Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

Tembaga (II) Ammonium Sulfat Berhidrat dan Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat

OLEH: KELOMPOK 5: 1. Syelli Ayu Friani 2. Muhammad Merlis 3. Gustiani 4. Eva Musifa 5. Bella Asliyanizar P. 6. Dewi Purnama Sari (06101010030) (06101010017) (06101010018) (06101010019) (06101010033) (06101010034)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012-2013

I.

Nomor Percobaan

: VI ( Enam )

II.

Tanggal Percobaan : 30 Oktober 2012

III.

Judul Percobaan

: Tembaga (II) Ammonium Berhidrat dan Tembaga (II) Tetraamin Sulfat Berhidrat

IV.

Tujuan Percobaan

: Mempelajari pembuatan pembuatan tembaga (II) ammonium berhidrat dan tembaga (II) tetraamin sulfat berhidrat.

V.

Dasar Teori Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+ mengalami disproporsionisasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan berarti senyawa larutan Cu(l) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan bagaimana Cu(l) dan Cu(lI) terbentuk, yaitu membuat (Cu+) cukup pada banyak larutaan air, Cu2+ akan berada pada banyak jumlah banyak (sebab konsentrasinya harus sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu2+). Disproporsionisasi ini akan menjadi sempurna. Dilain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut atau ion kompleks mantap). Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap (Petrucci, 1987 : 350) Tembaga (Cu) adalah logam merah muda yang lunak, dapat ditempa dan liat. Tembaga melebur pada 1038C Karena potensial elektroda standarnya positif (+0,34 V untuk pasangan Cu / Cu2+), tembaga tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfatencer, meskipun dengan adanya oksigen ia dapat larut sedikit. Asam nitrat yang sedang konsentrasinya (8M) dengan mudah melarutkan tembaga (Svehla 1990 :229) Tembaga membentuk senyawa dengan tingkat oksidasi +1 dan +2, namun hanya tembaga (II) yang stabil dan mendominasi dalam larutannya. Dalam air, hampir semua garam tembaga (II) berwarna biru oleh karena warna ion kompleks koordinasi enam [[Cu(H2O)6 ]2+ Reaksi ion Cu2+ dengan OH pada berbagi konsentrasi bergantung pada metodenya. Penambah anion hidroksida ke dalam larutan tembaga (II) Sulfat (0,1 0,5 M) secara bertetes dengan kecepatan 1 mL/menit menyebabkan terjadinya endapan gelatin biru muda dari garam tembaga (II) hidroksida sulfat, bukan endapan Cu(OH)2 (Sugiarto 2003:569) Senyawa tembaga bersifat diamagnetic. Tembaga sulfit teroksidasi superficial dalam udara, kadang menghasilkan lapisan warna hijau hidroksida karbonat dan hidrokso sulfat dan SO2, di atmosfer tembaga mudah larut dalam asam nitrat dan asam

sulfat dengan adanya oksigen. Kestabilan relative kepro dan kopri diartikan degan potensial Cu*= 0.52 V dan Cu+ 0.153 V. Kestabilan relafif tergantung pada sulfat anion dan ligan yang cukup beragam dengan pelarut / sifat fisik atom tetangganya dalam Kristal. Pelarut tembaga hidroksida karbonat dan sebagainya dalam asamyang dihasilkanaku hijau kebiruan yang ditulis [Cu(H2O)6 ]2+ . Diantara berbagai Kristal hidratnya adalah warna biru CuSO4.5H2O yang paling lazim. CuSO4.5H2O dapat dihidrasi menjadi zat anhidrat yang berwarna putih. Penambahan ligan menyebabkan kompleks dengan pertukaran molekul air secara berurutan (Syukri, 1999:321)

VI.

Alat dan Bahan Alat Bahan : Beker glass Batang pengaduk Kaca Arloji Corong Kertas Saring Gelas Ukur Pipet tetes Mortar dan alu : Aquadest CuSO4 serbuk NH4OH Alcohol 95 %

VII.

Prosedur percobaan A. Tembaga (II) Ammonium Sufat Hidrat 1. Ditimbang masing-masing 5 gram CuSO4.5H2O dan (NH4)2SO4 2. Dilarutkan dalam 12 mL air panas dalam gelas piala kemudian ditutup kaca arloji 3. Didinginkan lalu disaring Kristal yang terbentuk dan dikeringkan diudara terbuka diatas kertas saring. 4. Rendeman dihitung. B. Tembaga (II) tetra amin Sulfat Hidrat 1. Ditimbang 6,25 gram CuSO4.5H2O dan dihaluskan 2. Dilarutkan dengan 6 mL H2O dan 10 mL NH4OH pekat 3. Ditambahkan 10 mL alcohol 95 % sedikit demi sedikit

4. Diamkan sebentar kemudian dinginkan dalam penangas es 5. Endapan disaring 6. Endapan dicuci dengan campuran NH4OH pekat dan alcohol 7. Kemudian cuci dengan alcohol 8. Endapan ditimbang, lalu dihitung rendemennya.

VIII. Hasil Pengamatan No A. 1. Perlakuan Tembaga (II) Ammonium Sulfat Berhidrat 5 gram CuSO4.5H2O (biru) + 5 gram Larutan bewarna biru tua, tidak ada (NH4)2SO4 (bening) + 12 mL Air panas 2. Didinginkan endapan atau larut secara homogen Terbentuk Kristal bewarna biru Hasil Amatan

muda. Semakin dingin larutan, warna larutan menjadi semakin pudar, dan Kristal banyak. 3. Disaring, lalu rendeman dihitung Berat Kristal yang terbentuk adalah sebesar 10,0681 gram B. 1. 2. Tembaga (II) Tetra amin Sulfat Berhidrat 6 gram CuSO4.5H2O (biru) + 6 mL H2O + 10 mL NH4OH pekat Larutan bewarna biru langit Larutan berubah menjadi biru tua, disertai bau yang menyengat. 3. + 10 mL Alkohol 95 % sedikit demi sedikit Warna biru pada larutan berkurang atau menjadi pudar 4. Didinginkan dalam penangas es Terbentuk endapan biru tua, dan larutan menjadi semakin kental 5. Cuci dengan campuran NH4OH pekat dan Warna larutan bertambah pekat dan alkohol 6. 7. Cuci dengan alcohol Hitung rendemennya bau yang menyengat Tidak terjadi perubahan pada larutan Berat endapan yang terbentuk sebesar 9,153 gram yang terbentuk semakin

IX.

Perhitungan 1. Pembuatan Tembaga (II) ammonium sulfat hidrat CuSO4(NH4)2SO4.6H2O Diketahui : Massa kertas saring Massa kristal total = 1,1078 gram = 11, 1759 gram

m CuSO4(NH4)2SO4.6H2O = massa kristal total massa kertas saring = 11,1759 gram 1,1078 gram = 10,0681 gram Massa CuSO4.5H2O = Massa (NH4)2SO4 BM CuSO4.5H2O BM (NH4)2SO4 BMCuSO4(NH4)2SO4.6H2O Ditanya : % rendemen...? Penyelesaian : CuSO4.5H2O + (NH4)2SO4 m: r : s : 0,02 mol 0,02 mol 0,03 mol 0,02 mol 0,01 mol CuSO4(NH4)2SO4.6H2O 0,02 mol 0,02 mol = 249,54 g/mol = 132 g/mol = 399,54 g/mol = 5 gram

massa CuSO4(NH4)2SO4.6H2O = mol CuSO4(NH4)2SO4.6H2O x BM CuSO4(NH4)2SO4.6H2O = 0,02 mol x 399,54 g/mol = 7,99 gram % rendemen = (berat praktek / berat teori) x 100% = (10,0681 / 7.99) x 100% = 126 % 2. Pembuatan Tembaga (II) tetra amin sulfat hidrat Cu(NH3)4SO4.6H2O Diketahui : Massa CuSO4.5H2O Massa Cu(NH3)4SO4.6H2O = 6,25 gram = massa total massa kertas saring = 10,2608 gram 1,1078 gram = 9,153 gram BM CuSO4.5H2O BM Cu(NH3)4SO4.6H2O V NH3 Pekat Ditanya : % rendemen...? Penyelesaian : CuSO4.5 H2O + m: r : s : 0,025 mol 0,025 mol 4 NH4OH 0,15 mol 0,1 mol 0,05 mol Cu(NH3)4SO4.6H2O 0,025 mol 0,025 mol = 249,54 g/mol = 321,54 g/mol = 10 mL

Massa Cu(NH3)4SO4.6H2O

= mol Cu(NH3)4SO4.6H2O x BM Cu(NH3)4SO4.6H2O = 0,025 mol x 321,54 g/mol = 8,038 gram

% rendemen

= ( berat praktek / berat teori ) x 100% = ( 9,153 gram / 8.038 gram) x100% = 113, 87 %

X.

Pembahasan Prinsip percobaan pembuatan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat adalah didasarkan pada pembuatan senyawa kompleks dengan prinsip rekristalisasi dimana suatu kristal CuSO4.5H2O dilarutkan dalam aquadest panas lalu didinginkan agar mencapai derajat jenuh lalu dikeringkan dan terbentuk kristal Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat. Prinsip percobaan pembuatan Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat adalah pembuatan senyawa kompleks dengan prinsip rekristalisasi. Dimana suatu kristal dilarutkan dalam aquadest panas hingga larut lalu ditambahkan NH4OH dan alkohol hingga memicu terbentuknya endapan lalu campuran didinginkan dan disaring dimana endapannya diambil lalu dikeringkan dalam oven dan terbentuk garam Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat. Pada percobaan ini, mula-mula dilakukan pembuatan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat 5 gram CuSO4.5H2O dan 5 gr (NH4)2SO4 dicampurkan lalu dilarutkan dalam 12 mL H2O panas. Perbandingan berat kedua zat dimaksudkan agar kedua zat yang bereaksi jumlahnya setara sehingga tepat saling bereaksi. H2O panas agar kelarutan zat bertambah. Ligan NH3 dari (NH4)2SO4 mendesak ligan air dari CuSO4.5H2O sehingga warna larutan menjadi biru. Setelah itu larutan didinginkan bertujuan untuk menurunkan suhu sehingga kelarutan berkurang dan terbentuk endapan. Endapan yang diperoleh dan disaring untuk memisahkan filtrat dari endapan. Kemudian endapan dan kertas saring yang telah diketahui beratnya, dikeringkan di udara terbuka untuk menguapkan sisa filtrat, sehingga didapat berat endapan adalah 10, 0681 gram Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat yang berwarna biru muda, strukturnya halus dan tidak higroskopis. Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat, ligan yang mengikat pada atom pusat adalah H2O. Pada pembuatan Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat, mula-mula ditimbang 6,25 gram CuSO4.5H2O yang dilarutkan dalam 6 mL H2O panas. Kemudian ditambahkan 10 mL NH4OH. Ligan NH4OH akan mendesak ligan H2O dari CuSO4.5H2O sehingga warna larutan menjadi biru tua. Penambahan ligan pada larutan berhidrat menyebabkan terbentuknya senyawa kompleks akibat terjadinya pertukaran molekul air dengan NH3 secara berurutan. Penambahan 10 mL Alkohol 95 % bertujuan untuk memicu terbentuknya endapan. Setelah itu larutan didinginkan untuk menurunkan suhu sehingga kelarutan berkurang dan terbentuk endapan. Endapan yang

terbentuk disaring dan kemudian dikeringkan untuk menguapkan sisa filtrat sehingga didapat kristal Tembaga(II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat. Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat, ligan yang mengikat pada atom pusat adalah NH3. Perbedaan karakteristik dari kedua senyawa yang terbentuk adalah, kristal Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat berwarna biru muda, halus dan tidak higroskopis. Karakteristik kristal Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat berwarna biru keruh, dan kasar. Fungsi perlakuan penimbangan untuk mengetahui massa kristal awal dan massa kristal yang terbentuk secara akurat, pengadukan untuk mempercepat terjadinya reaksi akibat energi kinetik yang semakin besar, pencampuran kedua zat berfungsi agar kedua zat dapat saling bereaksi sehingga terbentuk senyawa baru, pendinginan untuk mencapai derajat jenuh pada larutan sehingga endapan lebih cepat terbentuk, penyaringan untuk memisahkan endapan senyawa kompleks yang terbentuk dari filtratnya, pengeringan untuk menguapkan pelarut sehingga diperoleh kristal yang kering tanpa mengandung air Fungsi reagen CuSO4.5H2O sebagai bahan baku atau bahan utama dalam pembuatan garam Cu(NH4)3SO4.2H2O dan fungsi Cu(NH4)2(SO4)2.6H2O yaitu sebagai penyedia atom pusat Cu2+ yang berikatan dengan ligan. Fungsi (NH4)2SO4 sebagai ligan yang berikatan dengan Cu2+ dan mendesak molekul air. Fungsi NH4OH sebagai ligan yang mendesak molekul air lalu berikatan dengan Cu2+. Fungsi Alkohol 95 % untuk memekatkan larutan sehingga memicu endapan cepat terbentuk. Fungsi H2O panas untuk melarutkan, agar kelarutan bertambah digunakan H2O panas agar kelarutan bertambah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan garam anorganik adalah : 1. Sifat Solute dan Solvent Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula, solute yang non polar akan larut dalam solvent yang non polar pula. 2. Cosolvensi Consolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. 3. Temperatur Zat padat yang bersifat endoterm kelarutannya bertambah ketika suhu dinaikkan karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. 4. Pembentukan Kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.

Senyawa kompleks berhidrat adalah garam yang mengandung molekul air dalam perbandingan tertentu yang terikat baik pada atom pusat atau terkristalisasi dengan senyawa kompleks. Senyawa kompleks anhidrat adalah senyawa yang kehilangan atau tidak memilki molekul air. Faktor kesalahan dalam percobaan adalah kesalahan dalam penambahan reagen atau dalam penimbangan Kristal, pengadukan yang tidak sempurna, pengeringan yang berlebihan, pendinginan campuran yang kurang lama sehingga endapan tidak terbentuk maksimal hibridisasi dari ion Amonium Sulfat Berhidrat.

XI.

Kesimpulan 1. Dari percobaan didapatkan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat yang diperoleh adalah 10,0681 gram dari 5 gram CuSO4.5H2O dan 5 gram (NH4)2SO4. Persen rendemen adalah 126 %. Hal ini berarti dari 10 gr sampel yang direaksikan dapat diperoleh 126 % produk hasil sintesis. 2. Dari percobaan didapatkan 9,153 gram Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat, dari 6,25 gram sampel yang disintesis. Persen rendemen adalah 113,87 %. Hal ini berarti dari 6,25 gram sampel dapat dihasilkan 113,87 % produk hasil sintesis. 3. Kristal Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat berwarna biru muda, halus dan tidak higroskopis. 4. Karakteristik kristal Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat berwarna biru keruh, dan kasar.

XII.

Saran 1. Sebelum menggunakan alat, pastikan semua alat steril 2. Selama praktikum hendaknya menggunakan masker . 3. Hati-hati dalam menggunakan alat 4. Gunakan bahan secukupnya. 5. Bersihkan semua alat apabila praktikum telah selesai.

XIII. Daftar Pustaka Day & Underwood. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima.Jakarta : Erlangga. Svehla, G. 1990. Vogel : Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Bagian I. PT Kalman Media Pusaka : Jakarta Yohannes, Gultom. 2012. Tembaga (II) Sulfat Hidrat . (Online).

(http://gultomyohannes.blogspot.com/2012/01/tembaga-ii-sulfat-hidrat.html ( diakses pada tanggal 3 november 2012 ).

Lampiran Gambar Alat