Anda di halaman 1dari 8

SIMULASI PERANCANGAN METRO ETHERNET DI TELKOM JAKARTA BERBASIS MPLS

Triyono, Novi Azman dan Rianto Nugroho


Fakultas Teknik dan Sains, Program Studi Teknik Elektro, Universitasional Jl. Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta 12520 Email : rizie_19805@yahoo.com

Abstrak
Kebutuhan perusahaan dalam membangun jaringan internal antara kantor pusat dengan kantor cabangnya dan antara kantor cabang lainnya membutuhkan infrastruktur yang sangat mahal, Metro-ethernet memberikan solusi untuk permasalahan infrastruktur tersebut dengan melewati jaringan publik. Metroethernet adalah solusi yang mungkinkan untuk mengakses jaringan internal kantor melalu jaringan yang bisa di akses dengan mudah seperti intranet. Metro-ethernet merupakan pengembangan dari MPLS (Multi Protocol Label Switching) yang memberikan koneksi layer 2 pada jaringan router layer 3 dengan teknologi ATOM (Any Transport Over MPLS) memungkinkan dua lokasi terpisah ataupun lebih dapat saling berkomunikasi dalam satu network melalui jaringan public. Dalam tugas akhir ini akan disimulasikan komunikasi multipoint ethernet layer 2 dengan menggunakan ethernet over MPLS di Telkom Jakarta dengan menggunakan simulator GNS 3. Parameter yang diukur meliputi QoS, delay, Jitter dan Packet Loss. Kata kunci : Eethernet over MPLS, QoS, Jitter, Packet Loss.

Abstract
The need for companies to establish an internal network between the central office and a branch office amongst other branches require a very expensive infrastructure, Metro-Ethernet infrastructure solution for the problems with the passing public network. Metro Ethernet solution that is possible to acces the internal network through an office network that can be accessed as easily as internet. Metro Ethernet is the development of MPLS (Multi Protocol Label Switching), which provides the connection to the work layer 2 layer 3 router with technology AToM (Any Transport Over MPLS) enables twi or more separate location can communicate in a network through a public network. Is this final will be simulated multipoint Ethernet layer 2 communication using Ethernet Over MPLS in Jakarta Telkom using the simulator GNS 3. Parameters measured include Qos, Delay, Jitter, and Packet Loss. Keyword : Ethernet over MPLS, QoS, Jitter, Packet Loss.

1. Pendahuluan
Kebutuhan bisnis dimasa sekarang menuntut persyaratan variasi jaringan komunikasi yang luas. Para karyawan di suatu perusahaan memiliki kebutuhan untuk mengakses sumberdaya perusahaan dalam rangka mendukung pekerjaan mereka melalui jaringan komunikasi yang dimiliki oleh perusahaan. Pada umumnya perusahaan menggunakan jaringan komunikasi

berbasis leased lines atau sirkit frame relay untuk menghubungkan kantor pusat dengan kantor cabang yang ada. Hal ini dinilai tidak fleksibel mengingat kebutuhan mobilitas yang sangat tinggi dalam berkomunikasi dengan rekanan bisnis atau untuk mendukung karyawan yang sedang bekerja mengerjakan proyek di lokasi lain (di lapangan). Metro Ethernet mengacu pada kemampuan dan kebutuhan dari pelanggan Service Provider untuk

menyediakan Layer 2 Circuits melalui MPLS-enabled IP backbone juga dikenal sebagai AToM. Sirkit Layer 2 yang dominan adalah Ethernet, ATM, Frame Relay, PPP, dan HDLC. AToM menggunakan sebuah directed LDP session untuk mendistribusikan Labels VC. Oleh karena itu, router core tidak perlu mengetahui per-subscriber basis, hasilnya sebuah architecture yang sangat scalable.
Sebelum ada AToM, Service Provider harus membangun jaringan yang berbeda untuk menyediakan koneksi Layer 2. Contoh, Service Provider harus membangun sebuah ATM dan sebuah Frame Relay Network, hasilnya peningkatan biaya operasional dan capital expenses. Saat ini, Metro Ethernet memungkinkan Service Provider untuk menggabungkan jenis jaringan yang berbeda ini, sehingga menghemat biaya operasional dan capital expenses secara signifikan. 2.

menerima perlakuan forwarding yang sama di sebuah LSR. (LSP)

beiri berisi

Gambar 2.1 Arsitektur MPLS

Landasan Teori

2.1 MPLS ( Multi Protokol Label switching ) 2.1.1 Arsitektur MPLS Mpls ( Multi Protokol Label Switching) adalah teknolgi penyampaian paket data berkecepatan tinggi. Konsep utama MPLS adalah teknik penempatan label dalam setiap paket yang dikirim melalui jaringan dan MPLS ini bekerja dengan cara member label paket data. Network MPLS terdiri atas sirkit yang disebut Label Switched Path (LSP), yang menghubungkan titiktitik yang disebut Label Switched Router (LSR). LSR pertama dan terakhir disbeut ingress dan egress. Setiap LSP dikaitkan dengan sebuah Forwarding Equivalence Class (FEC), yang merupakan kumpulan paket yang

Berbeda dengan ATM yang memecah paket-paket IP, MPLS hanya melakukan enkapsulasi paket IP dengan menempelkan header MPLS pada suatu paket. Header MPLS terdiri atas 32 bit, dibagi menjadi 4 bagian : 20 20 bit digunakan untuk label, 3 bit untuk fungsi experimental, 1 bit untuk fungsi stack, dan 8 bit untuk time to live (TTL). Berikut ini detail header layer MPLS :

Gambar 2.2 Header Layer MPLS

2.1.2 Enkapsulasi Paket Enkapsulasi disebut sebagai tunneling karena proses enkapsulasi mentransmisikan data secara transparan atanr jaringan melalui infrastrutur jaringan bersama. Proses enkapsulasi merupakan proses yang membuat jenis paket data jaringan menjadi jenis data lainnya.

2.1.3 Komponen MPLS Berikut komponen yang ada dalam MPLS : a. Label Switched Path (LSP) Merupakan jalur yang melalui satu atau serangkaian LSR dimana paket diteruskan oleh Label Swaping dari sartu MPLS node ke MPLS node yang lain. b. Label Switched Router (LSR) Merupakan router dalam MPLS yang berperan dalam menetapkan LSP dengan menggunakan teknil label swapping dengan kecepatan yang telag ditetapkan. LSR yang masuk disebut ingress dan LSR yang keluar disebut egress. c. Label Merupakan deretan inforasi yang ditambahkan pada header suatu paket data dalam MPLS. d. Forwarding Equivalnce Class (FEC). Meupakan representasi dari beberapa paket data yang di klasifisikasikan berdasarkan kebutuhan resource yang sama di dalam proses pertukaran data. e. Label Distribution Path (LDP) Merupakan protokol yang berfungsi untuk mendistribusikan informasi yang ada pada label ke setiap LSR pada MPLS. Protokol ini di gunakan untuk memetakan FEC ke dalam label selanjutnya akan dipakai untuk menentukan LSP. 2.1.4 Distribusi Label Untuk menyusun LSP, labelswitching table di setiap LSR harus dilengkapi dengan pemetaan dari setiap label masukan ke setiap label keluaran. Proses melengkapi tabel ini dilakukan dengan protokol distribusi label. Ini mirip dengan protokol persinyalan di ATM, sehingga sering juga disebut

protokol persinyalan MPLS. Salah satu protokol ini adalah LDP (Label Distribution Protocol). 2.2 AToM (Any Transport over MPLS) 2.2.1 Sejarah AToM Teknologi AToM dikembangkan setelah melihat sukses besar yang pada teknologi MPLS-VPN yang memberikan solusi pengiriman data yang aman dan cepat. Aman karena jaringan yang digunakan adalah jaringan pribadi (VPN), dan cepat karena menggunakan jaringan MPLS sebagai backbone. Walaupun begitu, teknologi layer-2 seperti leased line, ATM, dan frame relay masih merupakan penyumbang pendapatan terbesar untuk para penyedia layanan. Teknologi ini tetap dipilih oleh para pelanggan karena mereka menginginkan kontrol menyeluruh atas jaringan yang mereka pakai, dan kebanyakan perusahaan memakai produk yang menggunakan protokol yang tidak dapat dibawa oleh IP (contoh: IBM FEP). Saat ini para penyedia layanan memiliki jaringan tersendiri yang khusus digunakan untuk membawa trafik layer-2 kepada pelanggan. Sehingga dengan telah dibangunnya teknologi MPLS-VPN yang menggunakan layer-3 untuk transportnya maka para penyedia layanan memiliki dua jaringan yang berbeda untuk keperluan yang sama, jelas hal ini merupakan suatu pemborosan. Jika dilihat dari sisi penyedia layanan maka biaya investasi yang dibutuhkan menjadi besar, sedangkan jika dilihat dari sisi pelanggan maka biaya sewa jaringan menjadi dua kali lipat. Atas dasar inilah kemudian teknologi AToM dikembangkan.

Dengan AToM maka para penyedia jaringan dapat melewatkan trafik layer2 seperti ATM, Frame Relay, dsb. melalui jaringan MPLS. Sehingga hanya dengan memiliki satu jaringan tetapi dapat menawarkan dua layanan besar, yaitu MPLS-VPN dan AToM maka besarnya investasi yang harus dikeluarkan dapat ditekan.

Gambar 2.4 Arsitektur AToM

2.2.2 Arsitektur AToM Pada dasarnya, arsitektur AToM menggunakan metode pseudowire untuk membawa trafik layer-2 melalui jaringan paket, dalam hal ini MPLS. Pseudowire merupakan hubungan antar router PE (Provider Edge) dan mengemulasikan suatu penghubung untuk membawa trafik layer-2. pseudowire menggunakan proses tunneling serta mengenkapsulasikan frame-frame layer-2 menjadi paket yang akan diberi label. Dalam jaringan yang mengaplikasikan AToM, semua router pada jaringan backbone harus mampu melewatkan protokol MPLS, dan router PE (Provider Edge) memiliki AC (Attachment Circuit) yang terhubung dengan router CE (Costumer Edge). Sedangkan tunneling yang dimaksudkan tak lain dan tak bukan adalah LSP antara PE. Label yang digunakan ada 2 jenis, yang pertama disebut label VC (Virtual Circuit) atau PW (PseudoWire), dan yang kedua adalah tunnel label untuk digunakan meneruskan paket yang diterima

2.2.3 Proses Forwarding pada AToM Pada proses forwarding paket, setiap ingress LSR dan egress LSR harus sudah menentukan LDP yang akan menghasilkan label VC yang terletak di lapisan paling bawah dari label stack yang akan digunakan untuk mengidentifikasi AC pada egress LSR. Sedangkan tunnel label terletak pada lapisan paling atas dari label stack yang akan digunakan untuk memberitahu semua intermediate LSR agar dapat meneruskan paket ke egress LSR secara tepat.

Gambar 2.5 Proses Forwarding

2.2.4 Data Plane AToM Saat PE menerima frame dari CE yang kemudian diteruskan ke LSR melalui jaringan MPLS tidaklah sama persis seperti penerusan paket biasanya, tetapi menggunakan 2 label: tunnel label dan VC label. 2.2.5 Pensinyalan dan Pseudowires Pensinyalan LDP diperlukan untuk menentukan pseudowire antar router PE, seperti yang dijelaskan oleh gambar dibawah ini.

Gambar 2.6 Proses Pensinyalan

2.2.6 Control Word

Control Word (CW) terdiri dari 32 bit yang diletakkan diantara VC label dan protokol layer-2. CW membawa informasi tambahan seperti protokol kontrol informasi dan nomor sekuensial dalam format yang telah dikompres. Informasi ini diperlukan untuk mengoreksi dan mengefisiensikan protokol layer-2 untuk melewati jaringan MPLS. Ingress PE menambahkan CW dan Egress PE menghapusnya setelah selesai digunakan. 2.2.7 Fungsi Control Word CW memiliki 3 fungsi penting: Pad Small Packet Menentukan urutan dari frame transport. Memfasilitasi fragmentasi dan reassembly. 2.3 OSPF (Open Shortest Path First) 2.3.1 Pengertian OSPF Routing Open Shortest Path First (OSPF) adalah sebuah routing protokol standar terbuka yang telah diimplementasikan oleh sejumlah besar vendor jaringan. Alasan untuk mengkonfigurasi OSPF dalam sebuah topologi adalah untuk mengurangi overhead (waktu pemrosesan) routing, mempercepat convergence, serta membatasi ketidakstabilan network di sebuah area dalam suatu network. 2.2.3 Proses OSPF Ada 5 tipe yang digunakan OSPF, yaitu: 1) Hello packet yaitu untuk menemukan serta membangun hubungan antara tetetangga router OSPF . 2) Database Description (DBD), untuk mengecek singkronisasi database antar router.

3) Link State Request (LSR), meminta spesifikasi link state recods antara router satu dengan yang lain. 4) Link State Update (LSU), mengirimkan permintaan spesifikasi link state records . 5) Link State Acknowlegement (LSAck), menerima paket link state. 2.4 Parameter QoS 2.4.1 Packet Loss
Packet loss didefinisikan sebagai kegagalan transmisi paket IP mencapai tujuannya. Paket loss dapat terjadi ketika

sebuah paket dibuang oleh jaringan karena tidak dapat diteruskan pada output interface. 2.4.2 Delay Delay adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan suatu paket untuk menempuh route dari asal ke tujuan. 2.4.3 Jitter Jitter didefiniskan juga sebagai variasi delay yang diakibatkan oleh panjang queue dalam suatu waktu pengolahan data, reassemble paketpaket data di akhir pengiriman akibat kegagalan sebelumnya dan proses pengiriman paket dalam media. Jitter dapat dikatakan juga sebagai variasi delay jaringan. 2.4.4 Throughput Throughput adalah jumlah data per satuan waktu yang dikirim untuk suatu terminal tertentu di dalam sebuah jaringan, dari suatu titik jaringan, atau dari suatu titik ke titik jaringan yang lain. Throughput maksimal dari suatu titik atau jaringan komunikasi menunjukkan kapasitasnya.

3. Perancangan dan Simulasi


3.1 Implementasi Sistem 3.1.1 Perancangan Sistem Pada perancangan sistem ini bertujuan untuk mengetahui

performansi pengiriman data melewati jaringan Ethernet over MPLS dengan menggunakan servis epipe.

Built-up 1 Gbps Ethernet Card 3. 1 unit Laptop yang digunakan untuk

klien dengan spesifikasi : Intel Dual Core 2 GB DDR2 RAM 160 GB HDD Built-up 1 Gbps Ethernet Card

4. Pengujian dan Analisa


Gambar 3.3 Simulasi Jaringan

3.2 Perangkat yang Digunakan 3.2.1 Komponen Perangkat Lunak Perangkat lunak yang digunakan untuk membangun jaringan EoMPLS adalah : 1. Sistem Operasi Windows XP yang digunakan sebagai OS baik PC klien maupun PC simulator. 2. GNS3 digunakan untuk membangun simulasi jaringan EoMPLS 3. Cisco IOS, digunakan untuk OS router 4. tfgen, digunakan sebagai traffic generator 5. Wireshark, digunakan sebagai Network Analyzer 3.2.2 Komponen Perangkat Keras Perangkat keras yang digunakan untuk membangun jaringan EoMPLS adalah : 1. 1 unit PC yang digunakan untuk Simulator router dengan spesifikasi : Intel Core 2 Duo 4 GB DDR2 RAM 250 GB HDD 2 unit 10/100 Mbps Ethernet Card 2. 1 unit Laptop yang digunakan untuk klien dengan spesifikasi : Intel Core 2 Duo 2 GB DDR2 RAM 250 GB HDD

4.1 Delay Pada gambar 4.1 dapat dilihat pengukuran nilai Delay. Delay pada gambar 4.1 merupakan rata-rata dari 10 kali percobaan untuk tiap jenis background traffic, sedangkan hasil pengukuran secara keseluruhan dapat dilihat di bagian lampiran.
Tabel 4.1 Perbandingan Delay (ms)

Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Delay

4.1.2 Analisa Hasil Pengukuran Dari gambar 4.1 dapat di analisa dari grafik perbandingannya, delay meningkat seiring besarnya background traffic, hal ini wajar karena link mulai dipenuhi traffic selain data VoIP. Dengan background traffic sebesar 0 Mbps dengan delay 29,4528206ms dan mengalami kenaikan sebesar 0,25ms pada background traffic 10Mbps dan background traffic 40 Mbps dengan delay 30.195485ms delay hanya naik 0,743ms hingga di background traffic 80 Mb nilai delay hanya 31.0022ms ini

berarti dengan menggunakan metro ethernet nilai delay sangat baik bahkan masih di bawah dari nilai standar dari ITU T G.114 yaitu 0 150 ms. 4.2 Throughput Pada gambar 4.2 dapat dilihat pengukuran nilai Throughput. Throughput pada gambar 4.2 merupakan rata-rata dari 10 kali percobaan untuk tiap jenis background traffic, sedangkan hasil pengukuran secara keseluruhan dapat dilihat di bagian lampiran. Hasil dibawah ini merupakan data yang telah difilter, sehingga tidak tampak kenaikan nilai throughput saat background traffic dinaikan.
Tabel 4.2 Perbandingan Throughput (kbps)

4.3 Packet Loss Pada gambar 4.3 dapat dilihat pengukuran nilai Packet Loss. Packet Loss pada gambar 4.3 merupakan ratarata dari 10 kali percobaan untuk tiap jenis background traffic, sedangkan hasil pengukuran secara keseluruhan dapat dilihat di bagian lampiran.
Tabel 4.3 Perbandingan Packet Loss

Gambar 4.3 Grafik Pebandingan Packet Loss

Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Throghput

Dari gambar 4.2 terlihat bahwa dengan background traffic 0 Mbps nilai throughput sekitar 20.30421 kbps hingga dengan background traffic di 80 Mbps dengan nilai throughput hanya 19.55209 kbps tidak berbeda jauh karena penggunan VoIP hanya memiliki bit rate maksimum sebesar 23.4375 kbps. Kestabilan nilai troughput di berbagai background traffic menjadi keunggulan dari Metro Ethernet sehingga tidaklah salah jika sekarang ini para penyedia layanan menggunakan teknologi Metro Ethernet pada jaringan yang mereka tawarkan.

Berdasarkan grafik perbandingan pada gambar 4.3 dapat dijelaskan bahwa di background traffic 0 Mbps sampai dengan background traffic 10 Mbps nilai packet loss hanya 0 %, hingga background traffic 80 Mbps packet loss hanya bernilai sekitar 0.044614 %. Jika di ambil dari nilai rata-rata paket loss di berbagai background traffic sangat kecil sekali yaitu masih 0.029028 % nilai ini sesuai dengan standar ITU-T (< 1% ). Karena antara packet loss dan throughput memiliki hubungan berbanding terbalik. Semakin besar packet loss maka semakin kecil throughput yang dihasilkan. 4.4 Jitter Pada gambar 4.4 dapat dilihat pengukuran nilai Jitter. Jitter pada gambar 4.4 merupakan rata-rata dari 10 kali percobaan untuk tiap jenis background traffic, sedangkan hasil

pengukuran secara keseluruhan dapat dilihat di bagian lampiran.

background traffic, kecilnya bite rate maksimum dari VoIP tidak banyak memberikan perbedaan yg signifikan di tiap background traffic.
3. Packet Loss sangat kecil, bahkan

Tabel 4.4 Perbandingan Jitter

untuk background traffic 0Mbps dan 10Mbps tanpa packet loss, Metro Ethernet cukup handal dalam menjaga data yang dikirimkan untuk sampai ke tujuan.
4. Jitter

Berdasarkan grafik pada gambar 4.4 dapat dianalisa dari background traffic 0 Mbps nilai jitter sebesar 7.242913 ms hingga sampai background traffic 80 Mbps dengan nilai jitter 7.900249 ms tidak mengalami kenaikan yang signifikan dan nilai jitter mengalami kenaikan yang di pengaruhi besarnya background traffic, tetapi secara keseluruhan dari nilai jitter sangat jauh dari standar maksimum dari ITU-T G.705 yaitu < 50 ms.

yang terjadi mengalami kenaikan sangat kecil, jauh dari standar ITU-T G.107 bahkan dibawah standar dari Cisco sekalipun. handal sebagai jaringan backbone operator telekomunikasi.

5. Metro Ethernet memiliki QoS yang

5. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil proses simulasi, pengujian, dan analisis maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Delay yang didapat dari simulasi ini

mengalami peningkatan disetiap kenaikan background traffic, tetapi peningkatan ini sangat kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nilai sebesar 0.937 ms dengan kenaikam background traffic 60 Mbps.
2. Throughput yang didapat mengalami

penurunan

seiring

kenaikan