Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM PEMANTAUAN KUALITAS UDARA
PENGUKURAN GAS
IMPINGER

NAMA : ELSANDY ADHA MUKHTI
NO BP : 0810942035
TANGGAL : SABTU/22 MEI 2010
ANGGOTA : 1. LENI (0810941010)
2. REINER OKTAVIANUS (0810942012)
3. AJENG YANAROSANTI (0810942021)
4. ZILVIA WULANDARI (0810942024)

ASISTEN:
RINI ADRINITA
YASSYRLY ANUGRAH











LABORATORIUM KUALITAS UDARA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2009

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Metode Percobaan
Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah absorbsi gas oleh absorban.
1.2 Prinsip Percobaan
1. Udara dihisap oleh pompa vakum dengan laju aliran tertentu yang menyebabkan
tekanan udara di dalam tabung impinger lebih rendah dari tekanan udara luar.
Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan terjadinya gelembung udara yang
melewati absorban;
2. Pada saat terjadi gelembung udara, zat pencemar gas akan diserap oleh absorban;
3. Jenis zat pencemar yang diserap sesuai dengan absorban yang digunakan;
4. Penyerapan zat pencemar menyebabkan perbedaan warna pada absorban;
5. Penyerapan warna tersebut diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang
gelombang tertentu.
1.3 Tujuan Percobaan
Tujuan pelaksanaan praktikum pemantauan kualitas udara mengenai Pengukuran Gas,
impinger antara lain:
1. Agar praktikan dapat mengoperasikan alat impinger sesuai dengan prosedur
praktikum;
2. Mengukur kondisi meteorologi terkait dengan perhitungan konsentrasi pencemar
gas;
3. Untuk mengetahui konsentrasi gas NO
2,
SO
2
, CO, dan O
3
di udara ambien.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di
atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan
tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti(Anonim A,
2010).
Adanya gas-gas dan partikulat-partikulat tersebut, baik yang diperoleh secara alami dari
gunung berapi, pelapukan tumbuh-tumbuhan, ledakan gunung berapi dan kebakaran
hutan, maupun yang diperoleh dari kegiatan manusia ini akan mengganggu siklus yang
ada di udara dan dengan sendirinya akan mengganggu sistem keseimbangan dinamik di
udara, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara(Anonim A, 2010).
Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar
primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran
udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia
merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang
terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam
smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder(Anonim B, 2010).
Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini
pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan
hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer
semakin meningkat(Anonim A, 2010).
Sumber-sumber pencemaran udara(Anonim A, 2010):
1. Kegiatan manusia
- Transportasi;
- Industri;
- Pembangkit listrik;
- Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis
bahan bakar);
- Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC).
2. Sumber Alami
- Gunung berapi;
- Rawa-rawa;
- Kebakaran hutan;
- Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi.
3. Sumber-sumber lain
- Transportasi amonia;
- Kebocoran tangki klor;
- Timbulan gas metana dari lahan uruk/tempat pembuangan akhir sampah;
- Uap pelarut organik.
Jenis-jenis pencemar:
- Karbon monoksida;
- Oksida nitrogen;
- Oksida sulfur;
- CFC;
- Hidrokarbon;
- Ozon;
- Volatile Organic Compounds;
- Partikulat.
Pencemaran udara berupa gas(Anggoro, 2007):
A. NO
2

NO2 singkatan dari nitrogen dioksida. Zat nitrogen dioksida sangat beracun sehingga
dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan saluran pernapasan serta
menimbulkan kerusakan paru-paru. Gas ini terbentuk dari hasil pembakaran tidak
sempurna. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat
sangat halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel
nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan
akan membentuk asam. Asam ini dapat merusakan tembok bangunan dan
menghambat pertumbuhan tanaman. Jika bereaksi dengan sisa hidrokarbon yang tidak
terbakar, akan membentuk smog atau kabut berwarna cokelat kemerahan. Standar
baku mutu yang diperbolehkan adalah 150 µm /Nm
3
.
Bagian saluran yang pertama kali dipengaruhi oleh NO
2
adalah membran mukosa dan
jaringan paru. Organ lain yang dapat dicapai NO
2
adalah melalui aliran darah. Karena
data epidemiologi tentang resiko pengaruh NO
2
terhadap kesehatan manusia sampai
saat ini belum lengkap, maka evaluasinya banyak didasarkan pada hasil studi
eksprimental.



B. SO
2

SO
2
merupakan rumus kimia untuk gas sulfur dioksida. Gas ini berasal dari hasil
pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur. Selain dari bahan bakar, sulfur
juga terkandung dalam pelumas. Gas sulfur dioksida sukar dideteksi karena
merupakan gas tidak berwarna. Sulfur dioksida dapat menyebabkan gangguan
pernapasan, pencernaan, sakit kepala, sakit dada, dan saraf. Pada kadar di bawah
batas ambang, dapat menyebabkan kematian. Korban sulfur dioksida bukan hanya
manusia, tetapi juga bangunan dan tumbuhan. Keberadaan gas ini di udara dapat
menimbulkan hujan asam yang merusakkan bahan bangunan dan menghambat
pertumbuhan tanaman. Standar baku mutu yang diperbolehkan adalah 365 µg/Nm
3
.

SO
2
dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua
dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada system pernapasan
kardiovaskular. Sifat iritasi pada saluran pernapasan dari SO
2
dan partikulat dapat
menyebabkan membran mukosa dan pembentukan mukosa tersebut mengalami
peningkatan dalam hal hambatan aliran udara. Kondisi ini akan menjadi lebih parah
bagi kelompok yang peka seperti penderita penyakit jantung atau paru-paru dan para
lanjut usia.
C. Gas CO
CO merupakan rumus kimia untuk gas karbon monoksida. Gas ini dihasilkan dari
pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Pembakaran tidak sempurna, salah
satu sebabnya adalah kurangnya jumlah oksigen. Bisa karena saring udara yang
tersumbat, bisa juga karena karburator kotor dan setelannya tidak tepat. Asap
kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan.
Data mengungkapkan bahwa 60 persen pencemaran udara di kota-kota besar
disumbang oleh transportasi umum. Karbon monoksida bersifat racun,
mengakibatkan turunnya berat janin, meningkatkan jumlah kematian bayi, serta
menimbulkan kerusakan otak. Standar baku mutu yang diperbolehkan adalah 10.000
µg/m
3
.
Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam
proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik antara
udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan
Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Karbon
monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya
berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu
strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi
seperti pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi
karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi
kendaraan bermotor.
D. O
3

O
3
merupakan lambang dari ozon. Senyawa kimia ini tersusun atas tiga atom oksigen.
Ozon, berasal dari kata kerja bahasa yunani yang artinya "mencium", merupakan
suatu bentuk oksigen alotropis (gabungan beberapa unsur) yang setiap molekulnya
memuat tiga jenis atom. Formula ozon adalah O
3
, berwarna biru pucat, dan
merupakan gas yang sangat beracun dan berbau sangit. Ozon mendidih pada suhu -
111,9° C (-169.52° F), mencair pada suhu -192,5° C (-314,5° F), dan memiliki
gravitasi 2.144. Ozon cair berwarna biru gelap, dan merupakan cairan magnetis kuat.
Ozon terbentuk ketika percikan listrik melintas dalam oksigen. Adanya ozon dapat
dideteksi melalui bau (aroma) yang ditimbulkan oleh mesin-mesin bertenaga listrik.
Di atmosfir, terjadinya ozon berasal dari nitrogen oksida dan gas organik yang
dihasilkan oleh emisi kendaraan maupun industri, dan ini berbahaya bag! kesehatan di
samping dapat menimbulkan kerusakan serius pada tanaman. Pentingnya pengaturan
kadar nitrogen oksida yang dilepas ke udara oleh, misalnya, pembangkit listrik tenaga
batubara adalah untuk menghindari terbentuknya ozon yang dapat menimbulkan
penyakit pernafasan seperti bronkitis maupun asma.
Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen
dan oksigen fluorida (OF
2
). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi
lapisan ozon sangat berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B).
Ozon terbentuk di udara pada ketinggian 30km dimana radiasi UV matahari dengan
panjang gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O
2
) menjadi
atom oksigen, tergantung dari jumlah molekul O
2
atom-atom oksigen secara cepat
membentuk ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah
panjang gelombang 240-320 nm.
Ozon terbentuk ketika percikan listrik melintas dalam oksigen. Adanya ozon dapat
dideteksi melalui bau (aroma) yang ditimbulkan oleh mesin-mesin bertenaga listrik.





BAB III
PROSEDUR PRAKTIKUM DAN ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN
3.1 Alat-Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
1. Pompa vakum;
2. Tabung impinger yang berisi absorban;
3. Tabung impinger yang berisi silica gel atau wool;
4. Selang penghubung;
5. Spektrofotometer;
6. Tabung film;
7. Barometer, pengukur tekanan udara;
8. Absorban;
9. Kompas, untuk penentuan arah angin;
10. Hygrothermometer, pengukur suhu dan kelembapan;
11. Pipet takar 10 ml;
12. Bola hisap;
13. Labu ukur 25 ml;
14. Tripod;
15. Kotak trap;
16. Kuvet Spektro;
17. Kotak impinger.
3.2.2 Bahan
1. Larutan penyerap NO
2
;
2. Larutan penyerap TCM;
3. Larutan penyerap O
3
;
4. Larutan iodin 0,05 N;
5. Larutan asam sulfamat;
6. Larutan formaldehid;
7. Larutan pararosalinin;
8. Indikator amilum 0,2
3.2 Prosedur Percobaan
A. Sebelum Praktikum
- Pembuatan larutan penyerap NO
2;

- Pembuatan larutan penyerap TCM;
- Pembuatan larutan penyerap O
3.

B. Pada Saat Praktikum
- Siapkan sumber arus listrik, pastikan voltase alat sama dengan voltase sumber
arus listrik;
- Pasang tripod setinggi 1-1,5 m sebagai tempat untuk meletakan kotak impinger;
- Isi tabung impinger dengan larutan penyerap sesuai dengan parameter gas yang
akan diukur sebanyak 10 ml;
- Hidupkan pompa vakum dan atur laju aliran udara yang dikehendaki;
- Sampling dilakukan selama 1 jam;
- Selesai batas waktu sampling yang direncanakan, panel pompa vakum diatur ke
posisi off;
- Masing-masing tabung impinger yang berisi absorban dipindahkan ke dalam botol
film dan diberi tanda sesuai peruntukannya serta disimpan dalam termos yang
telah diisi batu es;
- Sampel dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
C. Setelah Praktikum
- Lakukan pembacaan absorbansi sampel dengan menggunakan alat
spektrofotometer sesuai tahapan berikut:
a. Sampel NO
2

Sampel yang berisi konsentrasi NO
2
di udara ambien diserap dalam larutan
penyerapan yang mengandung asam sulfanilat dan N-(1-Naphtyl)-Ethylene
Diamin Dihidro Cloride (NEDA) membentuk senyawa merah muda.Intensitas
warna (absorbansi) yang terjadi diukur dengan alat spektrofotometer pada
panjang gelombang 550 nm.
b. Sampel SO
2

Penyerap + 1 ml asam sulfamat, kemudian dikocok. Biarkan selama ± 10
menit. Kemudian tambahkan 2 ml formaldehyde dan 5 ml pararosanilin.
Kocok sampai homogen, kemudian ukur dengan panjang gelombang 548 nm.
Perlakuan terhadap sample sama dengan blanko.
c. Sampel CO
Sampel dan blanko masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml.
Kemudian dipanaskan sampai berwarna kuning, didinginkan. Diukur dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm
d. Sampel O
3a

Penyerapan ± 5 ml amilum, biarkan ± 15 menit. Kemudian ukur dengan
panjang gelombang 580 nm.



























BAB IV
DATA SAMPLING
4.1 Data Form Praktikum Gas
No
Suhu
(
o
C)
Tekanan
Laju
Aliran
(l/mnt)
Kecepatan
Angin
(m/dtk)
Arah Angin
RH
(%)
1
2
3
4
5
6
7
29,2
29
29,3
28,1
28,2
28,1
29,2
28,6
28,95
28,96
28,95
28,95
28,95
28,94
1
1
1
1
1
1
1
1,6
0,9
0,3
0,5
0,1
0,8
0,2

BD-TL
BD-TL
BD-TL
BD-TL
Selatan-Utara
BD-TL
BD-TL

89,6
90,6
86,2
89,8
92
92,47
97,2
Rata-
rata
28,73 28,9 0,63 91,12
4.2 Data Form Larutan Standar
Gas
Absorban
Rata-rata
I II III
NO
2
0,025 0,028 0,028 0,027
SO
2
0,07 0,07 0,08 0,075
CO 0,03 0,03 0,03 0,03
O
3
- - - -





BAB V
PERHITUNGAN DATA DAN ANALISIS DATA
5.1 Perhitungan
Tekanan rata-rata = 28,9 inchg dimana 1 inhg = 25,4 mmhg, maka:
28,9 inhg = 734,06 mmhg
Volume Larutan Akhir :
V NO
2
= 10 ml = 0,01 l
V SO
2
= 10 ml = 0,01
V O
3
= 10 ml = 0,01 l
V CO = 10 ml = 0,01
Berat Molekul :
NO2 = 46 g/ml
SO2 = 64 g/ml
CO = 28 g/ml
O3 = 48 g/ml
Suhu Rata-rata = 28,73
0
C = 301,73
0
K
• Kurva Kalibrasi NO2
Konsentrasi (X) Absorban (Y)
0 0,000
0,1 0,028
0,5 0,130
0,8 0,220
1 0,274
2 0,510

Konsentrasi NO
2
( )
3
m g/ μ
) / ( 45 , 24 298 ) ( ) 60 ( ) / (
10 ) / ( 760 ) ( ) ( tan
2565 , 0
0056 , 0
6 0
mol l K mmHg P menit ing WaktuSampl mnt L lajuAliran
ml g ul beratmolek mmHg K suhu L Akhir volumeLaru
Y
× × × ×
× × × × × |
.
|

\
| +

) / ( 45 , 24 298 ) ( 06 , 734 60 ) / ( 1
10 46 760 ) ( 73 , 301 ) ( 10
2565 , 0
0056 , 0 027 , 0
6 0 2
mol l K mmHg menit mnt L
mmHg K L
× × × ×
× × × × × |
.
|

\
| +
÷

= 41,78( )
3
m g/ μ
Konsentrasi 24 jam :
C
24
= C
1
P
T
T
|
|
.
|

\
|
24
1
= 41,78( )
3
m g/ μ x
18 , 0
24
1
|
.
|

\
|

= 23,58 ( )
3
m g/ μ
• Kurva Kalibrasi SO2
Konsentrasi (X) Absorban (Y)
0 0,000
0,4 0,052
0,8 0,100
1,2 0,143
1,6 0,189
2 0,260
y = 0.0838x - 0.002
R² = 0.996
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0 0.5 1 1.5 2 2.5
A
b
s
o
r
b
a
n

Larutan Standar
Grafik Hubungan Konsentrasi dan
Absorban NO2

Konsentrasi SO2 ( )
3
m g/ μ
) / ( 45 , 24 298 ) ( ) 60 ( ) / (
10 ) / ( 760 ) ( ) ( tan
1253 , 0
0013 , 0
6 0
mol l K mmHg P menit ing WaktuSampl mnt L lajuAliran
ml g ul beratmolek mmHg K suhu L Akhir volumeLaru
Y
× × × ×
× × × × × |
.
|

\
| ÷

) / ( 45 , 24 298 ) ( 06 , 734 60 ) / ( 1
10 64 760 ) ( 73 , 301 10
1253 , 0
0013 , 0 0275 , 0
6 0 2
mol l K mmHg menit mnt l
mmHg K L
× × × ×
× × × × × |
.
|

\
| ÷
÷

= 95,63( )
3
m g/ μ
Konsentrasi 24 jam :
C
24
= C
1
P
T
T
|
|
.
|

\
|
24
1
= 95,63( )
3
m g/ μ x
18 , 0
24
1
|
.
|

\
|

= 53,97






y = 0.0838x - 0.002
R² = 0.996
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0 0.5 1 1.5 2 2.5
A
b
s
o
r
b
a
n

Larutan Standar
Grafik Hubungan Konsentrasi dan
Absorban SO2
• Kurva Kalibrasi CO

Konsentrasi (X) Absorban (Y)
0 0,000
0,2 0,014
0,5 0,038
0,8 0,06
1 0,088
2 0,165

Konsentrasi CO ( )
3
m g/ μ
) / ( 45 , 24 298 ) ( ) 60 ( ) / (
10 ) / ( 760 ) ( ) ( tan
0838 , 0
002 , 0
6 0
mol l K mmHg P menit ing WaktuSampl mnt L lajuAliran
ml g ul beratmolek mmHg K suhu L Akhir volumeLaru
Y
× × × ×
× × × × × |
.
|

\
| ÷

) / ( 45 , 24 298 ) ( 06 , 734 60 ) / ( 1
10 28 760 ) ( 73 , 301 10
0838 , 0
002 , 0 03 , 0
6 0 2
mol l K mmHg menit mnt l
mmHg K L
× × × ×
× × × × × |
.
|

\
| ÷
÷

= 66,85 ( )
3
m g/ μ




y = 0.0838x - 0.002
R² = 0.996
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0 0.5 1 1.5 2 2.5
A
b
s
o
r
b
a
n

Larutan Standar
Grafik Hubungan Konsentrasi dan
Absorban CO

Konsentrasi 24 jam :
C
24
= C
1
P
T
T
|
|
.
|

\
|
24
1
= 66,85( )
3
m g/ μ x
18 , 0
24
1
|
.
|

\
|

= 37,73 ( )
3
m g/ μ

5.2 Analisa Data
Gas Perhitungan 1
Jam( )
3
m g/ μ
Perhitungan 24
Jam
Standar Baku Mutu (PP
No. 41 1999)


NO
2
41,78 23,58 150 (24 Jam)
SO2 95,63 53,976 365
CO 66,85 37,73 10000
O3 tidak dilakukan
perhitungan
tidak dilakukan
perhitungan
235

Dan dapat diketahui gas NO2, SO2, dan CO, yang diperoleh dalam praktikum kali ini,
masih berada di bawah ambang batas berdasarkan PP 41/1999. Hasil dari praktikum dapat
dilihat bahwa setiap gas yang yang dihitung konsentrasi 24 jam lebih kecil dari 1 jam.
Factor-faktor yang mempengaruhinya yaitu udara, cuaca, dan arah angin. Berarti
konsentrasi gas-gas pada daerah sampling tersebut masih aman, dan dapat dikategorikan
tidak membahayakan kesehatan manusia apabila dihirup. Sedangkan O
3
tidak dapat
dianalisa karena absorban yang terbaca adalah minus. Hal ini mungkin disebabkan karena
lokasi sampling yang kurang representatif sehingga gas O
3
yang ingin diteliti berada
dalam konsentrasi yang sangat rendah.
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh data bahwa besarnya nilai
konsentrasi untuk masing – masing gas, masih berada di bawah ambang baku mutu yang
dittapkan oleh pemerintah. Rendahnya konsentrasi gas yang ada bisa disebabkan karena
pada saat sampling tidak ada kendaraan bermotor yang lewat, selain itu di sekitar lokasi
sampling banyak ditumbuhi pohon – pohon yang dapat menyerapa gas pencemar



( )
3
m g/ μ ( )
3
m g/ μ
























BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diberikan pada praktikuk ini adalah konsentrasi gas yang selama
24 jam sebagai berikut:
- gas NO2 didapatkan hasil sebesar 23,58 ( )
3
m g/ μ ;
- gas SO2 sebesar 53,976 ( )
3
m g/ μ ;
- gas CO sebesar 37,73 ( )
3
m g/ μ ;
- gas O3 tidak dilakukan perhitungan karena absorban yang terbaca pada
spektofotometer adalah minus (-).
Jika hasil yang kita dapatkan dibandingkan dengan baku mutu yang ada , pada PP
41/1999 dimana baku mutu untuk konsentrasi
- gas NO2 selama 24 jam yaitu 150 ( )
3
m g/ μ ;
- gas SO2 sebesar 365 ( )
3
m g/ μ ;
- gas CO 10000 ( )
3
m g/ μ .
- Sedangkan baku mutu untuk gas O3 selama 1 jam yaitu 235 ( )
3
m g/ μ .
Jadi dapat diketahui, bahwa udara disekitar lokasi sampling masih dibawah ambang batas
yang ditetapkan sehingga tidak berdampak buruk bagi kesehatan apabila dihirup.
6.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil yang akurat, kepada praktikan selanjutnya diharapkan:
- Lebih teliti dalam pengukuran kecepatan aliran udara dan pengukuran meteorologi.;
- Praktikan harus benar-benar memahami prosedur percobaan praktikum baik sebelum
praktikum, saat praktikum maupun setelah praktikum;
- Mendengarkan arahan asisten dan tidak malu untuk bertanya bila ada yang tidak jelas.






DAFTAR PUSTAKA
Anonim A. 2010. Bahaya Pencemaran Udara.(http://kamase.org.2010.bahaya-pencemaran-
udara, akses 21 Mei 2010.

Anonim B. 2010. Pencemaran Udara Pada Lingkungan Hidup Sekitar Kita .
(http://id.organisasi.org/wiki/pencemaran-udara/, akses pada tanggal 21 Mei2010).

Anggoro, Bambang.2007. Pertemuan ke 3 Dampak Industri.