Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI

ORGAN MATA

Nama NIM Hari/Tanggal Pembimbing

: Clara Sita Rahmi Sekundarini : 41100084 : Jumat, 14 September 2012 : dr. Yanti Ivana, M. Sc

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Untuk menikmati segala keindahan di dunia ini, Tuhan telah memberikan organorgan yang memiliki kepekaan tertentu di tubuh kita. Organ-organ tersebut dinamakan organ indra. Dalam keadaan normal, terdapat lima indra pada tubuh kita : hidung sebagai indra penciuman / pembau, lidah sebagai indra pengecap, kulit sebagai indra peraba, telinga sebagai indra pendengaran, dan mata sebagai indra pengelihatan. Mata sebagai salah satu organ indra yang penting tentunya memiliki bagian-bagian hebat yang menyusunnya. Bagian-bagian itulah yang akan membantu untuk menjalankan fungsinya. Jika bagian-bagian mata tersebut dalam keadaan sehat dan normal tentunya fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik. Akan tetapi, ada kalanya bagian-bagian tersebut menjadi berubah, terutama karena dampak dari kebiasaan kita, sehingga fungsifungsi mata dapat terganggu. Pada praktikum ini kita akan melakukan pemeriksaan-pemeiksaan untuk lebih memahami tentang fungsi serta sistem kerja mata dan kelainan yang terjadi jika fungsifungsi tersebut terganggu. Dengan melakukan praktikum ini, diharapkan kita menjadi paham dan mengerti benar tentang fisiologi dan kelainan fisiologi mata sehingga kita dapat menerapkannya dalam dunia kedokteran dan dapat berguna bagi masyarakat di sekitar kita.

B. TUJUAN
Mengerti, memahami, dan dapat melakukan tes buta warna. Mengerti, memahami, dan dapat melakukan tes visus. Mengerti dan memahami anomali refraksi serta koreksi anomali refraksi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak (Junqueira, 2007 : 451). Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka cahaya karena adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk struktur seperti cincin di dalam aqueous humour. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya cahaya ke bagian dalam mata adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos, satu sirkuler dan yang lain radial. Karena serat-serat otot memendek jika berkontraksi, pupil mengecil apabila otot sirkuler berkontraksi yang terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata. Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat yang terjadi pada cahaya temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk (Sherwood, 2001 : 161). Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat (Sherwood, 2001 : 165). Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Benda-benda tertentu di lingkungan, misalnya matahari, api, dan bola lampu, memancarkan cahaya. Pigmen-pigmen di berbagai benda secara selektif menyerap panjang gelombang tertentu cahaya yang datang dari sumber-sumber cahaya, dan panjang gelombang yang tidak diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas-berkas cahaya yang dipantulkan inilah yang
2

memungkinkan kita melihat benda tersebut. Suatu benda yang tampak biru menyerap panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan memantulkan panjang gelombang biru yang lebih pendek, yang dapat diserap oleh fotopigmen di sel-sel kerucut biru mata, sehingga terjadi pengaktifan sel-sel tersebut (Sherwood, 2001 : 173). Penglihatan warna diperankan oleh sel kerucut yang mempunyai pigmen terutama cis aldehida A2. Penglihatan warna merupakan kemampuan membedakan gelombang sinar yang berbeda. Warna ini terlihat akibat gelombang elektromagnetnya mempunyai panjang gelombang yang terletak antara 440-700. Warna primer yaitu warna dasar yang dapat memberikan jenis warna yang terlihat dengan campuran ukuran tertentu. Pada sel kerucut terdapat 3 macam pigmen yang dapat membedakan warna dasar merah, hijau dan biru. 1. Sel kerucut yang menyerap long-wavelength light (red) 2. Sel kerucut yang menyerap middle- wavelength light (green) 3. Sel kerucut yang menyerap short-wavelength light (blue) Ketiga macam pigmen tersebut membuat kita dapat membedakan warna mulai dari ungu sampai merah. Untuk dapat melihat normal, ketiga pigmen sel kerucut harus bekerja dengan baik. Jika salah satu pigmen mengalami kelainan atau tidak ada, maka terjadi buta warna. Warna komplemen ialah warna yang bila dicampur dengan warna primer akan berwarna putih. Putih adalah campuran semua panjang gelombang cahaya, sedangkan hitam tidak ada cahaya Gelombang elektromagnit yang diterima pigmen akan diteruskan rangsangannya pada korteks pusat penglihatan warna di otak. Bila panjang gelombang terletak di antara kedua pigmen maka akan terjadi penggabungan warna (Ilyas, 2009 : 83-88). Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang mengakibatkan turunnya tajam penglihatan. Tajam penglihatan perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan mata. Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang dapat dilakukan dengan kartu Snellen dan bila penglihatan kurang maka tajam penglihatan diukur dengan menentukan kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari), ataupun proyeksi sinar. Untuk besarnya kemampuan mata membedakan bentuk dan rincian benda ditentukan dengan kemampuan melihat benda terkecil yang masih dapat dilihat pada jarak tertentu. Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa atau dengan kacamata dan setiap mata diperiksa terpisah (Ilyas, 2009 : 64).
3

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. ALAT
Alat : Alat Uji (Isiharas test for colourblindness, concise edition 1983) Optotip Snellen 1 set lensa optik untuk koreksi anomaly refraksi.

Naracoba : Mahasiswa

B. CARA KERJA 1. Tes Buta Warna


Memilih 2 anggota kelompok untuk menjadi naracoba dan pembanding (orang dengan persepsi warna normal). Meletakkan alat uji (Isiharas test for colourblindness, concise edition 1983) pada jarak 75 cm dari naracoba dan orang pembanding pada penyinaran secara tidak langsung dan cukup; Alat diangkat sehingga membentuk sudut tegak lurus dengan garis pengelihatan. Meminta penguji menunjukkan gambar nomor 1-14 (1 gambar 3 detik).

Meminta naracoba untuk menyebutkan gambar yang dilihat dan meminta penguji untuk menyebutkan sesuai dengan pengelihatannya.

Membandingkan dengan daftar jawaban pada alat uji.

2. Tes Visus, Anomali Refraksi, dan Koreksi Anomali Refraksi


Mempersilahkan naracoba berdiri yang berjarak 6 m dari Optotip Snellen, menanyai ketajaman pengelihatan naracoba (sebelum diperiksa) dan catat jawabannya di lembar kerja.
4

Meminta naracoba menutup mata kiri dan memintanya membaca huruf-huruf pada Optotip Snellen dengan mata kanan (sesuai panduan petunjuk penguji; pembacaan huruf dimulai dengan deretan huruf yang terbesar sampai ke deretan huruf yang masih bisa dibaca tanpa kesalahan), mencatat jarak deretan huruf yang masih dapat dibaca tanpa kesalahan (tertera di Optotip Snellen).

Mengulang percobaan tersebut untuk mata kiri (mata kanan ditutupi), lalu catat hasilnya pada lembar kerja.

Mengolah hasil yang diperoleh dengan rumus V = d/D yang menunjukkan ketajaman pengelihatan (Visus) sebelum koreksi (V = 6/6 kemungkinan menunjukkan emetrop).

Menentukan emetrop atau tidaknya dengan memasang lensa sferis (+) 0,5 D, lalu menguji ketajaman pengelihatan mata kanan dan kiri secara bergantian seperti pada langkah sebelumnya.

Mencatat masing-masing harga D, mengolah ladi denag rumus V = d/D (Ketajaman pengelihatan membesar atau mengecil dari 6/6; Jika tetap 6/6 berarti naracoba menderita hipermetrop fakultatif, jika < 6/6 berarti naracoba emetrop).

Memilih naracoba penderita astigmatisme; setelah dikoreksi dengan lensa sferis ang terbaik (nilai visus terbaik), naracoba diminta melihat kartu uji astigmat atau bagian dari Optotip Snellen yang berupa garis-garis, jika ditemukan kekaburan terhadap kelompok garis itu maka terdapat kelainan pembiasan akibat kelainan kelengkungan kornea pada arah (meridian) tertentu; Untuk memperbaiki, pasang lensa silindris di depan lensa sferis yang menghasilkan nilai visus teresar dengan lensa tegak lurus terhadap arah kelengkungan garis yang kabur, dipasang berurutan (seperti percobaan sebelumnya) sampai ditemukan visus 6/6; lensa silindris ini merupakan lensa koreksi astigmatisme.

BAB IV ANALISIS

A. HASIL Jawaban tes uji (Isiharas test for colourblindness, concise edition 1983)
Jawaban Gambar No. Orang Normal Orang dengan Defisiensi merahhijau 12 3 2 70 21 X X X 2 X X Protan Kuat 12 13 14 35 96 Dapat merunut dua lintasan 5 6 ungu Sedang (3) 5 (9) 6 Ungu (merah) Deutan Kuat 3 9 Merah Sedang 3 (5) 9 (6) Merah ungu Orang dengan Buta Warna Total & Parsial 12 X X X X X X X X X X

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

12 8 5 29 74 7 45 2 X 16 Dapat Merunut

1. Hasil tes buta warna


Nama orang coba No. Mahasiswa Jenis Kelamin Umur orang coba Fakultas : Irene S. : 41090019 : Perempuan : 21 tahun : Kedokteran

Periksa buta warna sebelumnya: pernah, 3 tahun yang lalu. Gambar No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Terlihat oleh Naracoba 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16 Dapat Merunut 35 96 Dapat merunut dua lintasan

Terlihat oleh Pembanding 12 8 5 29 74 7 45 2 X 16 Dapat Merunut 35 96 Dapat merunut dua lintasan

2. Hasil tes visus, anomali refraksi dan koreksi anomali refraksi


Nama orang coba Jenis Kelamin Umur : Clara Sita Rahmi Sekundarini : Perempuan : 20 tahun

Pengakuan orang coba refraksi mata sebelum periksa : Mata kanan/ occulus dexter (OD) Mata kiri/ occulus sinister (OS) Visus Sebelum dikoreksi, Visus : OD = 6/6 ; OS = 6/6 : Emetrop. : Emetrop.

Setelah dikoreksi dengan lensa sferis (+) 0,5 D, visus : OD = 6/6 ; OS = 5/6

Nama orang coba Jenis Kelamin Umur Astigmat

: Deta Intan Herdian. : Perempuan : 20 tahun

Dengan lensa sferis (-) 1 D ; Visus OD = 6/60 Dengan lensa sferis (-) 1 D ; Visus OS = 6/60 Kelompok garis yang kabur pada kartu uji astigmat : OD jam : tidak terbaca ; OS jam : tidak terbaca

Setelah dikoreksi dengan lensa silindris (-) 2,75 D, aksis : 150 Visus OD = 6/6 Setelah dikoreksi dengan lensa silindris (-) 2,75 D, aksis : 150 Visus OS = 6/6

B. PEMBAHASAN
Dari hasil tes buta warna di atas, naracoba dapat menebak uji tes Isihara dengan benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa naracoba tidak mengalami buta warna. Pengelihatan warna naracoba masih berperan dengan baik, dalam hal ini khususnya pada sel kerucutnya, di mana setiap jenis sel kerucut tersebut memiliki kemampuan membedakan gelombang sinar. Sel kerucut tersebut diaktifkan secara efektif oleh panjang gelombang sinar warna primer ( yang terdiri dari merah, hijau, dan biru). Persepsi kita mengenai berbagai warna dunia bergantung pada berbagai rasio stimulasi ketiga jenis sel kerucut sebagai respon terhadap berbagai panjang gelombang. Misalnya : (1) Suatu panjang gelombang yang tampak sebagai biru tidak merangsang sel kerucut merah atau hijau sama sekali (karena benda yang tampak biru menyerap panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan memantulkan panjang gelombang biru yang lebih pendek, sehingga panjang gelombang biru yang dipantulkan oleh benda itulah yang dapat diserap oleh fotopigmen di sel-sel kerucut biru) tetapi merangsang sel kerucut biru secara maksimal (presentase stimulasi maksimum untuk merah, hijau dan biru masing-masing 0 : 0 : 100); (2) Untuk sensasi warna kuning, sebaliknya, berasal dari rasio stimulasi 83 :83 : 0, dengan sel kerucut merah dan hijau masing-masing dirangsang sebesar 83 % dari maksimum, sedangkan sel kerucut biru tidak dirangsang sama sekali. Putih adalah campuran semua panjang gelombang cahaya, sedangkan hitam tidak ada cahaya. Orang yang tidak memiliki salah satu, sebagian, ataupun seluruh jenis sel kerucut itulah yang disebut dengan buta warna. Para individu yang mengalami gangguan pengelihatan warna tidak hanya mempersepsikan warna tertentu secara berbeda, tetapi mereka juga tidak mempu membedakan banyak variasi warna. Sebagai contoh, seseorang dengan defek warna tertentu tidak mempu membedakan antara warna merah dan hijau. Pada lampu lalu lintas, mereka dapat menyebutkan lampu mana yang menyala berdasarkan intensitasnya, tetapi merea harus mengandalkan posisi cahaya yang terang untuk mengetahui apakah mereka dapat berjalan atau harus berhenti.

Pada pemeriksaan visus naracoba II, didapatkan visus sebelum dikoreksi adalah OD 6/6 dan OS 6/6. Hasil 6/6 tersebut berarti naracoba dapat membaca huruf (yang dalam keadaan normal dapat dibaca dalam jarak 6m) dalam jarak 6 m, hal itu menunjukkan ada kemungkinan mata naracoba merupakan emetrop (normal). Hal itu
9

masih berupa kemungkinan karena dalam keadaan emetrop seharusnya orang dapat membaca huruf tersebut dalam jarak 6 meter dengan mata yang tidak berakomodasi, tetapi ada kemungkinan mata untuk berakomodasi dalam pembacaan huruf tersebut dan jika mata berakomodasi kekuatan lensa mata akan bertambah sehingga ia dapat memfokuskan sumber cahaya yang dekat maupun yang jauh sehingga huruf masih dapat dilihat, dengan begitu mata dapat terlihat normal. Untuk meyakinkan apakah mata naracoba benar-benar emetrop maka dipasang lensa sferis positif sebesar 0,5 D. Lensa ini berfungsi untuk mengumpulkan cahaya (konvergen) sehingga cahaya dapat jatuh tepat di retina, terutama untuk cahaya yang jatuh di belakang retina, dengan begitu ia dapat memendekan jarak jatuhnya cahaya. Dengan lensa ini diharapkan mata dapat melihat huruf tersebut tanpa harus berakomodasi. Tetapi kebalikannya, mata yang tadinya dapat melihat huruf tersebut tanpa harus berakomodasi (emetrop) malahan menjadi tidak dapat melihat dengan jelas karena cahaya menjadi jatuh di depan retina karena jarak jatuh cahaya tersebut memendek. Dengan begini dapat diketahui mana mata yang benar-benar emetrop dan mana yang tidak. Setelah dilakukan pemasangan lensa sferis positif sebesar 0,5 D didapatkan hasil pembacaan Optotip Snellen seperti berikut : visus OD 6/6 dan visus OS 5/6. Dari sini dapat dinyatakan bahwa dengan menggunakan lensa sferis (+) 0,5 D mata kanan naracoba tetap dapat melihat dengan jelas huruf tersebut dan ini bisa disimpulkan bahwa sebelumnya mata kanan naracoba menggunakan daya akomodasi untuk membaca huruf ini, dengan diberikannya lensa tersebut dapat membuat matanya beristirahat dalam berakomodasi (tidak berakomodasi) dan dapat melihat dengan jelas huruf tersebut. Sedangkan pada mata kiri naracoba menjadi tidak dapat melihat dengan jelas, dengan begitu dapat dikatakan mata naracoba benar-benar emetrop. Mata kanan naracoba mengalami kelainan mata yang disebut hipermetrop fakultatif, di mana dalam kelainan ini titik fokus cahaya yang masuk ke mata jatuh di belakang retina, tetapi kelainan ini masih bisa diimbangi dengan akomodasi atau pun lensa sferis (+). Seseorang yang memiliki hipermetropi fakultatif akan melihat normal tanpa kacamata yang bila diberikan kacamata (+) yang memberikan pengelihatan normal maka otot akomodasinya akan mendapatkan istirahat.

10

Jika pada orang hipermetropi absolut, bola matanya terlalu pendek atau pun lensanya terlalu lemah. Titik fokus cahaya jatuh dibelakang retina tetapi titik fokus tersebut tetap tidak dapat jatuh tepat di retina walaupun mata melakukan akomodasi. Kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan lensa sferis (+) / biconcave yang merupakan lensa konvergen (pengumpul cahaya) sebingga titik fokus cahaya dapat diperpendek sehingga titik fokus cahaya bisa jatuh tepat di retina. Sedangkan miopi adalah kebalikan dari hipermetropi, di mana titik fokus cahaya jatuh di depan retina walaupun mata melakukan akomodasi, baik karena lensa yang terlalu kuat maupun karena kelainan bawaan bola mata yang terlalu panjang. Kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan lensa sferis (-) / biconvex yang merupakan lensa divergen (penyebar cahaya) sebingga titik fokus cahaya dapat diperpanjang sehingga titik fokus cahaya bisa jatuh tepat di retina.

Pada pemeriksaan astigmatisme naracoba III yang memiliki visus OD dan OS sama-sama (-) 1 D (yang menyatakan miopi), didapatkan hasil bahwa naracoba dapat melihat dengan jelas menggunakan lensa silindris (-) 2,75 D baik bagi OD (mata kanan) maupun OS (mata kiri) pada aksis 150. Artinya, selain naracoba membuuhkan lensa sferis (-) 1 D untuk memperjelas pengelihatannya, ia juga membutuhkan lensa silinder (-) ukuran 2,75 dioptri dengan orientasi silinder 150 karena kedua mata naracoba memiliki kecenderungan silinder ke arah 150 (dari sudut 00-1800 searah jarum jam). Pada penderita astigmatisme, kelengkungan korneanya tidak merata, sehingga berkas-berkas cahaya mengalami refraksi yang tidak merata pula. Berkas sinar tersebut tidak difokuskan pada 1 titik dengan tajam pada retina akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus. Pada keadaan ini diperlukan lensa silinder negatif dengan sumbu antara 00-1800 untuk memperbaiki kelainan refraksi yang terjadi.

11

BAB V KESIMPULAN

Pada percobaan ditemukan bahwa naracoba I memiliki pengelihatan warna yang normal, naracoba II mata kanan mengalami hipermetropi fakultatif dan mata kiri emetrop, naracoba III dengan kedua mata mengalami miopi (-) 1 D serta astigmatisme 2,75 D dengan kecenderungan silinder ke arah 150, dan dari pemeriksaan-pemeriksaan visus tersebut kita dapat mendiagnosis keadaan dan kelainan mata, yaitu emetrop (normal), hipermetropi fakultatif maupun absolut, miopi, serta astigmatisme.

12

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

Guyton and Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC. Ilyas S. 2009. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Junquiera, Luiz Carlos dan Jose Cerneiro. 2007. Histologi Dasar Teks dan Atlas, Edisi 10. Jakarta : EGC. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Jakarta: EGC.

13