Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK

Atom memiliki energy. Setiap tingkat energy atom diidentifikasi oleh


bilangan kuantum momentum sudut total J. Dalam medan magnet tingkat energy
ini terpecah menjadi 2J+1. Jumlah ini sama dengan jumlah harga-harga bilangan
kuantum magnetic m. Efek Zeeman adalah pemisahan sebuah garis spectrum
menjadi beberapa komponen akibat medan magnet.
Pada praktikum ini, kita akan memahami bagaimana efek zeamen terjadi
dan menganalisis perbedaan nya dengan hasil literatur. Pada kesempatan kali ini
pun, kita akan memahami pemanfaatannya untuk menentukan nilai e/m elektron.















BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terpecahnya garis spektral oleh medan magnetik disebut efek
Zeeman, nama ini diambil dari nama seorang fisikawan Belanda yaitu
Zeeman yang mengamati efek itu pada tahun 1896. Efek Zeeman merupakan
bukti yang jelas dari kuantisasi ruang. Efek Zeeman normal terdiri dari garis
spektral berfrekuensi vo terpecah menjadi tiga komponen berfrekuensi.

1.2 Identifikasi Masalah
- Bagaimana kita akan membuktikan bahwa garis spektral sebuah atom
dalam medan magnetik masing-masing harus terpecah menjadi tiga
komponen
- Bagaiaman pengaruh medan magnet terhadap pecahnya garis spektral
atom.

1.3 Tujuan Percobaan
Mempelajari efek Zeeman serta pemanfaatannya untuk menentukan nilai e/m
elektron.

BAB II
TEORI DASAR
1. Atom
Atom berasal dari bahasa yunani yaitu atomos, yang berarti suatu yang
tidak dapat diubagi lagi. Kata atom dengan pengertian seperti itu memang cocok
pada masa itu, karena dulu atom dianggap sebagai bagian dari benda yang tidak
dapat dipecahkan lagi. Tetapi dewasa ini pengertian atom yamg seperti itu
tidaklah berlaku lagi. Seiring berjalannya waktu, perkembangan atom pun
semakin pesat. Diawali dengan penemuan seorang ahli fisika yang bernama
Demokritus, kemudian dikembangkan oleh John Dalton, J.J. Thomson,
Rutherford dan Bohr.
- Model atom Bohr
Model atom Bohr dinyatakan dengan dua postulat, yaitu :
1. Elektron tidak dapat mengelilingi inti melalui lintasan yang sembarang, tetapi
hanya dapat melalui lintasan-lintasan tertentu saja yang membebaskan energi.
Lintasan itu disebut lintasan stasioner. Pada lintasan stasioner elektron
memiliki momen angular yang besarnya merupakan kelipatan integral dari
Dinyatakan :

2. Oleh karena suatu sebab, elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke
lintasan lain dengan memancarkan atau menyerap energi foton.

Meskipun keberhasilan teori atom Bohr ini mengesankan, model ini masih
belum lengkap. Model ini hanya bermanfaat bagi atom-atom yang mengandung
satu elektron saja, tetapi tidak untuk atom-atom yang memiliki dua elektron atau
lebih, karena gaya yang di tinjau hanyalah antara inti dan elektron, sedangkan
gaya antara elektron diabaikan. Karena teori atom Bohr tidak dapat menjelaskan
mengenai atom yang memiliki elektron lebih dari satu, maka perkembangan atom
selanjutnya beralih pada mekanika kuantum. Selain itu teori atom Bohr tidak
dapat menjelaskan proses efek Zeeman, yaitu tambahan garis-garis spektrum jika
atom-atom tereksitasi diletakkan dalam medan magnetik dan spektrum dari atom-
atom berelektron banyak.
t 2
h
t 2
. . .
h
n r v m =
Sekarang ditetapkan bahwa model atom Bohr bukanlah model yang tepat.
Elektron-elektron yang bergerak dalam orbitnya mempertunjukkan sifat
gelombang (teori de Broglie) sehingga orbit pasti elektron tidak dapat
didefinisikan secara tepat melainkan hanya keboleh jadian menemukan elektron.
Dengan demikian model atom Bohr digantikan dengan model atom baru, yang
disebut dengan model atom mekanika kuantum yang dapat menjelaskan proses
terjadinya efek zeeman.

2. Efek Zeeman
Efek Zeeman adalah pemisahan sebuah garis spektrum menjadi beberapa
komponen disebabkan oleh medan magnet. Medan magnetik eksternal B, sebuah
dwikutub magnetik mempunyai energi potensial V
m
yang bergantung dari besar
momen magnetik u dan orientasi momen ini terhadap medan.
u
u

Gbr1. Sebuah dwikutub megnetik bermomen u , membentuk sudut relatif u
terhadap medan magnetik B
Torka pada sebuah dwikutub magnetik dalam sebuah medan magnet
berkerapatan fluks B adalah u u t sin B =
Torka ini akan maksimum jika dwikutubnya tegak lurus medan, dan nol jika
sejajar atau anti sejajar terhadapnya.
Momen magnetik sebuah sosok arus (current loop) ialah IA = u dengan
I menyatakan arus dan A menyatakan luas yang dilingkunginya. Sebuah elektron
yang melakukan v putaran/s dalam orbit lingkaran yang berjari-jari r setara
dengan arus ev (karena muatan elektron ialah e), dan momen magnetiknya
menjadi
2
r evt u =
Suatu atom hidrogen dalam keadaan ( ) 1 2 = l p yang kemudian
ditempatkan dalam suatu medan magnet seragam B. Maka momen magnet u yang
berkaitan engan momentum sudut orbital akan berinteraksi dengan medan B. Dan
energi yang berkaitan dengan dengan interaksi ini adalah B V - = u
Jika medan dianggap mengarah dalam arah sumbu z dan besar momenmagnet
adalah
l
m
e
2
= u
maka diperoleh
B l
m
e
B l
m
e
V
z
2
2
=
|
.
|

\
|
=
Hasil akhirnya
B m
B
m
e
m V
B l
l
u =
|
.
|

\
|
=
2


Besaran T J x
m
e
/ 10 27 . 9
2
24
= =

u dikenal sebagai magneton Bohr.
Efek Zeeman normal terdiri dari garis spektral berfrekwensi vo terpecah menjadi
tiga komponen berfrekwensi.

B
m
e
V
h
B
V V
b b
t
u u
4
0 0 1
= =

Efek Zeeman normal
0 2
V V =

B
m
e
V
h
B
V V
b b
t
u u
4
0 0 1
+ = + =

Spektrum Tanpa Medan Magnet Spektrum dengan terdapatnya Medan Magnet
(Vo -(eB/4tm )) (Vo -(eB/4tm )) Vo Vo

Gambar 2. a) spektrum tanpa medan magnet, b)spektrum dengan medan magnet
Terdapat medan magnetik Tanpa medan magnetik
ml = 2
ml = 1
ml = 0
ml = -2
(hvo - (ehB/2m)) (hvo + (ehB/2m))
hvo
ml = 1
ml = 0
ml = -1
l = 2
l = 1
AM = 1 AM = 0 AM = 1
ml = -1

Tingkat-tingkat energi teratas atom Cd (n = 5) dengan nomor atom 48
dalam spektroskopi ditandai dengan 1D1 dan 1P2 masing-masing dengan
momentum J = 2 dan J = 1. Dalam medan magnet B, tingkat 1D
2
pecah lima dan
1P
1
pecah tiga. Transisi elektron antara kedua kelompok pecahan itu harus
memenuhi aturan seleksi : 1 , 0 = AM
dengan beda energi:
( )
AM + A = A B E E
b
u
0

Dengan demikian persamaan diatas dapat dikatakan bahwa beda energi
relatif terhadap AE
(o)
, oE adalah : AM |
.
|

\
|
= B
m
e
E
t
o
4

. Persamaan diatas bisa


diungkapkan bahwa ketiga garis itu mempunyai pergeseran frekwensi (terhadap
vo) sebagai berikut
AM |
.
|

\
|
=
m
eB
v
t
o
4

Untuk mengamati pergeseran panjang gelombang cahaya dipancarkan lampu Cd
dilewatkan malalui plat LG hasil interferensi teramati berupa garis spektrum.
Pergeseran garis-garis itu merupakan akibat dari pergeseran panjang gelombang.
Pergeseran antara dua garis interferensi berdekatan As, merupakan akibat
dari pergeseran panjang gelombang A. Sehubungan dengan mekanisme
interferensi dalam plat LG berlaku hubungan :
1 - n d 2

2
2

= A

Dimana d = 4,04 mm adalah tebal plat dan n = 1,4567 adalah indeks bias plat.
Karena A=(ds/As) A maka diperoleh hubungan :
s
ds
1 n d 2
2
2
o

= o

Dengan persamaan ini selanjutnya perubahan frekuensi dirumuskan menjadi :
s
ds
1 n d 2
c
V
2
A

= o

Dapat disimpulkan dengan mengamati ds/As sebagai fungsi B dapat
menggambarkan hubungan antara ov dan B, selanjutnya dapat juga diperoleh
harga e/m.

3. Atom Dalam Mekanika Kuantum
Dengan menggunakan mekanika kuantum kita hanya dapat menentukan
keberadaan elektron pada suatu atom dengan definisi keboleh jadian. Oleh karena
itu pada mekanika kuantum ini, kita akan mengenal istilah bilangan kuantum yang
digunakan untuk mencirikan semua pemecahan dari persamaan Schrodinger.
Bilangan kuantum ini ada empat yaitu, bilangan kuantum utama, bilangan
kuantum azimut, bilangan kuantum magnetik dan bilangan kuantum spin.
- Bilangan Kuantum Utama (n)
Nomor kuantum ini yang berkaitan dengan ukuran orbital, dengan
sempurna menentukan tenaga elektron dalam sistem satu elektron, seperti atom
hidrogen dan penting untuk menentukan tenaga bagi atom berbilang elektron.
Bilangan ini hanya boleh mempunyai nilai positif dari 1,2,3 dan seterusnya. Lebih
besar nilai n lebih besar (semakin kurang negatif) tenaganya.
- Bilangan Kuantum Orbital (l)
Nomor kuantum ini, yang menentukan bentuk orbital juga dikenali sebagai
sub-petala dan menentukan momentum sudut elektron. Lebih tinggi nilai l lebih
besar nilai momentum sudut elektron.
- Bagi suatu n, l boleh mempunyai nilai 0,1,2,3,...,(n - 1).
- Bagi n = 1, l = 0, terdapat satu sub-petala (orbital s). Bagi n = 2, l = 0,1,
terdapat dua sub-petala (s dan p) dan begitulah seterusnya bagi n yang lain.
l 0 1 2 3 4 5 6
Simbol orbital s p d f g h i
- Bilangan Kuantum Magnetik (m)
Oleh sebab pergerakan elektron orbital, dalam suatu elektron akan menjadi
arus elektrik yang menghasilkan medan magnet. Momen magnet yang berkenaan
adalah suatu kuantiti vektor dan akan mengarah dalam satu medan magnet luar.
Bagaimanapun hanya arah tertentu saja yang mungkin, setiap arah akan
menimbulkan aras tenaga yang tertentu, dan ini ditentukan oleh nilai m.
- Bilangan Kuantum Spin (s)
Bilangan kuantum spin diperlukan untuk menjelaskan efek Zeeman
anomali. Anomali ini berupa terpecahnya garis spektrum menjadi lebih banyak
garis dibanding yang diperkirakan. Jika efek Zeeman disebabkan oleh adanya
medan magnet eksternal, maka efek Zeeman anomali disebabkan oleh rotasi dari
elektron pada porosnya. Rotasi atau spin elektron menghasilkan momentum sudut
intrinsik elektron. Momentum sudut spin juga mempunyai dua orientasi yang
berbeda, yaitu spin atas dan spin bawah. Tiap orientasi spin elektron memiliki
energi yang berbeda tipis sehingga terlihat sebagai garis spektrum yang terpisah.
4. Energi Magnetik

Rumusan Matematis Untuk energi Magnetik adalah :

)

Jadi, dalam keadaan medan magnetik, energi keadaan atomik tertentu
bergantung pada harga m1 seperti juga pada n. Keadaan dengan bilangan
kuantum total n terpecah menjadi beberapa sub-keadaan jika atom itu berada
dalam medan magnetik, dan energinya bisa sedikit lebih besar atau lebih kecil dari
keadaan tanpa medan magnetik. Gejala itu menyebabkan terpecahnya garis
spektrum individual menjadi garis-garis terpisah jika atom dipancarkan kedalam
medan magnetik, dengan jarak antara garis bergantung dari besar medan itu.
Terpecahnya garis spektral oleh medan magnetik disebut efek Zeeman.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat alat Percobaan
1. Lampu Cd, ditempatkan diantara kutub-kutub electromagnet.
2. Sistem Optik, terdiri dari teleskop, filter polarisasi, filter merah yang
berlensa convex, dan mikrometer.
3. Elektromagnet, untuk menimbulkan medan magnet.
4. Sumber daya 12 V/20A, dan 0-12 V/20 A, sebagai sumber daya.
5. Amperemeter 20 A dc, untuk mengukur kuat arus.
6. Militesla meter, untuk mengukur besarnya medan magnet.
7. Hall probe untuk medan magnet

3.2. Prosedur Percobaan
A. Kalibrasi medan magnet
Mengkalibrasi kerapatan fluks magnet (B) sebagai fungsi dari arus
dilakukan sebagai berikut :
1. Mematikan lampu Cd dan mengeluarkan dari pegangannya kemudian
simpan di tempat yang aman.
2. Menghubungkan electromagnet dengan sumber daya dan menempatkan
Hall probe di posisi lampu.
3. Menyalakan sumber arus dan memvariasikan arus dari 0 s/d 15 A.
4. Mencatat medan magnet yang ditunjukkan oleh tesla meter untuk setiap
variasi arus dan membuat tabel B vs I.
B. Mengukur s dan ds
1. Menempatkan lampu Cd kembali ke posisinya dan menyalaknnya.
Menunggu kira-kira 5 menit hingga garis merah terpancar dan cukup
terang. Mengatur garis silang pada teropong sehingga berimpit dengan
garis terang yang jaraknya paling renggang (sebagai garis terang
pertama).
2. Mengatur mikrometer sehingga tepat di skala nol. Mengukur pola garis
interferensi (s
1
) tanpa medan magnet, yaitu dengan mengukur garis
terang dengan garis terang dibawahnya. Dengan memutar sekrup di
bawah mikro meter buatlah tanda silang di eyepiece berimpit dengan
garis berikutnya dan membaca jarak s
1
pada mikro meter. Mengulangi
percobaan di atas untuk s
2
hingga s
10
.
3. Mengembalikan posisi garis silang pada garis terang pertama.
4. Memberikan arus 10 A atau lebih sehingga garis terang tersebut
pecah menjadi tiga buah garis lalu mengukur jarak 2ds dan
memvariasikan hingga 15 A minimal 5 A variasi.
5. Menurunkan arus dari 15 A hingga 10 A dan melakukan percobaan 4
untuk arah tersebut.
6. Mengulangi percobaan 4 s/d 6 untuk garis terang ke-2 hingga garis
terang ke-10.


DAFTAR PUSTAKA

- Beiser, Arthur. 1992. Konsep Fisika Modern. Jakarta : Erlangga
- Krane, Kenneth S. 1992. Fisika Modern. Jakarta : UI-Press
- Panduan Praktikum Fisika Eksperimen II
- http://en.wikipedia.org/wiki/Zeeman_effect

Anda mungkin juga menyukai