Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI INDUSTRI PINDAH PANAS

Oleh : Nama NPM : Aulia bahtera lazuardi : 240110090066

Hari, Tgl Praktikum : Kamis, 5 mei 2011 Asisten : Tiwi

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES JURUSAN TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latar belakang dari praktikum pindah panas adalah pemindahan atau penjalaran panas dari satu tempat ke tempat yang lain karena adanya gradien suhu antara kedua tempat yang bersangkutan. Yang menjadi pendorong terjadinya pindah panas adalah beda suhu. Pindah panas merupakan proses dinamis, yaitu panas dipindahkan secara spontan dari satu badan ke badan lain yang lebih dingin. Kecepatan dari pindah panas bergantung dari perbedaan suhu antara kedua badan, semakin besar perbedaan, maka semakin besar kecepatan pindah panas.

1.2 Tujuan 1. Mempelajari pindah panas dalam unit operasi industry hasil pertanian. 2. Mempelajari dan menerapkan analisis pindah panas dalam pendinginan uap.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1Pengertian Heat Trasfer Perpindahan panas (Heat transfer) adalah pemindahan atau penjalaran panas dari satu tempat ke tempat yang lain karena adanya gradien suhu antara kedua tempat yang bersangkutan. Yang menjadi pendorong terjadinya pindah panas adalah beda suhu. Pindah panas merupakan proses dinamis, yaitu panas dipindahkan secara spontan dari satu badan ke badan lain yang lebih dingin. Kecepatan dari pindah panas bergantung dari perbedaan suhu antara kedua badan, semakin besar perbedaan, maka semakin besar kecepatan pindah panas. Perbedaan suhu antara sumber panas dan penerima panas merupakan gaya tarik dalam pindah panas. Apabila suhu meningkat, maka akan meningkatkan juga gaya tarik sehingga kecepatan pindah panas akan meningkat. Perbedaan suhu antara sumber panas dan penerima panas merupakan gaya tarik dalam pindah panas. Peningkatan perbedaan suhu akan meningkatkan gaya tarik sehingga meningkatkan kecepatan pindah panas. Panas yang melalui satu badan dari badan lain, pindah menembus beberapa perantara, yang pada umumnya memberikan penahanan pada aliran panas. Kedua faktor ini, yaitu perbedaan suhu dan penahan aliran panas, mempengaruhi kecepatan pindah panas. Kedua faktor ini, yaitu perbedaan suhu dan penahan aliran panas, mempengaruhi kecepatan pindah panas. Faktor-faktor ini dihubungi oleh persamaan : Kecepatan pindah = gaya tarik/penahan Untuk pindah panas : Laju pindah panas = perbedaan suhu/penahan perantara aliran panas Selama pengolahan, suhu banyak berubah, sehingga laju pindah panas akan berubah. Hal ini disebut pindah panas tidak tetap, sebagai lawan pindah panas tetap,

yaitu suhu selama proses tidak berubah. Pindah panas tidak tetap jauh lebih kompleks, karena adanya penambahan variabel waktu masuk ke dalam persamaan kecepatan. Pindah panas dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu : 1. Konduksi Konduksi adalah proses perpindahan panas yang ditransfer akibat adanya saling tukar-menukar energi kinetik antara molekul-molekul bahan tanpa ada penggeseran tempat dari molekul yang bersangkutan. Pada konduksi, energi molekul langsung berubah dari daerah yang lebih panas ke daerah yang lebih dingin, molekul dengan energi yang lebih besar memindahkan sebagian energi ke molekul tetangganya yang berenergi lebih sedikit. Dalam sistem tidak terjadi transfer molekuler, tetapi yang terjadi adalah transfer energi antara molekul yang satu ke molekul yang lain yang berdekatan. Konduksi merupakan mekanisme utama dalam proses transfer panas dalam benda padat. Konduksi Panas Dalam hal konduksi panas, persamaan laju gaya tarik/tekanan, dapat langsung diterapkan. Gaya tarik adalah perbedaan setiap satuan jarak yang ditempuh oleh perpindahan panas , dikenal dengan nama beda suhu. Selain tahanan aliran panas, kebalikannya disebut penghantar (conductance) juga dipergunakan. Hal ini merubah bentuk persamaan menjadi : Laju pindah panas = gaya tarik x penghantar Yaitu : dQ/d = kA dt/dx di mana : dQ/d adalah laju pindah panas tiap satuan waktu, A adalah luas penampang jalur pindah panas, dt/dx adalah beda suhu, yaitu laju perubahan suhu per satuan panjang jalur dan k adalah daya hantar panas bahan perantara.

Aliran panas dari bagian terpanas ke bagian terdingin adalah dalam arah gradien suhu neragtif. Jadi, tanda min harus ada, pada persamaan Fourrier. Akan tetapi pada persoalan yang sederhana, arah aliran panas kabur dan tanda min dipertimbangkan meragukan daripada menolong sehingga tidak dipergunakan. Pada konduksi, energi molekul langsung berubah dari daerah yang lebih panas ke daerah yang lebih dingin, molekul dengan energi yang lebih besar memindahkan sebagian energi ke molekul tetangganya yang berenergi lebih sedikit. Biasanya diaplikasikan pada benda-benda solids. 2. Konveksi Konveksi yaitu perpindahan energi yang terjadi saat molekul mengalami proses energi tingkat tinggi yang berpindah ke bagian lain pada sistem tersebut. Mekanisme transfer panas pada proses ini yaitu akibat gerakan molekuler, bisa juga terjadi karena adanya gaya mekanis dari luar (misalnya pemompaan, pengipasan, dll), keadaan ini disebut konveksi paksa (forced convection). Gerakan konstan yang terjadi karena molekul berpindah dari satu posisi dan digantikan posisinya oleh molekul lainnya dinamakan konveksi alami. Sedangkan jika perpindahan molekul dipengaruhi oleh gerakan atau dorongan dari luar dinamakan konveksi paksa. Biasanya diaplikasikan di perpindahan panas pada cairan atau gas. Konveksi paksa merupakan konveksi yang terjadi karena adnya paksaan dari luar yang menyebabkan fluida mengalir . Bentuk paksaan tersebut antara lain pemompaan, pengipasan, dll. Karena pada umumnya pada konveksi paksa karena fluida digerakkan/dialirkan dengan pemompaan dan pengipasan, maka sistem sangat diperngaruhi oleh kecepatan gerakan fluida. Dalam mempelajari konveksi paksa, perlu diketahui bilangan-bilangan tidak berdimensi yaitu bilangan Prandtl, bilangan Nusselt dan bilangan Reynold. Konveksi biasanya diaplikasikan di perpindahan panas pada cairan atau gas.

3. Radiasi

Radiasi yaitu perpindahan energi dari materi yang satu ke materi yang lainnya dengan menggunakan gelombang elektromagnetik. Tidak ada kontak antar molekul dalam hal perpindahan panas dengan cara radiasi. Panas radiasi ditransfer dari sebuah benda yang mempunyai suhu relatif tinggi ke benda lain yang bersuhu relatif rendah dengan melintasi ruang dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Perpindahan panas erat kaitannya dengan suhu. Suhu bisa didefinisikan sebagai derajat termal yang disebabkan oleh gerakan molekul pada suatu materi. Suhu diindikasikan dengan alat ukur yang menunjukkan suhu dari elemen yang diukur, bukan suhu dari medium yang kontak langsung dengan elemen tersebut. Keakuratan dari pengukuran bergantung pada bagaimana panas berpindah ke elemen yang diukur panasnya tersebut. Perpindahan panas erat kaitannya dengan suhu. Suhu bisa didefinisikan sebagai derajat termal yang disebabkan oleh gerakan molekul pada suatu materi. Perubahan gerakan molekul pada zat cair atau gas akan menyebabkan perubahan tekanan dan volume sedangkan pada benda padat akan terjadi perubahan dimensi. Suhu diindikasikan dengan alat ukur yang menunjukkan suhu dari elemen yang diukur, bukan suhu dari medium yang kontak langsung dengan elemen tersebut. Keakuratan dari pengukuran bergantung pada bagaimana panas berpindah ke elemen yang diukur panasnya tersebut. Suhu memasuki alat tersebut yang nantinya akan mengukur elemen tersebut setelah pergantian panas mencapai titik ekuilibrium.

II.2Daya Hantar Panas

Daya hantar panas pada beberapa benda dapat dihitung. Daya hantar panas sedikit mengalami perubahan akibat pengaruh suhu, akan tetapi dalam beberapa penggunaan hal ini dapat danggap tetap pada beberapa bahan tertentu. Sebagian besar bahan pangan mengandung kadar air yang cukup tinggi, dan oleh karena daya hantar panas air lebih kurang 0,35 BTU/kaki jam F di atas 32F , maka daya hantar panas bahan-bahan panagn juga di sekitar itu.

II.3 Penguapan Penguapan adalah proses yang sering dipergunakan oleh ahli pengolahan pangan. Beberapa jenis pangan dapat dikonsumsi sebagai cairan pemerasan hasil pertanian antara lain berupa jus, sari buah, nira maupun susu yang langsung merupakan hasil produk ternak. Faktor dasar yang mempengaruhi laju penguapan adalah : Laju panas pada waktu dipindahkan ke bahan cair. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk menguapkan setiap pound cair. Suhu maksimum yang diperkenankan untuk bahan cair. Tekanan pada saat penguapan terjadi. Perubahan lain yang mungkin terjadi di dalam bahan selama proses

penguapan berlangsung. Sebagai suatu bagian proses di dalam pabrik, secara prinsip alat penguapan mempunyai 2 fungsi yaitu merubah panas dan memisahkan uap yang terbentuk dari bahan cair. Ketentuan-ketentuan yang penting pada praktek penguapan adalah : Suhu maksimum yang diperkenankan, yang sebagian besar di bawah 212F

Promosi perputaran bahan cair melalui permukaan pindah panas untuk

mempertahankan koefisisen pindah panas yang tingi dan untuk menghindari setiap pemanasan lokal yang terlalu tinggi. Kekentalan bahan cair yang selalu meningkat dengan cepat karena Setiap kecenderungan untuk berbusa yang akan mempersulit pemisahan meningkatnya jumlah bahan yang tidak telarut. bahan cair dengan uap. II.4 Evaporator (alat penguapan) Alat penguapan yang dibuat khas dari 3 bagian yang penting, yaitu penukar panas, bagian penguapan tempat bahan cair dididihkan dan diuapkan, dan alat pemisah, tempat uap meninggalkan bahan cair keluar ke alat pengembun atau ke peralatan lain. Pada sebagian besar alat penguapan, ketiga bagian ini diletakkan dalam suatu silinder tegak. Di tengah-tengah silinder terdapat bagian pemanasan uap, dengan beberapa pipa, melalui bagian ini tempat yang akan diuapkan timbul. Pada bagian puncak silinder terdapat plat yang membiarkan uap terlepas, akan tetapi butir-butir kecil yang mungkin terbawa uap dari permukaan bahan cair ditahan. Pada bagian pengukur panas disebut celendria pada jenis alat penguap ini, uap diembunkan di dalam pembungkus dan bahan cair yang akan diuapkan dididihkan pada bagian dalam pipa dan di dalam ruangan di atas piringan pipa palig atas. Tahanan terhadap aliran panas ditimbulkan oleh uap dan koefisien lapisan bahan cair, dan juga oleh bahan pipa. Perputaran bahan cair sangat mempengaruhi laju penguapan, akan tetapi kecepatan dan koefisien pindah panas keseluruhan yang telah dilaporkan untuk alat penguapan antara 300-600 BTU/kaki2 jamF (1500 kcal/m2jam C). untuk penguapan air destilasi di dalam alat penguapan dengan pipa tegak dan dengan panas diberikan oleh uap yang diembunkan. Ketika proses penguapan berlangsung, bahan cair yang tertinggal menjadi lebih pekat dan karena oleh peningkatan kepekatan ini, maka suhu didih meningkat.

Kenaikan suhu didih mengurangi penurunan suhu yang diperkenankan apabila dianggap tidak ada perubahan pada sumber panas. Laju pindah panas keseluruhan juga akan menurun. Demikian juga dengan kekentalan bahan cair akan meningkat, sering sangat tinggi, dan ini mempengaruhi perputaran dan koefisien pindah panas kembali menjadi lebih rendah daripada laju pendidihan. Komplikasi lain yaitu bahwa pengukuran koefisien pindah panas keseluruhan telah dijumpai bervariasi dengan penurunan suhu yang sebenarnya, sehingga desain sebuah alat penguapan secara teoritis tidak dapat dielakkan tergantung pada ketidaktentuan yang sangat luas. Pindah panas dalam alat penguapan diatur oleh persamaan pindah panas untuk pendidihan bahan cair dan dengan persamaan konveksi serta konduksi. Panas yang harus dihasilkan dari sumber, pada suhu yang sesuai dan dalam beberapa hal sumber adalah uap. Uap diperoleh baik langsung dari boiler atau dari suatu tahapan penguapan dalam alat penguapan lain.

BAB III METODOLOGI PENGAMATAN DAN PENGUKURAN

3.1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan yaitu : Labu destilasi Kolom vigreux Thermometer Kondensor Labu penampung Kawat Tiang statif Bahan yang digunakan, yaitu : 400 mL air daun salam vaseline 3.2 Prosedur Percobaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Praktikum dilakukan bersama-sama, namun dilakukan pembagian tugas. Memasang dan menyusun alat sesuai gambar yang tertera pada modul. Mengiris tipis daun salam Mengukur air sebanyak 400ml Mengukur suhu awal air. Memasukkan air dan daun salam ke dalam labu destilasi. Memasangkan termometer di atas labu ukur Menjalankan proses pendinginan dan pemanasan. Mengukur suhu dan kondensat setiap selang 2 menit. Menghitung laju kalor, laju kondensat dan log mean temperatur. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Baskom Timbangan Cawan ukur Pisau Kompor listrik

4.1Table hasil pengamatan waktu 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50 52 54 56 58 60

Suhu (oC) 29 21 21 21 29,5 30 31 32 33 35 36 37 38 40,5 45 52 58 70,5 92,5 93 93 93 93 93 93 93,5 93,5 93,5 -

V kondensat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,3 4 6 9 11,5 14,5 17,5 19,8 22,6 25 -

Data Hasil Praktikum :

Volume air dalam gelas ukur = 300 ml Volume wadah = d t = . 35 ( 9 ) = 247,4 cm3 Diameter wadah = 35 cm Tinggi air dalam wadah = 9 cm Diameter pipa = 3cm Panjang pipa = 36,5 cm Luas pipa ( d ) p = 344 cm2 Suhu air dalam wadah ( Tc1 ) = 24 0C Massa daun salam = 8 g Suhu kondensat = 26 0C Suhu awal air (Tc1) =24oC Suhu akhir air ( Tc2 ) = 25 0C Volume kondensat = 25 ml Massa air = m = .v = 1g/cm3 x 300 ml = 300g Massa Kondensat ( m = .v ) = 1g/cm3x25 ml = 25 g Perhitungan : Heat Balance Panas spesifik air, Cp = 4,19 kJ/kg oC Gunakan tabel uap.

Pemanasan : Suhu air awal (Tc1) :

Suhu air akhir (Tc2) : Tair = Tc2 Tc1 = 25oC 24oC = 1oC Banyaknya air : 300 ml =300gram=0,3 kg

a.

Hitung pindah panas permenit Qair = m . Cp . T = 0,3 kg . = 1,257 kJ

kJ/kgoC. 1 C

Laju Kalor = Qair / t(menit) = 1,257 kJ / 54 = 0,0233 kJ/menit

b.

Hitung uap yang didinginkan (teoritis) Q=m.U Q = 0,3 kg x 2260 kJ/kg = 678 kJ

Pendinginan : Suhu uap awal (Th1) : Suhu kondensat (Th2) : Volume kondensat : 25 ml Laju Kondensat = Volume kondensat / Waktu = 25 ml / 54 menit = 0,46 ml/menit a. Hitung pindah panas permenit ( Kondensat )

Q/t = m . Cp . T = 0,025 kg . 4,19 kJ/kgC . 1 C = 0,105 kJ/ 54menit = 1,94 kJ/menit

Luas Area

Apipa = .d.p = 344 cm2 = 344 . 10-4 m2 LMTD T1 = Th1 Tc1 = 93,5 T2 = Th2 Tc2 = 92,5 TLMTD = = - 24 - 25 =69,5 =67,5 = =66,67

Perbandingan Qair dan Qb Q air = Qbahan m. Cp. Tair = m. Cp. Tb + m. U 0,3kg. 4,19kJ/kg . 1 = 0,025 kg .4,19 kJ/kgC.1 + 0,02. U

1,257 kJ = 0,105 kJ + 0,02kg U U = 57,6 kJ/kg

Laju pindah panas air

Laju pindah kondensat (Debit kondensat)

4.2Pembahasan Pembahasan pada praktikum satuan operasi industri tentang pindah panas pada praktikum kali ini menggunakan alat paraktikum yang cukup banyak dan harus menggunakan ketelitian karena alat yang digunakan pada praktikum kali ini sangat mahal harganya. prosses pindah panas adalah Perbedaan suhu antara sumber panas dan penerima panas merupakan gaya tarik dalam pindah panas. Apabila suhu meningkat, maka akan meningkatkan juga gaya tarik sehingga kecepatan pindah panas akan meningkat. Perbedaan suhu antara sumber panas dan penerima panas merupakan gaya tarik dalam pindah panas. Peningkatan perbedaan suhu akan meningkatkan gaya tarik sehingga meningkatkan kecepatan pindah panas. Panas yang melalui satu badan dari badan lain, pindah menembus beberapa perantara, yang pada umumnya memberikan penahanan pada aliran panas. Ketika proses penguapan berlangsung, bahan cair yang tertinggal menjadi lebih pekat dan karena oleh peningkatan kepekatan ini, maka suhu didih meningkat. Kenaikan suhu didih mengurangi penurunan suhu yang diperkenankan apabila dianggap tidak ada perubahan pada sumber panas. Laju pindah panas keseluruhan juga akan menurun. Demikian juga dengan kekentalan bahan cair akan meningkat, sering sangat tinggi, dan ini mempengaruhi perputaran dan koefisien pindah panas kembali menjadi lebih rendah daripada laju pendidihan.

BAB V Kesimpulan dan saran 5.1 Kesimpulan 1. Perpindahan panas merupakan satuan operasi yang sangat penting diantaranya dalam proses pasteurisasi, sterilisasi, pendinginan, pembekuan, penguapan, pengeringan. 2.Proses pindah panas terjadi karena adanya perbedaan suhu

5.2 Saran Saran untuk praktikum kali ini mungkin alat dan bahan yang digunakan harus menggunakan alat yang cukup agar setiap kelompok memiliki hasil yang berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA Charm, S.E.1971.Fundamentals of Food Engineering. AVI Publishing Company. Westport.Connecticut. R.L Earle.1983. Unit Operations in Food Processing. NZIFST Inc. Toledo T., Romeo. 1979. Fundamentals of Food Process Engineering.AVI Publishing Company.Westport, Connecticut. http://lianuraini.blogspot.com/2010/04/kalor-yang-berpindah-pindah-tempat.html http://www.bahankuliah.info/pdf/pindah-panas-konduksi.html kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah.../halaman_11.html www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia...kimia.../destilasi/ www.niroinc.com/evaporators.../evaporation_systems.asp

LAMPIRAN