Anda di halaman 1dari 9

PERTUSIS (Tugas Keperawatan Komunitas)

DISUSUN OLEH : EVI YUANASARI JEFRY ARDITYA KARINA DEWI A. RIA IRAWAN YUDEA KRISTIAN TINGKAT IIIA (1001300016) (1001300024) (1001300026) (1001300035) (1001300040)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN BLITAR POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya penyusunan makalah yang berjudul Pertusis. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pada semester lima tahun ajaran 2021/2013 yang telah diberikan oleh pembimbing mata kuliah Keperawatan Komunitas.

Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bimbingan, pengarahan, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu ucapan terima kasih kami sampaikan kepada: 1. Bapak Suratin selaku dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Komunitas. 2. Teman-teman mahasiswa yang telah mendukung dan membantu kami sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Kami juga berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Blitar, 21 September 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum ditemukannya vaksin, Angka kejadian dan kematian akibat menderita pertusis cukup tinggi. Ternyata 80% anak-anak dibawah umur 5 tahun pernah terserang penyakit pertusis, sedangkan untuk orang dewasa sekitar 20% dari jumlah penduduk total. Dengan kemajuan perkembangan antibiotic dan program imunisasi maka mortalitas dan morbiditas penyakit ini mulai menurun. Namun demikian penyakit ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan terutama mengenai bayi-bayi dibawah umur. Pertusis sangat infesius pada orang yang tidak memiliki kekebalan. Penyakit ini mudah menyebar ketika si penderita batuk. Sekali seseorang terinfeksi pertusis maka orang tersebut kebal terhadap penyakit untuk beberapa tahun tetapi tidak seumur hidup, kadang-kadang kembali terinfeksi beberapa tahun kemudian.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian pertussis ? 2. Apakah agen pertussis ? 3. Bagaimanakah pertussis jika dihubungkan dengan reservoir of agent, perpindahan, dan pertal of entry ? 4. Bagaimanakah portal of exit pertussis ? 5. Bagaimana ketahanan host terhadap pertussis ? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian pertussis 2. Mengetahui agen pertussis 3. Mengetahui hubungan pertussis terhadap reservoir of agent, perpindahan, dan pertal of entry 4. Mengetahui portal of exit pertussis 5. Mengetahui ketahanan host terhadap pertusis

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pertusis Berikut ini beberapa pengertian Pertusis, diantaranya adalah : Pertussis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular, dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meinggi, karena penderita berupaya keras untuk menarik nafas sehingga pada akhir batuk sering disertai bunyi yang khas (whoop), sehingga penyakit ini disebut whooping cough. Karena tidak semua penderita dengan penyakit ini mengeluarkan bunyi whoop, maka oleh beberapa ahli penyakit ini disebut Pertusis yang berarti batuk yang sangat berat / batuk yang intensif. Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Nama lain penyakit ini adalah tussis quinta, whooping cough, batuk rejan, batuk 100 hari. (Arif Mansjoer, 2000) Pertusis adalah penyakit infeksi yang ditandai dengan radang saluran nafas yang menimbulkan serangan batuk panjang yang bertubi-tubi, berakhir dengan inspirasi berbising. (Ramali, 2003) Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodik dan paroksismal disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993) Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992)

2.2 Agen Pertusis Agen pertussis adalah Bordetella Pertusis, dengan ciri-ciri sebagai berikut : Merupakan cocobacillus Gram negative

Berbentuk ovoid Tidak dapat bergerak Tidak berspora Terdapat kapsul Dengan pewarnaan toluidine blue dapat terlihat granula bipolar metacromatic

Isolasi primer bordetella pertussis memerlukan suatu media pembenihan yaitu bordet Gengou dengan sifat-sifat pertumbuhan : Kuman aerob murni Membentuk asam Tidak membentuk gas pada media yang mengandung glukosa dan lactose Sering menimbulkan hemolysis Faktor-faktor kevirulenan Bordetella pertusis : Toksin pertussis: histamine sensitizing factor (HSF), lymphocytosis promoting factor, Islet activating protein (IAP). Adenilat siklase luarsel. Hemaglutinin (HA): F-HA (filamentous-HA) , PT-HA (pertussis toxin- HA). Toksin tak stabil panas (heat labile toxin). Secara morfologis terdapat beberapa kuman yang menyerupai Bordetella Pertusis seperti Bordete

2.3. Reservoir of Agent, Perpindahan, dan Portal of entry Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernafasan kemudian melekat pada silia epitel saluran pernafasan. Mekanisme pathogenesis infeksi oleh Bordetella pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan local dan akhirnya timbul penyakit sistemik. Pertusis Toxin (PT) dan protein 69-Kd berperan pada perlekatan Bordetella pertusis pada silia. Setelah terjadi perlekatan, Bordetella pertusis, kemudian bermultiplikasi dan menyebar ke seluruh permukaan epitel saluran nafas. Proses ini tidak invasif oleh karena pada pertusis tidak terjadi bakteremia. Selama

pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan menghasilkan toksin yang akan menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan whooping cough. Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan karena pertusis toxin. Toksin pertusis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit B selanjutnya berikatan dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan sub unit A yang aktif pada daerah aktivasi enzim membrane sel. Efek LPF menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi. Toxin mediated adenosine diphosphate (ADP) mempunyai efek mengatur sintesis protein dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi fisiologis dari sel target termasuk lifosit (menjadi lemah dan mati), meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta adrenergic dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkn konsentrasi gula darah. Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan limfoid peribronkial dan meningkatkan jumlah mukos pada permukaan silia, maka fungsi silia sebagai pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder (tersering oleh Streptococcus pneumonia, H. influenzae dan Staphylococcus aureus ). Penumpukan mucus akan menimbulkan plug yang dapat menyebabkan obstruksi dan kolaps paru. Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan pertukaran oksigenasi pada saat ventilasi dan timbulnya apnea saat terserang batuk. Terdapat perbedaan pendapat mengenai kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh langsung toksin ataukah sekunder sebagai akibat anoksia. Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan tampak apabila sel mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek antibiotic terhadap proses penyakit. Namun terkadang Bordetella pertusis hanya menyebabkan infeksi yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertusis.

2.4 Portal of Exit Pertusis Pertussis merupakan penyakit menular dengan tingkat penularan yang tinggi, dimana penularan ini terjadi pada kelompok masyarakat yang padat penduduknya dengan tingkat penularan dapat mencapai 100%. Pertussis dapat ditularkan melalui udara secara : Droplet Bahan droplet

Memegang benda-benda yang terkontaminasi dengan secret nasofaring

Sebagai sumber penularan yaitu pada karier orang dewasa.

2.5 Ketahanan host Penyebaran penyakit ini terdapat di seluruh dunia dan dapat menyerang semua umur 2 minggu-77 tahun dan terbanyak pada penderita di bawah 1 tahun, dimana makin muda usia makin berbahaya. Banyak peneliti melaporkan bahwa pertussis bervariasi sepanjang tahun mengikuti musim beberapa negara. Pertussis lebih sering menyerang anak wanita daripada anak pria. Banyak peneliti mengemukakan bahwa bayi kulit hitam pada usia muda mempunyai insiden yang lebih tinggi daripada bayi kulit putih, diduga perbedaan rasial ini dihubungkan dengan tingkat kekebalan.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Nama lain penyakit ini adalah tussis quinta, whooping cough, batuk rejan, batuk 100 hari. Pertussis menular melalui droplet, bahan droplet, dan memegang benda-benda yang terkontaminasi dengan secret nasofaring. Perbedaan rasial mempengaruhi tingkat kekebalan tubuh seseorang terhadap pertussis.

3.2 Saran Saran untuk mahasiswa Diharapkan mahasiswa lebih meningkatkan pengetahuan tentang pertusis agar bisa menjadi pedoman dalam melaksanakan praktik klinik di Rumah Sakit.

Saran untuk petugas kesehatan Diharapkan petugas kesehatan dapat mendeteksi secara dini tanda dan gejala dari pertusis agar penyebaran penyakit dan kematian tidak semakin tinggi. Petugas kesehatan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada pasien dan memberikan Health Education kepada keluarga pasien yang menderita pertusis.

DAFTAR PUSTAKA

Rampengan.1993.Penyakit infeksi tropic pada anak.Jakarta:EGC Manjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Aesculapius Doenges, Marilynn, E. dkk. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta: EGC Ranuh IGN., Suyitno H., Hadinegoro SRS., Kartasasmita CB., Ismoedijanto, Soedjatmiko (Ed.). Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Ketiga. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2008:144-151. Edisi 3, Jilid II. Jakarta: Media