Anda di halaman 1dari 92

PENGUKURAN KAYU

(PohonBerdiri&PohonRebah)

Mufidah Asyari
Abdul Aziz Karim
Meratusia Juli 2010
Banjarbaru - Kalimantan Selatan
Pengukuran Kayu ii
KATA PENGANTAR
Sajian sebelumnya berupa power pointyang dapat diunduh secara gratis dalam bentuk
pdf berjudul Ilmu Ukur Kayu.

Kini sajian tersebut disajikan ulang ke dalam bentuk word yang di pdf kan dengan
harapan uraian sebelumnya menjadi lebih jelas. Perubahan ini dilakukan sekaligus juga
sebagai Catatan Kenangan bahan kuliah yang pernah kami tayangkan (OHP, LCD) selama
aktif di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarbaru
Kalimantan Selatan, yang berakhir Juni 2011.

Rekan kelompok pengajar yang banyak membantu dalam penyusunan materi dan sekaligus
berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada bu Mufidah Asyari atas segala
bantuannya.

Banjarbaru, Juli 2010

Mufidah Asyari
Abdul Aziz Karim.

Pengukuran Kayu iii

Sajian Materi
No. T e k s Halaman
Kata Pengantar .
ii
Sajian Materi .
iii
10. Pendahuluan ..
10-1
11. Pengertian
10-1
12. Lawas dan Kegunaan
10-2
13. Satuan Ukuran
10-3
14. Kayu Bulat Rimba Indonesia (KBRI)
10-4
20. Diameter Batang
20-1
21. Pengertian Diameter ...
20-1
22. Rumusan Lbds ....
20-1
23. Ketentuan Pengukuran ..
20-3
24. Peralatan Ukur dan Kesalahan ..
20-7
30. Lekukan dan Kulit Batang ..
30-1
31. Lekukan Batang .
30-1
32. Tebal Kulit .
30-1
40. Tinggi Pohon ...
40-1
41. Pengertian Tinggi .
40-1
42. Rumusan Dasar Tinggi ...
40-1
43. Peralatan Ukur Tinggi ..
40-2
44. Kesalahan Pengukuran Tinggi .
40-10
45. Pendugaan Tinggi Pohon
40-12
50 Volume Pohon ..
50-1
51. Pengertian Volume .
50-1
52. Dasar Penentuan Volume .
50-1
53. Penentuan Volume Pohon .
50-4
54. Model Pendugaan Volume ..
50-23
60 Koreksi Bentuk ..
60-1
61. Bentuk Batang .
60-1
62. Faktor Bentuk
60-2
63. KusenBentuk
60-6
70 Umur dan Riap
70-1
71. Pengertian ..
70-1
72. Umur
70-1
73. Riap
70-1

Pengukuran Kayu iv

No. T a b e l Halaman
1-1 Konversi satuan ukuran panjang ...
10-4
5-1 Rumusan volume benda-benda putar sesuai bentuk dan nilai r ...
50-2
5-2 Rumusan volume benda-benda putar secara matematis .
50-2
5-3 Bias Volume .
50-3

Pengukuran Kayu v

No. Gambar Halaman


2-1 Penentuan nilai phi
20-1
2-2 Pohon berdiri dan kondisi lapangan ...
20-3
2-3 Pohon berbanir ...
20-4
2-4 Batang cacad .
20-4
2-5 Batang bercagak
20-5
2-6 Perakaran khas
20-5
2-7 Pita ukur ...
20-8
2-8 Pengukuran bontos .
20-8
2-9 Kesalahan ukur dengan pita keliling ..
20-8
2-10 Kesalahan ukur dengan pita diameter
20-9
2-11 Apit Pohon
20-9
2-12 Cara penggunaan Apit Pohon .
20-9
2-13 Kesalahan ukur dengan Apit Pohon
20-10
2-14 Garpu Pohon
20-10
2-15 Cara penggunaan Garpu Pohon
20-11
2-16 Kesalahan ukur dengan Garpu Pohon .
20-11
2-17 Mistar Biltmore .
20-11
2-18 Dasar kerja Mistar Biltmore
20-12
2-19 Cara penggunaan Mistar Biltmore ..
20-13
2-20 Kesalahan ukur dengan Mistar Biltmore ..
20-13
2-21 Spiegel Relaskop ..
20-13
2-22 Tongkat Bitterlich ..
20-14
2-23 Tongkat Bitterlich dengan nilai K = 1/50
20-14
2-24 Kemiringan sudut pandang ..
20-15
3-1 Gleuvenmeter ...
30-1
3-2 Ilustrasi titik pengukuran tebal kulit ....
30-1
3-3 Peralatan ukur tebal kulit
30-2
4-1 Tinggi pohon ..
40-1
4-2 Segitiga Siku .
40-1
4-3 Rumusan dasar tinggi berdasarkan titik pandang berada diantara
pangkal dan ujung batang .

40-1
4-4 Rumusan dasar tinggi berdasarkan titik pandang berada lebih rendah
dari pangkal batang

40-2
4-5 Rumusan dasar tinggi berdasarkan titik pandang berada lebih tinggi
dari ujung batang

40-2
4-6 Tongkat Ukur ..
40-2
4-7 Cara pengukuran dengan Tongkat Ukur
40-3
4-8 Christenmeter
40-3
4-9 Cara pengukuran dengan Christenmeter .
40-3
4-10 Clinometer (a. bentuk fisik; b celah pandang)
40-5
4-11 Dasar kerja Clinometer dengan sudut derajat (degree)
40-5
4-12 Dasar kerja Clinometer dengan persen sudut
40-6
4-13 Cara pengukuran dengan Clinometer
40-6
Pengukuran Kayu vi

No. Gambar Halaman


4-14 Sudut lereng ..
40-7
4-15 Posisi Pohon lebih tinggi .
40-7
4-16 Posisi Pohon lebih rendah .
40-8
4-17 Abney Level (a. bentuk fisik; b celah pandang)
40-8
4-18 Hagameter
40-9
4-19 Pemutar batang berskala .
40-9
4-20 Skala tinggi dalam celah pandang
40-10
4-21 Ilustrasi pohon berdiri miring
40-11
4-22 Ilustrasi kesalahan negatif
40-11
4-23 Ilustrasi kesalahan positif .
40-11
4-24 Ilustrasi kesalahan positif (2)
40-11
4-25 Ilustrasi memperkecil kesalahan .
40-12
4-26 Ilustrasi kesalahan ukur pada daerah bersemak atau berbatu ..
40-12
4-27 Kurva pendugaan tinggi pohon
40-12
5-1 Penyesuaian volume berdasarkan irisan silinder .
50-1
5-2 Penyesuaian volume berdasarkan rataan luas bidang dasar
50-3
5-3 Alur pendekatan rumusan volume pohon ..
50-4
5-4 Ilustrasi penandaan panjang seksi .
50-7
5-5 Ilustrasi tanpa penandaan (seksi 1 = t
g
+ t
x
)
50-9
5-6 Ilustrasi tanpa penandaan (Seksi 1 = t
g
+ t
r
) ..
50-11
5-7 Ilustrasi pengukuran tinggi dengan Spiegel
50-14
5-8 Xylometer
50-20
5-9 Kayu bulat dan rumusannya
50-21
5-10 Ilustrasi Taper ..
50-24
6-1 Bentuk-bentuk benda putar sempurna dan frustrumnya
60-1
6-2 Susunan irisan lingkar batang .
60-1
6-3 Ilustrasi penentuan faktor bentuk ..
60-2
6-4 Ilustrasi faktor bentuk normal .
60-3
6-5 Ilustrasi faktor bentuk setinggi dada ..
60-3
6-6 Ilustrasi faktor bentuk absolut
60-5
6-7 Ilustrasi faktor bentuk normal dan setinggi dada
60-6
6-8 Ilustrasi Kusen diameter .
60-8

Pengukuran Kayu vii

No. Lampiran - Lampiran Halaman


2-1 Konversi sudut dari satuan derajat ke satuan persen dan sebaliknya
L-1
5-1 Persamaan Volume Pohon Berdiri ......
L-4
5-2 Model persamaan regresi .
L-6

Pendahuluan 10-1

10 PENDAHULUAN
11. Pengertian
A. Batasan
Batasan yang mengartikan Pengukuran Kayu adalah tatacara atau metode untuk
mengukur dimensi pohon, baik saat berdiri atau setelah ditebang.
Beberapa batasan lain yang terkait dengan pengukuran kayu adalah :
a. Pohon berdiri adalah tumbuhan berkayu yang mempunyai batang jelas, berdiri di atas
tanah dengan tinggi minimal 5 meter.
b. Pohon rebah adalah pohon berdiri yang telah ditebang dan bagian pangkal dan
ujungnya (setelah bagian tajuk dibuang/dipotong) dirapikan. Pohon rebah ini diartikan
juga sebagai kayu bulat, gelondongan atau logs.
c. Dimensi pohon adalah satuan ukuran untuk pohon berdiri dinyatakan sebagai diameter
atau keliling dan tinggi; untuk pohon rebah (setelah diteban) dinyatakan sebagai
diameter atau keliling dan panjang.
d. Dimensi kayu olahan adalah satuan ukuran yang dinyatakan sebagai panjang, lebar atau
teba/tinggi.
e. Pohon contoh adalah individu pohon yang dipilih sebagai wakil dari keseluruhan pohon
pada luasan areal tertentu. Sebagai pohon pewakil hendaknya mencakup karakteristik
dari keseluruhan pohon yang ada (keadaan/kondisi topografi & kondisi pohon itu
sendiri sesuai dengan kondisi hutannya). Sejalan dengan pembuatan Tabel Volume
Lokal (TVL), maka jumlah pohon contoh yang digunakan sekitar 50 150 pohon
menyebar rata untuk luasan 100 ha; atau sekitar 0,5 1,5 pohon; atau 1 pohon/ha.
f. Pohon model adalah individu pohon yang dipilih atau ditentukan didasarkan pada
karakteristik pohon itu sendiri. Misalnya bentuk batang lurus, tidak bengkok. Biasanya
pohon model diperoleh dari pohon contoh.
g. Tunggak adalah bagian pangkal batang yang ditinggalkan setelah penebangan. Tinggi
tunggak pada pohon-pohon rimba sekitar 60 80 cm. Terkadang karena kondisi
lapangan, tinggi tunggak bisa sekitar 40 cm bahkan bahkan ada yang mencapai 1 m
atau lebih. Khusus tunggak pohon jati justru masih dimanfaatkan untuk keperluan
cendra-mata.

B. Pengukuran Dimensi
Pengertian dimensi adalah suatu ukuran panjang dengan satuan ukuran tertentu.
Suatu ruang atau bangunan tertentu misalnya; dimensinya adalah panjang, lebar dan
tinggi. Dimensi ini yang diukur dan volume (isi) adalah hasil penggandaan dimensi
tersebut. Sejalan dengan pengertian tersebut demikian pula untuk batang pohon berdiri
atau rebah (setelah ditebang). Jika demikian maka dimensi pohon berdiri atau rebah
adalah diameter (keliling) dan tinggi atau panjang. Ini yang dinyatakan sebagai dimensi
pohon yang diukur saat survey. Adapun volume batang adalah hasil pengandaan dimensi
yang diukur sebelumnya. Meskipun kini terdapat alat ukur (Xylometer) yang dapat
mengukur volume batang pohon (ukuran kecil) secara langsung, namun tidak berarti
Pendahuluan 10-2

volume dapat dikatagorikan sebagai dimensi. Ini yang sering dirancukan dengan
pengertian dimensi yang sebenarnya. Pengertian dimensi ini akan jelas uraian selanjutnya.
Cara mengukur dimensi pohon berdiri atau rebah dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu secara langsung atau taklangsung.
(1) Pengukuran langsung (direct measurement)
Pengukuran secara langsung ini dapat dilakukan terhadap diameter atau keliling
batang, baik pohon dalam keadaan berdiri atau rebah. Sedangkan tinggi atau panjang
hanya dapat dilakukan terhadap pohon rebah (kayu bulat).
(2) Pengukuran tidak Langsung (estimate / penaksiran)
Pengukuran secara taklangsung biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara
menduga atau meramal dimensi yang diukur.
Cara menduga (pendugaan) dimensi dilakukan hanya sejumlah pohon yang dijadikan
contoh (sample). Atau dengan kata lain pendugaan berdasarkan contoh (sampling).
Cara meramal dimensi (peramalan) dilakukan hanya berdasarkan kasat mata. Ini
biasa dilakukan hanya bagi orang-orang yang berpengalaman di lapangan.
Penerapan satuan ukuran juga menentukan tingkat ketelitian suatu pengukuran :
(a) penerapan satuan ukuran terkecil dari suatu sistim satuan akan jauh lebih teliti
dibanding dengan satuan ukuran yang lebih besar; misal satuan ukuran cm akan lebih
baik dari satuan meter.
(b) pembulatan angka satuan ukuran; angka satuan yang disertai desimal akan lebih baik
dibanding tanpa disertai desimal. Misal panjang kayu 15,3 meter akan lebih teliti
daripada dinyatakan dengan pembulatan sebesar 15 meter.
Tingkat penelitian suatu pengukuran sangat dipengaruhi oleh :
a. Alat ukur yang digunakan (ketelitian alat / kualitas)
b. Cara mengukur (kecermatan saat mengukur)
c. Tenaga pengukur (keterampilan)
d. Waktu/saat pengukuran (cuaca)
e. Satuan ukuran
f. Biaya pengukuran
g. Faktor lingkungan lainnya

12. Lawas dan Kegunaan
Lawas (ruang lingkup = scope) pengukuran kayu adalah tatacara mengukur dimensi
kayu (pohon), termasuk perhitungannya. Sedangkan Ilmu Ukur Kayu merupakan alat
bantu utama dalam mempelajari pelaksanaan kegiatan kehutanan, seperti kegiatan antara
lain inventarisasi hutan, budidaya hutan (silvikultur), eksploitasi hutan (pemungutan hasil
hutan), pemasaran hasil hutan.
Jadi jelas peranan/kegunaan Ilmu Ukur Kayu ditinjau dari lawas kegiatannya :
1. Pengukuran dimensi kayu/pohon berdiri dan hasil hutan non kayu untuk menentukan
potensi yang merupakan kegiatan pokok dalam inventarisasi Hutan.
2. Pengukuran dimensi kayu/pohon rebah termasuk hasil olahannya berupa sortimen
tertentu, guna mengetahui volume produksi yang diperoleh (ekspoitasi hutan,
pengukuran & pengujian kayu).
Pendahuluan 10-3

3. Pengukuran pertumbuhan dimensi kayu/pohon dan hasil hutan lainnya untuk pengaturan
hasil hutan, termasuk pemeliharaannya (riap, umur tebang, rotasi tebangan, waktu
penjarangan pada hutan tanaman).

13. Satuan Ukuran
A. Sistem Satuan Ukuran
(1) Sistem Kerajaan Inggris (British Imperial System)
Sistem ini awalnya dikembangkan oleh kerajaan Inggris. Dasar satuan sistem ini
adalah :
a) Untuk ukuran panjang dinyatakan dalam satuan yard. Panjang standar 1 yard
didasarkan pada mistar dari Brins (Bronzebar) dengan suhu 60
0
Farenheit. Mistar ini
disimpan di Standard Office (London). Untuk ukuran foot (feet) ditetapkan sama
dengan yard dan sama dengan 12 inches. Untuk ukuran panjang dinyatakan dalam
satuan yard. Satuan yard Inggris disamakan dengan (3600/3937,0113) meter.
Ukuran yard ini oleh Amerika disederhanakan menjadi (3600/3937,0113) meter.
b) Untuk ukuran berat (massa) dinyatakan dalam satuan pound. Standar pound
dinyatakan samadengan massa silinder platina iridium dan disimpan di Standard
Office (London). Satu pound di Amerika disamakan dengan (1/2,20462234) kilogram.

c) Untuk ukuran waktu dinyatakan dalam detik (second). Waktu standar 1 detik
ditetapkan (1/31.556.925,9747) dari waktu bumi mengelilingi marahari pada tahun
standar 1900. Berdasarkan perhitungan ini maka satu tahun disamakan dengan
31.556.925,9747 detik. Bila dinyatakan sekarang periode bumi mengelilingi matahari
selama 1 tahun adalah 365,25 hari, maka berarti 365,25 x 24 x 60 x 60 detik
samadengan 31.557.600 detik.
(2) Sistem Metrik (Metric System)
Sistem ini awalnya dikembangkan oleh negara Perancis dan dianut sebagian negara-
negara Eropa. Negara Indonesia menganut sistem ini akibat dari penjajahan Belanda.
Dasar satuan ini adalah :
a) Untuk ukuran panjang dinyatakan dalam satuan meter. Satu meter disamakan dengan
panjang standar mistar dari irinium yang dikenal sebagai dengan International
Phototype Meter yang disimpan di International Bereau of Weight and Measures di
Serves (Perancis).
b) Untuk ukuran berat dinyatakan dalam satuan kilogram dan ditetapkan samadengan
berat sepotong platina iridium yang disimpan di Serves (Perancis).
c) Untuk ukuran waktu dinyatakan dalam detik (second).
(3) Sistem Pelengkap
Sistem pelengkap ini melengkapi kekurangan pada kedua sistem sebelumnya. Misal
ERG untuk meyatakan kerja atau enersi, dyne untuk menyatakan kekuatan. Untuk
menyatakan volume misalnya 1 gallon = 231 cubic inches (Amerika) = 277,274 cubic
inches (Inggris). Namun akhirnya sistem pengukuran yang disepakati hingga sekarang
terdiri dua sistem yaitu sistem Bristish dan sistem metrik.


Pendahuluan 10-4

B. Konversi Satuan Ukuran


Konversi satuan ukuran yang erat dengan pengukuran kayu adalah satuan ukuran
panjang. Adapun untuk satuan ukuran luas dan volume tetap didasarkan pada satuan
ukuran panjang. Satuan ukuran yang umum digunanakan seperti sajikan berikut.
Tabel 1-1. Konversi satuan ukuran panjang
Unit cm dm m inch foot yard
cm 1 0,1 0,01 0,3937 0,0328 1,0936.10
-2

dm 10 1 0,1 3,937 0,3281 1,0936.

10
-1

m 100 10 1 39,37 3,281 1,0936
inch 2,54 0,254 0,0254 1 0,0833 2,77.10
-2

foot 30,48 3,048 0,3048 12 1 0,333
yard 91,44 9,144 0,9144 36 3 1

Konversi lain : 1 rod setara dengan 5,5 yard atau 16,5 foot ; 1 rod (pole) = 5,0292 m
1 chain (engin.) = 30,48 m ; 1 chain (surv.) = 20,1169 cm
Konversi satuan ukuran berdasarkan ukuran Jepang sebagai berikut :
1 sun = 3,03 cm 1 yo zjo = 303,03 cm
1 zasi = 30,303 cm 1 ri (meile) = 3927,3 m
1 ken = 6,3 kanesasi

C. Satuan Ukuran dalam Pengukuran Kayu
Di Indonesia lebih lazim menggunakan sistim metrik, sedangkan negara-negara lainnya
lebih banyak menggunakan sistim British, disamping sistim pelengkap.
Satuan ukuran yang digunakan (Indonesia) yatu :
1) panjang : centimeter (diameter, keliling, lebar, tebal, panjang)
meter (tinggi atau panjang)
2) luas (ukuran panjang dipangkatkan dua; benda berdimensi dua) : cm
2
atau m
2
(

/
4
.d
2
,
1
/
4
.k
2
, P x L)
3) volume (ukuran panjang dipangkatkan tiga; satuan kubik berasal dari kata kubus yang
menyatakan suatu benda berdimensi tiga) : m
3
(

/
4
.d
2
.T,

/
4
.d
2
.P, PxLxT, sm untuk
kayu bakar & bahan baku pulp)

14. Kayu Bulat Rimba Indonesia (KBRI)
Beberpa Peraturan Pengukuran & Pengujian terhadap kayu bulat rimba Indonesia
adalah
(1) Skpts Direktur Jenderal Kehutanan no.2442/A-2/DD/1970 tentang Peraturan
Pengukuran & Pengujian & Tabel Isi KBRI.
a. Panjang :
* diukur dlm satuan meter dgn kelipatan 10 cm
* ukuran panjang diberikan spilasi (trim allowance) sebesar 10 cm




Pendahuluan 10-5


Contoh :
Panjang
ukuran (m)
Panjang
kelipatan (m)
Panjang yang
ditetapkan (m)
4,18 4,10 4,00
4,20 4,20 4,10
4,21 4,20 4,10
4,25 4,20 4,10
4,29 4,20 4,10
4,30 4,30 4,20
4,39 4,30 4,20

b. Diameter :
* diukur dlm satuan cm dgn kelipatan 1 cm penuh
* kedua bontos diukur tanpa kulit
* pengukuran bontos (penampang lintang)
- pertama ukur diameter terkecil pd salah satu bontos melalui titik pusat (d
1
)
- kemudian ukur diameter melalui titik pusat bontos tegaklurus d
1
(d
2
)
- ukur diameter pada bontos yang lain dengan cara yang serupa (d
3
& d
4
)
* diameter rataannya = diameter kayu bulat



* bila pengukurannya dengan kulit, lakukan reduksi sebesar 2 kali tebal kulit
Contoh perhitungan diameter
1) Diketahui diameter pangkal bontos (d
P
), d
1
= 43 cm ; d
2
= 46 cm dan diameter
ujung bontos (d
U
), d
3
= 36 cm ; d
4
= 39 cm. Diameter kayu bulat adalah
(rata-ratanya)
d
pangkal
=
1
/
2
(43 + 46) = 44,5 cm 44 cm
d
ujung
=
1
/
2
(36 + 39) = 37,5 cm 37 cm
d
kayu bulat
=
1
/
2
(44 + 37) = 40,5 cm 40 cm
2) Diameter ukur (sebenarnya) dan diameter hitung telah diketahui, tentukan
diameter kayu bulat secara sekaligus.
Pengukuran
Sebenarnya (cm)
Pengukuran
Perhitungan (cm)
d
1
=
97,6
d
1
=
97
d
2
=
102,9
d
2
=
102
d
3
=
93,2
d
3
=
93
d
4
=
96,0
d
4
=
96


d
kayu bulat
=
1
/
2
(d
1
+ d
2
) +
1
/
2
(d
3
+ d
4
)
2
Pendahuluan 10-6








c. Volume (Isi) : didasarkan pada sistim Brereton metrik (actual volume = true
volume)
Rumus : I = 0,7854 x D x L
untuk : I = isi kayu bulat dalam M
3
L = panjang kayu bulat dalam M
D = diameter kayu bulat dalam M 0,7854 = . = . 3,1416
(Isi kayu bulat Indonesia ditetapkan berdasarkan rumus Brereton Metrik yang
menghitung isi sebenarnya kayu bulat atas dasar silinder khayal)
Contoh perhitungan volume
1) Diketahui diameter pangkal bontos (d
p
), d
1
= 43 cm ; d
2
= 46 cm dan diameter
ujung bontos (d
u
), d
3
= 36 cm ; d
4
= 39 cm. Panjang batang 10 meter. Volume
kayu bulat :







V = 0,7854 x (40/100)
2
x 10 m
3

= 1,2 m
3


(2) SNI 1987 (Standar Nasional Indonesia 01-0187-1087) tentang Peraturan
Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat Rimba)
Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengacu pada Skpts Direktur Jenderal
Kehutanan no.2442/A-2/DD/1970

(3) SNI 2000 (SNI 01-5007.3-2000)
* Merevisi SNI 01-0190-1987; Awalnya merupakan Kpts Direktur Jenderal
Kehutanan No. 99/Kpts/DJ/I/1975, tentang Petunjuk Teknis Pengujian Kayu
Bundar Rimba.
(Perevisi : Pusat Standardisasi dan Lingkungan Kehutanan dan Perkebunan)



1
/
2
(97 + 102) +
1
/
2
(93 + 96)
2
D = =
99,5 + 94,5
2
= = = 96,5 cm = 96 cm
99 + 94
2
93
2
1
/
2
(43 + 46) +
1
/
2
(36 + 39)
2
D = =
44,5 + 37,5
2
= = 40,5 cm = 40 cm
44 + 37
2
Diameter Batang 20-1

20 DI AMETER BATANG

21. Pengertian Diameter
Diameter adalah garis maya yang menghubungkan dua titik di tepi lingkaran (busur
lingkaran) dan melewati sumbu lingkaran.
Sejalan dengan pengertian tersebut, maka diameter batang merupakan garis lurus
maya yang menghubungkan dua titik di tepi batang (busur lingkar batang) dan melalui
sumbu batang.

22. Rumusan Lbds
Rumusan dasar diameter atau keliling batang didasarkan pada rumusan diameter
atau keliling (panjang busur) suatu lingkaran penuh pada Ilmu Ukur Datar. Selanjutnya
untuk memperjelas perolehan pengertian diameter atau keliling iilustrasikan seperti
gambar berikut.
Katakan saja suatu titik T (posisi awal
= S
1
) mengelilingi titik pusat P searah
jarum dengan jarak sejauh r satuan.
Hingga ke titik yang terjauh (S
2
)
diperoleh jarak antara posisi awal (S
1
)
dan posisi terjauh (S
2
) yaitu sebesar
2r satuan atau dinyatakan sebesar D
satuan. Selanjutnya titik T bergerak
kembali dengan jarak yang sama yaitu
sejauh r satuan dari titik P, mulai S
2

menuju kembali ke titik awal S
1
.
Gambar 2-1. Penentuan nilai phi
Setelah dilakukan pengamatan/perhitungan ternyata panjang busur lingkaran dari
S
1
ke S
2
diperoleh sebesar 11 kali
D
/
7
satuan dan selanjutnya dari S
2
ke S
1
juga sebesar
11 kali
D
/
7
satuan. Jadi panjang busur lingkaran keseluruhannya adalah 22 kali
D
/
7
satuan.
Atau dinotasikan
22
/
7
D satuan. Nilai satuan ini yang dikenal dan dinotasikan sebagai
(dibaca phi). Sehingga panjang busur lingkaran keseluruhannya yang juga berarti keliling.
Secara ringkas dinotasikan sebagai berikut :
K = .2r = .D atau D = K/
Satuan ukuran yang biasa digunakan adalah cm.
Terkait erat dengan pengukuran keliling dan diameter adalah luas lingkaran.
Rumusan dasar luas suatu lingkaran adalah= .r
2
. Mengingat ukuran diameter (D) adalah
dua kali jari-jari (D = 2 r), sehingga luas lingkaran menjadi
L = . r
2

= . . D
2

Rumusan dasar luas lingkaran tersebut dapat pula diperoleh berdasarkan hasil
pengukuran busur lingkaran (keliling). Bila demikian, maka luas lingkaran yang diperoleh
dari hasil pengukuran keliling adalah
Diameter Batang 20-2

L = . . (K/)
2

=
1
/4 . K
2

Kedua luas lingkaran di atas dalam pengukuran kayu lebih dikenal dengan sebutan
luas bidang dasar (Lbds) lintang batang, baik pada batang pohon berdiri maupun pada
batang rebah. Sehingga notasinya dalam pengukuran kayu adalah
Lbds = . . D
2
(bila penampang lintang batang diukur berupa diameter)
=
1
/4 . K
2
(bila penampang lintang batang diukur berupa keliling)
Satuan ukuran yang digunakan adalah cm
2
.
Terkait dengan perhitungan volume pohon berdiri atau pohon rebah, maka kedua
rumusan tersebut diubah (disesuaikan) dengan menyamakan satuan ukuran, yaitu dari cm
menjadi meter. Sehingga rumusan dasar Lbds di atas merupakan rumusan terapan Lbds
yang siap pakai. Rumusan dimaksud adalah
Bila diukur diameter batang (satuan ukuran D dalam cm)

Lbds = D
2
(m
2
)

Bila diukur keliling batang (satuan ukuran K dalam cm)

Lbds = K
2
(m
2
)

Jadi satuan data (peubah) untuk diameter maupun keliling tetap direkam dalam
satuan cm.

Contoh 2-1
c Hasil ukuran diameter setinggi dada pohon suatu jenis pohon diperoleh sebesar 27 cm.
Luas bidang dasar setinggi dada adalah

Lbds = (27)
2
m
2
= 0,0573 m
2


d Hasil ukuran keliling setinggi dada pohon suatu jenis diperoleh sebesar 84,9 cm. Luas
bidang dasar setinggi dada adalah

Lbds = (84,9)
2
m
2
= 0,0573 m
2


e Hasil ukuran diameter kayu bulat pada bontos pangkal diperoleh D
1
= 42 cm dan D
2
=
39; bontos ujung diperoleh d
1
= 25 cm dan d
2
= 24 cm. Lbds bontos adalah
a. Masing-masing bontos (LBp dan LBu)

LBp = (42 + 39) m
2
= 0,1289 m
2



LBu = (25 + 24) m
2
= 0,0472 m
2




11
140000
7
880000
11
140000
7
880000
11
140000
2
11
140000
2
Diameter Batang 20-3

b. Rataan Lbds bontos (RLB)


RLB = (0,1289 + 0,0472)/2 m
2
= 0,0880 m
2

atau

RLB = (42 + 39 + 25 + 24) m
2


= 0,0830 m
2


23. Ketentuan Pengukuran
A. Letak Pengukuran
Awalnya untuk kemudahan pengukuran diameter atau keliling batang yang
disesuaikan dengan juluran kedua lengan agak merendah ke depan dengan harapan tidak
begitu melelahkan dalam pengukuran. Ternyata juluran kedua lengan tersebut
menunjukkan setinggi dada yang posisinya lebihkurang setinggi puncak gunung-kembar.
Akhirnya dinyatakan bahwa pengukuran diameter atau keliling batang dilakukan setinggi
dada dari permukaan tanah dengan menghilangkan cerita awalnya dan menimbulkan
pernyataan kemudahan untuk pengukuran.
Pengukuran diameter atau keliling batang setinggi dada dari permukaan tanah
disepakati, namun masih terkendala dengan tinggi dada setiap orang berbeda, bahkan
antara bangsa. Sehingga penentuan setinggi dada untuk setiap bangsa punya kesepakatan
masing-masing yang disesuaikan dengan tinggi rata-rata dada masyarakat bangsa itu
sendiri. Sebenarnya setinggi dada pada pengukuran diameter pohon di Indonesia adalah
setinggi 110 cm dari permukaan tanah. Untuk menghindari adanya lekukan batang (neloid)
dan gambaran perolehan pangkal batang berupa kayu bulat, maka ditambah spilasi 20 cm.
Akhirnya disepakati untuk setinggi dada adalah 1,30 m dari permukaan tanah.
Memperhatikan kondisi batang pohon dan kondisi permukaan tanah tidak selalu
relatif datar, sehingga dapat menyebabkan kesalahan letak pengukuran. Agar diperoleh
data yang akurat, maka letak pengukuran diameter atau keliling harus disesuaikan.
(1) Pohon berdiri dan kondisi lapangan









Gambar 2-2. Pohon berdiri dan kondisi lapangan
Pengukuran setinggi dada (1,30 m untuk Indonesia) didasarkan untuk pohon berdiri
tegak pada permukaan tanah yang relatif datar.
Bila pohon berdiri miring, maka letak pengukurannya (Lpd) dilakukan pada bagian
miring batang di sebelah atasnya (Gambar 2-2b), sejauh 1,30 m dari permukaan tanah.
Sedangkan untuk pohon berdiri tegak pada permukaan tanah yang cukup miring
(lereng) dapat dilakukan dua cara seperti disajikan pada Gambar 2-2c.
11
140000
2
Diameter Batang 20-4

(2) Pohon berbanir


Pengukuran setinggi dada untuk pohon-pohon berbanir didasarkan pada tinggi ujung
banir.
Bila batas ujung banir (Bub) kurang dari 110 cm, maka pengukurannya dilakukan
setinggi 1,30 m dari permukaan tanah.
Bila Bud tepat setinggi dari 110 cm, maka pengukurannya (Lpd) ditambah 20 cm di
atas banir (Gambar 2-3b). Jadi Lpd-nya setinggi 1,30 m dari permukaan tanah.
Bila Bud-nya lebih tinggi dari 110 cm, maka pengukurannya (Lpd) ditambah 20 cm di
atas banir (Gambar 2-3c). Jadi letak pengukurannya setinggi (Bub + 20 cm).










Gambar 2-3. Pohon berbanir

(3) Penyimpangan bentuk batang (batang cacad)










Gambar 2-4. Batang cacad
Letak pengukuran diameter atau keliling memperhatikan batas bawah bagian yang
cacad (Bbc) dan batas atasnya (Bac).
Bila pada setinggi 110 cm melebihi Bbc, maka letak pengukurannya (Lpd) pada (Bac +
20) cm (Gambar 2-4a).
Bila Bbc lebih tinggi dari 110 cm, maka letak pengukurannya setinggi (Bbc 20 cm).
Bila bagian tengah cacad lebih kurang setinggi 1,30 m dari permukaan tanah (Gambar
2-4c), maka pengukurannya dilakukan pada Bbc (Lpd
2
) dan Bac (Lpd
1
). Sehingga hasil
ukurannya (diameter atau keliling) adalah ukuran (Lpd
1
+ Lpd
2
)/2.

(4) Batang bercagak atau menggarpu
Letak tinggi pengukuran diameter atau keliling memperhatikan tinggi lekukan cagak.
Bila tinggi cagak melebihi 1,30 m (Gambar 2-5a), maka pengukuran dilakukan tetap
setinggi 1,30 m dari permukaan tanah.

Diameter Batang 20-5

Bila tinggi cagak kurang dari 1,10 m, maka Lpd-nya dilakukan pada kedua cagak
setinggi 1,30 m. Hasil ukurannya (diameter atau keliling) adalah ukuran pada (Lpd
1
+
Lpd
2
)/2.
Bila lekukan cagak tepat setinggi 1,10 m (Gambar 2-5c
1
) atau setinggi 1,30 m (Gambar
2-5c
2
), maka letak pengukurannya masing-masing di tambah 20 cm. Jadi Lpd-nya masing-
masing adalah 1,30 cm dan 1,50 m. Hasil ukurannya (diameter atau keliling) merupakan
nilai rataan, yaitu
untuk Lpd = 1,30 m adalah ukuran pada (Lpd-c
11
+ Lpd-c
12
)/2.
untuk Lpd = 1,50 m adalah ukuran pada (Lpd-c
21
+ Lpd-c
22
)/2.










Gambar 2-5. Batang bercagak

(5) Pohon lahan basah (rawa, payau)










Gambar 2-6. Perakaran khas
Jenis-jenis pohon yang tumbuh di lahan basah yang lebih dikenal daerah mangrove
terdapat sedikit perbedaan letak pengukuran diameter atau kelilingnya.
Seperti jenis Bruguiera spp yang dijadikan awal pengukuran bukan dari permukaan
tanah, tapi pada bagian akar nya (Gambar 2-6a). Selanjutnya untuk letak pengukurannya
setinggi 1,30 m.
Untuk jenis Ceriops spp yang dijadikan awal pengukuran pada bagian akar yang
berbatasan dengan air. Disamping adanya bagian-bagian akar yang berupa banir, maka
ditinjau dulu berapa tinggi banir tersebut.Bila tinggi banir tersebut kurang dari 1,30 m,
maka letak pengukuran dilakukan setinggi 1,30 m dari batas bagian akar yang kena air.
Sedangkan untuk jenis Rhizophora spp dilakukan pengukuran setinggi 20 cm dari
ujung bagian akar teratas.

Diameter Batang 20-6

B. Cara Pengukuran
Tata cara pengukuran tergantung dari dasar kerja alat ukur yang digunakan. Tiap
alat ukur ada yang dapat digunakan pada batang pohon berdiri dan batang pohon rebah,
tapi ada pula yang hanya dapat digunakan pada batang pohon berdiri saja.
Pengukuran diameter pada dasarnya ingin mengetahui diameter penampang lintang
batang. Untuk memperoleh diameter batang dengan alat ukur diameter tertentu (garpu
pohon misalnya) dilakukan pengukuran sebanyak dua kali dan hasilnya diratakan. Cara ini
dilakukan mengingat lingkar batang tidak merupakan lingkaran penuh.
Tata cara pengukuran diameter itu sendiri adalah
(1) Diameter terpendek dan tegaklurus terpendek; cara ini dilakukan sehubungan dengan
kebutuhan kayu bulat untuk pembuatan vinir (kayu lapis). Diameter rataanya adalah
rataan dari hasil pengukuran diameter terpendek dan diameter tegak lurus dari
terpendek.
(2) Diameter terpendek dan terpanjang; cara ini dilakukan untuk memperoleh
pendekatan diameter sebenarnya. Diameter rataannya adalah rataan dari hasil
pengukuran diameter terpendek dan diameter terpanjang. Sebenarnya cara kedua ini
yang memenuhi tantanan keilmuan untuk memperoleh diameter rata-rata.

C. Kecermatan Pengukuran dan Koreksi
Saat pengukuran diameter atau keliling tidak jarang terjadi kesalahan. Kesalahan
yang sering terjadi adalah pada letak pengukurannya antara lain misalnya :
meletakkan alat atau saat membidik
pembacaan skala (satuan ukuran)
Penggunaan alat dengan cara yang benar dengan ketrampilan yang memadai secara
otomatis merupakan suatu koreksi. Demikian pula saat pembacaan skala hendaknya
dilakukan dengan seksama. Saat terjadi kesalahan meletakan alat, mungkin saja dapat
diperbaiki, namun kekeliruan saat membaca skala tidak dapat diperbaiki (dikoreksi). Oleh
karena itu kecermatan saat mengukur diameter atau keliling sangat diutamakan.
Ketelitian ukur diameter atau keliling (pohon berdiri atau rebah) tergantung dari
faktor-fakor antara lain alat ukur, cara mengukur (meletakan alat ukur), ketrampilan,
ketelitian yang diinginkan, waktu dan biaya.
Permasalahan yang sering terjadi saat pengukuran dimensi pohon (diameter atau
keling, tinggi atau panjang) adalah pada kekurangcermatan saat dalam mengukur
diameter atau keliling. Ketidakcermatan saat pengukuran tersebut sangat berpengaruh
terhadap luas bidang dasar (Lbds) dan juga volume pohon.
Untuk meningkatkan tingkat ketelitian ukur diameter, maka :
a. Pengukurannya dilakukan minimal dua kali (kecuali menggunakan pita ukur) mengingat
lingkar batang pohon tidak merupakan lingkaran penuh.
b. Kecermatan membaca skala saat pengukuran. Pengukuran batang pohon (berdiri atau
rebah) yang berdiameter kecil memerlukan kecermatan yang lebih tinggi dibanding
diameter yang lebih besar. Sebagai contoh, dilustrasikan pembacaan skala diameter
kayu bulat dengan perbedaan 1 cm untuk diameter kecil sebesar 20 cm dan 21 cm;
untuk diameter besar sebesar 50 cm dan 51 cm.

Diameter Batang 20-7

Diameter kecil (20 cm dan 21 cm)



Lbds
20
= (20)
2
m
2
= 0,0314 m
2



Lbds
21
= (21)
2
m
2
= 0,0347 m
2


Selisih pengukuran sebesar 1 cm diperoleh perbedaan Lbds = 0,0033 m
2
= 33 cm
2
.
Atau sebesar [(0,0347 - 0,0314)/ 0,0314] x 100% = 10,51%.

Diameter besar (50 cm dan 51 cm)

Lbds
50
= (50)
2
m
2
= 0,1964 m
2



Lbds
51
= (51)
2
m
2
= 0,2044 m
2


Selisih pengukuran sebesar 1 cm diperoleh perbedaan Lbds = 0,0080 m
2
= 80 cm
2
.
Atau sebesar [(0,2044 - 0,1964)/ 0,1964] x 100% = 4,07%.
Perhatian persentse perbedaan Lbds untuk batang berdiameter kecil dan besar.
Pengukuran untuk batang berdiameter kecil memerlukan kecermatan yang tinggi atau
dengan kata lain pengukuran batang berdiameter hendaknya dilakukan dengan hati-
hati.
c. Pembulatan hasil ukuran (desimal). Misal diameter 25,4 cm dan 25,6 cm dibulatkan
menjadi 25 cm dan 26 cm. Tetapi bagaimana untuk diameter 25,5 cm. Mungkin perlu
memperhatikan nilai angka desimal berikutnya. Atau diperlukan kesepakatan yang
jelas dalam mengatur cara pembulatan angka. Atau lebih bijak bila dilakukan ukur
ulang. Semuanya tergantung kesepakatan yang biasanya berkaitan dengan suatu
kebijakan.
Pada kondisi permukaan tanah yang tidak datar (khusus alat yang mempunyai
pengukur sudut seperti spiegel relaskop) hendaknya dilakukan koreksi jarak (penyesuaian
rumus). Karena data diameter yang diperoleh dari hasil pengukuran pada kondisi
permukaan tanah tidak datar memberikan gambaran lingkaran tidak berupa lingkaran tapi
bentuk lingkar batang berupa elips. Jika kondisi tersebut harus terjadi (tidak ada pilihan
lain), maka akan dilakukan koreksi sudut sebesar atau %. Besaran sudut sebesar atau
dalam % akan dikoreksi dengan rumus cosinus. Uraian lebih lanjut akan dirinci pada
rumus perhitungan diameter.
Adapun dimaksud dengan pilihan lain adalah diupayakan saat pengukuran diameter
dengan spiegel relaskop dilaksanakan pada kondisi berdiri relatif datar (< 10%).







11
140000
11
140000
11
140000
11
140000
Diameter Batang 20-8

24. Peralatan dan Kesalahan Ukur


A. Alat Ukur Diamater
Pengukuran diameter batang pohon berdiri dapat dilakukan
dengan pita ukur yaitu pita keliling atau pita diameter (phi
band). Satuan ukur yang digunakan adalah cm.
Dasar kerja
Pita ukur dililitkan ke batang pohon setinggi 1,30 m
(Gambar 2-7). Hasil ukurannya adalah keliling jika
menggunakan pita keliling dan jika menggunakan pita
diameter maka hasil ukurannya adalah diameter. Skala
ukuran pita diameter adalah d = k/ konversi dari k = . d

Untuk batang pohon rebah menggunakan mistar (tongkat) ukur atau pita. Cara
pengukuran dengan melekatkan mistar atau pita secara
langsung pada bagian bontos pangkal dan ujung batang.
Ilustrasi pengukuran diameter bontos ini biasa dilakukan
pada kayu bulat. Sedangkan pada batang berdiri
disesuaikan dengan alat ukur yang digunakan.



Kesalahan ukur keliling
Kesalahan ukur karena kedudukan pita melingkar batang tidak sejajar dengan atau
tidak sama tinggi terhadap bidang datar. Sehingga lilitan pita tidak membentuk
lingkaran, tetapi akan membentuk elips.

Untuk pengukuran keliling.
Rumusan keliling :
(k = d) akan menjadi k
1
= (d
1
+ d).
Berarti bila d
1
> d akan menyebabkan k
1
> k.
Ini juga berarti kesalahan ukur sebesar E
k
=
k
1
k.
Gambar 2-9. Kesalahan ukur dengan pita keliling
Setelah k
1
dan k dikonversi ke d
1
dan d diperoleh :
E
k
= k
1
k
= (d
1
+ d) d
= (d
1
d)
Karena cos = d/d
1

d = d
1
cos , maka E
k
= d
1
(1 cos )


Gambar 2-7. Pita ukur

Gambar 2-8. Pengukuran bontos


Diameter Batang 20-9




Untuk pengukuran diameter.
Kesalahan ukur menjadi
E
d
= d
1
- d
Karena cos = d/d
1
, atau d = d
1
cos ,
maka
E
d
= d
1
(1 cos )

Gambar 2-10. Kesalahan ukur dengan pita diameter

B. Apit Pohon
Dasar kerja
Karena lengan geser dapat digeser-geser
pada mistar yang berskala, maka lengan
geser akan langsung menunjukkan besaran
diameter batang yang diukur dengan
membaca skala pada mistar.
Gambar 2-11. Apit Pohon

Cara penggunaan

a. Apitkan kedua lengan pada batang dan
cari/tentukan bagian lingkar batang yang
terkecil (d
1
); sbg pengukuran diameter
yang pertama
b. Upayakan kedua lengan sama tinggi dari
muka tanah (setinggi dada = 130 cm)

Gambar 2-12. Cara penggunaan Apit Pohon
c. Pengukuran diameter yang kedua (d
2
), tegaklurus pengkuran diameter yang
pertama
d. Diameter batang pohon adalah rataan keduanya, yaitu D = (d
1
+ d
2
)/
2
.
Kesalahan ukur
Kesalahan ukur akibat kedua lengan yang mengapit batang pohon tidak sama
tinggi atau tidak sejajar dengan bidang datar. Kesalahan yang dibentuk lingkaran batang
akan membentuk elips. Sehingga kesalahan ukur yang diperoleh sebesar E
d
= D
2
D
1

Terjadi kesalahan ukur :
1. Bila kesalahan ukur diketahui sebesar sudut :

Cos = =

D
1
D
1

D
2
D
2

D
1
= D
2
. cos
Diameter Batang 20-10

Maka kesalahan sudut sebesar adalah


E
d
= D
2
(1 cos )
2. Bila kesalahan ukur diketahui sepanjang y (jarak) :
( D
2
)
2
= y
2
+ ( D
1
)
2

( D
1
)
2
= ( D
2
)
2
y
2

D
1
= (D
2
2
4 y
2
)


Gambar 2-13. Kesalahan ukur dengan Apit Pohon
Maka kesalahan jarak sepanjang y adalah
E
d
= D
2
(D
2
2
4 y
2
)
3. Bila kesalahan ukur diketahui dalam persen (%) :
a. % kesalahan sudut (P
d
)

P
d
= x 100% = x 100%


= ( - 1) x 100%


b. % kesalahan jarak (P
j
)

P
j
= x 100% = x 100%


= ( - 1) x 100%


= ( - 1) x 100%


C. Garpu Pohon


Skala garpu pohon pada awalnya berupa selang
diameter, kini telah diubah ke dalam satuan cm


Gambar 2-14. Garpu Pohon
Dasar kerja
Perhatikan ABM : BM = AB dan BAM = = 30
o


tg = BM/AB atau AB = = =

E
j

D
1

D
2
(D
2
2
4.y
2
)
(D
2
2
4.y
2
)
D
2

(D
2
2
4.y
2
)
D
2

(D
2
2
4.y
2
)
1/2

d
tg
d
2 tg
BM
tg

E
d

D
1

D
2
(1 cos )
D
2
. cos
1
cos
Diameter Batang 20-11

Karena = 60
o
, maka AB = 0,866 d.
Atas dasar rumusan ini dibuat ukuran skala titik B dan C pada kedua lengan yang
langsung menunjukkan besaran diameter yang diukur. Cara pemberian ukuran
skala dengan mengupamakan berbagai ukuran diameter sehingga diperoleh
panjang AB yang sesuai dengan diameter tersebut. Selanjutnya ukuran diameter
ditulis pada kedua lengan garpu sebagai skala.
Cara penggunaan

a. Apitkan kedua lengan pada batang dan
cari/tentukan bagian lingkar batang
yang terkecil (d
1
); sebagai pengkuran
diameter yang pertama
b. Upayakan kedua lengan sama tinggi
dari permukaan tanah (setinggi dada
= 130 cm)
Gambar 2-15. Cara penggunaan Garpu Pohon
c. Pengukuran diameter yang kedua (d
2
), tegaklurus pengukuran diameter yang
pertama
d. Diameter batang pohon adalah rataan keduanya, yaitu D = (d
1
+ d
2
)/2
Kesalahan ukur
AC = kedudukan lengan yang benar
AC
1
= kedudukan lengan yang salah
Besar kesalahannya E
d
= AC
1
AC
Perhatikan :
CBC
1
diperoleh cos = BC/BC
1

ABC diperoleh sin = BC/AC
BC = AC . sin
ABC
1
diperoleh sin = BC
1
/ AC
1

BC
1
= AC
1
. sin
Gambar 2-16. Kesalahan ukur dengan Garpu Pohon
Sehingga diperoleh cos = AC/AC
1
atau AC = AC
1
. cos
Kesalahan ukurnya menjadi :
E
d
= AC
1
AC
= AC
1
(1 cos )
D. Mistar Biltmore



Awalnya skala pada Mistar
Biltmore berupa selang diameter,
kini telah diubah ke dalam satuan
cm.
Gambar 2-17. Mistar Biltmore

Diameter Batang 20-12

Dasar kerja
Perhatikan MBT dan MPQ, masing-masing mempunyai :
sudut 90
o
(sudut siku) yaitu sudut T dan sudut Q
sudut lancip M yang saling berimpit
Berarti kedua segitiga tersebut
sebanding.
Jari-jari atau d adalah juga
QP = TP = RP



Gambar 2-18. Dasar kerja Mistar Biltmore
MBT MPQ berarti BT : PQ = MT : MP
BS : d = MT : MQ
BS = d.MT/MQ
Perhatikan MPQ :
MQ
2
= MP
2
QP
2

= (MT + TP )
2
QP
2

= (MT + d )
2
( d

)
2

= (MT)
2
+ MT. d + ( d)
2
( d

)
2

= (MT)
2
+ MT. d
berarti MQ = [ (MT)
2
+ MT. d ]







Berdasarkan rumus BS tersebut bahwa bila nilai MT (jarak si pengukur terhadap
pohon) dan nilai d (diameter batang) tertentu, maka nilai BS dapat dicari (skala
mistar).
Nilai-nilai BS yang diperoleh dari berbagai ukuran diameter digunakan untuk
membuat skala pada alat yang menunjukkan besaran diameter pohon yang diukur.
Karena nilai MT mempengaruhi nilai BS (nilai skala mistar), maka skala mistar yang
dibuat hanya berlaku untuk jarak tertentu saja. Akibatnya untuk berbagai macam
jarak ukur (MT) diperlukan pula bermacam-macam mistar.






Diameter Batang 20-13

Cara pengunaan





a. Impitkan mistar pada batang.
b. Geser ke kiri-kanan hingga MBQ merupakan garis lurus.
c. Skala yang terbaca pada S merupakan diameter batang.

Gambar 2-19. Cara penggunaan Mistar Biltmore
Kesalahan ukur
Kesalahan yang terjadi bila kedudukan mistar miring (tidak sejajar dengan
bidang datar). Akibatnya menyebabkan kesalahan sebesar E
d
= B
1
S
1
BS

BS = kedudukan alat benar
B
1
S
1
= kedudukan alat salah
= sudut kemiringan alat

Kesalahan sudut diperoleh dari :
cos = TB/TB
1
; TB = TB
1
. cos
cos = TS/TS
1
; TS = TS
1
. cos


Gambar 2-20. Kesalahan ukur dengan Mistar Biltmore
BS = TB + TS = TB
1
. cos + TS
1
. cos
= (TB
1
+ TS
1
) . cos
E
d
= B
1
S
1
BS
= B
1
S
1
(TB
1
+ TS
1
) . cos
= B
1
S
1
B
1
TS
1
. cos
= B
1
S
1
(1 cos )

E. Spiegel relaskop











Gambar 2-21. Spiegel Relaskop

Diameter Batang 20-14

Dasar kerja
Dasar kerja Spiegel relaskop mengacu pada dasar kerja tongkat Bitterlich
dengan memanfaatkan sudut pandang (angle gauge) dalam menduga luas bidang dasar
tegakan dari suatu titik pada kegiatan inventarisasi hutan.
Bentuk awal tongkat tersebut sangat
sederhana yaitu berupa tongkat (kayu)
sepanjang 100 cm dan pada bagian ujung
ditempelkan plat logam (benda logam)
selebar 2 cm.
Gambar 2-22. Tongkat Bitterlich
Karena tongkat sepanjang 100 cm dianggap tidak begitu praktis dalam
pemakaiannya, maka dimodifikasi dengan merubah ukurannya dengan perbandingan yang
sama yaitu panjang tongkat diperpendek menjadi 50 cm dan lebar plat menjadi 1 cm.

Tongkat tersebut dapat dibuat sendiri
dengan kayu reng sepanjang 50 cm, bagian
ujung lekatkan logam pipih berbentuk huruf U
dengan lebar 1 cm dan pada bagian pangkal
lekatkan logam pipih berlubang dengan
diameter 1 cm.


Penggunaan Spiegel relaskop
Cara menggunakan spiegel relaskop adalah
a) Arahkan alat ke pertengahan batang pohon dan baca :
(Usahakan sisi batang sebelah kiri berimpit dengan batas antara dua bar-penuh,
sekaligus sisi batang sebelah kanan tidak melampaui batas bar paling kanan, tapi berada
pada salah satu pita bar-penuh atau pada garis batasnya)
# banyaknya 1 bar penuh (nF)
# banyaknya bar-penuh (nQ) (bisa penuh atau tak penuh untuk satu bar-penuh)
b) Ukur jarak datar J
d
(m)
c) Hitung diameternya :
{(nF x 4) + nQ}
D (cm) = x Jd
2
Contoh 2-2.
c Pembacaan bar-penuh
Hasil pembacaan diperoleh 6F dan 3Q dengan jarak bidik (Jd) sejauh 6,8 m. Tentukan
diameternya.
Penyelesaian :
Ilustrasi dalam celah pandang seperti
sajian gambar berikut.


Gambar 2-23. Tongkat Bitterlich


dengan nilai K = 1/50
Diameter Batang 20-15

{(6 x 4) + 3}
D (cm) = x 6,8 m = 91,8 cm
2

d Pembacaan bar takpenuh
Hasil pembacaannya adalah 7F dan 2,6Q dengan jarak bidik (Jd) sejauh 6 m. Tentukan
diameternya.
Penyelesaian :

Ilustrasi dalam celah pandang seperti
sajian gambar berikut.




{(7 x 4) + 2,6}
D (cm) = x 6 m = 91,8 cm
2

Koreksi Jarak
Koreksi dilakukan bila posisi saat pembidikan (pengukuran) tidak berada dalam
satu bidang relatif datar. Atau dengan kata lain peengukuran pada bidang permukaan
tanah yang miring.
Penggunaan alat ukur sudut yang sederhana akan memberikan pengaruh terhadap
hasil taksiran Lbds tegakan, bila keberadaanya pada topografi yang miring. Karena jarak
pandang dari titik contoh ke pohon yang berada pada topografi miring menjadi lebih
jauh, dibanding dengan jarak pandang pohon pada bidang datar.
Katakan suatu pohon berada pada topografi miring dan nampak sebagai pohon
batas, sehingga pohon tsb dapat dijadikan pohon contoh (sample) dengan jarak pandang
sebesar J
d
(datar). Padahal jarak pandangnya lebih jauh yaitu J
m
= J
d
/(cos ).

Sebaliknya bila suatu pohon pada topografi
datar dan nampak sebagai pohon batas.
Berarti pada topografi miring, pohon
tersebut akan nampak keluar dari pohon
batas dan tidak dapat dijadikan pohon
contoh.

Gambar 2-24. Kemiringan sudut pandang
Sejalan dengan uraian tersebut, dalam mengukur diameter perlu memperhatikan
kemiringan topografi atau posisi antara si pengukur dan pohon. Upaya untuk mengatasi
hal tersebut, sebelum mengukur diameter pohon terlebih dahulu memperhatikan
kelerengan lapangan atau kedudukan antara si pengukur dan pohon yang akan diukur.
Bila kelerengan yang dibentuk antara pengukur dan pohon terhadap bidang datar
(di permukaan tanah) adalah :
kurang dari 10% ( 4,5); jarak pandang kecil, maka koreksi sudut dapat diabaikan (pada
kelerengan 10%, perbedaan sudut jarak pandang kurang dari 0,5%.
samadengan atau lebih dari 10%, berarti perlu dilakukan koreksi jarak lapangan.
Diameter Batang 20-16


Bentuk koreksinya berdasarkan rumus cosinus adalah
J
d
= J
m
cos
Bila nilai = , maka J
d
= J
m
cos()
Bila nilai = p%, maka J
d
= J
m
cos(0,45 p)
Untuk J
d
= jarak datar (horizontal)
J
m
= jarak miring/lapangan
Sehingga penyesuaian rumusan perhitungan diameternya adalah
{(nF x 4) + nQ}
D (cm) = x J
d
; bila nilai = 0
2

{(nF x 4) + nQ}
D (cm) = x J
m
cos() ; nilai =
2

{(nF x 4) + nQ}
D (cm) = x J
m
cos(0,45 p) ; nilai = p%
2

Bentuk konversi sudut dari derajat ke persen dan sebaliknya disajikan pada
Lampiran 2-1.

Contoh 2-3.
c Hasil pembidikan sejauh 12 meter (jarak lapangan) diperoleh :
a. bila sudut bidik sebesar 10
Jarak datarnya (J
d
) = 12 . cos(10) m
= 11,82 meter
b. bila sudut bidik sebesar 22,2%
Jarak datarnya (J
d
) = 12 . cos(0,45 . 22,2) m
= 11,82 meter

d Hasil pembacaan bar diperoleh 6 bar-penuh dan sebesar 1,2 untuk bar. Pembidikan
sejauh 8 meter dengan sudut bidik sebesar 10.
{(6 x 4) + 1,2}
D (cm) = x 8 cos(10)
2
= 99,27 cm

e Hasil pembacaan bar diperoleh 6 bar penuh dan sebesar 1,2 untuk bar. Pembidikan
sejauh 8 meter dengan sudut bidik sebesar 22,2%.
{(6 x 4) + 1,2}
D (cm) = x 8 cos(0,45 x 22,2)
2
= 99,27 cm

Lekukan dan Kulit Batang 30-1

30 LEKUKAN & KULI T BATANG


31. Lekukan Batang
Alat pengukur lekukan batang berupa mistar yang
mempunyai rusuk-rusuk yang letaknya tegaklurus mistar.
Alat ini dinamakan Gleuvenmeter
Mistar M dengan jarak antara rusuk 2 cm. Tiap rusuk
mempunyai skala dengan selang antara garis pembagian
sebesar cm

Luas Trapisium = x j


Gambar 3-1. Gleuvenmeter
Luas lekukan = jumlah luas trapesium
= (p
1
+ p
2
+ p
3
+ p
4
+ .. + p
n
) 2 cm
Misal panjang dari bagian-bagian tiap rusuk dari kiri ke kanan adalah p
1
, p
2
, p
3
,
.. , p
n
kali satuan pembagian skala (= cm), sehingga luas penampang lintang lekukan
adalah :
= (p
1
+ p
2
+ p
3
+ p
4
+ .. + p
n
) 2 cm
= (p
1
+ p
2
+ p
3
+ p
4
+ .. + p
n
) cm

Berarti luas trapesium merupakan jumlah skala yang ditunjukkan oleh rusuk-rusuk
tersebut.

32. Tebal Kulit
Sebelum menentukan tebal kulit suatu batang pohon berdiri, lebih dahulu
ditentukan pada titik mana dilakukan pengukuran tebal kulit.
Letak pengukuran tebal kulit dari permukaan tanah belum ada ketentuan khusus.
Demikian pula untuk jumlah titik tempat pengukuran tebal kulit. Ketentuan yang ada
selama ini dengan pemikiran bila lingkar batang tidak merupakan lingkaran sempurna
misal agak lonjong (elips) maka pengukurannya dilakukan di empat titik. Dua titik pada
diameter terpendek dan dua titik pada tegak-lurus terpendek atau pada diameter
terpanjang. Sebagai ilustrasi seperti disajikan pada gambar berikut.

titik 1, 2 , 3 dan 4 adalah titik pengukuran tebal kulit
t
2
& t
4
adalah ketebalan kulit pada diameter terpendek.
t
1
& t
3
adalah ketebalan kulit pada diameter terpanjang
d
1
& d
2
adalah diameter tanpa kulit
D
1
& D
2
adalah diameter dengan kulit
Gambar 3-2. Ilustrasi titik pengukuran tebal kulit

p
1
+ p
2

2
Lekukan dan Kulit Batang 30-2

Penentuan ketebalan kulit dapat dilakukan secara langsung dan taklangsung.


Peralatan yang dapat digunakan secara langsung adalah alat berbentuk paruh dan alat
ukur berbentuk pahat





(a) (b)












(c) (d)
Gambar 3-3. Peralatan ukur tebal kulit

Berdasarkan tebal kulit (t
1
, t
2
, t
3
, t
4
) diperoleh diameter batang tanpa kulit (d
x
),
yaitu :
d
x
= {(D
1
+ D
2
)

- (t
1
+ t
2
+ t
3
+ t
4
)} atau
d
x
= { K/

(t
1
+ t
2
+ t
3
+ t
4
)}

Volume kulit pada kayu bulat, apalagi pada pohon berdiri dapat dikatakan tidak
pernah dilakukan. Dalam skala kecil dilakukan pada kulit kayu manis, namun biasanya
dalam satuan berat.
Bila ingin menentukan volume kulit, maka perhitungannya didasarkan pada volume
selimut.
Rumusan dasarnya adalah volume batang (dengan kulit) kurang volume kayu.

Diameter batang kayu (tanpa kulit)
D
1
= d
1
+ t
1
+ t
2
; d
1
= D
1
(t
1
+ t
2
)
D
2
= d
2
+ t
3
+ t
4
; d
2
= D
2
(t
3
+ t
4
)
d
1
+ d
2
= {D
1
(t
1
+ t
2
)} + {D
2
(t
3
+ t
4
)}
d = {(D
1
+ D
2
)

(t
1
+ t
2
+ t
3
+ t
4
)}
D = (D
1
+ D
2
)
D = K/
d = { K/

(t
1
+ t
2
+ t
3
+ t
4
)}
Tinggi Pohon 40-1

40 TI NGGI POHON
41. Pengertian Tinggi
Pengertian tinggi secara umum adalah jarak terpendek yang diperoleh dari proyeksi
suatu titik ke bidang datar.

Pengertian tinggi pohon antara lain adalah :
Tinggi pohon total yaitu jarak terpendek
dari titik puncak pohon dengan titik
proyeksinya pada bidang datar.
Tinggi pohon bebas cabang yaitu jarak
terpendek dari titik bebas cabang dengan
titik proyeksinya pada bidang datar.

Tinggi sampai diameter tertentu (diameter yang masih dapat dimanfaatkan; misal
sampai diameter 20 cm).

42. Rumusan Dasar Tinggi
Rumusan tinggi didasarkan pada rumusan ilmu ukur sudut yaitu rumus tangen.


Pada Gambar 4-2, menunjukkan bahwa
tag = BC/MB ; BC = MB tg


Gambar 4-2. Segitiga Siku

Terapan rumusan dasar tinggi :
1. Titik pandang berada diantara pangkal dan ujung batang


T = (t
1
+ t
2
) = d tg + d tg
= d (tg + tg )


Gambar 4-3. Rumusan dasar tinggi berdasarkan titik pandang berada diantara
pangkal dan ujung batang.


Gambar 4-1. Tinggi pohon


Tinggi Pohon 40-2

2. Titik pandang berada lebih rendah dari pangkal batang





T = (t
1
t
2
) = d tg d tg
= d (tg tg )




Gambar 4-4. Rumusan dasar tinggi berdasarkan titik pandang berada lebih
rendah dari pangkal batang.

3. Titik pandang berada lebih tinggi dari ujung batang


T = (t
2
t
1
) = d tg d tg
= d (tg tg )



Gambar 4-5. Rumusan dasar tinggi berdasarkan titik pandang berada lebih tinggi
dari ujung batang.

43. Peralatan Ukur Tinggi Pohon
1. Tongkat ukur


RS = panjang tongkat (90 cm)
SC = 9 cm dan CR = 10 cm
SC : SR = 1 : 10
S = titik S yang diarahkan pada pangkal batang
R = titik R yang diarahkan pada tajuk pohon
C = takik C yang bayangannya pada batang dan merupakan batas
pengukuran dari pangkal batang (bayangan titik S)
Dasar kerja
Perbandingan garis antara segitiga yang sebangun diperoleh :
MCS MC
1
S
1
dan MRC MR
1
C
1

SC SR = S
1
C
1
S
1
R
1
= 9 : 90 = 1 : 10
S
1
R
1
= 10 . S
1
C
1

Gambar 4-6. Tongkat Ukur

Tinggi Pohon 40-3

Untuk pohon yang cukup tinggi sebaiknya menggunakan perbandingan lebih kecil
agar mempermudah pengukuran S
1
C
1
; misalnya S
1
C
1
S
1
R
1
= 1 : 20

Cara penggunaan Tongkat Ukur
1) Arahkan R ke ujung batang (R
1
) atau batas bebas
cabang. Arahkan S ke arah pangkal batang pohon (S
1
).
Perhatikan tanda takik C berimpit pada batang (C
1
)
2) Ukur tinggi C
1
dari permukaan tanah yaitu
setinggi S
1
C
1

3) Tinggi pohon (S
1
R
1
) diperoleh dari
S
1
R
1
= 10 . S
1
C
1

Gambar 4-7. Cara pengukuran dengan
Tongkat Ukur.

2. Christenmeter (Christenmeter hypsometer)




CT = ukuran panjang skala (30 cm)
C = batas atas diarahkan pada puncak pohon
T = batas bawah di arahkan pada pangkal pohon
Galah sepanjang 4 meter




Gambar 4-8. Christenmeter
Dasar kerja
Perhatikan MC
1
T
1
:
TC dan T
1
C
1
terlihat sama-sama tegak pada bidang datar
Garis pandang MG memotong CT pada titik G
1
, maka
TG
1
: TC = T
1
G : T
1
C
1

TG
1
: 0,3 = 4 : T
1
C
1


TG
1
=

Gambar 4-9. Cara pengukuran dengan Christenmeter

Atas dasar persamaan tersebut yang langsung menunjukkan tinggi pohon yang
diukur, pembuatan skala pada alat :
lebih dulu menentukan besaran T
1
C
1
untuk berbagai ketinggian pohon,
akhirnya diperoleh nilai TG
1
sesuai dengan besarnya T
1
C
1
.

0,3 x 4
T
1
C
1

Tinggi Pohon 40-4

Jadi angka-angka yang ditulis pada alat yaitu :


titik G
1
bukan menunjukkan panjang TC yang sebenarnya
tetapi merupakan skala (angka) yang menunjukkan tinggi pohon (T
1
C
1
).
Dengan cara sederhana dapat dibuat christenmeter pada sebilah kayu atau
penggaris, dimana skala TG
1
dapat dilakukan sesuai dengan tinggi pohon yang
diinginkan (T
1
C
1
).

Cara membuat skala (manual)
CT = panjang alat 30 cm
G = panjang galah 4 meter
Rumus (utk menentukan skala tinggi pd penggaris; lihat gambar cara
penggunannya).
MTC

sebangun MT
1
C
1
berarti : TC : T
1
C
1
= MT : MT
1

MTG
1
sebangun MT
1
G berarti : TG
1
: T
1
G = MT : MT
1

Berarti juga TC : T
1
C
1
= TG
1
: T
1
G

TG
1
=

TG
1
: skala tinggi pohon pada alat atau penggaris (cm)
T
1
C
1
: simulasi tinggi pohon (m)



TG
1
= =

Contoh : Tinggi pohon (5 m) disimulasi (T
1
C
1
) dari 5, 6, ....., 40. Selanjutnya akan
ditentukan skala tinggi (cm) pada penggaris. Hasil simulasinya disajikan
seperti berikut.
T
1
C
1
(m) TG
1
(cm)

T
1
C
1
(m) TG
1
(cm)
5 24 15 8
6 12 16 7,5
7 17,1 17 7,1
8 15 18 6,7
9 13,3 19 6,3
10 12 20 6
11 10,9 25 4,8
12 10 30 4
13 9,2 35 3,4
14 8,6 40 3

Cara penggunaan (Gambar 4-9)
1) Arahkan C ke ujung batang (C
1
)

atau batas bebas cabang. Arahkan T ke arah
pangkal batang pohon (T
1
)
2) Impitkan galah 4 meter (T
1
G)pada batang pohon
3) Baca skala sesuai dengan penunjukkan ujung galah (G)
4) Nilai skala langsung menunjukkan tinggi pohon dalam meter

TC x T
1
G
T
1
C
1

300 x 400
T
1
C
1

120000
T
1
C
1

Tinggi Pohon 40-5

3. Suunto Clinometer
Alat ukur Clinometer ini sebenarnya merupakan alat ukur lereng.









(a) (b)
Gambar 4-10. Clinometer (a. bentuk fisik; b celah pandang)
Konversi besaran sudut
Kesamaan besaran sudut 45
0
= 100%
Skala derajat dari 90
0
s/d +90
0

Skala persen dari 150% s/d +150%
Besaran konversi antara derajat dan persen dapat disimak pada Tabel
Lampiran 4-1.

Dasar kerja
Dasar kerja alat berdasarkan Rumusan Dasar Tinggi, sehingga rumusan
tinggi pohon (T) yaitu :
1 T = Jd (tg + tg ) bila titik pandang berada diantara pangkal dan
ujung batang
2 T = Jd (tg tg ) bila titik pandang berada lebih rendah dari pangkal
batang
3 T = Jd (tg tg ) bila titik pandang berada lebih tinggi dari ujung
batang
T = AC = t
1
+ t
2







Gambar 4-11. Dasar kerja Clinometer dengan sudut derajat (degree)
Dalam pengembangannya, masing-masing t
1
& t
2
diperoleh dari besaran
persen sudut bidang datar, maka :
T = (atas% + bawah%) Jd

Tinggi Pohon 40-6

Pembidikan ke tajuk (atas) yaitu MC dan ke pangkal batang (bawah) yaitu


MA dengan besaran masing-masing sudut dalam %.
Sehingga T = (atas% + bawah%).Jd menjadi :
T = (MC% + MA%).Jd

Mengingat bidang datar berada setinggi mata (bukan pada permukaan tanah;
berarti pula pembacaan ke atas dari bidang datar bernilai positif (+) dan
pembacaan ke bawah dari bidang datar berninilai negatif, maka rumusan di
atas menjadi
T = {MC% + (-MA%)}.Jd atau T = (MC% MA%).Jd







Gambar 4-12. Dasar kerja Clinometer dengan persen sudut
Seharusnya hasil dari {MC% + (-MA%)} tetap bernilai positif. Mengingat
kembali bahwa MC% tidak selalu bernilai positif (+) dan MA% tidak selalu
negatif (); jadi keduanya bisa bernilai positif- negatif (), sehingga
menjadi :
MC% MA%
Disini terkandung makna nilai MC% dan MA% bisa bernilai positif atau
negatif, tergantung hasil ukuran. Bila kita uraikan akan menjadi :

T = - x Jd atau T = x Jd

Untuk mengatasi kesalahan saat memasukkan (input) data MC dan MA dalam
%, maka data MC dan MA dinyatakan tanpa persen dengan notasi %MC dan
%MA.
Sedangkan persennya sendiri telah berupa penyebut, yaitu pembagi 100.
sehingga bentuk rumusan perhitungan tinggi dalam persen adalah


T = x Jd





Gambar 4-13. Cara pengukuran dengan Clinometer

MC
100
MA
100
MC - MA
100
%MC - %MA
100

Tinggi Pohon 40-7

Cara penggunaan
1) Bidik ke ujung batang (C) atau bebas cabang dan baca skala sudut
(derajat) atau %sudut (sudut dalam persen).
2) Arahkan ke pangkal batang (A) dan baca besaran sudut (derajat) atau
%sudut.
3) Ukur jarak antara si pengukur terhadap pohon yang dibidik (Jd).

Perhitungan Tinggi Pohon
Perhitungan tinggi yang didasarkan pada pembacaan sudut derajat (degree)
dan persentse saat pembidikan ujung batang (tajuk) maupun pangkal pohon
dengan kondisi lapangan yang relatif datar. Bila kondisi tersebut tak
terpenuhi, maka perlu dilakukan koreksi jarak ukur (jarak lapangan) dengan
memperhatikan besaran sudut yang dibentuk.
Menentukan Jarak Datar
Kelerengan dikatakan :
a) datar bila sudut lereng < 10% atau < 4,5
b) tidak datar bila
sudut lereng 10% atau 4,5
Berdasarkan rumus cosinus diperoleh :
Cos = J
d
/J
m
, maka J
d
= J
m
.Cos


Gambar 4-14. Sudut lereng
Bila nilai = , maka J
d
= J
m
.cos()
= , maka J
d
= J
m
.cos()
Bila nilai = p%, maka J
d
= J
m
.cos(0,45 p)
untuk J
m
= jarak miring/lapangan
J
d
= jarak datar (horizontal)
Pembidikan dengan pembacaan sudut derajat
a. Bila kondisi lapangan relatif datar
T = (tg + tg ).J
d
(posisi 1 Gambar 4-13; titik pandang berada
diantara pangkal dan ujung batang)
b. Bila kondisi lapangan tidak datar
b1. Posisi Pohon lebih tinggi
T = (tg tg ) . J
d

= (tg tg ) . J
m
.cos()
(posisi 2; titik pandang
berada lebih rendah dari
pangkal batang)
Gambar 4-15. Posisi Pohon lebih tinggi

Tinggi Pohon 40-8

b2. Posisi Pohon lebih rendah




T = (tg tg ) . J
d

= (tg tg ) . Jm.cos()

(posisi 3; titik pandang berada lebih
tinggi dari pangkal batang)
Gambar 4-16. Posisi Pohon lebih rendah
Pembidikan dengan pembacaan %sudut (sudut dalam persen)

T = x J
d



T = x J
m
.cos(0,45 p)

Contoh :
c Pembidikan sejauh 12 meter (jarak lapangan) dengan sudut bidik 10 dan
22,2%. Tentukan jarak datar masing-masing sudut bidik.
Penyelesaian :
a, Jarak datarnya (J
d
) = 12 . cos(10) m
= 11,82 meter
b. Jarak datarnya (J
d
) = 12 . cos(0,45 . 22,2) m
= 11,82 meter

4. Abney Level
Alat ukur Abney Level ini sebenarnya merupakan alat ukur lereng.







Gambar 4-17. Abney Level (a. bentuk fisik; b celah pandang)
Konversi besaran sudut
Kesamaan besaran sudut 45
0
= 100%
Skala derajat dari 90
0
s/d +90
0

Skala persen dari 150% s/d +150%
Besaran konversi antara derajat dan persen dapat disimak pada Tabel
Lampiran 4-1.

%MC - %MA
100

%MC - %MA
100

Tinggi Pohon 40-9

Dasar kerja
Dasar kerja alat pada dasarnya sama seperti pada Clinometer.

Cara penggunaan
1) Buka kunci K agar penunjuk skala S dapat bergerak bebas
2) Bidik ke puncak pohon/bebas cabang (C) dan ke pangkal pohon (A). Saat
sasaran ditemukan perhatikan apakah gelembung udara masih terletak
ditengah-tengah
3) Kunci penunjuk skala dan baca skala
4) Ukur jarak antara si pengukur dan pohon yang dibidik (Jd)
5) Tinggi pohon (T = AC) dihitung dengan rumus seperti pada Clinometer

5. Hagameter

B
1
= pembidik dilengkapi dengan prisma
B
2
= pembibik yang dilengkapi pisir
B
3
= bagian dalam dari B
2
yang terlihat dari B
1

P = pemutar batangan berskala (S) bersegi-
enam
K = tombol yang membuat jarum J bergerak
bebas
L = lubang tempat gantungan tali
Gambar 4-18. Hagameter

Ilustrasi batang pemutar berskala (S) bersegi-enam disajikan seperti berikut.















Gambar 4-19. Pemutar batang berskala


Tinggi Pohon 40-10

Dasar kerja
Dasar kerja alat pada dasarnya serupa dengan Clinometer.

Cara penggunaan
1) Putar batang berskala sampai tampak sisi skala yang diinginkan
2) Ukur jarak dari pengukur ke pohon (Jd); kecuali bila menggunakan skala
%sudut setelah pembidikan puncak dan pangkal pohon
3) Arahkan alat ke puncak (C)dan pangkal pohon (A) dan baca hasil
penunjukkan jarum skala
4) Perhitungan tinggi pohon (T = AC) ditentukan sebagai berikut :
a. Bila menggunakan jarak yang telah ditentukan (66 foot; 15, 20, 25, 30
meter), maka
T = BC BA
b. Tinggi pohon (m) adalah

T = x J
d



6. Spiegel relaskop

Konversi besaran sudut
Kesamaan besaran sudut 45
0
= 100%
Skala sudut dari 90
0
s/d +90
0

Skala persen dari 150% s/d +150%

tanda negatip menunjukkan arah bidik menurun dan
tanda positip menunjukkan arah bidik menaik

Gambar 4-20. Skala tinggi dalam celah pandang
Dasar kerja
Dasar kerja alat pada dasarnya serupa dengan Clinometer.

Cara penggunaan
a) Arahkan alat ke ujung (C) dan pangkal batang (A) sambil penekan tombol
penghenti goyangan
b) Setelah titik sasaran tepat dan kondisi skala tidak bergoyang lagi,
hentikan penekanan tombol dan baca skala
c) Ukur jarak antara si pengukur terhadap pohon yang dibidik (Jd)
d) Tinggi pohon (T = AC) (lihat Clinometer)

44. Kesalahan Pengukuran Tinggi
Kesalahan pengukuran tinggi terjadi disebabkan oleh posisi pohon berdiri miring,
pohon bertajuk lebar, antara pengukur dan pohon terlindung daerah bersemak atau
berbatu.
%MC %MA
100

Tinggi Pohon 40-11

Kesalahan pengukuran tinggi yang akan terjadi bisa bersifat positif atau bersifat
negatif. Maksud pengukuran tinggi bersifat positif bila hasil ukuran lebih tinggi
dari tinggi yang sebenarnya, sedangkan bersifat negatif bila hasil ukuran tinggi
diperoleh lebih rendah dari tinggi yang sebenarnya.
A. Pohon berdiri miring







Gambar 4-21. Ilustrasi pohon berdiri miring
Pohon yang tampak oleh saat pengkuran adalah pohon yang diarsir. Kesalahan ukur
yang mungkin terjadi adalah :
1. Kesalahan negatip
Kesalahan negatif terjadi bila arah bidik
searah dengan kemiringan pohon.
Perhatikan Gambar 4-22
E
t
= T
1
P TP
1

= T
1
P SP = T
1
S
E
t
= PS . tg . tg
Gambar 4-22. Ilustrasi kesalahan negatif

2. Kesalahan positip
Kesalahan positif terjadi bila arah bidik
searah dengan kemiringan pohon.
Perhatikan Gambar 4-22
E
t
= T
1
P TP
1

= T
1
P SP = + T
1
S
E
t
= PS . tg . tg

Gambar 4-23. Ilustrasi kesalahan positif
B. Pohon bertajuk lebar
Kesalahan ukur pada pohon yang bertajuk lebar
selalu bersifat positif. Perhatikan Gambar 4-24
E
t
= T
1
P TP = T
1
B TB = + T
1
T
= d (tg tg )



Gambar 4-24. Ilustrasi kesalahan positif (2)

Tinggi Pohon 40-12

Upaya untuk memperkecil kesalahan seperti disajikan berikut.











(d
3
> d
2
> d
1
) (
3
<
2
<
1
) E
3
< E
2
< E
1

Gambar 4-25. Ilustrasi memperkecil kesalahan

C. Daerah bersemak atau berbatu

E
t
= P
1
B PB = P
1
P
= d (tg tg )




Gambar 4-26. Ilustrasi kesalahan ukur pada daerah
bersemak atau berbatu

45. Pendugaan Tinggi Pohon
Tinggi pohon dapat diduga dengan dasar hubungan dua sifat, yaitu keeratan
hubungan antara peubah tinggi dan diameter batang setinggi dada.
Analisis regresi
Bentuk persamaan penduga tinggi
pohon antara lain :
T = b
0
+ b
1
.D
sd

T = b
0
+ b
1
.D
sd
+ b
2
.D
sd
2

Log T = b
0
+ b
1
log(D
sd
)

Gambar 4-27. Kurva pendugaan tinggi pohon

Volume Pohon 50-1

50 VOLUME POHON

51. Pengertian Volume
Beberapa pengertian volume pada umumnya adalah :
Pengertian volume mengandung arti hasil penggandaan tiga ukuran (dimensi) yaitu
panjang, lebar dan tebal/tinggi.
Pengertian volume pohon/batang mengandung arti hasil penggan-daan dua ukuran
(dimensi) yaitu diameter/keliling dan tinggi/ panjang.
Pengertian volume pohon merupakan volume batang termasuk cabang dan ranting.
Pengertian volume pohon yang umum dibicarakan lebih ditekankan pada volume
batang utama, baik pohon tsb masih berdiri atau sudah ditebang (pohon rebah)
Keterkaitan dengan kulit maka volume pohon mengandung dua arti yaitu volume
pohon termasuk kulit dan volume pohon tanpa kulit
Pengertian volume kayu sebatang pohon yang umum digunakan Hutan Jati :
volume tunggak (Stump Volume) merupakan volume kayu yang terdiri dari akar dan
pangkal pohon sampai ketinggian tertentu (tunggak)
volume kayu batang (Volume of Stem) merupakan volume kayu di atas tunggak sampai
batas tajuk. Bagian ini merupakan batang utama pohon yang menyusun volume kayu
sampai percabangan pertama
volume kayu tebal (Volume of Thick Wood) merupakan volume kayu di atas tunggak
sampai pada titik dimana diameter 7 cm dengan kulit yang menyusun volume kayu
volume kayu pohon (Volume of Tree Wood) merupakan volume kayu yang terdapat di
seluruh pohon mulai dari pangkal batang sampai ujung ranting pohon

52. Dasar Penentuan Volume
Penentuan rumusan volume didasarkan pada pendekatan volume benda putar dan
pendekatan rumus volume itu sendiri.
A. Pendekatan volume benda putar
Volume Benda putar didekati dengan irisan silinder dan rataan luasan bidang dasar
(Lbds)






Gambar 5-1. Penyesuaian volume berdasarkan irisan silinder

Volume Pohon 50-2

V
is
= y
2
dx
= c { (q + p) + x }
r

untuk : V
is
= volume irisan silinder dx = lebar irisan silinder
y
2
= luas penampang lintang
Memperhatikan volume irisan ternyata bahwa :
a. Rumusan volume benda putar sesuai bentuk dan nilai r
b. Rumusan volume benda putar secara matematis

Tabel 5-1. Rumusan volume benda-benda putar sesuai bentuk dan nilai r.







c = konstanta
q = panjang potongan benda putar sempurna dari puncak
p = panjang frustrum
r = koefisien korelasi

Tabel 5-2. Rumusan volume benda-benda putar secara matematis






















Volume Pohon 50-3







Gambar 5-2. Penyesuaian volume berdasarkan rataan luas bidang dasar

V
f
= . c . p (q + p)
r
+ (q + p)
r2
. x
2



V
bs
= . c . p ( p)
r
+ ( p)
r2
. x
2


Kedua volume tsb (frustrum & benda putar sempurna) ternyata menimbulkan bias volume
yang berlainan.

E
f
= . c . p (q + p)
r2
( x
2

1
/
12
p
2
)


E
bs
= . c . p ( p)
r2
( x
2

1
/
12
p
2
) ; q = 0

Tabel 5-3. Bias Volume










B. Pendekatan rumus volume
Pendekatan ini didasarkan pada rumusan volume pohon didekati/dipersamakan
dengan rumusan volume kerucut atau volume silinder.
V
Kerucut
= Luas Alas .
1
/
3
Tinggi
= . R
2
.
1
/
3
T
=

/
12
. D
2
. T (rumus dasar)

= . D
2
. T (rumus terapan)




r(r-1)
2
r(r-1)
2
r(r-1)
2
r(r-1)
2

11
420000
Volume Pohon 50-4

V
Silinder
= Luas Alas . Tinggi
= . R
2
. T
=

/
4
. D
2
. T (rumus dasar)

= . D
2
. T (rumus terapan)

Kedua rumusan ini dapat ditelaah sebagai berikut. Katakan diameter alas kerucut
sama dengan diameter silinder yaitu 30 cm. Tinggi kerucut sama dengan tinggi
silinder 15 meter. Hasil perhitungannya adalah :

V
Kerucut
= . 30
2
. 15 m
3
= 0,3536.. m
3



V
Silinder
= . 30
2
. 15 m
3
= 1,0607.. m
3



bila diperhatikan kedua volume tersebut ternyata memiliki perbandingan
V
kerucut
: V
silinder
= 1 : 3

Bila demikian maka rumusan volume pohon lebih sesuai didekati rumusan silinder.
Ilustrasi berikut merupakan ringkasan alur pendekatan rumusan volume pohon.












Gambar 5-3. Alur pendekatan rumusan volume pohon

53. Penentuan Volume Pohon
Pohon yang akan ditentukan volumenya berada pada dua kondisi, yaitu saat pohon
itu masih berdiri dan pohon tersebut setelah ditebang (rebah).
A. Pohon berdiri
Berbagai cara untuk menentukan volume pohon berdiri antara lain persamaan umum,
persamaan volume (regresi), secara kasat mata, cara matematis, cara optis, cara
grafis.


11
140000
11
420000
11
140000
Volume Pohon 50-5

1. Persamaan Umum
Persamaan untuk perhitungan volume pohon yang umum digunakan adalah

V
Pohon
= D
2
. T . f

V
Pohon
= K
2
. T . f
untuk D (diameter) dan K (keliling) dalam satuan cm
T (tinggi) dalam satuan m
Kedua persamaan di atas merupakan rumusan terapan yang didasarkan pada rumus
silinder.

2. Persamaan Regresi
Telah dikemukakan bahwa perhitungan volume pohon atau suatu tegakan yang
digunakan selama ini didekati dengan rumusan silinder. Walau kenyataan yang ada
bentuk batang pohon tidak pernah silinder.
Berdasarkan kenyataan tersebut dicari persamaan lain yaitu persamaan regresi
dengan anggapan bahwa volume pohon berkaitan erat dengan pertumbuhan
diameter dan atau tinggi pohon itu sendiri (Lampiran 5-1).
Untuk memperoleh persamaan volume yang baik, perlu diperhatikan antara lain :
penentuan pohon-pohon contoh sebagai pewakil (purposif ) dari keseluruhan
pohon yang ada (tingkat pertumbuhan dan jumlah),
kondisi lahan lokasi keberadaanya (jenis tanah, sungai, kelerengan),
menguji beberapa persamaan yang dianggap mungkin dan secara menyeluruh
sesuai dengan kondisi hutannya.
Sejalan dengan pembuatan tabel volume lokal, maka jumlah pohon contoh yang
digunakan sekitar 50 sampai 150 pohon untuk luasan 100 ha (Bustomi, Wahyono &
Parthama, 1998). Ini berarti untuk luasan 1 ha akan diperoleh sekitar sampai 1
pohon atau 1 hingga 2 pohon.
3. Pendugaan dengan kasat-mata
Cara ini diperlukan pengalaman lapangan. Surveyor yang berpengalaman dalam
menduga volume pohon berdiri akan memberikan bias volume sekitar 10 15%.
Pendugaan volume dengan kasat mata, dirumuskan sebagai berikut :

V =

untuk V = volume batang (m
3
) sampai diameter 7 cm
Dsd = diameter setinggi dada (cm)

4. Cara matematis
Pengukuran pohon yang masih berdiri secara langsung paling tinggi sampai 2 meter.
Selebihnya melalui pengukuran /dugaan. Untuk mengatasi hal tersebut pohon harus
ditebang dan pengukuran tinggi melalui pengukuran panjang batang secara seksi.
Panjang batang yang akan diukur tergantung keperluan, apakah tinggi total, tinggi
hingga diameter tertentu (10 am atau 20 cm) atau tinggi bebas cabang.
11
140000
7
880000
Dsd
2

100
Volume Pohon 50-6

Pengukuran panjang secara seksi sebenarnya memperhatikan bentuk (permukaan)


batang, namun menyulitkan karena batas perubahan bentuk batang (bentuk benda-
benda putar) satu dengan lainnya tidak begitu jelas.
Untuk kemudahan dan kepraktisan di lapangan, maka panjang tiap seksi (section)
dibuat suatu kesepakatan, yaitu panjang 1 meter tiap seksi diperuntukan pohon-
pohon jenis hutan tanaman dan panjang 2 meter tiap seksi diperuntukan pohon-
pohon jenis hutan rimba. Kesepakatan yang biasa dilakukan adalah :
+ Panjang seksi batang = 1 meter (hutan tanaman)
Bila sisa pembagian panjang seksi lebih kecil dari 0,5 meter (< 0,5 m); sisanya
digabungkan dengan seksi sebelumnya.
Bila sisa pembagian panjang seksi 0,5 meter atau lebih besar ( 0,5 m);
sisanya dijadikan 1 seksi.
Sebagai contoh, katakan saja panjang 8 meter, berarti diperoleh 8 seksi.
Misal p = 8,4 m, maka akan diperoleh sebanyak 7 seksi (1 meter) dan 1 seksi (1,4
meter)
Misal p = 8,6 m, maka akan diperoleh sebanyak 8 seksi (1 meter) dan 1 seksi (0,6
meter)
+ Panjang seksi batang = 2 meter (hutan rimba)
Bila sisa pembagian panjang seksi lebih kecil dari 1,0 meter (< 1,0 m); sisanya
digabungkan dengan seksi sebelumnya .
Bila sisa pembagian panjang seksi 1,0 meter atau lebih besar ( 1,0 m); sisanya
dijadikan 1 seksi.
Katakan saja panjang 14 meter, berarti diperoleh 7 seksi.
Misal p = 14,9 m, maka akan diperoleh sebanyak 6 seksi (2 meter) dan 1 seksi
(2,9 meter)
Misal p = 15,0 m, maka akan diperoleh sebanyak 7 seksi (2 meter) dan 1 seksi (1
meter)
Ilustrasi pengukuran seksi batang dilakukan setelah batang tersebut ditebang
dengan 2 cara, yaitu dengan pemberian tanda saat masih berdiri (belum ditebang)
dan tanpa pemberian tanda. Penandaan biasanya dilakukan setinggi 1 atau 2 meter
dari permukaan tanah. Cara ini (penandaan) dilakukan dengan maksud agar tidak
kehilangan jejak saat pengukuran panjang seksi.

41. Cara Pertama (dengan penandaan)
1. Persiapan
Lakukan penandaan pada batang setinggi 1 meter atau lebih dan telah
diperkirakan letak penebangan (takik rebah dan takik balas) berada di bawah atau
di atas batas tanda tersebut. Yang penting tanda tersebut tidak hilang setelah
penabangan.
2. Pengukuran
a. ukur panjang tiap seksi sesuai kesepakatan :
p
1
= p
2
= p
3
= .. = p
(n-1)
= p
n
= L
b. ukur diameter pangkal dan ujung tiap seksi

Volume Pohon 50-7













Gambar 5-4. Ilustrasi penandaan panjang seksi

3. Perhitungan
a. Diameter pangkal dan ujung tiap seksi :
Seksi 1 ; dp = d
0
= (d
01
+ d
02
) dan du = d
1
= (d
11
+ d
12
)
Seksi 2 ; dp = d
1
= (d
11
+ d
12
) dan du = d
2
= (d
21
+ d
22
)
dan seterusnya
Seksi n ; dp = d
n-1
= (d
n-1.1
+ d
n-1.2
) & du = d
n
= (d
n1
+ d
n2
)
b. Diameter rataan tiap seksi :
Seksi 1 ; d
S1 =
(d
0 +
d
1
)
Seksi 2 ; d
S2 =


(d
1 +
d
2
) ..dst
Seksi n ; d
Sn =
(d
n-1
+

d
n
)
c. Volume tiap seksi :
Seksi 1 ; V
1
= Qd.d
S1
2
.p
1

Seksi 2 ; V
2
= Qd.d
S2
2
.p
2
..dst


Seksi n ; V
n
= Qd.d
Sn
2
.p
n

Volume seluruh seksi :
V
SS
= V
1
+ V
2
+ V
3
+ .. + V
(n-1)
+ V
n

V
pohon
= V
SS


Contoh 5-2. Penentuan Volume dengan Penandaan
Katakan saja pohon yang akan ditebang termasuk jenis-jenis pohon hutan rimba,
berarti panjang seksi 2 meter.
1) Buat daftar pengukuran dan perhitungannya (blanko). Banyaknya kolom dan baris
disesuaikan; atau buat lebih umum.
Seksi
P.seksi
( m )
Diameter (cm) Lbds
(m
2
)
Volume
(m
3
)
Ket.
p/u Rata2




2) Perkirakan tinggi batas tebangan (biasanya di atas 60 cm).
3) Beri tanda pada batang setinggi 2 meter (bila tidak mungkin, 1,5 m atau 1 m); Yang
penting saat penebangan, tanda tersebut tidak hilang (tidak pada batas tebangan).

Volume Pohon 50-8

4) Setelah pohon ditebang, selanjutnya beri tanda pada batang (ukur) sepanjang 2
meter untuk tiap seksi berikutnya. Hasil perolehan seksi sebanyak 12 seksi yang
terdiri dari 11 seksi berukuran 2 meter dan sisanya sepanjang 1,7 meter. Jadi
panjang batang (jumlah panjang seluruh seksi) adalah (2 x 11) + 1,7 m = 23,7 m.
Panjang batang ini (P
ss
) berarti pula tinggi pohon.
5) Ukur diameter tiap seksi (pangkal dan ujung). Perlu diingat bahwa diameter pangkal
atau ujung merupakan hasil rataan dua kali ukuran)
6) Lbds tiap seksi dihitung dengan rumus :
Lbds = (
11
/
140000
) . D (m)
Seksi 1 : Lbds = (
11
/
140000
) . 63,7 m = 0,3183 m
2

Seksi 2 : -------------- dan seterusnya ----------------
7) Volume pohon yang didasarkan pada volume seksi :
a. Volume tiap seksi : V
seksi
= Lbds x P
seksi

Seksi 1 : V
seksi
= 0,3183 m
2
x 2 m = 0,64 m
3

Seksi 2 : -------------- dan seterusnya ----------------
b. Volume pohon : V
pohon
= V
ss
(Volume seluruh seksi)


V
pohon
= (0,64 + 0,57 + .. + 0,26 + 0,20) m
3

= 4,94 m
3
Rekaman data dan hasil perhitungan seperti sajian daftar berikut.
Seksi
P.seksi
( m )
Diameter (cm) Lbds
(m
2
)
Volume
(m
3
)
Ket.
p/u Rata2
12 1,7 37,2 38,3 0,1150 0,20 d
11
d
12

11 2 39,3 41,0 0,1318 0,26 d
10
/d
11

10 2 42,6 43,9 0,1511 0,30 d
9
/d
10

9 2 45,1 45,8 0,1645 0,33 d
8
/d
9

8 2 46,4 47,7 0,1788 0,36 d
7
/d
8

7 2 49,0 49,9 0,1953 0,39 d
6
/d
7

6 2 50,7 51,5 0,2084 0,42 d
5
/d
6

5 2 52,3 53,5 0,2249 0,45 d
4
/d
5

4 2 54,7 56,2 0,2477 0,50 d
3
/d
4

3 2 57,6 58,1 0,2648 0,53 d
2
/d
3

2 2 58,5 60,3 0,2852 0,57 d
1
/d
2

1 2 62,0 63,7 0,3183 0,64 d
0
/d
1

0 65,3 d
0
= pkl btg
Jumlah 23,7 4,94
Catatan : Perhitungan volume pohon hasil pengukuran diameter setinggi 130 cm dan tinggi
pohon 23 meter diperoleh :
V
pohon
= (
11
/
140000
) x 61,3 x 23 x 0,7 = 4,75 m
3


42. Cara Kedua (tanpa penandaan)
a. Seksi 1 = (t
g
t
x
)
Panjang seksi 1 tetap sesuai dengan kesepakatan (1 meter atau 2 meter). Bila
tinggi tunggak melebih panjang yang disepakati, maka seksi 1 adalah tinggi
Volume Pohon 50-9

tunggak (t
g
) - t
x
. Sebaliknya bila kurang dari yang disepakati, maka seksi 1
adalah tinggi tunggak (t
g
) + t
x
.
1. Pengukuran
+ ukur panjang tiap seksi sesuai kesepakatan :
* p
1
= tunggak + t
x
= 1 m atau 2 meter
* p
1
= p
2
= .. = p
(n-1)
= p
n
= L
+ ukur diameter pangkal dan ujung tiap seksi









Gambar 5-5. Ilustrasi tanpa penandaan (seksi 1 = t
g
+ t
x
)
2. Perhitungan
+ Diameter pangkal dan ujung tiap seksi :
Seksi 1 ; dp = d
0
= (d
01
+ d
02
) dan du = d
1
= (d
11
+ d
12
)
Seksi 2 ; dp = d
1
= (d
11
+ d
12
) dan du = d
2
= (d
21
+ d
22
)
dan seterusnya
Seksi n ; dp = d
n-1
= (d
n-1.1
+ d
n-1.2
) & du = d
n
= (d
n1
+ d
n2
)
+ Diameter rataan tiap seksi :
Seksi 1 ; d
S1 =
(d
0 +
d
1
)
Seksi 2 ; d
S2 =


(d
1 +
d
2
) ..dst
Seksi n ; d
Sn =
(d
n-1
+

d
n
)
+ Volume tiap seksi :
Seksi 1 ; V
1
= Qd.d
S1
2
.p
1

Seksi 2 ; V
2
= Qd.d
S2
2
.p
2
..dst


Seksi n ; V
n
= Qd.d
Sn
2
.p
n

V
SS
= V
1
+ V
2
+ V
3
+ . + V
(n-1)
+ V
n

V
pohon
= V
SS


Contoh 5-3. Penentuan volume dengan seksi 1 = (t
g
+ t
x
)
Katakan saja pohon yang akan ditebang jenis hutan tanaman, berarti panjang tiap seksi
1 meter.
1) Buat daftar pengukuran dan perhitungannya (blanko). Banyaknya kolom dan baris
disesuaikan; atau buat lebih umum (seperti pada cara dengan penandaan).
2) Menentukan panjang seksi 1 :
a. Ukuran tinggi tunggak dari pangkal hingga batas bawah (bisa juga batas atas)
bekas tebangan, misal setinggi 68 cm. Berarti kekurangan setinggi/sepanjang (100
68) cm = 32 cm untuk menjadi 1 meter.

Volume Pohon 50-10

b. Ukur sepanjang t
x
= 32 cm dari batas
bawah (bisa juga batas atas) bekas
tebangan pada bagian pangkal batang.
3) Selanjutnya ukur tiap 1 meter. Ternyata
pada bagian ujung tersisa sepanjang 86 cm
dan dijadikan menjadi satu seksi.
Setelah dihitung diperoleh 11 seksi dan
sisanya 0,86 cm. Berarti tinggi pohon
(panjang batang) (11 x 1) m + 0,86 cm adalah
11,86 meter.
4) Ukur diameter tiap seksi (pangkal dan ujung).
5) Lbds tiap seksi dihitung dengan rumus :
Seksi 1 : Lbds = (
11
/
140000
) . 35,0 m = 0,0960 m
2
Seksi 2 : -------------- dan seterusnya ----------------
Seksi 12 : Lbds = (
11
/
140000
) . 20,5 m = 0,0329 m
2

6) Volume pohon yang didasarkan pada volume seksi :
a. Volume tiap seksi : V
seksi
= Lbds x P
seksi

Seksi 1 : V
seksi
= 0,0960 m
2
x 1,0 m = 0,10 m
3

Seksi 2 : -------------- dan seterusnya ----------------
b. Volume pohon : V
pohon
= V
ss
(Volume seluruh seksi)
V
pohon
= (0,10 + 0,08 + .. + 0,03 + 0,03) m
3

= 0,61 m
3

Rekaman data dan hasil perhitungan seperti sajian daftar berikut.
Seksi
P.seksi
( m )
Diameter (cm) Lbds
(m
2
)
Volume
(m
3
)
Ket.
p/u Rata2
12 0,86 20,4 20,5 0,0329 0,03 d
11
d
12

11 1 20,5 20,8 0,0338 0,03 d
10
/d
11

10 1 21,0 21,3 0,0356 0,04 d
9
/d
10

9 1 21,6 22,0 0,0380 0,04 d
8
/d
9

8 1 22,4 22,8 0,0408 0,04 d
7
/d
8

7 1 23,2 23,4 0,0430 0,04 d
6
/d
7

6 1 23,6 24,1 0,0456 0,05 d
5
/d
6

5 1 24,6 24,8 0,0483 0,05 d
4
/d
5

4 1 25,0 26,4 0,0548 0,05 d
3
/d
4

3 1 27,8 29,0 0,0659 0,07 d
2
/d
3

2 1 30,1 31,7 0,0790 0,08 d
1
/d
2

1 1 33,3 35,0 0,0960 0,10 d
0
/d
1

0 36,6 d
0
= pkl btg
Jumlah 11,86 - - - 0,61
Catatan : Perhitungan volume pohon hasil pengukuran diameter setinggi 130 cm (33,6 cm)
dan tinggi pohon 12 meter diperoleh :
V
pohon
= (
11
/
140000
) . 33,6 . 12 x 0,7 = 0,75 m
3



Batas atas Batas atas


Batas bawah
Batas bawah
Volume Pohon 50-11

b. Seksi 1 = (t
g
+ t
r
)
Tanpa penandaan dimaksud adalah penandaan tidak dibuat sebelum pohon di
tebang. Penandaan dapat dilakukan dengan memperhatikan trimming atau tidak.
Pada dasarnya cara pengukuran dan perhitungan kedua cara ini adalah sama. Jadi
bedanya apakah trimimng diperhitungkan atau tidak.
1. Pengukuran
a. ukur panjang tiap seksi sesuai kesepakatan :
p
1
= tunggak (+ trimming)
p
2
= .. = p
(n-1)
= p
n
= L
b. ukur diameter pangkal dan ujung tiap seksi










Gambar 5-6. Ilustrasi tanpa penandaan (Seksi 1 = t
g
+ t
r
)
2. Perhitungan
a. Diameter pangkal dan ujung tiap seksi :
Seksi 1 ; dp = d
0
= (d
01
+ d
02
) dan du = d
1
= (d
11
+ d
12
)
Seksi 2 ; dp = d
1
= (d
11
+ d
12
) dan du = d
2
= (d
21
+ d
22
)
dan seterusnya
Seksi n ; dp = d
n-1
= (d
n-1.1
+ d
n-1.2
) & du = d
n
= (d
n1
+ d
n2
)
b. Diameter rataan tiap seksi :
Seksi 1 ; d
S1 =
(d
0 +
d
1
)
Seksi 2 ; d
S2 =


(d
1 +
d
2
) ..dst
Seksi n ; d
Sn =
(d
n-1
+

d
n
)
c. Volume tiap seksi :
Seksi 1 ; V
1
= Qd.d
S1
2
.p
1

Seksi 2 ; V
2
= Qd.d
S2
2
.p
2
..dst


Seksi n ; V
n
= Qd.d
Sn
2
.p
n

V
1
= V
tunggak (+trimming)

V
B
= V
2
+ V
3
+ . + V
(n-1)
+ V
n

V
pohon
= V
1
+ V
B

= V
SS




Volume Pohon 50-12

Contoh 5-4. Penentuan Volume Tanpa Penandaan


Misal menginginkan panjang seksi 1 meter mengingat pohon yang akan ditebang
termasuk jenis hutan tanaman, berarti panjang seksi 1 meter.
1) Buat daftar pengukuran dan perhitungannya (blanko). Banyaknya kolom dan baris
disesuaikan; atau buat lebih umum seperti pada cara dengan penandaan.
2) Menentukan panjang seksi 1 (setelah pohon ditebang) :
a. Ukuran tinggi tunggak dari pangkal
hingga batas atas (atau BB) bekas
tebangan, misal setinggi 34 cm.
b. Ukuran tebal trimming dari batas atas
bekas tebangan (atau BB) pada bagian
pangkal batang ke arah ujung (bisa
diberi spilasi), misal setinggi 12 cm.
c. Berarti panjang seksi 1 masih kurang
sepanjang 1 - (34 + 12) cm = 54 cm.
Tambahkan 54 cm setelah batas atas
trimming.
3) Selanjutnya ukur tiap 1 meter dan ternyata ada kelebihan sepanjang 40 cm. Berarti
ditambahkan ke seksi terakhir untuk menjadi 1 seksi. Setelah dihitung diperoleh 12
seksi yang terdiri dari 11 seksi berukuran 1 meter dan sisanya sepanjang 1,4 meter.
Jadi panjang batangadalah (1 x 11) + 1,4 m = 12,4 m.
5) Ukur diameter tiap seksi (pangkal dan ujung). Masukan dalam daftar.
6) Lbds tiap seksi dihitung dengan rumus :
Lbds = (
11
/
140000
) . D (m)
Seksi 1 : Lbds = (
11
/
140000
) . 35,2 m = 0,0971 m
2

Seksi 2 : -------------- dan seterusnya ----------------
7) Volume pohon yang didasarkan pada volume seksi :
a. Volume tiap seksi : V
seksi
= Lbds x P
seksi

Seksi 1 : V
seksi
= 0,0971 m
2
x 0,46 m = 0,04 m
3

Seksi 2 : V
seksi
= 0,0812 m
2
x 1,0 m = 0,08 m
3

Seksi 3 : -------------- dan seterusnya ----------------
b. Volume pohon : V
pohon
= V
T
+ V
B
= V
ss

V
pohon
= 0,04 + 0,08 + .. + 0,03 + 0,05) m
3

= 0,59 m
3

Rekaman data dan hasil perhitungan seperti sajian daftar berikut.
Seksi
P.seksi
( m )
Diameter (cm) Lbds
(m
2
)
Volume
(m
3
)
Ket.
p/u Rata2
12 1,4 20,4 20,6 0,0333 0,05 d
11
d
12

11 1 20,8 21,1 0,0350 0,03 d
10
/d
11

10 1 21,4 21,7 0,0368 0,04 d
9
/d
10

9 1 21,9 22,3 0,0389 0,04 d
8
/d
9

8 1 22,6 22,9 0,0412 0,04 d
7
/d
8

7 1 23,2 23,5 0,0434 0,04 d
6
/d
7

Batas atas
Batas atas
Batas bawah
Batas bawah
Volume Pohon 50-13

Seksi
P.seksi
( m )
Diameter (cm) Lbds
(m
2
)
Volume
(m
3
)
Ket.
p/u Rata2
6 1 23,8 24,3 0,0462 0,05 d
5
/d
6

5 1 24,7 25,0 0,0491 0,05 d
4
/d
5

4 1 25,3 26,9 0,0569 0,06 d
3
/d
4

3 1 28,5 29,6 0,0686 0,07 d
2
/d
3

2 1 30,6 32,2 0,0812 0,08 d
1
/d
2

1 0,46 33,7 35,2 0,0971 0,64 d
0
/d
1

0 36,6 d
0
= pkl btg
Jumlah 11,86 - - - 0,59
Catatan : Perhitungan volume pohon hasil pengukuran diameter setinggi 130 cm (33,6 cm)
dan tinggi pohon 12 meter diperoleh :
V
pohon
= (
11
/
140000
) . 33,6 . 12 x 0,7 = 0,75 m
3


5. Cara optis (Spiegel Relaskop)
1. Persiapan
a. Buat daftar pengukuran dan perhitungan
Seksi
Tinggi (m) Sdt bidik Bacaan Bar Dia- (cm) Lbds
(m
2
)
Vol.
(m
3
) Bdt Td p% nF nQ p/u Rata2


b. Sepakati panjang (kenaikan tinggi) tiap seksi (1 meter untuk jenis hutan
tanaman atau 2 meter untuk jenis hutan rimba). Misal sepanjang ps meter.
c. Ukur tinggi mata (Tm) dalam meter (= Bdm = 0).
d. Ukur tinggi pohon hingga ketinggian tertentu atau yang dinginkan (t meter)
dan ukur jarak (Jd) antara si pengukur terhadap pohon (meter).
e. Hitung :
ketinggian letak diameter dari Bdt untuk tiap seksi, termasuk ketinggian
letak diameter setinggi 1,30 m.
Bdt : 0, p, 2p, 3p, ..s/d.., (n-1)p, np m
jarak titik bidik dari BDm sesuai panjang seksi (Td), termasuk bidikan
setinggi 1,30 m.
Td : (0 Bdm) ; (p Bdm) ; (2p Bdm) ; (3p Bdm) ; ..s/d.. ; {(n-1)p Bdm}
; (np Bdm)
hitung sudut bidik (Sb) sesuai dengan Td
Sd = (Td/Jd) x Q ; = 45
0
atau 100%
f. Buat ilustrasi pengukuran, sesuai isian dalam daftar.








Volume Pohon 50-14











Gambar 5-7. Ilustrasi pengukuran tinggi dengan Spiegel
2. Pelaksanaan
a. Dengan jarak ukur (Jd) yang telah ditentukan, bidik batang pohon tiap kenaikan 1
meter sesuai dengan sudut bidik (derajat atau persen).
b. Bersamaan dengan pembacaan sudut bidik, langsung baca bar (nF dan nQ) untuk
diameter pangkal dan ujung tiap seksi.
3. Perhitungan
a. Hitung diameter pangkal dan ujung tiap seksi, kemudian rataannya tiap seksi.

D (cm) = x Jd
D rataan = (Dp + Du)/2 (cm)
b. Hitung Lbds tiap seksi

Lbds = x D
2
m
2

D dalam satuan cm
c. Hitung volume tiap seksi (V
s
), kemudian volume pohon merupakan penjumlahan
volume seluruh seksi (V
ss
).
V seksi = Lbds x ps m
3


V pohon = Vsi (m
3
)

= V
SS
(volume seluruh seksi)

Contoh 5-5. Penentuan Volume pohon berdiri secara optis
1) Persiapan
a. Buat daftar pengukuran dan perhitungan
b. Panjang seksi yang disepakati 1 meter, karena termasuk jenis hutan tanaman .
c. Tinggi mata (Tm) si pengukur setinggi 1, 4.c
d. Tinggi pohon 11,3 m dengan ukur jarak (Jd) sejauh 10 m.
e. Perhitungan :
tentukan letak diameter dari Bdt (tiap kenaikan 1 m) : 0, 1, 1,3, 2, 3, 4, s/d,,,,
9, 10, 11,3 m.

{(nF x 4) + nQ}
2
11
140000
n
i=1
Tm = tinggi mata si pengukur Sb = sudut bidik dr Bdm
Td = jarak titik bidik dr Bdm Bdm = bidang datar setinggi mata
Bdt = bidang datar di muka tanah Jd = jarak datar
Volume Pohon 50-15

jarak titik bidik dari BDm (Td) : (0 1,4) = -1,4; (1 1,4) = -0,4; (1,3 1,4) = -0,1;
(2 1,4) = 0,6; s/d ; (9 1,4) = 7,6); (10 1,4) = 8,6; (11,3 1,4) = 9,9 m.
sudut bidik (sebagai contoh ditampilkan kedua Sb)
(a) Arah bidik ke pangkal batang (0 meter dari Bdt atau 1,4 meter di bawah
Bdm atau -1,4 m dari Bdm)
((-1,4)/10) x 45
0
= -6,3
0
atau ((-1,4)/10) x 100% = -14%
(b) Arah bidik 1 meter di atas pangkal batang (berarti berjarak 0,4 m di bawah
Bdm atau -0,4 dari Bdm)
((-0,4)/10) x 45
0
= -1,8
0
atau ((-0,4)/10) x 100% = -4%
(c) Arah bidik 1,3 meter di atas pangkal batang (berarti berjarak 0,1 m di
bawah Bdm atau -0,1 m dari Bdm)
((-0,1)/10) x 45
0
= -0,45
0
atau ((-0,1)/10) x 100% = -1%
(d) Arah bidik 2 meter di atas pangkal batang (berarti berjarak 0,6 m di atas
Bdm atau 0,6 m dari Bdm)
((0,6)/10) x 45
0
= 2,7
0
atau ((0,6)/10) x 100% = 6%
Ket. : = tanda negatip menunjukkan berada di bawah Bdm
(e) Arah bidik 3 meter di atas pangkal batang (berarti berjarak 1,6 m di atas
Bdm atau 1,6 m dari Bdm)
((1,6)/10) x 45
0
= 7,2
0
atau ((1,6)/10) x 100% = 16%
(f) Dan seterusnya ..
(g) Arah bidik 11,3 meter di atas pangkal batang (berarti berjarak 9,9 m di
atas Bdm atau 9,9 m dari Bdm)
((9,9)/10) x 45
0
= 44,55
0
atau ((9,9)/10) x 100% = 99%

Hasil pengukuran dan perhitungan dalam tahap persiapan
Seksi
Tinggi (m) Sdt bidik Bacaan Bar Dia- (cm) Lbds
(m
2
)
Vol.
(m
3
) Bdt Td p% nF nQ p/u Rata2
11 11,3 9,9 44,6 99
10 10 8,6 38,7 86
9 9 7,6 34,2 76
8 8 6,6 29,7 66
7 7 5,6 25,2 56
6 6 4,6 20,7 46
5 5 3,6 16,2 36
4 4 2,6 11,7 26
3 3 1,6 7,2 16
2 2 0,6 2,7 6
Bdm 1,4 0
Dsd* 1,3 -0,1 -0,45 -1
1 1 -0,4 -1,8 -4
Bdt 0 -1,4 -6,3 -14
*diikutsertakan hanya sebagai pembanding


Volume Pohon 50-16

f. Ilustrasikan semua hasil ukuran dan perhitungan pada tahap persiapan.













2) Pelaksanaan
Bidik batang pohon tiap kenaikan 1 meter sesuai dengan besaran satuan bidik Sb
dan langsung baca bar (nF dan nQ)
0 m (pada Bdt) ; -6,3
0
atau -14% ; Bar : 1 dan 2,1
1 m di atas Bdt ; -1,8
0
atau -4% ; Bar : 1 dan 1,4
1,3 di atas Bdt ; -0,45
0
atau -1% ; Bar : 1 dan 1,3
2 m di atas Bdt ; -2,7
0
atau -6% ; Bar : 1 dan 1,2
3 m di atas Bdt ; -7,2
0
atau -16% ; Bar : 1 dan 1,0
..dst
11,3 m di atas Bdt ; 44,6
0
atau 99%; Bar : 0 dan 1,8
Masukkan bacaan bar (kotakmerah) ke dalam daftar
Seksi
Tinggi (m) Sdt bidik Bacaan Bar Dia- (cm) Lbds
(m
2
)
Vol.
(m
3
) Bdt Td p% nF nQ p/u Rata2
11 11,3 9,9 44,6 99 0 1,8
10 10 8,6 38,7 86 0 2,2
9 9 7,6 34,2 76 0 2,7
8 8 6,6 29,7 66 0 3,1
7 7 5,6 25,2 56 0 3,5
6 6 4,6 20,7 46 1 0,3
5 5 3,6 16,2 36 1 0,4
4 4 2,6 11,7 26 1 0,8
3 3 1,6 7,2 16 1 1
2 2 0,6 2,7 6 1 1,2
Bdm 1,4 0
Dsd* 1,3 -0,1 -0,45 -1 1 1,3
1 1 -0,4 -1,8 -4 1 1,4
Bdt 0 -1,4 -6,3 -14 1 2,1



Sb = sudut bidik
Tm = tinggi mata
Jd = jarak datar
Td = jarak titik bidik dari Bdm
Bdt = bidang datar permukaan tanah
Bdm = bidang datar setinggi mata
Volume Pohon 50-17

3) Perhitungan
a. Diameter (pangkal & ujung) tiap seksi dan D
130

Seksi 1 ; Dp1 = [{(1 x 4) + 2,1}/2] x 10 = 30,5 cm
Du1 = [{(1 x 4) + 1,4}/2] x 10 = 27,0 cm
Pohon : D
130
= [{(1 x 4) + 1,3}/2] x 10 = 26,5 cm
Seksi 2 ; Dp2 = [{(1 x 4) + 1,4}/2] x 10 = 27,0 cm
Du2 = [{(1 x 4) + 1,2}/2] x 10 = 26,0 cm
Seksi 3 ; Dp3 = [{(1 x 4) + 1,2}/2] x 10 = 26,0 cm
Du3 = [{(1 x 4) + 1,0}/2] x 10 = 25,0 cm
dst
Seksi 11 ; Dp11 = [{(0 x 4) + 2,2}/2] x 10 = 11,0 cm
Du11 = [{(0 x 4) + 1,8}/2] x 10 = 9,0 cm
b. Lbds tiap seksi dan Lbds
130

Seksi 1 ; Lbds = (11/140000) x {(30,5 + 27)/2}
2
= 0,0649 m
2

Pohon ; Lbds = (11/140000) x 26,5
2
= 0,0649 m
2

Seksi 2 ; Lbds = (11/140000) x {(27 + 26)/2}
2
= 0,0552 m
2


dst
Seksi 11 ; Lbds = (11/140000) x {(11 + 9)/2}
2
= 0,0079 m
2

c. Volume pohon
Seksi 1 ; V
s1
= 0,0649 x 1 = 0,06 m
3

Seksi 2 ; V
s2
= 0,0552 x 1 = 0,06 m
3

dst
Seksi 11 ; V
s11
= 0,0079 x 1,3 = 0,01 m
3

V
pohon
= V
ss
(volume seluruh seksi)
= 0,06 + 0,6 + 0,5 + .. + 0,01 = 0,39 m
3

V
pohon
= 0,0552 x 11,3 x 0,7 = 0,44 m
3

Seksi
Tinggi (m) Sdt bidik Bacaan Bar Dia- (cm) Lbds
(m
2
)
Vol.
(m
3
) Bdt Td p% nF nQ p/u Rata2
11 11,3 9,9 44,6 99 0 1,8 9,0 10,0 0,0079 0,01
10 10 8,6 38,7 86 0 2,2 11,0 12,3 0,0118 0,01
9 9 7,6 34,2 76 0 2,7 13,5 14,5 0,0165 0,02
8 8 6,6 29,7 66 0 3,1 15,5 16,5 0,0214 0,02
7 7 5,6 25,2 56 0 3,5 17,5 19,5 0,0299 0,03
6 6 4,6 20,7 46 1 0,3 21,5 21,8 0,0372 0,04
5 5 3,6 16,2 36 1 0,4 22,0 23,0 0.0416 0,04
4 4 2,6 11,7 26 1 0,8 24,0 24,5 0,0427 0,05
3 3 1,6 7,2 16 1 1 25,0 25,5 0,0511 0,05
2 2 0,6 2,7 6 1 1,2 26,0 26,5 0,0552 0,06
Bdm 1,4 0
Dsd* 1,3 -0,1 -0,45 -1 1 1,3 26,5 0,0649
1 1 -0,4 -1,8 -4 1 1,4 28,8 0.0649 0,06
Bdt 0 -1,4 -6,3 -14 1 2,1
Volume Pohon 50-18

6. Cara grafis
Dasar kerjanya yaitu memindahkan (ploting) gambaran bentuk suatu benda ke
dalam kertas milimeter (grafik). Parameter yang menggambarkan bentuk-bentuk benda
tersebut berupa angka-angka ukuran diameter sebagai ordinat dan panjang sebagai absis
dalam salibsumbu.
Angka-angka ukuran diameter dan tinggi dimaksud adalah ukuran diameter
berbagai ketinggian dan jarak antara diameter tersebut dibuat sistematik (sama), misal
1 atau 2 meter.
Bila angka-angka hasil ukuran diameter dikuadratkan atau dikonversi ke luas
penampangnya, kemudian dipindahkan ke atas kertas grafik sesuai dengan ketinggiannya,
maka akan menghasilkan grafik yang dinamakan kurva taper.
Penyajian dalam bentuk kurva ini berupa salib-sumbu pada kuadran pertama :
diameter (d), diameter kuadrat (d
2
), konversi luas penampangnya sebagai unsur
ordinat.
tinggi untuk berbagai pengukuran diameter sebagai unsur absis.
Hasil perhitungannya (luas di bawah kurva) dapat dilakukan dua cara :
+ menghitung jumlah kotak (dot-grid) yang terdapat yang terdapat dalam grafik.
+ menggunakan metode Planimeter.
Penggunaan metode planimeter untuk mengukur luas grafik di bawah kurva, diubah
ke dalam besaran volume berdasarkan rumus :
V = L . v
dg

V = volume, L = luas grafik di bawah kurva,
v
dg
= volume dot-grid (1 cm
2
)
Volume dot-grid ditentukan dengan rumus v
dg
= A . P
A = luas penampang lintang dalam satuan skala salib-sumbu (dot-grid)
P = tinggi atau panjang batang dalam satuan skala salib-sumbu
Penyajian dalam bentuk kurva taper ini dapat pula dilakukan terhadap pohon yang
sudah rebah.
Contoh 5-6. Penentuan Volume pohon berdiri secara grafis
Hasil pengukuran dimensi pohon jenis jabon diperoleh diameter setinggi dada 24 cm dan
tinggi 19,4 meter. Penentuan volumenya dengan mengkuadratkan diameter sebagai unsur
ordinat dan tinggi sebagai absis.
C Menentukan skala salib-sumbu
Tentukan lebih dulu perbandingan skala ukuran diameter kuadrat dengan satuan
ukuran pada salib-sumbu :
Katakan perbandingan skala salib-sumbu untuk diameter kuadrat yaitu 100 : 1;
artinya d
2
= 100 cm
2
(lapangan) dipindahkan ke dalam grafik menjadi 1 cm.
Perbandingan untuk tinggi yaitu 100 : 1; artinya t = 100 cm (lapangan) dipindahkan
ke dalam grafik menjadi 1 cm.
Sehingga luasan setiap 1 cm
2
(dot-grid) dalam grafik ditunjukkan dengan unsur
ordinat (d
2
) = 100 cm
2
dan 100 cm unsur absis (t).
Dari hasil ukuran diperoleh diameter dan ketinggian letak diameter.
Data diameter (d) dikuadratkan menjadi kuadrat diameter (d
2
).
Volume Pohon 50-19

Pindahkan unsur-unsur ordinat (d


2
) ke dalam grafik yang disesuai-kan dengan
kenaikan letak diameter (t) sepanjang satu meter.
Demikian seterusnya dan hubungkan setiap titik temu tersebut sehingga
membentuk kurva.











2 Perhitungan volume
a. Menghitung jumlah dot-grid
Tentukan lebih dulu besaran volume dot-grid seluas 1 cm
2
(v
dg
). Berdasarkan skala
yang telah ditentukan diperoleh volume 1 dot-grid sebagai berikut :
v
dg
= . . d
2
.t = . . 100 cm
2
. 100 cm
= 0,007854 m
3

volume luasan 1 cm
2
0,007854 m
3
(1 dot-grid)
atau 1 mm
2
7,854E-05 = 0,00007854 m
3

Jumlah dot-grid di bawah kurva = 61,94 (setelah dihitung)
volume pohon = 61,94 x 0,007854 m
3
= 0,4865 m
3

b. Metode planimeter
Tentukan lebih dulu luasan 1 cm
2
pada grafik (kertas milimeter) yang

ditunjukan
pada skala planimeter. Katakan hasil pembacaan 1 cm
2
pada skala planimeter adalah
10.
Volume dot-grid : v
dg
= A . P
= . . d
2
.t
= . . 100 cm
2
. 100 cm
= 0,007854 m
3

Luasan grafik di bawah kurva hasil pengukuran planimeter sebesar 61,9.
Volume pohon : V = L . v
dg

= 61,9 x 0,007854 m
3
= 0,4862 m
3

Hasil perhitungan rumusan volume pohon diperoleh :
V = (
11
/
140000
) . D
2
. T . f
f
= (
11
/
140000
) . 24
2
. 19,4 . 0,7


= 0,6146 m
3

Bila ingin mengetahui volume batang (kayu bulat), maka ukuran silindernya
(diameter dan panjang) dipindahkan dan letakkan berimpitan dengan titik temu
antara diameter dan panjang batang tersebut. Perhitungan volumenya (bagian
batang yang dianggap silinder) dapat ditentukan dengan salah satu dari kedua cara
di atas.

Volume Pohon 50-20

B. Pohon rebah
1. Cara langsung

Alat ini mengacu pada hukum Archimedes, yaitu volume
suatu benda samadengan volume zat cair yang
dipindahkan oleh benda tersebut
Volume air yang dipindah sebanding dengan naiknya
permukaan air pada pipa gelas P.






.
2. Cara matematis
a. Volume kayu bulat
Cara ini menganggap bahwa batang kayu merupakan suatu benda putar
sempurna berupa silinder. Sehingga berlaku rumus :
V = b . p
b = luas bontos (penampang lintang) rataan ; p = panjang batang
Luas bontos rataan diperoleh dari hasil ukuran diameter (pangkal dan ujung, kemudian
meratakannya) , akhirnya diperoleh rumus :
b = (
11
/
140000
) . d
2

Sehingga perhitungan volumenya menjadi :
V = (
11
/
140000
) . D
2
. T
Volume benda-benda yang ditentukan dengan cara ini antara lain benda-benda berupa
benda putar (silinder, parabola, kerucut, neiloid) dan benda-benda segibanyak yang
mempunyai bentuk teratur ( prisma , piramida).
Berdasarkan letak pengukuran diameter pada batang untuk menduga volume kayu bulat
didekati dengan beberapa rumus (Rumus Terpakai ).
+ Rumus Hubr
V
Hd
=
11
/
560000
. (D
1
+ D
2
)
2
. P m
3

(bila yang diukur diameter)
V
Hk
= (
7
/
880000
) . K
T
2
. P m
3

(bila yang diukur keliling)
+ Rumus Brereton (modifikasi rumus Hubr)

V
B
= (
11
/
2240000
) .(D
1
+ D
2
+ d
1
+ d
2
)
2
. P m
3

(disepakati hanya pengukuran diameter)

Gambar 5-8. Xylometer


Volume Pohon 50-21

+ RumusSmalian
V
Sm-d
= (
11
/
1120000
) . {(D
1
+ D
2
)
2
+ (d
1
+ d
2
)
2
} . P m
3

(bila yang diukur diameter)
V
Sm-k
= (
7
/
1760000
) . { (K
1
)
2
+ (k
2
)
2
} . P m
3

(bila yang diukur keliling)


+ Rumus Newton
V
Nd
= (
11
/
3360000
) . {(D
1
+ D
2
)
2
+ 4.(D
3
+ D
4
)
2
+ (D
5
+ D
6
)
2
} . P m
3

(bila yang diukur diameter)
V
Nk
= (
7
/
5280000
) . {K
1
2
+ 4.K
2
2
+ K
3
2
} . P m
3

(bila yang diukur keliling)


+ Rumus Preszler





V
Pz-d
= (
11
/
1120000
) . {(D
1
+ D
2
)
-0,25P
2
+ (d
1
+ d
2
)+
0,25P
2
} . P m
3

(bila yang diukur diameter)
V
Pz-k
= (
7
/
1760000
) . {(K
-0,25P
)
2
+ (K
+0,25P
)
2
} . P m
3

(bila yang diukur keliling)

+ Rumus Simony





V
Si-d
= (
11
/
1120000
) . {(D
1
+ D
2
)
-0,30P
2
+ (d
1
+ d
2
)
+0,30P
2
} . P m
3

(bila yang diukur diameter)
V
Si-k
= (
7
/
1760000
) . {(K
-0,30P
)
2
+ (K
+0,30P
)
2
}. P m
3

(bila yang diukur keliling)

+ Rumus Hoppus

V
Hp
=(
1
/
160000
) . (K
T
)
2
. P m
3



Gambar 5-9. Kayu bulat dan rumusannya

Volume Pohon 50-22

Memperhatikan rumusan bias volume terhadap perhitungan volume ketujuh


rumusan kayu bulat tersebut bahwa rumusan Newton memiliki bias sangat kecil sekali
sehingga dinyatakan biasnya nol. Bias untuk rumusan lainnya bervariasi dan secara
singkat dapat dinyatakan sebagai berikut :
Kesalahan negatip (under estimate) ; menguntungkan konsumen
V
Hubr
< V
Hoppus
< V
Preszler
< V
Brereton
< V
Newton

Kerucut : V
Hoppus
< V
Hubr
= V
Brereton
< V
Preszler
< V
Newton

Neiloid : V
Hubr
< V
Hoppus
< V
Preszler
< V
Brereton
< V
Newton


Kesalahan positip (over estimate) ; merugikan konsumen
V
Smalian
> V
Simony
> V
Newton

Kerucut : V
Smalian
> V
Simony
> V
Newton

Neiloid : V
Smalian
> V
Simony
> V
Newton


b. Volume kayu gergajian
Kayu gergajian (pertukangan) merupakan hasil yang diperoleh dari pengolahan
(penggergajian) kayu bulat (dolok atau logs atau sebatang pohon) dari berbagai ukuran
menjadi sortimen dengan ukuran tertentu, misalnya balok, bantalan, papan. Rumusan
umumnya adalah
Volume = panjang x lebar x tebal (tinggi)

3. Cara grafis
Dasar kerjanya sama seperti pada penentuan volume pohon berdiri secara
garfis. Bedanya pohon sudah tebang dan berupa kayu bulat.
Contoh 5-7. Penentuan volume kayu bulat secara grafis
Volume batang pohon Kuranji (panjang = 18,5 m; diameter pangkal = 64,0 cm; diameter
ujung = 48,2 cm) yang dicontohkan berikut dengan diameter (d) sebagai unsur ordinat
dan panjang (p) sebagai unsur absis.
C Menentukan skala koordinat (salibsumbu)
4 Perbandingan skala untuk diameter adalah 10 : 1; berarti d = 10 cm (lapangan)
dipindahkan ke dalam grafik menjadi 1 cm.
4 Perbandingan untuk panjang yaitu 100 : 1; berarti p = 100 cm (lapangan)
dipindahkan ke dalam grafik menjadi 1 cm.
4 Pindahkan hasil ukuran diameter penampang lintang batang (d) sebagai unsur-
unsur ordinat dan letak diameter setiap penambahan panjang 1 meter (p) ke dalam
grafik. Demikian seterusnya dan hubungkan setiap titik temu tersebut sehingga
membentuk kurva.







Volume Pohon 50-23


2 Perhitungan volume
a. Menghitung jumlah dot-grid
v
dg
= . . d
2
.t = . . 100 cm
2
. 100 cm
= 0,007854 m
3

Jumlah kotak (dot-grid) setelah dihitung sebanyak 583.
Volume batang = 583 x 0,007854 m
3
= 4,5789 m
3

b. Metode planimeter
Sebelumnya telah ditentukan luasan 1 cm
2
pada grafik yang

ditunjukan pada skala
planimeter. Katakan hasil pembacaan 1 cm
2
pada skala planimeter adalah 10.
Volume dot-grid : v
dg
= A . P
= . . d
2
.t
= . . (10 cm)
2
. 100 cm
= 0,007854 m
3

Luasan grafik di bawah kurva hasil pengukuran planimeter sebesar 583,1.
Volume batang : V = L . v
dg

= 583,1 x 0,007854 m
3
= 4,5797 m
3
.
Bila Volume batang dihitung dengan rumus Brereton (dp = 63,5 cm; du = 48,7 cm;
p = 18,5 m ) akan diperoleh :
V = (
11
/
140000
) . {
1
/
4
( 63,5 + 48,7

)
2
. p
= (
11
/
140000
) . {
1
/
2
( D
1
+ D
2
+ d
1
+ d
2
)}
2
. 18,5
= 4,5747 m
3


54. Model pendugaan volume
A. Teori pendekatan model
Berdasarkan pendekatan bentuk batang (dari pangkal sampai ujung) terhadap
benda-benda putar (neiloid, silindris, paraboloid dan paraboloid cone), maka untuk
perhitungannya didekati dengan dua cara yaitu :
volume merupakan fungsi dari diameter dan tinggi secara matametika (persamaan
regresi)
memperhatikan grafik bentuk batang dari pangkal sampai ujung melalui intergrasi
persamaan taper


Volume Pohon 50-24

C Persamaan regresi
Memperhatikan :
hubungan dua sifat dalam suatu persamaan regresi volume pohon dinyatakan sebagai
fungsi dari diameter (Dsd) dan tinggi (T)
V = f (Dsd;T)
Keeratan hubungan antara diameter dengan tinggi, maka volume diduga hanya
berdasarkan diameternya dan dinyatakan sebagai fungsi V = f (Dsd).
Beberapa model persamaan regresi dikembangkan untuk menduga volume disajikan
pada Lampiran 5-2.

C Persamaan taper
Taper diartikan sebagai suatu bentuk benda yang meruncing. Taper pada pohon
diartikan sebagai pengurangan atau makin mengecilnya diameter batang dari pangkal
hingga ke ujung.
Persamaan taper merupakan persamaan hasil dari jabaran bentuk batang dari
pangkal sampai ujung yang tersusun ke dalam bentuk gambar berupa grafik. Jadi
persamaan ini hanya dapat menduga volume batang saja. Pengertian ini diilustrasikan
seperti gambar berikut.

+ Hubungan diameter (D
1
, D
2
, D
3
, , D
n
) di sepanjang batang
dengan Dsd , tinggi tertentu (T) dan ketinggian (t
1
, t
2
, t
3
,
, t
n
) dari diameter yang bersangkutan dan secara
matematis dinyatakan sebagai D
n
= f (Dsd, T, t
n
).
Hubungan ketinggian dengan diameter sebagai dasar
penyusunan model taper.
+ Hubungan ketinggian dengan diameter sebagai dasar
penyusunan model taper.
Beberapa model persamaan taper (setelah pengolahan
integral) antara lain :


Gambar 5-10. Ilustrasi Taper

(D
n
/ Dsd)
2
= b
0
+ b
1
(t
n
./ T) + b
2
(D
n
/ Dsd)
2

(D
n
/ Dsd)

= (t
n
/ T) / {b
0
(t
n
/ T) + b
1
}
log D
n
= b
0
+ b
1
log (Dsd) + b
2
log (T) + b
3
log (t
n
)
D
n
= diameter tertentu di sepanjang batang
t
n
= tinggi pada diameter tertentu (D
n
)

B. Keabsahan model
Untuk mengetahui tingkat ketelitian model dugaan didasarkan pada besaran nilai
sebagai berikut :
4 simpangan agresif (SA)
SA = { ( Vd - Va) / Vd } x 100%

Volume Pohon 50-25

4 rataan persentase simpangan (SR)


SR = { | (Vd - Va) / Vd | x 100% } / N
Vd = volume dugaan (berdasarkan model pendugaan volume)
Va = volume aktual (berdasarkan data) ; N = jumlah data

Model pendugaan yang dianggap baik bila :
SA < 1% & SR < 10%



Koreksi Bentuk 60-1

60 KOREKSI BENTUK
61. Bentuk Batang
Bentuk batang dari pangkal hingga ke ujung berkaitan erat dengan perubahan
ukuran dan bentuk penampang lingkar batang.
Setiap kenaikan pada ketebalan tertentu (misal tiap 1 mm atau 1 cm dinyatakan
sebagai irisan lingkar batang) selalu terjadi perubahan ukuran dan bentuk penampang
secara bertahap dan kontinyu. Umumnya ukuran penampang irisan semakin mengecil yang
diikuti dengan perubahan bentuk penampang.
Berarti :
penampang irisan lingkar batang tidak berupa lingkaran sempurna
ukuran dan bentuk irisan penampang lingkar batang selalu terjadi perubahan setiap
kenaikan tinggi
irisan-irisan lingkar batang berupa frustrum (tipis) tersusun membentuk frustrum
yang lebih besar, tidak membentuk silinder dan berakhir membentuk benda putar
sempurna (BPS) yaitu bentuk kerucut (konus)
Bentuk-bentuk benda putar sempurna dan frustrumnya (terpancung) seperti sajian
berikut.
















Gambar 6-1. Bentuk-bentuk benda putar sempurna dan frustrumnya.
Perhatikan setiap ukuran dan bentuk penampang lingkar batang (irisan) pada gambar
berikut.





Gambar 6-2. Susunan irisan lingkar batang.

Koreksi Bentuk 60-2

Mengingat perhitungan volume didasarkan pada bentuk silinder, maka perlu


dikoreksi untuk memperoleh volume yang sebenarnya.
Sekilas koreksi tsb merupakan koreksi volume, tetapi sebenarnya adalah akibat
bentuk batang yang tidak silinder. Seandainya batang pohon berbentuk silinder, koreksi
bentuk tidak pernah terjadi. Oleh karena itu dinyatakan sebagai faktor bentuk (suatu
nilai untuk mengoreksi bentuk batang karena tidak silinder).
62. Faktor Bentuk
A. Pengertian Faktor Bentuk
Faktor bentuk (form factor) merupakan suatu bilangan/ angka (tingkatan ratio)
atau perbandingan antara volume batang (pohon) terhadap volume silindernya dengan
tinggi dan diameter atau bidang dasar yang sama.
Memperhatikan volume silinder adalah Vs = (Lbds . T). Sedangkan bentuk batang
pohon tidak pernah silinder, maka diperlukan suatu faktor sebesar f sebagai koreksi.
Sehingga rumusan volume tersebut menjadi :
Vp = (Lbds . T . f)
Selanjutnya besaran nilai f ditentukan dengan :
f = Vp/(Lbds . T)

B. Penentuan Faktor Bentuk
1. Dasar Penentuan Faktor Bentuk

Sejalan dengan pengertian dasar pengukuran tinggi
dan benda putar bahwa pengukuran diawali dari
puncak ke bidang datar. Demikian pula dalam
penentuan faktor bentuk bahwa letak bidang dasar
B
x
juga diawali atau sejauh x dari puncak. Sehingga
rumusan faktor bentuknya adalah

f
x
= ( )
r



Gambar 6-3. Ilustrasi penentuan faktor bentuk.

Berarti f
x
bersifat tidak tetap dan tergantung dari :
tinggi pohon
nilai x (letak bidang dasar sejauh x dari puncak)
koefisien bentuk r
Setelah melalui perhitungan yang cukup panjang dan disederhanakan sehingga
diperoleh rumusan yang dinyatakan sebagai faktor bentuk normal.




1
r + 1
T
x
Koreksi Bentuk 60-3

2. Faktor bentuk normal



f
x
= ;

disini letak B
x
masih sejauh x dari puncak.
Pengukuran letak bidang dasar dari puncak cukup
menyulitkan, sehingga perlu diadakan perubahan
awal pengukuran dan ini sejalan pula dengan
pengukuran tinggi. Dengan kata lain bahwa awal
pengukuran letak bidang dasar diupayakan berawal
dari bidang datar permukaan tanah.
Gambar 6-4. Ilustrasi faktor bentuk normal

Bila demikian berarti tinggi letak bidang dasar dari permukaan tanah sejauh (T-x)
= c. Ini merupakan kewajaran dalam pengukuran.
3. Faktor bentuk setinggi dada

Sejalan pengertian di atas, berati letak Bx sejauh
c = T-x, maka f
x
menjadi f
c
.

f
c
= ; disini letak B
c
sejauh c dari bidang
datar permukaan tanah.
Berapa nilai c? Telah disepakati bahwa letak
pengukuran diameter atau keliling setinggi dada
dari permukaan tanah, maka berarti pula letak Bc
berada setinggi dada (sd).

Gambar 6-5. Ilustrasi faktor bentuk setinggi dada.
Sehingga rumusan faktor bentuk setinggi dada (f
sd
) sebagai berikut :

f
sd
=

Va = volume batang pohon aktual (batang pohon diukur secara seksi ; setelah direbahkan)
B
sd
. T = volume silinder batang pohon (Vs)
B
sd
= luas bidang dasar setinggi dada dari permukaan tanah.
T = tinggi pohon (puncak, bebas cabang atau tinggi hingga diameter tertentu)
Agar rumus f
sd
tersebut siap pakai (aplikasi), maka rumusan di atas dapat
dinotasikan sebagai :

f
sd.D
= f
sd.K
=


(bila diukur diameter) (bila diukur keliling)

V
Bc . T
Va
Bsd . T
V
B
x
. T
Va
D
2
. T
11
140000
Va
K
2
. T
7
880000
Koreksi Bentuk 60-4

Satuan ukuran untuk Va dalam m


3

D dan K dalam satuan cm
T dalam satuan meter
Mengingat kesepakatan di Indoensia bahwa letak pengukuran diameter atau
keliling pada setinggi dada adalah 130 cm dari permukaan tanah, maka rumusan f
sd
di
atas menjadi :
f
130
=


C. Terapan Faktor Bentuk
Tahapan yang diperlukan untuk menetapkan faktor bentuk meliputi :
a. Penentuan volume silinder (Vs). Volume silinder batang yang didasarkan pada
rumusan silinder dengan diameter (D
sd
) atau keliling setinggi dada (K
sd
).
b. Penentuan volume aktual (Va). Volume aktual diperoleh dari penjumlahan volume
hasil dari pengukuran batang yang dilakukan secara seksi.
c. Faktor bentuk (f
sd
) merupakan hasil-bagi dari volume aktual (Va) terhadap
volume silinder batang pohon yang bersangkutan.
Adapun langkah-langkah untuk menentukan faktor bentuk secara umum adalah :
a. Ukur diameter atau keliling setinggi dada (D
sd
).
b. Tentukan dan hitung volume batang pohon (Va) seperti pada cara penentuan
volume batang secara matematis atau optis.
c. Hitung volume silinder batang (Vs) dengan tinggi pohon dipersamakan dengan
panjang batang keseluruhan seksi
d. Faktor bentuknya ditentukan sebesar Va/Vs
Contoh 6-1. Penentuan F-bentuk dengan Penandaan
Contoh ini merupakan kelanjutan dari Contoh 5-2 (Penentuan Volume Berdiri dengan
Penandaan ). Dari contoh 5-2 diperoleh Va (volume aktual) sebesar 4,94 m
3
, panjang
batang (panjang seluruh seksi) 23,7 m.
Hasil pengukuran diameter setinggi dada (130 cm) diperoleh 61,3 cm, berarti volume
silinder batang (Vs) sebesar
Vs = (
11
/
140000
) x 61,3
2
x 23,7 = 6,99.. m
3

f
130
= 4,94/6,99.. = 0,7059..
0,71
Contoh 6-2. Penentuan F-bentuk tanpa Penandaan
Contoh ini merupakan kelanjutan dari Contoh 5-3 (Penentuan volume dengan seksi 1 = t
g

+ t
x
). Dari contoh 5-3 diperoleh Va (volume aktual) sebesar 0,61 m
3
, panjang batang
(panjang seluruh seksi) 11,86 m.
Hasil pengukuran diameter setinggi dada (130 cm) diperoleh 33,6 cm, berarti volume
silinder batang (Vs) sebesar
Vs = (
11
/
140000
) x 33,6
2
x 11,86 = 1,05.. m
3

f
130
= 0,61/1,05.. = 0,5798..
0,58
Va
B
130
. T
Koreksi Bentuk 60-5

Contoh 6-3. Penentuan F-bentuk cara optis


Contoh ini merupakan kelanjutan dari Contoh 5-5 (Penentuan Volume pohon berdiri
secara optis). Dari contoh 5-5 diperoleh Va (volume aktual) sebesar 0,39 m
3
, tinggi
batang (panjang seluruh seksi) 11,3 m.
Hasil pengukuran diameter setinggi dada (130 cm) sejauh 10 meter diperoleh nF = 1 dan
nQ = 1,3. Diameter batang sebesar
D
130
= [{(1 x 4) + 1,3}/2] x 10 = 26,5 cm
Volume silinder batang (Vs) sebesar
Vs = (
11
/
140000
) x 26,5
2
x 11,3 = 0,62.. m
3

f
130
= 0,39/0,62.. = 0,6255..
0,63

C. Persamaan Faktor Bentuk
Beberapa persamaan regresi faktor bentuk antara lain :
f = b
0
+ b
1
.d + b
2
.d
2

f = b
0
+ b
1
.t + b
2
(t/d)
f = b
0
+ b
1


(1/t) + b
2
(1/ d
2
) + b
3
(1/ d
2
.t)
log f = b
0
+ b
1
.log d + b
2
.log t

D. Klasifikasi Faktor Bentuk
Faktor bentuk diklasifikasikan berdasarkan letak ketinggian diameter yang diukur
dan tinggi batang yang akan dimanfaatkan.
1. Ketinggian letak diameter
a. Faktor Bentuk Absolut (Absolute Form Factors)



Faktor bentuk didasarkan pada
diameter pangkal batang atau pada
setinggi dada

Volume batang dihitung pada bagian
atas diameter

Gambar 6-6. Ilustrasi faktor bentuk
absolut.






Koreksi Bentuk 60-6

b. Faktor Bentuk Normal (Normal Form Factors) dan


Faktor Bentuk Setinggi Dada (Breast Height Form Factors)



(a) = FB Normal
Tt = biasanya 1/10 T atau 1/20 T
Volume dihitung dari pangkal

(b) = FB Setinggi Dada
Sd = 130 cm
Volume dihitung dari pangkal

Gambar 6-7. Ilustrasi faktor bentuk
normal dan setinggi dada.
(a) (b)

2.Tinggi Batang Pohon (yang dimanfaatkan)
Faktor Bentuk Perdagangan (Merchantable Form Factors); Bila tinggi pohon
yang digunakan dalam pendugaan volume samadengan tinggi atau panjang kayu
perdagangan
Faktor Bentuk Batang (Stem Form Factors); Bila dalam penentuannya
menggunakan panjang seluruhnya dari tinggi total
Faktor Bentuk Pohon (Tree Form Factors); Bila tinggi total digunakan dalam
pendugaan volume, termasuk pangkal pohon, kayu bulat (batang), pucuk dan
cabang

63. Kusen Bentuk
A. Pengertian Kusen Bentuk
Kusen bentuk merupakan perbandingan antara dua diameter batang yang diukur
pada ketinggian yang berbeda dari bidang datar. Dari batasan ini secara umum rumusan
kusen bentuk dinotasikan sebagai :

q
f
=

Letak diameter yang diukur pada ketinggian tertentu yang biasa digunakan adalah pada
pertengahan tinggi batang atau 0,5.T. Sehingga rumusan di atas dapat pula dinotasikan
sebagai :
q
f
=



Diameter pada ketinggian tertentu


Diameter setinggi dada
D
0,5T

Dsd
Koreksi Bentuk 60-7

Contoh 6-4. Pohon yang akan diukur setinggi 18 meter dan pengukuran diameter
dilakukan setinggi dada adalah 1,30 meter. Maka nilai 0,5Tnya adalah 18/2 = 9 meter.

q
f
=

Hasil pengukuran diameter setinggi 9 meter diperoleh 28 cm dan dan setinggi 1,30
meter diperoleh 37 cm, maka nilai kusennya adalah

q
f
= = 0,7567.. 0,76


B. Perkembangan Kusen Bentuk
Dalam perkembangannya beberapa kusen bentuk yang dikenal yaitu kusen bentuk
absolut, kusen bentuk asli, kusen bentuk GIRARD dan kelas bentuk.
1. Kusen bentuk absolut (absolute form quotient)
Pengertian kusen bentuk ini dengan batasan bahwa diameter tinggi tertentu
dibandingkan dengan diameter setinggi dada. Batasan ini dapat dirumuskan sebagai :

q
f
=


untuk TT (tinggi tertentu diperoleh dari :

+ T
sd
=

Contoh 6-5. Pohon yang akan diukur setinggi 20 meter dan pengukuran diameter
dilakukan setinggi dada adalah 1,30 meter. Maka nilai TTnya adalah (20 + 1,30)/2 = 10,65
meter.
q
f
=

Selanjutnya katakan saja hasil pengukuran setinggi 10,65 meter diperoleh 25 cm dan
dan setinggi 1,30 meter diperoleh 38 cm, maka nilai kusennya adalah

q
f
= = 0,6578.. 0,66

2. Kusen bentuk asli (Kusen bentuk HOHENADL)
Kusen bentuk asli ini digunakan pada penyusunan tabel tegakan hutan jati di
Indonesia.
Caranya dengan membagi batang menjadi 5 bagian sama panjang sehingga
diperoleh ketinggian 0,1, 0,3, 0,5, 0,7, 0,9 terhadap tinggi total.
Perhitungan diameter termasuk kulit.


T - T
sd

2
T - T
sd

2
D
TT
D
sd

D
10,65
D
1,30
25

38

D
9,0
D
1,3
28

37

Koreksi Bentuk 60-8

3. Kusen bentuk GIRARD


Umumnya digunakan di Amerika Serikat.
Penggunaannya di Swedia pada hutan pinus dengan diameter setinggi 2,30 m
dibandingkan dengan Dsd (1,30 m).
Di Thailand digunakan pada hutan alam jati dengan diameter setinggi 5,50 m
dibandingkan dengan Dsd.
Rumusannya adalah

gfq =

(17 ft 3 inc. = 5,258 m)

4. Kelas bentuk
Kelas bentuk ini dikenal juga sebagai Kusen
Diameter. Rumusannya adalah

q
D
=

T = Tt Tsd (tinggi total ketinggian setinggi
dada)
% = ketinggian letak diameter dari Tsd





Gambar 6-8. Ilustrasi Kusen diameter

Contoh 6-6. Hasil pengukuran setinggi T diperoleh 23,30 m, berarti T = (23,30 1,30)
= 22 meter. Untuk 10%Tnya adalah (10% x 22 meter) = 2,2 meter.
Pengukuran awal diameter dilakukan mulai setinggi dada (1,30 meter) maka pengukuran
diameter berikutnya setiap kenaikan 2,2 meter yaitu ketinggian 1,3 m, 3,5 m, 5,7 m dan
seterusnya hingga 23,30 meter.











D
173
(tanpa kulit)
Dsd

(dengan kulit)

D%T
Dsd
Umur & Riap 70-1

70 UMUR DAN RI AP
71. Pengertian
Umur dalam pertumbuhan (secara umum) merupakan selang waktu sejak tumbuhan
itu dinyatakan sebagai anakan, baik dari pembiakan generatip maupun vegetatip sampai
dengan umur tertentu dimana tumbuhan tersebut mati secara alami.
Ringkasnya : jangka waktu perubahan/penambahan dimensi sejak sebagai anakan
hingga mati secara alami.
Pertumbuhan (growth) merupakan perubahan tumbuh dimensi pohon atau tegakan
sepanjang umurnya.
Riap (increment) merupakan perubahan tambah tumbuh dimensi pohon atau tegakan
pada umur atau jangka waktu tetentu.

72. U m u r
Umur pohon atau suatu tegakan ditentukan dengan dua cara yaitu :
1. Tahun penanaman (rencana perusahaan)
Cara ini biasa dilakukan pada hutan-hutan tanaman yang termasuk ke dalam
rencana perusahaan.
2. Dimensi pohon (Lingkaran tahun)
Menentukannya dengan cara :
a. Membor batang dengan bor riap
b. Memotong lintang batang
Penentuan lingkaran tahun tidak hanya pada batang utama, tetapi juga dapat
melalui cabang batang.
Kesulitan menentukan lingkaran tahun :
Pertama : Batas lingkaran tahun tidak jelas, terutama bagi jenis-jenis yang tidak
menggugurkan daun dan biasanya bertajuk lebat, jenis-jenis tropis yang
perbedaan musimnya tidak jelas dnn bonitanya rendah .
Kedua : Adanya lingkaran tahun palsu atau ekstra (pales rings) karena akibat
penyimpangan faktor lingkungan, perubahan iklim atau gangguan hama
penyakit

73. Riap
A. Penentuan Riap
1. Cara langsung (lingkaran tahun, tabel tegakan dan hasil inventarisasi berulang).
(1) Lingkaran tahunnya dihitung langsung pada penampang lintang batang atau
melalui bor riap
Riap diameter yang diperoleh dari bor riap, secara regresi linier dinyatakan :
r
D
= b
0
+ b
1
D
r
D
= riap diameter tahunan periodik suatu pohon (tanpa kulit dalam milimeter) selama waktu
tertentu (lima tahun atau sepuluh tahun terakhir)
Umur & Riap 70-2

D = Dsd dengan kulit (cm)


b = koefisien regresi

Riap bidang dasar : bila pengukuran diameter dilakukan pada awal (D
A
) dan akhir
periode (D
B
)
rG = /4 (2.D
A
.r
D
+ r
D
2
)
Riap luas bidang dasar (r
G
) ; bila pengukuran diameter dilakukan pada akhir periode
(D
B
).
r
G
= /4 (2.D
B
. r
D
r
D
2
)
r
G
= riap bidang dasar selama periode A sampai B (satu atau beberapa tahun)
r
D
= riap Dsd ; A dan B = waktu pengukuran

Penentuan riap tinggi dilakukan dengan 4 pendekatan, yaitu :
1) Mengukur panjang ruas tahunan. Cara ini hanya dilakukan untuk species tertentu pada
daerah temperate dan boreal.
2) Analisis tinggi (height analysis) terhadap pohon yang ditebang. Perhitungan lingkaran
tahun pada penampang lintang untuk berbagai ketinggian, sehingga dapat diketahui
penambahan tinggi untuk periode tertentu.
3) Mengukur pertambahan tinggi selama periode tertentu. Cara ini memerlukan waktu
yang relatif lama untuk sampai pada pengukuran kedua dan seterusnya.
4) Menentukan riap tinggi berdasarkan kurva tinggi. Riap tinggi yang dibuat melalui kurva
sejalan dengan bertambahnya umur. Pada umur tertentu pohon tidak lagi meninggi dan
sejak itu pula riap volume hanya dipengaruhi oleh riap diameter.
Riap volume merupakan pertambahan volume selama periode (jangka waktu)
tertentu.
Secara teori sederhana bahwa riap volume diperoleh dari hasil pengurangan volume
pada akhir periode (V
B
) terhadap volume awal periode (V
A
) untuk periode waktu
tertentu.
Riap volume (r
V
) :
V
A
= G
A
T
A
f
A
dan V
B
= G
B
T
B
f
B


r
V
= V
B
V
A
= G
B
T
B
f
B
G
A
T
A
f
A

= G
B
T
B
f
B
(G
B
r
G
) (T
B
r
T
) (f
B
r
f
)

G
B
= luas bid dasar akhir periode
T
B
= tinggi akhir periode
f
B
= f-bentuk akhir periode
r
G
= riap luas bid dasar
r
T
= riap tinggi
r
f
= riap

(2) Berdasarkan tabel tegakan (hutan/tegakan seumur)
Cara ini didasarkan pada :
peninggi dan bidang dasar per hektar (diukur keseluruhan atau sebagian).
Umur & Riap 70-3

kemudian ditentukan bonitanya (kelas kesuburan tanah) berdasarkan


peninggi dan umurnya.
riapnya diperoleh dari hasil selisih antara volume pada permulaan umur dan
pada umur akhir pengukuran.
Riap tersebut di atas merupakan riap normal
Riap sebenarnya adalah hasil perkalian antara riap normal dan nilai kerapatan
tegakannya.
(3) Berdasarkan hasil inventarisasi berulang (continous inventory system).

2. Cara tidak langsung (rumusan perhitungan riap bunga berbunga)
Rumusan dasar yang digunakan :
p% = 100 (Pn/Po) - 1
p% = persentase riap
Pn = dimensi pohon/tegakan (diameter, tinggi atau volume) pada waktu diinventarisasi setelah n
tahun
Po = dimensi pohon/tegakan (diameter, tinggi atau volume) pada waktu diinventarisasi pertama
kali
n = jangka waktu antara inventarisasi pertama dan kedua

Berikut pengembangan beberapa rumusan modifikasi penentuan persentase riap
yaitu :
Berdasarkan Volume :
Rumus Preszler p% =


Rumus Kunze p% =

p% = persentase riap
Vo = volume pada umur 0 tahun
Vn = volume pada umur n tahun
n = jangka waktu antara inventarisasi pertama dan kedua
200 = konstanta

Berdasarkan Diameter :

Rumus Preszler p% =


Rumus Schneider p% =


Rumus Goverkiante-Hazlink p% =



n
200 (Vn Vo)
(n-1).Vn + (n-1).Vo
200
n
Vn Vo
Vn + Vo
200
n
Vn
2
Vo
2

Vn
2
+ Vo
2

400
r . D
K (Dn D)
n.Do
Umur & Riap 70-4


Rumus Jonsons p% = 1 -

p% = persentase riap
Do = diameter pada umur 0 tahun
Dn = diameter pada umur n tahun
D = diameter rata-rata
n = jangka waktu antara inventarisasi pertama dan kedua
100 = konstanta
K = konstanta yang besarnya tergantung pada kondisi pohon/tegakan

B. Jenis Riap
Berdasarkan dimensi dan jangka waktu meriap terdiri dari dimensi yang meriap
dan jangka waktu yang diperlukan untuk meriap.
1. Dimensi yang meriap
Dimensi yang dimaksud terkait dengan peubah atau data yang berkaitan
dengan diameter, tinggi dan volume.
2. Jangka waktu meriap
Keterkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk meriap tiap peubah
(diameter atau keliling, tinggi, volume) terdiri dari riap diameter (keliling), riap tinggi
dan riap volume. Bila hanya disebutkan dengan kata riap saja, itu berarti yang dimaksud
adalah riap volume.

CAI (Current Annual Increment )
CAI (riap jalan tahunan) adalah pertambahan tumbuh dimensi pohon atau tegakan
selama jangka waktu satu tahun. Pengertian ini dapat dinotasikan sebagai CAI = P
i
P
0
.
Jika data peubah pertumbuhan dimensi berupa data diameter (keliling), tinggi atau
volume tergantung dari dimensi yang meriap dinyatakan sebagai P, maka P
i
berarti data
peubah tahun ke i (i = 1, 2, 3, ., n) dan P
0
adalah data peubah tahun sebelumnya (P
i-1
).
Sehingga untuk menyederhanakan rumusan CAI dapat dinotasikan sebagai :
C
i
= P
i
P
0


MAI ( Mean Annual Increment )
MAI (riap rata-rata tahunan) adalah rata-rata pertambahan tumbuh dimensi pohon
atau tegakan tiap tahunnya selama jangka waktu tertentu.
Bila perhitungan MAI menggunakan data peubah pertumbuhan secara :
1 langsung, maka rumusan tiap MAI (riap rataan tahunan jangka waktu tertentu) :
MAI =
1
/
m
(P
m+1
P
0
)
m = jangka waktu tertentu. Banyaknya tahun = (m+1)
0 = sebelum jangka waktu tertentu (awal)
2 menggunakan data CAI; tergantung dari jangka waktu tertentu (m), maka
rumusannya :
MAI =
1
/
m
C
i



100
n
Do
2

Dn
2

m
i=1
Umur & Riap 70-5

PAI ( Periodic Annual Increment )


PAI (riap rata-rata periodik) adalah rata-rata pertambahan tumbuh dimensi pohon atau
tegakan dalam satu periodik atau jangka waktu tertentu dalam satu periodik
Bila perhitungan PAI menggunakan data peubah pertumbuhan secara :
1 langsung, maka rumusannya :
PAI =
1
/
t
(P
t+1
P
0
)
t = jangka waktu tertentu untuk 1 periodik. Banyaknya tahun = (t+1)
2 menggunakan data MAI; tergantung dari jangka waktu tertentu (1 periode)

PAI =
1
/
m
M
m


3 Dari CAI; tergantung dari jangka waktu tertentu (1 periode)

PAI =
1
/
t
R
Ci



Riap volume pada hutan yang dikelola dengan baik (teratur dan tertata), dihitung
berdasarkan hasil dua invenarisasi hutan yang dilaksanakan dalam rangka penyusunan
rencana perusahaan. Riap volumenya dihitung sebagai berikut :
R = V
C
+ V
B
V
A

V
A
= volume seluruh tegakan pada inventarisasi awal periode
V
B
= volume tebangan selama periode
V
C
= volume seluruh tegakan pada inventarisasi akhir periode
Riap volume suatu tegakan tergantung pada banyaknya pohon yang menyusun
tegakan, jenis pohon dan kesuburan tanah (bonita).
Riap volume suatu pohon dapat ditinjau dari kecepatan tumbuh diameter setiap
jenis yang laju kecepatannya berbeda-beda.
Umumnya awal pertumbuhan diameter pohon-pohon muda mempunyai kecepatan
yang tinggi. Semakin tua kecepatan tersebut makin menurun dan akhirnya berhenti.
Pertumbuhan diameter pada hutan tanaman misalnya, agak lambat kemudian menaik
cepat dan akhirnya menurun. Lambannya pertumbuhan waktu muda karena umumnya
anakan ditanam rapat untuk menghindari percabangan yang berlebihan.
Bila suatu tegakan tidak meriap lagi berarti hutan tersebut sudah mencapai
klimaks. Berarti pula mulai saat itu riap tegakan dipersamakan dengan nol.

Sebagai contoh, hasil pengamatan diameter (riap diameter) jenis tertentu
selama 20 tahun berjalan seperti sajian berikut.






m
i=1
t
i=1
Umur & Riap 70-6

Data peubah diameter selama 20 tahun berjalan


Tahun ke 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tahun
1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1994 1994 1995
Data
30,1 31,2 32,2 33,1 34,0 34,9 35,9 36,8 37,8 38,9 40,0

Tahun ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tahun
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005
Data
41,0 42,1 43,2 44,2 45,2 46,3 47,2 48,2 49,3 50,3
Catatan : untuk memudahkan pengertian/perhitungan, tahun awal (1985) dinyatakan
sebagai tahun ke nol. Jadi bila tahun ke 20 adalah n, berarti banyaknya tahun (n +1).
Selanjutnya ditentukan riap diameternya yaitu untuk CAI, MAI (misalkan Mean
tiap 5 tahun) dan PAI (misalkan 10 tahun untuk 1 Periode).

a. CAI diameter selama 20 tahun
CAI untuk tahun 1 (1985 ~ 1986) : (31,2 30,1) = 1,1 cm
tahun 2 (1986 ~ 1987) : (32,2 31,2) = 1,0 cm dan seterusnya
Tahun
1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995
Diameter
30,1 31,2 32,2 33,1 34,0 34,9 35,9 36,8 37,8 38,9 40,0
CAI (cm)
1,1 1,0 0,9 0,9 0,9 1,0 0,9 1,0 1,1 1,1

Tahun
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005
Diameter
40,0 41,0 42,1 43,2 44,2 45,2 46,3 47,2 48,2 49,3 50,3
CAI (cm)
1,0 1,1 1,1 1,0 1,0 1,1 0,9 1,0 1,1 1,0

b. MAI diameter tiap 5 tahun selama 20 tahun
Cara perhitungannya :
1 Data pertumbuhan langsung dihitung, rataan selama 5 tahun berjalan (banyaknya
data = 5 + 1 = 6)
Tahun
MAI 1
(1985 - 1990)
MAI 2
(1990 - 1995)
MAI 3
(1995 - 2000)
MAI 4
(2000 - 2005)
Perhitungan
(34,9 30,1)/5 (40,0 34,9)/5 (45,2 40,0)/5 (50,3 45,2)/5
MAI (cm)
0,96 1,02 1,04 1,02
2 Dari CAI; ratakan tiap 5 CAI
Tahun Perhitungan MAI (cm)
1985 - 1990 Rataan C 1~5 = (1,1 + 1,0 + 0,9 + 0,9 + 0,9)/5 0,96
1990 - 1995 Rataan C 6~10 = (1,0 + 0,9 + 1,0 + 1,1 + 1,1)/5 1,02
1995 - 2000 Rataan C 11~15 = (1,0 + 1,1 + 1,1 + 1,0 + 1,0)/5 1,04
2000 - 2005 Rataan C 16~20 = (1,1 + 0,9 + 1,0 + 1,1 + 1,0)/5 1,02







Umur & Riap 70-7

c. PAI diameter untuk 1 periode selama 10 tahun


Cara perhitungannya :
1 Data langsung dihitung, rataan selama 10 tahun berjalan
Tahun
PAI 1
(1985 - 1995)
PAI 2
(1995 - 2005)
Perhitungan
(40,0 30,1)/10 (50,3 40,3)/10
PAI (cm)
0,99 1,03
2 Dari MAI, ratakan tiap 2 MAI
Tahun Perhitungan PAI (cm)
1985 - 1995 Rataan MAI 1 & 2 = (0,96 + 1,02)/2 0,99
1995 - 2005 Rataan MAI 3 & 4 = (1,04 + 1,02)/2 1,03

3 Dari CAI, ratakan tiap 10 CAI
Tahun Perhitungan PAI (cm)
1985 - 1995 Rataan CAI 1~10 = (1,1 + 1,0 + . + 1,1 + 1,1)/10 0,99
1995 - 2005 Rataan CAI 11~20 = (1,0 + 1,1 + . + 1,1 + 1,0)/10 1,03


















Bahan Bacaan

Avery, T.E. and H.E. Burkhart, 1994. Forest Measurement. McGraw-Hill, INC. New York.
Belyea, H.C. 1950. Forest Mensurement. John Willey and Sons, New York.
Bitterlich, W. 1984. Spiegel Relaskop. Feinmechanische Optische Betriebsges. m.b.H. A-
5020 Salzburg. Austria.
Bruce, D. and Francis X.S. 1950. Forest Mensuration. McGraw-Hill Book Company, INC.
USA.
Bustomi, S., Harbagung, D. Wahyono dan I.B.P Parthama. 1998. Petunjuk Teknis Tata Cara
Penyusunan Tabel Volume Pohon. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. PPPH
dan KA. Bogor.
Cailliez, F. 1980. Forest Volume Estimation and Yield Prediction. Forestry Paper 22/1, Vol.1
Volume Estimation. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome.
Departemen Kehutanan. 1997. Handbook of Indonesian Forestry. KOPKAR-HUTAN,
Departemen Kehutanan RI, Jakarta.
DSN (Dewan Standarisasi Nasional), 1987. Peraturan Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat
Rimba. SNI 01-0187.1987. (Skpts. Dirjen Kehutanan No,2442/A-2/DD/1970).
Jakarta.
Dipogading, R.G. 1979. Ilmu Ukur Kayu (Kursus Timber Cruiser). Direktorat Bina Produksi
Kehutanan, Jakarta.
Dijen Pengusahaan Hutan. 1992. Keputusan DirJen PH No. 230/KPTS/IV-TPHH/1992
tentang Petunjuk Teknis Tata Usaha Kayu. Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan,
Jakarta.
Dirjen Bina Produksi Kehutanan. 2004. Metoda Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat Rimba
Indonesia. Skpts.68/VI-BPPHH/2004. Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan,
Jakarta.
Finlayson, W. 19??. The Relascope (Bitterlichs Spiegel Relaskop). Feinmechanische
Optische Betriebsges. m.b.H. A-5020 Salzburg. Austria.
Husch, B., C.I. Miller and T.W. Beers. 1982. Forest Mensuration. John Willey and Sons.
New York.
Pusat Standardisasi dan Lingkungan Kehutanan dan Perkebunan, 2000. Petunjuk Teknis
Pengujian Kayu Bundar Rimba. SNI 01-5007.3-2000. Badan Standardisasi Nasional,
Jakarta.
KBP2K (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan). 1993. Pedoman Pembuatan
dan Pengukuran Petak Ukur Permanen untuk Pemantauan Pertumbuhan dan Riap Hutan
Alam (a) Tanah Kering Bekas Tebangan dan (b) Rawa dan Payau Bekas Tebangan.
Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan No.38/Kpts/VIII-
HM.3/1993. Departemen Kehutanan, Jakarta.
KLP (Ketua Lembaga Penelitian) IPB. 1986. Petunjuk Teknis Inventarisasi Hutan Bakau.
Kerjasama antara Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan dengan Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Loetsch, F. and F. Zhrer. 1973. Forest Inventory. Volume II. BLV Verlasgesellschaft
mbH, Mnchen.
Nitihardjo, S. 1977. Dasar-Dasar Penetapan Isi Kayu Bulat. Diktat Khusus untuk Perserta
Kursus Scaler & Grader. Direktorat Bina Sarana Usaha Kehutanan, Direktorat
Jenderal Kehutanan, Jakarta.
Simon, H. 1987. Manual Inventore Hutan (Terjemahan). UI-Press, Yogyakarta.
Simon, H. 1993. Metoda Inventore Hutan. Aditya Media, Yogyakarta.
Simon, H. 1996. Metoda Inventore Hutan. Aditya Media, Yogyakarta.
Suharlan, A. dan Y. Sudiono. 1976. Ilmu Ukur Kayu. LPH, Bogor.













































LAMPIRAN-LAMPIRAN


Lampiran 2-1 L-1

Lampiran 2-1. Konversi sudut dari satuan derajat ke satuan persen dan
sebaliknya

a. Konversi dari satuan derajat ke satuan persen

Konversi sudut Konversi sudut Konversi sudut
p p p
0 0 30 66.67 60 133.33
1 2.22 31 68.89 61 135.56
2 4.44 32 71.11 62 137.78
3 6.67 33 73.33 63 140.00
4 8.89 34 75.56 64 142.22
5 11.11 35 77.78 65 144.44
6 13.33 36 80.00 66 146.67
7 15.56 37 82.22 67 148.89
8 17.78 38 84.44 68 151.11
9 20.00 39 86.67 69 153.33
10 22.22 40 88.89 70 155.56
11 24.44 41 91.11 71 157.78
12 26.67 42 93.33 72 160.00
13 28.89 43 95.56 73 162.22
14 31.11 44 97.78 74 164.44
15 33.33 45 100 75 166.67
16 35.56 46 102.22 76 168.89
17 37.78 47 104.44 77 171.11
18 40.00 48 106.67 78 173.33
19 42.22 49 108.89 79 175.56
20 44.44 50 111.11 80 177.78
21 46.67 51 113.33 81 180.00
22 48.89 52 115.56 82 182.22
23 51.11 53 117.78 83 184.44
24 53.33 54 120.00 84 186.67
25 55.56 55 122.22 85 188.89
26 57.78 56 124.44 86 191.11
27 60.00 57 126.67 87 193.33
28 62.22 58 128.89 88 195.56
29 64.44 59 131.11 89 197.78
90 200.00
A2K2004













Lampiran 2-1 L-2

Lampiran 2-1. (lanjutan)

b. Satuan persen ke satuan derajat

Konversi sudut Konversi sudut Konversi sudut
p p p
0 0.00 40 18.00 80 36.00
1 0.45 41 18.45 81 36.45
2 0.90 42 18.90 82 36.90
3 1.35 43 19.35 83 37.35
4 1.80 44 19.80 84 37.80
5 2.25 45 20.25 85 38.25
6 2.70 46 20.70 86 38.70
7 3.15 47 21.15 87 39.15
8 3.60 48 21.60 88 39.60
9 4.05 49 22.05 89 40.05
10 4.50 50 22.50 90 40.50
11 4.95 51 22.95 91 40.95
12 5.40 52 23.40 92 41.40
13 5.85 53 23.85 93 41.85
14 6.30 54 24.30 94 42.30
15 6.75 55 24.75 95 42.75
16 7.20 56 25.20 96 43.20
17 7.65 57 25.65 97 43.65
18 8.10 58 26.10 98 44.10
19 8.55 59 26.55 99 44.55
20 9.00 60 27.00 100 45.00
21 9.45 61 27.45 101 45.45
22 9.90 62 27.90 102 45.90
23 10.35 63 28.35 103 46.35
24 10.80 64 28.80 104 46.80
25 11.25 65 29.25 105 47.25
26 11.70 66 29.70 106 47.70
27 12.15 67 30.15 107 48.15
28 12.60 68 30.60 108 48.60
29 13.05 69 31.05 109 49.05
30 13.50 70 31.50 110 49.50
31 13.95 71 31.95 111 49.95
32 14.40 72 32.40 112 50.40
33 14.85 73 32.85 113 50.85
34 15.30 74 33.30 114 51.30
35 15.75 75 33.75 115 51.75
36 16.20 76 34.20 116 52.20
37 16.65 77 34.65 117 52.65
38 17.10 78 35.10 118 53.10
39 17.55 79 35.55 119 53.55
A2K2004





Lampiran 2-1 L-3

Lampiran 2-1. (lanjutan)

b. Satuan persen ke satuan derajat (lanjutan)

Konversi sudut Konversi sudut Konversi sudut
p p p
120 54.00 147 66.15 174 78.30
121 54.45 148 66.60 175 78.75
122 54.90 149 67.05 176 79.20
123 55.35 150 67.50 177 79.65
124 55.80 151 67.95 178 80.10
125 56.25 152 68.40 179 80.55
126 56.70 153 68.85 180 81.00
127 57.15 154 69.30 181 81.45
128 57.60 155 69.75 182 81.90
129 58.05 156 70.20 183 82.35
130 58.50 157 70.65 184 82.80
131 58.95 158 71.10 185 83.25
132 59.40 159 71.55 186 83.70
133 59.85 160 72.00 187 84.15
134 60.30 161 72.45 188 84.60
135 60.75 162 72.90 189 85.05
136 61.20 163 73.35 190 85.50
137 61.65 164 73.80 191 85.95
138 62.10 165 74.25 192 86.40
139 62.55 166 74.70 193 86.85
140 63.00 167 75.15 194 87.30
141 63.45 168 75.60 195 87.75
142 63.90 169 76.05 196 88.20
143 64.35 170 76.50 197 88.65
144 64.80 171 76.95 198 89.10
145 65.25 172 77.40 199 89.55
146 65.70 173 77.85 200 90.00
A2K2004




Lampiran 5-1 L-4

Lampiran 5-1. Persamaan Volume Pohon Berdiri


A. Sistim Metrik
Peubah Bebas Persamaan
Satu peubah V = b
0
+ b
1
D
2
atau V = b
0
+ b
1
G
d V = b
1
D + b
2
D
2

V = b
0
+ b
1
D + b
2
D
2

V = b
0
D
b1

log V = b
0
+ b
1
log D
1/D

log V = b
0
+ b
1
log D

+ b
2

Dua peubah V = b
1
D
2
H
d , h V = b
0
+ b
1
D
2
H
V = D
2
(b
0
+ b
1
H)
V = b
0
+ b
1
D
2
+ b
2
D
2
H

+ b
3
H
V = b
1
D
2
+ b
2
D
2
H

+ b
3
DH
2
+ b
4
H
3

V = b
0
+ b
1
D

+ b
2
D
2
H

+ b
3
DH
2
+ b
4
H
V = b
0
+ b
1
D
2
+ b
2
D
2
H

+ b
3
DH
2

V = DH
2
/ (b
0
+ b
1
D
2
)
log V = b
0
+ b
1
log D

+ b
2
log H
log V = b
0
+ b
1
log (D
2
H)
log V = b
0
+ b
1
log D + b
2
log
2
D + b
3
log H + b
4
log
2
H
Kombinasi Vspruce = b
1
D
2
+ b
2
D
2
H + b
3
DH
2
+ b
4
H
2
+ b
5
D
2
Hc
d , h , he Vpinus = b
1
D
2
+ b
2
D
2
H + b
3
DH
2
+ b
4
D
2
Hc+ b
5
DHB
Vbirch = b
1
D
2
+ b
2
D
2
H + b
3
DH
2
+ b
4
H
2
+ b
5
DHB
d, h, k
i
V = b
0
+ b
1
H
i
D
2
H

= b
0
+ b
1
D
i
DH
V = b
0
+ b
1
K
i
+ b
2
D
2
H

+ b
3
K
i
DH
d
i
V = D
2
H [ b
0
+ b
1
K + b
2
(1/KH) ]
d
0,3h
V = b
0
+ b
1
D
0,3H

DH
V = [ b
0
+ b
1
DD
0,3H

H + b
2
H
2
]
V = b
0
+ b
1
D + b
2
H + b
3
D
7
+ b
4
DH + b
5
D
2
+ b
6
H
2
+ b
7
D
7
2

+ b
8
HD
7
2
+ b
9
D
2
D
7
+ b
10
DH
2
D
7

log V = b
0
+ b
1
log D + b
2
log H + b
3
log D
i

log V = b
0
+ b
1
log (D
i
DH)
Keterangan : V = volume (m
3
)
D = diameter setinggi dada (1,30 m)
D
i
= diameter setinggi i meter
D
0,3H
= diameter setinggi 0,3 dari tinggi total
D
0,5H
= diameter setinggi 0,5 dari tinggi total
G = bidang dasar setinggi dada
H = tinggi total
H
c
= tajuk setinggi c
B = tebal kulit (ganda = dikali 2)
K = (D
0,5H
/ D) ; kusen bentuk
K
i
= (D
i
/ D) ; kusen bentuk
Sumber : Loetch, F & F. Zohrer, 1973.
Lampiran 5-1 L-5

B. Sistim Britis
ARISMATIK
a. Non Kelas Bentuk b. Kelas Bentu
V = aD
2
H V = a + bFD
2
H
V = a + bD
2
H V = a + bF + cD
2
H + dFD
2
H
V = a + bD
2
+ cH + dD
2
H
V = a + bD + cDH + dD
2
+ eD
2
H
V = a + bD + cDH + dD
2
+ eH + fD
2
H
V = a + bD
2
+ cD
2
H + dH
2
+ eDH
2

V = D
2
H / (a + bD)

LOGARITMATIK
a. Non Kelas Bentuk
V = aD
b
log V = log a + b log D
V = aD
b
H
c
log V = log a + b log D + c log H
V = a(D+1)
b
H
c
log V = log a + b log (D + 1) + c log H
V = aD
b
H
(3-c)
log V = log a + b log D + (3-c) log H
V = a(D
2
H)
b
log V = log a + b log (D
2
H)
V = a(H/D)
b
D
2
H log V = log a + b log (H/D) + log (D
2
H)
b. Kelas Bentuk
V = aD
2
H
c
D
u
d
log V = log a + b log D + c log H + d log D
u

V = a(FD
2
H)
b
log V = log a + b log (FD
2
H)
Keterangan : Du = diameter puncak setinggi u ft
V = volume (cu.ft) H = tinggi total
D = diameter setinggi dada F = koefisien bentuk atau kusen GIRARD
Sumber : Banyard (1973) dalam Simon (1996)











Lampiran 5-2 L-6

Lampiran 5-2. Model persamaan regresi


Peubah bebas Model persamaan
Satu peubah
V = a + b log(Dsd)
d V = a (Dsd)
b

V = a + b log(Dsd) + c (Dsd)
Dua peubah
V = a + b log(Dsd) + c log(T)
d , t V = a (Dsd)
b
(T)
c

V = a (Dsd)
2
. (T)
V = a + b (Dsd)
2
. (T)
V = a + b (Dsd)
2
+ c (T) + d (Dsd)
2
.(T)
V = a + b (Dsd) + c (Dsd.T) + d (Dsd)
2
+ e (Dsd)
2
.(T)
V = a + b (Dsd) + c (Dsd.T) + d (Dsd)
2
+ e (T) + f (Dsd)
2
. (T)
V = a + b (Dsd)
2
+ c (Dsd)
2
. (T) + d (T)
2
+ e (Dsd.T
2
)
V = {(Dsd)
2
.T } {a + b (Dsd)}
V = a (Dsd + 1)
b
+ (T)
c

V = a (Dsd)
b
+ (T)
(3-b)

V = a {(Dsd)
2
.T}
b

V = a {T/(Dsd)}
b
{(Dsd)
2
.T}
Keterangan : V = volume pohon (m
3
)
Dsd = diameter setinggi dada (cm)
T = tinggi pohon (m)