Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PRINSIP DASAR RANGKAIAN ELEKTRIK
Pendahuluan
Pada bagian ini akan dibahas tentang pengertian dasar rangkaian
elektrik/listrik, besaran-besaran dan elemen-elemen dasar rangkaian listrik, serta
alat ukur besaran listrik. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menganalisis suatu
rangkaian dan mengukur besaran listrik.
Setelah pembahasan materi ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
pengertian tegangan dan arus listrik, karakteristik elemen rangkaian listrik, dan
menggunakan alat ukur besaran listrik untuk mengukur besaran dasar listrik.
1.1 Pengertian pada Rangkaian Elektrik/Listrik
Rangkaian elektrik atau rangkaian listrik adalah suatu kumpulan elemen
atau komponen listrik yang saling dihubungkan dengan cara-cara tertentu dan
paling sedikit mempunyai satu lintasan tertutup. Rangkaian listrik yang terdiri atas
sumber tegangan dan beban listrik yang dihubungkan oleh konduktor maka arus
listrik dapat mengalir.
Tegangan listrik (dalam bahasa Inggris: voltage, dalam bahasa Jerman:
Ursache artinya penyebab) adalah perbedaan potensial listrik antara dua titik
dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt [V]. Besaran ini
mengukur energi potensial dari sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya
aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tegangan adalah penyebab
mengalirnya elektron-elektron. Tegangan juga dapat dinyatakan sebagai energi
per satuan muatan (: =
dw
dq
). International Standard IEC 60038 mendefinisikan
tegangan standar untuk penggunaan sistem suplai kelistrikan seperti pada Tabel
1.1.
Tabel 1.1. Standar tegangan berdasarkan IEC 60038
IEC voltage range AC DC Defining risk
High voltage > 1000 V
rms
> 1500 V Electrical arcing
Low voltage 25–1000 V
rms
60–1500 V Electrical shock
Extra low voltage < 25 V
rms
< 60 V Low risk
2

Arus listrik (electric current), simbol i (bahasa Perancis: intensite, bahasa
Jerman: Intensitaet = Intensitas, besar arus), dapat didefinisikan sebagai jumlah
muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Arah arus listrik yang mengalir
dalam suatu konduktor adalah dari potensial tinggi ke potensial rendah
(berlawanan arah dengan gerak elektron). Arus listrik dapat diukur dalam satuan
Coulomb/detik atau Ampere, diambil dari nama seorang ahli Fisika Perancis
Andre Marie Ampere (1775-1836). 1 C = 6,25.10
18
elektron (muatan 1 elektron =
1,6.10
-19
C).
i =
q
t
[A] (1-1)
Keterangan :
q = Banyaknya muatan listrik dalam satuan Coulomb [C]
i = Kuat Arus dalam satuan Amper [A]
t = waktu dalam satuan detik [s].
Contoh:
Sebuah batere memberikan arus 1 A kepada sebuah lampu selama 2 menit.
Berapakah banyaknya muatan listrik yang dipindahkan?.
Penyelesaian:
Diketahui : i = 1 A
t = 2 menit = 120 s.
Ditanyakan : q = … ?
Penyelesaian: q = i x t = 1 x 120 = 120 [C].

Arus listrik mengalir dari kutub positif menuju kutub negatif, hal itu disebabkan
karena kutub positif memiliki potensial lebih tinggi dibanding kutub negatif. Arah
arus berlawanan dengan arah gerakan elektron.

Gambar 1.1. Arah arus listrik dan gerakan elektron
3

Rapat arus ialah besarnya arus listrik tiap-tiap mm
2

luas penampang kawat
J = I/A (1-2)
Keterangan:
J = Rapat arus [ A/mm²]
I = Kuat arus [ Amp]
A = luas penampang kawat [ mm²]

Gambar 1.2. Kerapatan arus
Arus listrik mengalir dalam kawat penghantar secara merata menurut luas
penampangnya. Arus listrik 12 A mengalir dalam kawat berpenampang 4 mm²,
maka kerapatan arusnya 3A/mm² (12A/4 mm²), ketika penampang penghantar
mengecil 1,5 mm², maka kerapatan arusnya menjadi 8A/mm² (12A/1,5 mm²).
Kerapatan arus berpengaruh pada kenaikan temperatur. Tabel 1.2 memperlihatkan
Kemampuan Hantar Arus (KHA) kabel berdasarkan Tabel 7.3.1 PUIL 2000.
Konduktor mempunyai sejumlah elektron bebas. Logam-logam biasanya
merupakan konduktor yang baik karena mempunyai banyak elektron bebas.
tembaga (Cu) dan alumunium (Al) adalah logam yang banyak digunakan sebagai
konduktor. Penghambat aliran listrik biasanya disebut tahanan (R) dalam satuan
ohm [Ω]. Kebalikan tahanan listrik disebut konduktivitas listrik (G), dengan
satuan 
-1
atau Siemens (S). Sebuah penghantar disebut mempunyai tahanan
sebesar satu ohm bila perbedaan ujungnya diberikan beda potensial sebesar satu
volt dengan arus satu amper mengalir di antara kedua ujung tersebut. Tahanan
pengahantar besarnya berbanding terbalik terhadap luas penampangnya. Bila
suatu penghantar dengan panjang l , dan penampang A serta tahanan jenis ρ (rho),
maka tahanan penghantar tersebut adalah:

4

R = µ
I
A
(1-3)
Keterangan:
R = tahanan kawat [Ω]
l = panjang kawat [m]
ρ = tahanan jenis kawat [Ωmm²/m]
A = penampang kawat [mm²]
Dari persamaan (1-3), nampak bahwa besarnya nilai resistansi atau tahanan suatu
penghantar atau konduktor dipengaruhi jenis material, panjang konduktor, luas
penampang konduktor, jenis konduktor dan temperatur. Tabel 1.3 memperlihatkan
tahanan jenis bahan penghantar listrik.
Tabel 1.2. KHA terus-menerus yang diperbolehkan dan proteksi untuk kabel
instalasi berinti tunggal berisolasi PVC pada suhu keliling 30
o
C dan
suhu penghantar maksimum 70
o
C


5

Tabel 1.3. Tahanan jenis bahan penghantar listrik

Contoh:
Berapakah tahanan sebuah penghantar tembaga yang mempunyai luas penampang
1,5 mm
2
dan panjang 10 m?
Penyelesaian:
R = µ
I
A
= 0 ,01 75 |
Ωmm
2
m
|
10 [ m]
1,5 [ mm
2
]
= 0,117 [ Ω]
1.2 Elemen Rangkaian Listrik
Pembatasan elemen atau komponen listrik pada Rangkaian Listrik dapat
dikelompokkan ke dalam elemen atau komponen aktif dan pasif. Elemen aktif
adalah elemen yang menghasilkan energi dalam hal ini adalah sumber tegangan
dan sumber arus. Elemen pasif tidak dapat menghasilkan energi, elemen yang
hanya dapat menyerap energi terdapat pada komponen resistor (tahanan atau
hambatan) dengan simbol R, dan komponen pasif yang dapat menyimpan energi
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu komponen atau elemen yang menyerap energi
dalam bentuk medan magnet dalam hal ini induktor (lilitan, belitan atau
kumparan) dengan simbol L, dan komponen pasif yang menyerap energi dalam
bentuk medan listrik dalam hal ini adalah kapasitor (kondensator) dengan simbol
C.
6

1.2.1 Elemen Aktif
a. Sumber Tegangan (Voltage Source)
Sumber tegangan ideal adalah suatu sumber yang menghasilkan tegangan yang
tetap, tidak tergantung pada arus yang mengalir pada sumber tersebut,
meskipun tegangan tersebut merupakan fungsi dari t. Sumber tegangan ideal
mempunyai tahanan dalam Rd = 0.
1. Sumber Tegangan Bebas/ Independent Voltage Source
Sumber yang menghasilkan tegangan tetap tetapi mempunyai sifat khusus
yaitu harga tegangannya tidak bergantung pada harga tegangan atau arus
lainnya, artinya nilai tersebut berasal dari sumber tegangannya sendiri.

Gambar 1.1. Simbol sumber tegangan bebas
2. Sumber Tegangan Tidak Bebas/ Dependent Voltage Source
Mempunyai sifat khusus yaitu harga tegangan bergantung pada harga tegangan
atau arus lainnya.

Gambar 1.2. Simbol sumber tegangan tidak bebas
Dari sisi bentuk tegangan yang dihasilkan, ada tegangan arus searah (direct
current, dc) yang besar tegangannya konstan terhadap waktu, dan tegangan
arus bolak-balik (alternating current, ac) yang besar tegangannya berubah-
ubah terhadap waktu secara periodik. Dalam sistem tenaga listrik tegangan ac
yang digunakan adalah yang berbentuk sinusoidal.
7

b. Sumber Arus (Current Source)
Sumber arus ideal adalah sumber yang menghasilkan arus yang tetap, tidak
bergantung pada tegangan dari sumber arus tersebut. Sumber arus ideal
mempunyai tahanan dalam Rd = .
1. Sumber Arus Bebas/ Independent Current Source
Mempunyai sifat khusus yaitu harga arus tidak bergantung pada harga tegangan
atau arus lainnya. Simbol sumber arus bebas seperti pada Gambar 1.3 (a).
2. Sumber Arus Tidak Bebas/ Dependent Current Source
Mempunyai sifat khusus yaitu harga arus bergantung pada harga tegangan atau
arus lainnya. Simbol sumber arus tidak bebas seperti pada Gambar 1.3 (b).

(a) (b)
Gambar 1.3. Simbol sumber arus bebas
1.2.2 Elemen Pasif
a. Resistor (R)
Sering juga disebut dengan tahanan atau hambatan. Resistor mempunyai fungsi
sebagai penghambat arus, pembagi arus, dan pembagi tegangan.
Gambar 1.4 memperlihatkan simbol resistor.

Gambar 1.4. Simbol resistor
8

Jika suatu resistor dilewati oleh sebuah arus maka pada kedua ujung dari
resistor tersebut akan menimbulkan beda potensial atau tegangan.
V
R
= IR (1-4)

Gambar 1.5. Resistor yang dilalui arus listrik
b. Kapasitor (C)
Sering juga disebut dengan kondensator. Mempunyai fungsi untuk membatasi
arus DC yang mengalir pada kapasitor tersebut, dan dapat menyimpan energi
dalam bentuk medan listrik. Simbol kapasitor diperlihatkan pada Gambar 1.6.

Gambar 1.6. Simbol kapasitor
Nilai suatu kapasitor tergantung dari nilai permitivitas bahan pembuat
kapasitor,luas penampang dari kapsitor tersebut dan jarak antara dua keping
penyusun dari kapasitor tersebut. Secara matematis dapat ditulis:
C = ε A/d (1-5)
di mana: ε = permitivitas bahan
A = luas penampang bahan
d = jarak dua keping
Satuan kapasitansi kapasitor adalah Farad (F).
9

Jika sebuah kapasitor dilewati oleh sebuah arus maka pada kedua ujung
kapaistor tersebut akan muncul beda potensial atau tegangan, di mana secara
matematis dinyatakan:
I
C
=
1
C
∫ i
C
Jt atau i
c
= C
dv
c
dt
(1-6)
Muatan (Q) pada kapasitor: Q = CV.

Gambar 1.7. Kapasitor yang dilalui arus listrik
Dari karakteristik v - i, dapat diturunkan sifat penyimpanan energi pada
kapasitor, p =
dw
dt
atau Jw = p Jt
w = ∫p. Jt = ∫ :i Jt = ∫ :C

dt
Jt = ∫C : J: (1-7)
Misalkan pada saat t = 0 maka v = 0, dan pada saat t = t mana v = V, sehingga:
w = ∫ C
v
0
: J: =
1
2
CI
2
=
1
2
0I (1-8)
Ini merupakan energi yang tersimpan pada kapasitor dalam bentuk medan
listrik. Jika kapasitor diberi tegangan DC (konstan) maka arus sama dengan
nol, sehingga kapasitor bertindak sebagai rangkaian terbuka (open circuit)
untuk tegangan DC.
Contoh:
Sebuah kapasitor 1000 µF dihubungkan dengan sumber tegangan 12 V.
a. Berapakah muatan kapasitor itu?
b. Berapakah energi listrik yang tersimpan di dalam kapasitor itu?
Penyelesaian:
a. Q = C.V = 1000 x 10
-6
x 12 = 0,012 [C].
b. W = ½.Q.V = ½ x 0,012 x 12 = 0,072 [J].


10

c. Induktor (L)
Sering juga disebut lilitan, kumparan atau belitan. Induktor mempunyai sifat
dapat menyimpan energi dalam bentuk medan magnet. Satuan induktansi dari
induktor adalah Henry (H). Gambar 1.8 memperlihatkan simbol induktor.

Gambar 1.8. Simbol induktor
Arus yang mengalir pada induktor akan menghasilkan fluksi magnetik (φ )
yang membentuk loop yang melingkupi kumparan. Tegangan pada induktor:
I
L
= I

L
dt
(1-9)

Gambar 1.9. Induktor yang dialiri arus listrik
Dari karakteristik v - i, dapat diturunkan sifat penyimpanan energi pada
induktor.
p =
dw
dt
atau Jw = p Jt
w = ∫p. Jt = ∫ :i Jt = ∫ I

dt
iJt = ∫ I i Ji (1-10)
Misalkan pada saat t = 0 maka i = 0, dan pada saat t = t mana i = I, sehingga:
w = ∫ I
I
0
i Ji =
1
2
II
2
(1-11)
Ini merupakan energi yang tersimpan pada induktor dalam bentuk medan
magnet. Jika induktor diberi arus DC (konstan) maka tegangan sama dengan
nol, sehingga induktor bertindak sebagai rangkaian hubung singkat (short
circuit) untuk tegangan DC.
11

1.3 Alat Ukur Besaran Listrik
Untuk mengetahui besaran listrik seperti tegangan, arus, resistansi, dan
daya digunakan alat ukur listrik. Awalnya digunakan alat-alat ukur analog dengan
penunjukan menggunakan jarum dan membaca dari skala. Kini banyak digunakan
alat ukur listrik digital yang praktis yang hasilnya langsung dibaca pada layar
display. Gambar 1.10 memperlihatkan tampilan alat ukur listrik digital dan
analog. Sampai saat ini alat ukur analog masih tetap digunakan karena handar,
ekonomis, praktis serta dapat fluktuasi dan transient. Alat ukur digital makin luas
digunakan karena harganya makin terjangkau, praktis dalam pemakaian dan
pemakaiannya makin akurat dan pesisi.

a. Alat ukur listrik digital b. Alat ukur listrik analog
Gambar 1.10. Alat ukur besaran listrik

Alat ukur tegangan disebut voltmeter, alat ukur arus disebut amperemeter,
alat ukur tahanan disebut ohmmeter, dan alat ukur daya disebut wattmeter. Namun
ada alat ukur yang dapat mengukur beberapa besaran listrik, misalnya multimeter
yang dapat mengukur tegangan ac dan dc, arus dc, dan tahanan. Untuk kebutuhan
praktis tetap digunakan alat ukur tunggal, misalnya untuk mengukur tegangan
saja.
Ada beberapa istilah dan defenisi pada pengukuran listrik, di antaranya:
a. Alat ukur, adalah perangkat untuk menentukan nilai atau besaran dari
kuantitas atau variabel.
12

b. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari
variable yang diukur.
c. Presisi, hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran, atau
derajat untuk membedakan suatu pengukuran dengan yang lainnya.
d. Kepekaan, rasio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur terhadap
perubahan input atau variabel yang diukur.
e. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu
ditanggapi oleh alat ukur.
f. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang
diukur.
Alat ukur analog mempunyai komponen listrik dan mekanik yang saling
berhubungan. Bagian listrik yang penting adalah magnet permanen, tahanan
meter, dan kumparan putar. Bagian mekanik meliputi jarum penunjuk, skala dan
sekrup pengatur jarum penunjuk. Gambar 1.11 menunjukkan komponen alat ukur
listrik analog.


Gambar 1.11. Komponen alat ukur listrik analog
Torsi yang dihasilkan dari interaksi elektromagnetik sesuai persamaan:
T = B . A . I . N (1-12)
di mana: T = torsi [Nm]
B = kerapatan fluks magnet [Wb/m
2
]
A = luas efektif koil [m
2
]
I = arus ke kumparan putar [A]
N = jumlah lilitan
Dari persamaan tersebut, komponen B, A, dan N adalah konstan, sehingga torsi
berbanding lurus dengan arus (I) yang mengalir ke kumparan putar.
13

Untuk mengukur tegangan yang lebih besar, maka ditambah tahanan depan (seri),
sedang untuk mengukur arus yang lebih besar, maka dipasang tahanan paralel
(shunt). Dengan demikian, tahanan dalam voltmeter akan besar dan tahanan dalam
amperemeter kecil. Dalam pengukuran, voltmeter dipasang paralel terhadap
sumber atau beban yang akan diukur tegangannya, sedangkan amperemeter
dipasang seri terhadap beban atau komponen yang akan diukur arusnya.
Jika pada alat ukur terdapat beberapa batas ukur (rangkuman), maka pembacaan
hasil pengukuran adalah: skala penunjukan x (batas ukur/skala maksimum).
Gambar 1.12 memperlihatkan contoh pengukuran tegangan dan arus. Jika skala
penunjukan voltmeter = 100, dan skala penunjukan amperemeter = 100, tentukan
hasil pengukuran tegangan dan arus pada rangkaian tersebut.


Gambar 1.12. Contoh pengukuran tegangan dan arus
Hasil pengukuran tegangan = 100 x (30/150) = 20 V.
Hasil pengukuran arus = 100 x (6/120) = 5 A.
Karena daya merupakan perkalian arus dan tegangan, maka wattmeter memiliki
kumparan arus dan tegangan. Konstruksi wattmeter analog dan pemasangannya
diperlihatkan pada Gambar 1.13.
14


Gambar 1.13. Bagian dasar wattmeter dan cara pemasangannya

Gambar 1.14 memperlihatkan contoh wattmeter.


Gambar 1.14. Contoh Wattmeter
Alat ukur piringan putar tidak menggunakan jarum penunjuk. Konstruksi meter
piringan putar memiliki dua inti besi (Gambar 1.15). Pada inti besi U dipasang
dua buah belitan arus pada masing-masing kaki inti menggunakan kawat
berpenampang besar. Inti besi berbentuk EI dengan satu belitan tegangan dipasang
pada kaki tengah inti besi dengan jumlah lilitan lebih banyak dan penampang
kawat halus.
15



Gambar 1.15. Alat ukur piringan putar (KWH-meter)

1.4 Soal-soal Latihan
1. Berapakah tahanan sebuah penghantar tembaga yang mempunyai luas
penampang 2,5 mm
2
dan panjang 20 m?
µ
tcmbugu
= 0,0175 |
Ωmm
2
m
|.
Seperti soal di atas, tetapi diameter penghantar 2 kali lebih besar dan
panjangnya 80 m?
2. Sebuah kapasitor 1000 µF dihubungkan dengan sumber tegangan 12 V.
a. Berapakah muatan kapasitor itu?
b. Berapakah energi listrik yang tersimpan di dalam kapasitor itu?
3. Mengapa kapasitor bertindak sebagai rangkaian terbuka (open circuit) jika
diberi tegangan DC, dan induktor bertindak sebagai rangkaian hubung
singkat (short circuit)?

1.5 Praktik
1. Ukurlah tegangan beberapa sumber tegangan DC (misalnya baterai, aki, dan
adaptor), dan sumber tegangan AC (sumber tegangan dari jaringan PLN).
2. Ukur tahanan beberapa kabel penghantar yang sering digunakan dalam intalasi
listrik (variasikan besar penampang dan panjang penghantar).