Anda di halaman 1dari 7

IDENTIFIKASI STRUKTUR SESAR DAN PEMETAAN ZONA MINERALISASI Cr DAN Mn MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK DI DESA KASIHAN, PACITAN

Tino Diharja*, M.Abdullah*, Aris Kriswanto*, Arif Purwa Adi*, Yuninggar D.N.*, Megawati*, Tri Wahyuningsih*, Shinta Kartina F.*, M.Nahdhi Ahsan*, Rudy Dharmali* *Program Studi Geofisika Universitas Gadjah Mada ABSTRAK Desa Kasihan memiliki potensi mineral ekonomi berupa Mn dan Cr (Jurang Gandul) dan adanya struktur geologi berupa sesar (Kali Dadap) yang mengundang keingintahuan peneliti untuk pembuktian secara fisis. Untuk mengetahui keadaan tersebut dilakukan penelitian dengan metode geofisika. Dalam penelitian kali ini digunakan metode magnetik yang mempunyai akurasi pengukuran yang relatif tinggi, instrumentasi dan pengoperasian di lapangan relatif sederhana, mudah dan cepat jika dibandingkan dengan metode geofisika lainnya. Diawali dengan pengumpulan data, pemrosesan data menggunakan Microsoft Excel, kontinuasi dengan MagPick hingga pemodelan magnetik menggunakan software Mag2DC. Setelah dilakukan interpretasi, hasil yang didapatkan mengindikasikan adanya zona sesar dan persebaran mineral berupa Krom (Cr) dan Mangan (Mn). Abstract Kasihan Village has prospect in mining (mainly in Jurang Gandul) and structure of geology,fault,( in Kali Dadap) which make the researcher to proof that physicly. In this research we use magnetic method which has high accuracy,simple in instrumentation and operation, easy and fast compared the other geophysics method. Its begin from acquisition, processing with Excel, continuation with MagPick until modelling with Mag2DC. After interpretation, the result indicate the existence of fault zone and can delineate distribution of Chrome and Manganese.

PENDAHULUAN Metode magnetik merupakan salah satu metode geofisika yang sering digunakan untuk survei pendahuluan pada eksplorasi minyak bumi, panas bumi, batuan mineral, maupun untuk keperluan pemantauan (monitoring) gunungapi. Batuan mempunyai banyak sifat fisis. Diantaranya adalah suseptibilitas yaitu tingkat kecenderungan batuan untuk dapat dimagnetisasi. Hal inilah yang akan diukur dalam penelitian kali ini, yaitu menggunakan metode magnetik untuk mengukur nilai suseptibilitas batuan. Dengan menggunakan metode ini diharapkan akan dapat mengetahui nilai suseptibilitas batuan sehingga persebaran mineralisasi batuan dan zona sesar yang dikehendaki dapat diketahui. Metode ini dipakai karena persebaran mineralmineral tersebar secara berbongkah bongkah tidak berupa lapisan lapisan sehingga bentuk anomali akan sangat sensitif terhadap jarak lintasan yang dilalui. Dengan metode magnetik ini bisa didapat secara presisi persebaran batuan tersebut. GEOLOGI REGIONAL Praktikum medan potensial 2011 ini dilaksanakan di desa Kasihan, kecamatan Tegalombo, kabupaten Pacitan, propinsi Jawa Timur. Kedudukan dalam peta 428 - 42936 BT dan 86 - 8730 LS. Daerah Pacitan termasuk dalam zona Pegunungan Selatan Jawa timur. Formasi batuan yang tertua di Pacitan adalah Formasi Besole yang tersusun oleh batuan ekstrusif yang terdiri dari tonalit, dasit, andesit dan tuf dasitan (Sartono 1964, dari Hamid 1992). Pada bagian bawah adalah lava bantal dengan sisipan breksi polimik (yang fragmennya terdiri dari batuan beku andesit, tuf, dan batu gamping). Formasi ini diendapkan dalam lingkungan laut dan berumur Miosen Awal (Nahrowi 1978, dari Hamid 1992). Secara umum geomorfologi deerah kasihan adalah pegunungan terjal (kontur yang rapat). Morfologi terjal, yang merupakan manifestasi dari litologi yang resisten (konglomerat pasiran), di sebelah tenggara dari morfologi dataran rendah, terdapat sungai (Kali Dadap). Satuan litologi paling tua di Desa Kasihan adalah lapisan batupasir volkanik, dengan selang seling batu lanau. Di atas satuan batupasir vulkanik menumpang secara tidak selaras satuan konglomerat pasiran, yang fragmennya didominasi oleh butiran batuan beku (andesit dan dasit) ukuran kerakal pasir kasar, kuarsa (chalcedony dan chert), dengan matriks diduga adalah lempung (clay). Terdapat sisipan fosil kayu yang tersilisifikasi (petrified wood) dan sisipan konglomerat batugamping.

Struktur geologi yang mengontrol daerah ini adalah zona sesar (diperkirakan) yang melintang timur laut barat daya (Tumpak Pengilon Bunder). Zona sesar yang lain berada di Kempes Bunder (utara-selatan) mengikuti kelokan Kali Dadap. Bentangan survey pada praktimum non seismik kali ini (untuk metoda magnetik) diarahkan memotong tegak lurus zona sesar, sehingga diharapkan dapat melengkapi interpretasi struktur geologi pada daerah ini. Struktur geologi yang lain adalah kekar-kekar intesif dan rekahan. DASAR TEORI Gaya Magnetik Dasar dari metode magnetik adalah gaya Coulomb antara dua kutub magnetik m1 dan m2 (e.m.u) yang berjarak r (cm) dalam bentuk : F=

m1m2 r or 2

(dyne)

dengan o adalah permeabilitas medium dalam ruang hampa, tidak berdimensi dan berharga satu (Telford, 1979). Momen Magnetik Bila dua buah kutub magnet yang berlawanan mempunyai kuat kutub magnet +p dan p, keduanya terletak dalam jarak l, maka momen magnetik M dapat dituliskan sebagai : M = p l r1 = M r1 dengan M adalah vektor dalam arah unit vektor r1 dari kutub negatif ke kutub positif. Intensitas Kemagnetan Benda magnet dapat dipandang sebagai sekumpulan dari sejumlah momen-momen magnetik. Bila benda magnetik tersebut diletakkan dalam medan luar, benda tersebut menjadi termagnetisasi karena induksi. Oleh karena itu intensitas kemagnetan I adalah tingkat kemampuan menyearahnya momen-momen magnetik dalam medan magnet luar, atau didefinisikan sebagai momen magnet persatuan volume : I=M/V Suseptibilitas Kemagnetan Tingkat suatu benda magnetik untuk mampu dimagnetisasi ditentukan oleh susebtibilitas kemagnetan atau k, yang dituliskan sebagai : I=kH Besaran yang tidak berdimensi ini merupakan parameter dasar yang dipergunakan dalam metode magnetik. Harga k pada batuan semakin besar

apabila dalam batuan tersebut semakin banyak dijumpai mineral-mineral yang bersifat magnetik. METODE PENELITIAN Peta Lokasi Pengambilan Data

- Display

= 7 segment 5 digit

- Toleransi gradient sampai dengan 500 Gamma/meter - Sumber daya kering(1,5V) - Jangkau suhu = -35 sampai +60oC - Dimensi : Console 160 x 250 mm2 ; 1,8 kg Sensor 2. 3. 4. 5. = 80 x 150 mm2 ; 1,3 kg = 9 buah baterai

GPS Garmin, untuk penentuan posisi stasiun pengukuran Peralatan pengukur waktu (jam) Peralatan penunjuk arah (kompas) 2 buah Peralatan pendukung lainnya (log book, alat tulis, dll).

Gambar 1. Peta lintasan dan lokasi pengambilan data Lokasi penelitian berada di desa Kasihan, kecamatan Tegalombo, kabupaten Pacitan, propinsi Jawa Timur. Kedudukan dalam peta 428 - 42936 BT dan 86 - 8730 LS. Peta lokasi pengambilan data ini didapat dari hasil overlay peta topografi daerah Kasihan. Dari peta ini didapat beberapa informasi mengenai topografi, nama lokasi dan kenampakan sungai dan jalan untuk selanjutnya dapat digunakan dalam desain survey. Alat Yang Digunakan Dalam survei metode magnetik ini digunakan peralatan yaitu: 1. Proton Precession Magnetometer (PPM), untuk mengukur medan magnet total. Spesifikasi untuk salah satu tipe PPM dapat diberikan sebagai berikut : - Tipe - Resolusi = Scintrex PPM = 1 Gamma

Metode Pengambilan Data Lokasi pengamatan berada pada dua lokasi berbeda. Lokasi pertama di sekitar sungai Dadap dengan 3 lintasan berbeda yang arah lintasannya relatif tegak lurus memotong sungai Dadap (tenggara-barat laut). Untuk lintasan 1 pada hari ke 1, sebanyak 31 titik pengukuran dengan spasi antar titik 100m. Lintasan 2 pada hari ke 2, sebanyak 36 titik pengukuran dengan spasi 50m dan berada sejajar 250m sebelah timur laut dari lintasan 1. Lintasan 3 pada hari ke 3, panjang lintasan 800m dengan spasi 50m dan lintasan berada sejajar 300m sebelah barat daya dari lintasan 1. Pada setiap titik dilakukan pengambilan data sebanyak 5 (lima) kali untuk menghilangkan pengaruh lokal. Lintasan 1,2 dan 3 dilakukan pada tanggal 13-15 Mei 2011. Lokasi kedua berada di lokasi tambang Mn dan Cr, sebelah timur dari Jurang Gandul, pada hari ke 4 (16 Mei 2011). Pengambilan data magnetik ini menggunakan PPM dan dengan lintasan survey yang telah dispersiapkan untuk pengambilan data pada hari ke 4, yaitu 3 lintasan, panjang lintasan 1 (selatan area tambang) dan 2 (puncak bukit, melewati area tambng) adalah 240m dengan spasi 10m dan arah lintasan timur - barat. Sedangkan lintasan 3(utara area tambang) hanya sepanjang 90m dengan sepasi 10m. Pengambilan data dilakukan mulai dari pukul 07.30 16.30. Pada setiap titik dilakukan pengambilan data sebanyak 5 (lima) kali untuk menghilangkan pengaruh lokal. Alur Pengolahan Data Data yang diperoleh dari alat berupa medan magnetik total dalam satuan nanoTesla (nT). Kemudian data tersebut dikoreksi dengan nilai IGRF dan koreksi variasi harian. Untuk mendapatkan anomali medan magnetik total dilakukan pengkonturan data anomali

- Ketelitian = 1 Gamma pada skala penuh - Jangkau = 20.000100.000 Gamma

medan magnetik pada data yang telah dikoreksi tersebut menggunakan Surfer9. Untuk prosesing selanjutnya, kontur medan magnet total yang didapat, dilakukan upward continuation dengan menggunakan software magpick. Kemudian dilakukan penyayatan (A-B) untuk pemodelan menggunakan mag2DC.

terlihat adanya penurunan nilai suseptibilitas magnetik yang diperkirakan adanya struktur sesar di daerah sungai Dadap yang arah strikenya mengikuti alur sungai Dadap.

Gambar 3. Grafik anomali magnetik line 1

Gambar 4. Grafik anomali magnetik line 2

Gambar 5. Grafik anomali magnetik line 3 Data pada line 1,2, dan 3 setelah digabungkan didapat peta kontur anomali medan magnetik total diperlihatkan pada gambar 6 dan gambar 7.

Gambar 2. Diagram alir survey geomagnetik Metode Interpretasi Penafsiran data dilakukan secara kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah lokasi benda penyebab anomali berdasarkan respon magnet regional dan lokal, yaitu posisi target berupa struktur sesar dan zona mineralisasi Mn dan Cr dengan bantuan software yang tersedia yaitu; microsoft excel, surfer 9, magpick dan Mag2DC. PEMBAHASAN Hasil survei pada hari pertama, kedua,dan ketiga terlihat pada gambar 3,4, dan 5 di bawah ini. Pada gambar terlihat grafik anomali magnetik (merah) dan trend regionalnya (biru). Pada area yang dilingkari,

Gambar 6. Kontur Anomali magnetik 3 line 1,2,3)

(hari

Gambar 7. Kontur Anomali magnetik koordinat lokal 3line (hari 1,2,3)

Gambar 11. Anomali magnetik total setelah upward continuation 50 Pada gambar 10 merupakan hasil survei di daerah bukit sebelah timur Juranggandul. Surveinya mengambil 3 lintasan dengan arah timur-barat. Panjang setiap lintasan 240 meter dengan spasi 10 meter dan jarak antar lintasan 30 meter. Pada gambar diperlihatkan peta persebaran anomali medan magnetik total yang nilai suseptibilitas batuan sangat kecil (-1100 sampai -300 nT), yang diperkirakan merupakan zona mineralisasi dari mineral krom (Cr) dan mangan (Mn). Setelah dilakukan kontinuasi ke atas sebesar 50 (gambar 11), kita dapat melihat anomali regional sehingga dapat lebih mudah menginterpretasikan daerah yang dimungkinkan memiliki kandungan krom (Cr) dan mangan (Mn). KESIMPULAN Dari hasil pengolahan data , pembahasan dan informasi dari beberapa literatur dapat disimpulkan bahwa: Pada lintasan 1,2,3 (hari ke 1,2 dan 3), terdapat zona suseptibilitas rendah (-100 sampai 20 nT) di sekitar daerah aliran sungai Dadap yang diinterpretasikan terdapat struktur sesar di daerah tersebut. Pada lintasan 1,2 dan 3 hari ke-4 yaitu di bukit sebelah timur Juranggandul ditemukan batuan yang mempunyai nilai suseptibilitas sangat kecil (-1100 sampai 300 nT) dibandingkan daerah sekitarnya pada posisi UTM 529860 529920. Zona tersebut diindikasikan sebagai zona mineralisasi krom (Cr) dan mangan (Mn). REFERENSI Anonim.2011. Panduan praktikum non seismik 2011.Geofisika UGM, Yogyakarta. Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., and Keys, D.A. 1976. Applied Geophysics. Cambridge: Cambridge University Press

Gambar 8. Kontur setelah upward continuation 150 dan slice A-B

Gambar 9. Model dari slice A-B Gambar 6 adalah peta anomali medan magnetik total pada koordinat sebenarnya, sedangkan gambar 7 adalah peta anomali medan magnetik total pada koordinat lokal. Dari gambar kontur yang dilingkari terlihat adanya nilai suseptibilitas batuan yang kecil (bewarna biru) bahkan mencapai -100 nT(titik ke 20 line2). Hal ini diperjelas setelah dilakukan kontinuasi ke atas sebesar 150 yang terlihat pada gambar 8. Nilai suseptibilitas batuan yang kecil ini diperkirakan merupakan zona sesar di sungai dadap yang dipengaruhi oleh adanya kontras nilai suseptibilitas pada batas sesar tersebut. Daerah ini merupakan zona lemah yang resisten dan batuannya tidak kompak sehingga memiliki nilai susseptibilitas yang lebih kecil dibanding daerah sekitarnya. Gambar 9 merupakan pemodelan dari slice A-B pada lintasan 1,2 dan 3 di hari ke 1,2 dan 3. Dari model terlihat adanya sesar di sekitar sungai Dadap.

Gambar 10. Anomali magnetik total di sebelah timur bukit Jurang Gandul

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FISIKA PROGRAM STUDI GEOFISIKA PAPER PRAKTIKUM MEDAN POTENSIAL 2011
IDENTIFIKASI STRUKTUR SESAR DAN PEMETAAN ZONA MINERALISASI Cr DAN Mn MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK DI DESA KASIHAN, PACITAN

DISUSUN OLEH : TINO DIHARJA M. ABDULLAH ARIS KRISWANTO ARIF PURWA ADI YUNINGGAR D. N. MEGAWATI TRI WAHYUNINGSIH SHINTA KARTINA F. M. NAHDHI AHSAN ASISTEN PENDAMPING : RUDY DHARMALI

YOGYAKARTA MEI 2011