Anda di halaman 1dari 12

1.

TUJUAN

1) Praktikan dapat mengetahui parameter-parameter yang digunakan dalam menganalisis aliran daya 2) Praktikan mampu menggambar diagram segaris system tenaga listrik menggunakan program aplikasi computer 3) Praktikan mampu menggunakan program aplikasi computer ETAP PowerStation 4.0 tentang analisa aliran daya

2.

DASAR TEORI

Aliran beban (atau aliran daya) merupakan solusi untuk kondisi operasi keadaan tunak tiga fasa dalam sistem tenaga listrik. Pada umumnya, perhitungan aliran beban berguna untuk perencanaan sistem tenaga dan perencanaan operasional serta dalam hubungan dengan sistem operasi dan kontrol. Data yang diperoleh dari studi aliran beban digunakan untuk studi mode operasi normal, contingency analysis, perkiraan pengamanan gangguan, serta juga pengoptimalan stabilitas. Contingency adalah rugi elemen transmisi utama atau unit pembangkit besar. Permasalahan dalam aliran beban dapat didefinisikan sebagai perhitungan daya aktif dan reaktif yang mengalir pada setiap line serta besar dan sudut fasa dari tegangan setiap bus pada sistem transmisi untuk pembangkit dan kondisi beban yang spesifik. Informasi yang diperoleh dari studi aliran beban dapat digunakan untuk menguji kemampuan sistem untuk mengirim energi dari pembangkit sampai beban tanpa terjadinya kelebihan beban pada line dan untuk menentukan kecukupan regulasi tegangan oleh kapasitor paralel, reaktor paralel, tap-changing transformer, dan kemampuan mesin berputar dalam menyuplai daya Var. Setiap bus pada jaringan mempunyai empat variabel yang berhubungan dengan bus : 1) daya aktif 2) daya reaktif 3) besar tegangan 4) sudut fasa tegangan Pada umumya, terdapat tiga tipe bus dalam permasalahan aliran beban, masing-masing dengan variabel spesifiknya : 1) Bus ayun (swing bus) Pada bus ini nilai daya nyata dibiarkan mengambang atau berayun (swing). Sedangkan besaran dan sudut tegangan merupakan nilai yang diketahui, dan semua sudut tegangan bus lainnya diacu kepada nilai tersebut. Pengambangan nilai daya nyata pada bus ayun karena daya yang dikirim kepada sistem oleh generator tidak mungkin dipastikan lebih dulu. Daya nyata tersebut nilainya ditentukan selain oleh besarnya beban, juga oleh besarnya daya yang hilang (rugi-rugi) pada sistem, dan karena itu baru dapat dipastikan pada akhir analisis. 2) Bus pengatur tegangan Pada bus ini terdapat generator-generator yang besaran tegangan, dan daya nyatanya diketahui; sedangkan daya reaktif Q tidak diketahui, karena itu nilainya perlu diperkirakan. 3) Bus beban Pada rel ini terhubungkan beban-beban yang permintaan daya nyata dan daya reaktifnya jelas diketahui. Pada tabel 2.1 dapat dilihat tiga penggolongan bus dengan masing-masing besaran yang diketahui, di mana |V| berarti besaran tegangan, dan adalah sudut tegangan rel yang diacu kepada rel ayun. Tabel 2.1 Penggolongan bus Penggolongan bus Bus beban |V| Dihitung

Dihitung

P Diketahui

Q Diketahui

Bus pengatur Diketahui beban Bus ayun Diketahui

Dihitung Diketahui

Diketahui Dihitung

Dihitung Dihitung

Dalam rangka mendefinisikan permasalahan aliran beban untuk diselesaikan, diperlukan untuk menetapkan daya nyata dan besar tegangan pada masingmasing generator bus. Hal ini dikarenakan variabel ini dikontrol oleh governor dan eksitasi. Generator bus disebut juga PV bus. Dalam menyelesaikan permasalahan dalam aliran beban dipakai beberapa metode penyelesaian, yaitu: 1) Metode iterasi Gauss 2) Metode iterasi Gauss-Seidel 3) Metode Newton-Raphson 4) Metode aliran beban decoupled 5) Metode aliran beban fast decoupled

3.

ALAT DAN BAHAN

1) Software ETAP: PowerStation 4.0 2) Personal computer

4.

PROSEDUR PERCOBAAN

1) Gambar diagram segaris sistem tenaga listrik sederhana pada program ETAP: PowerStation 4.0 seperti gambar rangkaian 2) Masukkan data-data tekni komponen-komponen listrik pada diagram segaris STL yang telah digambar berdasarkan table 2.1, 2.2, 2.3, dan 2.4, dengan mengklik ganda setiap komponen pada diagram segaris STL. Beban pada GI Sawangan, GI Bitung dan GI Ranomut bersifat induktif dengan cos : 0,8. Tegangan nominal jaringan transmisi yaitu 70 kV. Tabel 1.1 Data-data saluran
Nama Saluran Z (/km) R (/km) X (/km) 0,136 0,194 0,157 0,157 0,157 0,494 0,422 0,409 0,419 0,409 Z0 (/km) R0 (/km) X0 (/km) 0,541 0,641 0,635 0,541 0,635 1,613 1,711 1,609 1,963 1,609 Panjang Saluran (km) 5,896 3,800 19,655 28,853 48,408

PLTA Tanggari I-GI. Sawangan PLTA Tanggari IIGI.Sawangan GI. Sawangan GI Ranomuut GI. BItung GI. Sawangan GI. Bitung GI. Ranomuut

Tabel 1.2 Data Pembangkitan


Unit 1 2 Lokasi PLTA Tanggari II PLTA Tanggari I Generator Kapasitas (MVA) 11,88 11,25 Tegangan (kV) 6,6 6,3 Cos 0,8 0,8

Tabel 1.3 Data Transformator


No 1 2 3 4 5 Lokasi GI. Ranomut GI. Sawangan GI. Bitung PLTA Tanggari I PLTA Tanggari II Merk/Type Pasti Bharat Bijlee LIMB Pasti Union Pauwels %Z 11.81 7.48 11.92 9.3 8.73 X 25.72 32.58 25.96 41.09 36.25 MVA 20 10 20 11.25 11.88

Tabel 1.4 Data Beban Gardu Induk


No Gardu Induk Penyulang SR1 SR2 SR3 SR4 SR5 SR6 SW1 SW2 SW3 SI1 SI2 SI3 SI4 SI5 SI6 BR (A) 113,7142857 19,8571429 191,857143 195,714286 159,5714286 126,5714286 56,85714286 88,28571429 73,42857143 56,71428571 80,71428571 124 157,8571429 Bus Coupler 122 Btot (A)

GI. Ranomut

807,285714

GI. Sawangan

218,5714286

GI. Bitung

541,2857143

3) Jadikan PLTA Tanggari 2 pada mode swing (ayun) Generator dam PLTA Tanggari 1 Pada mode Voltage Control (pengatur tegangan) dengan Qmax = 11.25 MVar dan Qmin = 0. 4) Ubah ke mode aliran beban dengan mengklik tombol Analisa Aliran Beban (Load Flow Analysis) pada Mode Toolbar. 5) Atur batasan pelanggaran atau toleransi untuk setiap komponen 10%, dengan mengklik Alert pada Load Flow Study Case. 6) Pilih metode yang akan digunakan untuk menyelesaikan analisa aliran beban dengan mengklik Info pada Load Flow Study Case. Khusus untuk metode Newton-Raphson jumlah iterasi yang direkomendasikan yaitu 2000 kali iterasi dengan toleransi kesalahan 0,00001. 7) Klik Display Option, dan atur agar supaya hasil yang diperlihatkan hanya besar aliran daya ( kW + jkVar ) dan tegangan bus. 8) Klik ico Run Load Flow, untuk menjalankan program. 9) Amati besar aliran daya yang mengalir pada tiap tiap saluran

5.

GAMBAR RANGKAIAN

6.

DATA HASIL PENGAMATAN


Untuk keadaan 1

Tabel 1.5 Nama Saluran PLTA Tanggari 1 GI. sawangan PLTA Tanggari 2 GI. sawangan GI. Sawangan GI. Ranomut GI. Sawangan GI. Bitung GI. Ranomut GI. Bitung Aliran Daya (kW + jkVar) 51 + j10001 2522 +j13768 12431 + j12034 8557 + j8078 193 + j-14

Tabel 1.6 Bus Bus Gi Ranomut Bus Gi Bitung Bus Gi sawangan Bus 4 Bus 5 Bus 6 Bus 7 Bus 8 Bus 9 |V| 55,49 80,95 84,24 84,94 85,21 100 94,757 75,377 72,861 -13,9 -14 -12,9 -13 -12,4 0 -13,2 -18,6 -20,6

Bus 10 Untuk keadaan 2

81,28

-15,3

Tabel 1.7 Nama Saluran PLTA Tanggari 1 GI. sawangan PLTA Tanggari 2 GI. sawangan GI. Sawangan GI. Ranomut GI. Sawangan GI. Bitung GI. Ranomut GI. Bitung Bus Bus Gi Ranomut Bus Gi Bitung Bus Gi sawangan Bus 4 Bus 5 Bus 6 Bus 7 Bus 8 Bus 9 Bus 10 Aliran Daya (kW + jkVar) 24184 + j12958 53 + j10099 11912 + j11531 8199 + j7740 185 + j13 |V| 55,49 55,47 57,72 58,68 58,00 6,063 6,3 14,75 14,26 15,91 -15,7 -15,8 -14,6 -13,6 -14,8 -14,9 0 -20,4 -22,3 -17,1

Tabel 1. 8

7.

ANALISA DATA

Ada perbedaan antara Tabel 1.5 dan Tabel 1.7 juga pada Tabel 1.6 dan 1.8. Hal ini di akibatkan karena pada kondisi 1 yang menjadi Voltage Control adalah PLTA TAnggari 1 sedangkan PLTA Tanggari 2 dalam keadaan Swing. Hasilnya pun berbeda karena tegangan yang dihasilkan serta impedansi generator untuk kedua pembangkit ini berbeda. Hal inilah yang membuat hasil pada keempat table ini menjadi berbeda. Tugas Mandiri 1) Apakah yang terjadi kalau PLTA Tanggari 1 dan PLTA Tanggari 2 dijadikan pada mode voltage control? Mengapa? 2) Mengapa hasil pada tabel 1.5 seperti itu? Jelaskan! 3) Mengapa hasil pada tabel 1.6 seperti itu? Jelaskan! 4) Buatlah matriks admitansi bus dari STL pada gambar 1.1! 5) Dari percobaan, parameter parameter apa sajakah yang merupakan hasil (output) dari analisa aliran daya? Jelaskan! Jawab : 1) Akan terjadi gangguan. Hal ini terjadi karena pada system ini sudah ada 2 pembangkit yang menyuplai tenaga listrik. Sesuai pengertiannya voltage control merupakan penyuplai utama dari sebuah system sedangkan swing adalah penyuplai referensi yang berfungsi untuk menyuplai kekurangan daya aktif dan daya reaktif pada system. 2) Karena menggunakan metode Newton Raphson yang merupakan metode perhitungan menggunakan interasi dan penentuan swing bus dan voltage control bus sehingga mendapatkan aliran daya (daya nyata dan reaktif) dalam pu (per Unit). 3) Karena menggunakan metode Newton Raphson yang merupakan metode perhitungan menggunakan interasi dan penentuan swing bus dan voltage control bus sehingga mendapatkan tegangan dan sudut dalam pu (per Unit) yang digunakan dalam perhitungan memakai metode ini. 4) . 5) Parameternya adalah aliran daya (Daya nyata dan reaktif), tegangan dan sudut beban. Karena ini merupakan hasil dari interasi dan aliran daya system yang dibuat dan di analisa menggunakan metode Newton Raphson, sehingga yang di hasilkan adalah parameter- parameter di atas.

8) KESIMPULAN
Dari percobaan yang di lakuakn diperoleh kesimpulan: 1) Data tiap tabel berbeda karena yang menjadi voltage control dan swing untuk kondisi 1 berbeda dengan kondisi 2. 2) Metode yang digunakan pada percobaan kali ini adalah Newton Raphson. 3) Parameter parameter yang di dapatkan pada percobaan kali ini adalah aliran daya (Daya nyata dan reaktif), tegangan dan sudut beban.

TUGAS PENDAHULUAN
1. 2. 3. 4. Apa yang di maksud dengan studi aliran daya? Parameter parameter apa sajakah yang digunakan dalam menghitung aliran daya? Sebutkan tiga jenis bus dalam kaitan dengan aliran beban? Sebutkan metode metode yang digunakan dalam menganalisis aliran daya?

Jawab : 1. Studi yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai aliran daya atau tegangan sistem dalam kondisi tunak. 2. Daya nyata (real power), daya reaktif (reactive power), besaran (magnitude), dan sudut beban (phase angle), tegangan pada setiap bus. 3. A. Slack Bus atau swing bus atau bus referensi B. Voltage Controlled bus atau bus generator C. Load bus atau bus beban 1. (1) Metode Newton Rapshon; (2) Metode Gauss Seidell; (3) Motode Fast Decouple.