Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Latar Belakang
Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, nitrogen, hidrogen, dan oksigen dengan rumus kimia (NH2)2CO. Senyawa ini banyak digunakan sebagai pupuk kimia karena kandungan nitrogennya yang cukup tinggi. Nitrogen adalah zat hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Pupuk urea mengandung setidaknya 46 Kg unsur nitrogen untuk setiap 100 Kg berat urea. Pemakaian urea sebagai pupuk kimia memiliki keuntungan tersendiri karena mudah diserap oleh tanaman. Hal ini berimbas meningkatnya kebutuhan urea sebagai pupuk kimia sehingga senyawa ini diproduksi secara komersial. Di Amerika, produksi urea mencapai satu juta pon setiap tahunnya dan sebagian besar digunakan sebagai pupuk kimia. Beberapa pabrik di Indonesia seperti pabrik pupuk sriwijawa (PUSRI) memproduksi pupuk urea secara masal. Kebutuhan akan pupuk urea di Indonesia sangat tinggi mengingat Indonesia merupakan negara agraris. Selain sebagai pupuk kimia, urea juga digunakan secara komersial untuk industri, pakan ternak, lem, pembersih toilet, produk pewarnaan rambut, pestisida dan fungisida. Dalam hal pengobatan digunakan dalam barbitunat, dermatologi, dan diuretik. Urea dapat diproduksi melalui proses sintesis amonia dan karbon dioksida. Produk yang diperoleh dapat berupa cairan atau padatan. Umumnya, pupuk Urea berwujud butir kristal putih yang larut dalam air. Urea bersifat higroskopis. Pada kelembaban udara 73 %, urea akan menarik uap air dari udara sehingga senyawa ini sebaiknya disimpan di tempat kering dan tertutup rapat.

I.2. Sejarah Proses


Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea dikenal dengan nama carbamide di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Urea pertama kali diketahui terdapat pada urine oleh H.M. Rovelle pada tahun 1773. Pada tahun 1828, sintesa urea dari amoniak dan asam sianida berhasil dilakukan oleh Friedrich Woehler. Penemuan ini dianggap sintesa zat organik pertama dari anorganik yang pertama kali. Urea ditemukan saat Wohler berusaha mensintesis amonium sianat, untuk melanjutkan studi sianat yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun. Tahun 1870, Bassarow memproduksi urea menggunakan proses dehidrasi dengan memanaskan amonium karbomat dalam wadah tertutup. Amonium Karbomat dapat diperoleh dengan reaksi langsung amoniak dengan karbondioksida. Proses produksi urea ini masih digunakan hingga sekarang. Sintesa urea berlangsung dengan bantuan tekanan yang tinggi. Sintesa ini dilaksanakan pertama kali oleh BASF pasa tahun 1941 dengan bahan baku ammonia dan karbon dioksida. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: Reaksi 1 : 2 NH3(g) + CO2(g) NH2COONH4(g) Reaksi 2 : NH2COONH4(g) NH2CONH2(g) + H2O(l)

I.3. Spesifikasi Produk


Urea (NH2CONH2) Urea merupakan butir kristal berwarna putih, tidak mudah terbakar dan mampu menghantarkan listrik. Urea memiliki sifat fisis sebagai berikut: o Densitas (padat pada suhu 20o C) : 1335 kg/m3 o Titik lebur : 132,6o C o Spesific heat (lebur) : 126 J/mol/ o C o Panas peleburan (titik lebur) : 13,6 kJ/mol

o Berat Molekul : 60,056 (Sumber : Perry, R. H., 1984. Chemical Engineering Handbook, 6th edition. Mc Graw Hill Book Co, Ltd)

I.4. Spesifikasi Reaktan


Amoniak (NH3) Dibawah tekanan tertentu amoniak berupa cairan, berbau yang spesifik, uap amoniak lebih ringan dari pada udara, dapat meledak, pada kondisi tertentu bersifat mudah terbakar, larut dalam air dengan reaksi yang eksotermis, dan sifat fisis sebagai berikut: o Densitas (cair, 20 Kg/cm2 250 C ) : 603 kg/m3 o Titik lebur : -78o C o Titik didih : -33o C o Titik bakar : 650o C o Batas explosive : ( diudara ) Bawah : 15 vol % NH3 Atas : 28 vol % NH3 o Berat molekul : 17,3 Karbondioksida (CO2) Karbondioksida adalah gas yang tidak bewarna, tidak berbau, tidak mudah meledak, dan tidak mudah terbakar, lebih berat dari pada udara dan mempunyai sifat fisis sebagai berikut : o Densitas ( gas, 1 kg/cm2, 25oC ) : 1800 kg/cm3 o Triple point : 57oC dan 5,1 atm o Titik kritis : 31o C dan 72,8 atm o Berat molekul : 44,01 (Sumber : Perry, R. H., 1984. Chemical Engineering Handbook, 6th edition. Mc Graw Hill Book Co, Ltd)

I.5. Kegunaan Urea


Pertanian Lebih dari 90% dari produk urea digunakan sebagai pupuk nitrogenrelease karena memiliki kadar nitrogen tertinggi di antara pupuk padat lain dan mudah diserap tanaman. Industri kimia Urea merupakan bahan baku untuk pembuatan banyak senyawa kimia penting, seperti:
Bahan

pembuat

berbagai

bahan plastik,

terutama resin

urea

formaldehida

Berbagai perekat, seperti urea formaldehida atau urea melamin formaldehida digunakan di laut kayu lapis Kalium cyanate, bahan baku industri lainnya. Urea nitrat, bahan peledak.

Sistem Automobile Urea digunakan untuk mengurangi polutan NOx dalam gas buang pembakaran mesin diesel. Larutan urea-air yang disuntikkan ke dalam sistem pembuangan menghasilkan amoniak hasil hidrolisis urea. Amoniak bereaksi dengan emisi oksida nitrogen dan diubah menjadi nitrogen dan air dalam catalytic converter. Penggunaan Komersial lainnya
Bahan pembuat produk pemutih gigi

Bahan dalam sabun cuci piring


Sebagai stabilizer di nitroselulosa bahan peledak Bahan dalam beberapa krim kulit, moisturizer, kondisioner rambut Campuran pakan ternak, sebagai sumber nitrogen relatif murah untuk

meningkatkan pertumbuhan Bahan dasar melamine

I.6. Harga Urea


Harga pupuk urea bersubsidi tahun 2012 menurut referensi : Rp. 1800 /kg

1.7. Kebutuhan Urea di Indonesia

Tabel 1.1 kebutuhan urea di Indonesia Dengan metode least square dapat diprediksi kebutuhan urea di Indonesia hingga tahun 2020. Persamaan: y = 2.106x- 4.109 y = jumlah kebutuhan urea di Indonesia (ton) x = tahun Dari persamaan tersebut diperoleh hasil sebagai berikut Tahun Jumlah (ton) 2006 5620000 2007 9169483 2008 9780280 2010 14430341 2015 24831041 2020 35231741 Tabel 1.2 prediksi kebutuhan urea di Indonesia hingga tahun 2020 Dari data pada tabel 1.2 dapat dapat dilihat bahwa kebutuhan urea hingga tahun 2020 terus meningkat.

BAB II RANCANGAN PROSES


5

II.1. Prinsip Pembuatan Urea


Sintesa urea dapat berlangsung dengan bantuan tekanan yang tinggi. Sintesa ini dilaksanakan pertama kali oleh BASF pasa tahun 1941 dengan bahan baku ammonia dan karbon dioksida. Sintesa urea berlangsung dalam dua tahap. Selama tahap pertama berlangsung, dari ammonia dan karbon dioksida akan terbentuk ammonium karbamat. 2NH3(l) + CO2(g) NH2CONH4(aq)

Pada tahap kedua, dari ammonium karbamat akan terbentuk urea dan air. NH2CONH4(aq) NH2CONH2(aq) + H2O(l) (Reff : Ammonia and urea production) Sintesa dapat ditulis menurut persamaan reaksi sebagai berikut : 2NH3(l) + CO2(g) NH2CONH2(aq) + H2O(l)

(Sumber : http://www.scribd.com/doc/45275884/Makalah-Industri-Pupuk-Urea)

II.2. Kondisi Operasi

Temperatur mulai 170-200 C. Tekanan 130-200 bar. Kedua tahap sintesa urea berlangsung dalam fasa cair. Reaksi keseluruhan adalah eksotermis. Panas reaksi di ambil dalam system dengan jalam pembuatan uap air. Bagian reaksi kedua merupakan langkah yang menentukan kecepatan

reaksi dikarenakan reaksi ini berlangsung lebih lambat daripada reaksi tahap pertama. (Sumber : http://www.scribd.com/doc/45275884/Makalah-Industri-Pupuk-Urea)

II.3. Proses Pembuatan


Proses pembuatan Urea di bagi menjadi 6 unit yaitu : 1. Sintesa Unit 2. Purifikasi Unit 3. Kristaliser Unit 4. Prilling Unit 5. Recovery Unit 6. Proses Kondensat Treatment Unit

1.1 Sintesa Unit Unit ini merupakan bagian terpenting dari pabrik Urea, untuk mensintesa dengan mereaksikan Liquid NH3 dan gas CO2 didalam reaktor urea dan kedalam reaktor ini dimasukkan juga larutan Recycle karbamat yang berasal dari bagian Recovery. Tekanan operasi disintesa adalah 175 Kg/Cm2 G. Hasil Sintesa Urea dikirim ke bagian purifikasi untuk dipisahkan Ammonium Karbamat dan kelebihan amonianya setelah dilakukan stripping oleh CO2. Reaktor yang digunakan dalam Sintesa Unit Dalam proses ini digunakan jenis Reaktor Sintesa Urea (R-210). Reaktor ini dipilih berdasarkan kemampuan reactor dalam menahan panas reaksi eksotermis dalam pembentukan urea dari gas CO2 dan amoniak. Reff: Erwin Budianto dan Hidawaty., 2001., Prarancangan Pabrik Urea Proses Aces-21 (Advanced Process for Cost and Energy Savings). 1.2 Purifikasi Unit

Amonium karbamat yang tidak terkonversi dan kelebihan ammonia di unit sintesa diuraikan dan dipisahkan dengan cara penurunan tekanan dan pemanasan dengan 2 step penurunan tekanan, yaitu pada 17 Kg/Cm2 G dan 22,2 Kg/Cm2 G. Hasil peruraian berupa gas CO2 dan NH3 dikirim kebagian recovery, sedangkan larutan ureanya dikirim ke bagian Kristaliser 1.3 Kristaliser Unit Larutan urea dari unit purifikasi dikristalkan di bagian ini secara vacum, kemudian kristal ureanya dipisahkan di centrifuge. Panas yang di perlukan untuk menguap kan air diambil dari panas sensibel larutan urea, maupun panas kristalisasi urea dan panas yang diambil dari sirkulasi urea slurry ke HP Absorber dari recovery. 1.4 Prilling Unit Kristal urea keluaran centrifuge dikeringkan sampai menjadi 99,8 % berat dengan udara panas, kemudian dikirimkan kebagian atas prilling tower untuk dilelehkan dan didistribusikan merata ke distributor, dan dari distributor dijatuhkan kebawah sambil dengan belt conveyor. 1.5 Recovery Unit Gas ammonia dan gas CO2 yang dipisahkan dibagian purifikasi diambil kembali dengan 2 step absorbasi dengan menggunakan Mother Liquor sebagai absorben, kemudian direcycle kembali ke bagian sintesa. didinginkan oleh udara dari bawah dan menghasilkan produk urea butiran (prill). Produk urea dikirim ke bulk storage

1.6 Proses Kondensat Treatment Unit

Uap air yang menguap dan terpisahkan dibagian kristalliser didinginkan dan dikondensasikan. Sejumlah kecil urea, NH3 dan CO2 ikut kondensat kemudian diolah dan dipisahkan di stripper dan hydroliser. Gas CO2 dan gas NH3 nya dikirim kembali ke bagian purifikasi untuk direcovery. Sedang air kondensatnya dikirim ke utilitas.

Kualitas Urea yang dihasilkan : Nitrogen Air Biuret Besi NH3 bebas Abu 46,2 % berat (minimum) 0,3 % berat (minimum) 0,5 % berat (minimum) 1 ppm berat (maksimum) 150 ppm berat (maksimum) 15 ppm berat (maksimum)

(Sumber : http://pusri.wordpress.com/2007/09/22/mengenal-pupuk-urea)

II.4. Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Urea


Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan urea antara lain a) Temperatur Pengaruh temperatur pada proses sintesa urea dapat dijelaskan oleh asas Le Chatelier yang berbunyi jika suatu sistem berada dalam kesetimbangan, suatu kenaikan temperatur akan menyebabkan kesetimbangan itu bergeser ke arah yang menyerap kalor. Reaksi sintesis urea merupakan reaksi yang eksotermis:

2NH3(l)

CO2(g)

NH2CONH2(aq) + H2O(l)

sedangkan reaksi penguraian urea menurut reaksi dibawah ini adalah reaksi endotermis: NH2CONH2(aq) + Perubahan H2O(l) akan 2NH3(l) + CO2(g) mengakibatkan bergesernya tetapan

temperatur

kesetimbangan reaksi. Naiknya temperatur akan mengakibatkan reaksi bergeser ke arah kiri (endothermis) atau menurunkan konversi pembentukan urea. Disamping itu, kenaikan temperatur juga akan mengakibatkan kecepatan reaksi pembentukan urea menjadi semakin besar. Reaksi sintesis urea berjalan pada temperatur optimal adalah 185C dengan waktu pemanasan sekitar 30 menit. Secara keseluruhan reaksi diatas adalah eksotermis sehingga diperlukan pengaturan terhadap suhu didalam reaktor supaya suhu tetap pada kondisi optimum, untuk mengatur suhu maka diatur: a) b) c) Jumlah ammonia masuk reactor Jumlah larutan ammonium karbamat recycle yang masuk reactor Pengaturan suhu ammonia umpan dalam ammonia preheater.

Sebagai hasil reaksi di atas maka komponen yang keluar reaktor adalah urea, biuret , ammonium karbamat, kelebihan ammonia dan air. b) Tekanan Pengaruh perubahan tekanan dalam campuran kesetimbangan gas dapat dipahami melalui asas Le Chatelier. Menurut asas ini, kenaikan tekanan menyebabkan reaksi bergeser ke kanan, tetapi jika tekanan berkurang maka kecepatan tumbukan molekul akan berkurang, sehingga kecepatan reaksi akan berkurang dalam sistem kesetimbangan,

10

2NH3(l)

CO2(g)

NH2CONH2(aq) + H2O(l)

Tekanan yang digunakan adalah 200 kg/cm3. Pemilihan tekanan operasi ini berdasarkan pertimbangan bahwa konversi ammonium karbamat menjadi urea hanya terjadi pada fase cair dan fase cair dapat dipertahankan dengan tekanan operasi yang tinggi. Pada suhu tetap konversi naik dengan naiknya tekanan hingga titik kritis, dimana pada titik ini reaktan berada pada fase cair. Untuk perbandingan NH3 dan CO2 yang stokiometris suhu 150C dan tekanan 100 atm memberikan keadaan yang hampir optimum tetapi pada suhu ini reaksi berjalan lambat. Pada suhu (190 220)C, tekanan yang digunakan berkisar antara (140 250) atm. c) Perbandingan NH3 dan CO2 Perbandingan NH3 dan CO2 berkisar 3,5 4 karena selain mempengaruhi suhu reaktor, jumlah ammonia dapat mempengaruhi reaksi secara langsung. Adanya kelebihan ammonia dapat mempercepat reaksi pertama. Di samping itu, kelebihan ammonia juga akan mencegah terjadinya reaksi pembentukan biuret dengan reaksi : 2NH2CONH2(l) NH2CONHCONH2(l) + NH3(g)

Terbentuknya biuret yang berlebihan tidak diinginkan karena merupakan racun bagi tanaman sehingga jumlahnya dibatasi hanya 0,5 % dari produk urea. Perbandingan mol NH3 : CO2 optimum adalah 4 : 1. dengan nilai itu diharapkan reaksi pertama dapat berjalan cepat sekaligus mencegah terjadinya pembentukan biuret. d) Kandungan air dan oksigen Adanya air akan mempengaruhi reaksi terutama reaksi kedua yaitu peruraian karbamat menjadi urea dan air sehingga dapat mengurai konversi

11

karbamat

menjadi

urea.

Pada

umumnya,

proses

didesain

untuk

meminimalkan jumlah air yang direcycle ke reaktor. Adanya sedikit oksigen akan mengurangi korosi. (Sumber : http://www.ekodokcell.co.cc/2010/07/faktor-yang-mempengaruhipembuatan-urea.html)

II.5. Diagram Flowsheet

II.6. Tinjauan Termodinamika


Reaksi: 2NH3
(g)

+ CO2

(g)

NH2CONH2 (aq) + H2O (l)

Untuk menentukan reaksi apakah bersifat endotermis atau eksotermis, maka diperlukan panas reaksi (Hf) pada 1 atm 298 K dari reaktan dan produk. H298 = Hf reaktan - Hf produk Diketahui data sebagai berikut: Hf NH3 Hf CO2 = -46.15 kJ/mol = -393.5 kJ/mol

12

Hf NH2CONH2 Hf H2O Sehingga H reaksi

= -324.5 kJ/mol = -285.84 kJ/mol = (Hf NH2CONH2 + Hf H2O) - (2x Hf NH3+ Hf CO2) = (-324.5+ -285.84) - (2x -46.15+ -393.5) kJ/mol = -12482.47 J/mol

Karena H reaksi negatif, maka reaksi yang berlangsung adalah reaksi eksotermis yang mengeluarkan panas. Sesuai dengan tinjauan thermodinamika pada reaksi eksotermis, jika tekanan diperkecil maka reaksi akan berjalan kearah reaktan (koefisien besar). Oleh karena itu tekanan harus diperbesar agar reaksi berjalan kekanan. Jika suhu dinaikan maka reaksi akan berjalan kearah reaktan, oleh karena itu suhu operasi harus diturunkan agar reaksi berjalan kearah produk. Reff : Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics; Smith, van Ness, Abbott Untuk menentukan reaksi apakah berjalan searah atau bolak-balik dapat diketahui dari nilai konstanta keseimbangan reaksi. Pada suhu kamar diperoleh data: G NH3 G CO2 G NH2CONH2 G H2O G reaksi - G K pada T R 3.92 kJ/mol K Abbott) Dari data diperoleh nilai konstanta keseimbangan pada 298K adalah 4.866. Pada temperature operasi harga K dihitung dengan persamaan : = -16.6 kJ/mol = -394.37 kJ/mol = -194.3 kJ/mol = -237.19 kJ/mol = G reaktan - G produk = -3.92 kJ/mol = RT ln K = 298 K = 0.008314 kJ/mol.K = 0.008314 x 298 x ln K = 4.866

(Reff : Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics; Smith, van Ness,

13

K = 0.811 Karena harga konstanta keseimbangan kurang dari satu (K<1), maka reaksi berlangsung bolak balik (reversible).

II.7. Tinjauan Kinetika


Laju reaksi kimia sangat dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi reaktan yang digunakan dalam reaksi. Semakin besar konsentrasi reaktan yang digunakan, laju reaksi akan meningkat. Di samping itu, laju reaksi juga dipengaruhi oleh nilai konstanta laju reaksi (k). Konstanta laju reaksi (k) adalah perbandingan antara laju reaksi dengan konsentrasi reaktan. Nilai k hanya dapat diperoleh melalui analisis data eksperimen, tidak berdasarkan stoikiometri maupun koefisien reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut : aA + bB r = k [A]x [B]y x dan y = orde reaksi Ditinjau dari kinetika reaksinya, kecepatan pembentukan urea akan semakin besar dengan kenaikan suhu dan penggunaan katalis. Hal ini dapat dijelaskan dengan persamaan Arhenius : k=A. k = 255.54 min-1 k = 0.875 min-1 (http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/ie800481z, akses 13 mei 2012) dimana: cC + dD

14

k : konstanta kecepatan reaksi A : faktor frekuensi tumbukan Ea : energi aktivasi R : konstanta gas T : suhu Dari persamaan di atas, semakin tinggi suhu, harga k akan semakin besar. Dan dengan penggunaan katalis akan menurunkan nilai Ea (energi aktivasi) sehingga harga k akan semakin besar. Hal ini menyebabkan pembentukan urea semakin cepat. (Levenspiel,1957)

II.8 Hubungan Suhu dengan Konversi


Kedua konsep termodinamika dan kinetika, hubungan suhu vs konversi dapat dievaluasi secara simultan, dengan demikian diharapkan kondisi operasi optimum dengan konversi maksimum dapat diperoleh. Pada tinjauan thermodinamika :

(Levenspiel,1957) Setelah mendapatkan nilai konstanta kesetimbangan (K), maka kita dapat mencari konversi dengan rumus di bawah ini :

(Levenspiel,1957) Perhitungan suhu dan konversi secara thermodinamika sebagai berikut :

15

Pada suhu 100C (373 K)

= 1.77

Pada suhu 130C (403 K)

= 1.31

Pada suhu 160C (433 K)

= 1.02

16

Pada suhu 190C (463 K)

= 0.81

Pada suhu 210C (483 K)

= 0.71

Dari perhitungan tersebut dapat dibuat tabel hubungan konversi Xa dengan suhu. Suhu (C) 100 130 160 190 210 Konversi (Xa) 0.64 0.57 0.50 0.45 0.41

Gambar 2.1 Tabel hubungan suhu versus konversi pada tinjauan thermodinamika.

17

Pada tinjauan kinetika :

Berdasarkan hukum Arhenius, didapatkan nilai konstanta kecepatan reaksi yang merupakan fungsi suhu. Setelah mendapatkan nilai k, hubungan dengan konversi dapat dinyatakan dengan rumus :

(Levenspiel,1957) Pada tunjaun kinetika diperoleh waktu tinggal dari literatur selama 60 menit. Perhitungan suhu dan konversi secara kinetika sebagai berikut :
-

Pada suhu 100C (373 K)

k=A. k = 255.54 min-1 k = 0.004 min-1

20
-

Pada suhu 130C (403 K)

k=A. k = 255.54 min-1 k = 0.006 min-1

31

18

Pada suhu 160C (433 K)

k=A. k = 255.54 min-1 k = 0.01 min-1

44
-

Pada suhu 190C (463 K)

k=A. k = 255.54 min-1 k = 0.014 min-1

58
-

Pada suhu 210C (483 K)

k=A. k = 255.54 min-1 k = 0.018 min-1

19

67 Dari perhitungan tersebut dapat dibuat tabel hubungan konversi Xa dengan suhu. Suhu (C) 100 130 160 190 210 Konversi (Xa) 0.20 0.31 0.44 0.58 0.67

Gambar 2.2 Tabel hubungan suhu versus konversi pada tinjauan kinetika Dari perhitungan suhu dan konversi secara thermodinamika dan kinetika dapat dibuat hubungan antara suhu dan konverasi. Grafik hubungan antara suhu dan konversi dapat dilihat pada gambar 2.3. Dari gambar 2.3 terlihat bahwa berdasarkan tinjauan termodinamika, semakin tinggi suhu, maka konversi yang diperoleh akan semakin kecil (reaksi eksotermis). Sedangkan berdasarkan tinjauan kinetika, semakin tinggi suhu maka konversi yang diperoleh akan semakin besar.

Gambar 2.3 grafik hubungan suhu versus konversi (Reff : Ammonia and urea production) (http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/ie800481z, akses 13 mei 2012)

20

Konversi maksimum dapat diketahui dari titik potong antara garis tinjauan termodinamika dan garis tinjauan kinetika. Berdasarkan gambar 2.1, diperoleh konversi maksimum yang dapat dicapai adalah pada suhu 170C dimana konversi yang diperoleh adalah 0,5 (50%). Dari literaratur diperoleh konversi urea berkisar antara 50% - 80% pada suhu 190 C. Dari data tersebut dapat diperoleh penyimpangan suhu operasi dari literatur sebasar 10.53 %. Sedangakan harga konversinya sudah sesuai dengan harga konversi pada literatur.

21

BAB III PENUTUP III.1. Kesimpulan


1.Urea adalah senyawa organik berwujud butir kristal halus yang larut dalam air dengan rumus kimia (NH2)2CO
2. Urea banyak digunakan sebagai pupuk kimia karena kandungan nitrogennya

yang cukup tinggi


3. Urea dapat juga digunakan sebagai bahan baku industri lain dan untuk

mengurangi emisi oksida nitrogen dalam mesin diesel 4. Sintesa urea dengan proses dehidrasi ammonium karbamat ditemukan pertama kalo oleh Bassorow (1870) dan diaplikasikan dengan tekanan tinggi oleh BASF (1941) dengan bahan baku amoniak dan karbon dioksida
5. Pada sintesa urea, amoniak dan karbon dioksida bereaksi secara eksotermis

dan reaksi bolak balik (reversible).


6. Titik suhu optimum sintesa urea yaitu 170C dengan konversi 50%, dengan

persen penyimpangan 10.53 % dari literatur.


7. Faktor yang mempengaruhi proses sintesa urea antara lain temperatur,

tekanan, perbandingan mol CO2 dan NH3, serta kandungan oksigen dan air
8. Reaktor yang digunakan adalah Reaktor Sintesis Urea (R-210) dengan

keunggulan dalam kemampuan reactor untuk menahan panas reaksi eksotermis dalam pembentukan urea dari gas CO2 dan amoniak.

III.2. Saran
1. Urea masih berpotensi untuk dikembangkan dan diproduksi lagi mengingat kebutuhan akan urea masih sangat tinggi. 2. Sebaiknya memperhatikan tinjauan kinetika dan tinjauan thermodinamika dalam proses sintesa urea. 3. Sebaiknya memperhatikan faktor yang mempengaruhi proses sintesa urea

22

4. Disaran kepada produsen untuk memperhatikan unit penyediaan air

pendingin dan air proses yang digunakan seperti kesadahan, gas-gas yang dapat menimbulkan faktor korosi, dan minyak yang dapat menurunkan heat transfer coefficient. Produsen sebaiknya memperhatikan kondisi proses (konsentrasi urea, konsentrasi NH3, waktu tinggal dan suhu) agar tidak terbentuk senyawa biuret yang dapat meracuni tanaman. 5. Disarankan kepada konsumen untuk menggunakan urea sesuai dengan kebutuhan dan dosis yang disarankan, karena jika berlebih dapat menurunkan fungsi dari urea tersebut dan pilihlah urea dengan kualitas yang baik.

23