Anda di halaman 1dari 126

PUISI JAWA MODERN

Penulis:

Dr. Purwadi, M.Hum

Layout:

Berliana Tusilawati

Desain Cover:

Rony

ISBN: 978-979-185-173-2

Cetakan 1, Februari 2010

Penerbit Pararaton (Grup Elmatera) Jl. Solo Km 9 Sambilegi Baru Gg. Waru No. 73B Maguwoharjo Yogyakarta Telp 0274 4332287 Email: elmaterapublishing@yahoo.com Anggota IKAPI

Hak Cipta ada pada penulis Dilindungi Undang-undang

2

KATA PENGANTAR

Buku ajar ini digunakan untuk memperlancar proses belajar mengajar mata kuliah Puisi Jawa Modern. Dengan disertai contoh-contoh geguritan dan analisisnya, diharapkan mahasiswa mampu mendalami perkembangan serta eksistensi puisi Jawa modern. Geguritan sebagai jenis puisi Jawa modern ternyata telah memperkaya khasanah kesusastraan puisi Jawa klasik. Namun demikian keberadaan sastra puisi Jawa klasik seperti kakawin, kidung, tembang, purwakanthi, wangsalan, dan parikan tetap berkembang terus. Kesusastraan Jawa selalu tumbuh sesuai dengan perkembangan jaman. Hingga kini proses kreatif sastra Jawa, terutama dalam bidang puisi senantiasa memberi harapan. Di kalangan generasi muda, tradisi geguritan terus berlangsung dengan variasi ragam serta gagragnya, sehingga mampu mengisi kehidupan estetika serta rohani bangsa.

Yogyakarta, Maret 2010

Dr. Purwadi, M.Hum

3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I.

Pengertian Tentang Puisi

BAB II.

Kelahiran Puisi Modern

BAB III.

Ragam Puisi Modern

BAB IV.

Aliran-Aliran Puisi

BAB V.

Gaya Bahasa Puisi

BAB VI.

Jenis-Jenis Puisi Jawa

BAB VII.

Geguritan Sebagai Karya Puisi Modern

BAB VIII.

Puisi Jawa Periode Pra-Kemerdekaan

BAB IX.

Puisi Jawa Periode 1945-1965

BAB X.

Puisi Jawa Periode 1966-1980-An

BAB XI.

Puisi Jawa Periode 1990-Sekarang

Glosarium

Sumber bacaan

Daftar pustaka

Tentang Penulis

4

BAB I PENGERTIAN TENTANG PUISI

1. Definisi Puisi

Karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai beberapa peranan. Di antaranya sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of communication) dan cara penciptaan (mode of creation). Obyek karya sastra adalah realitas (Kuntowijoyo, 1987: 127). Berkaitan dengan masyarakat Jawa, realitas itu menyangkut aspek historis, sosiologis, filosofis dan estetis. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mengandung elemen ritme, rima, metafor dan disusun menurut tata korespondensi tertentu. Pada lazimnya puisi didominasi oleh curahan rasa dan ritme. Oleh karena itu puisi disebut juga bahasa rasa. Jenis-jenis puisi dapat dibedakan berdasarkan sudut tinjauan kita terhadap segi-segi puisi itu. Dari sudut cara pengungkapan penciptanya puisi dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: puisi lirik, puisi epik dan puisi dramatik. Puisi merupakan kesusastraan yang sangat disenangi oleh masyarakat sejak jaman kuno sampai sekarang. Puisi di

5

jaman kuno disebut kekawin karena mempergunakan bahasa kawi. Kekawin dari kata dasar kawi yang artinya syair. Di jaman kuno orang yang pintar membuat kesusastraan kekawin dinamai kavya. Ciri-ciri kekawin itu sebagai berikut: Satu bait terdiri dari empat baris. Tiap baris jumlah suku katanya sama. Pembacaan kekawin itu terikat oleh suara berat yang disebut “guru” dan suara ringan yang disebut “lagu” (Zoetmulder, 1985: 37). Kesusastraan yang padat berisi dan diolah dengan bahasa indah disebut puisi atau geguritan dalam kesusastraan Jawa. Berdasarkan bentuknya puisi terdiri dari puisi lirik dan puisi epik. Sedangkan berdasarkan isi atau temanya dapat dibedakan menjadi himne, ode, elegi dan satire. Bentuk gabungan antara puisi dan prosa dinamai prosa lirik atau puisi prosais. Karya ini termasuk jenis puisi. Keindahan bahasa puisi Jawa terletak pada tiga macam yaitu: Wilet, yaitu kelak-kelok suara agar ajeg, beruntun dan memiliki makna yang tinggi. Wirama, yaitu panjang pendek, keras liat dan tinggi rendah jatuhnya suara. Dan yang tidak kalah penting yaitu purwakanti atau dhong dhinging suara. Jika dua orang pelukis sama-sama melukiskan suatu bagian dari kota, bisa jadi kejadian yang lukisan satu mengagumkan kita, sedangkan lukisan yang lain kita rasa jelek. Perbedaan bukankah jadinya terletak pada "pokok", karena di sini pokok adalah sama. Perbedaan terletak dalam perasaan-perasaan yang mengiringi pemandangan di kota tadi, dan dalam cara bagaimana perasaan-perasaan itu mencapai pernyataannya (Padmasukatja, 1962: 14).

6

Bangsa-bangsa besar seperti Yunani dan Romawi, dalam sejarahnya tak pernah mengabaikan puisi (Linus Suryadi, 1994: 106). Sejarah puisi telah mulai jauh sebelum manusia mengenal tulisan dan bahasa yang sempurna. Puisi bermula dari gumam, suara-suara dan gerak ritmis pada saat manusia purba menyelenggarakan ritus. Hal ini dinamai protipe puisi. Perkembangan puisi selanjutnya sejalan dengan perkembangan bahasa dan kebudayaan manusia. Pada tahap lebih lanjut manusia mengekspresikan rasa dan pengalaman- nya tidak hanya menggunakan suara dan gerak ritmis, tetapi juga dengan bahasa verbal yang mengandung makna. Pada tahap ini puisi yang lebih sempurna muncul dalam bentuk mantra. Serentak dengan ini puisi dalam bentuk nyanyianpun muncul pula, yang pada mulanya sangat erat dengan perbuatan magis dan kegiatan ritual. Mantra diucapkan dengan irama yang sangat kuat sehingga terdengar seperti nyanyian, sebaliknya nyanyian sebagian besar berbentuk lagu pujaan yang erat kaitannya dengan mantra. Menyusul kemudian lahirlah puisi yang mengandung pujian terhadap alam. Fenomena alam yang menyentuh hati nurani manusia diekspresikan dalam bentuk puisi. Keindahan alam atau fenomena alam lainnya tidak sekedar diekspresikan seperti kenyataan faktualnya, tetapi ditilik sampai ke hakikat- nya dan hubungannya dengan kehidupan manusia Karena itu lukisan alam tersebut selain indah dan mengesankan juga terasa hidup dan filosofis. Pada tahap inilah munculnya gaya personifikasi sebagai suatu cara memberi tenaga dan nyawa kepada benda-benda mati dan menjadi salah satu ciri khas puisi.

7

Sebagai salah satu karya seni puisi terus berkembang mengikuti perkembangan peradaban manusia. Pada tahap lebih lanjut puisi menjadi karya seni sastra yang multidimensi. Semua aspek kehidupan manusia terekam dalam puisi. Puisi tidak lagi sekedar ekspresi emosi dalam bentuk bunyi dan irama, tetapi telah berubah menjadi karya seni bahasa untuk mengucapkan suatu gagasan atau pengalaman. Dalam bidang puisi, para penyair Jawa sering mengungkapkan tentang kritik sosial. Mereka adalah Murya- lelana, Anie Soemarno dan Soekarman Sastrodiwiryo. Puisi Jawa yang memuat kritik sosial dimuat dalam surat kabar Dharma Nyata dengan judul Jaman Edan.

Jaman edan

Jaman saiki

Jaman edan

Bapak-bapak

Padha badhutan

Dapat disimpulkan bahwa puisi di atas merupakan pengaruh Serat Kalatidha karya Ranggawarsita (Suripan, 1997:

63).

2. Citra atau Imaji Citra disebut juga imaji. Citra adalah kesan batin atau gambaran visual yang timbul pada diri seseorang, disebabkan oleh suatu kata atau ungkapan dalam karya sastra yang dibacanya. Citra merupakan elemen utama karya sastra, khususnya puisi. kegunaan citra dalam karya sastra ialah: (1) Memberikan tenaga hidup kepada sesuatu yang diungkapkan.

8

(2) Memikat pembaca sehingga apa yang dinikmati bukan saja bermanfaat, tetapi juga menyenangkan. (3) Mewujudkan kenyataan artistik yang tidak terwujudkan oleh cara penalaran keilmuan (Slamet Mulyana, 1978: 27). Pembentukan citra dalam karya sastra disebut citraan. Citraan dapat mengacu dua aspek yaitu: citraan visual dan citraan nonvisual. Citraan visual bersifat merangsang mata atau penglihatan, sedangkan citraan nonvisual merangsang pancaindera yang lain. Kadang-kadang keduanya bersatu dalam satu bentuk citraan. Dalam wujudnya citra sangat erat hubungannya dengan makna kata, khususnya makna kono- tatif. Sebab makna konotatif sebuah kata tidak saja mem- berikan makna denotatif dari kata itu, tetapi juga merangsang kesan, ingatan, kenangan akan segala sesuatu yang berkaitan dengan makna itu. Diksi merupakan pilihan kata yang dilakukan oleh seorang pengarang untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalamannya dalam karya yang ditulisnya. Dalam karya sastra diksi tidak hanya mengacu pada ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapkan sesuatu, tetapi juga untuk mengundang atau membangkitkan imajinasi pembaca, sehingga apa yang diungkapkan terasa hidup dan memikat (Gorys Keraff, 1984: 67). Gita puja bermakna puisi lirik yang dinyanyikan untuk memuji Tuhan, pahlawan, seorang tokoh, dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya puisi lirik yang berisi pujian terhadap Tuhan, seorang pahlawan atau tokoh disebut gita puja. Dari segi komposisi dan fungsinya, kitab suci yang berisi lagu-lagu pujaan juga termasuk gita puja. Himne adalah istilah

9

lain dari Gita Puja. Dalam majalah Kejawen terbitan tanggal 25 September 1927 terdapat geguritan yang berjudul Madu Sita:

Yen lumaku den alon tibaning pada Mrih waspada kahananing marga-marga Kautaman wite saka kabecikan Ora ana becik tan ana utama

Beberapa puisi Jawa modern yang terbit pada awal abad 20 terkumpul dalam rubrik khusus, misalnya:

Panglipur Manah

Taman Bocah

Wawasan

Atur Saleresipun

Raos Katresnanipun Bapa Biyung dhateng Putra

Di bawah ini ada kutipan puisi yang menggambarkan citra kritis seorang pengarang. Puisi ini dimuat dalam surat kabar Darma Nyata:

Pitakon

Marang sapa maneh rakyat sambat Lan ngutahake pangrasa Manawa kabeh panguwasa Rumangsa dadi malaekat Idu geni Mung mikir dhiri pribadi Nggedhekake korupsi lan komisi Kanggo nguja gundhik suwidak siji

10

Latihan & Tugas:

1. Apakah pengertian puisi itu?

2. Berlatihlah membuat sastra puisi!

BAB II KELAHIRAN PUISI MODERN

1. Perkembangan Puisi Proses kelahiran puisi Jawa modern terkait erat dengan pengaruh kesusastraan Eropa yang masuk ke Indonesia. Sastra Eropa ini dibawa oleh bangsa Barat ke wilayah kepulauan Nusantara pada awal abad XX, bersamaan dengan bentuk-bentuk sastra prosa. Baik sastra prosa maupun puisi, keduanya telah memperkaya khasanah kesusastraan Jawa (Suripan, 1997: 61). Sastra Jawa berkembang pesat berkat dukungan Penerbit Balai Pustaka. Balai Pustaka adalah nama badan sebagai penjelmaan dan Commissie voor De Votkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat. Didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1908 dengan surat ketetapan Gubernemen tanggal 14 September 1908 no 12. Dalam rangka politik etis, Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk bumiputra. Akibatnya banyaklah pemuda-pemuda Indonesia terutama golongan priyayi yang setelah duduk di bangku sekolah itu berangsur- angsur mendapat pengaruh tentang alam pikiran: sosialisme,

12

komunisme, nasionalisme, demokrasi, dll. Tugas badan ini merupakan menyiapkan bacaan untuk sekolah dan masya- rakat. Sembilan tahun kemudian (1917) badan ini berubah namanya menjadi Balai Pustaka (Goerge Quinn, 1995). Tugas dan bidangnya dalam hal bacaan dan perbukuan juga bertambah banyak, antara lain memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia menulis karya sastra dan menerbitkannya di Balai Pustaka. Sikap Balai Pustaka dalam menerima karya sastra yang akan diterbitkan selalu berorientasi kepada kepentingan pemerintah kolonial. Karya yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial tidak akan diterbitkan kecuali kalau pengarangnya bersedia merevisi karyanya. Di samping itu kepandaian menulis dan membaca semakin meluas di kalangan rakyat. Hal itu oleh pemerintaan Hindia Belanda dianggap sebagai suatu bahaya apabila dibiarkan mendapat buku-buku bacaan dari pedagang- pedagang buku yang kurang suci hatinya. yang bermaksud hendak mengacau. Pemerintah Hindia Belanda mengakui kenyataan bahwa rakyat benar-benar haus akan bacaan. Oleh karena itu maka pada tanggal 14 April 1903 dibentuklah Commissie voor De Volslectuur yang terdiri dari 6 orang dan diketuai oleh G.A.J. Hazeau, yang berkewajiban memilih karangan-karangan yang baik untuk dipakai di sekolah- sekolah dan dijadikan bacaan rakyat. Apresiasi terhadap Balai Pustaka dengan membicarakan terbitan sastra tahun 1908- 1945 (Chirstantiowati, 1996). Karya sastra pada masa Balai Pustaka banyak mengambil tema pertentangan paham antara golongan tua

13

dengan golongan muda dan pada lazimnya meruncing dalam sistem kawin paksa. Gaya berceritanya pun hampir sama, yaitu masih terasa adanya gaya hikayat, kecuali pada beberapa roman yang lebih kemudian. Pengarang-pengarang yang menulis dan menerbitkan karyanya pada masa Balai Pustaka oleh para pengamat sastra diberi nama Angkatan Balai Pustaka. Usaha komisi untuk memperoleh bacaan rakyat menempun beberapa jalan, misalnya: (1) Mengumpulkan dan membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di kalangan rakyat Naskah ini diterbitkan sesudah diubah atau disempurnakan. (3) Menterjemahkan atau me- nyadur karya sastra Eropa. (2) Menerima karangan pengarang- pengarang muda yang isinya sesuai dengan keadaan hidup di sekitarnya. Naskah-naskah tersebut mempergunakan bahasa Melayu dan bahasa-bahasa daerahnya, serta berupa bacaan anak-anak, bacaan orang-orang dewasa sebagai penghibur dan penambah pengetahuan. Setelah komisi itu berjalan selama ± 9 tahun, tampak mengalami kemajuan yang sangat besar sebagai pencetak, penerbit, penjual buku dan majalah. Untuk bekerja dengan lebih intensif lagi. maka pada tahun 1917 komisi itu menjelma menjadi Balai Pustaka. Selain menyelenggarakan penerbitan buku-buku. BP juga mengadakan taman-taman perpustakaan di setiap sekolah dasar dan setiap tangsi dan lain-lain, yaitu tempat meminjam buku-buku secara teratur dan murah. Juga memberi bantuan kepada usaha-usaha swasta untuk me- nyelenggarakan taman bacaan. Ada kajian khusus mengenai karya sastra terbitan Balai Pustaka (Pardi dkk: 1995).

14

Di samping itu diterbitkan pula majalah-majalah secara teratur satu atau dua Minggu sekali adalah majalah- majalah: Sari Pustaka dalam bahasa Melayu tahun 1919, Panji Pustaka dalam bahasa Melayu tahun 1923, Kejawen dalam bahasa Jawa, Parahyangan dalam bahasa Sunda. Ketiga majalah yang terakhir itu terbit sampai pemerintah Hindia Belanda runtuh pada tahun 1942. Para pejabat Balai Pustaka di antaranya: (a) Pemimpin-pemimpm BP terdiri dari hoofdambtenaar Belanda adalah: Dr. A.A. Rinkes, Dr. G.W.J. Drewes, Dr. K.A. Hidding, (b) Tokoh-tokoh sastrawan yang menjadi pegawai BP antara lain: Adinegoro, Sutan Takdir Alisyahbana, Armin Pane, Nur Sutan Iskandar, H.B. Yassin, W.J.S. Purwadarminta, Idrus, dan sebagainya. Buku terbitan Balai Pustaka sangat bermanfaat buat kelancaran belajar di sekolah SD-SMA (Pamoentjak, 1948: 15). Angkatan Balai Pustaka juga disebut dengan Angkatan

20 atau Angkatan Siti Nurbaya. Nama Balai Pustaka me-

nunjuk pada dua pengertian: (1) sebagai nama badan penerbit, dan (2) sebagai nama suatu angkatan dalam sastra Indonesia. Kedua pengertian itu berhubungan erat. Balai Pustaka sebagai lembaga penerbitan sampai saat ini masih ada, meskipun status dan fungsinya berbeda sama sekali dengan dahulu. Badan tersebut sekarang ada dalam lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Berdirinya Balai Pustaka tidak lepas dari

latar belakang sejarah yang menyertainya. Pada akhir abad ke-

19 pemerintah Belanda banyak membuka sekolah untuk

bumiputera dengan tujuan: mendidik pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh pemerintah, supaya politik pengajaran tetap

dikuasai oleh pemerintah.

15

Namun, ternyata sekolah-sekolah makin luas sehingga banyak bangsa kita yang pandai membaca dan menulis. Pemerintah khawatir terhadap kegemaran membaca dan menulis di kalangan rakyat. Untuk memenuhi hasrat membaca itu dengan keputusan no. 12 tanggal 14 September 1908 oleh pemerintah dibentuklah suatu komisi yang bernama Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur yaitu suatu komisi untuk menyediakan bahan bacaan bagi sekolah- sekolah bumiputra dipimpinan oleh Dr. G.A. J. Hazue. Manifestasi politik etis pemerintah Hindia Belanda diwujud- kan dengan hadirnya penerbit Balai Pustaka (Nugroho, 1990:

316). Komisi ini makin lama makin meluas dan makin bertambah kegiatannya, sehingga pada tahun 1917 berubah menjadi suatu badan penerbitan yang bernama Balai Pustaka. Tujuan didirikannya Balai Pustaka oleh pemerintah Belanda kurang lebih untuk supaya kebutuhan membaca di kalangan rakyat dapat tercukupi dengan buku-buku yang diterbitkan sendiri sehingga tidak membahayakan ketertiban dalam negeri (Alisjahbana, 1992). Pemerintah Belanda bermaksud secara tidak langsung memasukkan elemen kolonisasi lewat bacaan yang diterbitkan sendiri. Seperti nampak dalam cerita-cerita kepahlawanan yang disaring ke dalam bahasa Indonesia dan juga karangan-karangan, yang cerita maupun gambarnya memberikan pencitraan negatif terhadap bangsa Indonesia, dan sebaliknya memberikan kesan bagi usaha-usahanya di Indonesia. Seolah-olah sebagai balas jasa terhadap politik etis yang dijalankan pemerintah di Indonesia. Usaha-usaha Balai Pustaka yang direalisasikan di antaranya: (1) mengusahakan penerbitan naskah-naskah cerita

16

rakyat dari berbagai daerah di Indonesia, (2) menerjemahkan dan menyadur cerita-cerita asing ke dalam bahasa Indonesia, seperti Abu Nawas, Sebatang Kara, Tom Sawyer (3) menerbitkan karangan-karangan asli yang ditulis oelh bangsa Indonesia sendiri, dan yang sebagian besar berbentuk novel, misalnya Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Salah Asuhan dan sebagainya, (4) menerbitkan majalah dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia, Panji Pusaka, Seri Pustaka, Kejawen, dan Parahyangan. (5) Mengadakan penyebaran buku secara luas sampai ke pelosok-pelosok, membangun perpustakaan di sekolah-sekolah, dan mengadakan penjualan buku-buku tersebut dengan harga murah. Jasa Balai Pustaka dalam mengembangkan puisi Jawa, yaitu menerbitkan majalah Kejawen tahun 1920. majalah ini menggunakan aksara Jawa dan berbahasa krama inggil (Tirto Suwondo & Herry Mardiyanto, 2001: 26). Kemudian menggu- nakan huruf latin pada tahun 1937, dengan alasan penyesuaian keadaan. Balai Pustaka didirikan oleh pemerintah Belanda sama sekali tidak disertai maksud agar badan tersebut memberikan dorongan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Tujuan yang pokok adalah memberikan konsumsi berupa bacaan pada rakyat yang isinya cocok dengan politik pemerintah kolonial. Akan tetapi, kita tahu bahwa badan penerbit merupakan suatu faktor yang penting bagi perkembangan sastra, di samping faktor pengarang sebagai pencipta dan masyarakat sebagai pembaca atau penikmat. Sebab itu, didirikanya Balai Pustaka oleh pemerintah Belanda dalam hal tertentu memberikan manfaat kepada rakyat dan juga kepada perkembangan sastra

17

Indonesia. Teeuw (1953) menyebutkan manfaat dan peranan Balai Pustaka adalah: (a) Memberikan yang luas kepada para pengarang bangsa Indonesia untuk menghasilkan karangan dan dengan sendirinya juga memberikan kesempatan kepada rakyat untuk membaca karangan bangsanya sendiri. Adanya tempat untuk menerbitkan karangan-karangan inilah yang dipandang merupakan salah satu dorongan bagi pertumbuhan sastra Indonesia. (b) Secara tidak langsung balai pustaka memberikan kesempatan juga kepada bangsa Indonesia untuk memperoleh pengetahuan dan kemajuan, terutama dalam bidang karang mengarang. Kemajuan ini dapat diperoeh melalui membaca karangan orang lain atau karena adnya kesempatan bekerjadi lingkungan balai pustaka, baik sebagai korektor, redaktur, maupun sebagai pemimpin redaktur. (c) Penyebaran secara luas cerita-cerita rakyat, cerita-cerita terjemahan atau saduran dari sastra asing banyak berpengruh terhadap pertumbuhan sastra suatu bangsa. Cerita-cerita tersebut dapat memperkaya pengalaman jiwa dan merangsang tumbuhnya inspirasi dalam penciptaan, dan keduanya penting bagi perkembangan sastra (Teeuw, 1993: 64). Namun, Balai Pustaka merupakan badan penerbitan resmi yang diusahakan oleh pemerintah kolonial. Segala usha dan kegiatan badan itu tidak dapat dilepaskan dari kepentingan politik pemerintah penjajah. Oleh karena itu, tidak setiap naskah karangan dapat diterima dan diterbitkan, walaupun dari segi sastranya naskah itu bernilai. Sastra Jawa gagrak anyar bahkan sudah memasuki ruang kuliah perguruan tinggi di luar negeri (Suparto Brata, 1980: 80).

18

2. Tradisi Sastra Baru Ungkapan pengarang lewat puisi di bawah ini meng- gambarkan sebuah tradisi sastra baru:

Dadia Tirakatmu Anakku

Dadia tirakatmu anak-anakku Yen dina iki ora ana upa Kowe padha ora mangan sega Kajaba gegelan tela Tamba ngelih panyuwarane wetengmu Dadia tirakatmu anak-anakku Sawengi ngrungu udan kemricik Padha ndhekep weteng ngelih Kemul amoh gombalane biyungmu Ing gubug trocoh gubuge bapakmu

Kesusasteraan Jawa Baru berkembang sejak berdirinya Balai Pustaka tahun 1908 sampat sekarang. Masyarakat lama yang bersifat statis menghasilkan sastra lama. Masyarakatnya statis memiliki ciri-ciri: Masyarakat yang belum maju, yang dalam segala gerak-genknya sangat terikat oleh kepercayaan- nya adalah animisme dan dinamisme. Masyarakat yang dikuasai dan terikat oleh adat-istiadat yang meliputi segala cabang kehidupan. Adat dipandangnya pusaka nenek moyang yang kramat, dan apabila dilanggarnya akan terkutuk oleh leluhur. Jadi cara mereka berbual dalam segala hal selalu seragam. Lagi pula jiwa gotong-royong masih hidup subur dalam kalangan masyarakat lama itu, sehingga kepentingan individu terdesak oleh kepentingan bersama. Merupakan masyarakat yang tertutup, karena dibatasi oleh adat tersebut. Maka sedikit sekali mereka menerima pengaruh dari luar.

19

Masyarakat lama yang bersifat statis, maka kesusastra- an lama pun stastis juga. Dapat dikatakan bahwa pada lazimnya sastra lama itu: (1) Berisi hal-hal yang fantastis dan istana centries. (2) Banyak dibunga-bungai dengan bahasa klise, (3) Nama-nama pengarangnya jarang sekali disebutkan. (4) Caranya bercerila pun boleh dikatakan sama. Biasanya di- mulai dengan kalimat kata sahibbui hikayat atau konon khabarnya, diakhiri dengan kalimat wallahu a'lam bissawab. Tiap-tiap alinea baru dimulai dengan kata-kata: alkisah, syahdan, arkian, kalakian dan seterusnya. (5) Puisinya terikat oleh beberapa syarat tertentu. Masyarakat baru yang menim- bulkan sastra baru. Merupakan masyarakat yang dinamis. Itu akibat pergaulannya dengan orang-orang Barat yang sangat dinamis itu Masyarakat baru menjadi dinamis, karena mengutamakan kepentingan individu. Sejak itu individualitas di Indonesia menjadi hidup sekali. Orang menjadi manusia yang berani dan memuliakan perasaan perseorangan. Akibat itu masyarakat terpecah-belah, dan timbul persaingan dalam segala lapangan. Demikian pula dalam lapangan kesusas- teraan. menyebabkan timbulnya angkatan-angkatan, sejalan dengan kemajuan masyarakatnya. Tradisi sastra Jawa baru semakin mantap setelah terbitnya Majalah Panyebar Semangat pada tahun 1933 di Surabaya. Pelopornya adalah Imam Supardi dan Dr. Soetomo (Suparto Brata, 1980: 90). Kemudian disusul oleh majalah Jayabaya tahun 1946. Di Yogyakarta terbit majalah Mekar Sari dan Djoko Lodhang. Di Jakarta terbit majalah Damarjati. Semua menjadi lahan subur buat persemaian puisi Jawa Modern. Tentang seluk beluk kesusastraan Jawa baru ini JJ.

20

Ras (1985) telah membuat antologi yang berjudul Bunga Rampai Sastra Jawa Modern.

Latihan & Tugas:

1. Kapan kelahiran puisi Jawa modern?

2. Sebutkan latar belakang kelahiran puisi Jawa modern!

3. Kelompok mana saja yang menjadi pendukung ke- lahiran puisi Jawa modern?

21

BAB III RAGAM PUISI MODERN

Puisi Anak-anak Puisi Anak-Anak adalah puisi yang melukiskan dunia anak-anak. Puisi Anak-Anak dapat ditulis oleh anak-anak, dapat pula ditulis oleh orang dewasa atau penyair yang sudah termasyhur. Bentuknya singkat dan sederhana agar mudah dihafal atau dinyanyikan. Sebagian dari puisi anak-anak merupakan karya sastra lisan. Contoh puisi anak:

Pring ditumpuk-tumpuk Bumbung isi merang Cilik diengkuk-engkuk Yen wis gedhe maju perang

Puisi Bebas Puisi bebas adalah puisi yang membebaskan diri dari segala ikatan dan aturan sebagaimana terjadi pada sastra lama. Puisi terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dan sebagainya. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan

22

menganggap kwalitet cat dan kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukankah bahan-bahan yang dipakai yang penting; yang penting adalah hasil yang tercapai. Hasil ini pada umumnya terbagi dalam bentuk dan isi. Tetapi "pembatasan" yang sangat nyata dan terang antara bentuk dan isi tidak pula bisa dikemukakan, sebab dalam kesenian, bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama. mereka gonta-ganti tutup menutupi. Karena hanyalah perasaan-perasaan si seniman yang benar-benar jadi bentuk dan caranya menyatakan yang istimewa, tersendiri yang sanggup membikin si penglihat, pembaca atau pendengar terharu-melambung atau terhenyak.

Puisi dramatik Puisi dramatik adalah puisi yang mengandung elemen-elemen drama. Ciri khasnya adalah adanya dialog, tokoh dan bersifat atraktif. Puisi-puisi W.S. Rendra banyak yang bersifat puisi dramatik. Misal, “Nyanyian Angsa", "Pesan Pencopet Kepada Pacarnya”, "Rick Dari Corona". "Syah Peri", karya J.W von Goethe juga termasuk salah satu puisi dramatik. Puisi dramatik ini pada umumnya "terbagi" dalam bentuk dan isi. Tetapi "pembatasan" yang sangat nyata dan terang antara bentuk dan isi tidak pula bisa dikemukakan, sebab dalam kesenian, bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama. mereka gonta-ganti tutup menutupi. Karena hanyalah perasaan-perasaan si seniman yang benar-benar jadi bentuk dan caranya menyatakan yang istimewa, tersendiri yang

23

sanggup membikin si penglihat, pembaca atau pendengar terharu-melambung atau terhenyak.

Puisi Epik Puisi Epik adalah puisi yang mengandung ele- men-elemen epis dan narasi. Puisi Epik digunakan sebagai media untuk mengisahkan sesuatu. Karena itu disebut pula puisi kisahan. Balada, puisi naratif dan syair termasuk jenis puisi epik. Puisi Konkret adalah puisi yang lebih menonjolkan bentuk visualnya dibandingkan pengungkapan verbalnya. Pada puisi konkret tipografi diatur dengan cermat sehingga menarik kalau dilihat oleh pembaca. Secara struktural puisi konkret merupakan perpaduan antara seni sastra dengan seni lukis, khususnya kaligrafi. Malahan dapat terjadi elemen seni lukisnya lebih dominan dari seni sastranya. Sesuai dengan namanya puisi konkret lebih banyak:menyuguhkan citra. Elemen bahasa verbalnya sebagai seni sastra kadang-kadang dikorbankan demi wujud visual atau wujud konkret puisi itu. Makna yang terkandung di dalamnya selain diwujudkan melalui bahasa verbal yang digunakan, juga melalui bangun simbolik yang diragakan oleh tipografinya.

Puisi Lirik Puisi Lirik adalah puisi yang sangat kaya dengan elemen ritme dan lebih banyak merupakan curahan rasa atau suasana hati penyairnya. Puisi Lirik dapat dibedakan menjadi beberapa jenis lagi yaitu: himne, ode, soneta, dan elegi. Pantun juga termasuk jenis puisi lirik.

24

Timbulnya istilah puisi lugu merupakan reaksi ter- hadap tradisi perpuisian Indonesia selama ini. Reaksi ini berupa penolakan terhadap citra perpuisian sebagai ungkapan seni yang serius dan agung. Melalui puisi lugu, diajak memasuki kehidupan sehari-hari yang ringan, lucu, konyol, boyak, dan sebagainya. Dunia yang diungkapkan dalam puisi lugu memberikan ciri khas kepada puisi itu. Ciri-ciri khasnya ialah: Bentuknya sederhana, pengungkapannya lugas dan lugu, temanya tentang kehidupan sehari-han yang ringan, lucu, konyol, boyak, dan sebagainya dan pengungkapan terhadap segi-segi kehidupan serius diwarnai dengan sikap humor dan main-main.

Puisi mutakhir Puisi mutakhir dalam sastra Jawa disebut geguritan gagrak anyar. Geguritan gagrak anyar keluar dari aturan- aturan seperti dalam tembang, parikan, wangsalan, dan lain- lainnya. Berkembangnya geguritan gagrak anyar bersamaan dengan perkembangan kesusastraan Indonesia. Keindahan geguritan gagrak anyar tidak pada pergulatan bahasa, tetapi lebih pada isinya untuk mengekspresikan perasaan jiwa.

Puisi Prosais Puisi Prosais merupakan istilah lain dari prosa lirik. Sebagai karya sastra-fungsi dan peranan puisi tidak jauh berbeda dengan jenis karya sastra lain. Fungsinya ialah: Puisi terutama digunakan oleh seseorang untulk mengekspresikan pengalaman dan suasana batin yang sublim serta kaya dengan nilai-nilai rasa. Misalnya: duka yang dalam, gairah cinta yang

25

melimpah, semangat heroisme yang berkobar-kobar, emosi keagamaan, pengalamah mitis dan religius, dan sebagainya. Mengisahkan sebuah cerita dengan padat, padu dan indah, melalui pililhan kata, larik, rima dan ritme. Untuk berseloroh, menyalurkan rasa humor dan hiburan. Untuk membangkitkan mood gairah batin melalui pembacaan puisi, deklamasi atau pidato.

Puisi Bidal Bidal adalah puisi yang berupa kalimat-kalimat singkat berkias. Bidal memuat berbagai gagasan dan pandangan hi- dup. Bidal tidak mengandung ritme, tetapi sering mengandung rima. Sifat kiasnya dan kepadatan pengucapannya menyebab- kan ikatan ini dapat digolongkan puisi. Dilihat dari segi strukturnya bidal merupakan bentuk puisi tertua. Bidal termasuk jenis sastra lisan yang sangat erat hubungannya dengan tradisi masyarakat pemiliknya. Ide, pemikiran dan pandangan hidup masyarakat itu banyak implisit dalam bidal. kegunaan bidal adalah untuk mengemukakan maksud secara kias, atau menyindir. Dalam hal-hal tertentu juga untuk menyanggah pendapat seseorang.

Puisi Elegi Elegi maknanya adalah puisi lirik yang mengungkap- kan keluhan atau ratapan yang ditujukan kepada seorang kekasih. Puisi atau lagu yang mengungkapkan rasa duka, sedih, rindu, murung, karena kematian seseorang.

26

Puisi Jingle Puisi pendek yang sederhana untuk konsumsi anak-anak. Iramanya kuat dan sajaknya teratur sehingga dapat menyenangkan anak-anak yang menikmatinya. Jingle biasanya dinyanyikan sambil bermain.

Latihan & Tugas:

1. Sebutkan jenis-jenis puisi Jawa modern!

2. Berilah contoh-contoh puisi Jawa modern!

3. Bacalah contoh-contoh puisi Jawa modern itu dengan

sikap dan penjiwaan yang tepat!

27

BAB IV ALIRAN-ALIRAN PUISI

Realisme Realisme adalah aliran yang berupaya melukiskan kenyataan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah karya sastra dikatakan realistis, apabila pengarangnya tidak mendesakkan pikirannya, perasaan dan kemauannya kepada pelaku-pelakunya serta pembacanya.

Eksplisitisme Karya sastra eksplisit adalah aliran karya sastra yang makna dan elemen elemennya sangat jelas. Apa yang implisit adalah seperti apa yang eksplisit. Karya sastra eksplisit tidak akan menimbulkan berbagai kemungkinan penafsiran. Pemba- ca akan menemui makna seperti apa adanya.

Empatisme Aliran puisi yaitu rasa

yang timbul dalam hati atau perasaan

ikut terlibat atau mengalami,

pembaca karya sastra,

28

dengan tingkah laku atau pengalaman tokoh karya sastra yang dibacanya. Kekuatan karya sastra yang dapat menimbulkan rasa terlibat pada pembaca disebut kekuatan empati.

Ekstrinsikisme Ekstrinsik bermakna elemen-elemen karya sastra yang ikut membangun karya itu secara tidak langsung. Ele- men-elemen tersebut sesungguhnya berada di luar lingkup karya sastra. Yang termasuk elemen-unsur ekstrinsik dalam karya sastra ialah: sejarah, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, ideologi, dan lain-lain. Meskipun elemen-elemen tersebut merupakan unsur ekstrinsik, karya sastra dapat dianalisis dari sudut elemen-elemen tersebut.

Implisitisme Implisit artinya tersembunyi atau implisit. Karya sastra implisit adalah karya sastra yang maknanya implisit atau tersembunyi. Untuk dapat memahami maknanya kita harus menginterpretasikan atau menafsirkan lewat sesuatu yang tampak. Implisit juga merupakan salah satu ciri khas karya sastra.

Satirisme Dalam kesusastraan, satire merupakan puisi yang mengandung sindiran tajam terhadap situasi masyarakat, khususnya terhadap kepincangan-kepincangan sosial. Simbolisme Simblisme adalah salah satu aliran dalam seni dan sastra. Aliran ini merupakan reaksi atas aliran Realisme dan

29

Naturalisme yang terlalu menitikberatkan realitas, baik gagasan maupun cara pengungkapannya.

Surealisme Surealisme ialah aliran seni yang berusaha memberi lukisan lebih dan realistis. Pendirian aliran ini berpegang kepada kenyataan. bahwa perbuatan seseorang itu sering di luar kesadarannya atau tak terkontrol oleh akal budi. Itulah sebabnya pengarang surrealis berusaha melukiskan suatu kenyataan yang lebih luas yang meliputi segala yang disadari dan yang tak disadari.

Naturalisme Aliran naturalisme mengutamakan pelukisan yang jujur sebagaimana adanya, tanpa dibuat-buat atau dihaluskan. Penganut aliran naturalisme pada lazimnya memilih segi-segi buruk kehidupan manusia atau masyarakat. Karena itu naturalisme sering diidentikkan dengan keburukan dan kemesuman.

Determinisme Determinisme adalah aliran kesusastraan yang me- mandang nasib manusia sebagai akibat dari keadaan masyarakatnya. Penganut aliran determinisme pada lazimnya memusatkan perhatiannya pada penderitaan masyarakat.

Didaktisme Dikdaktisme adalah aliran kesusastraan yang bertuju- an untuk pendidikan agama, moral dan etika. Sebuah karya

30

sastra dikatakan beraliran didaktisme kalau karya sastra itu sengaja ditulis oleh pengarangnya untuk kepentingan pendidikan.

Latihan & Tugas:

1. Sebutkan jenis-jenis aliran puisi Jawa modern!

2. Berilah contoh puisi Jawa modern yang dianut dalam aliran-aliran tersebut!

31

BAB V GAYA BAHASA PUISI

Dalam kesusastraan, gaya bermakna cara seorang pengarang mengekspresikan atau mengungkapkan perasaan, pikiran dan pengalamannya melalui karya sastra yang ditulisnya. Gaya seorang pengarang dapat diamati melalui bahasa karyanya. Gaya dibentuk dengan diksi, ungkapan dan simbol. Gaya seorang pengarang merupakan ekspresi pribadi pengarang itu. Kekhasannya tidak mungkin dijumpai pada pengarang lain. Tidak ada pengarang yang memiliki gaya persis sama dengan pengarang lain. Kesamaan gaya sekelompok pengarang dilihat berdasarkan ciri-ciri umum yang sama dan menonjol (Gorys Keraff, 1984: 77). Walaupun gaya dapat meliputi sekelompok pengarang, kalau kita bandingkan gaya dua orang pengarang dari kelompok itu, kita akan menjumpai kembali kekhasan gayanya masing-masing. Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisyahbana dari kelompok Pujangga Baru, masing-masing memiliki gaya

32

khas. Gaya seorang pengarang akan tampak dengan jelas setelah kita membaca karyanya. Stilistika adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari gaya bahasa karya sastra. Gaya bahasa dalam karya sastra berada di luar kaidah bahasa lazimnya. Hal ini terutama tampak jelas dalam bahasa puisi. Dengan licentia poetica para penyair bebas dan berhak menggunakan kaidah dan gaya bahasa yang menyimpang dari kaidah bahasa umum. Dengan demikian terjadilah, kekhasan bahasa atau gaya bahasa sastra. Kekhasan gaya bahasa inilah dipelajari dalam stilistika. Aspek yang dipelajari dalam stilistika antara lain: pembentuk- an dan bentuk-bentuk gaya bahasa, jenis-jenis gaya bahasa, fungsinya dalam karya sastra dan efeknya bagi karya sastra.

Alegori Alegori merupakan kalimat atau susunan alenia yang bersifat konotatif. Gaya bahasa alegori dipergunakan dalam sebuah karya sastra untuk melambangkan kehidupan tokoh-tokoh dan ceritanya. Bentuk-bentuk cerita bernafaskan alegoris misalnya: Fabel atau cerita binatang merupakan cerita alegoris, karena penciptanya sesungguhnya bermaksud me- ngungkapkan perihal kehidupan.

Aliterasi Aliterasi merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk meningkatkan kualitas irama atau penyedap bunyi. Amir Hamzah merupakan penyair tahun 1930-an yang banyak menggunakan aliterasi dalam sajaknya.

33

Anafora Repetisi adalah pengulangan kata atau kelompok kata pada awal kalimat. Repetisi dalam baris-baris puisi disebut anafora. Anafora termasuk bagian gaya bahasa paralelisme.

Asonansi Asonansi adalah persaman bunyi vokal yang terdapat dalam sebuah kalimat secara beruntun. Pada lazimnya asonansi terdapat dalam puisi.

Ekspresionisme Karya sastra bersifat ekspresionisme berusaha me- lukiskan penglihatan dan pendengaran jiwa pengarang. Aliran seni yang dalam proses penciptaannya mengutamakan cetusan pribadi secara bebas dan mandiri. Aliran ini menolak bentuk yang eksak. Ekspresi pribadi menentukan bentuk sesuatu yang diungkapkan.

Epifora Epifora adalah perulangan kata pada akhir larik puisi secara beruntun. Suatu variasi epifora adalah perulangan kata tidak terdapat pada akhir kalimat, tetapi pada akhir setiap frasa.

Impresionisme Istilah impresionisme pada mulanya dipakai dalam seni lukis di Prancis pada abad ke-19. Lukisan impresionis terbentuk dari kesan suasana melalui nuansa warna dan

34

kesan-kesan cahaya. Kesan dilukiskan secara remang remang menurut kesan awal yang ditangkap oleh pelukis.

Metafor Metafor adalah perbandingan untuk melukiskan kesa- maan, keselarasan atau kesejajaran makna. Misalnya, buyar rambutnya sulur rimba. Dalam metafor ini buyar rambutnya dibandingkan dengan sulur rimba. Perbandingan dalam metafor menimbulkan citraan yang kuat, sebab perbandingan itu mengundang asosiasi visual atau auditif.

Personifikasi

Adalah

gaya

bahasa

yang

menjadikan

obyek

atau

benda-benda seolah-olah berlaku sebagai manusia.

Latihan & Tugas:

1. Sebutkan jenis-jenis gaya abhasa puisi Jawa modern!

2. Berilah contoh puisi Jawa modern yang dianut dalam

gaya bahasa tersebut!

35

BAB VI JENIS-JENIS PUISI JAWA

Kesusastraan yang padat berisi dan diolah dengan bahasa indah disebut geguritan atau puisi. Keindahan bahasa puisi Jawa terletak pada tiga macam yaitu:

1. Wilet Wilet yaitu kelak-kelok suara agar ajeg, beruntun dan memiliki makna yang tinggi.

2. Wirama Wirama yaitu panjang pendek, keras liat dan tinggi rendah jatuhnya suara.

3. Purwakanthi Yang tidak kalah penting yaitu Purwakanti atau dhong dhinging suara. Adapun purwakanti itu dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

a. Purwakanti Guru Swara Yaitu runtutnya suara. Contoh:

Anak polah bapa kepradhah. Ati karep, bandha cupet.

b. Purwakanti Guru Sastra

36

Yaitu runtutnya sastra. Contoh:

Bobot, bibit, bebet. Janji jujur jajahane mesthi makmur.

c. Purwakanti Lumaksita Yaitu sastra yang mengalir seperti aliran air atau berkait. Contoh:

Asung bekti, bektine kawula marang gusti. Blitar Tulungagung, yen ora ketulungan dadi wong bambung.

Di dalam tembang, purwakanti lumaksita juga sering untuk mengolah bahasa supaya isinya indah. Contoh seperti dalam tembang gambuh berikut ini:

Gambuh

Pari ketela pohung Uwi gadhung garut mbolo jagung Japen blanggur kedhele kacang gembili Tales suweg katak lumbu Ketan suwawut lan ganyong

Puisi merupakan kesusastraan yang sangat disenangi oleh masyarakat sejak jaman kuno sampai sekarang. Puisi di jaman kuno disebut kekawin karena mempergunakan bahasa kawi. Adapun jenis puisi lengkap seperti di bawah ini :

1.

Kekawin Kekawin dari kata dasar kawi yang artinya syair. Di jaman kuno orang yang pintar membuat kesusastraan kekawin dinamai kavya.

37

2. Kidung Pada jaman tengahan, kira-kira jaman kepujanggaan Majapahit akhir ada genre puisi yang disebut kidung. Banyak kitab yang digubah dengan metrum kidung sebagai contoh: Kidung Harsawijaya, Kidung Subrata, Kidung Sundayana, Kidung Sorandaka, Kidung Ranggalawe, Wangbang Wideya, Kidung Panji.

3. Tembang Tembang merupakan puisi yang dinyanyikan. Jenis tembang ada tiga macam, yaitu: Macapat, Tengahan dan tembang Gedhe.

4. Parikan Parikan juga termasuk puisi. Kata parikan ada hubungan- nya dengan kata pari, atau pantun. Puisi Jawa yang berupa parikan ada hubungannya juga dengan pantun dalam kesusastraan Indonesia. Akan tetapi, parikan Jawa lebih bebas dibanding pantun. Contoh parikan dua baris:

Ana brambang sasen lima, Berjuang labuh negara.

Arum manis gula Jawa Aja nangis ayo lunga.

Contoh parikan empat baris:

Abang-abang gendera Landa Ngetan sithik kuburan mayit. Klambi abang nggo tandha mata Wedhak pupur nggo golek duwit.

38

Blitar kutha cilik kang kawentar Edi peni Gunung Kelud kang ngayomi. Blitar jaman Jepang nate gempar PETA mbrontak kang dipimpin Supriyadi

Contoh puisi di bawah ini berwujud parikan :

5.

Tuku Jarit neng pasar Turi Murah regane maremke ati Dadi murid kudu ngajeni Marang guru ojo sok wani

Wangsalan Wangsalan juga termasuk puisi dan merupakan puisi yang sangat indah, karena susunan kata-katanya kait berkait secara semu. Jika dirasakan, kadang-kadang mirip dengan cangkriman. Wangsalan ada tiga jenis yaitu: Wangsalan pacelathon, wangsalan edi peni dan wangsalan yang berupa tembang (Padmasukatja, 1962: 86). Wangsalan Edi Peni:

Ancur kaca, kaca kocak munggwing netra. Wong wruh rasa, tan mamak ing tata krama.

Ancur kaca: rasa; kaca kocak munggwing netra: tesmak.

Wangsalan Tembang:

Pangkur Singgang gung kang piniyara Mardi siswa kekawining estri. Wineh winulangaken wadu.

39

Peputhut mong Pregiwa Kang sumewa pasewakaning kadangun. Pangrantamireng pradangga. Sesendhon genti-genti.

Singgang gung piniyara: winih. Mardi siswa: mudang. Kekawining estri : wadu. Peputhut mong Pregiwa: Janaloka. Pangrantamireng pradangga: sendhon.

Latihan & Tugas:

1. Sebutkan jenis-jenis puisi Jawa!

2. Berilah contoh-contohnya!

40

BAB VII GEGURITAN SEBAGAI KARYA PUISI MODERN

Puisi modern dalam sastra Jawa disebut geguritan gagrak anyar. Geguritan gagrak anyar keluar dari aturan- aturan seperti dalam tembang, parikan, wangsalan, dan lain- lainnya.

Berkembangnya geguritan gagrak anyar bersamaan dengan perkembangan kesusastraan Indonesia. Keindahan geguritan gagrak anyar tidak pada pergulatan bahasa, tetapi lebih pada isinya untuk mengekspresikan perasaan jiwa. Contoh geguritan gagrak anyar :

Ngiwi-iwi

E, bocah kuwi kok nggregetake ati Ngece ngiwi-iwi Renea dak kandhani Aja kemayu! Bocah mono apik prasaja Prasaja itu aweh ayu

41

Ayuning budi

Endahing laku.

(Kuntara Wirya Martana)

Mbarang

Bocah cilik manis, kakang adi Runtang-runtung nyang endi-endi Nyangking angklung saka bumbung Mlebu lurung metu lurung

Bocah cilik manis, kedhana-kedhini Runtang-runtung mbarang separan-paran Ngupa boga nyambung panguripan sadulitan Nambal nista kang lunga teka wira-wiri, nrenyuhi

Nembangi lagu-lagu, memelasi Mbukak babad ngenesi ati Koncatan bapa biyung, dheweke tininggal keri

Bocah cilik manis, kedhana-kedhini Runtang-runtung nyang endi-endi Dina-dina uripe kaliput ayang-ayangane mega.

(Dyan Annimataya Soer, 1959)

Penulis-penulis geguritan gagrak anyar sampai seka- rang berkembang dengan subur. Contohnya: Group Diskusi Sastra Blora: Napas-napas Tlatah Cengkar (1973), Tepungan Karo Omah Lawas (1979), Suripan Sadi Hutama, Esmiet, Poer Adhie Prawoto, Anjrah Lelana Brata (Suripan, 1997: 36). Panggung geguritan dapat dijumpai pada peringatan kemerdekaan RI, ulang tahun Pemda, aneka lomba dan festival budaya Jawa. Kreativitas karang-mengarang puisi Jawa

42

semakin semarak. Para pengarang giat dalam mencurahkan karya gagasan. Adanya media cetak: koran, majalah, tabloid dan media elektronik: radio dan televisi membuat pengarang geguritan bertambah gairah. Sekali tempo mereka berke- sempatan untuk tampil membawakan geguritan, sebagai wahana ekspresi diri. Tradisi geguritan benar-benar tumbuh subur dan memasyarakat.

Latihan & Tugas:

1. Apakah geguritan itu?

2. Sebutkan ragam panggung geguritan!

3. Berlatihlah membuat geguiritan!

43

BAB VIII PUISI JAWA PERIODE PRA-KEMERDEKAAN

Perkemabngan puisi Jawa modern pada periode ini banyak dipengaruhi oleh keberadaan sastra Indonesia. Buku sumber tentang sastra di masa kemerdekaan tidak banyak. Satu antologi yang berharga, terutama dari segi dokumentasi sastra adalah Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, yang disusun oleh HB Jassin. Kita dapat memperoleh bahan tentang pengarang-pengarang masa Jepang dan hasil karangannya terutama dari antologi tersebut. Di samping itu, HB Jassin juga menyusun suatu antologi lain yang berjudul Gema Tanah Air, Prosa dan Puisi 1942-1948, yang di dalamnya termuat juga beberapa hasil karangan yang ditulis di masa Jepang. Penyair-penyair lain di masa Jepang yaitu M.S. Ashar, B.H. Lubis, Nursyamsu, Maria Amin, Anas, Makruf, dan lain-lain. Nursyamsu terkenal sebagai seorang penyair wanita yang puisi-puisinya mengharukan karena di dalamnya terpancarkan kejujuran dan ketulusan hati seorang perempuan. Maria Amin

44

seorang penyair wanita, yang sebenarnya sudah menulis sejak Pujangga Baru. Di samping seorang penyair, ia banyak menulis sketsa-sketsa yang bersifat simbolik karena tak tahan hatinya melihat kepahitan hidup dalam masyarakat di masa Jepang. M.S. Ashar, penyair jaman Jepang yanp terkenal dengan puisinya yang berjudul "Bunglon" yang menyindir orang-orang yang mudah menukar pendirian semata-mata untuk keuntungan dan keselamatan. Kecuali yang tersebut di depan, pengarang prosa yang lain ialah: Bakri Siregar, kumpulan cerpennya diterbitkan berjudul Jejak Langkah, Karim Halim, novelnya yang terbit pada jaman Jepang berjudul Palawija, Nur Sutan Iskandar, novelnya yang terbit pada jaman Jepang berjudul Cinta Tanah Air. Menilik jangka waktunya sebenarnya sastra Indonesia

di masa Jepang kurang penting untuk dibicarakan tersendiri.

Sastra Indonesia di masa Jepang berlangsung hanya kurang lebih 3,5 tahun, waktu yang amat singkat bagi pertumbuhan

suatu kebudayaan. Akan tetapi, dilihat dari peranan sastra masa

itu bagi perkembangan selanjutnya, maka sastra Indonesia di

masa Jepang perlu diberi tempat tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Jassin menganggap bahwa jaman Jepang merupakan masa pemasakan jiwa revolusi, yang kemudian meletus pada tanggal 17 Agustus 1945. Dilihat dari pertumbuhan kebudayaan Indonesia, jaman Jepang merupakan penempaan pengalaman

hidup dengan berbagai penderitaan sehingga memungkinkan timbulnya keragaman dan kedewasaan sastra kemudian (Jassin, 1974: 52). Banyak pengarang Angkatan 45 yang mulai berakar pada sastra Indonesia di masa Jepang antara lain: Chairil Anwar,

45

Idrus, Rosihan Anwar, Usmar Ismail, dan lain-lain. Walaupun demikian, sastra Indonesia di masa Jepang tidak perlu dipandang sebagai suatu angkatan tersendiri karena pada hakikatnya pada masa itu tidak ada suatu konsepsi atau gagasan yang jelas yang hendak diperjuangkan oleh para pengarang, yang tentunya dapat dilihat atau yang tercermin dalam karya sastra mereka. Memang ada perbedaan gaya bahasa, sikap, dan pandangan hidup, dibandingkan dengan sastra sebelum perang, tetapi semua itu tidak bersumber pada adanya kesamaan konsepsi para pengarang pada masa itu. Macam-macam sikap para pengarang bangsa kita menerima kedatangan Jepang. Sikap itu dapat diketahui dari sas- tra yang mereka hasilkan, walaupun sebenarnya belum tentu apa yang terjelma dalam karya sastra tersebut benar-benar mencerminkan seluruh pribadinya. Ada beberapa pengarang yang menyambut kedatangan Jepang di Indonesia dengan gembira dan penuh harapan, walaupun kemudian mereka menyadari apa maksud Jepang yang sebenamya. Beberapa puisi modern yang terbit pada periode ini di antaranya:

Dayaning Sastra

Tembung kang ginantha lelarikan Tinata binaris kadya bata Sinambung pinutung manut ukuran Dene banjur kasinungan daya!

Kumpule bata dadi yayasan Aweh nggon apik, brukut, santosa Ngepenakake wong urip bebrayan Samono dayane bata tinata

46

Gegedhongan tembung kang mawa isi Katyasane ngungkul-ungkuli Wohing laku, pamikir lan pangrasa Para empu, pujangga, sarjana

Simpen, ginebeng ing gugubahan Mawindu-windu dadi turutan

(R. Intoyo, Kajawen no. 26, 1 April 1941)

Kawruh

Salwiring kodrat kang tinan mripat Apadene kang tan kasat mata Kabeh tumindak miturut mripat Garis angger-anggering jagad raya

Wit lumrahing janma neng jagad Tan sepi anane para sarjana Rina lan wengi tan kendhat-kendhat Marsudi anggering tribawana

Sarana pakarti lawan semadi Sanityasa ngetog mengulir budi Wohing permadi tanata titi

Ginelar ing kandha sarwa teteh Murih gampang kutampa ing akeh Murakabi uripe janma kabeh

(R. Intoyo, Balai Pustaka, Kejawen no. 29/30,

15 April 1941)

47

Panggodha

Tan mawa cacala Praptaning panggodha Tan kinira-kira Yun ngrabaseng driya

Tan mawa sabawa Praptaning panggodha Lir duratmaka Ing wanci ratya

Umanjing jroning kalbu Rinusak marganing ayu Ngrabasa rehing silarja Ngreridu tentreming driya

Miluta, memalat sih Ngrerepa, ngasih-asih Swaraning panggodha Memikat jiwa

Tinukup teteping ati Linarut santosaning budi Ngalumpruk, tanpa daya Kataman ing panggodha

Pepesing tyas pinupus Alon wahyuning wuwus “Baya wus takdire Cinoba mangkene ………”

Kumriciking tirta wening Lan siliring samirana Kadi sung pepeling Ning tyas nadhang roga

Kinen tetep tuwayuh Manembah ring suksma Sakeh godha tan keguh Ngandhemi reh utama

(Nirmala, Kejawen no. 8, 23 Agustus 1942)

Biyungku

Ing tengah tengahing jagad raya Ing antarane para wanodya Ana sawiji kang daktrisnani Nganti ana sangisoring Hyang Widhi

Adheming sorote netrane Alusing kulite astane Dakgagas, dakpikir, dakrasa Aweh ayem, tentrem lereming nala

Mula yen aku ngantia koncatan Tininggal wanodiya kang tinresnan Kaya apa bakal nggonku kekitrang Atiku wis tamtu pindha rinajang

Mula tan angon mangsa lan wektu Nora kendhat donya panuwunku Muji marang ngarsane Pangeran Supaya biyugnku binarkahan Sarana watak sabar lan nrima Sarta dinirgakna ingkang yuswa

(Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka no. 14, 15 Juli 1943)

49

Kasampurnaning Dhiri

Tiru-tiru adatitng pujangga Yen arsa medhar isining nala Kanggo rerenggan pasrening taman Timrap ing tembung guritan

Tontonen isining jagad jembar Kang sinengker sarta kang gumelar Kang ana ing salumahing bumi Lan kang tinemu ing jalanidhi

Yen ginagas kanthi ati kang ning Kabeh mau mung kanggo pepeling Tumraping janma kang duwe ati Bisa gawe gandrung mring Hyang Widhi

Yen manungsa wis dha ngawikani Marang kwasaning Robbul Izzati Tartamtu tan padha gelem kari Ngudi mring kasampurnaning dhiri

(Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka no. 20/21, 1 Agustus 1943)

Jinatra Donya

Obah ingering jinatra donya Datan siwah lan rodha pedhati Ana kalane ing jumantara Ana wektune ing dhuwur bumi

Uga begja cilakaning janma Tekane tansah gilir gumanti Jer pancen wus ingeduman warata Binange marang sagung dumadi

50

Mula yen nuju tinunggon begja Ywa age-age gumuyu latah Jer samubarang kaanan donya Tetep nora langgeng … bisa owah

Wong kang wis amet pepiridan Tansah ngulati wektu kang teka Ngelingi yen kabeh mung titipan Bisa ilang ing samangsa-mangsa

(Soebagdjo Ilham Notodidjojo, Panji Pustaka no 23,

1 September 1943)

Ilat

Amung sawelat

Ambaning ilat

Pradene wasis murba misesa Gawe begja cilakning angga

Away kendhat

Ngreksa ilat

Njaga wetuning wicara saru Kang njalari tatuning kalbu

Obahing ilat

Darbe kasiat

Lamun nuju prana bisa mikat Yen tan pener gawe oreging rat

(Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka,

1 September 1944)

51

Eranging Kagunan

Andika lajeng mengajeng O, ra kagunan kula Sampeyan bekta jiwa mudha Mider-mider ngubegni bawana Minggah redi, mandhap jurang Angslup bumi, napak ngawang-awang Nggambar sadaya kawontenan Kababara sarana kaendahan Andika pigunakaken peparing Widhi Kangge memuji kuwasaning Ilahi

(Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka no. 20, 15 Oktober 1944)

Latihan & Tugas:

1. Jelaskan tentang puisi Jawa modern pra-kemerdekaan!

2. Berilah contoh-contoh puisi periode tersebut!

3. Bacalah contoh-contoh geguritan itu dengan sikap dan

penjiwaan yang tepat!

52

BAB IX PUISI JAWA PERIODE 1945-1965

Humanisme universal merupakan sikap-budaya gene- rasi pengarang Angkatan 45. Pengarang Jawa banyak terpengaruh oleh perjuangan pada masa revolusi kemer- dekaan. Beberapa karya puisi Jawa modern di antaranya:

Gegambaran

Cahya padma manguwung ing jumantara Tandha rina arsa ginanti hyang ratri Sajak owel surya ninggal arca pada Kasengsem mawas kaendahaning bumi

Tan beda lan angganing kalana mudha Kang arsa pepisahan lan kekasihe Rumangsa kewran arsa maluyeng kata Kepencut nyawang memaniking netrane

Mula ora gampang ninggal kasenengan Kang baud maweh makaremaning driya Karasa abot sumedhot ing gagasan Nggrantes nandhes sumendhal terus ing nala

53

Mula begja wong kang baud amikani Marang owah gingsire kagnan dona Sadurunge wus padha den mangerteni Yen tan ana barang kang langgeng lan lana

(Soebagjo Ilham Notodidjojo, Apimerdeka no. 4 Tahun ke1, 1 Januari 1946)

Pepaesing Jalma

Pra titah keh salah tampi Ngira yen pepaesing janmi Mung mutiara kang sarwiyadi Myang busana endah keksi

Malah ing jaman samangkya Manungsa kasmaran ngudi Tambah kathahing pangadi raga Numpuk donya brana rukmi

Ngelmu nyata kang kaeksi Inguber kinekep kekep Ngelmi batin panglaras budi Sinepak tan kersa nyecep

Keh jalma wasis mumpuni Lepas ngelmi lahir sami Nging tan eling mring wajibnya Sung harjo tentrem sesami

Dadiya katiplak angkara Nyembah ngabdi iblis nepsu Mung pecus cecetik latu Mahanani yudeng donya

Jatine jalma utami Warga bangsa mulya tuhu

54

Tan kenging tinggal lelaku Ngudi sampurnaning budi

Supados suk sagung janmi Lahir batin tan kuciwa Jalma ngerti mring jalminya Sung kertya raharjeng bumi

(Panyebar Semangat No. 41, 17 Desember 1947)

Enggala Asung Pawarta

Wus sawatara candra Tan ngrungu wartamu Ing batin ngrasa gela Tan weruh unggiyanmu

Tansah ndak anti-anti Teka tan ngrungu pawarta Tan kendhat nggonku muji Jinangkunga ring Hyang Sukma

Kalisa ing rubeda Nemua marga ayu Ywa kongsi kasangsaya Rinesa saklakimu

Wus sineksen sihing Sukma Luhuring gegayuanmu Tan toleh bandha nyawa Nglabuhi sesanggemanmu

Nadyan tan weruh unggyanmu Tan kendhat ing pamujiku Tulusa nggonmu leladi Dadi putraning pertiwi

55

Yen wus parenging Widdi Nusantara bangkit madhireng pribadi Dhuh sinatriya utama Enggala asung pawarta

(Nirmala, Panyebar Semangat, no. 30, IX 24 September 1949)

Ngangseg

Pepering ani-ani pugut Amaagut gaganing pari gabug Nylagrak pinunggel aking

Aku melu ngarit Tandur Matun

Wulining pari-pari mentes Tan uman angeneni Tinapis wong kang winasis

Akh, wasis-wasising dhiri Tan noleh wuri Samining jalmi wadaling nagari

(Rachmadi K, Panyebar Semangat. No 24. XXIV, 15 Juni 1957)

Pedhut

Peteng dhedhet lelimengan Anyaput wiwit sedhuwuring rumput Kandel atumpuk suk-esukan Nggameng kongsi angkasa muput

56

Ngupaya pundi dunungnya marga Sakehing barang kang dumadi Saka gegremetan nganti tekan manungsa Gegrayahan nalusur kang haki

Maju nubruk mundur Ngiwa natap nengen nabraki Pedhut angalingi Bebasan maju palastra mundura ngemasi Hyang bagaskara Sumunar mencar memanasi Kehing pedhut Ilang sinorot tanpa daya

Byar padhang gumilang sanalika Kang rumput tinon mandarawa Ijo royo-royo kang gumbira Bingar sakeh kang dumadya

(Ismail, Panyebar Semangat, 10 Mei 1949)

Gemblenging Tekad

Pedhut anggameng aneng pucuking arga Nutup soroting surya ing wanci enjing Budidaya kanthi sakehing tenaga Sang baskara ywa nganti aweh pepadhang

Ning Sang Hyang e weruh marang kewajiban Sigra nempuh barisaning pedhut gunung Pepalanging laku ginempuh lamaran Satemah ebun bandel tapis tinundhung

Tan prabeda lawan tekading bangsaku Kang ngugemi marang kamardikan Tan mraduli cacah pepalanging laku

57

Kabeh dinawa kanthi kawicaksanan

Golongingtekad gineleng dadi sawiji Mbangun nagara kang mandireng pribadi

(Subagiyo Ilham Notobijoyo, Panyebar Semangat no. 20, IX 12 Juli 1949)

Jemparing Sekti

Wus latar rontang ranting Kataman lungiding jemparing Sedya arsa angedani Ywa kongsi keneng braja sineksi

Teka lan mawa sabawa Lepasing jemparing braja Kataman wus tanpa daya Nglumpruk lir kena ing wisa

Lir tinawan jiwa rangga Kataman sang jemparing Pasopatining Arjuna Natasi tyas rontang ranting

Dhuh dewa Kamajaya Asunga usaha adi Kataman jemparing paduka Jiwa kongsi meniwasi

(Nirmala, Panyebar Semangat No. 36, XXI, 22 September 1952)

58

Napisah

Napisah kembang dhukuhan Ayune pinunjul tandhing Gedhe dening kali bening Rerungkudan, glagah alasan Enggon dolane lan blusukan

Napisah sabane sawah Tegalan wangkitan alas Capinge dawir pinggire Lan ebor cangkingane Tugas sadina natas Utawa ngindhit mbriyet Mudhun, dhasar ana pasar

Napisah yen angin dumeling Ing wengi sepi wening Dikut nuding pa, ndumuk la, wa, ga ……. Sandhing ubik melip-melip Lan ebun kremun-kremun tumiba Alam wangi ing ganda Kekayon lan cempaka wana Mabluk urut epang metit

Napisah kembang dhukuhan Ora mung pinter dandan Ora mung paesan alam

(St. Iesmaniasita, Balai Pustaka, 16 September 1954)

Endi Dununge

Sun iki turune sang Gotama Nedya nggoleki jimat sejati Cupu manik astha gina

59

Sun tlasak sakubenging wana Sun kebun tlaga Madira Sun silemi dhasaring pratala

Megeng napas njejak siti bantala Del mumbul ing jumantara Tumekeng mega lapin sapta

Sun suwang keblat papat Kidul wetan lor lan kulon Nanging tan ana katon

Nuli ambles ing dhasaring bumi Nedya takon mring ibu pertiwi Endi dunungnya jimat sejati Lan kasil kepaksa bali

Ana tembung tanpa sabda, ana swara tanpa rupa yen cupu manika astha gina manggon aneng telenge nala

(Medan Bahasa No. 5-6, 11 Mei-Juni 1957)

Panyendu

Ara-ara dudu pradikan Kok dipidak waluku salamba Lumpuh tan gumregah

Deksiyamu Kokrantas lung-lungane Rasaku Alum panyangganing uripku Aku butuh papan tenggar Hawa banar Napasing jiwaku

60

Iku ngresakake Mumbuling budaya Moncering susastra

(Rakhmadi K, Panyebar Semangat, 15 Juni 1957)

Pawai

Yen jejantung Tinutukan keketeg Gegawangan Lakuning tamtu Abra mangalat sunaring obor

Ngumandhang Lagu-lagu kaprajuritan Ngububi plitik-pletiking jiwa

Mubaling geni

Mukading ati

Geni gatraning gesang Tangeh yen cutela Obor lan lagu terus maju

(Rahmadi K, Jaya Baya, XII, 10 Desember 1957)

Pusaka

Embuh empune Tumurune saka bapak Bapak saka simbah ayake

Saben sasi sura wus diedusi Saben jumah legi wus dikutugi Ewo semono saben-saben isih mrimpeni

61

Pusaka wuda tanpa wrangka Utawa Lamun wrangka tanpa curiga Samya campuh majing pega

Panglociting kalbu Baya kiye weskitaning bapa Wesi aji dumunung jro angga pribadi Lan lamuh hurip tan winongko rasa Jroning rasa nora kinanti panyu rasa Hurip muspra ing pangentha-entha

(Jaya Baya no. 49, XII, 10 Agustus 1958)

Mbarang

Bocah cilik manis, kakang adhi Runtang runtung nyang endi-endi Nyangking angklung saka bumbung Mlebu lurung metu lurung

Bocah cilik manis, kedana kedini Runtang runtung mbarang saparan-paran Ngupa-boga nyambung panguripan sadulitan Nambal nista sing lunga teka wira-wiri, nrenyuhi

Nembangi lagu-lagu, memelasi Mbukak babad ngenesi ati Koncatan bapa-biyung, dheweke tininggal keri

Bocah cilik manis, kedana kedini Runtang-runtung nyang endi-endi Dina dina uripe kaliput ayang-ayangane mega

(Dyan Annimataya soer, Tahun 1959)

62

Rojah-Rajeh

Jemumuten ing grumbul angker Ati semplah ngadhang cilakaning sih Nrethek nglancak gegalering marga Prandene kepanduk gatining kanyatan Ati ajur dhadha ndhredhet Wirang-wirang ngrawus badan Ganda-gandane ratu nandhes anjarem Jagade sumbang donyane gembang Ayem-ayeme jiwangga Pangajepe ngebur sela matangkep swarga Apa janji panjemplinge Prajanji aber nyemprot jejantung kedher

(Muryaletana, Jaya Baya no. 10, XVI, 12 November 1961)

Maesan

Wus akeh taun-taun lumebu nyathet lelakon Suket ijo thukule ngupengi maesan tuwa Tembok rengka digambari lumut-lumut Temboke dasih kang wus swargi

Isih eling nalika layon binopong-bopong Suwe rai meksa mbrabak netes waspa Toging ngendon sinarekake sinawuran kembang-kembang Tembene dadi surem abyoring lintang

Akh, maesan pujan Baya kapan bisa manjalma maneh Rengkulan gawe crita lan tresna Asoke urip sejati

63

Taun-taune lumaku tanpa siaran Lelumute nggambari tembok tuwa Angin sepi tumiyup santer Maesane ketiban semboja

(Jaya Baya, 11 Mei 1963)

Paman Tani

Apa kang tiran cebake ing bumi Winih-winih kang bakal nguripi Nyawa sabrayat

Tangane wis padha kisut-kisut Paradene isih tansah bikut Nggarap-ngolah lemah satebah Gandhulan uripe wong sasomah

Apa kan tinancebake ing bumi Winih-winih saka ati kang murni Turun maturun

(Basuki Rahmat, Jaya Baya no. 47, XVII, 27 Juli 1963)

Pahlawan Panyebar Semangat Kamardikan

Kadang kinasih Eluh trenyuh ngembang gugur Nguntabake tindakmu ing tapel watesing garislana iki Kanthi tentrem leladi kersaning Gusti Kang Maha Welas lan kang Maha Asih

Kadang kinasih Tebeting tresna kang mulus Kang labuh ing ati lan gerak makarti

64

Ngrembuyung jroning urip bebrayan gung iki Sarta lungiding penamu dadya Woding cita api semangat Krodhaning kamardikan bangsa

Kadang kinasih Nadyan penamu wis aking Nanging isih tetep bening kekinclong Ketetes pindha mutiara peni Dadya kaca pamangun pribadi Dadya jejimat papirih nyantosani barisan iki

Kadang kinasih Pahlawan panyebar semangat kamardikan Liwat penamu Bangsaku kagugah Sarana penamu Bangsaku gumregah

Kadang kinasih Nadyan iki pinangka dina wekasan Nanging dadya tancebing watu kang wiwitan Binangun nambah aruming sejarah bangsa kang tanpa pungkasan!

(Moeljono Soedarmo, Panyebar Semangat no. 34, Oktober 1963)

Guritan

Bayi kang nangis beka ing tengah wengi Mara nangisa ing sajroning guritanku

Prajurit kanin kang nganti tekaning pati Mara selehna atimu ing sajroning guritanku

Wong-wong papa kang sesambat ngaru-ara

65

Mara sambata ing sajroning guritanku

Atimu kabeh wis ana ing atiku Sangsaramu kabeh wis ana ing sangsaraku Guritan iki ucap panandhanging manungsa

Anggonku nulis iki ing telenging wengi Yen kabeh wis sirna kasaput ing asepi Lan ati mung sumarah marang kang mengkoni

Saben tembung, saben tembung ing guritan iki Dak kantheni rasa tresna lan kapercayan

(Basuki Rakhmat, Jaya Baya, no. 13, XVII, 24 November 1963)

Ibu Suci

Lawang-lawang tutupan rapet Lan panyendu kanan kering ngiris-iris ati Maryam lungsed gelunge

Lungseding gelung kapulet lesus Cundhuke mlathi durung paya-paya wigar Seger putih metur-metur

Maryam! Cundhuk mlathimu wigar pating slebar Ilang kautamaning prawanmu

Wigaring cundhuk mlathiku Takona ki jabang kang ana ing bendhulan

(Jaya Baya No. 18, XVII, 5 Januari 1964)

66

Jakarta

Nembe wae dak ungkurake layang pamitan Paman aku klilan ninggal pabaratan Nuju menyang gubug-gubug dhuwur Kelonan gunung lan lungur Lan eseme tanah-tanah ngaew

Ning saiki aku bali Ngrangkul dhadhamu pengkuh Kanthi ngepeli gegaman kukuh Aku bali saiki, bibi Nyantosani barisan wingi

Jakarta baweraning bangsa Dak luruhi yen nuju mlaku-mlaku Jenggerening gedhong-gedhong lan puncak sugi Ngatirah langit ateping kutha Gerenging pabrik lan keliling sumitra Aku bali saiki, paman Gegamanku idhaman lan kekarepan

(Susilamurti, JayaBaya no. 36, XVIII, 3 Mei 1964)

Urip

Yen urip mung dadi siksaning pangimpen Kreteg marang sabrang pepesthen Ya ben ta maneka warna tansah nggoda Ya ben ta petenge wengi nyebar sepi-sepi

Ora ana nendra nganti ilange wengi Uga yen ta awan mengko kari wewayangan Teka mbaka siji lan ngilang Kahanan bakal dak sinau dak sandhang Lan aku terus lumaku lan mbandang

67

Teneh apa, apa maneh sing mesti diranti Teneh apa, apa maneh sign mesti ditunggu Kabeh wis dadi awu lan omahku wis kelawu

Aku sing pinasti urip lan mati Ngupaya jarwa antaraning urip lan mati Jroning urip ngubaya pati

(Anie Sumarno, Jayabaya no. 42, Juni 1964)

Puspa Rujit

Esuk emun-emun Embun tumetes neng sagung kekayon Sakeh puspita padha mekar Ganda arum warna asri

Abang putih manca warna Unggul-unggulan menang ati Obah-obah tinerak samirana Suka rena sakehing sari

Dhuk tiyang surya tumeking ngakasa Umiyar sagung makhluk neng donya Ngatonton hardaning kawasa Kabeh tumungkul tan wani tumenga

Kusuma kang mbabar asri Arum alum anggrek reki Sirna endahing kang rupa Musna wewangi saknalika

Ananging ………… Layu gogroging kusuma Wus sugoyo kudhup angganti

68

Ngrenggani tuwuhing sekar Sirna siji teka sadoso

(Panyebar Semangat, 28 Juni 1964)

Gunung Kidul

Perihing jeritmu iya jeriting atiku Anakmu lanang sing nglembara luru tresna Sing lair saka ngeraking garbamu

Lungaku nggawa asating tlagamu Wis dak wilang pira cacahe

Saka pesisir pacitan urut mangulon Punung-Pracimantara-Barun-Petir-Kemadang Nganti pesisir Imogiri Tlagamu sing asat ing saben mangsa Iya sating jiwaku kang nglembara luru tamba

Bakal dak luru nganti ketemu Ingendi sumbering banyu langgeng Dimen tlagamu agung ing salawase

Bakal dak-luru nganti ketemu Ing sadawane umurku

(Trim Sutija, Gotong Royong no. 15, II, November 1964)

Mung Tansah Pracaya

Aku kangen siliring angin donya Sing kebak ayom, ayem tentrem Aku ngelak Kabegjan sing ngebeki para umat

69

Urip ngengleng Urip kang tanpa dhuhkita Ngebeki atine manungsa

Donya, donya Ya gene kowe kebek penandhang Daharu, paprangan Susah apa dene pangresah

Aku manungsa dosa, duraka Wis masti peteng ngadhepi jaman iki Nanging pangeran kang sugih Asih, piwelas Keadilan lan kewicahsanaan Mesthi dalam kesamaran Marang para umat kang lurus ing ati Sing tumindak ing garis-garis kang pinasthi

(Suyono, Jaya Baya no. 28, 21 Maret 1965)

Pangaksama

Mara apuranen aku apuranen Jalaran pangaksama iku jejantunging bumi kinasih Kang banera lan ijo ngrembuyung

Mara apuranen aku apuranen Klawan pangaksama kang ijo ngrembuyung Jagad nusantara lan perjuwangan Ngawiji sajroning dlamakan

Ibu kang ngemban bayine mara apuranen Jalaran tresnane pindha terasing kayu jati Gilig lan ngemahi pambalela

Mara apuranen aku apuranen Jalaran pangaksama iku rahmating pangeran

70

(Napsiah Sastro Siswoyo, Jaya Baya, 29, XIX, 28 Maret 1965)

Bocah Ciliwung

Rembulan saijir manglung pinggire kali Ciliwung Ngelus dhadhane ijah milang gubug-gubug dhoyong Ati-ati bilur sing nuntut baline tresna Ning wis ilang keli ing banjire Ciliwung iki

Menapa urip kaya iline kali Ciliwung Geneya ijah kowe nangis Nangisi patine si biyung lungane si bapa Apa ora luwih becik ayo pista Kae rembulan ing langit duwekmu duwekku Lembaraning ati-ati padha ahli warising tresna

Ijah, delengen rembulan ing langit Dina tembemu ing tipake saben wektu Aja nangis ……. Sesuk sore si bapa teka Manggul srengenge lan janji-janji dina tembe

(Trim Sutija, Jaya Baya. No 39, XIX, 6 Juni 1965)

Latihan & Tugas:

1. Jelaskan tentang puisi Jawa modern periode 1945-

1965!

2. Berilah contoh-contoh geguritan periode tersebut!

3. Bacalah contoh-contoh geguritan itu dengan sikap dan penjiwaan yang tepat!

71

BAB X PUISI JAWA PERIODE 1966-1980-AN

Setelah kejadian G30S/PKI tahun 1966, terjadilah demonstrasi besar-besaran para pelajar, mahasiswa dan pemuda menentang pemerintah yang disebutnya Orde Lama. Di tengah pergolakan ini muncul beberapa pengarang dan penyair yang ikut menentang rezim Orde Lama melalui karyanya. Beberapa di antaranya ialah: Taufiq Ismail, Bur Rasuanto, Mansur Samin, Slamet Sukirnanto dan Sandy Tyas. Situasi sosial politik pada masa itu menjadi tema utama karya-karya mereka. Dengan menampilkan pengarang- pengarang tersebut sebagai pelopor ditambah sejumlah besar pengarang sebelumnya di sekitar tahun 1960-an, HB Jassin mengelompokkan pengarang itu dengan nama Angkatan 66. Nama Angkatan 66 pada mulanya merupakan nama gerakan sosial politik. Nama ini kemudian diambil oleh HB Jassin untuk menamai kelompok pengarang melalui artikelnya "Angkatan 66, Bangkitnya Satu Generasi”. Angkatan 66 banyak menghasilkan karya yang meng- ungkapkan gejolak situasi sosial politik sekitar tahun 1966

72

ialah: Tirani dan Benteng kumpulan sajak Taufiq Ismail, Mereka Telah Bangkit kumpulan sajak Bur Rasuanto dan Perlawanan kumpulan sajak Mansur Samin. Sebelum munculnya Angkatan 66 pernah muncul gagasan pembentuk- an Angkatan yang dinamai Angkatan 50, tetapi gagal. Angkatan ini secara praktis tidak pernah ada. Faktor yang menyebabkan kegagalan ini adalah karena dekatnya jarak-waktu dengan masa Angkatan 45. Prinsip dan paham yang melandasi karya-karya yang ada pada masa itu belum jelas perbedaannya dengan Angkatan sebelumnya. Korrie Layun Rampan pernah mengungkap gejala timbulnya Angkatan baru di 1980-an. Ia menilai timbulnya wawasan baru dalam sastra Indonesia mutakhir dengan tampilnya sejumlah sastrawan seperti Putu Wijaya, Danarto, Budi Darma, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, dan lain-lain. Kelompok pengarang ini dinamainya Angkatan 80. Tetapi sejumlah pengamat sastra menolak hal itu dengan alasan belum adanya ciri yang kuat mengindikasikan timbulnya suatu Angkatan. Seperti dikemukakan oleh Teeuw berpendapat bahwa suatu Angkatan baru jelas kelihatan kalau pengamat telah berada jauh dari masa Angkatan itu. Dengan demikian prinsip, paham dan ciri khasnya dapat diamati dengan jelas. Beberapa karya puisi Jawa modern yang terbit pada periode ini di antaranya:

Prasaja

Lagi iki

Ana panggedhe

Gedhe jiwane

73

Gedhe tingkahe Ora gedhe pamrihe Ora gedhe milike

Ora mung aweh printah Ora mung aweh conto Nanging makerti kang kathah Lan kersa dadi conto

Ing bab urip prasaja Kang perlu tumrap bangsa Kanggo ngrampungake repolusi Tumeka tujuan seni

Yen dinulu Satemene Nalika manungsa lair

Tan ngerti apa-apa Tan bisa apa-apa Tan duwe apa-apa

Mula iku dur eling

Ana kang MAHA KUWASA Ora susah ngaya Ngoyak bandha Dilakoni nganti cidra Cukup urip prasaja Ing sabarang kardi Lahir trusing batin

(Prajana Murti, Mekar Sari, no. 7 th. X, 1 Juni 1966)

74

Pesisir

Biruning langit biruning laut Esuk kang endah pengarepaning tresna

Ing sauruting wektu Dak luru aruming sekar

Apa sliramu durung dhamang Ing pesisir angin semilir Ing pesisir camar-camar semampir

Mara pirengna Kidunging angin semilir kisunging camar semampir Bumi pengauban ati-ati kang miris ketar-ketir

Ing pesisir Ora ana crita durhaka apadene karanta-ranta Cahya gumebyar rembulan manglung tengah

(Darma Nyata no. 331, VII, Minggu ke III, Oktober 1967)

Apa Sing Kokanti

Apa sing kokanti Apa sing kokanti, ya Sarinah? Kedhumuk-kedhumuk menyang sawah

Srengenge semendhe tawang Mripatmu kaya konang Byar pet ra madhangi dalan

Sarinah! Sarinah! Apa sing kokanti, ya gendhuk Ngenteni rambut putih mabluk?

75

Kemleyang godhonge brarak Apa kowe sing mulang sarak?

Apa sing kokanti Apa ing kokanti, ya gendhuk? Kedhumuk-kedhumuk weteng kluruk?

Grobag lunga teka Cina arab tansah ngumbara Nguras pametune desa

Sarinah! Sarinah! Dhuh, anakku! Wis pira utangmu?

(Suripan Sadi Hutomo, Balai Pustaka, 1968)

Dalan Cilik Urut Kali

Dalam cilik urut kali Emprit kekejer ing pang turi Sugeng enjing kang mas mantri Mangga pinarak ing dhukuh tani

Aku mung mesem madu Dak ulungake atiku biru Nrobos sawah lan pategalan Tresanku menclok tlatah padesan

Kembang randhu lan pakacangan Tembang mluku sawah tegalan Ora mung ana wicara Aku dadi bocah ndesa

Dak ulungke atiku biru Dak gelar ing dhipan kayu O, sethithik ora bakal tatu

76

Prawan ayu gae lagu

Ora mung ana wicara Tugas luhur ana ndesa Ora mung ana kutha Kamulyan saka negara

Pandhan alas pandhan wangi Emprit kekejer ing pang turi Mangga kangmas mangga mriki Kula gadhah pari sauli

(Suripan Sadi Hutomo, Balai Pustaka, 1968)

Tepung Karo Omah Lawas

Tepung karo omah lawas Sing saiki wis kari tilas Omah dhoyong madhep ngetan Aku wis gandheng memitran

Ing pekarangan iki Wit blimbing klapa lan randhu Pager jarak wora wari bang Atiku tansah dicancang

Kabeh padha mbagekna Aku kelingan nalika semana Nalika cilik dolanan sakanca Suripan sing nakal Nunggang jaran nunggang kapal Jogan mblasah kaya palagan

Ing ngisor jambu iku Ing latar cedhak jendhela Lan ing pojok sisih kana Aku tau disubat diupakara

77

Lan ing ngisor wit nangka Aku penekan tau tiba

Pekarangan iki Saiki isih kaya duk kala semana Kabeh padha mbagegna Apa panjenengan wis krama? Aku ora wangsulan, ning atiku sing kandha Prawan ngendi sing gelem dak-gawa Nempuh panguripan sing kebak bebaya

Ripan sing nakal Apa panjenengan isih kelingan Kasmaran sing kawitan Kok tulis kok rancang Karo Narti karo Endhang?

Jangkrik ngerik ing gulungan Rambut brintik tansah kelingan Ah, tepungan karo omah lawas Atiku kaya dikuras Susah lan bungah Ing pekarangan iki wis tau dak-dhudhah

(Suripan Sadi Hutomo, Balai Pustaka, 1968)

Lurung

Wiwit biyen nganti saiki Lurung iki ngronce crita maneka warna Critane adon lelana ngumbara kelunta-lunta Lelakone seniman niba tangi ngoyak crita Tangise wong padha luwe sesambat luru upa Ah, gawe ati nggrontes lan nelangsa

Wiwit biyen nganti saiki Lurung iki panggah cengkar kaya ngene

78

Kaya cengkaring pasawahan ngelak udan kiriman Kaya cengkaring ati koncatan sih katresnan Iki kanyatan Dudu apus-apusan

Tipak-tipaking sikil kang nate ngumbah lurung iki Ninggal sunggingan-sunggingan ngodhengake ati Nggaritake garis-garis ruwet ngalahake ilmu pasti Ora saben wong bisa nyurasa lan mangerti Kejaba pangeran kang murbeng dumadi

(Jaya Baya no. 5, XXIII, 6 Oktober 1968)

Katresnanku

Tangise suling kang mecaki wengi iki Banget nggarit rasa Satemene wis lungse pangrasa Mbuncang menyang pulo suwung iki Cengkar bera sepi samun

Tembang-tembang kusem isih gumlethek ing meja tuwa Ketutupan kanyatan ora pakra nutupi dhadha Pang-pang semboyan padha sempal kapangan jaman Biruning katresnan rontang-ranting kasempyok bebaratan

Upama kembang Wis kadhung alum pangrasa iki Pucuk-pucuking ati ngajak bali Nlusuri dina kepungkur Kang adus madu lan anggur

Kala-kala ati iki ngilo kanyatan Nyekseni dosa-dosa glangsaran Meruhi katresnan dadi barang dagangan Rai iki wis tuwa kebak tatu

79

Sapa sing duwe lan krungu panjeritku?

(Jayabaya no 46, XXII, 11 Agustus 1968)

Kali Grindulu

Kumricik tanpa wirama Ing mangsa ketiga Kebak panalangsa Pereng tebane pangarep Dadi bebulak tanpa elung

Mangsa udan tumiba Pecahing kamurkan lubering kasangsayan Tan pinilih Kabeh katrejang Gumuruh campuh swara titir kenthong Kenthir kerem ing segara Puputing mangsa Kari cuwa lan panalangsa

(JFX. Hoery, Cepu, 1970)

Angin Ketiga

Rodha bakal muter bali, Sumi Yen langit klawu ing bang wetan Wis kesaput angin esuk Lan kembang-kembang randhu Mangsa karo padha gogrog

Kowe njur lunga menyang tegal, Sumi Nyambut gawe nganti sore Wengine yen wis sepi Kapangmu mesthi kumat maneh kaya mala Marga aku ana kutha

80

Wis kejiret benarng-benang sutra Lan katut malih dadi angka

Sumi, Aja kok kira kapangku wis mari Saben wengi dak tlusuri iline kali Ciliwung Dak goleki mbokmenawa ana serat-serating citramu Sing dak temu Sanadyan aku ngerti Iku sawijining dosa

Yen langit ing bang wetan Wis kesaput tekaning esuk dina anyar Aku mesthi bali, Sumi Nalusur ing andhaning dhandhanggula Ngaras rambutmu lan tegal kita

(Trim Sutidja, Jaya Baya no 17, 1971)

Pisungsung

Ukaraku iki rak ora nyangklak ta, bapak Rikala aku kesasar ana tengah dalan Panjenengan paring obor pepadhang Rikala aku bingun kelangan gegondhelan Panjengan paring teken kasantosan

Ukara iki rak ora nyangklak ta, bapak Minangka pisungsung lan atur panuwunku Wiji pari kang dak dhedher wingi Saiki wis semi

Prawan sengkeran kang dak tresnani Saiki nagih janji

Tembangku iki rak ora ampang ta, bapak Minangka pisungsung lan atur panuwunku

81

Rikala aku ngorong kasatan Panjenengan paring banyu bening sak-klenthing Panjenengan parinrg daya panyurung

Tembangku iki rak ora ampang ta, bapak Minangka pisungsung lan atur panuwunku Rikala aku rangu-rangu Panjenengan paring donga pangestu Rikala aku dirangtang satru bebuyutan Panjenengan ngunus pedhang ligan nampani tantangan

Bapak Yen aku kawin Panjenengan dak aturi dadi modin

(Moch. Nursjahid, Jayabaya no 15, Desember 1971)

Tapel Wates

Karia lestari, Endang Yen mengkono sing kok-karepake Wengi iki Kamarku kareben ta sepi-sepi

Pancen ora ana pangarep-arep sing bakal lahir Ana asing ko-entha-entha jroning pangimpen Saka sakwijining penyair sing mecaki pangumbaran?

Manawa iku sing kok karepake, Endang Kareben ta wengiku iku sepi nyenyet Manawa bibit sastra sing dak deder neng atimu Ora nukulake rasa tresna marang iku sing dak tresnani

Aku wis marem nyawang lintang-lintang, Endang Yen tresnane ati, mung ngrenggani diri pribadi Lah sliramu kena ngambali pangimpen

82

Biyen ana penyair sing tau lahir ing plataraning atimu Dhek semana ana bibit tresna sing tau smei saiki mati

Yen iku sing kok karepake, Endang Kareben ta wengiku iki sepi-sepi Kamarku blasah naskah, ngguraki tresnaku iki

Karia lestari, Endang Karia lestari Liwat tapel wates iki

(Andjrah Lelanabrata, Jayabaya no. 17, Desember 1971)

Kertu-Kertu Ceki

Kertu-kertu ceki iki Aja dirampas maneh saka tanganku Amarga ya mung kari kuwi woding uripku Dalanku tekan ing sabrang Marang donyaku sing wis ilang ing kasunyatan Marang donyaku, donya khayali Nglipur atiku sing sumendhe ing lintang-lintang Amarga donya kang nyata pranyata dudu darbeku Nanging donyane para brewu sing bisa nuku

Kertu-kertu ceki iki Aja dirampas maneh saka tanganku Amarga ya mung karana kuwi aku bisa lali Atise wengi ing ril-ril sepur kuwi Bantaling turuku wodining impenku Marang donyaku, donya khayali ing lintang-lintang Amarga saiki Saben emper toko lan longe kreteg kabeh wis dipageri ruji wesi Mangka aku ngerti Sesuk sore ril-ril sepur kuwi ya wis mesthi wis dipageri

83

Ora perlu dak pikir sesuk bengi aku kudu turu ngendi Anggere aja kok rampas maneh kertu-kertu ceki iki

(Trim Sutidja, Jayabaya no 38, Maret 1972)

Wiji Kang Dak Tandur

Wit gayam kang manglung kali Wis banget tuwa umure Tangise bayi kang kajejer ing lingsir wengi Banget nrenyuhake lagune

Bulik Wiji kang dak tandur Saiki wis thukul Ibu nggadhang Simbah ngudang Pinaringana tansah lestari thukule Dadi pangayoman lan palereman Putra wayahe ing tembe

Ora arep dak sirep kumandange lagu perih iki Senadyan nyandet mengane lawang kaswargan Senadyan nglagokake wengi-wengi pinaes lintang Pancen ngene sejatine urip, bulik Sedhela-sedhela tansah manggul kekalahan Saben wanci praceka nantang

Saupama wiji kang dak tandur wis gedhe ngrembuyung Bakal dak ampirake andon lelana kang mlaku nyandhung-nyandhung Saben wengi tansah dak lagokake kidung Atur panuwun marang gusti Kinanti pepuji

(Moch. Nursjahid, Jayabaya no 38, Maret 1972)

84

Panji Klantung

Sapa kuwi kang padha ngungsi Ninggalake pekarangan, ninggalake dhasi? Panji klanthung, panji klanthung Dheweke ngetung srumbung urut lurung

Srengenge panas ing tlatah ngare Gumuk-gumuk padha mendhak gigire Panji klanthung, panji klanthung Wis pira kutha kampung kok etung? Si panji gedheg mripate abang Ing tangane suket lan alang-alang Disawurake ing awang-awang

Panji klantung, panji klanthung, Si panji keplayu saka kampung

Mbiyen impene gunung Suket ijo ngrubung srumbung Mbiyen impene kebon jagung Kali kanal padha agung Saiki mati, mati Guci-guci gemandhul ing lemari

Sumebar ing emper kreteg genteyongan Boboting panandhang Sumebar ing kutha-kutha ninggal jaritan Adol sakabehe kasusilan Panji klanthung, panji klanthung Apa bener kowe keplayu saka kampung?

Si panji mesem merak ati Drijine nuding srengenge lagi lumadi:

Nyang ngapa takon, nyang ngapa nyapa Takon marang sing gawe crita Tembok-tembok wis ditata dhuwur Tembok-tembok wis disap diatur

85

Angin sumriwing ing kuping Si panji mlayu nggendring Si panji, si panji, Entenana aku, enggala bali Aku dudu mata-mata, aku dudu kompeni

Si panji mandheg sumpeg:

Aja kok ganggu lakuku Aku bakal gawe prau saka kayu Aku bakal nyabrangi segara asat Aku bakal ngungsi adoh lumawat

Apa ora salah Si panji ninggalke tanah tumpah dharah? O, aku iki bangke Ing kene gawe sepete sang srengenge Si panji, si panji O, ketiwasan si panji

Sapa kuwi kang padha ngungsi Ninggalake pekarangan, ninggalake dhasi? Panji klanthung, panji klanthung Dhewekw ngetung srumbung urut lurung

Panji klanthung, panji klanthung Atine bengkah kena wadung O, sapa sing tanggung O, sapa sing tanggung?

Srengenge ing tlatah ngare Gumuk-gumuk padha mendhak gigire Panji klanthung, panji klanthung Wis pira kutha kampung kok etung? Mung siji sing durung Kapan giliranmu kena srimpung?

(Suripan Sadi Hutomo, Jaya Baya no. 49, Agustus 1972)

86

Ibu

Ibu, dhek bengi aku ketemu Karo kenya sing tau ngrebut atiku Ibum dhek bengi aku papagan Karo prawan sing tau dak jak gojegan Ibu, wiwit kuwi aku tansah kelingan Karo kenya sing tau dak jak kenalan Ibu, saya suwe eseme njiret atiku Piye ibu, umpama bocah kae dipek mantu? Apa ibu wis kersa kagungan mantu?

(Mas Tok, Panyebar Semangat no 47, 1973)

Sadawane Dalan

Kakang …. Yen ing kutha wis lingsir wengi Delengen ta kakang Sing padha turu gumlethek neng tritis

Wengi iki dheweke turu kepati Kinemul mendhung kinancan ratri

O, kakang …. Penggalihen Yen wengi saya tintrim Kekes, adhem, cumlekit dadi siji Banjur …. Subuh Kang padha turu kepati …. Krungu Ambal-ambalan bedhug tinabuh Wengine wis dadi esuk Srengenge jumedhul Aweh esem sandhuwuring gumuk Bedhug bali keprungu maneh tengah rina Badan sepata …. Wis adoh gumregah Pangan …

87

Njur smabat …

Jroning ati nangis …. Sadawaning dalan

nyuwun pangan

O, kakang …. Wigatekna Dheweke uga umat …. Padha karo kita

(Koesna, Panyebar Semangat no. 5, Februari 1973)

Ing Telenging Wengi

Wit-witan lan rerungkudan ora bisa crita liya Saben aku nlusur dalan iki:

Kowe keplantrang, mitra, kowe keplantrang.

Wit-witan lan rerungkudan ora nate nyingkur atiku Adreng nganti wangsulanku:

Ora. Ora ana maneh sing dak lari.

Aku keli kaya larahan ing kali, Nanging manawa tumlawung kidung wengi Aku ati kang kasmaran

Aku bayi durung bisa nyawang lan micara Nadyan wit-witan lan rerungkudan tetep setya Ngetung tebaning jangkah lan kandha:

Ah, saiba abote sesangganmu, manungsa.

(Ardian Syamsuddin, Jaya Baya no 39, 1974)

Penyair, Bengi Iki Sliramu Nglilir

Percayaa penyair! Yen bengi iki sliramu wani nothok omahe randha Dhewekw bakal tangi, lan gragapan nginguk liwat jendhela

88

Banjur tajkon:

„Kowe Sapa? He, kowe sapa? Petugas keamanan, apa wong jaga? Wong arep becik apa wong are tumundak ala?‟

Ngakua, yen sliramu penyair Ngakua, yen bengi iki merlokna nglilir Lan yen kampung pinuju kasepen Awit wong jaga ketungkul mburu impen Kuwi wancine sliramu teka Kuwi wancine randha mbukakake jendhela

Kanggo apa susah-susah Dak kira seprana-seprene dheweke wis mari sayah Lan dheweke mesthine ra butuh uyah Ah, mesthine mangkono, penyair Dheweke bakal lilih penggalihe Banjur ngajak sarean satanege

Yen wis mangkono, ajaken dheweke mlebu kamar sing resik Pilihen klambu sing rapet, slimut sing kandel Jalaran lemut galak ing kene Malah yen perlu sumeden obat nyamuk Senadyan ora mandi, nanging cukup gawe sugesti

Penyair, mripatmu bakal melek ing sandhuwure bantal sing resik Irungmu bakal tansaya tajem ing sandhuwure ganda amrik Nah, ing kene, ora usah kok peksa Dheweke bakal cucul kutang lan tapihe

Saiki, sprei kang kisut bakal gawe sajak-sajak Kaendahan bakal thukul lan kasuntak Ing kene sawijining idhe wis kecandhak Kari ngangkat ing mesin cethak!

89

Penyair, aja banjur sliramu kandha sapa-sapa Senadyan kuwi mitra akrabmu Eling, saiki wis akeh intel lan saiki wis wiwit pinter Kejaba yen dheweke kuwi penyair Jawa Ngono bae isih kudu pilih-pilih Dheweke kuwi penyair anyar apa penyair kuna Dhewekw kuwi ugal-ugalan apa ngerti tata krama

Jalaran iki wis wektune, kasusastran ora mbuntut jaman Nanging kasusastran sing nuntun jaman Lan penyair wiwit nduweni kesempatan Nglilir lan ngopeni randha-randha Nglilir nggugah sastrawan Jawa Nglilir kanggo ndonya!

Penyair, mengko sliramu uga entuk milih Endi dhadha sing krempeng, lan endi dhadha sing weweg Endi pantat sing gepeng, lan endi pantat sing padhet Percayaa penyair! Iki wis wektune! Lan sesuk awan bakal ana kabar ing koran harian Kasusastran Jawa wis bisa muncul sarana ide edan-edanan! Kasusasutran Jawa wis bisa mumbul gawe pangeram-eram!

(Poer Adhie Prawoto, Jaya Baya No 12, 1974)

Layangan

Delengen galo Lelumban ing langit biru Ngetog wiraga lan lelewa Polahe kagila-gila Ngiwa nengen munggah mudhun Kaya urip-uripa

90

Kaya iya-iyaa Sajak duwe nyawa Nanging nyatane Yen angin sepi Kumleyang jiglok ing lemah Ora kalap Kegedhen angin pedhot Kabur kabuncang Tambah-tambah tibane

Aku kabeh iki uga layangan Lagi kekejer ing tawang Satengahing bebrayan Embuh dadine Kepriye wasanane Aku ora ngerti ora weruh Gumantung karepe si Kuncung Sing nyekel benang Kang dadi dhalang Babaring kaanan

(T., Parikesit no 74, Juni 1974)

Katriwal

Wis kadhung kadlarung Nyasak nyusup angkering urip lan panguripan Surem, nggameng Kinemulan kandeling pedhut bedhidhing Tansaya nglangut Playuning jangkah-jangkah kelangan angkah Andheng-andheng thuntheng, mrajak ngrenggani ayu pulasan Kabeh alok gething, parandene malah kasandhing Kabeh padha nampik, ewadene sangsaya adreng anggone nglirik

91

Hem, samono gelar esem-esem ing satengahing marga Lan nalika klorob ing jurang palimengan Nglumpruk koncatan daya Nggremet, keket rinuket Kumlawe, awe-awe Luru pangentasan Cuwa Muspra Mripat luwe jlalatan, bali nglentrih Perih Ati ngorong ngrutug panglocita

Kanggo apa, aku lan kowe kudu lair? Jer mung padha budhal,, kanggo katriwal

Ah, nanging … Ing pantog pepesing jangka Ing dhasar jurang palimengan iki Isih tinemu Sumilir angeting katresnan jati Kumriwik etuking karahayon langgeng Cetha, kumlawe astaNE

Ngentas kang lagi papa Ngluwari panandhang Mbirat jejember Mbirat jejember

Lan kang ditemu mau Aku lan sliramu Aku lan sliramu kang wis kadunungan ati pasrah.

(M. Tajib Moerdjanto, Jaya Baya no 5, September 1974)

92

Kenya

Sapa ngungak jendhela Sapa tumenga akasa Kenya, Kenyane pak sasra

Kambi sapa aku mesthi seba Kambi sapa ngabyantara Bengi iki Kanggo wanci, kamulyan dina mburi

Kenya, kenyane pak sasra Baya pulung tumiba Kenya si „jantung ati‟ Kekudhungan sing merak ati

Kaya wis kliwat kapang Kaya patrape si dhadhang Apa guna dieman Dieman?

Kenya, kenyane pak sasra Kenya, ngungak jendhela Mandheg mega Kagem sapa

Kekarepan ngrembuyung ing taman Si kenya, kenyane guritan Si kenya agegancangan Kepyake jaman

Apa mengko bisa seba Angrengkuh kudangan Apa mengko tumurun teja Tejane kanyatan

93

Si kenya, kenyane pak sasra Si kenya, darbeke sapa? Giliran sing bakal teka Papa klawan palastra

(Poer Adhie Prawoto, Jaya Baya no 4, September 1974)

Dak Enti, Arip Ing Mripatku

Dak enti sliramu, e arip ing mripatku Wengi sangsaya tuwa Swra wis sirep padha Atis sangsaya nglithis Ing tritis dak umbar bulan dolanan Mung sliramu tansah dadi pangarepan

Apa iki ganjaran Pawehe wengi Bulan Lintang Konang Jerite jangkrik Jerite kirik Klawan aku sing awas wis nyirik Wiwit bojoku saben-saben purik

Apa iki pengajaran Sepi rame nyuweki ati Mula guritan lan cerkak tansah ora dadi

Ah, apa sliramu sing katut ombaking jaman Tugas sinambi golek obyekan Banjur ginandhulan prawan umbaran Nganti surup rembulan

Dak enti sliramu, e arip ing mripatku Wengi sedhela maneh mati

94

Banjur bulan malik Gelis enggal balik Selak bojoku purik Awit, Atis wis miyak jarik.

(Ngalimu Anna Salim, Jaya Baya no 9, Oktober 1974)

Bandhungan

Badhungan …. Esemmu, ah esemmu Ngujiwat, nyasapi sadawaning laku Nganti ati lan ati padha kelayu Ngluru apa akng bisa didulu lan diburu Prawan ayu sumadya katuku Larasati, adol lipuring kalbu

Bandhungan …. Sumiliring angin gunung, sumringah Aweh prasapa marang kang padha teka Para bandha kalungan hawalan penyair sangu graita

Bandhungan, ah bandhungan Lumerabing tlaga ing rawa pening Iku kedhep pepeling Yen urip iki Kaya rodha gumuling.

(M. Tajib Moerjanto, Jaya Baya no 9, Oktober 1974)

Gentheng

Gentheng Banyuwangi, Gentheng omahe mitraku Ing latare kang jembar nate dak nggo ajar mlaku Angin kang nakal

95

Miyak rokku kang ora nganggo suwal Adhuh, aku isih cilik, bu.

Bis sepisanan wis teka nggawa warta Mitraku wis ana kang dadi sarjana sujana Nggawa kenya putih, kenya saka negara Landa Ambune apek, jare hipis kang wis dadi randha Adhuh, aku wis adiwasa, bu.

Uripku kaya wong lelungan Nalika aku njaluk surat ing kecamatan Isih dak rungu swarane paman Doblang:

Sumi, apa Gentheng wis kentekan wong lanang Kok kowe menyang Jakarta kepilut-pulutan?

Ah, aku saiki bali, aku bali Sing ana ing awakku mung kari siji Urip apa mati, ing Gentheng Banyuwangi Awit aku palanyah kang wis ora kebiji Adhuh, aku wis ra suci, bi.

Manuk prenjak, manuk gagak Apa isih ana arak, ana towak Apa isih ana swara kang kepenak Kanggo si Sumi wanitamu kang ketlarak Adol awak ing kutha buthak?

Manuk gagak, manuk prenjak Adhuh, si Sumi wis dadi cagak

(Suripan Sadi Hutomo, Jaya Baya no 11, November 1974)

Pesakitan

Mangkono sesebutan kang didarbeni saiki Sinusupake ing mripat abang ngatirah

96

Pakulitan kebrangas panasing dalan-dalan kang dilewati Sinusupake ing bau kang rinasa semplah Pesakitan, pesakitan

Sawenehing nomnoman kang nggegem kapaling tangane Sawenehing nomnoman kang mikul kapaling pundhake Tanpa panduwa tumrap sakehing pandakwa Tanpa pembela siji-sijia Maju ngareping pengadilan Nuli yanpa suwala giniring lumebu pakunjaran

Pira lawase ndhekem ing kene Ngadhepi jobin adhem lan tembok-tembok kusem Mbuangi dina-dina tanpa piguna Selagi brayate kentekan sandhang kasatan pangan Ndhungkili lemah ing tegal garing nela-nela

Sawenehing nomnoman kang nggegem kapaling tangane Sawenehing nomnoman kang mikul kapaling pundhake Ngadeg samburining ruji-ruji wesi Ninggal brayate kentekan sandhang kasatan pangan Ninggal kayu tegoran saiji ing alas jati

Dudu kang mubra-mubra kebanjiran bandha Mbedhal mubal saka kaskayaning negara Dudu kang sarwa kecukupan ngisep kringeting liyan Kang padha merdika sanjabaning pakunjaran Dheweke kang ngadeg samburining ruji-ruji wesi! Wingi konangan sandhing kayu tegoran saiji ing alas jati.

(St. Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-sajak Jawi, Surakarta, 1975)

97

Panggah

Ajeg andon jurit Panguripan sombyang-sombyang Kebak panantang

Ing sisihe wengi-wengi kabuntel pedhut Dalane anglangut Suprandene Embun-embun nelesi ati Dak piyak pedhut-pedhut esuk sumilak

Ngajak lumayu Denyuting jantung Ora sirna dinulu

Panggah isih andon jurit Dak pandeng Gendera sing kumlebet Mantheng

(Anjrah Lelanabrata, Kumandang no 62, Januari 1975)

Merdeni Pasemon

Wonten saloka winuwus, wuwusing basa basuki Winawas tan kawistara, werit arumit sayekti Lelungidan srat kidungan, linaras landheping budi

Mangkana ingkang tinutur, linukis ukara muni Tapaking kuntul ngalayang, panggonane susuh angin Iku kinen nguladana, paran artine kang tulis

Dene ta tapaking kuntul, pangripta nyoba merdeni Manungsa ingkang utama, ber budi suka sumbangsih Asih samaning tumitah, angegungken pangaksami

98

Iku ta sanepanipun, makna werdining kang tulis Manungsa atinggal asma, kelamun praptaning janji Tapak tilase winaca, ala lan becik kaeksi

Mangka ta ingkang cinatur, si gajah kelamun mati Atetinggal gadhingira, dene si macan yen lalis Walulang ingkang tininggal, sato mati awewaris

Manungsa kang luwih unggul, pinunjul sesining bumi Apa ta warisanira, saliyane duniyawi Tulis datan kasatmata, asmane ngambar awangi

Susuh angin kang sinebut, maknane saloka nenggih Mungguh jatining sujanma, wikan dununge pribadi Angin artine Ngagesang, ngerti purwaning dumadi

Ora gampang arsa weruh, weruh dununging ngaurip Uripe sing mokal-mokal, kapilut gebyaring picis, budi angkara sinuba, atinggal pakarti suci

Tekeng kalamangsanipun, wewales gung anekani Tan kinira twin rinasa, sangsarane tan winilis Mengkono tuturing werdah, jantraning jagad pinasthi.

(Mas Gandes, Jaka Lodhang no. 185, Februari 1975)

Kendhang

Welingmu sing tuwajuh nguruti raga aking Rai nungkul kepati ngekep pranaja Kanthi ngrangu cumithal mripat sing bening Nanging pangajap donya akerat Kebat jangkahmu kesusu nungka layang pamegat upama jerit iki nguncegi bundhelan ati sing kejuwing pangirane mbulan mesem kepencut melua ngliling

99

banjur kapan nebusi asih mulus banjur kapan krenahmu bali burus anakmu kebacut kebentus-bentus

(Muryalelana, Jaka Lodhang no 194, April 1975)

Kakotak-Kotak

Sawah jembar Laladan bawera Kutha ndesa rowa nderbala

Pategalan ngenthak-enthak Kutha ndesa tinengeran bulak

Sawah jembar kakothak galengan sewu Galengan sayuta Tanggul tangkis bendungan lambe-lambe lamis

Mangsa rendheng banjir ngamuk Bendungan jebol … Galengan sayuta sirna Sawah musna

Samodra luwih jembar Segara luwih rowa Luwih nderbala

Ombak mratah tumlawung sagunung-gunung Prau laju karangkul ombak gumulung Layar dak inger nyungkemi kota pahlawan Prauku bali mangetan Mulih …. Kumpul bojo kumpul anak Urip iki dadine luwih kepenak

(W. Santoso, Panyebar Semangat no 15, April 1975)

100

Kampungku

Kampung kangenku Prawan sunthi apinjung apek banyu Bening praupan Sumeblak kaca pangangenku Yen sore padhang mbulan padha jethungan Nolak sarab sawan Kang nyengkerem kapercayan Bubar panen Yen wengi gendhong kothek sesautan

Kampung kangenku Gendera musthika Kumlebet klebet mitir pangrasa Prasasat kudhupe mlathi Nembung tangan asih enggal bali Saka latah urbanisasi

(Soekarman Sastrodiwiryo, Djaka Lodhang no 200, Juni 1975)

Matur Nuwun

Matur nuwun priyagung Marang pawewehmu lan pakaryamu Supaya aku lan sumitraku Ora goreh lan rangu-rangu Gandholan ana bis-bis kota Lan lesehan ana sarasehan-sarasehan

Wis jamak lumrahe Bawoning laku iki ucapmu Yen sliramu bisa lenggah ing sandhingku Dak wacakake geguritan-geguritan biru Kang kebak pangarep-arep rakyatmu

101

Kang padha lungguh sidheku Ngantu-antu rawuhmu

Matur nuwun priyagung Kang sepi ing pamrih Adoh saka sesuker lan reretu Lan bisa ngrasukake dhuhkitaku Dhuhkitamu Dak gegem kenceng tangan-tanganmu

(Susilomurti, Kumandang no 83, Juni 1975)

Paceklik

Anakku Puluh-puluh wis begjaku lan begjamu Kowe ra menangi sega beras anyar Ora weruh biyungmu nutu pari teles

Anakku anak siji dak aji-aji Dak golekake pangan tekan ngendi-endi

Mangsa ketiga dawa Panase sumelet tanpa mega Padaringan kothong tanpa isi

Anakku anak siji dak aji-aji Dak ajak gagas leles pari

Panase sumelet tanpa mega Anak siji dak aji-aji Dak turokake ing galeng dak kemuli

Anakku Nywaraa maneh kaya mau Dhek jinojoh kang duwe sawah

102

Anakku anak siji dak aji-aji Mati jinojoh wong, sinengguh colongan pari

(Prijanggana, Iesmaniasita, Guritan Antologi Sajak-sajak Jawi, Surakarta, 1975)

Kasatan

Entek wengi ing panglamunan Nunggoni teplok sumunar surem Ndluwang coretan gumlasah sebah Pulpen gumlethek sendhet wetune

O gegantungan Maragn wicaraning panguripan Kacingkrangan lan kaendahan Tinatah peni sinungging edi Jumedhul karya reriptan seni

Entek wengi ing panglamunan Garing tandhus daya ciptane Asat lenga teplok ing meja Peteng kamar peteng uripe

(N. Sakdani, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-Sajak Jawi, 1975)

Aku Paragane

Takona marang aku Bapa-abapa sing krenteg wayuh Ibu-ibu sing nedya perak

Aku endhog sinimpar saka patarangan Wiji dadi sinengguh sawijining pepalang

103

Ibuku randha saiki krama maneh Tindak sing ngedohake rasa Lan bapak seda ninggal randha

Asihku rinebut liyan Tresnaku sangisoring semboja

Pepedna aku ing pantonging pitakon Aku mung bakal bisa ngaku Jarene anak wong

Sapa kang bakal ngrewes Bocah kuru aking dhedhingklangan turut lurung?

(Rachmadi K., Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak- Sajak Jawi, 1975)

Lola

Lampu-lampu mati Lakune rerambatan sikile ringkih Nlusuri lawang-lawang kekancingan Thothok-thothok lirih

Pak, bapak ngakna, pak Yung, biyung ngakna, yung Ing jaba adheme ora jamak

O, bapak, o biyung Aku kangen angeting asihmu Aku kangen nikmating katresnanmu Aah, Aku banget kapang kekudhungan Ing gebyaring lintang sayuta

Nanging, tan ana sabawa Lampu-lampu mati

104

Lakune rerambatan sikile ringkih Nlusuri lawang-lawang bisu Jroning dhadha isih nggegem pitakonan

(Moeljono Soedarmo, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-Sajak Jawi, 1975)

Kebogiro

Anakku lanang wis mulih maneh, oh, ati Saka pulo kang adoh nyabrang segara rempela Bagus, kabar apa kang kok gawa saka kana? Sengsara apa kang kok sampirake ing pundhak kuwi?

Nyedhaka mrene, jlonet, ambruk ing pangkonan Dimen bisa cak serit rambutmu kang kebak awu Baksil kang diguyurake dening tangan-tangan jail

Mara mrenea nggeer anakku kang nate ilang! Sulingmu kang lumuten wis dak umbah sarana eluh Angkaten maneh penmu kang tainen, asah Tumuli bali nulis ing dluwang iki Merga ana kang mokal runtuh Omah eyub saka kejujuran

Anakku lanang ayo padha nembang Esuk-esuk Lair maneh guritan selarik:

Tunggak waja kang sepi ing tindak deksiya

(Sl. Soeprijanto, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak- Sajak Jawi, 1975)

105

Prapatan Cilik

Mung netramu kang mapag liwatku Ing prapatan cilik sepi Tanpa sapa aruh lan esem guyu Ndadekake crita iki ora rampung Kaya keblat prapatan cilik iki Kudu sowang-sowangan Aku njaluk ngapura Kabeh kandheg ing daluwarsa

(Djudjuk S, Djaka Lodhang no 195, 1975)

Tampanana Ati Iki

Swara lirih ngedhipis atis Ing sesela-selaning ati sasi agustus Kaya kandha tanpa sabawa apa Sasi agustus sasi kang mulus Sasi kebak pangarep-arep ngalela

Nimas, Tampanana ati iki Geneya dadak suwala Atimu lan atiku pindha sadulur kembar Manunggal ing rupa lan panyandra Langit biru kuwi Duwekmu lan duwekku

Tampanana ati iki Sasi agustus sasi kang mulus Sasi siji ati siji Tampanana ati iki

Nimas, ing sasi kang wis dadi nyawiji iki Aku ora bisa asung punika-puniki Kajaba mung pangajab muga

106

Tampanana ati iki Tampanana Jalaran tresnaku Tresnane jiwa kang nunggal angga

(Y.A. Damayanti, Dharma Kanda no 302, Agustus 1975)

Imbal Wacana

Kang gumelar gilar-gilar isih jembar Tatapen manwa pandengan bingar Sisih kana gunung biru Geneya ndhingkluk amarikelu

Gedrugen bumi ping pitu Kibarna gendera pribadimu Kanthi nyebut panjenengane Idi palilah bakal kaparingake

(N. Sakdani, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-Sajak Jawi, 1975)

Pamoring Satriya

Kawahnya ing pawayangan, tumrap satriya sajati Tan pisah lan panakawan, tan kena ginggang sanyari, Ing purwa den wujudi, Semar Gareng Bagong Petruk, Satriya kang sanyata, panakawan trus kekinthil, Lamun pisah sirna pamoring satriya.

Pilihane panakawan, mung para satriya jati, Kang mamayu yuning jagad, nyingkiri mring tindak sisip, Lamun kang den iloni, arsa nemah tindak dudu, Aweh peling supaya, enget kasatriyaneki, Kuwajiban mrih sirnaning dur angkara.

107

Yen satriya datan kodal, wawarah tindak utami, Panakawan temah oncat, nora sudi dadi kanthi, Iku minangka bukti, manawa jalma sawegung, Tan milih sudra papa, kanggonan tekad utami, Pantes lamun ginigu karya kupiya.

Yen punakawan oncat, satriyane temah sepi, Sirna surem pamorira, tan gatra satriya jati, Lena datan ngengeti, bathok bolu isi madu, Anggepe sapa pada, anggunggung diri pribadi, Rumangsane samubarang wis kaasta.

Panakawan cacah papat, ingesuhan dadi siji, Yen salah sijine misah, esuh kendo sada cicir, Ing purwa den wujudi, lakon Petruk dadi Ratu, Isine amung ecrah, mula den udi manunggil, Yen manunggal pranyata dadi santosa.

Sentosaning panakawan, ngembani satriya adi, Mujudake kekuwatan, pambrastaning tindak sisip, Kuwawa angayomi, lir angganing paying agung, Yen pinindahaken candra, sunare wrata awening, Amemayu karya yem sining bawana.

(Gito, Mekar sari No. 22, Januari 1975)

Pahlawan Papat Lima

Getihmu wis rata Sumebar, campur krikil lan wedhi Dadi dalan kang alus lan rata

Balungmu sing pengkuh Campur semen lan beton Wis dadi gedhung-gedhung sing prakosa

108

Dagingmu wis sumebar Kanggo menehi pangan Anak turunmu

Suwek-suwekan panganggomu Sing kedleweran getih Wis dadi sandhangan Sing maneka warna

Generasiku Generasi pitu lima Sing dadi seksi Durung anane keadilan

Generasiku Generasi pitu lima Penerusmu

Berjuang demi pembangunan Ing negara dhemokrasi iki

(Kadir Wong, Kumandang no 17, April 1975)

Kartupos

Kartupos pamitan dak tulis ora merga tangis lungaku ngoyak buronku kang keplayu Ora na malang, ora na malang, ora na dalan kayutangan Dheweke ngece awit saka kekarepanku

Kartupos pamitan kang dak tulis marang panjenengan Mitraku, dak tulis merga aku duwe wektu Ora nganakake pepisahan lan nganakake kopi susu Awit kaya dene nalika tekaku ora nganggo pidhato lan kado Awit aku dudu pejabat kepala jawatanmu

109

Awit aku dudu pemimpin partai golonganmu Awit aku dudu kepala pasukan tentaramu Aku juru gurit ing majalah langgananmu

Kang ngibarake swara kamanungsan Bebener lan keadilan Kaya dene angin kang mapak rambutmu

Kartupos pamitan Kartupos Kartupos paseduluran Awit kita ketemu lan kenal Ing madyaning panguripan Kang atos kaya pedhar gunung Ngglundhung tanpa petung Kartupos Kartuposku

Kartupos pamitan kang dak tulis marang panjenengan mitraku, tampanana Iki atiku iki jiwa ragaku Tampanana, tampanana Mara enggal padha donga dinonga Amin!

(Sadi Hutomo, Angin Sumilir. Balai Pustaka 1988)

Latihan & Tugas:

1. Jelaskan tentang puisi Jawa modern periode 1966-

1980-an!

2. Berilah contoh-contohnya!

3. Bacalah contoh-contoh geguritan itu dengan sikap dan penjiwaan yang tepat!

110

BAB XI PUISI JAWA PERIODE 1990-SEKARANG

Urip

Kidung, padha durung rampung Ati kedlarung-dlarung Omah dadi suwung Liwung

Sanepa, durung salin rupa Ana ngengekan dhuwur paga Kadhudhah gegambaran mung sajuga Mendah olehe ngrerepa

Apa iki atine urip Kanyatan ora mesthi sairip Apa becike memba warna Malih rupa, salaras karo grana Sauger ora dadi wisuna Guyon-guyon parikena Guyone wong ngayawara Aja kaselak muring Urip iki rak sandiwara

(Hartono Kadarsono, Panyebar Semangat. No. 49, Desember 1990)

111

Tahun 1990-an ditandai dengan dominasi warna hijau dalam panggung politik nasional. Hal ini membuat suasana di tanah air semakin hijau pula. Sastrawan dan karya sastra bernuansa hijau tampil menarik dalam pentas budaya nasional. Di antaranya merupakan Emha Ainun Najib. Emha dikenal sebagai cendekiawan, budayawan, essais, kolumnis, cerpenis, penyair dan dramawan. Ia sangat produktif dalam melahirkan karya-karya, di antaranya Bagindo Farok, Indonesia merupakan Bagian dari Desa Saya, Markesot Bertutur, Markesot Bertutur Lagi, dan ratusan judul puisi yang kritis dan inspiratif. Zawawi Imron dan Musthofa Bisri merupakan penyair kondang yang muncul dari kalangan pondok pesantren. Jika selama ini pondok jarang melahirkan sastrawan, maka tahun 1990 bukan saja melahirkan, tetapi mewarnai. Umar Kayam, melahirkan karya-karya novelnya di tahun 1990-an pula. Ia menulis Para Priyayi, Sri Sumarah dan Bawuk, Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Musthofa W. Hasyim tercatat sebagai penyair yang sangat terkenal. Kuntowijoyo melahirkan banyak cerpen, novel dan puisi. Di antaranya merupakan Malam Daun Makrifat, Khutbah di Atas Bukit, dan Mantra Penjinak Ular. Selain itu masih tercatat sangat banyak sastrawan yang produktif. Pada tahun 1997, bangsa Indonesia mengalami guncangan ekonomi yang menjatuhkan daya beli masyarakat dan menumbangkan kekuasaan rezim Orde Baru. Di sayap kanan, mahasiswa bergerak paling depan dengan Amien Rais sebagai lokomotif gerakan ini. Di sayap kiri, Partai Rakyat Demokratik atau PRD yang dipimpin oleh Budiman Sujatmiko dan Andi Arif mengkritik penyalahgunaan kekuasaan dengan

112

keras. Hasilnya, pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari kursi kekuasaan. Setelah jatuhnya penguasa Orba itu, Era Reformasi di mulai. Penataan di mana-mana muncul. Namun, sayang sekali di awal reformasi, bukannya kesejahteraan dan keamanan yang didapat, melainkan kerusuhan horisontal, konflik etnis, gerakan separasi menguat dan ekonomi semakin tidak menentu. Suasana reformasi ini ditanggapi oleh Hariwijaya (1999) dengan geguritannya yang menggambarkan suasa batinnya yang kecewa.

Tanah Sabrang

Esemu jebul mung lamisan Guyumu manis bratawali Tiwas tak labuhi pati

Banjur uncat nang tanah sabrang Nggawa karep abang mbranang Lara ora tan nggo rasa Pahit ora tak nggo itung

Ngrengkuh kahanan kang omber Mujur malang tak lakoni

Nemahi lelakon kang dak sanggemi.

Esemu

guyumu

Tak byuri pangapura.

(Hariwijaya, Antologi Puisi, Bejiharjo, Gunungkidul, 1999)

113

Lebih parah lagi, korupsi yang hendak dibasmi justru seperti kobaran api yang tertiup angin mengenai daun-daun kering. Artinya, pembusukan moral semakin marak. Dalam dunia sastra, muncul perlawanan yang setengah mati. Para penyair, novelis dan dramawan memunculkan kritik pedas untuk mencoba menghentikan pembusukan nasional. Di antara mereka merupakan kelompok seniman yang tergabung dalam Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), Kelompok Diskusi Lingkar Pena, Komunitas Balai Budaya Minomartani. Pada tahun 2001 diselenggarakan Konggres Bahasa Jawa III. Hasil nyata dari Konggres ini adalah diwajibkannya pelajaran Bahasa Jawa untuk SD, SMP dan SMA. Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa menjadi laku di pasaran. Banyak diperlukan tenaga keguruan untuk diangkat menjadi pegawai pemerintah. Secara otomatis puisi Jawa modern juga mendapat perhatian utama. Sejak tahun 2006, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi lahan subur buat perkembangan bahasa dan sastra Jawa. Sukses gemilang ini perlu terus dipertahankan. Bila perlu ditularkan agar bahasa daerah lain juga masuk kurikulum. Konggres Bahasa Jawa IV di Semarang tahun 2006 semakin memperkokoh posisi budaya Jawa.

Latihan & Tugas:

1. Jelaskan tentang puisi Jawa modern periode 1990-an!

2. Berilah contoh-contoh geguritan periode tersebut!

3. Bacalah contoh-contoh geguritan itu dg sikap dan penjiwaan yang tepat!

114

GLOSARIUM

Absurditas Absurditas dapat bermakna keanehan, ketakbermaknaan, kemustahilan. Sebuah karya sastra itu dinamakan absurd jika tokoh, alur dan temanya menampakkan keanehan, kemustahilan, atau sesuatu yang tidak masuk akal. Lazimnya elemen-elemen absurditas terdapat dalam karya sastra drama.

Amanat Amanat merupakan pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat dapat disampaikan secara eksplisit jelas, maupun secara implisit atau samar.

Ambiguitas Ambiguitas adalah makna ganda. Sebuah kalimat dikatakan ambigu apabila mendua makna. Dalam karya sastra dapat terjadi ambigu akibat dari perjalanan waktu. Pada setiap jaman karya sastra mendapat nilai baru.

Apresiasi Istilah apresiasi diartikan sebagai penghargaan. Maka, apresiasi sastra bermakna penghargaan terhadap karya sastra. Penghargaan dalam konteks apresiasi merupakan penghargaan yang timbul atas dasar kesadaran dan pemahaman nilai-nilai karya sastra.

115

Epigram Pada mulanya epigram bermakna pernyataan pendek dan padat dalam bentuk prosa atau puisi, yang mengungkap- kan suatu gagasan tunggal.

Epitaf Epitaf adalah ucapan yang dipatrikan pada batu nisan. Ucapan ini berupa pujian untuk mengenang orang yang dimakamkan itu. Dalam kesusastraan bermakna puisi pendek yang diterakan pada batu nisan, atau khusus digunakan untuk mengenang orang yang telah berpulang.

Irama Adalah alun bunyi yang kedengaran pada waktu seseorang membaca sebuah karya sastra disebut irama. Irama puisi lebih kuat apabila dibandingkan, dengan irama prosa. Lebih dari itu irama merupakan ciri khas dan elemen penting sebuah puisi.

Jeda Larik Jeda larik adalah tempat perhentian sejenak di tengah-tengah larik puisi. Dalam karya tulis jeda larik ditandai oleh koma (,) titik-koma (,) atau tanpa tanda baca. Dalam karya sastra lisan atau yang dibacakan jeda larik berupa terhentinya suara sejenak di tengah-tengah larik.

116

Kredo Puisi Kata kredo berasal dari kata credo yang bermakna kepercayaan atau paham. Kredo, puisi maksudnya adalah paham atau pandangan tentang hakikat puisi dan proses penciptaannya.

Lirik Berasal dari kata lire, sejenis alat musik petik. Dalam sastra lirik bermakna puisi pendek yang mengandung ekspresi pengarangnya.

Mantra Mantra bisa dikatakan jenis karya sastra. Mantra terma- suk jenis puisi karena strukturnya banyak mengandung elemen dan bercirikan puisi. Puisi-puisi jika dibaca dengan sepenuh keheningan jiwapun akan terasa seperti mantra yang mempengaruhi jagad batin kita

Metrum Metrum adalah pola irama yang terdapat dalam puisi. Metrum terutama jelas kita lihat dalam puisi klasik. Dalam puisi Indonesia wujud metrum berupa pertentang- an suara keras lembut, tinggi-rendah dan cepat-lambat secara teratur. Metrum dalam tembang Jawa lebih jelas karena tembang Jawa bisa dilagukan.

Rima Rima adalah persamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Persamaan bunyi ini dapat terjadi dalam sebuah larik,

117

dapat juga terjadi antar larik. Berdasarkan tempatnya rima dapat dibedakan menjadi rima awal, rima tengah, rima akhir

Seloka Seloka adalah sejenis pepatah dalam kesusastraan Jawa. Dalam kesusastraan Indonesia seloka adalah sejenis puisi menyerupai pantun. Seloka tidak begitu populer dalam kesusastraan Indonesia. Isi seloka adalah ajaran moral dan sindiran.

Stanza Stanza adalah puisi yang terdiri dari 8 larik. Polanya terdiri dari dua kuatren atau langsung delapan larik.

Strofa Strofa sama dengan bait. Secara lebih khusus strofa bermakna larik-larik yang tergabung atau mengelompok dalam satu bait tertentu dan melukiskan satu-kesatuan gagasan yang bulat.

Syair Menurut sejarahnya syair sudah ada dalam kesusastraan Arab sebelum turunnya agama Islam. Dalam kesusastraan Arab dikenal syair jaman Jahiliah dan syair jaman Islam. Bentuknya tidak jauh berbeda, tetapi juga yang meng- ilhaminya sangat berlainan. Nafas religi dan keimanan terhadap keesaan Allah merupakan tema utama syair jaman Islam.

118

Tamsil Tamsil bermakna perumpamaan. Maksudnya adalah sebuah perbandingan yang mengandung perumpamaan dan kiasan. Tamsil digolongkan ke dalam puisi karena mengandung elemen-elemen puisi seperti rima, ritme dan kepadatan ucapan.

Wirama Istilah lain dari irama atau ritme. Wirama yaitu panjang pendek, keras liat dan tinggi rendah jatuhnya suara.

119

SUMBER BACAAN

R.

Intoyo, Kajawen no. 26, 1 April 1941

R.

Intoyo, Balai Pustaka, Kejawen no. 29/30, 15 April 1941

Nirmala, Kejawen no. 8, 23 Agustus 1942

Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka no. 14, 15 Juli

1943

Soebagijo

Ilham

Notododjojo,

Panji

Pustaka

no.

20/21,

1

Agustus 1943

 

Soebagdjo

Ilham

Notodidjojo,

Panji

Pustaka

no

23,

1

September 1943

Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka, 1 September 1944

Soebagijo Ilham Notododjojo, Panji Pustaka no. 20, 15 Oktober

1944

Soebagjo Ilham Notodidjojo, Apimerdeka no. 4 Tahun ke1, 1 Januari 1946

Panyebar Semangat No. 41, 17 Desember 1947

Nirmala, Panyebar Semangat, no. 30, IX 24 September 1949

Rachmadi K, Panyebar Semangat. No 24. XXIV, 15 Juni 1957

Ismail, Panyebar Semangat, 10 Mei 1949

Subagiyo Ilham Notobijoyo, Panyebar Semangat no. 20, IX 12 Juli 1949

Nirmala, Panyebar Semangat No. 36, XXI, 22 September 1952

St. Iesmaniasita, Balai Pustaka, 16 September 1954

Medan Bahasa No. 5-6, 11 Mei-Juni 1957

120

Rakhmadi K, Panyebar Semangat, 15 Juni 1957 Rahmadi K, Jaya Baya, XII, 10 Desember 1957 Jaya Baya no. 49, XII, 10 Agustus 1958 Dyan Annimataya soer, Tahun 1959 Muryaletana, Jaya Baya no. 10, XVI, 12 November 1961 Jaya Baya, 11 Mei 1963 Basuki Rahmat, Jaya Baya no. 47, XVII, 27 Juli 1963 Moeljono Soedarmo, Panyebar Semangat no. 34, Oktober 1963 Basuki Rakhmat, Jaya Baya, no. 13, XVII, 24 November 1963 Jaya Baya No. 18, XVII, 5 Januari 1964 Anie Sumarno, Jayabaya no. 42, Juni 1964 Panyebar Semangat, 28 Juni 1964 Trim Sutija, Gotong Royong no. 15, II, November 1964 Suyono, Jaya Baya no. 28, 21 Maret 1965 Napsiah Sastro Siswoyo, Jaya Baya, 29, XIX, 28 Maret 1965 Trim Sutija, Jaya Baya. No 39, XIX, 6 Juni 1965 Prajana Murti, Mekar Sari, no. 7 th. X, 1 Juni 1966 Darma Nyata no. 331, VII, Minggu ke III, Oktober 1967 Suripan Sadi Hutomo, Balai Pustaka, 1968 Suripan Sadi Hutomo, Balai Pustaka, 1968 Suripan Sadi Hutomo, Balai Pustaka, 1968 Jaya Baya no. 5, XXIII, 6 Oktober 1968 Jayabaya no 46, XXII, 11 Agustus 1968 JFX. Hoery, Cepu, 1970

121

Trim Sutidja, Jaya Baya no 17, 1971

Moch. Nursjahid, Jayabaya no 15, Desember 1971

Andjrah Lelanabrata, Jayabaya no. 17, Desember 1971

Trim Sutidja, Jayabaya no 38, Maret 1972

Moch. Nursjahid, Jayabaya no 38, Maret 1972

Suripan Sadi Hutomo, Jaya Baya no. 49, Agustus 1972

Mas Tok, Panyebar Semangat no 47, 1973

Koesna, Panyebar Semangat no. 5, Februari 1973

Ardian Syamsuddin, Jaya Baya no 39, 1974

Poer Adhie Prawoto, Jaya Baya no 12, 1974

T.,

Parikesit no 74, Juni 1974

M.

Tajib Moerdjanto, Jaya Baya no 5, September 1974

Poer Adhie Prawoto, Jaya Baya no 4, September 1974

Ngalimu Anna Salim, Jaya Baya no 9, Oktober 1974

M. Tajib Moerjanto, Jaya Baya no 9, Oktober 1974

Suripan Sadi Hutomo, Jaya Baya no 11, November 1974

St.

Sajak-sajak

Surakarta, 1975

Anjrah Lelanabrata, Kumandang no 62, Januari 1975

Mas Gandes, Jaka Lodhang no. 185, Februari 1975

W. Santoso, Panyebar Semangat no 15, April 1975

Soekarman Sastrodiwiryo, Djaka Lodhang no 200, Juni 1975

Susilomurti, Kumandang no 83, Juni 1975

Iesmaniasita,

Guritan,

Antologi

Jawi,

122

Prijanggana, Iesmaniasita, Guritan Antologi Sajak-sajak Jawi, Surakarta, 1975

N. Sakdani, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-Sajak Jawi,

1975

Rachmadi

K.,

Iesmaniasita,

Guritan,

Antologi

Sajak-Sajak

Jawi, 1975

Moeljono Soedarmo, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak- Sajak Jawi, 1975

Sl. Soeprijanto, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-Sajak Jawi, 1975

Djudjuk S, Djaka Lodhang no 195, 1975

Y.A. Damayanti, Dharma Kanda no 302, Agustus 1975

N. Sakdani, Iesmaniasita, Guritan, Antologi Sajak-Sajak Jawi,

1975

Gito, Mekar sari No. 22, Januari 1975

Kadir Wong, Kumandang no 17, April 1975

Sadi Hutomo, Angin Sumilir. Balai Pustaka 1988

Hariwijaya, Antologi Puisi, Bejiharjo, Gunungkidul, 1999

123

DAFTAR PUSTAKA

Christantiowati, 1996. Bacaan Anak Indonesia Tempo Dulu, Jakarta: Balai Pustaka

George Quinn, 1995. Novel Berbahasa Jawa, Semarang: IKIP Press

Gorys Keraff, 1984. Diksi dan Narasi, Ende: Nusa Indah

Jassin, 1974. Gema Tanah Air, Jakarta: Balai Pustaka

Kuntowijoyo, 1987. Budaya & Masyarakat, Yogyakarta: Tiara Wacana

Yogyakarta:

Linus

Suryadi,

1994.

Nafas

Budaya

Yogya,

Benteng

Nugroho dkk, 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Cipta Adi Pustaka

Jawa,

Padmasukatja,

1962.

Ngengrengan

Nusantara

Surabaya: Citra Jaya Murti

Pamoentjak, 1948. Balai Pustaka Sewajarnya, Yogyakarta

Pardi dkk, 1995. Sastra Jawa Terjemahan: Studi Kasus Sastra Jawa Pra-kemerdekaan, Yogyakarta: Proyek Pem- binaan Bahasa & Sastra Indonesia dan Daerah

Slamet

Indonesia Modern,

Mulyana,

1978.

Kesusastraan

Jakarta: Barata

Suparto Brata, 1980. Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa, Jakarta: Depdikbud

Suripan Sadi Hutomo, 1997. Sosiologi Sastra Jawa, Jakarta:

BP

Sutan Takdir Alisjahbana, 1992. Sekilas Riwayat Hidup dan Pengalaman Pribadi di Balai Pustaka, Jakarta: BP

124

Teeuw, 1953. Pokok dan Tokoh, Jakarta: BP

Tirto Suwondo & Herry Mardiyanto, 2001. Sastra Jawa Balai Pustaka 1917-1942, Yogyakarta: MGA

Zoetmulder, 1985. Kalangwan Sastra Jawa Kuna, Jakarta:

Djambatan

125

TENTANG PENULIS

DR. PURWADI, M.HUM lahir di Grogol, Mojorembun, Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 16 September 1971. Gelar sarjana diperoleh di Fakultas Sastra UGM. Kemudian melanjutkan studi pada Program Pascasarjana UGM dan program Doktor di UGM. Kini bertugas sebagai staff pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Tinggal di Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta. Telp 0274-881020.

126