Anda di halaman 1dari 9

Laporan Individu 14 Oktober 2012

DEFINISI, ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI LAPORAN TUTORIAL MODUL 2 IMMUNODEFISIENSI BLOK IMUNOLOGI

DISUSUN OLEH : NAMA NO. STAMBUK KELOMPOK PEMBIMBING : Andry Aulia Zulkarnaen : 11 777 024 : VI ( enam ) : 1. dr. Sarniwaty, Sp.PD 2. dr. Safitri Ammarie

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT PALU 2012


BAB I

PENDAHULUAN

A. SKENARIO 1 :

Joni, Laki-laki berusia 26 tahun datang ke Puskesmas Mabelopura dengan keluhan adanya papul merah disertai gatal disela jari tangan dan kaki, yang muncul 14 hari yang lalu. Gatal dirasakan terutama malam hari. Gatal dan papul ini juga diderita teman sekamar si Joni. Sudah 3 bulan Joni menderita berak-berak encer dan penurunan berat badan lebih 10 kg. Kadang demam tapi hanya beberapah jam. Penderita mengeluh sering batuk berlendir, batuk berdarah dan disertai sesak napas, ia mengatakan ada beberapah luka dialat kelamin yang berulang, nyeri dan tidak gatal. Biasanya dimulai sebagai bentul berair, yang dengan cepatnya pecah dan membentuk luka. Joni seorang lajang yang sebelumnya sehat walafiat, sejak 4 bulan lalu datang ke Palu dan tinggal di asrama perusahaan bersama-sama dengan kawan-kawannya sesama pegawai kontrak perusahaan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bercak putih pada lidah Joni. Nampak tato pada beberapah bagian tubuh penderita, dan pembesaran kelenjar di ketiak dan lipatan paha. Pada batang dan glans penis ditemukan beberapah ulkus yang dangkal dan nyeri takan. Tanda vital dalam batas normal.

B. KATA KUNCI 1. Laki-laki berusia 26 tahun dan seorang lajang 2. Papul merah disertai gatal disela jari tangan dan kaki 3. Gatal dirasakan terutama malam hari 4. Berak encer dan penurunan berat badan > 10 kg 5. Kadang demam 6. Batuk berlendir,batuk berdarah dan disertai sesak napas 7. Luka di alat kelamin yang berulang, nyeri dan tidak gatal 8. Vesikel cepat pecah dan membentuk luka 9. Sebelumnya sehat walafiat

10. 4 bulan lalu datang ke Palu 11. Tinggal di asrama dengan kawan-kawannya 12. Bercak putih pada lidah 13. Nampak tato pada beberapah bagian tubuh penderita 14. Pembesaran pada kelenjar ketiak dan lipatan paha 15. Ulkus pada batang glands penis yang dangkal dan nyeri tekan

C. PERTANYAAN 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan immunodefisiensi dan pembagiannya ! 2. Sebutkan dan jelaskan faktor apa saja yang dapat menimbulkan defisiensi imun sekunder ! 3. Jelaskan patomekanisme gejala pada penyakit 4. Penyakit apa saja yang dapat berhubungan pada skenario ? 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan infeksi opportunistik ? 6. Apa yang menyebabkan infeksi berulang pada skenario ? 7. Bagaimana hubungan umur, jenis kelamin dan lingkungan pada skenario ?

BAB II PEMBAHASAN Definisi Gonore (gonorrhea) adalah sebuah penyakit menular seksual umum yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, bakteri yang dapat tumbuh dan berkembang biak dengan mudah di daerah yang hangat lembab saluran reproduksi, termasuk serviks, uterus, dan tuba falopi pada wanita, dan pada uretra pada wanita dan pria. Bakteri ini juga dapat tumbuh di mulut, tenggorokan, mata, dan anus. Gonore ditularkan melalui kontak dengan penis, vagina, mulut, atau anus. Ejakulasi tidak harus terjadi untuk penularan gonore. Gonore juga dapat menyebar dari ibu ke bayi saat melahirkan. Pria dengan gonore mungkin tidak memiliki gejala sama sekali. Namun, beberapa pria memiliki tanda-tanda atau gejala yang muncul 1-14 hari setelah terinfeksi. Gejala dan tanda termasuk rasa panas saat kencing, atau keluarnya cairan putih, kuning, atau hijau dari penis. Kadang-kadang testis mungkin nyeri atau bengkak. Pada wanita, gejala gonore seringkali hanya ringan, tetapi kebanyakan wanita yang terinfeksi tidak memiliki gejala. Bila ada, gejala dan tanda pada wanita termasuk sensasi nyeri atau terbakar saat buang air kecil, keputihan, atau perdarahan vagina antara menstruasi.

Etiologi Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang bersifat patogen. Bentuk biji kopi, tersusun dua-dua: tunggal dan bergerombol Pewarnaan Gram: kuman merah dengan latar belakang biru Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum pubertas. Masa inkubasi, dari waktu terpapar bakteri sampai mengembangkan

gejala biasanya 2 sampai 5 hari. Tetapi bisa saja tak bergejala sampai 30 hari.

Patofisiologi a. Organisme ini dilengkapi dengan fimbriae, yang memungkinkan untuk menyerang hari. b. Organisme menyebar secara intercellular ke jaringan uretra yang lebih dalam. endotoksin dalam dinding sel bakteri menyebabkan peradangan pada jaringan ini . Sejumlah besar nanah keluar ke dalam uretra dan keluar dari permukaan uretra. c. Akumulasi nanah di uretra menyebabkan nyeri buang air kecil. endotoksin juga menyebabkan nyeri inflamasi. Biasanya pada wanita tidak bergejala. d. Infeksi yang tidak diobati pada wanita dapat menyebar ke saluran tuba dan lainnya jaringan perut menyebabkan PID (pelvic inflammatory disease). Kemandulan mungkin hasil dari keterlibatan PID pada wanita dan vas deferens pada laki-laki. e. Pada kelahiran dari ibu yang terinfeksi, mata bayi dapat terinfeksi dan menyebabkan kebutaan (nenoatorum ophthalmia). Hal ini dapat dicegah dengan menambahkan 1% AgNO3 atau penisilin untuk mata bayi yang baru lahir. permukaan jaringan atau uretra. Masa inkubasi 2 sampai 8

BAB III PENUTUP

Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk pencegahan. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bahry B, Setiabudy R. Obat jamur. In. Ganiswarna SG, Setiabudi R, Suyatna FD, Purwantyastuti, Nafrialdi. Farmakologi dan terapi. 4th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI; 2004. p. 560-70. 2. MM, Martin AG, Heffernan MP. Superficial fungal infections: dermatophytosis, onychomicosis, tinea nigra, piedra. In. Freedberg IM, Elsen AZ, Wolf K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks dermatology in general medicine. 6th ed. New york: McGraw-Hill; 2003. p. 3. Perea S, Ramos MJ, Garau M, Gonzalez A, Noriega AR, Palacio AD. Prevalence and risk factors of tinea ungium and tinea pedis in

the general population in Spain. J Clin Microbiol 2000;38:3226-30. 4. Price, A Sylvia dan Wilson, M Lorraine. Patofisiologi. Volume I. Edisi 6. 2005. Jakarta : EGC. 5. Prof. J.-H. Saurat, MD. International League of Dermatological Societies 6. A non-Governemental Organisation in official Relations with the World Health Organisation. 7. Ratna, Dian. 2006. Faktor factor yang berhubungan dengan kejadian Gonnorrhea pada pemulung di TPA Jatibarang Semarang. Semarang : UNDIP. 8. Unandar B. Mikosis. In. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 5th ed. Jakarta: Balai penerbitan

FKUI; 2007. p. 89- 104. 9. World Health Organization. 2001. Claire J. Carlo, MD. Patricia MacWilliams Bowe, RN, MS. Journal Gonorrhea . British Medical Journal 10. World Health Organization. 2000. Nelson MM, et all. 2000. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 6th edition. New York : McGraw-Hill 11. http://www.scribd.com/doc/7040823/Gonorrhea 12. http://www.scribd.com/doc/55341133/Gonorrhea