Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan individu lain. Untuk menjaga kelangsungan hidup bermasyarakat diperlukan aturan-aturan yang akan terwujud dalam norma dan nilai. Setiap masyarakat memiliki seperangkat nilai dan norma yang berbeda sesuai dengan karakteristik masyarakat itu sendiri. Nilai dan norma tersebut akan dijunjung tinggi, diakui dan digunakan sebagai dasar dalam melakukan interaksi dan tindakan sosialnya. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dalam berinteraksi dipandu oleh nilai-nilai dan dibatasi oleh norma-norma dalam kehidupan sosial. Norma dan nilai pada awalnya lahir tidak disengaja, karena kebutuhan manusia sebagai makluk social dan harus berinteraksi dengan yang lain menuntut adanya suatu pedoman,lama kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar. Nilai dan norma tersebut harus dijaga kelestariannya oleh seluruh anggota masyakat agar masyarakat tidak kehilangan pegangan dalam hidup bermasyarakat. Tanpa adanya nilai dan norma dalam kehidupan bermasyarakat, maka dalam kehidupan bermasyarakat tersebut akan banyak terjadi banyak konflik dan kericuan di berbagai tempat karena tidak adaya alat yang digunakan sebagai pedoman prilaku. Oleh karena itu dalam bab selanjutnya akan mengenai norma dan nilai yang berkembang di dalam masyarakat.

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

2.1. Nilai 2.1.1. Pengertian Nilai Tidak mudah menjelaskan apa itu suatu nilai. Setidaknya dapat dikatakan bahwa nilai dapat dikatakan suatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya nilai adalah sesuatu yang baik. Menurut filsuf Jerman-Amerika, Hans Jonas (Bertens,2002) nilai adalah addresse of a yes, sesuatu yang ditunjukkan dengan kata Ya. Memang nilai adalah sesuatu yang kita ya kan atau kita aminkan. Nilai selalu memiliki konitasi positif. Sebaliknya, sesuatu yang kita jauhi seperti penderitaan, penyakit atau kematian adalah kebalikan dari nilai atau yang disebut dengan non-nilai (disvalue). Ada juga beberapa filsuf yang menggunakan istilah nilai negatif, sedangkan nilai dalam arti yang baik mereka sebut nilai positif. Dipandang dalam perspektif sejarah filsafat yang sudah panjang, nilai merupakan suatu tema filosopis yang bernilai agak mudah. Baru pada akhir pada abad 19, tema ini mendapat kedudukan mantap dalam uraian-uraian akademis. Sekurang-kurangnya secara eksplisit. Tapi secara inplisit nilai sudah lama memegang peranan dalam pembicaraan filsafat, sudah sejak Plato menempatkan ide baik paling atas dalam hirarki ide-ide. Dan sesudah Plato, kategori baik tidak pernah lagi terlepas dari fokus perhatian filsafat, khusus nya etika.Dan baru kira-kira seabad yang lalu nilai mendapat tempat eksplisit dalam diskusi-diskusi filsafat dan malah timbul suatu cabang filsafat yang baru dengan nama aksiologi atau teori nilai. Salah satu cara yang sering digunakan dalam menjelaskan apa itu nilai adalah dengan membandingkannya dengan fakta. Jika kita berbicara tentang fakta, kita maksudkan sesuatu yang ada atau berlangsung begitu saja. Jika kita berbicara tentang nilai yang kita maksudkan adalah sesuat yang berlaku, sesuatu yang memikat atau menghimbau kita. Fakta ditemui dalam konteks deskripsi : semua unsurnya dapat dilukiskan satu demi satu dan uraian itu pada prinsipnya dapat diterima oleh semua orang. Nilai berperanan dalam suasana apresiasi atau
2

penilaian akibatnya sering dinilai secara berbeda-beda oeh berbagai orang. Perbedaan antara fakta dan nilai ini kiranya dapat diilustrasikan dengan contoh berikut ini. Misalanya pada peristiwa gunung berapi meletus. Hal itu merupakan suatu fakta yang dapat dilukiskan secara objektif. Kita bisa mengukur tingginya awan panas yang keluar dari kawah, kita bisa menentukan kekuatan gempa bumi, yang menyertai letusan itu, kita bisa memastikan letusan-letusan sebelumnya beserta jangka waktu diantaranya, dan seterusnya. Tapi serentak juga letusan gungng itu juga dapat dilihat sebagai nila atau justru disesalkan sebagai non nilai, yang jelas, bisa menjadi objek penilaian. Bagi wartawan foto yang hadir ditempat, letusan gunung itu merupakan kesempatan emas (nilai) untuk mengabadikan kejadian-kejadian langka yang jarang dapat disaksikan. Untuk petani disekitar debu panas yang dimuntahkan gunung bisa mengancam hasil pertanian yang sudah hampir panen (non nilai), tapi dalam jangka waktu panjang tanah daat bertambah subur akibat kejadian tersebut (nilai). Tim pecinta alam yang datang dari jauh dengan bermaksud hari itu hendak mendaki gunung kecewa karena terpaksa harus membatalkan rencanan merekan (non nilai), sedangkan profesor geologi yangbersama rombongan mahasiswa yang kebutulan meninjau daerah itu senag sekali karena dengan mendadak mendapat objek penelitian yang tidak disangka-sangka sebelumnya (nilai). Contoh tersebut kiranya cukup jelas untuk memperlihatkan perbedaan antara fakta dengan nilai. Nilai selalu berkaitan dengan penilaian seseorang, sedangkan fakta menyangkut ciri-ciri objektif saja. Perlu dicatat lagi bahwa fakta selalu mendahului nilai. Terlebih dahulu ada fakta yang berlangsung, baru kemudian menjadi mungkin penilain terhadap fakta tersebut. Seorang individu mungkin memiliki nilai-nilai yang berbeda, bahkan bertentangan dengan individu-individu lain dalam masyarakatnya. Nilai yang dianut oleh seorang individu dan berbeda dengan nilai yang dianut oleh sebagaian besar anggota masyarakat dapat disebut sebagai nilai individual. Sedangkan nilainilai yang dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat disebut nilai sosial Satu bagian penting dari kebudayaan atau suatu masyarakat adalah nilai sosial. Suatu tindakan dianggap sah, dalam arti secara moral diterima, kalau tindakan tersebut harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung tinggi

oleh masyarakat di mana tindakan tersebut dilakukan. Dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kasalehan beribadah, maka apabila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan, cercaan, celaan, cemoohan, atau bahkan makian. Sebaliknya, kepada orang-orang yang rajin beribadah, dermawan, dan seterusnya, akan dinilai sebagai orang yang pantas, layak, atau bahkan harus dihormati dan diteladani. Dalam Kamus Sosiologi yang disusun oleh Soerjono Soekanto disebutkan bahwa nilai (value) adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Horton dan Hunt (1987) (dalam tulisan Alhada, 2012) menyatakan bahwa nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti apa tidak berarti. Dalam rumusan lain, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu hal, apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, penting atau tidak penting, mulia ataukah hina. Sesuatu itu dapat berupa benda, orang, tindakan, pengalaman, dan seterusnya. Woods mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. tak heran apabila antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain terdapat perbedaan tata nilai. Contoh, masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih menyukai persaingan karena dalam persainganakan muncul pembaharuan-pembaharuan. Sementara pada masyarakat tradisional akan menghindari persaingan, karena menurut mereka persaingan akan merusak keharmonisan yang sudah dijaga turun-temurun. Dalam buku yang diterjemahkan oleh Nugroho (1987) juga dijabarkan beberapa defenisi nilai. Menurut Driyarkara, Nilai adalah hakekat suatu hal, yang menyebabkan hal itu pantas dikejar oleh manusia. Menurut Fraenkel. Nilai adalah idea atau konsep yang bersifat abstrak tentang apa yang dipikirkan seseorang atau dianggap penting oleh sesorang, biasanya mengacu kepada estetika (keindahan), etika pola prilaku dan logika benar salah atau keadilan justice. (Value is any idea, a concept , about what some one think is important in life) .

Menurut Kuntjaraningrat. Menyebutkan sisten nilai budaya terdiri dari konsepi-konsepi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar keluarga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam hidup. Menurut John Dewey, Value is any object of social interest. Menurut Endang Sumantri Sesuatu yang berharga, yang penting dan berguna serta menyenangkan dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi pengetahuan dan sikap yang ada pada diri atau hati nuraninya. Menurut Kosasih Jahiri Tuntunan mengenai apa yang baik, benar dan adil. M.I. Soelaeman Agama diarahkan pada perintah dan larangan, dorongan dan cegahan, pujian dan kecaman, harapan dan penyesalan, ukuran baik buruk, benar salah, patuh tidak patuh, adil tidak adil. Menurut Darji Nilai ialah yang berguna bagi kehidupan manusia jasmani dan rohani . Encylopedi Brittanca 963 Nilai kualitas dari sesuatu objek yang menyangkut jenis apresiasi atau minat.

2.1.2. Ciri dan Pengklasifikasian Nilai . Bertens,2002, menyatakan bahwa tidaklah mudah menjelaskan apa arti

nilai yang sesungguhnya. Cara yang sering digunakan untuk menjelaskan apa itu nilai, adalah dengan membandingkannya dengan fakta. Nilai selalu berkaitan dengan penilaian seseorang. Jadi akan muncul fakta terlebih dahulu, baru kemudian menjadi mungkin muncul penilaian terhadap fakta tersebut. Dan berdasarkan analisis sederhana tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa nilai memiliki tiga ciri umum (Bertens,2002) : 1. Nilai berkaitan dengan subjek. Kalau tidak ada subjek yang menilai, maka nilai juga tidak akan ada. Agar sesuatu dapat dinilai indah atau merugikan, suatu fakta memerlukan kehadiran subjek yang menilai. Maksudnya adalah, nilai memerlukan subjek penilai untuk menetapkan suatu fakta itu baik, buruk, indah, merugikan, dan lain sebagainya. 2. Nilai tampil dalam suatu konteks praktis, dimana subjek ingin membuat sesuatu. Dalam pendekatan yang bersifat teoritis, tidak akan ada nilai, yang ada hanya pertanyaan apakah suatu pendekatan yang murni teoritis tersebut dapat diwujudkan.

3. Nilai menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat-sifat yang dimiliki pada objek. Nilai tidak dimiliki oleh objek dari awalnya, karena pada objek yang sama, dapat menimbulkan penilaian yang berbedabeda, tergantung bagaimana subjek penilainya. Menurut Bertens, nilai terdiri dari nilai moral dan nilai non-moral. Yang dibicarakan pada nilai pada umumnya berlaku untuk nilai moral. Nilai moral tidak terpisah dari nilai-nilai jenis lain. Setiap nilai dapat memperoleh suatu bobot moral, bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Misalnya kejujuran , merupakan nilai moral, tetapi kejujuran itu sendiri bernilai kosong jika tidak diterapkan pada nilai lain, seperti nilai ekonomis. Kesetiaan merupakan suatu nilai moral, tetapi harus diterapkan pada kehidupan manusia secara umum, misalnya cinta antara suami istri. Jadi nilai-nilai itu mendahului tahap moral, tapi bisa mendapat bobot moral, karena diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Walaupun sebenarnya nilai moral menumpang pada nilai lain, namun nilai moral tampak sebagai nilai baru bahkan sebagai nilai yang lebih tinggi. Hal ini akan tampak lebih jelas dengan ciri khusus nilai moral. Bertens juga mengungkapkan ciri nilai moral jika dibandingkan dengan nilainilai lainnya, yaitu : 1. Nilai moral berkaitan dengan tanggung jawab pribadi manusia. Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia. Tapi hal yang sama dapat dikatakan juga dengan nilai-nilai lain. Yang khusus menandai nilai moral adalah bahwa nilai ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab. Nilai-nilai moral mengakibatkan bahwa seseorang bersalah atau tidak bersalah, karena ia bertanggung jawab. Namun pada nilai-nilai lain tidak demikian. Bahwa anak saya tidak memiliki intelegen yang tinggi atau tidak cantik, bisa saya sesalkan, namun atas keadaan itu saya dan anak saya tidak bertanggung jawab. Bahwa seseorang mempunyai bakat sebagai pemain bulu tangkis atau mempunyai watak yang menyenangkan, tentu merupakan watak yang menyenangkan, tentu merupakan hal yang sangat menggembirakan, tapi keadaan itu sendiri tidak menjadi jasanya, karena tidak termasuk tanggung jwabnya. Nilai dalam contoh-contoh tadi bukan merupakan nilai moral. Suatu nilai moral hanya bisa diwujudkan

dalam perbuatan-perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang bersangkutan. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan itu berasal dari inisiatif bebas orang itu. Karena itu dapat dikatakan bahwa manusia sendiri menjadi nilai moralnya. Manusia sendiri yang membuat tingkah lakunya baik atau buruk dari sudut moral. Hal itu tergantung pada kebebasannya. Misalnya, keadilan sebagai nilai moral, tidak lagi merupakan nilai sungguh-sungguh, kalau tidak berasal dari keputusan bebas manusia. Tentu saja dalam keadaan normal nilai-nilai lain juga mengandalkan peran manusia sebagai pribadi yang bebas. Misalnya nilainilai intelektual dan estetis. Tapi di sini kebebasan dan tanggung jawab tidak menjadi syarat mutlak. Nilai intelektual tidak hilang sebagi nilai, jika karena suatu alasan yang tidak berasal dari kebebasan. Kalau seorang pengarang umpamanya dipaksa untuk menulis buku, maka bisa saja buku itu mengandung intelektual yang tinggi. Atau jika peleton prajurit memaksakan sebuah orkes untuk memainkan salah satu simfoni Bethoven, maka bisa saja keindahannya sama bermutu seperti jika dimainkan atas inisiatif bebas orkes tersebut. Nilai estetis tidak ditentukan dari derajat kebebasan pada perbuatan yang menghasilkannya. Tapi lain hal dengan nilai moral. Pada nilai moral kebebasan dan tanggung jawab merupakan syarat mutlak. 2. Nilai moral berkaitan dengan hati nurani. Semua nilai diminta untuk diakui, dikomunikasikan, dan diwujudkan. Nilai selalu mengandung semacam undangan atau imbauan ke arah itu. Nilai estetis misalnya, seolah-olah meminta untuk diwujidkan dalam bentuk lukisan, komosisi musik atau cara lain. Dan jika sudah jadi, lukisan meminta untuk dipamerkan dan musik meminta untuk diperdengarkan. Tetapi pada nilainilai moral, tuntutan ini lebih mendesak dan lebih serius. Mewujudkan nilai-nilai moral merupakan imbauan dari hati nirani. Salah satu ciri khas dari nilai moral adalah bahwa hanya nilai ini yang menimbulkan suara dari hati nurani yang menuduh kita bila menentang atau meremehkan nilai moral, dan memuji kita bila mewujudkan nilai-nilai moral tersebut.

3. Nilai moral bersifat mewajibkan pribadi manusia secara absolut dan tidak bisa ditawar-tawar. Nilai-nilai lain sepatutnya diwujudkan atau

seyogyanya diakui. Nilai estetis umpamanya. Orang yang berpendidikan dan berbudaya akan mengakui serta menikmati nilai estetis yang terwujud dalam sebuah lukisan yang bermutu tinggi. Tapi orang yang bersikap acuh tak acuh dengan lukisan tersebut tidak bisa disalahkan. Nilai estetis tidak dengan mutlak harus diterima. Pada kenyataannya musik Bach atau Mozart bagi banyak orang dinilai sangat membosankan, walaupun mengejawantahkan nilai estetis yang tinggi, sedangkan mungkin sebagian orang itu menyukai musik pop, yang nilai estetisnya tidak seberapa. Padahal musik Bach dan Mozart mempunyai nilai abadi dan musik pop pada umumnya satu atau dua tahun dilupakan sama sekali, karena sudah diganti dengan musik pop versi mutahir. Tai nilai-nilai moral harus diakui dan harus direalisasikan. Tidak bisa diterima bila seseorang acuh tak acuh terhadap nilai-nilai ini. Di sini kita bisa memanfaatkan perbedaan terkenal yang dikemukakan filsuf Jerman, Immanuel Kant, antara imperatif hipotesis dan imperatif kategoris. Dalam nilai moral terkandung suatu imperatif kategoris, sedangkan nilai-nilai lain hanya berkaitan dengan imperatif hipotesis. Artinya, kalau kita ingin merealisasikan nilai-nilai umum, kita harus menempuh cara-cara tertentu. Kalau pemain bulu tangkis ingin menjadi juara maka ia harus berlatih keras. Tetapi keharusan ini hanya beraku dengan syarat: kalu ingin menjadi juara maka harus berlatih. Sebaliknya, nilai moral memiliki suatu imperatif kategori. Artinya nilai moral itu mewajibkan kita begitu saja, tanpa syarat. Kejujuran mewajibkan kita mengembalikan barang yang dipinjam, suka tidak suka barang itu harus dikembalikan begitu saja. Keharusan itu berlaku mutlak, tanpa syarat. Bisa ditanyakan lagi mengapa nilai-nilai moral mewajibkan kita.moral mewajibkan kita. Pertanyaan ini kiranya dapat dijawab sebagai berikut. Kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasal dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini berlaku bagi manusia sebagai manusia. Lain halnya dengan nilai-nilai non-moral. Pada nilai non-moral tidak bisa

diharapkan bahwa setiap orang memiliki intelegensi yang tinggi, bakat artistik, atau kesehatan yang baik. Orang yang tidak memiliki nilai-nilai ini tetap merupakan manusia yang sungguh-sungguh dan lengkap. Tapi diharapkan dan malah dituntut setiap orang menjunjung tinggi dan mempraktekkan nilai-nilai moral. Orang yang tidak mengakui nilai moral, mempunyai cacat sebahai manusia. Apalagi setiap orang diharapkan menerima semua nilai moral. Tidak mungkin seseorang memilih beberapa nilai moral dan menolak nilai moral lainnya. Misalnya saja, tidaklah mungkin seseorang menerima kesetiaan dan kejujuran sebagai nilai dalam hidupnya, tetapi keadilan ditolaknya. Nilai-nilai moral mewajiban manusia dengan cara demikian rupa sehingga setiap orang harus menerima semuanya. Dengan cara lain dapat dikatakan juga bahwa kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasa dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini menyangkut pribadi manusia sebagai keseluruhan, sebagai totalitas. Nilai-nilai lain menyangkut manusia menurut salah satu aspek saja., tetapi nilai moral menyangkut manusia sebagai manusia. Karena itu kewajiban luar tidak datang dari luar, tidak ditentukan oleh instansi lain, tetapi berakar dalam kemanusiaan kita sendiri. Akibantnya tidak mungkin orang mendapat dispensasi, seperti bisa terjadi dengan kewajiban yang didasarkan pada hukum positif. Sebab orang tidak dapat dibebaskan dari kewajiban yang berkaitan dengan kemanusiaannya sendiri. Dan kegagalan dalam melaksanakan nilai-nilai moral merendahkan manusia sebagai manusia. Kegagalan dalam melaksanakan nilai-nilai lain dapat

mengecewakan bahkan dapat mengaibatkan kerugian besar, tetapi tidak menjatuhkan martabat kita sebagai manusia. Mahasiswa yang gagal dalam ujian, setelah belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, tentu merasa kecewa, tetapi kemanusiaannya tidak direndahkan. Ia telah melakukan kewajibannya. Lain halnya dengan mahasiswa yang mencuri uang untuk dapat membeli sepeda motor. Perbuatannya itu dapat melukai harkatnya sebagai manusia, bukan merupakan satu aspek saja. 4. Nilai moral bersifat formal. Nilai moral tidak merupakan jenis nilai yang bisa ditempatkan begitu saja di samping jenis-jenis nilai lainnya.

Walaupun nilai-nilai moral merupakan nilai-nilai tertinggi yang harus dihayati di atas semua nilai lainnya, namun tidak berarti nilai-nilai ini menduduki jenjang teratas dalam suatu hirarki nilai-nilai. Niali-nilai moral tidak membentuk suatu kawasan khusus yang terpisah dari nilai-nilai lain. Jika kita wujudkan nilai-nilai moral, kita tidak perbuat sesuatu yang lain dari biasanya. Seorang pedagang berperilaku moral sambil melakukan nilai-nilai ekonomis. Seorang seniman berperilaku moral saat ia berkecimpung dalam nilai-nilai estetis. Seorang dokter sebaik-baiknya menyembuhkan penyakit pasiennya. Kita merealisasikan nilai-nilai moral dengan mengikutsertakan nilai-nilai lain dalam suatu tingkah laku moral. Nilai-nilai moral tidak memiliki isi tersendiri. Hal itulah yang dimaksud bahwa nilai moral bersifat formal. Nilai moral membonceng nilai lainnya. Dalam konteks ekonomi sering dibicarakan tentang nilai. Sebenarnya ekonomi merupakan bidang dimana nilai pertama kali dibahas dalam rangka ilmiah. Lalu suatu kategori lain nilai yang lain adalah estetis. Misalnya memandang sebuah lukisan yang indah, mendengar musik yang bagus, bisa membawa nilai estetis bagi si peminat. Masih ada nilai lain yang sifatnya lebih umum dan memainkan peran dalam hidup orang banyak, seperti kesehatan yang baik, pendapatan yang layak, makanan yang enak serta bergizi, lingkungan yang tenang serta nyaman, dan lain sebagainya. Dengan demikian hanya disebutkan beberapa contoh nilai dan tidak diusahakan suatu klasifikasi yang kurang lebih lengkap. Tidaklah mudah mengklasifikasikan nilai dengan sempurna. Dan menurut Bertens sampai sekarang belum ada dan mungkin tidak akan mungkin mengklasifikasikan nilai dengan lengkap. Namun menurut Notonegoro, berdasarkan ciri-cirinya nilai sosial dapat dibagi 2 bagian, yaitu nilai dominan dan nilai mendarah daging. 1. Nilai dominan: Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai lainnya. Ukuran dominan tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut : a. Banyak orang yang menganut nilai tersebut. Contoh,sebagian besar anggota masyarakat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik disegala bidang, seperti politik, ekonomi, hukum, dan sosial.

10

b. Berapa lama nilai tersebut telah dianut oleh anggota masyarakat. c. Tinggi rendahnya usaha orang untuk dapat melaksanakan nilai tersebut. Contoh,orang Indonesia pada umumnya berusaha pulang k a m p u n g (mudik) di hari-hari besar keagamaan, seperti Lebaran atau Natal. d. Prestise atau kebanggaan bagi orang yang melaksanakan nilai tersebut.Contoh, memiliki mobil dengan merek terkenal dapat m e m b e r i k a n kebanggaan atau prestise tersendiri.

2. Nilai mendarah daging: Nilai mendarah daging adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang

melakukannya kadang tidak melalui proses berpikir atau pertimbangan lagi (bawah sadar). Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seseorang masih kecil. Umumnya bila nilai ini tidak dilakukan, ia akan merasa malu, bahkan merasa sangat bersalah. Contoh,seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah kepada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula, guru yang melihat siswanya gagal dalam ujian akan merasa gagal dalam mendidik anak tersebut

Dalam tulisan Alhada, 2012, disebutkan bahwa Notonegoro juga membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu: 1. Nilai material, yakni meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. 2. Nilai vital, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas. 3. Nilai kerohanian, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia: nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta), nilai keindahan, yakni yang bersumber pada unsur perasaan (estetika), nilai moral, yakni yang bersumber pada unsur kehendak (karsa), dan nilai

11

keagamaan (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.

2.1.3. Fungsi dan Kerangka Nilai Sosial Nilai Sosial dapat berfungsi:
1.

Sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan,

2.

Sebagai petunjuk arah mengenai cara berfikir dan bertindak, panduan menentukan pilihan, sarana untuk menimbang penghargaan sosial, pengumpulan orang dalam suatu unit sosial,

3.

Sebagai benteng perlindungan atau menjaga stabilitas budaya.

Kerangka Nilai Sosial Antara masyarakat yang satu dengan yang lain dimungkinkan memiliki nilai yang sama atau pun berbeda. Cobalah ingat pepatah lama dalam Bahasa Indonesia: Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, atau pepatah dalam bahasa Jawa: desa mawa cara, negara mawa tata. Pepatah-pepatah ini menunjukkan kepada kita tentang adanya perbedaan nilai di antara masyarakat atau kelompok yang satu dengan yang lainnya. Mengetahui sistem nilai yang dianut oleh sekelompok orang atau suatu masyarakat tidaklah mudah, karena nilai merupakan konsep asbtrak yang hidup di alam pikiran para warga masyarakat atau kelompok. Namun lima kerangka nilai dari Cluckhohn yang di Indonesia banyak dipublikasikan oleh antropolog Koentjaraningrat berikut ini dapat dijadikan acuan untuk mengenali nilai macam apa yang dianut oleh suatu kelompok atau masyarakat.

12

Lima kerangka nilai yang dimaksud adalah:


1.

Tanggapan mengenai hakekat hidup, variasinya: ada individu, kelompok atau masyarakat yang memiliki pandangan bahwa hidup itu baik atau hidup itu buruk,

2.

Tanggapan mengenai hakikat karya, variasinya: ada orang yang menganggap karya itu sebagai status, tetapi ada juga yang menganggap karya itu sebagai fungsi,

3.

Tanggapan mengenai hakikat waktu, variasinya: ada kelompok yang berorientasi ke masa lalu, sekarang atau masa depan,

4.

Tanggapan mengenai hakikat alam, Variainya:

masyarakat Industri

memiliki pandangan bahwa manusia itu berada di atas alam, sedangkan masyarakat agraris memiliki pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam. Dengan pandangannya terhadap alam tersebut, masyarakat industri memiliki pandangan bahwa manusia harus menguasai alam untuk kepentingan hidupnya, sedangkan masyarakat agraris berupaya untuk selalu menyerasikan kehidupannya dengan alam,
5.

Tanggapan mengenai hakikat manusia, variasi: masyarakat tradisional atau feodal memandang orang lain secara vertikal, sehingga dalam masyarakat tradisional terdapat perbedaan harga diri (prestige) yang tajam antara para pemimpin (bangsawan) dengan rakyat jelata. Sedangkan masyarakat industrial memandang manusia yang satu dengan yang lain secara horizontal (sejajar).

2.1.4. Nilai dalam Perspektif Islam Agama seringkali dipandang sebagai sumber nilai, karena agama berbicara baik dan buruk, benar dan salah. Demikian pula agama Islam memuat ajaran normative yang berbicara tentang kebaikan yang seyogyanya dilakukan manusia dan keburukan yang harus dihindarkannya. Dilihat dari asal datangnya nilai, dalam perspektif islam terdapat dua sumber nilai, yakni Tuhan dan Manusia. Nilai yang datang dari Tuhan adalah ajaran-ajaran tentang kebaikan yang terdapat

13

dalam kitab suci. Nilai yang merupakan firman Tuhan bersifat mutlak, tetapi implementasinya dalam bentuk perilaku merupakan penafsiran terhadap firman tersebut bersifat relatif. Istilah-istilah dalam al-Quran yang berkaitan dengan kebaikan dalam Al-quran, yakni : Alhaq, al-maruf, alkhair, albirr, dan alhasan serta lawan kebaikan yang diungkapkan dalam istilah albathil, almunkar, al-syar, aluquq, dan alsuu. Haq atau alhak menurut bahasa adalah; truth; reality; rightness, correctness; certainty; certitude; dan real, true; authentic; genuine; right; correct; just, fair; sound, valid. Almaruf berasal dari kata urf, yaitu kebiasaan baik yang berlaku dimasyarakat yang juga dipandang baik menurut pandangan Tuhan. Ukuran normatif yang digunakan untuk nilai norma social-budaya yang dapat dipandang maruf adalah kebenaran Ilahiyah (alhaq). Haq adalah hakekat yang baik dan benar menurut Allah, yang artinya baik dan benar menurut ukuran atau menurut apa yang dating dari Allah. Kebenaran yang datang dari Allah adalah seperangkat nilai dan norma hidup yang secara umum diatur dalam firman Allah dan contoh nyata Rasulullah. Haq bersifat universal, abadi, dan abstrak, karena itu pelaksanaannya disebut maruf. Dengan demikian,maruf bias dating sebagai aplikasi dari haq, tetapi juga dating dari masyarakat yang dinyatakan telah sesuai dengan haq atau norma budaya yang sesuai atau tidak bertentangan dengana nilai Ilahiyah. 2.1.5. Nilai-Nilai Yang Melandasi Pendidikan Umum Dalam konteks krisis dan pembaharuan ,asyarakat Indonesia saat ini (Depdikbud-Bapennas, 199) nilai-nilai yang mendasari pendidikan umum, mencakup: Nilai agama, kebebasan/kemerdekaan, nasionalisme, kemanusian, kekeluargaan, disiplin dan kebanggan nasional. Menurut Phenix (1954), maka kemanusiawian manusia itu akan tumbuh jika pendidikan mampu menghadirkan nilai-nilai: simbolik, empiric, estetik, etik, synnoetik, dan synnoptik (disebut 3E3S). Menurut Spranger (Sutan Takdir Alisyahbana, 1986), menyebutkan Nilai kebudayaan mencakup : Nilai-nilai ilmu pengetahuan, soail, agama, politik, dan estetik.

14

2.2. Norma 2.2.1. Pengertian Norma Pada mulanya norma berarti alat tukang batu atau tukang kayu yang berbentuk segitiga, namun pada perkembangannya norma diartikan sebagai ukuran, garis pengarah, atau aturan, kaidah bagi pertimbangan dan penilaian (Zubair,1987). Kalau nilai merupakan pandangan tentang baik-buruknya sesuatu, maka norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima karena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat 2.2.2. Ciri dan Klasifikasi Norma Pertanyaan yang sering sekali muncul mengenai norna adalah terkait dengan absolut atau relatifkah norma itu. Untuk memahami hal tersebut Bertens mengemukakan beberapa ciri norma, yaitu : 1. Norma moral tercantum dalam suatu sistem etis yang menjadi bagian dari kebudayaan. 2. Norma moral bersifat Objektif dan Universal 3. Martabat manusia merupakan norma dasar terpenting Dengan begitu dapat difahami bahwa norma moral adalah bersifat absolut dengan martabat manusia sebagai dasar terpentingnya.

Klasifikassi Norma Dilihat dari tingkat sanksi atau kekuatan mengikatnya terdapat: 1. Tata Cara (Usage) Tata cara merupakan norma yang menunjuk kepada satu bentuk perbuatan dengan sanksi yang sangat ringan terhadap pelanggarnya, misalnya aturan memegang garpu atau sendok ketika makan. Suatu pelanggaran atau penyimpangan terhadapnya tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi hanya sekedar celaan atau dinyatakan tidak sopan oleh orang lain. Beberapa contoh pelanggaran dan sanksi norma sosial berdasarkan tata cara: makan mendecak (mengecap)

15

ketika makan tentu akan dinyatakan tidak sopan oleh orang lain, atau bersendawa ketika makan juga dapat dianggap tidak sopan.

2. Kebiasaan (Folkways) Kebiasaan atau disebut folkways merupakan cara-cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga dilakukan secara berulang-ulang. Folkways memiliki kekuatan mengikat yang lebih besar daripada usage, misalnya mengucapkan salam ketika bertemu, atau membukukkan badan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua, serta membuang sampah pada tempatnya. Jika hal-hal tersebut tidak dilakukan, maka dianggap penyimpangan terhadap kebiasaan umum dalam masyarakat dan orang akan menyalahkannya. Sanksinya dapat berupa celaan, cemoohan, teguran, sindiran, atau bahkan digunjingkan masyrakat (gosip).

3. Tata Kelakuan (Mores) Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber kepada filsafat, ajaran agama, atau ideologi yang dianut oleh masyarakat. Pelanggarnya disebut penjahat. Contoh mores adalah : larangan berzinah, berjudi, minum minuman keras, penggunaan narkotika dan zat-zat adiktif, serta mencuri. Fungsi mores antara lain: a. Memberikan batas-batas tingkah laku individu. b. Mengidentifikasi individu dengan kelompoknya. c. Menjaga solidaritas antara anggota-anggota masyarakat sehingga

mengukuhkan ikatan dan mendorong tercapainya integrasi sosial yang kuat.

4. Adat (Customs) Adat merupakan norma yang tidak tertulis, namun sangat kuat mengikat sehingga anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan menderita karena sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. Misalnya, pada masyarakat Lampung yang melarang terjadinya perceraian, apabila terjadi suatu perceraian, maka tidak hanya yang bersangkutan yang mendapat sanksi, tetapi seluruh keluarganya pun ikut tercemar. Sanksi atas pelanggaran adat istiadat dapat berupa pengucilan, dikeluarkan dari masyarakat/kastanya, atau harus memenuhi

16

persyaratan tertentu, seperti melakukan upacara tertentu untuk media rehabilitasi diri. 5. Hukum (Laws) Hukum merupakan norma yang bersifat formal dan berupa aturan tertulis. Sanksi terhadap pelanggar sifatnya paling tegas dibanding dengan norma-norma lainnya. Hukum adalah suatu rangkaian aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan-ketentuan, perintah, kewajibam, ataupun larangan, agar dalam masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan. Ketentuan-ketentuan dalam norma hukum lazimnya dikodifikasikan dalam bentuk kitab undang-undang atau konvensi-konvensi. Sanksi yang diberikan dapat berupa denda atau hukuman fisik.

Dilihat dari sumbernya norma dibedakan menjadi : 1. Norma agama Norma agama adalah peraturan sosial yang sifatnya mutlak sebagaimana penafsirannya dan tidak dapat ditawar-tawar atau diubah ukurannya karena berasal dari Tuhan. Biasanya berasal dari ajaran agama dan kepercayaankepeercayaan lainnya. Pelanggaran terhadap norma agama disebut dosa. Contoh Norma Agama : sembhayang kepada Tuhan, tidak boleh mencuri, tidak boleh berbohong, tidak boleh membunuh, dan sebagainya. 2. Norma kesopanan atau etika Norma kesopanan adalah peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan celaan, kritik, dan lain-lain tergantung pada tingkat pelanggaran. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu.

17

Contoh Norma kesopanan: a. Menghormati orang yang lebih tua b. Tidak meludah sembarangan c. Tidak berkata kotor, kasar, dan sombong

3. Norma kesusilaan Norma kesusilaan adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak, sehingga seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik dan apa pula yang dianggap buruk. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat sanksi pengucilan secara fisik (dipenjara, diusir) ataupun batin (dijauhi). Contoh: Orang yang berhubungan intim di tempat umum akan dicap tidak susila,melecehkan wanita atau laki-laki di depan orang. 4. Norma hukum Norma hukum adalah aturan sosial yang dibuat oleh lembaga-lembaga tertentu, misalnya pemerintah, sehingga dengan tegas dapat melarang serta memaksa orang untuk dapat berperilaku sesuai dengan keinginan pembuat peraturan itu sendiri. Pelanggaran terhadap norma ini berupa sanksi denda sampai hukuman fisik (dipenjara, hukuman mati). Ketentuan-ketentuan bersumber pada kitab undangundang suatu negara. 2.2.3. Fungsi Norma Adapun beberapa fungsi norma, yaitu : 1. Sebagai aturan atau pedoman tingkah laku dalam masyarakat. 2. Sebagai alat untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. 3. Sebagai sistem kontrol sosial dalam masyarakat.

2.3. Hubungan antara Nilai dan Normal Di dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai senantiasa ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal juga akan mempengaruhi kebiasaankebiasaan ataupun tata kelakuan yang berlaku dalam masyarakat. Di wilayah pedesaan, sejak berbagai siaran dan tayangan telivisi swasta mulai dikenal, perlahan-lahan terlihat bahwa di dalam masyarakat itu mulai terjadi
18

pergesaran nilai, misalnya tentang kesopanan. Tayangan-tayangan yang didominasi oleh sinetron-sinetron mutakhir yang acapkali memperlihatkan artisartis yang berpakaian relatif terbuka, sedikit banyak menyebabkan batas-batas toleransi masyarakat menjadi semakin longgar. Berbagai kalangan semakin permisif terhadap kaum remaja yang pada mulanya berpakaian normal, menjadi ikut latah berpakaian minim dan terkesan makin berani. Model rambut panjang kehitaman yang dulu menjadi kebanggaan gadisgadis desa, mungkin sekarang telah dianggap sebagai simbol ketertinggalan. Sebagai gantinya, yang sekarang dianggap trendy dan sesuai dengan konteks zaman sekarang (modern) adalah model rambut pendek dengan warna pirang atau kocoklat-coklatan. Jadi berubahnya nilai akan berpengaruh terhadap normanorma yang berlaku dalam masyarakat. Nilai itu sifatnya sama dengan ide, maka nilai itu abstrak. Dalam pengertian abstrak, bahwa nilai tidak dapat ditangkap oleh panca indera, yang ditangkap oleh obyek yang mempunyai nilai atau tingkah laku yang mengandung nilai. Nilai mengandung harapan atau sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Oleh karena itu, nilai bersifat normatif yang merupakan keharusan untuk diwujudkan dalam tingkah laku kehidupan manusia. Drs. Sidi Gazalba dalam bukunya yang berjudul Sistematika Filsafat mengatakan bahwa maka manusia dalam tindakan dan tingkah laku perbuatan digerakkan oleh nilai-nilai. Dengan demikian hubungan nilai dengan norma adalah nilai merupakan suatu keharusan, berupa suatu ide dan ide ini memberi pedoman, ukuran bagi manusia, pedoman atau ukuran ini berupa norma, baik dalam hubungannya dengan manusia lain, alan dan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai ini diungkapkan dalam norma sebagai contoh takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan salah satu nilai agama. Takwa sebagai nilai diungkapkan dalam norma agama yang berisi perintah dan larangan tentang tingkah laku umat beragama, sesuai dengan agama yang dipeluknya. Norma yang merupakan ungkapan dari nilai itu memerlukan tingkah laku manusia dalam masyarakat, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.

19

Akan tetapi sebaliknya tingkah laku manusia dalam masyarakat itu harus pula sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Bila tidak sesuai berarti pelanggaran terhadap norma. Pelanggaran terhadap norma akan menimbulkan sanksi bagi pelanggarnya. Seseorang akan mempunyai nilai di dalam masyarakat bila tingkah lakunya sesuai dengan norma.

20

BAB III PENUTUP

Dari penjelasan di atas dapat diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya : 1. Sesuatu yang berharga yang ingin diraih manusia yaitu nilai. Sedangkan norma dipahami sebagai aturan yang berlaku didalam masyarakat yang disertai sanksi bagi individu atau kelompok bila melanggar aturan tersebut. 2. Nilai dan norma sangat diperlukan untuk membangun karakter yang baik dalam masyarakat. 3. Hubungannya antara nilai dengan norma yaitu norma dibangun di atas nilai sosial, dan norma nilai sosial diciptakan untuk terhadap menjaga norma dan akan

mempertahankan

sosial.

Pelanggaran

mendapatkan sanksi dari masyarakat. Makalah ini masih jauh dari sempurna, maka diharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan makalah selanjutnya.

21

DAFTAR PUSTAKA

Berry, D., 1993, Idea-Idea Utama Dalam Sosiologi, Terjemahan: Rahimah Abdul Aziz, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur (Elektronik Book, diakses 9 Oktober 2012) http://hadahabib.blogspot.com, 2012, Makalah dan Nilai Sosial, diakses pada tanggal 9 oktober 2012. http://yunita.blogspot.com, 2011. Hubungan antara nilai dan norma, diakses tanggal 9 Oktober 2012 Erns Cassirer. 1987. Manusia dan Kebudayaan. Sebuah Esai Tentang Manusia (Diterjemahkan oleh Alois A.Nugroho). Gramedia. Jakarta K. Bertens, 2002, Etika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Margins,suseno. Etika Dasar, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Kanisius, 1987, Yogyakarta.
Risangayu, M., 1999, Cahaya Rumah Kita, Mizan, Bandung (Elektronik Book, diakses 9 Oktober 2012)

Salam Burhanuddin, 1997, Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral, Rineka Cipta, Bandung Zubair.AC, 1987, Kuliah Etika, Rajawali Pers, Jakarta.

22