Anda di halaman 1dari 12

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

PSIKOLOGI BELAJAR

Disusun Oleh: 1.Ziyadatur Rifah D07209033 2.lailatul Azizah D07209035 3.Asri Nuriyah D07209037

Dosen Pembimbing: M. Bahri Musthofa M.Pd.I

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2010

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah swt yang memberikan kami kemudahan untuk menyelesaikan makalah ini dengan judul teori belajar behavioristik Dan untuk yang keduanya kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Untuk yang terakhirnya kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya dan terutama untuk mahasiswa dan mahasiswi diIAIN Sunan Ampel Surabaya.

Para Penyusun. 12, April 2010

BAB I PENDAHULUAN

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkag laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi anatara stimulus dengan respons. Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon diangg ap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Factor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah factor penguatan
Comment [an1]: Kata factor adalah salah yang benar adalah faktor

(reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positife reinforcement) maka respon akan semkin kuat. Begitu juga penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.

BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Teori Behavioristik Menurut pandangan behavioristik bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dapat diamati, yang terjadi melalui stimulus respons yang disertai denagn penguatan menurut prinsip-prinsip mekanik. Perubahan tingkah laku yang dapat diamati sebagai hasil belajar ini menunjukkan bahwa belajar hanya berkaitan bengan permasalahan gerak fisik. Dengan pola belajar stimulus respon dan penguatan menunjukkan bahwa teori ini hanya mementingkan tanpa memedulikan belajarnya. Behavioris merupakan suatu pandangan teoritis, yang beranggapan, bahwa pokok persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran atau mentalitas. Segi pandang tersebut sudah lama usianya namun kelahiran behaviorisme sebagai satu aliran psikologi formal di awali dengan karya-karya John B. Watson. Peluncuran formal gerakan tersebut berlangsung pada tahun 1913 dengan suatu karya tulis yang kemudian muncul dalam Psichologi Review. Behavioristik dengan tokoh pendukungnya seperti J.B. Watson (1878-1958), E.L Torndike (1874-1949), B.F Skinner (1904), Ivan Pavlov (1849-1936) memandang belajar adalah perubahan tingkah laku, dalam cara seseorang berbuat pada situasi tertentu. Tingkah laku yang dimaksud ialah tingkah laku yang dapat diamati. Berfikir dan emosi tidak dapat diamati secara langsung. Diantara kegiatan principal behavioristik ialah setiap anak lahir tanpa warisan kecerdasan, bakat, perasaan, dan lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan dan perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontrak dengan alam sekitar. Belajar oleh teori behavioristik dilihat sebagai perolehan pengetahuan dan mengajar adalah memindhkan pengetahuan ke orang yang sedang belajar sehingga pembelajar oleh teori behavioristik diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang

diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh si pengajar itulah yang harus dipelajari oleh si pembelajar.

B. Koneksionisme (E.L. Thorndike) Menurut teori koneksionisme belajar pada hewan dan manusia pada prinsipnya memiliki kesamaan. Pada dasarnyya terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak. Dasar teori Thorndike awalnya dibuat dengan melakukan eksperimen terhadap binatang, penelitian didesain untuk menentukan apakah binatang mampu memecahkan suatu masalah melalui pemikiran atau melalui lebih dari satu proses dasar. Menurut Thorndike, penelitian dibutuhkan karena sedikitnya data obyektif. sudah sering kali terjadi peristiwa kehilangan anjing dan tidak ada satu orangpun yang mengumumkannya atau membuat laporan ke dalam majalah ilmiah. Hukum Koneksionisme Thonrdike telah mengemukakan sejumlah hukum pokok dan hukum tambahan. Berikut diuraikan mengenai hokum-hukum
Comment [an2]: Kata sudah yang benar adalah Sudah S seharusnya besar karena diwala kalimat

koneksionisme. 1. Law of Readiness a. Bilamana seseorang muncul kecenderungan untuk berbuat atau bertindak, kemudian ia melakukan perbuatan tersebut akan menimbulkan kepuasan dan mengakibatkan tidak dilakukannya perbuatan-perbuatan itu. b. Bilamana seseoeng muncul kecenderungan untuk berbuat atau bertindak, kemudian tidak melakukannya akan menimbulkan ketidakpuasan, dan mengakibatkan dilakukannya tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasan itu. c. Bilamana seseorang muncul kecenderungan berbuat atau bertindak, kemudian melakukannya akan menimbulkan ketidakpuasan dan berakibat dilakukannya 2. Law of Exercise

Hukum belajar ini menunjukkan bahwa prinsip utama belajar adalah pengulangan atau ulangan. Bahwa semakin sering pelajaran diulangi, maka makin dikuasai pelajaran tersebut. Di dalam prakteknya tentu terdapat variasi, bukan sembarang ulangan akan membawa perbaikan prestasi. Tetapi pengaturan waktu, distribusi frekuensi ulangan yang dilakukan akan turut bagaimana hasil belajar itu sambil dengan

memperhatikan

pengembangan

potensi

siswa/siswi

menghindari gender stereotype agar setiap siswa/siswi mendapatkan akses, peran dan manfaat serta pengalaman belarjar yang sama dalam belajar. 3. Law of Effect Hukum ini menunjukkan pada semakin kuat atau semakin lemahnya koneksi sebagai akibat dari ahli perbuatan yang dilakukan. Apabila disederhanakan, hukum ini akan dapat dirumuskan demikian: suatu perbuatan yang disertai atau diikuti oleh akibat yang enak (memuaskan/menyenangkan) cenderung untuk dipertahankan dan lain kali diulangi, sedang suatu perbuatan yang disertai atau diikuti oleh akibat yang enak (tidak menyenangkan) cenderung untuk dihentikan dan lain kali tidak diulangi. 4. Transfer of Training Transfer of training lebih dikenal dengan theory of idential elements, yang menyatakan bahwa transfer of training akan terjadi bila antara hal yang lama (yang telah dipelajari) dengan hal yang baru (hal yang akan dipelajari atau dipecahkan) terdapat unsur-unsur yang identik. Kesimpulannya, untuk mendapatkan transfer of training yang optimal terletak pada bagaimana memilih bahan yang dipelajari itu agar mengandung kesamaan sebanyak mungkin dengan hal yang nantinya akan dihadapi oleh siswa atau siswi yang memiliki kompetensi, daya tawar dan daya saing yang sama, baik dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat maupun padatingkat pendidikan selanjutnya.
Comment [an3]: Jika ada istilah asing harus dicetak miring (italic) jadi kata transfer of training seharusnya transfer of training

C. Pengkondisian Klasik Dalam Pembelajaran Pada awal tahun 1900-an, seorang ahli fisiologi Rusia bernama Ivan Pavlov melakukan suatu eksperimen secara sistematik dan scientific dengan tujuan mengkaji bagaimana pembelajaran berlaku pada suatu organisme. Pavlov mnejelaskan kajiannya melalui prosedur yang kemudian dengan dikenal dengan istilah Hukum Perkaitan. Menurut pandangan ini suatu organisme akan teringat sesuatu karena sebelumnya telah suatu yang berkaitan dengannya. Berdasarkan hukum perkaitan ini Pavlov mengemukakan bahwa proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pembentukan stimulus dengan respons. Pavlov membuktikan teori pembelajaran ini dengan melakukan eksperimen terhadap anjing. Melalui eksperimennya itu dia mendapati bahwa apabila anjing melihat bekas makanan, air liurnya keluar. Berdasarkan itu Pavlov membuat kesimpulan bahwa anjing tersebut telah belajar mengaitkan bekas makanan yang dilihat dengan makanan yang akan diberikan. Pavlov melanjutkan kajiannya dengan menguji hipotesis bahwa sesuatu organisme biasa diajar bertindak dengan pemberian suatu stimulus. Skema eksperimen Pavlov: STD (makanan) RTD (keluar air liur) SD (lonceng) Tidak ada RD (air lliur tidak keluar) Selama pengkondisian SD (lonceng) + STD (makanan) RTD (keluar air liur) Selepas pengkondisian SD (lonceng) RD (keluar air liur) Keterangan: STD : stimulus tak dikondisikan SD : stimulus dikondisikan RTD : respon tak dikondisikan RD : respon dikondisikan (unconditioned stimulus) (conditioned stimulus) (unconditioned response) (conditioned response)

Berdasarkan hasil eksperimen dengan menggunakan pengkondisian klasik tersebut diperoleh kesimpulan berkenaan dengan beberapa cara perubahan tingkah laku, yang dapat juga digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu:

a. Penguasaan (acquisition) Yaitu cara organisme mempelajari atau menguasai suatu respons baru yang berlangsung secara bertahap. b. Generalisasi (generalization) Dalam eksperimennya, Pavlov juga telah menggunakan bunyi lonceng yang berlainan nada, tetapi aning itu masih tetap mengeluarkan air liur, ini menunjukkan bahwa suatu organisme yang telah dikondisikan, meskipun diberikan suatu stimulus yang tak dikondisikan juga akan menghasilkan respons yang dikondisikan walaupun stimulius itu berlainan atau sama. c. Diskriminasi (discrimination) Organisme yang bersangkutan dapat membedakan atau mendiskriminasikan antara stimulus yang diberikan dan memilih untuk tidak untuk merspons. Ini berarti bahwa suatu organisme nisa merespons terhadap suatu stimulus tertentu, tetapi tidak kepada stimulus yang lain. d. Penghapusan (extinction) Sekiranya suatu stimulus yang dikondisikan (lonceng) tidak diikuti dengan stimulus yang tak sikondisikan (makanan), lama kelamaan organisme itu tidak akan merespons. Ini berarti bahwa respons secara bertahap terhapus.

Comment [an4]: Seharusnya acquisition

D. Pengkondisian Operan Dalam Pembelajaran Penngkondisian operan, dipelopori oleh Burrhus F. skinner yang didasarkan pada banyak penelitian telah ia lakukan. Menurut teori ini dikatakan bahwa apabila organisme menghasilkan sesuatu respons disebabkan karena organisme itu bertindak kesesuatu yang lebih baik. Contohnya, seorang anjing akan menjlurkan kaki depannya sekiranya tingkah lakunya itu akan diikuti dengan diberikannya makanan. a) Prinsip-prinsip Dalam Pengkondisian Operan Menurut skinner, pengkondisian operan terdiri dari dua konsep utama, yaitu: 1) penguatan (reinforcement) yang terbagi dalam penguatan positif dan negative, 2) hukuman (punishment)

Penguatan positif yaitu stimulus apa saja yang dapat meningkatkan suatu tingkah laku. Sedangkan pennguatan positif adalah stimulus apa saja yang menyakitkan atau yang menimbulkan keadaan tidak menyenangkan atau tidak mengenakkan perasaan sehingga dapat mengurangi suatu tingkah laku. Hukuman yaitu stimulus apa saja yang menyebabkan suatu respons atau tingkah laku yang menjadi berkurang atau bahkan langsung dihapuskan atau ditinggalkan. b) Pembentukan Tingkah Laku Melalui Penngkondisian Operan Ada sejumlah teknik-teknik dalam penngkondisian operan yang dapat digunakan untuk pembentukan tingkah laku, termasuk tingkah laku dalam pembelajaran, yaitu: 1) Pembentukan response Teknik pembentukan respons ini dilakukan dengan cara menguatkan organisme pada setiap kali ia bertindak kearah yang diinginkan sehinnga ia menguasai atau belajar merespons pada sampai suatu saat tidak perlu lagi menguatkan respons tersebut. Prosedur pembentukan respons bisa digunakan untuk melatih tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran, agar secara bertahap mampu merespons suatu stimulus dengan baik. 2) Generalisasi, Diskriminasi, dan Penghapusan. - Generalisasi adalah penguatan yang hamper sama dengan penguatan sebelumnya akan dapat menghasilkan respons yang sama - Diskriminasi adalah respons organisme terhadap sesuatu penguatan, tetapi tidak terhadap jenis penguatan yang lain. - Penghapusan adalah suatu respons terhapus secara bertahap apabila penuatan atau ganjaran tidak diberikan lagi. 3) Jadwal penguatan (schedule of reinforcement) Jadwal penguatan yang diperkenalkan oleh skinner berdasarkan hasil penelitiannya meliputi dua cara yaitu: penguatan berkelanjutan dan penguatan berkala

- Penguatan berkelanjutan adalah penguatan yang yang diberikan pada saat seriap kali organisme individu menghasilkan suatu respons. - Penguatan berkala adalah ganjaran atau penguatan yang diberikan dalam jangka waktu tertentu. 4) Penguatan Positif Dalam penguatan positif ini dilakukan dengan memberikan ganjaran sesegera mungnkin setelah suatu tingkah yang diinginkan muncul. 5) Penguatan Intermitten Dalam penguatan ini dilakukan dengan memberikan untuk memelihara tingkah laku atau respons positiif yang telah dicapai sesorang. 6) Penghapusan Penghapusan dilakukan dengan cara tidak memberikan penguatan sama sekali atau menghiraukan respons yang muncul pada seseorang. 7) Percontohan Perilaku atau respons seseorang yang dilakukan dengan mencontoh tingkah laku orang lain. 8) Taken Economy Memberikan ganjaran, berupa sesuatu yang memiliki nilai ekonomi ketika seseorang telah mampu menunjukkan respons atau tingkah laku yang positif sesuai dengan yang diharapkan.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN

Berdasarkan pengertian atau definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Menurut pandangan behavioristik bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dapat diamati, yang terjadi melalui stimulus respons yang disertai dengan penguatan menurut prinsip-prinsip mekanik. Menurut teori koneksionisme belajar pada hewan dan manusia pada prinsipnya memiliki kesamaan. Pada dasarnyya terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak. Berdasarkan hukum perkaitan Pavlov mengemukakan bahwa proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pembentukan stimulus dengan respons. . Menurut teori pengkondisian operan dalam pembelajaran dikatakan bahwa apabila organisme menghasilkan sesuatu respons disebabkan karena organisme itu bertindak kesesuatu yang lebih baik.

DAFAR PUSTAKA
Comment [an5]: Judul buku seharusnya dicetak miring (italic) yang benar adalah Psikologi Pembelajaran

Asrori, Muhammad. 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada