Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN Kista radikuler adalah kista odontogenik yang terjadi pada apeks gigi nonvital yang mengalami

peradangan. Terjadinya kista ini diakibatkan oleh infeksi gigi yang berkembang menjadi granuloma yang berisikan sel epitel malassez. Kista radikuler disebut juga kista inflamasi, kista periodontal, atau kista periodontal apical. Kista radikuler merupakan kista yang paling sering dijumpai di rongga mulut, kurang lebih 60%-75% dari seluruh kista odontogenik, dengan frekuensi tersering di rahang atas terutama di regio anterior lebih kurang sekitar 60%, sedangkan pada rahang bawah sering terjadi pada regio posterior, namun kista ini dapat terjadi di region mana saja pada rahang. Etiologi dan pathogenesis kista berasal dari proses peradangan pulpa nonvital ke area periapikal gigi sehingga terbentuk granuloma. Sisa-sisa epitel malassez yang terjerat dalam granuloma dirangsang untuk berproliferasi secara ekstensif. Epitel dinding terbentuk dari sisa epitel malassez yang merupakan bagian dari selubung hertwig akar yang tidak aktif yang berada dekat dengan ligament periodontal. Produk infeksi pulpa dan nekrosis pulpa keluar ke jaringan periapikal yang kemudian menginduksi terjadinya respon inflamasi. Sel-sel ini secara langsung ataupun tidak langsung menstimulasi proliferasi dari sisa epitel malassez. Massa sel-sel epitel tersebut berkembang sehingga bagian tengah semakin jauh dari suplai nutrisi.

Akibatnya bagian tersebut mati dan terjadilah akumulasi cairan. Kista terus membesar karena adanya proliferasi dinding kista sehingga peningkatan tekanan hidrostatik pada lumen dan akumulasi cairan menyebar dan menekan sel epitel yang membatasi kapsul fibrosa. Kista akan terekspansi ke segala arah karena tekanan perifer yang terus-menerus ke jaringan sehingga merangsang osteoklast dan mengakibatkan tulang mangalami resorbsi. Siklus ini dapat berhenti dan berubah pada situasi di mana sumber penyebab inflamasi dihilangkan. Kista ini dapat terjadi pada semua usia, dengan predileksi tersering terjadi pada decade kedua dan keenam. Penyakit tersebut jarang terjadi pada anak-anak. Karakteristik kista ini berhubungan dengan gigi nonvital yang diawali dari karies gigi, gigi nekrotik, trauma, gigi dengan tumpatan yang tidak benar, kegagalan perawatan endodontic dan traumatic oklusi. Kista umumnya berukuran kecil, tumbuh lambat, tanpa gejala/asimptomatik, warna sama dengan sekitarnya atau kebiruan, permukaan licin, tidak menimbulkan perbesaran tulang rahang yang bermakna, sering keberadaannya tidak disadari oleh pasien dan umumnya diketahui secara tidak sengaja pada waktu pemeriksaan rontgen foto.

BAB II PEMBAHASAN

I. PENGERTIAN KISTA RADIKULER Radicular (periapikal) kista merupakan suatu rongga pathologis yang dilapisi oleh ephitelium dan mengandung cairan atau semi-cairan. Kista tersebut merupakan kista yang paling umum ditemukan pada rahang dan merupakan pangkal dari sisa-sisa ephitel Malassez yang timbul setelah peradangan pada apeks gigi nonvital.

II. ETIOLOGI KISTA RADIKULER Peradangan pulpa nonvital ke area periapikal gigi terbentuk granuloma sisa-sisa epitel malassez yang terjerat dalam granuloma dirangsang untuk berproliferasi secara ekstensif epitel dinding terbentuk dari sisa epitel malassez produk infeksi pulpa keluar ke jaringan periapikal menginduksi terjadinya respon inflamasi menstimulasi terjadinya proliferasi dari sisa epitel malassez massa epitel sel tersebut berkembang sehingga bagian tengah semakin jauh dari suplai nutrisi bagian tersebut menjadi mati terjadilah akumulasi cairan kista menjadi semakin membesar karena adanya proliferasi dinding kista terjadi peningkatan tekanan hidrostatik pada lumen akumulasi cairan menyebar dan menekan sel epitel yang

membatasi kapsul fibrosa kista akan menyebar ke segala arah karena tekanan perifer yang terus-menerus ke jaringan merangsang osteoklast menyebabkan resorbsi tulang

III. PENEGAKAN DIAGNOSIS 1. Gambaran klinis kista radikuler Kebanyakan pada penyakit kista radikuler tersebut tidak terdapat gejala-gejala yang signifikan (asimptomatik), terutama pada kista yang berukuran kecil. Hal ini baru akan terlihat setelah dilakukannya pemeriksaan rontgen foto pada pasien, kecuali jika kista tersebut bernanah, di mana rasa sakit terjadi seperti pada gejala yang biasa ditunjukkan. Kista yang besar akan menghasilkan pembengkakan pada bagian bukal dan meluas hingga bagian lingual atau palatal. Pembengkakan ini terjadi sebagai bentuk perluasan pada dasar kortikal bukal, yang menyebabkannya menjadi tipis dan dapat menimbulkan bunyi cracking (crepitus). Jika tulang sudah benar-benar hancur maka kista tersebut akan terhubung dengan periosteum dan mukosa pada daerah tersebut akan terlihat berwarna merah kebiru-biruan.

2. gambaran radiografis kista radikuler Secara radiografi kista radikuler menunjukkan adanya osteolytic atau lesi radiolucent (berbentuk bulat atau oval) dengan pinggiran radiopac yang terlihat jelas, kecuali jika daerah tersebut sudah terinfeksi maka gambaran perifer radiopac tidak akan terlihat. 3. aspirasi pada isi kantung kista Sebagai tambahan dari pemeriksaan klinis dan radiologi, aspirasi terhadap isi kantung kista tersebut merupakan diagnosis tambahan yang sangat berharga. Kista dengan ukuran yang lebih besar dari 1,5-2 cm, sedikit atau banyaknya cairan, tetap dapat diaspirasi untuk mencegah timbulnya lesi yang lebih padat lainnya.

IV. TEKNIK BEDAH PADA PENGANGKATAN KISTA RADIKULER Terdapat dua teknik pembedahan yang dapat digunakan dalam pengangkatan kista yaitu enukleasi dan marsupialisasi. a. Inukleasi Merupakan teknik yang melibatkan seluruh pengangkatan kista dan penyembuhan luka sebagai tujuan utamanya. Metode ini merupakan metode yang paling memuaskan pada perawatan kista dan diindikasikan pada semua kasus yang melibatkan kista, di mana dinding kista akan diangkat tanpa

melukai gigi didekatnya dan struktur anatomi lainnya. Prosedur pembedahan pada perawatan kista dengan inukleasi terdiri dari tiga tahap, yaitu : 1. Refleksi pada mukoperiosteal flap 2. Mengangkat tulang dan bagian padat pada kista 3. Inukleasi pada kantung kista 4. Perawatan luka dan suturing Setelah melihat hasil radiografi untuk menentukan lokasi yang tepat dan ukuran lesi, dibuatlah trapezoidal flap, di mana ukuran kista dapat menetukan akses yang memadai serta visualisasi luas bidang bedah. Kemudian setelah refleksi pada mukoperiosteum, tertutupnya tulang oleh lesi dapat dievaluasi, seperti yang disebutkan di atas, dapat berbentuk normal, tipis, atau benar-benar sudah hancur. Pada tulang yang normal, round bur digunakan untuk mengangkat bagian kortikal bukal yang menutupi kista, dan tergantung dari besarnya kista tersebut, rongeur dapat digunakan untuk memperluas pembuatan saluran ke osseous. Pembuatan saluran ke osseous haruslah cukup lebar agar semua bagian rongga kista dapat terjangkau dan mencegah kesulitan pada saat pengangkatan.

Jika dinding tulang sudah tipis dan mengalami perforasi, maka pengangkatan tulang dilakukan dengan cara perifer menggunaka rongeur hingga mencapai tulang yang padat. Kuret digunakan pada inukleasi pada kista yang berukuran kecil, sedangkan pada kista yang berukuran besar,penggunaan broad end pada elevator periosteal banyak diminati, di mana diletakkan di dalam kavitas dan menekan dengan lembut diantara dinding kista dan tulang, sementara kista dipegang dengan hati-hati menggunakan gunting. Setelah pengangkatan kista, kuret digunakan untuk memeriksa adanya sisasisa kista pada kavitas, dan irigasi yang banyak dengan menggunakan saline solution lalu penjahitan/suturing dengan mengikuti bentuk flap. Teknik pembedahan pada pengangkatan kista mandibular hampir sama dengan yang dijelaskan di atas. b. Marsupialisasi Metode ini biasanya digunakan untuk mengangkat kista yang berukuran besar dan memerlukan pembukaan jalur pembedahan yang tepat di atas lesi. Untuk pembuatan jalur bedah diawali dengan pembuatan insisi berbentuk circular, di mana termasuk mukoperiosteum, tulang yang mengalami perforasi, dan dinding respektiv pada kantung kista. Setelah prosedur ini, isi dari kista lalu dikeluarkan, dan penjahitan disekitar perifer kista, mukosa periosteum, dan dinding kista secara bersamaan. Setelah itu lubang kista diirigasi dengan

saline solution dan dibungkus dengan iodoform gauze, di mana nantinya akan dibuka satu minggu kemudian bersama bekas jahitan. Selama periode ini, bekas luka akan mengalami proses penyembuhan dengan membangun penghubung yang permanen. Irigasi pada lubang kista dilakukan beberapa kali dalam sehari untuk menjaganya tetap bersih dari debris makanan dan menghindari infeksi potensial.

V. GAMBAR PEMBEDAHAN PADA KISTA MANDIBULA 1. INUKLEASI

Gambar (1)

gambar (2)

Gambar (3)

gambar (4)

Gambar (5)

gambar (6)

Gambar (7) 2. MARSUPIALISASI

gambar (8)

gambar (9)

Gambar (10)

10

Gambar (11)

Gambar (12)

Gambar (13)

Gambar (14)

11

Gambar (15)

Gambar (16)

Keterangan gambar : INUKLEASI 1. gambar radiografi yang menunjukkan lesi radikular pada area M1 rahang bawah 2. gambaran klinis kasus sesuai dengan gambar radigrafi pada gambar (1) 3. insisi dan refleksi pada mukoperiosteum 4. pengeboran untuk pembuatan lubang untuk memindahkan bucal alveolar plate

12

5. penyelesaian pembuatan jalur pada osseus, setelah menggunakan fissure bur pada saat pembuatan lubang 6. pengangkatan lesi dengan bantuan hemostat dan kuret 7. bidang pembedahan setelah pemindahan lesi 8. penjahitan luka dengan intterupted suture

MALSUPIALISASI 9. gambaran radiografi menunjukkan adanya kista pada mandibula. Perawatan dengan malsupialisasi merupakan indikasi untuk kasus ini. 10. insisi mucosa pada daerah di sekitar mukosa dan periosteum 11. pembukaan buccal cortical plate dan pengambilan bagian tulang dengan round bur 12. perluasan jalur pada osseus dengan rongeur 13. pengangkatan kista setelah pengambilan tulang 14. penjahitan (suturing) pada daerah luka 15. membalut lubang kista dengan iodoform gauze 16. lubang kista setelah insersi gauze

13

BAB III KESIMPULAN

Kista radikuler adalah kista odontogenik yang terjadi pada apeks gigi nonvital yang mengalami peradangan. Terjadinya kista ini diakibatkan oleh infeksi gigi yang berkembang menjadi granuloma yang berisikan sel epitel malassez. Kista radikuler disebut juga kista inflamasi, kista periodontal, atau kista periodontal apical.

Etiologi kista radikuler : Peradangan pulpa nonvital ke area periapikal gigi terbentuk granuloma sisa-sisa epitel malassez yang terjerat dalam granuloma dirangsang untuk berproliferasi secara ekstensif epitel dinding terbentuk dari sisa epitel malassez produk infeksi pulpa keluar ke jaringan periapikal menginduksi terjadinya respon inflamasi menstimulasi terjadinya proliferasi dari sisa epitel malassez massa epitel sel tersebut berkembang sehingga bagian tengah semakin jauh dari suplai nutrisi bagian tersebut menjadi mati terjadilah

akumulasi cairan kista menjadi semakin membesar karena adanya proliferasi dinding kista terjadi peningkatan tekanan hidrostatik pada lumen akumulasi cairan menyebar dan menekan sel epitel yang membatasi kapsul fibrosa kista akan menyebar ke segala arah

14

karena tekanan perifer yang terus-menerus ke jaringan merangsang osteoklast menyebabkan resorbsi tulang

Penegakan diagnosis :

1. gambaran klinis kista radikuler 2. gambaran radiologi kista radikuler 3. aspirasi untuk pengambilan cairan di dalam kista

Rencana perawatan :

1. inukleasi 2. marsupialisasi

15

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

Fragiskos FD. Oral surgery. Chapter 12. Heidelberg. Springer ; 2007 : 308301.

staff.ui.ac.id/internal/130536741/publikasi/radicularcyst.pdf www.scribd.com/doc/94286536/kista-rongga-mulut repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7921/1/10E01018.pdf

16