Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari kata mineral sudah sangat sering kita temui. Akan tetapi bagi masyarakat awam, masih banyak jenis-jenis mineral yang belum diketahui secara detail dan apa saja yang mengandung mineral. Pada dasarnya mineral merupakan kebutuhan tubuh manusia yang mempunyai peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, seperti untuk pengaturan kerja enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam-basa, membantu pembentukan ikatan yang memerlukan mineral seperti

pembentukan haemoglobin. Mineral digolongkan atas mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari, sedangkan mineral mikro dibutuhkan tubuh kurang dari 100 mg sehari. Yang termasuk mineral makro antara lain: natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan sulfur. Sedangkan yang termasuk mineral mikro terdiri atas iodium, flour, tembaga dan besi. (Almatsier, 2004). Selain 2 kelompok tersebut masih ada lagi kelompok unsur kelumit (trace elements), yang dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit. Trace elements ini sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam kelompok mikroelemen Dalam makalah ini penulis ingin membahas lebih dalam lagi tentang mineral. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud mineral? 2. Apa fungsi umum mineral bagi tubuh? 3. Apa saja penyakit akibat kekurangan dan kelebihan mineral tubuh?

1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui definisi mineral. 2. Mengetahui fungsi umum mineral bagi tubuh. 3. Mengetahui penyakit-penyakit yang disebabkan karena kekurangan atau kelebihan mineral.

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Mineral Mineral adalah zat kimia yang terdapat dalam bahan makanan yang diperlukan oleh tubuh kita. (www.desintabioholic.wordpress.com) Berbeda dengan zat makanan lainnya seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral tidak menghasilkan energy. Mineral berfungsi sebagai zat pengatur sehingga proses metabolisme dalam tubuh dapat berjalan normal. Hal ini disebabkan mineral dapat mempengaruhi berbagai proses yang ada didalam tubuh, misalnya ion kalsium atau zat kapur mempegaruhi proses pembekuan darah. Meskipun secara umum mineral bukan merupakan zat pembangun tubuh, tetapi beberapa mineral berperan sebagai zat pembangun tubuh karena dapat mempengaruhi pembentukan rangka, misalnya kalsium dan fosfor. Mineral juga mengatur tekanan osmosis dalam tubuh dan memberi elektrolit untuk kerja otot dan syaraf. Kebutuhan tubuh terhadap berbagai jenis mineral berbeda. Untuk kesehatan dan pertumbuhan yang normal diperlukan mineral yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kekurangan salah satu mineral dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit yang disebut defisiensi mineral.

2.2 Fungsi Umum Mineral Mineral dalam tubuh memiliki 3 fungsi: 1) Mineral merupakan konstituen tulang dan gigi, yang memberikan kekuatan serta inditas kepada jaringan tersebut, misalnya: Fe, P, Mg. 2) Mineral membentuk garam-garam yang dapat larut dan dengan demikian mengendalikan komposisi cairan tubuh. Na dan Cl merupakan unsure penting dalam cairan ekstra seluler dan darah. Fe, Mg dan P merupakan unsure penting dalam cairan intra seluler. 3) Mineral turut membantu enzim dan protein dan merupakan bagian dari asam amino misalnya cysteine. (Agus Krisno Budiyanto, 2001)

2.3 Jenis mineral Mineral merupakan konstituen essensial. Pada jaringan lunak cair dan skeleton mengandung mineral tubuh dalam proporsi yang besar. Berdasarkan jenisnya, mineral dibagi menjadi 2 macam yaitu sebagai berikut: a. Makro mineral ( terdiri dari: kalsium, Mg, P, kalium, sodium(Na), S, Cl ) b. Mikromineral ( terdiri dari : Fe, I, Cu, Co, Se, Zn, F, Cr, Mo, Pb, Cd, Ni, As, Br) (Nur Farida, 2009) 2.4 Sumber dan Fungsi Mineral 2.4.1 Kalsium (Ca) Tubuh orang dewasa yang gizinya baik mengandung 1-1,3 Kg kalsium dan 90% terdapat di tulang dan gigi dalam bentuk garam kompleks. Sumber kalsium adalah susu, ikan, udang, dencis, bayam, keju, es krim, melinjo dan sawi. Kalsium juga dapat diperoleh dalam jumlah yang cukup dari air mineral yang dapat mengandung sampai 50 mg/lt. Kalsium disekresikan lewat urine serta feses dan untuk mencegah kehilangan ini diperlukan kalsium melalui makanan. Kalsium tambahan diperlukan dalam keadaan tertentu seperti pada masa pertumbuhan mulai dari anak-anak hingga usia remaja dan pada saat hamil untuk memenuhi kebutuhan janin. Peranan kalsium tidak saja sebagai pembentukan tulang dan gigi tetapi juga memegang peranan penting pada berbagai peran fisiologik dan biokhemik didalam tubuh, fungsi lain dari kalsium yaitu : a) Dalam cairan jaringan berfungsi untuk pengendalian kerja jantung serta otot skeleton. b) Iritabilitas syaraf otot. c) Proses pembekuan darah (dalam sintesis trombosit) d) Memberikan kekerasan dan ketahanan terhadap pengeroposan. e) Transmisi impuls. f) Relaksasi dan kontraksi. g) Absorbsi dan aktivitas enzim .

h) Memberikan rigiditas terhadap jaringan. i) Bersama fosfor membentuk matriks tulang yang dipengaruhi oleh vitamin D. Tubuh dapat mengalami difisiensi kalsium. Apabila

penyerapannya terganggu seperti pada syndrome metabsorbsi atau sebagai akibat kekurangan vit-D. Diet yang rendah kalsium merupakan factor penyebab defisiensi yang akan menyebabkan penyakit rakhitis pada anak-anak dan osteo malasia (tulang menjadi lunak) pada orang dewasa. Kerusakan sel gigi, apabila bagian tubuh terluka maka darah akan sukar membeku, pengeluaran darah akibat bertambahnya, dan terjadi kekejangan otot. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.2 Fosfor (P) Sumber fosfor diantaranya adalah: daging, ikan, keju, telur, serial, beras giling dan biji-bijian Fungsi fosfor diantaranya adalah: a) Pembentukan tulang dan gigi. b) Untuk pembentukan komponen sel yang esensial. c) Berperan dalam pelepasan energy dari hidrat arang serta lemak. d) Membantu absorbsi hidrat arang dari usus halus. e) Membantu mempertahankan keseimbangan asam/ basa dalam cairan tubuh. Defisiensi fosfor akan terjadi pada peminum minuman

berakohol, pasien ginjal dan pasien yang mendapatkan nutrisi parenteria fosfor. Defisiensi fosfor akan dapat juga menimbulkan gangguan-gangguan yang relative sama seperti unsure Ca. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.3 Besi (Fe) Sumber besi diantaranya adalah telur, daging, ikan, tepung, gandum, roti, sayuran hijau, hati, bayam, kacang-kacangan, kentang, jagung dan otot. Fungsi besi diantaranya adalah: a) Untuk pembentukan hemoglobin baru
5

b) Untuk mengembalikan hemoglobin kepada nilai normalnya setelah terjadi perdarahan. c) Untuk mengimbangi sejumlah kecil zat besi yang secara konstan dikeluarkan oleh tubuh, terutama lewat urine, feses dan keringat. d) Untuk menggantikan kehilangan zat besi lewat darah tubuh. e) Pada laktasi untuk sekresi air susu. Kebutuhan akan zat besi untuk berbagi jenis kelamin dan golongan usia adalah sebagai berikut. a) Untuk laki-laki dewasa b) Wanita yang mengalami haid c) Anak-anak umur 7-10 th d) Anak-anak Umur >10 th e) Orang dewasa 10 mg/hari 12 mg/hari 2,3-3,8 mg/hari 8-15 mg/ hari 10-15 mg/hari

Zat besi yang tidak mencukupi bagi pembentukan sel darah akan mengakibatkan anemia, menurunkan kekebalan individu sehingga sangat peka terhadap serangan bibit penyakit. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.4 Iodium (I) Sumber Iodium diantaranya adalah sayur-sayuran, ikan laut dan rumput laut, air mata air dan garam beriodium. Sedangkan fungsi dari iodium diantaranya adalah: sebagai komponen ensensial tiroksin dan kelenjar tyroid. Tiroksin berperan untuk meningkatkan laju oksidasi dalam sel-sel tubuh sehingga meningkatkan pertumbuhan. Kebutuhan iodium diet, sukar diuji. Defisiensi iodium merupakan keadaan prevalen pada masyarakat dimana masuknya iodium lewat makanan amat rendah atau tidak mencukupi untuk menyembuhkan kasus endemic pada daerah tertentu. Apalagi kondisi ini diperparah dengan teknik penggunaan garam beriodium yang tidak tepat. Iodium merupakan senyawa yang

diketahui pertama kali oleh Bernard Curtois pada tahun 1820. Nama iodium berasal dari bahas yunani Iode yang berarti warna violet.

Kimiawi iodium dalah tubuh baru diketahui pada tahun 1915. Setelah Kendal berhasil mengisolasi senyawa yang mengandungi iodium dalam kelenjar tyrois. Senyawa-senyawa tersebut adalah

monoiodotirosin, ditodotirosin, triodotironin dan tiroksin. Tiroksin merupakan hormone yang mempunyai peranan penting pada proses metabolisme yang terjadi didalam tubuh. Hormon tiroksin mengatur perubahan pro vitamin A menjadi vitamin A didalam hati, merangsang mobilisasi lemak, memacu metabolisme kalsium dan berperan pada metabolisme protein. Secara alami, didalam bahan makanan iodium hanya terdapat dalam jumlah sedikit yaitu hanya beberapa microgram setiap kilogram bahan makanan, kandungan iodium bahan pangan nabati sangat bervariasi tergantung pada tanah tempat tumbuhnya, air dan pupuk yang digunakan. Menurut budiyanto (2001) pemenuhan gizi mikro iodium bertumpu kepada pemanfaatan garam dapur yang telah mengalami fortifikasi Iodium. Garam-garam beriodium mudah didapat ditokotoko kecil. Beberapa produk yang ada di malang misalnya garam merk Bintang mengandung 30-80 ppm Kl03, sedangkan garam merk Kelir Mas mengandung minimal 30 ppm KIO3, garam-garam tersebut telah sesuai dengan standar industry Indonesia. Jika penggunaan garam beriodium tersebut sesuai dengan sifat fisik dan kimia iodium, maka upaya pemenuhan tersebut akan tercapai dengan baik sehingga dapat menurunkan GAKI. Ada 6 model yang mungkin dikembangkan masyarakat dalam rangka pemenuhan gizi mikro iodium, yaitu: a) Menggunakan garam tidak beriodium (uyah grasak, bhs. Jawa) b) Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan dicampur dengan bumbu (saat mengerus), kemudian dimasukkan pada saat memasak makanan. c) Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan sebagian dicampur dengan bumbu(saat mengerus) dan sebagian dimasukkan pada saat memasak makanan.

d) Menggunakan garam beriodium (yang disimpan ) dengan cara menggunakan semua garam yang dibutuhkan dimasukkan pada saat memasak makanan. e) Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan semua garam yang dibutuhkan, dimasukkan pada makanan yang selesai dimasak dan masih panas. f) Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan semua garam yang dibutuhkan dimasukkan pada makanan yang selesai dimasak dan relative sudah dingin. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.5 Flour (F) Sumber flour diantaranya adalah air, makanan dari laut, tanaman, ikan, dan makanan hasil ternak. Sedangkan fungsi flour diantaranya adalah: 1) Untuk pertumbuhan dan pembentukan struktur gigi. 2) Untuk mencegah karies gigi. Kebutuhan fluor antara daerah panas dan daerah yang kurang panas berbeda. Konsentrasi flour optimum pada air minum, kebutuhan untuk daerah sub tropis 1,0-1,2 ppm per hari. Sedangkan untuk

daerah tropis (panas) kebutuhannya sebesar 0,5-0,7 ppm per hari. Apabila kekurangan garam fluoride dapat menyebabkan penyakit gigi (caries). (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.6 Natrium (sodium) Sumber natrium diantaranya adalah keju, ikan asin, udang, sayur-sayuran, bayam, seledri, sereal, buah-buahan, telur, dan daging. Sedangkan fungsi dari natrium diantaranya adalah sebagai berikut: a) Dalam plasma darah dan cairan berperan dalam menyelimuti jaringan. b) Berperan dalam menghasilkan tekanan osmotic yang mengatur pertukaran cairan antara sel dan cairan di sekitarnya. c) Menentukan volume cairan ekstra seluler dan amino.
8

d) Untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. Natrium harus terdapat dalam jumlah yang cukup pada makanan agar kecukupan Na ini dapat terjamin tubuh sendiri dapat mengatur kadar Na tubuh dan mengeluarkan kelebihan Na melalui urine akan tetapi pada penyakit tertentu Na tetap bertahan dalam tubuh dengan jumlah yang berlebihan, pada keadaan ini diperlukan pembatasan masukan Na. Ekresi Na terutama terjadi lewat urine dan air penuh dalam keadaan normal kandungan Na tubuh dipertahankan oleh sinyal pada kadar yang selalu tetap. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.7 Kalium Sumber kalium diantaranya adalah bekatul, tetes (molase), khamir, cokelat dan kopi. Sedangkan fungsi kalium diantaranya adalah sebagai berikut: a) Digunakan sebagai indeks untuk lean body mass (bagian badan tanpa lemak) b) Membantu menjaga tekanan osmotic. c) Membantu mengaktifkan reaksi enzim. Kebutuhan kalium perhari sekitar 2-6 gr. Konsumsi kalium yang tinggi dengan perbandingan kalium nitrogen 6:1 sedangkan pada orang normal 4:1 dan jumlah kalium yang dikonsumsi setiap hari sekitar 100 mg. Kekurangan kalium menyebabkan pelunakan otot, sakit hati, cirehoos terlalu banyak muntah-muntah, luka bakar dan kurang kalori. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.8 Klor Sumber dari khlor diantaranya adalah garam, keju, ikan, udang, bayam dan seledri. Sedangkan fungsi dari khlor diantaranya adalah sebagai berikut: a) Activator amylase dan pembentukan Hcl lambung. b) Mengaktifkan enzim amylase dalam mulut untuk memecahkan pati dalam mulut.

c) Membantu menjaga tekanan osmotic. Kekurangan khlor akan menyebabkan diare (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.9 Magnesium Sumber dari magnesium diantaranya adalah sayur-sayuran hijau, kedelai dan kecipir. Sedangkan fungsi dari magnesium adalah sebagai berikut: a) Sebagai activator enzim peptidase dan enzim lain yang memecah gugus. b) Phospat. c) Sebagai obat pencuci perut. d) Meningkatkan tekanan osmotic. e) Membantu mengurangi getaran otot. Orang dewasa pria membutuhkan magnesium sebanyak 350 mg/hari dan untuk wanita dewasa membutuhkan magnesium 300 mg/ hari. Jika terjadi defisiensi, maka dapat menimbulkan gangguan metabolic, insomnia, kejang, kaki serta telapak kaki dan tangan gemetar. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.10 Tembaga Sumber utama dari tembaga adalah susu dan sereal. Sedangkan fungsi dari tembaga adalah berperan dalam kegiatan enzim pernafasan sebagai kofaktor bagi enzim tironase sitrokomoksidase. Disamping itu tembaga juga berfungsi untuk mempercepat kesembuhan anemia pada bayi. Kebutuhan Cu rata-rata adalah 100-150 mg per hari. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.11 Zinc Sumber utama zinc adalah daging, unggas, telur, ikan, susu, keju, hati, lembaga gandum, ragi dan selada, roti dan kacangkacangan. Sedangkan fungsi zinc diantaranya adalah sebagai berikut a) Meningkatkan keaktifan enzim lainnya.

10

b) Meningkatkan pertumbuhan. c) Kebutuhan Zn adalah 15 mg bagi anak usia 11 th, untuk dewasa diet 12-20 mg Zn. Jika terjadi defisiensi, maka menyebabkan kegagalan pertumbuhan dan gangguan kesembuhan luka. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.12 Kobalt Merupakan koostifuen vitamin b12 yang diperlukan bagi perkembangan normal sel-sel darah merah. Sumber utamanya adalah vitamin B12, B1, dan sayuran berdaun hijau. Kobalt mempunyai fungsi untuk keseimbangan tubuh ruminansia. Kebutuhan co untuk anak gadis 7,7 mg dan yang lain sebanyak 15 mg. (Agus Krisno Budiyanto, 2001) 2.4.13 Kromium Sumber kromium terbaik adalah bahan pangan nabati. Kandungan kromium dalam tanaman tergantung pada jenis tanaman, kandungan kromium tanah, dan musim. Kandungan kromium dalam sayuran sekitar 30ppm, sedangkan pada buah-buahan sekitar 20ppm. Buah dan sayuran yang banyak mengandung kromium adalah kentang, cabai hijau, apel, pisang, bayam, wortel, dan jeruk. Kromium dibutuhkan dalam metabolism karbohidrat dan lemak. Bersama insulin, kromium berfungsi untuk memudahkan masuknya glukosa kedalam sel. (Emma, 2007) 2.4.14 Sulfur Bahan pangan yang banyak mengandung sulfur antara lain kacang-kacangan bawang putih, bawang bombai, dan kubis-kubisan. Sulfur diabsorpsi sebagai bagian dari asam amino atau sebagai sulfat organic. Sulfur juga merupakan bagian dari gluthathione serta berbagai koenzim dan vitamin, termasuk koenzim A. Fungsi sulfur antara lain membantu menjaga keseimbangan oksigen untuk fungsi otak. Selain itu sulfur bersama-sama dengan vitamin B kompleks

11

membantu memperlancar metabolism dalam tubuh dan membantu melawan infeksi akibat bakteri. (Emma, 2007) 2.4.15 Boron Boron dapat diperoleh dari bahan pangan seperti jamur, kacangkacangan, dan asparagus. Boron mempunyai efek positif terhadap pencegahan osteoporosis dan osteortritis dengan cara meningkatkan penggunaan kalsium dan magnesium. Fungsi boron tersebut bersifat sinergis dengan vitamin D. Terdapat indikasi spesifik antara boron dengan vitamin D dalam memperkuat tulang. Boron diduga dapat membantu memelihara fungsi otak dan kecepatan penyampaian fungsi syaraf. Selain itu boron juga mempunyai mekanisme kerja yang berhubungan dengan fungsi membrane sel syaraf serta terbukti memiliki aktivitas antiinflamasi (antiperadangan). Aktifitasnya sangat signifikan terutama untuk pencegahan penyakit peradangan seperti rematoid, arthritis, dan asma. (Emma, 2007) 2.4.16 Mangan (Mn) Mangan banyak terdapat pada kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau, bit, dan gandum. Mangan berperan sebagai sebagai kofaktor berbagai enzim yang membantu bermacam proses

metabolism. Enzim yang berkaitan dengan mangan berperan dalam sintesis ureum, pembentukan jaringan ikat dan tulang, serta pencegah peroksidasi lemak oleh radikal bebas. Mangan juga berperan dalam pengontrolan gula darah, metabolism energy, fungsi hormone tiroid, fungsi otak dan untuk pengontrol neurotransmitter. (Emma, 2007) 2.4.17 Molibdenum (Mo) Makanan yang mengandung molybdenum antara lain kembang kol, kacang polong, bayam, bawang putih, jagung, kentang, bawang bombay, kacang tanah, semangka, wortel dan kubis. Molibdeum

12

bekerja sebagai kofaktor berbagi enzim, mengkatalis reaksi oksidasi reduksi, penawar racun alcohol, metabolism sulfur, dan mencegah anemia. Komposisi yang dianggap aman adalah sebayak 75-250 g sehari untuk orang dewasa dan 15-20 g sehari untuk anak-anak. Konsumsi berlebihan di hubungkan dengan sindroma mirip penyakit gout, disertai peningkatan nilai molibden, asam urat dan oksidase xantin di dalam darah. Komsumsi sampai 0,54 mg sehari dapat

menyebabkan kehilangan tembaga melalui urin. (Emma, 2007) 2.4.18 Selenium (Se) Sumber pangan yang banyak mengandung selenium antara lain bawang, tomat, brokoli, kubis dan gandum. Selenium bekerja sama dengan vitamin E berperan sebagai antioksidan dalam sintesis enzim. Disamping, selenium juga berperan mencegah terjadinya serangan radikal bebas, melindungi membrab dari kerusakan oksidatif, membantu reaksi oksigen dan hydrogen pada tahap akhir rantai metabolism, serta membantu immunoglobulin sebagai kekebalan tubuh. (Emma, 2007)

2.5 Metabolisme Mineral-Mineral Tubuh 2.5.1 Kalsium Kalsium, salah satu ion tubuh yang paling banyak, terutama dikombinasi dengan fosfor untuk membentuk garam mineral dari tulang dan gigi. Selain itu kalsium merupakan efek sedative pada selsel saraf dan mempunyai fungsi intraseluler penting, termasuk pembentukan potensial aksi jantung dan kontraksi otot. Kurang dari 1% dari kalsium tubuh dikandung dalam cairan ekstraseluler (CES), konsentrasi ini diatur secara cermat oleh hormone paratiroid dan kalsitonin. Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid dalam respon terhadap kadar kalsium serum rendah. Ini meningkatkan

13

resorpsi tulang (gerakan kalsium dan fosfor keluar tulang) mengaktivasi vitamin D, yang meningkatkan absorpsi kalsium dari saluran GI dan merangsang ginjal untuk menyimpan kalsium dan mengekskresikan fosfor. Kalsitonin dihasilkan oleh kelenjar tiroid bila kadar kalsium serum meningkat. Ini menghambat resorpsi tulang. CES meningkatkan kalsium dari absorpsi usus terhadap diet kalsium dan resorpsi tulang. Kalsium hilang dari CES melalui sekresi kedalam saluran ginjal, eksresi urine, dan deposisi dalam tulang dan jumlah sedikit dalam keringat. Kalsium terdapat dalam 3 bentuk yang berbeda dalam plasma, yaitu terionisasi, berikatan dan kompleks. Kira-kira setengah dari kalsium plasma adalah bebas, kalsium terionisasi. Sedikit lebih rendah dari setengah kalsium plasma berikatan dengan protein, teutama albumin. Sisanya diikat dengan anion nonprotein seperti fosfat, sitrat, dan karbonat. Hanya kalsium yang terionisasi yang penting secara fisiologis. Presentasi kalsium yang terionisasi dipengaruhi oleh pH plasma, fosfor dan kadar albumin. Karenanya factor ini harus dipertimbangkan bila mengevaluasi kadar kalsium total. Hubungan diantara kalsium terionisasi dan pH plasma adalah resiprokal yakni peningkatan pada pH menurunkan presentasi kalsium yang terionisasi. Pasien dengan alkalosis (peningkatan pH), sebagai contoh dapat menunjukkan tanda hipokalsemia meskipun kadar kalsium total normal (berikatan, kompleks dan terionisasi). Hubungan antara fosfor plasma dan kalsium terionisasi juga resiprokal. Perubahan pada kadar albumin plasma akan mempengaruhi kadar kalsium serum total tanpa mengubah kadar kalsium bebas. Pada hipoalbunemia lebih sedikit protein tersedia untuk berikatan dengan kalsium dan kadar kalsium total turun. Namun, kadar kalsium terionisasi tak berubah. Hipoklasemia Hipokalsemia simtomastik dapat terjadi karena reduksi kalsium total tubuh atau reduksi presentasi kalsium terionisasi. Kadar kalsium

14

total mungkin menurun karena peningkatan kehilangan kalsium, penurunan masukan sekunder terhadap perubahan absorpsi usus, atau perubahan pengaturan (mis. Hipoparatiroidisme). Peningkatan kadar fosfor dan penurunan kadar magnesium dapat mencetuskan

hipokalsemia. Kalsium dan fosfor mempunyai hubungan resiprokal yaitu saat salah satu meningkat, yang lain cenderung menurun. Hipomagnesemia dapat menyebabkan hipokalsemia Karena

penurunan kerja hormone paratiroid. Hiperkalsemia Hiperkalsemia simtomatik dapat terjadi karena peningkatan dalam kalsium serum total atau peningkatan pada presentase kalsium bebas dan terionisasi. Bila hiperkalsemia disertai kadar fosfor serum normal atau meningkat, kalsium fosfat kristal dapat terbentuk didalam serum dan disimpan pada seluruh tubuh. Klasifikasi jaringan lunak biasanya terjadi bila produk (mis. Kalsium X fosfor) dari kalsium serum dan kelebihan fosfor serum 70 mg/dl. (Horne & swearing, 2000) 2.5.2 Fosfor Fosfor adalah anion utama dari cairan intraseluler (CIS). Kirakira 85% fosfor tubuh terdapat didalam tulang dan gigi, 14% adalah jaringan lunak, dan kurang dari 1% adalah cairan ekstaseluler (CES). Karena simpanan intraseluler besar, pada kondisi akut tertentu , fosfor dapat bergerak kedalam atau keluar sel, menyebabkan perubahan daramatik pada fosfor plasma. Secara kronis peningkatan substansial atau penurunan dapat terjadi dalam kadar fosfor intraseluler tanpa perubahan kadar bermakna. Jadi, kadar fosfor plasma tidak selalu menunjukkan kadar intraseluler. Meskipun kebanyakan laboratorium dan laporan elemen fofor, hampir semua fosfor yang ada dalam tubuh dalam bentuk fosfst (PO43-) dan istilah fosfor dan fosfat sering digunakan secara bertukaran. Fosfor adalah senyawa penting dari semua jaringan tubuh dan mempunyai variasi luas dalam fungsi vital, termasuk pembentukan

15

substansi penyimpangan energy (mis. Adenosine trifosfat (ATP)) pembentukan sel darah merah 2,3 difosfogliserat (DPG), yang memudahkan pengiriman oksigen ke jaringan-jaringan; metabolism karbohidrat, protein dan lemak; dan memelihara keseimbangan asambasa. Selain itu fosfor penting untuk saraf normal dan fungsi otot dan memberi struktur penyongkong untuk tulang dan gigi. Kadar PO43plasma bervariasi seuai dengan usia, dengan pengecualian sedikit peningkatan pada PO43- wanita setelah menopause. Makanan yang mengandung glukosa, insulin, atau gula menyebabkan penurunan sementara pada PO43- karena perpindahan PO43- serum kedalam selsel. Status asam-basa juga akan mempengaruhi keseimbangan fosfor. Alkalosis, terutama alkalosis pernafasan, dapat menyebabkan fostanemia karena perpindahan fosfor intraseluler. Mekanisme pasti untuk perpindahan ini tidak sepenuhnya dipahami tetapi mungkin berhubungan dengan glikolisis seluler karena alkalosis dengan peningkatan pembentukan metabolic mengandung fosfor sedang. Asidosis respiratori dapat menyebabkan perpindahan fosfor keluar dari sel-sel dan memperberat hiperfosfatemia. Kadar fosfat CES diatur oleh kombinasi faktor-faktor, termasuk masukan diet, absorpsi usus, ekresi ginjal, dan secara hormonal terikat secara erat pada kalsium. Rentang normal untuk fosfor serum 2,5-4,5 mg/dl (1,7-2,6 mEq/L) Hipofosfatemia Hipofosfatemia (fosfor serum <2,5 mg/dl) dapat terjadi karena perpindahan intraseluler sementara, peningkat kehilangan urine, penurunan absorpsi usus, atau peningkatan penggunaan. Kekurangan fosfor berat, dapat terjadi pada alkoholisme, khususnya selama penghentian akut, karena masukan kurang, muntah dan diare, hiperventilasi, penggunaan antisida berikatan fosfor, dan peningkatan kehilangan urine. Selain itu kombinasi factor-faktor dapat

menimbulkan hipofostemia pada ketoasidosis diabetic (KAD). Pada

16

KAD terdapat kehilangan fosfor bermakna dalam urine sekunder terhadap dieresis osmotic karena glukosa. Terjadinya hipofostemia ini tersamar, namun dengan gerakan fosfor keluar dari sel karena peningkatan katabolisme jaringan (kerusakan seluler). Bila

ketoasidosis diatasi dengan glukosa, insulin dan cairan, terdapat perpindahan dramatis dari fosfor kembali kedalam sel-sel dan adanya kekurangan fosfor kemudian menjadi tampak. Hiperfosfatemia Hiperfosfatemia terjadi paling sering pada adanya insufisiensi ginjal karena penurunan kemampuan ginjal untuk mengekskresikan kelebihan fosfor. Selain gagal ginjal penyebab lain dari

hiperfosfatemia meliputi peningkatan fosfat, perpindahan ekstraseluler (mis. Gerakan fosfor keluar dan kedalam CES), destruksi selular dengan pelepasan fosfor intraselular berlebihan, dan penurunan kehilangan melalui urine yang tak berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal. Saat kadar fosfor serum meningkat , kadar kalsium serum sering turun, yang dapat menyebabkan hipokalsemia. Hipokalsemia paling sering terjadi tiba-tiba, hiperfosfatemia berat (mis. Setelah pemberian fosfat VI) atau bila pasien telah cenderung hipokalsemia (mis. Pada gagal ginjal kronis). Komplikasi utama dari hiperfosfatemia adalah klasifikasi metastatic (mis.presipitasi dari kalsium fosfat pada jaringan lunak, sendi dan arteri) Presipitasi kalsium fosfat terjadi bila produk kalsium fosfat (kalsium x fosfor) melebihi 70 mg/dl. Hiperfosfatemia kronis pada pasien dengan gagal ginjal kronis dapat memperberat terjadinya osteodistrofi ginjal. (Horne & swearing, 2000) 2.5.3 Zat Besi Jumlah zat besi di dalam tubuh orang dewasa sehat adalah lebih kurang sebanyak 4 gram. Sebagian besar yaitu 2,5 gram berada di dalam sel-sel darah merah atau hemoglobin. Zat besi yang terdapat di dalam pigmen pada otot disebut myoglobin yang berfungsi untuk

17

menangkap dan memberikan oksigen. Enzim intraselluler yang disebut phorphyrin juga mengandung zat besi. Enzim lain yang terpenting diantaranya adalah cytochrome yang selalu banyak terdapat di dalam sel. Pada orang yang sehat, sebagian zat besi yaitu lebih kurang 1 gram disimpan didalam hati yang berikatan dengan protein yang disebut ferritin. Didalam tubuh zat besi mempunyai fungsi yang berhubungan dengan pengangkutan, penyimpanan dan pemanfaatan oksigen yang berada dalam bentuk hemoglobin. myoglobin atau cytochrome. Untuk memenuhi kebutuhan guna pembentukan hemoglobin. sebagian besar zat besi yang berasal dari pemecahan sel darah akan dimanfaatkan kembali. Kemudian baru kekurangannya harus dipenuhi dan diperoleh melalui makanan. Keseimbangan zat besi di dalam tubuh perlu dipertahankan yaitu jumlah zat besi yang dikeluarkan dari tubuh sama dengan jumlah zat besi yang diperoleh tubuh dari makanan. Bila zat besi dari makanan tidak mencukupi, maka dalam waktu lama akan mengakibatkan anemia. Sel-sel darah merah berumur 120 hari. Jadi sesudah 120 hari sel-sel darah merah mati dan diganti dengan yang baru. Proses penggantian sel darah merah dengan sel-sel darah merah baru disebut turn over. Setiap hari turn over zat besi ini berjumlah 35 mg, tetapi tidak semuanya harus didapatkan dari makanan. Sebagian besar yaitu sebanyak 34 mg didapat dari penghancuran sel-sel darah merah yang tua, yang kemudian disaring oleh tubuh untuk dapat dipergunakan lagi oleh sumsum tulang untuk pembentukan sel-sel darah merah baru. Hanya 1 mg zat besi dari penghancuran sel-sel darah merah tua yang dikeluarkan oleh tubuh melalui kulit, saluran pencernaan dan air kencing. Jumlah zat besi yang hilang lewat jalur ini disebut sebagai kehilangan basal.

18

2.5.4 Iodium Satu-satunya fungsi iodium yang diketahui dalam tubuh adalah untuk sintesis hormone tiroid yang berlangsung didalam kelenjar tyroid. Hormon ini memainkan peranan yang penting dalam pengaturan metabolisme. Iodium diabsorpsi dengan cepat dari dalam usus dan kemudian diedarkan melalui sirkulasi darah dalam bentuk senyawa iodide anorganik plasma (PIL: plasma inorganic iodide). Dari sirkulasi ini, sel-sel kelenjar tiroid mengambil senyawa iodide tersebut melalui pompa iodium (sodium/iodine symporter) di bawah pengendalian TSH yang dilepas oleh kelenjar hipofisis. Mekanisme ini merupakan mekanisme transportasi aktif yang mempertahankan gradien 100:1 antara sel-sel kelenjar tiroid dan cairan ekstrasel. Gradien ini dapat meningkat menjadi 400:1 pada keadaan defisiensi iodium. Dari 15-20 mg iodium didalam tubuh, 70-80% ditemukan dalam kelenjar tiroid. Setelah diambil oleh sel-sel kelenjar tiroid, iodium dilepaskan kedalam koloid kelenjar tiroid dan ditempat ini, iodium dioksidasi oleh hydrogen peroksida yang berasal dari system peroksidase tiroid. Kemudian senyawa iodide disatukan kedalam molekul tirosin dari triglobulin untuk membentuk monoiidotirosin (MIT) dan diiodotirosin (DIT). Jika sebuah molekul DIT terangkai dengan molekul DIT yang lain, terbentuklah tetraiodotirosin atau tirosin (T4), dan jika yang dirangkai itu adalah MIT dan DIT, terbentuklah triiodotironin (T3). Tiroglobulin kemudian diambil oleh sel-sel kelenjar tiroid melalui sebuah proses yang dikenal sebagai pinositosis. Dalam sel-sel kelenjar tiroid, hormone T3 dan T4 dilepas dari kelenjar tiroid tersebut melalui proses proteolisis. Sekresi T3 dan T4 dari kelenjar tiroid berlangsung dibawah pengaruh TSH, yang sekresinya distimulasi oleh thyrotropinreleasing hormone (TRH) dari hipotalamus. Ada suatu mekanisme umpan-balik (feedback mechanism) ketika kadar T4 yang meningkat akan menghambat secara langsung sekresi TSH dan melawan kerja TRH. Jadi ketika kadar T4 dalam darah menurun, sekresi TSH akan

19

meningkat dan begitu pula sebaliknya. Pada defisiensi iodium yang berat, hormone T4 tetap rendah dan TSH meninggi, gambaran T4 yang rendah dan TSH yang tinggi mengindikasikan hipotiroidisme. Kenaikan TSH dapat disebabkan oleh defisiensi iodium atau terjadi karena kacacatan konginetal pada sintesis tiroksin yang insidensnya adalah 1:4000 kelahiran. Peningkatan kadar TSH pada keadaan defidiensi iodium menstimulasi aktivitas sel-sel kelenjar tiroid sehingga terjadi hipertrofi dan hyperplasia sel-sel tiroid adan menghasilkan pembesaran kelenjar tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid ini dinamakan goiter atau penyakit gondok. Jika pasokan iodium kedalam kelenjar tiroid sangat terbatas, kelenjar tersebut akan memproduksi lebih banyak T3 (yang bekerja lebih aktif daripada T4) sementara produksi T4 menjadi lebih sedikit. Jika kadar T4 rendah, jaringan sasaran (target tissue) juga mengubah T4 menjadi T3. Kendati demikian perlu dicatat bahwa otak hanya dapat mengambil T4 dan bukan T3 sehingga fungsi otak akan terpengaruh jika kadar T4 rendah sekalipun kadar T3 mungkin cukup untuk melaksanakan fungsi hormone tiroid pada organ serta jaringan tubuh yang lain. Jika pasokan iodium pada kelenjar tiroid sangat terbatas, maka kelenjar tersebut akan melepaskan triglobulim kedalam sirkulasi darah yang sebagian diantaranya tidak mengandung hormone tiroid (T3 atau T4). Dengan demikian kenaikan kadar tiroglobulin akan menjadi calon indicator untuk menunjukkan defisiensi iodium yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sesudah usia kehamilan 12 minggu, terbentuk kelenjar tiroid dan hipofisis yang masing-masing bertanggung jawab atas produksi T4 dan TSH. Hipotalamus yang bertanggung jawab atas produksi TRH terbentuj pada usia kehamilan antara ke-10 dan ke-30. Jadi, hingga usia kehamilan sekitar 20 minggu, janin akan bergantung pada ibu untuk mendapatkan pasokan T4. Sesudah masa ini, janin akan memproduksi TSHnya sendiri yang dapat menstimulasi produksi T4 dalam tubuh janin. Kadar terbentuknya T3 yang normal masih rendah

20

karena keberadaan enzim 5-deiodinase (tipe III dan ID-III) mengakibatkan pembentukan reserve T3. (reserve T3 kurang mengandung atom iodium pada cincin bagian dalam molekul tersebut sehingga berbeda dengan bentuk T3 normal yang kekurangan atom iodium pada cincin bagian luarnya. Reserve T3 merupakan hormone inaktif sementara T3 yang normal bekerja lebih aktif daripada T4). Sesaat sebelum bayi lahir terjadi perubahan system enzim, yaitu dari ID-III menjadi 5-deiodinase.(deiodinase tipe I atau ID-I) yang memproduksi bentuk T3 yang normal. (Michael et. All, 2008) 2.5.5 Flour Cara kerja fluor adalah dengan cara menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksi apatit pada enamel menjadi fluor apatit. Fluor ini sangat penting untuk pemeliharaan gigi agar tetap sehat, terutama pada anak-anak, karena dengan jumlah fluor yang masuk akan dapat membantu pembentukan enamel gigi yang lebih tahan terhadap kerusakan. Di samping itu, fluor juga bermanfaat untuk mencegah proses pembusukan gigi dan diyakini secara luas sebagai pencegahan karies gigi. Reaksi kimia : Ca10(PO4)6.(OH)2 +F Ca10(PO4)6.(OHF)

menghasilkan enamel yang lebih tahan terhadap asam sehingga dapat menghambat proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi yang merangsang perbaikan dan penyembuhan lesi karies. 2.5.6 Natrium Natrium memainkan peranan penting dalam mempertahankan konsentrasi dan volume cairan ekstraseluler (CES). Ini adalah kation utama dari CES dan determinan utama dari osmolalitas CES. Dalam kondisi normal, osmolalitas CES dapat diperkirakan dengan mengalikan nilai natrium normal. Ketidakseimbangan natrium biasanya berikatan dengan perubahan sejajar pada osmolalitas. Natrium penting dalam mempertahankan kepekaan dan konduksi dari
21

saraf

dan

jaringan

otot

dan

membantu

dalam

pengaturan

keseimbangan asam-basa. Rata-rata masukan natrium setiap hari jauh melebihi kebutuhan normal tubuh setiap hari. Ginjal bertanggung jawab untuk mengekskresikan kelebihan dan dapat menyimpan natrium selama periode pembatasan natrium eksterm. Konsentrasi natrium

dipertahankan melalui pengaturan masukan dan eksresi cairan. Bila konsentrasi natrium serum menurun (hiponatremia), ginjal

bertanggung jawab dengan mengeluarkan air. Sebaliknya jika konsentrasi natrium meningkat (hipernatremia), osmolalitas serum meningkat, merangsang pusat haus dan menyebabkan peningkatan hormone antidiuretik (ADH) oleh kelenjar hipofisis posterior. ADH bekerja pada ginjal untuk menyimpan air. Hormon kortikal adrenal, aldosteron adalah pengatur natrium dan volume CES yang penting. Pelepasan aldosteron menyebabkan ginjal menyimpan natrium dan air, sehingga meningkatkan volume CES. Karena perubahan pada kadar natrium serum secara khas menunjukkan perubahan pada

keseimbangan air, penambahan atau penurunan natrium tubuh total tidak selalu ditunjukkan oleh kadar natrium serum. Natrium serum normal 137-147 mEq/L. Hiponatremia Hiponatremia (natrium serum<137 mEq/L) dapat terjadi karena penambahan air atau penurunan cairan kaya natrium yang digantikan oleh air. Indikator klinis dan tindakan tergantung pada penyebab hiponatremia dan apakah atau tidak ada hubungan dengan volume CES yang normal, menurun atau meningkat. Hipernatremia Hipernatremia (kadar natrium>147 mEq/L) dapat terjadi pada kehilangan air, kekurangan air dan penambahan natrium. Karena natrium adalah determinan utama dari osmolalitas CES, hipernatremia selalu menyebabkan hipertonisitas. Selanjutnya hipertonisitas

22

menyebabkan perpindahan air keluar dari sel, yang menimbulkan dehidrasi seluler. (Horne & swearing, 2000) 2.5.7 Kalium Kalium adalah kation intraselular utama, dan memainkan peran penting pada metabolisme sel. Kalium dalam jumlah yang relatif kecil (kira-kira 2%) terletak dalam cairan ekstraselular (CES) dan dipertahankan dalam batasan sempit. Bagian terbanyak dari kalium tubuh terletak dalam sel. Karena rasio kalium CIS terhadap CES membatu menentukan potensial istirahat membran saraf dan sel otot, perubahan pada kadar kalium plasma dapat mempengaruhi fungsi neuromuskular dan jantung. Distribusi kalium diantara CES dan cairan intraselular (CIS) dipengaruhi oleh pH CES, serta oleh banyak hormon, termasuk insulin, epinefrin, dan aldosteron. Peningkatan pada hormon ini menyebabkan peningkatan perpindahan kalium ke dalam sel-sel. Perubahan akut pada pH serum disertai dengan perubahan resiprokal pada konsentrasi kalium serum. Pada asidosis, sebagai contoh, kelebihan ion-ion hidrogen bergerak ke dalam sel-sel untuk buffer. Untuk mempertahankan listrik netral dalam sel, ion positif lain (mis, kalium) harus dikeluarkan. Pada alkalosis yang sebaliknya terjadi. Ion hidrogen pindah keluar sel dan ion kalium pindah untuk menggantikannya. Tubuh menambah kalium melalui makanan (terutama daging, buah, dan sayuran) dan obat-obatan. Selain itu, CES menambah kalium kapan saja terdapat kerusakan sel-sel (katabolisme jaringan) atau gerakan kalium keluar sel. Namun, peningkatan kadar kalium serum biasanya tidak terjadi kecuali terdapat penurunan yang bersamaan dengan fungsi ginjal. Kalium hilang dari tubuh melalui ginjal, saluran GI, dan kulit. Kalium dapat hilang dari CES karena perpindahan intraselular atau anabolisme jaringan.

23

Ginjal adalah pengaturan utama keseimbangan kalium. Kalium melakukan ini dengan mengatur jumlah kalium yang dieskresikan dalam urine. Saat kadar kalium meningkat setelah kelebihan kalium, maka terjadi juga pada sel tubulus ginjal. Ini membuat gradien konsentrasi gerakan kalium ke dalam tubulus ginjal pada kehilangan kalium dalam urine. Adanya aldosteron juga meningkatkan ekskresi kalium. Jadi, kondisi yang meningkatkan kadar aldosteron (mis, pemberian kortikosteroid atau stres pascabedah) dapat meningkatkan ekskresi kalium urine. Ginjal tak mampu untuk menyimpan kalium sekuat natrium dan jumlah bermakna dari kalium masih mungkin hilang dalam urine pada adanya kekurangan kalium. Kalium serum normal 3,5-5,0 mEq/L. Hipokalemia Hipokalemia terjadi karena kehilangan kalium dari tubuh atau gerakan kalium ke dalam sel-sel dan jarang karena ketidakadekuatan masukan saja. Catatan: Perubahan pada kadar kalium serum menunjukkan perubahan pada kalium CES, bukan selalu perubahan pada kadar total tubuh. Hiperkalemia Hiperkalemia (kadar kalium serum> 5,0 mEq/L) terjadi karena peningkatan masukan kalium, penurunan eksresi urine terhadap kalium, atau gerkan kalium keluar dari sel-sel. Catatan: perubahan pada kadar kalium serum menunjukkan perubahan pada kalium CES, tidak selalu perubahan pada kadar tubuh total. Pada ketoasidosis diabetic, sebagai contoh kalium dalam jumlah besar dapat hilang pada urine karena dieresis osmotic akibat glukosa. Meskipun terdapat penurunan bermakna pada kadar kalium total tubuh, pasien pada awalnya tampak normal atau kalium meningkat. Ini terjadi karena perpindahan kalium keluar dari sel-sel sekunder terhadap asidosis, kurang insulin dan peningkatan katabolisme jaringan. (Horne & swearing, 2000)

24

2.5.8

Klor Klor digunakan tubuh kita untuk membentuk HCl atau asam

klorida pada lambung. HCl memiliki kegunaan membunuh kuman bibit penyakit dalam lambung dan juga mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Klor juga dapat membahayakan sistem pernafasan terutama bagi anak-anak dan orang dewasa. Dalam wujud gas, klor merusak membran mukus dan dalam wujud cair dapat menghancurkan kulit. Tingkat klorida sering naik turun bersama dengan tingkat natrium. Ini karena natrium klorida, atau garam, adalah bagian utama dalam darah. Keseimbangan asam-basa dalam serum darah harus terjaga agar setiap organ tubuh bisa menjalankan tugasnya. Jika derajat keasaman (pH) tidak seimbang, misalnya terlalu asam atau terlalu basa, mineral tertentu akan mudah mengendap. Ini bisa mengakibatkan

pembentukan batu ginjal, endapan asam urat pada persendian, dan lain-lain. Darah mengandung 0,9 persen NaCI. Manusia memerlukan sekitar 200-500 mg natrium setiap hari untuk menjaga kadar garam dalam darah agar tetap normal, sehingga tubuh tetap sehat. Natrium juga penting untuk fungsi otot dan syaraf. 2.5.9 Magnesium Magnesium adalah kation tubuh keempat terbanyak, namun pengukuran serta evaluasinya sering terabaikan. Magnesium tubuh, kira-kira 50-60% terletak dalam tulang dan kira-kira 1% terletak di cairan ekstraselular(CES). Sisa magnesium terletak dalam sel, dengan demikian merupakan kation intraselular paling banyak kedua setelah kalium. Magnesium diatur oleh berbagai faktor, termasuk absorpsi gastrointestinal yang di kontrol vitamin D dan ekskresi ginjal. Secara normal, hanya kira kira 30-40% diet magnesium diabsorbsi. Ekskresi ginjal terhadap perubahan perubahan magnesium untuk mempertahankan keseimbangan magnesium dan di pengaruhi oleh ekskresi natrium dan kalsium, volume CES, serta adanya hormon

25

paratiroid (PTH). Ekskresi ini menurun dengan PTH, penurunan ekskresi natrium atau kalsium, kekurangan volume cairan. Karena magnesium adalah ion utama intraselular, ia memainkan peranan vital pada fungsi selular normal. Secara khusus magnesium mengaktivasi enzim yang terlibat di dalam metabolisme karbohidrat dan protein, dan mencetuskan pompa natrium-kalium, sehingga mempengaruhi kadar kalium intrase. Magnesium juga penting dalam transmisi aktivitas neuromuskular, transmisi dalam sistem saraf pusat(SSP), dan fungsi miokard. Kadar magnesium serum normal adalah 1,5-2,5mEg/L. Kira kira seperempat sampai sepertiga dari magnesium plasma pada protein, sebagian kecil berikatan dengan substansi lain (kompleks),dan bagian sisanya bebas atau terionisasi. Bagian yang bebas atau terionisasi ini adalah magnesium teronisasi bebas yang secara fisologis penting. Seperti halnya dengan kadar kalsium, kadar magnesium harus dievaluasi dalam kombonasi dengan kadar albumin serum. Kadar albumin serum yang rendah akan menurunkan kadar magnesim total, sedangkan jumlah magnesium terlionisasi berubah. Hipomagnesemia Hipogmagnesemia ( kadar magnesium serum <1,5mEg/L) biasanya terjadi karena penurunan absorbsi G1 atau peningkatan kehilangan melalui urine. Hipomagnesemia juga terjadi pada kehilangan G1 berlebihan (mis; muntah,diare) atau pada pemberian cairan parental bebas magnesium dalam waktu yang lama. Alkoholik dan pasien perawatan kritis adalah populasi pasien paling umum. Hipomanesemia biasanya dihubungkan dengan hipokalsemia dan hipokalemia. Gejala hipomagnesemia cenderung untuk terjadi saat kadar magnesium turu di bawah 1 mEg/L. Hipermagnesemia Hipermagnesemia (kadar magnesium >2,5 mEg/L) terjadi hampir secara khusus pada individu dengan gagal ginjal yang bebas mungkin tak

26

mengalami peningkatan masukan magnesium (mis; menggunakan obat mengadung magnesium). Ini dapat juga terjadi pada insufisiensi adrenokortikal (penyakit addisons) atau selama hipotermia, pada kasus yang jarang, hipermagnesemia terjadi karena kelebihan penggunaan obat mengandung magnesium (mis: antasida, laksatif, enema). Gejala utama dari hipermagnesemia adalah akibat dari depresi perifer dan transmisi neuromoskular sentral. Gejala biasanya tidak terjadi sampai kadar magnesiu melebihi 4mEg/L. (Horne & swearing, 2000) 2.5.10 Tembaga Absorsi sedikit terjadi didalam lambung dan sebagian besar di bagian atas usus halus secara aktif dan pasif. Absorsi terjadi dengan alat angkut protein pengikat tembaga metalotionin yang juga berfungsi dalam absorpsi seng dan kadmium. Tembaga diangkut keseluruh tubuh oleh seruloplasminin dan transkuprein. Tembaga juga dikeluarkan dari hati, sebagai bagian dari empedu. Didalam saluran cerna tembaga dapat diabsorsi kembali atau dikeluarkan dari tubuh bergantung kebutuhan tubuh. Pengeluaran melalui empedu

meningkat bila terdapat kelebihan tembaga dalam tubuh. Dalam plasma darah ,tembaga mula-mula diikat pada albumin dan suatu protein baru dibawa kehati dimana akan mendapat proses : Diinkorporasikan ke dalam seruloplasmin dan protein / enzim hati yang spesifik. Hilang melalui empedu, seruloplasmin disekresi kedalam plasma disamping kemungkinan fungsi enzimatiknya, juga mengangkut tembaga kedalam sel seluruh tubuh. Sebagian kecil Cu diangkut melalui transkuprein dan albumin; rendahnya berat molekul dari pool Cu dalam plasma mungkin tidak merupakan sumber Cu seluler yang nyata. Hanya sedikit tembaga yang disimpan didalam jaringan tubuh, kecuali untuk fets, kadar tembaga sangat konstan kecuali kalau sakit defisiensi Cu. Tembaga disimpan dalam/melekat pada metalotionin

27

intraseluler, protein 6700 dalton .1/3 bagian sistein ,yang juga mengikat zn ,cd, hg dan beberapa ion metal jarang lainnya 2.5.11 Zinc Enzim yang sama berperan dalam pengeluaran amoniak dan didalam produksi hidroklorida yang diperlukan untuk pencernaan sebagai bagian dari enzim peptidase karbosil yang terdapat didalam cairan pangkreas, dan dalam pencernaan protein. Zn juga

dihubungkan dengan hormone insulin yang dibentuk didalam pangkreas walaupun tidak berperan langsung terhadap kegiatan insulin. Tingkat penyerapannya sedikit banyaknya ada hubungan dengan status Zn lebih besar dari normal dalam defesiensi Zn . Dayaguna Zn makanan juga merupakan factor dalam menentukan penyerapan, walaupun ini tidak banyak variasinya atau tidak sekritis Fe. Pitat dan serat yang banyak dalam biji-bijian merupakan factor-faktor utama yang menurunkan nilai gunanya pada waktu bersamaan tingkat konsumsinya, keseimbangan Zn sedikit kurang pada orang yang dengan diet berserat tinggi. Penyerapan Zn sedikit banyak berkompetisi dengan ion-ion metal transisi, terutama Fe2+ , Fe3+, dan Cu2+. Penyerapan Zn memerlukan energy dan tingkatan oleh sitrat. Dalam air susu manusia banyak Zn terikat dalam sitrat dan daya gunanya lebih tinggi dari Zn yang terikat oleh protein. Setelah penyerapan dan pemindahan Zn dalam plasma, Zn terikat dalam 3 komponen yang satu dengan yang lainnya. Sebagian diikat oleh albumin, walaupun cukup besar yang terikat pada antiprotease, makroglobulin. Didalam pankreas seng digunakan untuk membuat enzim pencernaan, yang pada waktu makan dikeluarkan kedalam saluran cerna. Dengan demikian saluran cerna menerima seng dari dua sumber, yaitu dari makanan dan dari cairan pencernaan yang kembali ke pankreas dinamakan sirkulasi entropankreatik. Bila dikomsumsi seng tinggi, didalam sel dinding saluran cerna sebagian diubah

28

menjadi

metalotionein

sebagai

simpanan,

sehingga

absobrsi

berkurang. Seperti halnya dengan besi, bentuk simpanan ini akan dibuang bersama sel-sel dinding usus halus yang umurnya adalah 2-5 hari. Metalotionien didalam hati mengikat seng hingga dibutuhkan oleh tubuh. Metalotionien diduga mempunyai peranan dalam mengatur kandungan seng didalam cairan intraseluler. 2.5.12 Kobalt Sebagian besar kobalt dalam tubuh terikat dalam vitamin B12 plasma darah mengandung kurang lebih 1 g kobal/100. Absorbsi terjadi pada bagian atas usus halus mengikuti mekanisme absorbsi besi. Absorbsi meningkat bila konsumsi besi rendah. Sebanyak 85% ekskresi kobal dilakukan melalui urine, selebihnya feses dan keringat. 2.5.13 Kromium Krom dalam bentuk Cr+++ diabsorbsi sebanyak 10% hingga 25%. Bentuk lain krom hanya diabsorbsi sebanyak 1%. Mekanisme absorbsi belum diketahui dengan pasti. Absorbsi dibantu oleh asamasam amino yang mencegah krom mengendap dalam media alkali usus halus. Jumlah yang diabsorbsi tetap hingga konsumsi sebanyak 49 ug, setelah itu ekskresi melalui urin meningkat. Ekskresi melalui urin meningkat akibat oleh konsumsi gula sederhana yang tinggi, aktivitas fisik berat atau trauma fisik Penyerapan kromium oleh tubuh cenderung lamban, tetapi keluarnya dari tubuh malah sebaliknya, sangat mudah. Karena itu resiko kelebihan atau keracunan jarang terjadi. Walaupun belum ada angka resmi kecukupan kromium, tetapi kemampuan tubuh menyerap kromium hanya 2 % sehingga sedikitnya diperlukan 100-200 mcg kromium per hari dari makanan. Metabolismenya, seperti halnya besi, krom diangkut oleh transferin yang terdapat pada mitokondria hati, mikrosom, dan sinositol. Bila tingkat kejenuhan transferin tinggi, krom dapat diangkut oleh albumin.
29

2.5.14 Sulfur Sulfur dimakan terutama dalam bentuk asam amino sistein dan metionin. Mineral ini ditemukan dalam jaringan ikat, terutama tulang rawan dan kulit. Mineral ini memiliki fungsi penting dalam metabolism, suatu senyawa yang digunakan untuk mengaktifkan asam karboksilat . Sulfur dieksresikan dalam air kemih sebagai sulfat. 2.5.15 Boron Boron adalah salah satu mineral nutrisional untuk membantu memperbaiki status mineral tulang dan mengurangi resiko

osteoporosis,terutama pada kelompok vegetarian. Di dalam tubuh, boron bekerja meniru kerja hormon estrogen,yakni menyerap dan menyimpan kalsium supaya kondisi tulang tetap terjaga baik. Dengan demikian boron amat bermanfaat bagi wanita post-menopause dalam menjaga kesehatan tulangnya. Manfaat boron yang lain adalah untuk mencegah artritis, meningkatkan koordinasi mata dan tangn, serta menjaga ingatan jangka pendek. 2.5.16 Mangan Mekanisme absorbsi mangan hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Seperti halnya dengan mineral nikro lainnya, faktor makanan mempengaruhi absorbsi mangan. Besi dan kalsium menghambat absorbsi mangan. Mangan diangkut oleh protein transmanganin dalam plasma. Setelah diabsorbsi, mangan dalam waktu singkat terlihat dalam empedu dan dikelurkan dengan feses. Taraf mangan dalam jaringan diatur oleh sekresi selektif melalui empedu. Pada penyakit hati, mangan menumpuk dalam hati. Mangan tampaknya berperan sebagai kofaktor berbagai enzim yang membantu bermacam proses metabolism. Beberapa bentuk enzim tersebut adalah glutamine sintetase, superoksida dismutase di dalam mitokondria dan piruvat karboksilase yang berperan dalam metabolism karbohidrat dan lipida. Enzim-enzim lain yang berkaitan dengan mangan juga berperan dalam sintesis ureum, pembentukan

30

jaringan ikat dan tulang serta pencegahan peroksidasi lipida oleh radikal bebas. 2.5.17 Molibdenum (Mo) Molibden bekerja sebagai kofaktor berbagai enzim, antara lain xantin oksidase, sulfat oksidase, dan aldehid oksidase yang

mengkatalisis reaksi-reaksi oksidasi-reduksi seperti oksidasi aldehid purin dan pirimidin serta xantin dan sulfit. Oksidasi sulfit berperan dalam pemecahan sistein dan metionin, serta mengkatalisis

pembentukan sulfat dan sulfit. Absorpsi molibden sangat efektif (kurang lebih 80%). Molibden dalam jumlah berlebihan menghambat absorpsi. Akibat kekurangan molibden karena makanan belum pernah terlihat. Molibden terdapat dalam jumlah sedikit sekali dalam tubuh, segera diabsorpsi dari saluran cerna, dan diekskresi melalui urin. Kekurangan molibden pernah terlihat pada pasien yang mendapat makanan parenteral total. Gejalanya adalah mudah tersinggung, pikiran kacau, peningkatan laju pernapasan dan denyut jantung yang dapat berakhir dengan pingsan. 2.5.18 Selenium Selenium berada dalam makanan dalam bentuk selenometionin dan selenosistein. Absorpsi selenium terjadi pada bagian atas usus halus secara aktif. Selenium diangkut oleh albumin dan alfa-2 globulin. Absorpsi lebih efisien, bila tubuh dalam keadaan kekurangan selenium. Konsumsi tinggi menyebabkan peningkatan eksresi melalui urin.

2.6 Penyakit Akibat Kekurangan dan Kelebihan Mineral Elemen mineral anorganik yang memiliki fungsi dalam tubuh harus tersedia pada makanan. Jika asupannya tidak mencukupi, akan terjadi defisiensi, dan jika berlebihan dapat menjadi racun. (Robert, 2009) 2.6.1 Kalsium

Kekurangan:

31

Kekurangan

kalsium

pada

masa

pertumbuhan

dapat

menyebabkan gangguan pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh. Bila terjadi luka, pembekuan darah sangat lambat. Pada orang dewasa terjadi osteoporosis. Kekurangan kalsium dapat pula menyebabkan osteomalasia, yang dinamakan juga riketsia pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena kekurangan vitamin D dan ketidakseimbangan konsumsi kalsium terhadap fosfor. Mineralisasi matriks tulang terganggu, sehingga kandungan kalsium di dalam tulang menurun. Kadar kalsium darah yang sangat rendah dapat menyebabkan tetani atau kejang. Kelebihan: Konsumsi Ca yang berlebihan dapat menyebabkan sulit buang air besar (konstipasi) dan mengganggua penyerapan mineral seperti zat besi, seng dantembaga. Kelebihan Ca dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko terkena hypercalcemia, pembentukan batu ginjal dan gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu konsumsi suplemen kalsium suplemen kalsium jauh diatas kebutuhan sebaiknya dihindari 2.6.2 Fosfor

Kekurangan: Fosfor jarang terjadi kekurangan. Kekurangan bisa terjadi bila menggunakan obatantasida (untuk menetralkan asam lambung). Kekurangan fosfor menyebabkan kerusakan tulang/ Mineralisasi tulang terganggu, pertumbuhan terhambat, rakhitis, osteomalasia. Gejalanya adalah rasa lelah, kurang nafsu makan dan kerusakan tulang. Kelebihan : Kelebihan P Jarang terjadi. Penggunaan fosfor oleh tubuh salah satunya ditentukan oleh rasio antara kalsium dan fosfor, yang idealnya bagi remaja dan orang dewasa adalah 1:1 kelebihan fosfor terjadi bila rasio kalsium fosfor lebih kecil dari atau 1:2 kelebihan fosfor dapat mengganggu penyerapan mineral seperti tembaga dan seng serta dapat pula memicu timbulnya hypocalcemia. Bila kadar P darah terlalu

32

tinggi, ion fosfat akan mengikat kalsium sehingga menimbulkan kejang. 2.6.3 Besi Kekurangan : Menurunnya kemampuan kerja, kekurangan energy pada umumnya menyebabkan pucat, rasa lemah, letih pusing, kurang nafsu makan, menurunnya kebugaran kekebalan dan gangguan

penyembuhan luka. Kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. Kelebihan : Kelebihan besi jarang terjadi karena makanan ,tetapi dapat disebabkan oleh suplemen besi, gejalanya adalah rasa ennek, muntah, diare,denyut jantung meningkat, sakit kepala, mengigau dan pingsan. 2.6.4 Iodium Kekurangan: Jika konsumsi yodium di dalam tubuh sangat rendah maka kelenjar tiroid akan melakukan upaya melalui pembesaran kelenjar sehingga dapat menyebabkan timbulnya benjolan pada leher yang biasanya disebut penyakit hipotiroid. Meskipun sama-sama

mengalami pembengkak pada bagian leher, hipotiroid berbeda dengan penyakit gondok (goitre) yang disebabkan karena virus. Tanda-tanda lain akibat hipotiroid ialah kelopak mata tampak lebih cembung, muka kelihatan suram, lesu, rambut kasar, lidah bengkak dan suara parau. Lebih parah lagi bila sampai ibu hamil kekurangan hormon tiroid, dikhawatikan bayinya akan mengalami cretenisma, yaitu tinggi badan di bawah ukuran normal (cebol) yang disertai dengan keterlambatan perkembangan jiwa dan tingkat kecerdasan. Kelebihan: Kelebihan yodium pun tidak baik untuk tubuh kita, yaitu dapat menyebabkan hipertiroid. Hipertiroid terjadi karena kelenjar tiroid terlalu aktif memproduksi hormon tiroksin. Biasanya ditandai dengan gejala seperti merasa gugup, lemah, sensitif terhadap panas, sering berkeringat, hiperaktif, berat badan menurun nafsu makan bertambah,
33

jari-jari tangan bergetar, jantung berdebar-debar, bola mata menonjol serta denyut nadi bertambah cepat dan tidak beraturan. 2.6.5 Flour Kekurangan : Kekurangan fluor terjadi di daerah dimana air minum kurang mengandung fluor. Akibatnya adalah kerusakan gigi dan keropos tulang pada orang tua. Kelebihan : fluor dapat menyebabkan keracunan. Hal ini baru terjadi pada dosis sangat tinggi setelah bertahun-tahun menggunakan suplemen fluor sebanyak 20-80 mg sehari. Gejalanya adalah fluorosis

(perubahan warna gigi menjadi kekuningan), mulas, diare, sakit di daerah dada, gatal, dan muntah. 2.6.6 Natrium (sodium) Kekurangan: Menyebabkan kejang, apatis, dan kehilangan nafsu makan. Kekurangan Na dapat terjadi sesudah muntah, diare, keringat berlebihan dan bila menjalankan diet yang sangat terbatas Na. Kelebihan : Kelebihan Na dapat menimbulkan keracunan yang dalam keadaan akut menyebabkan edema dan hipertensi. Hal ini dapat diatasi dengan banyak minum. Kelebihan konsumsi natrium secara terusmenerus terutama dalam bentuk garam dapur dapat menimbulkan hipertensi. 2.6.7 Kalium Kekurangan : Kekurangan kalium karena makanan jarang terjadi, kekurangan kalium dapatterjadi karena kebanyakan kehilangan melalui saluran cerna (muntah-muntah,diare kronis, kebanyakan menggunakan obat pencuci perut/ laxans) atau ginjal(penggunaan obat-obat deuretik). Kekurangan kalium menyebabkan lemah, lesu,kehilangan nafsu

34

makan, kelumpuhan, mengigau dan konstipasi. Jantung akan berdebar detaknya dan menurunkan kemampuan untuk memompa darah. Kelebihan: Hiperkalemi akut dapat menyebabkan gagal jantung yang berakibat kematian.Kelebihan kalium juga dapat terjadi bila ada gangguan fungsi ginjal. 2.6.8 Klor Kekurangan: Dalam keadaan normal kekurangan klor jarang terjadi. Kekurangan terjadi pada muntah-muntah, diare kronis, dan keringat berlebih. ASI mengandung lebih banyak klorida dari pada susu sapi. Bila klorida tidak ditambahkan dalam pembuatan susu formula bayi, akan terjadi kekurangan klor yang dapat membawa kematian. Kelebihan : Bisa membuat muntah 2.6.9 Magnesium Kekurangan: Kekurangan jarang terjadi karena makanan. Defisiensi pada alkoholisme dengan sirosis dan penyakit ginjal yang berat. Penyakit yang menyebabkan muntah-muntah, diare, penggunaan diuretika (perangsang pengeluaran urin) juga dapatmenyebabkan kekurangan Mg. Kekurangan Mg berat menyebabkan kurang nafsu makan, gangguan dalam pertumbuhan, mudah tersinggung, gugup,

kejang/tetanus,gangguan sistem saraf pusat, halusinasi, koma dan gagal jantung. Kelebihan : Akibat kelebihan Mg biasanya terjadi pada penyakit gagal ginjal. Kelebihan magnesim dalam jangka panjang sama dampaknya dengan kekurangan magnesium yaitu gangguan fungsi saraf (neurological distrubances). Gejala awal kelebihan magnesium adalah mual, muntah, penurunan tekanan darah, perubahan elektro

kardiografik dan kelambanan reflex.


35

2.6.10 Tembaga Kekurangan: 1. Kekurangan tembaga dapat menganggu pertumbuhan dan

metabolism, disamping itu terjadi demineralisasi tulang-tulang. 2. Bayi gagal tumbuh kembang edema dengan serum rendah albumin rendah. 3. Gangguan fungsi kekebalan Kelebihan : 1. Menyebabkan nekrosis hati atau serosis hati 2. Konsumsi sebanyak 10 -15 mg tembaga sehari dapat menimbulkan muntah muntah dan diare. Berbagai tahap perdarahan

intravascular dapat terjadi, begitupun nekrosis sel-sel hati dan ginjal. 3. Konsumsi dosis tinggi dapat menyebabakan kematian. 2.6.11 Zinc Kekurangan: 1. Akibat kekurangan seng pertumbuhan badan tidak sempurna (kerdil) 2. Gangguan dan keterlambatan pertumbuhan kematangan fungsi

seksual.misalnya, pencernaan

terganggu,

gangguan

pangkreas, gangguan pembentukankilomikron dan kerusakan permukaan saluran cerna. 3. Kekurangan Zn menganggu pusat system saraf dan ungsi otak. 4. Kekurangan Zn menganggu metabolisme dalam hal kekurangan vitamin A,gangguan kelenjar tiroid, gangguan nafsu makan serta memperlambat penyembuhan luka. Kelebihan : 1. Kelebihan Zn hinggga 2 sampai 3 kali menurunkan absorpsi tembaga. 2. Kelebihan sampai 10 kali mempengaruhi metabolism kolesterol, mengubahnilai lipoprotein dan tampaknya dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis.
36

3. Kelebihan sampai sebanyak 2 gram atau lebih dapat menyebabkan muntah,diare, reproduksi 2.6.12 Kobalt Kelebihan : 1. Menyebabkan keracunan pada keadaan tertentu. 2. Dapat meningkatkan frekuensi kejang pada penderita epilepsy 3. Memperburuk kerusakan syaraf. Kekurangan : 1. Menderita penyakit Pernisiosa dengan gejala : sel darah merah jumlahnya sedikit tetapi ukurannya lebih besar, pucat dan lemah. 2. Berkurangnya sekresi asam lambung 3. Mengalami neuropati (kerusakan syaraf) 2.6.13 Kromium Kekurangan: Kekurangan krom kraena makanan jarang terjadi, oleh karena itu AKG untuk krom belum ditentukan. Kelebihan: Kelebihan krom karena makanan belum pernah ditemukan. Pekerja yang terkena limbah industry dan cat mengandung krom tinggi dikaitkan dengan kejadian penyakit hati dan kanker paru-paru. Kromat adalah bentuk krom dengan valensi 6. Tubuh tidak dapat mengoksidasi krom makanan dengan valensi 3 yang tidak demam, kelelahan, anemia, dan gangguan

toksik menjadi bentuk valensi 6 yang toksik. Jadi, krom di dalam makanan tidak ada kaitannya dengan kanker paru-paru. 2.6.14 Sulfur Kekurangan : Mengganggu pertumbuhan Kelebihan : Menghambat pertumbuhan

37

2.6.15 Boron Kekurangan: Menyebabkan kelainan dan penyakit seperti osteoporosis, osteoarthritis, dan kerusakan ginjal. Kelebihan : Dalam dosis besar boron dapat menyebabkan keracunan. Efek samping toksisitas boron akut termasuk: ruam kulit, mual dan / atau muntah (mungkin biru-hijau dalam warna), diare (mungkin biru-hijau dalam warna), sakit kepala, dan sakit perut. 2.6.16 Mangan (Mn) Kelebihan: Keracunan karena kelebihan mangan dapat terjadi bila lingkungan terkontaminasioleh mangan. Pekerja tambang yang mengisap manga yang ada pada debutambang untuk jangka waktu lama, menunjukkn gejal-gejala kelainan otak disertai penampilan dan tingkah laku abnormal, yang menyerupai penyakit Parkinson. Kekurangan: Kekurangan mangan pernah terlihat pada manusia. Kebutuhan mangan kecil,sedangkan mangan banyak terdapat dalam makanan nabati. Kekurangan mangan menyebabkan steril pada hewan jantan dan betina. Keturunan dari induk yang menderita kekurangan mangan, menunjukkan kelainan kerangka dan gangguan kerangka otot. Penggunaan suplementasi besi dan kalsium perlu diprhatikan karena kedua zat gizi ini menghambat absorpsi mangan. Kekurangan mangan sering terjadi bersamaan dengan kekurangan besi. Makanan tinggi protein dapat melindungi tubuh dari kekurangan mangan. 2.6.17 Molibdenum (Mo) Kekurangan : Akibat kekurangan molibdien karena makanan belum pernah terlihat. Molibden terdapat dalam jumlah sedikit sekali dalam tubuh, segera diabsorbsi dari saluran cerna, dan makanan prenteral total.

38

Gejalanya adalah mudah tersinggung, pikiran kacau, peningkatan laju pernapasan dan denyut jantung yang dapat berakhir dengan pingsan Kelebihan: Konsumsi berlebihan dihubungkan dengan sindroma mirip penyakit gout, disertai peningkatan nilai molibden, asam urat dan oksidasi xantin di dalam darah. Konsumsi sampai 0,54 mg sehari dapat menyebabkan kehilangan tembaga melalui urine. 2.6.18 Selenium (Se) Kekurangan: Kekurangan selenium pada manusia karena makanan yang dikonsumsi belum banyak diketahui. Pada tahun 1979 para ahli dari Cina melaporkan hubungan antara status selenium tubuh dengan penyakit kesban, dimana terjadi kardiomiopati atau degenerasi otot jantung yang terutama terlihat pada anak-anak dan perempuan dewasa (keshan adalah sebuah propinsi di Cina). Penyakit keshan-Beck pada anak remaja menyebabkan rasa kaku, pembengkakan dan rasa sakit pada sendi jari-jari yang iikuti osteoartritis secara umum, yang terutama dirasakan pada siku, lutut dan pergelangan kaki. Pasien yang mendapat makanan prenteral total yang pada umumnya tidak mengandung selenium menunjukkan aktivitas glutation peroksidase rendah dan kadar selenium dalam plasma dan sel darah merah yang rendah. Beberapa pasien menjadi lemah, sakit pada otot-otot dan terjadi kardiomiopati pasien kanker mempunyai taraf selenium plasma yang rendah. Kekurangan selenim dan vitamin E juga dihubungan dengan penyakit jantung. Kelebihan: Dosis tinggi selenium (= 1 mg sehari) menyebabkan muntahmuntah, diare, rambut dan kuku rontok, serta luka-luka pada kulit dan sistem saraf. Kecenderungan menggunakan suplemen selenium untuk mencegah kanker harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai dosis berlebihan.

39

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Mineral adalah zat kimia yang terdapat dalam bahan makanan yang diperlukan oleh tubuh kita. Tidak menghasilkan energy. Mineral berfungsi sebagai zat pengatur sehingga proses metabolisme dalam tubuh dapat berjalan normal. Kebutuhan tubuh terhadap berbagai jenis mineral berbeda. Untuk kesehatan dan pertumbuhan yang normal diperlukan mineral yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kekurangan salah satu mineral dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit yang disebut defisiensi mineral. Berdasarkan jenisnya, mineral dibagi menjadi 2 macam yaitu sebagai berikut: a. Makro mineral ( terdiri dari: kalsium, Mg, P, kalium, sodium(Na), S, Cl ) b. Mikromineral ( terdiri dari : Fe, I, Cu, Co, Se, Zn, F, Cr, Mo, Pb, Cd, Ni, As, Br)

3.2 Saran Sebagai manusia, kita perlu menjaga asupan nutrisi dan selalu menjaga kesehatan. Akan lebih baik, jika kita mengetahui apa saja yang seharusnya dikonsumsi. Dengan adanya makalah ini diharapkan agar masyarakat khususnya mahasiswa kebidanan dapat lebih memahami tentang mineral. Semoga dengan adanya makalah ini baik penyusun atau pembaca dapat memahami akan pentingnya mineral dalam kehidupan sehari-hari.

40

DAFTAR PUSTAKA

Agus Krisno Budiyanto, M. Kes. Drh. H. Moch. 2001. Dasar - Dasar Ilmu Gizi. Universitas Muhammadiyah Malang, Malang Gibney, Michael J., Margets, Barrie M., Kearney, John M., Arab, Lonere. 2008.Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta:EGC Horne, Mima M., Swearinge, Pamela L.2000. Keseimbangan Cairan, Elektrolit & Asam Basa. Jakarta:EGC Manuaba, Bagus Ida.1998.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC Murray, Robert K., Granner, Daryl K., Rodwell, Victor W. 2009. Biokimia Harper.Jakarta:EGC Farida, Nur. 2009. Me, My Food and My Health. Surabaya: Grasindo Wirakusumah, Emma S. 2007. Jus Buah & Sayuran. Jakarta: Penebar Swadaya. http://desintabioholic.wordpress.com/2012/01/30/sistem-pencernaan-2/

41