Anda di halaman 1dari 22

Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012

1
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Diklat instruktur/pengembang matematika SD tingkat lanjut adalah diklat yang dirancang
untuk para guru Sekolah Dasar peserta diklat tingkat dasar yang dipandang memiliki
kompetensi lebih dalam penguasaan materi pembelajaran, penguasaan metode, penguasaan
teknik evaluasi, maupun kemampuan mengim-baskan pengetahuan yang diperolehnya
kepada rekan-rekan guru lainnya. Pemilihan peserta diklat dilakukan oleh lembaga
PPPPTK Matematika didasarkan pada hasil evaluasi diklat tingkat dasar yang meliputi
nilai pretes, postes, kecakapan meng-komunikasikan gagasan, sikap kepemimpinan serta
kepribadiannya. Oleh sebab itu materi pengetahuan matematika yang diberikan cederung
ke wawasan keilmuan plus bagi guru SD dalam arti materi yang diberikan cenderung
diperuntukkan bagi pelayanan kepada siwa berbakat.
Materi bilangan Asli, Cacah, dan Bulat yang disajikan pada modul ini diperuntukkan bagi
peserta diklat instruktur/pengembang tingkat lanjut. Materi yang dibahas meliputi:
bilangan persegi, bilangan kubik, ketrampilan menguadratkan, penarikan akar kuadrat
bilangan persegi,`penarikan akar pangkat tiga bilangan kubik, tripel Pythagoras, pola dan
barisan bilangan, pembagian bersisa, serta keterbagian bilangan. Materi yang dibahas
mungkin tidak begitu bersentuhan langsung dengan kebutuhan (demand) guru di lapangan
yang diperuntukkan bagi siswa kebanyakan sebab materi-materi yang berkenaan dengan
itu sudah dibahas pada diklat tingkat dasar.
B. TUJUAN
Modul ini ditulis untuk para peserta Diklat Lanjut Matematika Sekolah Dasar agar seusai
mengikuti diklat ini dapat:
1. Memperoleh wawasan keilmuan mengenai bilangan persegi, bilangan kubik,
ketrampilan menguadratkan, penarikan akar kuadrat bilangan persegi,`penarikan akar
pangkat tiga bilangan kubik, tripel Pythagoras, pola dan barisan bilangan, pembagian
bersisa, serta keterbagian bilangan.
2. Menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki untuk memberikan pelayanan
kepada siswa berbakat
3. Mengimbaskan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan seprofesi.
C. RUANG LINGKUP
Pokok-pokok materi yang dibahas melalui modul ini meliputi:
1. Bilangan kuadrat, bilangan kubik, penarikan akar kuadrat bilangan persegi, penarikan
akar pangkat tiga bilangan kubik, dan tripel Pythagoras
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
2
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
2. Pola dan barisan bilangan
3. Pembagian bersisa dan keterbagian bilangan
D. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN
Setelah selesai mengikuti diklat ini para peserta diharapkan memiliki kompetensi untuk:
1. memberikan penanaman konsep asal usul bilangan persegi (bilangan kuadrat)
2. memberikan penanaman konsep asal usul bilangan kubik (bilangan berpangkat tiga)
3. menguadratkan bilangan bulat secara cepat dan menarik akar bilangan tersebut
4. menentukan rumus suku ke-n suatu barisan bilangan baik secara intuisi maupun secara
matematika
5. menggunakan rumus suku ke-n untuk memecahkan masalah
6. menentukan sisa pembagian dari suatu bilangan oleh bilangan lain dan menerapkannya
dalampemecahan masalah
7. menurunkan sifat-sifat keterbagian bilangan dan menerapkannya untuk mennyeli-diki
apakah suatu bilangan terbagi oleh bilangan 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 13.
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
3
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
BAGIAN II
POLA DAN BARISAN BILANGAN
A. Bentuk-bentuk Pola Bilangan
Pada bagian ini akan diperkenalkan beberapa bentuk pola dan barisan bilangan yang
disajikan dalam bentuk gambar dan dalam bentuk pola bilangan yang sajiannya
dinyatakan dalam lambang-lambang dan angka-angka. Perhatikan pola-pola berikut.
Pola 1.
1 4 9 16 25
1 1 + 3 1 + 3 + 5 1 + 3 + 5 + 7 1 + 3 + 5 + 7 + 9
Pola 2.
1 3 6 10 15
1 1 + 2 1 + 2 + 3 1 + 2 + 3 + 4 1 + 2 + 3 + 4 + 5
Pola 3.
2 6 12 20
2 2 + 4 2 + 4 + 6 2 + 4 + 6 + 8
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
4
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Dari pola-pola yang dicontohkan tersebut di atas, tampak adanya pola ditinjau menurut
bentuknya, pola ditinjau menurut dari banyaknya obyek yang diarsir dan tidak diarsir.
B. Menentukan Rumus Umum Suku dan Jumlah Suku
Untuk menentukan rumus umum suku ke n atau jumlah hingga n suku yang pertama
dapat disimak pada uraian berikut ini.
Pola 1.
a) Ditinjau menurut bentuk geometrinya ÷ pola persegi (bujur sangkar)
b) Ditinjau menurut banyaknya komponen-komponen pembentuknya (banyaknya
persegi pembentuk bangun iu) ÷ pola bilangan kuadrat
c) Ditinjau menurut pola komponen yang diarsir dan tidak diarsir polanya adalah
1, 1 + 3, 1 + 3 + 5, 1 + 3 + 5 + 7, 1 + 3 + 5 + 7 + 9
Dari ketiga sudut pandang itu selanjutnya diperoleh definisi bahwa barisan bilangan u
1
,
u
2
, u
3
, u
4
, u
5
, …, u
n
dengan
u
1
= 1 = 1
2
u
2
= 4 = 2
2
u
3
= 9 = 3
2
u
4
= 16 = 4
2
u
5
= 25 = 5
2
disebut barisan bilangan bujur sangkar atau barisan bilangan persegi dengan rumus
suku ke n ÷u
n
= n
2
. Sementara s
1
, s
2
, s
3
, s
4
, s
5
, …, s
n
dengan
s
1
= 1
s
2
= 1 + 3
s
3
= 1 + 3 + 5
s
4
= 1 + 3 + 5 + 7
s
5
= 1 + 3 + 5 + 7 + 9
s
n
= 1 + 3 + 5 + 7 + 9 + … + (2n – 1)
disebut jumlah n suku bilangan ganjil yang pertama.
Perhatikan bahwa peragaan gambar pada pola 1 tersebut sekaligus menunjukkan
(memperagakan) bahwa
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
5
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Jumlah n suku bilangan ganjil yang pertama sama dengan suku ke-n
barisan bilangan kuadrat yaitu
2
suku
) 1 2 ( ... 9 7 5 3 1 n n
n
= ÷ + + + + + +
            
Pola 2.
a) Ditinjau menurut bentuk geometrinya ÷ pola segitiga
b) Ditinjau menurut banyaknya komponen-komponen pembentuknya (banyaknya
lingkaran-lingkaran pembentuknya) ÷pola bilangan segitiga
c) Ditinjau menurut pola komponen yang diarsir dan tidak diarsir pola adalah.
1, 1 + 2, 1 + 2, 1 + 2 + 3, 1 + 2 + 3 + 4, 1 + 2 + 3 + 4 + 5, …
Dari ketiga sudut pandang itu selanjutnya diperoleh definisi bahwa barisan bilangan u
1
,
u
2
, u
3
, u
4
, u
5
, …, u
n
dengan
u
1
= 1
u
2
= 3
u
3
= 6
u
4
= 10
u
5
= 15
disebut barisan bilangan segitiga sedangkan s
1
, s
2
, s
3
, s
4
, s
5
, …, s
n
dengan
s
1
= 1
s
2
= 1 + 2
s
3
= 1 + 2 + 3
s
4
= 1 + 2 + 3 + 4
s
5
= 1 + 2 + 3 + 4 + 5
s
n
= 1 + 2 + 3 + … + n
disebut jumlah n suku bilangan asli yang pertama.
Perhatikan bahwa peragaan gambar pada pola 2 tersebut sekaligus menunjukkan
(memperagakan) bahwa
Jumlah n suku bilangan asli yang pertama sama dengan suku ke n dari barisan
bilangan segitiga, dan dapat dibuktikan bahwa 1 + 2 + 3 + … + n =
2
) 1 ( + n n
Untuk membuktikannya dapat dilakukan dengan beberapa cara. Beberapa cara di
antaranya adalah:
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
6
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Cara 1.
Dengan membalik suku-sukunya. Perhatikan bahwa:
Bentuk (1) dapat ditulis secara urut maupun terbalik dalam bentuk sebagai berikut.
urut ÷ s
n
= 1 + 2 + 3 + 4 + … + (n – 3) + (n – 2) + (n – 1) + n
terbalik ÷s
n
= n + (n – 1) + (n – 2) + (n – 3) + … + 4 + 3 + 2 + 1
2s
n
=
                      
suku n
) 1 ( ) 1 ( ) 1 ( ... ) 1 ( ) 1 ( ) 1 (
sebanyak
n n n n n n + + + + + + + + + + + +
2s
n
= n(n + 1) atau s
n
= ) 1 (
2
1
+ n n atau
s
n
= 1 + 2 + 3 + 4 + … + n =
2
) 1 (
) 1 (
2
1 +
= +
n n
n n
Cara 2.
Dengan menyelidiki banyaknya tingkat penyelidikan hingga diperoleh selisih tetap.
Perhatikan bahwa:
Jumlah sampai dengan 1 suku = s
1
= 1
2 suku = s
2
= 1 + 2 = 3
3 suku = s
3
= 1 + 2 + 3 = 6
4 suku = s
4
= 1 + 2 + 3 + 4 = 10
5 suku = s
5
= 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15
(i) 1 , 3 , 6 , 10 , 15
(ii) 2 , 3 , 4 , 5
(iii) 1 , 1 , 1
Tampak bahwa selisih tetapnya diperoleh hingga 2 tingkat penyelidikan. Itu artinya 1, 3,
6, 10, 15, … dan seterusnya adalah barisan bilangan berderajat dua, sehingga
pemisalannya adalah fungsi berderajat 2 dari n yakni s
n
= an
2
+ bn + c.
Dari s
n
= an
2
+ bn + c akan diperoleh
s
1
= a(1)
2
+ b(1) + c = a + b + c
s
2
= a(2)
2
+ b(2) + c = 4a + 2b + c
s
3
= a(3)
2
+ b(3) + c = 9a + 3b + c
s
4
= a(4)
2
+ b(4) + c = 16a + 4b + c
s
5
= a(5)
2
+ b(5) + c = 25a + 5b + c.
Sehingga
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
7
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
(i) a + b + c , 4a + 2b + c , 9a + 3b + c , 16a + 4b + c , 25a + 5b + c
(ii) 3a + b 5a + b 7a + b 9a + b
(iii) 2a 2a 2a
Dengan menyamakan komponen-komponen yang ditandai dengan tanda petak ª ª
urut dari bawah ke atas akan diperoleh nilai tertentu untuk a, b, dan c
sehingga rumus umum untuk s
n
dapat ditentukan. Perhatikan
Dari (iii) 2a = 1
a =
2
1
÷ (ii) 3a + b = 2
2
2
1
3 = + |
.
|

\
|
b
2
2
1
1 = + b
b =
2
1
÷ (i) a + b + c = 1
1
2
1
2
1
= + + c
c = 0.
a =
2
1
b =
2
1
¬s
n
= an
2
+ bn + c
c = 0 = 0
2
1
2
1
2
+ + n n
= ). 1 (
2
1
) (
2
1
2
1
2
1
2 2
+ = + = + n n n n n n Terbukti.
Pola 3.
a) Ditinjau menurut bentuk geometrinya ÷ pola persegipanjang
b) Ditinjau menurut banyaknya komponen-komponen pembentuknya (banyaknya petak
persegi pembentuk bangun itu) ÷ pola bilangan persegipanjang (panjang × lebar ÷ 1
× 2, 2 × 3, 3 × 4, 4 × 5, …) atau 2, 6, 12, 20, …
c) Ditinjau menurut pola komponen yang diarsir dan tidak diarsir pola adalah
2, 2 + 4, 2 + 4 + 6, 2 + 4 + 6 + 8, …
Dari ketiga sudut pandang itu selanjutnya diperoleh definisi bahwa barisan bilangan u
1
,
u
2
, u
3
, u
4
, u
5
, …, u
n
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
8
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
u
1
= 1 × 2 = 2
u
2
= 2 × 3 = 6
u
3
= 3 × 4 = 12
u
4
= 4 × 5 = 20
u
5
= 5 × 6 = 30
u
n
= n × (n + 1).
disebut barisan bilangan persegipanjang dengan rumus suku ke-n adalah
u
n
= n(n + 1). Sementara s
1
, s
2
, s
3
, s
4
, s
5
, …
s
1
= 2 = 2
s
2
= 2 + 4 = 6
s
3
= 2 + 4 + 6 = 12
s
4
= 2 +4 + 6 + 8 = 20
s
5
= 2 + 4 + 6 + 8 + 10… = 30
s
n
= 2 + 4 + 6 + … + 2n … = n ×(n + 1)
disebut jumlah n suku bilangan genap yang pertama.
Perhatikan bahwa peragaan gambar pada pola 3 tersebut sekaligus menunjukkan
(memperagakan) bahwa
Jumlah n suku bilangan genap yang pertama sama dengan suku ke-n barisan
bilangan persegipanjang yaitu ) 1 ( 2 ... 8 6 4 2
suku
+ = + + + + + n n n
n
        
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
9
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
LATIHAN 1
1. Jika untuk membuat pola segitiga-segitiga berikut diperlukan batang korek api. Berapa
batang korek api yang diperlukan untuk membentuk pola segitiga hingga 10 lapis, 20
lapis, dan 100 lapis.
Petunjuk
a. Carilah rumus umumnya dengan menyelidiki selisih tetapnya dicapai pada berapa
tingkat penyelidikan.
Berilah pemisalan u
n
= an + b................................. jika u
n
berderajat 1
u
n
= an
2
+ bn + c ...................... jika u
n
berderajat 2
u
n
= an
3
+ bn
2
+ cn + d............. jika u
n
berderajat 3
u
n
= an
4
+ bn
3
+ cn
2
+ dn + e... jika u
n
berderajat 4
b. Setelah suku umumnya diketahui, barulah dimasukkan nilainya untuk n = 10, n =
20, dan n = 100. (kunci u
10
= 165, u
20
= 630, u
100
= 15.150)
2. Tunjukkan bahwa
a) 1
2
+ 2
2
+ 3
2
+ 4
2
+ … + n
2
=
6
) 1 2 )( 1 ( + + n n n
b) 1
3
+ 2
3
+ 3
3
+ 4
3
+ … + n
3

=

4
) 1 (
2 2
+ n n
c) 1 × 2 + 2 × 3 + 3 × 4 + … + n × (n + 1) =
3
) 2 )( 1 ( + + n n n
3. Dengan menggunakan rumus pada soal no.2, hitunglah
a) 1
2
+ 2
2
+ 3
2
+ 4
2
+ … hingga 30 suku
b) 1
3
+ 2
3
+ 3
3
+ 4
3
+ … hingga 20 suku
c) 1 × 2 + 2 × 3 + 3 × 4 + … hingga 10 suku
d) 20
2
+ 21
2
+ 22
2
+ . . . + 50
2
= . . .
e) 20
3
+ 21
3
+ 22
3
+ . . . + 50
3
= . . .
f) 20 × 21 + 21 × 22 + 22 × 23 + . . . + 50 × 51 = . . .
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
10
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
BAGIAN III
PEMBAGIAN BERSISA DAN KETERBAGIAN BILANGAN
A. PEMBAGIAN BERSISA
1. Pendekatan Kontekstual
Misalkan hari ini hari senin, hari apakah 3 hari lagi (mendatang), 10 hari lagi
(mendatang), 17 hari lagi, dan 24 hari lagi? Bagaimana jika yang ditanyakan adalah 100
hari lagi, 500 hari lagi, 1000 hari lagi, atau yang lainnya.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, siswa dapat kita ajak melihat fakta dari tabel
hari-hari mendatang hingga hari ke-30 jika hari ini hari senin.
Dari tabel di atas secara faktual mudah dilihat bahwa
3 hari lagi = 3 hari mendatang = hari ini + 3 hari lagi
= hari ke- 4
= hari Kamis.
10 hari lagi = 10 hari mendatang = hari ini + 10 hari lagi
= hari ke- 11
= hari Kamis
17 hari lagi = 17 hari mendatang = hari ini + 17 hari lagi
= hari ke- 18
= hari Kamis
24 hari lagi = 24 hari mendatang = hari ini + 24 hari lagi
= hari ke- 25
= hari Kamis.
Ternyata berdasar fakta semuanya hari Kamis.
Bagaimanna seandainya tanpa ada tabel tetapi siswa tetap dapat menjawab dengan benar?
Untuk maksud tersebut guru dapat mengarahkan penalarannya menggunakan tabel tujuh-
tujuh seperti berikut.
20 minggu
21. Senin
22. Selasa
23. Rabu
24. Kamis
25. Jumat
26. Sabtu
27. Minggu
28. Senin
29. Selasa
10. Kamis
11. Jumat
12. Sabtu
10. Minggu
11. Senin
12. Selasa
13. Rabu
14. Kamis
15. Jumat
16. Sabtu
Senin
1. Selasa
2. Rabu
3. Kamis
4. Jumat
5. Sabtu
6. Minggu
7. Senin
8. Selasa
9. Rabu
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
11
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
0 Senin
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Senin
8 .
9 .
10.
11.
12.
13.
14.
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minngu
Senin
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Senin
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Kamis
Jumat
Sabtu
Dari tabel di atas, tampak bahwa 3 hari lagi, 10 hari lagi, 17 hari lagi, dan 24 hari lagi
semuanya adalah hari Kamis. Sekarang siswa ditanya “ apa hubungannya antara bilangan-
bilangan 3, 10, 17, 24, …?
Siswa dapat diajak memperhatikan pola bilangannya itu, yakni
3, 10, 17, 24, …
Dari pola itu tampak bahwa
10 = 3 + 7
17 = 10 + 7
24 = 17 + 7
…..dan seterusnya …
Pola itu sebenarnya juga dapat ditulis dalam bentuk
10 = 3 + 7 = 3 + (1 × 7) = 1 × 7 + 3
17 = 3 + 7 + 7 = 3 + (2 × 7) = 2 × 7 + 3
24 = 3 + 7 + 7 + 7 = 3 + (3 × 7) = 3 × 7 + 3
Kesimpulannya hari-hari yang sama adalah hari-hari yang merupakan kelipatan 7 ditambah
3, atau
Hari yang sama = sisa pembagian bilangan itu oleh 7
Dengan begitu maka perhitungan untuk misalnya 100 hari lagi, 500 hari lagi, dan 1000
hari lagi dapat dilakukan sebagai berikut
1. Dicari sisa pembagiannya dengan 7
7 7
7
7
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
12
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
2. Hari yang dimaksud = hari ini + sisa
Hasil perhitungan memperlihatkan bahwa 100 : 7 bersisa 2
500 : 7 bersisa 3
1.000 : 7 bersisa 6.
Dengan demikian jika hari ini hari Senin maka
100 hari lagi = Senin + 2 hari
= Rabu
500 hari lagi = Senin + 3 hari
= Kamis
1000 hari lagi = Senin + 6 hari
= Minggu.
2. Pendekatan Formal
Pendekatan formal adalah pendekatan matematis, yakni diturunkan dari kebenaran-
kebenaran terdahulu yang telah diterima. Kebenaran yang dimaksud mulai dari kebenaran
berdasarkan definisi, kebenaran berdasar aksioma (kebenaran pangkal/kebenaran yang
diterima tanpa bukti), sifat-sifat terdahulu, atau teorema-teorema terdahulu yang telah
diterima.
Secara matematik hanya dikatakan bahwa bilangan yang bersifat periodik disebut sebagai
bilangan modulo. Sebagai contoh misalnya
100 : 7 bersisa 2 ditulis 100 ÷ 2 (mod 7)
500 : 7 bersisa 3 ditulis 500 ÷ 3 (mod 7)
1.000 : 7 bersisa 6 ditulis 1.000 ÷ 6 (mod 7)
7 1 0 0
0 1 4
0
1
yang terbagi
sisa
=

0
7
3 0
2 8
2


yang terbagi
Sisa terakhir
=
=
=
7 5 0 0
0 7 4
0
5
yang terbagi
sisa
=

0
9
1 0
= 7
3


yang terbagi
Sisa terakhir
=
4
=
7 1 0 0 0
0 1
0
1
yang terbagi
sisa
=

0
7
3 0
2 8
2


yang terbagi
Sisa terakhir
=
=
=
sisa
yang terbagi
=
0
4
6
=
1

Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
13
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Selanjutnya secara matematik didefinisikan bahwa
a ÷ b (mod m) · b a ÷ = km, dengan k bilangan bulat.
Kita tidak akan membahas lebih dalam tentang bilangan modulo karena sudah di luar
wilayah yang dibahas, hanya saja dalam kehidupan sehari-hari terapannya seperti contoh
kontekstual tersebut di atas.
LATIHAN 2
Tentukan.
1. Jika hari ini hari Kamis, 100 hari lagi adalah hari …..
2. Jika hari ini hari Selasa, 300 hari lagi adalah hari …..
3. Jika hari ini hari Sabtu, 500 hari lagi adalah hari …..
4. Jika hari ini hari Rabu, 400 hari lagi adalah hari …..
5. Jika hari ini hari Senin, 700 hari lagi adalah hari …..
6. Jika hari ini hari Sabtu, 600 hari lagi adalah hari …..
7. Jika hari ini hari Rabu, 900 hari lagi adalah hari …..
8. Jika hari ini selasa kliwon, 22 hari lagi adalah hari ……
66 hari lagi adalah hari …..
88 hari lagi adalah hari …..
777 hari lagi adalah hari …..
999 hari lagi adalah hari …..
B. KETERBAGIAN BILANGAN
1. Bilangan Habis Dibagi 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 13
Untuk mengetahui secara cepat apakah suatu bilangan bulat habis dibagi oleh bilangan
bulat yang lain misal apakah bilangan itu habis dibagi oleh bilangan 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10,
11, 13 (Sukayati, 1998 : 4 - 12; Sukardjono, 1996 : 24 – 27) berikut akan diberikan
sedikit uraian berkenaan dengan ciri-cirinya. Uraian lebih lengkap dapat dilihat pada
Paket Pembinaan Penataran (PPP) yang asli yang telah diuraikan oleh kedua penulis
tersebut masing-masing di tahun 1998/1999 dan 1995/1996. Pada paket yang asli telah
disampaikan bukti-bukti matematisnya secara umum. Namun untuk memberikan warna
lain, pada makalah ini akan diberikan contoh bukti untuk bilangan-bilangan yang terdiri
dari 5 angka saja. Alasannya bilangan-bilangan yang lebih dari 5 angka dapat
dibayangkan dengan mudah sebagaimana bilangan yang terdiri dari 5 angka tersebut.
Demikian pula bilangan yang kurang dari 5 angka.
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
14
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Secara umum bilangan yang terdiri dari 5 angka tersebut dimisalkan sebagai abcd.
Sebagai contoh misalnya untuk bilangan 25382, maka yang dimaksud adalah a = 2,
b = 5, c = 3, d = 8, e = 2.
Perhatikan bahwa
25382 = 2 × 10
4
+ 5 × 10
3
+ 3 × 10
2
+ 8 × 10
1
+ 2 × 10
0
, atau
= 2 × 10
4
+ 5 × 10
3
+ 3 × 10
2
+ 8 × 10
1
+ 2, atau
= 2 × 10.000 + 5 × 1.000 + 3 × 100 + 8 × 10 + 2. Sehingga
abcde = a × 10.000 + b × 1.000 + c × 100 + d × 10 + e
Ciri-ciri bilangan yang habis dibagi:
Ciri 1 : Habis dibagi 2
Suatu bilangan habis 2 apabila angka terakhirnya habis dibagi oleh bilangan
0,2,4,6, atau 8 dengan kata lain apabila angka terakhirnya genap (habis dibagi 2).
Contoh:
Bilangan 53210 dan 24136 adalah bilangan-bilangan yang habis dibagi 2 sebab angka
terakhirnya masing-masing berupa bilangan genap. Sedangkan 34125 tidak habis dibagi
2 sebab angka terakhirnya 5 tidak habis dibagi 2.
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10
1
+ e
= (10.000a + 1.000b + 100c + 10d) + e
Karena komponen I jelas habis dibagi 2, agar komponen seluruhnya habis dibagi 2
maka komponen II harus habis dibagi 2. Dengan kata lain e = 0,2,4,6,8 atau e berupa
bilangan genap .
Ciri 2 : Habis dibagi 4
Suatu bilangan habis dibagi 4 jika dua angka terakhirnya merupakan bilangan yang
habis dibagi 4.
Contoh :
Bilangan 1702582 tidak habis dibagi 4 sebab dua angka terakhirnya yakni 82 tidak
habis dibagi 4. Sementara 1972 habis dibagi 4 sebab 72 habis dibagi 4.
II
I
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
15
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10
1
+ e
= (a × 10.000 + b × 1.000 + c × 100) + (d × 10 + e)

Komponen I habis dibagi 4 sebab masing-masing sukunya habis dibagi 4. Sehingga
agar seluruh komponennya habis dibagi 4 maka komponen II haruslah habis dibagi 4,
yaitu bila (d × 10 + e) habis dibagi 4. Yakni bilangan berbentuk de habis dibagi 4 .
Ciri 3 : Habis dibagi 8
Suatu bilangan habis dibagi 8 jika tiga angka terakhirnya merupakan bilangan yang
habis dibagi 8.
Contoh :
Bilangan 2701008 habis dibagi 8 sebab 3 angka terakhirnya yaitu 008 (bilangan ini
sama dengan 8 sebab dua angka nol di depan tidak bermakna/signifikan) habis dibagi 8.
Sementara bilangan 2810342 tidak habis dibagi 8 karena tiga angka terakhirnya yaitu
342 tidak habis dibagi 8.
Ciri 4 : Habis dibagi 5
Suatu bilangan habis dibagi 5 jika angka terakhir dari bilangan itu 0 atau 5.
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10 + e
= (10.000a + 1.000b + 100c + 10d) + e

Komponen I jelas habis dibagi 5 sebab masing-masing suku pada komponen I habis
dibagi 5 dengan demikian agar I dan II habis dibagi 5 maka II harus habis dibagi 5 yaitu
apabila e = 0 atau e = 5 .
Ciri 5 : Habis dibagi 10
Suatu bilangan habis dibagi 10 jika angka terakhir dari bilangan itu 0.
Ciri 6 : Habis dibagi 9
Suatu bilangan habis dibagi 9 jika jumlah angka-angka penyusunnya habis dibagi 9.
Contoh :
II I
II
I
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
16
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Bilangan 217.683 habis dibagi 9 sebab jumlah angka-angka pembentuknya yaitu
2 + 1 + 7 + 6 + 8 + 3 = 27 habis dibagi 9
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10 + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + e
= (9.999a + 999b + 99c + 9d) + (a + b + c + d + e)

Bagian I jelas habis dibagi 9. Agar I + II habis dibagi 9 maka II harus habis dibagi 9
yaitu apabila a + b + c + d + e habis dibagi 9 .
Ciri 7: habis dibagi 3
Suatu bilangan habis dibagi 3 jika jumlah angka-angka pembentuknya habis dibagi
3.
Contoh :
Bilangan 7423947 habis dibagi 3 sebab 7 + 4 + 2 + 3 + 9 + 4 + 7 = 36 habis dibagi 3.
Ciri 8 : Habis dibagi 7
Suatu bilangan habis dibagi 7 jika selisih antara dua kali angka satuan dengan
bilangan yang terbentuk oleh angka-angka sisanya habis dibagi 7.
Contoh :
Bilangan 3696 habis dibagi 7 sebab dua kali angka satuannya adalah 2 × 6 = 12
sementara angka sisanya 369. Selisihnya = 369 – 12 = 357 habis dibagi 7.
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10 + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + 20e – 20e + e
= (10.000a + 1.000b + 100c + 10d – 20e) + 20e + e
= 10(1.000a + 100b +10c + d – 2e) + 21e
Karena II jelas habis dibagi 7, supaya I + II habis dibagi 7 haruslah I habis dibagi 7
yaitu apabila 1.000a + 100b + 10c + d – 2e habis dibagi 7. Dengan kata lain bila
bilangan berbentuk (abcd – 2e) habis dibagi 7 .
II I
II
I
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
17
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
Ciri 9 : Habis dibagi 11
Suatu bilangan habis dibagi 11 jika jumlah angka-angka di posisi ganjil dikurangi
jumlah angka-angka di posisi genap habis dibagi 11.
Contoh :
Apakah 27346 habis dibagi 11?
Penyelesaian :
Jumlah angka-angka di posisi ganjil = 2 + 3 + 6 = 11
Jumlah angka-angka di posisi genap = 7 + 4 = 11
Selisih jumlahnya = 11 – 11 = 0.
Karena 0 habis dibagi 11, maka 27346 habis dibagi 11.
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10 + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + e
+ 10.000b – 10.000c + 10.000d – 10.000e
– 10.000b + 10.000c – 10.000d + 10.000e
= 10.000(a – b + c – d + e) + 11.000b – 9.900c + 10.010d – 9.999e
= 10.000(a – b + c – d + e) + 11(1.000b – 900c + 910d – 909e)
Karena bagian II habis dibagi 11, agar kesemuanya (I + II) habis dibagi 11 maka I harus
habis dibagi 11. Hal itu akan terjadi bila (a – b + c – d + e) habis dibagi 11 .
Ciri 10 : Habis dibagi 13
Suatu bilangan habis dibagi 13 jika jumlah dari 4 kali angka satuan dan bilangan
yang terbentuk oleh angka-angka sisanya habis dibagi 13.
Contoh :
Apakah 6318 habis dibagi 13?
jawab :
6318 ÷ Empat kali angka satuannya = 4 × 8 = 32
Angka-angka sisanya (yang lain) = 631
Jumlahnya = 663
663 ÷ Empat kali angka satuannya = 4 × 3 = 12
Angka-angka sisanya (yang lain) = 66
Jumlahnya = 78
+
+
I II
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
18
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
78 ÷ Empat kali angka satuannya = 4 × 8 = 32
Angka-angka sisanya (yang lain) = 7
Jumlahnya = 39
Karena hingga 3 langkah penyelesaian ternyata diperoleh bilangan 39 yang diketahui
habis dibagi 13 maka bilangan semula yang dimaksud yaitu 6318 pasti habis dibagi 13.
Bukti :
abcde = a × 10
4
+ b × 10
3
+ c × 10
2
+ d × 10 + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + e
= 10.000a + 1.000b + 100c + 10d + (e – 40e) + 40e
= 10(1.000a + 100b + 10c + d + 4e) – 39e

Karena bagian II habis dibagi 13, agar kesemuanya habis dibagi 13 haruslah I habis
dibagi 13. Hal itu akan terjadi bila (1.000a + 100b + 10c + d + 4e) habis dibagi 13 yakni
bila bilangan dengan susunan angka-angka (abcd + 4e) habis dibagi 13 .
2. Bilangan 1001
Bila kita ingat judul cerita “seribu satu malam”, kita membayangkan adanya suatu
misteri. Misteri apakah itu? Pernahkah terbetik pada pikiran dan perasaan Anda bahwa
bilangan 1001 itu ternyata adalah KPK (Kelipatan Persekutuan terkecil) dari bilangan-
bilangan 7, 11, dan 13. Dengan demikian maka setiap bilangan kelipatan dari 1001 pasti
habis dibagi 7, habis dibagi 11, dan habis dibagi 13 (Supinah, 1997 : 22). Beberapa
contohnya adalah bilangan-bilangan seperti 8008, 25025, dan 253253.
Latihan 3 :
1. Selidikilah apakah bilangan-bilangan berikut habis dibagi dengan bilangan yang
diketahui.
a. 291530 habis dibagi 2
b. 341297 habis dibagi 2
c. 254328 habis dibagi 2
d. 243518 habis dibagi 4
e. 421328 habis dibagi 4
f. 921984 habis dibagi 8
g. 214048 habis dibagi 8
h. 495244 habis dibagi 8
+
I
II
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
19
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
2. Selidiki apakah
a. 421835 habis dibagi 5
b. 893420 habis dibagi 5
c. 254328 habis dibagi 5
d. 492632 habis dibagi 3
e. 814308 habis dibagi 3
f. 284082 habis dibagi 6
g. 410894 habis dibagi 6
h. 724932 habis dibagi 9
3. Selidi apakah
a. 4128 habis dibagi 7
b. 7196 habis dibagi 7
c. 92715 habis dibagi 7
d. 27654 habis dibagi 11
e. 81426 habis dibagi 11
f. 16042 habis dibagi 13
g. 53053 habis dibagi oleh bilangan-bilangan 7, 11, dan 13.
h. 556556 habis dibagi oleh bilangan-bilangan 7, 11, dan 13.
4. Buktikan
a. Suatu bilangan habis dibagi 8 jika tiga angka terakhirnya merupakan bilangan yang
habis dibagi 8.
b. Suatu bilangan habis dibagi 10 jika angka terakhir dari bilangan itu adalah nol.
c. Suatu bilangan habis dibagi 3 jika jumlah angka-angka penyusunnya habis dibagi
3.
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
20
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bilangan asli, cacah, dan bulat yang kita kenal sebagai bilangan ACB pada Diklat
Matematika SD Jenjang Lanjut ini meliputi konsep bilangan dihubungkan dengan
banyaknya satuan (unit) benda dalam suatu kumpulan, operasi (penjumlahan, pengu-
rangan, perkalian, dan pembagian), kelipatan persekutuan terkecil (KPK), faktor
persekutuan terbesr (FPB), angka Romawi, penguadratan, pemangkatan tiga, dan penarikan
akar (pangkat dua dan tiga), serta bilangan bulat (positip, nol, negatip) dan operasinya.
Suatu lingkup bahasan yang cukup luas untuk dibahas dalam diklat guru Sekolah Dasar.
Namun semuanya ternyata dapat dilalui secara menarik dan menye-nangkan. Resep apa
sebenarnya sehingga yang membuat matematika yang dibahas pada kegiatan diklat dapat
menarik dan menyenangkan? Jawabnya tidak lain adalah karena sajian materinya diawali
secara kontekstual (berangkat dari konteks kehidupan siswa sehari-hari) dan mengikuti
teori Bruner, yakni pembelajaran berangkat dari kongkrit, ditindaklanjuti dengan gambar-
gambar (semi kongkrit), dan barulah dia-khiri dengan lambang yang sifatnya abstrak.
Menurut Bruner, jika pembelajaran berjalan seperti itu, maka siswa akan dapat
mengembangkan pengetahuannya jauh lebih luas dari apa yang pernah mereka terima dari
gurunya. Apabila itu semua dialami oleh peserta diklat (guru), mengapa siswa tidak
mengalaminya?. Semuanya tentu tergantung kepada komitmen (niat baik) dan realisasi
(pelaksanaan riil/ sesungguhnya) saat kembali ke tempat tugas masing-masing.
B. SARAN
Bagi para alumni diklat yang berkomitmen untuk merealisasikan komitmennya pada anak
didik agar mereka menjadi senang dengan pelajaran matematika diberikan saran-saran
sebagai berikut.
1. Laporkan kepada atasan langsung tentang pengalaman apa saja yang menarik selama
menerima sajian akademik dalam kegiatan pelatihan
2. Pikirkan perangkat kerja apa saja yang mendesak untuk dibuat dan segera dite-
rapkan/diimplementasikan di lapangan, jika sebagai guru pertama adalah yang untuk
diterapkan di kelas yang diampunya, kemudian kepada sesama guru di sekolahnya,
kemudian lagi pada kegiatan KKG dan terakhir barulah cita-cita ke lingkup yang lebih
luas
3. Ciptakan segera perangkat tersebut dengan niat baik, tulus, dan iklas demi anak bangsa
di masa depan
4. Diskusikan rencana tindak lanjut Anda pasca pelatihan kepada kepala sekolah dan
kepada pengawas
5. Bersemboyanlah “ Apa yang terbaik yang saya miliki dan dapat saya perbuat untuk
kemajuan bangsa ini sebagai andil dalam rangka mencerdaskan bangsa”. Tuhan maha
mengetahui dan pasti akan memberikan ganjaran yang patut disyukuri berupa sesuatu
yang tak terduga di masa depan.
Amin.
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
21
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
DAFTAR PUSTAKA
Burton, David M. (1980). Elementary Number Theory. Boston : Allyn and Bacon, Inc.
Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi Mata pelajaran Matematika SD/MI).
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
-------------. (2006). Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Estiningsih, Elly. (1994). KBM Matematika di Sekolah Dasar (Makalah Penataran).
Yogyakarta: PPPG Matematika.
Edi Prayitno. (1997). KPK dan FPB (Paket Pembinaan Penataran). Yogyakarta : PPPG
Matematika.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Niven, Ivan–Zuckerman, Hurbert S. (1978). An Introduction to the Theory of Numbers
(Third Edition). New York : John Wiley & Sons, Inc.
Sukardjono. (1996). Berhitung Cepat di SD (Paket Pembinaan Penataran). Yogyakarta :
PPPG Matematika.
Wirasto. (1993). Matematika Untuk Orang Tua Murid Dan Guru (Jilid I). Jakarta : PT.
Indira.
Webstar Dictionary.
Marsudi R: Bilangan ACB Lanjut 2012
22
PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA
KUNCI JAWABAN SOAL-SOAL LATIHAN
Latihan 1 (halaman 28)
Kunci no. 3
a. 9.455 d. 40.455
b. 44.100 e. 1.589.525
c. 440 f. 41.540.
Latihan 2 (halaman 32)
1. Sabtu
2. Senin
3. Selasa
4. Kamis
5. Senin
7. Minggu
8. Rabu Pahing
Jumat Legi
Sabtu Pon
Selasa Pahing
Senin Wage
Latihan 3 (Halaman 37)
1. a. Ya 2. a. Ya 3. a. Tidak
b. Tidak b. Ya b. Ya
c. Ya c. Tidak c. Ya
d. Tidak d. Tidak d. Ya
e. Ya e. Ya e. Tidak
f. Ya f. Ya f. Ya
g. Ya g. Tidak g. Ya
h. Tidak h. Ya h. Ya