Anda di halaman 1dari 4

Fertilisasi dan Nidasi

Oleh: Muhammad Iqbal Maulana, 1006684806 Ovulasi Ketika masih dalam ovarium maka ovum masih dalam bentuk oosit primer. Sesaat sebelum dilepaskan dari folikel ovarium terjadi pembelahan inti secara meiosis dan polar body yang pertama dihasilkan dan dikeluarkan. Setelah proses meiosis 1 ini maka oosit primer menjadi oosit sekunder. Dalam proses ini 23 pasangan kromosom kehilangan pasangannya yang ikut terbuang bersama polar body. Setelah kehilangan setengah kromosom dan menjadi oosit sekunder maka terjadi ovulasi oosit sekunder. Pada saat ovulasi maka oosit sekunder akan masuk ke dalam tuba falopi dengan bantuan fimbria. Fertilisasi Setelah pria mengejakulasikan spermanya kedalam vagina sewaktu berhubungan seksual maka sperma akan di transportasikan dalam jangka waktu 510 menit dari vagina wanita dan melewati uterus dan tuba falopi menuju ke ampulla tuba fallopi yang berada dekat dengan akhir ovarium. Transportasi sperma ini dibantu oleh kontraksi uterus dan tuba fallopi yang distimulasi oleh prostaglandin yang dihasilkan dari cairan semen laki-laki dan juga dibantu oksitosin yang dihasilkan hipofisis posterior wanita ketika orgasme. Dari setengah milyar sperma yang dilepaskan maka setengahnya akan dapat sampai ke ampulla. Fertilisasi biasanya terjadi di salah satu ampulla sesaat setelah bertemunya sperma dan ovum yang terjadi langsung ketika mereka masuk ke ampulla. Sebelum terjadinya fertilisasi maka sperma harus bisa menembus lapisan-lapisan granulosa yang ada pada ovum(corona radiata). Lalu dilanjutkan dengan menempel dan penetrasi lagi ke lapisan zona pelusida yang mengelilingi ovum. Ketika telah terjadi pertemuan kepala sperma dan inti ovum maka ovum akan melakukan proses pembelahan lagi yang akan menghasilkan ovum yang matur dengan polar body lagi. Ovum yang matur ini didalam pronukleusnya tetap memiliki 23 kromosom. Sebelum terjadinya fertilisasi sperma juga mengalami perubahan yaitu kepalanya membesar untuk membentuk kepala pronucleus. 23 kromosom pada wanita dan 23 kromosom pada pria bertemu membentuk 23 pasang kromosom yang akan menjadi individu baru.

Gambar 1. Penetrasi sperma ke dalam ovum Penentuan jenis kelamin Jenis kelamin fetus yang akan lahir dari proses fertilisasi ditentukan oleh ayahnya. Hal ini disebabkan karena sebagian sperma yang ada memiliki kromosom X dari hasil meiosis dan sisanya memiliki kromosom Y yang apabila digabung dengan kromosom sex wanita yang pasti selalu X dari hasil meiosis. Dari hasil ini maka akan terdapat 2 kemungkinan yaitu terbentuknya hasil penggabungan kromosom sex yaitu XX ataupun XY. Genotip XX akan menciptakan fenotip perempuan sedangkan genotip XY akan menciptakan fenotip pria. Perjalanan fertilisasi di tuba fallopi Setelah fertilisasi terjadi maka dibutuhkan 3-5 hari tambahan untuk mentransportasikan ovum yang telah dibuahi untuk melewati sisa dari tuba fallopi untuk menuju uterus. Transportasi ini terutama terjadi dipengaruhi oleh aliran cairan yang dihasilkan oleh sel epitelial, silia yang mengayun ke arah uterus dan juga kontraksi lemah tuba fallopi. Transportasi yang cukup lama ini memberikan waktu yang cukup untuk ovum yang telah dibuahi untuk dapat membelah menjadi blastosit.

Gambar 2. Perjalanan di tuba fallopi setelah terjadi fertilisasi

Implantasi blastosit ke dalam uterus Setelah sampai di uterus blastosit yang sedang berkembang membutuhkan 1 sampai 3 hari untuk menempel ke endometrium. Maka hal ini biasanya terjadi 5-7 hari setelah terjadinya ovulasi. Sebelum implantasi blastosit mendapatkan energi dari uterine endometrium yang disebut uterine milk. Implantasi dihasilkan dari sel trophoblast yang tumbuh disekitar permukaan blastosit. Trophoblast ini menghasilkan enzim protease yang menghancurkan dinding bagian luar endometrium agar dapat terjadi nidasi. Selain itu trophoblast juga menghasilkan cairan dan nutrisi dan ditransportasikan secara aktif untuk pertumbuhan lanjutan. Setelah terjadi nidasi maka akan tejadi pertumbuhan yang cepat untuk membentuk sebuah koneksi antara ibu dan bayi yaitu plasenta.

Dafar Pustaka
1. Gimpl G, Fahrenholz F:The oxytocin receptor system: structure,

function, and regulation. Physiol Rev 81:629, 2001.

2. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC : Jakarta.