Anda di halaman 1dari 4

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan kromatografi kilat (Kki) / flash chromatography.

Kromatografi kilat merupakan modifikasi dari kromatografi kolom klasik . Prinsip pemisahan pada Kki juga sama dengan proses pemisahan yang terjadi pada KK yaitu didasarkan pada absorbsi komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda terhadap permukaan fase diam menggunakan gas bertekanan untuk mendorong pelarut melalui kolom dari fase diam. Hanya saja yang membedakan, pada Kki terdapat penambahan tekanan dari luar (pompa). Pada prakteknya pompa yang digunakan adalah pompa aquarium. kecepatan aliran dari fase gerak yang melalui fase diam tidak hanya dipengaruhi oleh adanya gaya tarik gravitasi, tetapi juga oleh besarnya tekanan dari pompa. Sampel yang digunakan adalah campuran dari Rhodamin B dan Metilen Blue dengan perbandingan 1 : 5 dalam 1 ml. pada Kki, fase diam yang digunakan berupa silika yang bersifat relatif polar, dimana silika gel ini dimasukkan ke dalam kolom yang terbuat dari kaca. Pengisian silika gel ini dilakukan dengan cara basah, yaitu membuat silika gel menjadi pasta terlebih dahulu dengan mencampurkan sejumlah silika gel kering dan eluen yang digunakan. Kemudian dengan hati-hati pasta tersebut dimasukkan ke dalam kolom agar diperoleh kolom kontinu, rata, dan tidak terputus oleh rongga. keberadaan rongga didalam dapat mempengaruhi pada kecepatan pemisahan dan hasil tidak akan optimal. Keberadaan eluen yang dimasukan yaitu pada ketinggian kurang lebih 2 cm dari silika gel. Hal ini dilakukan untuk mencegah rusaknya silika gel karena sifat silika gel mudah mengeras sehingga harus selalu terendam. Eluen/ larutan pengembang yang digunakan adalah campuran Diklorometana dan Metanol dengan perbandingan Metanol : DCM = 4 : 6 dengan volemu eluen 150 ml. dengan perbandingan seperti ini eluen relatif kurang polar karena konsentrasi metanol yang bersifat polar konsentrasinya lebihsedikit, sedangkan DCM cenderung bersifat nonpolar jumlahnya lebih banyak. Pompa akuarium dipasangkan apabila rangkaian kolom telah selesai, pemasangan akuarium ini bertujuan untuk memberikan tekanan agar dapat memperlancar pergerakan

eluen dalam kolom sehingga dapat mempersingkat waktu proses pemisahan. Tapi pada prakteknya pada saat pompa akuarium dinyalakan terjadi kebocoran pada bagian atas sehingga eluennya keluar dari kolom, untuk mengatasinya pompa akuarium tidak dinyalakan sampai volume eluen berada dibawah leher kolom, hal ini menyebabkan waktu pemisahannya menjadi lebih lama dari yang seharusnyan . Pemasangan pompa ini terbukti lebih efisien dalam hal waktu dibandingkan pada Kromatografi Kolom. Tekanan yang dihasilkan pompa akuarim tidak dapat dibesarkan atau dikecilkan.

Pada pemisahannya, Sampel yang mempunyai afinitas besar terhadap absorben akan secara selektif tertahan dan afinitasnya paling kecil akan mengikuti aliran pelarut. Panjangnya pendeknya kolom juga mempengaruhi kecepatan penurunan fraksi senyawa. Laju aliran fase gerak juga dipengaruhi oleh tekanan. Jika tekanan semakin tinggi maka laju aliran akan semakin cepat. Pada prosesnya, fasa gerak dialirkan pelan-pelan malalui dinding agar silika tidak hancur dan pecah lalu dibiarkan mengalir melalui kolom sampai pelarut habis dengan bantuan tekanan dari pompa. Fasa gerak akan membawa campuran komponen ke bawah, sehingga di dalam kolom terjadi kesetimbangan dinamis antara komponen teradsorbsi pada fasa diam dengan komponen yang terlarut dalam fasa gerak. Tetapan kesetimbangan disebut koefesien terdistribusi, dimana setiap komponen mempunyai koefisien distribusi yang berbeda, sehingga kecepatan migrasinya juga berbeda. Perbedaan kecepatan migrasi menyebabkan terjadinya pemisahan komponen dalam campuran. Komponen yang terpisah merupakan pita-pita dalam fasa diam, dan masingmasing pita didorong keluar kolom. lalu ditampung, dipisahkan dan diidentifikasi menggunakan spektrofotometer Shimadzu UV-Vis. Setelah semua fraksi warna turun, kemudian diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis untuk mengetahui nilai absorbansi terhadap kepekatan warna yang dihasilkan pada dua jenis panjang gelombang, yaitu pada panjang gelombang Rhodamin B sebesar Methylene Blue sebesar 592 nm. 544,5 nm dan pada

Hasil fraksi yang di peroleh sebanyak 21 fraksi, tetapi yang diukur hanya fraksi-fraksi yang memiliki warnanya saja. Karena diprediksi pada fraksi yang tidak berwarna (bening) tidak terjadi proses pemisahan dan merupakan eluen. pada hasil pengukuran dengan panjang gelombang maksimum 544,5 nm , fraksi yang berwarna dimulai pada fraksi yang ketiga dengan warna merah jambu muda, fraksi keempat berwarna merah jambu pekat dengan nilai absorbansi paling besar yaitu 0,450 dan warna biru hanya terdapat pada fraksi ke 21 dengan nilai absorbansinya 0,028. Sedangkan pada saat pengukuran dengan panjang gelombang maksimum 592 nm nilai absorbansi tertinggi dimiliki oleh fraksi yang berwarna biru yaitu fraksi ke 21 dengan nilai absorbansinya sebesar 0,051. Adanya fraksi fraksi yang berwarna bening(dengan nilai absorbansi nol) pada fraksi yang dimulai dari 14 sampai fraksi 20 hal ini dapat terjadi karena proses pemisahan yang kurang sempurna akiba terjadinya perbedaan perlakuan antara yang memakai pompa akuarium dan yang memakai pompa akurium. Dan juga pada saat pengukuran adanya nilai absorbansi yang tidak stabil bisa disebabkan karena adanya matriks/penggangu yang dapat menyerap sinar pada lamda yang sama. KESIMPULAN Prinsip pada Kromatografi Kilat hampir sama dengan Kromatografi Kolom Klasik, perbedaannya hanya terletak pada penggunaan pompa dalam Kromatografi Kilat Semakin tinggi tekanan maka kecepatan laju alir eluen dan proses pemisahan semakin cepat dengan waktu yang relatif cepat DAFPUS

Modul Praktikum Kromatografi Program Studi Analis Kimia Jurusan Teknik Kimia : Politeknik Negeri Bandung. J. Gritter, Roy, dkk.. 1991. Pengantar Kromatografi Edisi Kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung