Anda di halaman 1dari 16

KESEHATAN REPRODUKSI MENGIDENTIFIKASI INDIKATOR STATUS KESEHATAN WANITA MELALUI USIA HARAPAN HIDUP DAN ANGKA KEMATIAN IBU

Disusun Oleh : MIFTAHURROHMAH CAHYANING TYAS 1114315401096

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG 2012

BAB I TINJAUAN TEORI

1.1 Usia Harapan Hidup 1.1.1 Definisi Usia harapan hidup (Life Expectancy Rate) merupakan lama hidup manusia di dunia. Usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Angka harapan hidup pria dan wanita di Indonesia dari tahun 2010 hingga tahun 2012 meningkat, di tahun 2010 sebesar 78 tahun untuk pria dan 82 tahun untuk wanita, dan perkiraan angka harapan hidup dengan persentase jumlah usia 65 tahun ke atas terbesar ada di tahun 2037, yaitu 82 tahun untuk pria dan 85 tahun untuk wanita.

1.1.2 Hal-Hal yang Berpengaruh Penting Pada Kelangsungan Hidup yang Lebih Lama Penyebab panjangnya umur manusia, diluar soal takdir tentunya tergantung dari beberapa factor: (Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, ahli gizi Institut Pertanian Bogor) 1. Pola makan 2. Penyakit bawaan dari lahir, mereka yang diberi berkah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjalani hidup lebih panjang adalah orangorang yang terkait dengan rendahnya penyakit degenerative. Yaitu penyakit-penyakit yang mengancam kehidupan manusia, seperti penyakit kanker, jantung koroner, diabetes dan stroke. 3. Lingkungan tempat tinggal 4. Stress atau tekanan

1.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Berhubungan Dengan Usia Harapan Hidup 1. Gizi

Melewati kehidupan di dunia hingga usia 100 tahun mungkin menjadi harapan sebagian manusia. Mereka berpendapat bahwa dengan semakin panjang umur semakin banyak hal-hal yang dapat dilakukan, terlepas itu perbuatan yang baik maupun buruk. Penyebab panjangnya umur manusia, diluar soal takdir tentunya, tergantung dari beberapa factor. Tapi yang paling berpengaruh adalah pola makan. Mereka yang mempunyai kesempatan untuk menikmati hidup lebih lama ini adalah orang-orang yang sangat memperhatikan pola makannya Mereka mengurangi konsumsi kalori kedalam tubuhnya. Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, ahli gizi Institut Pertanian Bogor: a. Orang-orang lanjut usia ini mulai mengurangi konsumsi kalori dengan hanya memakan kacang-kacangan (kedelai), makan ikan dan minum teh hijau maupun teh hitam. b. Melakukan puasa seperti yang dilakukan umat Islam pada bulan ramadhan. c. Melakukan diet terhadap jenis makanan goring-gorengan, selain juga mengurangi porsi makan sehari-hari. d. Pada awal usia 50 tahunan, disaat proses metabolism tubuh sudah mulai lambat, mereka banyak makan makanan yang mengandung zat antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. e. Makan ikan yang mengandung zat omega 3 yang sangat tinggi, yang dapat mengurangi kolesterol dalam tubuh. f. Mereka juga memangkas konsumsi protein dan lemak dalam tubuh, dengan cara mengurangi makanan yang mengandung lemak dan protein hewani, seperti telur, susu, daging, keju, dsb. g. Menyarankan agar para manula tersebut mulai kembali ke makanan back to nature atau kembali ke alam. Diantaranya dengan cara mengkonsumsi makanan tanpa dimasak ataumenjadi seorang vegetarian.

2. Merokok

Merokok mengurangi usia harapan hidup rata-rata 10 tahun. Atau kalau anda tidak merokok berarti menambah usia harapan hidup rata-rata 10 tahun. Demikian antara lain hasil penelitian selama 50 tahun di Inggris mengenai dampak merokok terhadap kesehatan. Hasil penelitian yang di muat di Jurnal kesehatan Inggris ini menunjukkan, terdapat 20 penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok. Penelitian terlama tentang dampak merokok terhadap kesehatan menunjukkan bahwa rata-rata perokok meninggal dunia 10 tahun lebih cepat dibanding mereka yang tidak merokok. Penelitian ini dimulai 50 tahun lalu ketika untuk pertama kalinya muncul kaitan antara merokok dan kanker paru. Temuan ini sangat penting untuk mendorong orang berhenti merokok. Penelitian ini melibatkan sekitar 35 ribu dokter di Inggris yang lahir antara tahun 1900 dan 1930. Para ilmuwan memantau kebiasaan merokok mereka selama lebih dari 50 tahun. Dan data paling akhir menunjukkan resiko yang ada jauh lebih besar dari perkiraan awal. Sir Richard Peto yang terlibat dalam penelitian ini hampir selama 40 tahun mengatakan temuan yang ada menunjukkan berhenti merokok akan meningkatkan kuantitas dan kualitas hidup. Bahkan setelah 20 tahun, bila anda berhenti merokok, anda bisa menghindari sembilan dari sepuluh resiko yang ada. Jika anda berhenti merokok setelah 10 tahun, anda bisa terbebas dari hampir semua resiko yang ada. Masalahnya adalah begitu orang merokok, susah untuk menghentikan kebiasaan itu. Banyak orang yang mengaku tak bisa berhenti merokok. Mereka yang berhenti merokok pada usia 60 tahun, bisa meningkatkan harapan hidup selama tiga tahun. Sementara bila seseorang berhenti merokok pada usia 30 tahun, berbagai dampak negative terhadap kesehatan bisa diminimalkan. Ada sekitar 20 penyakit yang terkait dengan merokok ini, antara lain penyakit jantung, stroke dan berbagai macam kanker. Di negara berkembang, dewasa ini semakin banyak orang merokok. Sejak penelitian ini dilakukan, diperkirakan 100 juta orang

meninggal diseluruh dunia akibat merokok. kematian itu disebabkan merokok telah dibuktikan sebagai penyebab berbagai penyakit saluran pernafasan seperti penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru dan diyakini merupakan factor resiko untuk peyakit jantung, stroke dan berbagai penyakit kronis lain

3. Menopause Keberhasilan pembangunan termasuk pembangunan kesehatan telah meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat antara lain meningkatnya umur harapan hidup (UHH) di Indonesia dari tahun ke tahun. Disamping itu terjadi pula pergeseran umur menopause dari 46 tahun pada tahun 1980 menjadi 49 tahun pada tahun 2000. Jumlah dan proporsi penduduk perempuan yang berusia diatas 50 tahun dan diperkirakan memasuki usia menopause dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000 jumlah perempuan berusia diatas 50 tahun baru mencapai 15,5 juta orang atau 7,6% dari total penduduk, sedangkan tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30,0 juta atau 11,5% dari total penduduk. Pada usia 50 tahun, perempuan memasuki masa menopause sehingga terjadi penurunan atau hilangnya hormone esterogen yang menyebabkan perempuan mengalami keluhan atau gangguan yang seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan dapat menurunkan kualitas hidupnya. Padahal esterogen tersebut mempunyai manfaat yang beragam sehingga menurunnya produksi hormone akan berpengaruh terhadap beberapa perubahan penting dalam tubuh. Gejala awal yang menandakan kurangnya kadar esterogen: a. Wajah kemerahan b. Keringat pada malam hari c. Rasa sakit dan nyeri (nyeri tulang dan sendi) d. Kekeringan didaerah vagina e. Masalah kandung kemih

f. Hubungan seksual yang menimbulkan nyeri g. Kulit kering h. Gangguan tidur i. Emosi yang mudah berubah-ubah j. Perdarahan menstruasi yang tidak teratur k. Gejolak panas di dada dan muka (hot flushes) l. Sakit kepala m. Mudah pingsan n. Depresi o. Daya ingat menurun p. Sulit berkonsentrasi Penyakit jangka panjang seperti tulang keropos (osteoporosis), jantung koroner, stroke, kanker usus besar. Anda dapat mengukur kadar esterogen dengan berkonsultasi pada dokter yang akan melakukan pemeriksaan darah sederhana. Bila anda telah mengetahui penyebab timbulnya gejala-gejala tersebut, anda dapat memulai usaha untuk mengatasinya. Mengatasi menopause, dengan terapi

penggantian hormone (TPH) bertujuan untuk mengganti hormone yang mulai menghilang agar efek-efek menopause dapat diatasi. Berkonsultasi pada ahli kandungan untuk membantu anda

mempertimbangkan risiko TPH dan menemukan penanganan yang paling tepat untuk anda. Walaupun efek samping yang akan muncul telah diketahui, kini anda bisa mendapatkan pengobatan yang disesuaikan dengan keadaan anda untuk menghilangkan atau memperkecil efek samping. Ingat bahwa setiap wanita adalah berbeda. Olahraga merupakan hal yang penting, tidak saja untuk kesehatan umum anda tetapi juga memperbaiki densitas/ kepadatan tulang anda dan menghilangkan gejala-gejala menopause. Diet tradisional asia tampaknya memberi keuntungan yang penting. Diet asia ini: a. Mengandung kurang dari 20% kalori yang berasal dari lemak b. Membatasi daging

c. Kaya akan berbagai macam buah, saur serta kacang-kacangan d. Memasukkan menu dari tahu atau olahan kedelai paling tidak sekali sehari. (Produk olahan kedelai mengandung fitoesterogen, yang merupakan sebuah tipe hormone tanaman yang diyakini bermanfaat bagi menopause. Namun demikian, preparat tersebut belum terbukti keuntungannya untuk mengatasi osteoporosis dan efek kardiovaskuler akibat menopause. Hindari factor-faktor yang memicu gejala-gejala menopause anda. Kemerahan pada wajah dan pipi dapat dipicu oleh makanan yang panas atau pedas. Alkohol, kafein dan gula dapat memicu kemerahan pada wajah Krim vagina dan jel dapat digunakan untuk mengurangi kekeringan dan rasa gatal pada vagina. Preparat tersebut juga dapat digunakan pada saat berhubungan seksual untuk mengurangi rasa sakit

4. Osteoporosis Seiring meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia, masalah osteoporosis/ tulang keropos perlu mendapat perhatian serius. Semakin tua seseorang, semakin mudah terserang osteoporosis. Orang lanjut usia merupakan sasaran paling rapuh untuk terkena

osteoporosis. Ketika perempuan mencapai usia 80 tahun, ia mengalami resiko 40% mengalami 1 atau lebih patah tulang. Data dunia juga menyebutkan satu dari tiga wanita beresiko terkena osteoporosis. Kunci utama untuk melawan rapuh tulang diantaranya: a. Perhatikan gaya hidup b. Perhatikan pola makan c. Aktifitas fisik

1.2 Angka Kematian Ibu (AKI) 1.2.1 Definisi Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa

memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu merupakan indikator kesehatan yang cukup penting. Angka kematian ibu diketahui dari jumlah kematian karena kehamilan, persalinan dan ibu nifas per jumlah kelahiran hidup di wilayah tertentu dalam waktu tertentu. Angka Kematian Ibu mencerminkan resiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh : keadaan sosial ekonomi dan kesehatan menjelang kehamilan, kejadian berbagai

komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, serta tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetric. Gaya hidup yang tidak aktif dalam jangka panjang memancing akan datangnya penyakit, kebanyakan orang memilih menghabiskan waktu luang dengan bersantai, rebahan di depan televisi atau mengganti waktu tidur yang disabotase pekerjaan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Indonesia tahun 2007, saat ini 48,2 persen masyarakat berusia lebih dari 10 tahun kekurangan aktivitas fisik. Di dunia, menurut WHO 60-80% populasi dewasa tidak aktif secara fisik. Ketidakaktifan fisik merupakan istilah untuk mengidentifikasi orang-orang dengan tingkat kegiatan fisik teratur yang rendah, atau tidak ada sama sekali. Akibatnya pembakaran energinya tidak lebih dari 1,5 kali pembakaran energi saat beristirahat. Ketidak aktifan fisik ini dalam jangka panjang akan menyebabkan kegemukan atau obesitas. Padahal, untuk menjaga kebugaran tubuh, WHO merekomendasikan agar kita berolahraga minimal 30 menit setiap hari. Olahraga yang dimaksud adalah aktivitas fisik yang teratur. Hal ini ternyata dapat memicu kematian ibu ketika melahirkan. Karena terjadi obesitas pada ibu hamil sehingga menyulitkan sang ibu ketika melahirkan. Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal umunya dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menilai keadaan gizi dan kesehatan ibu, tingkat pelayanan kesehatan ibu

pada waktu hamil, melahirkan dan masa nifas, serta kondisi kesehatan lingkungan. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) tahun 1986, angka kematian ibu bersalin di Indonesia masih sangat tinggi, berkisar 450 per 100.000 kelahiran hidup. Bila kita bandingkan dengan negara Asean lainnya, dimana angka kematian ibu bersalin berkisar 560 per 100.000 kelahiran hidup, maka angka tersebut jelas sangat tinggi. Sebagian besar kematian ibu tersebut yaitu sekitar 67% ternyata terjadi pada masa kehamilan 7 bulan ke atas, masa bersalin, atau masa nifas.

1.2.2 Faktor Penyebab Kematian Ibu Diduga angka kematian ibu yang tinggi ini erat hubungannya dengan : 1. Status wanita Indonesia yang masing rendah. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya diskriminasi terutama dalam soal makanan dan pendidikan terhadap wanita, yang pada akhirnya akan

menyebabkan keadaan gizi yang kurang memadai dan pendidikan yang tertinggal terutama pada wanita pedesaan. 2. Pekerjaan wanita terutama di pedesaan yang terlalu berat dan tidak didukung oleh gizi yang cukup. 3. Proses reproduksi yang berlangsung terlalu giat, terlalu dini, terlalu banyak dan terlalu rapat, dan umumnya semua ini berhubungan dengan kemiskinan, ketidaktahuan dan kebodohan. 4. Pelayanan obstetri masih sangat terbatas cakupannya sehingga belum mampu menaggulangi ibu hamil resiko tinggi dan kasus gawat darurat pada lini terdepan. Disamping itu transportasi yang sulit,

ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik dan pantangan tertentu pada wanita hamil juga ikut berperan. Dari uraian di atas terlihat faktor yang multi komplek yang masih ikut berperan dan harus ditanggulangi untuk menurunkan angka kematian ibu bersalin. Umumnya sebagian besar faktor-faktor di ataslah yang akan menyebabkan terjadinya gangguan dan penyulit pada

kehamilan, persalinan dan nifas.

1.2.3 Kehamilan Resiko Tinggi Gangguan dan penyulit pada kehamilan umumnya ditemukan pada kehamilan resiko tinggi. Yang dimaksud dengan kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal. Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat dan didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan akan berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan befungsi sebagai alat respiratorik, metabolic, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu, maka janin seperti tercekik,dan pertumbuhannya akan terganggu. Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin baik berupa kelainan bawaan ataupun kelainan karena pengaruh lingkungan, maka pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami gangguan. Menurut penelitian telah diketahui bahwa umur reproduksi sehat pada seorang wanita berkisar antara 20-30 tahun, artinya ; melahirkan setelah umur 20 tahun jarak persalinan sebaiknya 2-3 tahun dan berhenti melahirkan setelah umur 30 tahun. Berarti anak cukup 2-3 orang. Telah dibuktikan bahwa kelahiran ke empat dan seterusnya akan meningkatkan kematian ibu dan janin. Abortus (keguguran), prematuritas dan dismaturitas (bayi kecil untuk masa kehamilan) dan postdatisme (kehamilan lewat waktu) kadang-kadang masih sulit di deteksi dengan baik. Dengan pengenalan dan penanganan dini, gangguan dan penyulit kehamilan dapat dikurangi.

Penyakit yang diderita ibu baik sejak sebelum hamil ataupun sesudah kehamilan, seperti : penyakit paru, penyakit jantung sianotik, penyakit ginjal dan hipertensi, penyakit kelenjar endokrin (gondok, diabetes mellitus, penyakit hati), penyakit infeksi (virus, bakteri parasit), kelainan darah ibu-janin ataupun keracunan obat dan bahan-bahan toksis, juga merupakan penyebab yang mengakibatkan terjadinya gangguan dan penyulit pada kehamilan. Disamping itu, kehamilan sendiri dapat menyebabkan terjadinya penyakit pada ibu hamil. Penyakit yang tergolong dalam kelompok ini antara lain : toksemia gravidarum (keracunan hamil), perdarahan hamil tua yang disebabkan karena plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir), dan solusio plasenta (plasenta terlepas sebelum anak lahir). Penyebab kematian ibu bersalin di Indonesia masih di dominasi oleh perdarahan, infeksi dan toksemia gravidarum. Seperti diuraikan sebelumnya, lingkungan dimana ibu hamil bertempat tinggal secara tidak langsung juga berperan dalam timbulnya penyulit pada kehamilan. Tempat tinggal yang pengap, kurang udara segar, lingkungan yang kotor, ibu yang tidak dapat beristirahat cukup dan gizi yang jelek dapat merupakan faktor penyebab. Dalam kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan janin sebaiknya harus dapat diikuti dengan baik. Adanya kelainan pertumbuhan janin seperti KMK (kecil untuk masa kehamilan), BMK (besar untuk masa kehamilan), kelainan bawaan seperti hidrosefalus, hidramnion, kehamilan ganda ataupun adanya kelainan letak janin sedini mungkin harus segera dapat dideteksi. Bila keadaan ini baru di diagnosa pada kehamilan lanjut, maka penyulit pada kehamilan dan persalinan akan sering dijumpai. Kemiskinan, kebodohan, ketidaktahuan, dan budaya diam wanita Indonesia, ditambah lagi oleh transportasi yang sulit dan ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik akan menyebabkan pelayanan antenatal di Indonesia masih kecil cakupannya. Pada ibu hamil pemeriksaan antenatal memegang peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan

persalinannya. Akibat kurangnya pemeriksaan antenatal yang dilakukan oleh tenagamedis terlatih (bidan dokter dan dokter ahli) banyak kasus

dengan penyulit kehamilan tidak terdeteksi. Hal ini tentu saja akan menyebabkan terjadinya komplikasi yang lebih besar dalam perjalanan kehamilan dan persalinannya sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang lebih besar pada ibu dan janin. Disamping itu karena pelayanan obstetri di lini terdepan masih sangat terbatas cakupannya dan belum mampu menanggulangi kasus gawat darurat, ditambah dengan transportasi yang masih sulit dan tidak mampu membayar pelayanan yang baik, banyak kasus rujukan yang diterima di Rumah Sakit sudah sangat terlambat dan gawat sehingga sulit ditolong.

1.2.4 Usaha Pencegahan Penyulit Pada Kehamilan dan Persalinan Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa usaha untuk pencegahan penyakit kehamilan dan persalinan tergantung pada berbagai faktor dan tidak semata-mata tergantung dari sudut medis atau kesehatan saja. Faktor sosial ekonomi diduga sangat berpengaruh. Karena pada umumnya seseorang dengan keadaan sosial ekonomi rendah seperti diuraikan di atas, tidak akan terlepas dari kemiskinan, kebodohan dan ketidaktahuan sehingga mempunyai kecenderungan untuk menikah pada usia muda dan tidak berpartisipasi dalam keluarga berencana. Disamping itu keadaan sosial ekonomi yang rendah juga akan megakibatkan gizi ibu dan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang jelek. Transportasi yang baik disertai dengan ketersediaannya pusat-pusat pelayanan yang bermutu akan dapat melayani ibu hamil untuk mendapatkan asuhan anenatal yang baik, cakupannya luas, dan jumlah pemeriksaan yang cukup. Di negara maju setiap wanita hamil memeriksakan diri sekitar 15 kali selama kehamilannya. Sedangkan di Indonesia pada kehamilan resiko rendah dianggap cukup bila memeriksakan diri 4-5 kali. Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk

pencegahan penyulit pada kehamilan dan persalinan adalah : 1. Asuhan antenatal yang baik dan bermutu bagi setiap wanita hamil. 2. Peningkatan pelayanan, jaringan pelayanan dan sistem rujukan kesehatan.

3. Peningkatan pelayanan gawat darurat sampai ke lini terdepan. 4. Peningkatan status wanita baik dalam pendidikan, gizi, masalah kesehatan wanita dan reproduksi dan peningkatan status sosial ekonominya. 5. Menurunkan tingkat fertilitas yang tinggi melalui program keluarga berencana.

1.2.5 Peran Pemerintah Dalam Menekan Angka Kematian Ibu Tak lelah untuk mengempiskan angka kematian ibu, tahun 2005 hingga 2009, pemerintah kembali menitik beratkan perhatian pada kesehatan ibu. Departemen kesehatan dalam periode tersebut menempatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas pertama pembangunan kesehatan. Sesudahnya menyusul pelayanan kesehatan bagi masyarakat

miskin, pendayagunaan tenaga kesehatan, penanggulangan penyakit menular, gizi buruk, dan krisis kesehatan akibat bencana, serta peningkatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, daerah perbatasan, dan pulau-pulau terluar. Program-program tersebut, sangat berkaitan untuk meningkatkan kesehatan rakyat. Realisasinya, Menteri Kesehatan mengatakan Program Asuransi Kesehatan BagiMasyarakat Miskin (Askeskin) sejak tahun 2005 dan 2006 dapat mencakup 60 juta penduduk miskin dan hampir miskin, dibanding tahun 2005 yang hanya mencakup 36,1 juta penduduk miskin. Dan pada tahun 2007, telah mencakup 76,4 juta masyarakat miskin. Masalah keterlambatan ibu melahirkan dibawa ke fasilitas kesehatan banyak karena alasan biaya. Kini, hal itu menjadi urusan pemerintah. Puskesmas, sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan didaerah, punya peranan penting. Tenaga kesehatan menjadi faktor penting untuk menurunkan angka kematian. Pemerintah ngebut untuk menambah tenaga ini. Menjawab ketiadaan tenaga bidan di desa, tahun 2006 lalu telah ditempatkan 12.000 bidan, dan tahun 2007 sebanyak 30.000. Hingga akhir tahun 2008, ditargetkan ada 70.000 bidan ditempatkan di desa. Untuk daerah terpencil bidan diberikan insentif yang lebih besar. Berbagai program tadi, setidaknya mampu

mengurangi jumlah wanita yang meninggal ketika menjalani takdirnya. Angka kematian ibu telah menurun, dari 390 per 100.000 kelahiran hidup menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 menjadi 334menurut SDKI tahun 1997, dan 307 menurut SDKI 20022003. Lalu tahun 2005 angka itu menurun menjadi 262, lalu 253 pada 2006. Penurunan angka kematian ibu memiliki korelasi langsung dengan program-program yang dilakukan pemerintah. Maka, depkes pun pasang ancang-ancang lagi. Tahun 2007 target angka kematian ibu turun menjadi 244 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2008 menjadi 235 per kelahiran hidup. Hingga akhir tahun 2009 diharapkan angka kematian ibu mencapai 226 per 100.000 kelahiran hidup. Desa Siaga setidaknya menjadi tumpuan harapan untuk pembangunan kesehatan. Sebelumnya telah bergulir berbagai program seperti suami siaga dan bidan siaga. Fokus pengembangan desa siaga diarahkan yang pertama untuk upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi. Data tahun 2006 menyebutkan telah terdapat 12.942 desa siaga dari 12.000yang ditargetkan. Desentralisasi di bidang kesehatan akan menjadi tantangan penting dalam pembangunan kesehatan. Laporan Bapenas mengatakan bahwa perubahan dan tanggung jawab pemerintah pusatdan daerah belum secara jelas terdefinisikan dan dipahami. Dengan penganggaran yang juga didesentralisasikan, daerah dengan kemampuan keuangan yang rendah akan mengalami kesulitan untuk mengalokasikan anggaran kesehatannya karena harus pula memperhatikan prioritas-prioritas pembangunan lain.

Daftar Pustaka

Klinik.

2008.

Pola

Makan

dan

Usia

Harapan

Hidup.

http://

situskespro.info/aging/referansi. htm. 9 Oktober 2012 Depkes. 2007. Terjadi Pergeseran Umur Menopause. http://www.bkkbn.go.id. 9 Oktober 2012 DR. Ridwan Amirudin, SKM,M.Kes. 2008. Tidak Merokok Menambah Usia harapan Hidup 10 tahun. http://www.bkkbn.go.id. 9 Oktober 2012 Hendrizal. 2011. Angka Kematian Ibu/Demografi.

http://misskemas.wordpress.com. 9 Oktober 2012