Tiang pek lojin. Sebab bagaimanapun juga dia tak ingin menyaksikan keselamatan Thi Eng khi terancam bahaya. Bukan cuma begitu saja, malah dia memberikan suatu kerja sama yang amat bagus dengan Huan im sin ang untuk melanjutkan permainan sandiwaranya itu. Maka sambil menahan rasa pedih didalam hati dan merendahkan suaranya untuk menutupi suara lembut dan merdunya itu, dia berkata : Boanpwe Cu Tin tin menjumpai So locianpwe! Dari jarak satu kaki dihadapan Tiang pek lojin dia menjura dalamdalam .. Kembali Tiang pek lojin merasa kecewa bercampur bimbang, sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang, ia berguman :

344
Aaai. Jangan jangan mata lohu sudah melamur? Pemuda tampan bermantel perak itupun agak tertegun, mendadak ia melompat kedepan sambil menerjang kehadapannya Pek leng siancu So Bwe leng, agaknya dia berhasrat untuk menaklukkan gadis yang berada di hadapannya lebih dulu, kemudian baru diperbincangkan lagi. Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya, Huan im sin ang telah datang menghadang, ejeknya sambil tertawa dingin : Kau sebenarnya bertujuan apa? Mengapa hendak menerkam Tin tin? Dari nada ucapan tersebut mengandung arti kata sekan akan pemuda itu mengandung maksud jelek terhadap sang nona . Pemuda tampan tu sama sekali tidak marah, malah katanya sambil tertawa hambar : "Siauseng mengenali nona ini sebagai nona So, beranikah kau memberi kesempatan kepada siauseng untuk membuktikannya?" Huan im sin ang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak. Haaahhh....haaahhh........haaahhhh...... Leng ji adalah cucu kesayangan dari kakek So, bahkan kakeknya sendiri mengakui telah salah melihat orang, mana mungkin kau sibocah keparat dapat mengetahui lebih banyak daripadanya? Bocah keparat! rupanya kau memang bertujuan jelek, mempunyai niat cabul untuk mendekati Tin ji ku ini. Hmmm....... dihadapan lohu pun kau berani bertindak demikian, tampaknya nyalimu terhitung tidak kecil......." Sembari berkata mendadak pergelangan tangannya diputar dan melepaskan sebuah pukulan sejajar dengan dada. Huan im sin ang telah berniat untuk membunuh orang dan membungkam mulut lawan, dalam melancarkan serangannya kali ini, dia telah sertakan tenaga dalam sebesar enam bagian, dalam

345
anggapannya tenaga pukulan sebesar itu sudah cukup untuk membinasakan pemuda tampan itu. Kedua orang itu memang sedang berdiri saling berhadapan muka, selisih jarak kedua belah pihak hanya lima langkah saja, diantara perputaran telapak tangannya, angin pukulan yang maha dahsyat telah meluncur ke depan dada pemuda tampan itu. Walaupun pemuda tampan tersebut telah membuat persiapan, ia tak menyangka kalau Huan im sin ang adalah manusia yang demikian liciknya, tanpa memperdulikan kedudukkannya, bahkan dihadapan Tiang pek lojin berani melancarkan serangan untuk membunuh orang. Dengan cepat ia melejit ke samping untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sedikit terlambat, meski jalan darah penting diatas dadanya berhasil dilindungi toh bahunya kena tersapu juga dengan telak, kontan tubuhnya mencelat ke tengah udara dan menubruk keatas sebatang pohon besar..... Tiang pek lojin segera membentak keras dengan cepat dia melompat ke depan bermaksud untuk menolong pemuda itu. Namun dia cepat, masih ada orang yang lebih cepat lagi, tampak bayangan biru berkelebat lewat tahu tahu dari belakang pohon telah melompat seseorang yang segera menyambut tubuh pemuda tampan itu ke dalam bopongannya. Menyusul kemudian, dengan gerakan Cian liong seng thian (Naga sakti meluncur ke angkasa) dia melompat balik lagi kedalam hutan. Tentu orang yang berbaju biru itu tak lain adalah Thi Eng khi. Waktu itu dia amat menguatirkan keselamatan ibunya serta keempat orang susioknya, dia ingin cepat cepat mendapat tahu kabar berita tersebut dari mulut pemuda bermantel perak ini, tapi kuatir bila berjumpa dengan Tiang pek lojin nanti akan menunda waktunya, maka begitu menyambut tubuh pemuda tampan tersebut, dia segera rnengundurkan diri dari sana.

346
Tiang pek lojin sendiri merasa girang sekali ketika dilihatnya orang yang munculkan diri adalah Thi Eng khi, dengan cepat dia menarik gerakan tubuhnya dan melayang kembali keatas tanah. Baru saja mau menyapa, siapa tahu Thi Eng khi telah membalikkan badan dan menyelinap kedalam hutan. Dengan gusar Huan im sin ang membentak keras : Bocah keparat, hendak kabur ke mana kau?" Dia melompat kemuka dan siap menerjang ke dalam hutan. Engkoh Eng! jerit Pek leng siancu So Bwe leng pula, diapun bersiap menubruk ke depan. Dalam keadaan demikian, tentu saja Tiang pek lojin tidak membiarkan Huan im sin ang pergi dengan begitu saja, tanpa berpikir panjang dia segera menghadang dihadapannya sambil berseru : "Sancu, tunggu sebentar! Lohu ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirimu! Tiang pek lojin tak ingin Huan irn sin ang berhasil menyusul Thi Eng khi, sebaliknya Huan im sin ang juga tak ingin pek leng siancu So Bwe leng berhasil menyusul Thi Eng khi, maka begitu jalan

perginya dihadang, dia pun segera mengambil tindakan yang cekatan. Sambil membalikkan badannya menghadang jalan pergi pek leng siancu So Bwe leng serunya: Anak Leng, dia bukan Thi Eng khi yang asli, dia adalah orang yang mencatut namanya, kau jangan sampai kena tertipu!' Tatkala pek leng siancu So Bwe leng menyaksikan Thi Eng khi masih bebas merdeka tanpa memperoleh ancaman apa apa, diapun menjadi tidak takut lagi terhadap ancaman kakek itu, serunya keras keras :

347
"Siapa yang percaya lagi dengan obrolan setanmu itu, perjanjian kita mulai sekarang dibatalkan sama sekali!" Huan im sin ang memang tak malu di sebut orang sebagai manusia cerdas, ternyata paras mukanya sama sekali tidak berubah, katanya dengan ketenangan yang luar biasa : "Orang itu bukan Thi Eng khi, percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri! Sementara itu, Tiang pek lojin telah berhasil membuktikan dari suara Pek leng siancu So Bwe leng bahwa dia adalah cucu perempuannya, sambil menyelinap maju untuk menarik tangannya, dia berseru : "Nak, kau benar benar merisaukan yaya! Pek leng siancu So Bwe leng segera melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Tiang pek lojin sambil menangis tersedu sedu. Pertemuan antara kakek dan cucu ini telah menenggelamkan mereka berdua dalam luapan perasaan masing masing, siapapun tidak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Huan im sin ang tersebut. Huan im sin ang menyaksikan semua adegan tersebut dengan wajah berubah ubah, ada kalanya malah tertawa dingin tiada hentinya, tapi kemudian dengan suara keras teriaknya : "Orang itu bukan Thi Eng khi, lohu berani membuktinya!" Tiang pek lojin segera menepuk bahu So Bwe leng sambil berbisik dengan suara lembut : "Nak, bila ada persoalan kita bicarakan lain kali saja!" Kemudian sambil berpaling ke arah Huan Im sin ang, ujarnya : Kau mempunyai alasan apa? Apa bukti kalau dia bukan Thi Eng khi ? Yang dikuatirkan Huan im sin ang apabila Tiang pek lojin tidak bersuara, asal orang itu sudah menjawab, maka dia tidak kuatir

348
untuk mengandalkan ketajaman lidahnya guna menaklukan orang itu sampai terjerumus ke dalam perangkapnya. Demikianlah sambil mengangkat bahu dia berkata : Lohu bukan cuma mempunyai alasan saja, bahkan alasanku bukan hanya alasan belaka!" Pek leng siancu So Bwe leng mendongakkan kepalanya, lalu berteriak lantang : "Bila ada persoalan katakan saja berterus terang, siapa yang

kesudian banyak ribut denganmu? Anak Leng, kau tak boleh bersikap kurangajar kepada lohu! seru Huan im sin ang. Pek leng siancu So Bwe leng segera mencibirkan bibirnya seraya mendengus dingin. "Hmm, mau apa kau?" tantangnya. Huan im sin ang tertawa seram. Anak Leng, jangan kau anggap perjanjian diantara kita sudah tidak berlaku lagi," katanya. "Heeehh. Heehhh. Heeehhh kau masih ingin menggunakan engkoh Eng untuk mengendalikan diriku? ejek Pek leng siancu So Bwe leng sambil tertawa dingin, betul betul sedang bermimpi di siang hari bolong . Suara tertawa dari Huan im sin ang semakin menyeramkan, kembali dia berkata : Anak Leng, aku enggan bersilat lidah denganmu, sekarang dengarkan dulu kuutarakan alasan mengapa orang itu bukan Thi Eng khi kemudian baru ambillah keputusanmu. Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak terpengaruh oleh perkataan itu, malah teriaknya lagi dengan gusar :

349
"Sialan kau si tua bangka celaka, memangnya kau anggap sebutan anak Leng boleh kaugunakan semaunya sendiri. Betul, betul, tak tahu malu, kau .. kau Belum habis dia berkata, Tiang pek lojin telah membentak keras : "Nak, jagalah sikapmu sebagai seorang pendekar yang sejati, bagaimanapun juga Sancu telah memeliharamu selama satu tahun, terlepas apa maksud dan tujuannya kau tidak pantas bersikap kurangajar terhadap seorang locianpwe yang lebih tua tingkat usia nya daripada dirimu. "So lo, aku cukup memahami watak anak Leng, lohu tak akan menjadi marah oleh sikapnya itu!" sela Huan im sin ang segera sambil tertawa terbahak bahak. Melihat lawannya berlagak sok berjiwa besar, Tiang Pek lojin segera mendengus dingin sebegai jawaban. Huan im sin ang tertawa licik, kembali dia mengemukakan alasan alasannya : "Alasan yang pertama, kepandaian silat yang dimiliki orang itu sangat lihay, paling tidak kau harus memiliki tenaga latihan selama tujuh delapan puluh tahun sebelum berhasil mencapai tingkatan tersebut, bayangkan saja tahun ini Thi Eng khi baru berumur berapa? Sekalipun dia berbakat bagus, juga mustahil bisa mencapai tingkatan seperti itu hanya didalam setahun saja." Kembali Pek Leng siancu So Bwe leng, mendengus dingin : "Hmm, seandainya engkoh Eng berhasil menemukan suatu kejadian aneh, tentu saja hal mana merupakan suatu pengecualian. Jilid 11 DALAM dunia ini, tak nanti ada semacam obat mustajab yang bisa membuat tenaga dalam seseorang bisa mencapai tujuh delapan puluh tahun hasil latihan di dalam setahun saja!"

350

''Seandainya secara beruntun dia berhasil mendapatkan beberapa macam obat mustajab? dengus Pek leng siancu So Bwe leng lagi. Huan im sin ang segera tertawa terbahak bahak. "Haaahhhh.... haaahhh..... haaahhh...... anak Leng, kau anggap obat mustajab yang ada didunia ini segampang mencari nasi saja. Semacam saja sudah sukarnya bukan buatan apalagi beberapa macam sekaligus, pada hakekatnya seperti orang yang lagi mengigau saja. Setelah tertawa tergelak, dia melanjutkan. Tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat hebat, selisihnya dengan So lo pun hanya sedikit, padahal jagoan dengan kemampuan semacam ini jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan dewasa ini, cukup berdasarkan hal ini saja dapat dibuktikan kalau dia bukan Thi Eng khi. Akan tetapi Pek leng siansu So Bwe leng belum juga mau percaya, sambil mendongakkan kepalanya dia lantas bertanya : "Yaya, apakah ucapannya itu beralasan?" Tiang pek lojin tidak berbicara tapi mengangguk berarti dia telah mengakui bahwa ucapan dari Huan im sin ang memang masuk diakal....... Sekali lagi Huan im sin ang tertawa seram, katanya lebih lanjut : "Alasan yang kedua, orang itu muncul lantas pergi, jelas tidak berani bersua muka dengan So lo, berdasarkan alasan ini bukankah bisa disimpulkan bahwa dia kuatir kalau rahasia penyamarannya ketahuan orang." "Hmm, kau selalu menyulitkan dia, mungkin dia takut kepadamu, maka tak berani munculkan diri untuk bersua muka denganmu," seru si nona lagi ngotot. Huan im sin ang segara tertawa terbahak bahak.

351
Haaahh..... haaahh...... haaahh.... dengan kemampuan yang dimiliki orang itu, belum tentu lohu bisa menangkan dirinya dalam lima puluh gebrakan, andaikata dia adalah Thi Eng khi, bila ditambah kakekmu dan kau, bukankah kemungkinan lohu untuk kalah amat besar? Mengapa dia musti takut kepada lohu?" Tiang pek lojin segera menghela napas panjang, katanya : "Eng ji adalah seorang manusia yang berperasaan dan hangat dalam pergaulan, setelah berjumpa dengan lohu, mustahil dia tidak datang menjumpai diriku." Padahal dia mana tahu kalau Thi Eng khi sedemikian menguatirkan keselamatan ibu dan keempat orang susioknya sehingga buru buru dia hendak mengorek keterangan dari mulut pemuda bermantel perak ini. Selain itu, diapun berusaha untuk menghindari pertikaiannya dengan Huan im sin ang sehingga akhirnya harus mengeraskan hati untuk pergi tanpa menegur. Dengan perkataan dari Tiang pek lojin ini, tak bisa disangkal lagi berarti dia menyetujui pandangan dari Huan im sin ang. Tapi justru karena peristiwa ini, mengakibatkan terjadinya banyak kesulitan dikemudian hari. Pek leng siancu So Bwe leng masih juga merasa tidak terima, sambil mendepak-depakkan kakinya diatas tanah dengan gemas, ujarnya :

Aku tidak percaya, seribu kali juga tidak percaya, selaksa kali juga tidak percaya, engkoh Eng pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa tak sampai berhenti dan berjumpa dengan kami disini, mungkin juga orang bermantel perak itu adalah teman engkoh Eng, untuk menyembuhkan lukanya mau tak mau harus segera meninggalkan tempat ini." Ketika berbicara sampai disitu, mendadak hatinya tergerak, segera pikirnya : "Jangan jangan orang itu adalah seorang perempuan? Yaa, benar, pasti seorang perempuan, demi dia engkoh Eng telah pergi tanpa menegur kami."

352
Makin dipikir ia merasa hal ini semakin masuk diakal, makin dipikir semakin mendongkol sehingga dia tak sanggup berbicara lebih lanjut. Kecuali Thi Eng khi yang belum berpengalaman dalam dunia persilatan, sesungguhnya baik Tiang pek lojin maupun Huan im sin ang telah mengetahui bahwa orang itu adalah seorang perempuan yang menyamar sebagai seorang lelaki, cuma rahasia tersebut tidak dibongkar saja. Sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng, ia dapat berpendapat demikian karena dia sendiripun memang seorang perempuan, apalagi mempunyai perasaan cinta kepada Thi Eng khi, itulah sebabnya perasaan halusnya lebih merasakan hal tersebut. Setelah berpikir sampai disitu, Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan hatinya amat pedih dan susah ditahan, dia tak berani berkata dan tak berani berpikir lagi, setelah menghela napas sedih, tiba tiba sikapnya menjadi murung sekali. Sementara itu, Huan im sin ang kembali memperlihatkan sikapnya yang serius, lalu berkata dengan suara dalam : Alasan yang ketiga ini sebenarnya tak dapat dihitung sebagai alasan, melainkan merupakan suatu kenyataan, entah alasan yang kuajukan pertama dan kedua bisa diterima atau tidak tapi yang pasti alasan ketiga ini dapat membuktikan kalau orang itu bukan Thi Eng khi!" Mendadak ia berhenti, seakan akan ada maksud unluk menunggu sampai Tiang pek lojin dan So Bwe leng bertanya sendiri, namun setelah ditunggu sekian lama, belum juga ada yang bersuara, terpaksa dia tertawa rikuh sambil melanjutkan kembali kata katanya : "Sebab sejak setahun berselang, Thi Eng khi telah lohu sekap di suatu tempat rahasia yang jauh dari keramaian manusia!" Pek leng siancu So Bwe leng tidak menunjukkan sikap kaget atau terkesiap setelah mendengar perkataan itu, sebab dia memang kena

353
dipaksa Huan im sin ang untuk menutupi perkataannya akibat ucapan tersebut. Lain dengan reaksi dari Tiang pek lojin, bukan cuma alis matanya berkenyit bahkan ia menunjukkan sikap gelisah dan tak tenang, segera bentaknya keras keras : "Thi Eng khi telah kau sekap?"

Huan im sin ang segera menunjukan sikap minta maaf, sambil tertawa palsu ucapnya, "So lo, aku minta maaf kepadamu, sesungguhnya lenyapnya Thi Eng khi adalah gara garaku, sedangkan pihak Siau lim dan Bu tong hanya kena getahnya saja, sebelum ini tentunya kau tak pernah menyangka bukan? Saking gusarnya sekujur badan Tiang pek lojin gemetar keras, mendadak sambil memancarkan sinar mata yang amat tajam, bentaknya dengan penuh kegemasan : "Rupanya kau mengacau dari tengah, lohu tak akan memaafkan dirimu." Sambil menggigit bibir dia menerjang ke muka dan mendorong sepasang telapak tangannya ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat. Angin pukulan yang sangat dahsyat segera menggulung ke muka dan menerjang ketubuh Huan im sin ang. Menghadapi ancaman tersebut, Huan im sin ang segera tertawa terkekeh kekeh dengan seramnya. "Heeehh ....... heeehhh..... heeehhh ....... bila lohu tidak menyambut seranganmu itu, kau pasti menganggap tenaga dalamku masih kalah jauh bila dibandingkan dengan dirimu, baiklah! Lohu akan memperlihatkan kemampuanku, agar kau bersedia untuk bekerja sama dengan lohu dengan perasaan yang lebih lega." Ditengah seruan tersebut, dia telah menghimpun tenaga Jit sat hian im tin lip ke dalam telapak tangannya, kemudian dilontarkan

354
tangannya ke depan bersama sama, segulung hawa pukulan yang tak berwujud bagaikan angin puyuh meluncur kedepan. Ketika angin pukulan berhawa dingin dan panas itu saling bertemu, gemuruh angin pukulan yang dipancarkan oleh Tiang pek lojin itu seketika pudar dan lenyap, sementara tubuhnya tergoncang keras, akhirnya dia tak sanggup berdiri tegak dan mundur selangkah lebar. Ketika menengok kembali kearah Huan im sin ang, tampaklah meski wajah orang itu merah membara, namun tubuhnya masih tetap berdiri ditempat tanpa bergerak barang sedikit pun juga. Bagi seorang jago, dalam sekali bentrok kekerasan segera dapat dl ketahui siapa yang tangguh siapa yang lemah, untuk kedua kalinya Tiang pek lojin merasa kalau kemampuannya masih kalah bila dibandingkan dengan musuhnya. Pertama kalinya terjadi pada enam puluh tahun berselang, dia dikalahkan oleh kakek Thi Eng khi, Keng thian giok cu (tiang kemala penyanggah langit) Thi Keng. Waktu itu dia dikalahkan setelah dilangsungkan sepuluh kali pertarungan maka dia kalah dengan hati yang puas tapi dalam kekalahan untuk kedua kalinya, enam puluh tahun kemudian dia merasa sangat tidak puas. Maka sambil menghimpun kembali tenaga dalamnya, dia lancarkan lagi sebuah pukulan dahsyat, bentaknya : "Lohu akan beradu jiwa denganmu! Setelah menyambut sebuah serangan dari Tiang pek lojin dan berhasil menempati kedudukan diatas angin, Huan ini sin ang tak

ingin bertarung lebih jauh melawan Tiang pekk lojin, dengan cepat kakinya bergeser dan meloloskan diri dari serangan musuh deng-an ilmu gerakan tubuh Leng kui huan sin (setan iblis berganti badan). So tua, kau juga orang yang telah berusia seratus tahunan, mengapa mesti ribut terus menerus," cegahnya sambil

355
menggoyangkan tangannya berulang kali," bila kau mendesak terus, jangan salahkan kalau lohu tak akan berlaku sungkan sungkan lagi terhadap Thi Eng khi!" Dalam gusarnya meski Tiang pek lojin berhasrat untuk beradu jiwa dengan Huan im sin ang, tapi dalam hatinya bukan berarti tanpa rencana apapun, dia tahu tiada harapan baginya untuk membereskan Huan im sin ang yang berada dihadapannya, apalagi mendengar pihak lawan menggunakan nyawa Thi Eng khi untuk mengancamnya, dia lebih berhati hati lagi. Sambil menarik kembali serangannya, ia berseru dengan hati yang gusar : Suatu hari, lohu pasti akan menjagal dirimu untuk melampiaskan rasa dendamku kepadamu!" "Soal dikemudian hari kita bicarakan dikemudian hari saja," sindir Huan im sin ang sinis, "paling tidak hari ini kita masih bisa berbincang dengan cara baik, kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya kau musti berterima kasih kepadaku atas hilangnya Thi Eng khi kali ini." "Kau tak usah mengaco belo di hadapan lohu! bentak Tiang pek lojin dengan gusar. Huan im sia ang tertawa seram. Lohu telah menciptakan kesempatan dan alasan yang baik bagimu untuk memasuki daratan Tionggoan, masa kau tak berterima kasih kepadaku? Dibongkar rahasia hatinya, Tiang pek lojin kelihatan amat terkejut, untuk sesaat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Kembali Huan im sin ang berkata lebih jauh : So tua, pertikaianmu dengan pihak Siau lim dan Bu tong telah menjadi suatu peristiwa besar yang menggemparkan seluruh kolong langit, aku rasa tentunya kau tak akan menjual muka para jago dari

356
luar perbatasan dan menghancurkan nama sendiri bukan? Apalagi kalau mengaku salah dan minta maaf kepada pihak Siau lim dan Bu tong? Ketahuilah, keadaanmu sekarang ibaratnya orang yang menunggang diatas punggung harimau.. haaaahhh.. haahhhhh haahhhh.. Serentetan suara tertawa keras yang mengerikan berkumandang memecahkan keheningan, membuat Tiang pek lojin rnerasa gelagapan dan gugup dengan sendirinya. Sementara itu entah kapan tiba-tiba Pek leng siancu So Bwe leng teringat akan sesuatu, dengan cepat dia membawa pokok pembicaraan kembali kesoal semula, serunya : "Kau bilang orang yang tadi itu bukan Thi Eng khi? Hmm, hanya setan yang percaya!

Untuk sesaat Huan im sin ang masih belum memahami ucapan dari Pek leng siancu So Bwe leng, mendengar perkataan itu diam diam ia merasa terkejut, pikirnya kemudian. Jangan jangan budak ini berhasil menemukan penyakit dibalik perkataanku itu?" Meski berpikir begitu, wajahnya masih tetap memperlihatkan ketenangan yang luar biasa katanya : "Thi Eng khi tetap dan hal ini merupakan suatu kenyataan, anak Leng, kau telah membawa jalan pikiranmu kemana lagi?" Pek leng siancu So Bwe tidak menggubris perkataan orang, kembali dia berpikir lebih jauh : "Apakah engkoh Eng tak dapat melarikan diri?" Kemudian sambil memejamkan mata, dia bergumam seorang diri : "Ya, benar, engkoh Eng pasti berhasil meloloskan diri dari cengkeraman iblismu!" Menyusul dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi Huan im sin ang lekat-lekat, katanya dengan nada bersungguh sungguh :

357
"Engkoh Eng pasti telah lolos dari pengejaranmu!" Begitu menyaksikan sikap Pek leng siancu So Bwe leng yang gugup macam orang kebingungan itu segera paham bahwa gadis itu lagi berkhayal belaka, hatinya menjadi lega, kontan saja ia tertawa tergelak. "Disekitar tempat penyekapan itu lohu meninggalkan orang untuk mengawasi gerak geriknya, bayangkan saja, mana mungkin ia bisa kabur? Apalagi kemarin masih ada orang yang memberi laporan kepada lohu, kalau dia telah meluluskan syarat yang lohu ajukan, sekarang dia telah bersiap siap untuk mengangkat diriku menjadi guru dan belajar ilmu silat dari lohu!" Sesungguhnya pikiran dan perasaan Pek leng siancu So Bwe leng pada saat itu amat kalut dan kacau balau tak karuan, ketika mendengar ucapan dari iblis tua itu, selain melototkan matanya, tak sepatah kata pun sanggup dia utarakan. Tiang pek lojin sendiripun tampaknya tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, dia hanya menghela napas belaka. Melihat siasatnya berhasil mendatangkan hasil Huan im sin ang merasa girang sekali, dengan wajah berseri katanya lebih jauh : "Jika kalian masih tidak percaya, lohu dapat segera membawa kalian menuju ke sana untuk menengoknya, sampai waktunya kalian tentu akan tahu kalau lohu bukan cuma gertak sambel belaka!" Dalam hatinya sudah mempunyai rencana sendiri, maka ia berani mengambil resiko tersebut. Tanpa berpikir panjang Pek leng siancu So Bwe leng segera berkata : "Benarkah kau akan mengajak kami untuk pergi menjumpai engkoh Eng....? "Tentu saja sungguh! Cuma aku harus bertanya kepadamu lebih dulu janji dua tahun kita masih masuk hitungan tidak?"

358

Tanpa berpikir panjang kembali Pek leng siancu So Bwe leng menjawab : "Asal dapat bersua dengan engkoh Eng, tentu saja janji kita masih tetap masuk hitungan!" Huan im sin ang lantas berpaling kearah Tiang pek lojin sambil bertanya : So tua, bagaimana pendapatmu?" Mendadak paras muka Tiang pek lojin berubah menjadi amat serius, dengan sorot mata tajam terpancar keluar dari balik matanya, dia menjawab : Lohu mempunyai rencana sendiri, permainan busukmu jangan harap bisa kau laksanakan pada diri lohu! Menyusul kemudian sambil berpaling ke arah Pek leng siancu So Bwe leng, ujarnya : "Anak leng, yaya tak ingin mempengaruhi jalan pemikiranmu serta caramu bertindak, semoga saja tindakanmu itu jangan sampai memalukan keluarga So kami. Tidak menunggu Huan im sin ang sempat menimbrung lagi, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan melambung keangkasa dalam waktu singkat badannva sudah masuk kedalam hutan dan lenyap dari pandangan mata. Yaya, yaya.... teriak Pek leng siancu So Bwe leng dengan suara lantang. Sambil tertawa licik Huan im sin ang buru baru menghibur gadis itu, ujarnya : Anak Leng yayamu telah meninggalkan kau disini, itu berarti dia telah mempercayai perkataan lohu, jangan kuatir, dia tak akan menggubris dirimu lagi, sekarang kita harus pulang . selain itu, kitapun harus segera melakukan penyelidikan terhadap orang yang telah menyaru sebagai Thi Eng khi tersebut agar dia tahu sampai dimanakah kehebatan dari Ban seng kiong kita!"

359
Pek leng siancu So Bwe leng hanya merasakan pikiran dan perasaannya sangat kalut dia benar benar kehilangan pegangannya, dengan kepala tertunduk dan amat sedih, pelan pelan dia berjalan mengikuti dibelakang Huan im sin ang untuk meninggalkan bukit itu. Sementara itu, Thi Eng khi yang buru buru ingin mencari jejak ibunya, terpaksa mengeraskan hati tanpa menyapa Tiang pek lojin, setelah membopong tubuh pemuda bermantel perak, secepat kilat dia meluncur ke bawah bukit. Tiba dibawah bukit sana tampak Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sedang berputar kesana kemari didepan sana dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Mungkin dia sedang gelisah bercampur cemas karena tak berhasil menemukan jejaknya. Maka sambil memperingan langkah kakinya, dia maju menyongsong kedatangannya sambil menegur : "Engkoh tua, aku berada disini! Sungguh beruntung siaute telah berhasil mendapatkan orang bermantel perak itu, sayang dia terluka parah dan butuh pengobatan cepat. Apakah disekitar tempat ini ada tempat yang bisa dipakai untak mengobati lukanya?" Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memandang

sekejap ke arah pemuda tampan yang berada dalam bopongan Thi Eng khi, mukanya berkerut seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan...... Ternyata dalam sekilas pandangan saja dia telah melihat kalau orang bermantel perak itu adalah seorang perempuan. Sebetulnya dia hendak memperingatkan Thi Eng khi, tapi entah mengapa akhirnya niat tersebut diurungkan ......... Katanya kemudian setelah termenung sebentar : "Bila ingin mencari tempat untuk mengobati lukanya, mari ikutilah engkoh tua!"

360
Dia lantas membalikkan badan dan menelusuri sebuah jalan kecil, Thi Eng khi sambil membopong pemuda tampan itu segera mengikuti dibelakangnya. Setelah berjalan sekian lama, sampailah mereka disebuah dusun kecil, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po ternyata tidak berhenti, dia langsung memasuki sebuah bangunan rumah yang tinggi besar didepan sana.. MENYAKSIKAN kelakuan orang, Thi Eng khi merasa agak kebingungan bercampur bimbang, ia merasa dengan kedudukan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sesungguhnya bertolak belakang dengan bangunan rumah itu apalagi jika masuk tanpa permisi, hal itu sesungguhnya merupakan sesuatu yang kurang sopan. Oleh karena itu, dia menjadi agak sangsi sehingga tanpa terasa menjadi berhenti. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po memandang sekejap ke arah Thi Eng khi lalu tegurnya : "Saudara cilik, apakah kau tidak percaya dengan engkoh tuamu?" Merah padam selembar wajah Thi Eng khi sambil ikut melangkah masuk sahutnya : "Aaaah, mana .mana Baru saja Thi Eng khi masuk kedalam pintu, dari balik ruangan telah muncul seorang lelaki berusia pertengahan, sambil menyongsong kedatangan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po katanya seraya memberi hormat : Cu cianpwe sudah lama kau tak pernah berkunjung kemari, ayahku sudah amat merindukan dirimu...." Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera tertawa terbahak bahak. "Haaahhh... haaahhh.... haaahhh... tanpa urusan aku si pengemis tua tak akan berkunjung ke ruang Sam poo thian. Keponakan Pek

361
sian, kau juga tak usah banyak bicara lagi, aku ingin tanya, apakah kamar tamu kalian masih ada yang kosong?" Ada! jawab lelaki setengah umur yang bernama Pek sian tersebut, locianpwe masih ada pesan lagi? Asal ada kamar kosong kami dapat pergi kesana sendiri beritahu saja kepada ayahmu kalau aku si pengemis tua telah datang, suruh dia persiapkan hidangan dan arak yang paling lezat, sebentar aku hendak berbincang dengannya."

Sambil tertawa lelaki yang bernama Pek sian itu masuk keruang dalam, sedangkan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga membawa Thi Eng khi langsung menuju keruang tamu. Kamar tamu itu diatur sangat rapi dengan dekorasi yang indah, membuat siapa pun akan mengetahui kalau tuan rumah gedung ini bukan seorang manusia sembarangan. Thi Eng khi tak sempat memperhatikan dekorasi didalam ruangan itu lagi. cepat dia membaringkan pemuda tampan itu keatas pembaringan, kemudian menghimpun ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kangnya, ia mulai mengobati luka yang diderita pemuda tampan tersebut. Walaupun pemuda tampan itu hanya tersapu oleh pukulan Jit sat hian im ceng lek dari Huan im sin ang namun ilmu pukulan Jit sat hian Im ceng lek adalah sejenis pukulan yang beracun sekali, barang siapa terkena oleh pukulan itu, sekujur badannya akan kedinginan setengah mati, kelihayannya luar biasa sekali. Waktu itu, semua nadi penting dalam tubuh pemuda tampan itu sudah membeku, mukanya hijau membesi dan sudah tak berwarna darah lagi. Thi Eng khi membutuhkan waktu setengah pertanak nasi lamanya untuk menolong pemuda tampan itu sebelum paras mukanya menjadi merah kembali, kemudian setelah lewat setengah jam

362
kemudian ia baru mendusin menghembuskan napas panjang dan bangun berduduk. Sewaktu dia melihat jelas paras muka Thi Eng khi, paras mukanya tiba tiba berubah beberapa kali diantaranya terlintas pula perasaan diluar dugaan, kaget, gembira dan malu. Entah mengapa ternyata dia tidak mengucapkan sepatah katapun ucapan terima kasih, begitu duduk, ia memejamkan matanya dan mengatur napas sendiri. Thi Eng khi berpaling kebelakang, ia jumpai dalam ruangan tersebut selain hadir Si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan lelaki yang bernama Pek sian tersebut, kini telah bertambah dengan seorang kakek berwajah merah yang berusia enam puluh tahunan. Kakek bermuka merah itu mempunyai perawakan badan yang tinggi kekar, dia mengenakan jubah berwarna abu abu dan mempunyai suatu kewibawaan yang mengerikan. Tatkala pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po melihat Thi Eng khi berpaling sebetulnya dia ingin bertanya dengan suara keras, tapi setelah dilihatnya pemuda tampan itu sedang duduk bersila, cepat cepat dia merendahkan suaranya dan menunjuk ke arah kakek bermuka merah itu sambil katanya : Saudara cilik, dia adalah seorang manusia aneh dari dunia persilatan yang dikenal oleh setiap persilatan didunia ini saat ini, Lim toa sianseng Lim Biau lim. Buru buru Thi Eng khi menjura kepadanya seraya brkata : "Aku Thi Eng kni menjumpai Lim toa sianseng! Lim toa sianseng Lim Biau lim dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati mengawasi wajah Thi Eng khi lekat lekat, mendadak tubahnya gemetar keras seperti merasa kaget

bercampur tertegun, ternyata dia tahu bagaimana harus menjawab perkataan dari anak muda tersebut

363
Sorot matanya yang tajam pelan pelan bergeser ke bawah tubuh Thi Eng khi, namun sewaktu menyaksikan pedang Thian liong kim kiam yang tersoren di pinggang anak muda itu, paras mukanya tampak semakin emosi. Dengan cepat dia mundur selangkah ke belakang, lalu tanyanya dengan wajah serius : "Tolong tanya apakah Thi sauhiap berasal dari perguruan Thian liong pay ?" Paras muka Thi Eng khi turut berubah serius pula, sahutnya dengan nada bersungguh sungguh : Aku adalah ciangbunjin angkatan kesebelas dari perguruan Thian liong pay." Selintas cahaya aneh terpancar keluar dari wajah Lim Biau lim, tiba tiba ia bertanya : Lantas siapakah ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay.. Seperti diketahui, Kay thian jiu (si tangau sakti pembuka langit) Gui Tin tiong menjabat sebagai ciangbunjin angkatan ke sepuluh setelah perguruan Thian liong pay ditutup. Itulah sebabnya banyak jago persilatan maupun anggota Thian liong pay yang tidak mengetahuinya. Dengan suara lantang Thi Eng khi segera menjawab : "Ciangbunjin angkatan ke sepuluh dari Thian liong pay adalah mendiang guruku Gui Tin tiong! Mendadak sepasang mata Lim Biau lim berkaca kaca, namun air matanya tak sampai meleleh keluar, tanyanya lagi : Tolong tanya apa pula hubungan sauhiap dengan Keng thian giok cu (tonggak kemala penyanggah langit) Thi Keng?" Dia orang tua adalah kakekku!" Waktu itu Lim Biau lim tak bisa menahan air matanya lagi, dengan air mata berlinang serunya kepada Lim pek sian :

364
"Pek sian, tak bakal salah lagi, cepat kita memberi hormat kepada ciangbunjin!" Seraya berkata dia lantas memberi hormat seraya berseru : Murid angkatan kesepuluh Lim Biau lim bersama putra tecu pek sian menghunjuk hormat untuk ciangbunjin, selain mendoakan keselamatan buat ciangbunjin! Rupanya Kim pek sian sudah menaruh curiga semenjak menyaksikan dandanan dari Thi Eng khi dalam ruangan tadi maka ia segera masuk kedalam dan melaporkan kejadian ini kepada ayahnya. Lim Biau lim tak berani bertindak gegabah, sebelum membuka rahasia sendiri terlebih dulu dia menyelidiki Thi Eng khi dengan beberapa hal, setelah terbukti kalau dugaannya tak salah, ia baru memberi hormat kepada ciangbunjinnya. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah berkenalan dengan Lim Biau lim semenjak lima belas tabun berselang, dia hanya

tahu kalau Lim Toa sianseng adalah seorang pendekar sejati, tapi tak menyangka kalau dia adalah anggota perguruan Thian liong pay, tak heran kalau ia menjadi tertegun saking kaget dan herannya. Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau Lim Biau lim adalah murid Thian liong pay, ketika menyaksikan dia menjatuhkan diri memberi hormat kepadanya, musti agak rikuh tapi sebagai seorang pemuda yang luar biasa, rasa rikuh tersebut dengan cepat dapat ditekan. Kemudian dengan sikap yang amat tenang dan penuh kegembiraan dia menerima penghormatan kedua orang itu, kemudian dengan melancarkan sebuah tenaga tak berwujud dia bangunkan kedua orang itu seraya berkata : Dalam masa kesusahan semacam ini ternyata aku bisa bersua dengan kalian berdua, kejadian ini betul betul menggembirakan hati, harap kalian berdua bangkit berdiri dan tak perlu menjalankan penghormatan besar lagi!"

365
Menurut kebiasaan yang berlaku di dalam Thian liong pay, setiap murid partai yang pertama kali menjumpai ciangbunjinnya, maka diwajibkan melaksanakan tiga kali penyembahan. Tapi sekarang Thi Eng khi hanya menerima sekali penyembahannya saja, ini boleh dibilang merupakan suatu perlakuan yang amat istimewa sekali. Sambil mengucapkan banyak terima kasih Lim Biau lim bangkit berdiri, kemudian dengan air mata bercucuran dia berkata : "Tecu dapat menyaksikan partai Thian lioag pay tegak kembali dalam dunia persilatan, sekalipun harus mati juga rela!" Sewaktu Thi Eng khi menanyakan sumber dari Lim Biau Lim dalam perguruan Thian liong pay, baru diketahui bahwa ayah Lim Biau lim yang bernama Lim Cing ci adalah saudara seperguruan dari kakeknya, jadi kalau dihitung kembali usia Lim Biau lim sebenarnya jauh lebih tinggi daripada Kay thian jiu Gui Tin Tiong atau dengan perkataan lain dia adalah supeknya sendiri. Sedang Lim Pek sian telah berusia tiga puluh tahunan, dia terhitung kakak seperguruan sendiri. Maka terlepas dari kedudukannya sebagai seorang ciangbunjin sekali lagi dia memberi hormat kepada Lim Biau lim dan putranya dengan kedudukan sebagai keponakan murid dan adik seperguruan. Sikap serta tindak tanduknya yang sederhana dan merendah ini semakin mengundang kekaguman hati Lim Biau lim berdua terhadap anak muda tersebut. Menyusul kemudian Thi Eng khi pun menceritakan pengalamannya sampai berhasil mendapatkan kembali kitab putaka Thian liong pit kip, bahkan bersedia mewarislan beberapa macam kepandaian sakti kepada Lim Pek sian guna membangun kembali nama besar perguruan mereka.

366
Lim Biau lim yang mendengar perkataan itu menjadi girang sekali, bersama putranya dia segera mengucapkan banyak terima kasih tiada hentinya. Dikala pembicaraan tersebut telah selesai, Pengemis sakti

bermata harimau Cu Goan po mencekal lengan Lim Biau lim sambil menegur : "Saudara Biau lim rupanya kau adalah anggota Thian liong pay, sebelum ini aku si pengemis tua benar benar kena terkecoh, untuk menebus dosa hari ini kau pasti didenda tiga guci arak Pek hoa jian jit lok kepadaku! Lim Biau lim turut tertawa tergelak. "Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... hari ini ciangbunjin telah berkunjung kemari hal mana merupakan suatu kebanggaan bagi perkampungan kami, jangan toh baru tiga guci arak Pek hoi jian jit lok, sekali pun hendak menghabiskan semua persediaanku, siaute juga tak akan merasa sayang. Kemudian sambil menghela napas dan tertawa getir, dia melanjutkan : "Aaai.... selama ini siaute terpaksa harus merahasiakan asal usulku yang sebenarnya hal ini disebabkan keadaan yang memaksa, harap loheng jangan marah!" Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa tergelak. Haaahhh.... haaahhh..... haaahhh ..... asal ada arak Pek hoa jin jit lok untuk diminum, biasanya aku si pengemis tua menjadi enggan untuk mengurusi soal lain, baiklah, kali ini aku boleh saja mengampuni dirimu....!" "Hei engkoh tua, goda Thi Eng khi tiba tiba, "terus terang saja katakan kalau kau sedang memeras Lim supek, huuh.... kata kata raja sedap didengar, baik, anggap saja kau memang jauh lebih hebat setingkat daripada Siaute.

367
Saudara cilik aku memeras arak dari anggota Thian liong pay kalian, apakah kau yang menjadi kekuatan merasa sakit hati? Haaaahhh.... haaahh...haaahhh.." sekali lagi pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa tergelak. Lim Biau lim pun ikut berseri seri, kepada Lim Pek sian segera perintahnya: "Cepat perjamuan diruang tengah! Lim Pek sian mengiakan dan mengundurkan diri. Pelan pelan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejad kearah pemuda tampan yang sedang bersemadi itu, lalu bisiknya kepada Thi Eng khi. "Saudara cilik lukanya tidak parah bukan?" Tampaknya sudah tidak menguatirkan. Baru selesai ucapan tersebut diutarakan mendadak pula tampan itu membuka matanya lebar lebar sambil bangkit berdiri kemudian sambil menjura ke arah Thi Eng khi katanya: "Terima kasih banyak atas bantuan dari Thi ciangbunjin! "Aaaah... hanya bantuan sepele, harap saudara jangan memikirkannya dalam hati," sahut Thi Eng khi tertawa. Pemuda tampan itu segera tersenyum dan tidak berbicara lagi. Tiba tiba si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa nyaring lalu katanya : "Bila kalian masih ada persoalan, lebih baik dibicarakan nanti saja, yang penting sekarang adalah membuat perhitungan dulu

dengan perut kita. Thi Eng khi sangat menguatirkan keselamatan ibunya, sebetulnya dia bermaksud untuk langsung menanyakan tentang surat itu kepada pemuda tampan tadi.

368
Tapi setelah Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berkata demikian, diapun merasa tak enak untuk banyak berbicara lagi, terpaksa bersama semua orang menuju ke ruang belakang untuk bersantap. Begitu masuk kedalam ruangan, si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera meneguk tiga cawan arak Pek hoa jian jit lok, setelah itu sambil menyeka mulutnya dia berseru tiada hentinya : Sungguh memuaskan! Sungguh memuaskan! Mendadak ia merasa rikuh sendiri maka katanya kemudian sambil mengangkat cawan : Mari kan pei, kan pei.... kita bersama sama mengeringkan secawan arak!" Tapi sebelum orang lain memberikan reaksinya, tiga cawan arak sudah masuk kembali ke dalam perut. Akhirnya sambil memejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang, dia berkata : "Saudara cilik berdua....... Belum habis dia berkata, Thi Eng khi telah menggoyangkan lengannya sambil berbisik : "Sstt....... diatas atap rumah ada orang! Ketika semua orang memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama, betul juga lamban lamban terdengar suara ujung baju terhembus angin bergema dari atas rumah, menyusul kemudian tampak seorang kakek berusia lima puluh tahunan melayang turun ke depan ruangan. Sambil bertolak pinggang, dia lantas berseru dengan suara lantang : "Lim Biau lim, keluar kau! Lohu hendak berbicara denganmu."

369
Lim Biau lim menekan meja siap melompat keluar tapi pengemis sakti bermata harimau telah menyerobot kedepan, sambil melayang keluar halaman dia tertawa terbahak bahak "Haaahhh..... haaahhh....haaahhh..... rupanya Lak bin wangwee (hartawan berwajah enam) Tong Cu toan, saudara Tong, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, mari, mari, mari.... silahkan duduk, silahkan duduk! Sebenarnya perselisihan apakah yang telah terjalin antara saudara Tong dengan saudara Lim? Harap kau suka memandang diatas wajahku untuk berunding secara baik baik, apalah artinya saling hidup dan cekcok? Tatkala Thi Eng khi mendengar kalau orang yang datang adalah Lak bin wangwee, diapun akan tertegun, mendadak teringat olehnya akan perkataan Huan im sin ang yang pernah membicarakan tentang tiga belas Tay poo anak buahnya.... Dengan cepat pula dia lantas menduga kalau kedatangan Lak bin wangwee hari ini adalah atas suruhan dari Huan im sin ang, tanpa

terasa sambil tertawa dingin ia duduk tak berkutik ditempat semula. Tampaknya si Hartawan berwajah enam Tong Cu toan tidak menyangka kalau pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po juga hadir disitu, mula mula dia agak tertegun kemudian sambil menarik muka katanya : Apa yang terjadi hari ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Cu pangcu, harap kau menyingkir ke sana, biar Lim Biau lim yang datang menjawab pertanyaanku! Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sampai menampilkan dirinya tadi lantaran ia merasa punya hubungan baik dengan Lak bin wangwee Tong Cu toan, siapa sangka Tong Cu toan tidak memberi muka kepadanya, malah mendampratnya dihadapan umum, hal mana kontan saja membangkitkan hawa amarahnya. Sambil mencak mencak kegusaran dia berseru : Orang she Tong, ada urusan apa sih kau datang kemari? katakan saja kepada aku si pengemis tua!

370
Ternyata sikap Lak bin wangwee Tong Cu toan semakin tidak bersahabat, sambil tertawa dingin ia berseru pula : Orang she Cu, lebih baik kau jangan tak tahu diri. Hmm.... bila berkeras kepala terus, jangan salahkan kalau lohu tak akan mengingat lagi hubungan kita dimasa lalu! Sepasang mata pengemis sakti bermata harimau Cu Goan poo sudah melotot besar bagaikan gundu, sambil menyilangkan telapak tangannya dia berteriak : Tong Cu toan ........" Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, Lim Biau lim telah menarik tangannya sambil berkata : Cu pangcu, lebih baik kembalilah kemeja perjamuan untuk minum arak, lohu ingin saksikan sahabat Tong yang makan beras mentah ini hendak berbuat apa kepadaku!" Tanpa banyak berbicara lagi dia segera mendorong pengemis tua itu masuk kedalam ruangan, setelah itu dia baru membalikkan tubuhnya dan berkata kepada Lak Bin wangwee Tong Cu toan : Lohu adalah Lim Biau lim! Nah, sahabat Tong, ada persoalan apa kau datang mencariku?" Lak Bin wangwpe Tong Cu toan segera mendengus dingin. Hmm.... ! Lohu ingin bertanya kepadamu, apakah kau anggota Thian liong pay? Benar, lohu adalah anggota Thian liong pay, darimana kau bisa tahu ..... Belum habis dia berkata, mendadak Lak Bin wangwee Tong Cu toan mengayunkan sepasang tangannya kedepan. Beratus ratus titik cahaya emas dengan cepat menyelimuti angkasa dan menyambar kearah kakek tersebut.

371
Heehh.... heehh..... heehh.... bedabah dari Thian liong pay rasakan kelihayan Bu wi kim wong (Cahaya emas tanpa ekor) milik lohu ini .....! serunya sambil menyeringai seram. Begitu bertemu lantas turun tangan, tindakan yang dilakukan oleh Lak bin wangwee Tong Cu toan ini benar benar keji sekali,

siapapun tak menyangka sampai kesitu. Lim Biau lim sendiripun sama sekali tak menyangka sampai kesitu, menyaksikan datangnya ancaman tersebut, dia menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana harus menghindarkan diri. Aduh celaka, pekiknya, dia segera memejamkan matanya menunggu saat ajalnya tiba. Untung saja pada saat itulah bentakan nyaring berkumandang dari belakang tubuhnya : Manusia laknat, kau berani bertingkah di sini!" Cahaya emas berkelebat lewat, tahu tahu senjata rahasia cahaya emas tanpa ekor yang digunakan oleh Lak bin wangwee Tong Cu toan tersebut telah lenyap tak berbekas. Dengan jubah yang berkibar terhembus angin, Thi Eng khi telah berdiri didepan Lim Biau lim, dengan kening berkerut dia awasi wajah Lak bin wangwee Tong Cu toan lekat lekat, kemudian ujarnya kepada kakek she Lim tersebut : "Lim supek, harap mundur, serahkan urusan ini kepadaku! Pada mulanya Lim Biau lim menyangka akan ilmu silat yang dimiliki ciangbunjin mudanya ini tidak terlalu hebat, sekalipun bakat pemuda itu sangat baik, dalam perkiraannya walaupun seluruh kepandaian silat yang tercantum dalam kilab Thian liong pit kip telah dikuasahi, dengan batas usianya yang masih muda, mustahil tenaga dalamnya bisa dilatih sampai ke tingkat kesempurnaan. Tapi setelah menyaksikan gerakan pedang yang dilakukan Thi Eng khi sekarang ternyata penuh disertai pancaran tenaga dalam, bahkan jarum beracun Bu wi kiam wong yang dipancarkan oleh Lak bin wangwee Tong Cu toan berhasil dihisap oleh pedang tersebut,

372
dengan cepat dia sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki ketua mudanya ini sudah mencapai ke tingkatan yang luar biasa. Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun, kejut, girang dan tercengang, dengan emosi meluap dia mengundurkan dirinya kesamping. Dalam pada itu, Thi Eng khi telah berkata kepada Lak bin wangwee Tong Cu toan dengan wajah serius : Sebenarnya ikatan dendam atau sakit hati apakah yang telah terjalin antara anak murid Thian liong pay dengan Tong tayhiap sehingga Tong tayhiap tak segan segan menggunakan cara menyergap yang licik dan tak tahu malu itu untuk mencelakai orang?" Perlu diketahui, keluarga Tong yang dari propinsi Szuchuan ini termashur dalam dunia persilatan karena senjata rahasia beracunnya, sedang merekapun tidak menggabungkan diri dengan pihak perguruan sesat atau aliran hitam, maka sesungguhnya perguruan keluarga Tong boleh dibilang berdiri pada posisi yang benar. Bahkan ada pula yang menilai perguruan mereka sebagai suatu perguruan kaum lurus sebab dalam perguruan itu berlaku suatu peraturan yang keras dan ketat, yakni : Setiap anggota perguruan yang hendak menggunakan senjata rahasia, maka mereka harus menggunakan secara jujur dan terbuka, kemenangan hanya boleh diraih dengan cara yang jujur, sedang

cara menyergap atau main curang sama sekali tak diperkenankan. Lak bin wangwee Tong Cu toan merupakan adik dari ketua perguruan keluarga Tong sekarang yaitu Tan ci hui seng (sentilan jari bintang melayang) Tong Cu keng dalam perguruan keluarga Tong mempunyai kedudukan yang terhormat sekali, tak nyana dia telah melakukan sergapan yang amat memalukan, bila kejadian ini sampai tersiar di tempat luaran tak bisa disangkal lagi hal mana pasti akan menodai nama baiknya maupun nama perguruannya.

373
Dari malu si hartawan berwajah enam Tong Cu toan menjadi naik pitam, katanya setelah tertawa dingin : "Lohu bermaksud untuk membunuh segenap anggota Thian liong pay, mau apa kau? Sambil berkata, tangan kirinya segera merogoh kedalam saku dan mengeluarkan dua biji bola bulat yang kecil, sementara tangan kanannya mencabut keluar sebilah tombak perak yang berdua sisi. Kemudian sambil berdiri tegak, ia bersiap siap melancarkan serangan lagi. Thi Eng khi segera tertawa terbahak bahak. Haaahhh.... haaaahh.... haaahhh.... aku adalah ciangbunjin angkatan ke sebelas dari Thian liong pay, coba katakan, apakah aku berhak mengurusi atau tidak? Mendengar pertanyaan itu, si Hartawan berwajah enam Tong Cu toan agak tertegun kemudian sambil menyeringai seram dia berseru : "Bagus sekali, jadi kau adalah Thi Eng khi si bangsat muda itu, lohu benar benar lagi mujur tampaknya." Selesai berkata tangan kirinya segera diayunkan kedepan melepaskau dua titik cahaya hitam, yang satu menyerang Thi Eng khi sementara yang lain menyerang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sekalian. Baru saja Thi Eng khi hendak menyambutnya dengan babatan pedang, tiba tiba terdengar pemuda tampan yang berada dalam ruangan itu berseru dengan suara lantang : "Im yang siang cu (sepasang mutiara Im yang) dari keluarga Tong tak boleh disentuh dengan kekerasan! Saudara Thi, cepat kau gunakan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang dari perguruan untuk menciptakan dinding dengan hawa khikangmu, kemudian pentalkan balik benda itu sejauh jauhnya!" Tenaga dalam Thi Eng khi telah mencapai tingkatan dimana bisa digunakan sekehendak hati sendiri, begitu peringatan tersebut

374
diterima, hawa sinkang segera dikerahkan keluar untuk menyambut datangnya ancaman. Segera tampaklah mutiara hawa im yang memancar kearahnya itu terhenti ditengah jalan dan melayang layang ditengah udara. Hartawan berwajah enam Tong Cu toan tertawa dingin, tangan kirinya segera diayunkan kedepan, setitik cahaya tajam langsung meluncur kedepan dan menghantam bulatan bola itu. Walaupun Thi Eng khi tidak tahu sampai dimanakah kelihayan dari mutiara Im cu tersebut namun dilihat dari keadaan yang

terbentang didepan mata ia tahu kalau tindakan yang dilakukan Lak bin wangwee Tong Cu toan sekarang adalah menghancurkan mutiara Im cu tersebut. Dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau didalam Im cu tersebut pasti tersimpan suatu benda mematikan yang amat berbahaya. Cepat cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya semakin besar dan memaksa butiran mutiara Im cu itu sehingga terpental balik ke arah Hartawan berwajah enam. Pada saat yang bersamaan, butiran Yang cu yang disambit ke dalam ruangan itu telah disambut oleh pemuda tampan itu dengan sambaran angkin putihnya. Diantara gulungan angkin putih itu, Yang cu tadi kena digulung dan kemudian dilemparkan kembali ke arah pemiliknya. Walaupun panjang untuk dikisahkan, sesungguhnya waktu yang berlangsung hampir bersamaan waktunya, sehingga pada saat yang hampir bersamaan mutiara Im cu yang dilempar kembali oleh Thi Eng khi dan mutiara Yang cu yang disambit oleh pemuda tampan itu bersama sama tiba dihadapan Lak bin wangwee Tong Cu toan pada saat yang berbarengan.

375
Tak terlukiskan rasa kaget Lak bin wang wee Tong Cu toan menghadapi ancaman tersebut, buru buru dia melompat ke belakang berusaha untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sudah terlambat. Pada saat yang bersamaan Im yang siang cu telah menimbulkan suatu ledakan keras ditengah udara, kemudian muncullah segulung asap hijau yang segera mengurung sekujur badan Hartawan berwajah enam Tong Cu toan. Mengetahui kalau tak sempat untuk mengelakkan diri dari ancaman bahaya, Lak bin wangwee Tong Cu toan segera merogoh kedalam sakunya dan mengambil keluar sebutir pil yang segera dijejalkan kedalam mulutnya, kemudian sepasang ujung bajunya disilangkan diatas untuk melindungi dada, sementara badahnya berbongkok kebawah melingkar menjadi satu. Sekalipun demikian, kedua gulung asap hijau itu sempat pula menembusi celah celah tubuhnya dan menyerang wajah serta tangannya. Tak ampun lagi dia menjerit keras karena kesakitan, seluruh tubuhnya gemetaran keras, begitu badannya terkapar ditanah badannya semakin banyak yang terkena racun hijau itu. Pada saat itulah, si pemuda tampan tadi telah berseru kembali : "Im yang siang cu dari keluarga Tong terkenal karena kabut beracunnya yang bisa menghancurkan tulang, harap kalian mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan pukulan keempat penjuru, dan memaksa kabut beracun itu melambung ke atas udara, kalau tidak, hal ini akan membahayakan bagi kita semua.... Buru buru Thi Eng khi mengerahkan tenaga dalamnya dan melepaskan pukulan untuk membuyarkan kabut hijau tadi. Ketika mereka berpaling lagi ke arah Lak bin wangwee Tong Cu toan, tampaklah wajah orang itu sudah merekah tak wujud bentuknya lagi, selain menyeramkan juga berbau busuk.

376
Masih untung dia buru buru menelan pil anti racun sehingga cuma kulit luarnya saja yang terluka, kalau tidak, niscaya badannya sudah hancur menjadi segumpal air dan darah, tentu saja dalam keadaan seperti itu, jangan harap jiwanya bisa tertolong lagi. Menyaksikan raut wajahnya yang mengerikan itu, tanpa terasa semua orang merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, diam diam mereka berpekik didalam hati : Sungguh berbahaya! Coba kalau disana tak hadir pemuda tampan itu, niscaya semua orang tak akan lolos dari serangan maut dari Lak bin wangwee Tong Cu toan tersebut. Sebagai ketua dari Kay pang, Pengemls sakti bermata harimau Cu Goan po memiliki pengetahuan maupun pengalaman yang luas sekali, akan tetapi dia tidak tahu kalau diantara senjata rahasia beracun yang dimiliki keluarga Tong dari Szuchuan, masih terdapat semacam benda yang disebut lm yang siang cu, maka sedikit banyak dia merasa kagum sekali atas luasnya pengetahuan yang dimiliki pemuda tampan itu. Tanpa disadari ia lantas menepuk bahu pemuda tampan itu tanda kagum, dengan wajah memerah buru buru pemuda itu berkelit ke samping. Sebenarnya sejak semula si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sudah tahu kalau pemuda tampan itu sebenarnya adalah seorang gadis, ketika mengetahui kalau ia telah berubah sifat, buru buru dia mundur ke belakang dengan wajah memerah pula. Sementara itu Lak bin wangwee Tong Cu toan yang terkapar di tanah sudah sadar kembali dari pingsannya, buru buru dia mengeluarkan bubuk obat dan dipoleskan diatas mulut lukanya, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari sana. Tentu saja Si pengemis sakti bermata harimau tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, sambil membentak keras dia

377
menerjang kemuka, lalu sambil menuding ke wajah orang yang sudah tak karuan bentuknya itu dia memaki : Tong Cu toan, hari ini aku si pengemis tua baru benar benar mengenali dirimu, hayo jawab, kenapa kau begitu lega melancarkan serangan sedemikian kejinya kepada kami? Lantaran wajahnya sudah hangus dan mengelupas semua kulit wajahnya, maka tidak diketahui bagaimanakah perubahan wajahnya setelah mendengar dampratan dari pengemis tua itu tapi yang jelas dibibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya ia urungkan niatnya itu dan menundukkan kepalanya rendah rendah. Melihat hartawan berwajah enam Tong Cu toan hanya membungkam diri belaka, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi semakin marah, sambil mendengus dingin, kembali katanya : "Tong CU toan, bila kau tidak memberi keterangan kepadaku jangan salahkan jika aku si pengemis akan menghajar dirimu pada

hari ini! Tiba tiba Thi Eng khi tertawa nyaring, sambil menarik tangan pengemis sakti Cu Goan po katanya : Engkoh tua, biarkan saja dia pergi!" Kemudian sambil menarik kembali senyumannya, dia berpaling kearah Lak bin wangwee Tong Cu toan seraya berkata : "Sekalipun kau tidak berbicara. Aku juga tahu, bukankah kau adalah salah seorang dari Cap sah tay poo (tiga belas orang pangeran) yang dibentuk oleh Huan im sin ang? Hmm, setelah pulang nanti katakan ke Huan im sin ang, aku akan menjadi musuh bebuyutannya mulai saat ini! Tatkala rahasia pribadinya dibongkar oleh pemuda itu, Hartawan berwajah enam Tong Cu toan menjadi semakin ketakutan, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia membalikkan badan dan mengambil langkah seribu.

378
Mengawasi bayangan tubuh Tong Cu toan yang kabur, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang, katanya : "Aai... sebetulnya Tong Cu toan bukan manusia jahat, heran kenapa ia bisa berubah pikiran dan watak sehingga menjadi begini buas dan kejamnya?" Menyusul kemudian ujarnya pula kepada Thi Eng khi : Saudara cilik siapa sih Cap sah tay poo yang kau maksudkan tadi? Apakah mereka adalah anak buah Huan im sin ang? Secara ringkas Thi Eng khi segera menceriterakan pertemuannya dengan Huan im sin ang diluar perbatasan. Ketika menyebutkan nama nama dari Cap sah tay poo tersebut, untuk menghindari rasa sedih dari pengemis sakti bermata harimau sengaja dia merahasiakan nama dari To kak thi koay (toya baja kaki tunggal) yang berasal dari Kay pang ini. Semua orang hanya mendengarkan hal itu sambil lalu, maka siapapun tidak menaruh perhatian secara khusus. Ketika si Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po selesai mendengar nama nama yang disebutkan, dengan perasaan terkesiap dia menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya : "Saudara cilik, apakah kau tidak salah ingat nama nama tersebut...? "Sedikitpun tidak salah?" jawab pemuda itu tegas. Tanya terasa pengemis sakil bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang katanya : Orang orang yang tergabung didalam Cap sah tay poo tersebut rata rata adalah jagoan yang termashur dan punya kedudukan dalam pelbagai aliran perguruan, dari sini dapat diketahui kalau rencana Huan im sin ang untuk mencelakai dunia persilatan bukan disusun dalam sehari belaka , kejadian ini benar-benar menakutkan sekali.

379
Menyusul kemudian ia berkata lagi : "Kini situasi dalam dunia persilatan sudah mencapai taraf yang berbahaya sekali.. dalam keadaan seperti ini umat persilatan yang

berada dalam dunia persilatan tak boleh saling gontok gontokan lagi. Bagaimanapun juga saudara cilik harus berusaha untuk menghadapi pertemuan Lun li tayhwee yang diselenggarakan So cianpwe dari luar perbatasan dengan pihak Siau lim serta Bu tong pay, sebab salah paham ini terjadi karena saudara cilik, itulah sebabnya hanya saudara cilik seorang yang dapat menyelesaikan masalah ini." Sampai saatnya, siaute pasti akan menghadiri pertemuan itu, sekarang siaute harus menyelidiki dulu jejak ibuku, maka harap engkoh tua suka menjelaskan dulu keadaan yang sebenarnya kepada pihak Siau lim pay dan Bu tong pay, kemudian sampaikan pula kepada So yaya akan kemunculan siaute dan alasan mengapa sampai tidak menjumpai dirinya. Pengemis sakti bermata harimau manggut manggut, setelah memandang sekejap ke arah pemuda tampan itu, dia segera berpamitan untuk mohon diri. Memandang hingga pengemis itu lenyap dari pandangan mata Thi Eng khi baru berpaling dan bermaksud untuk menanyakan tentang surat dari ibunya itu kepada sang pemuda tampan tersebut. Siapa tahu sebelum dia buka suara, pemuda tampan itu sudah berkata lebih dulu sambil tertawa : Tolong tanya apakah siaute dapat membantu pula diri Thi heng untuk melakukan sesuatu?" Dari dalam sakunya Thi Eng khi segera mengeluarkan Giok bei yang diperolehnya dari Sau tee si bun Lu Put Ji, kemudian sambil diangsurkan ke hadapan pemuda tampan itu katanya : "Apakah kau kenal dengan benda ini?" "Giok bei itu memang milik siaute, sekarang kalau toh sudah berada ditangan saudara Thi, harap saudara Thi simpan saja baik baik, anggap saja sebagai kenang kenangan dariku."

380
Tentu saja Thi Eng khi tak berani menerima pemberian yang sangat berharga itu, dia bersikeras minta pemuda tampan itu untuk menerimanya kembali, setelah saling mendorong akhimya pemuda tampan itu berseru dengan wajah marah : "Kalau memang saudara Thi begitu memandang asing diriku, biar siaute segera mohon diri! Sambil menerima kembali giok bei itu, dia lantas melangkah keluar dari ruangan itu. Dalam keadaan begini, Thi Eng khi tak sempat mengucapkan sesuatu kepada Lim Biau lim lagi, dengan cepat dia mengejar dari belakangnya. Dengan mengerahkan segenap tenaga dalamnya, Thi Eng khi harus mengejar sejauh puluhan kaki sebelum berhasil menyusulnya. Terpaksa sambil tebalkan muka dia menjura kepada pemuda tampan itu, katanya : "Kalau memang saudara bersikeras untuk menghadiahkan benda itu kepadaku, baiklah siaute terima saja. Pemuda tampan itu segera tersenyum, senyuman itu bagaikan aneka bunga yang sedang mekar, indah menawan hati. "Terima kasih banyak atas kesediaan saudara Thi," katanya kemudian, dengan cepat dia angsurkan giok bei itu ke tangannya. Setelah menerima giok bei itu, Thi Eng khi baru berkata sambil

tertawa : "Saudara adalah naganya manusia, siaute kuatir tak pantas untuk menjadi temanmu!" Pemuda tampan itu memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, kemudian tanyanya : "Tolong tanya, tahun ini saudara Thi berusia berapa?" "Tahun ini siaute berusia sembilan belas tahun lebih delapan bulan."

381
Sambil tertawa pemuda tampan itu berkata: "Hari ini usiaku tepat mencapai dua puluh tahun, kalau dihitung aku lebih tua tiga bulan dibandingkan dengan dirimu." Terpaksa Thi Eng khi harus memberi hormat seraya berkata : "Siaute menjumpai toako?" Pemuda tampan itu mengalihkan sorot matanya kewajah Thi Eng khi setelah itu sambil menghela napas katanya : Saudara, apakah kau merasa keberatan untuk menyebutku dengan panggilan itu?" "Setiap kataku ibarat gunung karang, mengapa toako berkata demikian..." ucap Thi Eng khi dengan kening berkerut. Pemuda tampan itu segera tertawa tukasnya lagi. "Kalau memang hiante bersungguh hati untuk mengikat persaudaraan denganku, masa kau tak sudi menanyakan namaku? Merah padam selembar wajah Thi Eng khi karena jengah, agak tergagap dia berseru : "Toako, terus terang saja kukatakan, berhubung dalam hati siaute sedang diliputi oleh suatu persoalan yang mencurigakan hatiku, maka pikiran dan perasaanku menjadi kalut tak karuan bila aku sampai lupa menanyakan nama toako, harap kau sudi memaafkan. Pemuda tampan itu menghela napas sedih ujarnya : Padahal sekalipun kau tidak lupa bertanya ih heng juga tak akan memberitahukan kepadamu! Setelah berhenti sejenak, dia balik bertanya : "Saudaraku, bersediakah kau untuk berkenalan dengan seorang toako yang merahasiakan nama sendiri?" Thi Eng khi segera merasakan bahwa tindak tanduk pemuda tampan itu sangat aneh sekali membuat orarg sukar untuk

382
merabanya dengan pasti tapi sikap tersebut tidak menghilangkan sifat kejujuran dan kelurusan hatinya, terutama sekali dia memang sedang membutuhkan sesuatu terhadap orang itu maka dengan cepat sahutnya : "Setelah kita mengikat diri sebagai saudara, sekalipun kau mempunyai kesulitan untuk merahasiakan sesuatu, hal inipun bisa dimaklumi, kenapa aku musti menampik? Tiba tiba pemuda tampan itu mengulurkan tangannya kedepan kemudian ujarnya : "Barusan ih heng telah menghadiahkan sebuah giok bei sebagai kenangan untukmu apakah hiante juga punya sesuatu barang yang akan diberikan kepadaku sebagai kenangan?"

Thi Eng khi mencoba untuk merogoh ke dalam sakunya dan mencari sesuatu benda yang rahasia pantas untuk diberikan kepada pemuda itu, tapi kemudian terbukti kalau dia tak punya apa apa, terpaksa sambil tertawa malu katanya : Siaute tidak mempunyai apa apa, bagaimana baiknya? Pemuda itu segera menunjuk ke arah pita pedang yang berada diujung gagang pedang Thian liong Kim kiam tersebut lalu katanya : "lh heng suka sekali dengan pita pedang itu! Thi Eng khi mengerutkan dahinya rapat-rapat, tapi dilepas juga pita pedang itu dan diserahkan ketangan pemuda tampan itu. Setelah menerima pita pedang tadi, pemuda tampan tersebut baru tertawa terbahak bahak. Haaahhh... haaahhh.... haaahh... saudaraku, bila kau hendak mengajukan suatu pertanyaan, sekarang boleh kau ajukan kepadaku!" Thi Eng khi menghembus napas lega, katanya kemudian : "Bukankah toako penuh membeli secarik kertas dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji? Pemuda tampan ini mengangguk.

383
"Benar, suara itu adalah tulisan dari Pek bo yang ditujukan buat hiante, oleh karena ih heng kuatir benda itu terjatuh ke tangan orang, maka aku telah membelinya dengan harga tinggi dan selanjutnya kubakar sampai habis. Thi Eng khi menjadi terkejut sekali, serunya dengan gelisah : Apakah toako masih ingat dengan isi tulisan tersebut?" Tentu saja masih ingat, tapi Thi hiante tak dapat memberitahukan kepadamu!" Dengan gelisah Thi Eng khi segera menjura berulang kali, lalu sambil bermuram durja katanya : Harap toako jangan menyulitkan siaute, katakanlah berterus terang kepadaku." Tapi pemuda tampan itu tetap menggelengkan kepalanya berulang kali. "Saudaraku, bukannya ih heng enggan memberitahukan hal ini kepadamu, adalah disebabkaa pek bo telah menambahkan beberapa patah kata diantara kertas tadi sehingga aku tak bisa memberitahukannya kepadamu. "Tulisan apakah yang ditambahkan ibuku diatas kertas itu? tanya Thi Eng khi gelisah. "Garis besarnya dia bilang seandainya kertas itu bukan diperoleh hiante sendiri melainkan terjatuh ditangan seorang kuncu sejati maka diminta kertas tersebut dibakar sampai habis dan merahasiakan isi surat tersebut. Nah, saudaraku, coba kau bilang apakah in heng tak boleh menjadi seorang kuncu sejati? Sekalipun dalam surat itu dicantumkan tulisan tersebut tapi Thi Eng khi adalah putra Yap Siu ling yang membuat surat itu. Seharusnya dia tidak termasuk dalam hitungan akan tetapi pemuda tampan itu telah berkata demikian, sudah barang tentu Thi Eng khi tak bisa berbuat apa apa lagi.

384

Terpaksa sambil menghela napas panjang katanya : "Tentang soal ini... tentang soal ini......... bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya?" Tiba tiba pemuda tampan itu tertawa manis, ujarnya : Ih heng masih mempunyai suatu cara untuk menolong keadaan tersebut." "Sungguh? Thi Eng khi segera merasakan semangatnya berkobar kembali. Walaupun didalam surat itu dicantumkan agar menutup mulut rapat rapat merahasiakan isi surat itu, namun sama sekali tidak dicantumkan kalau orang yang menerima surat ini tak boleh pergi mencari mereka, kini kita sudah bersaudara asal hiante turut serta disamping Ih heng ke mana Ih heng pergi, bukankah apa kau inginkan bisa terpenuhi segera? Sebetulnya kata kata semacam ini lebih tak pakai aturan lagi, rupanya ia sengaja berbuat kesemuanya itu tak lain hanya ingin berada bersama sama dengan Thi Eng khi selama berapa waktu. Thi Eng khi ingin cepat cepat menemui ibunya, diapun tidak banyak berbicara lagi, dengan girang serunya : "Toako, Kau baik sekali, siaute ucapkan terima kasih dahulu..." Sampai disini, tentunya pembaca sekalian dapat menduga bukan siapa gerangan pemuda tampan ini? Dia memang tak lain adalah Ciu Tin tin, putri dari Gin san kiam kek Ciu Cu giok yang pernah dijumpainya dipuncak Bong soat hong bukit Wusan pada setahun berselang. Dia telah salah menyangka ayah Thi Eng khi yang telah menjadi pendeta, Lan Ih cu tok Thi Tiong giok sebagai ayahnya sendiri, dengan tekad untuk menebus dosa ayahnya, dia telah mencurahkan segenap semangat dan pikirannya untuk melindungi Thian liong pay, disamping itu lantaran ia mengagumi kegagahan Thi

385
Eng khi, secara diam diam ia telah berencana untuk menyerahkan tubuhnya kepada pemuda itu. Dalam setahun ini, dia telah berhasil menyelidiki banyak sekali rahasia dunia persilatan, juga secara diam diam telah melakukan banyak pekerjaan untuk Thian liong pay. Diantara sekian banyak usaha yang dilakukannya, antara lain adalah usahanya untuk menggagalkan rencana Huan im sin ang untuk menghasut Tiang pek lojin dan menariknya untuk membantu pihak iblis tersebut. Orang bilang siapa punya hati yang mulia dia akan memperoleh pembalasan yang setimpal, walaupun dalam tugasnya itu hampir saja jiwanya melayang tapi diluar dugaan iapun berhasil bertemu kembali dengan Thi Eng khi. Sejak diobati lukanya oleh Thi Eng khi setelah berpisah sekian lama, rasa cintanya kepada pemuda itu makin membara, dia telah bertekad untuk mengikuti terus disamping pemuda pujaan hatinya ini. Sebagai gadis yang cerdik, diapun memahami kemungkinan kemungkinan yang akan menjadi rintangan dalam usaha menggalang cinta kasih dengan pemuda itu. Karenanya dia segera menggunakan kecerdasan otaknya untuk

mengajak Thi Eng khi angkat saudara, kemudian saling tertukar barang kenangan, hal mana akan menjalinkan hubungan yang lebih akrab lagi diantara mereka berdua. Kemudian diapun menggunakan alasan isi surat yang diperolehnya untuk menciptakan suatu kesempatan untuk melakukan perjalanan bersama dengan pemuda pujaan hatinya. Setelah segala sesuatunya berlangsung dengan lancar, dia baru membawa Thi Eng khi untuk pergi mencari ibunya. Sepanjang jalan menuju kearah timur, dia selalu berusaha untuk memilih jalan yang lebih jauh, sehingga perjalanan yang seharusnya

386
bisa ditempuh dalam tiga hari telah mereka tempuh selama dua puluh hari lebih. Betul juga, dalam dua puluh hari yang amat lama ini, hubungan antara "kakak" dan adik ini terjalin akrab sekali, bahkan boleh dibilang sudah mencapai keadaan yang tak bisa dipisahkan lagi. Thi Eng khi merasa 'toakonya' ini mempunyi pengetahuan serta kecerdasan yang luar biasa, sifatnya lembut dan cara kerjanya amat cermat sehingga hubungannya dengan sang toako' inipun terasa akrab sekali. Hari itu mereka telah tiba di Kang-im. Kang im merupakan sebuah kota yang terletak ditepi sungai, selain merupakan pusat perdagangan juga merupakan bandar yang penting artinya bagi daerah sepanjang sungai Tiang kang. Jilid 12 SETELAH bersantap malam, menelusuri cahaya matahari senja, mereka berjalan ditepi sungai sambil menikmati keindahan alam. Jalan punya jalan, tiba tiba Thi Eng khi berkerut kening dan menghela napas tiada hentinya, Ciu Tin tin mengerti apa yang menjadi beban pikiran Thi Eng khi, maka dengan lembut, katanya : "Adik Eng, lagi lagi kau tak senang hati?" Thi Eng khi tidak berbicara apa apa, dia hanya tersenyum belaka. Tiba tiba Ciu Tin tin berkata lagi : "Adik Eng, sekarang Ih heng hendak memberitahukan suatu kabar gembira kepadamu, besok kita sudah akan mencapai ditempat tujuan. "Sungguhkah itu?" jerit Thi Eng khi dengan gembiranya.

387
Kapan sih toakomu pernah membohongi dirimu? jawab Ciu Tin tin sambil tersenyum. Thi Eng khi segera menggenggam tangan Ciu Tin tin dan berseru : ''Oooh toako.... toako .... aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu? Agak merah sepasang mata Ciu Tin tin, ujarnya kemudian : "Asal kau tidak merasa muak atau bosan kepada toako, toako sudah merasa puas sekali." Tentu saja Thi Eng khi tak akan mengerti akan rasa cinta Ciu Tin tin kepadanya, melihat sepasang matanya menjadi merah, dengan perasaan tak tenang ia berseru : Toako, kau.... kau...."

Ciu Tin tin segera memaksakan diri un tuk tertawa, tukasnya. Aku tidak apa apa, cuma mataku kemasukan debu saja...." Pada saat itulah, dari depan sana muncul seorang lelaki kekar, ketika berpapasan muka kebetulan Ciu Tin tin mendongakkan kepalanya dan menengok sekejap ke arahnya. Mendadak dengan paras muka berubah hebat, dia menjerit tertahan. Thi Eng khi tak tahu apa yang telah terjadi, dengan perasaan kuatir dan ingin tahu dia lantas menegur : ''Toako kenapa kau?" Ciu Tin tin segera membentur tubuh Thi Eng khi dengan bajunya, kemudian menjawab : Aduuh hiyung..... giginya sakit lagi!" Dengan cepat Thi Eng khi mengerti pasti ada sesuatu yang tak beres, tapi dia menahan diri dan membungkam diri dalam seribu bahasa.

388
Menanti lelaki itu sudah pergi jauh, Ciu Tin tin baru menuding bayangan tubuh lelaki itu sambil berkata : "AdiK Eng, tahukah kau siapa gerangan orang tadi? Siaute belum lama terjun kedalam dunia persilatan, orang yang kukenalpun masih terbatas sekali, toako tak usah mengetes diriku lagi." Dia tak lain adalah Hek bin bu pa (raja lalim bermuka hitam) To Thi gou, salah seorang diantara Cap sah Tay poo yang pernah kau sebutkan kepada kami." Berbicara sampai disitu, biji matanya segera diputar, mendadak dia menjerit tertahan. "Aduh celaka! Adik Eng, kita tak bisa berdiam lebih lama lagi di Kang im ini!" Kemudian sambil menarik tangan Thi Eng khi, dia segera mengejar ke arah mana Hek bin bu pa To Thi gau melenyapkan diri tadi. Dalam waktu singkat kedua orang itu berhasil mengejar si raja lalim bermuka hitam To Thi gou, tampak orang itu memasuki rumah suatu keluarga miskin. Dengan suara lirih Thi Eng khi segera berbisik. Toako, mari kita menyelinap kesana, coba kita lihat apa yang sedang ia lakukan di sana?" Ciu Tin tin segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya. "Tak usan dilihat lagi, Ih heng sudah dapat menebak garis besarnya.

389
Darimana kau bisa menduganya? Coba terangkan kepada siaute." Sambil memperketat larinya sehingga tubuhnya meluncur kedepan secepat sambaran kilat, Ciu Tin tin berkata : "Sekarang aku tak sempat memberikan keterangan, nanti saja, setelah berjumpa dengan Pek bo, kau akan tahu dengan sendirinya!" Mendengar kalau perjalanan itu menuju ke rumah ibunya, Thi

Eng khi menjadi girang sekali, diapun tidak bertanya apa apa lagi, dengan suatu gerakan cepat dia turut meluncur ke depan. Setelah melakukan perjalanan sekian waktu akhirnya muncullah sebuah bukit kecil didepan sana, dikaki bukit terdapat beberapa buah rumah petani, sambil menuding ke arah salah satu rumah gubuk berdinding batu yang berdiri sendiri didepan sana, Ciu Tin tin berkata : Pek bo berada didalam rumah gubuk itu." Ternyata dia hapal sekali dengan jalanan ditempat itu, seakan akan sedang kembali ke tempat yang dikenal saja, hal mana segera menimbulkan kecurigaan dalam hati Thi Eng khi, dengan cepat dia menegur : Toako, tampaknya kau sudah pernah datang kemari?" Ciu Tin tin segera tertawa. Kali ini kau berhasil menebaknya dengan jitu, benar, memang akulah yang menghantar pek bo sekalian datang kemari!" Tak terlukiskan rasa haru Thi Eng khi menghadapi kenyataan ini, tiba tiba serunya dengan tercengang : "Toako, sebenarnya siapakah kau? Ciu Tin tin tidak langsung menjawab pertanyaan itu, sebaliknya hanya bergumam seorang diri : Setelah Ing heng menghantar Pek bo sekalian datang kemari, akupun pergi mencari kabar tentang dirimu, diluar dugaan

390
kutemukan surat yang ditinggalkan Pek bo telah terjatuh ke tangan Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji. Maka toako pun menukar kertas surat itu dengan giok bei milikku? sambung Thi Eng khi sambil menghela napas panjang. Setelah berhenti sejenak, dengan kening berkerut dia melanjutkan : "Lantas, mengapa toako tidak memberitahukan hal itu kepada siaute semenjak dulu? Paras muka Ciu Tin tin berubah agak merah, sahutnya dengan segera : "Tentu saja dibalik kesemuanya itu masih ada alasan lain yang.... yang tak dapat diberitahukan kepadamu! Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah sampai didepan pintu rumah gubuk. Ciu Tin tin segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat untuk Thi Eng khi. Sebelum masuk kedalam rumah, Thi Eng khi telah berteriak berulang kali. "Ibu! Ibu! Eng ji telah pulang....... anak Eng telah pulang...." Dia langsung menyerbu masuk kedalam. Tiba dalam ruangan tampak ibunya sedang berdiri diruang tengah dengan wajah termangu, sepasang matanya terbelalak lebar, sekujur tubuhnya gemetar keras, jelas saking terkejut dan girangnya ia sampai gelagapan dibuatnya. Kecuali ibunya, dalam ruangan itu tidak tampak Thian liong ngo siang lainnya.

391

Berhadapan dengan ibunya, Thi Eng khi belum sampai berpikir ke soal lain, dengan cepat dia memburu ke depan dan menjatuhkan diri berlutut,katanya dengan air mata bercucuran : "Ibu.... ananda telah kembali.... Yap Siu ling segera sadar kembali dari lamunannya dan menahan air matanya yang hampir meleleh keluar. Kemudian dengan wajah dingin seperti es katanya : Sewaktu pergi dulu, kau nampak gagah dan perkasa, apakah sekarang kau pulang kembali dengan tiada suatu perubahanpun!" Oleh karena pada mulanya dia menolak Thi Eng khi berlatih silat maka akibatnya sekarang dia menginginkan anaknya bisa cepat cepat menjadi seorang pendekar yang luar biasa. Dengan ketakutan Thi Eng khi berseru : "Ananda sama sekali tidak mengecewakan harapan kau orang tua, ananda telah berhasil menemukan kembali kitab pusaka Thian liong pit kip." Oooh....oohhh...." Yap Siau ling berseru tertahan, ia segera menarik tubuh Thi Eng khi dan memeluknya erat erat, katanya sambil melelehkan air mata karena girang. "Oooh anakku,...oooh anakku! Betul betul aku telah menyusahkan dirimu...." Kini Thi Eng khi sudah berusia dua puluh tahun, dia telah menjadi seorang pemuda tanggung malah tubuhnya jauh lebih tinggi dari tubuh ibunya, tentu saja ia merasa rikuh dalam pelukan ibunya terutama sekali berada dihadapan seorang toakonya yang hingga kini belum diketahui namanya. Maka setelah menenangkan hatinya, diapun berkata kepada ibunya dengan suara lembut. "Ibu, kita masih ada tamu ..."

392
Kemudian sambil berpaling, teriaknya : Toako.. Siapa tahu bayangan tubuh dari toakonya yang masih belum diketahui namanya itu sudah lenyap tak berbekas. Yap Siu ling semenjak tadi berdiri didepan pintu, kecuali Thi Eng khi, boleh dibilang ia belum menyaksikan ada orang kedua yang memasuki ruangan itu, maka dengan keheranan tanyanya : Toako apa?" Thi Eng khi sampai kini masih belum mengetahui siapa nama "toako nya itu, mendapat pertanyaan tersebut, pipinya berubah menjadi merah padam, katanya agak tersipu. "Toako adalah si manusia bermantel perak yang telah mengatur kau orang tua untuk menetap ditempat ini." "Oooh. rupanya dia (perempuan), apakah dia juga turut datang kemari? "Atas petunjuk dari toakolah, ananda baru berhasil sampai disini. "Apa toako, toako?'' tegur Yap Siu ling sambil berkerut kening, Eng ji, usiamu sudah tidak muda lagi. Kenapa dalam hal sopan santun makin lama semakin berkurang? Orang lain telah berjuang mati matian demi keluarga Thi kita, sedang kau... Belum habis dia berkata, mendadak dari balik ruangan muncul seorang nona berbaju putih yang segera menukas pembicaraan itu.

Pek bo, Tin tin mengucapkan selamat kepadamu atas keberhasilan kau orang tua berjumpa kembali dengan putramu! Yap Siu ling segera meninggalkan Thi Eng khi dan maju ke depan memeluk Ciu Tin tin, katanya sambil membelai tubuh gadis itu dengan penuh kasih sayang :

393
Nak Pek bo tak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih kepadamu...?" Oooh Pek bo, kau. kau orang tua terlalu baik kepada keluarga Ciu kami! Agaknya Yap Siu ling merasakan pula kepedihan yang dalam namun diluaran dia bersikap seperti amat riang, katanya : Nak, jangan kau pikirkan persoalan yang lain, apalagi siapapun tidak bersalah, hanya nasib kita semualah yang kurang baik. Dia lantas berpaling bermaksud untuk memperkenalkan Thi Eng khi tapi dijumpainya pemuda itu sedang berdiri tertegun disana tanpa berkutik sedikitpun juga, seakan akan sedang merasa sedih dan murung. "Heran, kenapa dengan bocah ini? demikian Yap Siu ling berpikir. Dengan cepat dia lantas menegur : "Anak Eng, kenapa kau hanya termangu mangu saja?" Dengan cepat Thi Eng khi tersentak bangun dari kagetnya, untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi situasi yang serba rikuh ini. Ketika ia berjumpa dengan "toako"nya untuk pertama kali dulu walaupun terasa olehnya kalau wajah orang itu pernah dikenalnya, namun ia tak mengira orang itu adalah Ciu Tin tin, setelah melihat Ciu Tin tin mengenakan pakaian perempuan, ia baru menyadari keadaan yang sesungguhnya. Ia bukan seorang pemuda yang bodoh, terbayang kembali apa yang dialaminya di sepanjang jalan sudah barang tentu dapat diduga olehnya apa gerangan yang dipikirkan Ciu Tin tin. Dia cukup memahami posisi Ciu Tin tin, lebih lebih menambah simpatik terhadap sikap gadis itu, tapi ia telah salah menganggap terhadap perasaan nona yang sebenarnya.

394
Ia menggangap gadis itu membaiki dirinya dan selalu membantu usahanya karena dia ingin menebus dosa ayahnya, sebagai seorang lelaki sejati mana mungkin dia dapat menerima pelampiasan cinta yang bukan timbul dari dasar hati yang jujur ini? Tentu saja kalau dibilang ia sama sekali tidak menaruh perasaan tertarik dan kagum terhadap gadis cantik dan pintar seperti Ciu Tin tin ucapan itu hanya perkataan bohong namun dia mempunyai jalan pemikirannya sendiri, ia boleh saja tidak mempersoalkan pertikaian antara Gin san kiam kek dengan keluarganya, akan tetapi dia enggan untuk menerima pembalasan yang tidak menurut jalan yang sebenarnya itu. Oleh karenanya, dia harus mengelabuhi perasaan sendiri, juga mengesampingkan perasaan Ciu Tin tin kepadanya. Pelbagai pikiran segera berkecamuk dalam benak pemuda ini,

pikir punya pikir, dia menjadi agak terlena. Setelah ditegur oleh ibunya, dia baru cepat cepat menyahut : "Aaah.... tidak apa apa! Yap Siu ling sendiripun merasa tidak leluasa untuk mendesak anaknya dihadapan Ciu Tin tin, maka sambil tersenyum dia lantas berkata : "Anak Eng, coba lihat bukankah enci Tin adalah toakomu? Nak, kau benar benar terlalu gegabah!" Thi Eng khi tak sempat menghindarkan diri lagi, terpaksa dia menjura lalu ujarnya dengan nada yang tak leluasa : ''Aku menjumpai nona Ciu!" Sikapnya semakin menjauh dan seakan akan berusaha untuk memberikan suatu jarak tertentu. Ciu Tin tin tampak agak sedih, tapi dia pun membalas hormat tanpa mengucapkan sepatah katapun.

395
Yap Siu ling yang merasa tidak leluasa menyaksikan keadaan itu, kepada Thi Eng khi segera tegurnya : Kini sang kakak telah berubah menjadi enci, anak Eng, kau seharusnya menyebut enci Tin kepadanya! Thi Eng khi memang seorang anak yang berbakti ia tak berani membangkang perintah ibunya, terpaksa dengan nada kaku panggilnya : "Enci Tin!" Ciu Tin tin merasakan hatinya amat gundah, getir dan pahit terasa bercampur aduk dalam hatinya, diapun berseru : "Adik Eng!" Dia merasa usahanya selama ini hanya sia sia belaka, tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam hatinya kini. Tapi dia tetap mempertahankan sikapnya yang terbuka dan supel sambil memaksakan sebuah senyuman, katanya kepada Yap Siu ling : "Pek bo, setelah berjumpa dengan anakmu, sudah pasti banyak persoalan yang hendak kalian bicarakan, biarlah titli mohon diri lebih dulu untuk sementara waktu, sekalian menyiapkan hidangan untuk adik Eng." Selesai berkata dia lantas mengundurkan diri dari situ. Yap Siu ling segera menemukan suatu kekakuan dan ketegangan diantara kedua orang ini tapi berhubung Thi Eng khi baru pulang, dia merasa kurang leluasa untuk menekannya terlalu hebat, terpaksa masalah itu disimpan dalam hati sambil mencari kesempatan lain untuk dibicarakan lebih jauh. Yap Siu ling mengawasi Thi Eng khi beberapa saat lamanya, kemudian sambil menghela napas panjang katanya : Eng ji, cepat ceritakan kisah pengalamanmu selama setahun lebih ini kepada ibu.

396
Thi Eng khi segera manggut manggut, diapun menceritakan apa yang dialaminya selama ini dengan seksama. Yap Siu ling mendengarkan dengan serius, adakalanya dia merasa berdebar dengan perasaan tercekat, kemudian kejut

bercampur girang sampai lama kemudian ia baru menghembuskan napas panjang, katanya : Terima kasih langit, terima kasih bumi, rupanya Kong kong dia orang tua masih hidup sehat didunia ini. Thi Eng khi manggut manggut, katanya : "Oleh karena ananda berhasil mempelajari kitab pusaka itu lebih awal dua bulan dari waktu yang ditentukan, maka ananda bermaksud untuk menunggu saat untuk berjumpa dengan dia orang tua, tapi kemudian setelah kutemukan pesan dari dia orang tua ada urusan harus pergi dan bisa menunggu lebih jauh, terpaksa dengan perasaan kecewa ananda kembali kedaratan Tionggoan." Menyusul kemudian, Yap Siu ling pun mengisahkan pengalamannya sampai pindah ketempat itu kepada Thi Eng khi. Ternyata sejak kepergian Thi Eng khi setiap hari Yap Siu ling dan Thian liong su siang merasa kuatir dan tak tentram. Semenjak terluka oleh ilmu jari Jit sat ci dari Huan im sin ang, makanan sehari hari dari Thian liong su siang harus disediakan oleh Yap Siu ling, sudah barang tentu tak mungkin bagi mereka untuk pergi mencari kabar berita diluaran. Sebaliknya Yap Siu ling sendiripun tak lebih hanya seorang perempuan yang belum pernah keluar rumah, soal dunia persilatan sama sekali tidak dipahami olehnya, tentu saja lebih lebih tak mungkin baginya untuk mengadakan kontak dengan dunia luar. Maka, semua orangpun terpaksa hanya tinggal di "rumah" sambil menahan rasa gelisah yang makin hari makin meningkat. Masa masa selama ini bagi mereka boleh dibilang merupakan masa masa yang paling berat, ketika ditunggu sampai tujuh delapan

397
bulan lamanya tetap tak nampak Thi Eng khi balik kembali, saking cemasnya hampir saja mereka menjadi gila. Suatu hari, ketika malam telah tiba, ruangan Thian liong Tong hanya diterangi oleh sebuah lentera kecil. Waktu itu Yap Siu ling sedang menyiapkan hidangan didalam dapur, sedangkan Thian liong su siang ngobrol diluar. Pada saat itulah tiba tiba tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat, tahu tahu seorang yang bermantel perak telah melayang turun didepan pintu ruang Thian liong tong. Mantel berwarna kuning perak merupakan ciri khas dari Gin san kiam kek (jago pedang berbaju perak) Ciu Cu giok, sebagai sahabat karib ayah Thi Eng khi yakni Thi Tiong giok, tentu saja Thian liong su siang mengetahui dengan jelas tentang hal ini. Itulah sebabnya begitu melihat mantel berwarna perak muncul disana tanpa berpikir panjang lagi mereka lantas mengira Gin san kiam kek Ciu cu giok telah datang kesana. Sejak Thian liong pay mengalami musibah, Gin san kiam kek Ciu Cu giok tak pernah berkunjung lagi ke gedung Bu lim tit it keh ini, oleh karena itu didalam pandangan Thian liong su siang, ia sudah bukan sahabat karib partai Thian liong pay lagi. Sin lui jiu (si tangan geledek) Kwan Tin say yang paling berangasan kontan saja tertawa dingin tiada hentinya, kemudian tegurnya : "Hey orang she Ciu, kau masih ingat kalau dirimu adalah sahabat

Thian liong pay. Ciu Tin tin merasa amat terkejut, sama sekali tak disangka olehnya kalau pihak lawan menegurnya seperti itu. Untuk sesaat dia menjadi tertegun dan berdiri kaku didepan pintu, untuk beberapa saat lamanya ia tak berani masuk kedalam ruang sin tong.

398
Melihat orang itu berhenti dan tidak berani masuk, sekali lagi Sin liu jiu Kwan Tin say menegur dengan suara dalam : Ciu Cu giok, partai kami tidak membutuhkan teman seperti kau, lebih baik kembali saja! Sekarang Ciu Tin tin baru tahu kalau orang telah menganggap dia sebagai ayahnya maka dia lantas melangkan masuk ke dalam ruangan Sin tong. Tatkala Thian liong su siang berhasil melihat jelas raut wajahnya, tanpa terasa mereka menjerit tertahan, kemudian tegurnya : "Nona, siapakah kau? Ada urusan apa datang kemari? Ciu Tin tin berusaha keras berbicara dengan nada seramah dan selembut mungkin, katanya : Boanpwe bernama Ciu Tin tin, ayahku bernama Ciu Cu giok, sengaja ayah mengutus aku datang kemari untuk menyambangi locianpwe, sekalian hendak menyampaikan suatu persoalan penting." San tian jiu (Si tangan kilat) Oh Tin lam mendengus dingin. "Hmm, kalau toh ayahmu sudah tak sudi lagi melangkah masuk ke gedung ini, buat apa dia menyuruh kau datang kemari?" Ciu Tin tin sama sekali tidak mengubris suasana ditempat itu, katanya lagi dengan lembut : Sejak sembilan belas tahun berselang ayahku telah mencukur rambut menjadi pendeta, bahkan rumah sendiripun belum pernah pulang satu kali, mana mungkin ia berkunjung ke tempat lain? Bukan berarti beliau telah melupakan cianpwe sekalian." Mendengar perkataan itu, Thian liong su siang menjadi tertegun, hampir pada saat yang bersamaan mereka berseru : "Oooh.... rupanya ayahmu telah menjadi pendeta, kalau begitu kami telah salah menegurnya."

399
Sam ciat jiu (si Tangan sakti) Li Tin tiong segera tertawa getir, katanya : Kami berempat telah terluka parah dan tidak leluasa untuk berjalan, terpaksa kami mempersilahkan nona Ciu untuk duduk disembarangan tempat, bila pelayanan kurang baik, harap nona suka memaafkan." Ciu Tin tin memandang sekejap sekeliling ruangan, menyaksikan dinding ruangan yang kotor dan penuh sarang laba laba, kejut juga perasaannya, ia lantas mencari sebuah kursi dan duduk. Menanti nona itu sudah duduk, Pit tee jiu (Tangan sakti penutup tanah) Wong Tin pak baru berkata : Boleh aku tanya ada urusan apakah nona Ciu datang kemari hari ini.....?" Dengan berterus terang Ciu Tin tin segera membeberkan maksud

kedatangannya. Dalam dunia persilatan tersiar kabar yang mengatakan kalau Thi sauhiap, ciangbunjin angkatan kesebelas dari Thian liong pay telah dibekuk orang di Benteng keluarga So di luar perbatasan, Tiang pek lojin So locianpwe telah menuduh perbuatan ini hasil pekerjaan dari Siau lim dan Bu tong dua partai besar. Kini ia telah membawa jago jago dari luar perbatasan datang mencari keadilan disini, sekarang mereka telah saling bersitegang dengan pihak partai Siau lim pay. Mendengar kabar tersebut, Thian liong su siang merasa terperanjat sekali sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Dari luar pintu kedengaran suara mangkuk yang terjatuh ke lantai dan pecah lalu nampak Yap Siu ling, ibu Thi Eng khi lari masuk kedalam ruangan dengan wajah pucat pias, dengan suara yang tak jelas serunya tergagap. Apa kau bilang? Kenapa dengan anak Engku?"

400
Begitu gelisah dan cemasnya menguatirkan keselamatan Thi Eng khi sehingga dia tak sempat memberi hormat kepada Ciu Tin tin. Mendengar dari ucapan tersebut, Ciu Tin tin segera mengetahui siapa gerangan perempuan ini, buru buru ia memayang Yap Siu ling sambil sahutnya : Menurut kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, konon Thi sauhiap telah ditawan oleh pihak Siau lim dan Bu tong pay, aku rasa tak mungkin ada bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya, pek bo, kau harus baik baik menjaga kesehatan tubuhmu, jangan sampai karena memikirkan yang bukan bukan berakibatkan kau orang tua menjadi jatuh sakit. Yap Siu ling adalah seorang perempuan yang berpengetahuan luas, sesudah tenang hatinya maka sikappun pulih kembali seperti sedia kala, kepada Ciu Tin tin ujarnya sambil tersenyum : Aku terlampau dipengaruhi emosi, harap kau jangan menertawakan." Sesudah berhenti sejenak ditatapnya wajah gadis itu lekat lekat, kemudian ujarnya lebih lanjut : Tadi nona memanggilku sebagai Pek bo entah.... Buru buru Ciu Tin tin menerangkan : "Ayahku dan Empek Thi adalah sahabat karib, itulah sebabnya titli sudah sepantasnya memanggil Pek bo kepadamu! Ayahmu adalah....?" Yap Siu ling kelihatan ragu. Diam diam Ciu Tin tin menyumpahi dirinya yang berbicara tidak jelas sehingga tidak menerangkan asal usulnya lebih dulu. Dengan wajah merah padam lantaran jengah, dia lantas berkata : Boanpwe she Ciu bernama Tin tin, ayahku bernama Ciu Cu giok, dengan empek Thi dibuat orang persilatan sebagai Bu lim siang giok (sepasang kemala dari dunia persilatan), masih ingatkah Pek bo?" Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Yap Siau ling, cepat cepat serunya :

401
Oooh.... rupanya Ciu Hian titli, silahkan duduk! Silahkan duduk.....!"

Ciu Tin tin segera membimbing Yap Siu ling duduk dikursi yang lain, sedangkan dia sendiri berdiri disamping perempuan itu, setelah mengulangi kembali apa yang dikatakan tadi, sambungnya lebih lanjut : Pihak Siau lim dan Bu tong pay tidak mau mengakui kalau pihak merekalah yang telah menculik Thi sauhiap, maka semua orang beranggapan hanya setelah Thi sauhiap ditemukan maka kesalahan paham ini baru dapat terselesaikan, kini akan berdatangan pelbagai manusia untuk mencari kabar dari para locianpwe sekalian." Bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya, dari mana kita bisa tahu? kata Yap Siu ling. Sin lui jiu Kwan Tin say berseru pula dengan suara keras : "Kami akan menutup pintu dan menolak untuk berjumpa dengan siapapun.! Dengan kening berkerut, Ciu Tin tin segera menambahkan : Menurut hasil penyelidikan titli dan ayahku, dapat diketahui kalau masih ada kelompok manusia yang sebetulnya sedang menciptakan kekacauan dalam dunia persilatan walaupun mereka tahu kalau locianpwe sekalian tidak tahu tentang jejak Thi sauhiap akan tetapi sengaja mereka susun rencana busuk untuk mencelakai kalian semua agar pihak siau lim dan Bu tong disatu pihak semakin menaruh kesalahan paham terhadap Tiang pek lojin dilain pihak." Mendengar perkataan itu Yap Siu ling sekalian menjadi amat terperanjat, buru buru serunya : Aaaah, masa telah terjadi peristiwa semacam ini?" "Ayahku telah melihat dan mendengar dengan mata kepala sendiri, sudah barang tentu berita ini dapat dipertanggungjawabkan! Tergerak hati sam ciat Li Tin tiong setelah mendengar ucapan ini, tiba tiba muncul kewaspadaan dihatinya, dia lantas berseru cepat :

402
Kalau toh berita ini diperoleh ayahmu, mengapa ia tidak datang sendiri kemari? Sedang menurut perkataan nona Ciu tadi, semenjak menjadi pendeta ayahmu belum pernah pulang ke rumah, lantas darimana nona Ciu bisa mengetahui akan persoalan ini?" Rasa sedih segera menyelimuti wajah Cui Tin tin, sahutnya : Dalam kenyataan sudah dua puluh tahun lamanya ayahku meninggalkan rumah, setengah tahun berselang, titli mendapat perintah dari ibuku untuk mencari jejak ayahku, sampai akhirnya berhasil kujumpai secara tak terduga di bukit Wu san, selama setengah tahun ini, titli selalu melangsungkan hubungan kontak dengan ayahku, itulah sebabnya kali ini ayahku telah menitahkan kepada titli untuk datang menyampaikan kabar, sekalian mengaturkan tindakan yang harus cianpwe sekalian ambil. Yap Siu ling dan Thian liong su siang berpandangan sekejap, kemudian termenung dan membungkam dalam seribu bahasa, untuk sesaat lamanya mereka tak dapat mengambil keputusan. Untuk berlomba dengan waktu, Ciu Tin tin segera mengeluarkan sebilah pedang pendek dari dalam sakunya, lalu diserahkan kepada Yap Siu ling, ujarnya : Sebelum meninggal dunia dulu, empek Thi telah menyerahkan pedang pendek ini kepada ayahku sambil berpesan untuk melindungi

keselamatan Pek bo, setelah Pek bo memeriksa pedang ini, tentunya akan mengetahui kalau perkataan titli bukan kosong belaka." Pedang pendek itu merupakan tanda pengenal dari Thi Tiong giok selama berkelana didalam dunia persilatan, menyaksikan benda tersebut Yap Siu ling menjadi teringat kembali dengan pemiliknya, tak tahan lagi ia menangis tersedu sedu. Apakah ayahmu telah menyaksikan sendiri kematian dari empek Thimu? katanya. Ciu Tin tin cukup mengerti, seandainya ia membeberkan keadaan yang sesungguhnya sudah pasti hal mana akan berakibat timbulnya keadaan yang tidak diinginkan, terpaksa jawabnya :

403
Persoalan ini panjang sekali kalau dibicarakan, dikemudian hari pasti akan titli ceritakan, sekarang harap pek bo sekalian percayai diri titli untuk....." Dengan menggunakan kerlingan matanya Yap Siu ling minta pertimbangan dari Thian liong su siang, kemudian katanya dengan wajah serius : Titli jauh jauh datang kemari dengan maksud baik, masa aku akan menaruh curiga kepadamu! Ciu Tin tin segera menghembuskan napas panjang katanya : Titli sengaja datang kemari untuk mengajak Pek bo sekalian mengungsi ke suatu tempat yang aman guna menghindarkan diri dari bencana besar ini. Yap Siu ling segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Aku rasa kami tak bisa pergi dari sini," katanya, selain itu, kamipun tak bisa pergi sebab seandainya Eng ji sampai balik kemari dia harus pergi kemana untuk mencari kami sekalian." Demi Thi sauhiap, Pek bo sekalian sekalian sepantasnya kalau segera mengungsi sebab andaikata Pek bo sekalian sampai ketimpa sesuatu musibah, apakah Thi sauhiap bisa hidup dengan hati yang tentram? Setelah perundingan dilakukan akhirnya Yap Siu ling memutuskan untuk meninggalkan sepucuk surat buat Thi Eng khi dan pada malam itu juga dipimpin oleh Ciu Tin tin mereka berangkat ke bukit Hong san dekat kota Kang im untuk menetap. Kemudian ke empat orang dari Thian liong ngo siang yang terluka parah, tahu tahu pada suatu tengah malam telah diobati seseorang sehingga luka dalam yang mereka derita sembuh sama sekali. Selesai mengobati mereka, orang itu pun telah meninggalkan catatan tentang beberapa macam kepandaian sakti aliran Thian liong pay, untuk mempelajari kepandaian tersebut, kini mereka telah berpindah kesuatu tempat lain yang lebih sepi dan terpencil.

404
Ciu Tin tin sendiri membutuhkan waktu selama hampir satu bulan lebih untuk menarik kesan baik dari Yap Siu ling, kemudian ia baru membeberkan kisah sedih yang telah menimpa keluarga Ciu serta keluarga Thi. Mendengar kisah sedih itu, sudab barang tentu Yap Siu ling merasa sedih sekali tapi dia adalah seseorang yang cukup mengetahui tentang keadaan, lagipula kejadian sudah berlangsung,

bukan saja dia tidak menyalahkan Ciu Tin tin ataupun ayahnya Ciu Cu giok, malahan dia merasa terharu sekali oleh semangat serta pengorbanan yang diberikan Ciu Tin tin selama ini, hal mana membuatnya semakin menyayangi gadis itu dan menganggapnya sebagai putri kandung sendiri. Demikianlah, ketika Yap Siu ling dan Thi Eng khi sedang saling menuturkan pengalaman yang telah mereka alami, mendadak dari luar pintu sana kedengaran Ciu Tin tin sedang membentak keras : Siapa disitu? Berhenti! Thi Eng khi sangat terkejut, dengan cepat dia melompat ke depan pintu pula untuk memeriksa. Tampaklah seorang pengemis tua yang berpakaian compang camping dan berwajah dekil, berambut kusut sedang melompat mendekat dengan kaki tunggalnya. Pengemis berkaki tunggal itu sudah tua, bila dilihat dari kemampuannya untuk melompat mendekat, bisa diketahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna sekali. Dalam sekilas pandangan saja Thi Eng khi dapat mengenalinya sebagai kakak seperguruan dari ketua Kay pang sekarang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang bernama To kak thi koay (kaki tunggal tongkat baja) Li Goan gwee atau dengan perkataan lain salah seorang diantara Cap sah tay poo ciptaan Huan im sin ang.

405
Memandang atas hubungan pengemis berkaki tunggal ini dengan si pengemis sakti bermata harimau tanpa terasa Thi Eng khi berkerut kening dan menunjukkan keragu-raguannya. Sementara Thi Eng khi masih termenung sikaki tunggal bertoya baja Li Goan gwee telah berhenti dihadapan Ciu Tin tin dan membuka suara untuk berbicara. Suaranya keras dan lantang ibarat guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong. Terdengar ia berkata dengan sikap yang amat menghormat : Lohu adalah To kak thi koay (kaki tunggal toya baja) Li Goan gwee dari Kay pang boleh aku bertanya kepada nona, apakah ketua Thian liong pay Thi sauhiap, saudara kecil Thi tinggal disini? Didalam dunia persilatan si Kaki tunggal tongkat besi Li Goan gwee mempunyai nama yang amat termashur, tentu saja Ciu Tin tin juga mengetahui akan hal ini, tapi oleh kerena dalam hatinya masih ada urusan, maka dia tak berhasil mengenalinya tadi. Tapi setelah mendengar pihak lawan menyebutkan namanya, diam diam ia baru berseru dalam hati kecilnya : "Sungguh memalukan! Sambil tersenyum, dia lantas menyahut : "Ooooh... rupanya Li locianpwe yang telah datang, boanpwe Ciu Tin tin telah bersikap kurang hormat, harap locianpwe memakluminya! To kak thi koay, Li Goan gwee memperhatikan beberapa kejap ke arah mantel berwarna perak yang dikenakan Ciu Tin tin itu, kemudian dengan wajah tercengang serunya lagi : Nona mengenakan mantel berwarna perak milik Gin san kiam keh Ciu lote, entah apa hubungan nona dengannya?

"Dia orang tua adalah ayah boanpwe," jawab Ciu Tin tin cepat sambil menundukkan kepalanya.

406
To kak thi koay Li Goan gwee semakin gembira lagi, serunya dengan cepat : "Aku sipengemis tua adalah sahabat karib ayahmu dimasa lalu, sudah sepantasnya bila aku menyebutmu sebagai Hian titli (keponakan perempuan)! Sudah hampir dua puluh tahun lamanya ayahmu tak pernah muncul didalam dunia persilatan, apakah belakangan ini dia berada dalam keadaan baik baik? Sikap Ciu Tin tin berubah menjadi amat sopan sekali, dia lantas memanggil pengemis itu sebagai empek Li. Empek Li! sahutnya, ayahku telah merasa jemu dengan kehidupan keduniawian, maka sekarang beliau sudah menjadi seorang pendeta semenjak dua puluh tahun berselang!" Mendengar itu, si kaki tunggal bertongkat besi Li Goan gwee menghela napas panjang. Aaai.... dimasa mudanya dulu ayahmu adalah seorang pendekar yang sangat lihay sungguh tak disangka dia adalah seorang yang berjodoh dengan kaum Buddha!" Menyusul kemudian sambil menepuk kaki tunggal sendiri dan menunjukkan wajah menyesal, lanjutnya : Tempo dulu, seandainya aku si pengemis ini tidak memperoleh pertolongan dari ayahmu, mungkin kaki tunggalku ini berikut selembar nyawa tuaku juga turut melayang, aaai... kalau teringat oleh kegagahan ayahmu dimasa lampau, aku merasa amat sedih sekali." Pengemis tua itu hanya ribut dengan perasaan sendiri, ternyata dia telah melupakan tugasnya datang ke situ. Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian itu diam diam lantas berpikir :

407
Entah rencana busuk apakah yang sedang dipersiapkan olehnya? Aku tak boleh membiarkan dia untuk mengembangkannya lebih lanjut, bisa amat berbahaya nantinya! Berpikir sampai disitu, dia lantas berpekik nyaring dan melangkah keluar pintu dengan tindakan lebar. Ciu Tin tin segera menyingkir kesamping sambil memperkenalkan : Empek Li, dialah Thi sauhiap kita!" Si Kaki tunggal bertongkat besi Li Goan gwee segera mendongakkan kepalanya dan terbahak bahak. Haaaahhh.... haahhh.... haaahhhh.... pangcu pernah membicarakan tentang kelihayan saudara cilik serta keberanian yang luar biasa, hal mana sungguh membuat aku si pengemis tua merasa kagum sekali! Sembari berkata dengan sepasang telapak tangannya yang besar dia siap menepuk bahu anak muda itu. Dengan cekatan Thi Eng khi mundur selangkah kebelakang dan menghindarkan diri dari tepukan sepasang tangannya itu, Si Kaki

tunggal bertongkat baja Li Goan gwee agak tercengang tapi kemudian ia tertawa tergelak kembali : "Haaahh.... haaahhh..... haahhh.... saudara cilik..... Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapksn, Thi Eng khi kembali telah berkata : "Belum berapa lama aku pulang ke rumah, cepat benar kabar berita yang kalian peroleh! Untuk kesekian kalinya si kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee dibuat tertegun kemudian dia merasa rikuh sekali. Dari pada pembicaraan si anak muda itu, Ciu Tin tin segera mendapat tahu kalau Thi Eng khi telah menyamakan si kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee sebagai satu komplotan dengan Hek

408
bin bu pa To Thi gou sekalian, buru buru dia menjelaskan : Empek Li adalah kakak seperguruan dari ketua Kay pang Cu locianpwe .....! "Aku tahu, julukannya adalah To kak thi koay! tukas Thi Eng khi dengan cepat. Dia memang amat membenci akan segala macam kejahatan, terutama sekali terhadap tindak tanduk Cap sah tay poo ciptaan Huan im sin ang, apalagi sejak Lak bin wangwee melepaskan serangan yang mematikan, timbul perasaan bencinya terhadap orang orang itu. Maka dari itu, ucapan yang kemudian diutarakan pun amat ketus sekali, sedikitpun tidak bersahabat. Ciu Tin tin tidak tahu kalau Thi Eng khi sudah mempunyai pandangan jelek terhadap si Kaki tunggal bertongkat baja Li Goan gwee, disangkanya pemuda itu memang sengaja hendak menyusahkan dirinya, tanpa terasa dia mundur selangkah dengan wajah sedih, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya. Si pengemis berkaki tunggal itupun kontan melototkan sepasang matanya bulat bulat dengan kemarahan yang berkobar ia mendengus dingin berulang kali. Kemudian setelah mendengus, dia menggunakan kesabaran yang paling besar ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring untuk melampiaskan semua kemarahan yang mencekam perasaan hatinya sekarang. Setelah hening beberapa saat kemudian, ia berkata pelan : "Anak murid kay pang tersebar diseluruh kolong langit gerak gerik sauhiap tak bisa lolos dari pandangan mata anggota perkumpulan kami, itulah sebabnya aku si pengemis tua dapat segera menemukan dirimu di tempat ini..... Sekarang kau sudah menemukan aku, ada urusan apakah yang hendak kau sampaikan?

409
Si pengemis berkaki tunggal Li Goan gwee benar benar merasa tidak tahan menghadapi keketusan dan keangkuhan Thi Eng khi tersebut, dengan wajah gusar dia menjawab : "Aku si pengemis tua mendapat perintah dari pangcu kami untuk menyampaikan sesuatu! Akan kudengarkan dengan seksama! jawab Thi Eng khi dengan nada suara yang jauh lebih lunak.

"Pangcu kami telah bertemu dengan Tiang pek lojin So locianpwe, atas pesan dari So locianpwe, dipersilahkan Thi cianbunjin berangkat kebukit Siong san untuk bersama sama menyusun rencana guna menolong keselamatan nona Bwe leng!" Thi Eng khi memang senang sekali akan kepolosan serta kelincahan So Bwe leng, itulah sebabnya diapun sangat memperhatikan keselamatan jiwanya, mendengar perkataan itu, dia menjadi tertegun, kemudian serunya : "Mengapa dengan adik Leng?" Sikap yang amat menaruh perhatian ini segera menimbulkan perasaan sedih dalam hati Ciu Tin tin. Lohu hanya menyampaikan kabar saja, keadaan yang sebenarnya kurang begitu jelas! ucap Li Goan gwee segera. Tiba tiba tergerak hati Thi Eng khi, segera pikirnya : Jangan jangan hal inipun merupakan siasat busuk yang disusun oleh Huan im sin ang?" Setelah mempunyai ingatan semacam itu dia tak ingin banyak berbicara lagi dengan Li Goan gwe, sambil menjura katanya kemudian : "Terima kasih banyak atas pemberitahuanmu itu!" Bukan saja tiada niatnya untuk mempersilahkan tamunya masuk, bahkan jelas sekali kalau dia sedang mengusir tetamunya.

410
Si pengemis berkaki tunggal bertongkat baja Li Goan gweed segera menghentakan kaki tunggalnya keatas tanah, sepasang matanya melotot besar karena gusar, sambil mendengus dingin serunya : "Lohu akan mobon diri lebih dahulu!" Dengan gaya ikan lehi melentik, tubuhnya segera mencelat sejauh beberapa kaki, kemudian didalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Memandang bayangan pungungnya itu, Thi Eng khi menghela napas panjang, gumamnya : Aku sih tak akan termakan oleh siasatmu itu! Gumamnya itu amat lirih lagipula tidak jelas ucapannya, Ciu Tin tin tidak sempat mendengarnya dengan jelas, sehingga tak tahan dia bertanya pula keheranan : Nona So cantik jelita dan cerdik sekali, bila dia sampai terjatuh ketangan Huan am sin ang hal mana benar benar mencemaskan sekali hati orang, apa rencana adik Eng selanjutnya? Dengan ucapannya itu sesungguhnya dia ingin menyelidiki sejauh manakah perasaan Thi Eng khi terhadap So Bwee leng. Sebagai seorang pemuda yang cerdas sudah barang tentu Thi Eng khi dapat menangkap maksud Ciu Tin tin yang sesungguhnya, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya. Lebih baik kuutarakan saja beberapa patah kata yang mesra dan hangat terhadap Leng, agar diapun bisa memadamkani niatnya untuk menebus dosa ayahnya...." Berpikir sampai disitu, dia segera berlagak amat menguatirkan keselamatan gadis tersebut, sahutnya : Pikiran dan perasaan siaute sekarang amat kalut, terpaksa akan kusampaikan kepada ibuku untuk segera melanjutkan perjalanan."

Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah, dia segera membalikkan badannya dan lari masuk keruangan dalam.

411
Dari kejauhan Thi Eng khi masih sempat mendengar suara isak tangisnya, hal mana justru melegakan hati pemuda ini. Sekarang tentunya kau akan mengurungkan niatmu itu! demikian dia berpikir. Kemudian dengan kening berkerut, dia rnenghela napas panjang, gumamnya lagi : "Aaaai....enci Tin, seandainya diantara kita tidak terdapat peristiwa yang memedihkan hati itu, hal mana sungguh baik sekali! Jelas terhadap Ciu Tin tin, sesungguhnya diapun menaruh perasaan cintanya.... Dalam keadaan demikian, Thi Eng khi merasa segan untuk kembali ke ruangan dalam, ia tak ingin menimbulkan kerikuhan pada diri Ciu Tin tin, maka ia lantas berjalan jalan disekitar rumah gubuk itu. Tanpa terasa, dia telah berjalan sejauh puluhan kaki dari tempat semula. Mendadak ia teringat kembali akan sebab musabab dia dan Ciu Tin tin sampai memburu pulang ke rumah, waktu itu adalah dikarenakan bertemu dengan Hek bin bu pa To Thi gou, itu berarti Huan im sin ang telah berhasil mengetahui tempat persembunyian ibunya dan bermaksud untuk mencelakai ibunya itu. Padahal dia sudah balik ke rumah sekarang, mengapa tidak ia laporkan hal ini kepada ibunya agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk menyingkir dari tempat tersebut? Berpikir sampai disitu, diam diam dia lantas memakai diri sendiri : "Aku benar benar semberono! Ia lantas membalikkan badannya siap berjalan balik.

412
Siapa tahu baru saja dia membalikkan badannya, tampaklah enam orang kakek berwajah menyeringai menyeramkan telah menghadang jalan perginya. Dalam kagetnya dia segera berpaling ke aran depan sana, tampaklah puluhan manusia lainnya telah mengurung rumah gubuk itu rapat rapat. Dalam cemasnya pemuda itu segera meloloskan pedang Thian liong kim kiam dari sarungnya, kemudian sambil menuding ke aran ke enam orang kakek tadi serunya : "Harap kalian menyingkir dari sini! Bunga pedang menggulung di udara dan langsung menerjang ke muka. Ke enam orang kakek itu tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, salah seorang diantaranya berkata sambil tertawa dingin : Anak muda, kau membawa pedang Thian liong kim kiam, rupanya engkaulah yang bernama Tni Eng khi? Sembari berkata, dia menggerakkan sepasang senjata kaitannya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut. Tujuan Thi Eng khi pada saat ini hanyalah berusaha untuk menerjang pulang ke rumah gubuk itu, dia sama sekali tidak berniat

untuk terlibat dalam pertarungan melawan mereka. Oleh sebab itu secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa kakek bersenjata kaitan itu terdesak mundur sejauh tiga langkah dari tempat semula. Tahan! mendadak seorang kakek lainnya membentak keras. Thi Eng khi segera menarik kembali serangannya, kemudian bertanya dengan suara dingin : "Kalau ingin berbicara, mari kita berbicara didepan rumah gubuk sana..........

413
Kakek itu segera tertawa licik, sahutnya : Tak usah kuatir Thi sauhiap, sebelum mendapat tanda perintah lohu, mereka tak akan bertindak kurang sopan terhadap ibumu. Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi : Thi Sauhiap, tahukah kau siapa lohu sekalian? Ada urusan apa datang kemari? Hmmm... paling paling juga kaki tangan Huan im sin ang, aku merasa tak perlu untuk mengetahui nama nama kalian!" Kakek bersenjata kaitan itu menjadi gusar sekali, segera bentaknya keras keras : Omong kosong! Siapa yang kesudian menjadi kaki tangannya Huan im sin ang. Ketika dilihatnya orang orang itu menyangkal diri mereka sebagai komplotannya Huan im sin ang, Thi Eng khi tampak agak tertegun juga, katanya kemudian : "Lantas siapakah kalian semua?" Suaranya juga jauh lebih lunak. Lohu sekalian adalah Yan san lak kiat (enam orang gagah dari bukit Yan san)! jawab kakek kedua. Setelah berhenti sejenak, dia memperkenalkan dirinya satu persatu : Lohu adalah Sin kou (kaitan sakti) Tio Yan kim! Kemudian yang lainpun menyusul : Lohu adalah Pak cui (Palu maut) Tio Yan Im!" Lohu adalah Im to (golok dingin) Tio Yan ci! Lohu adalah Yang cay (tombak panas) Tio Yan sang! Lohu adalah Tong tang (borgol tembaga) Tio Yan leng!

414
Lohu adalah Tong huan (gelang tembaga) Tio Yan siau!" Thi Eng khi tidak begitu mengetahui tentang asal usul Yan san lak kiat tersebut terpaksa katanya : "Selamat berjumpa!" Dengan menegur, si kaitan sakti Tio Yan kim segera berkata : "Sauhiap, pandai benar kau mencari kesenangan sendiri dengan menyusahkan orang lain! Tahukah kau bahwa para jago dari daratan Tionggoan dan luar perbatasan sudah siap melangsungkan pertumpahan darah gara gara hilangnya dirimu?" Dengan nada menyesal Thi Eng khi menyahut : Aku merasa menyesal sekali terhadap terjadinya kesalahan paham diantara sahabat sahabat persilatan atas terjadinya ini, sekarang aku memang bermaksud untuk berangkat ke bukit Siong

san untuk memberikan penjelasan agar sahabat dari luar maupun dalam perbatasan bisa bersatu padu untuk bersama sama menghadapi musuh kita yang sebenarnya. Sin kau Tio Yan kim kembali tertawa dingin : "Kalau memang sauhiap ada maksud untuk memunahkan kesalah pahaman itu kenapa kau tidak cepat cepat berangkat ke bukit Siong san untuk melerainya, sebaliknya bersikeras hendak menunggu sampai diselenggarakannya pertemuan besar itu?" Thi Eng khi segera dibikin terbungkam dalam seribu bahasa. Seharusnya ia memang musti berangkat dulu ke bukit Siong san untuk menjelaskan duduknya persoalan kemudian baru menyelesaikan persoalan lainnya. Sayang pengalaman yang dimiliki anak muda ini masih amat cetek, dia hanya memikirkan keselamatan ibunya serta ke empat orang susioknya yang terluka oleh pukulan Jit sat ci, oleb karenanya hal mana telah mengesampingkan persoalan yang sebenarnya maha penting itu. Dengan perasaan tidak tenang dia lantas bertanya :

415
Apakah Tio tayhiap berharap agar aku berangkat ke bukit Siong san sekarang juga?" Benar! Kami mendapat perintah dari ketua Siau lim dan ketua Bu tong untuk mengundang kehadiranmu." "Baik! kata Thi Eng khi kemudian dengan wajah serius, sekarang juga aku akan berangkat bersama kalian! Sambil berkata dia lantas melangkah maju kedepan dengan maksud menembusi ke punggung Yan san lak kiat untuk mengajak ibunya bersama sama berangkat kebukit Siong san. Siapa tahu.. meskipun dia sudah maju beberapa langkah, namun Yan san lak kiat masih tetap berdiri ditempat semula tanpa maksud untuk menyingkir kesamping. Thi Eng khi mengira mereka tidak memahami maksudnya, maka segera ujarnya : Harap kalian mau menunggu sebentar, setelah urusan kuselesaikan, kita segera berangkat." Menanti Yan san lak kiat belum juga menyingkir kesamping, Thi Eng khi baru curiga pikirnya : "Engkoh tua pengemis telah berangkat ke bukit Siong san untuk menyampaikan pesanku kepada ketua Siau lim pay dan Bu tong pay, agaknya mereka tidak perlu mengirim orang lagi untuk menjemputku, sekalipun mereka mengirim orang juga tak akan bersikap seakan akan menghadapi mnsuh besar saja, apalagi mengirim orang dalam jumlah begini banyak... yaaa, dibalik kesemuanya ini pasti ada sesuatu yang tak beres, aku tak boleh bertindak terlalu gegabah. Sementara kedua belah pihak masih saling berhadapan dengan suasana tegang, mendadak dari balik rumah gubuk itu terdengar seseorang menjerit keras, menyusul seseorang melompat keluar dari balik rumah gubuk tersebut.

416
Waktu itu malam sudah menjelang tiba, walaupun Thi Eng khi

dapat melihat ada sesosok bayangan manusia melompat keluar dari balik rumah gubuk itu namun ia tak sempat melihat jelas siapa gerangan orang tersebut. Tercekat perasaan hatinya, dia tahu sesuatu kejadian telah berlangsung dalam rumah tersebut, sambil mengangkat pedang Thian liong kim kiamnya dia membentak gusar : Hampir saja aku tertipu oleh siasat kalian, enyah kalian semua dari sini!" Tubuhnya merendah lalu tubuh berikut pedangnya dengan menciptakan serentetan cahaya tajam langsung menerjang kearah Yan san lak kim kiam kiat. Bagaimana keadaan Thi Eng khi selanjutnya yang gagal mendekati ruangan gubuk tersebut untuk sementara kita tinggalkan dulu. Dalam pada itu, Ciu Tin tin telah balik ke dalam ruangan dengan hati yang hancur luluh semakin dipikirkan dia merasa semakin sedih, sehingga akhirnya sambil menggertak gigi sambil menulis surat perpisahan yang ditinggalkan kedalam kamarnya. Ia merasa lebih baik cepat cepat menyingkir saja dari situ daripada dirinya makin lama dirinya makin terperosok kedalam kesalah pahaman yang makin melebar. Bila sampai mengakibatkan kerugian bagi kedua belah pihak jelas hal ini tak diinginkan. Ciu memang seorang gadis yang cerdik dan cukup mengerti duduknya persoalan, dia lebih suka mengorbankan diri daripada membiarkan Thi Eng khi bersedih hati karena kejadian itu. Baru saja tubuh melompat keluar dari pintu gerbang mendadak dilihatnya ada sekelompok lelaki kekar yang berjumlah empat lima orang sedang berjalan mendekati rumah gubuk tersebut. Dalam pada itu Thi Eng khi juga baru saja berjumpa dengan Yan san lak kiat, pemuda itu hanya menyaksikan ada puluhan orang jago

417
persilatan mengurung rumah tadi, ia tak tahu kalau sesungguhnya ada beberapa orang diantaranya yang telah berhasil menyusul masuk ke dalam. Ciu Tin tin segera balik kembali kedalam ruangan, ketika diawasinya orang orang itu, tampak Hek bin bu pa To Thi gou terdapat diantaranya. Dengan kehadiran orang itu maka persoalannya menjadi jelas, dapat diketahui pula siapa yang menjadi dalang dalam pengepungan ini serta apa maksud kedatangan mereka. Dengan suatu gerakan cepat, Ciu Tin tin meloloskan pedangnya sambil menghadang di depan pintu ruangan, dia kuatir pendatang itu melukai ibu Thi Eng khi, maka sambil mempersiapkan senjata dia membentak gusar : Ada urusan apa kalian menyerbu masuk kemari? Tampaknya Hek bin bu pa To Thi gou adalah pemimpin dari rombongan tersebut, sambil tertawa terbahak bahak sahutnya : Haaahhhh haaahhh. Haaahhhh.. dihadapan orang yang jujur tak perlu berbohong, siapakah kami dan apa tujuan kami datang kemari masa tidak kau ketahui? Setelah berhenti sejenak dan mendengus dingin, lanjutnya : Kau bukan anggota keluarga Thi, kami pun tidak bermaksud

mengusikmu, asal kau serahkan ibu dari Thi Eng khi si bocah keparat itu, kami akan mengampuni selembar jiwamu! Air muka Ciu Tin tin segera berubah menjadi dingin seperti es, sahutnya ketus : Selama aku Ciu Tin tin masih bisa bernapas, tak akan kubiarkan kalian membawa pergi Thi pek bo. Nak, menyingkirlah kau, biar kutanyakan kepada mereka, sebenarnya apa maksud mereka mendesak diriku terus menerus. Rupanya dia menampakkan diri setelah mendengar suara ributribut diluar rumahnya.

418
Jangan dilihat Hek bin bu pa To Thi gou bertubuh kasar seperti kerbau, sesungguhnya dia berakal licik sekali, dengan wajah tersenyum simpul segera katanya : Hujin, apakah kau adalah ibu Thi ciangbunjin? Aku Hek bin bu pa To Thi gou memberi hormat untukmu! Selesai berkata dia benar-benar merangkap tangannya sambil memberi hormat. Yap Siu ling adalah seorang perempuan yang berpendidikan, ketika dilihatnya orang lain memberi hormat dengan sopan, tentu saja diapun enggan memperlihatkan sikap kasarnya, maka sambil memberi hormat diapun menjawab : "To tayhiap tak usah sungkan sungkan, silahkan duduk dulu untuk minum teh!" Terima kasih banyak harap Thi hujin tak usah repot repot, aku datang untuk melaksanakan tugas, sedang majikan kami masih menantikan kabar beritanya!" Dengan kening berkerut Yap Siu ling segera menukas : "To tayhiap bila ada persoalan utarakan saja berterus terang dan blak blakan! Paras muka Hek bin bu pa To Thi gou segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, dia merasa semua perkataan yang telah disusun menjadi perkataan dan tak mampu digunakan lagi, terpaksa diapun berkata apa adanya : Majikan kami adalah Lo sancu dari istana Ban seng kiong, oleh karena amat mengagumi Thi sauhiap maka sengaja mengutus kami untuk mengundang kehadiran hujin untuk berkunjung keistana Ban sen kiong. Diam diam tercekat juga hati Yap Siu ling setelah mendengar perkataan itu, dia tahu Huan im sin ang hendak menggunakan dirinya sebagai sandera agar Thi Eng khi bisa diperalat olehnya.

419
Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tadi. Hek bin bu pa To Thi gou segera tertawa kering, lalu ujarnya : "Bagaimanakah maksud hujin? Majikan kami sedang menantikan jawabannya.." Pada waktu itu pikiran dan perasaan Yap Siu ling merasa sangat kalut, ia tahu bila mana dirinya sampai terjatuh ke tangan Huan im sin ang, maka jangan harap Thi Eng khi bisa melepaskan diri dari cengkeraman Huan im sin ang untuk selamanya, itu berarti jangan

harap ia bisa membangun kembali kejayaan partai Thian liong pay. Walaupun selama tahun tahun belakang ini diapun mulai belajar silat di bawah petunjuk dari keempat orang suhengnya, namun bagaimanapun juga karena waktu yang terbatas membuat keberhasilannya tidak memuaskan, sudah barang tentu diapun bukan tandingan dari musuh musuhnya itu. Maka walaupun sudah dipikirkan pulang pergi, dia belum berhasil juga untuk menemukan suatu cara yang baik. Akhirnya setelah termenung sekian lama dia bertekad untuk menghabisi nyawa sendiri seandainya tidak berhasil meloloskan diri dari cengkeraman musuhnya nanti, asal dia mati maka akan musnahlah harapan Huan im sin ang untuk menyandera dirinya serta memperalat Thi Eng khi demi kepentingannya. Begitulah, tatkala Hek bin bu pak To Thi gou mengulangi kembali perkataan itu untuk kedua kalinya, dia telah mengambil keputusan dalam hatinya, maka dengan wajah bersungguh sungguh jawabnya : "Maksud baik Sancu kalian sungguh mengharukan hatiku, sayang aku tak lebih hanya seorang perempuan lemah, aku rasa kurang leluasa bagiku untuk berangkat ke istana Ban sen kiong, lebih baik To tayhiap sampaikan saja rasa terima kasihku!" Dengan cepat Hek bin bu pa To Thi gou mengerutkan sepasang alis matanya yang tebal, betul dia adalah salah satu diantara cap sah tay poo dibawah pimpinan Huan im sin ang, namun berhubung

420
wataknya memang tidak termasuk keji atau kejam, lagipula dia merasa mencelakai seorang perempuan lemah hanya akan merusak nama baiknya saja, maka untuk sesaat dia menjadi ragu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Pada saat itulah, tiba tiba kedengaran seorang lelaki yang berada dibelakangnya menegur sambil tertawa seram : Heeehhh... heeehhh... heehhh....To tayhiap, jangan lupa dengan perintan dari Sancu! Hek bin bu pa To Thi gou nampak agak terkesiap, kemudian buru baru serunya : Hujin, bila kau menampik untuk berangkat ke istana Ban seng kiong, terpaksa aku harus bertindak keras kepadamu!" Mendadak dia mementangkan telapak tangannya yang besar dan segera mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Yap Siu ling. Ciu Tin tin yang berada disampingnya segera menggerakkan pedangnya sambil melangkah ke depan, dengan jurus Sia ci im khi (awan miring menutupi panji) dia menggulung tubuh Hek bin bu pa. Dari serangan mencengkeram, buru buru Hek bin bu pa merubah ancamannya menjadi sebuah pukulan telapak tangan yang langsung menghajar ke tubuh pedang Ciu Tin tin, sementara tangannya yang lain dengan jurus Kim si cian wan (serat emas membelenggu tangan) mencengkeram tubuh Yap Siu ling. Serangan yang dilancarkan tersebut telah disertakan tenaga dalam yang amat dahsyat, ternyata pedang Ciu Tin tin kena ditangkis sehingga tergetar keras dan mencelat setinggi beberapa depa keudara. Walaupun tangkisan tangan tanan Hek bin bu pa To Thi gou

berhasil menggetarkan pedang Ciu Tin tin, akan tetapi tangan kirinya yang mencengkeram tubuh Yap Siu ling telah mengenai sasaran yang kosong

421
Ternyata walaupun Yap Siu ling belum memiliki pengalaman dalam menghadapi suatu pertarungan, tenaga dalam yang dimilikinya juga masih jauh bila dibandingkan dengan kemampuan Hek bin bu pa, namun ilmu silat aliran Thian liong pay merupakan suatu kepandaian yang maha sakti, dalam pandangan remeh Hek bin bu pa yang tidak memandang sebelah matapun terhadapnya, dengan gampangnya dia berhasil menghindarkan diri dari cengkeraman musuhnya itu. Begitu Hek bin bu pa To Thi gou gagal mencengkeram korbannya, Ciu Tin tin telah mengembangkan permainan ilmu pedang Liu soat kiam hoat perguruannya. Cahaya perak segera menyelimuti seluruh angkasa, untuk kedua kalinya dia melancarkan serangan dahsyat kedepan. Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang berbakat bagus, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang jauh melebihi kemampuan Hek bin bu pa setelah memperoleh tambahan dari Huan im sin ang, apalagi setelah mengembangkan permainan ilmu pedang liu soat kiam hoat yang maha dahsyat itu. kontan saja Hek bin bu pa kena dikurungnya rapat rapat sehingga tak mampu lagi untuk mengusik Yap Siu ling. Mengetahui kalau kemampuannya masih belum cukup untuk mengalahkam Ciu Tin tin, dengan cepat Hek bin bu pa To Thi gou memberi perintah kepada ke tiga orang lelaki lainnya dengan kata kata sandi untuk membekuk Yap Siu ling. Berbicara yang sebenarnya ketiga orang lelaki itu merupakan jago jago yang termashur pula didalam dunia persilatan walaupun tenaga dalamnya masih jauh dibandingkan dengan Hek bin bu pa To Thi gou, namun dengan kemampuan mereka bertiga untuk menangkap Yap Siu ling boleh dibilang gampangnya seperti merogoh barang didalam saku sendiri. Itulah sebabnya tak sampai dua tiga gebrakan keadaan Yap Siu ling sudah kritis sekali. Agaknya Yap Siu ling cukup mengerti kalau

422
dia sudah tiada harapan untuk meloloskan diri lagi,dalam repotnya menghindari serangan lawan segera serunya kepada Ciu Tin tin. "Nak, aku serahkan anak Eng kepadamu, semoga kau bisa baik baik menjaga dirinya selain itu, beritahu kepadanya kalau ibunya minta dia ingat terus untuk menegakkan keadilan dan kebenaran sebagai tanda kebaktiannya kepadaku! Selesai berkata dia lantas membalikkan telapak tangan kanan menghantamnya keatas ubun ubun sendiri. Siapapun tidak menyangka kalau perempuan itu akan mengambil keputusan pendek untuk bunuh diri. Tentu saja keadaan tersebut bukan keadaan yang diharapkan oleh anak buah Huan im sin ang, untuk sesaat ketiga orang lelaki yang mengurungnya menjadi gugup dan berubah muka dalam kaget dan tercengangnya mereka sampai lupa untuk memberi pertolongan.

Ciu Tin tin serta Hek bin bu pa To Thi gou yang sedang bertarung juga sama sama menerjang kearah Yap Siu ling dengan harapan bisa mencegah niatnya untuk bunuh diri. Tapi sayang, secepat cepatnya gerakan tubuh mereka, tak akan lebih cepat daripada gerakan tangan Yap Siu ling. Dalam waktu singkat telapak tangannya itu sudah berada beberapa inci di atas ubun ubun perempuan itu. Di saat yang amat kritis inilah mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, lalu tampak sekilas cahaya perak menyambar jalan darah Ci ti hiat diatas tubuh Yap Siu ling, kontan saja semua tenaga yang dimiliki Yap Siu ling punah tak berbekas, walaupun akhirnya telapak tangan itu menyentuh juga diatas ubun ubun, namun sama sekali tidak menimbulkan luka apa apa.

423
Jilid : 13 MENYUSUL kemudian tampak sesosok bayangan putih meluncur masuk ke dalam ruangan ketika tubuhnya masih berada ditengah udara, tangannya telah menyambar tubuh Yap Siu ling yang dibawanya mundur beberapa langkah, kemudian dia baru melayang turun dihadapannya. Yap Siu ling hanya merasakan pandangan matanya menjadi silau, tahu tahu sesosok bayangan punggung telah menghalangi pandangan matanya. Dia tak sempat melihaf jelas paras muka penolongnya, akan tetapi kalau dilihat dari bayangan punggungnya tak sulit untuk diketahui bahwa penolongnya juga seorang perempuan. Siapa gerangan orang ini? baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya tiba tiba terdengar Ciu Tin tin berteriak dengan penuh kegembiraan : Ibu....! Tubuhnya segera meluncur kedepan dan melayang turun disamping kanan perempuan berbaju putih itu, kemudian berdiri berjajar disisinya. Ternyata orang yang baru saja rnenampakkan diri itu tak lain adalah ibunya Ciu Tin tin, istri Gin ih kiam kek Ciu Cu giok, dua puluh tahun berselang perempuan ini termashur dalam dunia persilaian sebagai Cay hong sian ci (Dewi cantik burung hong) Liok Sun hoa. Mengetahui kalau orang yang datang adalah ibu Ciu Tin tin, Yap Siu ling segera menghembuskan napas panjang, sebab dari mulut Ciu Tin tin dia sudah mengetahui akan kemampuan dari perempuan ini. Hek bin bu pa To Thi gou yang harus bertarung melawan Ciu Tin tin tadi meski merasa punya kemampuan untuk meraih kemenangan namun diapun mengerti bahwa hal ini hanya bisa berlangsung setelah bertarung sebanyak seratus gebrakan kemudian.

424
Maka dikala mengetahui kalau perempuan yang datang ini adalah ibunya Ciu Tin tin, apalagi menyaksikan kepandaian silatnya begitu lihay tanpa terasa kewaspadaannya ditingkatkan, ia segera memberi tanda agar ketiga orang lelaki itu balik kesisi tubuhnya.

Dengan demikian maka posisinya sekarang menjadi tiga melawan empat. Sebenarnya Cay hong sian ci Liok Sun hoa adalah seorang perempuan setengah umur akan tetapi paras mukanya justru mirip seorang nona yang baru berusia dua puluh lima enam tahunan, wajahnya yang cantik diliputi oleh hawa dingin yang kaku. Saat itu dia sedang melotot gusar ke arah Hek bin bu pa To Thi gou sambil membentak gusar. Mengapa kalian belum juga menggelinding pergi dari sini! Hek bin bu pa To Thi gou segera tertawa terbahak babak. Haaahh. Haaahh.. haaahh. Hanya mengandalkan sepatah kata saja, apakah kau kira sudah dapat membuat kami kabur ketakutan? Ciu Tin tin segera mendekati telinga ibunya sambil berbisik : Ilmu silat yang dimiliki Hek bin bu pa paling lihay diantara beberapa orang ini asal ibu dapat menaklukkan dirinya, niscaya yang lainpun akan menuruti perkataan kita. Cay hong sian ci Liok Sun hoa manggut manggut, dia lantas mengayunkan pedangnya menotok jalan darah Hian ki hiat ditubuh Hek bin bu pa, setelah itu bentaknya : Lebih baik kau enyah lebih dulu!" "Aah, belum tentu!" jawab Hek bin bu pa To Thi gou cepat.

425
Sambil berdiri dengan tangan sebelah diangkat ke atas, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu, kemudian dilancarkannya sebuah pukulan ke arah mana datangnya ancaman tersebut. Darimana dia bisa tahu kalau ilmu jari Liok hoa ci yang dimiliki Cay hong sian ci Liok Sun hoa merupakan salah satu kepandaian andalannya di masa lalu, tentu saja dengan mengandalkan kemampuan pukulannya mustahil serangan tersebut bisa ditahan. Tapi dia bersikeras juga untuk menyambut ancaman tersebut dengan keras lawan keras, kalau tidak dipecundangi boleh dibilang mujur sekali nasibnya. Begitulah, tatkala serangannya telah dilancarkan, telapak tangannya segera bergetar keras, kekuatan jari tangan Cay hong sian ci ternyata berhasil menembusi pertahanannya itu. Aduuuh celaka!" diam diam ia berpekik. Buru buru badannya berputar kekanan untuk menghindarkan diri, walaupun begitu toh bahu kirinya termakan juga oleh serangan dahsyat dari Cay hong sian ci, Liok Sun hoa tersebut. Kontan saja sekujur badannya menjadi kaku walaupun tak sampai terluka parah toh tenaga serangannya punah tak berbekas, untuk sesaat dia tak mampu untuk menghimpun kembali tenaganya. Cay hong sian ci Liok Sun hoa sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Hek bin bu pak To Thi gou untuk menghimpun kembali tenaganya, sepasang ujung bajunya segera dikebaskan kedepan dengan jurus Cay siu hui im (ujung baju menyapu awan). Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat mementalkan tubuh Hek bin bu pa sehingga mencelat keluar rumah. Itulah bayangan yang tampak oleh Thi Eng khi mencelat keluar dari rumah gubuk tersebut. Sementara Thi Eng khi dengan menggunakan pedang emasnya

secara beruntun melancarkan serangan dengan jurus Cun han cah

426
tian (udara dingin mengembang kejagad) serta Jin yan sia hui (burung walet terbang miring) untuk mendesak Yan san lak kiat dan berusaha menjebolkan suatu titik kelemahan. Menghadapi ancaman mana, Yan san lak kiat segera tertawa terkekeh kekeh. "Heeehhh..... heeehhh...... heeehhh.... Thi sauhiap, kau terlalu memandang remeh kami enam bersaudara. Enam sosok bayangan manusia bagaikan gerakan ular lincah, dengan cepat mengurung tubuh Thi Eng khi rapat rapat. Walaupun Thi Eng khi telah mempelajari ilmu silat aliran Thian liong pay yang maha dahsyat serta tenaga dalam yang sempurna hasil perpaduan empat macam obat mestika, bagaimanapun juga pengalamannya masih cetek dan kepandaian itu baru dipelajarinya belum lama, otomatis kekuatan yang dapat dipancarkan juga amat terbatas sekali. Alhasil, dia hanya mampu bertarung seimbang melawan Yan san lak kiat, sedang untuk menembusi kepungan tersebut sulitnya bukan kepalang. Walaupun demikian, hal mana sudah cukup menggusarkan Yan san lak kiat, sebab dengan nama besar enam jagoan dari bukit Yan san yang begitu termashur dalam dunia persilatan ternyata tak mampu membereskan seorang bocah muda yang belum ternama, bagaimanapun juga kejadian ini benar benar merupakan suatu kejadian yang amat memalukan. Perlu diketahui, semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, dengan kekuatan hubungan mereka berenam, belum pernah ada orang yang sanggup bertahan sebanyak dua puluh gerakan ditangan mereka. Oleh sebab itu, nama besar Yan san lak kiat makin lama semakin tenar, selama berkelana didalam dunia persilatan, belum pernah ada yang berani melawan mereka.

427
Tapi kenyataannya sekarang, mereka tak berhasil merobohkan Thi Eng khi, seorang pemuda ingusan. Dalam kejut dan gelisahnya, ke enam orang itu segera menghimpun tenaga dalamnya hingga mencapai tingkatan yang semaksimal mungkin, serangan kekuatan merekapun makin berlipat ganda. Lama kelamaan, akhirnya Thi Eng khi mulai menunjukkan tanda tanda tak sanggup untuk menahan diri. Dipihak lain, walaupun Hek bin bu pa To Thi gou berhasil dilemparkan keluar dari dalam rumah gubuk tadi, namun mereka tidak berhasil mengusir tiga orang lainnya malah sebaliknya mengundang lebih banyak jagoan yang menyerbu kedalam rumah gubuk itu. Suatu pertarungan sengit yang amat menggetarkan hatipun segera berlangsung disitu. Cay hong sian ci Liok Sun hoa dan Ciu Tin tin yang memiliki kepandaian silat tinggi, berhubung harus melindungi pula keselamatan Yap Siu ling maka kemampuan mereka tak mampu

dikembangkan sehebat mungkin, keadaanpun menjadi seimbang dan sama kuat. Cay hong sian ci Liok Sun hoa sesungguhnya tidak kenal dengan Yap Siu ling, juga tidak tahu maksud serta tujuan Ciu Tin tin terhadap keluarga Thi, kali ini dia turun ke dunia persilatan karena hendak mencari jejak putrinya yang sudah lama pergi mencari ayahnya tanpa kembali. Mental perak merupakan ciri khas yang mudah dikenal, itulah sebabnya sepanjang jalan mengejar kemari, secara kebetulan dia telah menemukan peristiwa tersebut. Dia cukup mengetahui akan watak putrinya yang amat memandang serius suatu masalah yang sedang dihadapinya, maka tatkala dilihatnya anak gadisnya membelai Yap Siu ling mati matian,

428
dia tak sempat bertanya lagi, dia tahu putrinya pasti mempunyai alasan yang kuat maka sikapnya menjadi menaruh perhatian pula terhadap Yap Siu ling. Walaupun tenaga dalamnya tinggi akan tetapi setelah muncul beban didepan mata, kekuatannya menjadi tak berkembang, sekalipun kekalahan bisa dihindari, untuk mengundurkan musuh bukan suatu yang gampang. Dalam pada itu, Thi Eng khi tampaknya sudah tidak tahan dan segera akan menderita kekalahan dan dibekuk, mendadak tampak Sin kou Tio Yan kim terpeleset kesamping dan sepasang senjata kaitannya tanpa sebab terjatuh ketanah menyusul kemudian sambil melompat mundur dia menggoncangkan lengannya kencang kencang sambil membentak keras. Menyusul kemudian Im to Tio Yan ci turut melompat mundur pula sambil berkoak-koak. Melihat kejadian ini, sisa empat orang dari Yan san lak kiat tersebut menjadi amat terperanjat, mereka lantas tahu kalau ada orang yang secara diam diam telah membantu Thi Eng khi. Sebaliknya Thi Eng khi segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil berpekik tiada hentinya dia menyerang semakin menghebat, dalam waktu singkat ke empat orang jago itu sudah kena didesaknya sehingga kalang kabut tak karuan. Sin kou Tio Yan kim yang sudah tak mampu untuk melanjutkan pertarungan itu segera memeriksa sekejap situasi dalam arena, begitu menyadari kalau kekalahan lebih besar daripada kemenangan. Dia lantas berpekik nyaring tiada hentinya, enam sosok bayangan rranusia dengan kecepatan luar biasa segera mengundurkan diri dari sana. Berbareng itu juga, kawanan lelaki yang mengurung disekitar rumah gubuk itu mengundurkan diri dari arena, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.

429
Menanti Thi Eng khi memburu ke depan pintu rumah, waktu itu Yap Siu ling beserta Cay hong sian ci Liok Sun hoa serta Tin tin sedang memburu keluar dari dalam ruangan. Melihat ibunya sehat sehat saja, Thi Eng khi segera berteriak keras :

Oooh....ibu! Ibu dan anak berdua segera saling berangkulan. Nak, kau tidak apa apa bukan? tanya Yap Siu ling kemudian dengan suara lirih. Ibu, kau juga tidak terluka? tanya Thi Eng khi pula dengan perasaan bergolak. Mereka berdua hanya menanyakan keadaan masing masing sehingga untuk sesaat menjadi lupa dengan Ciu Tin tin serta ibunya. Dalam pada itu, Cay hong sian ci Liok Sun hoa telah memperhatikan sekejap diri Thi Eng khi, lalu memandang pula ke arah putrinya yang sedang berdiri terpesona, dengan cepat ia menjadi sadar kembali apa gerangan yang telah terjadi. Diam diam ia menjadi gembira sekali, sebab sudah diketahui olehnya mengapa selama setahun lamanya putri kesayangannya ini tidak pulang ke rumah..... Tanpa terasa diawasinya pemuda itu, makin teliti makin dilihat semakin senang sehingga untuk beberapa saat lamanya ia menjadi termangu mangu belaka..... Lewat lama kemudian, Ciu Tin tin baru menghembuskan napas panjang, sambil menarik ujung baju ibunya dia berkata : Ibu, mari kita pergi saja! Mengapa? tanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa agak tertegun.

430
Saking sedihnya dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Ciu Tin tin. Ibu! katanya kemudian, setelah meninggalkan tempat ini nanti akan keberitahukan kepadamu! Cay hong sian ci Liok Sun hoa ingin menyapa Yap Siu ling, tapi kembali dicegah oleh Ciu Tin tin : Ibu lebih baik kita pergi tanpa memberitahukan kepada mereka lagi.... Kemudian ditariknya perempuan itu meninggalkan ruangan dan lenyap dibalik kegelapan sana. Menanti Thi Eng khi berdua teringat kalau disampingnya masih ada tamu, bayangan kedua orang itu sudah lenyap tak berbekas. Yap Siu ling segera mengomel : Nak, coba kau lihat, Ciu pek bo telah menyelamatkan jiwa ibumu,tapi kita hanya ribut untuk berbicara sendiri dan lupa menyapa tamu, perbuatan semacam ini benar benar merupakan suatu perbuatan yang kurang sopan! Mereka ibu dan anakpun sudah lama tak bersua muka, siapa tahu mereka sengaja menyingkir untuk berbincang bincang sendiri? Nak, cepat cari mereka berdua untuk datang, aku akan persiapkan hidangan malam sekalian menambah dengan beberapa macam sayur, sebentar kau harus menghormati enci Tin dengan dua cawan arak sebagai tanda rasa terima kasihmu atas bantuan ibu dan anak berdua. Kemudian sambil tersenyum dia berjalan masuk keruangan dalam. Thi Eng khi segera melakukan pencarian disekeliling tempat itu ketika tidak menjumpai jejak kedua orang tersebut, terpaksa dia pulang kerumah dengan tangan hampa.

431
Baru saja dia sampai didepan pintu, tiba tiba dari arah jalan bukit tampak sesosok bayangan manusia berlari mendekat. Pada saat itu, Thi Eng khi sedang diliputi oleh rasa gusar dan mendongkol, sambil rnendengus dingin ia lantas menerjang kearah bayangan manusia itu sambil membentak: Anjing sialan, kau anggap apa aku benar benar mudah dipermainkan? Lihat serangan! Tenaga dalamnya segera dihimpun dan melepaskan sebuah pukulan kearah orang itu dengan tenaga sebesar delapan bagian, dari sini dapat diketahui kalau dia benar benar sudah diliputi oleh hawa amarah sehingga kalau bisa ingin membinasakan orang itu dalam sekali pukulan. Tak terlukiskan betapa dahsyatnya serangan Thi Eng khi yang telah disertakan tenaga sebesar delapan bagian itu, dimana desingan angin tajam menyambar lewat, orang itu tak kuasa menahan ancaman tersebut. Kontan saja seluruh tubuhnya mencelat sejauh beberapa kaki dan muntah darah segar. Menyusul serangan itu, Thi Eng khi segera melompat ke hadapan orang itu, sekarang dia baru melihat jelas paras muka pendatang tadi, kemarahannya makin memuncak. Pengemis berkaki tunggal, teriaknja, seandainya aku tidak memandang diatas wajah Cu loko, tak akan kubiarkan kau pergi dari sini dengan selamat, apa maksudmu lagi pada saat ini? Andaikata kau tidak menjelaskan kepadaku, jangan harap bisa pergi lagi dari sini dalam keadaan hidup Orang yang baru saja munculkan diri itu tak lain adalah To kak thi koay (kaki tunggal bertongkat baja) Li Goan gwee, kakak seperguruan dari pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po. Walaupun ilmu silat yang dimilikinya termasuk jago kelas satu didalam dunia persilatan, akan tetapi dia masih bukan tandingan dari

432
Thi Eng khi, apalagi diserang dengan tenaga sebesar delapan bagian dan dikala badannya melambung diudara, tak heran kalau luka yang dideritanya amat parah sehingga tak sanggup untuk menjawab. Sesungguhnya dia bukanlah salah satu di antara Cap sah tay poo seperti apa yang dikatakan oleh Huan im sin ang. Ketika Huan im sin ang menyebut nama dari ketiga belas orang Tay poo ketika berada diluar perbatasan tempo dulu, ada separuh diantara memang benar benar merupakan anggota dari tiga belas pangerannya tapi ada pula diantaranya yang cuma bualannya belaka untuk membesar besarkan kemampuannya. Sebab pada waktu itu meski dia berhasrat untuk membentuk Cap sah tay poo namun jumlahnya belum komplit. Tentu saja, orang orang yang disebutkan oleh Huan im sin ang tersebut merupakan orang orang yang diincarnya, cuma kemudian kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga tujuannya tidak tercapai. Kini, To kak thi koay telah dianggap Thi Eng khi sebagai salah seorang diantara tiga belas pangerannya Huan im sin ang, boleh

dibilang kejadian ini amat mengeneskan pengemis tua itu. Setelah memperoleh caci maki dari Thi Eng khi pada pagi harinya tadi, dengan penuh rasa mendongkol dia mengundurkan diri dari sana, boleh dibilang kesannya terhadap Thi Eng khi jelek sekali, kalau bisa dia ingin segera berangkat pulang dan menegur adik seperguruannya yang punya mata tak berbiji sehingga salah memilih teman. Siapa tahu justru dia menyaksikan Huan im sin ang menyusun rencana untuk menculik Yap Siu ling dan menguasai Thi Eng khi. Sebagai seorang lelaki sejati yang berjiwa pendekar, dengan cepat ia melupakan semua sikap kasar Thi Eng khi terhadap dirinya dan balik kesana dengan harapan bisa membantu Thi Eng khi untuk menghalau musuh tangguh.

433
Siapa tahu dia telah datang terlambat sehingga tindakannya itu menambah kesalahan paham Thi Eng khi terhadapnya. Itulah sebabnya pula, dia sampai terhajar terluka parah. Pada saat itu, rasa sedihnya tak terlukiskan dengan kata kata, sebab dia sama sekali tidak tanu kalau Thi Eng khi telah menaruh kesalahan paham atas dirinya. Dia menganggap Thi Eng khi tak lebih hanyalah seorang manusia kasar yang tak tahu diri. Tak heran kalau kesannya terhadap pemuda inipun semakin jelek. Masih mendingan kalau hanya memukul saja, ternyata Thi Eng khi mencaci maki pula dirinya, ini semua membuat hatinya meledak ledak saking mendongkolnya dalam gusarnya dia membungkam diri dalam seribu bahasa, dia mau melihat apa yang hendak dilakukan Thi Eng khi terhadap dirinya. Tatkala Thi Eng khi menyaksikan To kak thi koay Li Goan gwee memandangnya dengan wajah menghina, bahkan tak rnengucapkan sepatah katapun, kontan saja hawa amarahnya semakin memuncak teriaknya : Jika kau masih membungkam terus, jangan salahkan kalau aku tak akan sungkan sungkan lagi. Jari tangannya segera ditegangkan seperti tombak, kemudian siap disodokan ke bawah. To kak thi koay Li Goan gwee mendengus dingin, jengeknya : Apa yang hendak kau lakukan,lakukan saja kepadaku, anggap saja aku sipengemis tua telah salah melihat orang!" Thi Eng khi segera mendengus dingin. Hmmm... jangan dianggap aku Thi Eng khi masih berusia muda maka bisa ditipu seenaknya, kau sendirilah baru orang yang tak bermata.

434
Jari tangannya segera disodok kedepan, segulung desingan angin tajam segera menyebar kearah jalan darah Hian ki hiat di tubuh To kak thi koay Li Goan gwee agaknya dia memang berniat untuk memberikan sedikit pelajaran kepada pengemis tua tersebut. To kak thi koay Li Goan hanya melototi wajah Thi Eng khi, kemudian tertawa pedih. Tampak serangan tersebut segera akan menerjang ke tubuh To kak thi koay, pada saat itulah tiba tiba Thi

Eng khi menemukan sikap gagah dan pantang menyerah yang terpancar dari wajah pengemis tersebut. Tercekat hatinya setelah menyaksikan hal ini, dia kuatir apa yang dilakukannya sekarang kelewat batas. Tapi golok sudah keburu diloloskan, apalagi hatinya terpengaruh oleh emosi walaupun timbul ingatan tersebut, serangannya sama sekali tidak dibatalkan. Siapa tahu pada saat itulah dari samping arena meluncur datang segulung angin pukulan yang menghantam serangan dari Thi Eng khi tersebut, kemudian dengan cepatnya membawa tubuh To kak thi koay menyingkir ke samping. Thi Eng khi segera membalikkan badan sambil menerjang ke arah sebatang pohon, bentaknya : Siapa disitu? Pohon itu berada lebih kurang dua kaki jauhnya dihadapan Thi Eng khi, baru saja pemuda itu melompat kedepan, dari atas pohon telah melayang turun seorang pendeta berkerudung. Thi sauhiap, tenaga dalammu telah memperoleh kemajuan yang amat besar, sekarang boleh dibilang sudah cukup untuk menjagoi dunia persilatan, entah masih kenali teman lama tidak? tegurnya. Didengar dari ucapan itu, bisa diketahui kalau pendeta tersebut merasa sangat tidak puas.

435
Buru buru Thi Eng khi mengerahkan ilmu bobot seribu untuk melayang turun ke tempat semula, lalu serunya agak tertegun : Kalau memang kau adalah temanku, kenapa.... Akan tetapi bicara sampai disitu, satu ingatan segera terlintas kedalam benaknya, dengan cepat dia mengetahui siapa gerangan pendeta tersebut. Sebab semenjak dia terjun kedalam dunia persilatan, hanya dua orang pendeta saja yang bisa dianggap sebagai rekan lamanya. Yang seorang adalah Ci kay taysu yang dikenalnya dalam perkampungan Ki hian san ceng, sedangkan yang lain adalah Huang oh taysu, ayah Ciu Tin tin. Kalau Ci kay taysu berperawakan tinggi besar maka mustahil dia adalah pendeta berkerudung dihadapannya sekarang itu berarti satu satunya kemungkinan adalah Huang oh siansu. Terhadap Ciu Tin tin dia memang sudah menaruh rasa menyesal, maka terhadap Huang oh siansupun tak berani bertindak kurang hormat, setelah mundur selangkah katanya. Ternyata siansu yang telah berkunjung kemari, terimalah hormat dari boanpwe. Seraya berkata dia lantas menjura sementara dalam hatinya diam diam ia berpikir. Setelah menjadi pendeta, masa dia masih memiliki kesulitan yang tak bisa diketahui orang? Kalau tidak, kenapa dia mengenakan kain kerudung untuk menutupi wajahnya? Sementara itu Huang oh siansu telah mengulapkan tangannya sembari berkata : Kalau memang Thi sauhiap ingat dengan pinceng, apakah kau pun bersedia memberi muka kepadaku? Thi Eng khi memandang sekejap kearah To kak thi koay Li Goan

gwee, kemudian ujarnya:

436
Apakah Siansu meminta agar boanpwe melepaskan sampan masyarakat ini? Mendengar dirinya dimaki sebagai sampah masyarakat, kontan saja To kak thi koay mencak mencak kegusaran, bentaknya : Sudah puluhan tahun lamanya lohu berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah satu kalipun kulakukan perbuatan yang biadab atau melanggar kebenaran, kau masih berusia muda, kenapa sudah menfitnah orang seenaknya sendiri? Kau adalah salah seorang dari cap sah tay poo nya Huan im sin ang, perbuatan ini sudah merusak nama baik Kay pang, orang lain memang tak tahu, tapi aku telah mendengar hal ini dari mulut Huan im sin ang sendiri, memangnya aku sengaja memfitnahmu? To kak thi koay Li Goan gwee semakin gusar lagi setelah mendengar tuduhan tersebut sampai sekujur tubuhnya gemetar keras, dengan suara yang tak jelas katanya : Kau. Kau.. Dia ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu apa yang musti diutarakan keluar. Baru saja Thi Eng khi bermaksud untuk membongkar rencana busuk seperti apa yang diduganya semula, Huang oh siansu telah menggoyangkan tangannya berulang kali sambil mencegah. Omintohud! Thi sauhiap, kau sudah ditipu oleh Huan im sin ang, pinceng berani jamin, Li tayhiap bukanlah salah seorang diantara Cap sa tay poo!" Thi Eng khi masih belum mau percaya, gumamnya : Soal ini. Soal ini . Kalau kulihat dari wajah sauhiap, tampaknya kau sudah percaya penuh dengan apa yang dikatakan Huan im sin ang, aaai .. Helaan napas panjang itu mencakup sisa perkataan yang belum terungkapkan.

437
Walaupun ucapan tersebut tidak dilanjutkan, akan tetapi peluh telah jatuh bercucuran membasahi tubuh Thi Eng khi, ia cukup memahami kekecewaan Huang oh siansu terhadap dirinya. Tanpa terasa dia lantas berpikir : Huang oh siansu adalah seorang manusia yang jujur dan saleh, kalau tidak kupercayai perkataannya, apakah harus percaya dengan perkataan Huan im sin ang? Andaikata Huan im sin ang benar benar berniat jelek, bukankah aku telah diperalat olehnya tanpa sadar? Tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, diapun berpikir lebih jauh : Andaikata To kak thi koay benar benar adalah salah satu dari Cap sah tay poo pimpinan Huan im sin ang, masa Huan im sin ang bisa bertindak bodoh dengan mengutusnya lagi untuk menipu diriku? Hanya berdasarkar hal ini saja sudah lebih dari cukup yang membuktikan kalau aku telah terkecoh olehnya. Pada dasarnya pemuda itu memang seorang lelaki sejati yang berjiwa besar, setelah memahami hal itu, paras mukanya berubah menjadi serius, cepat dia memburu ke hadapan To kak thi koay

sambil berkata seraya menjura : Thi Eng khi telah termakan oleh hasutan manusia laknat yang mengatakan engkoh tua sebagai salah satu dari tiga belas pangeran, harap engkoh tua suka memandang diatas wajah Cu lo koko untuk memaafkan kesilapan siaute ini. Agaknya To kak thi koay Li Goan gwee sama sekali tidak menyangka kalau Thi Eng khi adalah seorang yang berani mengakui kesalahan sendiri, berani berbuat berani pula bertanggung jawab, sikap gagah semacam ini makin jarang ditemui dalam dunia persilatan ini. Maka sambil tertawa terbahak babak dia menarik tangan Thi Eng khi seraya berkata : Aaaah, mana, mana! Kalau tidak saling bertarung mana bisa saling berkenalan? Harap saudara cilik jangan memikirkan persoalan ini didalam hati, kalau harus disalahkan maka harus salahkan aku si pengemis yang sudah berkelana setengah abad ini masih tidak

438
berhasil menyaksikan keanehan pada sikapmu itu, haaahh.... haahhh.... haaahhh.... aduh! Karena tak tahan dengan penderitaan yang dialaminya, dia lantas berteriak kesakitan, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan amat derasnya. Dengan cepat Thi Eng khi membimbingnya bangun, kemudian dengan nada menyesal dia berkata : Engkoh tua, parahkah luka yang kau derita? Aaah, tidak menjadi soal, sahut To kak thi koay sambil meluruskan pinggangnya, aku si pengemis tua masih sanggup untuk mempertahankan diri. Walaupun dimulut dia berkata demikian, sekujur badannya masih tetap bergetar keras. Buru buru Thi Eng khi menempelkan telapak tangannya diatas punggung pengemis tua itu lalu katanya : Biar siaute membantu engkoh tua untuk menyembuhkan luka! Segulung aliran hawa panas dengan cepat menyusup masuk kedalam tubuh To kak thi koay, lebih kurang setengah pertanak nasi kemudian, Thi Eng khi baru menarik kembali tangannya. Sekali lagi pengemis tua itu tertawa terbahak bahak. Haaahh....haaahh...haaahh....sungguh amat sempurna tenaga dalam yang saudara cilik miliki, berkat bantuanmu aku sipengemis tua telah memperoleh kesembuhan total! Setelah saling merendah dari lawan kedua orang itupun menjadi sahabat karib. Ketika Huang oh siansu menyaksikan Thi Eng khi dapat membaiki kesalahannya, dia menjadi gembira sekali, meski demikian katanya pula dengan wajah bersungguh sungguh :

439
Hanya suatu kesalahan yang kecil sekali bisa mengakibatkan dunia persilatan menjadi kacau balau, aku harap kejadian pada hari ini dianggap sebagai suatu pelajaran untuk sauhiap, semoga saja mulai sekarang kau bisa berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak, jangan bertindak lantaran emosi, mencelakai orang sama

dengan mencelakai diri sendiri, perlu kau ketahui memberi selangkah jalan mundur buat orang lain berarti rnelakukan suatu kebaikan. Thian menghendaki umatnya hidup rukun daripada orang jahat dibunuh lebih baik nasehatilah agar bertobat, entah bagaimanakah pendapat Thi sauhiap dengan ucapan pinceng ini? Boanpwe mengucapkan banyak terima kasih atas nasehat dari siansu, sepanjang hidup akan kucamkan baik baik nasehat itu, jawab anak muda itu dengan wajah bersungguh sungguh. Huang oh siansu segera manggut manggut. Kalau begitu lolap akan mohon diri lebih dulu! katanya kemudian. Tanpa menggerakkan tubuhnya tahu tahu dia sudah berada lebih kurang beberapa kaki jauhnya dari tempat semula. Siapa tahu, pada saat itulah mendadak terdengar seseorang membentak gusar : Kau...kau.. berhenti kau!" Huang oh siansu berjalan lagi sejauh beberapa kaki dengan langkah lamban, kemudian baru berhenti, agaknya dia berniat untuk balik kembali. Sementara itu Yap Siu ling telah melangkah keluar dari dalam rumah, kemudian dengan sorot mata yang amat tajam mengawasi Huang oh siansu tanpa berkedip. Tiga orang enam buah mata bersama sama tertuju ke tubuh Huang oh siansu..... Mendadak Huang oh siansu menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian sepasang bahunya bergerak, agaknya dia ada maksud untuk pergi meninggalkan tempat itu.

440
Buru buru Thi Eng khi maju ke depan, lalu setelah memberi hormat katanya : Ibuku berharap siansu suka berhenti sejenak! Huang oh siansu membungkam diri dalam seribu bahasa walaupun wajahnya berkerudung hitam sehingga tidak nampak perubahan mimik wajahnya, namun tak sulit untuk diduga kalau ia merasa amat tak tenang dengan situasi yang terbentang didepan matanya sekarang. Siancu! kembali Thi Eng khi berseru, ibuku adalah seorang yang dapat membedakan antara jahat dan benar, harap siansu pun bersedia untuk menjumpainya. Huang oh siancu masih tetap membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia merasa ragu untuk rnengambil keputusan apakah harus tetap tinggal atau pergi dari situ. Terdengar suara Yap Siu ling telah berkumandang lagi dari belakang diiringi helaan napas panjang : Aaai... dari nada suaramu dan potongan badanmu, aku sudah tahu siapakah dirimu itu, kalau kulihat dari keraguanmu, hal mana menunjukkan kalau rasa cintamu belum putus, aku kini sudah tidak memikirkan apa apa lagi. Mendadak ia berhenti sejenak, kemudian serunya kepada Thi Eng khi : Eng ji! Minggir, beri jalan untuk siansu ........ Baik! jawab Thi Eng khi dengan perasaan bingung. Kemudian setelah menyingkir dan memberi hormat katanya : Boanpwe menghantar kepergian siansu!

Huang oh siansu rupanya belum dapat melupakan diri sendiri, tampak sekujur badannya gemetar keras, mendadak kain kerudungnya terlepas sehingga tampak raut wajahnya yang tampan. Sambil memandang ke arah Thi Eng khi ia berkata sembari tertawa getir :

441
Nak, mari kita kesana! Sebutan nak tersebut membuat Thi Eng khi tertegun, dia menjadi tidak habis mengerti dan berdiri tertegun. Mendadak ia merasa pergelangan tangannya menjadi kencang, tahu tahu ia sudah diseret oleh Huang oh siansu kembali ketempat semula. Dengan kebingungan dia memperhatikan sekeliling tempat itu, tampak ibunya sedang berdiri dengan air mata berlinang, namun tidak terdengar suara isak tangisnya yang jelas ditahan dengan sepenuh tenaga. Huang oh siansu sendiripun menatap ibunya dengan pandangan tajam, diatas wajahnya yang saleh itu telah memancarkan cahaya kemerah merahan.. Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Thi Eng khi, akhirnya dia menjadi sadar dan segera berseru tertahan : Aaaah..! Seruan setelah itu dengan cepat menyadarkan kembali Huang oh siansu dan Yap Siu ling dari lamunannya. Dengan perasaan terkesiap Huang oh siansu dan Yap Siu ling sama sama berusaha menahan gejolak perasaan masing masing. Omitohud! bisik Huang oh siansu kemudian, lolap adalah orang yang telah melupakan diri, harap hujin suka memaklumi. Yap Siu ling segera menyeka air matanya dengan ujung baju kemudian ujarnya sambil menahan isak tangisnya : Eng ji, cepat kau jumpai ayahmu yang telah menjadi pendeta. Thi Eng khi segera menjatuhkan diri berlutut serunya : Ooh... ayah, kau benar benar tega!

442
Huang oh siansu mengebaskan ujung bajunya sambil membangunkan Thi Eng khi, tanpa terasa dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia berkata : Gin ih lan san (baju perak baju biru) telah mati bersama, Tin tin sudah kehilangan kasih sayang ayahnya, nak, apakah kaupun masih boleh mempunyai ayah? Thi Eng khi merasakan hatinya terkesiap, serunya kemudian : Maafkanlah ananda bila telah salah berbicara! Huang oh Siansu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah To kak thi koay, kemudian katanya sambil tersenyum : Siauseng tak bisa melupakan diri, harap Li tayhiap jangan mentertawakan.... To kak thi koay Li Goan gwee adalah seorang yang sama sekali berada diluar garis, dia tidak tahu akan perselisihan antara Gin ih kiam kek Ciu Cu giok dengan Lan san cu tok Thi Tiong giok, dia lebih lebih tidak memahami arti dari pembicaraan ketiga orang itu, namun ada satu hal yang dipahaminya, yakni Huang oh siansu yang berada

dihadapannya sekarang adalah sahabat karibnya pula, yakni Lan san cu tok Thi tiong giok yang amat tersohor itu. To kak thi koay Li Goan gwee adalah seorang yang berjiwa besar, setelah tertegun sejenak, ia segera tertawa terbabak bahak. Haaahh.... haahhh.... haaahh.... aku si pengemis tua bagaikan baru sadar dari impian saja, sungguh tak kusangka kalau Thi tayhiap bisa mencukur rambut menjadi pendeta, apakan dibalik berita yang tersiar pada dua puluh tahun berselang, masih terdapat banyak rahasia lain yang tersembunyi? Huang oh siansu segera manggut manggut. Pinceng merasa menyesal sekali, lebih baik tak usah dibicarakan lagi.... katanya. Orang lain tidak berbicara, tentu saja To kak thi koay Li Goan gwee merasa sungkan bertanya, selain itu sebagai seorang

443
kenamaan, bila harus menanyakan rahasia orang lain, hal itu merupakan suatu perbuatan yang tidak sopan, sudah barang tentu To kak thi koay tak ingin melakukan perbuatan seperti itu. Rupanya dia tahu kalau tempat itu tak bisa didiami lebih lama lagi, maka sambil menjura katanya kemudian. Saat bertemunya ayah dan anak merupakan saat paling bahagia, aku si pengemis tua tak ingin mengganggu lebih lama lagi, maaf kalau aku hendak mohon diri lebih dulu! Dia segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melompat pergi dari situ. Huang oh siansu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya tiba-tiba: Tin tin sekarang berada dimana? Thi Eng khi segera merasakan kepalanya menjadi kaku, ia tertunduk rendah rendah dan tak mampu menjawab barang sepatah katapun. Sebenarnya Yap Siu ling munculkan diri dari dalam ruangan karena berhasil menemukan surat yang ditinggalkan Ciu Tin tin. Dia keluar karena hendak menegur Thi Eng khi, sungguh tak disangka secara kebetulan telah bertemu dengan suaminya dan berhasil menyingkap wajah Huang oh siansu yang sebenarnya, kejut dan girang segera berkecamuk bersama rasa sedih yang amat tebal. la merasa terkejut dan girang karena Thi Tiong giok belum mati, bahkan telah datang kembali. Tapi diapun amat sedih karena Thi Tiong giok begitu tega menjadi seorang hwesio, itu berarti dia tetap akan kehilangan dirinya untuk selamanya. Mengenai hal ini, dia merasa tak dapat menerimanya dengan begitu saja, itulah sebabnya dia merasa seperti kehilangan semangat. Menanti Huang oh siansu menyinggung soal Ciu Tin tin, dia baru teringat dengan kertas yang masih berada dalam genggamannya itu, kepada Thi Eng khi segera teriaknya :

444
Nak, kau telah berbuat suatu kesalahan besar, bagaimana tanggung jawabmu nanti terhadap enci Tin? Coba kau lihat, inilah surat yang ditinggalkan enci Tin mu! Thi Eng khi merasa menyesal sekali dia segera membuka kertas

surat itu dan membacanya : Pek bo yang terhormat, Titli tak dapat berdiri disini lagi, dari pada mempengaruhi perasaan adik Eng untuk itu aku minta maaf yang sebesar besamya untuk ayahku dan diriku sendiri. Keponakan : Ciu Tin tin. Belum habis Thi Eng khi membaca tulisan itu, air matanya sudah jatuh bercucuran. Setelah orangnya tidak ada, dia baru merasakan bahwa Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang menyenangkan dan patut dihormati, selain itu rasa cinta yang selama ini tertanam dalam hatinya turut bergolak pula dengan hebatnya. Huang oh siansu merasa kurang leluasa untuk menegur Thi Eng khi, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang. Setelah kepergian Tin tin, pinceng semakin merasa malu terhadap sobat lamaku di alam baka! Dengan cepat Thi Eng khi berseru : Sekarang juga ananda akan berangkat untuk menyusul enci Tin, seandainya ia tak dapat memaafkan ananda, anandapun merasa tak punya muka lagi untuk berjumpa dengan kalian orang tua berdua. Anak Eng, kau harus ingat," kata Yap Siu ling dengan sedih, "keluarga Thi serta partai Thian liong tak bisa kekurangan dirimu. Huang oh siansu dengan sepasang mata yang memancarkar sinar tajam menatap pula wajah Thi Eng khi tanpa berkedip katanya dengan wajah serius :

445
"Tugas berat untuk membangun kembali Thian liong pay berada ditanganmu, aku harap kau jangan melupakan tugasmu. Selain itu, bulan delapan tanggal limabelas nanti, pertemuan dibukit Siong san akan diselenggarakan, persoalan ini timbul gara gara kau, itulah sebabnya kau berkewajiban untuk melerai pertikaian itu, aku harap kau suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum bertindak!'' Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi menjadi amat terharu sehingga menundukkan kepalanya dengan wajah malu dan mulut terbungkam dalam seribu bahasa.... Setelah menasehati Thi Eng khi, nada suara Huang oh siansu pun menjadi lebih lunak katanya lembut : Besok, kau harus segera melanjutkan perjalanan menuju ke bukit Siong san selesaikan kesalahan paham itu sebaik-baiknya!" Thi Eng khi teringat kembali dengan ibunya, bila dia harus pergi, bukankan ibunya akan sendirian? dengan perasaan kuatir, katanya dengan nada sedih : "Ananda merasa amat kuatir membiarkan ibu berada disini seorang diri!" Besok pagi keempat orang susiokmu akan sampai disini dan bersama ibumu akan kembali ke Huay im untuk mengumpulkan semua anggota Thian liong pay dan membangun kejayaan partai, tak usah kuatir, pergilah dengan hati tenang!" Tiba tiba Thi Eng khi teringat kembali dengan luka Jit sat ci dari keempat susioknya yang telah disembuhkan orang, timbal kecurigaan dalam hatinya, dia lantas bertanya :

Apakah kau orang tua yang telah menyembuhkan luka yang diderita keempat orang susiok? Huang oh siancu menghela napas panjang . Aaai... aku sudah menjadi seorang pendeta, namun pikiranku masih tertinggal dirumah, aku benar benar telah menyia-nyiakan ajaran Buddha.....

446
Tak bisa disangkal lagi, memang semuanya itu merupakan hasil perbuatannya... Thi Eng khi sendiripun cukup menyadari ayahnya masuk menjadi pendeta karena dia merasa menyesal terhadap kematian Gin ih kiam kek. Tapi setelah menjadi pendeta, diapun merasa sedih karenaThian liong pay menjadi kehilangan pamornya lantaran kehilangan dia. Membayangkan semua pengalaman pedih yang dialaminya, tanpa terasa Thi Eng khi ikut merasa bersedih hati. Waktu itu rembulan telah berada diawang awang, tiga sosok bayangan manusia berdiri ditempat masing masing tanpa mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya Huang oh siansu merangkap tangannya didepan dada sambil berkata : Harap hujin baik baik menjaga diri, sianceng ingin mohon diri lebih dahulu!" Yap Siu ling menjadi sedih sekali, bisiknya : "Kau... kau... kau... kau akan .. Mendadak ia merasa amat terperanjat sebab berada dihadapan suaminya yang telah menjadi pendeta memang tidak sepantasnya mengucapkan kata semacam itu lagi, teringat sikapnya tersebut, ia tertunduk dengan wajah memerah karena jengah, tak sepatah katapun sanggup diutarakan lagi. Ayah, kau tak boleh pergi! pekik Thi Eng khi sedih. Sekuat tenaga Huang oh siansu berusaha untuk mengendalikan perasaannya, lalu dengan dingin dia berkata : "Anak dungu, ayahmu sudah menjadi seorang pendeta, kalian tak usah banyak berbicara lagi!"

447
Seusai berkata dia lantas melompat pergi sejauh puluhan kaki lebih dan lenyap dibalik kegelapan sana. Yap Siu ling dan Thi Eng khi berdua musti amat sedih atas kepergian pendeta itu, namun mereka cukup mengetahui akan batas batas yang ada, maka terhadap kepergian Huang oh siansu sama sekali tidak menghalanginya.... Keesokan harinya, betul juga, keempat susioknya telah muncul kembali disana. Perjumpaan ini sangat mengharukan semua orang. Tengah hari sudah tiba namun Thi Eng khi belum juga ada niat untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya Yap Siu ling yang mendesaknya berulang kali sehingga akhirnya harus memohon diri kepada ibu dan keempat orang susioknya untuk berangkat ke bukit Siong san. Tujuannya kali ini adalah bukit Siong san, itu berarti dia harus melewati kembali Kang im, teringat kembali pemandangan sewaktu

dia dan Ciu Tin tin berjalan bersama ditepi sungai kemarin, kembali hatinya merasa sedih. Waktu itu mereka berdua saling menyebut saudara dan akrab sekali hubungannya sungguh tak disangka hanya selisih satu hari saja, gadis cantik itu entah sudah kemana, karena sedih tanpa terasa langkahnya sudah semakin lambat. Ditengah jalan raya tak jauh dari situlah To kak thi koay Li Goan gwee menyaksikan Thi Eng khi sedang berjalan mendekati kearahnya. Waktu itu Thi Eng khi mempunyai urusan, ketajaman mata dan pendengarannya boleh dibilang tidak berfungsi, sekalipun Tok kak thi koay Li Goan gwee berdiri ditengah jalan ternyata pemuda itu sama sekali tidak memperhatikannya. Menanti Thi Eng khi sudah berada dihadapannya, pengemis tua berkaki tunggal itu baru tertawa terbahak bahak sambil menegur :

448
''Saudara cilik, karena urusan apa kau seperti kehilangan semangat? Teguran ini membuat Thi Eng khi amat terperanjat dan mundur tiga kaki kebelakang, menanti dia mendapat tahu kalau orang itu adalah To kak thi koay Li Goan gwee, sambil tertawa jengah sahutnya : Oooh.... tidak apa, tidak apa apa " "Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... aku lihat tentunya disebabkan kepergian nona Ciu bukan? tegur To kak thi koay Li Goan gwee sambil tertawa tergelak. Thi Eng khi menjadi agak tertegun. Darimana kau bisa tahu kalau enci Ciu telah pergi?" dia balik bertanya dengan keheranan. Kemarin sewaktu aku balik kemari, anak murid Kay pang telah datang melapor dan mengatakan telah melihat nona Ciu serta seorang perempuan cantik setengah umur sedang berlarian menelusuri sungai, menurut laporan anggota kami itu nona Ciu seperti nampak agak sedih, sepanjang jalan dia hanya menghela napas panjang pendek dan amat tidak senang hati, untung saja perempuan cantik setengah umur itu menghiburnya terus menerus sehingga dia tak sampai menangis. Thi Eng khi semakin sedih setelah mendengar perkataan itu, katanya tersipu sipu : Tak usah dikatakan lagi, kesemaunya itu adalah gara gara siaute yang telah membuatnya bersedih hati. Kalau begitu kau datang kemari untuk mengejarnya? "Tidak, Thi Eng khi menggeleng, "siaute mendapat perintah untuk berangkat kebukit Siong san terpaksa masalah tentang nona Ciu harus disingkirkan lebih dulu.

449
Setelah berhenti sebentar, mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, dengan cepat ujarnya : "Siaute mempunyai suatu permintaan yang tidak pantas, entah engkoh tua bersedia untuk mengabulkannya atau tidak?" Berkilat sepasang mata To kak thi koay Li Goan gwee setelah

mendengar perkataan itu. "Bila ada kesempatan buat aku si pengemis tua menyumbang tenaga, dengan senang hati engkoh tua akan melaksanakannya," Ia menyahut cepat. Jawaban ini hangat dan simpatik sekali. Tanpa terasa Thi Eng khi jadi teringat kembali dengan sikap kasarnya semalan, bukan cuma mencemooh saja bahkan menghajarnya pula sampai terluka padahal orang itu amat ramah sekali sikapnya, rasa malu dan menyesal menyelimuti pula benaknya. Setelah menghela napas, katanya : Engkoh tua amat gagah dan ringan tangan, siaute benar benar merasa menyesal sekali. Saudara cilik, lebih baik tak usah membawa pokok persoalan ke masalah yang lain, teriak To kak thi koay Li Goan gwee cepat cepat,"begitu kau membawa pembicaraan ke soal lain, aku jadi tak jelas mendengarnya. Ada urusan apa sih? Cepat katakan saja berterus terang!" Terpaksa sambil tebalkan muka Thi Eng khi berkata : "Sudah lama aku dengar orang berkata, konon anak buah Kay pang tersebar sampai di seluruh penjuru langit, ketajaman mata dan pendengarannya mengagumkan dan tiada tara didunia, karena itu siaute mohon bantuan engkoh tua untuk memberitahukan kepada semua anggota untuk setiap saat mengawasi gerak gerik nona Ciu, kemudian menyampaikannya kepada siaute, atas bantuan ini siaute akan merasa amat berterima kasih sekali." Aaaah.... itu mah soal kecil, serahkan saja kepada engkoh tuamu," kata To kak thi koay Li goan gwee sambil menepuk dada.

450
Sambil tertawa Thi Eng khi segera menyampaikan rasa terima kasihnya yang tak terkirakan. Kembali To kak thi koay Li Goan gwee berkata : "Saudara cilik hendak pergi ke bukit Siong san, apakah kau tahu memotong jalan?" Sambil tertawa getir Thi Eng khi menggeleng. "Siaute merasa asing sekali dengan daerah disekitar tempat ini, terpaksa sebagian jalan dilewati aku harus bertanya bagian jalan yang lain kepada orang." Kebetulan sekali aku si pengemis tua juga hendak berangkat ke bukit Siong san untuk memberi laporan, bagaimana andaikata saudara cilik melakukan perjalanan bersama aku si pengemis tua?" Thi Eng khi menjadi girang setengah mati, sahutnya cepat cepat : Itulah yang siaute harapkan, terima kasih banyak atas kebaikan engkoh tua....." To kak thi koay Li Goan gwee segera menggape seorang pengemis cilik dan menyampaikan pesan beberapa patah kata, kemudian bersama Thi Eng khi menembus kota Kang im dan langsung berangkat menuju ke bukit Siong san. Dengan adanya si pengemis tua itu sebagai penunjuk jalan, perjalanan yang ditempuh kedua orang itu menjadi lebih cepat lagi, sepanjang jalan mereka jarang sekali berhenti sehingga tak selang beberapa waktu kemudian mereka sudah memasuki wilayah Hoolam.

Suatu hari sampailah mereka disebuah kota yang tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar, kota itu bernama Ciu keh ko. Sebagaimana dihari hari sebelumnya, pengemis tua itu tak pernah tinggal bersama Thi Eng khi, dia disambut oleh para anggota

451
partainya. Sedangkan Thi Eng khi segera mencari rumah penginapan untuk beristirahat. Rumah penginapan itu bisa ditinggali enam orang tamu, tapi hari ini rupanya agak sepi, sebab dalam rumah penginapan itu, kecuali Thi Eng khi, hanya ada seorang kakek peramal yang sudah buta matanya. Ketika Thi Eng khi masuk kedalam rumah penginapan, kakek buta itu segera tertawa kepadanya sehingga tampaklah sepasang giginya yang putih dan bersih. Thi Eng khi tidak memperhatikan gigi dari kakek buta itu namun dia merasa heran dengan senyuman terhadap dirinya itu, sebab dia adalah seorang yang buta, kenapa bisa melihat orang? Kalau tidak melihat, kenapa tertawa? Sementara dia masih termenung, kakek buta itu telah berkata lebih dahulu. "Kek koan, kau hendak meramalkan nasib?" Kembali Thi Eng khi berpikir : "Kakek buta ini pasti sudah mendengar suara langkah kakiku, maka dianggapnya aku datang untuk melihat nasib..." Setelah berpikir demikian, otomatis rasa curiganya menjadi lebih tawar banyak sekali. Maka sahutnya pula dengan cepat : "Aku datang untuk mencari kamar!" "Kalau ingin mencari kamar, hal ini lebih baik lagi, kita memang sama sama menginap ditempat ini, toh tak ada urusan lain? Bagaimana kalau aku si buta mempersembahkan sebuah ramalan tanpa membayar?" Ketika Thi Eng khi menyaksikan waktu masih pagi, diapun lantas duduk disamping mejanya seraya berkata : "Kalau begitu merepotkan losianseng!

452
Menyusul kemudian dia menyebutkan tanggal, bulan, hari dan jam kelahirannya. Kakek buta itu menghitungnya beberapa waktu, kemudian dengan wajah membesi katanya agak tergagap : "Soal ini... soal ini..." Nasibku memang tidak baik, sudahlah, tak perlu diramalkan lagi!" kata Thi Eng khi sambil tertawa nyaring. Seraya berkata dia lantas bangkit berdiri dan siap berlalu dari tempat itu. Dengan cepat kakek buta itu merentangkan bambu hitamnya sambil berseru dengan gelisah : Harap tunggu sebentar kek koan, walaupun nasib tuan sukar diduga, namun dari gelak tertawa tadi bisa diketahui kalau kau memiliki gejala hoki dan terhormat, entah bolehkah kek koan mengijinkan aku si buta untuk meraba tulangmu?" Thi Eng khi benar benar dibuat serba rikuh untuk menampik, terpaksa dia mengabulkan permintaan orang. Akan tetapi ketika telapak tangan si buta itu menempel diatas

badannya, mendadak timbul kewaspadaan didalam hatinya, diam diam hawa murni sian thian bu khek ji gi sin kang miliknya dikerahkan untuk melindungi semua jalan darah penting disekujur tubuhnya. Kakek buta itu meraba tubuh Thi Eng khi beberapa saat lamanya, ketika Thi Eng khi menyaksikan gerakan mana seakan akan tidak mendekati jalan darah didalam tubuhnya dia menjadi keheranan bercampur geli, pikirnya cepat : "Aku benar benar melakukan tindakan yang bodoh, kenapa badanku musti dibiarkan dia raba? Aku...." Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, mendadak dia merasakan telapak tangan kakek buta itu menekan keatas tubuhnya, menyusul kemudian terasa ada sebuah benda yang menembusi jalan darah Hong wi hiat dipunggungnya. Thi Eng khi memiliki tenaga dalam yang sempurna, ditambah lagi dengan perlindungan hawa sian thian bu khek ji gi sin kang pada

453
waktu itu dia hanya tersenyum belaka ingin diketahui olehnya apakah sibuta itu benar benar berniat melukai orang. Selain daripada itu, hawa murninya segera dihimpun bersiap sedia melakukan gerakan untuk merobohkan lawan. Benda yang berada dalam telapak tangan kakek buta itu mulai menyentuh kulit badan Thi Eng khi akan tetapi tidak ditusukkan kedalam atau menusuknya kuat kuat. Secara beruntun dia hanya menusuknya sebanyak tiga kali saja. Thi Eng khi tidak habis mengerti permainan setan apakah yang sedang dilakukan kakek buta itu terhadap dirinya, sebelum dia hendak buka suara, kakek buta itu sudah berseru sambil tertawa. Kek koan memiliki tulang yang bagus dan tiada duanya didunia ini, kali ini aku si buta benar benar dibuat kebingungan. Belum habis perkataan itu diutarakan, Thi Eng khi segera merasakan telapak tangan kakek buta itu kembali menekan jalan darahnya. Tahu tahu benda tersebut sudah menembusi pelindungan hawa khikang Sian thian bu khek ji gi sin kang disekeliling tubuhnya, kemudian menusuk masuk ke dalam dan menyusup ke dalam organ tubuhnya. Sekarang Thi Eng khi baru menyadari akan datangnya ancaman bahaya maut, dengan wajah berubah hebat dia segera berpekik keras didalam hati kecilnya : "Aduh... celaka!" Tanpa membuang waktu lagi dia membalikkan tubuhnya sambil melancarkan sebuah pukulan kencang ke arah tubuh si kakek buta tersebut. Siapa tahu, tatkala telapak tangannya menghajar diatas tubuh kakek buta itu, hanya kedengaran suara benturan yang amat nyaring belaka. "Plaaaak...! diiringi suara yang nyaring telapak tangan itu menghantam tubuh si kakek buta, namun sama sekali tidak menimbulkan luka atau akibat apapun. Ternyata hawa murni yang berhasil dihimpunnya tadi kini sudah lenyap tak berbekas, seolah

454
olah sebuah bola yang tahu tahu ditusuk dengan sebuah jarum,

kontan bola itu menjadi kempes. Sementara si anak muda itu merasa terperanjat, si buta itu sudah memutar balikkan biji matanya sehingga kelihatan kembali bola matanya yang hitam, sambil menatap pemuda itu dengan pandangan tajam, dia tertawa terkekeh dengan seramnya. "Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh... Tong thian si kut ciam (jarum tajam penebus tulang) merupakan senjata yang khusus untuk menghancurkan hawa murni orang, bocah keparat, kau tertipu kali ini!" Cay hong sian ci Liok Sun hoa ditarik putri kesayangannya berangkat meninggalkan Yap Siu ling dan Thi Eng khi, ketika dilihatnya perjalanan dilakukan semakin lama semakin cepat dan sama sekali tiada maksud untuk berhenti, rasa heran dan tercengang segera menyelimuti wajahnya. Kepada putrinya yang amat murung itu dia menegur : Nak, kau ada persoalan apa? Sekarang boleh kau sampaikan kepadaku? Ketika itu pikiran maupun perasaan Ciu Tin tin sedang kalut sekali, pengalamannya selama setahun berkecamuk didalam benaknya, dia tak tahu harus berkisah dari mana lebih dahulu. Akhirnya dia merasakan hatinya menjadi kecut dan titik air mata bagaikan layang layang putus berderai membasahi pipinya, dia berhenti ditepi jaian dan tidak melanjutkan perjalanannya lagi. Dengan cepat Cay hong sian ci Liok Sun hoa memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, kemudian tegurnya dengan gelisah : Nak, kejadian apakah yang telah kau alami? Cepat katakan kepadaku, tak usah disembunyikan didalam hati lagi, apabila disimpan terus badanmu bisa sakit dan aku akan semakin sedih!"

455
Perasaan Ciu Tin tin pada saat ini ibaratnya kuda yang terlepas dari talinya, dia tak sanggup mengendalikan diri lagi, sambil menubruk kedalam pelukan ibunya dia berseru: "Oooh... ibu!" Hanya sepatah kata saja yaag dapat dia ucapkan. Sambil membelai rambut putrinya yang halus dengan penuh kasih sayang, Cay hong sian ci Liok Sun hoa membiarkan ia menangis sepuasnya kemudian sambil mengangkat wajahnya dia berkata sambil menghela napas panjang : Nak, apakah kau sedang bercekcok dengan bocah dari keluarga Thi itu.....?" Bagaimanapun juga perasaan seorang ibu memang jauh lebih tajam, ternyata Cay hong san ci Liok Sun hoa berhasil menebaknya dengan jitu. Ciu Tin tin segera mengangguk, lalu menggeleng lagi, dengan suara yang begitu lirih sehingga hanya ibunya saja yang mendengar, dia berbisik kembali : "Tidak! Dia sama sekali tidak senang kepadaku....uuuh....uuuh... ." kembali dia menangis tersedu-sedu. Mendengar perkataan itu, Cay hong sian ci Liok Sun hoa mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian serunya dengan gusar : Kurangajar, dengan wajah anakku yang begini cantik, sekalipun belum bisa dikatakan tiada keduanya didunia ini, belum tentu bisa

dijumpai berapa orang lagi, bocah muda itu benar benar punya mata tak berbiji, tidak bisa dibiarkan terus, ibu harus bertanya kepadanya, sebenarnya dia mempunyai maksud dan tujuan apa? Walaupun berkata demikian, padahal dia sama sekali tidak berniat untuk benar benar pergi menegur Thi Eng khi, apa yang diucapkan tak lebih hanya ingin mengurangi rasa kesal yang sedang mencekam perasaan putrinya belaka. Menyusul kemudian, Cay hong sian ci Liok Sun hoa menghela napas panjang dan berkata lagi :

456
Berbicara tentang bocah dari keluarga Thi itu baik soal wajah maupun soal ilmu silat semuanya memang bagus sekali bila kau bisa memperoleh seorang lelaki macam dia sebagai suami, tentu bahagia hidupmu, dengan begitu ibupun bisa mempertanggung jawabkan diri kepada ayahmu yang tak berperasaan itu! Cepat katakan kepadaku, persoalan apakah yang sedang melibatkan kalian berdua, agar ibu pun bisa turut memikirkan dan berusaha untuk memecahkannya! Ciu Tin tin segera menyeka air mati yang membasahi pipinya, lalu berkata agak lersipu: Dia orangnya baik sekali, cuma sedikit agak tidak mengerti soal kasih sayang. Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa ringan: "Nak, kau benar benar mengejutkan ibu kalau hanya persoalan sekecil ini, masa dengan kecerdasan otakmu juga tak dapat mengatasinya. Nak, bukankah ibu seringkali memberitahukan kepadamu dalam menghadapi persoalan apapun harus dikerjakan baik baik, harus punya kesabaran, jangan gampang putus asa, sekali gagal coba kedua kalinya, gagal lagi coba untuk ketiga kalinya, dengan begitu lama kelamaan apa yang kau harapkan sudah pasti akan tercapai...." Dengan sedih Ciu Tin tin berkata : Sesungguhnya antara keluarga Ciu dan keluarga Thi mereka terdapat suatu persoalan yang sukar untuk dihilangkan dengan begitu saja. Itulah sebabnya ananda tak tahu apa yang harus dilakukan! Cay hong sian ci Liok Sun hoa sama sekali tidak tahu kalau Ciu Tin tin telah menganggap Lan in cu tok Thi Tiong giok sebagai ayahnya, dia mengira anak gadisnya berkenalan dengan Thi Eng khi sewaktu mencari ayahnya dan mereka saling jatuh cinta. Itulah sebabnya dia menjadi agak bingung mendengar perkataan itu, ujarnya : "Bukankah ayah si bocah dari keluarga Thi adalah Thi Tiong giok?

457
Ciu Tin tin mengangguk. Yaa benar, memang dia orang tua!" Kembali Cay hong sian ci Liok Sun hoa tertawa, "Apa jeleknya? Dahulu ayahmu dan Thi Tiong giok adalah sahabat yang paling akrab, asal ibu mau menampilkan diri, persoalan apapun pasti akan beres dengan sendirinya!

Sampai sekarang, Ciu Tin tin baru ingat kalau dia belum menceritakan kisahnya di mana berhasil menemukan jejak ayahnya kepada ibunya, teringat soal ayah, semua kemurungan segera hilang lenyap tak berbekas, sebagai gantinya sekulum senyuman menghiasi wajah gadis itu. Ibu, ananda akan menyampaikan sebuah kabar gembira kepadamu!" serunya kemudian Cai hong sian ci Liok Sun hoa mengira Ciu Tin tin melantur dan mengalami perubahan sikap sehingga bicaranya semakin tak karuan. Dengan kening berkenyit serunya : "Nak, sampai dimana pembicaraanmu itu kau bawa? Ciu Tin tin ada maksud untuk membuat ibunya terkejut, dengan cepat dia berseru : "Aku berhasil menemukan ayah! Betul juga, ucapan tersebut segera membuat Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi girang setengah mati, dia segera mencengkeram bahu Ciu Tin tin sambil menegaskan. "Nak, apa kau bilang? "Ananda telah berhasil menemukan ayah!" ulang Ciu Tin tin lagi dengan wajah berseri.

458
Agaknya Cay hong sian ci Liok Sun hoa tidak kuat menghadapi berita gembira ini.. seketika itu juga dia merasakan kepalanya menjadi pening, badannya menjadi lemas dan gontai tiada hentinya. Aaaah..aaahh... ternyata dia masih hidup, ternyata dia masih hidup..." gumamnya tak henti. Ananda memang pantas ditegur, seharusnya berita gembira ini musti disampaikan cepat cepat kepadamu, tidak membuat ibu menjadi susah dan harus keluar rumah mencari diriku, kata Ciu Tin tin lagi sambil memayang tubuh ibunya. Cay hong sian ci Liok Sun hoa menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan pikiran yang jauh lebih jernih dia berkata : Benarkah itu nak? Persoalan besar seperti ini kenapa tidak kau sampaikan dulu kepada ibu?" Mendadak kemurungan menyelimuti kembali wajah Ciu Tin tin, katanya lebih jauh : Oleh karena persoalan dari ayah mempunyai sangkut paut dengan keluarga Thi, sedangkan keluarga Thi sedang menghadapi suatu musibah besar, maka ananda harus menuruti keinginan ayah untuk secara diam diam melindungi keselamatan keluarga Thi, itulah sebabnya pula akupun tak punya waktu untuk pulang ke rumah dan menyampaikan kabar berita ini kepada kau orang tua. Apakah sudah kau tanyakan kepada ayahmu, kenapa selama dua puluh tahun lamanya dia tak pernah pulang rumah? tanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa lagi... Ciu Tin tin menerangkan lebih dahulu soal pertarungan antara Thi Tiong giok dengan ayahnya, kemudian dia baru menambahkan : "Oleh karena ayah merasa menyesal sekali atas terjadinya peristiwa ini, rnaka beliaupun memutuskan untuk menjadi seorang hwesio. Ketika ananda berjumpa dengannya waktu itu, dia masih belum dapat melupakan peristiwa itu. Cay hong sian ci Liok Sun hoa termenung dengan sedih,

kemudian katanya pelan :

459
Apa yang dilakukan ayahmu memang benar, ibu tak dapat menyalahkan dirinya. Benar benar tak disangka kalau Cay hong sian ci Liok Sun hoapun merupakan seorang perempuan yang berpandangan luas dan berlapang dada. Menyusul kemudian, dia bertanya lagi : "Apakah keluarga Thi sudah mengetahui akan persoalan ini?" Ciu Tin tin mengangguk : "Ya, mereka sudah mengetahui akan hal ini dan mereka bersedia untuk memaafkan ayah! Cay hong sian ci Liok Sun hoa memuji : Ibu dan anak dari keluarga Thi itu memang seorang yang mengagumkan, kalau memang begitu apakah yang menjadi pangkal persoalanmu sekarang? Jilid : 14 PARAS muka Ciu Tin tin kembali berubah menjadi amat sedih sekali sahutnya : Sebenarnya ananda mempunyai maksud untuk membuat pahala bagi keluarga Thi guna menebuskan dosa ayah, tapi rupanya adik Eng mengetahui akan hal ini dan ia tidak bersedia menerima kebaikan ananda!" Dengan kening berkerut Cay hong sian ci Liok Sun hoa termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata : Nak, kalau begitu hal ini tak bisa disalahkan Thi Eng khi, seandainya dia menerima pembalasan semacam ini, bukankah hal ini akan membuatnya menjadi semakin murung? Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah, kemudian katanya dengan lirih : Ananda bukan bermaksud menyalahkan keadaannya, cuma saja. cuma saja. isi hati anda.. Tiba tiba pipinya berubah menjadi merah dan tak sanggup untuk dilanjutkan lagi, Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera tertawa.

460
Tak usah kuatir nak katanya, bagaimanapun juga kita harus mencari sebuah cara yang baik untuk mengulangi persoalan ini, sekarang mari kita pergi mencari ayahmu, dia berada di mana? "Ayah tinggal di pagoda Ci hong kek di bukit Si soat!" Maka kedua orang itupun segera berangkat menuju ke bukit Si soat san. Pagoda Ci hong kek terletak dipungggung bukit sebelah barat, sepanjang jalan menuju ke kuil itu terdapat undak undakan batu yang berjumlah ratusan banyaknya. Disebelah barat dan timur bangunan terdapat serambi, diserambi sebelah timur saling berhadapan dengan bukit Cian hud nia yang banyak terdapat batuan cadas. Sedangkan serambi bagian barat menghadap bukit barat, puluhan kaki didepannya terdapat sumber mata air yang dinamakan Tin cu swey. Waktu itu adalah bulan delapan musim gugur yang dingin, daun merah memenuhi permukaan tanah seperti sinar diwaktu senja pemandangan indah dan menawan hati. Diatas permukaan tanah berlapiskan dedaunan merah itu, tampaklah dua sosok bayangan

manusia sedang bergerak dengan kecepatan tinggi. Yang berjalan didepan adalah Ciu Tin tin, sedangkan dibelakangnya mengikuti seorang perempuan setengah umur, tentu saja dia tak lain adalah Cay hong sian ci Liok Sun hoa. Setelah melakukan perjalanan sekian waktu, akhirnya sampailah mereka dibawah bukit Ci hong cay. Ciu Tin tin segera membuat muka setan kepada ibunya sambil berbisik : Ibu, tunggulah aku disini, ananda akan rnengundang ayah datang kemari, agar dia merasa terkejut bercampur gembira. Ciss.... kau lagi lagi menjadi nakal! desis Cay hong sian ci Liok Sun hoa.

461
Tapi ia toh menyelinap pula kebelakang setumpukan daun merah dan menyaksikan Ciu Tin tin melanjutkan perjalanannya menuju ke kuil. Ia merasa jantungnya berdebar amat keras, wajahnya tanpa terasa berubah pula menjadi merah padam. Dengan suatu gerakan yang amat enteng Ciu Tin tin langsung mendekati jendela kamar sebelah barat, lalu mengintip kedalam. Ditangannya membawa sebatang ranting kering, dia bermaksud untuk mengajak ayahnya bergurau. Siapa tahu, apa yang kemudian terlihat olehnya membuat dia bergetar keras dan menjadi ragu. Dalam kamar itu bukannya tak ada orang, yang berada disana tidak mirip ayahnya, orang itu duduk dengan membelakangi jendela, walaupun kepalanya juga gundul akan tetapi perawakan tubuhnya jauh lebih kecil daripada Huang oh siansu. Ciu Tin tin menjadi keheranan setengah mati, pikirnya kemudian : Jangan jangan ayah sudah pindah ke tempat lain? Sementara dia masih ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan, mendadak orang yang berada dalam kamar itu telah membalikkan badannya berikut kursi yang didudukinya, cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Ciu Tin tin hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan orang itu sudah berdiri dihadapannya. Ternyata dia adalah seorang nikou kecil berusia tujuh delapan belas tahunan, sambil manggut manggut ke arah Ciu Tin tin seraya berkata : Apakah nona Ciu yang berdiri diluar jendela? Pinni sudah lama sekali menantikan kedatanganmu! Ciu Tin tin tidak mengira kalau nikou kecil itu kenal dengannya, dengan wajah tercengang karena keheranan, tegurnya : Sau suhu, tolong tanya siapa namamu? Tiba tiba nikou kecil itu tertawa tergelak, katanya : Pinni Sim ji, apakah nona Ciu juga pernah mendengar namaku disebut orang...

462
Ciu Tin tin harnpir saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dengan cepat mengulangi lagi pertanyaannya : Oooh.... jadi sau suhu adalah muridnya Sim ji Sinni? "Pinni lah Sim ji! jawab Sim ji sinni sambil tersenyum. Melihat wajah yang serius, Ciu Tin tin mengira nikou itu sedang berlagak hendak menggunakan nama besar dari Sim ji sinni untuk

menggodanya, maka kontan saja dia tertawa terpingkal pingkal. "Sau suhu, kau jangan menggertak orang walaupun siaumoay belum pernah bersua dengan Sim ji sinni dia orang tua, namun aku juga tahu kalau kau telah melanggar pantangan untuk berbohong." Perlu diketahui, Sim ji sinni adalah seorang nikou saleh yang sudah termashur hampir seratus tahun lamanya, kepandaian silat yang dimilikinya amat lihay dan tiada taranya didunia ini, seandainya belum mati, usianya juga berada diatas seratus tahun, mana mungkin dia bisa berwujud seorang nikou berumur tujuh delapan yang berada dihadapan matanya sekarang? Oleh karena itu, Ciu Tin tin lantas menuduh nikou muda itu telah melanggar pantangan berbohong. Sim ji sinni yang berada didalam kamar hanya tersenyum belaka, ia sama sekali tidak membantah lagi. Tapi pada saat itulah dari belakang tubuh Ciu Tin tin telah terdengar suara Cay hong sian ci Liok Sun hoa yang sedang menegur : Anak Tin, mengapa kau tak tahu sopan santun? Setelah berjumpa dengan Sim ji locianpwe kenapa belum juga memberi hormat? Rupanya Cay hong sian ci Liok Sun hoa tidak sabar untuk menunggu terlalu lama, maka diapun menyusul ke sana. Menanti Ciu Tin tin membalikkan kepalanya, dia saksikan ibunya sudah menyembah dihadapan nikou itu sembari berkata :

463
"Boanpwe Liok Sun hoa beserta putri boanpwe Ciu Tin tin menghunjuk hormat buat locianpwe." Setelah menyaksikan ibunya pun turut menyembah, Ciu Tin tin tak berani banyak berbicara lagi, buru buru dia turut berlutut sambil berkata dengan ketakutan : Boanpwe masih muda dan cetek pengetahuannya, harap Lo sutay bersedia memaafkan kesalahanku. Baru selesai perkataan itu diutarakan, Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa merasakan tubuhnya menjadi enteng, entah kepandaian apakah yang telah dipergunakan oleh Sim ji nikou, tahu tahu mereka sudah ditarik masuk ke dalam kamar, bahkan posisi mereka yang sedang berlutut tadi kinipun menjadi berdiri. Semua kesangsian yang semula masih menyelimuti benak Ciu Tin tin dengan cepat berubah menjadi kekaguman yang tak terhitung, dengan termangu mangu dia hanya bisa mengawasi wajah Sim ji sinni tanpa berkedip. Sim ji sinni segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Cay hong sian ci Liok Sun hoa, kemudian ujarnya sambil tertawa : ''Nona Liok, mungkin sudah ada tiga puluh lima enam tahunan kita tak pernah saling bersua bukan, aku masih ingat ketika itu kau masih berumur sepuluh tahun, masih merupakan seorang nona cilik yarg nakalnya bukan alang kepalang." Mendengar kalau Sim ji sinni masih teringat dengannya, Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi amat gembira sekali, serunya dengan penuh rasa hormat : Tahun ini boanpwe berusia empat puluh delapan tahun, kalau dihitung memang sudah ada tiga puluh delapan tahun lamanya tak

pernah bersua dengan kau orang tua, sungguh tak nyana wajah kau orang tua masih seperti sedia kala, bahkan semangatnya masih nampak segar, benar benar membuat malu kami yang menjadi boanpwe saja." "Aaah... hanya tanpa sengaja pinni berhasil makan buah Tiang kim ko yang bisa membuat orang awet muda, itu mah tidak

464
terhitung seberapa, aku lihat putrimu justru berbakat bagus, sungguh membuat pinni merasa kagum sekali." Sambil berkata dengan sepasang matanya yang jeli dan tajam dia awasi Ciu Tin tin tak berkedip, membuat gadis itu menjadi serba salah dan rikuh sekali. Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera menyadari apa maksud dari perkataan nikou itu, kejut dan girang membuatnya menjerit tertahan : "Kaukau orang tua .... Apakah kau orang tua menganggap Tin tin masih bisa dididik? Dalam gembiranya, dia sampai lupa memberi tanda kepada Ciu Tin tin. Sambil menjatuhkan diri berlutut, serunya : "Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwe untuk menerimanya! Sim ji sinni segera tertawa, tukasnya : Nona Liok, yang harus memberi hormat bukan kau melainkan putrimu. Segulung tenaga yang amat besar segera membimbing tubuh Cay hong sian ci untuk bangkit berdiri. Cay hong sian ci Liok Sun hoa menjadi tersipu sipu, sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata : "Setelah mendengar kabar gembira dari locianpwe, hampir saja boanpwe menjadi lupa diri." ''Aku lihat putrimu mempunyai pandangan lain, belum tentu dia bersedia menjadi murid pinni." Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera berpaling kearah putrinya sambil berseru : Tin tin, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa tidak cepat cepat memberi hormat kepada suhu? Betul juga, Ciu tin tin segera menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

465
Aaai.... ayah pernah berkata kepada boanpwe, dia hendak mencarikan seorang suhu yang baik untuk boanpwe dan boanpwe telah meluluskan permintaan dia orang tua, atas kebaikan hati locianpwe yang memandang diriku, boanpwe merasa berterima kasih sekali, tapi boanpwe tak ingin sembarangan mengangkat guru tanpa persetujuan ayah, karena itu harap locianpwe sudi memaafkan. Tahukah kau siapakah yang hendak dicarikan oleh Huang oh siansu untuk dijadikan gurumu? tanya Sim ji sinni. Semestinya, Sim ji sinni harus membasahi 'Huang oh sinni' sebagai ayahmu' cuma hal tersebut sama sekali tidak menarik perhatian Ciu Tin tin berdua. Dengan wajah yang terang, gadis itu segera menggeleng.

Ayahku tidak memberi keterangan apa-apa, sahutnya. Dengan suara yang tegas Sim ji sinni lantas berkata : ''Pinni bertanya andaikata aku adalah orang yang diundang Huang oh siansu untuk menjadi gurumu, apakah kau mengakuinya? Dihadapkan pada pertanyaan yang sangat aneh ini, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Ciu Tin tin sekalipun dia merasakan pertanyaan itu kurang wajar namun belum terpikirkan olehnya kalau Huang oh siansu sebetulnya bukan ayahnya. Maka sahutnya kemudian : Huang oh siansu adalah ayahku, perkataan dari Huang oh siansu sama dengan ucapan dari ayahku! Andaikata perkataan dari Huang oh siansu tak dapat melambangkan maksud hati dari ayahmu? tanya Sim ji sinni tibatiba dengan wajah amat serius. Cay hong sian ci Liok Sun hoa lantas menimbrung : Walaupun suamiku telah menjadi seorang pendeta, namun terhadap istri dan anak sendiri tidak seharusnya memandang asing, ucapan dari locianpwe itu sungguh membuat boanpwe sekalian merasa tidak habis mengerti.

466
Sim ji sinni menggelengkan kepalanya berulang kali dengan kening berkerut ujarnya : Apakah kalian berdua masih menganggap Huang oh siansu sebagai Gin ih kiam kek (jago pedang baju perak) Ciu Cu giok? Mendengar pertanyaan itu, paras muka Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa berubah sangat hebat serunya tergagap : Apakah dia .... apakah dia..... Untuk sesaat mereka tak berani melanjutkan kembali kata katanya. Sambil menghela napas panjang Sim ji sinni mengangguk, sahutnya pelan : Yaa, Huang oh siansu bukan orang lain, dia adalah Lan sin cu tok (pemuda tampan berbaju biru) Thi Tiong giok yang angkat nama bersama sama Gin ih kiam khek! Suara yang berat dan kata kata yarg mengejutkan betul betul menggetarkan perasaan. Dalam keadaan sama sekali tidak siap, kabar berita itu cukup membuat Ciu Tin tin berdua merasakan pukulan batin yang sangat berat, tanpa bisa membendung gejolak perasaan mereka lagi, kedua orang itu saling berpelukan sambil menangis tersedu sedu. Sim ji sinni membiarkan mereka berdua menangis sepuas puasnya sampai semua kepedihan yang mencekam perasaan mereka terlampiaskan keluar, kemudian dengan suara lembut, ia baru berkata : "Dalam peristiwa yang menyangkut soal keluarga Ciu dan keluarga Thi, berbicara yang sebenarnya, Thi Tiong giok sama sekali tidak salah, kalian tak boleh terlampau menyalahkan dirinya. Ciu Tin tin menjadi teringat kembali dengan nasehat yang dilontarkan kepada Thi Eng khi ketika pada waktu itu dia mengira Thi Tiong giok sebagai ayahnya, sungguh tak disangka perkataan itu sama halnya dengan menasehati diri sendiri. Kini,dia tak dapat berkata apa apa lagi, dengan suara yang amat sedih ia lantas berseru: Ibu...oooh, ibu..... empek Thi.. dia....

467
Belum selesai dia berkata, Cay hong sian ci Liok Sun hoa telah menyeka air matanya dan berkata dengan serius : Nak, kau tak usah kuatir, ibu masih bisa memandang persoalan ini jauh lebih luas. Ketika itu pihak keluarga Thi pun bisa melupakan soal dendamnya terhadap keluarga Ciu, bahkan menganggap kau sebagai putri sendiri. Apakah keluarga Ciu kita tak dapat pula berbuat seperti apa yang dilakukan keluarga Thi? Aku pasti akan menganggap pula engkoh Engmu itu sebagai anakku sendiri. Kalau harus disalahkan maka nasib kita yang jeleklah yang harus disalahkan, akupun tak akan berkata lebih banyak dari sepatah kata itu saja. Sim ji ji Sinni yang mendengar perkataan itu menjadi terharu sekali, tak tahan dia lantas menghela napas sambil memuji : Kalian keluarga Ciu dan keluarga Thi bisa sama sama berjiwa besar dan bersikap dewasa, hal ini benar benar merupakan suatu contoh yang patut diikuti oleh umat persilatan lainnya, loni turut bergembira sekali atas kejadian ini, moga moga saja apa yang telah kalian lakukan hari ini akan mempengaruhi pula keadaan dalam dunia persilatan pada umumnya! Setelah menghela napas panjang, nikou itu berkata lebih jauh : Berbicara kembali tentang peristiwa pada waktu itu pinni boleh dibilang merupakan satunya satunya orang yang ikut menyaksikan satu musibah tersebut. Apakah waktu itu locianpwe juga hadir disana? tanya Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa hampir bersama. Pinni telah datang terlambat, waktu itu ayahmu telah meninggal dunia .. Setelah berhenti sebentar, terusnya : Sedangkan Lan sin cu tok Thi Tiong giok berlutut disamping jenasah ayahmu sambil menangis tersedu-sedu, melihat itu pinni lantas menyembunyikan diri, aku ingin melihat bagaimanakah sikapnya menghadapi peristiwa tersebut. Setelah menangis sampai air matanya mengering dan jatuh pingsan beberapa kali, Lan sin cu

468
tok Thi Tiong giok baru menggali sebuah liang dan mengubur jenasah ayahmu, kemudian dicarinya dua buah batu bongpay, pada batu bongpay yang pertama diukir nama ayahmu sedangkan pada batu bongpay yang lain dituliskan kata Tempat bersemayan Thi giok, setelah itu dia menggali sebuah liang lagi, memasang batu nisan itu dan membaringkan diri ke dalam liang, lalu dengan ilmu tenaga dalamnya dia hisap tanah pasir itu ke atas tubuhnya dengan tujuan menguburnya hidup hidup agar bisa mengiringi kematian temannya. Mendengar sampai disitu, Liok Sun hoa serta Ciu Tin tin menjadi terkejut sekali sehingga tanpa terasa berseru tertahan kemudian mereka memuji bersama : Empek Thi memang merupakan seorang lelaki yang luar biasa didunia ini! Sim ji sinni tertawa pelan, katanya lagi : Setelah menyaksikan orang yang begitu perkasa dan setia

kawan, tentu saja Pinni tak dapat membiarkan dia mati dengan begitu saja, maka pinnipun menampakkan diri dan mencegah keinginannya untuk bunuh diri, setelah menasehatinya selama tiga hari tiga malam ia baru bersedia mengurungkan niatnya untuk mati dan masuk menjadi pendeta. Setelah mendapat keterangan dari Sim ji sinni ini, Ciu Tin tin dan ibunya baru mengerti bahwa kebesaran Thi Tiong giok serta kesetia kawannya jauh melebihi apa yang mereka bayangkan semula. Terdengar Sim ji sinni berkata lebih lanjut : Untuk mendidik anak Tin menjadi seorang pendekar, Huang oh siansu sengaja meminta kepada pinni untuk menerimamu menjadi murid, pinni dapat merasakan kebesaran jiwanya itu, maka akupun tidak menampik keinginannya tersebut. Selain daripada itu, Huang oh siansu telah menyerahkan kepada pinni beberapa macam obat obatan mestika yang berhasil dikumpulkan selama banyak tahun ini untuk digunakan oleh anak Tin!

469
Makin berbicara Sim ji sinni berkata semakin keras, sehingga akhirnya karena terharu Ciu Tin tin dan Liok Sun hoa sampai mengucurkan air matanya. Pada saat itu dari luar pintu ruangan berkumandang suara pujian kepada sang Buddha : Omimohud! Kemudian seseorang berkata : Sinni terlalu memuji, siauceng tidak berani menerimanya. Seorang hwesio muda pelan pelan berjalan masuk ke ruangan dan menuju ke hadapan Ciu Tin tin berdua. Pendeta itu tak lain adalah Huang oh siansu. Setibanya dihadapan kedua orang itu, dia lantas merangkap tangannya didepan dada sembari berkata : Terima kasih banyak atas kesediaan enso dan Hian titli untuk memaafkan dosa dosaku. Paras muka Cay hong sian ci Liok Sun hoa berubah hebat, tapi sejenak kemudian telah pulih kembali menjadi sedia kala bahkan sambil balas memberi hormat sahutnya : Empek Thi amat setia kawan dan berjiwa besar, kami keluarga Ciu merasa terima kasih .... Diam diam Ciu Tin tin menarik ujung baju Cay hong sian ci Liok Sun hoa, walaupun ia tidak berkata apa apa, namun hubungan batin antara ibu dan anak memang biasanya erat sekali. Dengan cepat ia memahami apa yang dimaksudkan putrinya itu maka sambil tersenyum dia manggut manggut. Ciu Tin tin segera maju kehadapan Huang oh siansu, kemudian ujarnya : Ayah, Tin tin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam dalamnya kepada kau orang tua, dimana kau telah melindung kami... Mendengar Ciu Tin tin masih menyebut ayah kepadanya, Huang oh siansu nampak agak tertegun menyusul kemudian katanya setelah menghela napas panjang:

470
Nak, panggilanmu itu memang tepat sekali dan pinceng

menerima panggilanmu itu padahal aku memang sudan lama menganggap dirimu sebagai anakku sendiri! Dari perkataan itu, tak bisa disangkal lagi kalau dia mengartikan bahwa Ciu Tin tin telah dianggap sebagai anak menantunya. Perlu diketahui, perkawinan pada jaman itu tidak sebebas sekarang, waktu itu perkataan dari orang tua jauh lebih bernilai daripada hubungan cinta kasih secara pribadi, sedang kaum pemudanya waktu itu juga tak berani membangkang perintah dari orang tuanya. Oleh sebab itu, setelah ada janji dari Huang oh siansu, tak nanti Thi Eng khi bisa lolos dari cengkeraman Ciu Tin tin lagi. Tentu saja Ciu Tin tin maupun Liok Sun hoa memahami akan hal ini, diam diam perasaan merekapun menjadi sangat lega. Walaupun dalam perkataannya Huang oh siansu telah menyampaikan maksud hatinya namun didalam sopan santun, dia masih tetap harus melaksanakan cara meminang yang berlaku pada waktu itu. Maka sambil menjura lagi kepada Cay hong sian ci Liok Sun hoa, dia berkata : Pinceng atas nama anakku Eng khi hendak meminang putri enso untuk dijadikan istrinya, apakah enso tidak merasa keberatan? Cay hong sian ci Liok Sun hoa segera tertawa. Anak Tin tidak cantik, ilmu silatnya cetek lagi bodoh, kuatirnya tidak cocok untuk mendampingi putra anda. Tentu saja itupun hanya kata sopan santun belaka, padahal sesungguhnya pinangan tersebut telah diterima. Sim ji sinni yang berada disampingnya segera menimbrung sambil tertawa lebar : Siapa yang berani mengatakan kalau murid pinni tak pantas untuk rnendampingi seorang bocah berandal? Kembali Huang oh siansu menjura kepada Sim ji sinni seraya berkata :

471
Pinceng memohon kepada Sinni agar bersedia menjadi mak comblang untuk perkawinan ini. Baik, sampai waktunya pinni pasti akan melaksanakan tugas ini, sahut Sim ji sinni sambil tertawa, nah, anak Tin, mari ikut pinni pulang ke gunung sekarang juga. Ciu Tin tin berdua tidak menyangka kalau Sim ji sinni secepat itu akan pergi. Mereka sudah lama hidup bersama,kini harus hidup berpisah beberapa tahun rasa berat hati muncul juga dalam hati mereka. Sementara itu Huang oh siansu telah merangkap tangannya sambil berkata : Semoga sinni selamat sepanjang jalan! Tak disangkal lagi dia hendak memberitahukan kepada Ciu Tin tin dan ibunya agar mengeraskan hatinya dan membiarkan Ciu Tin tin mengikuti Sim ji sinni pergi memperdalam ilmunya. Ciu Tin tin amat menguatirkan keadaan Thi Eng khi, tak tahan dia lantas berbisik kepada ibunya : Ibu, jika adik Eng datang mencariku, kau harus berpesan kepadanya agar dia mau bersabar dalam menghadapi setiap persoalan. Penampilan rasa cinta yang amat mendalam segera nampak pada

mimik wajahnya itu. Sim ji sinni yang melihat keadaan itu segera tertawa geli, katanya dari samping. Emas murni tidak takut api, buat apa mesti kau cemaskan? Merah padam selembar wajah Ciu Tin tin karena jengah, dia lantas membalikkan badannya sambil berseru manja : Aaah, suhu. Hayo berangkat! tukas Sim ji sinni.

472
Sambil menarik tangan Ciu Tin tin, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tahu tahu kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan mata. Sekalipun Huang oh siansu dan Cay hong sian ci memilik kepandaian silat yang sangat lihai, ternyata kedua orang itu tidak berhasil melihat jelas bagaimana caranya nikou sakti itu berlalu dari sana. Dengan perasaan kaget bercampur kagum Cay hong sian ci Liok Sun hoa menghela napas panjang, gumamnya : Tidak kusangka dia orang tua yang telah berusia seratus tahun lebih masih tetap segar bugar seperti orang muda saja. Aaai... mungkin nasib anak Tin memang lagi mujur. Hatinya yang penuh welas kasih bagaikan hati pousat itulah yang membuat ia bersedia untuk mengabulkan permintaan pinceng. Yaaa, dia memang seorang yang mengagumkan. Berbicara sampai disitu, Huang oh siansu mengambil keluar sebilah pedang antik bersarung perak dan diserahkan kepada Cay hong sian ci sambil katanya : Inilah pedang Gin kong liu soat kiam milik saudara Cu giok, harap enso bersedia untuk menerimanya kembali, maaf pinceng harus mohon diri lebih dahulu. Menyebut kembali pedang Gin kong liu soat kiam milik mendiang suaminya, Cay hong sian ci Liok Sun hoa merasakan hatinya amat kecut sehingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, tak tahan dia lantas melengos ke arah lain. Menanti dia berpaling kembali, bayangan tubuh Huang oh siansu telah lenyap dari pandangan mata. Untuk sesaat dia berdiri tertegun dengan perasaan sedih yang bercampur aduk dalam hati sampai lama, lama kemudian dia baru beranjak pergi dan menuruni bukit Si soat san. Tatkala Thi Eng khi sadar kembali, dia merasakan dirinya dimasukkan orang ke dalam sebuah peti mati, suasana gelap gulita,

473
keempat anggota badannya lemah tak bertenaga dan sedikitpun tak mampu untuk bergerak. Telinganya sempat mendengar suara bentakan bentakan diluar serta bunyi roda kereta yang melindungi, dia telah menyadari sekarang bahwa dirinya sedang diangkut orang menuju kesuatu tempat tertentu. Diam diam dia lantas mencoba untuk menghimpun kembali tenaga Sian thian bu khek ji gi sin kang yang dimilikinya, namun hasilnya nihil, sekalipun telah berusaha sekian lama, tiada hasil apapun yang berhasil didapatkan.

Ternyata jarum Tong thian si kut ciam mempunyai keistimewaan untuk membuyarkan hawa murni jang berada dalam tubuh seseorang, barang siapa kena tertusuk maka bila tidak berlatih lagi selama seratus hari dengan tekun, jangan harap tenaga dalamnya bisa dihimpun kembali seperti sedia kala. Thi Eng khi baru tertusuk dua tiga hari masih amat lama, sudah barang tentu dia tak mampu untuk menghimpun kembali tenaga dalamnya. Sedangkan mengenai tangan dan kaki Thi Eng khi tak bisa berkutik, lantaran secara beruntun dia telah ditotok jalan darah tidur dan lemasnya, setelah melewati waktu yang cukup lama, sekujur tubuhnya menjadi kaku dan hilang rasa. Thi Eng khi bukan seorang yang rela menyerah dengan begitu saja, kendatipun hatinya merasa amat kecewa namun semangatnya tidak luntur, setelah melewati percobaan demi percobaan yang dilakukan berulang kali untuk menggerakkan kembali tangan kakinya lama kelamaan sepasang tangannya dapat digerakkan juga, hanya bagaimana pun juga dia berusaha untuk menyalurkan tenaga, tiada sedikit kekuatanpun yang dimilikinya. Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus memutar otak untuk mencari akal guna menyelamatkan diri. Banyak sudah akal yang didapatkan namun semuanya tidak mendatangkan hasil apa apa, akhirnya dia teringat dengan Pil Toh mia kim wan yang dimiliki Thian liong pay turun temurun.

474
Konon obat mustika itu memiliki kemampuan untuk menghimpun kembali tenaga orang yang sudah hampir mati, cuma tidak diketahui apakah obat itu masih berada dalam sakunya atau tidak? Setelah diperiksa isi sakunya, entah karena kecerobohan orang atau memang nasibnya lagi mujur, ternyata sakunya sama sekali tidak diperiksa, semua benda miliknya masih berada disana. Dengan tekad untuk mencoba semua kesempatan yang ada, dia segera mengambil sebutir pil Toh mia kim wan dan ditelan sebutir. Berbicara tentang Toh mia kim wan milik Thian liong pay, Keng thian giok cu Thi Keng sebenarnya hanya memiliki tiga butir, Kay thian jiu Gui Tin tiong telah menggunakan sebutir untuk menolong jiwa Ban li tui hong Cu Ngo, itu berarti seharusnya ada dua butir lagi, tapi dalam pesan terakhirnya Kay thian jiu Gui Tin tiong mengatakan pil mestika Toh mia kim wan masih ada tiga butir, hal ini berarti menjadi kelebihan satu butir, lalu bagaimana sebenarnya? Kenyataan yang sebetulnya, Keng thian giok cu Thi Keng memang hanya meninggalkan tiga butir pil Toh mia kim wan, setelah digunakan untuk menolong Ban li tui hong Cu Ngo sebutir maka sisanya tinggal dua butir lantas kenapa dalam pesan terakhirnya Kay thian jiu Gui Tin tiong mengatakan masih ada tiga butir? Rupanya jauh sebelum Keng thian giok cu Thi Keng pergi meninggalkan rumah dulu, ia pemah menghadiahkan sebutir pil mestika Toh mia kim wan untuk Kay thian jiu Gui Tin tiong namun pil tersebut tak pernah digunakannya, hingga menjelang saat kematiannya, dia hadiahkan pula pil itu untuk Thi Eng Khi, dengan begitu jumlahnya menjadi tiga butir. Sampai detik ini Thi Eng khi telah memakai dua butir yakni satu butir diberikan Huang oh siancu kepadanya ketika berada dibukit

Bong soat hong, dan kini menelan sebutir lagi, berarti sisa yang berada dalam sakunya kini benar benar tinggal sebutir. Dalam itu pula ketika Thi Eng khi telah menelan pil Toh mia kim wan, dia segera merasakan dari pusarnya muncul kekuatan yang

475
melonjak lonjak sewaktu dia tarik napas panjang, ternyata hawa murninya telah meluncur kembali ke seluruh anggota badannya, bagaikan gulungan ombak samudera dalam waktu singkat segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah pulih kembali seperti sedia kala. Dalam girangnya dia menggerakkan telapak tangannya siap menjebol peti mati dan memberi hajaran kepada si peramal buta yang mencelakainya itu, namun setelah telapak tangannya menempel di atas tutup peti mati itu, mendadak satu ingatan lain melintas dalam benaknya, dia lantas berpikir lebih jauh. Kenapa aku tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat? Akan kulihat permainan busuk apakah yang hendak mereka lakukan terhadap diriku..? Setelah ingatan tersebut melintas lewat, dia segera menarik kembali tenaga serangannya dan mengatur pernapasan dengan tenang sambil menantikan datangnya kesempatan baik. Dua hari sudah lewat, dalam dua hari ini ternyata tiada orang yang menggubris dirinya, tak ada pula yang menggubris soal makan dan minumnya, untung saja tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu amat sempurna hingga meski kelaparan ia sanggup untuk mempertahankan diri. Tapi setelah rasa lapar mengusik pikirannya, dia tak sanggup lagi untuk bersemedi dengan baik. Akhirnya kereta itu seperti berhenti dalam sebuah halaman besar menyusul kemudian ada orang yang menggotong turun peti mati itu dan dihantar masuk kedalam ruangan dalam. Sebelum penutup peti mati itu dibuka, terdengar suara dari Pek leng siancu So Bwe leng sedang berteriak teriak keras : Kalian semua terlalu kejam, mengapa kalian sekap dia dalam peti mati? Mana dia tahan?" Menyusul kemudian terdengar Huan im sin ang menjawab : "Bocah muda ini sangat buas dan tak tahu diri, seandainya tidak diberi pelajaran, darimana dia bisa merasakan penderitaan dan kesungguhan hatimu kepadanya?"

476
"Cepat kalian buka penutup peti mati itu, dia bisa tak tahan?" seru Pek leng Siancu lagi gelisah. Tatkala Thi Eng khi mendengar ucapan dari Pek leng siancu So Bwe leng tersebut, diam diam ia menghela napas dan merasa terharu sekali. Menyusul kemudian, ia mendengar ada suara bisikan selirih suara nyamuk berkumandang disisi telinganya. "Bocah keparat, sebelum kau keluar, ada beberapa persoalan hendak lohu pesankan kepadamu : Pertama, So Bwe leng telah kulukai urat sim kengnya dengan menggunakan ilmu Jit sat hian im ceng khi, jika ia tidak mempelajari ilmu silat lohu, tak sampai satu tahun nadinya akan membeku yang berakibat kematian,itu berarti mati hidupnya hanya tergantung pada pemikiranmu sendiri sampai waktunya jangan kau salahkan lohu

tidak memberi peringatan. Kedua, setelah terkena jarum Tong thian ti kut ciam milik lohu tenaga dalammu telah buyar, dalam seratus hari mustahil bagimu untuk menghimpun kembali kekuatan yang kau miliki, maka lohu peringatkan kepadamu, jika kau masih menginginkan selembar jiwamu, setelah keluar nanti ikuti semua perkataan yang kusampaikan kalau tidak, lohu akan menyuruh kau merasakan kelihayanku. Ketiga, untuk membuat So Bwe leng mendengarkan semua perkataanku dengan tenang aku pernah mengutus orang untuk menyaru sebagai kau dan disekap dalam ruang batu dibukit Ci sia san, bulan berselang lohu pernah mengajaknya ke sana untuk menengok orang itu, maka dalam pembicaraanmu nanti, kau harus perhatikan hal ini baik baik, jangan biarkan dia sampai menaruh curiga. Pokoknya, bila kau sampai memporak porandakan persoalan lohu maka lohu tak akan membiarkan kau merasakan kebaikan apapun. Aku harap kau bisa memahami persoalan ini dengan sebaikbaiknya." Mendengar semua perkataan itu, Thi Eng khi merasa geli sekali, tapi untuk berlagak seolah olah tenaga dalamnya memang belum pulih kembali, terpaksa ia musti berlagak pilon dengan menuruti kata katanya.

477
Tak selang berapa saat kemudian, penutup peti mati dibuka dan Thi Eng khi diseret keluar dari dalam peti mati. Ketika memandang kehadiran Huan im sin ang yang berdiri dihadapannya, timbul juga perasaan mendongkol didalam hatinya dengan suara mengejek, sindirnya : "Terima kasih banyak atas perlayanan yang amat bagus untuk siauseng selama ini!" Huan im sin ang tertawa terbahak bahak. "Haaahhh....haaahhh ..... haaaahhh...... saudara cilik tak usah sungkan, seandainya Bwe leng si bocah ini tidak rindu kepadamu tiap hari, jangan harap kau bisa keluar dari dalam ruangan batu itu.... " Huan im sin ang segera berkelit ke samping dan memberi jalan lewat untuk So Bwe leng, segera tampak sesosok bayangan hijau berkelebat lewat dihadapan orang banyak ternyata gadis itu memeluk Thi Eng Khi erat-erat sambil menangis terisak. "Oooh... engkoh Eng, akhirnya kau lolos juga dari kurungan!" ''Adik Leng, aku sungguh merasa berterima kasih sekali kepadamu!" terpaksa Thi Eng khi harus berlagak dengan membohongi gadis itu. Pek leng siancu So Bwe leng bersandar mesra dalam rangkulan Thi Eng khi sekian lamanya dia bersandar sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan rangkulan itu. Thi Eng khi merasa terharu sekali oleh cinta kasihnya, diapun merasa enggan untuk mendorongnya, maka ia biarkan gadis itu bersandar dalam pelukannya sambil melelehkan air mata. Lama kelamaan Huan im sin ang tidak tahan juga, dengan kening berkerut lantas berseru : "Anak leng, kita harus segera melanjutkan perjalanan!"

478
Setelah mendengar teguran itu So Bwe leng baru mendongakkan kepalanya dan berkata kepada Huan im sin ang : "Aku ingin naik kereta bersama engkoh Eng!'' "Boleh saja," jawab Huan im sin ang sambil tertawa seram, "Tapi kau tak boleh nakal, kau harus tahu, tanpa bantuan dari lohu, jangan harap tenaga dalam yang dimiliki engkoh Eng mu bisa pulih kembali seperti sedia kala." Thi Eng khi tidak tahu cerita bohong apakah yang telah diciptakan oleh Huan im sin ang untuk membohongi Pek leng siancu, oleh karena dia sudah mempunyai suatu tujuan tertentu, lagipula kuatir Pek leng siancu tak bisa memegang rahasia maka pemuda itu bertekad untuk merahasiakan hal itu dihadapan So Bwe leng, sebaliknya terhadap Huan im sin ang dia tertawa dingin tiada hentinya. Pek leng siancu So Bwe leng segera mengajak Thi Eng khi naik keatas sebuah kereta besar berwarna hijau, diiringi dua puluh empat orang lelaki berpakaian ringkas, berangkatlah rombongan itu menelusuri jalan raya. Ditengah jalan, Thi Eng khi berbisik kepada Pek leng siancu So Bwe leng : "Adik Leng, kita akan berangkat ke mana?" "Menuju ke bukit Siong san untuk menghadiri pertemuan besar.'' "Adik Leng mengapa kau bersedia diperalat olehnya? Apakah kau tidak kuatir So yaya menjadi marah?" "Tapi aku toh tak bisa tidak menggubris dirimu!" jawab Pek leng siancu SO Bwe leng dengan wajah serius. Thi Eng khi makin terharu sehingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Dinding istana Ci bu ciat berada di sebelah barat loteng istana Tay si ciat, selisih jaraknya antara tiga li dan disebut Say ciat, dinding loteng istana itu didirikan oleh Raja Han pada tahun Siang kong kedua. Bentuk dinding istana ini menyerupai pintu gerbang dan terbuat dari batu cadas.

479
Pertemuan besar para jago kali ini diselenggarakan diatas sebuah tanah lapang yang luas. Ci bu ciat menjadi pintu gerbang pertemuan tersebut.... Di tengah tanah lapang itu dibuat sebuah lingkaran seluas puluhan kaki dari batu kapur putih, bagian luar lingkaran tersebut tepatnya menghadap ke arah pintu gerbang telah tersedia puluhan buah meja, agaknya tempat itu sengaja dipersiapkan bagi kawanan jago persilatan yang termashur dalam dunia persilatan sebaliknya tempat yang tidak tersedia meja ditujukan bagi kawanan jago persilatan lainnya untuk berdiri. Biasanya mereka yang tidak ternama justru merupakan penonton yang paling bersemangat, tidak berbeda pula dengan keadaan kali ini, belum lagi tengah hari tiba tempat berdiri disekeliling arena pertemuan sudah penuh dengan lautan manusia. Tengah hari tepat, dengan dipimpin oleh pihak Siau lim pai dan Bu tong pay, kawanan jago masuki arena pertemuan dan menempati kursi yang tersedia dibagian kiri. Tak lama kemudian serombongan jago lagi muncul disana

dibawah pimpinan Tiang pek lojin dan menempati kursi kursi bagian kanan. Seketika itu juga suasana dalam arena menjadi tegang, semua orangpun merasakan napasnya menjadi memburu cepat. Tapi bagi mereka yang teliti dan lebih tenang, dengan cepat menemukan beberapa hal yang mencurigakan pada wajah kedua belah pihak yang bertentangan itu, seakan akan sifat dari pertemuan itu sudah mengalami perubahan besar. Dalam kenyataan, sifat dari pertemuan tersebut memang benar benar telah mengalami perubahan yang besar sekali. Adapun sebab utama dari perubahan sifat pertemuan itu tentu saja berkat diplomasi ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang mondar mandir kesana kemari membicarakan masalan yang terjadi itu.

480
Tapi yang menjadi pokok utama dari perubahan suasana tersebut adalah gagalnya Huan im sin ang di dalam melaksanakan rencana buruknya. Dia tidak seharusnya mengatur perjanjian yang tidak mendatangkan hasil ketika itu sehingga hal mana membuat Tiang pek lojin mulai melakukan pengecekan terhadap semua yang telah dilakukannya sekarang serta menyadari akan munculnya pihak ketiga yang berusaha untuk memancing di air keruh. Setelah mempertimbangkan kembali semua keadaan dan situasi yang dihadapinya, bukan saja dia segera sadar kalau impian indahnya sukar terwujud, dan lagi diapun sadar kalau semua peristiwa ini timbul karena permainan busuk seseorang, Huan im sin ang lah yang menjadi dalang dari semua kericuhan yang terjadi sekarang. Sebagai seorang yang berpengalaman apalagi dengan usianya yang sudah menanjak tua, kenyataan kenyataan baru ini segera menyadarkan dia dari impian. Tujuan Tiang pek lojin memasuki wilayah Tionggoan memang tak terlepas dari kobaran ambisinya, cuma dia adalah seorang kakek yang keras dan berpendirian teguh, yang dimaksudkan sebagai ambisi tak lain adalah ingin menggunakan alasan demi keadilan Thi Eng khi, dia hendak menanamkan pengaruhnya pada pelbagai partai yang ada dalam dunia persilatan, jadi sama sekali tidak terlintas ingatan dalam benaknya untuk merajai kolong langit dan berbuat semena mena. Oleh karena itu setelah pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menyampaikan pesan dari Thi Eng khi, maka diapun merasa tidak leluasa lagi untuk melanjutkan cita-citanya. Dengan mengendornya sikap Tiang pek lojin dan melunaknya desakan itu, sudah barang tentu pihak Siau lim pay dan BU tong pay tidak banyak berbicara lagi. Maka pemimpin dari kedua belah pihak mulai memikirkan jalan mundurnya serta menarik kembali sikap permusuhan antara kedua belah pihak.

481
Sekarang asal Thi Eng khi munculkan diri maka secara resmi perdamaian bisa diwujudkan kembali dan secara otomatis penggabungan dari kedua golongan yang semula saling

bertentangan ini akan dialihkan menghadapi Huan im sin ang. Kedatangan To kak thi koay dan Thi Eng khi menuju ke bukit Siong san disampaikan oleh murid Kay pang. Kedua belah pihak dengan kesabaran yang ditekan berharap harap kedatangan Thi Eng khi secepatnya. Itulah sebabnya walaupun jago jago dari kedua belah telah berdatangan semua namun tiada tanda tanda yang menunjukkan kalau perselisihan akan segera dilangsungkan, tak heran kalau setiap orang dapat merasakan perubahan sifat dari pertemuan ini. Sementara semua orang sedang memperbincangkan persoalan ini, tiba tiba tampak ketua Kay pang, si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berjalan mendekat mula mula ia berbisik disisi telinga Tiang pek lojin, dengan wajah berubah Tiang pek lojin segera menjawab pula dangan beberapa patah kata, setelah itu ketua Kay pang itu berpindah lagi ke pihak Siau lim pay dan Bu tong pay untuk membicarakan sesuatu. Jelas dia sedang menjadi duta damai bagi kedua belah pihak. Tapi sebelum hasil perundingan damai itu memberikan hasil, mendadak terdengar seseorang berseru lantang : Ban seng kiong tiba!" Maka semua orangpun mengalihkan sorot matanya kearah depan pintu gerbang sebaliknya perundingan perdamaian antara pihak Tiang pek lojin dengan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay pun terhenti sampai ditengah jalan..... Tampak puluhan orang manusia dengan rnengiringi seorang pemuda, seorang gadis dan seorang kakek menerobos Ci bu ciat dan berjalan mendekat. Setiap orang yang pernah berkunjung ke perkampungan Ki hian san ceng segera mengenali kakek itu sebagai Huan im sin ang dan

482
pemuda itu sebagai Thi Eng khi, tentu saja juga ada yang mengenali gadis itu sebagai cucu kesayangan Tiang Pek lojin, Pek leng siancu So Bwe leng. Ternyata kali ini So Bwe leng tidak mengenakan topeng kulit manusia, sehingga ada orang yang mengenalinya. Seketika itu terdengar suara berbisik bisik memecahkan keheningan, beratus pasang mata bersama sama dialihkan ke wajah Tiang pek lojin, semua orang mengira hal ini merupakan permainan busuk dari Tiang pek lojin. Bahkan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay pun menaruh pula perasaan curiganya terhadap Tiang pek lojin. Seketika itu juga terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan. Tiang pek lojin yang menyaksikan cucu kesayangannya dan Thi Eng khi datang bersama Huan im sin ang pun ikut merasa terkejut bercampur keheranan, sebab dilihat dari keadaan yang terbentang didepan mata sekarang, jelas apa yang dikatakan ketua Kay pang Cu Goan po sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Oleh karena itu, timbul juga perasaan mendongkol dalam hatinya, dia merasa seakan akan sudah tertipu oleh Cu Goan po dan orang orang Siau lim serta Bu tong pay. Tiada orang yang menyapa rombongan dari Ban seng kiong

tersebut, merekapun membawa kursi sendiri, begitu tiba, serentak mereka mengambil tempat duduk dibagian tengah. Dengan sorot mata membara karena gusar, Tiang pek lojin segera membentak keras : Bwe leng, kemari! Pek leng siancu So Bwe leng mengerutkan kulit wajahnya sambil mengeraskan hati dan tidak menjawab panggilan dari kakeknya itu. Dengan perasaan amat sedih, sekali lagi Tiang pek lojin memanggil dengan suara gemetar :

483
Bwe leng, kemari! Pek leng siancu So Bwe leng belum menjawab juga. Huan im sin ang yang berada di sampingnya segera berkata : Sekarang Bwe leng adalah tuan putri Ban seng kiong, aku minta So lo jangan mencampuri urusan pribadi dengan urusan dinas! Jelas kata-kata itu bersifat mengadu domba, seakan akan menerangkan kepada semua hadirin bahwa Tiang pek lojin dengan pihak Ban seng kiong sesungguhnya telah melebur diri menjadi satu. Tiang pek lojin menjadi teramat gusar wajahnya sampai memucat dan untuk beberapa saat lamanya, dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Na im siusu (pelajar penggaet awan) So Ping gwan yang berada di sampingnya segera menghibur dengan suara lembut. Kau orang tua tak usah marah-marah dulu, siapa tahu anak leng memang mempunyai kesulitan sendiri? Tidakkah kau lihat sepasang matanya berkaca kaca? Tiang pek lojin sama sekali tidak menggubris hal itu, dia hanya merasa perbuatan So Bwe leng telah membuatnya kehilangan muka. Dengan penuh kegusaran, serunya : "Seandainya dia adalah anak cucu keluarga So, kendatipun mempunyai kesulitan, sekalipun harus mati ditempat, tidak seharusnya dia perlihatkan sikap macam begitu hingga membuat keluarga So kehilangan muka." Kemudian sambil mendengus kembali dia berkata : "Thi Eng khi si bocah keparat itupun bukan manusia baik baik, tak kusangka kalau dia akan bergabung pula dengan pihak Ban seng kiong, aaai ...... kali ini aku benar benar telah kehilangan muka." Karena tak bisa menghibur ayahnya, terpaksa Na im siusu So Ping gwan menghela napas panjang katanya : ''Ayah, Leng ji dan Eng khi bukan manusia macam begitu, mari kita tenangkan dulu pikiran dan perasaan, kita hadapi semua perubahan yang kemungkinan akan terjadi."

484
"Tidak bisa!" teriak Tiang pek lojin sambil menggebrak meja, "nama baik lohu selama puluhan tahun tak bisa dibiarkan hancur berantakan oleh ketidak baktian budak Leng!" Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan amat sedih dan menderita sekali. Sebenarnya Na im siusu So Ping gwan bermaksud untuk menghibur hati ayahnya tapi setelah menyaksikan keadaan orang tua tersebut, tiba tiba ia mengeraskan hatinya seraya berseru : "Kalau begitu, biar ananda membunuhnya sekarang, daripada

kau orang tua merasa sedih." Dia lantas melangkah maju ke depan siap terjun ke arena. Tiang pek lojin So Seng berkerut kening, mendadak ia berseru : "Ping gwan, kemari dulu, aku mempunyai rencana lain!" "Baik, ayah!" sahut Na im siusu So Ping gwan dengan hormat, kemudian mengundurkan diri ke belakang tubuh ayahnya. Ketika melirik ke samping, dilihatnya wajah orang tua itu diliputi oleh tekad dan rasa sedih yang mendalam. Sikap semacam ini belum pernah dijumpai sebelumnya, ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya sekarang. Tiang pek lojin menghela napas panjang, pelan pelan ia bangkit berdiri kemudian sambil menjura ke arah para jago Tionggoan yang bergabung dipihak Siau lim pay dan Bu tong pay, ia berkata : "Lohu tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya sehingga gara gara urusan Thi Eng khi telah menyalahkan teman teman sekalian. Sekarang aku mohon maaf kepada kalian atas kesalahanku ini semoga teman teman semua bersedia memberi kesempatan kepada lohu untuk menebus dosa dan menyumbangkan sedikit tenaga bagi umat persilatan untuk bersama sama menghadapi Huan im sin ang." Dengan kedudukan Tiang pek lojin dalam dunia persilatan ternyata mengucapkan kata kata semacam itu, boleh dibilang belum pernah hal semacam ini terjadi dalam dunia persilatan. Akan tetapi nyatanya hal itu tidak mengurangi kewibawaannya malahan segera memperoleh tampik sorak dan pujian yang amat gegap gempita.

485
"Bagus!" "Benar benar sikap jantan seorang ksatria." Ci long taysu dari Siau lim pay dan Keng hian totiang dari Bu tong pay mengagumi juga atas kebesaran jiwa Tiang pek lojin, diam diam mereka manggut manggut. Tampaknya semua umat persilatan akan segera memaafkan kesalahan yang telah dilakukan Tiang pek lojin selama ini. Mendadak, dari kerumunan orang banyak berkumandang suara seruan dingin yang bernada sinis : "Hmm... So Seng pak adalah seorang manusia licik yang berhati busuk! la pandai bermain sandiwara, semua harus berhati hati, jangan sampai kena terjebak oleh persekongkolan mereka." Ucapan yang bernada hasutan ini segera menimbulkan pelbagai pikiran lagi dalam benak pikiran setiap orang, semakin dipikir mereka makin curiga, bahkan orang orang yang semula mengagumi Tiang pek lojin pun membungkam dalam seribu bahasa. Bukan begitu saja, ketua Siau lim pay dan Bu tong pay pun ikut menjadi sangsi, merekapun tidak memberikan pernyataan yang bernada menyambut lagi. Tiang pek lojin menjadi berdiri kaku di tempat semula, dia benar benar kehilangan muka dan tak dapat melepaskan diri dari situasi yang serba runyam itu. Pukulan batin ini membuat kegagahannya sama sekali rnenjadi runtuh, dengan wajah tersipu akhirnya dia duduk kembali ke tempat semula. Para jago dari luar perbatasan serta para jago wilayah Tionggoan yang setia kepada Tiong pek lojin kontan saja berubah wajah, dengan muka hijau membesi dan sorot mata berapi api karena

gusar, mereka bersiap sedia melakukan gerakan. Huan im sin ang memang pandai memanfaatkan kesempatan baik tiba tiba ia tertawa tergelak, lalu berkata : "Tua bangka So, sudah kau lihat jelas keadaan disekelilingmu? Sebaik baiknya hatimu paling banter kau cuma dibuat sebagai

486
umpan untuk anjing, menurut penglihatanku, lebih baik kau memimpin istana Ban seng kiongku saja." Tiba tiba Tiang pek lojin rnelompat bangun kemudian sambil tertawa dingin katanya : "Hmm.... Ban seng kiong masih belum pantas untuk menarikku!" Tiba tiba dia mengangkat tangannya ke atas memberi tanda, dengan airmata bercucuran serunya : "Anak anak, kita mundur dari sini!" Dalam keadaan demikian, mau tak mau dia memang harus mengundurkan diri dari situ. Serentak para jago dari luar perbatasan serta para jago Tionggoan yang simpatik kepadanya bangun berdiri dari tempat duduk. Tampaknya mereka sudah menaruh rasa benci dan dendam terhadap umat persilatan yang mencurigai orang tanpa memeriksa lebih dulu dan rasa benci itu tampak jelas dibalik sorot mata mereka. Sejak masuk ke dalam arena, walaupun paras muka Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng telah memperlihatkan perubahan hebat, namun mereka tidak mengucapkan sepatah katapun, suasana yang begini hening ini tentu saja merupakan salah satu rencana dari Huan im sin ang. Beberapa kali Pek leng siancu So Bwe leng ingin tidak menggubris peringatan dari Huan im sin ang untuk lari ke hadapan kakeknya dan mengemukakan kesulitannya, namun dia selalu memikirkan pula keselamatan Thi Eng khi, hingga untuk sesaat dia menjadi sangsi dan tak dapat mengambil keputusan apa-apa. Thi Eng khi sendiri walaupun ilmu silatnya telah pulih kembali seperti sedia kala namun diapun tak bisa tidak menggubris ancaman dari Huan im sin ang tersebut, terutama setelah dia tahu kalau Pek leng siancu bersedia menuruti perkataan Huan im sin ang lantaran dia, hal tersebut membuatnya menjadi amat terharu. Oleh karena itu, dia dipaksa untuk melepaskan rencananya semula dan tak berani turun tangan untuk menghadapi Huan im sin ang.

487
Dalam keadaan serba salah itu, dia mendengar pula pekikan sedih dari Tiang pek lojin, hal mana menimbulkan suatu bentrokan batin dalam benaknya antara bertahan dengan pendiriannya semula atau jangan. Sementara itu Tiang pek lojin sudah bersiap siap meninggalkan arena karena malu, kejadian ini membuatnya jadi nekad. Tiba tiba ia menggenggam tangan Pek leng siancu So Bwe leng sebagai pernyataan rasa menyesalnya, kemudian sambil bangkit berdiri dia berkata: "So yaya, harap tunggu sebentar, Eng khi hendak mengucapkan sesuatu kepadamu." Mendengar Thi Eng khi berbicara, pertama tama yang menjadi

terperanjat lebih dulu adalah Pek leng siancu So Bwe leng, segera jeritnya lengking : "Engkoh Eng khi, kau.... kau.... kau.... jangan berbicara!" Pada saat yang bersamaan, Huan im sin ang berseru pula sambil tertawa dingin : "Keparat, rupanya kau sudah makan hati beruang nyali macan sehingga berani membantah perintahku!" Sebaliknya Tiang pek lojin So Seng pak tertawa seram, serunya penuh rasa gusar : "Siapa yang menjadi So yaya mu? Kau masih punya muka untuk bertemu dengan aku?" Dengan langkah lebar dia beranjak lebih dulu meninggalkan tempat duduknya. Setelah buka suara berarti Thi Eng khi sudah mempunyai keputusan didalam hatinya, dalam keadaan demikian terpaksa dia harus mengutamakan kepentingan umum lebih dulu daripada kepentingan pribadi, maka terhadap jeritan Pek leng siancu So Bwe leng dan peringatan Huan im sin ang sama sekali tidak ambil peduli, sekali melompat dia sudah tiba di hadapan Tiang pek lojin. Thi Eng khi dapat melompat ke depan, hal ini membuktikan kalau ilmu silatnya belum hilang. Seketika itu juga kejadian ini menggirangkan Pek leng siancu So Bwe leng dan mengejutkan Huan

488
im sin ang. Pek leng siancu So Bwe leng segera melejit ke udara dan meluncur ke muka, dia tak perduli lagi dengan segala ancaman Huan im sin ang, sebab dirasakan bahwa dirinya sudah bebas merdeka sekarang. Siapa tahu belum sampai berapa kaki, mendadak ia merasakan punggungnya menjadi kencang, tahu tahu tubuhnya sudah kena dicengkeram oleh Huan im sin ang, menyusul kemudian jalan darah siau yau hiatnya menjadi kaku dan ia diseret kembali ke tempat semula. Setelah berhasil mencengkeram tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, Huan im sin ang tertawa seram. "Thi Eng khi! Bila kau sudah tidak perdulikan keselamatan So Bwe leng lagi, silahkan kau berbicara sekehendak hatimu!" Sebenarnya Tiang pek lojin tak ingin menggubris ucapan dari Thi Eng khi lagi, akan tetapi perubahan situasi yang kemudian berlangsung membuat sadar kembali bagaimanakah posisi Thi Eng khi dan cucu kesayangannya ketika itu, hal ini membuktikan pula kalau kedua orang bocah itu sama sekali tidak bersalah. Setelah tertegun sebentar, diapun segera berhenti. Sorot matanya yang tajam segera dialihkan kewajah Thi Eng khi kemudian katanya dengan suara dalam : "Perkataan apakah yang kau hendak ucapkan? Sekarang boleh diutarakan keluar, tak usah perdulikan mati hidup Bwe Leng lagi, So yaya tidak doyan dengan ancaman semacam itu!" Thi Eng khi membalikkan badannya menghadap kearah Huan im sin ang, kemudian hardiknya: "Apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?" "Heeehhh.... heehhhh...... heeehhh.... tentang soal ini, tak perlu kau urusi,'' sahut Huan im sin ang sambil tertawa seram. Pek leng siancu So Bwe leng melompat lompat, berusaha untuk

melepaskan diri, kemudian teriaknya :

489
"Engkoh Eng, kau tak usah mengurusi diriku, lakukanlah apa yang harus kau lakukan! Aku tidak takut kepadanya, aduuh... aduuuh. ..." Agaknya Huan im sin ang telah rnelancarkan serangan berat kearahnya ketika ia sedang berbicara lagi. Mencorong sinar mata membara dari balik mata Thi Eng khi sambil menuding ke arah Huan irn sin ang teriaknya : "Bajingan tua yang tak tahu malu cara kerjamu itu benar benar rendah dan terkutuk!" Setelah berteriak beberapa kali, agaknya rasa sakit dalam tubuh So Bwe leng sudah jauh berkurang, dengan wajah merah membara katanya dengan keras : "Engkoh Eng kau tak usah mengurusi aku." "Baik, adik Leng maafkan aku, jika bajingan tua itu berani bertindak keji kepadamu, aku pasti akan membalaskan dendam bagimu, bila gagal membalaskan dendam aku akan menyusulmu kealam baka." Melihat ancamannya tidak mendatangkan hasil Huan im sin ang menjadi amat tegang tapi ucapannya masih tetap keras : "Lohu akan suruh dia mampus dengan sengsara heehh... heeehh... heeehh....sekarang juga aku akan menyuruh dia rasakan siksaan hidup yang pertama." Begitu tangannya diayunkan, terdengar Pek leng siancu So Bwe leng menjerit keras dan jatuh tak sadarkan diri. Peristiwa ini terjadi dihadapan para jago dari pelbagai perguruan besar yang berkumpul disana, akan tetapi tak seorang manusiapun yang mencegah atau turut campur, malahan beberapa diantara mereka tertawa dingin tiada hentinya, seakan akan menyindir kalau permainan sandiwara Thi Eng khi dan So Bwe leng cukup hidup. Para jago dari luar perbatasan juga tak ada yang berani turun tangan secara sembarangan.. sebab Tiang pek lojin sendiripun tidak melakukan tindakan apa apa.

490
Dengan wajah hijau membesi Tiang pek lojin segera berseru : Eng ji sekarang kau boleh mengatakan apa yang hendak kausampaikan kepadaku! Dengan menahan rasa sedih Thi Eng khi segera mengutarakan pengalamannya serta bagaimana diancam Huan im sin ang untuk menghadiri pertemuan besar ini, sebagai akhir kata dia menambahkan. Huan im sin ang sengaja berbuat demikian, tujuannya tak lain adalah ingin mengadu domba sesama umat persilatan agar saling gontok gontokan dan membunuh, bila keadaan sudah lemah maka bajingan tua berusaha mewujudkan ambisinya untuk menguasai seluruh dunia persilatan! Setelah mendengar penjelasan dari Thi Eng khi tadi, maka sebagian besar diantara kawanan jago itu menjadi paham kembali. Tiang pek lojin segera mencekal tubuh Thi Eng khi erat erat sambil berseru :

Nak, kalau begitu yaya telah salah menuduh diri titli. Ketua Kay pang, Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pun turut melompat kemuka, dengan wajah merah membara katanya : Saudara cilik, kau benar benar membuat engkoh tua menjadi kebingungan setengah mati. Keng hian totiang, ketua partai Bu tong juga ikut maju ke depan sambil berkata : Pinto mewakili perguruan kami meminta maaf kepada Thi ciangbunjin. Tak menanti Thi Eng khi menjawab, Tiang pek lojin telah tertawa terbahak bahak, katanya : Tak menjadi soal, Eng ji tak akan menyalahkan semacam itu ....! Mendadak terdengar Ci kay taysu dari Siau lim pay berteriak keras :

491
Harap saudara sekalianpun perhatikan, jangan lepaskan orang orang dari Ban seng kiong! Tiang pek lojin segera memburu kedepan dan menerjang ke arah Huan im sin ang (kakek sakti bayangan setan), kemudian bentaknya : Tua bangka, kau masih ingin mencoba untuk melarikan diri? Huan im sin ang sama sekali tidak menyangka kalau satu langkah saja dia salah bertindak mengakibatkan semua rencananya menjadi berantakan, untuk mewujudkan apa yang diinginkan jelas sudah tak mungkin bisa terpenuhi lagi. Untung saja Pek leng siancu So Bwe leng tidak sampai lolos dari cengkeramannya, di kemudian hari dia masih bisa menggunakan gadis itu untuk mencari kesempatan. Maka dikala perhatian semua orang tertuju ke tubuh Thi Eng khi, diam diam ia pimpin anak buahnya untuk melarikan diri dari situ. Siapa tahu perbuatannya itu kembali diketahui oleh Ci kay taysu dari Siau lim pay sehingga menyebabkan datangnya terjangan dahsyat dari Tiang pek lojin. Cepat cepat Huan im sin ang mengangkat tubuh pek leng siancu So Bwe leng sebagai tameng, kemudian sambil memandang kearah Tiang pek lojin, ia tertawa seram. "Tua bangka she So, mau apa kau sekarang?" ejeknya. Tiang pek lojin merasa amat terkejut, setelah memandang sekejap kearah So Bwe leng, dia segera berhenti. Bagaimanapun dia telah mengeraskan hatinya untuk mendengarkan perkataan Thi Eng khi tadi, tapi setelah dihadapkan pada kenyataan sekarang, dia tak sanggup lagi untuk mengeraskan hatinya. Untung saja Thi Eng khi yang menerjang datang pula segera berseru : Asalkan kau tinggalkan orang itu pun ciangbunjin bersedia untuk meminta kesudian rekan rekah lainnya untuk melepaskan kau pergi. Selewatnya hari ini, dimana kita berjumpa disitu pula kita bikin perhitungan."

492
Huan im sing ang mencoba untuk memperhatikan sekejap

sekeliling tempat itu, dia segera menyadari walaupun dia pribadi masih memiliki kemampuan untuk meloloskan diri dari kepungan, namun kekuatan yang telah dibina dan dipupuknya selama banyak tahun dengan mengorbankan banyak pikiran dan tenaga itu niscaya akan mengalami kehancuran dan kemusnahan sama sekali dalam pertempuran ini. Tentu saja dia enggan mencari kerugian yang jelas berada didepan mata. Maka setelah mempertimbangkan sejenak keadaan yang terbentang didepan mata, dia bertekad akan melepaskan So Bwe leng untuk menjamin keselamatan bagi rombongannya. Kendatipun dihati ia berpikir demikian, namun dimulut ia sama sekali tak mau mengalah, katanya : Huuuh, hanya mengandalkan kemampuanmu juga bisa mengambil keputusan? Thi Eng khi menjadi tertegun, dengan mengandalkan kedudukannya sekarang, dia memang tak berani mengucapkan kata sebesar itu. Sebab orang yang benar-benar bisa mengambil keputusan pada saat ini selain Tiang pek lojin, mungkin hanya ketua Siau lim pay dan ketua Bu tong pay saja yang dapat melakukannya. Tentu saja Tiang pek lojin tak akan berbuat banyak dalam keadaan begini, sebab cucunya yang menjadi penyebab. Pada saat itulah, Ci long taysu ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang ketua Bu tong pay telah melompat datang sambil berseru lantang : Asal kau meninggalkan nona So disini, hari ini kau boleh pergi meninggalkan tempat ini. Jilid : 15 Jangan! cegah Tiang pek lojin dengan wajah serius, kalian berdua jangan sekali kali memikirkan keselamatan cucuku sehingga meninggalkan bibit bencana bagi umat persilatan!"

493
"Omitohud!" kata Ci long taysu sambil merangkap tangannya didepan dada, "nona So sudah banyak menderita bagi dunia persilatan, harap kau sudi menerima kebaikan dan niat tulus dari umat persilatan didaratan Tionggoan." Keng hian totiang dari Bu tong pay juga turut berkata : "Bila hari ini kami membiarkan nona So menderita lagi ditangan orang itu, seluruh umat persilatan didunia ini tak punya muka lagi untuk menancapkan kaki dalam dunia persilatan." Menyaksikan keadaan yang dinantikan telah tiba, Huan im sin ang sama sekali tidak menggubris apakah Tiang pek lojin setuju atau tidak, diam diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan mendorong tubuh So Bwe leng ke arah Thi Eng khi, kemudian serunya : "Kuserahkan nona ini kepadamu, kau anggap luka dalam yang dideritanya dapat kau sembuhkan?" Huan im sin ang memang seorang yang licik, sudah jelas dia enggan menyembuhkan luka dalam yang diderita Pek leng siancu So Bwe leng, akan tetapi justru dengan kata kata yang pedas dia memanasi lawannya agar pihak lawan tak usah mengajukan syarat agar dia menyembuhkan lukanya itu. Thi Eng khi masih muda, darahnya masih panas, manusia semacam inilah yang paling gampang terjebak. Benar juga, dengan

mata melotot dia lantas berseru : "Kau jangan menganggap kepandaianmu hebat, aku tidak percaya kalau luka yang dideritanya tak dapat disembuhkan, lihat saja nanti!" Huan im sin ang tertawa seram, dengan membawa serta anak buahnya dia segera beranjak pergi dari situ. Ketika hampir keluar dari arena, mandadak Thi Eng khi melompat ke depan dan menghadang jalan perginya. Huan im sin ang segera tertawa dingin, serunya : "Apa yang kalian ucapkan itu masih bisa dianggap atau tidak?"

494
"Hmmm... " Thi Eng khi mendengus "aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi kepadamu!" "Pertanyaanmu terlampau banyak," dengus Huan im sin ang sinis. "Ketika berada diperkampungan Ki hian san ceng tempo hari, kau telah merampas lukisan Kun eng toh, apakah sampai sekarang masih kau simpan baik baik?" "Hmmm, siapa yang merampas lukisanmu? Bila ingin menagih hutang, tagihlah kepada orang yang berhutang kepadamu. Lukisanmu itu bagaimana hilangnya? Seharusnya kau musti pergi ke perkampungan Ki hian san ceng dan menagihnya sendiri dari kawanan manusia tak becus itu." Bukan saja menampik permintaan bahkan berusaha untuk menyinggung kembali sakit hati lama dari Thi Eng khi. Dengan cepat kejadian yang dialaminya dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari terlintas kembali dalam benak Thi Eng khi, tanpa terasa ia menjadi amat murung. Ketika Huan im sin ang lewat dari sisinya dan pergi jauh, dia masih belum merasakan apa apa, setelah sampai jauh, suara tertawa dari Huan im sin ang baru terdengar kembali : "Bocah keparat, kau tak usah kuatir, lukisan itu masih tidak kupandang sebelah matapun, asal kau punya nyali, istana Ban seng kiong dibukit wu san selalu menantikan kedatanganmu." Sesungguhnya Thi Eng khi memang sama sekali tidak berhasrat untuk mencegah kepergian Huan im sin ang, dia hanya teringat kalau lukisan tersebut masih berada ditangan Huan im sin ang belaka, karena dia pernah bersumpah hendak mengandalkan kepandaiannya untuk merampas kembali benda itu. Maka ketika dilihatnya Huan im sin ang berlalu dengan membawa kekalahan dia sama sekali tidak berniat untuk menghalanginya.

495
Menanti Huan im sin ang sekalian sudah lenyap dari pandangan mata, ketua Kay pang si Pengemis tua sakti bermata harimau Cu Goan po baru menghela napas panjang katanya: "Saudara cilik, gara gara ucapanmu tadi aku kuatir nona Leng bakal menderita banyak siksaan!" Setelah mendengar perkataan itu, Thi Eng khi sendiripun merasa menyesal dengan perkataan tadi sehingga melepaskan Huan im sin ang dengan begitu saja sebelum memaksanya untuk menyembuhkan dulu luka yang diderita So Bwe leng....

Sebaliknya Tiang pek lojin segera menghibur sambil tertawa. "Anak Eng, kau tidak salah, bila kita tidak berhasil menyembuhkan luka dalam yang diderita Leng ji, percuma saja kita berbicara tentang bagaimana menghadapi Huan im sin ang!" Mendengar ucapan tersebut, Thi Eng khi segera merasakan semangat jantannya berkobar kembali : "Benar, kita harus berusaha sendiri untuk menyembuhkan luka yang diderita adik Leng." Sementara sorot mata yang penuh perasaan menyesal dialihkan ke wajah Pek leng siancu So Bwe leng. Mendadak terdengar suara seseorang yang parau berkumandang disisi telinga Thi Eng khi : "Melepaskan harimau mudah, menangkapnya sukar, gara gara keselamatan seorang gadis, Huan im sin ang harus dilepaskan dengan begitu saja, terhadap tindakan ini, lohu merasa amat tidak setuju!" Dengan terkejut Thi Eng khi berpaling, hatinya yang sudah tak senang kini semakin tak senang lagi, sebab orang yang berbicara sekarang tak lain adalah lo pangcu dari perkampungan Ki hian san ceng Sangkoan Yong adanya. Dibelakangnya berdiri pula sekelompok jago yang pernah dijumpai ketika berada dalam perkampungan Ki hian san ceng dulu. Ternyata sejak dipermainkan oleh Huan im sin ang dalam perkampungan Ki hian san ceng dulu, kemudian lukisan Kun eng toh

496
dirampas pula oleh lawan, Sangkoan Yong sekalian merasa makin lama semakin tak sedap, rnereka sadar bila peristiwa ini sampai tersiar ke dalam dunia persilatan, maka kejadian itu pasti akan ditertawakan semua orang. Kalau orang mengindap penyakit yang sama, otomatis merekapun akan bergabung serta memiliki pandangan yang sama pula, itulah sebabnya orang itu malahan justru bersatu padu dan mengelompok dengan akrabnya, dengan demikian terciptalah suatu kelompok kecil yang tersendiri. Tak dapat disangkal lagi orang orang itu amat membenci Huan im sin ang, tapi terhadap Thi Eng khi pun tidak menaruh kesan yang baik, sebab mereka beranggapan jika Thi Eng khi tidak menerobos masuk ke dalam berkampungan Ki hian san ceng dan tidak mengeluarkan lukisan tersebut, tak akan menunjukkan perbuatan rnemalukan, dengan begitu merekapun tak akan ditertawakan oleh umat persilatan. Oleh sebab itu, tatkala mereka mendengar kalau pihak Siau lim pay dan Bu tong pay telah bentrok dengan Tiang Pek lojin gara gara urusan Thi Eng khi, mereka segera berangkat ke kuil Siau lim si untuk memberikan bantuan. Dalam anggapan mereka, dengan perbuatannya ini, Thi Eng khi sudah pasti tidak mempunyai teman lagi didalam daratan Tionggoan. Siapa tahu, berkat diplomasi si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, rasa permusuhan Ci long taysu ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang ketua Bu tong pay terhadap Tiang pek lojin telah lenyap sama sekali, kenyataan ini membuat mereka menjadi kecewa sekali. Apalagi setelah menyaksikan pihak Siau lim pay dan Bu tong pay

telah bersatu padu kembali bahkan memberi kesempatan kepada Thi Eng khi untuk menampilkan diri, merasa kalau termashurnya Thi Eng khi bakal mendatangkan ancaman bagi mereka kontan saja timbul niat jahat mereka untuk merusak nama baik Thi Eng khi, agar si anak muda itu tak bisa menampilkan diri untuk selamanya.

497
Tentu saja hal ini merupakan pandangan mereka sendiri terhadap perbuatan Thi Eng khi sedang mengenai bagaimanakah sikap Thi Eng khi sendiri terhadap orang orang yang dijumpainya dalam perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, apakah dia masih mendendam dihati, atau merasa tak senang, atau sudah tidak menganggap mereka sebagai musuh lagi, dalam keadaan begitu mereka enggan untuk mempertimbangkannya. Tapi hal inipun tak dapat salahkan mereka, sebab memang demikianlah keadaan dalam persilatan pada waktu itu, bila ada dendam tak dibalas dia bukan lelaki sejati, kalau ada sakit hati tidak dituntut dia bukan lelaki gagah, apa bedanya pula dengan mereka? Berbicara sesungguhnya, Thi Eng khi sendiripun sama sekali tidak mempunyai kesan baik terhadap mereka. Oleh karena itu dia segera berpaling setelah mendengar perkataan itu dan paras mukanya juga berubah amat dingin seteiah mengetahui siapakah mereka, serunya dengan gusar : "Aku Thi Eng khi berani berbuat berani bertanggung jawab, hari ini aku lepaskan Huan im sin ang, dikemudian hari aku pula yang bertanggung jawab untuk menaklukkan penjahat tersebut!" Mendengar perkataan itu, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong tertawa terbahak bahak. "Haaaahhh...... haaaahh.... haaahhhh.... kalau omong besar sih setiap orang bisa, tapi sudahkah kau bayangkan bagaimana akibatnya? Mulai sekarang jika ada orang yang kena dicelakai oleh gembong iblis tua itu, maka hal tersebut merupakan akibat dari perbuatanmu yang mementingkan kepentingan pribadi. Tampangnya saja kelihatan seperti gagah dan perkasa, tak tahunya cuma seorang manusia mementingkan kepentingan pribadi belaka, sedang terhadap keselamatan umat persilatan boleh dibilang sama sekali tidak memperhatikannya, lohu sebagai salah seorang anggota persilatan merasa tidak senang dengan perbuatanmu itu, demi kepentingan umat persilatan mau tak mau aku baru mengucapkan beberapa patah kata kepadamu."

498
Setelah berhasil menangkap titik kelemahan dari Thi Eng khi karena ia melepaskan Huan im sin ang, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera melancarkan pukulan dahsyat yang sama sekali tidak mengenal rasa kasihan.... Sewaktu mengucapkan kata kata tersebut suaranya amat keras dan nadanya nyaring setiap patah kata boleh dibilang diucapkan dengan mengerahkan tenaga dalam yang sempurna. Betul sasarannya adalah Thi Eng khi, tapi yang benar tujuannya adalah agar setiap orang dapat turut mendengarnya. Begitu mendengar perkataan tersebut, paras muka setiap orang lantas berubah, rupanya mereka terpengaruh juga oleh hasutan

tersebut dan merasa tidak seharusnya Thi Eng khi rnelepaskan gembong iblis tua itu dengan begitu saja gara gara seorang gadis dari luar perbatasan, sehingga meninggalkan bibit bencana bagi umat pesilatan. Tapi saat ini siapapun tak ada yang berpikir dengan lebih seksama lagi, mereka tak ada yang mau tahu, andaikata Thi Eng khi tidak berbesar jiwa dan bersedia berkorban dengan pertaruhan nyawa sendiri untuk membongkar rencana busuk Huan im sin ang untuk mengadu domba jago jago dari daratan Tionggoan dan jago jago luar perbatasan itu jadi berantakan, bagaimana pula akibatnya. Thi Eng khi segera merasakan dirinya bagaikan kena difitnah, diapun enggan untuk memamerkan jasa sendiri saking marahnya merah padam selembar wajahnya. "Tak mau banyak berbicara lagi," sahutnya kemudian, "kalau memang Sangkoan tayhiap merasa begitu, mengapa kau tidak turun tangan untuk membekuk iblis tua itu? Asal kalian turun tangan, bukanlah cita cita kamu semua menjadi terwujud?" Kembali Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong tertawa terbahak bahak. "Haaahhh.... haaahhh....... haaahhh...... lohu tak ingin menodai nama baik ketua Siau Sim pay dan Bu tong pay maka peringatan ini

499
baru kusampaikan setelah kejadian, saudara, dengan ucapan ini apakah kau ingin mencoba untuk mengadu domba umat persilatan dari daratan Tionggoan?" Setelah tertawa dingin, dia melanjutkan : "Heeeehhh.... heehhhh.... heeehhhh......hidup sebagai seorang manusia, janganlah sekali kali melupakan pada nenek moyang sendiri, kau jangan menganggap dengan adanya jago jago dari luar perbatasan menjadi tulang punggungmu maka kau memandang rendah kemampuan sobat-sobat persilatan didaratan Tionggoan, ketahuilah, bagaimanapun kau tetap merupakan seorang ketua dari suatu perguruan yang ada didalam daratan Tionggoan... " Bukan saja nadanya amat berat sukar dilukiskan dengan kata kata, tujuannya pun ingin menghasut para jago dari daratan Tionggoan agar menaruh kesan jalek terhadap Thi Eng khi. Saking gusarnya paras muka Thi Eng khi telah berubah menjadi hijau membesi, empat anggota badannya gemetar keras, ia sudah tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Sebaliknya Tiang pek lojin merasa marahnya bukan kepalang, sepasang matanya melotot besar, mukanya merah padam, rambutnya pada berdiri seperti landak, agaknya ia sudah bersiap siaga untuk melancarkan serangan. Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay segera dapat merasakan gelagat yang kurang menguntungkan, dia tahu jika percekcokan ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, kemungkinan besar akan tercipta suatu pertumpahan darah yang mengerikan. Maka dengan cepat dia menyelinap ke tengah tengah kedua kelompak manusia itu, lalu berseru memuji keagungan sang Buddha. "Omitohud, kalian berdua sama sama adalah teman baik Siau lim si kami, kini pertemuan sudah bubar, bila masih ada persoalan, bagaimana kalau kita bicarakan di dalam kuil saja?"

Tujuan yang sebenarnya dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sebetulnya adalah hendak memberi pelajaran kepada Thi Eng khi agar dia jangan memandang rendah kelompok manusia dari Ki hian

500
san ceng, apalagi perkataannya tadi telah berhasil menghasut para jago hingga menaruh kesan jelek terhadap Thi Eng khi. Begitu tujuannya tercapai, diapun enggan untuk mencari gara gara lagi dengan pihak Siau lim si, dengan senyuman dikulum segera ujarnya : "Bergembira sekali dapat menyaksikan kuil anda berjabatan tangan lagi secara damai dengan Tiang pek lojin, kejadian ini sungguh merupakan keuntungan buat umat persilatan didaratan Tionggoan, sayang kami semua masih ada urusan penting yang belum terselesaikan, biarlah kami mohon diri lebih dahulu." Selesai berkata dia lantas menjura dan mengajak kawannya berlalu dari bukit Siong san. Kawanan jago lainnya yang kena dihasut pun serentak bangkit berdiri dan turut meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, kecuali para jago dari luar perbatasan serta para jago dari Siau lim pay dan Bu tong pay hampir semuanya sudah berlalu dari sana. Keng hian totiang, ketua Bu tong pay yang menyaksikan kejadian itu segera menghela napas panjang, katanya lirih : "Sebenanya tiada persoalan di dunia, manusialah yang banyak bertingkah." Dengan penuh rasa marah bercampur mendongkol ketua Kay pang Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po berseru pula lantang : "Dalam pertemuan di perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, perbuatan mereka benar benar memalukan sekali, itulah sebabnya mereka selalu menaruh perasaan was was terhadap Thi ciangbunjin, kuatir kalau Thi ciangbunjin akan melepaskan mereka dari malu rupanya mereka menjadi gusar maka merekapun tidak membiarkan Thi ciangbunjin bisa tampilkan diri dalam mata masyarakat." "Ucapan engkoh tua memang benar," kata Thi Eng khi, "mengalah bukan berarti kalah, asal mereka tidak terlalu

501
mendesakku sehingga kelewat batas, siautepun tak akan ribut dengan mereka!" Ci long taysu dari Siau lim pay dan Keng hian totiang dari Bu tong pay segera berseru memuji : "Omitohud!" "Buliangohud!" "Kebajikan dan kebaikan dari Thi ciangbunjin sungguh agung dan mulia, hal ini benar benar merupakan keberuntungan bagi umat persilatan!" Setelah mendengar perkataan itu, kemarahan Thi Eng khi terhadap tingkah laku Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang kelewat tadipun sudah menjadi mereda. Tampaknya Tiang pek lojin merasakan pula keadaan yang sama,

katanya : "Belajar sampai tua, tak ada habisnya, menjelang usia tua begini tak nyana lohu akan mengalami kejadian seperti ini, aaai ...." Dengan penuh rasa sedih dan menyesal, ia menghela napas panjang. Thi Eng khi segera membopong tubuh pek leng siancu So Bwe leng, lalu sambil menengadah katanya : "So yaya, kitapun harus pergi dari sini, luka yang diderita adik Leng tidak enteng." Tampaknya Tiang pek lojin pun merasa tiada kepentingan untuk tetap tinggal disana, diapun mengajak anak buahnya mengundurkan diri dari situ. Maka pertemuan besar dibukit Siong san pun berakhir dalam suasana kesedihan, ancaman badai pun mereda. Di belakang kuil Siong gak bio terdapat sebuah kamar kecil yang berdiri sendiri, Na im siusu So Ping gwee berdiri tegak didepan pintu, Boan san siang koay berdiri di kiri dan kanannya sedang Tiang pek sam nio dan Pek sui su kui mengelilingi di sekelilingnya, hingga ruangan kecil itu boleh dibilang terlindung kuat sekali.

502
Dalam kamar diatas pembaringan, terbaringlah Pek leng siancu So Bwe leng dengan wajah pucat kehijau hijauan, telapak tangan tunggal dari Thi Eng khi sedang ditempelkan di atas jalan darah Pek hwee hiat ditubuh So Bwe leng, dia sedang menggunakan ilmu Pek hui tiau yang tayhoat untuk menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya dan menyalurkan ke dalam tubuh Pek leng siancu So Bwe leng. Ilmu Pek hui tiau yang tayhoat merupakan suatu kepandaian sinkang dari aliran Thian liong pay yang cuma bisa dipelajari bila ilmu sian thian bu khek ji gi sin kang telah selesai dipelajari, oleh karena berunsur im dan yang, oleh karena itu kekuatan mana mempunyai sifat untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita seseorang, untuk menolong jiwa Pek leng siancu So Bwe leng, kini Thi Eng khi dengan tak sayangnya telah mempergunakan kepandaian itu. Paras muka Pek leng siancu So Bwe leng yang semula memucat, lambat laun berubah menjadi merah, tapi warna merah itu mengenaskan sekali sebab sedemikian tipisnya hingga sukar untuk ditemukan bila tidak diamati lebih seksama. Sekarang, semua harapan Tiang Pek lojin telah dicurahkan ke atas tubuh Thi Eng khi. Akan tetapi, satu jam sudah lewat, warna merah yang tipis itu lagi lagi tertelan oleh warna putih pucat tersebut. Sekujur badan Thi Eng khi sudah basah kuyup oleh peluh dingin bahkan sekujur badannya mulai gemetar keras. Tak terlukiskan rasa kaget Tiang pek lojin, setelah menyaksikan kejadian itu, buru buru dia tempelkan telapak tangannya diatas punggung Thi Eng khi sambil membantu pemuda itu untuk pulihkan tenaga, dengan ilmu menyampaikan suara katanya : "Anak Eng yang bisa dilakukan lakukanlah, tapi jangan terlampau memaksakan diri sehingga akibat kedua belah pihak sama sama menderita kerugian besar!" Dengan sedih Thi Eng khi segera menarik kembali tangannya, kemudian berkata :

503
"Eng ji tak becus, aku telah menyia nyiakan harapan So yaya!" Tiang pek lojin cukup mengetahui akan kehebatan ilmu pek hui tiau yang tayhoat dari Thian liong pay, kalau ilmu pek hui tiau yang tayhoat pun tidak mendatangkan hasil, sekalipun tenaga dalam yang dimiliki lebih sempurna pun ia tak berani mencoba secara gegabah. Terpaksa dengan nada menyelidiki dia bertanya : "Anak Eng sewaktu mengerahkan tenaga tadi, apakah kau telah rnenemukan suatu keanehan didalam tubuh anak Leng?" Thi Eng khi termenung sambil berpikir sebentar, lalu sahutnya dengan sedih : "Semua nadi didalam tubuh adik Leng bebas dan lancar, ketika kukerahkan tenaga dalam tadi bagaikan memasuki samudera luas yang tak bertepian, oleh karena itu sukar untuk menemukan letak lukanya hingga tak bisa membangkitkan semangat hidupnya. Sekalipun Eng ji telah mengerahkan segenap tenaga yang kumiliki, hasilnya tetap nihil." Paras muka Tiang pek lojin segera berubah hebat, setelah termenung sejenak, akhirnya dia berkata dengan sedih : "Gejala tersebut merupakan pertanda kalau hawa murninya telah buyar dan darah mendekati tanda mengering, bila tidak bisa ditolong dalam beberapa hari ini, mungkin anak Leng sudah tiada harapan untuk tertolong lagi." Thi Eng khi segera mengulurkan pil Toh mia kim wan terakhir yang dimilikinya lalu berkata : "Aku masih mempunyai sebutir pil Toh mia kim wan, coba dilihat bagaimanakah kemujuran nasibnya!" Selesai berkata dia lantas menjejalkan pil Toh mia kim wan tersebut kemulut Pek leng siancu So Bwe leng. Tiba tiba Tiang pek lojin mencengkeram pergelangan tangan Thi Eng khi lalu sambil menggelengkan kepalanya dia berkata : "Pil Toh mia kim wan merupakan mestika dalam dunia, percuma kalau kau berikan pada anak leng sebab dia sudah kehilangan tenaga hisapnya, tak usah dicoba lagi!"

504
"Bagaimana juga, anak Eng harus berikan pil kim wan ini untuk adik Leng!" seru Thi Eng khi dengan air mata bercucuran. Walaupun sedang sedih ternyata Tiang pek lojin tidak kehilangan kewibawaannya, dia berkata : "Anak Eng tak boleh begitu, menyia nyiakan benda mestika rnerupakan dosa besar yang tak terampuni, sekalipun kau berbuat demikian, mengapa tidak kau simpan pil mestika itu dan dikemudian hari diberikan kepada orang lain atas nama Leng?" Thi Eng khi berpikir sebentar, kemudian dengan sedih ia serahkan pil Toh mia kim wan tersebut kepada Tiang pek lojin, katanya : "Kalau begitu harap So yaya bersedia mewakili adik Leng untuk menyimpan pil ini, gunakanlah untuK menolong mereka yang membutuhkan dikemudian hari." Ketikadilihatnya paras muka Thi Eng khi aneh sekali, Tiang pek lojin menjadi tercengang, serunya dengan cepat : "Apa bedanya jika pil Toh mia kim wan tersebut disimpan dalam

sakumu...." Thi Eng khi nampak sedih sekali, sahutnya : "Eng ji tidak memperdulikan keselamatan adik Leng, kemudian tak tahu diri dengan menerima hasutan Huan im sin ang, setelah salah berbuat kesalahan lagi sehingga menyebabkan adik Ling terjerumus dalam keadaan demikian, bila adik Leng sampai menjumpai keadaan yang tidak beres, Eng ji pun tak akan hidup seorang diri didunia ini. Oleh karena itu, mau tak mau harus kutitipkan dulu pesan ini kepada kau orang tua!" Tiang pek lojin merasa terkesiap sekali setelah mendengar ucapan itu, peluh dingin sampai jatuh bercucuran membasahi tubuhnya, tapi ia tak berani berdebat dengan Thi Eng khi sebab kuatir kalau salah berbicara hingga menyebabkan keadaan yang semakin runyam. Andaikata Thi Eng khi sampai mengambil keputusan untuk melakukan perbuatan nekad, peristiwa semacam inilah baru benar benar merupakan suatu tragedi besar. Menyadari akan pelbagai

505
resiko yang dihadapi, terpaksa dia harus menekan perasaan sedihnya didalam hati, kemudian sambil tertawa nyaring ia berkata : "Anak bodoh, mengapa kau ucapkan perkataan semacam itu? Orang bilang manusia punya keinginan, Thian punya kuasa, segala sesuatu yang ada dialam semesta ini. Dialah yang menentukan! Yaya tentu saja tak akan rela membiarkan Leng-ji meninggal dengan begitu saja. Sekarang, simpan dulu pil Toh mia kim wan tersebut, kita tak usah menganggu ketenangan anak Leng disini, mari kita berunding diluar sana sambil berusaha untuk mencari akal lain." Tidak menanti jawaban lagi, dia lantas menarik Thi Eng khi, dan diajak menuju ke ruangan lain. Didalam kamar itu, selain Tiang Pek lojin dan putranya, juga hadir Thi Eng khi, Boan san siang koay, Tiang pek sam nio serta ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po. Secara ringan Tiang pek lojin menjelaskan keadaan luka yang dialami Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian sambil memberi tanda dengan kerlingan mata kearah si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, katanya : "Hei, orang she Cu, lohu sudah lama tak pernah terjun kedaratan Tionggoan, kini aku menjadi seseorang yang picik pengetahuannya, tolong lote suka memperkenalkan seorang tabib sakti yang bisa menyelamatkan jiwa Leng ji, lohu dan Eng ji tentu akan terima kasih sekali kepadamu." Si pengemis sakti bermata harimau bukannya tidak melihat kerlingan mata dari Tiang pek lojin, akan tetapi ia tidak memahami maksud hati dari orang tua tersebut, maka sambil menggelengkan kepala dia berkata lebih jauh : "Dalam daerah seputar daratan Tionggoan selama puluhan tahun ini minim dengan tabib kenamaan, aku si pengemis tua benar benar tidak berhasil menemukan nama dari seorang tabib kenamaan yang mempunyai ilmu tinggi dan bisa menyelamatkan nona Leng dari musibah ini." Thi Eng khi segera merasakan hatinya menjadi kecut sekali, tanpa terasa titik-titik air mata jatuh bercucuran. Dengan gelisah

506
bercampur panik, Tiang pek lojin mendepak depakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, kemudian serunya lagi : "Enam puluh tahun berselang, lohu masih ingat terdapat seorang tabib kenamaan didunia ini yang bernama ..... apa ...... seperti memakai julukan boneka...... " Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po bukannya seorang yang bodoh, akan tetapi menghadapi pertanyaan yang tidak diketahui ujung pangkalnya ini, untuk sesaat dia menjadi gelagapan sendiri dan tak tahu bagaimana musti menjawab. Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa dia harus menjawab dengan berterus terang : "Satu satunya tabib sakti yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada enam puluh tahun berselang adalah Giam lo heng (pendendam raja akhirat) Kwik Keng thian, selama masa jayanya belum pernah ia gagal menyelamatkan jiwa manusia sehingga pekerjaannya itu seolah olah memusuhi tugas raja akhirat, itulah sebabnya orang persilatan menghadiahkan nama Pembenci Raja akhirat kepadanya. Aai.... sayang sekali pada akhirnya dia toh tak berhasil juga memenangkan kekuasaan raja akhirat, konon selembar jiwanya juga telah menghadap ke depan Giam lo ong!" Saking kagetnya Thi Eng khi menjerit tertahan, tubuhnya segera gontai karena sedih. Tiang pek lojin menjadi gusar sekali, teriaknya kemudian keras keras : "Omong kosong .....! Ucapanmu benar benar ngaco belo belaka! Siapa yang mengatakan kalau si Pembenci raja akhirat sudah mati? Bukankah dia..... dia..... tinggal ditempat.... apa namanya?" Sekarang pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po baru memahami maksud hati yang sebenarnya dari Tiang pek lojin, dengan gugup buru buru dia berganti ucapan : "Aaah, betul betul! kemudian dia mula yang mengatakan kalau berita kematian dari Pembenci raja akhirat tak lebih cuma berita isapan jempol belaka, yang benar dia sudah tidak mencampuri urusan keduniawian lagi dan mengasingkan diri kebukit Huan keng San."

507
Dalam pembicaraan terakhir itu hanya satu dua bagian merupakan kenyataan, sedang delapan sampai sembilan puluh persen sisanya merupakan karangannya sendiri. Sekalipun Thi Eng khi terhitung seorang pemuda yang amat cerdas, tapi berhubung pikiranya sedang kalut, maka apa yang didengar hanya terbatas pada apa yang ingin diketahui saja, sedangkan penyakit di balik ucapan tersebut boleh dibilang sama sekali tidak ditemukan olehnya. Semangatnya segera berkobar kembali setelah mendengar perkataan yang terakhir itu, sambil melompat bangun serunya : "Yaya, kamu mesti berusaha untuk mencari akal guna memperpanjang kehidupan adik Leng selama beberapa hari,sekarang juga Eng ji akan berangkat ke bukit Huan keng san!" Begitu selesai berkata dia lantas melompat keluar dari ruangan dengan menerobosi jendela.Tiang pek lojin segera melemparkan seuntai mutiara kepadanya seraya berseru :

"Gunakanlah seuntai mutiara ini sebagai ongkos selama perjalananmu, kami akan berusaha dengan segala macam kemampuan untuk memperpanjang kehidupan anak Leng sampai kedatanganmu kembali." Thi Eng khi tidak banyak berbicara lagi, setelah menerima untaian mutiara itu, secepat kilat dia berlalu dari sana. Menanti pemuda itu sudah berlalu, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang sudah diliputi pelbagai pertanyaan yang membingungkan hatinya, tak tahan segera berkata : "Locianpwe, barusan kau