Anda di halaman 1dari 10

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN FASE ANAK USIA SEKOLAH (EMOSI, SOSIAL, DAN KEPRIBADIAN)

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Psikologi Perkembangan

Dosen : Satiningsih, S. Psi, M. Si.

Oleh :

Nofy Ongko

121664020

PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

TAHUN AJARAN 2012 / 2013 Fase anak usia sekolah berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada awal dan akhirnya, akhir fase anak usia sekolah ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian sosial anak. Permukaan akhir masa kanak kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu. Bagi sebagian besar anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupan anak, juga bagi anak yang telah pernah mengalami situasi pra sekolah selama setahun. Sementara menyesuaikan diri dengan tuntutan dan harapan baru dari kelas satu, kebanyakan anak berada dalam keadaan tidak seimbang; anak megalami gangguan emosional sehingga sulit untuk hidup bersama dan bekerja sama. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku. Ciri Ciri Fase Anak Usia Sekolah Orang tua, pendidik, dan ahli psikologi memberikan berbagai label kepada periode ini dan label label itu mencerminkan ciri ciri penting dari periode akhir fase anak usia sekolah Label Yang Digunakan Oleh Orang Tua Bagi banyak orang tua akhir fase anak usia sekolah merupakan usia yang menyulitkan, suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia lebih banyak dipengaruhi oleh teman teman sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga lain. Label Yang Digunakan Oleh Para Pendidik Para pendidik melabelkan fase anak usia sekolah dengan usia sekolah dasar. Pada usia tersebut anak diharapkan memperoleh dasar dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa; dan mempelajari pelbagai keterampilan penting tertentu, baik keterampilan kurikuler maupun ekstra kulikuler. Label Yang Digunakan Oleh Ahli Psikologi

Bagi ahli psikologi, fase anak usia sekolah adalah usia berkelompok, suatu masa dimana perhatian utama anak. Tertuju pada keinginan diterima oleh teman teman sebaya sebagai anggota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan teman temanya. Oleh karena itu, anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku. Keadaan ini mendorong ahli psikologi untuk menyebut periode ini sebagai usia penyesuaian diri. Bagaimana pentingnya penyesuaian diri dengan standar yang disetujui kelompok bagi anak telah dijelaskan oleh Chruch dan Stone Bagi anak 7 atau 8 tahun, ukuran dosa yang paling buruk berbeda dari ukuran anak lain Ia meniru pakaian dan perilaku anak yang lebih tua dan mengikuti peratuaran kelompok sekalipun bertentangan dengan peraturan dirinya, keluarga, dan peraturan sekolah.

Emosi, Sosial, Kperibadian Fase Anak Usia Sekolah

Emosi Pola emosi yang umum pada fase anak sekolah sama dengan pola pada awal masa kanak kanak yaitu : Amarah Penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan, tidak tercapainya keinginan dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat lompat, atau memukul. Takut Pembiasan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenagkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut, seperti cerita cerita, gambar gambar, acara radio dan televisi, dan film film dengan unsur yang menakutkan. Pada mulanya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panik; kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar, dan bersembunyi, menangis, dan menghindari situasi yang menakutkan. Cemburu

Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkannya dengan kembali berperilaku seperti anak kecil, seperti mengompol, pura pura sakit atau menjadi nakal. Perilaku ini semua bertujuan untuk menarik perhatian. Ingin tahu Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensorimotorik; kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya. Iri hati Anak anak sering iri hati mengenai kemampuan atau barang yang dimiliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam macam cara, yang paling umum adalah mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memilki barang seperti yang dimiliki orang lain, atau dengan mengambil benda benda yang menimbulkan iri hati. Gembira Anak anak masa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat lompat, atau memeluk benda atau orang lain yang membuatnya bahagia. Sedih Anak anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, bintang, atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan Kasih sayang Anak anak belajar mencintai orang, binatang atau benda yang menyenagkan. Ia mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar tetapi ketika masih

kecil anak menyatakan secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya. Bagaimanapun juga pola emosional umumnya dari akhir masa kanak kanak berbeda dengan pola emosional awal kanak kanak dalam dua hal pertama, jenis situasi yang membangkitkan emosi dan kedua, bentuk ungkapannya. Perubahan tersebut merupakan akibat dari meluasnya pengalaman dan belajarnya daripada proses pematangan diri. Dari pengalaman anak diketahui bagaimana anggapan orang lain tentang berbagai bentuk ungkapan emosional. Dalam keinginan pelbagai bentuk yang ternyata secara sosial tidak diterima dengan bertambah besarnya badan, anak anak mulai mengungkapkan amarah dalam bentuk murung, menggrutu dan pelbagai ungkapan kasar. Ledakan amarah menjadi jarang karena anak mengetahui bahwa tindakan semacam dianggap perilaku bayi. Sebagaimana adanya perbedaan dalam cara mengungkapkan emosi, ada juga perbedaan dalam jenis situasi yang membangkitkan emosi. Anak yang lebih besar lebih cepat marah kalau dihina daripada anak yang lebih muda yang tidak sepenuhnya mengerti apa arti setiap komentar yang bersifat merendahkan. Demikian pula halnya, rasa ingin tahu anak yang lebih kecil ditimbulkan oleh sesuatu yang baru dan berbeda. Bagi anak yang lebih besar, hal baru dan berbeda harus sangat menonjol agar dapat membangkitkan keingintahuannya Sebagaimana juga terdapat pada anak anak yang lebih muda, ada sejumlah perbedaan emosi emsoi pada anak anak yang lebih besar dan dalam cara mereka mengungkapkan emosi. Anak yang popular cenderung dibandingkan dengan anak yang kurang popular. Anak laki laki pada setiap umur mengungkapkan emosinya dipandang lebih sesuai dengan jenis kelaminnya daripada anak perempuan; sementara anak perempuan lebih banyak mengalami rasa takut, khawatir dan persaan kasih sayang, yaitu emosi emosi yang dipandang sesuai dengan peran seksnya. Pada masa ini, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Hal ini orang

tua dan lingkungan sangat berpengaruh pada keadaan anak. Pada anak ini tergolong sensitif sama dengan jiwa anak perempuan anaknya kadang cengeng kalau keinginanaya tidak dituruti. Misalkan minta uang untuk jajan dia sudah dijatah sekian, jatah jajannya habis minta lagi kemudian dikasih ibunya habis sorenya lagi minta uang terkadang ibunya tidak ada uang receh jadinya tidak dikasih sambil di omelin ibunya karena jajan terus, anak ini langsung emosi dan menangis sambil barang barang yang ada sekitarnya langsung dibuangin terutama bantal itu yang kadang sering dia buang kalau dirinya menangis dan jengkel. Pernah juga berantem atau bertengkar sama temannya karena temannya usil sama dia. Emosi merupakan faktor yang dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu dan perilaku belajar. Emosi yang positif mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi yang negatif menghambat proses belajar Bahaya emosi Anak akan dianggap tidak matang baik oleh teman teman sebaya maupun orang orang dewasa, kalau ia masih menunjukkan pola pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan. Seperti amarah yang meledak ledak, dan juga bila emosi yang buruk sperti marah dan cemburu masih sangat kuat sehingga kurang disenangi oleh orang orang lain.

Sosial Akhir masa kanak kanak sering disebut sebagai usia berkelompok karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri di rumah atau dengan saudara saudara kandung atau melakukan kegiatan dengan anggota anggota keluarga. Anak ingin bersama teman temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman- temannya. Dua atau tiga teman tidaklah cukup baginya. Anak ingin bersama dengan kelompoknya, karena hanya dengan demikian terdapat cukup teman untuk bermain dan berolah raga, dan dapat memberikan kegembiraan. Sejak anak masuk

sekolah sampai masa puber, keinginan untuk bersama dan diterima kelompok menjadi semakin kuat. Hal itu berlaku baik untuk anak laki laki maupun anak perempuan. Perkembangan sosial pada anak usia sekolah ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga, dia juga membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) sehingga ruang gerak hubungan sosialnya bertambah luas. Anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan sikap egosentris kepada sikap yang kooperatif (bekerjasama) dan sosiosentris (memperhatikan

kepentingan orang lain). Bahaya sosial Terdapat lima jenis anal yang penyesuaiannya dipengaruhi oleh bahaya sosial. Pertama, anak yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok teman- teman akan kurang mempunyai kesempatan untuk belajar bersifat sosial. Kedua, anak yang terkucil, yang tidak memilki persamaan dengan kelompok teman teman akan menganggap dirinya berbeda dan merasa tidak mempunyai kesempatan untuk diterima teman teman. Ketiga, anak yang mobilitas sosial dan grafisnya tinggi mengalami kesulitan untuk diterima dalam kelompok yang sudah terbentuk. Keempat, anak yang berasal dari kelompok ras atau kelompok agama yang terkena prasangka. Dan kelima, para pengikut yang ingin menjadi pemimpin kemudian menjadi anak yang penuh dengki dan tidak puas.

Kepribadiaan Dengan meluasnya cakrawala sosial pada saat anak, masuk sekolah, faktor faktor baru mulai mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Akibatnya, anak harus sering kali memperbaiki konsep diri. Karena sampai sekarang anak memandang dirinya sendiri hampir sepenuhnya melalui pandangan orang tua, tidaklah mengherankan kalau konsep diri anak berat sebelah. Sekarang anak melihat dirinya seperti pandangan guru guru, teman teman sekelas dan para tetangga terhadap dirinya. Bahkan orang tua sekarang memberikan reaksi yang berbeda dan reaksi itu membantu anak memecahkan dasar dasar konsep dirinya.

Perubahan tidak hanya terjadi pada konsep diri, tetapi juga pada sifat sifat orang lain yang dinilai dan dikagumi dan juga sifat sifat paa diri anak sendiri. Faktor faktor yang mempengaruhi konsep diri Banyak faktor yang mempengaruhi konsep diri pada awal masa kanak kanak masih tetap mempengaruhi meskipun anak berkembang menjadi lebih besar. Walaupun lingkungan sosial anak semakin meluas, namun hubungan keluarga masih tetap sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Mutu hubungan dengan orang tua, saudara kandung dan sanak keluarga lain, dan pandangan anak mengenai metode pelatihan anak yang digunakan di rumah, semuanya berperan dalam menentukan perkembangan kepribadian anak. Posisi urutan dalam periode ini menjadi lebih penting karena sikap anak terhadap peran yang dihubungkan dengan kedudukannya dalam keluarga lebih besar pengaruhnya dalam cara anak memandang diri sendiri dibandungkan dengan periode sebelumnya. Anak sulung, misalnya, yang sekarang diharapkan untuk membantu mengasuh adik adiknya dapat merasa dirinya penting atau terkekang. Anak tunggal dapat semakin bertambah tegantung atau semakin matang dibandingkan anak yang bukan tunggal, tergantung pada bagaimana perlakuan orang tua. Pada saat anak dari kelompok minoritas masuk sekolah, anak menjadi lebih sadar mengenai prasangka yang ditujukkan terhadap kelompoknya dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Lambat laun keadaan ini mengakibatkan perasaan rendah diri yang dapat diungkapkan dalam penyesuaian sosial yang buruk dan perilaku antisosial, keduanya dapat mewarnai pandangan hidup anak. Lingkungan rumah yang tidak stabil tidak banyak pengaruhnya dalam perkembangan kepribadian anak yang lebih besar daripada terhadap anak yang lebih muda. Sedangkan lingkungan sosial yang tidak stabil pengaruhnya lebih besar. Kalau mobilitas geografis atau mobilitas sosial mengakibatkan perubahan perubahan radikal dalam dunia sosial anak yang lebih besar, maka pengaruhnya sama dengan pengaruh ketidakstabilan lingkungan rumah terhadap anak yang lebih muda. Perasaan tidak mempunyai akar dan perasaan tidak mempunyai

tempat membuat anak tidak aman. Ini mendorong individualiatas yang sangat penurut dan terkekang. Sejumlah faktor baru mempengaruhi konsep diri pada saat anak masuk sekolah dan ketika pola hidupnya berubah. Semua faktor ini secara langsung dan tidak langsung berhubungan dengan kondisi lingkungan baru yang merupakan bagian dari cakrawala sosial yang meluas. Bahaya kepribadian Ada dua bahaya yang serius dalam perkembangan kerpibadian periode ini. Pertama, perkembangan konsep diri yang buruk yang mengakibatkan penolakan diri, dan kedua, egosentrisme yang merupakan lanjutan dari awal masa kanak kanak. Egosentrisme merupakan hal yang serius karena memberikan rasa penting diri yang palsu.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock Elizabeth B., 1980, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan. Jakarta : Erkangga ________________, Fase anak sekolah. From http://www.scribd.com/doc/52639087/FASE-ANAK-SEKOLAHPSIKOLOGI. diakses 11 Okrober 2012