Anda di halaman 1dari 7

MODUL 4 Statidtika Radioaktivitas

Abdul Rozaq, Widison, M . Abduh, Indah R. , Fauzia , Pipit U.V.,Aria Pratama 10210047, 10210011, 10210007, 10210061, 10210085, 10210063, 10208097 Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia E-mail : Abdul.Rozaq@students.itb.ac.id Asisten: Joko Suwardi/10209040 Tanggal Praktikum: 19-10-2012 Abstrak
Percobaan ini akan menentukan tegangan kerja optimal (plateau) dari detektor Geiger-Muller yang diaplikasikan pada unsur cesium-137. Setelah didapatkan, nilai tegangan optimal tersebut digunakan untuk mengambil nilai cacahan pada detektor dengan variasi jumlah pencacahan dan selang waktu pengambilan nilai cacahan. Selain itu dilakukan pula pengambilan data tanpa adanya sumber radioaktiv. Setelah didapatkan data nilai cacahan akan dilakukan pengolahan data menggunakan matlab dengan metode pendekatan distribusi normal dan poisson. Pada bagian analisis akan dibandingkan hasil pengolahan data dari tiap-tiap jenis distribusi untuk masing-masing data. Selain itu akan dibahas pula prinsip kerja dari detektor GeigerMuller.

Kata kunci : , Detektor Geiger Muller, Distribusi Normal, Distribusi Pisson, Radioaktifitas Pendahuluan Praktikum ini ditujukan untuk menghitung tegangan kerja optimal dari detektor Geuger Muller yang diaplikasikan pada unsur cesium-137. Selain itu akan dilakukan pula pengolahan menggunakan Matlab dan analisis data statistik radioaktivitas unsur cesium-137. Berikut beberapa teori yang berkaitan dengan praktikum ini. Cesium-137 Cesium-137 adalah isotop radioaktif dari Cesium yang merupakan hasil dari reaksi fisi. Biasanya Cesium terikat dengan klorida dan berwujud bubuk kristalin. Cesium memancarkan radiasi sinar gamma dan beta. Pada suhu kamar, Cesium-137 berbentuk cair, namun biasa terikat dengan klorida sehingga menjadi bubuk kristalin.[1] Pencacah Geiger-Muller Pencacah Geiger-Muller merupakan salah satu jenis detektor radioaktif yang sering digunakan untuk mengukur kadar radiasi. Pencacah ini memiliki tegangan kerja yang biasa disebut tegangan plateau, yaitu I. tegangan optimal untuk mengionisasi sebanyak mungkin gas sehingga dapat mendeteksi radiasi. Alat ini dilengkapi dengan set tegangan dan pencacah waktu. Set tegangan menentukan tegangan yang akan digunakan untuk mengukur kadar radioaktif. Pada tegangan tertentu, pencacah ini bekerja secara optimal. Tegangan pada kondisi ini disebut tegangan plateau. Pencacah waktu digunakan untuk menentukan selang waktu pengukuran radiasi. Semakin banyak selang waktu yang digunakan, maka banyaknya cacahan akan semakin besar. Distribusi Poisson Distribusi Poisson adalah distribsi diskrit yang paling cocok digunakan untuk mengukur probabilitas radiasi. Hal ini dikarenakan distribusi Poisson tidak bergantung pada waktu sehingga pengambilan data pada selang waktu tertentu tidak akan mempengaruhi probabilitas. Berikut ini adalah beberapa ketentuan yang dapat dijadikan acuan ketika menggunakan distribusi Poisson:

1. ingin menghitung jumlah peristiwa dalam suatu kesempatan, 2. kemungkinan terjadinya peristiwa di satu area sama dengan semua area dalam sebuah kesempatan, 3. jumlah peristiwa yang terjadi di sebuah area tidak bergantung pada jumlah peristiwa yang terjadi di area lain. 4. kemungkinan adanya dua atau lebih peristiwa yang terjadi di sebuah area mencapai nol ketika area menjadi lebih kecil. Selain kelima acuan di atas, digunakan pula beberapa formulasi sebagai berikut: )) Fungsi distribusi Poisson ) Keterangan : : jumlah sukses per unit : jumlah sukses yang diharapkan per unit Rata-rata )

III. Data dan Pengolahan Penentuan Tegangan Plateau


Tabel 1 Data tegangan dan kuantitas cacahan

Tegangan (V) 350 361 370 380 390 400 409 420 430 440 450 460 470

Pulsa (N) 0 0 2 22 126 103 115 131 137 111 133 144 111

Tegangan (V) 480 490 500 510 520 530 541 550 561 570 580 589 600

Pulsa (N) 124 106 139 119 141 122 170 140 141 142 143 149 136

Variansi dan standar deviasi ( )

Dari data di atas dibuat kurva tegangan terhadap kuantitas pencacahan untuk menetukan titik tegangan kerja optimal pada detector Geiger-Muller yang diaplikasikan pada unsur cesium-137.

Metode Percobaan Dalam percobaan ini, radiasi cesium137 diukur dengan menggunakan pencacah Geiger- Muller. Tegangan Plateau dicari dengan menaikkan tegangan kerja mulai dari 350 V sampai 600 V dengan interval 10 V dan selang waktu 10 s, kemudian memplot dengan grafik untuk mencari kuantitas cacahan yang konstan. Tegangan plateau adalah tegangan pada saat jumlah pulsa cenderung konstan pada grafik. Setelah menemukan tegangan plateau, tingkat radiasi Cesium-137 diukur dengan menggunakan tegangan plateau pada pengulangan radiasi 50, dan 100 kali dengan selang waktu 10 s. Kemudian dilakukan hal serupa untuk pengulangan 25 kali dengan selang waktu 1 s dan 10 s. Percobaan terakhir dilakukan dengan menggunakan pencacah Geiger-Muller tanpa sumber radiasi dengan pengulangan 25 kali dan selang waktu 10 detik. II.

Gambar 1 Grafik Tegangan Plateau

Berdasarkan grafik diatas dapat ditenttukan tegangan plateau yang digunakan dalam percobaan ini Vp = 550 V. Distribusi Poisson dan Normal untuk variasi pengulangan (m) dengan selang waktu (t). a. Untuk m = 25; t = 10 s

Gambar 2 Grafik Distribusi Poisson untuk m=25 dan t=10 s

Gambar 5 Grafik Distribusi Normal untuk m=50 dan t=10 s

Rata-rata ) = Variansi( ) =

140.44 140.44

Rata-rata ) = Variansi( ) =

141.02 115.04

c. Untuk m = 100; t = 10 s

Gambar 3 Grafik Distribusi Normal untuk m=25 dan t=10 s

Rata-rata ) = Variansi( ) =

140.44 119.757

b. Untuk m = 50; t = 10 s

Rata-rata ) = Variansi( ) =

Gambar 6 Grafik Distribusi Poisson untuk m=100 dan t=10 s

139.74 139.74

Rata-rata ) = Variansi( ) =

Gambar 4 Grafik Distribusi Poisson untuk m=50 dan t=10 s

141.02 141.02

Rata-rata ) = Variansi( ) =

Gambar 7 Grafik Distribusi Normal untuk m=100 dan t=10 s

139.74 129.891

d. Untuk m = 25; t = 1 s

Gambar 8 Grafik Distribusi Poisson untuk m=25 dan t=1 s

Gambar 11 Grafik Distribusi Normal untuk m=25 dan t=10 s, tanpa bahan radioaktif

Rata-rata ) = Variansi( ) =

13.84 13.84

Gambar 9 Grafik Distribusi Normal untuk m=25 dan t=1 s

Rata-rata ) = Variansi( ) =

13.84 10.5567

e. Untuk m = 25; t = 10 s tanpa sumber radiasi

Rata-rata ) = Variansi( ) =

Gambar 10 Grafik Distribusi Poisson untuk m=25 dan t=10 s, tanpa bahan radioaktif

6.28 6.28

Rata-rata ) = 6.28 Variansi( ) = 9.96 IV. Pembahasan Kurva dengan slang waktu pengukuran sama yakni 10 s dan banyak pencacahan m=25, m=50, dan m=100 menunjukkan nilai rata-rata yang sama untuk kedua jenis distribusi (Distribusi Poisson dan Distribusi Normal) yakni 140.44 (m=25), 141.02 (m=50), dan 139.74 (m=100), sedangkan nilai variansinya berbeda. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan. Nilai variansi mengecil ketika m=50 namun naik ketika m=100. Hal ini dikarenakan pada data m=100 terdapat 2 kali kenaikan data. Secara kesluruhan dapat disimpulkan bahwa nilai m hanya akan memperbanyak data dan memperbaik ketelitian. Selain itu, nilai rata-rata dan variansi pada Distribusi Poisson menunjukkan nilai yang sama, hal ini dikarenakan Distribusi Poisson merupakan distribusi diskrit. Sedangkan untuk Distribusi Normal, nilai rata-rata dan variansinya berbeda. Variansi disini menunjukkan besar simpangan data dari rata-rata yangmana nilai variansi tersebut senbanding dengan banyak data. Kurva dengan nilai yang sama (m=25) dan selang waktu pengambilan data yang berbeda (t=1 s dan t=10 s) menunjukkan pola nilai rata-rata dan variansi yang sama seperti halnya analisisa di atas, akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa nilai rata-rata and variansi untuk t=10 s, jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kurva untuk t=1 s. Hal ini dikarenakan, lamanya selang waktu pengambilan data memperbesar nilai data

banyak cacahan yang diambil. Karena, semakin lama selang waktu semakin banyak pula pulsa yang dibaca oleh detector. Penggunaan sumber radioaktiv berpengaruh pada nilai cacahan yang dibaca oleh detektor. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan kurva yang menggunakan sumber radioaktiv dan tidak menggunakan sumber radioaktiv. Nilai rata-rata kurva tanpa sumber radioaktiv sangatlah kecil jika dibandingkan dengan nilai rata-rata pada kurva dengan sumber radioaktiv. Kecilnya nilai rata-rata ini diakarenakan tidak adanya sumber radioaktiv yang menjadi objek utama pembacaan. Sedangkan nilai kecil tersebut merupakan nilai akibat adanya pengaruh udara lingkungan. Pencacah Geiger-Muller bekerja berdasarkan ionisasi gas. Alat pencacah Geiger-Muller terdiri dari tabung yang diisi gas gas argon bertekanan rendah, anoda sebagai elektroda positif berupa kawat tipis atau wolfram yang terbentang di tengahtengah tabung, dan katoda sebagai elektroda negatife berupa dinding tabung yang berupa logam. Saat partikel positif atau negatif atau partikel bermuatan lain masuk melalui pintu tipis terbuat dari lempengan, muatan tersebut akan tertuju pada elektroda dan dikonfersikan sebagai gangguan yang akan diteruskan ke counter. Jumlah ion yang dihasilkan pada daerah ini sangat banyak, mencapai nilai saturasinya, sehingga pulsanya relatif tinggi dan tidak memerlukan penguat pulsa lagi. Kerugian utama dari detektor ini ialah tidak dapat membedakan energi radiasi yang memasukinya, karena berapapun energinya jumlah ion yang dihasilkannya sama dengan nilai saturasinya. V. Simpulan Tegangan plateau dari Detektor Geiger-Muller yang digunakan untuk mengukur cacahan pada unsur radioaktif (Cs-137) sebesar 550 V. Detektor ini bekerja dengan prinsip ionisasi gas. Semakin banyak data distribusi, maka cacahan yang diperoleh semakin teliti dan simpangannya semakin kecil. Semakin lama waktu maka kualitas peluruhan yang dideteksi semakin baik. VI. Pustaka

[1] http://fisikauntuksurga.wordpress.c om/2011/10/10/percobaan-geiger-mullercounter/ (diakses tanggal 22-10-2012 pukul 20.15 WIB) [2] http://id.scribd.com/doc/44627517/ DETEKTOR-GEIGER-MULLER (diakses tanggal 22-10-2012 pukul 20.00 WIB)

Lampiran
Tabel 2 Data pengamatan untuk m=25 dan t=10 s

24 25 Puls a (N) 144 150 132 135 136 128 135 130 139 129 142 130

164 121

49 50

129 135

Pengulanga n ke- (m) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Pengulanga n ke- (m) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Pula s (N) 144 167 138 144 149 155 156 162 131 126 133 135 141 Puls a (N) 139 148 141 146 137 130 146 132 134 125 132 135 161 138 145 145 154 153 126 149 138 155 152

Pengulanga n ke- (m) 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Tabel 4 Data pengamatan untuk m=100 dan t= 10 s

Tabel 3 Data pengamatan untuk m=50 dan t=10 s

Pengulanga n ke- (m) 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48

Puls a (N) 134 143 133 134 137 138 156 139 150 143 140 129 130 152 139 152 142 155 142 161 137 142 113

Pengulanga n ke- (m) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Puls a (N) 131 152 121 159 139 130 150 123 149 144 159 151 141 131 132 130 128 125 145 154 151 130 114 125 137 148 149 141 123 139 134 132 133 136 135 148 139 132 146

Pengulanga n ke- (m) 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89

Puls a (N) 138 129 148 154 158 140 159 145 124 132 140 117 144 140 152 156 120 145 150 156 136 120 151 130 134 145 136 141 127 139 162 136 121 134 136 134 159 135 137

40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Pengulanga n ke (m) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

133 153 133 153 165 153 147 153 139 133 132 Puls a (N) 19 16 15 17 10 11 14 10 14 15 15 10 19

90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Pengulanga n ke (m) 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

137 127 153 141 133 120 142 158 141 137 145 Puls a (N) 15 13 15 14 15 11 13 20 6 10 15 14

Tabel 5 Data pengmatan untuk m=25 dan t=1 s

Tabel 6 Data pengamatan untuk m=25 dan t=10 s, tanpa sumber radioaktif

Pengulanga Puls n ke (m) a (N) 1 4 2 8 3 6 4 6 5 8 6 5 7 6 8 4 9 5 10 15 11 10 12 6 13 4

Pengulanga Puls n ke (m) a (N) 14 9 15 7 16 10 17 3 18 5 19 3 20 6 21 10 22 2 23 1 24 10 25 4