Anda di halaman 1dari 9

IRMAWATI 091404028 UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

PERKEMBANGAN ILMU GIZI DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA

Perkembangan Di Indonesia 1. Belanda mendirikan Laboratorium Kesehatan pada tanggal 15 Januari 1888 di Jakarta , tujuannya menanggulangi penyakit beri-beri di Indonesia dan Asia 2. Tahun 1919, Jansen, Donanth (dari Lembaga Eijkman) meneliti masalah Gondok di Wonosobo 3. Sejak Tahun 1919, Panne Kock, Van Veen, Koe Ford, Postmus menganalisis nilai gizi berbagai makanan di Indonesia yang dikenal dengan DKBM 4. Tahun 1930, Vanveen Postmus, De Hass menemukan defisiensi Vitamin A di Indonesia. 5. Tahun 1935, De Haas meneliti tentang KEP di Indonesia 6. Tahun 1934, IVV (Het Institud dan Voor Volk Suceding) atau Lembaga Makanan Rakyat dan setelah merdeka ( kira-kira tahun 1964) mulai melakukan penelitian. 7. Tahun 1938, nama Laboratorium Kesehatan diganti dengan Lembaga Eijkman. Tahun 1938, bermula dari Tahun 1919, Jansen dan Donath meneliti masalah Gondok di wonosobo, kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda menfaslitasi pembentukan Lembaga Eijkman. Beberapa Kegiatannya berupa survai gizi di tahun 1927-1942, oleh Jansen dan Kawan-kawan pada 7 lokasi bertempat di jawa, seram dan lampung yang bertujuan Mengamati Pola Makan, Keadaan Gizi, Pertanian dan perekonomian. Lembaga ini juga berhasil melakukan Analisis Bahan Makanan yang sekarang dikenal sebagai Daftar Komposisi Bahan Makanan disingkat atau dikenal dengan DKBM 8. Tahun 1937 1942, diadakan survei gizi yaitu 7 tempat di Jawa , 1 tempat di Lampung, dan 1 tempat di Seram.. 9. Scooltema, Ochese, Terra, Jansen, Donath, Postmus, Van Veen mengamati pola makanan, keadaan gizi, pertanian, dan perekonomian.

10. Tahun 1950, IVV diganti namanya menjadi Kementerian Kesehatan RI atau LMR (Lembaga Makanan Rakyat) diketuai oleh Prof dr. Poerwo Soedarmo Pendiri PERSAGI atau dikenal juga sebagai Bapak Gizi Indonesia. Kemudian LMR membentuk kader / tenaga gizi dan pengalaman ilmu gizi kepada masyarakat. Bapak Poerwo Soedarmo juga berhasil memperkenalkan promosi gizi yang baik dengan istilah Empat Sehat Lima Sempurna yang begitu populer pada waktu itu sampai pada pemerintahan Orde Baru. 11. Tahun 1960, Prof. Poerwo Soedarmo mencetak tenaga ahli gizi (AKZI dan FKUI) antara lain : a. Poerwo Soedarmo, Drajat Prawira Negara b. Djaeni S. Sedia Utama, Soemila Sastromijoyo, Ied Goan Gong, Oei Kam Nio c. Soekartijah Martaatmaja, Darwin Kariyadi d. Ig. Tarwotjo, Djoemadias Abu Naim e. Sunita Almatsir ( Perintis terapi diet dan institusi gizi) 12. Penelitian terus dikembangkan di Indonesia terutama oleh konsultan asing (WHO, FAO) yaitu : a. Domen (1952-1955) penelitian tentang kwashiorkor (istilah gizi buruk karena kekuranagn protein) dan Xeropthalmia (Istilah Kebutaan Akibat kekurangan Vitamin A) b. Klerk (1956) penelitian tentang Tinggi Badan (TB) dan Berat Badan (BB) anak Sekolah yang dapat memberikan gambaran Status Gizi Anak SD pada masa balitanya. c. Gailey ( 1957 1958 ) tentang Kelaparan di Gunung Kidul menghasilkan teori Kelaparan
o

KELAPARAN

(Hunger) menurut E.Kennedy,(2002) sebagai kutipan dari

penelitian Prof Soekirman Ph.D Guru Besar Ilmu Gizi IPB Bogor tentang kelaparan adalah Rasa tidak enak dan sakit, akibat kurang /tidak makan,baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja diluar kehendak dan terjadi berulang-ulang, serta dalam jangka waktu tertentu menyebabkan penurunan berat badan dan gangguan kesehatan.

13. Dan tahun 1950-2010 perkembangan ilmu gizi di Indonesia sangat pesat, sampai sampai teori-teori gizi yang baru ditemukan belum sampai diterapkan muncul lagi ilmu yang terbaru dari hasil penelitian terbaru dari ilmu gizi. Dari Perkembangan Ilmu Gizi tersebut diatas baik di Indonesia maupun di Luar Negeri, Penjelasan mengenai makanan dan hubungannya dengan kesehatan semakin jelas yaitu makanan atau unsur-unsur (zat-zat) gizi essensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus dikonsumsi dari makanan meliputi Vitamin, Mineral, Asam amino, Asam lemak Dan sejumlah Karbohidart sebagai energy. Dan unsur-unsur (zat-zat) gizi non essensial dapat disistesis oleh tubuh dari senyawa atau zat gizi tertentu. Unsur-unsur gizi ini dikelompokkan atau digolongkan dalam 6 golongan besar yaitu (1) Karbohidrat, (2). Protein, (3).Lemak, (4) Vitamin, (5) Mineral dan (6) air. MASALAH-MASALAH GIZI DI INDONESIA 1. KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama. Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui Penyebab Kuantitas dan kualitas makanan rendah, Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan, Pengetahuan yang kurang tentang gizi, Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor, Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus, Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI, Terjadi karena kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi. Pembagian KEP

Marasmus Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi kurus dan emosional. Disebabkan karena ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan, kebiasaan makanan yang tidak layak, penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan.

Tanda dan gejala 1. Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus, Mata besar dan dalam, sinar mata sayu, Mental cengeng, Feces lunak atau diare, Rambut hitam, tidak mudah dicabut, Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang. 2. Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur, Torax atau sela iga cekung, Atrofi otot, tulang terlihat jelas, Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya, Frekuensi nafas berkurang, Kadar Hb berkurang, Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin.

Kwashiorkor Kwashiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi. Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara. Disebabkan karena kekurangan protein dalam makanan, gangguan penyerapan protein, kehilangan protein secara tidak normal, infeksi kronis, perdarahan hebat. Tanda dan gejala 1. Wajah seperti bulan moon face, Pertumbuhan terganggu, Sinar mata sayu, Lemaslethargi, Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis), Rambut merah, jarang, mudah dicabut, Jaringan lemak masih ada 2. Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput), Iga normal-tertutup oedema, Atrofi otot, Anoreksia, Diare, Pembesaran hati, Anemia, Sering terjadi acites, Oedema.

Marasmus-kwashiorkor Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor

Program pemerintah penanggulangan KEP 1. Penyuluhan gizi 2. Peningkatan pendapatan 3. Peningkatan pelayanan kesehatan 4. Keluarga berencana

5. Peningkatan peran serta masyarakat 6. Rujukan pelayanan gizi di posyandu 7. Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi 8. ASI eksklusif 2. OBESITAS adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh. Penyebab Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan, Aktifitas fisik yang rendah, Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat), Laju pertumbuhan yang sangat cepat, Genetik atau faktor keturunan, Gangguan hormon Gejala Terlihat sangat gemuk, Lebih tinggi dari anak normal seumur, Perut menggantung. Resiko/dampak obesitas Gangguan respon imunitas seluler, Penurunan aktivitas bakterisida, Kadar besi dan seng rendah Terdapat 2 golongan obesitas

Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat

3. ANEMIA Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. Keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan eritrosit lebih rendah dari nilai normal, akibat defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Tanda dan gejala Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra), Lemah, Lesu, Hb rendah, Sering berdebar, Papil lidah atrofi, Takikardi, Sakit kepala, Jantung membesar Macam-macam anemia Anemia defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin

Anemia megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang, bisa diakibatkan defisiensi vitamin B12 Anemia aplastik adalah anemia yang berat, leukopenia dan trombositopenia, hipoplastik atau aplastik

Penanganan

Pemberian Komunikasi,informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui

Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita

Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemeberian suplemen tambahan kepada anak sekolah

Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja wanita

Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)

4. DEFISIENSI VITAMIN A Penyebab Intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah, Gangguan absorbsi vitamin A atau pro vitamin A (penyakit pankreas, diare kronik, KEP dll), Gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid, Kerusakan hati (kwashiorkor, hepatitis kronik). Tanda dan gejala Rabun senja-kelainan mata, xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea, Kadar vitamin A dalam plasma <20ug/dl, Mual, muntah, Fontanela meningkat, Anoreksia, Kurus, Cengeng Upaya pemerintah

Penyuluhan agar meningkatkan konsumsi vitamin A dan pro vitamin A Fortifikasi (susu, MSG, tepung terigu, mie instan) Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000 IU pada bulan februari dan agustus), ibu nifas (200.000 IU), anak usia 6-12 bulan (100.000 IU)

Kejadian tertentu, ditemukan buta senja, bercak bitot. Dosis saat ditemukan (200.000 IU), hari berikutnya (200.000 IU) dan 4 minggu berikutnya (200.000 IU)

Bila ditemukan xeroptalmia. Dosis saat ditemukan :jika usia >12 bulan 200.000 IU, usia 6-12 bulan 100.000 IU, usia < 6 bulan 50.000 IU, dosis pada hari berikutnya diberikan sesuai usia demikian pula pada 1-4 minggu kemudian dosis yang diberikan juga sesuai usia

Pasien campak, balita (200.000 IU), bayi (100.000 IU)

5. GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) Adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama. Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran kelenjar gondok Dampak Pembesaran kelenjar gondok, Hipotiroid, Kretinisme, Kegagalan reproduksi, Kematian Pencegahan/penanggulangan

Fortifikasi : garam Suplementasi : tablet, injeksi lipiodol, kapsul minyak beryodium

TUGAS GIZI DAN KESEHATAN

NAMA NIM KELAS

: IRMAWATI : 091 404 028 : A (PENDIDIKAN BIOLOGI)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN IMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR