Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang terdiri dari ribuan pulau.

Tingkat curah hujan tinggi yang terjadi di Indonesia tiap tahunnya menjadikan tanahnya subur dan cadangan air tanahnya melimpah. Maka pantas saja kalau sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Hal ini ditunjang juga dari penyebaran penduduk yang bervariasi di tiap pulaunya dan lahan kosong yang produktif yang tersedia hampir di setiap pulau. Namun, hal teresbut tidak selamanya mendatangkan berkah bagi Indonesia. Semakin bertambahnya jumlah penduduk, semakin meningkat pula berbagai masalah yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Sebagian kecil diantaranya adalah masalah sampah dan banjir. Pada musim hujan yang cenderung mendatangkan curah hujan yang tinggi, masalah banjir yang diakibatkan oleh sampah yang dibuang sembarangan banyak terjadi di kota-kota besar. Hal ini tiap tahunnya selalu dikeluhkan masyarakat sebagai penyebab penyakit yang mematikan. Salah satunya adalah Demam Berdarah Dengue. Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan merupakan penyakit endemis hampir di seluruh provinsi. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus dan daerah terjangkit terus meningkat dan menyebar luas serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa/KLB. Upaya pengendalian penyakit DBD yang telah dilakukan sampai saat ini adalah memberantas nyamuk penularnya baik terhadap nyamuk dewasa atau jentiknya karena obat dan vaksinnya untuk membasmi virusnya belum ada. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah POKJANAL DBD (Kelompok Kerja Operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN 3M Plus) dan Peningkatan profesionalisme pelaksana program. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadinya peningkatan kasus, salah satu diantaranya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan 1

masyarakat dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M ( Menguras-Menutup-Mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak tahun 1992 dan pada tahun 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk. Sampai saat ini upaya tersebut belum menampakkan hasil yang diinginkan karena setiap tahun masih terjadi peningkatan angka kematian. Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di tatanan dan lingkungan masing-masing. Untuk mengoptimalkan upaya pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, maka perlu dikembangkan program baru yang sifatnya mampu mengkoordinasi masyarakat secara keseluruhan yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP. B. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang di atas, maka penulis dapat mengambil beberapa masalah yang perlu dibahas dalam pembahasan, diantaranya adalah :
1. Apakah sebenarnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) itu? 2. Apa yang menyebabkan penyakit ini dan apa saja yang menjadi vektor

penyebaran penyakitnya? 3. Bagaimana insidens penyebaran penyakitnya di Indonesia?


4. Jenis pencegahan dengan cara apa saja yang sejauh ini telah dilakukan

untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD?


5. Apakah pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam Pemberantasan

Sarang Nyamuk (PSN)-DBD?


6. Bagaimana fungsi komunikasi dalam peningkatan perubahan perilaku

masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD? C. TUJUAN 1. Tujuan Umum Memberikan informasi tentang penyakit Demam Berdarah Dengue dan pengendalian vektornya

2. Tujuan Khusus
a. Memberikan informasi mengenai penyakit Demam Berdarah Dengue b. Memberikan informasi mengenai pencegahan Demam Berdarah Dengue c. Memberikan informasi mengenai Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam

Berdarah Dengue (PSN-DBD) dengan Metode Komunikasi Perubahan Perilaku

BAB II DISKUSI
A. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) atau juga dikenal sebagai DBD (Demam Berdarah Dengue) adalah penyakit viral dengan demam akut dengan ciri khas muncul tiba-tiba, demam biasanya berlangsung selama 3 5 hari (jarang lebih dari 7 hari dan kadang-kadang bifasik), disertai dengan sakit kepala berat, mialgia, artralgia, sakit retro orbital, tidak nafsu makan, gangguan gastro intestinal dan timbul ruam. Eritema awal diseluruh badan tejadi pada beberapa kasus. Ruam makulopapuler biasanya muncul pada masa deverfescence. Fenomena perdarahan minor, seperti petechiae, epistaksis atau perdarahan gusi bisa terjadi selama demam. Pada kulit yang berwarna gelap, ruam biasanya tidak kelihatan. Dengan adanya penyakit lain yang mendasari penyakit demam berdarah pada orang dewasa bisa terjadi perdarahan, seperti perdarahan gastro intestinal misalnya pada penderita tukak lambung atau pada penderita menorrhagia. Infeksi dengue disertai peningkatan permeabilitas vaskuler, dengan manifestasi perdarahan disertai dengan kerusakan organ-organ tertentu disajikan dalam bab Demam Berdarah Dengue. Penyembuhan, dapat disertai dengan rasa lelah dan depresi yang berkepanjangan. Limfadenopati dan lekopeni pada penderita Demam Dengue dengan limfositosis relatif sering terjadi; trombositopeni (< 100 x 103/cu mm; unit Standard Internasional < 100 x 109/L) dan meningkatnya transaminase lebih jarang terjadi. Penyakit ini biasa muncul sebagai KLB yang eksplosif namun jarang terjadi kematian kecuali terjadi perdarahan pada DBD. Diferensial diagnosa dari Demam Dengue adalah semua penyakit yang secara epidemiologis termasuk di dalam kelompok demam virus yang ditularkan oleh artropoda, demam kuning, campak, rubella, malaria, leptospira dan penyakit demam sistemik lainnya terutama yang disertai dengan ruam. 4

Pemeriksaan laboratorium seperti HI, CF, ELISA IgG dan IgM, dan tes netralisasi adalah alat bantu diagnostik. Antibodi IgM, mengindikasikan infeksi yang sedang atau baru saja terjadi, biasanya dapat dideteksi 6 7 hari sesudah onset penyakit. Virus diisolasi dari darah dengan cara inokulasi pada nyamuk, atau inokulasi pada kultur jaringan nyamuk, atau pada kultur jaringan vertebrata, lalu diidentifikasi dengan antibodi monoklonal serotipe spesifik. Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai. B. Penyebab dan Vektor Penyebaran DBD Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga. Sedangkan vektor penyebar penyakitnya adalah nyamuk. Nyamuk termasuk ke dalam Phylum Arthropoda, Class Insecta, Subclass Pterygota, Ordo Diphtera, Subordo Orthorrhapha Nematocera, Familia Culicidae (Mosquito). Pada Familia ini Culicidae terbagi dalam Subfamili Culicinae, Dixinae, dan Chaoborinae. Subfamilia Culicinae adalah yg berperan banyak dalam penularan penyakit. Dari subfamilia Culicinae ini terdapat tiga Tribe, yaitu Anophelini, Culicini, dan Megarhinini. Dari Tribe Culicini terdapat dua Group, yaitu graoup Aedes dan Group Culex. Sedangkan Tribe Anophelini hanya mempunyai satu genus yaitu Genus Anopheles.

Nyamuk Aedes merupakan penyebar 2 macam penyakit pada manusia yaitu Dengue dan Yellow Fever. Ciri khas yang paling sering ditemukan pada nyamuk dewasa adalah adanya warna putih keperakan di seluruh tubuhnya, diselang warna hitam kecoklatan. Dari genus Aedes ini, ada 2 spesies nyamuk yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. C. Insidens Penyebarannya di Indonesia Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sebagai berikut : Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.234 orang. Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.414 orang (terjadi ledakan) Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang. Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang. Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang. Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang. Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang. Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun. KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003). 6

Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun. Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD. Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis. Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini. Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)

Gambar 1. Insidens Demam Berdarah Dengue di Indonesia

D. Pencegahan Penyakit yang sejauh ini telah dilakukan Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Sejauh ini pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu : 1. Lingkungan Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh: Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung Menutup dengan rapat tempat penampungan air. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar seminggu. seminggu sekali.

rumah dan lain sebagainya. 2. Biologis Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). 3. Kimiawi Cara pengendalian ini antara lain dengan: Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat. 8

E. Perubahan Perilaku Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-

DBD Perilaku merupakan sifat dasar yang mempengaruhi kehidupan manusia baik sebagai makhluk sosial maupun makhluk pribadi. Sebuah perilaku akan sangat berperan penting dalam perkembangan peradaban manusia. Lawrence Green dalam Notoatmodjo S (2003) mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (nonbehaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu : 1. Faktor-faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya, 2. Faktor-faktor pendukung, yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya, 3. Faktor-faktor pendorong, yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku, termasuk di sini juga kemampuan atau pengetahuan individu tersebut untuk mengidentifikasi penyakitnya, penyebab penyakit serta usaha-usaha pencegahan penyakit. Dalam hal ini faktor pengetahuan tentang penyakit DBD yang meliputi pengetahuan tentang gejala, penyebab penyakit, pengobatan dan perawatan penderita. Selain itu juga termasuk faktor praktik masyarakat mengenai gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan tindakan pencegahan penyakit DBD. Departemen Kesehatan selama ini telah melakukan berbagai upaya dalam penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Awalnya strategi pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah pemberantasan nyamuk 9

dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi ditambah dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air. Namun demikian kedua metode tersebut belum berhasil dengan memuaskan. Akhir-akhir ini Depkes mengembangkan metode pencegahan penyakit Demam Berdarah untuk mengubah perilaku masyarakat dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh keluarga/masyarakat secara rutin, serentak dan berkesinambungan. Metode ini dipandang sangat efektif dan relatif lebih murah dibandingkan dengan metode terdahulu. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dianjurkan kepada keluarga/masyarakat adalah dengan cara melakukan kegiatan 3M plus yaitu menutup, menguras tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan serta cara lain untuk mengusir atau menghindari gigitan nyamuk dengan memakai obat anti nyamuk atau menyemprot dengan insektisida (Depkes, 2003). Dengan perubahan perilaku ini, maka akan banyak manfaat yang didapatkan oleh masyarakat baik secara langsung ataupun tidak langsung. Manfaat secara langsung yang dapat dirasakan antara lain yaitu menurunnya jumlah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang merupakan vektor utama penyebab Demam Berdarah Dengue. Sedangkan manfaat lainnya adalah secara tidak langsung pola hidup masyarakat yg tadinya merupakan pola atau perilaku hidup sakit (illness behaviour), setelah perubahan perilaku ini akan berubah menjadi pola atau perilaku hidup sehat (health behaviour) yang nantinya juga akan menjadi titik awal dari terhindarnya masyarakat dari penyakit-penyakit lainnya yang tentunya lebih mematikan daripada Demam Berdarah Dengue (Glanz K et al.,1997).
F. Fungsi Komunikasi dalam Meningkatkan Perubahan Perilaku Masyarakat dalam

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD Perubahan perilaku masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk yang telah dibahas sebelumnya memang merupakan sebuah tonggak dasar yang harus dilakukan untuk bisa mengurangi penyebaran wabah Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Namun, sejauh apapun perubahan perilaku itu terjadi tetapi tidak disertai dengan komunikasi yang aktif dan efektif antara pihak pemerintah, dalam hal ini Depkes sebagai instansi resmi yang mengurusi bidang kesehatan dan penyakit menular, dengan masyarakat maka akan menjadi suatu hal yang mubazir. Opini 10

tersebut didukung dengan fakta mengenai minimnya pengetahuan masyarakat mengenai Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan perubahan perilaku apa saja yang perlu dilakukan untuk menunjang kegiatan tersebut. Kurangnya informasi tersebut sebagian besar dikarenakan komunikasi yang masih bisa dikatakan pasif oleh pemerintah kepada masyarakat. Metode-metode lama seperti penyuluhan langsung kepada masyarakat, saat ini sudah mulai ditinggalkan seiring perkembangan jaman dan diganti dengan komunikasi yang sifatnya satu arah melalui media massa ataupun media elektronik. Kurang efektifnya komunikasi tersebut menjadikan masyarakat semakin bingung karena tidak ada kesempatan bertanya secara langsung mengenai hal-hal yang mereka belum pahami, seperti metode penyuluhan langsung yang sifat komunikasinya dua arah. Namun, dalam hal ini kita tidak dapat terus-terusan hanya menyalahkan pemerintah sebagai sumber utama kurang efektifnya komunikasi tersebut sebab penggunaan komunikasi dalam merubah perilaku masyarakat merupakan tantangan tersendiri yang lumayan sulit untuk direalisasikan di negara kita yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ke lima di dunia. Komunikasi untuk menumbuhkan niat masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk mengarah pada perubahan perilaku, bukan sekedar mencapai tataran atau level akan kesadaran pentingnya menghilangkan wabah Demam Berdarah Dengue. Karena itu pendekatan yang dilakukan haruslah benar-benar bisa mendorong untuk mengambil tindakan. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan model behavioral change communication (komunikasi perubahan perilaku). Pendekatan ini menjelaskan bahwa komunikasi haruslah berbasis riset (base on research), dan tidak sekedar merancang pesan komunikasi di atas meja (Sukowidodo, 2008). Perubahan perilaku ibaratnya sebuah revolusi. Lazimnya orang memiliki kecenderungan tidak mau berubah, karena harus mengorbankan sesuatu yang sudah terbiasa dilakukan. Karena itu, untuk mewujudkan kebudayaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD maka harus dilakukan pembiasaan hidup sehat. Hidup sehat harus dibuat sebagai sebuah keharusan, agar lambat laun kehidupan yang sehat dan bebas dari penyakit menjadi sebuah kehausan Jika komunikasi dijadikan sebagai cara untuk mendorong perubahan sebuah kebiasaan masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk, maka diperlukan sebuah

11

energi besar dalam melakukannya. Program komunikasi budaya hidup bersih dan sehat harus dibangun secara sungguh-sungguh dan tidak asal-asalan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit endemik yang kini lebih meresahkan masyarakat karena makin bertambahbanyaknya jumlah korban yang meninggal setiap tahunnya. Pencegahan yang telah dilakukan sejauh ini seperti program 3M dan 3M plus hanya dapat mengurangi sedikit saja jumlah insidens nya di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode baru untuk lebih memberdayakan masyarakat untuk ikut serta secara aktif dalam program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-DBD, yaitu Metode Komunikasi Perubahan Perilaku. Program yang dimaksud ini nantinya akan bertujuan untuk mengikutsertakan masyarakat secara aktif dalam merubah perilaku atau pola hidupnya menjadi lebih sehat yang ditunjang dengan komunikasi dua arah antara Depkes sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai objek yang berperan utama dalam memperbaiki taraf kesehatan hidupnya menjadi lebih baik. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan Metode Komunikasi Perubahan Perilaku ini program pemerintah seperti 3M dan 3M plus yang tadinya terlihat masih kurang efektif, nantinya akan lebih efektif sebab melibatkan masyarakat secara langsung dengan menggunakan komunikasi yang baik secara 2 arah dan output nya adalah Indonesia akan segera bebas dari wabah Demam Berdarah Dengu, yang artinya secara tidak langsung juga akan ikut menyukseskan program Indonesia Sehat. B. Saran-saran Untuk lebih mengangkat metode ini, maka pemerintah perlu melakukan tindak komunikasi (bisa dibaca: kampanye) untuk menumbuhkan niat dari dalam diri masyarakat untuk merubah perilakunya, diantaranya adalah :
1. Orientasi Pada Khalayak Pikiran pertama ketika menyusun sebuah program komunikasi/ kampanye adalah eksistensi khalayak penerima pesan. Karena memang merekalah yang menjadi sasaran dari kampanye itu. Dalam hal ini, perancang komunikasi harus

12

mengetahui secara detail informasi sasaran pesan. Setelah mengetahui secara jelas, maka perancang komunikasi bisa merumuskan/ mendesain pesan yang sesuai dengan kondisi mereka 2. Mendesain Pesan Efektif Pesan yang efektif adalah pesan yang mampu menyentuh kebutuhan khalayak. Pesan kampanye budaya hidup sehat, paling tidak harus bisa menggambarkan nilai keuntungan yang bisa dipetik oleh khalayak. Nilai yang dikembangkan tidaklah identik dengan nilai material, tetapi nilai yang non-material; misalnya seperti nilai kebanggaan, nilai keintelektualan, dan sebagainya. 3. Memilih Media Begitu hanya dengan pemilihan media yang digunakan untuk program komunikasi haruslah yang akrab dengan keberadaan khalayak. Lebih dari itu, untuk mengembangkan pengaruh, maka harus memanfaatkan prinsip ubiquitos yakni pesan ada di mana-mana. Dengan demikian media yang digunakan tidak tunggal, tetapi berbagai lini dilakukan penyebaran pesan tersebut.

13

DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Depkes. R.I. Fathi, Soedjajadi K, Chatarina, UW. 2005. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2(2):1-10 Sarudji, H. Didik, M.Sc. Prof. 2008. Kesehatan Lingkungan. Surabaya : Media Ilmu. Widodo, Suko. 2008. Komunikasi Perubahan Perilaku untuk Membudayakan Hidup Sehat. Surabaya : Erlangga Press. http//:www.pppl.depkes.go.id/pi_pppl@yahoo.com (situs resmi Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan R.I.) http//:www.kajianmasalahkesehatan.com/demam berdarah dengue http//:www.pustekkom.com/demam berdarah dengue

14