Anda di halaman 1dari 4

Skenario 1

Seorang wanita, usia 35 tahun datang dengan kaluhan perut yang terasa nyeri kadangkadang panas di ulu hati, bila tidak nyeri penderita dapat makan seperti biasa. Berat badan penderita 65 kg dengan tinggi badan 150 cm. penderita sementara mengikuti pendidikan S2, suami pegawai negeri dan 2 orang anak umur 10 tahun dan 14 tahun.

Kata Kunci
- Wanita 35 tahun - Perut terasa nyeri - Kadang-kadag panas di ulu hati - Tidak dapat makan bila nyeri - BB:65kg, TB:150cm - Sementara mengikuti pendidikan S2 - Suami pegawai negeri - Punya 2 orang anak

Pertanyaan:
1. Bagaimana cara menganamnesis? Cara menganamnesisi. Tanyakan: Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan) Keluhan utama (perut terasa nyeri, kadang-kadang panas di ulu hati) Keluhan penyerta (bila nyeri tidak dapat makan) Riwayat penyakit dahulu (apakah pernah mengalami penyakir serupa sebelumnya) Riwayat penyakit keluarga (adakah keluarga yang mengalami hal serupa) Riwayat minum obat (obat apa yang sedang dikonsumsi) 2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang apa yang perlu dilakukan? PF: Periksa tanda-tanda vital (Tensi, Nadi Respirasi, Suhu)

Inspeksi : lihat keadaan umum pasien, (baik) Palpasi : nyeri tekan pada epigastrium Perkusi : ketuk daerah abdomen Auskultasi : PP: - Endoskopi - Histopatologi - Urea breath test - Biopsi mukosa / analisis cairan lambung 3. Apa diagnosa dan diagnosa bandingnya? Dx : Gastritis DD : Ulkus peptikum, Reflux gastroesofageal 4. Apa etiologi penyakitnya? Sejauh ini keterkaitan etiologic terpenting adalah dengan infeksi kronis oleh Helicobacter pylori. Namun ada juga yang terjadi akibat autoantibodi terhadap sel parietal kelenjar lambung, khususunya terhadap enzim penghasil asam H+, K+ATPase. Cedera autoimun dmenyebabkan kerusakan kelenjar dan atrofi mukosa sehingga produksi faktor intrinsic dan asam berkurang. 5. Bagaimana patogenesis dan patofisiologinya? Patogenesis: - Meskipun tidak meginvasi jaringan, H. pylori memicu respon peradangan dan imun yang intens. Dapat meningkatkan pembentukan sitokin proinflamasi serta merekrut dan mengaktifkan neutrofil. - Produk gen bakteri dapat menyebabkan cedera sel epitel dan induksi peradangan. H. pylori mengeluarkan suatu urease yang menguraikan urea membentuk senyawa toksik, seperti amonium klorida dan monokloramin. - Beberapa protein H. pylori bersifat imunogenik, dan protein ini memicu respon imun hebat di mukosa.

Patofisiologi: Getah lambung asam murni mampu mencera semua jaringan hidup. Tapi mengapa lambung sendiri tidak dicerna?. Terdapat 2 faktor yang melindungi lambungdari autodigesti: mukus lambung dan sawar epitel. Menurut teori dua-komponen sawar mukus dari Hollander, lapisan mukus lambung yang tebal dan liat merupakan garis depan pertahanan terhadap autodigesti. Lapisan ini memberi perlindungan terhadap trauma mekanis dan agen kimia. Kuman Helicobacter pylori dapat menyebabkan cedera sel epitel dan induksi peradangan. Oleh sebab itu pada awal infeksi mukosa lambung akan menunjukkan respon inflamasi akut. Selain itu, obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID), termasuk aspirin, dapat menyebabkan perubahan kualitatif mukus lambung yang dapat mempermudah terjadinya degradasi mukus oleh pepsin. Obat golongan NSAID menghambat pembentukan prostaglandin yang berperan penting dalam pertahanan mukosa lambung. Sters juga, dapat mmenghasilkan adrenalin yang menyebabkan produksi asam HCl lambung meningkat, yang dapat merusak mukosa lambung apabila produksinya berlebihan. 6. Bagaimana manifestasi kliniknya? Kebanyakan gastritis tanpa gejala (asimptomatik). Keluhan yang sering dihubungkan dengan gastritis adalah nyeri panas dan pedih di ulu hati disertai mual, kadangkadang sampai muntah. Keluhan-keluhan tesebut sebenarnya tidak berkorelasi baik dengan gastritis. 7. Komplikasi apa yang dapat terjadi? Komplikasi : perdarahan saluran cerna, ulkus, anemia pernisiosa 8. Bagaimana prognosis penyakit ini? Prognosis penyakit : baik

9. Bagaimana penatalaksanaanya? Penatalaksanaan Obat 1 PPI dosis ganda PPI dosis ganda PPI dosis ganda Obat 2 Klarithomisin (2 x 500 mg) Klarithomisin (2 x 500 mg) Tetrasiklin (4 x 500 mg) Obat 3 Amoksisilin (2 x 1000 mg) Metronidazol (2 x 500 mg) Metronidazol (2 x 500 mg) Subsalisilat/subsitral Obat 4