Anda di halaman 1dari 3

Sunarsip /12/5/2006

Pelajaran dari Model Restrukturisasi BUMN di China


Oleh Sunarsip Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) China adalah negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yaitu sekitar 9%-10% setiap tahunnya setidaknya dalam 5 tahun terakhir ini. Di balik tingginya angka pertumbuhan ekonomi tersebut, ternyata peran BUMN China cukup dominan. Jurnal Far Eastern Economic Review (FEER) terbitan Oktober 2006 lalu menurunkan artikel Hofman dan Kuijs, ekonom Bank Dunia di Beijing. Dalam tulisannya, Hofman dan Kuijs menyatakan bahwa BUMN China memegang peran yang signifikan dalam perekonomian China, khususnya BUMN yang bergerak di sektor padat modal seperti industri berat. State-owned Assets Supervision and Administration Commission (SASAC) melaporkan bahwa dalam tujuh bulan pertama 2006 ini, laba BUMN China mencapai 497 miliar yuan ($63 miliar), naik sebesar 15,2% dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan China menunjukkan bahwa laba dari seluruh BUMN China pada tahun 2005 mencapai 905 miliar yuan ($114 miliar), meningkat 25% dari tahun 2004. Sedangkan berdasarkan survei dari National Bureau of Statistics (BPS-nya China) menunjukkan kontribusi BUMN China yang mengalami kerugian menurun, yaitu dari sekitar 40% lebih di tahun 1998 menjadi kurang dari 35% di tahun 2004, dengan angka kerugian dari 115 miliar yuan ($15 miliar) di tahun 1998 menjadi sebesar 66 miliar yuan ($8 miliar) di tahun 2004. Laba dari BUMN penghasil laba juga meningkat, yaitu dari 52 miliar yuan ($6,6 miliar) di tahun 1998 menjadi 531 miliar yuan ($67 miliar) di tahun 2004. Departemen Keuangan China juga mencatat bahwa subsidi untuk BUMN rugi juga terus mengalami penurunan dan sekarang tinggal 20 miliar yuan ($2,5 miliar), atau hanya 2% dari total keuntungan laba BUMN China. Peningkatan kinerja BUMN China tersebut membuktikan bahwa restrukturisasi telah membawa hasil positif bagi BUMN di China.

Pelajaran dari China


Pemerintah China memang sedang gencar melakukan restrukturisasi atas BUMNBUMN-nya. Tercatat, pada tahun 2002, sekitar 86% dari sekitar 87.000 BUMN yang telah dilakukan restrukturisasi, 70%-nya dilakukan privatisasi baik secara parsial maupun secara penuh, 10% dilikuidasi, dan 20% dilakukan merger/konsolidasi dengan BUMN lainnya. Konsekuensi dari langkah ini, BUMN pun melakukan pemangkasan tenaga kerja (layoff). Tercatat, antara 1998-2005, sekitar 35 juta pekerja BUMN kehilangan pekerjaan. Tetapi, restrukturisasi BUMN ini menghasilkan peningkatan kinerja BUMN China. Terdapat beberapa kasus yang menarik dari proses restrukturisasi BUMN di China sehingga bisa sukses. Pertama, pemerintah China memiliki komitmen kuat terhadap BUMN-nya. China adalah negara dengan sistem politik komunis. Biasanya, negara dengan sistem politik komunis, pengaruh intervensi politik terhadap BUMN-nya akan sangat kuat. Namun, China ternyata bisa memisahkan antara urusan politik dengan ekonomi. Sistem politik China memang komunisme, tetapi sistem ekonominya kapitalis. Untuk mencegah intervensi politik ke BUMN, pemerintah China membentuk SASAC yang independen (semacam Temasek) pada Maret 2003. SASAC inilah yang mengendalikan sekitar 127.000 BUMN (posisi tahun 2005). Uniknya, SASAC diberi
-1-

Sunarsip /12/5/2006

mandat untuk mengelola portofolio BUMN tanpa terikat harus menyetorkan dana hasil dividen ataupun privatisasi BUMN kepada pemerintah. SASAC memiliki keleluasaan atas penggunaan dana hasil dividen ataupun privatisasi BUMN, yang biasanya digunakan untuk kepentingan investasi BUMN yang dikelola SASAC. Baru belakangan ini, pemerintah China meminta SASAC agar menyetorkan dividen. Pemerintah China meminta SASAC agar pada tahun 2007, SASAC menyetor dividen. Tujuannya, selain untuk membiayai kebutuhan publik dan pengembangan industri, juga diarahkan untuk membatasi investasi BUMN yang dinilai overinvestment. Seperti penulis sebut di atas, kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional China sangatlah besar. Pemerintah China merasa perlu mengurangi laju ekspansi investasi BUMN China untuk mendinginkan suhu ekonomi yang overheating, karena tumbuh rata-rata 10% per tahun dengan cara menarik dividen (The Wall Street Journal edisi Asia, 18 September 2006). Kedua, pemerintah China menggunakan doktrin grasp the large and let go of the small (zhua da fang xiao) dalam pengembangan BUMN-nya. Artinya, pemerintah China akan mempertahankan BUMN besar dan akan melepas BUMN-BUMN kecil. Sebagai negara komunis, tidaklah mengherankan bila China memiliki begitu banyak BUMN. Namun, hanya sebagian kecil BUMN yang merupakan perusahaan besar. Selebihnya adalah perusahaan kecil, atau yang lebih dikenal dengan istilah township-village enterprises (TVEs) yang kebanyakan beroperasi di level pemerintahan propinsi. Kebijakan yang diambil terhadap BUMN besar, seperti Shanghai Baosteel Group Corporation (perusahaan baja terbesar di China) dan China Petroleum & Chemical Corporation atau Sinopec (perusahaan minyak terbesar di Asia) adalah mempertahankan kepemilikan mayoritas pemerintah. Kemudian, atas BUMN ini dilakukan berbagai upaya korporatisasi dan privatisasi secara parsial untuk masuknya investor baru yang bisa membawa perubahan dalam budaya kerja perusahaan. Langkah korporatisasi tersebut misalnya dilakukan dengan membentuk holding company ataupun merger/akuisisi. Sementara itu, bagi BUMN kecil dilakukan upaya pelepasan atas mayoritas saham pemerintah kepada publik melalui initial public offering (IPO). Tidak mengherankan bila dalam satu dekade ini, jumlah perusahaan yang listing di bursa efek China meningkat dratis (lihat grafik). Meski gelombang privatisasi di China meningkat, sesungguhnya kepemilikan swasta pada perusahaan yang listing di bursa China tidaklah besar. Sebuah studi di tahun 2002 menunjukkan, hanya 11% dari perusahaan China yang listed yang dikuasai oleh swasta. Kemudian atas perusahaan yang telah listed tersebut, dibentuk sebuah holding company untuk mengelola portofolio kepemilikan saham tersebut. Ketiga, perlu dipahami bahwa proses restrukturisasi dan privatisasi BUMN di China bukanlah tidak mengalami persoalan. Perlu dipahami bahwa tidak semua BUMN besar China telah dikelola dengan tingkat efisiensi dan profitabilitas tinggi. Di sisi lain, ketika BUMN tersebut hendak direstrukturisasi, persoalan yang dihadapi adalah bagaimana strategi me-layoff karyawan yang dinilai tidak produktif dan membebani perusahaan agar tidak menimbulkan gejolak sosial dan politik. Menarik apa yang dilakukan China, atas BUMN yang bermasalah tersebut ditempuh upaya dimana BUMN tersebut mendirikan perusahaan baru yang merupakan kombinasi antara swasta dengan BUMN. Dari perusahaan baru ini, BUMN mendapatkan dividen dan menjadi pendapatan BUMN. Dana tersebut tersebut kemudian digunakan untuk membiayai pesangon bagi karyawan yang akan di-layoff. Dengan cara ini, konflik sosial bisa ditekan karena hak-hak karyawan telah dipenuhi dan tidak membebani BUMN.

-2-

Sunarsip /12/5/2006

Pelajaran Bagi Indonesia


Mungkin pengalaman China dalam merestrukturisasi BUMN-nya bukanlah contoh yang ideal bagi Indonesia. Namun, dari pengalaman China ini kita menyadari bahwa sesungguhnya sukses tidaknya masa depan BUMN, sangat tergantung dari kemauan politik dari semua pihak (terutama pemerintah dan parlemen). Kemauan politik yang diharapkan tersebut adalah mau tidak semua pihak menghilangkan intervensi politik pada setiap BUMN kita. Bila di China, dan juga di Singapura dan Malaysia, mereka bisa menghilangkan intervensi politik pada BUMN-nya, lalu mengapa di Indonesia tidak bisa? Kedua, ke depan model pengelolaan BUMN di bawah sebuah kementerian yang tidak independen (dalam arti menjadi bagian pemerintah) seperti yang berlaku saat ini, perlu ditinjau ulang. Sudah saatnya induk bagi pengelolaan BUMN dilepaskan dari institusi pemerintah dan menjadi super holding company yang independen dan terpisah dari unsur politik. Pengelolanya pun harus dari kalangan profesional yang pengalaman di bidang korporasi dan financial engenering (rekayasa keuangan), bukan kalangan birokrat. Kemudian, kepada holding ini diberikan keleluasaan dalam mengelola portofolio dan investasi BUMN. Tentu tidak semua BUMN bisa masuk dalam dalam pembinaan super holding company. Terhadap BUMN yang bisnis intinya mengelola public service harus dikembalikan menjadi badan/agen pemerintah. Penulis berpendapat bahwa solusi privatisasi dengan melepas mayoritas kepemilikan pemerintah di BUMN kepada investor strategis (terutama asing) adalah pilihan yang menunjukkan kita kalah. Oleh karenanya, restrukturisasi korporasi BUMN plus privatisasi parsial yang diimbangi dengan kemauan politik kuat merupakan jawaban bahwa kita adalah bangsa yang kuat dan terbuka, baik secara ekonomi dan politik.***
Jumlah Perusahaan yang Listed di China, 1990-2003 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

Sumber: Guy S. Liu, Pei Sun (2005) dan Xiaozu Wang (2004), diolah penulis & IEI

-3-

Anda mungkin juga menyukai