Anda di halaman 1dari 5

DRAFT LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN

ACARA II TANGGAPAN BIBIT KAKAO DARI BAGIAN UJUNG, TENGAH, DAN PANGKAL BUAH TERHADAP NAUNGAN

Disusun oleh :

Nama NIM Gol./Kel. Asisten

: Lintang Wijayanti : 11308 : A1/I : 1. Rofiq Fariudin 2. Indah Noorbaiti

LABORATORIUM MANAJEMEN DAN PRODUKSI TANAMAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

ACARA II TANGGAPAN BIBIT KAKAO DARI BAGIAN UJUNG, TENGAH, DAN PANGKAL BUAH TERHADAP NAUNGAN

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Biji yang baik adalah yang berasal dari bagian tengah buah, yaitu 2/3 bagian dari untaian biji. Biji yang terletak di bagian tengah menunjukkan persentase kerusakan dan biji yang tidak tumbuh terkecil serta daya dan panjang kecambah terbesar. Hal ini mungkin disebabkan biji yang terletak di bagian tengah memiliki cadangan makanan yang lebih banyak dan kematangan pertumbuhan yang lebih sempurna (Setiawan, 1993). Tinggi bibit, luas daun, lingkar batang, jumlah stomata, dan aktivitas nitrat reduktase merupakan sifat-sifat pembeda antara bibit kakao yang berproduksi tinggi dan bibit kakao yang berproduksi rendah, sifat-sifat tersebut dapat digunakan sebagai kriteria seleksi (Taufik et al. 2007). Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar. Oleh karena itu dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan. Tanaman penaung yang biasanya digunakan adalah Moghania macrophylla sebagai penaung sementara dan Lamtoro atau Glirisidia sebagai penaung tetap, yang tidak memberikan manfaat ekonomis secara langsung bagi petani, sehingga kurang menarik bagi petani (Hasbi, 2009). Tanaman penaung pada pertanaman kakao berupa naungan sementara dan naungan tetap. Diharapkan tanaman yang digunakan sebagai penaung adalah tanaman produktif yang mempunyai nilai ekonomi sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi petani. Penaung dapat berupa penanung smentara dan tetap. Penaung sementara pisang dibatasi dengan jumlah anakan pisang maksimum dua anak per rumpun. Musnahkan tanaman pisang apabila tanaman kakao sudah mulai berbuah yaitu setelah berumur 4 tahun. Penaung tetap lamtoro dan Glirisidia sp. Saat kakao berumur 4 tahun populasi penaung dikurangi/didongkel sebanyak 25% dan pada umur 5 tahun didongkel lagi sebanyak 25% (Firdausil et al,. 2008). Salah satu faktor lingkungan yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan aktivitas fisiologi tanaman kakao yakni intensitas cahaya matahari yang diterima oleh tanaman. Kebutuhan cahaya matahari (intensitas cahaya matahari) pada tanaman kakao tergantung pada umur tanaman. Pemberian naungan pada tanaman kakao akan

mempengaruhi iklim mikro, khususnya dalam hal penerimaan cahaya matahari, suhu, kelembaban udara, angin, pertumbuhan gulma, dan sruktur tanah. Tanaman kakao membutuhkan tingkat penyinaran yang optimal, hal ini akan berpengaruh terhadap proses fososintesis dan aktivitas stomata (Nasaruddin et al., 2006). Stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan (dalam batas tertentu) dan peningkatan cahaya menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih cepat naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembaban sehingga transpirasi meningkat dan akan mempengaruhi bukaan stomata. Peningkatan suhu dalam batas tertentu akan merangsang bukaan stomata untuk menyerap CO2 ke dalam mesofil daun. CO2 merupakan bahan baku sintesis karbohidrat, kekurangan CO2 akan menyebabkan penurunan laju fotosintesis (Salisbury and Ross, 1995). Adanya naungan dan penyinaran akan mempengaruhi temperatur udara. Pada kondisi udara kontinu 30 C akan mengacaukan sistem hormon sehingga akan kehilangan dominansi apical, kemudian akan tumbuh tunas aksial, daun akan menjadi kecil-kecil pada suhu yang tinggi. Temperatur juga akan mempengaruhi pembungaan, peningkatan suhu akan meningkatkan jumlah bunga (Wood, 1975). Perkembangan Penggerek Buah Kakao (PBK) sangat dipengaruhi oleh curah hujan, kelembaban kebun dengan naungan rapat, dan ketersediaan buah. Sekitar 72% buah kakao dapat menunjang satu generasi, 21% dua generasi, dan 7% tiga generasi. Populasi PBK umumnya rendah pada musin hujan dan serangan tinggi pada kondisi tanaman kakao dengan naungan lengkap. Salah satu cara penanggulannya adalah sanitasi. Sanitasi dapat dilakukan dengan mengurangi naungan yang terlalu rimbun dan memangkas cabang-cabang horizontal merupakan penyederhanaan lingkungan kebun agar tidak disenangi ngengat untuk berlindung (Depparaba, 2002). Optimalisasi lahan perkebunan kakao dapat ditempuh antara lain lewat difersifikasi horisontal pemakaian pohon penaung dan tanaman sela yang produktif. Pohon penaung kakao berfungsi untuk meredam efek negatif faktor-faktor lingkungan yang kurang sesuai (Rhodes, 1983).

B. Tujuan 1. Mengetahui pengaruh kedudukan biji dalam buah terhadap kualitas bibit kakao. 2. Mengetahui pengaruh naungan terhadap pertumbuhan bibit kakao.

II.

METODOLOGI

Praktikum Budidaya Tanaman Tahunan Acara 2, yaitu Tanggapan Bibit Kakao dari Bagian Ujung, Tengah, dan Pangkal Buah terhadap Naungan, dilaksanakan pada Senin, 14 Maret 2011 di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktikum acara ini adalah polybag, cethok, kertas label, dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah bibit kakao pada acara 1, pasir, dan tanah regosol. Cara kerja pada praktikum ini adalah bibit kakao yang telah dikecambahkan dalam peetridish pada acara 1 ditanam pada media tanah sesuai kebutuhan. Percobaan faktorial 2x3 disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan banyak kelompok dalam satu golongan sebagai blok. Faktor pertama adalah kedudukan biji dalam buah (U), dengan 3 aras U1 = ujung, U2 = tengah, dan U3 = pangkal. Faktor kedua adalah naungan (N) dengan 2 aras N0 = tanpa naungan dan N1 = dengan naungan. Dengan demikian diperoleh kombinasi sebagai berikut : Letak biji dalam buah U1 U2 U3 Intensitas Cahaya N0 N1 U1N0 U1N1 U2N0 U2N1 U3N0 U3N1

Keterangan: polibag tanpa naungan diletakkan di atas meja, sedangkan dengan naungan diletakkan di bawah meja. Satu minggu setelah tanam, tinggi bibit diukur dan jumlah daun dihitung. Pengukuran diulang setiap minggu selama empat kali pengamatan. Setelah tanaman dipanen, diamati bobot segar tajuk dan akar, luas daun, serta bobot kering tajuk dan akarnya. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis varians pada = 5 %, dan jika terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT pada = 5 %.

DAFTAR PUSTAKA

Depparaba, F. 2005. Penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) dan penanggulangannya. Jurnal Litbang Pertanian 21 : 69-74. Firdausil, A.B., Nasriati, dan A. Yani. 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Bandar Lampung. Hasbi, H. 2009. Budidaya Tanaman Kakao Persiapan Naungan dan Pangkasan Bentuk. <http://indonesia.ptkpt.net/_g.php?_g=_lhti_forum&Bid=1078>. Diakses tanggal 19 Maret 2011. Nasaruddin, Y. Musa, dan M. A. Kuruseng. 2006. Aktivitas beberapa proses fisiologis tanaman kakao muda di lapang pada berbagai naungan buatan. Jurnal Agrisistem 2 : 26-33. Rhodes, L.H. 1983. Handbook of Plant Cell Culture I: Teqniques for Propagation and Breeding. MacMillan Publishing Co, New York. Salisbury, B.F. and C.W. Ross. 1995. Plant Physiology (Fisiologi Tumbuhan Jilid II, alih bahasa : Diah R. Lukman dan Sumaryono). Penerbit ITB, Bandung. Setiawan, A. I. 1993. Penghijauan dengan Tanaman Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta. Taufik, M., Gustian, Syarif, A., dan Suliansyah, A. 2007. Karakterisasi Penampilan Bibit Kakao Berproduksi Tinggi. Jurnal Akta Agrosia 69 - 70 :1 Wood, G.A.R. 1975. Cocoa. Longman Group Limited, New York.