Anda di halaman 1dari 13

PERTANYAAN PENTING 1.Jelaskan anatomi dan Fisiologi alat geniatalia wanita baik pada bagian eksterna maupun interna?

2.Sebutkan Jenis-jenis keputihan dan ciri-cirinya ? 3.Penyebab terjadinya keputihan ? 4.Jelaskan mekanisme terjadinya keputihan ? 5.Jelaskan mekanisme terjadinya rasa gatal pada keputihan ? 6.Jelaskan tentang mekanisme kerja ADR serta keuntungan dan kerugiannya? 7.Jelaskan Langkah-langkah diagnosis terkait dengan kasus tersebut ? 8.Bagaimana cara pencegahan terjadinya keputihan ? 9.Differential diagnosis JAWABAN

1. Organ reproduksi wanita terbagi atas dua yaitu: 1. Organ seks primer = ovarium 2. organ seks sekunder/aksesoris, yang terdiri atas : a.Genitalia eksterna atau Vulva = Labia majora, labia minora, clitoris, mons pubis b.Ductus = Oviducts, uterus, vagina c.Glandula = Greater vestibular gland 1. OVARIUM, terdiri dari : a. Tunica albuginea b. fibrous capsule c. Cortex outer = Oocytes/folikel primordial d. Medulla inner = Loose connective tissue dan mengandung p. limpha, pembuluh.saraf & pembuluh. Darah Ovarium mendapat Suplai Arteri dari : a. Arteri ovarica b. Cabang ovarium dari arteri uterina (berasal dr arteri iliaca interna)

Ovarium mendapat Persarafan dari : a. Saraf Simpatis & Parasimpatis 2. Genitalia Eksterna terdiri dari : a. Mons pubis bantalan lemak, menutupi bag. dpn simphysis pubis, berambut b. Labia majora tdd lap. lemak, bersatu di blkg membtk commisura post, kel. Sebacea, berambut c. Labia minora Tdk berambut, bertemu diatas : preputium clitoridis, bertemu di bwh : frenulum clitoridis, di blkg : fourchet d. Vestibulum muara vagina, uretra, kel.bartholini & skene e. Clitoris tonjolan yg erektil, mengandung byk saraf sensoris dan p. darah 3. Ductus terdiri dari : a. vagina.Lokasi = di bawah uterus,di depan rectum,di belakang bladder b. Dinding 3 lapis = Adventia,Muscularis,Mucosa = Rugae, Vaginal orificium external opening 4. Oviducts a.Mulai dari ovarium ke uterus b.Pars Infundibulum c.Funnel-like d.Fimbrae with cilia e.Pars Ampullaris (paling lebar) f.Pars Isthmica (diluar ddg uterus, lurus & sempit) g.Pars Interstitialis (berjln dlm ddg uterus, mulai pd ostium int. tubae) 5. Uterus a. Dinding 3 Lapis = Perimetrium,Myometrium,Endometrium. b. Anatomy = Fundus,Body / Corpus,Isthmus,Cervix c. Pemb. Darah = Arteri Uterina (a.iliaca int.) divide into arcuate branches which travel through myometrium. 2. a.Keputihan (fluor albus, white discharge, leukorea) adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital (dalam hal ini alat genital wanita) yang tidak berupa darah. Keputihan ada 2 macam yaitu yang fisiologik dan patologik. Keduanya dapat dibedakan berdasarkan atas kandungannya. Keputihan yang fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mucus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang

jarang, sedang pada keputihan yang patologik terdapat banyak leukosit. Keputihan yang fisiologik dapat ditemukan pada: Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dari plsenta terhadap uterus dan vagina janin. Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh dari estrogen; keputihan disini dapat menghilang dengan sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudat dari dinding vagina. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri. b.Ciri ciri keputihan fisiologis dan keputihan patologis Leukorea fisiologis : berupa cairan, terkadang mucus, banyak epitel, jarang ditemukan leukosit. Leukorea patologis : banyak ditemukan leukosit, warnanya agak kekuning kuningan sampai hijau, lebih kental, biasanya disebabkan oleh karena adanya infeksi. 3. Keputihan dapat disebabkan oleh kondisi non patologis (bukan penyakit), dan kondisi patologis (karena penyakit) a. Penyebab Non Patologis : Saat menjelang Menstruasi, atau setelah Menstruasi Rangsangan Seksual, saat wanita hamil Stress, baik fisik maupun psikologis b. Penyebab Patologis : Infeksi Jamur (kebanyakan jamur Candida albicans) Infeksi bakteri (kuman E. coli, Sthaphylococcos) Infeksi Parasit jenis Protozoa (umumnya Trichomonas vaginalis) Penyebab lain bisa karena infeksi Gonorhoe (GO / Kencing nanah), Bisa pula karena sakit yang lama, kurang gizi, anemia, dan faktor hyegiene (kebersihan). Hal lain yang juga dapat menyebabkan keputihan antara lain: pemakaian tampon vagina, celana dalam terlalu ketat, alat kontrasepsi, rambut yang tak sengaja masuk ke vagina, pemakaian antibiotika yang terlalu lama dan lain-lain. Pada umumnya keputihan digolongkan pada 3 golongan besar yakni Jamur/Vulvovaginal kandidosis (tersering); Trikomoniasis (sering berhubungan dengan aktivitas seksual) dan Bakterial vaginosis yang disebabkan karena keseimbangan keasaman vagina berubah, bisa terjadi pada semua umur. Di samping itu masih ada lagi keputihan lain yang disebabkan oleh penyakit hubungan seksual seperi gonore (sekretnya seperti nanah, kehijauan) atau Klamidia (bisa tidak bergejala). Banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya keputihan. Pertama adalah faktor fisiologis, yaitu pada masa subur, setelah menstrusi, dan setelah berhubungan intim. Kedua adalah faktor penunjang, yaitu saat wanita sedang hamil, mengalami anemia, kekurangan gizi, atau wanita usia lanjut. Faktor ketiga disebut faktor pantologis atau kelainan. Di sini, keputihan disebabkan oleh masuknya benda asing, misalnya karena pemakaian tampon atau alat pencegah kehamilan seperti spiral. Penyebab lain yang dapat juga ditemukan adalah kanker atau keganasan pada daerah alat kelamin, misalnya kanker leher rahim. Karena itu, wanita utamanya di atas 35 tahun dianjurkan untuk melakukan papsmear untuk mendeteksi sedini mungkin ada tidaknya sel-sel ganas di mulut rahim. Keputihan juga bisa disebabkan oleh infeksi mikroorganisma tertentu, misalnya jamur, bakteri, virus, dan parasit. Jamur candida, terutama spesies candida albicans merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya keputihan. Bila jamur candida yang menjadi penyebab, gejala klinis yang biasanya muncul adalah: keluar cairan kental seperti susu yang pecah berwarna putih kekuningan, timbul rasa gatal yang sangat hebat, dan kulit di sekitar kemaluan menjadi kemerah-merahan. Dalam hal ini, ada beberapa kelompok wanita yang rentan mengalami infeksi jamur yaitu: wanita hamil, penderita diabetes mellitus (kencing manis), menopause, kegemukan, dan pengguna pil KB. Ada beberapa kebiasaan atau aktivitas kaum wanita

yang mendorong munculnya infeksi jamur, bakteri, dan mikroorganisma lainnya. Salah satunya adalah kegiatan olah raga yang berpotensi menimbulkan banyak keringat. Begitu pun penggunaan pakaian dalam yang terbuat dari bahan sintetis. Pakaian dalam seperti ini bisa menghambat sirkulasi udara dan tidak menyerap keringat sehingga menjadi tempat yang sangat baik untuk berkembangnya jamur atau kuman. Ada pula sebagian wanita yang selalu membersihkan vaginanya dengan cara yang salah, yaitu dari arah belakang ke depan. Pemakaian pantyliner juga tak selalu menguntungkan karena bisa menimbulkan alergi pada kulit. Pemakaian tisu basah atau cairan pembersih alat kelamin juga merupakan salah satu penyebab timbulnya keputihan 4. Sebelum kita mengetahui mekanisme keputihan baik secara fisiologik maupun patologis, maka kita perlu untuk mengetahui asal sekret keputihan tersebut. Asal sekret sbb : Kelenjar Bartholini : terletak di bawah labium majus dan bermuara di bawah otot konstriktor vagina, kadang-kadang tertutup sebagian oleh bulbus vestibuli.1 Kelenjar ini mengeluarkan sekret mukoid pada saat gairah seks meningkat. Duktus Skene (parauretralis) : bermuara di meatus uretrae eksternum. 2 Kelenjar ini mensekresikan sekret yang mukoid. Serviks uteri : memiliki banyak kelenjar yang mengeluarkan sekret yang berbeda-beda sesuai dengan siklus haid. Uterus : terletak banyak kelenjar dari endometrium sampai ke miometrium pada umumnya. Kelenjar-kelenjar ini mensekresi cairan alkali yang encer PH normal dan flora normal pada vagina Vagina memiliki mekanisme perlindungan terhadap infeksi. Kelenjar pada vagina dan serviks / leher rahim menghasilkan sekret yang berfungsi sebagai sistem perlindungan alami dan sebagai lubrikan mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan & saat berhubungan seksual. Jumlah sekret yang dihasilkan tergantung dari masing-masing wanita. Dalam keadaan normal, kadang jumlah sekret dapat meningkat seperti saat menjelang ovulasi, stres emosional dan saat terangsang secara seksual. Selain itu, terdapat flora normal basil doderlein yang berfungsi dalam keseimbangan ekosistem pada vagina sekaligus membuat lingkungan bersifat asam (pH 3.8-4.5) sehingga memiliki daya proteksi yang kuat terhadap infeksi. Pada beberapa keadaan tertentu seperti perubahan hormonal pada kehamilan dan penggunaan pil KB, obat-obatan seperti steroid dan antibiotik, hubungan seksual dsb dapat meningkatkan resiko seorang wanita mengalami keputihan yang tidak normal. Ada banyak penyebab dari keputihan namun paling sering disebabkan oleh infeksi jamur candida, bakteri dan parasit seperti Trikomonas yang menyebabkan peradangan pada vagina dan sekitarnya. Keputihan yang harus diwaspadai adalah jika didapatkan keputihan yang berwarna kuning/hijau/keabu-abuan/coklat, berbau tidak enak, jumlah banyak dan menimbulkan keluhan seperti gatal dan rasa terbakar pada daerah intim. Pada vagina terdapat flora normal yang terdiri dari bakteri baik yang berfungsi dalam keseimbangan ekosistem sekaligus menjaga keasaman / pH yang normal serta beberapa bakteri lain dalam jumlah kecil seperti Gardnerella vaginalis , mobiluncus, bacteroides dan Mycoplasma hominis. Di dalam vagina terdapat berbagai bakteri, 95 persen adalah bakteri lactobacillus dan selebihnya bakteri patogen (bakteri yang menyebabkan penyakit). Dalam keadaan ekosistem vagina yang seimbang, bakteri patogen tidak akan mengganggu. Peran penting dari bakteri dalam flora vaginal adalah untuk menjaga derajat keasaman (pH) agar tetap pada level normal. Dengan tingkat keasaman tersebut, lactobacillus akan tumbuh subur dan bakteri patogen akan mati. Pada kondisi tertentu, kadar pH bisa berubah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari normal. Jika pH vagina naik menjadi lebih tinggi dari 4,2 (kurang asam), maka jamur akan tumbuh dan berkembang. Akibatnya, lactobacillus akan kalah dari bakteri patogen. 5. Adapun mekanisme terjadinya gatal yaitu : 1.Pruritus vulva atau gatal pada vulva adalah satu gejala yang sangat mengganggu serta mengesalkan penderita, dan sering susah disembuhkan. Perlu dicari sebab pruritus itu ; akan tetapi biarpun dilakukan pemeriksaan yang saksama,

sebab-sebab itu tidak selalu bisa ditemukan. Sebab-sebab pruritus vulva dapat dibagi dalam 2 golongan : 1)Pruritus primer atau idiopatik Pada pruritus idiopatik dengan pemeriksaan teliti tidak ditemukan sebab organik ; gejala itu dapat dianggap sebagai manifestasi dari gangguan psikopatologik. Antara lain pada seorang wanita yang mengalami frustasi dalam kehidupan seksual, atau yang ingin menghindarkan diri dari hubungan seksual yang tidak disukai, dapat timbul pruritus vulva. 2)Pruritus sekunder Termasuk sebab-sebab dari pruritus sekunder ialah : a.Sebab lokal, seperti : Tiap-tiap proses peradangan dan ulserasi pada kulit vulva ; distrofi, seperti lichen sklerosus et atrofikans, leukoplaki, kraurosis ; leukorea karena trikomonas vaginalis, kanidida albikans, dan lain-lain ; parasit-parasit, seperti skabies, pedikulus kapitis ; iritasi kulit karena sabun, kurang kebersihan, penggunaan cawet haid yang ketat ; karsinoma ; dan lain-lain. b.Sebab-sebab umum, seperti : Keadaan umum yang tidak baik, misalnya kekurangan gizi, avitaminosis, anemia, tuberkulosis, karsinoma ; keadaan toksik pada uremia, ikterus ; alergi karena makanan, obat-obat ; diabetes mellitus ; dan lain-lain.

6. Mekanisme kerja ADR : Reaksi peradangan pada endometrium yang dapat menghancurkan blastokist atau sperma,kontraksi uterus yang dapat menghalangi nidasi,ion tembaga dapat mengurangi pergerakan sperma sehingga tidak terjadi konsepsi. Keuntungan : tidak menimbulkan efek sistemik, efektifitas cukup tinggi, ekonomis, umumnya hanya memerlukan 1x pemasangan. Kerugian : perdarahan, rasa nyeri dan kejang diperut, cairan vagina bertambah, ekspulasi. Komplikasi : infeksi, perforasi, kehamilan. 7. Langkah Diagnosis a. Anamnesis -Sejak kapan mengalami keputihan -Bagaimana konsistensi, warna, bau, jumlah dari keputihannya -Riwayat penyakit sebelumnya -Riwayat penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid -Riwayat penggunaan bahan-bahan kimia dalam membersihkan alat genialia -Higienis alat genitalia b. Pemeriksaan Fisis -Inspeksi : kekentalan, bau dan warna leukore -Warna kuning kehijauan berbusa : parasit ( trichomonas) -Warna kuning, kental : GO -Warna putih : jamur -Warna merah muda : bakteri non spesifik -Palpasi : pada kelenjar bartolini c. Pemeriksaan Ginekologi -Inspekulo -Pemeriksaan bimanual Laboratorium -Pemeriksaan PH vagina pH normal vagina : 3,8 4,5

1.Pulasan dengan pewarnaan gram 2.Pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10% 3.Kultur 8. Pencegahan terjadinya keputihan : Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, istirahat yang cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindarai stres yang berkepanjangan. Selalu setia pada pasanga. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit menular Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembap misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakainan celana yang terlalu ketat. Biasakan untuk mengganti pembalut, pentylainer pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak. Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang. Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina. Jika perlu lakukan konsultasi medis dahilu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina. Hindari pengguanaan bedak talkum, tissue, atau sabun pewangi pada daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi. Hindari pemakian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi. Sedapat mungkin tidak duduk diatas kloset di Wc umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya. 9. Differential diagnosis

REFFERENSI Dorland, W. A. Newman, 2002, Kamus Kedokteran Dorland Ed. 29, Jakarta : EGC Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC: Jakarta. Wiknjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Djuanda, Adhi. Prof. Dr. dr. dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI. 2005. Cunningham,F.Gary, dkk. 2005. Obsetri Williams edisi 21 vol.1. Jakarta : EGC

Guyton, Arthur C., John E. Hall.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. Jakarta : EGC Greer, IA, Cameron, I T, Mangowan B. Vaginal Discharge. Problem based Obstetrics an Gynecology. London. Churchill Livingstone. 2003. p.37 90 Mims, C. Medical Microbiology, 3rd edition, Mosby, Sydney, 2004

Pengertian Leukorea
Beberapa pengertian leukorea atau keputihan adalah sebagai berikut: 1. Leukorea (fluor albus) atau keputihan adalah pengeluaran cairan dari jalan lahir yang bukan darah. 2. Leukorea atau keputihan adalah nama gejala yang diberikan pada cairan yang keluar dari saluran genetalia wanita, yang tidak berubah. 3. Leukorea atau keputihan adalah sekret putih yang kental keluar dari vagina maupun rongga uterus (Kamus Kedokteran). Leukorea atau keputihan yang terjadi pada wanita tidak menyebabkan kematian tetapi kesakitan , karena cairan yang keluar selalu membasahi bagian dalam dan terkadang menimbulkan iritasi, rasa gatal sehingga membuat ketidaknyamanan. Leukorea merupakan gejala awal dari infeksi, keganasan atau tumor jinak reproduksi. Secara alamiah wanita mengeluarkan cairan dari alat kelaminnya yang berasal dari : 1. Transudat dinding vagina. 2. Lendir servik. 3. Lendir kelenjar bartholini dan skene.

Asal Leukorea
Leukorea atau keputihan berasal dari: 1. 2. 3. 4. 5. Vulva. Vagina. Servik uteri. Korpus uteri. Tuba.

Vulva
Sekret dalam vulva dihasilkan oleh kelenjar- kelenjar bartholini dan skene. Sekret ini bertambah pada perangsangan, misalnya sewaktu koitus. Jika kelenjar- kelenjar tersebut meradang, oleh karena infeksi maka sekret berubah jadi flour.

Vagina
Vagina tidak mempunyai kelenjar dan dibasahi oleh cairan transudat dan lendir dari servik. PH dalam vagina disebabkan oleh kegiatan hasil diderlein yang mengubah glukogen (epitel vagina) menjadi acidum lacticium.

Servik uteri

Sekret servik yang normal bersifat jernih, liat dan alkalis. Sekret ini dipengaruhi hormon- hormon ovarium baik kuantitas atau kualitasnya. Sekret bertambah pada infeksi (cervicitis) yang dipermudah kejadiannya oleh robekan servik dan tumor servik.

Korpus uteri
Korpus uteri hanya menghasilkan sekret pada fase post ovulator. Sekret bertambah pada endometritis akut, jika ada sisa plasenta polip mioma submucosa dan carcinoma.

Tuba
Tuba jarang mengeluarkan flour albus, kadang-kadang terjadi pada hydrosalpinx profluens.

Klasifikasi Leukorea
Leukorea terbagi menjadi dua yaitu: 1. Leukorea fisiologis. 2. Leukorea patologis.

Leukorea fisiologis
Leukorea fisiologis terjadi mendekati ovulasi (karena rangsangan seksual), menjelang dan sesudah menstruasi atau pengaruh hormone pada kehamilan. Terdiri dari cairan yang kadang-kadang berupa mucus yang mengantongi banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Ciri-cirinya adalah: berwarna putih dan menjadi kekuningan bila kontak dengan udara karena prosesokside; tidak gatal; tidak mewarnai pakaian dalam dan tidak berbau.

Leukorea patologis
Leukorea patologis terjadi karena infeksi vaginal, infeksi trikomonas vaginalis, infeksi jamur candida albicans, keganasan reproduksi ataupun adanya benda asing dalam jalan lahir. Terdapat banyak leukosit. Ciri-ciri adalah: terjadi peningkatan volume (membasahi celana dalam); terdapat bau yang khas; perubahan konsistensi dan warna; penyebab infeksi Trikomoniasis, Kandidiasis dan Vaginosis bacterial.

Gejala Leukorea
Gejala klinis dari leukorea atau keputihan antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Gatal, berbau, dan berbuih. Sekret vagina bertambah banyak. Bergumpal, campur darah Dispareunia / sakit pada waktu koitus. Disuria / rasa panas saat kencing.

Penyebab Leukorea
Penyebab keputihan atau leukorea dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Konstitusional.

2. Kelainan endokrin. 3. Infeksi. 4. Penyebab lain.

Konstitusional
Penyebab leukorea atau keputihan secara konstitusional ditemukan pada keadaan anemia, nefritis dan pada bendungan umum (decompensatio cordis, serosis, hepatitis).

Kelainan endokrin
Seperti pada fungsional bleeding (kadar estrogen tinggi). Pada kehamilan (karena hidraemia dan pengaruh endokrin).

Infeksi
Penyebab leukorea atau keputihan oleh karena infeksi antara lain: 1. 2. 3. 4. Vultasivulvo vaginitis. Vaginitas (kolpitis). Servivitis. Salpingitis

Penyebab lain
Penyebab lain leukorea atau keputihan antara lain: 1. Corpus allienum : possarium, rambut kemaluan, rambut wol, kain atau kapas. 2. Alat- alat atau obat- obat kontrasepsi. 3. Fitula (Fistula vesicovaginalis, Fistula Fectovaginalis).(Manuaba, 2001).

Jenis Leukorea
1. 2. 3. 4. Kandidiasis vulvovaginalis (KVV). Trikomoniasis. Vaginosis bacterial. Infeksi genital non spesifik.

Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV)


Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV) disebabkan oleh candida albicans atau kadang oleh candida sp atau ragi lainnya. Gejala klinisnya antara lain: gatal pada vulva dan vagina; vulva lecet; duh tubuh vagina dan dapat sampai dispareuni. Sedangkan gejala lain yang mungkin timbul antara lain: eritema; dapat timbul fisura; edema; duh tubuh vagina putih seperti susu mungkin bergumpal, tidak berbau dan terdapat lesi satelit. Pemeriksaan penunjang dengan sediaan apus dari duh tubuh vafina dengan pewarnaan garam ditemukan blastospora dan pseudohifa; sediaan basah dengan larutan KOH 10 % ditemukan pseudohifa dan atau blastospora. Penatalaksanaan Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV) akut dengan pemberian Ketokonazole 200 mgr tablet 2 tab x 5 hari; Flukonazol 150 mgr tablet dosis tunggal; Intrakonazolel 100 mgr tablet 2 tab x 3 hari.

Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit ber Flagela Trikomonas vaginalis. Gejala klinis antara lain: 10-50 % asimtomatik; duh tubuh vagina berbau, dapat disertai gatal pada vagina; kadang-kadang terdapat rasa tidak enak di perut bagian bawah. Sedangkan gejala lain antara lain: duh tubuh vagina dengan konsistensi bermacam-macam dari sedikit banyak dan ecer bentuk kuning kehijauan berbusa dapat terjadi pada 1030 % wanita; vuivitis dan vaginitis; gambaran serviks strobery dapat ditemukan pada 2 % pasien; pada 515 % tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan. Adapun pemeriksaan penunjang dengan cara duh tubuh vagina dari forniks posterior dan dilakukan pemeriksaan sediaan basah dengan larutan NaCl fisiologis. Terdapat Tricomonas Vaginalis dengan pergerakan flagella yang khas. Penatalaksanaan dengan pemberian Metonidazole 2 gram oral dosis tunggal atau Metronidazole 2 x 0,5 mg oral selama 7 hari.

Vaginosis bacterial
Vaginosis bacterial adalah sindrom klinis yang disebabkan oleh pergantian lactobacillus sp penghasil H2O2 yang normal di dalam vagina dengan sekelompok bakteri aerob. Gejala klinis antara lain: duh tubuh vagina putih homogen, melekat pada dinding vagina dan vestibulum; pH cairan vagina > 4,5; terciumnya bau amis seperti ikan pada duh tubuh vagina yang diolesi dengan larutan KOH 10 %. Pemeriksaan penunjang dengan sediaan apus dengan pewarnaan gram ditemukam clue cell. Penatalaksanaan Non medikamentosa dengan cara: pasien dianjurkan untuk menghindari vaginal douching atau bahan antiseptic; konseling. Sedangkan penatalaksanaan Medikamentosa dengan pemberian obat pilihan yaitu Metronidazole 2 x 500 mg / hari selama 57 hari; Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal; pemberian obat alternatif yaitu Klindamicin 2x 300 mg / hari peroral selama 7 hari.

Infeksi genital non spesifik


Infeksi genital non spesifik adalah infeksi saluran genital yang disebabkan oleh penyebab nonspesifik. Istilah ini meliputi berbagai keadaan yaitu uretritis non spesifik, uretritis non gonore proktitis non spesifik dan infeksi spesifik pada wanita. Keluhan pada wanita berupa duh tubuh vagina; perdarahan antar menstruasi; perdarahan pasca koitus; disuria bila mengenai uretra; asimptomatik. Gejalanya duh tubuh endoserviks mukopurulent; ektopia serviks disertai edema serviks rapuh, mudah berdarah. Pemeriksaan penunjang dari duh tubuh genetalia. Penatalaksanaan dengan pemberian Doksisiklin 2 x 100 mg / hr selama 7 hari; Terasiklin 4 x 500 mg / hr selama 7 hari; Eratromicin 4 x 500 mg / hr selama 7 hari.

Diagnosis Lekhorea
Diagnosa sebab keputihan dapat dicari dengan cara sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Anamnase. Kedaaan umum. Pemeriksaan dalam. Pemeriksaan mikrobiologis dan bakteriologis, meliputi: cairan seperti susu biasanya berasal dari vagina; cairan yang liat muko purulen berasal dari servik; cairan yang purulen biasanya disebabkan gonococcus; cairan yang membuih oleh trichomonas; zat seperti keju oleh monilia biasanya gatal; cairan yang jernih terdapat pada asthenia; flour bercampur darah terdapat pada endometritis senilis.

Penatalaksaan Lekhorea
Penatalaksanaan leukorea atau keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan dan menghentikan proses infeksi sesuai dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan biasanya berasal dari golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi candida dan golongan metronidazol untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit.

Pencegahan Leukhorea
Leukorea dapat dicegah dengan cara sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Menjaga alat kelamin tetap bersih dan kering. Menghindari pakaian ketat. Seing mengganti pembalut saat datang haid. Menghindari douche (mencuci/membilas) vagina dengan larutan antiseptik. Mencuci alat kelamin bagian luar dengan air bersih.

Referensi
Idhawati, C. 2011. Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. K Dengan Leukore Candidiasis Vulvovaginalis Di Ruang KIA Puskesmas Sawit I. Akbid Mambaul Ulum Surakarta. Indah Arthanasia. 2011. Perawatan Gangguan Bermacam-macam Keputihan Pada Organ Reproduksi Wanita. Manuaba, 2001. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan. Jakarta: EGC Manuaba, IBG. 2008. Gawat Darurat Obstetric-Ginekologi Dan Obstetric-Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC. Hlm: 296-299. Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I Edisi ketiga. Jakarta : Media Aesculapius. Misni. 2011. Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. S Dengan Leukore Di Puskesmas Banyudono. Akbid Mambaul Ulum Surakarta. Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kandungan. Jakarata: Yayasan Bina Pustaka. Prayetni, 2001. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Dengan Gangguan Reproduksi. Jakarta: Pusdiknas Depkes RI. Thomas Rabe. 2002. Alih bahasa dr Ida Bagus Gde Manuaba, SPOG. Ilmu Kandungan.Jakarta : Hipokrates Yatim, F, 2005. Penyakit Kandungan. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Kata Kunci
leukorea, fluor albus, flour albus, infeksi genital non spesifik, fluor albus adalah, infeksi genital, infeksi genital non-spesifik, keputihan menggumpal, pengertian leukorea, kandidiasis vulvovaginalis, leukorhea menggumpal, leukosit fisiologi terjadi pada, leukosit tinggi pada masa subur, makalah ginekologi keputihan yang normal, makalah kespro tentang candidasic vaginalis, manfaat metronidazole untuk vagina, materi tentang leukorea, keputihan leukorea lesi satelit, Leukorea patologi dan fisiologi, Keputihan menggumpal seperti keju, keputihan pemeriksaan penunjang, keputihan susu kental candida penunjang, keputihan yg normal, Kesehatan Reproduksi Wanita - Keputihan (vour albous) dan penyebabnya, khas cairan leukorea.

Morfologi bakteri
Gardnerella vaginalis

Gardnerella vaginalis

Gardnerella adalah salah satu genus dari bakteri gram-variabel yang mana merupakan suatu spesies. Gardnerella vaginalis dapat menyebabkan bacterial vaginosis pada wanita. Salah satu dari spesies Haemophilus, tumbuh, berukuran kecil, sirkuler, koloni abu-abu, di bawah mikroskop terlihat gram negative, namun sebenarnya memiiki dinding sel gram positive, dengan sel clue, sel epitel yang menyelimuti bakteri. Klasifikasi Kingdom : Bacteria

Phylum : Actinobacteria Order Family Genus : Bifidobacteriales : Bifidobacteriaceae : Gardnerella

Species : G. vaginalis Binomial name Gardnerella vaginalis


Bacterial vaginosis (BV) is suatu flora vagina yang hidup secara normal, lactobacilli

termasuk Gardnerella vaginalis dan anaerob

ini ditunjukan dengan adanya warna abu-abu, homogen, terkait dengan pH. Ada pada sebagian wanita dengan kondisi yang asymptomatis.

Bahwa Gardnerella vaginalis bukan dari kondisi saja, ttapi juga reduksi dari Lactobacilli dan peningkatan jumlah bakteri termasuk bakteri Gardnerella, bacteroides and mobiluncus, anaerobic streptococci, Mycoplasma hominis and Ureaplasma urealyticum.

Gardnerella vaginalis secara seksual ditransminasi oleh coccobacillus.