Anda di halaman 1dari 12

Gigi Tiruan Sebagian Lepasan I.

PENDAHULUAN Gigi tiruan sebagian adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama adalah jaringan lunak di bawah plat dasar dan dukungan tambahan dari gigi asli yang masih tertinggal dan terpilih sebagai gigi pilar. Restorasi prostetik ini sering disebut juga Removable Partial Denture (Applegate, 1960). Kehilangan atau tidak adanya gigi baik sebagian atau seluruhnya akan menimbulkan berbagai gangguan pada orang tersebut. Oleh sebab itu sebaiknya segera dibuatkan gigi tiruan pengganti. Akibat-akibat yang timbul karena hilangnya gigi dalam jangka waktu yang lama dan tidak segera dibuatkan gigi tiruan pengganti adalah : 1.Pada gigi asli yang hilang dapat terjadi penurunan efisiensi kunyah, gangguan fungsi bicara, memperburuk penampilan. 2.Pada gigi asli yang masih tertinggal dapat terjadi drifting yaitu bergeraknya gigi tetangga ke daerah yang tak bergigi, erupsi gigi antagonis yang berlebihan. 3.Gangguan pada sendi temporomandibular 4.Terbentuknya poket gingiva pada gigi miring dan berlanjut menjadi poket periodontal. 5.Resesi gingiva akibat kurang stimulasi 6.Beban berlebihan pada jaringan pendukung 7.Terjadi ketidaksesuaian oklusi dan terbentuk ruang yang memudahkan terjadinya impaksi makanan 8.Kebersihan mulut terganggu 9.Trauma periodontal akibat gigi yang miring 10.Efek terhadap jaringan lunak di dalam mulut 11.Bila gigi yang hilang cukup banyak dapat mengakibatkan perubahan TMJ 12.Pada kasus kehilangan gigi anterior dapat menimbulkan rasa malu dan rendah diri karena estetis menjadi berkurang serta kurang sempurnanya pengucapan beberapa huruf. Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian adalah : 1.Mengembalikan fungsi pengunyahan 2.Mengembalikan fungsi estetis 3.Mengembalikan fungsi bicara 4.Membantu mempertahankan gigi yang masih tertinggal 5.Memperbaiki oklusi 6.Meningkatkan distribusi beban kunyah 7.Mempertahankan jaringan lunak mulut yang masih ada agar tetap sehat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan GTS adalah : 1.Gigi tiruan tersebut harus tahan lama 2.Gigi tiruan tersebut harus dapat mempertahankan dan melindungi gigi yang masih ada serta jaringan yang sekitarnya. 3.Gigi tiruan tersebut tidak boleh merugikan pasien dalam bentuk apapun 4.Gigi tiruan tersebut harus mempunyai konstruksi dan desain yang harmonis. Keberhasilan pembuatan GTS sangat tergantung pada peran serta pasien untuk mau dan dapat beradaptasi dalam pemakaiannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA A.Indikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan adalah sebagai berikut : 1.Hilangnya satu gigi atau lebih. 2.Gigi yang masih tertinggal dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi abutment. 3.Keadaan processus alveolaris masih baik. 4.Oral hygiene pasien baik. 5.Pasien mau dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan. B.Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan GTSL dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan beberapa hal, yaitu : 1.Berdasarkan jaringan pendukungnya a.GT dukungan mukosa, yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan dari jaringan mukosa. b.GT dukungan gigi, yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan dari gigi asli. c.GT dukungan mukosa dan gigi, yaitu gigi tiruan yang mendapat dukungan dari mukosa dari gigi asli. 2.Berdasarkan saat pemasangannya : a.Immediate prothesa, dipasang segera setelah pencabutan b.Conventional prothesa, dibuat setelah gigi lama dicabut 3.Berdasarkan ada tidaknya wing a.Open face denture, tanpa wing pada bagian bukal dan labial, biasanya untuk anterior. b.Close face denture, memakai wing pada bagian bukal, biasanya untuk posterior. 4.Pembagian gigi tiruan sebagian berdasarkan bahan yang digunakan menurut Soelarko dan Wachijati (1980) adalah : a.Frame denture Frame denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang terdiri dari kerangka logam tuang dan bagian sadel terdiri dari akrilik serta elemen gigi tiruan. b.Acrylic denture Acrylic denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang basisnya terdiri dari akrilik serta elemen gigi tiruan. c.Vulkanite denture Vulkanite denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang terdiri dari karet yang dikeraskan sebagai basis gigi tiruan serta elemen gigi tiruan. Kennedy (1923) mengklasifikasikan GTSL, berdasarkan letak sadel dan free end: Klas I Adanya ujung bebas pada dua sisi (bilateral free end), mempunyai daerah tanpa gigi di belakang gigi yang tertinggal pada sebuah sisi rahang. Klas II Adanya ujung bebas pada satu sisi (unilateral free end), mempunyai daerah tanpa gigi di belakang gigi yang tertinggal pada satu sisi rahang saja. Klas III Bila tidak ada ujung bebas (free end), mempunyai gigi yang tertinggal di bagian belakang kedua sisi. Klas IV Adanya letak sadel pada gigi anterior dan melewati median line. Bila terdapat daerah tidak bergigi tambahan oleh Kennedy disebut sebagai modifikasi, kecuali klas IV tidak ada

modifikasi. Miller Mengklasifikasikan Berdasarkan Letak Cangkolan Klas I Ada dua cangkolan yang lurus berhadapan dan tegak lurus median line Klas II Ada dua cangkolan yang letaknya diagonal Klas III Ada tiga cangkolan yang membentuk segitiga di tengah prothesa bila dihubungan dengan garis. Klas IV Ada empat cangkolan yang membentuk segi empat di tengah prothesa bila dihubungan dengan garis. Cummer Mengklasifikasikan berdasarkan letak cangkolan Klas I Diagonal, yang menggunakan 2 buah cangkolan berhadapan diagonal Klas II Diametric, yang menggunakan 2 cangkolan yang berhadapan tegak lurus Klas III Unilateral, cangkolan terletak pada satu sisi rahang Klas IV Multilateral, cangkolan dapat berupa segitiga maupun segiempat C.Bagian-Bagian Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Menurut Austin dan Lidge (1957), gigi tiruan kerangka akrilik terdiri atas beberapa komponen, yaitu : 1.Konektor Utama Merupakan bagian dari GTSL yang menghubungkan komponen-komponen yang terdapat pada satu sisi rahang dengan sisi yang lain atau bagian yang menghubungkan basis dengan retainer. Fungsi konektor utama adalah menyalurkan daya kunyah yang diterima dari satu sisi kepada sisi yang lain. Syarat konektor utama adalah rigid, tidak mengganggu gerak jaringan, tidak menyebabkan tergeseknya mukosa dan gingiva, tepi konektor utama cukup jauh dari margin gingiva, tepi dibentuk membulat dan tidak tajam supaya tidak menganggu lidah dan pipi. Konektor utama dapat berupa bar atau plate tergantung lokasi, jumlah gigi yang hilang, dan rahang mana yang dibuatkan. Pada rahang atas dapat berupa single palatal bar, U-shaped palatal connector, antero-posterior palatal bar dan palatal palate. Pada rahang bawah dapat berupa lingual bar dan lingual plate. 2.Konektor minor Konektor minor merupakan bagian GTSL yang menghubungkan konektor utama dengan bagian lain, misalnya sandaran oklusal. Biasanya diletakkan pada daerah embrasur gigi dan harus berbentuk melancip ke arah gigi penyangganya. Fungsi konektor minor adalah meneruskan tekanan oklusal / beban oklusi ke gigi peganggan, membantu stabilisasi dengan menahan gaya pelepasan, menghubungkan bagian-bagian GTS dengan konektor utama, menyalurkan efek penahan, sandaran dan bagian pengimbangan kepada sandaran serta mentransfer efek retainer/klamer serta komponen gigi lain ke gigi tiruan. 3.Sandaran / rest Merupakan bagian GTSL yang bersandar pada permukaan gigi penyangga dan dibuat dengan tujuan memberikan dukungan vertikal pada prothesa. Sandaran dapat ditempatkan pada permukaan oklusal gigi posterior (sandaran oklusal) atau pada permukaan lingual gigi anterior (sandaran incisal). Preparasi tempat sandaran ini disebut rest seat. Fungsi sandaran / rest :

a.Menyalurkan tekanan oklusal dari gigi tiruan ke gigi pegangan b.Menahan lengan cengkeram tetap pada tempatnya c.Mencegahnya lengan cengkeram mekar/terbuka akibat tekanan oklusal. d.Mencegah ekstrusi gigi pegangan e.Mencegah terselipnya sisa makanan f.Menyalurkan sebagian gaya lateral ke gigi pegangan g.Memperbaiki oklusi h.Sebagai retensi tidak langsung i.Dapat sebagai splint dan mencegah kerusakan jaringan periodontal 4.Direct Retainer Merupakan bagian dari cangkolan GTS yang berguna untuk menahan terlepasnya gigi tiruan secara langsung. Direct retainer ini dapat berupa klamer/cengkeram dan presisi yang berkontak langsung dengan permukaan gigi pegangan. Ciri khas cangkolan tuang oklusal adalah lengan-lengannya berasal dari permukaan oklusal gigi dan merupakan cangkolan yang paling sesuai untuk kasus-kasus gigi tiruan dukungan gigi karena konstruksinya sederhana dan efektif. Fungsi direct retainer adalah untuk mencegah terlepasnya gigi tiruan ke arah oklusal. Prinsip desain cangkolan yaitu pemelukan, pengimbangan, retensi, stabilisasi, dukungan, dan pasifitas. Macam-macam cangkolan menurut Ney, yaitu : Akers clasp, Roach clasp, kombinasi AkersRoach, Back Action clasp, Reverse back Action clasp, Ring clasp, T clasp, I clasp, dan Compound clasp / Embrasure clasp. 5.Inderect Retainer Inderect Retainer adalah bagian dari GTS yang berguna untuk menahan terlepasnya gigi tiruan secara tidak langsung. Retensi tak langsung diperoleh dengan cara memberikan retensi pada sisi berlawanan dari garis fulkrum tempat gaya tadi bekerja. Retensi itu dapat berupa lingual bar atau lingual plate bar. 6.Basis landasan Basis adalah bagian dari gigi tiruan yang merupakan bagian untuk mengganti jaringan alveolaris yang hilang dan tempat melekatnya anasir gigi tiruan. Fungsi basis : a.Sebagai pondasi utama gigi tiruan b.Melanjutkan tekanan oklusal ke jaringan pendukung c.Menunjang kebersihan dan perbaikan estetis d.Memberikan stimulasi jaringan dibawahnya terutama kasus tooth borne. e.Memberikan retensi dan stimulasi. Keuntungan basis gigi tiruan kerangka akrilik: penghantar termis, ketepatan dimensional, kebersihan terjamin, kekuatan maksimal, dengan ketebalan minimal. 7.Gigi tiruan pengganti Merupakan bagian GTS yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang. Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan gigi yaitu : ukuran, bentuk, warna, dan bahan. Faktor- faktor yang juga perlu diperhatikan dalam mendesain GTS : 1.Retensi

Merupakan kemampuan GTS dalam melawan gaya pemindah yang cenderung melepaskan GTS ke arah oklusal. 2.Stabilisasi Merupakan kemampuan GTS untuk menahan gaya yang cenderung menggerakkan gigi tiruan dalam arah horizontal. Stabilisasi ini sangat tergantung pada garis retensi yang dibuat pada gigi pegangan, dan dapat berupa aktivitas otot saat berbicara, mastikasi, tertawa, batuk, bersin dan gravitasi untuk rahang atas. 3.Estetika Penempatan cangkolan harus sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dalam posisi apapun. Selain itu gigi tiruan harus tampak asli dan pantas untuk tiap pasien. Hal ini meliputi warna gigi, posisi dan inklinasi tiap gigi, gingival contouring harus sesuai dengan keadaan pasien dan perlekatan gigi di atas ridge. III. LAPORAN KASUS A.IDENTIFIKASI PASIEN Nama Pasien : Ismarni Umur : 46 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Jl. Parak jambu indah. Tg. Hitam Tanggal Pemeriksaan : 09 Juni 2009 B.PEMERIKSAAN SUBJEKTIF Motivasi : Datang untuk membuat gigi tiruan. CC : Merasa terganggu dan kesulitan untuk mengunyah makanan karena hilang gigi belakang. PI : Keadaan tersebut dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. PDH : Pernah dicabut giginya dan tanpa komplikasi PMH : Tidak menderita penyakit sistemik dan tidak alergi obat-obatan PH : Ayah : Sehat tidak menderita penyakit sistemik Ibu : Sehat tidak menderita penyakit sistemik

C.PEMERIKSAAN OBJEKTIF General Jasmani : sehat Rohani : komunikatif dan kooperatif Lokal : EO : Wajah : Simetris IO : Palatum : Normal Pipi : Simetris Mukosa : Normal Bibir : Simetris Gingiva : Normal TMJ : Normal Lidah : Normal Formula gigi

8765432112345678 8765432112345678 Diastema

Calc/Stain : -/7 6 6 7 : Missing : Pro Prostho

D.KLASIFIKASI : Rahang Bawah : Klas I Kennedy E.TAHAP-TAHAP PEMBUATAN DESAIN KERANGKA AKRILIK Tahap I : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (sadel) RB : Klas I Kennedy Tahap II : Menentukan macam-macam dukungan dari setiap sadel : RB, dukungan mukosa dan gigi Tahap III : Menentukan macam retainer Direct retainer RB : Cangkolan 2 jari pada gigi 5 5 Indirect retainer Perluasan basis pada daerah anterior ( Cingulum ) dan posterior ( retromolar pad ) Tahap IV : Menentukan macam konektor RB : Basis akrilik lingual

F.DESAIN GIGI LEPASAN KERANGKA LOGAM

Rahang Bawah

Keterangan RB : 1.Konektor mayor 2.Konektor minor 3.Elemen Gigi Tiruan 4.Gigi asli 5.Basis 6.Mesio Distal Clasp 7.Ring Clasp 8.Half and half clasp G.TAHAP-TAHAP PEMBUATAN DESAIN KERANGKA LOGAM Tahap I : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (sadel) RB : Klas I Kennedy Tahap II : Menentukan macam-macam dukungan dari setiap sadel : RB, dukungan mukosa dan gigi Tahap III : Menentukan macam retainer Direct Retainer RB : Double Akers clasp pada gigi 5 5 Indirect retainer Lingual bar Tahap IV : Menentukan macam konektor RB : Lingual bar H.SKEMA TAHAP RENCANA PERAWATAN Tahap Klinis Tahap Laboratoris I.Mencetak Anatomis II.Mencetak fisiologis III.Try in base plate akrilik IV.Bite rim RA dan RB try in, chek overbite, overjet,oklusi, estetis, fonetik, retensi, dan stabilisasi. V.Preminari Insertion, Check Oklusi Retensi Stabilisasi Remounting/pemasangan gigi tiruan Instruksi pasien VI.Kontrol, lakukan

Pemeriksaan subyektif Pemeriksaan obyektif Final remounting 1.Pembuatan studi model 2.Sendok cetak individu 3.Pembuatan work model 4.Survey model 5.Membuat cangkolan 6.Pembuatan basis malam 7.Pembuatan basis akrilik 8.Model ditransfer ke articulator 9.Penyusunan gigi anterior atas dan bawah 10.Penyusunan gigi posterior atas dan bawah 11.Proses pembuatan akrilik sampai polis, GTSL siap di pasang IV. PROSEDUR KERJA DAN RENCANA PERAWATAN A.Kunjungan Pertama 1.Anamnesa Indikasi 2.Membuat Studi Model a.Alat : Sendok cetak nomor dua b.Bahan Cetak : Hyidrokoloid Irreversible (alginat) c.Metode Mencetak : Mucostatik Posisi operator : RB : di kanan depan pasien Posisi pasien : RB : pasien duduk tegak dan bidang oklusal sejajar lantai posisi mulut setinggi siku operator. d.Cara mencetak Mula-mula dibuat adonan sesuai dengan perbandingan P/W yaitu 3:1, setelah dicapai konsistensi yang tepat dimasukkan ke dalam sendok cetak dengan merata, kemudian dimasukkan ke dalam mulut pasien dan tekan posisi ke atas atau ke bawah sesuai dengan rahang yang dicetak. Di samping itu dilakukan muscle triming agar bahan cetak mencapai lipatan mukosa. Posisi dipertahankan sampai setting, kemudian sendok dikeluarkan dari mulut dan dibersihkan dari saliva. Hasil cetakan diisi dengan stone gips dan di-boxing.

B.Kunjungan Kedua 1.Membuat work model a.Alat : sendok cetak fisiologis b.Bahan cetak : hyidrokoloid irreversible (alginat) c.Metode mencetak : mucocompresi d.Cara mencetak Rahang Atas : Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok cetak. Posisi operator di samping kanan belakang. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak

ke dalam mulut, sehingga garis tengah sendok cetak berimpit dengan garis median wajah. Setelah posisinya benar sendok cetak ditekan ke atas. Sebelumnya bibir dan pipi penderita diangkat dengan jari telunjuk kiri, sedang jari manis, tengah dan kelingking turut menekan sendok dari posterior ke anterior. Pasien disuruh mengucapkan huruf U dan dibantu dengan trimming. Rahang Bawah : Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok cetak. Pasien dianjurkan untuk membuang air ludah. Posisi operator di samping kanan depan. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, kemudian sendok ditekan ke processus alveolaris. Pasien diinstruksikan untuk menjulur lidah dan mengucapkan huruf U. dilakukan muscle trimming supaya bahan mencapai lipatan mucobuccal. Posisi dipertahankan sampai setting. 2.Pembuatan cangkolan yang akan digunakan untuk retensi gigi tiruan dengan melakukan survey model terlebih dahulu pada gigi yang akan dipakai sebagai tempat cangkolan berada nantinya. 3.Pembuatan basis gigi tiruan dengan menggunakan malam merah yang dibuat sesuai dengan desain gigi tiruan. 4.Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing, polishing. C.Kunjungan Ketiga 1.Try in basis gigi tiruan akrilik dengan cangkolannya. 2.Pembuatan gigitan kerja yang digunakan untuk menetapkan hubungan yang tepat dari model RA dan RB sebelum dipasang di artikulator dengan cara : pada basis gigi tiruan yang telah kita buat tadi ditambahkan dua lapis malam merah dimana ukurannya kita sesuaikan dengan lengkung gigi pasien. Malam merah dilunakkan kemudian pasien diminta mengigit malam tersebut. 3.Pemasangan model RA dan RB pada artikulator dengan memperhatikan relasi gigitan kerja yang telah kita dapatkan tadi. 4.Penyusunan gigi tiruan dimana pada kasus ini akan dipasang gigi posterior maka perlu diperhatikan bentuk dan ukuran gigi yang akan dipasang. Posisi gigi ditentukan oleh kebutuhan untuk mendapatkan oklusi yang memuaskan dengan gigi asli atau gigi tiruan antagonis untuk mendapatkan derajat oklusi yang seimbang. Malam dibentuk sesuai dengan kontur alami prosesus alveolar dan tepi gingiva. 5.Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing, polishing. D.Kunjungan Keempat Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTS lepasan dalam mulut pasien. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain : 1.Part of insertion and part of removement Hambatan pada permukaan gigi atau jaringan yang dijumpai pada saat pemasangan dan pengeluaran gigi tiruan dapat dihilangkan dengan cara pengasahan permukaan gigi tiruan (hanya pada bagian yang perlu saja). 2.Retensi Yaitu kemampuan GTS untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan gigi tiruan ke arah oklusal. Retensi gigi tiruan ujung bebas di dapat dengan cara : a.Retensi fisiologis, diperoleh dari relasi yang erat antara basis gigi tiruan dengan membarana

mukosa di bawahnya. b.Retensi mekanik, diperoleh dari bagian gigi tiruan yang bergesekan dengan struktur anatomi. Retensi mekanik terutama diperoleh dari lengan traumatic yang menempati undercut gigi abutment. 3.Stabilisasi Yaitu perlawanan atau ketahanan GTS terhadap gaya yang menyebabkan perpindahan tempat/gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan berfungsi, misal pada saat mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara menekan bagian depan dan belakang gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergeseran pada saat tes ini. 4.Oklusi Yaitu pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral, dan anteroposterior. caranya dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di bawah gigi atas dan bawah, kemudian pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal terlihat warna yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka dilakukan pengurangan pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective grinding. Pengecekan oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi. Selective grinding yaitu pengrindingan gigi-gigi menurut hukum MUDL (pengurangan bagian mesial gigi RA dan distal RB) dan BULL (pengurangan bagian bukal RA dan lingual RB). Instruksi yang harus disampaikan kepada pasien 1.Mengenai cara pemakaian gigi tiruan tersebut, pasien diminta memakai gigi tiruan tersebut terus menerus selama beberapa waktu agar pasien terbiasa. 2.Kebersihan gigi tiruan dan rongga mulut harus selalu dijaga. Sebelum dipakai sebaiknya gigi tiruan disikat sampai bersih. 3.Pada malam hari atau bila tidak digunakan, protesa dilepas dan direndam dalam air dingin yang bersih agar gigi tiruan tersebut tidak berubah ukurannya. 4.Jangan dipakai untuk makan makanan yang keras dan lengket. 5.Apabila timbul rasa sakit setelah pemasangan pasien harap segera kontrol. 6.Kontrol seminggu berikutnya setelah insersi. E.Kunjungan Kelima Kontrol dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Tindakan yang perlu dilakukan : 1.Pemeriksaan subjektif Pasien ditanya apa ada keluhan rasa sakit atau rasa mengganjal saat pemakaian gigi tiruan tersebut. 2.Pemeriksaan objektif a.Melihat keadaan mulut dan jaringan mulut b.Melihat keadaan GTS lepasan baik pada plat dasar gigi tiruannya maupun pada mukosa di bawahnya. c.Melihat posisi cangkolan. d.Melihat keadaan gigi abutment dan jaringan pendukungnya.

e.Memperhatikan oklusi, retensi, dan stabilisasi gigi tiruan. V.DISKUSI Pasien berusia 46 tahun kehilangan gigi rahang bawah Klas I Kennedy, dengan kehilangan gigi 7 6 dan gigi 6 7 yang akan dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan. Untuk itu perlu dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan rahang bawah sehingga fungsi pengunyahan dapat normal kembali. Sedangkan untuk gigi 8 8 tidak ada, maka tidak diperhitungkan dalam klasifikasi, sehingga tidak perlu digantikan. Dalam membuat gigi tiruan sebagian lepasan perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut: retensi, stabilisasi, oklusi, estetis dan kenyamanan pemakaian. Ditinjau dari segi daerah yang tidak bergigi pada rahang penderita, maka GTS ini disebut dengan GTS lepasan dukungan mukosa dan gigi. GTS yang akan dibuat pada Rahang atas dan rahang bawah adalah GTS kerangka akrilik. Desain pada rahang bawah adalah cangkolan yang digunakan cangkolan dua jari pada gigi 5 5 (dengan diameter klamer 0.7) sehingga didapatkan retensi yang cukup kuat. VI.PROGNOSA Hasil perawatan diperkirakan baik dengan alasan 1.Oral hygiene pasien cukup baik 2.Keadaan jaringan pendukung di dalam rongga mulut baik 3.Kesehatan umum pasien baik 4.Pasien kooperatif dan komunikatif 5.Tidak ada kelainan sistemik 6.Retensi dan stabilisasi VII.KESIMPULAN 1.Untuk mendapatkan GTS yang baik diperlukan perancangan yang tepat dan baik. 2.Pemakaian GTS bertujuan untuk mencegah hal-hal yang timbul akibat hilangnya gigi asli. Selain itu GTS berfungsi dalam pengunyahan, berbicara, estetis pasien akan terpenuhi serta percaya diri. 3.Keberhasilan pemakaian GTS sangat ditentukan kerja sama pasien dalam penggunaan dan perawatan GTS. 4.Jika pasien dapat menjaga dan memelihara kebersihan mulut dan gigi tiruannya maka GTS tersebut dapat bertahan lama. DAFTAR PUSTAKA

Applegate, 1960, Essentials of Removable Partial Denture Prothesis, 2nd edition, W.B. Saunders Co. Philadelphia Haryanto, A.G., 1995, Buku Ajar Ilmu Gigi Tiruan Sebagian Lepasan, Jilid II, Cetakan I, Hipokrates, Jakarta Itjiningsij, 1980, Dental Teknologi, cetakan I, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti,

Jakarta Soelarko, R.M dan Wachijati, H., 1980, Diktat Prostodonsia Gigi Tiruan Sebagian Lepasan, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung Swenson, M.G., dan Terkla, I.G., 1959. Partical Denture, C.V., Mosby Co., St. Louise