Anda di halaman 1dari 3

Definisi : Trakheitis(juga dikenal sebagai bacterial tracheitis atau acute bacterial tracheitis ) merupakan infeksi bakterial pada trakhea

dan dapat menyebabkanobstruksi saluran nafas dan dyspnea. Salah satu penyebab yang paling umumadalah Staphylococcus aureus dan sering diikuti infeksi viral pada saluran pernafasan atas. Sedangkan laringitis merupakan keradangan pada membranamukosa laring, dengan tanda-tanda batuk, rasa sakit ketika palpasi pada laring,dysphagia, dan mungkin regurgitasi melalui hidung(Carson-DeWitt,2007).Radang tenggorok (laryngitis) dan batang tenggorok (tracheitis) dapat bersifat primer maupun sekunder, berlangsung akut atau kronik, ditandai dengan batuk, dispnoea inspiratorik, dan sering kali juga dibarengi dengan stridor laryngeal (Subronto, 2004). Etiologi : Pada umumnya laryngitis dan tracheitis disebabkan oleh infeksi beberapaagen penyakit seperti virus, bakteri, jamur dan juga dapat karena adanya trauma.Keradangan pada sapi yang disebabkan oleh infeksi kuman (bakteri) umumnyakarena infeksi F. Necroporum dan Pasteurella sp. Selain itu juga disebabkan oleh Haemofilus influenzae, Branhamella catarrhalis, Streptococcus pyogenes,Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae. Pada kuda kebanyakandisebabkan oleh bakteri Streptococcus equi dan Corynebacterium pyogenes atauoleh virus arteritis (Subronto, 2004) Trakheitis sering berhubungan dengan bronchitis dan kadang-kadang kecil dari pneumonia. Kronis dan difus trakheitis dapat terjadikarena trakeotomi. Trakheitis ditandai dengan pembengkakan mukosa dan pada stadium lanjut dapat menjadi parah (Jubb et al ., 1985). D I S T R I B U S I Kasus laryngitis dan tracheitis yang cukup sering terjadi di Indonesiaadalah IBR. Penyakit IBR pertama kali dilaporkan di Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1950. Kini penyakit tersebut telah menyebar di seluruh AmerikaSerikat (di 24 negara bagian), bahkan sampai di Canada. Penyakit ini, padaawalnya bermanifestasi pada saluran pernafasan, sesuai dengan namanya yangdisebut penyakit Infectious Laryngotracheitis. Gejala klinis penyakit ternyatatidak hanya pada saluran pernafasan, akan tetapi juga pada saluran pencernaan,saluran reproduksi dan gejalasyaraf berupa encephalitis, seperti halnya ditemuidi Inggris, Belgia, Hungaria, Amerika, Iran dan Australia. Penyakit IBR di Benua

Eropa pertama kali kejadiannya di Inggris dan dilaporkan pada tahun 1958. DiAustralia pertama kali dilaporkan pada tahun 1962 dengan gejala encephalitis pada anak sapi dan di Selandia Baru pada tahun 1959. Di Afrika, pada tahun1961 dengan gejala kemajiran. Di Amerika Selatan, tahun 1972, berupa kejadianabortus dan ocular carcinoma pada sapi di Argentina. Sedangkan di Benua Asialaporan kejadian baru ada pada tahun 1972, yaitu di Jepang, tahun 1973 di Koreadan tahun 1974 di Iran. Pada tabel 1 menunjukkan beberapa negara yangmemperlihatkan angka prevalensi IBR pada tahun-tahun terakhir ini. Hal inimenunjukkan bahwasanya penyakit IBR tidak selalu sulit ditanggulangi,walaupun hal ini perlu strategi dalam usaha penanggulangan tersebut. Diagnosa : Penentuan diagnosis didasarkan pada gejala klinis, termasuk adanya batuk dan dispnoea inspiratorik. Radang kedua alat pernafasan tersebut perlu dibedakandari bronchitis dan bronchiolitis. Pada bronchitis dan bronchiolitis palpasi didaerah tenggorok maupun batang tenggorok tidak menyebabkan timbulnya batuk.Pada auskultasi suara ronchi hanya terbatas pada daerah bronchus yangmenderita, sedang pada laryngitis dan trecheitis suara seperti mendengkur terdengar pada seluruh daerah paru-paru. Juga dengan hiperemia maupun oedema pulmonum laryngitis dan tracheitis perlu dibedakan dengan caraauskultasi dan perkusi. (Subronto, 2008) Pencegahan : Dilakukan pengujian kesehatan atas laring dan trachea pada semuaternak baru sebelum digabungkan dengan ternak yang lama Sanitasi kandang factor predisposisi. dan menstabilkan temperature serta kelembabanguna mengurangi

Pisahkan semua ternak baru kurang lebih 30 hari, dan dilakukan re-examine sebelum kontak dengan ternak yang lama. Hal ini mampumengurangi resiko penularan penyakit. Menggunakan vaksin untuk mencegah terjangkitnya tracheitis olehagen virus sesuai petunjuk pemakaian. Penggunaan antibiotic pada kasus tracheitis dan laryngitis yang belumdiketahui pasti agen penyebabnya untuk meminimallisir infeksisekunder.(Schipper, 1998) Terapi : Kebanyakan dari infeksi virus yang umum pada laring dan trakea akandapat sembuh secaraspontan jika hewan yang terkena diistirahatkan, tidak dipekerjakan, dan tidak dipaparkan pada cuaca yang tidak baik dan makananyang berdebu. Komplikasi dari serangan sekunder dari bakteri harus diketahuidan diberi dengan anti agen bacterial yang sesuai.Infeksi bacterial dapatmenghasilkan keradangan dengan nekrosis dan lesi granulomatosa, dan harusditanggulangi dengan antibioitk atau sufonamida.Sapi yang menderita calf diphtheria

ditanggani dengan sulfamethazinesecara intravena awalnya, diikuti terapi oral setiap hari selama 3-5 hari.Diperlukan beberapa hari agar hewan kembali pulih.Hewan dengan lesi yang hebat dan tanda dyspnoea respiratorimembutuhkan sebuah tracheotomy tube untuk beberapa hari sampai lukanyasembuh. Tube tersebut harus diambil,dibersihkan, dan dipasang kembali palingtidak satu kali sehari, karena adanya akumulasi dari gumpalan mucus yangmengering yang dapat mengganggu pernafasan. Kortikosteroid (dexamethazone) dapat digunakan sebagai usahamengurangi edema laryngeal yang diikuti dengan beberapa kasus dari bacteriallaryngitis pada sapi. (Blood D.C., et al . 1979)Hewan seperti sapi, yang sangat bergantung pada respirasi untuk pengaturan suhu, jika berada dalam keadaan terkena infeksi dan diikuti stress,maka dapt menyebabkan pyrexia, oleh karena itu aksi dari antipiretik dari NSAIDs (Non-Steroid Anti Inflamation Drugs ) dapat berguna pada spesies ini. NSAIDs juga memiliki potensi analgesic untuk mengurangi rasa sakit.Penggunaan anti radang dapat digunakan pada penyakit respirasi akut pada sapi, terutama yang bersifat non-immunosuppressan akan mengurangmorbiditas dan mortalitas pada beberapa kasus. (Andrews,A.H. , 2004)