Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis paru (TB) paru adalah suatu penyakit infeksi kronis pada paru yang telah lama dikenal pada manusia.1 Penyakit ini telah menjadi permasalah baik dalam tingkat nasional maupun global karena prevalensinya yang makin meningkat dari hari ke hari dan bersamaan dengan peningkatan kejadian HIV-AIDS.1,2,3 Permasalahan yang dialami bukan saja mengenai masalah kesehatan itu sendiri tetapi merupakan permasalahan multisektor karena kejadian penyebaran tuberkulosis paru sangat berhubungan dengan masalah wilayah tempat tinggal, status ekonomi dan juga keterlibatan aktif pemerintah dalam hal penanggulangan terutama pencegahan transmisi penyakit ini.1,3 Penyebaran secara global penyakit ini telah mampu menyedot perhatian dunia dan oleh beberapa tokoh dunia seperti Bill Gates dan George Soros, terbentuk yang dikenal dengan GF ATM (Global Fund against AIDS, TB and Malaria).4 Di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia, Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular yang kejadiannya paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1.5 juta orang, urutan kedua dijumpai di Cina yang mencapai 2 juta orang dan Indonesia menduduki urutan ketiga dengan penderita 583.000 orang.2 Penyakit ini sudah lama dikenal sejak ribuan tahun yang lalu namun baru pada tahun 1882, Robert Koch menjadi orang pertama yang menemukan kuman penyebabnya semacan bakteri berbentuk batang dan dari sinilah diagnosis secara mikrobiologis dimulai dan penatalaksanaannya lebih terarah.1 Penegakan diagnosis semakin terarah dengan ditemukan alat radiologi sinar X oleh Rontgen.1 Menurut WHO (1999), di Indonenia setiap tahun terjadi 583 kasus baru dengan kematian 130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya. 3 Sedangkan menurut hasil penelitian kusnindar 1990, jumlah kematian yang disebabkan karena tuberkulosis diperkirakan 105,952 orang pertahun.3 Kejadian kasus tuberkulosa paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah.1,2,3 Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal.1,2,3,4
1

Pada tahun 1995 pemerintah telah memberikan anggaran obat bagi penderita tuberkulosis secara gratis ditingkat Puskesmas, dengan sasaran utama adalah penderita tuberkulosis dengan ekonomi lemah. Obat tuberkulosis harus diminum oleh penderita secara rutin selama enam bulan berturut-turut tanpa henti.2 Untuk kedisiplinan pasien dalam menjalankan pengobatan juga perlu diawasi oleh anggota keluarga terdekat yang tinggal serumah, yang setiap saat dapat mengingatkan penderita untuk minum obat.2,3,4 Apabila pengobatan terputus tidak sampai enam bulan, penderita sewaktuwaktu akan kambuh kembali penyakitnya dan kuman tuberkulosis menjadi resisten sehingga membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya.2 Penyakit tuberkulosis ini dijumpai disemua bagian penjuru dunia. Dibeberapa negara telah terjadi penurunan angka kesakitan dan kematiannya, Angka kematian berkisar dari kurang 5 - 100 kematian per 100.000 penduduk pertahun. Angka kesakitan dan kematian meningkat menurut umur. Di Amerika Serikat pada tahun 1974 dilaporkan angka insidensi sebesar 14,2 per 100.000 penduduk.1,2,4

2

3

3 2.6 Gambar 1. trakea. Sistem Pernapasan manusia 4 . percabangan bronkus dan paru – paru (bronkiolus dan alveolus).2 Pada waktu penderita batuk droplet air ludah beterbangan diudara dan terhisap oleh orang yang sehat dan masuk kedalam paru-parunya yang kemudian menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.3Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang mengandung basil berkulosis paru. saluran pernapasan dari atas ke bawah dapat dirinci sebagai berikut: rongga hidung.1 Definisi Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberkulosis.2 Anatomi dan Fisiologi Paru – paru merupakan bagian utama dari saluran pernapasan.1. laring. faring.1.2. Secara umum.

arteri dan vena besar.6 Gambar 2. Penampang Paru – Paru 5 . media dan inferior sedang paru – paru kiri terdiri dari dua lobus yaitu lobus superior dan inferior.Paru – paru berada dalam rongga thorak. yaitu terkandung dalam susunan tulang – tulang iga dan letaknya di sisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat yang berasa di belakang tulang dada.6 Paru-paru berbentuk seperti spons dan berisi udara dengan pembagian ruang sebagai berikut : paru kanan memiliki tiga lobus yaitu lobus superior. esophagus dan trakea.6 Paru-paru menutupi jantung.

6 Proses respirasi dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.6 saat ekspirasi otot akan kendor lagi dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali maka udara di dorong keluar. Epiemiologi Prevalensi penyakit ini sudah tersebar luas hamper diseluruh dunia terutama wilayah dengan iklim tropis dan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. kecepatan dan dalamnya gerakan pernapasan. prevalensi TB merupakan salah satu yang tertinggi didunia yaitu menempati urutan ke-3 setelah China dan 6 . 6 Sel-sel ini mengirim impuls menuruni medulla spinalis.2 Di Indonesia sendiri.3.6 Faktor pengendali saraf dikendalikan oleh sel-sel saraf dalam susunan retikularis di batang otak terutama pada medulla.6 Mekanisme pernapasan diatur dan dikendalikan oleh dua faktor utama yaitu faktor kimiawi dan pengendali oleh saraf.Paru – paru merupakan organ yang sangat penting karena didalamnya terjadi proses inspirasi udara kedalam paru-paru dan ekspirasi udara dari paru-paru ke lingkungan luar tubuh.6 2. 7 inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari nervus frenikus lalu mengkerut datar. Faktor kimiawi adalah faktor utama dalam pengendalian dan pengaturan frekuensi. kemudian melalui saraf frenikus ke diafragma dan melalui saraf-saraf interkostalis ke otot-otot interkostalis.1.

7 .000. Pada tahun 1998. 1.1 Diperkiran sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh mycobacterium tuberkulosis.  Dampak pandemi HIV. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:1. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. diperkirakan TB di China. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%.India. tidak dilakukan pemantauan.  Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.5 Jika ia meninggal akibat TB. seperti pada Negara negara yang sedang berkembang. dan sebagainya). pencatatan dan pelaporan yang standar. obat tidak terjamin penyediaannya. Selain merugikan secara ekonomis.000 dan 591.5  Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. India dan Indonesia berturut-turut 1.5 Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar. Hal ini diakibatkan oleh:   Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat.5 Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis)   Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG.  Kegagalan program TB selama ini.414.  Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun.828.000 kasus. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan.

WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). karena Indonesia telah mencapai 77.5 Menyikapi hal tersebut.7 Selain itu target cakupan penemuan kasus TB atau case detection rate sebesar 70% sudah tercapai. Di Indonesia.5 Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. yaitu dengan turunnya peringkat Indonesia dari negara ke-3 di dunia penyumbang kasus TB terbanyak menjadi peringkat ke-5.7 Pada tahun 2010. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan.4.1.Situasi TB didunia semakin memburuk. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan.1. pada tahun 1993.3%.5. Pengendalian Tuberkulosis (TB) di Indonesia telah menunjukkan kemajuan bermakna. Pada saat yang sama. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Demikian pula target keberhasilan pengobatan atau success rate yang ditetapkan 85%. Insiden TB Dunia Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). 8 . jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.5 Gambar 3.2.

5.7 Berdasarkan Global Report TB tahun 2010. intracellulare. Varian Asian.000 penduduk.kita sudah mencapai 89. sedangkan target angka kematian TB sudah tercapai. Varian African II. avium.6/um.4 Etiologi dan Penularan Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. malmacerse.000 penduduk.3-0. M. Varian African I. M. Pembagian tersebut berdasarkan perbedaan secara epidemiologi. 4).7 Artinya. target MDGs untuk angka prevalensi TB diharapkan akan tercapai pada 2015. M. M. M. M. 3. xenopi. 3). M.1 9 . atypical adalah: 1. scrofulaceum.1.000 di tahun 2015. Tuberculosae. sedangkan angka kematian TB telah turun menjadi 27 per 100. Kansasi. Prevalensi TB di Indonesia adalah 285 per 100. sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0.000 penduduk dan angka kematian TB menurun sampai 46 per 100. bovis.1 Kelompok kuman Mycobacteria other than TB (MOTT. 2.7 2. M.7 Target Millenium Development Goals atau MDGs untuk Pengendalian TB adalah prevalensi TB menurun menjadi 222 per 100. 2). 5). 6. 4.6%.2 Yang tergolong dalam kuman Mycobacterium tuberculose complex adalah : 1).

Makrofag yang semula memfagositositasi malah kemudian disenanginya karena mengandung banyak lipid. Morfologi Kuman TB Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam lemak (lipid).1. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinetur dalam 5 menit.2 Biakan basil ini dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20 oC selama 2 tahun. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8 – 10 hari.2 Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan antara lain phenol 5% asam sulfat 15%.1. kemudian peptidoglikan dan arabinomannam. dengan alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit. Sifat ini menunjukkan bahwa 10 . 2 Dalam dahak dapat bertahan 2030 jam. akan mati pada 6°C selama 15-20 menit. asam sitrat 3% dan NaOH 4%.2 Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam.Gambar 4.2 Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun udara dingin (dapat tahan bertahuntahun dalam lemari es) dimana hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant (kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi). kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag.1 Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis.1 Mycobacterium tidak tahan panas.1 Sifat lain kuman ini adalah aerob.2 Di dalam jaringan.

Tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet.5 penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdahak atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA). dan ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru. penularan bias melalui inokulasi langsung. patofisiologi TB paru terbagi atas dua bagian besar yaitu tuberkulosis primer dan tuberkulosis pasca primer (sekunder). bovis dapat disebabkan oleh susu yang kurang disterilkan dengan baik atau terkontaminasi.5 Pada TB kulit atau jaringan lunak.3.1 Dalam hsl ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi Dari bagian lain.1 Infeksi yang disebabkan oleh M. 1.2.1 Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrol. Partikel ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam.5 Patofisiologi Secara umum.1 11 .1.1 Proses infeksi penyakit ini biasanya secara inhalasi sehingga TB paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibandingkan organ lainnya. kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. pengobatan teratur dan pengawasan minum obat ketat berhasil mengurangi angka morbiditas dan mortalitas di Amerika tahun 1950-1960.4. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama-sama gerakan silia dengan sekretnya.2.1 Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat. sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.1 2.1 Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara.1 Sudah dibuktikan bahwa lingkungan sosial ekonomi yang baik.1 Dalam suasanan yang lembab dan gelap. kemudian baru oleh makrofag.1 Partikel dapat masuk ke alveolar apabila ukuran partikel < 5 mikrometer. ventilasi yang buruk dan kelembaban.

secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun di sebelahnya. Sarang primer ini dapat terjadi disetiap bagian jaringan paru.  Berkomplikasi dengan menyebar secara perkontinuitatum (menyebar ke sekitarnya). penyakit maligna.1 Bila masuk ke bagian arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier. maka terjadilah efusi pleura. Ini yang banyak terjadi Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik. 1 kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sebagai sarang primer atau afek primer atau sarang (focus) Ghon. akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal) dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional).Bila kuman menetap di jaringan paru. Secara limfogen dan hematogen ke organ tubuh lainnya.1 Tuberkulosis pasca primer ini dimulai denganb sarang dini yang berlokasi di region atas paru (bagian apikal posterior lobus superior atau inferior) dan invasinya ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru. Semua kejadian diatas tergolong dalam perjalanan tuberkulosis primer. terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru.1 12 . Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi :   Sembuh sekali tanpa meninggalkan cacat. ginjal dan tulang.1 Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. alkohol. 1 Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi. Disini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. diabetes. keadaan ini terdapat pada lesi pneumonia yang luasnya > 5 mm dan ± 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.1 Kuman ini dapat juga masuk melalui saluran gastrointestinal.1 Dari sarang primer. Patofisiologi tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis post primer = TB pasca primer = TB sekunder). Kuman dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus.1 Sarang primer limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer (ranke). orofaring dan kulit. 1 Bila menjalar sampai ke pleura. otak. berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. jaringan limfe. kalsifikasi di hilus. AIDS dan gagal ginjal.

Kavitas ini mula-mula berdinding tipis. virulensi-nya dan imunitas pasien dimana dapat diresorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat dan sarang yang mula-mula meluas. Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas yang terbungkus. menciut dan berbentuk seperti bintang disebut stellate shaped. tetapi bersisi bakteri bakteri yang sangat banyak. maka akan terjadi TB milier. dan proses yang berlebilahn sitokin dengan TNF-nya.1 TB pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua (elderly tuberculosis). lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblast dalam jumlah besar sehingga menjadi kavitas sklerotik (kronik).1 Disini lesi sangat kecil. Dapat juga masuk ke paru sebelahnya atau tertelan masuk ke lambung dan selanjutnya ke usus jadi TB usus. Ada yang membungkus diri menjadi keras. Bisa juga terjadi TB endobronkial dan TB endotrakeal atau empiema bila ruptur ke pleura.1 Bila jaringan keju dibentuk keluar akan terjadilah kavitas.1 Komplikasi kronik kavitas adalah kolonisasi oleh fungus seperti Aspergillus dan kemudian menjadi mycetoma. tetapi segera menyembuh dengan serbukan jaringan fibrosis. menimbulkan perkapuran. memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. C). Bila kavitas ini masuk dalam peredaran darah arteri. disebut open healed cavity. Terjadinya perkejuan dan kavitas adalah karena hidrolisis protein dan asam nukleat oleh enzim yang diproduksi oleh makrofag. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitarnya dan bagian tengah mengalami nekrosis menjadi lembek dan membentuk jaringan keju. Dapat juga menyembuh dengan membungkus diri menjadi kecil. Bentuk perkejuan lain yang jarang adalah cryptic disseminate TB yang terjadi pada imunodefisiensi dan usia tua. Sarang ini dapat berubah tergantung dari jumlah kuman. Kavitas dapat: a).Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil yang dalam waktu 310 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel datia langhans (multinucleated giant cell) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat. meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru.1 13 . Sarang ini selanjutnya mengikuti perjalanan seperti yang disebutkan terdahulu. bersih dan menyembuh. B). Tuberkuloma ini dapat mengapur dan menyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan jadi kavitas lagi.

Sarang bentuk ini tidak perlu pengobatan lagi. kulit. Sarang yang berada antara aktif dan sembuh. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:1. yaitu pada TB Paru:1. Sarang bentuk ini dapat sembuh spontan. alat kelamin. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. Sarang bentuk ini perlu pengobatan yang lengkap dan sempurna. 3).Secara keseluruhan akan terdapat tiga macam sarang yakni: 1). Namun beberapa klasifikasi sekarang dipakai untuk membagi pembagian tuberkulosis yang diadaptasi dari WHO dan mengalami beberapa penambahan dan perbaikan. selaput jantung (pericardium). tulang.6 Klasifikasi Tuberkulosis Di Indonesia sampai sekarang belum ada kesepakatan pasti tentang klasifikasi tuberkulosis. sebaiknya diberi pengobatan yang sempurna juga. saluran kencing. Sarang aktif eksudatif. paru. dan lain-lain. 2). tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Sarang yang sudah sembuh. b. ginjal. persendian.5 a.   Tuberkulosis paru BTA positif. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang Tuberkulosis ekstra paru. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. Tuberkulosis paru.1 2. tetapi mengingat kemungkinan terjadinya eksaserbasi kembali. 2. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Oleh Departemen Kesehatan RI dibagi beberapa klasifikasi antara lain : 1.5 a. kelenjar lymfe. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain jaringan (parenkim) paru.   14 . Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. misalnya pleura. usus. selaput otak.

perikarditis. B). yaitu bentuk berat dan ringan. Tuberkulosis paru BTA negatif. b. Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. dan kelenjar adrenal. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”). Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. iii. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). 15 . maka untuk kepentingan pencatatan. TB ekstra paru ringan. Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). iv. ii. TB usus. yaitu: a). misalnya: meningitis. Kasus setelah putus berobat (Default). c. Kasus baru. dan atau keadaan umum pasien buruk.b. paru BTA positif. sendi. pleuritis eksudativa bilateral. misalnya: TB kelenjar limfe. maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat. 3. milier. Bila seorang pasien TB paru juga mempunyai TB ekstra paru. pleuritis eksudativa unilateral. peritonitis. a. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. tulang (kecuali tulang belakang). Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: i. TB tulang belakang. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ.5 4. Kasus kambuh (Relaps)/ Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. b. TB saluran kemih dan alat kelamin. TB ekstra-paru berat. yaitu:5 a. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit :5 TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya.

7 Manifestasi Klinis Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau malah banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan. Tetapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-41oC. tetapi kemudian dapat timbul kembali. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk b. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama. TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru.d. Demam. Meskipun sangat jarang. Batuk ini terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Kasus lain: Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. f. bakteriologik (biakan). gagal. Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari Unit Pelayanan Kesehatan yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Sifat batuk 16 . mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. radiologik. serangan demam pertama dapat sembuh sebentar. Demam biasanya subfebril menyerupai demam influenza.5 a. Begitulah seterusnya hilang timbulnya demam influenza ini sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan influenza. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Kasus setelah gagal (Failure). harus dibuktikan secara patologik. dan pertimbangan medis spesialistik. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik. Batuk/batuk darah.3. default maupun menjadi kasus kronik. dapat juga mengalami kambuh. e. Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.1.5 2. Merupakan salah satu gejala yang banyak ditemukan. Keluhan yang dapat ditemukan antara lain :1. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar.

Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. Pada penyakit yang ringan belum dirasakan sesak napas. Sesak napas. secara anamnesis dan pemeriksaan fisik perlu dibedakan dengan pneumoni. dapat juga ditemukan bunyi redup/pekak pada perkusi dan suara napas bronchial. nyeri otot. sakit kepala. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun.3. badan kurus atau penurunan berat badan. c. suhu demam (subfebris). berdasarkan anamnesis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya. Nyeri dada. keringat malam. Perlu juga ditanyakan riwayat kontak dengan pasien TB positif maupun anggota keluarga dengan keluhan yang sama sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang selanjutnya. yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.5 Pemeriksaan fisik pada pasien tuberkulosis seringkali tidak menunjukkan suatu kelainan pun terutama pada kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara asimptomatik. meriang. Anamnesis berdasarkan gejala klinis yang telah dijelaskan diatas. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus. Gejala ini agak jarang ditemukan. e. Gejala ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia. Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Malaise.1 pemeriksaan fisik yang mungkin ditemukan antara lain konjunctiva mata atau kulit yang pucat karena anemia.dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). 2. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Akan didapatkan juga suara napas 17 . d.8 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Penegakan diagnosis seperti pada penyakit lainnya.1 selain itu. dll. pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan penunjang. penurunan berat badan.1.

hepatomegali. perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara amforik. Auskultasi memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali. sering terbentuk efusi pleura. Bagian paru yang sakit menciut dan menarik isi mediastinum atau paru lainnya.9 Pemeriksaan Penunjang Terdapat berbagai pemeriksaan penunjang untuk diagnosis TB namun yang paling sering digunakan untuk diagnosis pasti dan evaluasi pengobatan adalah pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan sputum/dahak. tekanan vena jugularis yang meningkat. 1.tambahan berupa ronkhi basah kasar dan nyaring. Bila jaringan fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paru-paru. Bila terdapat kavitas yang cukup besar.1 2. bunyi P2 yang mengeras. murmur graham-steel. right atrial gallop.3.5 Pada saat ini pemeriksaan radiologi dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis. akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan selanjutnya meningkatkan tekanan arteri pulmonalis (hipertensi pulmonal) diiikuti terjadinya kor pulmonal dan gagal jantung kanan. Paru yang sehat menjadi lebih hiperinflasi.1 Pada tuberkulosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal. ascites dan edema. sianosis. Disini akan didapatkan tanda-tanda kor pulmonal dengan gagal jantung kanan seperti takipnea. Pada kedua hal diatas. Tetapi bila infiltrasi ini diliputio oleh penebalan pleura.4. Perkusi memberikan suara pekak. tetapi dalam beberapa hal ia memberikan keuntungan seperti pada tuberkulosis anak-anak dan tuberkulosis milier. Paru yang sakit terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. suara napasnya menjadi vesikuler melemah. Pemeriksaan ini memang membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan pemeriksaan sputum. takikardia.1 Bila tuberkulosis mengenai pleura. Pemeriksaan Radiologis1. right ventricular lift. diagnosis dapat 18 .

Bila terjadi fibrosis.diperoleh melalui pemeriksaan radiologi dada sedangkan pemeriksaan sputum hampir selalu negatif. pleuritis eksudativa. tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya pada tuberkulosis endobronkial). bayangannya tampak sebagai bercak pada dengan densitas tinggi. Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:  Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas. Lama-lama dinding menjadi sklerotik dan terlihat menebal. gambaran radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dengan batas-batas yang tidak tegas.  Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. Pada sebagian besar TB paru. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atas atau segmen apikal lobus bawah). Gambaran radiologis lain yang sering menyertai 19 . Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB paru BTA positif. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma). Gambaran tuberkulosis milier terlihat berupa bercak-bercak halus yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru. terlihat bayangan yang bergaris-garis. Pada kalsifikasi.  Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

Seringkali foto radiologis TB disebut sebagai the great imitator karena seringkali menampilkan gambaran yang aneh-aneh.tuberkulosis paru adalah penebalan pleura (pleuritis). kavitas (non sklerotik/sklerotik) mnaupun atelektasis dan emfisema. 20 . massa cairan dibawah bagian paru (efusi pleura/empiema). bayangan hitam radiolusen di pinggir paru/pleura (pneumothorax) Pada satu foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus (pada tuberkulosis ayng sudah lanjut)_ seperti infiltrate. garis-garis fibrotik. kalsifikasi.

5 Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukan kuman BTA diagnosis sudah dapat dipastikan. Pemeriksaan ini lebih superior dibanding radiologis biasa. 2. Pemeriksaan radiologis dada yang lebih canggih dan saat ini sudah banyak dipakai di rumah sakit rujukan adalah computed Tomography Scanning (CT-Scan). Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas). tulang belakang dan perbatasan dada-perut. Pemeriksaan MRI ini tidak sebaik CT-Scan tetapi dapat mengevaluasi proses-proses dekat apeks paru. Sayatan dapat dibuat transversal.3. Gambaran Foto Dada Pasien Tuberkulosis Pemeriksaan khusus yang kadang-kadang juga diperlukan adalah bronkografi. Disamping itu.2. 21 . Pemeriksaan ini dilakukan bila pasien akan menjalani pembedahan paru. Perbedaan densitas jaringan terlihat lebih jelas dan sayatan dapat dibuat transversal. sagital dan koronal. yakni untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang disebabkan oleh tuberkulosis.Gambar 5. Pemeriksaan Sputum1. pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan lain yang lebih canggih lagi adalah Magnetic Resonance Imaging (MRI).

 P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua. segera setelah bangun tidur. Selain itu dapat dapat diperoleh dengan brushing atau bronchial washing atau BAL (bronchoalveolar lavage) ataupun dengan cara bilas lambung. Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.  S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua. Pada saat pulang. Selama fasilitas memungkinkan.000 kuman dalam 1 mL sputum.  S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB dating berkunjung pertama kali. Cara pemeriksaan sediaan sputum yang dilakukan adalah :  Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa  Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop fluoresens (pewarnaan khusus)  Pemeriksaan dengan biakan (kultur).tuberkulosis pada penanggulangan TB khususnya untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap OAT yang digunakan. Dapat juga dengan memberikan tambahan obat-obat mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik Selama 20-30 menit. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). saat menyerahkan dahak pagi.Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Peran biakan dan identifikasi M. Pemeriksaan ini terkadang sulit terutama pada pasien yang tidak batuk atau batuk yang non produktif sehingga dianjurkan minum air sebanyak dua liter dan diajarkan melakukan refleks batuk. suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. Pasien TB yang masuk 22 . Dengan kata lain diperlukan 5. biakan dan identifikasi kuman serta bila dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi: 1).

tb akan menyebabkan reaksi delayed-type hypersensitivity terhadap komponen antigen yang berasal dari ekstrak M. Banyak sedikitnya reaksi persenyawaan antibodi seluler dan antigen tuberkulin amat dipengaruhi oleh antibodi humoral. Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak. Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan. Tuberkulosis atau tuberkulin. akan timbul reaksi berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrate limfosit yakni reaksi persenyawaan antara antibodi seluler dan antigen tuberkulin.dalam tipe pasien kronis.  Pemeriksaan terhadap resistensi obat. Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang mampu melaksanakan biakan. Dasar tes tuberkulin adalah reaksi alergi tipe lambat.D (Purified Protein Derivatice) intrakutan berkekuatan 5. identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar internasional. tuberculosae. Tes Tuberkulin1. 2). Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis terutama pada anak-anak (balita). Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseoang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M. makin besar pengaruh antibodi humoral. Pada penularan dengan kuman pathogen yang virulen ataupun tidak (Mycobaterium tuberculosae atau BCG) tubuh manusia akan mengadakan reaksi imunologi dengan dibentuknya antibodi seluler pada permulaan dan kemudian diikuti oleh pembentukan antibodi humoral yang dalam perannya akan menekankan antibodi seluler. biasanya dipakai tes mantoux yakni dengan menyuntikkan 0. 23 . makin kecil indurasi yang ditimbulkan. bovis. M.1 cc tuberkulin P.P. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.4 Uji tuberkulin merupakan salah satu dasar kenyataan bahwa infeksi oleh M. 3. 3). Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut memberikan simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam pengobatan MDR (Multi Drug Resistance) dapat di cegah. vaksinasi BCG dan Mycobateria patogen lainnya. dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh laboratorium supranasional TB.

2. terdapat juga TB ekstra paru. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. tuberculosae.10 Penegakan Diagnosis Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari.1. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA).1. nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis). Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. serologi. misalnya uji mikrobiologi. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Diagnosis TB ekstra paru berdasarkan gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. yaitu sewaktu .5 Disamping TB paru. misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB. Pada program TB nasional.pagi sewaktu (SPS).5 24 . sehingga sering terjadi overdiagnosis. foto toraks dan lain-lain. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya. yakni pasien dengan kelainan histologis atau dengan gambaran klinis sesuai dengan TB aktif atau pasien dengan satu sediaan dari organ ekstra parunya menunjukkan hasil bakteri M. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. patologi anatomi. Pemeriksaan lain seperti foto toraks. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama.1.5 Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

Sewaktu (SPS) Hasil BTA ++++ +- Hasil BTA + - Hasil BTA .Gambar 6. Pagi. Alur Diagnosis TB Paru Suspek TB Paru Suspek TB Paru Pemeriksaan dahak mikroskopis – Sewaktu.- Antibiotik Non OAT Tidak Ada Perbaikan Ada Perbaikan Foto Toraks & Pertimbangan Dokter Pemeriksaan Dahak Mikroskopik Hasil BTA +++ ++--Foto Toraks & Pertimbangan Dokter Hasil BTA --- TB BUKAN TB 25 .

dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). sedangkan untuk pengobatan tahap pertama pengobatan lanjutan 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kgBB 26 .  Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari Obat ini sangat efektif terhadap kuman yang sedang berkembang Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB. mencegah kematian. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. yaitu tahap intensif dan lanjutan. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi.8 Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. c. Isoniasid/INH (H) a.2. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. yang terdiri dari :8 1.prinsip sebagai berikut:5.5.2 Regimen Pengobatan TB Paru Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang digunakan pada program penanggulangan TB nasional saat ini adalah obat lini pertama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan 2.11 Pengobatan Tuberkulosis 2.11. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Bersifat bakterisid. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.1 Tujuan dan Prinsip Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.11.8  OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.  Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. mencegah kekambuhan. b.

b. diberikan untuk :  Pasien baru TB paru BTA positif.3 Panduan OAT dan Peruntukannya5. Bersifat bakterisid.2. b. Bersifat bakterisid Pasien berumur sampai 60 tahun dosisnya 0. dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kgBB. Bersifat bakterisid. b. Pirazinamid (Z) a.  Pasien TB paru BTA negatif disertai foto toraks dengan gambaran proses spesifik dan  Pasien TB ekstra paru 27 . Rifampisin (R) a. lanjutan 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kgBB 4.75 g/hari. dapat membunuh kuman persisten yang tidak dapat dibunuh Dosis 10 mg/kgBB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun tahap isoniasid lanjutan 3 kali seminggu 3. Kategori 1 KDT : 2(HRZE)/ 4(HR)3. Etambutol (E) a. Bersifat bakteriostatik Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kgBB sedangkan untuk pengobatan tahap lanjutan 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kgBB 2. sedang untuk berumur ≥ 60 tahun diberikan 0.11.8 1. sedangkan untuk pengobatan tahap suasana asam b.50 g/hari 5. Streptomisin (S) a.

Dosis Kategori 2 KDT Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tahap awal tiap hari 56 dosis 2 kaplet 4 KDT + 500 Streptomisin inj. OAT Sisipan KDT (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti panduan paket untuk tahap awal kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari) 28 . 5 kaplet 4 KDT + 1000 mg Streptomisin inj. Kategori 2 KDT : 2(HRZE)S/ (HRZE)/ 5(HR)3E3. 28 dosis 2 kaplet 4 KDT 3 kaplet 4 KDT 4 kaplet 4 KDT 5 kaplet 4 KDT Tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu (48 dosis) tablet 2 KDT + 2 tab Etambutol 3 tablet 2 KDT + 3 tab Etambutol 4 tablet 2 KDT + 4 tab Etambutol 5 tablet 2 KDT + 5 tab Etambutol 3. Dosis Kategori 1 KDT Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tahap awal tiap hari (56 dosis) 2 kaplet 4 KDT 3 kaplet 4 KDT 4 kaplet 4 KDT 5 kaplet 4 KDT Tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu (48 dosis) 2 tablet 2 KDT 3 tablet 2 KDT 4 tablet 2 KDT 5 tablet 2 KDT 2.Tabel 1. 4 kaplet 4 KDT + 1000 mg Streptomisin inj. 3 kaplet 4 KDT + 750 mg Streptomisin inj. diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:  Pasien kambuh  Pasien gagal  Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus) Tabel 2.

Menurut WHO. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari kemungkinan tertular TB. 2. Dosis sisipan KDT Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Pemberian tiap hari selama 28 hari (28 dosis) 2 kaplet 4 KDT 3 kaplet 4 KDT 4 kaplet 4 KDT 5 kaplet 4 KDT Penggunaan OAT lini kedua misalnya golongan Amikasin (misalnya Kanamisin) dan golongan fluorokinolon tidak dianjurkan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lini pertama.8 1. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Kehamilan Pada prinsipnya pengobatan TB pada kehamilan tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya. hampir semua OAT aman untuk kehamilan. Disamping itu dapat juga meningkatkan resiko resistensi pada OAT lini kedua. 2.4 Pengobatan TB Pada Keadaan Khusus5. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.11. 29 . Ibu menyusui dan bayinya Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinyagangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. kecuali streptomisin.Tabel 3. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta.

ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pasien dengan kelainan hati. suntikan KB.3. 30 . Penggunaan suntikan Streptomisin harus memperhatikan Prinsip-prinsip Universal Precaution (Kewaspadaan Keamanan Universal) Pengobatan pasien TB-HIV sebaiknya diberikan secara terintegrasi dalam satu UPK untuk menjaga kepatuhan pengobatan secara teratur. atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg). Obat TB pada pasien HIV/AIDS sama efektifnya dengan pasien TB yang tidak disertai HIV/AIDS. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT tidak diberikan dan bila telah dalam pengobatan. harus dihentikan. Pasien TB dengan kelainan hati kronik Bila ada kecurigaan gangguan faal hati. Pasien TB yang berisiko tinggi terhadap infeksi HIV perlu dirujuk ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing = Konsul sukarela dengan test HIV). Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali. Prinsip pengobatan pasien TB-HIV adalah dengan mendahulukan pengobatan TB. Pasien TB dengan hepatitis akut Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik. 5. Seorang pasien TB sebaiknya mengggunakan kontrasepsi non-hormonal. pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan pengawasan ketat. Pasien TB dengan infeksi HIV/AIDS Tatalaksanan pengobatan TB pada pasien dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti pasien TB lainnya. Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE. sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. susuk KB). 6. Pasien TB pengguna kontrasepsi Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB. Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan. Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium klinis HIV sesuai dengan standar WHO. 4. dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Tb. Pada keadaan dimana pengobatan Tb sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dan Isoniasid (H) selama 6 bulan.

Selama fase akut prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari. Pada pasien Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopathy diabetika. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR 8. dilanjutkan dengan anti diabetes oral. Apabila fasilitas pemantauan faal ginjal tersedia. Pasien TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien seperti:  Meningitis TB  TB milier dengan atau tanpa meningitis  TB dengan Pleuritis eksudativa  TB dengan Perikarditis konstriktiva. Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah. 9. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis standar pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal. 31 . Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Streptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal. oleh karena itu hindari penggunaannya pada pasien dengan gangguan ginjal. Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan. Pasien TB dengan Diabetes Melitus Diabetes harus dikontrol. setelah selesai pengobatan TB. Pasien TB dengan gagal ginjal Isoniasid (H). kemudian diturunkan secara bertahap. Penggunaan Rifampisin dapat mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosis obat anti diabetes perlu ditingkatkan.7. oleh karena itu hati-hati dengan pemberian etambutol. karena dapat memperberat kelainan tersebut. Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dengan dosis yang sesuai faal ginjal.

dilakukan beberapa screening dan juga tindakan. Indikasi operasi Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (reseksi paru). Pasien yang berobat tidak teratur Pada pasien yang berobat tidak teratur. adalah: Untuk TB paru:  Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif. mungkin kasus kronik 32 . misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan neurologik. Pada pasien yang putus obat kurang dari 1 bulan. 11. dilakukan pelacakan pada pasien. Untuk TB ekstra paru: Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi.10. Tindakan pada pasien yang putus obat antara 1-2 bulan Tindakan-1 Bila hasil BTA negatif atau TB  Lacak pasien ekstra paru  Diskusikan dan cari masalah  Periksa 3 kali dahak SPS dan lanjutkan Bila satu atau lebih pengobatan hasil BTA positif sementara menunggu hasilnya Tindakan-2 Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai Lama pengobatan sebelumnya < 5 bulan Lama pengobatan sebelumnya > 5 bulan Lanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai  Kategori 1: mulai kategori 2  Kategori 2: rujuk.  Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif  Pasien MDR TB dengan kelainan paru yang terlokalisir. Tabel 4. Untuk tindakan pada pasien yang putus berobat antara 1-2 bulan dan putus berobat lebih dari 2 bulan (default) dapat dilihat pada tabel berikut. mendiskusikan bersama pasien untuk mencari penyebab berobat tidak teratur dan melanjutkan pengobatan sampai seluruh dosis selesai.

Tabel 5. dahak diperiksa kembali. Pada akhir tahap awal Dilakukan akhir bulan ke-2 pengobatan pasien baru BTA positif dengan kategori 1. Pengobatan tahap lanjutan tetap diberikan meskipun hasil pemeriksaan ulang dahak BTA masih tetap positif Tindakan-2 Pengobatan dihentikan. mungkin kasus kronis 33 . pasien di observasi.11. Pemantauan hasil pengobatan dilakukan pada : 1. Setelah paket sisipan satu bulan selesai. bila klinis memburuk perlu dilakukan pemeriksaan kembali SPS. Dalam memantau kemajuan pengobatan. pengobatan diteruskan dengan OAT sisipan tiap hari selama 1 bulan.  Pengobatan pasien baru BTA positif dengan kategori-1 : Akhir bulan ke 2 tahap awal pengobatan sebagian besar (seharusnya >80%) dari pasien dahaknya sudah BTA negatif (konversi).5 Pemantauan dan Evaluasi Pengobatan5. Pasien ini dapat meneruskan pengobatan dengan positif. pemeriksaan dahak secara mikroskopis sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Pemeriksaan ulang dahak postitif bila salah satu atau keduanya positif. foto toraks dan atau biakan Kategori 1 Mulai Kategori 2 Kategori 2 Rujuk. Pemeriksaan dahak pada akhir tahap awal dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi konversi dahak. 2. yaitu perubahan dari BTA positif menjadi negatif. Pemeriksaan dinyatakan negatif bila hasilnya keduanya negatif. atau akhir bulan ke-3 pengobatan ulang pasien BTA positif dengan kategori 2.8 Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Tindakan pada pasien yang putus obat > 2 bulan (default) Tindakan-1  Periksa 3 kali Bila hasil BTA dahak SPS negatif atau TB  Diskusikan dan ekstra paru cari masalah  Hentikan pengobatan Bila satu atau lebih sementara hasil BTA positif menunggu hasil pemeriksaan dahak.

Pengobatan tahap lanjutan tetap diberikan meskipun hasil pemeriksaan dahak ulang masih positif. maka pasien tersebut dirujuk ke unit pelayanan spesialistik yang dapat menangani kasus resisten. maka ada kemungkinan terjadi kekeliruan pada pemeriksaan pertama dan pasien berobat tidak teratur. Bila hasil uji kepekaan obat menunjukkan bahwa kuman sudah resisten terhadap 2 atau lebih jenis OAT. Bila memungkinkan specimen dahak pasien dikirim untuk dilakukan biakan dan uji kepekaan obat (sensitivity test). foto toraks menunjukkan gambaran proses spesifik. Sebulan sebelum akhir pengobatan Dilakukan pada akhir bulan ke 5/6 (pada pasien sisipan) pengobatan pasien baru BTA positif dengan kategori 1 atau akhir 7/8 (pada pasien dengan sisipan) pengobatan ulang pasien BTA positif dengan kategori 2. tahap awal harus diteruskan lagi selama 1 bulan dengan OAT sisipan.  Pengobatan pasien BTA negatif foto toraks menunjukkan gambaran proses spesifik: Pasien TB paru BTA negatif. tetap dilakukan pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2. pengobatan diteruskan ke tahap lanjutan. baik dengan pengobatan kategori 1 (berat). pasien meneruskan pengobatan tahap lanjutan. Bila hasil pemeriksaan ulang dahak BTA positif. 2. maka pengobatan dengan tahap lanjutan diteruskan sampai selesai. harus didaftar kembali sebagai pasien gagal dan diberikan pengobatan dengan kategori 2 mulai dari awal. Sementara pemeriksaan dilakukan. Bila pemeriksaan ulang dahak akhir tahap awal pada pasien baru BTA positif kategori 2 dan pasien pengobatan ulang BTA positif kategori 2 menjadi negatif. 34 . Bila tidak memungkinkan. Bila pasien kategori ini dilakukan pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2 hasilnya adalah BTA positif. Setelah satu bulan diberikan OAT sisipan dahak diperiksa kembali. Pengobatan ulang pasien BTA positif dengan kategori-2 : Jika pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 3 masih positif.

Efek samping yang timbul dapat berupa efek samping ringan hingga berat.8 Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek samping. Dapat berupa rasa tidak nyaman bahkan dapat sampai yang paling membahayakan atau fatal. 35 . Berikut tabel efek samping OAT.6 Efek Samping Pengobatan dan Penatalaksanaannya5. Pasien dinyatakan Gagal: Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Pasien dinyatakan Meninggal: Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun. atau “gagal”) Pasien dinyatakan Sembuh : Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya hasil negatif. Pasien dinyatakan Default (Putus berobat): Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.3. Pasien dinyatakan Pengobatan Lengkap: Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Pemeriksaan ulang dahak pada sebulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pengobatan (AP) bertujuan untuk menilai hasil pengobatan (‘sembuh”. oleh karena itu pemantauan efek samping sangat penting dilakukan selama pengobatan. Pasien dinyatakan Pindah: Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui. 2. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping. Akhir pengobatan Dilakukan pada akhir pengobatan pada pasien baru BTA positif dengan kategori 1 atau pada akhir pengobatan ulang BTA positif dengan kategori 2.11.

Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut :1  Komplikasi dini: pleuritis. Rifampisin sakit perut Nyeri sendi Pirazinamid Kesemutan s/d rasa terbakar di Isoniazide kaki Warna kemerahan pada urine Rifampisin Tabel 7. usus. efusi pleura. segera lakukan tes fungsi hati Hentikan Etambutol Hentikan Rifampisin Penanganan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100 mg per hari Tidak ada penanganan khusus.Tabel 6. poncet’s arthropathy 36 . hentikan semua OAT  Memberat. Efek Samping Ringan OAT Efek Samping Penyebab Tidak ada nafsu makan.12 Komplikasi Streptomisin Streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penyakit Tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. beri antihistamin & lanjut OAT  Bila berubah kemerahan. Efek Samping Berat OAT Efek Samping Penyebab Penanganan  Untuk gatal-gatal. beri edukasi kepada pasien Gatal dan kemerahan kulit Semua jenis OAT Tuli Gangguan keseimbangan Ikterus tanpa penyebab lain Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat) Gangguan penglihatan Purpura dan renjatan (syok) 2. empiema. laryngitis. mual. segera rujuk Beri Aspirin Beri vitamin B6 (piridoxin) 100 mg per hari Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang Hentikan semua OAT.

waktu yang lama (6 atau 12 bulan). pakaian) ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup. tempat tidur. Menjaga kebersihan diri. perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring. 37 .13 Pencegahan Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderitaan. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya. pengobatan khusus TBC. Cuci tangan dan tata rumah tangga keberhasilan yang ketat. sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB 2. Isolasi. Pengobatan mondok di rumah sakit hanya bagi penderita yang kategori berat yang memerlukan pengembangan program pengobatannya yang karena alasan – alasan sosial ekonomi dan medis untuk tidak dikehendaki pengobatan jalan. petugas kesehatan lain) dan lainnya yang terindikasinya dengan vaksi BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular. dokter. sindroma gagal napas dewasa (ARDS). Tindakan pencegahan bagi orang–orang sangat dekat (keluarga. apabila cara–cara ini negatif. Tes Tuberkulin bagi seluruh anggota keluarga dengan foto rontgen yang bereaksi positif. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan imunitas terhadap bayi dengan diberikan vaksinasi BCG. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat obat–obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter di minum dengan tekun dan teratur. Oleh penderita. kerusakan parenkim berat -> fibrosis. 4. Imunisasi orang–orang kontak. karsinoma paru. perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan. dengan pemeriksaaan penyelidikan oleh dokter. 8. Penyelidikan orang–orang kontak. pemeriksaan kepada orang–orang yang terinfeksi. 2. dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak di sembarangan tempat. 3. masayrakat dan petugas kesehatan yaitu antara lain :2 1. kor pulmonal. Komplikasi lanjut: obstruksi jalan napas -> SOPT (Sindroma Obstruksi Pasca Tuberkulosis). perlu penyelidikan intensif. Pengobatan khusus. perawat. 7. Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat. 5. 6. amiloidosis.

gejala TB biasanya muncul. Penyakit tuberkulosis paru memiliki beberapa klasifikasi. Pengobatan TB juga memiliki pedoman tersendiri pada beberapa keadaan khusus. Etambutol (E).BAB III SIMPULAN Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberkulosis. Streptomisin (S). Keterlibatan semua pihak dan kesadaran serta pengetahuan yang baik diharapkan mampu mendeteksi dengan cepat penularan penyakit ini dan serta merta menangani serta yang terpenting adalah mencegah agar orang sehat tidak menjadi sakit. tiap tahun terjadi peningkatan kasus baru TB namun secara global Indonesia termasuk salah satu Negara yang berhasil menurunkan angka penularan TB dan menempati urutan ke-5 dunia yang semula berada pada peringkat 3. Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis pasti TB dengan foto toraks dan pemeriksaan dahak (sputum). Rifampisin (R). Pencegahan dapat dilakukan bagi oleh penderita sendiri. 38 . Peningkatan kasus TB sekarang ini sebagai co infeksi dengan HIV dan juga pemberantasan penyakit ini sangat melibatkan banyak pihak baik pemerintah hingga tingkat rumah tangga. Namun bila tidak ditangani dengan baik. Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang mengandung basil berkulosis paru. Regimen pengobatan TB yang dipakai di Indonesia adalah Isoniazid (INH). Di Indonesia sendiri. masyarakat maupun petugas kesehatan. Pemantauan dan evaluasi hasil pengobatan dilakukan sesuai dengan akhir bulan pada setiap tahap pengobatan. TB BTA positif dan TB BTA negatif serta kategori pengobatan meliputi kategori 1 dan kategori 2. Pirazinamide (PZA). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit kedaruratan global karena penyebarannya hampir merata di seluruh dunia. Klasifikasi yang paling sering dipergunakan antara lain TB paru dan TB ekstra paru. Pengobatan TB terbagi atas 2 tahap yaitu tahap awal / intensif dan tahap lanjutan yang terbagi dalam 2 bulan pertama tahap awal dan 4 bulan berikut tahap lanjutan. Efek samping dari pengobatan TB dapat berupa efek samping ringan hingga berat yang penanganannya tersendiri untuk tiap efek samping. dapat timbul komplikasi baik komplikasi dini maupun lanjut. Penyakit TB sebenarnya tidak membahayakan dan pada awal terjadinya penyakit ini memiliki sifat dormant dimana saat imunitas tubuh berkurang.

Bahar. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. 13-5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kementrian Kesehatan Republikl Indonesia. Sow. 8. 2009 : 2-3. In Sudoyo A. 2009:2230-8. Pulmonary Tuberculosis: Diagnosis And Treatment. 38-40. 2007 : 3-5. O.DAFTAR PUSTAKA 1. British Medical Journal vol. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V. Tuberkulosis Paru. Surjanto. Anatomi dan Fisiologi Manusia. E. 8-9. e-USU Repository. Pelatihan Penanggulangan Tuberkulosis Bagi Tim DOT Rumah Sakit. 332. 3. A. Suradi. 2007 : 48-52 Anonim.W. 39 . 13-25. Uji Tuberkulin. 2006 : 1194-7 Kenyorini. Hiswani. 28-34 Setiadi.ed. 4. 48-51 2. 2011 : 7-9 Anonim. Z. 5. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. et all. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. In Jurnal Tuberkulosis Indonesia vol 3. Amin. Graha Ilmu. 7. 6. 2004 : 1-8 Campbell. 2006 : 1-3 Anonim. I. Jakarta: Internal Publishing. Pedoman Pelaksanaan Hari TB Sedunia 2011.