Anda di halaman 1dari 11

Nama : Dinni Monica NIM : 1160010822

Potensiometri adalah suatu cara analisis berdasarkan pengukuran beda potensial sel dari suatu sel elektrokimia. Metode potensiometri digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu ion (ion selective electrode), pH suatu larutan, dan menentukan titik akhir titrasi. Alat-alat yang diperlukan dalam metode potensiometri adalah : 1. elektrode pembanding (refference electrode) 2. 3. elektroda indikator ( indicator electrode ) alat pengukur potensial. Komponen-komponen tersebut disusun membentuk suatu sel potensiometri seperti gambar berikut , Dari gambar dapat dilihat bahwa sel potensiometri disusun dari dua setengah sel yang dihubungkan dengan jembatan garam yang berfungsi penyeimbangkan muatan larutan pada masing-masing setengah sel, selain itu juga berfungsi sebagai penghubung antara dua setengah sel tersebut. Masing-masing setengah sel terdapat elektroda yang tercelup dalam larutan elektrolit untuk ditentukan konsentrasinya oleh potensial elektrodanya. Pemisahan elektrode ini diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi redoks spontan dari laruan-larutan elektrolit yang digunakan dalam sel potensiometri. Potensiometri digunakan sebagai salah satu metode untuk mengukur konsentrasi suatu larutan, dalam hal ini hubungan antara potensial sel dan konsentrasi dapat dijelaskan melalaui persamaan Nerst E = Eo RT ln Q nF Dimana : Eo : standar potensial reduksi R : konsanta gas T : temperatur ( K ) n : jumlah elektron yang terlibat dalam rekasi reduksi F : konstanta faraday

Q : reaksi quosien.

Jika temperatur dalam laboratorium 298 K ,maka ln diubah ke log, maka diperoleh persamaan berikut E = Eo 0,05916 log Q n Dimana E dinyatakan dalam satuan volt Mengingat bahwa potensial dari sel elektrokimia potensiometri adalah Ecell = Ec Ea Elemen-elemen yang diperlukan dalam potensiometri antara lain adalah elektroda pembanding ( acuan ),elektroda Indikator,Jembatan garam dan larutan yang dianalisis. Elektroda pembanding Di dalam beberapa penggunaan analisis elektrokimia, diperlukan suatu elektrode dengan harga potensial setengah sel yang diketahui, konstan, dan sama sekali tidak peka terhadap komposisi larutan yang sedang diselidiki. Suatu elektrode yang memenuhi persyaratan diatas disebut elektrode pembanding (refference electrode ). Ada dua jenis elektrode pembanding akan diuraikan berikut ini. 1. Elektroda pembanding primer Contoh dari elektroda jenis ini adalah elektroda hidrogen standart.Elektroda ini terbuat dari platina hitam agar penyerapan gas hidrogen pada permukaan elektroda dapat terjadi secara maksimal, sehingga reaksi H2 <====> 2 H+ +

2e

Dapat berlangsung dengan cepat dan reversible. Potensial setengah sel dari elektroda pembanding primer adalah nol volt. Elektroda standart hidrogen jarang digunakan dalam proses analisis, tetapi hal ini penting karena elektroda standart yang digunakan untuk menentukan standart potensial sel pada standart setengah sel elektrokimia.

2. Elektroda pembanding sekunder Elektroda standart sekunder adalal elektroda yang sering digunakan dan banyak terdapat di pasar,karena penggunaannya yang lebih praktis. Ada dua macam elektroda standart sekunder yaitu elektroda kalomel dan elektroda perak/perak klorida. a. Elektroda kalomel Elektroda ini terbuat dari tabung gelas atau plastik dengan panjang 10cm dan garis tengah 0,51 cm yang dicelupkan ke dalam air raksa yang kontak dengan lapisan pasta Hg/HgCl2 yang terdapat pada tabung bagian dalam yang berisi campuran Hg, Hg2Cl2 dan KCl jenuh dan dihubungkan dengan larutan KCl jenuh melalui lubang kecil. b. Elektroda perak Elektroda pembanding yang mirip dengan elektroda calomel,terdiri dari suatu elektroda perak yang dicelupkan kedalam larutan KCI yang dijenuhkan dengan AgCI. Jika dibandingkan dengan elektroda kalomel, elektroda perak lebih unggul dalam temperatur yang tinggi. Namun, elektroda perak/perak klorida mempunyai kecenderungan untuk bereaksi dengan larutan membentuk kompleks perak yang tidak larut yang memungkinkan menyumbat jembatan garam yang menghubungkan larutan dan elektroda. Elektroda indikator Elektroda indikator dibagi menjadi dua kategori, yaitu : elektroda logam dan elektroda membran. Elektroda logam dapat dikelompokkan ke dalam elektroda jenis pertama (first kind), elektroda jenis kedua(second kind),elektroda jenis ketiga(third kind) 1. Elektroda logam Potensial dari elektroda logam ditentukan dari posisi reaksi redoks ketika elektroda dan larutan bertemu.terdapat tiga macam elektroda logam yaitu elektroda logam jenis pertama, elektroda logam jenis kedua, dan elektroda logam jenis ketiga. a. Elektroda jenis pertama Elektroda jenis pertama adalah elektroda yang langsung berkeseimbangan dengan kation yang berasal dari logam tersebut .Contoh,elektroda tembaga. Cu2+ + 2e <==> Cu(s)

b. Elektroda jenis kedua Elektroda jenis kedua adalah elektroda yang harga potensialnya bergantung pada konsentrasi suatu anion yang dengan ion yang berasal dari elektroda endapan suatu ion kompleks yang stabil.contoh elektroda perak untuk halida, reaksinya dapat ditulis, AgCl(s) <==> Ag(s) + Cl

c.

Elektroda jenis ketiga Elektroda jenis ketiga adalah elektroda logam yang harga potensialnya bergantung pada konsentrasi ion logam lain. Contoh, elektroda Hg dapatdigunakan untuk menentukan konsentrasi Ca2+ , Zn2+ ,atau Cd2+ yang terdapat dalam larutan.

2. Elektroda membran Elektroda membran telah digunakan dan dikembangakan cukup luas,karena dapat menentukan ion tertentu. Elektroda membran biasa disebut dengan elektroda selektif ion (ion selective electrode).Elektroda membran juga digunakan untuk penentuan pH dengan mengukur perbedaan potensial antara larutan pembanding yang keasamannya tetap dan larutan yang dianalisis.Elektroda membran dibagi empat macam yaitu elektroda membran kaca,elektroda membran cairan, elektroda padatan dan elektroda penunjuk gas. a. Elektroda membran kaca Kualitas paling bagus yang dijual dipasaran untuk elektroda membran kaca terbuat dari Corning 015, sebuah kaca yang terdiri dari 22% Na20, 6% CaO,dan 72% SiO. Ketika dicelupkan ke dalam larutan berair, maka pada bagian luar dari membran akan terhidrat sampai 10nm sampai beberapa jam. Hasil hidrasi dari membran menghasilkan muatan negatif, hal ini merupakan bagian dari fungsi kerja membran silika. Ion natrium, yang mampu bergerak menembus lapisan hidrat berfungsi sebagai ion penghitung. Ion hidrogen dari larutan berdifusi kedalam membran dan membentuk ikatan yang lebih kuat dengan membran sehingga mampu menggeser keberadaan ion Na+ yang mengakibatkan konsentrasiion H+ meningkat pada membran . Elektroda membran kaca sering dijual dalam bentuk kombinasi antara indikator dan elektroda pembanding. Penggunaan satu elektroda sangat bermanfaat untuk pengukuran pH.

Kelebihan elektroda kaca : Larutan uji tidak terkontaminasi Zat-zat yang tidak mudah teroksidasi & tereduksi tidak berinteferensi Elektroda ini bisa dibuat cukup kecil untuk disisipkan dalam volume larutan yang sangat kecil. Tidak ada permukaan katalitis yang kehilangan aktivitasnya oleh kontaminasi seperti platina pada elektroda hidrogen.

Kelemahan elektroda kaca yaitu Pada kondisi pH yang sangat tinggi (misal NaOH 0,1M dengan pH = 13) berakibat : spesifisitas untuk H+ hilang Ketergatungan tegangan pH berkurang Potensial menjadi tergantung pada aNa+ b. Elektroda membran padat Elektroda ini menggunakan polikristal yang terdiri dari satuan kristal garam anorganik. Elektroda selektif ion polikristal ini dibentuk dari pelet tipis Ag2S atau campuran dari Ag2S dan garam perak atau logam sulfida.

c.

Elektroda membran cair Elektroda membran cair adalah suatu fasa cair spesifik yang dibatasi oleh suatu dinding yang berpori inert. Cairan spesifik tersebut terdiri atas senyawa organik dengan berat molekul yang tinggi,tidak larut dalam air dan memiliki struktur yang memungkinkan terjadinya pertukaran ion antara ion bebas dalam larutan yang diukur dengan ion-ion yang terletak pada pusat kedudukan molekul cairan spesifik tersebut contoh: Na+ , K ,Ca2+ , Pb2+

d. Elektroda penunjuk gas Elektroda ini dirancang untuk mendeteksi konsentrasi gas yang terlarut dalam larutan.

Titrasi Potensiometri Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator .Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi pembentukan kompleks ,reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas.

APLIKASI POTENSIOMETRI

pH-METER
Suatu pH-meter adalah contoh aplikasi potensiometer merupakan seperangkat alat pengukur potensial elektroda tanpa aliran arus dan sekaligus menguatkan sinyal yang ditimbulkan pada elektroda gelas dengan suatu tabung vakum elektrik. Suatu pH-meter dengan tipe defreksi, paling tidak mempunyai tipe panel kendali berupa tombol operasi, tombol standardisasi dengan baffer standar, tombol kompensator temperatur yang memungkinkan untuk memperbaiki kepekaannya berdasarkan ketergantungan potensial Nernst terhadap temperatur. Beberapa model dilengkapi juga dengan suatu tombol seleksi skala, dan ini dikenal dengan pH-meter dengan skala diperluas.

Potensiometer
Kelebihan utama potensiometer adalah pada saat potensial sel dibaca, tidak ada arus yang mengalir dalam larutan (arus residual akibat tatanan seldan efek polarisasi dapat diabaikan). Sel standar yang biasanya digunakan untuk mengkalibrasi potensiometer adalah sel Weston jenuh, dengan potensial 1,01864 V pada 20oC yang berkurang sebanyak 4x10-5 V tiap kenaikan temperatur 1oC.

APLIKASI TITRASI POTENSIOMETRI


1.PENENTUAN KANDUNGAN KARBON ORGANIK TOTAL TANAH DENGAN METODE POTENSIOMETRI Unsur karbon di dalam tanah berada dalam 4 wujud, yaitu wujud mineral karbonat, unsur padat seperti arang, grafit dan batubara, wujud humus sebagai sisa-sisa tanaman dan hewan serta mikroorganisma yang telah mengalami perubahan, namum relatif tahan terhadap pelapukan dan wujud yang terakhir berupa sisa-sisa tanaman dan hewan yang telah mengalami dekomposisi di dalam tanah. Berkaitan dengan wujud-wujud unsur karbon tersebut di dalam tanah, maka penentuan kandungan karbon tanah dilakukan berdasarkan kandungan karbon organik totalnya. Prosedur Kerja 1. Penentuan waktu respon Membuat larutan yang mengandung CO2 dengan konsentrasi 9,09 x 10-7M hingga 2,83 x 10-1M dari pengerjaan titrasi larutan NaHCO3 dengan HCl pekat, sambil dilakukan pengadukan dengan pengaduk magnetik dan sekaligus pengukuran potensial CO2 menggunakan elektroda selektif CO2 pada setiap saat (menit). Waktu respon ditentukan berdasarkan saat elektroda menunjukkan respon potensial yang maksimum dan stabil. 2. Penentuan daerah konsentrasi, faktor Nernst dan limit deteksi Dari data yang akan diperoleh pada percobaan 3.3.1, selanjutnya dibuat grafik potensial (mV) terhadap log[CO2]. Dari grafik ini diperoleh bagian garis yang linier sebagai daerah konsentrasi (kurva kalibrasi). Faktor Nernst diperoleh dari harga kemiringan garis linier tersebut, sedangkan limit deteksi ditentukan dengan cara membuat garis ekstrapolasi dari kurva linier dengan garis horisontal pada grafik tersebut, sehingga didapatkan harga pCO2 pada titik perpotongan kedua garis sebagai limit deteksi 3. Penentuan pH optimum Membuat larutan yang mengandung CO2 dengan konsentrasi 8,2 x 10-4M hingga 8,2 x 10-2M pada kondisi pH 2; 3; 4; 4,5; 4;8; 5; dan 6 dari hasil titrasi larutan NaHCO3 dengan HCl pekat sambil melakukan pengadukan dan sekaligus mengukur respon potensialnya menggunakan elektroda selektif CO2. Selanjutnya membuat grafik dengan mengalurkan potensial (mV) terhadap log[CO2] untuk menentukan faktor Nernst dan linieritasnya. PH optimum dipilih dari grafik yang memberikan fungsi paling linier dengan faktor Nernst yang paling mendekati nilai teori. . 4. Penentuan pengaruh ion CH3COO- dan H2PO4- terhadap respon potensial CO2 Membuat larutan yang mengandung CO2 dengan konsentrasi yang sama dengan percobaan 2.3.3, tetapi setiap larutan mengandung ion CH3COO- 10-2 M maupun H2PO4-10-2 M dan sambil melakukan pengadukan, diamati respon potensialnya. Hal yang sama dilakukan terhadap larutan CO2 yang mengandung CH3COO- maupun H2PO4- dengan konsentrasi 10-3M dan 10-4 M. Selanjutnya dibuat grafik potensial (mV) terhadap -log[CO2] untuk menentukan koefisien selektivitasnya (Kij) dari ekstrapolasi garis horisontal dan vertikal pada grafik tersebut. 5. Kurva Kalibrasi Kurva kalibrasi sebagai kurva pembanding untuk penentuan karbon organik total tanah dibuat dari reaksi redoks antara campuran larutan asam oksalat 0,1 M dan H2SO4 0,1 M dengan

KMnO4 0,1 M, sehingga didapatkan CO2 dengan konsentrasi 5 x 10-4 M, 10-3 M, 5 x 10-3 M, 10-2 M, 5 x 10-2 M dan 0,1 M sambil mengukur respon potensialnya bersamaan dengan dilakukannya pengadukan. Selanjutnya membuat grafik potensial (mV) terhadap log[CO2] sebagai kurva kalibrasi. 6. Pengukuran karbon organik total tanah Pengukuran respon potensial CO2 hasil oksidasi C-organik total tanah dengan larutan KMnO4 dalam suasana asam dilakukan berdasarkan 3 (tiga) parameter, yaitu pada berat sampel tanah maupun volume H2SO4 tetap (parameter 1), pada berat sampel bervariasi dan volume H2SO4 tetap (parameter 2), dan pada berat sampel tetap namun volume H2SO4 bervariasi (parameter 3). Dari hasil pengukuran ini diperoleh kondisi yang tepat untuk pengukuran konsentrasi karbon organik total tanah, baik dengan metode potensiometri maupun titrimetri. Untuk penentuan dengan metode potensiometri, 2 gram sampel tanah kering dimasukkan ke dalam gelas beker yang berisi 25 ml. H2SO4 0,1 M, kemudian dititrasi dengan KMnO4 0,1 M secara berlebih sambil diaduk dan diukur potensialnya, sampai diperoleh CO2 yang potensialnya terbesar saat diukur dengan elektroda selektif CO2. Harga potensial ini selanjutnya dimasukkan ke dalam persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi yang telah dibuat. Untuk pengukuran dengan metode titrimetri, sampel yang telah diukur potensialnya selanjutnya disaring dan filtrat yang didapatkan dititrasi balik dengan asam oksalat 0,1 M sampai titik ekivalen tercapai. Kandungan karbon organik total tanah ditentukan berdasarkan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk mengoksidasi C-organik total menjadi CO2. 2.PENENTUAN MAGNESIUM DI DALAM AIR SECARA POTENSIOMETRI Analisis penentuan magnesium dengan metoda titrasi potensiometri dapat dilakukan secara mudah dan dengan ketelitian cukup baik. Cara Kerja Dibuat larutan titer, c(Na-EDTA) = 0,01 mol/L + c(KOH) = 0,1 mol/L, Larutan Auxiliary complexing yaitu c(acetyl aceton) = 0,1 mol/L + c(TRIS) = 0,2 mol/L, masing-masing dibuat I liter. Dibuat juga larutan standar campuran calcium 1000 ppm dan magnesium 500 ppm sebanyak 200 ml. Pada percobaan ini digunakan titer larutan Na-EDTA 0.01 M dan larutan standar campuran Calcium dan Magnesium. Larutan standar campuran merupakan campuran dari standar calcium 1000 ppm (CaCO3) dan standar magnesium 500 ppm (MgO), disebut larutan induk. Parameter percobaannya yaitu variasi konsentrasi larutan campuran standar calsium dan magnesium, tiap tiap parameter dilakukan pengulangan tujuh kali. Percobaan dilakukan dengan membuat larutan standar Magnesium dengan konsentrasi 1, 2, 2.5, 5, dan 10 pmm, dengan cara dipipet larutan induk sebanyak 100, 200, 250, 500 dan 1000 mikro liter, dilarutkan dalam 50 ml air suling. Untuk penentuan calcium dan magnesium ditambah 7,50 mL larutan Auxiliary complexing yaitu c(acetyl aceton) = 0,1 mol/L + c(TRIS) = 0,2 mol/L Masingmasing parameter dititrasi dengan larutan titer c(Na-EDTA) = 0,01 mol/L + c(KOH) = 0,1 mol/L dengan pengulangan 7 kali. Titrasi dilakukan dengan menggunakan alat titroprocessor.

3.PENGARUH UNSUR Al, Mg, DAN Na PADA ANALISIS URANIUM SECARA POTENSIOMETRI Bahan yang digunakan adalah Standard Reference Material uranium oksida, fero sulfat, asam sulfamat, asam nitrat, asam fosfat, amonium heptamolibdat, kalium bikromat, vanadium sulfat, dan larutan uranil nitrat hasil pelarutan PEB; larutan standar Al 1000 ppm, 2000 ppm, 4000 ppm, 6000 ppm, 8000 ppm, dan 10 000 ppm; larutan standar Na 1000 ppm, 2000 ppm, 4000 ppm, 6000 ppm, 8000 ppm, dan 10 000 ppm; dan larutan standar Mg 1000 ppm, 2000 ppm, 4000 ppm, 6000 ppm, 8000 ppm, dan 10 000 ppm. Alat yang digunakan adalah Potensiometer Metrohm 682, peralatan gelas, pemanas listrik, dan elektrode kombinasi Pt kalomel. Cara Kerja 1. Pengukuran kadar uranium tanpa pemanasan Ke dalam masing-masing 7 buah gelas piala ditambahkan 1 ml larutan cuplikan (cuplikan standar, cuplikan contoh uranil nitrat hasil pelarutan dan cuplikan simulasi dengan penambahan unsur pengotor) menggunakan pipet. Kemudian dimasukkan 10 ml air bebas mineral, 2 ml asam amido sulfonat, 16 ml asam fosfat pekat, dan 2 ml ferro sulfat, dan panaskan sampai suhu 40 C selama 1 menit sambil diaduk. Setelah itu ditambahkan 4 ml larutan A, diaduk dengan pengaduk magnet selama 3 menit. Terakhir dimasukkan 40 ml larutan vanadium 0,4 g/l, dan dilakukan titrasi dengan 0,027 N kalium bikromat sampai titik akhir titrasi tercapai. 2. Pengukuran kadar uranium pemanasan dengan asam perklorat Ke dalam masing-masing 7 buah gelas piala ditambahkan 1 ml larutan cuplikan (cuplikan standar, cuplikan contoh uranil nitrat hasil pelarutan dan cuplikan simulasi dengan penambahan unsur pengotor) menggunakan pipet. Kemudian dimasukkan 4 ml asam perklorat, lalu panaskan sampai timbul uap putih. Pemanasan dilanjutkan sampai sekitar 1 menit, lalu dinginkan. Tambahkan 10 ml air bebas mineral, 2 ml asam amido sulfonat, 16 ml asam fosfat pekat, dan 2 ml fero sulfat, dan panaskan sampai suhu 40 C selama 1 menit sambil diaduk. Setelah itu ditambahkan 4 ml larutan A, dan aduk dengan pengaduk magnet selama 3 menit. Terakhir dimasukkan 40 ml larutan vanadium 0,4 g/l, dan dilakukan titrasi dengan 0,027 N kalium bikromat sampai titik akhir titrasi tercapai. 4.PENENTUAN KADAR FLORIDA DAN KLORIDA DALAM SERBUK UO2 SECARA POTENSIOMETRIK ELEKTRODA ION SELEKTIF DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PIROHIDROLISIS Bahan-bahan yang digunakan dalam praktek kerja nyata ini meliputi bahan uji dan bahan kimia murni untuk dianalisis. Bahan uji meliputi serbuk uranium dioksida sedangkan pereaksi-pereaksi yang digunakan adalah: Standar induk klorida 1000 mg/L, standar induk florida 1000 mg/L, larutan Total Ionic Strength Adjusment Buffer (TISAB), larutan Chloride Ionic Strength Adjustor (CISA), larutan kalium dikromat (K2Cr2O7), larutan hidrogen peroksida (H2O2), larutan asam sulfat (H2SO4), larutan natrium hidroksida (NaOH), larutan perak nitrat (AgNO3) dan larutan asam nitrat (HNO3). Air aqudestilat dan larutan standar ion Florida dan klorida. Alat yang digunakan adalah: elektroda ion selektif klorida dan florida, autotitropocessor (potensiometri) Metrohm 672, seperangkat alat pirohidrolisis, dan alat-alat gelas. Pemanas listrik serta peralatan volumetrik standar dan botol polietilen

Cara Kerja A. Pemisahan Klorida dan Florida dari Serbuk Uranium Dioksida secara Pirohidrolisis Ditimbangkan 2,50 gram serrbuk uranium dioksida, kemudian dipindahkan ke dalam suatu gelas piala 250 ml. Serbuk dilarutkan dengan penambahan asam sulfat 2:1 sebanyak 10 mL, selanjutnya ditambahkan tetes demi tetes larutan hidrogen peroksida 30% (untuk kandungan florida) dan kalium dikromat 0,1N (untuk kandungan klorida) sampai serbuk uranium oksida larut sempurna. Larutan di atas kemudian dipindahkan ke dalam tabung contoh yang berada di dalam alat pirohidrolisis, lalu distilat ditampung didalam gelas ukur 100 ml, yang telah di isi dengan 10 mL larutan natrium hidroksida 1 N hingga mempeoleh distilat sebanyak 50 mL. B. Penetapan Klorida dan Florida dengan Alat Potensiometer Ion Selektif Pembuatan larutan standar 1. Larutan Total Ionic Strength Adjusment Buffer (TISAB)[4] Ditimbang 58 g serbuk natrium klorida dan 0,3 g serbuk natrium nitrat, dimasukkan ke gelas piala 600 mL, kemudian ditambahkan 57 mL larutan asam asetat glasial, dilarutkan dengan 500 mL air suling. Diatur pH larutan antara 5,0 sampai dengan 5,5 dengan menambahkan larutanlarutan natrium klorida 5N. Ditambahkan air suling sampai volumenya 1 L. 2. Larutan Chloride Ionic Strength Adjustor (CISA)[4] Ditimbangkan 100 g serbuk kalium nitrat, dimasukkan ke gelas piala 600 mL kemudian ditambahkan 50 mL larutan asam asetat glasial, dilarutkan dengan 500 mL air suling, pH larutan diatur antara 5,0 sampai dengan 5,5 dengan menambahkan larutan natrium hidroksida 5 N, kemudian diencerkan dengan air suling sampai volumenya 1 L. 3. Larutan Asam Nitrat 15 N Diencerkan 475 mL larutan asam nitrat 70% dengan air suling sampai volumenya 500 mL. C. Pengukuran Deret Standar Klorida Dipipet 0,00 mL; 50,00 L; 500,00 L; 5,00 mL dan 10,00 mL standar induk 1000 mg/L klorida kemudian dimasukkan ke labu takar 50 mL, ditambahkan 25 mL larutan CISA, kemudian di ukur besarnya potensial dari masing-masing larutan dengan potensiometer. D. Pengukuran Deret Standar Florida Dipipet 0,00 mL; 50,00 L; 500,00 L dan 5,00 mL standar induk 1000 mg/L florida kemudian dimasukkan ke labu takar 50 mL, ditambahkan 25 mL larutan TISAB, kemudian di ukur besarnya potensial dari masing-masing larutan dengan potensiometer. E. Pengukuran Klorida dan Florida dalam Distilat Dipipet sejumlah distilat kemudian dimasukkan ke labu takar 50 mL, ditambahkan larutan standar CISA untuk klorida dan larutan TISAB untuk florida, pH diatur agar sama dengan standar, kemudian diukur besarnya potensial dari masing-masing larutan dengan potensiometer. F. Pengukuran pengaruh matriks uranium terhadap hasil analisis Klorida dan Florida Dipipet 50 ppm; 100 ppm; 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm dan 300 ppm uranium, kemudian ditambahkan 10 ppm standar larutan florida lalu dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL. Dengan cara yang diambil larutan uranium kemudian ditambahkan 10 ppm standar larutan klorida dan dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL. Setelah itu ditambahkan larutan standar CISA untuk klorida dan larutan TISAB untuk florida, pH diatur agar sama dengan standar, kemudian ditentukan besarnya potensial pengukuran dengan alat potensiometer.

5.ANALISIS KADAR URANIUM DAN KEASAMAN DALAM LIMBAH CAIR UNTUK KEPERLUAN AKUNTING BAHAN NUKLIR TATA KERJA Bahan dan Alat a. Bahan yang digunakan - Limbah cair di laboratorium kimia HR-24, Gd. 65 - K2Cr2O7 - FeSO4.7H2O - H2SO4 96 % - HNO3 65 % - H3PO4 85 % - (NH4)6Mo7O24.4H2O - NH2HSO3 - VOSO4.5H2O - NaOH - H2C2O4 - (NH4)2C2O4 - Na2CO3 - Indikator fenolftalin - Air suling b. Peralatan yang digunakan - gelas piala - pemanas - pengaduk magnet - gelas ukur - labu ukur - pipet volume - pipet micro - Titroprosesor - Multidosimat CARA KERJA 1. Analisis kadar uranium Dilakukan dengan mengambil sampel dalam tiap wadah pada bagian atas kiri 25 ml, bagian tengah 25 ml, dan bagian bawah kanan 25 ml. Dihomogenkan menggunakan pengaduk magnet (Larutan cuplikan). Kemudian dianalisis kadar uraniumnya dengan metoda potensiometri menggunakan alat Titroprosesor (IK/5.4/01/01/U Titro)[3]. Untuk limbah organik larutan cuplikan di-stripping dahulu dengan larutan sodium karbonat 10 % dengan perbandingan volume 1:1. Selanjutnya fasa airnya dianalisis kadar uraniumnya. 2. Analisis keasaman Larutan cuplikan diencerkan keasamannya berkisar 0,1 N, larutan hasil pengenceran diambil 10 mL, ditambahkan 1 mL larutan ammonium oksalat jenuh dan 2 tetes indikator fenolftalin, kemudian dititrasi dengan larutan standar sodium hidroksida 0,1 N.