Anda di halaman 1dari 2

PT.MATASERV BISNISINDO Ph. (021) 36086339 (Hunting), e-mail : mata_dsn@yahoo.

com

KAJIAN PETA BISNIS DAN PROSPEK INDUSTRI & PASAR tekstil & garmen DI INDONESIA 2011-2015
ecara umum, industri tekstil dan produk tekstil Indonesia memiliki daya saing yang relatif baik di pasar internasional. Sebab, Indonesia memiliki industri yang terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir, yakni dari produk benang (pemintalan), pertenunan, rajutan, dan produk akhir. Indonesia memiliki industri pemintalan (spinning) yang besar di kawasan Asia dan Oceania. Demikian pula dengan industri pertenunan yang produksinya kedua terbesar setelah China, serta industri pakaian jadi yang dikenal di dunia internasional Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan industri strategis karena menjadi salah satu industri penyumbang devisa ekspor non migas yang signifikan. Potensi industri TPT yang cukup besar itu, antara lain terlihat dari perolehan nilai ekspor pada 2008 yang meningkat. Nilai ekspor TPT 2008 sebesar US$ 10,14 miliar, naik dibandingkan dengan 2007 sebesar US$ 9,81 miliar. Dari segi nilai, kenaikan ini relatif kecil, akan tetapi kenaikan itu diperoleh justru di tengah tekanan pasar global yang semakin kuat sejak China masuk ke pasar tekstil dunia setelah diberlakukan kuota bebas. Industri tekstil merupakan salah satu industri prioritas nasional yang masih prospek untuk dikembangkan. Dengan populasi mencapai lebih dari 235 juta penduduk pada tahun 2010, dan diproyeksikan pada tahun 2011 populasi penduduk Indonesia menjadi 238 juta jiwa, sehingga Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tahun lalu, kue pasar tekstil di dalam negeri diperkirakan mencapai lebih dari Rp 83 triliun. Industri tekstil merupakan industri padat karya, yang sedikitnya telah menyerap 1,85 juta pekerja. Dari sisi tenaga kerja, pengembangan atau penambahan kapasitas industri dapat dengan mudah terakomodasi oleh melimpahnya tenaga kerja dengan tingkat upah yang lebih kompetitif, khususnya dibandingkan dengan kondisi di negara industri maju. Industri tekstil adalah industri yang berorientasi ekspor. Di pasar global, produk tekstil Indonesia masih cukup diperhitungkan. Tahun 2010 Indonesia masuk dalam jajaran 9 negara pengekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) terbesar dunia, serta diproyeksikan akan menduduki peringkat ke 8 sebagai pengekspor TPT terbesar dunia pada tahun 2011. Sedangkan untuk Impor TPT, Indonesia menempati posisi ke 4 dalam impor TPT ke Amerika Serikat dengan nilai US$ 3,9 miliar. Bagaimana pun, industri TPT Indonesia masih menjadi penyumbang devisa non-migas terbesar. Di pasar global produk tekstil Indonesia menghadapi pesaing baru yang potensial seperti Kamboja, Vietnam, dan Laos, belum pesaing utama seperti China, dan India. Namun demikian, industri tekstil masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, antara lain dengan kurangnya tenaga kerja, maraknya produk impor terutama dari China, baik yang masuk secara legal maupun ilegal. Maraknya produk impor yang relatif miring telah mendistorsi pasar TPT di dalam negeri. Biaya produksi meningkat signifikan. Lonjakan harga minyak mentah dunia secara langsung mendongkrak kenaikan harga bahan baku, khususnya untuk serat sintetis. Kenaikan harga minyak juga telah mendorong kenaikan biaya energi (listrik dan BBM).

Kajian Peta Bisnis & Prospek Industri Dan Pasar Tekstil & Garmen Di Indonesia 2011-2015

PT.MATASERV BISNISINDO Ph. (021) 36086339 (Hunting), e-mail : mata_dsn@yahoo.com

Sementara itu, mulai 1 Januari 2010 diberlakukan Asean China Free Trade Area (ACFTA), yang kelak akan menjadi penentu bagi kelangsungan industri manufaktur nasional. Para industriawan khawatir kondisi tersebut akan memukul sebagian industri nasional yang belum siap bersaing. Di satu sisi, AC-FTA dikhawatirkan sebagai ancaman, namun di sisi lain ternyata dapat menjadi peluang bagi produk nasional. Renegosiasi AC-FTA pun telah dilakukan antara Indonesia dengan Tiongkok. Implementasi AC-FTA yang sudah berjalan selama satu tahun ini, sejak Januari 2010, diyakini beberapa kalangan akan mengurangi penyelundupan khususnya penyelundupan pakaian jadi, karena bea masuk sudah diturunkan hingga 0%. Namun dalam prakteknya, praktik penyelundupan akan tetap berlangsung, karena pakaian jadi adalah produk yang paling banyak dikonsumsi masyarakat kita seperti celana, kaos dan kemeja dari bahan kapas maupun polyester. Namun, disisi lain, AC-FTA nampaknya justru meningkatkan ekspor Indonesia ke negara Tiongkok khususnya. Meskipun menghadapi banyak tantangan namun sebenarnya potensi dan prospek pengembangan industri tekstil dan produk (TPT) serta pemasaran produk TPT paska kuota masih cukup besar. Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah dalam menentukan arah kebijakan industri TPT nasional dan dukungan dari perbankan untuk membiayai restrukturisasi mesin. Untuk mengatasi masalah daya saing tekstil nasional, pemerintah melalui Departemen Perindustrian telah meluncurkan program revitalisasi industri tektil melalui restrukturisasi mesin sejak tahun 2007. Berkaitan dengan hal-hal tersebut diatas, dalam rangka memasyarakatkan informasi riset mengenai bisnis tekstil & garmen khususnya di Indonesia yang lebih up to date dan berbeda, MATASERV membuat kajian ini sebagai awal untuk mengetahui lebih jauh prospek pasokan, permintaan dan bisnis tekstil & garmen di Indonesia di masa datang, dengan analisa/bahasan permintaan dalam menghadapi era Asean China Free Trade Area & persaingan bebas di era liberalisasi pasar di pasar Asean, dalam rangka revitalisasi/restrukturisasi mesin TPT.

Kajian Peta Bisnis & Prospek Industri Dan Pasar Tekstil & Garmen Di Indonesia 2011-2015