Anda di halaman 1dari 11

STUDI KASUS

JUDUL KASUS PEMBINAAN KELUARGA :

VARICELLA ZOSTER VIRUS PADA ANAK USIA 4 TAHUN 7 BULAN DENGAN RHINOFARINGITIS AKUT VIRAL

NAMA MAHASISWA Inggrita Wisnuwardani Dini Rafida NPM 0920 221 105 0920 221 106 PEMBIMBING dr. Herqutanto, MPH, MARS DAFTAR ISI Manuskrip Berkas Pasien Berkas Keluarga KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FKUI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL 1 PERIODE 27 JUNI 2011 19 AGUSTUS 2011

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

MAKALAH STUDI KASUS DENGAN JUDUL :

VARICELLA ZOSTER VIRUS PADA ANAK USIA 4 TAHUN 7 BULAN DENGAN RHINOFARINGITIS AKUT VIRAL

Disusun Oleh :
Inggrita Wisnuwardani 0920 221 105 Dini Rafida 0920 221 106

Jakarta, Agustus 2011 Pembimbing

dr. Herqutanto, MPH, MARS

Varicella Zoster Virus pada Anak Usia 4 Tahun 7 Bulan dengan Rhinofaringitis akut viral
ABSTRAK

Varisela adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Pada umumnya menyerang anak-anak, tapi dapat juga terjadi pada orang dewasa yang belum pernah terkena sebelumnya. Angka kejadian dari penyakit varicella zoster virus (VZV) adalah 5 orang per 1,000 populasi. VZV banyak menyerang anak usia sekolah dasar, antara 5-9 tahun. Penyakit ini bersifat sangat menular dengan masa penularan antara 1 hari sebelum timbul ruam sampai 7 hari setelah munculnya gejala. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dan percikan ludah, droplet infection. Laporan kasus ini menggambarkan interaksi antara faktor internal dan eksternal termasuk keluarga dalam terjadinya varicella zoster virus dan rhinofaringitis akut viral. Data-data yang terdapat dalam laporan kasus ini diambil dari data primer dan data sekunder. Peran diagnosis holistik pada kasus ini sangat diperlukan untuk pemberian pelayanan kesehatan yang holistik, komprehensif dan berkesinambungan sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan menjadi optimal.

Kata kunci : Varicella Zoster Virus, Anak, Rhinofaringitis akut viral.

Varicella Zoster Virus in Children Ages 4 Years 7 Months with Acute Viral Rhinopharyngitis

ABSTRACT

Varicella is contagious infectious disease caused by Varicella Zoster Virus. In general, attacking children, but can also occur in adults who have never been exposed before. The incidence of the Varicella Zoster Virus (VZV) disease is 5 per 1,000 populations. VZV attacks especially children in primary school age, between 5-9 years. This disease is highly infectious with transmission period revising 1 day before the rash appears until 7 days after the symptoms. Transmission can occur through direct contact and saliva splash, droplet infection. This case report describes the interaction between internal and external factors including the family in the occurrence of VZV and acute viral rhinopharyngitis. The data contained in this case report is taken from the primary data and secondary data. The role of holistic diagnosis in this case is necessary for the provision of health services that are holistic, comprehensive and sustainable manner so that health services are provided to be optimal.

Kata kunci : Varicella Zoster Virus, Children, Acute Viral Rhinopharyngitis.

PENDAHULUAN Varisela berasal dari bahasa Latin yaitu Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama chicken-pox.1 Varisela adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Pada umumnya menyerang anak-anak, tapi dapat juga terjadi pada orang dewasa yang belum pernah terkena sebelumnya.1 Angka kejadian dari penyakit varicella zoster virus (VZV) adalah 5 orang per 1000 populasi. Keadaan immunosupresi meningkatkan risiko ini. Risiko postherpetic neuralgia meningkat seiring dengan usia. Frekuensi infeksi VZV menurun seiring anak yang terimunisasi tumbuh menjadi dewasa.2 VZV banyak menyerang anak usia sekolah dasar, antara 5-9 tahun. Penyakit ini bersifat sangat menular dengan masa penularan antara 1 hari sebelum timbul ruam sampai 7 hari setelah munculnya gejala. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dan percikan ludah, droplet infection.1 Nyeri yang hebat dan insomnia adalah hal yang paling mengganggu bagi pasien. Sekitar 95% dari pasien dengan VZV mengalami nyeri yang sangat hebat selama keadaan sakitnya. 2 Masa inkubasi VZV biasanya berkisar antara 2-3 minggu. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian zoster imun globulin (ZIG), yang didapat dari serum pasien yang mengalami penyembuhan dari herpes zoster, atau dengan varicella zoster imun globulin (VZIG), yang diperoleh dari pool plasma yang mengandung titer antibodi spesifik yang tinggi. Bagi orang sehat, untuk pencegahan bisa dilakukan imunisasi dengan vaksin varisela zoster (Okastrain). Pada anak sehat usia 1 12 tahun diberikan satu kali, satu kali lagi diberikan pada masa pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60 80%. Setelah itu, untuk menyempurnakannya, diberikan sekali saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa bertahan sampai 10 tahun.1 Luka akibat infeksi yang terbuka akan mudah menularkan virus ke bagian tubuh lain atau ke orang lain kalau terjadi persentuhan. Khusus varisela zoster, dapat ditularkan melalui udara. Jika seseorang tertular dan sebelumnya belum pernah sakit cacar air, ia akan terkena cacar air dulu dan tidak langsung herpes zoster.1 Terapi sebaiknya dimulai sesegera mungkin saat gejala atau tanda dari penyakit ini mulai muncul dan paling efektif biasanya saat dalam waktu 72 jam ketika timbul ruam pertama kali.3

TUJUAN Tujuan studi kasus ini adalah mengidentifikasi masalah klinis, keluarga dan lingkungan yang di hadapai pasien, melakukan penatalaksanaan berbasis keluarga yang telah dilakukan. Pelayanan kedokteran keluarga merupakan pendekatan yang tepat dalam tatalaksana VZV, terutama karena kegiatannya yang mencakup semua tingkat pencegahan dengan pendekatan secara holistik dan komprehensif.

METODE Metode yang digunakan berupa laporan kasus. Kasus tersebut diambil dari salah satu pasien di Puskesmas Kecamatan Johar Baru yang dinilai memerlukan binaan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada. Data yang digunakan di studi kasus ini adalah data primer yang didapatkan pada saat pasien datang ke klinik, dan data sekunder berupa hasil wawancara yang didapatkan pada saat kunjungan ke rumah pasien. Yang dinilai pada setiap kunjungan atau kedatangan pasien adalah kemajuan masalah kesehatan keluarga dan kesesuaian dengan hasil yang diharapkan.

ILUSTRASI KASUS Anak usia 4 tahun 7 bulan datang ditemani ibunya dengan keluhan bintik-bintik merah di seluruh punggung sejak 3 hari yang lalu, bintik-bintik berwarna merah tersebut berdiameter kurang lebih 0.5-1 cm. Pada keesokan harinya bintik-bintik merah tersebut menyebar ke seluruh bagian tubuh terutama ke bagian tungkai. Ibu pasien juga menyatakan pasien mengalami batuk dan pilek sejak 2 hari yang lalu. Batuk yang dialami pasien tidak berdahak dan terjadi secara terus menerus. Pilek yang dialami pasien juga terjadi secara terus menerus dengan lendir yang dikeluarkan berwarna putih susu. Selain itu juga memiliki riwayat penyakit keluarga yaitu kakak pasien mengalami kejadian yang serupa seperti yang dialami oleh pasien. Terdapat bintik-bintik merah dengan diameter kurang lebih 0.5-1 cm di punggungnya yang kemudian pada keesokan harinya menyebar ke seluruh tubuh. Kakak pasien mengalami panas selama bintik-bintik merah ada, kurang lebih 4 hari sebelum bintik-bintik merah tersebut mengering. 3 hari kemudian ibu pasien mengalami kemunculan bintik-bintik merah yang serupa di punggung. Pada keesokan harinya menyebar secara merata ke seluruh bagian tubuh. Ibu pasien
6

juga melakukan upaya pengobatan ke Puskesmas Kecamatan Johar Baru seperti pasien dan kakak pasien. 5 hari kemudian paman pasien juga mengalami kemunculan bintik-bintik merah yang serupa. Akan tetapi lokasi kemunculan pertama di tangan dan wajah. Keesokan harinya bintik-bintik merah tersebut menyebar ke seluruh bagian tubuh. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan faring yang hiperemis disertai plak miliar sirkumskrip generalisata dan krusta hiperpigmentosa sirkumskrip generalisata. Pasien menjalani program ASI eksklusif hanya selama 1 minggu. Hal ini dikarenakan ASI ibu pasien tidak keluar dan menurut keterangan ibu pasien, pasien menolak untuk menyusu. Sejak usia 1 minggu pasien minum susu formula. Hal yang sama juga terjadi pada kakak pasien sejak lahir. Riwayat imunisasi dasar tidak lengkap. Pasien hanya menjalani imunisasi BCG, Polio 1, dan Hepatitis B 1 saat lahir, kemudian Polio 2 dan 3 serta Hepatitis B 2 saat usia yang tidak dapat diingat ibu pasien secara persis. Alasan tidak dilakukan imunisasi dasar lengkap adalah pada saat ingin dilakukan imunisasi, pasien selalu berada pada kondisi tidak sehat. Pasien saat ini sekolah pada tingkat Taman Kanak-kanak. Selama periode sakitnya, pasien tidak masuk sekolah selama 1 minggu. Kegiatan sehari-hari pasien selain sekolah adalah bermain dengan teman-teman di sekitar lingkungan rumah dan les membaca satu minggu sekali. Pasien menyukai makanan yang manis-manis dan kurang menyukai makan sayur serta sering makan makanan kecil warung. Pasien juga menyenangi mengkonsumsi susu secara rutin. Di sela-sela waktu makan sering makan selingan berupa coklat, roti, dan permen yang dibeli di warung dan yang tersedia di rumah. Pasien tinggal di rumah bersama dengan orang tua, kakak, dan paman dengan kawasan lingkungan rumah yang sangat padat. Pasien tidur bersama dengan seluruh anggota keluarganya kecuali paman pasien. Kebutuhan pribadi sehari-hari dipenuhi oleh ayahnya yang bekerja sebagai buruh, sedangkan ibunya tidak bekerja. Untuk masalah kesehatan baru pergi ke dokter spesialis anak dekat rumah atau Puskesmas Kecamatan Johar Baru jika terdapat keluhan. Tidak ada dana khusus di keluarga yang dikumpulkan untuk masalah kesehatan keluarga. Saran yang diberikan adalah pentingnya menjaga agar penyakit ini tidak lagi ditularkan ke anggota keluarga yang lain dan lingkungan sekitar, serta pentingnya minum obat secara teratur. Sedangkan pengobatan medikamentosa yang didapatkan adalah Acyclovir 3 x 200 mg,
7

Paracetamol syr 3 x 1 sendok teh hanya jika demam, CTM 3 x tablet, GG 3 x tablet, larutan PK, bedak Salicyl.

DISKUSI Varicella Zoster Virus Varicella Zoster Virus (VZV) adalah penyebab dari varicella (chickenpox) dan herpes zoster. Varisella ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan dari vesikel-vesikel yang gatal dan juga melalui udara. Angka morbiditas dan mortalitas dari VZV sangat tinggi pada orang yang daya tahan tubuhnya menurun. Penyebab varicella virus varicella-zoster yang terutama menyerang anak-anak. Selama masa inkubasi virus dihambat sebagian oleh mekanisme pertahanan tubuh dan respon imun yang timbul.4 Masa inkubasi varisella berkisar antara 11-20 hari, masa ini bisa lebih pendek atau lebih panjang. Gejala klinis dimulai dengan gejala prodormal, yakni demam yang tidak terlalu tinggi, lemas dan nyeri kepala, kemudian disusul timbulnya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan embun (tear drops). Vesikel akan berubah menjadi pustul dan kemudian menjadi krusta. Krusta akan lepas dalam 1-3 minggu, meninggalkan bekas cekung kemerahan yang akan berangsur menghilang, kadang meninggalkan bercak hipopigmentasi yang dapat menetap selama beberapa minggu-bulan. Sementara proses ini berlangsung, timbul lagi vesikel yang baru sehingga menimbulkan gambaran polimorf.4 Gejala prodormal biasanya terjadi pada orang dewasa sedangkan pada anak hanya berupa demam dan malaise ringan. Demam biasanya berlangsung selama lesi baru masih timbul dan tingginya demam sesuai dengan beratnya erupsi kulit, jarang terjadi demam di atas 39 0C. Demam ini dapat berlanjut jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Varisella biasanya hanya didiagnosa berdasarkan riwayat perjalanan penyakit dan gejala klinis.4 Penatalaksanaan non farmakologis meliputi menggunting kuku agar jika tergaruk tidak menimbulkan infeksi sekunder. Penatalaksanaan pasien varicella zoster virus juga tidak lepas dari menjaga kebersihan pakaian pribadi dan sekitar rumah agar tidak bertambah gatal.4 Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penyakit ini menular melalui cairan vesikel dan udara, maka penatalaksanaan non farmakologis lainnya adalah mengisolasi pasien agar tidak

menularkan kepada teman-teman bermainnya ataupun orang-orang dewasa yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap virus varicella zoster.4 Penatalaksanaan medikamentosa pada saat pasien ini datang ke Puskesmas Kecamatan Johar Baru adalah dengan pemberian obat anti virus berupa Acyclovir 3 x 200 mg, Paracetamol syrup 3 x 1 sendok teh yang hanya diminum jika demam, larutan PK, dan bedak Salicyl. Pada saat ini Acyclovir telah terbukti bermanfaat bagi pengobatan varicella. Obat ini dapat digunakan secara oral maupun intravena. Pada kasus dengan komplikasi berat atau dengan gangguan sistem kekebalan Acyclovir ini dianjurkan untuk diberikan intravena. Sedang pada pemberian oral dapat digunakan pada anak yang tanpa komplikasi.4 Akan tetapi harus diketahui bahwa penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus sifatnya dapat sembuh sendiri (self limited disease). Oleh karena itu penggunaan acyclovir ini haruslah bijaksana.4

Rhinofaringitis Akut Viral Rhinofaringitis akut viral adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami keadaan rhinitis disertai gejala faringitis sekaligus.5 Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (4060%), bakteri (5-4%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain. Virus melakukan invasi ke faring dan menimbulkan inflamasi lokal. Penularan infeksi melalui sekret hidung dan ludah (droplet infection). Rhinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis.5 Gejala klinis dari penyakit ini adalah demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok, dan sulit menelan.5 Pada pemeriksaan fisik akan didapatkan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxsachievirus dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxachievirus dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash.5 Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak.5 Epstein Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.5
9

Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual, dan demam. Pada pemeriksaan fisik tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.5 Penatalaksanaan non farmakologis adalah menyarankan banyak istirahat dan minum yang cukup terutama air hangat. Banyak-banyak berkumur dengan air hangat. Penyakit ini menular melalui sekret hidung dan ludah maka penatalaksanaan non farmakologis lainnya adalah menjaga agar pasien tidak menulari orang lain baik di lingkungan sekitar ataupun di lingkungan rumah sendiri. Hal ini dikarenakan lingkungan rumah pasien sangat padat dan di dalam rumah pasien tidur bersama dengan seluruh keluarganya kecuali paman pasien. Penatalaksanaan farmakologis diberikan CTM 3 x tablet dan GG 3 x tablet. Pada kunjungan ke rumah pasien seminggu kemudian, gejala rhinofaringitis viral pasien mengalami perbaikan.

KESIMPULAN Laporan kasus ini menyimpulkan bahwa adanya hubungan antara penularan varicella zoster virus dengan gaya hidup yang sangat padat dan kurang menjaga kebersihan pribadi serta lingkungan sekitar. Kurangnya penjagaan kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar juga berhubungan dengan rhinofaringitis viral.

SARAN Saran untuk pasien dan keluarga pasien : 1. Pasien menjaga kebersihan pribadi terutama menggunting kuku secara rutin dan kebersihan pakaian pribadi. 2. Pasien menjaga diri untuk tidak menulari lingkungan sekitarnya dengan cara menjaga percikan sekret hidung dan ludah serta mengurangi kontak kulit dengan lingkungan sekitar. 3. Keluarga pasien sebaiknya mulai menabung khusus dana kesehatan keluarga serta mulai menerapkan upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga yaitu pola gaya hidup bersih dan sehat. 4. Keluarga pasien sebaiknya mulai melakukan pemisahan ruangan tidur antara anak dengan orang tua untuk memberikan ruang pribadi bagi orang tua dan mencegah penularan infeksi terhadap keluarga.
10

Saran untuk dokter dan petugas kesehatan : Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih informatif dan edukatif serta memberikan solusi alternatif berhubungan dengan keadaan ekonomi dan lingkungan rumah pasien sehingga penanganan masalah pasien dapat dilakukan secara holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan prinsip pelayanan kedokteran keluarga.

DAFTAR PUSTAKA 1. Mulawi, Caroline. Cacar Air Pada Anak. Diunduh dari http://www.omni-hospitals.com. 11 April 2011 2. Bechtel, Kirsten A. Pediatric Chickenpox Clinical Presentation. Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/969773-clinical.htm. 29 Maret 2011 3. Lichenstein, Richard. Varicella-Zoster (Shingles) Organism-Specific Therapy. Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/1966889-overview.htm. 14 Juni 2011 4. Tinjauan Kesehatan Varicella Zoster Virus. Diunduh dari http://ehsablog.com/tinjauankesehatan-varicela-zoster-virus.html. 3 April 2011.
5.

Rusmarjono dan Efiaty Arsyad Soepardi. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid, Buku Ajar Ilmu THT Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008. Hal : 217.

11