Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH LOGAM BERAT TERHADAP BUDIDAYA IKAN NILA

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sebagai salah satu zat pencemar, merkuri bersifat neutrotoksin dan masuk ke ekosistem akuatik melalui deposisi atmosferik maupun bersumber dari eksternalisasi limbah industri. Pada lingkungan akuatik, merkuri mudah membentuk senyawaan kompleks sehingga mempunyai mobilitas yang tinggi dan dominan sebagai Hg2+. Disisi lain merkuri dapat dimetilasi oleh bakteri membentuk senyawaan organomerkuri yang mempunyai toksisitas lebih besar dibandingkan dengan bentuk anorganik. Organomerkuri selain metil merkuri cepat terdekompoisisi kembali menjadi merkuri anorganik. Merkuri mempunyai afinitas terhadap lipid dalam tubuh organism sehingga merkuri cenderung lebih terakumulasi dan terbiomagnefikasi dibandingkan bentuk logam berat lainnya. Oleh

organisme akuatik merkuri diakumulasi dalam bentuk metil merkuri atau ion Hg2+ pada seluruh tingkatan jejaring makanan. Tilapia (O. mossambicus ) dibudidayakan di perairan tawar dan payau karena mempunyai nilai ekonomis dan kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan saliitas yang cukup ekstrim serta dapat bertahan pada kondisi kekurangan oksigen. Budidaya ikan tersebut di daerah pesisir terancam oleh berbagai macam jenis polutan termasuk merkuri. Walaupun wilayah pesisir dan muara sungai sangat kecil memainkan peranan dalam siklus global merkuri, tetapi wilayah ini menunjukkan tingkatan konsentrasi merkuri yang sangat tinggi yang diakibatkan oleh inputan dari sungai. Pada wilayah pesisir merkuri terdeposisi dalam sedimen dan kurang mempunyai bioavailabilitas dibandingkan dengan lingkungan laut tetapi tetap berada dalam rantai makanan lokal dengan derajad yang signifikan. Sebagai salah satu predator puncak dalam jejaring makanan akuatik, O. mossambicus berpotensi mengakumulasi merkuri/metil merkuri dan memberikan kontribusi terhadap paparan kedua kontaminan tersebut

pada manusia. Ikan ini mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinitas dan mudah ditemui di tambak-tambak pada berbagai daerah pesisir. Disisi lain kemampuan akumulasi merkuri/metil merkuri dalam berbagai kondisi lingkungan belum banyak diketahui. 1.3 Rumusan Masalah Bagaimanakah dampak utama dari keberadaan logam berat di perairan ? Apa saja kandungan logam berat dalam perairan ? Apakah dampak negatif logam Cu dalam budidaya ikan nila ? Dari mana sajakah sumber logam berat dalam perairan ?

1.2 Maksud dan Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang beberapa dampak dari kandungan logam Cu dalam perairan di budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dan kandungan logam yang ada di dalam perairan.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Logam Berat Logam berat umumnya bersifat racun terhadap makhluk hidup, walaupun beberapa diantaranya diperlukan dalam jumlah kecil. Melalui berbagai perantara, seperti udara, makanan, maupun air yang terkontaminasi oleh logam berat, logam tersebut dapat terdistribusi ke bagian tubuh manusia dan sebagian akan terakumulasikan. Jika keadaan ini berlangsung terus menerus, dalam jangka waktu lama dapat mencapai jumlah yang membahayakan kesehatan manusia. Air sering tercemar oleh komponen-komponen anorganik antara lain berbagai logam berat yang berbahaya. Beberapa logam berat tersebut banyak digunakan dalam berbagai keperluan sehari-hari dan secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemari lingkungan dan apabila sudah melebihi batas yang ditentukan berbahaya bagi kehidupan. Logam-logam berat yang berbahaya yang sering mencemari lingkungan antara lain merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), khromium (Cr), dan nikel (Ni). Logam-logam berat tersebut diketahui dapat terakumulasi di dalam tubuh suatu mikroorganisme, dan tetap tinggal dalam jangka waktu lama sebagai racun. Peristiwa yang menonjol dan dipublikasikan secara luas akibat pencemaran logam berat adalah pencemaran merkuri (Hg) yang menyebabkan Minamata desease di teluk Minamata, Jepang dan pencemaran kadmium (Cd) yang menyebabkan Itai-itai disease di sepanjang sungai Jinzo di Pulau Honsyu, Jepang Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam pengendalian dan pemantauan dampak lingkungan adalah melakukan analisis unsur-unsur dalam ikan air tawar, terutama Pb, Cu, dan Cd. Pencemaran logam-logam tersebut dapat mempengaruhi dan menyebabkan penyakit pada

konsumen, karena di dalam tubuh unsur yang berlebihan akan mengalami detoksifikasi sehingga membahayakan manusia. Timbal (Pb) mempunyai arti penting dalam dunia kesehatan bukan karena penggunaan terapinya, melainkan lebih disebabkan karena sifat toksisitasnya. Absorpsi timbal di dalam tubuh sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi dan menjadi dasar keracunan yang progresif. Keracunan timbal ini menyebabkan kadar timbal yang tinggi dalam aorta, hati, ginjal, pankreas, paru-paru, tulang, limpa, testis, jantung dan otak. Dalam keadaan normal, jumlah tembaga (Cu) yang diperlukan untuk proses enzimatik biasanya sangat sedikit. Dalam keadaan lingkungan yang tercemar menghambat sistem enzim (enzim inhibitor), kadar Cu ditemukan pada jaringan beberapa spesies hewan air yang mempunyai regulasi sangat buruk terhadap logam. Pada binatang lunak (moluska) sel leukositi sangat berperan dalam sistem translokasi dan detoksikasi logam. Hal ini terutama ditemukan pada kerang kecil (oyster) yang hidup dalam air yang terkontaminasi tembaga (Cu) yang terikat oleh sel leukositi, sehingga menyebabkan kerang tersebut berwarna kehijau-hijauan. Ikan sebagai salah satu biota air dapat dijadikan sebagai salah satu indikator tingkat pencemaran yang terjadi di dalam perairan. Jika di dalam tubuh ikan telah terkandung kadar logam berat yang tinggi dan melebihi batas normal yang telah ditentukan dapat sebagai indikator terjadinya suatu pencemaran dalam lingkungan. Ikan merupakan organisme air yang dapat bergerak dengan cepat. Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan menghindarkan diri dari pengaruh pencemaran. Namun demikian, pada ikan yang hidup dalam habitat yang terbatas (seperti sungai, danau, teluk) akan sulit menghindarkan diri dari pencemaran. Sebagai salah satu akibat adalah terakumulasinya unsur-unsur pencemaran termasuk logam berat ke dalam tubuh ikan (Dinata, 2004 dalam Murtini dan Novalia, 2007).

Menurut Anand (1978) dalam Supriyanto et al. (2007), kandungan logam berat dalam ikan erat kaitannya dengan pembuangan limbah industri di sekitar tempat hidup ikan tersebut, seperti sungai, danau, dan laut. Banyaknya logam berat yang terserap dan terdistribusi pada ikan bergantung pada bentuk senyawa dan konsentrasi polutan, aktivitas mikroorganisme, tekstur sedimen, serta jenis dan unsur ikan yang hidup di lingkungan tersebut. Menurut Salami et al. (2008), logam terbanyak yang dideteksi pada ikan adalah tembaga dan timbal.

2.2 Sumber Logam Berat Menurut Sudarmaji et al. (2006), sumber bahan pencemar logam berat adalah : 1. Sumber dari Alam Kadar Pb yang secara alami dapat ditemukan dalam bebatuan sekitar 13 mg/kg. Khusus Pb yang tercampur dengan batu fosfat dan terdapat didalam batu pasir ( sand stone) kadarnya lebih besar yaitu 100 mg/kg. Pb yang terdapat di tanah berkadar sekitar 5 - 25 mg/kg dan di air bawah tanah (ground water) berkisar antara 1- 60 g/liter. Secara alami Pb juga ditemukan di air permukaan. Kadar Pb pada air telaga dan air sungai adalah sebesar 1 -10 g/liter. Dalam air laut kadar Pb lebih rendah daripada dalam air tawar. Logam berat Pb yang berasal dari tambang dapat berubah menjadi PbS (golena), PbCO3 (cerusite) dan PbSO4 (anglesite) dan ternyata golena merupakan sumber utama Pb yang berasal dari tambang. Logam berat Pb yang berasal dari tambang tersebut bercampur dengan Zn (seng) dengan kontribusi 70%, kandungan Pb murni sekitar 20% dan sisanya 10% terdiri dari campuran seng dan tembaga. Secara alami Hg dapat berasal dari gas gunung berapi dan penguapan dari air laut. Kadnium dalam tanah bersumber dari alam dan

sumber antropogenik. Yang berasal dari alam berasal dari batuan atau material lain seperti glacial dan alluvium. Kadnium dari tanah yang berasal dari antropogenik dari endapan penggunaan pupuk dan limbah. Sebagian besar kadnium dalam tanah berpengaruh pada pH, larutan material organic, logam yang mengandung oksida, tanah liat dan maupun anorganik. 2. Sumber dari Industri Industri yang perpotensi sebagai sumber pencemaran Pb adalah semua industri yang memakai Pb sebagai bahan baku maupun bahan penolong, misalnya: zat organik

Industri batery : Industri ini banyak menggunakan logam Pb terutama


lead antimony alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya.

Industri bahan bakar : Pb berupa tetra ethyl lead dan tetra methyl lead
banyak dipakai sebagai anti knock pada bahan bakar, sehingga baik industri maupun bahan bakar yang dihasilkan merupakan sumber pencemaran Pb.

Industri kabel : Industri kabel memerlukan Pb untuk melapisi kabel. Saat


ini pemakaian Pb di industri kabel mulai berkurang, walaupun masih digunakan campuran logam Cd, Fe, Cr, Au dan arsenik yang juga membahayakan untuk kehidupan makluk hidup.

Industri kimia yang menggunakan bahan pewarna : Pada industri ini


seringkali dipakai Pb karena toksisitasnya relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan logam pigmen yang lain. Sebagai pewarna merah pada cat biasanya dipakai red lead, sedangkan untuk warna kuning dipakai lead chromate. Industri pengecoran logam dan semua industri yang menggunakan Hg sebagai bahan baku maupun bahan penolong, limbahnya merupakan sumber pencemaran Hg. Sebagai contoh antara lain adalah industri klor alkali, peralat an listrik, cat, termometer, tensimeter, industri pertanian,

dan pabrik detonator. Kegiatan lain yang merupakan sumber pencemaran Hg adalah praktek dokter gigi yang sumber Hg pula. 3. Sumber dari Transportasi Hasil pembakaran dari bahan tambahan ( aditive) Pb pada bahan bakar kendaraan bermotor menghasilkan emisi Pb in organik. Logam berat Pb yang bercampur dengan bahan bakar tersebut akan bercampur dengan oli dan melalui proses di dalam mesin maka logam berat Pb akan keluar dari knalpot bersama dengan gas buang lainnya. menggunakan amalgam sebagai bahan penambal gigi . Selain itu bahan bakar fosil juga merupakan

2.3

Pengaruh Logam Berat Cu Terhadap Ikan Nila ( Oreochromis

niloticus )
Adanya paparan tembaga mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan penambahan berat badan ikan. Hal ini terjadi karena efisiensi ikan dalam mengkonversi asupan makanan terganggu karena meningkatnya metabolisme tubuh untuk melakukan detoksifikasi tembaga.

Kandungan tembaga pada hati cenderung tinggi karena adanya ikatan antara tembaga dengan protein yang disebut methallothionein. Proses ini yang membantu mekanisme detoksifikasi logam tembaga pada tubuh. Tingginya tembaga di insang disebabkan karena peranan insang sebagai organ yang mengalami uptake logam pertama dengan lingkungan serta merupakan organ pertama yang terpapar. Pada permukaan insang terdapat sel epitel yang sangat kecil, sel ini akan kontak langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi. Adanya proses respirasi di insang menyebabkan adanya pertukaran gas dengan lingkungan (dipengaruhi dengan luas permukaan yang besar, proses difusi jarak pendek antara tubuh dengan air) (Kotze, 1999 dalam Salami et al., 2008). Hasil proses absorbsi dan pengikatan ion tembaga ke permukaan branchial akan meningkatkan konsentrasi tembaga di insang. Sel mukosa akan terbentuk dan meningkatnya aktifitas, ukuran dan penumpukan. Dari beberapa penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa akumulasi tembaga di insang akan mengikat jaringan haemopoeitic, mukosa dan methallothioneins dan berdampak pada eksresi dan detoksifikasi. Kotze (1999) menyatakan bahwa kemampuan hati dan insang sebagai regulator, perilaku, dan kebiasaan ikan memiliki peranan penting terhadap perbedaan konsentrasi Cu pada organ yang berbeda. Konsentrasi tembaga pada hati (tidak secara langsung mengalami kontak dengan lingkungan air) yang berfungsi sebagai penyimpanan dan detoksifikasi akan berbeda dengan konsentrasi tembaga pada insang (kontak langsung dengan lingkungan air) dan berfungsi sebagai organ uptake dan eksresi tembaga. Akumulasi tembaga paling tinggi terdapat di hati, hal ini memperlihatkan bahwa hati ikan memegang peranan dalam mekanisme pertahanan terhadap paparan kronis logam berat dengan menghasilkan methallothionein (Mc Carter and Roch, 1983 dalam Avenant et al., 2000).

3. KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Logam berat umumnya bersifat racun terhadap makhluk hidup, logam-logam berat yang berbahaya yang sering mencemari lingkungan antara lain merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), khromium (Cr), dan nikel (Ni).

Ikan sebagai salah satu biota air dapat dijadikan sebagai salah satu indikator tingkat pencemaran yang terjadi di dalam perairan. Jika di dalam tubuh ikan telah terkandung kadar logam berat yang tinggi dan melebihi batas normal yang telah ditentukan dapat sebagai indikator terjadinya suatu pencemaran dalam lingkungan.

Sumber bahan pencemar logam berat adalah : Secara alami Pb ditemukan di air permukaan, semua industri yang memakai Pb sebagai bahan baku maupun bahan penolong, dan hasil pembakaran dari bahan tambahan ( aditive) Pb pada bahan bakar kendaraan bermotor menghasilkan emisi Pb in organik.

Akumulasi tembaga paling tinggi terdapat di hati, karena hati berfungsi sebagai penyimpanan dan detoksifikasi. Berbeda dengan konsentrasi tembaga pada insang yang kontak langsung dengan lingkungan air

3.2 Saran Dalam penelitian selanjutnya tentang konsentrasi logam berat yang terkandung dalam perairan terhadap budidaya ikan nila ( Oreochromis

niloticus ) perlu dilakukan kembali terutama pada dampak positif dan


negatifnya dalam pembudidayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Avenant, A and HM Mark. 2000. Bioaccumulation Of Cromium, Copper And Iron In The Organs And Tissues Of Clarias Gariepinus In The Olifants River, Kruger National Park. Water SA Vol.26, No.4:pp 569582. Kotze P, HH. Du Purez and JHJ. van Vuren. 1999. Bioaccumulation of copper and zinc in Oreochromis Mossambicus And Clarias Gariepinus, From The Olifants River, Mpumalanga, South Africa. Water SA Vol. 25, No.1: pp 99-110. Murtini J.T, Novalia R. 2007. Kandungan Logam Berat Pada Ikan, Air Dan Sedimen Di Waduk Saguling Jawa Barat. Jurnal Pasca Panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol.2, No.2. Salami I.R.S, Suphia R., Anastasia P.K., Ayda T.Y. 2008. Pengaruh Logam Berat Tembaga Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dan Potensi Depurasinya. Jurnal Penelitian Perikanan Vol.11, No.1 : pp 49-58. Sudarmaji, J. Mukono, Corie I.P. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol.2, No.2 : pp 129-142 Supriyanto C., Samin, Zainul K. 2007. Analisis Cemaran Logam Berat Pb, Cu dan Cd Pada Ikan Air Tawar Dengan Metode Spektrometri Nyala Serapan Atom (SSA). Seminar Nasional III SDM Teknologi Nuklir.