Anda di halaman 1dari 23

1

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Review Hasil-hasil Penelitian Terdahulu

Dalam melakukan penelitian, penulis perlu mengadakan review hasil-hasil

penelitian terdahulu. Review hasil penelitian terdahulu dilakukan untuk mengetahui

masalah-masalah atau isu-isu apa saja yang pernah dibahas oleh orang-orang terdahulu

yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas, yaitu “Analisis pernyataan tidak

memberikan pendapat terhadap laporan keuangan PT. AdeS Waters Indonesia Tbk dan

anak perusahaan tahun 2004”.

Dalam penelitian ini penulis mendapat referensi dari penelitan terdahulu yang

pernah dilakukan mendapatkan fakta bahwa salah saji tidak semestinya terhadap aset

menyebabkan auditor harus mengeluarkan laporan pernyataan tidak memberikan

pendapat, (Kasidi, 2001).

2.2. Audit

2.2.1. Pengertian dan jenis-jenis audit

Ada beberapa pengertian audit yang diberikan oleh beberapa ahli di bidang

akuntansi, antara lain:

Menurut Alvin A.Arens dan James K.Loebbecke :


2

“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to


determine and report on the degree of correspondence between the information and
established criteria. Auditing should be done by a competent independent person”.1

Menurut Mulyadi :

“Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara


obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi,
dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan
tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian haisl-hasilnya
kepada pemakai yang berkepentingan”.2

Secara umum pengertian di atas dapat diartikan bahwa audit adalah proses

sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen dengan

mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapat

mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

Dalam melaksanakan audit faktor-faktor berikut harus diperhatikan:

1). Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar) yang dapat

digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi tersebut, 2). Penetapan entitas

ekonomi dan periode waktu yang diaudit harus jelas untuk menentukan lingkup

tanggungjawab auditor, 3). Bahan bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang

cukup untuk memenuhi tujuan audit, 4). Kemampuan auditor memahami kriteria yang

digunakan serta sikap independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang diperlukan

untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya.

1
Alvin A. Arens and James K. Loebbecke, (1997), Auditing An Integrated Approach, International
Edition, Seventh Edition, New Jersey : Prentice-Hill Inc, hal 2
2
Mulyadi, (1990), Pemeriksaan Akuntan, Edisi 3, Yogyakarta : Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN, hal 4
3

Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : audit laporan

keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional.

1) Audit laporan keuangan (financial statement audit). Audit laporan keuangan adalah

audit yang dilakukan oleh auditor eksternal terhadap laporan keuangan kliennya

untuk memberikan pendapat apakah laporan keuangan tersebut disajikan sesuai

dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Hasil audit lalu dibagikan kepada

pihak luar perusahaan seperti kreditor, pemegang saham, dan kantor pelayanan

pajak.

2) Audit kepatuhan (compliance audit). Audit ini bertujuan untuk menentukan apakah

yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peratuan, dan undang-undang tertentu.

Kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam audit kepatuhan berasal dari sumber-sumber

yang berbeda. Contohnya ia mungkin bersumber dari manajemen dalam bentuk

prosedur-prosedur pengendalian internal. Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi

audit internal, karena oleh pegawai perusahaan.

3) Audit operasional (operational audit). Audit operasional merupakan penelahaan

secara sistematik aktivitas operasi organisasi dalam hubungannya dengan tujuan

tertentu. Dalam audit operasional, auditor diharapkan melakukan pengamatan yang

obyektif dan analisis yang komprehensif terhadap operasional-operasional tertentu.

Tujuan audit operasional adalah untuk : 1). Menilai kinerja, kinerja dibandingkan

dengan kebijakan-kebijakan, standar-standar, dan sasaran-sasaran yang ditetapkan

oleh manajemen, 2). Mengidentifikasikan peluang dan, 3). Memberikan rekomendasi

untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak-pihak yang mungkin meminta
4

dilakukannya audit operasional adalah manajemen dan pihak ketiga. Hasil audit

operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit tersebut.

2.2.2. Tujuan dan manfaat audit independen

Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat

atas kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip-

prinsip akuntansi yang berlaku umum.3 Kewajaran laporan keuangan diukur berdasarkan

asersi terkandung dalam setiap unsur yang disajikan dalam laporan keuangan, yang

disebut dengan asersi manajemen.

Asersi manajemen yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diklasifikasikan

menjadi lima kategori :

1) Keberadaan atau kejadian (existency or occurence). Asersi ini merupakan pernyataan

manajemen aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang tercantum dalam neraca benar-benar

ada pada tanggal neraca serta apakah pendapatan dan beban yang tercantum dalam

laporan rugi laba benar-benar terjadi selama periode akuntansi.

2) Kelengkapan (completeness). Kelengkapan berarti semua transaksi dan akun-akun

yang seharusnya tercatat dalam laporan keuangan telah dicatat. Asersi kelengkapan

berlawanan dengan asersi keberadaan. Jika asersi keberadaan tidak benar maka akun

akan dinyatakan terlalu tinggi, sementara jika asersi kelengkapan tidak benar, maka

akun akan dinyatakan terlalu rendah. Asersi kelengkapan berkaitan dengan

kemungkinan hilangnya hal-hal yang harus dicantumkan dalam laporan keuangan,

3
Standar Profesional Akuntan Publik Per 1 Januari 2001, (2001), Cetakan ke-1, Jakarta : Salemba Empat,
PSA 02 (SA 110)
5

sedangkan asersi keberadaan berkaitan dengan penyebutan angka yang seharusnya

tidak dimasukkan.

3) Hak dan kewajiban (rights and obligations). Auditor harus memastikan apakah

aktiva memang menjadi hak klien dan apakah kewajiban merupakan hutang klien

pada tanggal tertentu.

4) Penilaian atau alokasi (valluation or allocation). Asersi ini menyangkut apakah

aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, atau beban telah dicantumkan dalam laporan

keuangan pada jumlah yang tepat.

5) Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure). Asersi ini menyangkut

masalah apakah komponen-komponen laporan keuangan telah diklasifikasikan,

diuraikan, dan diungkapkan secara tepat. Pengungkapan berhubungan dengan

apakah informasi dalam laporan keuangan, termasuk catatan yang terkait, telah

menjelaskan secara gamblang hal-hal yang dapat mempengaruhi penggunaannya.

2.2.3. Independensi

Masalah utama yang dihadapi oleh akuntan publik saat ini adalah berkurangnya

kekuasaan mereka dalam melaksanakan penugasan. Seorang akuntan yang independen

dituntut untuk bertindak sesuai dengan peraturan perundangan dan kode etik profesi.

Fenomena hubungan antara akuntan publik dengan klien telah menjadi pusat perhatian

bagi para pembuat keputusan, seperti investor, kreditor, dan pemegang saham.

Mereka sangat menyadari adanya kemampuan yang dimiliki oleh pihak

manajemen perusahaan. Pertama, kemampuan yang berkaitan dengan kecenderungan

manajemen perusahaan untuk memanipulasi kinerja laporan keuangan perusahaan


6

dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian yang positif atas tanggung jawabnya

sebagai pihak yang mengelola perusahaan. Kecenderungan ini dikenal dengan istilah

window dressing, biasanya dilakukan dengan cara memperbaiki laporan keuangan

sedemikian rupa sehingga tampak lebih baik dari semestinya.

Berbeda dengan profesi lain, auditor tidak dapat bertindak untuk kepentingan

kliennya sebagaimana pengacara dengan kliennya. Meskipun dibayar oleh klien akuntan

publik bekerja bagi kepentingan masyarakat umum. Auditor harus independen dalam

dari segala kewajiban dan pemilikan kepentingan dalam perusahaan yang diauditnya. Ia

harus pula menghindari keadaan-keadaan yang dapat mengakibatkan masyarakat

meragukan independensinya. Dalam kenyataannya auditor seringkali menemui kesulitan

dalam mempertahankan sikap mental independen. Keadaan yang seringkali mengganggu

sikap mental independen auditor adalah sebagai berikut :

1. Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor dibayar oleh

kliennya atas jasanya tersebut.

2. Kecenderungan untuk memuaskan kliennya.

3. Resiko kehilangan klien.

2.2.4. Jenis-jenis auditor

Auditor biasanya diklasifikasikan dalam tiga kategori berdasarkan siapa yang

mempekerjakan mereka : akuntan publik, akuntan pemerintah, dan akuntan intern.4

4
Mulyadi, (1992), Pemeriksaan Akuntan, Edisi 4, Yogyakarta : Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN, hal 27
7

 Akuntan publik. Akuntan publik adalah akuntan professional yang menjual

jasanya kepada masyarakat umum, terutama daam bidang pemeriksaan terhadap

laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya.

 Akuntan pemerintah. Akuntan pemerintah adalah akuntan profesional yang

bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan pemeriksaan

terhadap pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi

dalam pemerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada

pemerintah.

 Akuntan intern. Adalah akuntan yang bekerja dalam perusahaan yang tugas

pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan

oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya

penjagaan terhadap aset-aset organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas

prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang

dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

2.3. Laporan auditor

2.3.1. Pengertian dan jenis-jenis laporan auditor

Pembuatan laporan auditor adalah langkah terakhir dan paling penting dari

keseluruhan proses audit. Secara umum laporan auditor dapat didefinisikan sebagai

laporan yang menyatakan pendapat auditor yang independen mengenai kelayakan atau

ketepatan pernyataan klien bahwa laporan keuangannya disajikan secara wajar sesuai

dengan prinsip-prinsip akuntan yang berlaku umum, yang diterapkan secara konsisten
8

dengan tahun sebelumnya.5 Dalam menyiapkan dan menerbitkan sebuah laporan audit,

auditor harus berpedoman pada empat standar pelaporan yang terdapat dalam Standar

Profesional Akuntan Publik (SPAP).

Terpenting, harus dilihat standar yang terakhir karena standar ini mensyaratkan

suatu pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan atau pernyataan

bahwa pendapat tidak dapat diberikan disertai dengan alasan-alasannya. Standar ini

mensyaratkan adanya pernyataan auditor secara jelas mengenai sifat pemeriksaan yang

telah dilakukan dan sampai dimana auditor membatasi tanggungjawabnya. Pendapat

auditor tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan

audit bentuk baku.

Menyadari fungsi utama laporan audit sebagai media komunikasi antara

manajemen dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan, maka dibutuhkan adanya

keseragaman pelaporan untuk menghindari kerancuan. Oleh karena itu standar

profesional telah merumuskan dan merinci berbagai jenis laporan audit yang harus

disertakan pada laporan keuangan.

Terdapat beberapa jenis pendapat akuntan yang diberikannya berkenaan dengan

suatu pemeriksaan umum, yaitu :

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).

2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan (unqualified

opinion with explanatory language).

5
Arthur W. Holmes dan David C. Burns, (1996), Auditing norma dan prosedur, Edisi 9, Jilid 1, Jakarta :
Erlangga, hal 2
9

3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).

4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion).

5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion).

1). Laporan pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)

Istilah unqualified disini bukan berarti tidak memenuhi syarat atau tidak qualified. Arti

unqualified disini adalah tanpa kualifikasi (qualification) atau tanpa reserve atau tanpa

keberatan-keberatan.6 Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan auditor jika tidak

terjadi pembatasan dalam lingkup audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan

mengenai kewajaran dan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum dalam

penyusunan laporan keuangan, konsistensi penerapan prinsip akuntansi yang berlaku

umum, serta pengungkapan memadai dalam laporan keuangan. Laporan keuangan

dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi,

sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum jika memenuhi kondisi-

kondisi berikut :

• Prinsip akuntansi berlaku umum digunakan untuk menyusun laporan keuangan

• Perubahan penerapan prinsip akuntansi berlaku umum dari periode ke periode

telah cukup dijelaskan

• Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan

dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan sesuai prinsip-prinsip

akuntansi yang berlaku umum

6
Theodorus., M., Tuanakotta, (1982), Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik, Edisi ketiga,
Jakarta :Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, hal 31
10

2). Laporan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan

(unqualified opinion with explanatory language).

Laporan keuangan tetap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha

perusahaan klien namun ditambah dengan hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan.

3). Laporan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)

Pendapat ini hanya diberikan jika secara keseluruhan laporan keuangan yang disajikan

oleh klien adalah wajar, tetapi ada beberapa unsur yang dikecualikan, yang

pengecualiannya tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

Terdapat beberapa kondisi yang membuat auditor harus memberikan pendapat wajar

dengan pengecualian, yaitu :

• Lingkup audit dibatasi oleh klien

• Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat

memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar

kekuasaan klien dan auditor

• Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum

• Prinsip akuntansi berlaku umum yang digunakan dalam penyusunan laporan

keuangan tidak diterapakan secara konsisten

4). Laporan pendapat tidak wajar (adverse opinion)

Pendapat tidak wajar diberikan jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan

prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum sehingga tidak menyajikan secara wajar

posisi keuangan, hasil usaha, perubahan saldo laba dan arus kas perusahaan klien.

Auditor memeberikan pendapat tidak wajar jika tidak terdapat pembatasan bukti audit.

Pendapat tidak wajar merupakan kebalikan pendapat wajar dengan pengecualian.


11

Auditor memberikan pendapat tidak wajar jika ia tidak dibatasi lingkup auditnya,

sehingga ia dapat mengumpulkan bukti kompeten dalam jumlah cukup untuk

mendukung pendapatnya.

5). Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan auditor jika ia tidak berhasil

menyakinkan dirinya bahwa keseluruhan laporan keuangan telah disajikan secara wajar.

Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan jika antara lain, terdapat banyak

pembatasan lingkup audit, hubungan yang tidak independen antara auditor dan klien.

Masing-masing kondisi tersebut tidak memungkinkan auditor untuk dapat menyatakan

pendapatnya atas laporan keuangan secara keseluruhan.

2.3.2. Tujuan dan manfaat laporan auditor

Dalam perusahaan perseroan, dimana para manajer ditempatkan pada posisi

dimana mereka dapat menguntungkan perusahaan yang tercermin dalam laporan

keuangan yang disusunnya dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan yang

disusun merupakan bentuk pertanggungjawaban dari hasil pekerjaannya selama suatu

periode. Para manajer tergoda untuk menyajikan laporan keuangan yang berat sebelah,

mengandung hal-hal yang tidak benar, dan mungkin menyembunyikan informasi

informasi tertentu kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap laporan

keuangan itu, termasuk investor, kreditor, dan regulator.

Oleh karena itu masyarakat keuangan membutuhkan jasa profesional untuk

menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan oleh manajemen. Atas dasar

informasi keuangan yang andal, masyarakat akan memiliki basis yang kuat untuk
12

menyalurkan dana mereka ke usaha-usaha yang beroperasi secara efisien dan memiliki

posisi keuangan yang sehat. Untuk itu masyarakat menghendaki agar laporan keuangan

yang diserahkan kepada mereka diperiksa lebih dulu oleh auditor independen.

Keterlibatan audit yang independen akan memberikan manfaat-manfaat antara lain,

menambah kredibilitas laporan keuangan, mengurangi kecurangan perusahaan, dan

memberikan dasar yang lebih dipercaya untuk pelaporan pajak dan laporan keuangan

lain yang harus diserahkan kepada pemerintah.

2.4. Materialitas

Selama pemeriksaan auditor terus dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan

tentang seberapa banyak bahan bukti yang harus dikumpulkan, jenis bahan bukti, dan

tindakan apa yang harus diambil terhadap bahan bukti yang diperiksa. Secara umum

materialitas sangat tergantung pada intuisi si auditor.

Materialitas dalam kaitannya dengan akuntansi dan pelaporan audit adalah suatu

salah saji dalam laporan keuangan dapat dianggap material jika pengetahuan atas salah

saji tersebut dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan yang rasional.7

Salah saji informasi akuntansi, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat

mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang

meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau

salah saji itu.

7
Arens.,A., dan Loebbecke., J, (1997), Auditing Pendekatan Terpadu, Edisi Indonesia, Jilid I, Jakarta :
Salemba Empat, hal 42.
13

Dalam audit atas laporan keuangan, auditor bukanlah pemberi jaminan bagi klien

atau pemakai laporan keuangan lainnya, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat.

Auditor tidak dapat memberikan jaminan karena ia tidak memeriksa setiap transaksi

yang terjadi dalam tahun yang diaudit dan tidak dapat menentukan apakah semua

transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi dengan

semestinya ke dalam laporan keuangan.

Di samping itu tidaklah mungkin seseorang menyatakan keakuratan laporan

keuangan (ketepatan semua informasi yang disajikan dalam laporan keuangan),

mengingat bahwa laporan itu sendiri berisi pendapat, estimasi, dan pertimbangan dalam

proses penyusunannya, yang seringkali pendapat, estimasi, dan pertimbangan tersebut

tidak tepat atau akurat seratus persen. Oleh karena itu, dalam audit atas laporan

keuangan, auditor memberikan keyakinan berikut ini :

1. Jumlah-jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya

telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi.

2. Bukti audit kompeten telah cukup dikumpulkan sebagai dasar memadai untuk

memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.

3. Dalam bentuk pendapat, bahwa laporan keuangan secara keseluruhan disajikan

secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena kekeliruan atau

kecurangan.
14

2.5. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat

2.5.1. Pengertian pernyataan tidak memberikan pendapat

Pernyataan tidak memberikan pendapat dapat didefinisikan bahwa akuntan

publik menolak memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang

diperiksanya atau jika auditor tidak dapat melaksanakan pemeriksaan karena pembatasan

lingkup audit.

Jika auditor tidak bersedia untuk menyatakan pendapat, semua alasan pokok

harus dibuat dalam laporan pemeriksaan, dan alasan untuk tidak menyatakan pendapat

harus disusun sehingga berfokus pada penyajian laporan keuangan yang tidak dapat

diverifikasi. Juga, alasan ketidaksediaan harus menjelaskan bagaimana hubungan antara

penyajian yang tidak diverifikasi dengan kewajaran menyeluruh dari laporan keuangan

yang tidak diberi pendapat. Penolakan memberi pendapat tidak boleh diberikan oleh

auditor, bila ia yakin atas dasar hasil pemeriksaannya, bahwa terdapat penyimpangan

yang material terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak

wajar adalah: pendapat tidak wajar diberikan oleh auditor dalam keadaan auditor

mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan klien. Sedangkan pernyataan tidak

memberikan pendapat diberikan karena ia tidak memperoleh cukup bukti mengenai

kewajaran laporan keuangan auditan atau ia tidak independen dalam hubungannya

dengan klien.
15

Berikut kondisi-kondisi yang menyebabkan auditor menolak memberikan

pendapat, yaitu :

1. penyimpangan terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, atau salah

saji, atau pengungkapan yang tidak layak, atau pembatasan lingkup audit, atau

perubahan metode akuntansi yang tidak disetujui oleh auditor.

2. akun-akun yang terkait cukup material, sehingga pendapat wajar tidak layak

untuk diberikan.

3. hasil laporan keuangan secara material menyesatkan atau auditor tidak yakin

akan akurasi akun-akun tertentu.

4. dampak dari akun-akun yang secara material salah saji dapat merusak laporan

keuangan.

2.5.2. Pembatasan terhadap lingkup audit

Pembatasan lingkup audit dapat disebabkan oleh klien atau keadaan. Pembatasan

terhadap lingkup audit berakibat terhadap jumlah dan kompetensi bukti yang dapat

dikumpulkan oleh auditor. Jika pembatasan tersebut dapat diatasi oleh auditor dengan

menempuh prosedur audit alternatif, auditor tidak perlu mencantumkan pengecualian

dalam paragraf lingkup audit dan auditor dapat memberikan pendapat wajar tanpa

pengecualian.

Contoh, jika auditor tidak dibolehkan oleh klien untuk mengirim surat konfirmasi

kepada debitur, tetapi auditor dapat membuktikan adanya piutang kepada debitur

tersebut melalui prosedur audit terhadap penerimaan kas setelah tanggal neraca dari para
16

debitur tersebut, maka auditor telah dapat menempuh prosedur audit alternatif untuk

menggantikan prosedur audit yang diharuskan oleh standar akuntansi.

Jika prosedur alternatif tidak dapat dilakukan, sehingga bahan bukti dalam

jumlah cukup dan kompeten tidak dapat diperoleh, maka auditor biasanya menambah

kata-kata dalam paragraf lingkup audit untuk menarik perhatian terhadap adanya

pengecualian tersebut. Auditor dapat menentukan bahwa ia dapat menyatakan pendapat

wajar tanpa pengecualian hanya jika audit telah dilaksanakan berdasarkan standar

auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Pembatasan terhadap lingkup

audit, baik yang dikenankan oleh klien atau keadaan, kegagalan memperoleh bukti

kompeten yang cukup, atau tidak cukupnya catatan akuntansi, dapat mejadikan dasar

bagi auditor untuk memberikan pengecualian di dalam pendapatnya atau pernyataan

tidak memberikan pendapat. Dalam hal ini, alasan pengecualian atau pernyataan tidak

memberikan pendapat harus dijelaskan oleh auditor dalam laporannya.

Keputusan auditor dalam memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau

pernyataan tidak memberikan pendapat karena pembatasan lingkup audit tergantung atas

penilaian auditor terhadapa pentingnya prosedur yang tidak dapat dilaksanakan tersebut

bagi auditor dalam memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Penilaian ini

akan dipengaruhi oleh sifat dan besarnya damapak yang mungkin timbul sebagai akibat

hal yang dikecualikan tersebut dan pentingnya bagi laporan keuangan. jika dampak yang

mungkin timbul menyangkut banyak pos laporan keuangan, maka pentingnya hal yang

dikecualikan tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan jika hanya menyangkut pos

laporan keuangan yang lebih sedikit.


17

Jika pembatasan terhadap lingkup audit ini kurang material dampaknya terhadap

informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangannya, sehingga auditor masih

dapat memberikan pendapat wajar terhadap laporan keuangan tersebut secara

keseluruhan, maka auditor akan memberikan pendapat wajar dengan pengecualian.

Jika pembatasan terhadap lingkup audit mengakibatkan auditor sangat

kekurangan bukti yang kompeten untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan

auditan, maka auditor akan menyatakan tidak memberikan pendapat atas laporan

keuangan tersebut.

----------------
Contoh Skripsi Tesis Disertasi Dotcom…
Contoh Skripsi Tesis Disertasi Dotcom spesialis menyediakan kumpulan, koleksi, daftar
contoh ribuan skripsi, tesis dan disertasi yang sudah jadi dari berbagai disiplin ilmu
pengetahuan berikut kebutuhan terkait pembuatan tugas akhir kesarjanaan mahasiwa
program S1, S2, dan S3.
Anda bisa mendowload tanpa batas koleksi ribuan contoh skripsi, tesis dan disertasi
yang sudah jadi. Kumpulan skripsi, tesis, dan disertasi ini merupakan contoh-contoh
penelitian tingkat sarjana dan pasca sarjana dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan
sosial dan pasti alam.

Skripsi
Administrasi Bisnis Niaga
Administrasi Negara
Administrasi Publik
Akuntansi
Arsitektur
Astronomi
Bahasa Inggris
Biologi
Bisnis dan Manajemen
Ekonomi
Ekonomi Manajemen
Ekonomi Pembangunan
Farmasi
18

Filsafat
Fisika
Fisika Teknik
Geofisika
Hukum Acara
Hukum Perdata
Hukum Pidana
Hukum Tata Negara
Ilmu Hukum
Ilmu Keperawatan
Ilmu Komputer
Ilmu Komunikasi
Ilmu Pemerintahan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kehidupan
Kedokteran
Kedokteran Hewan
Kesehatan Masyarakat
Kimia
Manajemen
Manajemen dan Keuangan
Matematika
Meteorologi
Oseanografi
Pendidikan Bahasa Indonesia
Pendidikan Bahasa Inggris
Pendidikan Biologi
Pendidikan Ekonomi
Pendidikan Fisika
Pendidikan Geografi
Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Matematika
Pendidikan Teknik Elektro
Pengembangan SDM
Penjaskes
Perencanaan Kota dan Wilayah
Perhotelan
Psikologi
Seni dan Desain
Sistem Informasi
Sistem Informasi Akuntansi
Sistem Komputer
Sosiologi
Syariah
Tarbiyah
Teknik Bahan
Teknik Dirgantara
19

Teknik Elektro
Teknik Geodesi dan Geomatika
Teknik Geofisika
Teknik Geologi
Teknik Industri
Teknik Informatika
Teknik Kelautan
Teknik Komputer
Teknik Lingkungan
Teknik Mesin
Teknik Metalurgi
Teknik Perminyakan
Teknik Pertambangan
Teknik Sipil
Teknik Telekomunikasi
Teknologi Pertanian
Teologi
20

Tesis
Administrasi Bisnis
Arsitektur
Astronomi
Biologi
Desain
Farmasi
Fisika
Fisika Teknik
Geofisika Terapan
Ilmu Pengetahuan Aktuaria
Ilmu Pengetahuan dan Teknik Bahan
Ilmu Pengetahuan Tanah
Instrumentasi dan Kontrol
Kimia
Matematika
MBA Teknologi
Oseanografi dan Ilmu Pengetahuan Atmosfir
Perencanaan Kota dan Wilayah
Seni
Sistem dan Teknik Jalan Raya
Studi Pembangunan
Tata Kota dan Wilayah
Teknik dan Manajemen Industri
Teknik Dirgantara
Teknik Elektro
Teknik Geodesi dan Geomatika
Teknik Geologi
Teknik Informatika
Teknik Kimia
Teknik Lingkungan
Teknik Mesin
Teknik Nuklir
Teknik Perkeretaapian
Teknik Perminyakan
Teknik Pertambangan
Teknik Sipil
Transportasi
21

Disertasi
Ilmu Pengetahuan Teknik
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Sejarah Teori dan Kritik Seni

Jasa Pembuatan Skripsi Tesis


Kami juga menyediakan jasa pembuatan skripsi/tesis dengan rincian sebagai berikut:
I. Biaya Skripsi Rp. 2.800.000:
1. Proposal Rp. 300.000
2. Bab 1 Rp. 500.000
3. Bab 2 Rp. 500.000
4. Bab 3 Rp. 500.000
5. Bab 4 Rp. 500.000
6. Bab 5 Rp. 500.000
II. Biaya Tesis Rp. 3.300.000:
1. Proposal Rp. 300.000
2. Bab 1 Rp. 600.000
3. Bab 2 Rp. 600.000
4. Bab 3 Rp. 600.000
5. Bab 4 Rp. 600.000
6. Bab 5 Rp. 600.000
Syarat dan Ketentuan Pekerjaan:
1. Pekerjaan bisa dipilih per bab. Ini berarti pekerjaan hanya dilakukan untuk bab yang
anda minta. Misalnya, bila anda meminta bantuan bab 2, maka kami mengerjakan hanya
bab 2; atau bila anda meminta bantuan bab 5, maka kami mengerjakan hanya bab 5;
begitu seterusnya.
2. Pekerjaan tidak mesti semua bab. Ini berarti anda bisa meminta bantuan hanya bab
yang anda pilih. Misalnya, anda bisa meminta bantuan bab1 saja tanpa perlu melibatkan
bab 2, 3, 4, dan 5; anda bisa meminta bantuan bab 4 saja tanpa perlu melibatkan bab 1,
2, 3, dan 5; atau anda bisa meminta bantuan gabungan bab-bab tertentu saja tanpa perlu
melibatkan gabungan bab-bab lainnya; begitu seterusnya.
3. Pekerjaan bab-bab dalam skripsi/tesis harus sambung-menyambung. Ini berarti bab
yang anda minta harus menyatu dengan bab-bab lain yang sudah anda miliki. Misalnya,
bila anda meminta bantuan bab 2, maka anda harus memiliki bab sebelumnya (bab 1);
atau bila anda meminta bantuan bab 5, maka anda harus memiliki bab 1, 2, 3, dan 4;
begitu seterusnya.
22

4. Pembayaran dilakukan per bab dan ditransfer penuh sebelum pekerjaan dimulai.
Pembayaran dikirim lewat transfer bank; sementara bahan maupun hasil kerja dikirim
lewat email.
5. Pekerjaan dilaksanakan sampai tuntas. Tuntas berarti selesai dalam arti yang sebenar-
benarnya. Bilamana perlu, segala upaya perbaikan, perombakan, penambahan atau
pengurangan terhadap bab yang sudah dikerjakan akan diupayakan semaksimalkan
mungkin.
6. Tidak ada tambahan biaya untuk perbaikan, perombakan, penambahan, atau
pengurangan terhadap bab yang sudah dikerjakan.
7. Untuk kemudahan komunikasi kedua belah pihak, keanggotaan Paid Member dalam
situs ini akan diberikan secara otomatis kepada pemberi pekerjaan tanpa penambahan
biaya. Misalnya, bila anda meminta bantuan pembuatan proposal, pembuatan bab 5, atau
pembuatan bab-bab lainnya, maka dengan sendirinya status anda adalah Paid Member
dalam situs ini dan berhak atas segala fasilitas yang disediakan.
8. SKRIPSI/TESIS INI DIJAMIN ORISINIL ALIAS TIDAK PLAGIAT. SEPERTI
HALNYA ANDA, KAMI JUGA ANTI PLAGIARISME.

Olahdata Statistik
Situs Skripsi Tesis Disertasi Dotcom meyediakan layanan olahdata statistik:
* regresi linier (sederhana dan berganda)
* korelasi
* analysis of variance (anova)
* uji t
* uji F
* linieritas
* uji normalitas
* uji asumsi klasik (heteroskedastisitas, normalitas, multikolinearitas, autokorelasi),
* Kolmogorov Smirnov
* validitas dan reliabilitas
* one way
* dll
Program olahdata yang digunakan:
* SPSS
* Eviews
* Lisrel
* AMOS
* dll
Biaya:
23

* Rp. 500.000 (olahdata skripsi)


* Rp. 600.000 (olahdata tesis)
Untuk detilnya hubungi kami:
www.skripsitesisdisertasi.com
Email: raihanctym@hotmail.com
Jln. Waru 39 Rt. 007/07 Rawamangun Jakarta - Indonesia
Telp. 021 - 4705484
Hp. 08151151192 (Toto)
Hp.02195010199 (Roni)
Hp. 08164821885 (Ajir)