Anda di halaman 1dari 11

JUDUL Pengaruh Temperatur Dan Laju Aliran Gas CO2 Pada Sintesis Kalsium Karbonat Presipitat Berbahan Dasar

r Batu Kapur Dengan Metode Karbonasi

BAB I 1.1 Kajian Singkat tentang Batu Kapur Batu Kapur adalah batuan sedimen terutama terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk kalsit mineral. Batuan ini paling sering terbentuk di perairan laut yang dangkal. Ini biasanya merupakan batuan sedimen organik yang terbentuk dari akumulasi cangkang hewan, karang, alga dan puing-puing. Batu kapur mengandung 98,9% kalsium karbonat (CaCO3) dan 0,95% magnesium karbonat (MgCO3) (Russell, 2007). Batu kapur di alam jarang ada yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat partikel kecil kuarsa, felspar, mineral lempung, pirit, siderit dan mineral lainnya. Dalam mineral batu kapur terdapat juga pengotor, terutama ion besi. Batu kapur berwarna putih keabu-abuan dengan kekerasan 3,00 Mohs, bersifat pejal dengan density bulk 2655 kg/m3, berbutir halus hingga kasar dan mempunyai sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan. Batu kapur juga mudah larut dalam asam. Batu kapur yang larut dalam zat asam akan menghasilkan gas karbon dioksida. Batu kapur akan menjadi semakin tidak larut dalam air dengan naiknya temperatur. Klasifikasi batu kapur dalam perdagangan mineral industri didasarkan atas kandungan unsur kalsium (Ca) dan unsur magnesium (Mg). Misalnya, batu kapur yang mengandung 90 % CaCO3 disebut batu kapur kalsit, sedangkan bila mengandung 19% MgCO3 disebut dolomit. Adapun batu kapur lebih banyak digunakan dalam industri karena banyak terdapat di alam dan banyak manfaatnya, misalnya dalam pembuatan kalsium klorida (Amethyst, 2010).

1.2 Potensi Batu Kapur di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan batuan kapur. Umumnya berupa pegunungan kapur yang tersebar di berbagai Provinsi, yakni di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; Penen--Medan dan Tarutung (Sumatera Utara, berupa endapan air panas); Karangputih (Sumatera Barat, berupa endapan berlapis); Karangnunggal (Jawa Barat, berupa endapan berlapis lensa), Kuripan--Bogor, Cipanas, Cirebon (Jawa Barat, berupa fresh water limestone), dan di berbagai daerah di Jawa Barat lainnya;
Kalsium Karbonat Presipitat Page 1

berbagai daerah di Jawa Tengah; Bluto--Madura (berupa endapan berlapis), pulau Madura pada umumnya, dan berbagai daerah di Jawa Timur; berbagai daerah di Kalimantan Barat; dan di Tonasa (Sulawesi Selatan, berupa endapan berlapis), serta di berbagai tempat lainnya di Indonesia. Di pulau Sumatera khususnya Provinsi Sumatera Utara terdapat Cagar Alam Bukit Kapur Kawah Dolok Tinggi Raja yang berada di desa tinggi raja, kecamatan silau kahean, kabupaten simalungun, sumatera utara sekitar 120 km dari kota medan dengan luas Keseluruhan adalah 167 hektare . Potensi sumber daya alam Cagar Alam Dolok Tinggi Raja yang bisa dimanfaatkan diantaranya panorama alam berupa sumber mata air panas , endapan kapur, danau laparan yang mata airnya dari air panas lewat bawah tanah yang juga mengandung belerang, kesejukan udara pegunungan, keunikan, keindahan alam serta mutu kondisi lingkungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. ( Dineeno . 2012 ) 1.3 Kandungan Batu Kapur

Batu kapur merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang paling banyak jumlahnya. Batu kapur itu sendiri terdiri dari batukapur non-klastik dan batukapur klastik. Batu kapur non-klastik, merupakan koloni dari binatang laut antara lain dari Coelentrata, Moluska, Protozoa dan Foraminifera atau batu kapur ini sering jyga disebut batukapur Koral karena penyusun utamanya adalah Koral.

Batu kapur Klastik, merupakan hasil rombakan jenis batu kapur non-klastik melalui proses erosi oleh air, transportasi, sortasi, dan terakhir sedimentasi.selama proses tersebut banyak mineral-mineral lain yang terikut yang merupakan pengotor, sehingga sering kita jumpai adanya variasi warna dari batukapur itu sendiri. Seperti warna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat, merah bahkan hitam.

Secara kimia batu kapur terdiri atas Kalsium karbonat (CaCO3). Dialam tidak jarang pula dijumpai batu kapur magnesium. Kadar magnesium yang tinggi mengubah batu kapur dolomitan dengan komposisi kimia CaCO3MgCO3

Kalsium Karbonat Presipitat

Page 2

Adapun sifat dari batu kapur adalah sebagai berikut (ScinceLab, 2008) : a. Warna b. Kilap c. Goresan d. Bidang belahan e. Pecahan f. Kekerasan g. Berat Jenis h. Bentuk i. Berat molekul j. Massa jenis k. Titik lebur l. Berbentuk kristal atau serbuk. m. Tidak berwarna atau putih. n. Tidak berbau dan tidak berasa. Sifat - sifat kimia CaCO3 (Patnaik, 2003) : a. Tidak mudah terbakar dan bersifat stabil. b. Dapat diperoleh secara alami dalam bentuk barang tambang berupa kapur. c. Merupakan endapan yang dapat diperoleh dari reaksi antara kalsium klorida dan natrium karbonat. CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 + 2NaCl d. Bereaksi dalam air. CaCO3 + 2H2O Ca(OH)2 + H2O + CO2 e. Bereaksi dengan asam sulfat membebaskan CO2. CaCO3 + H2SO4 CaSO4 + H2O + CO2 : Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan : Kaca, dan tanah : Putih sampai putih keabuan : Tidak teratur : Tidak rata : 2,7 3,4 skala mohs : 2,387 Ton/m3 : Keras, Kompak, sebagian berongga : 100,09 gr/mol : 2,8 gr/cm3 : 825C

1.4 Kalsium Karbonat Presipitat

Kalsium karbonat di pasaran dapat ditemukan dalam dua jenis produk, yaitu GCC (Ground Calcium Carbonate) dan PCC (Precipitated Calcium Carbonate). Secara umum kalsium karbonat yang diproduksi secara mekanik (GCC) lebih murah dibanding PCC, tetapi untuk menghasilkan GCC dengan ukuran partikel yang halus dan seragam membutuhkan biaya yang besar.
Kalsium Karbonat Presipitat Page 3

Ukuran yang ditentukan dari lamanya proses grinding menyebabkan energi yang dibutuhkan juga semakin tinggi . Menyangkut alasan ini, konsumen lebih memilih menggunakan PCC untuk aplikasi tertentu.

Dari berbagai literatur diketahui bahwa PCC umumnya disintesis dari material proanalis berupa nitrat tetrahydrat (Ca[NO3]2), kalsium hidroksida (Ca[OH]2), atau kalsium klorida (CaCl2 ). Dalam ranah penelitian, metode sintesis yang umum digunakan adalah metode pencampuran (solution route), sedangkan metode karbonasi umumnya digunakan dalam industri. Sintesis kalsium karbonat dari bahan alam berupa limestone (batu kapur) belum banyak dilakukan dalam penelitian.

Serbuk kalsium karbonat (CaCO3) telah banyak digunakan dalam dunia industri. Ukuran partikel, morfologi dan fase yang dapat divariasikan menjadikan bahan ini memiliki bidang aplikasi yang luas. Serbuk CaCO3 dengan kualitas khusus dikembangkan sebagai bahan campuran kosmetik , drug delivery , bahan bioaktif , hingga suplemen nutrisi . Di sisi lain, bahan ini telah umum digunakan sebagai filler dan pigmen pada industri tinta, cat, pipa polimer, dan kertas.

Kalsium karbonat presipitat ketika disintesis dengan media air akan membentuk tiga macam kristal, yaitu kalsit, vaterit, dan aragonit. Terbentuknya macam-macam bentuk Kristal ini dipengaruhi oleh temperatur, pH larutan, derajat saturasi, kecepatan aliran CO2 bila menggunakan metode karbonasi, serta adanya bahan aditif. Setiap fase membutuhkan kondisi lingkungan dan energi penyusunan yang berbeda. Pada rentang temperatur 10 oC hingga 40oC, fase yang terbentuk berupa kalsit dan vaterit. Pada rentang temperatur 60oC80oC dihasilkan aragonit dan kalsit. Sementara ketiga fase kristal muncul di antara kedua rentang ini. Jadi, fase vaterit hanya terbentuk pada rentang temperatur tertentu dan mencapai fraksi optimum pada temperatur 35oC . Formasi struktur yang terjadi pada kalsit, vaterit, dan aragonit secara berturut-turut adalah CaO6, CaO8, dan CaO9. 1.5 Batu Kapur sebagai sumber Kalsium Karbonat Batu kapur merupakan merupakan bagian dari batuan sedimen, yaitu batuan sedimen non- klastik yang tebentuk dari proses kimia atau proses biologi. Batu kapur disebut juga batu kapur atau limestone.
Kalsium Karbonat Presipitat Page 4

Kandungan utama batu kapur adalah mineral kalsium karnonat (CaCO3) yang terjadi akibat proses kimia dan atau organik. Secara umum mineral yang terkandung dalam batu kapur adalah kalsium karbonat kalsit sebesar 95%, dolomit sebanyak 3%, dan sisanya adalah mineral clay

1.6 Manfaat kalsium karbonat presipitat ( PCC )

Sumber kalsium karbonat dalam bentuk batu kapur banyak ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Bahan ini biasanya digunakan sebagai bahan konstruksi (pengganti batu bata) ataupun secara tradisional digunakan sebagai cat tembok. Ketersediaan yang melimpah dan proses penambangan yang sederhana membuat nilai ekonomi bahan ini sangat rendah.

Kalsium karbonat presipitat merupakan kalsium karbonat yang halus, dimurnikan,dan hasil sintesis. Kalsium karbonat presipitat biasanya digunakan sebagai aditif dalam lem, plastik, karet, tinta, kertas, farmasi, suplemen gizi dan banyak aplikasi berat lainnya. Secara khusus, aragonit kalsium karbonat presipitat, yang berbentuk seperti jarum partikel dengan sangat tinggi rasio aspek, memiliki efek meningkatkan lentur kekuatan dan dampak kekuatan karet dan plastik saat digunakan sebagai filler pada produk ini. Karena efek ini, PCC digunakan dalam bemper mobil dan dashboard sebagai pengisi dimasukkan ke dalam resin termoplastik dan polypropylene Kalsit merupakan fase PCC yang paling stabil dan banyak digunakan dalam industri cat, kertas, magnetic recording, industri tekstil, detergen, plastik, dan kosmetik. Berbeda dengan kalsit, aragonit mempunyai aplikasi sebagai filler kertas yang menjadikan sifatsifatnya lebih baik seperti high bulk, kecerahan, tak tembus cahaya, dan kuat. Sebagai filler aragonit lebih baik dadi pada kalsit dalam polivinil alkohol atau polipropilen komposit, sedangkan vaterit biasanya digunakan sebagai katalis, teknologi separasi, dan agrochemical. Partikel vaterit berongga merupakan partikel dari CaCO3 yang digunakan dalam aplikasi kelas tinggi yaitu sebagai filler, granula, dan aditif dalam makanan maupun industri farmasi .

Kalsium Karbonat Presipitat

Page 5

BAB II 2.1 Beberapa Penelitian Sejenis 1. 2004 . Djuhariningrum , T dan Rusmadi . PENENTUAN KALSIT DAN DOLOMIT SECARA KIMIA DALAM BATU GAMPING DARI MADURA . Kesimpulan :

1. Batu gamping dari Ketapang Madura tersusun oleh mineral kalsit sangat dominan dengan kadar 92,11 % - 98,42 % dan kadar mineral dolomit 1,15 % - 7,28 %. 2. Mineral kalsit dan dolomit tersusun oleh unsur Ca dan Mg yang mempunyai karakter mirip (sifat fisik dan kimia), keberadaannya cenderung bersama-sama membentuk asosiasi mineral 3. Batu gamping dari Madura didominasi oleh kalsit dengan sifat lebih mudah larut, sangat mungkin akan terbentuk rongga, saluran, gua bawah tanah sehingga perlu kecermatan yang tinggi bila akan mendirikan bangunan berskala besar diatasnya.

2. 2009 . Sulistiyono , Eko dan Murni Handayani . ELIMINASI UNSUR BESI DAN SILIKA PADA PROSES HIDROMETALURGI PEMBUATAN KALSIUM

KARBONAT PRESIPITAT DARI BATU KAPUR RUMPIN-BOGOR . Kesimpulan


a.

Eliminasi dari unsur pengotor besi dan silika dengan menggunakan metode 1 tanpa pengendapan bertahap menghasilkan kadar pengotor yang masih relatif besar baik unsur besi dan silika.

b.

Metode 2 (Dengan menggunakan proses pelarutan dan pengendapan secara bertahap dengan pengaturan pH terhadap bahan baku batu kapur. Pada proses ini, tahap pertama ditambahkan sedikit kalsium oksida hasil kalsinasi batu kapur dari tempat yang sama ) lebih efektif dibandingkan dengan metode 1 (Dengan menggunakan proses pelarutan dan pengendapan langsung bahan baku batu kapur, dimana proses pelarutan menggunakan larutan asam khlorida 2 M dan pengendapan menggunakan larutan ammonium karbonat ) karena hasil akhir dari metode 2 hanya mengandung unsur pengotor besi 0.009 %, silika 0.012 % dan magnesium 0.010 % sedangkan dari metode 2 kandungan besi masih 0,036 %, silika 0,093 % dan magnesium 0,034 % .

Kalsium Karbonat Presipitat

Page 6

c. 2010 . Rianto , Agus dan Zainal Arifin dan Darminto , PENGARUH TEMPERATUR DAN PEMECAH GELEMBUNG GAS PADA SINTESIS SERBUK CACO3 DENGAN BAHAN BAKU BATU KAPUR Kesimpulan :

Sintesis serbuk CaCO3 dari batu kapur dapat menghasilkan beberapa variasi morfologi. Perlakuan selama proses karbonasi berupa variasi temperatur dan penggunaan pemecah gelembung gas dapat mempengaruhi pembentukan morfologi dan komposisi partikel. Penggunaan pemecah gelembung menyebabkan jumlah ion karbonat yang terbentuk dalam selang waktu tertentu semakin banyak, sehingga fraksi vaterit yang terbentuk semakin meningkat. Reaksi karbonasi pada larutan Ca(OH)2 dengan temperatur di atas 55 C menghasilkan partikel aragonit dengan morfologi berbentuk jarum. Fraksi berat aragonit bertambah dengan meningkatnya temperatur larutan.
o

d. 2012 . Sulistiyono , Eko dan Murni Handayani . STUDI KARAKTERISTIK PRODUK KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT HASIL PROSES KARBONATASI DARI BATU KAPUR RUMPIN , BOGOR .

Kesimpulan

Proses Karbonatasi dengan perlakuan proses yang dilakukan secara bertahap dimulai dari proses kalsinasi , slaking dan terakhir adalah proses karbontasi . Hasil Akhir proses berupa kalsium karbonat presipitat yang memiliki karakteristik mendekati kalsium karbonat presipitat untuk keperluan industri yaitu bulk density 3,8 g/Ml , derajat keputihan 85,30 dan memiliki kandungan pengotor besi 0,219% dan silika 0,157% . Pada penelitian sebelumnya dengan proses dilakukan secara bersamaan memberikan bulk density 0,42 g/mL . Sehingga dapat dikatakan bahwa proses karbonatasi secara bertahap memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan secara bersamaan .

e. 2012 . Apriliani , N F dan Malik A Baqiya, Darminto . PENGARUH PENAMBAHAN LARUTAN MGCL2 PADA SINTESIS KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT BERBAHAN DASAR BATU KAPUR DENGAN METODE KARBONASI .
Kalsium Karbonat Presipitat Page 7

Kesimpulan :

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain kalsium karbonat presipitat berbahan dasar material alam batu kapur dapat disintesis dengan metode karbonasi. Penambahan larutan MgCl2 berpengaruh pada fasa yang terbentuk, morfologi, dan ukuran kristal produk kalsium karbonat presipitat. Waktu karbonasi yang diperlukan sampai kondisi pH netral akan semakin lama seiring dengan bertambahnya massa Mg yang ditambahkan. Sintesis tanpa penambahan MgCl2 menghasilkan fasa tunggal yaitu kalsit dengan ukuran Kristal 0,19m. Sintesis dengan penambahan MgCl2 akan menghasilkan fase kalsit, kalsit magnesian, dan magnesium karbonat. Banyaknya massa Mg yang ditambahkan, fase akan semakin mengarah ke kalsit magnesian.

f. 2012 . Lailiyah, Qudsiyyatul dan Malik A Baqiya dan Darminto . PENGARUH TEMPERATUR DAN LAJU ALIRAN GAS CO2 PADA SINTESIS KALSIUM KARBONAT PRESIPITAT DENGAN METODE BUBBLING .
Kesimpulan :

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bawa fase kalsit terbentuk pada setiap proses karbonasi, sedangkan fase vaterit terbentuk pada temperatur rendah dengan laju aliran gas CO2 tinggi serta fase aragonit terbentuk pada temperatur tinggi dengan laju aliran gas CO2 rendah. Penelitian ini dapat dikembangkan lagi dengan metode yang berbeda untuk mendapatkan ketiga fase dari kalsium karbonat presipitat dengan kemurnian tinggi. Metode yang dapat digunakan yaitu dengan pencampuran larutan Na2CO3 dan CaCl2 untuk mendapatkan vaterit lebih murni. Aragonit dapat terbentuk pada temperatur tinggi sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada temperatur yang lebih tinggi.

Kalsium Karbonat Presipitat

Page 8

BAB III

3.1 Rencana Penelitian yang akan dikembangkan a. Dari Penelitian sejenis yang ada , Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Qudsiyyatul Lailiyah, dkk dari Institut Teknologi Sepuluh November ( ITS ) dengan judul Pengaruh Temperatur dan Laju Aliran Gas CO2 pada Sintesis Kalsium Karbonat Presipitat dengan Metode Bubbling menghasilkan kesimpulan dan saran . Dari saran yang ada , dalam penelitian selanjutnya akan dilakukan penelitian dengan dengan Melakukan Metode pencampuran larutan Na2CO3 dan CaCl2 untuk mendapatkan mineral vaterit lebih murni dan Agar mineral Aragonit terbentuk akan dilakukan penelitian pada Temperatur yang lebih tinggi dan dengan Laju gas CO 2 yang lebih rendah .

b. Rancangan Metode Penelitian ALAT

Peralatan yang dipakai dalam penelitian ini antara lain adalah gelas beker, gelas ukur, pipet, timbangan digital,ayakan, corong kecil, tissue, thermometer, kertas saring, oven untuk untuk pengeringan, furnace sebagai alat pemanas, gergaji untuk memotong batu kapur, flow meter jenis GENTEC, dan pengaduk magnetik (hot plate) dan magnetik stirrer. Untuk karakterisasi fasa dipakai XRD Philips XPert MPD (Multi Purpose Difractometer) system.

METODE

Bahan utama yang digunakan dalam sintesis CaCO3 presipitat adalah batu kapur dari Cagar Alam Bukit Kapur Kawah Dolok Tinggi Raja , aquades, gas CO2, larutan HCl (12 Molar), dan Na2CO3 (25%).

PROSEDUR KERJA

Penelitian ini diawali dengan pembuatan larutan CaCl2 yang dilakukan dengan mereaksikan CaO hasil kalsinasi batu kapur pada 9000C dengan HCl (10 Molar). Larutan CaCl2 kemudian ditambah dengan larutan Na2CO3 dan aquades hingga pH
Kalsium Karbonat Presipitat Page 9

awal 10. Total volume larutan adalah 100 ml. Setelah larutan siap, kemudian dilakukan proses karbonasi selama 10 menit dengan variasi temperatur karbonasi 500C, 600C, 700C, 800C dan 900C serta variasi laju aliran gas CO2 1, 2, 3 , 5, dan 7 SCFH. Selama proses karbonasi temperature karbonasi dijaga konstan dan diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan konstan. Hasil endapan dari proses karbonasi disaring menggunakan kertas saring kemudian dikeringkan pada temperatur 900C selama kurang lebih 24 jam. Produk yang dihasilkan berupa serbuk. Karakterisasi sampel serbuk yang dilakukan adalah menggunakan X-Ray Diffraction(XRD).

DESAIN PENELITIAN

Tempetarur 400C Laju Aliran CO2 (SCFH) 1 2 3 5 7 a f k p u b g l q v c h m r w d i n s x e j o t y 500C 600C 700C 800C

DAFTAR PUSTAKA 1. Djuhariningrum , T dan Rusmadi , Penentuan Kalsit Dan Dolomit Secara Kimia Dalam Batu Gamping Dari Madura , Pusat Pengembangan Geologi Nuklir Batan , ( 2004 ) 2. Sulistiyono , Eko dan Murni Handayani , Eliminasi Unsur Besi Dan Silika Pada Proses Hidrometalurgi Pembuatan Kalsium Karbonat Presipitat Dari Batu Kapur Rumpin-Bogor , Pusat Penelitian Metalurgi , Bogor ( 2009 ) 3. Rianto , Agus dan Zainal Arifin dan Darminto , Pengaruh Temperatur Dan Pemecah Gelembung Gas Pada Sintesis Serbuk CaCO3 Dengan Bahan Baku Batu Kapur , , Jurusan Fisika FMIPA ITS , Surabaya ( 2010 ) .
Kalsium Karbonat Presipitat Page 10

4. Sulistiyono , Eko dan Murni Handayani , Studi Karakteristik Produk Kalsium Karbonat Presipitat Hasil Proses Karbonatasi Dari Batu Kapur Rumpin , Bogor , Pusat Penelitian Metalurgi , Bogor ( 2012 ) 5. Apriliani , N F dan Malik A Baqiya, Darminto , Pengaruh Penambahan Larutan MgCl2 Pada Sintesis Kalsium Karbonat Presipitat Berbahan Dasar Batu Kapur Dengan Metode Karbonasi , Jurusan Fisika FMIPA ITS , Surabaya ( 2012 ) . 6. Lailiyah, Qudsiyyatul dan Malik A Baqiya dan Darminto , Pengaruh Temperatur Dan Laju Aliran Gas Co2 Pada Sintesis Kalsium Karbonat Presipitat Dengan Metode Bubbling , Jurusan Fisika FMIPA ITS , Surabaya ( 2012 ) .

Kalsium Karbonat Presipitat

Page 11