Anda di halaman 1dari 2

ALERGI

Sindrom Steven Johnson


bukAn pEnyAkIt AnEh

Masih sangat sedikit masyarakat yang mengenal tanda-tanda penyakit ini. Padahal, persentasi angka kematiannya bisa dikatakan cukup tinggi, yakni 518%.

ernahkah anda mendapati, entah di surat kabar atau pun media elektronik, tentang ditemukannya penyakit aneh yang membuat pederitanya terlihat sangat menyeramkan dengan seluruh tubuh hingga bagian wajah (mata, hidung, dan bibir) tampak terkelupas, hitam, serta berdarah? sang pasien mungkin sudah mencoba berobat ke mana-mana. bahkan, bukan tak mungkin pasien merasa dirinya menjadi korban malpraktik. padahal, dalam dunia medis, ada yang disebut dengan sindrom steven Johnson (ssJ). sindrom steven Johnson nyatanya bukanlah penyakit aneh. penyakit ini memang

terlihat seram jika kita tidak paham. perkumpulan dokter spesialis kulit dan kelamin, baru-baru ini, menyelenggarakan simposium kegawat-daruratan dalam bidang dermatologi dan menyimpulkan bahwa sindrom steven Johnson merupakan penyakit darurat dalam bidang ilmu kesehatan kulit dan kelamin.

Meskipun dokter yang memberikan obatsepanjang obat itu diperlukan serta dengan dosis yang benardan menyebabkan alergi, itu bukanlah termasuk malpraktik.

AwAl KemunculAn pada 1922, steven dan Johnson menemukan satu tipe akut dari penyakit eemsuatu penyakit yang bisa disebabkan oleh bakteri, virus, mikosis, dan alergi obat-obatan. Yang disebut terakhir adalah apa yang sekarang dikenal dengan sindrom steven Johnson. Jenis obat apa pun bisa menimbulkan alergi entah itu antipiretik (parasetamol), antibiotika, sulfa, carbamazepin, barbiturat, atau dilantindan sifatnya sangat individual (unik) pada masingmasing orang. di sinilah pentingnya kesadaran

24

ALERGI

masyarakat untuk mencatat obat-obatan yang pernah menyebabkan alergi pada dirinya. DiAgnosis diagnosis ssJ dapat dibuat bila ditemukan tanda-tanda utama. pertama, kelainan pada kulit berupa purpura (bercak-bercak perdarahan di bawah kulit). tanda lainnya berupa bercak merah bulat dengan bagian tengah terdapat lepuh kecil, iris formis, hingga kulit terkelupas luas, basah, dan berdarah. kedua, kelainan pada mukosa (hidung, mulut, mata, kelamin). bentuknya bisa berupa bibir terkelupas berdarah, kelamin (penis atau vagina) lepuh terkelupas, dan konjungtivitis (radang selaput bola mata). Gejala-gejala ssJ seperti di atas bisa timbul dengan cepat, antara lain dalam waktu satu atau dua hari setelah minum obat. bercakbercak merah akan tampak di hampir seluruh tubuh disertai lesi pada mukosa. Gejala umumnya berupa demam 3940 derajat Celsius, badan terasa lesu, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. PenAngAnAn Jika hal itu terjadi, hentikan segera semua obat yang sedang dikonsumsi. hal ini sangat membutuhkan kesadaran penuh dari pasien. karena, meskipun dokter yang memberikan obat sepanjang obat itu diperlukan dan dengan dosis yang benardan menyebabkan alergi, itu bukanlah termasuk malpraktik. pemeriksaan patologi pada ssJ hanya dilakukan pada kasuskasus yang sulit. pasien yang sakit berat harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dirawat oleh

ahli penyakit dalam. pasien akan diberikan cairan infus dan terapi melalui i.v. selain itu, pasien juga akan diberikan obat anti alergi i.v (intra vena/pembuluh darah balik) dosis tinggi dalam jangka pendek yang dosisnya akan dikurangi bertahap. untuk antibiotik, akan diberikan yang berspektrum luas dan jarang menyebabkan alergi sebagai pelindung terjadinya infeksi. selain itu, juga dilakukan diet tinggi kalori tinggi protein dan pemantauan setiap hari. untuk mata, pengobatannya akan dilakukan sesuai lesi. obat lesi kulit sendiri tak ada yang khusus. bila sakit, bisa menggunakan salap burnazin atau salap antibiotika.

dari semua itu, terpenting bagi pasien ssJ adalah jangan terlambat mengunjungi dokter. karena, seperti yang telah diterangkan di atas, ssJ bisa menyebabkan kematian, sepsis, pnemonia, gagal ginjal akut, hingga kebutaan.

Studi Laboratorium terkait SSJ


tidak ada penelitian laboratorium (selain biopsi) yang dapat secara definitif menetapkan diagnosis Sindrom Stevens-Johnson Complete blood Count (CbC) dapat mengungkapkan jumlah normal sel darah putih (WbC) atau leukositosis non-spesifik yang dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi bakteri Elektrolit dan kimia lainnya sangat mungkin diperlukan untuk membantu mengelola masalah-masalah yang terkait kultur darah, urine, dan luka dapat diindikasikan ketika infeksi terdeteksi secara klinis bronkoskopi, esophagogastroduodenoscopy (EGD), dan kolonoskopi juga dapat diindikasikan
dr. Ade Setiati, Sp.KK Dokter Spesialis Kulit & Kelamin RS Pondok Indah

2
Keterangan: 1. masa akut 2. contoh kelainan pada mukosa

25