Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN Tonsilitis kronis adalah infeksi tonsil persisten yang sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda,

insiden tertinggi pada usia 5 10 tahun. Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronis adalah rangsangan menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yg berubah-ubah), keadaan umum (kurang gizi dan kelelahan fisik) dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.2 Etiologi penyebab Tonsilitis kronis sama dengan penyebab tonsilitis akut yaitu 25% biasanya berasal dari Streptokokus hemolitikus, sedang sisanya adalah Streptokokus golongan lain, Pneumokokus, Stafilokokus, dan Hemofilus influenza. Infeksi berulang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran tonsil melalui parenchyma atau degenerasi fibroid. Namun kadang-kadang bakteri gram positif ini berubah menjadi bakteri gram negatif. 3 Pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang yang menyebabkan epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengkatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe 2 submandibula. Keluhan pada tonsilitis kronis berupa nyeri pada tenggorokan atau nyeri telan ringan yang bersifat kronik, menghebat bila terjadi serangan akut, rasa mengganjal di tenggorok, mulut berbau, badan lesu, nafsu makan berkurang dan sakit kepala. Pada adenoiditis kronis, terjadi buntu hidung dan tidur mendengkur (ngorok). Pada

pemeriksaan fisik ditemukan tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta kripta tersebut. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya membuat lekukan dengan tepi hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat pada kripta.2,4 Sebagai pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa kultur dan uji resistensi (sensitivitas) kuman dari sediaan apus tonsil untuk mengetahui bakteri penyebab serta untuk menentukan terapi namun hal ini tidak dilakukan. Pembesaran tonsil pada pasien ini adalah T3-T3. Pembesaran tonsil ini diukur menurut derajatnya terhadap uvula. Semakin besar, akan semakin mendekati uvula. Besar tonsil ditentukan sebagai berikut: T0 : tonsil di dalam fosa tonsil atau telah diangkat T1 : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula T2 : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula T3 : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula T4 : bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

Penatalaksanaan tonsilitis kronis dapat diatasi dengan Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur atau hisap dan terapi medikamentosa berupa antibiotik. Pengobatan tonsilitis kronis dengan menggunakan antibiotik oral perlu diberikan selama sekurangnya 10 hari. Antibiotik yang dapat diberikan adalah golongan penisilin atau sulfonamida, namun bila terdapat alergi dapat diberikan eritromisin atau klindamisin. Pada pasien ini diberikan Amoxicillin tab 3x250 mg.2,4
3

Bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil, maka perlu diberikan terapi radikal berupa tonsilektomi. Indikasi Tosilektomi: Indikasi absolut 1. Hipertrofi tonsil yang menyebabkan: obstruksi saluran napas misal pada osas (obstructive sleep apnea syndrome), disfagia berat yang disebabkan obstruksi, gangguan tidur, gangguan pertumbuhan dentofacial, gangguan bicara (hipo nasal), komplikasi kardiopulmoner 2. Riwayat abses peritonsil. 3. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi terutama untuk hipertrofi tonsil unilateral. 4. Tonsilitis kronik atau berulang sebagai fokal infeksi untuk penyakitpenyakit lain. Indikasi Relatif 1. Terjadi 7 episode atau lebih infeksi tonsil pada tahun sebelumnya, atau 5 episode atau lebih infeksi tonsil tiap tahun pada 2 tahun sebelumnya atau 3 episode atau lebih infeksi tonsil tiap tahun pada 3 tahun sebelumnya dengan terapi antibiotik adekuat. 2. Kejang demam berulang yang disertai tonsilitis. 3. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis. 4. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus B-hemolitikus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik resisten laktamase.

Metode Laporan kasus dengan mengambil data primer (dilakukan dengan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rumah serta pertemuan dengan pasien secara berkala) dan data sekunder (dengan melihat rekam medis dan status antropometris). Identifikasi masalah-masalah yang ada pada pasien serta dilakukan tata laksana komprehensif berdasarkan masalah tersebut. Tujuan Tujuan studi kasus ini adalah identifikasi masalah klinis, keluarga dan lingkungan yang di hadapi pasien. Pelayanan kedokteran keluarga merupakan pendekatan yang tepat dalam tatalaksana penyakit, terutama karena kegiatannya yang mencakup semua tingkat pencegahan dengan pendekatan secara holistik dan komprehensif. Ilustrasi Kasus Pasien anak 8 tahun, datang ke Klinik Dokter Keluarga Kiara ditemani ibunya dengan keluhan utama demam sejak satu hari sebelumnya. Panas timbul mendadak pada malam hari, tidak terlalu tinggi dan tidak terus menerus, tidak disertai menggigil, kejang, berkeringat, penurunan kesadaran dan tidak terdapat bercak merah pada kulit. Pasien juga merasakan batuk, pilek, mual dan muntah. Batuk dan pilek dirasakan sejak tiga minggu sebelum kedatangan, batuk berdahak namun sulit dikeluarkan. Tidak terdapat keluhan nyeri menelan dan sesak. Kadang terasa hidung tersumbat dan terdapat sekret cair berwarna bening. Ibunya telah membawanya ke puskesmas dan telah diberikan obat batuk, namun keluhan tidak sembuh secara sempurna. Semenjak tahun 2009, ibu juga telah membawa pasien ke

Klinik dokter keluarga Kiara sebanyak 10 kali dengan keluhan yang sama. Menurut ibunya, mual yang dirasakan pasien bila perut diisi makanan dan muntah setiap selesai makan. Muntah sudah 2 kali saat makan malam dan 1 kali saat sarapan. Muntah berisi makanan, tidak menyemprot, tidak disertai darah. Nafsu makan menurun dan terdapat nyeri pada ulu hati Riwayat penyakit dahulu, didapati riawayat penyakit yang sama. Pasien berobat ke Klinik Dokter Keluarga Kiara sejak tahun 2009, diberi antibiotik, obat penurunan demam, obat batuk dan keluhan bersifat hilang timbul Pasien mempunyai status gizi baik, dengan tinggi badan 130cm dan berat 28kg. Riwayat penyakit keluarga didapati ayah, nenek dan bibi menderita hipertensi. Keluarga dengan riwayat batuk-batuk dan keluarga dengan pengobatan OAT atau penyakit TB disangkal. Dari pemeriksaan fisik didapatkan Frekuensi nadi : 120x / menit, reguler, isi cukup, frekuensi napas: 28x/ menit, reguler dengan kedalaman cukup dan suhu tubuh: 37,8 oC. Status gizi baik dilihat dari perhitungan BB/U : 107 % , TB/U : 103 % , BB/TB : 101 %. Dari pemeriksaan status generalis pada pemeriksaaan fisik tenggorokan dengan spatula lidah didapatkan gambaran perjalanan kronis pada tonsil. Pada tonsil didapatkan pembesaran pada tonsila (tonsila palatina), dengan permukaan yang hiperemis (kemerahan) dan ukuran pembesaran tonsil T3 T3. Pada pemeriksaan auskultasi paru paru didapat suara dasar vesikuler dengan ronkhi basah kasar. Pada status generalis lainnya tidak ditemukan adanya kelainan. Kesimpulan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan, pasien didiagnosis dengan tonsilitis kronik.

Pada kunjungan rumah, dilakukan pengumpulan data yang masih diperlukan, berupa genogram (gambar 1) Pasien tinggal bersama ayah, ibu dan budenya. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta, Ibunya sebagai ibu rumah tangga dan budenya adalah pensiunan. Pasien tinggal di rumah pemberian suami dari bude yang terletak di pemukiman padat dengan luas rumah 200 m2 dan bagian halaman rumah yang dijadikan tempat usaha atau bengkel.

Penghasilan kepala keluarga yang sudah pensiun dari pekerjaan lamanya dan sekarang bekerja sebagai wiraswastawan serta ibu yang tidak bekerja dirasakan kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemenuhan gizi keluarga dilakukan dengan penyediaan makanan setiap hari. Makanan disediakan dan dimasak sendiri di rumah yang dilakukan oleh ibunya. Keluarga makan 13 kali dalam sehari. Makanan terutama nasi putih, sayur, ikan, telur, tahu, tempe atau terkadang daging.
5

Penilaian terhadap rumah terlihat agak sedikit berdebu dan kotor dibagian dapur dan gudang, bagian ventilasi kamar tidur kurang baik. Ventilasi sengaja ditutup rapat agak berdebu dari bengkel sehingga tidak mengotori kamar, tetapi membuat sirkulasi udara tidak dapat bebas keluar masuk. Dari serangkaian anamnesis dan pemeriksaan, didapatkan diagnosis holistik pada pasien ini, antara lain : Aspek I (personal) Pasien datang dengan keluhan demam sejak satu hari, pilek dan batuk berdahak sejak tiga minggu yang lalu. Pasien memiliki harapan dengan pengobatan, panas dan batuk bisa hilang. Pasien dan keluarga juga memiliki kekhawatiran penyakitnya kambuh, dan menderita sakit berat / sakit berkepanjangan Aspek II (klinis) Tonsilitis kronik Aspek III ( faktor risiko internal) Pasien anak berumur 8 tahun yang tinggal di rumah yang dijadikan tempat usaha (bengkel). Rumah juga agak berdebu di sebagian tempat, dan memiliki ventilasi kamar yang kurang baik. Pasien juga sering jajan sembarangan dan tidak higienis Aspek IV (aspek psikososial keluarga) Dari aspek psikososial keluarga didapatkan pendidikan dan pengetahuan orang tua tentang kebersihan dan kesehatan kurang. Perilaku kesehatan keluarga bersifat kuratif. Serta tinggal di lingkungan rumah yang kurang bersih dengan pekarangan rumah yang dijadikan tempat usaha (bengkel) Aspek V (skala fungsional) Derajat fungsional pada pasien ini berada pada derajat satu, karena pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari.

Untuk pengobatan non medikamentosa di berikan konseling untuk hidup bersih dan sehat, banyak minum air hangat, makan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan (hindari es, makanan pedas, gorengan, dan jajan sembarangan). Pengobatan medikamentosa yang didapat adalah Paracetamol puyer 3 x 350 mg, Ambroxol sirup 3 x 1 sendok makan dan Omeprazol tablet 2 x 10mg. PEMBAHASAN Pada kasus ini pasien adalah anak laki-laki berusia 8 tahun dengan keluhan utama demam sejak satu hari sebelumnya. Panas timbul mendadak pada malam hari, tidak terlalu tinggi. Pasien juga merasakan batuk, pilek, mual dan muntah. Pilek dan batuk berdahak yang sulit dikeluarkan dirasakan sejak tiga minggu. Dari pemeriksaaan fisik tenggorokan dengan spatula lidah didapatkan gambaran pembesaran pada tonsila (tonsila palatina), dengan permukaan yang hiperemis (kemerahan) dan ukuran pembesaran tonsil T3 T3. Pada pemeriksaan aukultasi paru paru didapat suara dasar vesikuler dengan ronkhi basah kasar. Gambaran perjalanan kronis juga dapat dilihat dari tonsilitis berulang yang berlangsung sejak 2 tahun Sesuai dengan teori penyakit tonsilitis kronis yang dialami pasien dipengaruhi usia yang tergolong muda, baru 8 tahun, tinggal di daerah padat penduduk dengan lingkungan rumah yang pekarangannya dijadikan tempat usaha (bengkel). Kebersihan rumah kurang, dengan kondisi rumah yang agak berdebu di sebagian tempat, terutama dapur dan gudang. Bagian ventilasi kamar tidur juga dirasa kurang baik. Ventilasi sengaja ditutup rapat sehingga debu dari bengkel tidak mengotori kamar, tetapi membuat sirkulasi udara tidak dapat bebas keluar masuk ke dalam kamar.

Pola jajan pasien yang kurang baik, karena pasien sering jajan sembarangan dengan higienitas yang kurang baik. Pada pasien didapatkan serangan berulang. Pasien datang berobat dengan keluhan yang sama sebanyak 10 kali semenjak dua tahun belakangan. Pendidikan dan pengetahuan orang tua tentang kebersihan dan kesehatan kurang. kebiasaan berobat keluarga yang masih bersifat kuratif, hanya jika ada keluhan. Keluarga pasien tidak memiliki tingkat pemahaman yang cukup mengenai penyakit tonsillitis sehingga diperlukan konseling mengenai penyakitnya. Untuk pengobatan non medikamentosa di berikan konseling untuk hidup bersih dan sehat, banyak minum air hangat, makan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan serta (hindari es, makanan pedas, gorengan, dan jajan sembarangan). Saat ini pengobatan medikamentosa yang dilakukan adalah Paracetamol puyer 3x350 mg untuk menurunkan suhu tubuh dengan dosis 1015 mg/kgBB/kali, diberikan 3 kali sehari bila panas. Ambroxol sirup 3x1 sendok teh untuk meredakan batuk dan mengencerkan dahak dengan dosis 5 ml diberikan 23 kali perhari. Omeprazol tablet untuk meredakan mual dengan dosis 10-20 mg perhari, diberikan selama 2 minggu, dengan aturan minum 1530 menit sebelum makan. Pola asuh yang baik Penatalaksanaan non farmakologis meliputi modifikasi pola asuh. Ikut serta menjalankan peran serta sebagai pelaku rawat, merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah terjadinya pola asuh yang kurang baik, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terkontrol dengan baik. Penatalaksanaan pasien tidak terlepas

dari penatalaksanaan pola asuh yang baik. Modifikasi pola asuh paling utama untuk menstabilkan asupan makanan bergizi seimbang, menjelaskan kepada pasien akan bahaya makanan jajan di luar rumah. Modifikasi ini diharapkan bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Tabel. sasaran pola asuh yang baik
Modifikasi Pelaku rawat Rekomendasi Pelaku rawat mengerti masalah penyakitnya Mengingatkan untuk tidak jajan sembarangan terutama yg dingin dan berminyak. makan makanan gizi yang seimbang Psikologis Orang tua pasien untuk lebih banyak meluangkan waktu dirumah dan lebih srg berkomunikasi & memberi prhatian kepada pasien Anggota keluarga lebih memberikan waktu luangnya untuk pasien di rumah Pasien dan keluarga mengerti pentingnya upaya preventif dalam penanganan pnyakit (melakukan gaya hidup sehat sesuai dengan penyakit pasien Kebersihan rumah dan lingkungan terjaga, Ventilasi udara rumah baik 1 bulan 2 minggu

Psikososial

1 bulan

Prilaku kesehatan

1 bulan

Lingkungan rumah

1 bulan

Pada pasien ini didapatkan status gizi yang cukup. Dari catatan food recall pasien didapatkan rata rata mengkonsumsi 1700 sampai 1800 kalori. Kebutuhan pasien adalah sebesar 1800 kalori (lihat lampiran untuk perhitungan). Maka, dianjurkan untuk terus mengonsumsi menu makanan bergizi seimbang contoh menu gizi seimbang juga telah dilampirkan. Kategori status gizi menurut persen (%) terhadap median indeks BB/TB (WHO 2005)5 : 1. 2. 3. 4. 5. GIZI LEBIH GIZI NORMAL KEP RINGAN KEP SEDANG KEP BERAT > 110% 80% -110% 70% - 79% 60% - 69% < 60%

Peran disini dapat dilakukan dengan memberikan edukasi dan penyuluhan mengenai masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga, sehingga keluarga tersebut dapat dengan mandiri mencegah terjadinya penyakit. Seperti hal promotif yang sudah dilakukan pada pembinaan keluarga ini adalah mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan rumah yang bersih, serta pengawasan terhadap anak pola makan dan pola jajan anak. Serta tindakan pencegahan yang dilakukan yaitu dengan mengedukasi pasien dan keluarga mengenai penyakit agar tidak terjadi kekambuhan kembali. Dengan tindakan preventif ini dapat mengurangi biaya untuk melakukan pengobatan. Selain itu, juga dapat meningkatkan taraf kesehatan dan pengetahuan mengenai kesehatan. Peran keluarga juga mempunyai peran penting untuk kesembuhan penyakit pasien. KESIMPULAN Tujuan pembinaan pada pasien ini adalah untuk memberikan edukasi dan mengintervensi mengenai pola hidup bersih dan sehat agar tidak terjadi kekambuhan penyakit pasien. Pada akhir pembinaan, dapat diketahui bahwa pengetahuan pasien dan orang tua pasien mengenai pola hidup bersih dan sehat cukup baik dan sudah dapat diterapkan, sehingga keluarga mempunyai motivasi untuk melakukan pencegahan agar pasien dan keluarga dapat hidup sehat. Namun perilaku berobat pada keluarga masih bersifat kuratif saja karena adanya kendala ekonomi. SARAN Saran untuk pasien dan keluarga pasien: 1. Pelaku rawat harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah agar pasien terhindar dari paparan polutan yang menyebabkan terjadinya keluhan serupa, dan lebih memperhatikan pemberian makanan
8

Pada pasien ini tidak terlalu perlu dilakukan perubahan gaya hidup ataupun perubahan pola makan, karena berat badan dan tinggi badan pasien sudah termasuk ideal. Oleh karena itu kami hanya menyarankan pada keluarga pasien untuk tetap menjaga pola makan pasien. Peran dokter keluarga Peran dokter keluarga pada pasien ini dibutuhkan karena untuk memberikan pelayanan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Sehingga pada satu keluarga dapat ditangani masalah kesehatan baik yang bersifat infeksi maupun noninfeksi. Selain itu peran dokter keluarga disini, menciptakan pelayanan kesehatan yang kontinu dan berkesinambungan sehingga tidak berhenti hanya untuk mengobati saja tetapi juga mengevaluasi secara keseluruhan permasalahan pada satu keluarga.

bergizi seimbang dan pola jajan anak. 2. Keluarga sebaiknya mulai menerapkan upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga. Saran untuk dokter dan petugas kesehatan : Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih informatif dan edukatif sehingga penanganan masalah pasien dapat dilakukan secara holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan prinsip pelayanan kedokteran keluarga.

Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 1997 5. Tabel status gizi anak WHO 2009. Diunduh taanggal 2 agustus 2011. Available from: http://scribd.com/ 6. Developed by the National Center for Health Statistics in collaboration with the National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion 2000. Available from : http://www.cdc.gov/growthcharts

REFERENSI 1. Tim Survei Kesehatan Nasional. Survei Kesehatan Nasional 2001. Laporan SKRT 2001 : Studi morbiditas dan disabilitas. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2002. 2. Rusmardjono & Soepardi., 2007. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi adenoid. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga hidung tenggorok kepala dan Leher. Jakarta: Balai penerbit FKUI 3. Gunardi Agus, Suprihati, Winarto. Faktor Streptokukus Hemolitikus Beta Grup-A Pada Penderita Infeksi Saluran Pernapasan atas Di RSUP Dr. Karyadi Semarang. [serial online]. [cited 2011 May 8]. Available from: http://www.risbinkes.litbang.depkes. go.id/Buku%20laporan%20penelitia n%201997-2006/40 faktor_streptokukus_hemolitikus.ht m 4. Banovetz J.D., BOIES Buku Ajar Penyakit THT, Adam G.L, Boies L.R, Higler P.A (Editors), Edisi VI,