Anda di halaman 1dari 24

Oleh : Kamallulah / 22303004

esistivitas atau tahanan jenis suatu bahan adalah besaran / parameter yang
menunjukan tingkat hambatannya terhadap arus listrik. Bahan yang
mempunyai resistivitas makin besar, berarti makin sukar untuk dilalui arus
listrik. Biasanya tahanan jenis diberi simbol . Tahanan jenis adalah kebalikan dari
daya hantar jenis yang diberi simbol . Jadi, = 1/. Satuan adalah ohm meter
(m)
R
Metoda resistivitas adalah metode geofisika untuk menyelidiki struktur bawah
permukaan berdasar perbedaan resistivitas batuan.
Resistivitas batuan bervariasi menurut jenis batuan, porositas, dan kandungn fluida
(minyak, air , gas).
Jenis batuan Resistivitas (ohm meter)
Granite (batuan beku)
Andesite (batuan beku)
Slates (metamorf)
Marble (metamorf)
Limestone (sediment)
Sandstone (sediment)
Alluvim and sands (sediment)
Oil sands (sediment)
3 x 10
2
- 10
6
1.7 x 10
2
(dry) 4.5 x 10
4
(wet)
6 x 10
2
4 x 10
7
10
2
2.5 x 10
8
50 10
7
1 6.4 x 10
8
10 800
4 - 800
PENGUKURAN RESISTIVITAS
Pengukuran di laboratorium
Resistivitas atau tahanan jenis dapat ditentukan dengan menggunakan hukum ohm I
= A V / L, yang berlaku untuk arus listrik I yang melewati bahan berbentuk
silinder dengan lua penampang A dan panjang L dan diberi beda tegangan V antara
ujung-ujungnya. I, V, A dan L dapat diukur secara langsung dengan menggunakan
amperemeter, volt meter, jangka sorong, dan alat ukur panjang.
Pengukuran di Lapangan
Metoda pengukuran
Resistivitas batuan (di lapangan) dapat diukur secara tidak langsung dengan
memasukan (dan juga mengukurnya) arus listrik kedalam tanah melalui 2 titik
(elektroda) dipermukaan tanah dan mengukur beda potensial antara 2 titik
yang lain dipermukaan (gambar 1)

METODE
RESISTIVITAS
1.1. 1.1.
Pendahuluan Pendahuluan
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
A M N B
Gambar 1. Susunan elektroda untuk pengukuran resistivitas di lapangan
Elektroda (lihat gambar 1)
Elektroda A dan B disebut elektroda arus (current electrode), sedangkan elektroda
M dan N disebut elektroda tegangan (potential electrode).
Konfigurasi Elektroda
Untuk tujuan tertentu, elektroda-elektroda arus dan tegangan dipasang menurut
konfigurasi tertentu. Konfigurasi yang paling umum adalah :
o Konfigurasi Wenner
Jarak AM, MN, NB adalah sama dan biasanya dinamakan a.
o Konfigurasi Schlumberger
Jarak AO = BO = s, MO = NO = b, titik O adalah pusat
konfigurasi
o Konfigurasi dipole-dipole
Jarak AB = MN = a, BM = na
SOUNDING DAN TRAVERSING
Sounding adalah penyelidikan perubahan resistivitas bawah permukaan
kearah vertikal. Caranya : pada titik ukur yang tetap, jarak elektroda arus
dan tegangan diubah / divariasi. Konfigurasi elektroda yang biasanya
dipakai adalah konfigurasi Schlumberger.
Tranversing atau mapping adalah penyelidikan perubahan resistivitas
bawah permukaan kearah lateral (horizontal). Caranya : dengan jarak
elektroda arus dan tegangan tetap, titik ukur dipindah / digeser secara
horisontal. Konfigurasi elektroda yang biasa dipakai adalah konfigurasi
Wenner atau dipole-dipole.
2
2.1.1. Hukum dasar : Hukum Ohm
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
Untuk arus listrik sederhana (sejajar)
Arus listrik I yang melalui suatu bahan berbentuk silinder (gambar 2) akan
berbanding langsung dengan luas penampang A, berbanding terbalik
dengan panjangnya L.
Gambar 2. Arus listrik merata dan sejajar dalam sebuah silinder oleh beda
potensial antara kedua ujungnya.
Dengan demikian dapat ditulis relasi I = A V/L, dengan adalah daya
hantar jenis bahan yang bersangkutan. Kalau yang dipergunakan bukan
daya hantar jenis, tetapi tahanan jenis bahan , maka rumus diatas menjadi
I = A V/ L (1)
Dengan = 1/
Untuk arus listrik menyebar (simetri bola)
Arus listrik yang menembus permukaan bola berongga yang luasnya A,
tebalnya dr, dan beda potensial dV antara bagian luar dan dalam adalah:
dr
dV A
I


(2)
Karena luas permukaan bola A = 4 r
2
, maka relasi itu menjadi :
dr
dV
I

2
r 4

(3)
Tanda negatif menunjukan bahwa arus mengalir dari tempat berpotensial
tinggi ke rendah.
Potensial oleh elektroda arus tunggal di permukaan medium setengah
tak berhingga
3
V
1
V
2
L
A
I
2.1. Teori 2.1. Teori
Dasar Dasar
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
Gambar 3. Pola arus listrik yang dipancarkan oleh elektroda arus tunggal i
permukaan medium setengah tak berhingga
Untuk arus seperti gambar 3 akan berlaku hukum ohm :
dr
dV A
I


(4)
Karena luas setengah bola A = 2 r
2
, maka arus I menjadi :
dr
dV
I

2
r 2

(5)
atau
2
r 2
dr I
dV (5)
Sehingga potensial disuatu titik sejauh r dari pusat arus adalah :
r 2 2
2
0

I
d
dr I
dV V
r


(6)
Potensial oleh elektroda arus ganda di permukaan medium setengah tak
berhingga
r1 r2
r3 r4
Karena potensial adalag besaran akalar, maka potensial diseberang titik oleh
elektroda arus ganda akan merupakan jumlahan potensial oleh 2 elektroda
arus tunggal.
Oleh kaena itu, dengan menggunakan persamaan (6), potensial di titik M oleh
arus yang melewati elektroda A dan B (Gambar 4) adalah:
4
Gambar 4. Arus listrik
dilewatkan pada elektroda
arus A dan B. Elektroda
M dan N adalah elektroda
potensial (beda
potensialnya akan
diukur/ditentukan)
I
R dr
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas

,
_


2 1
1 1
2
1
r r
V
M

(7)
Tanda negatif pada persamaan (7) disebabkan oleh arus yang harus
berlawanan pada elektoda arus ganda.
Potensial di titik N adalah:

,
_


4 3
1 1
2
1
r r
V
N

(8)
Dengan demikian beda potensial antara titik M dan N adalah:

,
_

,
_


4 3 2 1
1 1 1 1
2 r r r r
l
V V V
n M

(9)
Untuk konfigurasi Wenner, r
1
= r
4
=a dan r
2
= r
3
= 2a, maka persaman (9)
menjadi:
a a a a a
l
V

2
1 1
2
1
2
1 1
2
1

'

,
_

,
_


(10)
sehingga:
,
_

l
V
a 2
(11)
Untuk konfigurasi Schlumberger, r
1
= s b, r
2
= s + b, r
3
= s + b, r
4
= s-b,
persamaan (9) menjadi:
2 2
4
2
1 1 1 1 1
2 b s
b
b s b s b s b s
l
V

'

,
_

+

,
_

(12)
Bila b << a (ekstrinsitasnya kecil), maka persamaan (12) dapat dituliskan
sebagai:
2
2
s
h l

(13)
sehingga:
,
_

l
V
b
s
2
2

(14)
Persamaan (11) dan (14) memberikan hubungan antara dengan (V/l).
Faktor yang menghubungkan antara keduanya mempunyai harga yang hanya
tergantung dari konfigurasi atau geometri dari elektroda-elektroda arus dan
tegangan. Oleh karena itu factor tersebut disebut factor geometri.
Faktor geometri untuk konfigurasi Wenner adalah : K = 2 a
Faktor geometri untuk konfigurasi Schlumberger adalah : K =
b
s
2
2

Persamaan (11) dan (14) diturunkan berdasakan hokum ohm pada medium
homogen setengah tak berhingga yang secara fisis tidak ada asumsi lain yang
berlaku. Dengan demikian pengukuran dengan konfigurasi elektroda apapun
5
2.1.2. Resistivitas Semu
2.1.3. Konfigurasi Elektroda dan Faktor Geometrinya
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
(pada medium setengah ) harus memberikan harga resistivitas yang sama,
yaitu resistivitas medium yang sebenarnya (true resistivity)
Dalam eksplorasi geolistrik, untuk mengukur resistivitas di lapangan
digunakan pesamaan (11) atau (14), yang diturunkan dari arus listrik pada
medium homogen setengah tak berhingga. Karena jarak elektroda jauh lebih
kecil dari pada jejari bumi, maka bumi dapat dianggap sebagai medium
setengah tak berhingga. Akan tetapi karena sifat bumi yang pada umumnya
berlapis (terutama didekat permukaan) perandaian bahwa mediumnya adalah
homogen tidak dipenuhi.
Oleh karena itu resistivitas yang diperoleh dengan menggunakan persamaan
(11) atau (14) bukan merupakan resistivitas yang sebenarnya. Biasanya
resistivitas yang terukur tersebut dikenal sebagai rsistivitas semu atau
apparent resistivity yang biasanya dituliskan dengan symbol
a
.
Resistivitas semu yang dihasilkan oleh setiap konfigurasi akan berbeda
walaupun jarak antar elektrodanya sama, maka akan dikenal
aw
yaitu
resistivitas semu untuk konfigurasi Wenner dan
as

yaitu resistivitas semu


untuk konfigurasi Schlumberger. Pada umumnya
aw as

.
Untuk medium berlapis, harga resistivitas semu ini akan merupakan fungsi
jarak bentangan (jarak antar elektroda arus). Untuk jarak anatar elektroda arus
kecil akan memberikan
a

yang harganya mendekati batuan di dekat


permukaan. Sedang untuk jarak bentangan yang besar,
a

yang diperoleh
akan mewakili harga batuan yang lebih dalam.
6
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
Konfigurasi elektroda yang banyak dipakai dapat dilihat pada gambar
dibawah ini
KONFIGURASI WENNER
KONFIGURASI SCHLUMBERGER
7
A M O N B
b b
s s
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
KONFIGURASI DIPOLE DIPOLE
KONFIGURASI POLE-DIPOLE
KONFIGURASI POLE-POLE
8
a
A N
B M

na
A B M N
a a
na N

A B M
a
Kuliah Lapangan Karangsambung 2004 / Metode Resitivitas
Faktor geometri masing-masing konfigurasi
Konfigurasi Wenner : K = 2 a
Konfigurasi Schlumberger : K = (s
2
-b
2
) / 2b atau K s
2
/ 2b
(bila s>>b)
Konfigurasi dipole-dipole : K = n(n+1)(n+2)a
Konfigurasi pole-dipole : K = 2n(n+1) a
Konfigurasi pole-pole : K = 2 a
Lokasi pengambilan data geolistrik berasal dari 6 daerah dengan masing-
masing daerah terdiri dari beberapa stasiun yang dimulai pada hari mingggu, tanggal
6-8 Juni 2004, diantaranya daerah Gunung Parang, Djatibungkus, kaki Gunung
Sipako pinggir sungai Luk Ulo, di pinggir bendungan Kali Gending, Karangsambung.
Metoda yang digunakan ialah metode Wenner. Bentangan elektroda terpanjang yaitu
sepanjang 70 meter, dengan jumlah stasium dari masing-masing daerah sekitar 3
sampai 6 stasiun dengan spasi jarak antara stasiun berselang antara 10-30 meter.
Alat yang digunakan terdiri dari:
1. Palu
2. Alat ukur resistivitas
3. Tali meteran
4. Elektroda arus
5. Elektroda potensial
6. Kabel
7. Payung
8. Catatan & pensil
9. Kalkulator
9
3.1. Lokasi 3.1. Lokasi
Pengambilan Data Pengambilan Data
Distribusi pembagian kerja meliputi :
a. 1 orang sebagai operator alat resistivitas merangkap sebagai
penghitung nilai resistivitas terukur dan sebagai pencatat hasil yang
diperoleh dan dibaca dari alat resistivitas yang terdiri dari A, K, I,
V, R dan resistivitas semu.
b. 1 orang bertindak sebagai pimpro (pemberi komando) saat
elektroda beralih dan mengatur peralihan dan jarak yang akan
digunakan.
c. 4 orang bertugas mengatur dan menancapkan elektroda.

Langkah perhitungan resistivity tergolong sangat mudah. Untuk survey
metode geolistrik ini data yang telah diperoleh adalah V,I dan a dimana I adalah
arus listrik, V merupakan tegangan (voltase), sedangkan a adalah jarak antara
elektroda.
Setelah data-data tersebut kita dapatkan maka selanjutnya kita tinggal
menggunakan hubungan antara K dengan a dan r. Kemudian setelah kita ketahui
nilai K, yaitu untuk metode Wenner sebesar k=2a, maka kita dapat menentukan
nilai
a
(rho apparent), yaitu
a = k
V/I, dengan nilai rho apparent tersebut pada
kedalaman dip 45
0
dari titik tengah pasangan elektroda yang merupakan nilai rata-
rata ditempat tersebut.
Mapping
Data resistivitas yang diperoleh dilapangan diplot dalam peta
sesuai dengan tempat pengukurannya. Berdasarkan data yang diplot di peta
tersebut kontur yang menghubungkan harga resistivitas yang sama
(isoapparent resistivity). Interpretasi dilakukan secara langsung dari pola
kontur resistivitas yang ada.
Sounding
Ada beberapa cara untuk mengolah data sounding, disini data akan
diolah dengan teknik curva matching.
Curve Matching
Resistivitas semu untuk struktur berlapis (resistivitas dan ketebalan
masing-masing lapisan diketahui) dapat dihitung secara teoritis
(penyelesaian problem maju), yaitu dengan menyelesaikan persamaan
Laplace untuk potensial listrik dalam koordinat silinder dan pertimbangan
syarat-syarat batas (penyelesaiannya cukup panjang dan sukar karena
melibatkan fungsi Bessel dan syarat-syarat batas).
Teknik curve matching yang paling praktis adalah yang hanya
menggunakan kurva baku struktur medium 2 lapis yang terdiri dari 2 kurva
baku. Ini dapat dilakukan mengingat struktur banyak lapis dapat dianggap
sebagai stuktur 2 lapis. Teknik curve matching menggunakan kurva baku
4.1. Langkah dan 4.1. Langkah dan
Pengolahan Data Pengolahan Data
medium 2 lapis ini menentukan 4 kurva Bantu yang menghubungkan
lengkung kurva resistivitas semu banyak lapis dengan dua lapis.
Prosedur curve matching
Data resistivitas semu sebagai fungsi jarak setengah bentangan
yang diperoleh dari lapangan berupa titik-titik, yang bila dihubungkan
akan membentuk lengkungan dengan pola tertentu. Pola lengkung
resistivitas semu ini akan menentukan lengkung Bantu tipe yang mana
yang harus dipilih. Lengkung resistivitas semu tersebut kemudian
dimatchkan dengan lengkung Bantu yang sesuai dengan jalan
mengimpitkan kedua lengkung tersebut (banyak data/titik dengan harga
a
yang paling dekat dengan lengkung baku), sehingga diperoleh letak titik
silang (cross) yang diinterpretasikan sebagai batas kontras resistivitas.
Bertitik tolak dari titik silang tersebut dengan kurva Bantu tertentu dapat
ditemukan titik silang berikutnya yang merupakan batas kontras
resistivitas berikutnya. Matching dilakukan dengan cara menggeser-geser
lengkung resistivitas semu (dari data lapangan) dan lengkung baku dengan
sumbu-sumbu absis dan ordinat harus selalu sejajar.
Perlu diketahui bahwa diantara keempat jenis tipe lengkung Bantu
yang ada, lengkung tipe H (tipe pinggan) merupakan lengkung Bantu yang
paling mudah penggunaanya, karena haga h
2
/h
1
dapat diperoleh langsung
dengan menarik garis sejajar sumbu ordinatnya, dan harga h tidak perlu
dikoreksi. Sedang lengkung Bantu tipe A, K dan Q memerlukan koreksi
untuk menentukan ketebalannya. Harga ketebalan (kedalaman) merupakan
harga h (jarak absis titik silang) dikalikan dengan factor koreksinya.
Pengolahan data-data resistivity sesuai dengan langkah-langkah
pengerjaan diatas, pengolahan ini bertujuan untuk mendapatkan
a
(rho
apparent). Pengolahan data-data ini terdapat pada Lampiran-Resistivity.
Langkah ini diartikan sebagai penerjemahan bahasa fisis berupa harga
tahanan jenis (resistivitas) menjadi bahasa geologi yang lebih umum. Oleh karena
itu di dalam langkah interpretasi diperlukan pengetahuan geologi, baik struktur
maupun proses sedimentasi untuk dapat mengetahui jenis batuan penyusunnya.
Tabel dibawah ini memberikan ringkasan harga konversi tahanan jenis
beberapa medium penyusun kerak bumi. Jangkauan harga resistivitas memang
tumpang tindih, oleh karena itu informasi geologi sangat diperlukan untuk
memperkuat hasil interpretasi.
Tabel tahanan jenis berbagai contoh batuan dan fluida
Material Bumi Jangkauan(Ohm-m)
Resistivitas Semu
Material Bumi Jangkauan(Ohm-
m)
Resistivitas Semu
Logam
Tembaga
Emas
Perak
Gafit
Besi
Nikel
Timah
Batuan Kristalin
Granit
Diorit
Gabro
Andesit
Basalt
Sekis
Gneiss
1.7 x 10
-8
2.4 x 10
-8
1.6 x 10
-8
10
-3
10
-7
7.8 x 10
-8
1.1 x 10
-8
10
2
-10
6
10
4
-10
5
10
3
-10
6
10
2
-10
4
10 -10
7
10 -10
4
10
4
-10
6
Batuan Sedimen
Batu lempung
Batu pasir
Batu gamping
Dolomit
Sedimen Lepas
Pasir
Lempung
Air Tanah
Air sumur
Air payau
Air laut
Air Asin (garam)
10 -10
3
1 -10
8
50 -10
7
10
2
-10
4
1 -10
3
1 -10
2
0.1-10
3
0.3-1
0.2
0.05-0.2
Interpretasi data untuk daerah bukit Djatibungkus
Dari data-data resistivity pada lampiran resistivity maka didapatkan p kontur
rho-apparent terhadap titik-titik stasiun, dari pola-pola kontur dibawah
tersebut maka dapat diinterpretasikan keadaan dibawah permukaan bumi. Dari
data kontur rho apparent diatas terdapat perbedaan harga resistivitas yang
signifikan, yaitu antara stasiun 1 dan 4. Pada stasiun 5 dan 6 perbedaan
variasi harga resistivitas terlihat tidak terlalu tinggi. Kontras nilai resistivitas
yang tinggi ini di interpretasikan merupakan litologi batu gamping, hal ini
dapat didukung dengan adanya singkapan bukit Djatibungkus yang merupakan
tempat survey geolistrik ini, merupakan batu gamping. Dari pola kontur antara
stasiun 1 dan 4 terlihat perbedaan variasi resistivitas yang tinggi, hal ini
diinterpretasikan sebagai kontak litologi antara batu gamping dan batu
5.1. Interpretasi 5.1. Interpretasi
Data Data
lempung. Hasil interpretasi batas kontak litologi antara batu gamping dan batu
lempung ini dapat didukung oleh studi geologi sebelumnya yaitu daerah
pengukuran (survey) merupakan daerah dimana terdapat singkapan antara batu
gamping dengan batu lempung yang merupakan sesar dan ditandai dengan
adanya slickenslide.
Pada stasiun 1 dan 4 dilakukan sounding, untuk meyakinkan bidang kontak
antara gamping dan lempung. Sounding dilakukan dengan cara curve
matching, proses curve matching dilakukan dengan software yaitu Winsev 6.0.
Hasil sounding sbb :
Dari gambar hasil sounding pada stasiun 1 terlihat sampai kedalaman 10 m
memiliki resistivitas 20 ohm.m hal ini diinterpretasikan sebagai soil, dari
referensi harga resitivity soil yaitu 10-2000 ohm.m. Pada lapisan bawahnya
terlihat dari kedalaman 10 m kebawah memiliki resisitivitas 64 ohm.m hal ini
diinterpretasikan sebagai batu gamping. Dari referensi gamping memiliki
resistivity 50-10
7

ohm.m.
Pada stasiun 2 terlihat sampai kedalaman 3.5 m memiliki resistivitas 9 ohm.m
hal ini diinterpretasikan sebagai soil, dari referensi harga resitivity soil yaitu
10-2000 ohm.m. Pada lapisan bawahnya terlihat dari kedalaman 3.5 m
kebawah dan memiliki resisitivitas 48 ohm.m hal ini diinterpretasikan sebagai
batu lempung. Dari referensi lempung memiliki resistivity 1-100

ohm.m. Dari
interpretasi hasil sounding tersebut dapat dilihat juga batas kontak antara batu
gamping dengan batu lempung yaitu terletak antara stasiun 1 dan 4.
Interpretasi data daerah pinggir bendungan Kali Gending
Hasil korelasi yang telah ditampilkan pada gambar di atas, diperoleh
hasil sebagai berikut : pada stasiun 1 diperoleh empat lapisan dengan

masing-masing adalah 93,4 m , 104,1 m , 280,2 m dan 1401 m


sementara pada stasiun 2 diperoleh nilai resistivitasnya berturut-turut
adalah 33,31 m , 22,2 m , 33,31 m , dan 6,66 m . Kemudian pada
stasiun 3 diperoleh resistivitas antara lain 32,6 m , 16,3 m , 24,45
m dan 16,3 m . Jika kita melihat kisaran harga resistivitas di atas
maka terdapat dua kecenderungan range resistivitas yaitu :
1. Pada stasiun 1 antara 90 m sampai dengan 1500 m .
2. Pada stasiun2 dan 3 antara 24 m sampai dengan 35 m .
3. Pada stasiun 2 dan 3 juga terdapat resistivitas yang sangat
rendah yaitu 6,66 m dan 16,3. m .
Berdasarkan kecenderungan harga resistivitas pada stasiun 1 dan
kondisi geologi daerah penelitian yang masih masuk dalam kompleks
Melange Luk Ulo, maka litologi yang mungkin ada adalah batuan
metamorf yakni marmer dan batulempung , sedangkan harga
resistivitas rendah pada stasiun 2 dan 3 kemungkinan adalah daerah
resapan air sehingga karena mengingat posisi stasiun 2 dan 3 cukup
rendah dan dekat dengan Kali Luk Ulo. Mari kita tinjau rincian litologi
tersebut:
1. Marmer, memiliki range resistivitas 100 m hingga 2,5x10
8
m , terdapat hanya di stasiun 1 yang letaknya berada di atas
singkapan marmer. Dan hali ini agak menyulitkan untuk korelasi
karena sangat kontras dengan hasil pengukuran stasiun 2 dan 3.
Harga resistivitas semakin besar seiring kedalaman, karena proses
pelapukan yang mungkin saja terjadi. Dan batuan yang masih segar
tentunya memiliki harga

yang cukup tinggi.


2. Batulempung, batulempung ini hadir di stasiun 2 dan 3, bahkan
kemungkinan hasil resisitivitas menunjukkan semua lapisan adalah
lempung namun kadar nya berbeda, seperti :
Boulder clay, bongkah batulempung mendominasi pada stasiun 2 ,
dari ketiga lapisan yang diperoleh semuanya adalah lempung
namun nilai resistivitas yang berbeda-beda menunjukkan bahwa
pada lapisan pertama hingga ketiga ( 33,3 m , 22,2 m ,dan 33,3
m )) masih sedikit lebih terkompaksi sehingga lebih solid,
sementara pada lapisan keempat lempung sedikit basah
kemungkinan ini karena kontak dengan air karena dekat dengan
Kali Luk Ulo
3. Pada stasiun 3 juga range harga

masih berkisar pada harga


16,3 m , 24,45 m , dan 32,6 m , yang mirip dengan lempung
dan harga yanng rendah juga dianggap merupakan resapan air.
Kedua Stasiun meiliki elevasi lebih rendah dibanding stasiun 1
sehingga tidak menutup kemungkinan terkenan resapan air dari
Luk Ulo.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat direkontruksi urut-urutan
litologi yang muncul yaitu marmer kemudian batu lempung dari geologi
regional daerah ini termasuk kompleks Melange sehingga tidak aneh jika
muncul marmer karena telah mengalami perubahan P dan T akibat
deformasi. Dan agak sulit memperkirakan umur batuan yanng ada. Tetapi
jika dikaitkan dengan daerah sekitarnya yang juga terdapat singkapan-
singkapan batuan yang berbeda namun bersifat lokal maka marmer dapat
dianggap sebagai salah satu fragmen atau bongkah yang tercebur dalam
batulempung. Untuk interpretasi lebih menyeluruh perlu dukungan data
lain dan lebih banyak mencakup keseluruhan daerah Karangsambung ini.
Interpretasi data untuk daerah Djatibungkus
Interpretasi dilakukan dengan menganalisis peusedeusetion dan
hasil dari curve matching.
Pada daerah ini kita ingin mengetahui penyebaran dari batu
gamping yang berada di Jatibungkus. Apakah berupa lensa (bungkah
besar) atau suatu perlapisan biasa yang memiliki orientasi penyebaran
pada arah tertentu.
Peusedeusection.
1 0 2 0 3 0 4 0 5 0
J a r a k A n t a r S t a s i u n ( m )
- 6 0
- 5 5
- 5 0
- 4 5
- 4 0
- 3 5
- 3 0
- 2 5
- 2 0
- 1 5
- 1 0
- 5
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
m
)
2
4
6
8
1 0
1 2
1 4
1 6
1 8
2 0
2 2
2 4
2 6
2 8
3 0
3 2
3 4
3 6
m
Gambar VI.6 Peusedeusection
Gambar VI.7 Gambaran 3D Peusedeusection
Pada Peusedeusetion terlihat adanya pola kontur yang sangat berbeda
antara daerah dekat permukaan dengan daerah dibawahnya.
a. Di dekat permukaan, kedalaman 0 - 20 m
Kira-kira sampai 20 m di bawah permukaan, pada stasiun 5, pola
konturnya sangat rapat sekali dan semakin dalam, harga
restivitasnya semakin menurun. Hal ini menunjukan penurunan
harga resistivitas yang sangat tinggi seiring berubahnya
kedalaman. Ketebalannya daerah ini semakin mengecil dari
stasiun 5 menuju ke stasiun 1. Harga resistivitasnya berkisar
antara 40 .m sampai 8 .m yang diinterpretasikan sebagai
tubuh batu gamping. Penurunan harga ini diduga berkaitan
dengan semakin bertambahnya jumlah kandungan air yang
meningkatkan kemampuan konduktivitasnya.
b. Di bawah permukaan , kedalaman 20 - 60 m
Lebih dalam lagi dari sebelumnya, pola konturnya semakain
jarang yang menandakan bahwa tidak banyak terjadi perubahan
harga resistivitas. Harga resistivitas semunya berkisar antara 8
.m sampai 5 .m (< 10 .m) yang diinterpretasikan sebagai
batu lempung yang termasuk dalam Formasi Karangsambung.
Perbedaan pola kontur yang telah dijelaskan di atas
diinterpretasikan sebagai perbedaan litologi yaitu batu gamping
(atas) dan batu lempung (bawah). Terlihat dilapangan bahwa batu
gamping ini tersingkap hanya pada lokasi tertentu. Dengan hasil
observasi geolistrik ini semakin menguatkan bahwa keberadaan
tubuh batu gamping ini sebagi suatu lensa berukuran bongkah yang
besar.
Interpretasi data untuk daerah kaki Gunung Sipako pinggir sungai
Luk Ulo
Untuk melihat pola penyebaran resistivitas batuan, maka dari data tersebut
dibuat Pseudosectionnya seperti di bawah ini :
Berdasarkan korelasi yang telah ditampilkan pada lampiran gambar maka
diperoleh hasil sbb: pada stasiun 1, 2 dan 8 diperoleh empat lapisan
dengan

masing-masing adalah sekitar 400 ohm m , 160 ohm m, 106.67


ohm m dan 3.56 ohm m sementara pada stasiun 3 sampai dengan 7
diperoleh tiga lapisan nilai resistivitasnya berturut-turut adalah sekitar 250
ohm m, 166.67 ohm m dan 3.3334 ohm m.
Jika kita melihat kisaran harga resistivitas di atas maka terdapat tiga
kecenderungan range resistivitas yaitu :
1. 0,24 sampai dengan 10 ohm m
2. 50 sampai dengan 200 ohm m
3. 200 sampai dengan 400 ohm m
Berdasarkan korelasi tersebut juga terlihat adanya perbedaan kontras
resisitivitas di stasiun 5 dan stasiun 6 dimana kemungkinan hal ini
diakibatkan oleh adanya kontak antara phylite dengan lempung
sebagaimana yang terlihat singkapannya dipermukaan.
Hal ini diperkuat dengan penampang pseudosection yang memperlihatkan
gejala yang sama. Keanehan pada stasiun 2 pada penampang
pseudosection tidak perlu diperhatikan karena pada saat pengukuran alat
geolistriknya sedang mengalami error.
Dalam penelitian kali ini yang menggunakan metoda Wenner banyak
kekurangannya antara lain tidak dapat mendefinisikan kedalaman secara
kuantitatif hanya dugaan saja selain itu harga resistivitas semuanya
menggunakan kurva matching yang sangat subjektif sehingga
kemungkinan perbedaan antara satu dengan lainnya akan ada dan
berakibat interpretasi juga bisa melenceng jauh, oleh karena itu perlu
adanya suatu pendekatan harga pada saat mengkorelasikannya dan
perlunya pengetahuan dan survey geologi daerah penelitian sehingga
interpretasi kita tidak menyimpang dan merupakan perpaduan antara
geologi dan geofisika dalam hal ini geolistrik. Tidak terlepas juga adanya
ketidaktelitian alat, oleh karena itu perlu adanya kalibrasi berulang untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik.
Interpretasi data untuk daerah Gunung Parang
Interpretasi dilakukan dengan menganalisis peusedeusetion dan
hasil dari curve matching (terlampir).
Pada daerah ini kita ingin mengetahui penyebaran dari batuan
diabas dan kontaknya dengan batu lempung yang berada di Gunung
Parang.
1 0 1 5 2 0 2 5 3 0
- 1 0 0
- 9 0
- 8 0
- 7 0
- 6 0
- 5 0
- 4 0
- 3 0
- 2 0
- 1 0
- 1 0
0
1 0
2 0
3 0
4 0
5 0
6 0
7 0
8 0
9 0
1 0 0
1 1 0
1 2 0
1 3 0
Dengan menggunakan hasil perhitungan dan gambar dari curve matching
(terlampir), maka kita dapat menentukan nilai resistivitas untuk masing-
masing stasiun, secara garis besar untuk stasiun 1 berturut-turut 6.6 m, 69.5
m, 80 m; Stasiun 2 berturut-turut 23.75 m, 9.5 m, 38 m; stasiun 3
nilai resistivitasnya 1.29 m, 2.58 m, 7 m berturut-turut berdasarkan
kedalamannya. Sehingga kita dapat menginterpretasikan hasil dari masing-
masing nilai resistivitas berdasarkan litologinya, yaitu :
1. Harga resistivitas dengan range 1.29 m 23.75
m merupakan diabas
2. Harga resistivitas dengan range 38 m 80 m
merupakan batulempung
m
Jarak antara stasiun (m)
K
e
d
a
l
a
m
a
n

(
m
)
Sedangkan batas kontak antara batu lempung dan diabas terdapat pada stasiun
2 dan stasiun 3.
Bila dilihat dari jangkauan harga resistivitas diatas dan pada lampiran memang
tumpang tindih, oleh karena itu informasi geologi sangat diperlukan untuk
memperkuat hasil interpretasi.
Interpretasi data untuk daerah Djatibungkus
Dengan metode sounding
Sounding
-180
-160
-140
-120
-100
-80
-60
-40
-20
0
10 20 30 40 50 60
Station
D
e
p
t
h

(
m
)
Limestone
Clay
Soil
Secara umum data dengan metode sounding dari daerah Djatibungkus
terbagi atas tiga litologi utama, yaitu :
Batu gamping, dalam grafik sounding berwarna kuning, dengan
nilai resistivitas sekitar 50 m. Berdasarkan kondisi geologi dari area
ini, litologi ini memiliki nilai resistivitas terbesar.
Lempung, dalam grafik sounding berwarna merah, dengan nilai
resistivitas sekitar 10m (0 - 100 m). Berdasarkan kondisi geologi
daerah tersebut, litologi ini memiliki nilai resistivitas yang merata.
Soil, dalam grafik sounding berwarna biru, dengan nilai resitivitas
yang kecil. Berdasarkan kondisi geologi daerah tersebut, memiliki
nilai resistivitas yang rendah.
Gambar. Metoda sounding untuk perhitungan resitivitas
1 0 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0
- 1 0 0
- 9 0
- 8 0
- 7 0
- 6 0
- 5 0
- 4 0
- 3 0
- 2 0
- 1 0
- 5 0
- 4 0
- 3 0
- 2 0
- 1 0
0
1 0
2 0
3 0
4 0
5 0
6 0
7 0
8 0
9 0
1 0 0
1 1 0
1 2 0
1 3 0
1 4 0
1 5 0
1 6 0
1 7 0
1 8 0
1 9 0
2 0 0
- 5 0
- 4 0
- 3 0
- 2 0
- 1 0
0
1 0
2 0
3 0
4 0
5 0
6 0
7 0
8 0
9 0
1 0 0
Metode Profiling
Dari sayatan 2D dan 3D, diperlihatkan nilai resistivitas dari
masing-masing litologi. Nilai resistivitas diperlihatkan dengan kontur
terbesar diinterpretasikan sebagai batu gamping, dengan nilai litologi
lempung merata dan yang terendah untuk nilai resistivitas dari soil.
1. Harga resistivitas yang mempunyai selang
tumpang tindih, mengakibatkan proses interpretasi menjadi bias, oleh karena
itu informasi geologi sangat diperlukan untuk memperkuat hasil interpretasi.
2. Dengan metode resistivitas, kita dapat
menginterpretasikan lapisan atau struktur-struktur dangkal, kedalaman dari
interpretasi tergantung dari panjangnya lintasan dari masing-masing lintasan
3. Dari hasil interpretasi untuk daerah
Djatibungkus, ternyata terdapat kontak antara batu gamping dengan lempung.
Di dekat permukaan, kedalaman 0 - 20 m harga resistivitasnya berkisar antara
40 .m sampai 8 .m yang diinterpretasikan sebagai tubuh batu gamping, di
bawah permukaan , kedalaman 20 - 60 m harga resistivitas semunya berkisar
antara 8 .m sampai 5 .m (< 10 .m) yang diinterpretasikan sebagai batu
lempung yang termasuk dalam Formasi Karangsambung.
Sedangkan untuk daerah Gunung Parang terdapat kontak antara batulempung
dengan diabas ditandai dengan harga resitivitas sekitar 38m-80m harga
resistivitas untuk diabas dan 1,29m-23,75m untuk batulempung.
Kemudian di daerah kaki Gunung Sipako pinggir sungai Luk Ulo terdapat
kontak antara phylite dengan lempung
Dan untuk daerah pinggir bendungan Kali Gending terdapat batuan lempung
dan marmer yang masing-masing memiliki range resistivitas 100 m hingga
2,5x10
8
m .
6.1. Kesimpulan 6.1. Kesimpulan
1. Telford, W.M., Geldart., L.P, R.E., and Keys,.DA., 1976, Applied
Geophysics, Cambride University press, Cambridege.
2. Harsolumakso, A.H., 2004., Geologi Daerah Luk Ulo Kebumen Jawa
Tengah., Kuliah Lapangan Karangsambung, Teknik Geologi ITB
3. M.I.Tahjudin Taib, Resistivity Prospecting, Lab. Geofisika dan
Vulkanologi ITB.
4. , 2001, Panduan Workshop Eksplorasi Geofisika (Teori dan
aplikasi), Laboratorium Geofisika , Fakultas MIPA-UGM.
Daftar Pustaka Daftar Pustaka
a. 2D-Section